Anda di halaman 1dari 11

OSLER

WHO 2009, Dengue: Guideline for therapy management and control


Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti
Ujian Program Pendidikan Profesi Kedokteran Di Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum Daerah Sragen

Disusun Oleh:
Bayu Rizky Prabowo
07711078 / 12712051
Pembimbing:
dr. Tunjung Respati, Sp.A, M.kes
Penguji:
dr. MTS Darmawan, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
RSUD SRAGEN
2012

Dengue: Guideline for therapy management and control

Virus Dengue telah mengalami peningkatan dalam 50 tahun terakhir ini, dalam rata- rata
tiap tahunnya, tidak kurang dari 50 juta kasus terjadi di seluruh dunia dan sekitar 2,5 milyar
penduduk dunia hidup dalam daerah yang rawan terjangkit demam dengue.

Dalam table yang dikeluarkan WHO terlihat peningkatan angka kejadian Dengue
fever dan dengue hemoragic fever mengalami peningkatan yang signifikan dalam kurun waktu
50 tahun terakhir. Dari 1,8 milyar populasi atau sebesar 70% populasi yang beresiko terkena
terjangkit virus dengue berada dalam regional asia tenggara atau daerah- daerah pasifik.

Dengue presentation
Virus dengue mempunyai spectrum gejala klinis yang luas, dengan hasil outcome
yang tidak dapat terduga. Sebagian pasien yang terkangkit emam dengue dapat sembuh dengan
sendirinya (self limited), sebagian menuju kea rah perburukan kondisi. Hal ini dipengaruhi oleh
kebocaran vaskularisasi plasma dengan atau tanpa hemoragic. Rehidrasi via intravena bisa
mengurangi fatality rate angka kejadian DHF, meskipun kelompok mana yang menuju ke arah

perburukan sulit untuk di tentukan dan dibedakan, namun kesadaran untuk memulai perawatan
yang supportif untuk mencegah kearah perburukan kondisi harus sudah mulai dipikirkan.
Memulai triage, pengobatan yang sesuai, dan pengambilan keputusan terapi mana
yang seharusnya diberikan, dipengaruhi oleh klasifikasi dengue yang dibuat untuk pelayanan
pelayanan medis. Perubahan epidemiologi dengue yang terjadi selama kurun waktu 50 tahun
terakhir ini, tentu saja menimbulkan masalah pada klasifikasi dengue yang telah ada sebelumnya,
hal ini tentu saja akan berakibat pada pengambilan keputusan di lapangan. Gejala virus dengue
mencakup tiga hal, undifferentiated fever, dengue fever dan dengue hemmoragic fever. Dengue
hemoragik fever, lebih lanjut, dibedakan menjadi empat kelas, dengan level III dan IV
diklasifikasikan sebagai dengu shock syndrome, namun penggunaan klasifikasi ini banyak
menuai kritik, dimana sulitnya membedakan fase klinik pada tiap- tiap fase di criteria yang ada
sebelumnya. Pada sat ini penggunaan DF/DHF/DSS lebih banyak digunakan.
Pada consensus yang diadakan di kuala lumpur pada tahun 2007, para ahli
menyepakati bahwa dengue adalah penyakit dengan berbeda beda manifestasi klinis dan sering
menghasilkan manifestasi klinis dan outcome yang berbeda. Untuk memahami klasifikasi
dengue saat ini dapat digambarkan seperti chart berikut ini

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit demam akut yang disebabkan oleh
empat serotipe virus dengue yaitu DEN 1, 2, 3, dan 4 dengan morbiditas dan mortalitas yang
tinggi di banyak daerah di dunia. Virus dengue dapat menyebabkan manifestasi klinis yang
bermacam-macam dari asimtomatik sampai fatal
Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty dan kemudian akan
bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-antibody. Dalam sirkulasi akan
mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a,dua
peptida yang berdaya untuk melepaskan histamine dan merupakan mediator kuat sebagai
factor meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui
endotel dinding itu. Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya
faktor koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan factor penyebab terjadinya perdarahan
hebat , terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF, Yang menentukan beratnya
penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya volume
plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan diathesis hemorrhagic, renjatan terjadi secara
akut. Nilai hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding

pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hipovolemik. Apabila tidak
diatasi bisa terjadi anoxia jaringan, acidosis metabolic dan kematian.

Gambar skema Perjalanan penyakit demam dengue

Penatalaksanaan
Menurut WHO tahun 2009, penatalaksanaan managemen demam dengue dimulai dari
identifikasi dini pada kasus kasus demam. Pasien harus ditanyakan apakah pasien sehabis
melakukan perjalanan ke daerah endemik demam berdarah, kapan mulai demam, bagaimana
hasil pemerikasaan darah dari leukosit, hematokrit maupun hemoglobinnya. Hal ini bisa
diterapkan pada negara- negara non endemik demam dengue, namun pada negara dengan kasus
endemik demam dengue tentunya anamnesis harus dilakukan dengan lebih dalam lagi.

Untuk pengambilan keputusan, WHO membagi pasien menjadi 3 kelompok, yaitu: pasien
yang bisa dipulangkan untuk dirawat di rumah, pasien yang harus dirawat di rumah sakit, pasien
dengan kegawatan segera.

Grup A (pasien yang bisa dipulangkan)

Pasien yang masih bisa minum dengan baik, masih bisa kencing paling tidak dalam 6 jam
terakhir, dan tidak terdapat warning sign. Pada pasien dengan Grup A harus diamati
progresifitas penyakitnya dari waktu ke waktu. Hasil lab harus dipantau terus oleh dokter
keluarga dan hasil bisa dikirim ke rumah untuk menentukan progresifitas penyakit
Pada pasien yang masuk dalam Grup A, motivasi banyak minum, apapun minumannya
dan pemakaian obat- obat penurun panas seperti paracetamol jika demam sudah dirasakan tidak
nyaman, harus diberikan agar keluarga juga turut berperan aktif dalam perawatan pasien dirumah
Beri motivasi agar membawa pasien kembali ke rumah sakit apabila tanda- tanda warning
sign ditemukan pada pasien.

Grup B
Pasien grup B adalah pasien yang perlu mendapatkan pengawasan lebih lanjut

karena sudah memasuki fase kritis atau pada pasien yang mengalami penyakit lain seperti
gagal ginjal, nyeri abdomen maupun pada kondisi kehamilan

Pasien yang tempat tinggalnya jauh dari fasilitas kesehatan, atau pada pasien yang
tinggal sendiri dimasukkan dalam kategori Grup B, pada pasien ini pengawasan dan
rawat inap mutlak diperlukan.
Penatalaksanaan pada grup B bisa dimulai dari pemberian Infus Nacl 0,9%
dengan 5-7 ml/kgBB selama 1-2 jam kemudian dikurangi 3-5 ml/kgBB selama 2-4 jam,
kemudian dikurangi lagi 2-3 ml/kgBB tergantung dari respon pemberian awal.
Pengamatan secara rutin wajib dilakukan seperti pengamatan vital sign setiap 1-4
jam sekali, urin output 4-6 jam sekali dan darah rutin terutama hematokrit selama 6 jam
sekali.
Grup C
Pada pasien dengan grup C adalah pasien- pasien dengan kondisi kegawatan, yang
harus ditangani dengan segera seperti kegagalan multi organ dan terutama shock.

Alur tatalaksana DHF

Tabel 1. Alur penatalaksanaan cairan pada kondisi shock yang terkompensasi