Anda di halaman 1dari 54

LAPORAN KASUS

PAIKOTIK AKUT

Pembimbing :
dr. Metta Desvini P. Siregar, Sp.KJ

Disusun oleh :

Adhani Kusumawati 2009730001


1

STATUS PSIKIATRI
Identitas Pasien
menikah

Status pernikahan

Nama

:Tn. Sy

Jenis Kelamin

Tempat Tanggal Lahir : Bekasi,

: Laki- laki

04-11-1988

Usia

Agama : Islam

Alamat : Rawa bacang, Bekasi

Suku Bangsa

: 25 tahun

: Jawa

Pendidikan terakhir : SMK

Pekerjaan

: Belum

Pengangguran
Tanggal masuk RSIJ : 18
Agustus 2014
Tempat wawancara
Ruang perawatan bangsal
RSIJ Klender
Rawat jalan : -- Rawat Inap : 2014 di Rung
perawatan bangsal RSIJ
Klender

Riwayat Psikiatrik

Berdasarkan :
Autoanamnesis :
Diambil pada tanggal : 20 Agustus 2014 (Pukul 11.30 WIB)
21 Agustus 2014 (Pukul 10.00 WIB)
Alloanamnesis
:
Diambil pada tanggal : 22 Agustus 2014 (Pukul 11.00 WIB)
Diperoleh data dari : Ayah Kandung pasien
Nama (inisial)
: Tn. B
Pendidikan terakhir : SMP
Pekerjaan
: Wiraswasta
Diambil pada tanggal : 22 Agustus 2014 (pukul 11.00 WIB)
Diperoleh data dari : Adik Kandung pasien
Nama (inisial)
: Nn. Z
Pendidikan terakhir : SMA
Pekerjaan
: Wiraswasta

Keluhan Utama
Pasien sering berteriak, marah-marah tidak jelas,
dan gelisah

Keluhan Tambahan
Sering mendengar bisikan
Mengaku dirinya titisan Benyamin
Mendapatkan hidayah berupa cahaya

Riwayat Gangguan Sekarang

Pasien datang ke RSJIK (Rumah Sakit Jiwa Islam


Klender) diantar oleh Ayah dan Paman kandungnya,
beserta Pak Haji tetangganya pada tanggal 18
Agustus 2014, dikarenakan keluarga sangat resah
dengan sikap pasien yang sering kali mengamuk
dan marah-marah tidak jelas.
Sebenarnya pasien di bawa ke RSJIK atas Rujukan
dari RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Bekasi,
dimana tiga hari yang lalu sebelum masuk Rumah
5

Perbuatan yang dilakukan pasien saat itu


adalah merusak salah satu pagar rumah TNI
karena pasien mengaku terkejut oleh gonggongan

anjing

pemilik

rumah,

kemudian

pasien marah dan mengamuk di tempat


kejadian.
Oleh warga komplek pasien dikira maling
kemudian di keroyok dan mendapat perlukaan
pada daerah bibir dan pelipis mata kanan,
pasien sempat di tahan satu hari di kantor
6

Saat di kantor polisi dirinya dikira orang gila,


pasien mengatakan bahwa dirinya tidak gila,
yang tau gilanya sesorang adalah Allah swt
yang maha tau bukannya manusia.

Kemudian oleh keluarga pasien dibawa ke


UGD

RSUD

Bekasi

untuk

mendapatkan

perawatan luka. Saat di RSUD pasien terlihat


gaduh gelisah, dan memukul-mukul tempat
tidur. Oleh pihak RSUD diberi surat rujukan ke
RS Jiwa.

Pihak

keluarga

mengatakan

bahwa

sebenarnya

kejadian ini sudah dirasakan sejak 1 mingggu


SMRS.
Kelurga merasakan ada hal yang berubah dengan
sikap pasien dan keluargapun tidak mengetahui
permasalahan yang dihadapi oleh pasien. Pasien yang
biasanya pendiam tidak pernah marah-marah tibatiba sering berteriak marah-marah , terlihat gelisah,
dan bicara sendiri dengan nada keras.

Pasien mengaku sering mendengar suara-suara


bisikan

yang

membicarakan

tentang

dirinya,

bahwa dirinya tidak berguna untuk keluarga dan


hal itu membuat pasien sangat marah.
Untuk menghilangkan kekesalnnya pasien sering
solat, saat pasien sedang solat dan solat sunah
rosul pasien merasa mendapatkan hidayah dan
ketenangan dimana pasien melihat cahaya putih
dari

atas

yang

menghampri

dirinya

yang

memberikan kedamaian dari orang-orang yamg9

Pasein mengatakan bahwa dirinya adalah titisan


benyamin,

dan

pusatnya

Indonesia

berada

di

Rawa

agama
Bacang.

islam

di

Menurut

keluarga, pasien sering mondar-mandir di dalam


rumah

tanpa

tujuan

yang

jelas,

kemudian

mengamuk.

Keluarga menjelaskan bahwa perbuatan pasien


seperti itu tidak dalam pengaruh minum alkohol.
Akhirnya keluarga membawa pasien ke RSJIK
untuk menjalani pemeriksaan.

10

Riwayat Gangguan Sebelumnya


a. Psikiatrik
Pasien baru pertama kali dirawat di RSIJ Klender dengan keluhan
marah-marah tanpa sebab dan gaduh gelisah, atas rujukan dari
RSUD Bekasi.
b. Medik
Pasien tidak memiliki riwayat penyakit bawaan pada saat lahir,
kejang, trauma kepala atau penyakit berat lainnya dari kecil.

c. Penggunaan Zat
Pasien pernah mengkonsumsi alkohol sejak usia 15 tahun namun
frekuensinya jarang, itu dilakukan jika pasien memiliki uang saja.
Pasien merokok sejak usia 15 tahun, merokok sehari 2 batang
namun jarang, rokok yang dikonsumsi Djarum super.
Pasien tidak pernah menggunakan obat-obatan terlarang.
11

Riwayat Hidup

a. Masa prenatal dan perinatal


Menurut Ayah pasien, selama kehamilan Ibu pasien
dalam keadaan sehat, tidak pernah mengalami
gangguan kesehatan baik fisik maupun psikis. Pasien
dilahirkan dalam keadaan cukup bulan dan di lahirkan
secara normal dibantu oleh bidan. Pada saat lahir bayi
langsung menangis. Pasien merupakan anak yang
dikehendaki orangtuanya. Pasien merupakan anak ke
3 dari 4 bersaudara. Pasien tidak pernah ada sakit
kejang atau penyakit lainnya yang bermakna. Tidak
ada kecelakaan yang bermakna, riwayat operasi tidak
ada.
12

b. Masa kanak - kanak ( 0 3 tahun)


Pasien diasuh oleh ibu kandungnya dan diberikan ASI
hingga usia 6 bulan.
Tidak ada cacat bawaan yang ditemukan dan menurut
Ayah pasien perkembangan fisik pasien cukup baik, pola
perkembangan motorik tidak ada hambatan, seperti
kebanyakan anak yang normal. Tidak ada kebiasaan
buruk pasien, seperti membenturkan kepala atau
menghisap jari. Pasien dapat tumbuh normal, tidak ada
riwayat kejadian trauma kepala dan kecelakaan saat itu,
tidak ada riwayat kejang yang muncul tiba tiba ataupun
kejang yang diawali oleh demam. Pada usia ini pasien
tidak pernah dirawat di rumah sakit.
13

c. Masa kanak-kanak pertengahan ( 3 11 tahun)

Menurut
penuturan
Ayah
pasien,
perkembangan fisik pasien umumnya
baik. Secara keseluruhan pasien adalah
anak yang pendiam dan memiliki cukup
banyak teman. Pasien mulai masuk
Sekolah Dasar ketika berusia 7 tahun.
Prestasi pasien di sekolah biasa-biasa
saja, tidak pernah mendapatkan juara
kelas dan tidak pernah tinggal kelas.
14

d. Masa remaja
Saat pasien berusia 15 tahun, pasien kehilangan
Ibunya karena sakit, penuturan ayahnya pasien
sangat
sedih
namun
kesedihannya
tidak
berlangsung lama, pasien bisa kemabli bermain
dengan teman-teman sebayanya. Sikap pasien
terhadap kakak dan saudara lainnya dinilai cukup
baik. Menurut pasien semasa remaja dulu tidak
pernah ada pikiran atau ide bunuh diri, menurutnya
ia bertingkah laku wajar-wajar saja, pasien bercitacita bisa membiayai Ayah dan Ibunya pergi Haji.
Saat SMA, pasien tidak memiliki kesulitan dalam
menerima pelajaran yang diberikan oleh gurunya,
pasien tidak memiliki kegiatan ekstrakulikuler di
sekolah. Hubungan antara pasien dengan teman15
temannya juga cukup baik.

e. Masa dewasa
i. Riwayat pekerjaan
Pasien dalam kesehariannya pengangguran, jika
bekerjapun pekerjaannya serabutan. Pasien pernah
bekerja menjadi tukang parkir di daerah Gading
namun berhenti, dan bekerja di bengkel milik
pamannya selama 3 bulan kemudian berhenti
karena bosan, dan sekrang pasien pengangguran.
16

ii. Riwayat perkawinan/berpasangan


Pasien belum menikah. Pasien pernah berpacaran
dengan beberapa wanita, namun saat ini pasien
tidak memiliki hubungan dekat dengan wanita.
iii. Riwayat beragama
Pasien adalah seorang yang beragama islam.
Setiap harinya pasien selalu mengerjakan shalat 5
waktu dan solat sunah.
17

iv. Aktivitas sosial


Hubungan dengan tetangga dan teman-temannya
baik.

Pasien

tidak

pernah

terlibat

masalah

ataupun perkelahian dengan temannya.


v. Riwayat pelanggaran hukum
Pasien baru pertama kali terlibat kasus hukum
dikarenakan dituduh maling. Ditahan satu hari di
kantor polisi Bekasi.
18


Riwayat Keluarga (Family
Tree)

Perempuan

Pasien

Laki-laki

Meninggal

Tinggal serumah

19

III. Status Mental


Dilakukan pemeriksaan pada tanggal
20 Agustus 2014 (Pukul 11.30 WIB)

A. Deskripsi Umum
1. Penampilan

Laki-laki berkulit sawo matang, dengan tinggi sekitar 170


cm berbadan kurus, Saat ini pasien berusia 25 tahun
penampilan sesuai usianya. Ketika diwawancara pasien
mengenakan baju kaos lengan pendek berwarna merah
dengan celana pendek abu-abu selutut. Perawatan tubuh
pasien cukup baik, pasien tidak bau, rambut sedikit ikal
rapih, pasien selalu mengenakan alas kaki.
20

2. Perilaku dan aktivitas psikomotor

Sebelum wawancara, pasien tampak sedang mondar-mandir


kemudian duduk

dengan tenang. Selama wawancara pasien

menjawab pertanyaan pemeriksa Setelah wawancara, pasien


tampak duduk tenang sendiri, dan sesekali tampak bengong.
3. Pembicaraan (speech)
Cara berbicara

: Spontan.

Volume berbicara
Irama

: Sedang

: Teratur

Kelancaran berbicara

Kecepatan berbicara

: Lancar

: Sedang

21

4. Sikap terhadap pemeriksa


Pasien bersikap kooperatif saat wawancara.

B. Aspek dan Ekspresi Afektif


Mood : Eutimik
Afek

: Terbatas

Kesesuaian

: Sesuai

22

C. Gangguan Persepsi (persepsi panca indera)


Halusinasi
Auditorik

tentang

: Ada (mendengar bisikan yang membicarakan


dirinya,

bahwa

dirinya

tidak

berguna

untuk

keluarga ).
Visual : Tidak ada.
Taktil

: Tidak ada.

Olfaktorik

: Tidak ada.

Gustatorik

: Tidak ada.

Ilusi

: Tidak ada.

Depersonalisasi

: Tidak ada.

Derealisasi : Tidak ada


23

D.Gangguan Pikir
i. Proses pikir
Blocking : Tidak Ada
Asosiasi Longgar : Tidak Ada
Inkoherensi

: Tidak Ada

Flight of idea

: Tidak Ada

Word Salad : Tidak Ada


Neologisme: Tidak Ada
Sirkumstansialitas
Tangensialitas

: Tidak Ada

: Tidak Ada

Hendaya berbahasa : Tidak ada


24

ii. Isi pikir


Preokupasi : Ada, pasien selalu ingin minta pulang, dan

ingin bersilahturami dengan saudara-saudaranya.


Gangguan isi pikiran :

Waham kebesaran

: Ada (pasien mengatakan bahwa

dirinya adalah seorang titisan benyamin)

Waham kejar : Tidak ada

Waham referensi : Tidak ada

Thought echo : Tidak ada

Thought broadcasting : Tidak ada

Thought withdrawal : Tidak ada

Thought insertion

Thought control

: Tidak ada
: Tidak ada

25

Delusional

merasa

perception
mendapatkan

Ada

(pasien

hidayah

dan

ketenangan dimana pasien melihat cahaya


putih dari atas yang menghampri dirinya
yang memberikan kedamaian).
Delusion of passivity: Tidak ada
Gagasan bunuh diri dan membunuh : Tidak ada.
Obsesi

: Tidak ada

26

e. Fungsi Kognitif dan Kesadaran

1. Kesadaran : Compos mentis


2. Orientasi

: Baik

Waktu baik (pasien benar menyebutkan hari, tanggal, bulan,


tahun, di wawancara).
Tempat baik (pasien dapat menyebutkan bahwa saat ini
sedang berada di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender Jakarta,
Negara Indonesia, kota jakarta, dan ruangan perawatannya).
Orang baik (pasien tahu bahwa ia sedang diwawancarai oleh
dokter muda dan mengenali wajah beberapa pasien lainnya,
namun tidak mengetahui namanya karena pasien jarang
mengobrol dengan pasien lain).

27

3. Konsentrasi : Cukup baik (pasien mampu menulis, membaca


kata dibalik, namun pasien lemah dalam pengurangan angka 7)
a. Daya ingat.
i. Daya ingat segera baik (pasien dapat mengingat nama
dokter yang merawatnya saat ini dan juga dapat
menyebutkan 3 benda yang pewawancara ajukan).
ii. Daya ingat yang baru-baru ini terjadi baik (pasien dapat
mengingat menu sarapan tadi pagi, pukul berapa bangun tadi
pagi).
iii. Daya ingat jangka pendek baik (pasien dapat mengingat
tanggal pasien masuk rumah sakit).
iv. Daya ingat jangka panjang baik (pasien dapat mengingat
nama-nama sekolah yang dilaluinya).
28

b. Intelegensia dan Pengetahuan umum :


Luas.
Pasien tahu nama presiden 2014 yang
terpilih .
(Presiden yang terpilih Jokowi dan JK)

c. Pikiran abstrak : Baik (dapat


mengartikan peribahasa Panjang
tangan)

29

f. Daya Nilai

1. Daya nilai sosial: Baik.


Menurut pasien jika pasien bertamu kerumah seseorang

pasien harus mengetuk pintu dan mengucapkan salam


sebelum masuk kerumah.

2. Uji daya nilai : Baik.


Pasien tahu apa yang akan dilakukan bila ia menemukan

benda milik orang lain tergeletak dijalanan.

30

G. Reality Test Ability (RTA)

Terganggu

H. Tilikan : Derajat

Tilikan 1 Pasien menyangkal sepenuhnya bahwa dirinya sakit.

I. Taraf dapat Dipercaya.

Dapat dipercaya.

Pada waktu yang berbeda, pasien memberikan kesimpulan


jawaban yang sesuai dengan keterangan yang diberikan
ayah dan adiknya.
31

iv. Pemeriksaan Fisik

1. Status generalis
Keadaan umum : Tampak sehat
Kesadaran
: Composmentis
Tanda vital
Tekanan darah
: 100/70 mmhg
Suhu
: 36,50c
Nadi
: 80 x/menit
Pernafasan
: 16 x/menit
Kepala
: Normocephal, rambut hitam tidak mudah dicabut
Thorax
:
Paru : Vesikuler +/+ , Rh-/-, Wh -/ Jantung : S1S2 reguler, Murmur -, gallop Abdomen
: Tidak ada kelainan
Ekstermitas
: Tidak ada kelainan
32

2. Status Neurologis

Tanda rangsang meningeal : Tidak ada


Mata :
gerakan
baik
:
Kelumpuhan
tidak
nistagmus(-)
Persepsi
: Baik
Bentuk Pupil
: Bentuk bulat (+/+), isokor
Rangsang Cahaya
: Reaksi cahaya (+/+)
Motorik
Tonus
: Baik
Turgor
: Baik
Kekuatan
: Baik
Koordinator
: Baik
Refleksi
: Baik

ada,

33

v. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


1. RTA : Terganggu
2. Kesadaran : Kompos Mentis
3. Mood : Eutimik
4. Afek: Terbatas
5. Kesesuaian : Serasi
6. Gangguan persepsi : Halusinasi auditorik
7. Gangguan isi pikir : Waham kebesaran, delusional
perception
8. Tilikan : Derajat 1
9. Reabilitas : Dapat dipercaya
10.Nilai MMSE : 34


EVALUASI MULTIAKSIAL

Aksis I

Berdasarkan alloananmnesa, autoanamnesa dan pemeriksaan


status mental didapatkan gejala klinik bermakna yaitu Pasien
sering berteriak, marah-marah tidak jelas, dan gelisah.

Pada pemeriksaan status mental ditemukan :


RTA yang terganggu :

Halusinasi auditori pasien mendengar suara-suara yang


membicarakan tentang dirinya, bahwa dirinya tidak berguna untuk
keluarga, hal ini sangat mengganggu pasien sehingga membuat
pasien marah dan sering mengamuk.
35

Waham kebesaran Pasien mengaku dan yakin bahwa dirinya


adalah seorang titisan Benyamin .

Delusional perception Pasien mengatakan ketika dirinya


sedang solat, ia mendapatkan hidayah berupa cahaya putih yang
memberikan ketenangan dan kedamaian

Onsetnya yang akut 1 minggu sehingga didiagnosa sebagai


Gangguan Jiwa Psikotik Akut.

Maka berdasarkan Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan


Jiwa III (PPDGJ III) di diagnosa dengan Gangguan Psikotik Akut
dan Sementara (F23).

36

Aksis II : Ciri kepribadian skizoid


Aksis III: Tidak ditemukan kelainan organobiologik
Aksis IV: Stressor tidak jelas
Aksis V : GAF scale 60-51 (gejala sedang, disabilitas
sedang)

DIAGNOSA

Diagnosa kerja : Gangguan Psikotik Akut dan Sementara

37

RENCANA TERAPI

Farmakoterapi
Anti-psikosis

: Risperidone 2x2 mg

Psikoterapi
Psikoterapi suportif

Ventilasi

Memberikan

kesempatan

kepada

pasien

untuk

menungkapkan isi hati dan keinginannya sehingga pasien merasa


lega.

Konseling :

Membeikan

penjelasan

dan

pengertian

kepada

pasien tentang kondisi penyakitnya agar pasien dapat memahami


kondisi

dirinya,

memahami

cara

menghadapinya,

serta

memberikan motivasi agar pasien mengkonsumsi obat secara


38

Psikoterapi Keluarga
Memberikan penyuluhan kepada keluarga untuk selalu mendukung dan
membantu kesembuhan pasien, perawatan terhadap diri pasien, dan
mengarahkan

kepada

keluarga

pasien

untuk

mengingatkan

pasien

meminum obatnya agar tidak terjadi kekambuhan.

Religi
Memberikan

bimbingan

ibadah

keagamaan

kepada

pasien

untuk

menambah keimanannya kepada Allah SWT. Pasien diarahkan untuk


menjalankan

ibadah

sesuai

dengan

ajaran

agama

Islam,

seperti

menjalankan shalat lima waktu, berpuasa, berdzikir, dan selalu berdoa.

39


PROGNOSIS

Dubia et bonam

Faktor pendukung

: Gejala positif menonjol, dukungan

keluarga untuk sembuh sangat baik, mendapatkan kasih


sayang

yang

cukup

dari

keluarga.

Onset

perjalanan

penyakit akut ( < 1 bulan ).

Faktor penghambat

: Pasien menyangkal dirinya sakit.

Faktor stessor tidak jelas, pasien memiliki pribadi yang


pendiam.

40

TINJAUAN PUSTAKA

41

Definisi

Psikosis adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidakmampuan


individu menilai kenyataan yang terjadi, misalnya terdapat halusinasi,
waham atau perilaku kacau atau aneh.
Gangguan psikosis akut dan sementara adalah sekelompok gangguan
jiwa yang :
Onsetnya akut ( 2 minggu)
Sindrom polimorfik
Ada stresor yang jelas
Tidak memenuhi kriteria episode manik atau depresif
Tidak ada penyebab organik
42

Epidemiologi

Frekuensi Internasional
Berdasarkan studi epidemiologi internasional, bila dibandingkan dengan
skizofrenia, insidensi nonaffective acute remitting psychoses sepuluh kali
lebih tinggi terjadi di negara-negara berkembang daripada negara-negara
industri.
Mortality/Morbidity
Sebagaimana episode psikosis lainnya, risiko pasien menyakiti diri sendiri
dan/atau orang lain dapat meningkat
Jenis kelamin
Dua kali lebih tinggi terjadi pada wanita dibandingkan pria. Di Amerika
Serikat, sebuah penelitian mengindikasikan adanya insidensi yang lebih
tinggi pada wanita.
Usia
usia antara dekade ke tiga hingga awal dekade ke empat.
Beberapa klinisi meyakini bahwa pasien dengan gangguan kepribadian
(seperti narcissistic, paranoid, borderline, schizotypal) lebih rentan
berkembang menjadi gangguan psikosis pada situasi yang penuh tekanan.
43

Etiologi

DSM IV menempatkan diagnosis gangguan psikotik akut di


dalam kategori yang sama dengan diagnosis psikiatrik
lainnya yang penyebabnya tidak diketahui dan diagnosis
kemungkinan termasuk kelompok gangguan yang heterogen.

Teori

psikodinamika

menyatakan

bahwa

gejala

psikotik

adalah suatu pertahanan terhadap fantasi yang dilarang,


penurunan harapan yang tidak tercapai atau suatu pelepasan
dari situasi psikososial tertentu.

44

Diagnosis
Pedoman Diagnostik berdasarkan PPDGJ-III
a) Onset yang akut (dalam masa 2 minggu atau kurang = jangka waktu
gejala-gejala

psikotik

menjadi

nyata

dan

mengganggu

sedikitnya

beberapa aspek kehidupan dan pekerjaan sehari-hari, tidak termasuk


periode prodromal yang gejalanya sering tidak jelas) sebagai cirri khas
yang menentukan seluruh kelompok
b) Adanya sindrom yang khas (berupa polimormif = beraneka ragam
dan berubah cepat, atau schizophrenia-like = gejala yang khas)
c) Adanya stress akut yang berkaitan (tidak selalu ada, sehingga dispesifikan
dengan karakter ke 5;0 .x0=Tanpa penyerta stress akut; .xi=Dengan
penyerta stress akut). Kesulitan atau problem yang berkepanjangan tidak
boleh dimasukkan sebagai sumber stress dalam konteks ini
d) Tanpa diketahui berapa lama gangguan akan berlangsung;
45

Tidak ada gangguan dalam kelompok ini yang memenuhi criteria episode
manic (F.30) atau episode depresif (F32), walaupun perubahan emosional
dan gejala-gejala afektif individual dapat menonjol dari waktu ke waktu.
Tidak ada penyebab organik, seperti trauma kapitis, delirium, atau
dimensia. Tidak merupakan intoksikasi akibat penggunaan alcohol atau
obat-obatan.
Gejala psikotik berlangsung sekurangnya satu hari tetapi kurang dari
satu bulan. Diagnosis dapat dibuat sebelum periode waktu satu bulan,
tetapi harus diterima sebagai diagnosis sementara. Jika gejala menetap
lebih dari satu bulan, diagnosis berubah menjadi gangguan psikotik
lainnya, seperti gangguan skizofreniform.
46

DSM IV
Kriteria diagnostic ditentukan dengan
sekurangnya ada satu gejala psikotik
yang jelas yang berlansung selama
satu hari sampai satu bulan.

47

a.
Kriteria
diagnostik
untuk
gangguan psikotik akut:
Adanya satu (atau lebih) gejala
berikut:
Waham
Halusinasi
Bicara disorganisasi ( menyimpang
atau inkoheren)
Perilaku terdisorganisasi jelas atau
katatonik

48

b. Lama suatu episode gangguan adalah sekurangnya satu hari sampai


kurang dari satu bulan.
c. Gangguan yang muncul bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu
zat (misalnya obat yang disalahgunakan, suatu medikasi) atau kondisi medis
umum. Sebutkan jika:

Dengan stressor nyata (psikosis reaktif singkat): jika gejala terjadi


segera setelah dan tampak sebagai respons dari suatu kejadian yang
sendirian atau bersama-sama akan menimbulkan stress yang cukup besar
bagi hampir setiap orang dalam keadaan yang sama dalam kultur orang
tersebut.

Tanpa stressor nyata: jika gejala psikotik tidak terjadi segera setelah
atau tampaknya bukan sebagai respons terhadap kejadian yang, sendirian
atau bersama-sama, akan menimbulkan stress yang cukup besar bagi
hampir setiap orang dalam keadaan yang sama dalam kultur orang
49

Jenis Stresor

Stressor pencetus yang paling jelas adalah peristiwa


kehidupan

yang

besar

yang

dapat

menyebabkan

kemarahan emosional yang bermakna pada tiap orang.

Klinisi

lain

berpendapat

bahwa

stressor

mungkin

merupakan urutan peristiwa yang menimbulkan stress


sedang, bukannya peristiwa tunggal yang menimbulkan
stress dengan jelas.

50

Diagnosis banding
Gangguan buatan factitious psikotik
karena kondisi medis umum dan gangguan psikotik
akibat zat.
Pasien dengan epilepsi atau delirium dapat juga
datang dengan gejala psikotik seperti yang
ditemukan pada gaangguan psikotik akut disorder
dengan tanda dan gejala psikologis yang menonjol

51

Penatalaksanaan

Perawatan di rumah sakit

diperlukan

untuk

pemeriksaan

dan

perlindungan pasien.
Pemeriksaan
monitoring
pemeriksaan

pasien
ketat

membutuhkan

terhadap

tingkat

gejala

bahaya

dan

pasien

terhadap dirinya sendiri dan orang lain.


52

Farmakoterapi
obat antipsikotik antagonis reseptor dopamine dan
benzodiazepine.

Khususnya pada pasien yang berada dalam risiko


tinggi

untuk

mengalami

efek

samping

ekstrapiramidal, suatu antikolinergik kemungkinan


harus diberikan bersama-sama dengan antipsikotik.
53

Psiokoterapi
Psikoterapi individual, keluarga dan
kelompok mungkin diperlukan.
Diskusi tentang stressor, episode
psikotik, dan perkembangan strategi
untuk mengatasinya adalah topik
utama bagi terapi tersebut.

54