Anda di halaman 1dari 196

Forgotten Eve

Phoebe

E-book ini dilindungi oleh :


Undang-undang Informasi dan Transaksi elektronik (UU ITE) No.07 Thn 2008
Setiap tindakan pelanggaran sesuai dengan UU ITE Akan di tindak
Sesuai dengan hukum yang berlaku

Pengantar dari Penulis


Dear reader
Perlu di akui cerita ini asalnya juga dari fan fiction. Karena
sebagai penggemar Korea, Jepang dan sekitarnya, Ide-ide cerita
tidak akan bisa timbul sama sekali dalam otak saya ini jika tidak
membayangkan Artis idola sebagai pemeran beberapa karakter
tokoh. tapi sengaja banget gak ngebuat nama artisnya langsung
biar pada punya daya khayal masing2. Soalnya saya sedang
mendukung program pemerintah untuk meningkatkan budaya
khayal sejak dinikhehekhekkhe!!! Ini adalah cerita
pertama saya yang sifatnya agak nakal sedikit. Gara-gara saya
adalah seorang pencinta komik dan juga suka baca Shoujo. Tapi
saya harap nakal yang dimaksud tidak akan keterlaluanketerlaluan banget sehingga membuat cerita ini jadi agak terkesan
porno aksi.
Saya sendiri waktu mengarang-ngarang membayangkan
tokoh-tokohnya berganti-ganti. Tokoh Kay yang paling sering
ketuker. Awalnya sempat ngebayangin Kay adalah Jang Geun
seok, lalu berubah jadi Kim Jae Wook gara-gara Kay punya darah
Jepang campur Paris. Tapi pada Akhirnya keputusan di tetapkan
pada No Min Woo yang punya wajah agak Europe + Jepang. Jadi
No Min Woo disini digambarkan sebagai desainer yang dulunya
mantan model dan agak play boy..(heheh) jadi jangan heran kalau
belakangan, semakin di baca, sikap Kay ini terus berganti-ganti
secara berkesinambungan.
Trus tokoh Ivea, sempat kepikiran Jesica SNSD. Tapi gak
memenuhi syarat sebagai Ivea sih dia. Jadi Ivea tiba2 malih rupo

menjadi Kim Tae Hee dalam khayalan saya. Soalnya Atitude Kim
Tae Hee Kayaknya cocok banget sama Ivea yang casual, dan bisa
berubah 180 derajat pangkat tiga setelah make over. Trus Ivea ini
kan kadang-kadang manis, kadang-kadang pendiem, kadangkadang juga centil dan agresif. Pokoknya sikapnya kadangkadang banget deh. Ivea juga digambarkan sebagai cewek yang ga
begitu cantik tapi gak bosen di pandang. Kim Tae Hee cocok
untuk mendapatkan peran ini.
Untuk tokoh Nathan, saya gak bingung-bingung amat.
Soalnya Nathan ini digambarkan sebagai cowok yang cool. Tapi
juga sosok yang tastefull dan cara mencintainya unik, khe
khekhe jadi entah mengapa Saya membayangkan
Kashiwabara Takashi sebagai Nathan disini. Abis belum nemu
artis korea yang cocok !
Tokoh Tara saya buat sebagai seorang wanita yang selalu
jadi tempat curhat sana sini, sikap panikan dan suka mikir yang
enggak-enggaknya sih terinspirasi dari diri sendiri. Jadi pemilik
caf juga khayalan saya sendiri. Pokoknya waktu nulis saya
menempatkan posisi saya pada diri Tara. Tapi setelah di baca,
sosok Tara berubah jadi Sung Yu Ri yang cantik dan tegas
dengan mulutnya yang agak pedas. Pokoknya sukkaaa deh sama
sung Yu Ri. (Dengan kata lain penulis menghayalkan dirinya
adalah Sung Yu Ri-red)
Yang terakhir adalah Bian. Bayangin susahnya nyari sosok
wanita muda yang merupakan pemilik majalah SmiloQueen yang
selalu cantik meskipun dandananya agak Lebay. Akhirnya Bian
adalah satu-satunya tokoh yang saya buat tanpa mengkhayalkan
dirinya sebagai siapa-siapa. Bianca Karta sudah jadi diri sendiri
dalam cerita ini dan jadi tokoh paling pavorit bagi saya secara

personal. Kenapa? Karena Bian adalah satu-satunya tokoh yang


tidak pernah bersedih dan punya perasaan paling netral di cerita
ini. Bian adalah tokoh yang paling menikmati hidupnya.dalam
berbagai keadaan.
Jadi, melalui cerita kali ini saya harap bisa mendapat respon
yang manis pada teman-teman semua. Bila ada kesan, pesan,
kritik dan saran, silahkan hubungi penulis di e-mail;
HatanoKenji@rocketmail.com atau Twitter @Phoebeyeppo .
Selamat berkhayal Indonesia^_^.
Salam
Penulis

Prolog
Keramaian merebak menghangatkan satu sisi kota
Tokyo yang sedang di jatuhi Kristal-kristal salju yang
indah. Gedung yang sederhana itu adalah sebuah Hotel
yang disulap menjadi rumah bunga yang di penuhi dengan
Lily berwarna putih seolah-olah membuat buket bunga
yang berada di tanganya menjadi sangat kecil dan tidak
berarti.Tamu-tamu semakin banyak yang berdatangan.
Tidak sedikit di antaranya di kenal sebagai orang-orang
berpengaruh di dunia mode. Semuanya berpenampilan
Khusus untuk hari ini.
Selamat ya, Big Bro! gumam seorang gadis Jepang
dengan rambut sebahunya kepada seseorang yang berdiri
di altar.
Orang itu menyambut ucapan manis dari gadis itu
dengan senyuman mengembang. Ia sedang berdiri menanti
wanita tercantik, Ratu untuk hari ini datang kepadanya
yang akan segera mengucapkan janji setia selamanya dan
akan saling menemani, dan saling mengisi hingga
penghujung usia bersama-sama.
Pesta pernikahan ini bukan miliknya.

Tapi dia juga ikut berbahagia karena orang yang


pernah punya arti penting dalam hidupnya akan
berbahagia. Semoga saja begitu

1
Valentines Bridal Fair.
Tiga hari belakangan ini sudah benar-benar menjadi
hari yang sangat melelahkan bagi Ivea. Pekerjaan ini sudah
membuatnya tidak kembali ke rumah sama sekali.
Untungnya Chastine bisa mengerti dan selalu datang
membawakanya makanan pada jam-jam istirahat. Tapi di
Bridal Fair kali ini, Ivea dan beberapa teman lainya sama
sekali tidak memiliki waktu istirahat yang pasti. Bahkan
Tara yang merupakan tangan kanan atasan sempat pingsan
pada hari kedua dan tidak bisa datang membantu hari ini.
Sebuah Hotel besar di kota ini dengan semangat
mengadakan Bridal Fair pada hari valentine, dimana dalam
tiga hari ini Aula hotel sudah berisi beragam busana
pengantin dari banyak perancang terkenal. Februari benarbenar sukses menegakkan imej-nya sebagai bulan penuh
cinta.
Eve, tolong bantu aku! Suara yang lembut itu
memaksa Ivea menoleh ke arahnya. Seorang laki-laki
dengan pakaian kasualnya tampak sibuk melayani
beberapa orang disebelah Kebaya biru buatanya. Dia selalu
memanggil Ivea dengan panggilan Eve sejak pertama kali
bertemu, dan dalam waktu singkat Ivea lebih di kenal
dengan panggilan itu di bandingkan dengan nama aslinya
yang ada di KTP.

Pria itu adalah Bos Ivea. Keith Lavoie Fujisawa. Atau


lebih di kenal sebagai Kay, seorang desainer asal Paris yang
karyanya cukup di kenal di Negara ini sebagai pemilik
Chinamons Gallery dimana Ivea bekerja. Pria yang selalu
berbicara dengan suara lembut dan sangat bersahabat itu
kelihatan sangat kelelahan, karena Kay juga tidak kalah
sibuk dengan karyawanya yang lain. Tara bilang kalau Kay
sudah tinggal di Indonesia selama hampir lima tahun dan
dalam lima tahun ini namanya benar-benar mendapatkan
sambutan yang bagus dalam dunia mode.
Ya? Apa yang bisa ku bantu? Tanya Ivea setelah dia
dan Kay berada dalam jarak yang cukup dekat.
Kau bisa bantu aku angkat ini ke mobil? Hari ini kita
akan pulang lebih cepat.
Baiklah!
O, ya! Jangan lupa panggilkan Nathan kesini. Aku
sangat butuh tenaganya!
Ivea berhenti bergerak. Nathan? Setiap kali nama
Nathan di sebut, Jantungnya tiba-tiba saja berpacu lebih
cepat dari biasanya. Nathan adalah karyawan Kay juga.
Seorang Foto Grafer yang mengurusi foto-foto Prewedding
bila itu di butuhkan. Tapi kenyataanya, hasil jepretan
Nathan memang selalu menarik minat banyak pasangan
sehingga Nathan akan sangat sibuk bila musim pernikahan
tiba.
Kenapa? Suara Kay mengagetkan Ivea. Laki-laki
Paris dengan wajah dominan Asia itu mengangkat sebelah

alisnya yang tebal dan tajam seperti pedang. Kau masih


gugup kalau bertemu denganya?
Kau menggodaku?
Kay tersenyum. Sudah sewajarnya anak seusiamu
menyukai laki-laki, lalu kenapa harus takut?
Ivea menggeleng. Aku tidak takut. Nanti aku
panggilkan. Katanya sambil berbalik dan memegang
dadanya berharap bisa menenangkan jantungnya. Dimana
Natahan? Mata Ivea berkeliling aula mencari dimana lakilaki itu berada, Dia disana. Nathan berbicara dengan
beberapa orang yang tidak Ivea kenal.
Eve, Panggil Kay. Kau tidak usah melakukan itu.
Biar aku menelponnya saja!
***
Ivea termangu di depan gerbang hotel. Ternyata di
luar sedang hujan dan sekarang ia sendirian. Kay sudah
bolak-balik beberapa kali mengangkut barang-barangnya
bersama Nathan ke galeri. Sedangkan dirinya harus
kebingungan untuk pulang dalam keadaan hujan seperti
ini. Malam hari begini seharusnya dia sudah berada di
kamarnya dan berbincang-bincang dengan Chastine seperti
saat-saat sebelum Bridal Fair di mulai. Tapi bagaimana dia
bisa pulang jika hujan kelihatanya sama sekali tidak
memberikan cela untuk sekedar mencari taksi.
Kau masih disini?
Ivea tiba-tiba tercekat. Suara yang sangat di kenalnya
bertanya dalam jarak yang sangat dekat denganya. Suara

Nathan. Ivea menoleh ke samping dan melihat Nathan


yang sedang memandangnya sambil merapatkan Jaketnya.
Sedang apa Nathan disini? Bukankah tadi dia sudah
kembali ke galeri bersama Kay?
Jawab pertanyaanku! Suara Nathan terdengar lebih
jelas di antara derai hujan yang mengguyur kota ini.
Ya, Aku harus menunggu hujan reda untuk pulang!
Jawabnya. Kau sendiri bukannya sudah pulang bersama
Kay?
Nathan menggeleng. Kay memintaku mengawasimu
sampai dia kembali lagi dan menjemput kita.
Ivea mengangguk mengerti. Kemudian hanya tertingal
bunyi hujan saja. Baik dirinya maupun Nathan sama sekali
tidak bicara satu sama lain. Nathan membuatnya membeku
dan tidak tau harus berkata apa. Ivea dan Nathan memang
sangat jarang bertegur sapa. Dia hanya akan mendengar
suara Nathan saat laki-laki itu memarahinya karena
mengganggu pekerjaanya. Padahal di Galeri hanya ada dua
orang laki-laki, tapi dia hanya bisa merasakan keberadaan
Nathan dengan lebih jelas karena dimatanya hanya ada
Nathan dan Nathan. Meskipun Ivea dan Kay sering
bersama, Ivea tetap tidak bisa memalingkan kepalanya dari
Nathan. Ivea menggosok-gosokkan kedua telapak
tanganya. Hujan yang sangat lebat di malam hari bisa
membuatnya masuk angin dan diserang flu.
Kau kedinginan?
Suara Nathan memecahkan lamunan Ivea dan dirinya
hanya bisa menggeleng lalu menjawab kalau ini sudah

biasa terjadi. Kehujanan memang bukan sekali dua kali


terjadi pada dirinya, untuk hidup di dalam negara dengan
cuaca yang tidak menentu, Ivea harus siap pulang dalam
keadaan basah sewaktu-waktu. Sedia payung sebelum
hujan bukan kebiasaan yang menyenangkan bagi Ivea, dia
sama sekali tidak suka membawa barang-barang yang
memberatkan geraknya. Bekerja pada Kay yang sibuk dan
cukup cerewet membuatnya harus merasa cukup hanya
dengan membawa dompet di saku jaketnya.
Mau mendengarkan ini? Nathan menyodorkan
sebuah I-pod berwarna Silver kepada Ivea. I-pod itu sudah
menyala dan salah satu dari sepasang Handsetnya berada
di telinga Nathan. Nathan melepas handset itu dan
memberikanya kepada Ivea. Ini punya Kay. Aku
sebenarnya tidak suka mendengarkan musik-musik seperti
ini, hanya akan membuatku mengantuk. Tapi Kay bilang
mendengarkanya bisa membuatmu merasa hangat. Kau
coba saja. Mungkin cocok untuk mu!
Terima kasih! Ivea lalu mengambil alih I-pod dan
Handsetnya. Bunyi derai hujan yang keras dan lantang
seketika berganti dengan alunan piano yang mendayu
serasi. Ivea menatap judul track di layar I-pod, Dieu tristesse
Chopin. Sebuah alunan musik Instrumental yang hangat
dan romantis, sangat manis. Perasaanya semakin melayang
terlebih saat beberapa kali Ivea dan Nathan beradu
pandang. Sebenarnya apa yang ada dalam fikiran Nathan
sekarang? Apakah Nathan juga menyukainya?

Jangan Ge-er dong Eve! Nanti kamu kecewa!. Bisik hati


Ivea. Ia memejamkan matanya dan menggelengkan
kepalanya keras. Selama ini Nathan selalu bersikap baik
padanya. Tapi bukan berarti Nathan juga menyukainya.
Ivea tidak mau kecewa.
***
Bukankah kau bilang, mau jadi desainer sepertiku?
Jadi ku bawakan formulirnya! Kay menyodorkan secarik
kertas kepada Ivea, sebuah formulir kampus swasta
terkemuka yang baru membuka pendaftaran.
Ivea
memang
pernah
mengatakan
tentang
ketertarikanya pada dunia yang sudah memberikanya
uang yang cukup untuknya seperti sekarang. Terlebih
setelah beberapa kali Kay mengajarinya mendesain pakaian
dan memuji Ivea sebagai anak yang berbakat. Ivea juga
terkenang dengan alasan kedatanganya kekota ini adalah
untuk melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi.
Tapi uang untuk itu sama sekali belum terkumpul.
Lalu dengan apa aku membayarnya? Tanya Ivea
sambil memandang Kay yang duduk dengan tenang di sofa
ruang kerjanya.
Aku sudah membayarnya, kau tinggal isi formulir
itu, dan berusahalah untuk lulus, selanjutnya nanti saja kita
fikirkan!
Ivea memandangi formulir itu sekali lagi. Ia sangat
ingin kuliah. Ivea ingin merubah dirinya dari seorang yang

sederhana menjadi seorang gadis berbakat yang di akui


banyak orang selain Kay. Tapi walau bagaimanapun,
berhutang tetap bukanlah sesuatu yang di sukainya. Kay
selalu berbaik hati meskipun mereka berdua sering kali
berdebat, Tapi kebaikan yang kali ini sangat sulit untuk ia
terima. Bagaimana kalau dirinya lulus saringan?
Eve, coba saja dulu.
Ivea menggigit bibirnya sambil memperhatikan kertas
itu sekali lagi. Apa salahnya dicoba? Bila keberuntungan
itu berpihak kepadanya nanti Ivea bisa memutuskan akan
mengambilnya atau tidak. Tapi seandainya dia lulus, pasti
sangat sayang kalau tidak di manfaatkan. Di zaman
sekarang ini, untuk masuk kuliah sudah semakin sulit,
standar pendidikan semakin tinggi.
Kalau begitu bagaimana kalau ku beri pekerjaan?
Tanya Kay.
Pekerjaan?
Kau cukup membantuku menyelesaikan sepasang
baju pengantin yang deadline akhir minggu ini. Jadi aku
tidak perlu merepotkan Tara yang juga sedang sibuk di
cafnya dan Kau akan ku beri 20% dari keuntungan.
Bagaimana? Kau tidak perlu takut berhutang padaku!
***
Sepatu Kets buluk ini sudah menemaninya selama
hampir tiga tahun. Ivea kini berjalan sambil memandangi
langkah-langkahnya yang di bungkus sepatu berwarna

putih itu. Selama sekolah, sepatu itu selalu menemaninya


malakukan segala aktivitas dan begitu juga setelah Ivea
lulus dan bekerja kepada Kay. Membantu mengurusi gaun
pernikahan memang bukan pekerjaan yang selama ini
selalu di bebankan kepadanya. Pekerjaan seperti itu hanya
untuk Tara dan Chastine sebelum akhirnya Chastine
pindah dan bekerja di tempat lain. Dan kali ini Ivea
medapatkan kesempatanya, Setelah ini Ivea tidak harus
menemani pelanggan Fitting dan tidak lagi harus
membuatkan minum. Meskipun nantinya Kay hanya akan
menyuruhnya memasang renda atau manik-manik,
semuanya cukup untuk membuatnya senang dan ia akan
berusaha sebaik mungkin. Sekarang yang harus di
lakukanya adalah mengisi formulir dan mengembalikanya
kepada Kay.
Ivea sebenarnya masih ragu, kuliah akan membuatnya
jarang melihat wajah Nathan. Nathan hanya ada pada pagi
hari, hingga siang sebelum jam makan siang tiba. Semakin
meninggi hari Nathan akan menghilang dan baru akan
datang bila dia benar-benar sibuk dan itu belum tentu
terjadi sebulan sekali. Di Galeri, yang paling santai bekerja
adalah Nathan. Lalu bagaimana bila Ivea merindukanya
nanti? Ivea menghembuskan nafasnya keras-keras. Tapi
secara tidak sengaja matanya menangkap Nathan yang
keluar dari dalam mobil di temani seorang wanita dan
kelihatanya mereka sangat dekat. Keduanya berjalan
mendekati Ivea. Tidak, keduanya berjalan mendekati pintu
masuk galeri dimana Ivea berdiri.

Kau mau pergi? suara Nathan menyapanya.


Akhirnya Ivea mendengarkan suaranya juga meskipun
tadi malam keduanya sempat ngobrol di depan Hotel
setelah Bridal Fair berakhir. Tapi hati Ivea tidak bisa lega
terlebih saat melihat wanita yang bersama Nathan juga
tersenyum kepadaanya. Suara Ivea tidak mampu keluar, ia
hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaan
Nathan barusan.
Kalau begitu aku pergi dulu! Take Care ya! Kata
wanita itu lembut kepada Nathan.
Ivea hanya bisa mengigit bibirnya untuk membendung
perasaan cemburu saat wanita itu dan Nathan berpelukan
mesra di depanya. Jantungnya hampir melompat keluar
jika saja Ivea tidak memegangi dadanya. Sebisa mungkin
Ivea membalas senyum wanita itu sebelum akhirnya ia
kembali ke pinggir jalan dan pergi menjauh dengan
mobilnya.
Kau mau kemana? Nathan berbicara lagi padanya.
Ummmembeli kopi dan Wafle untuk Kay. Jawab
Ivea. Ngomong-ngomong wanita itu siapa?
Dia? Nanti akan ku ceritakan. Mau ku temani?
Dia saudara perempuanmu atau sepupu?
Nathan tertawa kecil, ia kelihatan sangat bahagia.
Apa kami berdua kelihatanya mirip? Kata orang kalau
mirip itu jodoh. Iya kan?
Dia pacarmu?

Ehm.. Nathan mendehem keras. Kenapa kau


penasaran sekali terhadapnya? Kau tidak sedang cemburu
kan?
Apa? Ivea terperangah mendengar ucapan Nathan.
Ucapan yang sangat mengena, dan hari ini kedengaranya
Nathan sedikit lebih cerewet daripada biasanya. Apa
karena Nathan sedang bahagia? Ya, kelihatanya Nathan
yang di lihat Ivea hari ini adalah orang yang berbeda.
Kau cemburu?
Ivea menggeleng kuat. Tidak, bagaimana mungkin
akuaku cuma Maaf kalau terlalu ikut campur dengan
urusanmu!
Eve! Nathan menarik lenganya saat Ivea hendak
melarikan diri. Sekarang Ivea hanya bisa terdiam sambil
memandang Nathan yang juga memandangnya. Aku tau
kau tidak mungkin cemburu. Lagi pula kau tidak boleh
cemburu padaku. Aku tidak mungkin menyukaimu lebih
dari seorang teman!
Dia tersenyum. Nathan bahkan sudah menolak
sebelum Ivea menyatakan cintanya. Apa yang harus di
lakukanya? Ia sangat ingin menangis dan menjauh. Tapi
bila itu dilakukanya sekarang di hadapan Nathan, ia hanya
akan semakin mempermalukan dirinya.
Eve! Syukurlah kau belum pergi. Ada telpon dari
Chastine! Kay tiba-tiba menyapaya.
Ivea menghela nafas. Ia merasa telah di selamatkan.
***

Benarkah? Kejam sekali, kenapa dia tidak bisa


menghargai perasaanmu sedikit saja. Kenapa langsung to
the point begitu! Chastine menggerutu. Ia sangat bingung
setiap kali melihat wajah sedih Ivea yang sudah di
anggapnya seperti adiknya sendiri. Sudalah Eve, menjauh
saja! Aku tiba-tiba saja tidak menyukainya!
Ivea menyeka air matanya. Mungkin selama ini
dirinya memang sudah sangat mengganggu bagi Nathan
sehingga Nathan bisa berkata seperti tadi. Dirinya dan
wanita itu memang berbeda. Ivea hanya seorang gadis
biasa dengan penampilan standar seperti orang
kebanyakan. Kaos oblong dan celana Jeans sudah menjadi
citra tersendiri baginya. Dan wanita itu? Cantik. Seperti
model.
Kalau begitu kau pulang saja dulu! Kay yang dari
tadi hanya menyimak tiba-tiba ikut bicara. Istirahatlah.
Kau jangan khawatir, Kami pasti bisa membantumu
melupakan perasaanmu kepadanya.
Lalu apa aku harus menghindarinya? Bukanya malah
akan semakin kelihatan?
Kau tidak perlu menghindarinya aku yang akan
kalian benar-benar saling menjauh. Makanya kubilang, Kau
kuliah saja. Setidaknya itu bisa membuatmu punya
kesibukan yang jauh dari Nathan
Ivea dapat merasakan tepukan telapak tangan Kay di
bahunya. Ia merasa beruntung masih punya Kay dan
Chastine untuk menemaninya di saat-saat seperti ini.

Ingatanya tanpa bisa di cegah kembali kepada kejadian di


depan tadi, saat Nathan menarik lenganya dengan
pandangan yang tidak bisa di mengerti.
Aku tidak mungkin menyukaimu lebih dari seorang
teman!
Kata-kata yang sangat menyakitkan untuk Ivea, katakata terkejam yang pernah Ivea dengar seumur hidupnya.
Ivea memang bukan orang yang bisa dengan mudah
menyembunyikan perasaanya. Kay selalu bilang kalau
wajahnya seperti cermin dari hatinya, dia akan mudah
kelihatan bila sedang menyimpan sesuatu. Wajahnya
dengan mudah memperlihatkan perasaan sedih, kecewa,
senang, terkejut, dan juga perasaan takut.
Bagaimana Eve? Kau ikut aku? Tanya Chastine.
Gadis itu berdiri dari sofa tempatnya duduk. Jam
istirahatnya sebentar lagi habis.
Kau harus kembali ke kantormu kan? Biar Eve
bersamaku saja disini setelah Nathan pulang dia akan ku
antar pulang! Kata Kay.
Chastine memandang Ivea lekat-lekat kemudian sebisa
mungkin memberikan senyum sebelum akhirnya ia pergi.
Sekarang yang tersisa hanya Ivea yang tertunduk lelah
dengan Kay yang masih memandanginya.
Bagaimana ini? Bagaimana aku bisa bertemu
denganya? Ivea berbisik.
Kau harus belajar menyembunyikan perasaanmu. Hal
yang seperti ini bisa sangat merugikan. Kalau begitu kau
libur saja sampai selesai tes. Aku akan bilang kepada

mereka kalau kau belajar dengan giat untuk masuk


universitas. Bagaimana?
Lalu bagaimana dengan gaun yang di deadline akhir
minggu ini?
Aku bisa mengerjakanya sendiri! Kau hanya perlu
memikirkan bagaimana caranya kau bisa lulus tes dan
kembali menata perasaanmu. Sudah ku bilang kan? Kau
tidak perlu menjauh dari Nathan, aku yang akan
melakukanya!
Ivea menatap Kay semakin dalam. Laki-laki ini benarbenar sudah bersikap sangat baik dan tanpa cela. Wajahnya
yang terkesan cantik itu selalu bisa menenangkan hati
siapa saja yang ada di dekatnya. Begitu juga dengan hati
Ivea saat ini. Nathan sepertinya memang tidak bisa
menerima Ivea sejak awal, seharusnya Ivea sadar. Kay juga
sudah mengatakan hal itu kepadanya berkali-kali. Tapi
kenapa dirinya masih tidak mau dengar?
Wanita itu sebenarnya punya hubungan apa
denganya?
Kau masih mau memikirkan hal seperti itu? Kay
kemudian mendecakkan lidahnya. Keningnya terlihat
semakin berkerut. Aliya, namanya Aliya. Nathan dan dia
dulunya memang punya hubungan, tapi belakangan
mereka berteman baik. Tapi perlu kau tau kalau Nathan
masih menyimpan nama Aliya baik-baik di dalam hati,
bukankah sudah ku ingatkan dulu kalau jangan terlalu
berharap?
***

2
Ruangan ini sepi sejak satu jam yang lalu, beberapa
lampu sudah tidak menyala lagi, tidak ada suara apapun
yang bergemerisik, tidak ada bunyi-bunyian gaduh yang
selalu terjadi di pagi hari. Caf ini sudah tutup dan hanya
tinggal Nathan dan Tara disini. Sebagai pemilik, Tara
sedang sibuk menghitung untung penjualanya selama
seminggu di hadapan Nathan tanpa suara.
Pikiran Nathan melayang jauh meninggalkan raganya.
Sebenarnya tidak ada sedikitpun terbersit maksud buruk
dalam kata-katanya tadi pagi pada Ivea, tapi wajah terkejut
Ivea sudah membenarkan prasangkanya selama ini bahwa
Ivea sedang menyimpan sebuah perasaan khusus
untuknya. Seandainya tidak ada Aliya, Nathan pasti sudah
menyambut perasaan Ivea dengan tangan terbuka. Tidak
bisa di pungkiri, Nathan juga menyukai Ivea sejak ia sadar
kalau Ivea selalu memperhatikanya. Sejak Ivea selalu
menyapanya setiap kali dia datang, dan sejak Ivea selalu
memandanginya saat ia bekerja.
Aku tidak mungkin menyukaimu lebih dari seorang teman.
Mau tidak mau Nathan memang harus bersikap
seperti itu, dia memang seharusnya menyukai Ivea sebatas
teman dan tidak boleh lebih. Sejak lama hatinya sudah di
genggam oleh Aliya dan ia sama sekali belum bisa

melepaskan diri, Untuk saat ini meskipun dirinya dan


Aliya hanya bersahabat Nathan masih tidak bisa
melepaskan diri begitu saja. Nathan masih mencintai Aliya.
Tapi bagaimana bisa perasaanya sekarang terbagi dua
dalam porsi yang sama besarnya?
Kita pulang sekarang? Suara tegas milik Tara
mengembalikan Nathan kedunia nyata. Wanita itu
sekarang sedang memandangnya dengan pandangan heran
sambil menyilangkan kedua tanganya di depan dada. Kau
kenapa lagi?
Nathan Menggeleng.
Kau memikirkan sesuatu? Tidak ingin cerita?
Tidak perlu. Masih bisa di atasi sendiri kok, Mbak!
Sekarang kita pulang saja. Aku mau istirahat cepat-cepat.
Antar aku sampai rumah ya?
***
Kenapa masih datang? Kan sudah di bilang tidak
usah datang! Kay menggerutu begitu melihat wajah Ivea
di depan pintu galerinya. Masih terlalu pagi, bahkan Kay
sendiri sama sekali belum mandi. Ia baru bangun tidur saat
ponselnya berbunyi dan terkejut saat membaca pesan dari
Ivea yang sudah berada di depan galerinya.
Kay benar-benar tidak menyangka kalau Ivea akan
datang ke galeri hari ini. Padahal baru kemarin Kay
melihat gadis ini beruraian air mata. Bukankah dia sedang
kecewa pada Nathan? Tapi hari ini Ivea sudah terlihat

seperti biasa seolah-olah tidak ada masalah apa-apa yang


terjadi kemarin.
Aku mau bekerja. Memangnya salah?
Kay memegangi kepalanya. Tentu saja tidak. Sama
sekali tidak ada yang salah dengan semangat bekerja Ivea
kali ini. Tapi melihat Ivea yang menangis kemarin
mengingatkan Kay pada adiknya. Tidak ada seorang
kakakpun yang suka melihat adiknya menangis kan? Tidak
ada orang lain yang boleh membuat Ivea menangis selain
Kay sendiri.
Sudahlah. Masuk! Tapi aku tidak mau melihat wajah
mendung atau air mata lagi. Ok!
Ivea mengangguk dan tersenyum. Kali ini apapun
yang terjadi, Kay akan berusaha untuk tidak mau tau.
Dengan rasa ngantuk yang masih menggayutinya Kay
berusaha naik kembali kekamarnya dan bersiap untuk
mandi. Pagi ini Kay sudah menguap beberapa kali karena
semalaman
dirinya
benar-benar
lembur
untuk
menyelesaikan pekerjaanya. Targetnya, Kay menyelesaikan
pekerjaanya sebelum akhir minggu agar dia punya lebih
banyak waktu isirahat. Ponselnya berdering nyaring di atas
tempat tidur. Dengan malas Kay meraihnya dan menekan
tobol terima, dari ibunya di Tokyo.
Allo, Mom? katanya. Tentu saja aku akan kesana
setelah semuanya beres. Mungkin setelah akhir minggu
initapi aku tidak bisa lama ya?....Baiklahya! love you
too!

Kay menutup telponya. Telpon yang mengingatkan


kalau Kay seharusnya mengunjungi ibunya di Tokyo
minggu depan, peringatan kematian ayahnya akan segera
tiba dan Kay tidak ingin membiarkan ibunya pergi ke
makam sendirian. Tapi bagaimana dengan Ivea? Siapa
yang akan menjauhkanya dari Nathan? Bagaimana bila
selama dirinya berada di Tokyo Ivea menangis karena
Nathan? Kay menggeleng. Bagaimana bisa ia berfikir
sepanik itu padahal ia sudah melihat sendiri kalau gadis itu
sudah baik-baik saja.
Kay mengambil handuknya dan masuk kekamar
mandi. Butuh waktu lebih dari setengah jam untuknya
bersiap-siap dan turun kelantai bawah. Setidaknya
beredam di bathub selama itu membuat Kay tidak
merasakan kantuk lagi sama sekali. Tahap demi tahap anak
tangga di tapakinya dengan hati-hati hingga tiba-tiba
langkahnya terhenti saat melihat Ivea terjatuh karena
tersandung sesuatu. Kay berusaha menahan tawanya, Ivea
selalu begitu dan sejauh ini Kay selalu bersikap sama,
menertawainya sepuas mungkin dengan suara keras. Tapi
kali ini Kay tidak jadi tertawa saat melihat Nathan
berusaha menolong Ivea. Setangkas mungkin Kay berusaha
menuruni tangga dalam tempo kilat dan menepis tangan
Nathan yang hendak memapah Ivea untuk berdiri.
Kau ini kenapa? Kan sudah ku bilang tidak usah
bekerja! Kay membantu Ivea berdiri sambil meggerutu.
Kepala Ivea memar, pasti karena membentur lantai.

Aku sepertinya tersandung kabel lampu. Jawab Ivea


sambil menggosok keningnya dengan tangan kiri dan
tangan kananya menunjuk kabel lampu yang seringkali
Nathan gunakan untuk lighting saat pemotretan di dalam
galeri.
Kay melihat kearah yang di tunjuk Ivea, tapi
kemudian matanya menatap Nathan yang masih
mematung memandangi mereka tanpa berkata apa-apa.
Anak ini kenapa? Kay membatin. Ayo keruanganku saja!
Katanya sambil memapah Ivea masuk keruanganya tanpa
memandang Nathan lagi.
***
Nathan mengaduk cangkir kopinya dengan malas.
Melihat Ivea jatuh tadi tubuhnya bergerak secara spontan
menyongsong Ivea, tapi Kay menepis tanganya keras
sebelum Nathan dan Ivea sempat bersentuhan. Kay
berbeda, sikapnya sama sekali tidak biasa. Selama ini Kay
tidak pernah berbuat seperti itu kepadanya. Pandangan
yang Kay berikan untuknya tadi membuat Nathan merasa
kalau Kay sedang menyalahkanya atas luka yang Ivea
dapat. Nantan memejamkan kedua matanya berharap
mendapatkan ketenangan lebih setelah melakukan hal itu.
Tapi kelihatanya sia-sia.
Kalian kenapa? Hari ini kelihatanya aneh!
Nathan menoleh kearah suara. Tara sedang berdiri di
depan pintu Pantry yang terbuka dengan bertolak

pinggang. Tara Soedarnadi adalah orang kepercayaan Kay


dan juga pemilik Caf di sebelah. Tapi sepertinya Tara
lebih sering menghabiskan waktu di galeri di bandingkan
dengan di cafenya sendiri. Begitu juga dengan hari ini. Tara
pasti akan berada di Chinamons seharian karena semalam
dia sudah melakukan evaluasi keuangan cafenya.
Tidak ada! Nathan berusaha tersenyum. Ia lalu
duduk di meja makan kecil yang berada di tengah ruangan
sambil menyeruput kopinya beberapa kali. Pagi-pagi begini
dirinya sudah di rasuki perasaan kecewa.
Kau, kapan akan mengatakan sesuatu? Kenapa selalu
bilang tidak ada sedangkan wajahmu menyiratkan kalau
sedang terjadi sesuatu? Tanya Tara lagi, Ia masuk ke
pantry dan duduk di hadapan Nathan setelah membuat
capuchino Instan yang mengeluarkan aroma hangat. Kau
cemburu pada Kay?
Astaga, Mbak ini sedang bicara apa? Aku cuma
kaget, ternyata kabel lampu bisa membuat orang cidera.
Benarkah?
Sebenarnya Kay hari ini juga agak berbeda!
Iya, sepertinya lebih protektif pada Ivea. Kita semua
juga tau kalau dia dan Ivea memang dekat. Ivea sudah
seperti adiknya sendiri, kelakuan mereka berdua juga
sudah seperti saudara selama ini. Jadi kau jangan khawatir
dengan yang tadi. Mungkin Kay sedang sensitif karena
Ivea terluka!
Aku cuma merasa bersalah, Alat-alat kerjaku melukai
orang lain!

Bukanya cuma memar ringan? Kalau begitu bawakan


dia air hangat untuk mengompres luka memarnya!
Nathan jadi bersemangat. Benar sekali kata Tara
barusan, ia merasa bersalah karena Ivea terluka, maka
itulah obatnya.
***
Dengan semangat Nathan membawa sebaskom air
hangat dan sebuah handuk kecil berwarna putih bersih
untuk Ivea. Pintu ruangan Kay terbuka, Kay memang tidak
pernah menutup pintu kalau bukan untuk membicarakan
hal penting. Apa yang sedang mereka lakukan didalam?
Semangat Nathan tiba-tiba pupus saat melihat Ivea
berbaring di sofa dan Kay meniup luka memarnya dengan
lembut.
Sebentar lagi obatnya kering Kata Kay. Kau
seharusnya lebih hati-hati! Bukanya sebentar lagi kau akan
tes masuk universitas? Kalau terluka parah bagaimana?
Kau mau menuda kuliah setahun lagi? Kebanyakan
menunda waktu kuliah tidak baik bagi perempuan!
Seharusnya tahun depan kau sudah jadi sarjana kalau kau
tidak terus-terusan menunda kuliah!
Mengomelnya nanti saja! Kepalaku masih pusing!
Ujar Ivea manja.
Apa kau bilang? Beraninya membantah! Pokoknya
kau terlarang menginjakkan kaki di sini sebelum kau lulus

ujian mengerti? Kau hanya boleh membawa kabar bagus ke


Chinamons!
Tapi aku bisa libur lebih dari sebulan kalau begitu!
Aku cuma tidak mau kau disini selama aku tidak ada!
Aku mau ke Tokyo dalam waktu lama, jadi kau tidak perlu
kesini kalau aku belum pulang! Mengerti?
Tapi
Jangan Membantah lagi. Kay menepuk ringan luka
memar di kening Ivea. Tapi kelihatanya itu cukup untuk
membuat Ivea menjerit kesakitan. Ia tertawa senang
melihat ekspresi Ivea yang kelihatanya sangat menderita,
Kay yang biasa sudah kembali. Makanya, berhentilah
berdebat denganku! Kau akan menderita kalau kau terus
membantah!
Nathan menghela nafas lega. Mungkin benar kata
Tara, hari ini Kay hanya merasa sensitif karena Ivea
terluka. Bagaimana mungkin Nathan bisa merasa
cemburu? Tunggu dulu, benarkah tadi aku cemburu? Tanya
Nathan pada dirinya sendiri. Sekarang dirinya masih ragu
akan masuk atau tidak. Kelihatanya Kay sudah mengobati
luka Ivea dan tidak membutuhkan apa yang di bawanya
kali ini.
Ngomong-ngomong sekarang di Tokyo sedang
musim dingin kan? Pasti sedang turun salju. Aku ingin
melihat salju di Tokyo! Suara Ivea terdengar lagi.
Di Tokyo tidak turun salju!
Bagaimana mungkin! Kau berbohong!

Aku sudah sering ke Tokyo dan tidak pernah melihat


salju! Jawab Kay lagi.
Mereka kembali berdebat, dan sepertinya Nathan
tidak perlu mengganggu. Kay sudah menggantikan
tempatnya dengan baik untuk mengobati Ivea yang luka.
***
Ivea fikir dirinya akan bertemu dengan orang-orang
baru selama ada di kampus baru. Ternyata, meskipun Ivea
bertemu teman yang baru para pengajarnya bukanlah
orang yang baru. Beberapa orang pengajar seringkali di
lihat Ivea bersama dengan Kay di berbagai acara, satu di
antaranya adalah sahabat dekat Kay yang sering datang ke
Galeri, Bianca Karta pemilik majalah SmiloQueen yang
terkenal itu. Dan Kay ternyata juga mengajar disini dalam
mata kuliah khusus.
Ini adalah kali kesekian Ivea bertemu dengan Kay di
kelas, dan Ivea terpaksa membiasakan dirinya memanggil
Kay dengan sebutan Miseur. Semua temanya memanggil
Kay dengan sebutan itu dan akan menjadi tidak sopan bila
Ivea memanggil Kay dengan nama saja seperti yang biasa
di lakukanya.
Ivea, begitu pelajaran selesai temui saya di kantor!
Kata Kay. Ia melihat jam di tanganya beberapa lama tapi
kemudian segera melangkah keluar kelas meninggalkan
mereka semua.

Kay, meskipun penampilanya selama di kelas berbeda


dengan penampilan yang biasa Ivea lihat, ia sama sekali
tidak mengubah sikap bersahabatnya. Nyaris semua anak
di kelas menyukainya dan tidak ada satupun yang
berkomentar buruk. Tapi Kay tidak menjadi idola seperti
Madame Bianca Karta atau Bian. Wanita itu selalu mengajar
dengan penuh keceriaan yang membuat mata kuliahnya
selalu di tunggu-tunggu sepanjang minggu. Terkadang
bermacam-macam kata dalam bahasa Prancis yang sering
di ucapkanya bisa membuat kelas riuh di penuhi gelak
tawa. Selain itu, meskipun Bian adalah seorang pemarah, ia
tidak pernah membawa amarahnya keluar kelas. Dia akan
mudah tertawa dan melupakan kalau di kelas dia sudah
mencaci maki mahasiswa dalam bahasa asing.
Ada apa? Kenapa kau bisa di panggil oleh Miseur?
Voni tiba-tiba saja duduk di sebelah Ivea yang sedang
termenung. Gadis itu adalah teman sekelas Ivea yang
dikenal ramah di kelas.
Gadis berperawakan tinggi dan agak gemuk itu selalu
tertarik membicarakan Kay setiap kali. Kay dengan mata
kelabunya memang cukup menarik perhatian temantemanya yang kebanyakan adalah perempuan. Tapi
kebanyakan dari mereka juga tidak berani mendekati Kay
karena prasangka-prasangka aneh yang mereka ciptakan
sendiri.
Mungkin mengenai tugas. Jawab Ivea dengan malas.
Menurutmu Miseur tampan atau tidak?

Ivea memandang Voni dengan kening yang berkerut.


Selama ini dia tidak pernah memperhatikan apakah Kay
tampan atau tidak. Tapi Kay yang memiliki hidung
mancung dan bola mata kelabu itu memang terlihat spesial,
terlebih wajah Kay yang agak Oriental menambah kesan
unik pada dirinya. Ummentahlah. Mungkin iya!
Banyak anak-anak yang bilang kalau Miseur kurang
gaya. Dia gay tidak ya? Kebanyakan desainer kan!
Sembarangan! Seru Ivea memotong kalimat Voni
sesegera mungkin. Tidak semua desainer pria adalah gay.
Lagi pula kalau memang gay kenapa? Tapi apa Kay
memang seorang gay? Ivea tidak pernah bertanya-tanya
tentang percintaan Kay sebelumnya.
Oh ya, aku hampir lupa. Ada seseorang yang
mencarimu dan menitipkan ini! Voni memberikan secarik
kertas kepada Ivea. Ia kemudian kembali sibuk dengan
ocehanya tentang Kay dan dugaan-dugaan teman-temanya
mengenai segala macam kisah percintaan Kay.
Ivea sudah tidak bisa mendengarkan apa-apa lagi.
Fikiranya sudah terfokus kepada secarik kertas yang di
lipat empat itu dan membukanya pelan-pelan. Sebuah
memo untuk Ivea dari Nathan.
Eve, kau pulang jam berapa?Kalau jam
pelajaranmu sudah selesai bisa kita bertemu? Aku
mau membicarakan sesuatu. Aku tunggu di
parkiran fakultasmu ya?
Nathan

Tiba-tiba saja Ivea membeku. Nathan ingin


membicarakan sesuatu. Membicarakan apa? Tentang
Nathan yang tidak pernah bisa menyukainya lebih dari
seorang teman? Tapi bukankah hal itu sudah menjadi cerita
lama? Ivea bahkan sudah tidak pernah datang lagi ke galeri
pada siang hari karena takut bertemu dengan laki-laki itu.
Tapi kali ini Nathan menunggunya untuk membicarakan
sesuatu. Kenapa tiba-tiba jantung Ivea berdetak keras?
Sudah lama Ivea tidak merasa begini. Apa yang harus di
lakukanya?
***
Nathan duduk tenang di atas sepeda motor matic-nya .
Ia sudah bolos kerja hari ini, sejak pagi tadi. Entah apa yang
mendorongnya untuk menemui Ivea di kampusnya dan
masih bertahan dalam posisi yang sama hingga sekarang.
Nathan sudah berperang dengan hatinya semalaman
menolak kata-kata rindu masuk ke sekujur tubuhnya. Tapi
keputusanya tetap sama, Nathan sama sekali tidak bisa
menyangkal kalau dirinya sangat merindukan Ivea. Hari
ini sudah memasuki bulan ketiga dan dia tidak memiliki
kesempatan sama sekali untuk bertemu dengan Ivea.
Semenjak Ivea kuliah, mereka sama sekali tidak pernah
bertemu, dan drastis galeri menjadi sangat sepi.
Kau sudah lama disini?

Nathan mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk tak


bersemangat. Wajah Ivea yang sudah sangat lama tidak di
temui kini bisa di tatapnya kembali, dan gadis itu
tersenyum. Senyum yang berhasil menjadikan sengatan
matahari yang terik menjadi sejuk bagai hembusan angin
sore. Masih Ivea yang sama, dia sama sekali tidak berubah.
Nathan
spontan
berdiri
dari
duduknya
dan
menghembuskan nafas pelan-pelan untuk menghilangkan
kegugupanya. Ivea masih menanti jawabanya.
Tidak juga!
Mau membicarakan apa?
Umm Nathan memikirkan kata-kata yang tepat.
Itu yang belum di persiapkanya. Haruskah dia mengatakan
bahwa dirinya sedang merindukan Ivea?. Aku mau minta
maaf!
Kedua alis Ivea bertaut. Atas apa?
Atas luka memarmu itu. Kau ingat kan?
Oh, karena kabel itu? Sudah sangat lama sekali. Aku
bahkan tidak ingat kalau kau tidak mengungkitnya hari
ini! Ivea tersenyum lagi. Kelihatanya dia merasa sangat
senang hari ini. Kenapa kau harus minta maaf?
Aku cuma merasa sedikit bersalah. Kau terluka
karena peralatanku! Kita juga tidak pernah bertemu lagi
semenjak itu. Aku fikir kau marah padaku!
Mana mungkin aku bisa marah karena hal sepele
seperti itu!
Bukan cuma yang itu.
Ya? Apa lagi?

Tentang ucapanku waktu itu, kalau aku tidak


mungkin bisa menyukaimu lebih dari seorang teman.
Akuummaku Nathan menggigit bibirnya. Tidak
ada hal lain yang bisa di lakukanya selain hal itu karena
ponsel Ivea berbunyi nyaring.
Ivea mengangkat ponselnya setelah sebelumnya
permisi menjauh. Pasti Kay yang menelpon, Karena
perdebatan yang seperti itu hanya akan di lakukan Ivea
dengan Kay saja. Ivea bukanlah orang yang banyak bicara
dan dia hanya bisa buka mulut jika sedang bersama Kay.
Nanti kita lanjutkan ya? Aku harus menemui Miseur
Keith dulu. Aku lupa kalau tadi dia menyuruhku
menemuinya di ruanganya. See ya! Dan Nathan harus
melihat Ivea pergi.
Sebenarnya Nathan sangat igin mengajak Ivea pergi
makan siang dan kembali ke galeri bersama-sama. Tapi
sepertinya Nathan harus menyimpan perasaan kecewanya
dalam-dalam untuknya sendiri. Ivea sedang menjauh
menuju Kay.
***

3
Cukup mudah kan tugas kalian? Saya harap
rancangan itu bisa saya terima akhir minggu ini. Setelah
rancangan ini, kalian tidak perlu ujian semester lagi karena
nilai semester kalian di ambil dari sini. Jadi berusahalah!
Ivea mengulangi kata-kata Kay tadi pagi dikelas saat
dia dan Tara makan siang bersama. Bagi Ivea awalnya
semua ini bukan beban, sangat menyenangkan bisa praktek
tanpa teori. Tapi saat mengetahui kalau nilai semester juga
di ambil dari sini Ivea tiba-tiba merasa cemas karena pada
dasarnya Ivea berkuliah disana karena bergantung pada
beasiswa. Untuk selalu bertahan dengan beasiswa Ivea juga
harus selalu menjaga kestabilan nilainya. Lalu bagaimana
bila nilainya jatuh? Merancang busana pengantin
kelihatanya sulit, karena dimana-mana wedding dress selalu
berkonsep sama. Itulah yang membuatnya tidak yakin
akan mendapatkan nilai tinggi. Sampai saat ini saja
beberapa teman sekelasnya ada yang membuat desain
dengan konsep dan gaya yang mirip sehingga tak jarang
pertengkaran terjadi karena itu.
Aku bahkan belum terfikir sama sekali. Kata Ivea
sambil menggeser duduknya keposisi yang lebih nyaman
untuknya. Sebenarnya sudah ada rencana, tapi belum ku
gambar sama sekali.
Kau kesulitan ya? Kenapa tidak kau tanyakan saja
kepada Kay?

Mana aku berani, Mbak! Dia bisa marah. Ini kan mata
kuliahnya, dia tidak akan memberi saran apa-apa.
Jangan minta saran dong! Gambar rancanganmu dan
tanyakan pendapatnya! Dia tidak akan pelit kalau
mengenai pendapat. Makanya banyak orang yang suka
curhat sama dia!
Bener mbak?
Pasti! Sekarang keluarkan alat tulismu itu dan
gambar dulu disini. Nanti akan ku beri sedikit saran
sebelum kau menanyakan pendapatnya.
Ivea berusaha merogoh tasnya dan mengeluarkan
sebuah binder dan pensil. Kertas-kertas yang berada di
dalam Binder berwarna biru muda itu berbeda dengan
kertas yang lain, Binder itu khusus berisi kertas-kertas
desain dan itu adalah hadiah dari Kay saat Ivea bisa lulus
dengan baik dan bisa mengajukkan beasiswa. Menurut Kay
itu hanya ungkapan terima kasih kecil karena dia tidak
perlu mengeluarkan uang untuk membiayai Ivea meskipun
itu dalam bentuk pinjaman. Saat mengatakan itu Kay
terdengar seperti orang yang sangat pelit.
Goresan demi goresan di lakukan Ivea dengan sangat
hati-hati, ia bahkan tidak meggunakan penghapus sama
sekali dan membuat gambar dari sisi belakang juga. Tara
cukup terkagum-kagum melihat detail yang Ivea buat. Ivea
bahkan mampu
menggambar sulaman bunga-bunga
dengan gambar yang manis.
Bagaimana?

Wah cepat sekali! Pantas Kay sangat menyukaimu.


Dia menyukai anak-anak yang cerdas. Aku ingat kalau
dulu Chastine juga sama sepertimu. Tapi Eve, mengapa
kau buat gaun yang pendek?
Pakaian yanag paling aku sukai adalah sepatu, jadi
aku ingin saat menikah nanti menggunakan sepatu yang
indah dan bisa memperlihatkanya dari berbagai sisi.
Makanya ku buat seperti ini!
Kalau begitu langsung bawa pada Kay sana!. Hari ini
dia tidak makan siang. Mungkin ada di ruanganya!
Ok. Permisi Mbak!
Ivea kemudian meninggalkan Tara dengan langkah
senang. Tapi diam-diam ke khawatiran menyusup di
hatinya. Gaun seperti ini tidak akan laku di jual karena
kebanyakan orang menyukai gaun yang kelihatan mewah
menyapu lantai. Kay tidak akan menyukai gaun yang tidak
menghasilkan uang. Benar atau tidak Kay orang yang
seperti itu, setidaknya dia selalu mengesankan kalau
dirinya adalah seorang desainer mata duitan. Pintu ruang
kerja Kay terbuka lebar. Laki-laki itu sedang berkonsentrasi
pada sembuah buku tebal yang ia baca dengan pandangan
serius di balik kaca mata tebalnya. Kaca mata yang selalu di
gunakanya di kampus. Sepertinya Kay merasakan
kedatangan Ivea sehingga ia menoleh kepada Ivea yang
hendak mengetuk pintu.
Ada apa?

Aku mau bertanya sesuatu. Ivea kemudian


mendekat dan meletakkan gambarnya diatas meja.
pendapatmu tentang desainku ini bagaimana?
Kay melirik sekilas ke desain yan Ivea buat, lalu
kembali membaca bukunya. Kay kelihatanya sangat tidak
tertarik.
Bagaimana? Tanya Ivea penasaran.
Aku tidak bisa mengomentari apa-apa karena tugas
itu aku yang memberikan.
Ivea mendengus kecewa. Sudah ku duga bisik Ivea pada
dirinya sendiri. Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu.
Katanya lemah. Mungkin memang sebaiknya Ivea tidak
bertanya apa-apa. Ia melangkah malas menuju keluar
ruangan tapi tiba-tiba Kay menghadangnya dan segera
menutup pintu. Kay memandangnya dengan pandangan
yang berbeda lalu memeluk Ivea dengan sangat tidak
terduga. Tiba-tiba Ivea merasakan sesuatu yang berbeda
tentang Kay bagi dirinya. Nafasnya agak sesak. Ivea tidak
boleh begini, dia tidak boleh begini.
Kay, Kenapa?
Aku sedang bad mood.Katanya pelan. Kau tidak
akan menolak kan untuk menemaniku sebentar saja?
Tentu saja tidak, kau selalu menemaniku saat aku
butuh! Jawab Ivea. Dia berusaha untuk bersuara dengan
lebih ceria meskipun hatinya masih shock. Kay tidak pernah
seperti ini sebelumnya meskipun perasaanya sedang tidak
baik. Ini pertama kalinya.
***

4
Ivea memegangi kepalanya sambil memandangi kertas
desain. Kelihatanya anak itu merasa sangat bingung.
Secangkir teh hangat yang berada di mejanya mungkin
sudah dingin karena tidak di sentuh. Jam Makan siang
sebenarnya sudah lewat sekitar se jam yang lalu. Tapi Ivea
masih belum beranjak dari sana, dari kursinya yang berada
tepat di sebelah kaca anti pecah di caf milik Tara yang
membuat wajahnya terlihat terang karena cahaya matahari
yang bersinar terik di luar. Ivea kelihatanya tidak
merasakan panasnya karena dia betah berada disitu selama
berjam-jam.
Kelakuan Ivea yang seperti itu sukses membuat
Nathan tersenyum-senyum memandanginya. Melihat Ivea
hari ini, meskipun dari jauh masih cukup untuk
membuatnya bahagia. Ivea yang menggambar desain
dengan konsentrasi penuh, kemudian menggigit bibir lalu
meremas kertasnya, sudah menjadi perhatian Nathan
selama ia datang ke caf itu untuk makan siang. Tampang
geram Ivea sesekali membuat Nathan menahan gelak
tawanya karena takut di sangka orang gila oleh Tara yang
sejak tadi berada di hadapanya dan diam-diam
memperhatikanya.

Kelihatnya kau sangat tertarik dengan Eve!


Suara
Tara
membuat
Nathan
memalingkan
pandanganya dari Ivea secepat mungkin.
Apa? Umtidak. Cuma tidak sengaja melihatnya!
Jawab Nathan sekenanya.
Tidak sengaja sampai satu jam lebih? Kau bahkan
tidak memperdulikan aku yang dari tadi duduk
bersamamu. Kau membiarkan aku bicara sendiri seperti
orang gila! Tara lalu mendekatkan wajahnya ke wajah
Nathan yang ada di hadapanya. Kau menyukai Ivea ya?
Mengaku saja! Aku sudah curiga!
Nathan
tidak
menjawab,
ia
berusaha
menyembunyikan rona di wajahnya dengan meminum Jus
apelnya sebanyak yang dia bisa.
Aish desis Tara geram. Bukankah aku sudah
lama mengatakan padamu kalau anak itu juga tertarik
padamu. Sekarang tunggu apa lagi. Kalau kau lambat
hatinya bisa di rebut orang lain. Kay misalnya, Kita tidak
bisa memungkiri Kalau Kay sangat menarik, tidak sedikit
model yang tergila-gila kepadanya.
Rona di wajah Nathan tiba-tiba saja memudar. Ia
tertunduk kecewa pada dirinya sendiri. Melihat itu Tara
jadi merasa salah bicara.
Tidak, tidak! Kau jangan ambil pusing dengan katakataku barusan. Mana mungkin Kay bisa melakukan hal
seperti itu. Orang yang disayanginya sebagai saudara akan
selalu di sayanginya dengan cara itu selamanya! Aku yakin
Ivea diperuntukkan untukmu!

Aku yang tidak yakin, Mbak! Nathan bergumam


berat. Semenjak aku mengatakan hal bodoh itu dia benarbenar bersikap biasa. Tidak menunjukkan rasa tertariknya
sama sekali, bahkan tidak menyapa kalau aku tidak
memulai.
Hal bodoh seperti apa? Kau tidak pernah bercerita
apa-apa!
Aku tidak bisa menyukainya lebih dari sekedar
teman. Aku mengatakan itu saat aku menyadari perasaan
sukanya padaku!
He? Tara terkejut kemudian memukul keningnya
dengan telapak tangan. Harusnya kau lebih sabar untuk
bersikap seperti itu. Hati orang bisa berubah, hatimu juga.
Jangan membatasi dirimu pada sesuatu, sekarang kau
menyesal kan? Pasti begitu! Kenapa kau bisa
melakukanya?
Aku rasa aku juga menyukainya. Tapi suka saja tidak
cukup. Ada orang yang aku cintai, Mbak. Kau juga tau
siapa orangnya. Sampai saat ini aku belum bisa melepaskan
diri darinya, bagaimana bisa aku menyambut Ivea?"
Kau ini bodoh atau apa? Aliya yang melepasmu lebih
dulu. Tapi sampai sekarang kau masih seperti kacung yang
selalu mengikutinya kemana-mana. Kalau aku jadi Ivea aku
tidak mau melihatmu lagi seumur hidupku!
Nathan terperangah mendengar ucapan Tara barusan.
Menurut Mbak, Ivea berfikir begitu?
Ivea? Tentu saja tidak. Dia masih mau tersenyum
padamu,kan? setidaknya itu menunjukkan kalau masih ada

kemungkinan untuknya menerimamu kembali. Tara


memanjang-manjangkan tubuhnya untuk menepuk bahu
Nathan. Sudahlah. Sekarang lepaskan Aliya dan datang
kepada Ivea. Bawa Sandwich ini. Kulihat dia tidak
memesan apa-apa kecuali teh sejak tadi!
Nathan memandangi beberapa potong sandwich
dalam sebuah piring keramik berwarna kuning terang yang
di sodorkan Tara kepadanya. Semula Nathan masih ragu,
tapi setelah melihat wajah Tara yang penuh dengan
dukungan, Ia memutuskan untuk membawa sandwich itu
kepada Ivea yang berada di dekat jendela. Ivea masih
belum menyadari kedatanganya hingga dia memutuskan
untuk menyapa lebih dulu dengan kata Hallo, dan
mendapatkan sebuah senyum sebagai hadiahnya. Nathan
semakin bersemangat dan duduk di hadapan Ivea sambil
meletakkan sandwich itu di hadapanya.
Untukmu! Katanya dengan susah payah.
Ivea memandangnya. Aku di traktir?
Nathan mengangguk dalam. Makan saja. Kau sudah
melewatkan jam makan siang
tapi aku sedang tidak berselera! Aku harus
menyelesaikan deskripsi tugas ku
Aku kira kau sedang menggambar desain!
Desainya sudah jadi kemarin. Tapi aku masih
bingung harus menggunakan bahan apa. Aku berusaha
membuatnya jadi sederhana, ringan dan manis. Ivea
kemudian mengeluarkan kertas desainya dari binder yang
berada di atas meja. Gaun manis dengan motif bunga-

bunga berwarna merah jambu di sekitar dada tampak


sangat sederhana seperti kata Ivea. Motif itu bertahan
sampai ke lengan yang di buat minim, Sisanya, seperti
wedding dress pada umumnya, menggunakan warna putih
yang bermekaran hingga bawah lutut dengan layer yang
tidak begitu panjang dari sebuah pita besar yang menempel
pada perbatasan motif merah jambu yang berakhir
beberapa senti di bawah dada. Gaun yang manis dan
sopan. Aku mau menggunakan shifon agar terlihat ringan
meskipun berlapis-lapis. Tapi bagaiman dengan bordirnya?
Aku khawatir Shifon tidak mampu menanggung bordir
seberat ini! Lanjutnya.
Kenapa tidak gunakan brokat saja?
Leher Ivea yang tadinya lemas tiba-tiba tegak dan
bersemangat. Brokat?
Tidak ada salahnya kalau brokat di tempel pada
atasannya? Brokat pada zaman sekarang ini tidak hanya di
gunakan untuk kebaya. Banyak brokat yang putih polos
tapi bunga-bunganya berwarna di jual di pasaran. Brokat
bisa membuat kerja lebih cepat dan ekonomis. Aku rasa
hasilnya tidak akan mengecewakan! Suara Nathan
terdengar sangat Optimis. Ini pertama kalinya dia dan Ivea
berbicara panjang lebar, Nathan merasa senang bisa
berguna bagi Ivea.
Boleh juga! Kata Ivea dengan wajah penuh
senyuman
bahagia
seolah-olah
Nathan
sudah
membantunya membuang satu beban yang memberatkan
pundaknya.

***
Deadline pengumpulan tugas sudah tiba. Ivea dengan
langkah perlahan membawa tugasnya yang sudah di jilid
rapi kepada Kay di depan kelas. Entah mengapa dirinya
merasa sangat was-was dengan hasilnya. Terlebih melihat
pandangan Kay pada rancanganya yang kelihatan tidak
yakin. Kay menggeleng-gelengkan kepalanya sambil
memandang Ivea sesekali sehingga Ivea menjadi satusatunya mahasiswa yang berdiri lama di depan kelas.
Setelah Kay menutup kembali lembaran tugas Ivea dan
menumpuknya bersama dengan tugas-tugas yang lain, Ivea
kembali ke tempat duduknya dengan langkah gontai dan
membenamkan wajahnya kedalam pelukan kedua
lenganya yang saling bertumpuk di atas meja.
Untuk beberapa Jam berikutnya dunia seperti kosong.
Ivea benar-benar gelisah sehingga ia keluar masuk kamar
mandi galeri lebih sering. Itu terjadi karena Ivea meminum
banyak air putih di pantry untuk menghilangkan
kegugupanya. Ia sangat berharap pada desain buatanya.
Semula ia sangat yakin dengan desain minimalis karyanya.
Tapi sepertinya Kay tidak terlalu suka. Harusnya Ivea tau
bagaimana selera Kay setelah melihat gaun rancangan lakilaki itu yang di pajang memenuhi galeri. Gaun rancangan
Kay selalu tampak mewah dan sangat wah! Kay suka
menggunakan sutra dan satin dan menggunakan sulaman

sebagai pengganti brokat pada kebaya dan sejenisnya.


Apalagi menggunakan Shiffon sebagai rok dan layernya.
Ivea melakukan itu lagi, Ia meminum banyak air putih
dan menempelkan wajahnya pada meja makan yang
berada di tengah dapur. Dia selalu menginginkan yang
terbaik, lalu bagaimana jika karyanya kali ini sama sekali
tidak menjadi yang terbaik? Harapanya untuk
mendapatkan beasiswa pada semester depan bisa pupus
karena nilai semester yang kalah telak pada mata kuliah
yang satu ini.
Apa kau akan seperti ini terus? Kau membuat orangorang se-galeri jadi pusing! Tara menyilangkan kedua
lengan di depan dadanya sambil berdiri di sisi Ivea,
dimana wajah Ivea menghadap sekarang. Tenang saja.
Kalau hoki kau juga akan dapat nilai baik!
Masalahnya aku bukan orang yang di penuhi dengan
aura hoki, Mbak! gumam Ivea lemah. Ia menjadi kelihatan
sangat tidak bertenaga.
Light Up, dong! Shine like you always do!
Ivea menggeleng. Kali ini dia tidak akan bisa. Malam
ini Kay akan memberikan penilaian seperti apa pada karyanya? Kay bahkan mungkin masih berada di kampus untuk
menilai kertas-kertas yang menumpuk tadi. Sampai saat ini
Kay belum kembali ke galeri, hari ini mungkin Ivea tida
akan melihat wajahnya sampai besok pagi.
Kau mau aku beri obat penenang? Bisik Tara sambil
mendekatkan wajahnya pada wajah Ivea. Pandangan
nakalnya tampak mencurigakan.

Belum lagi Ivea memberi pesetujuan, Tara sudah


memanggil Nathan sehingga Ivea sedikit gelagapan. Suara
tapak kaki Nathan yang semakin mendekat dapat di
dengar ivea dengan jelas. Pria itu sekarang sudah berdiri di
depan pintu pantry bersama Tara, Tara kelihatan
membisikkan sesuatu ketelinga Nathan, sesuatu yang
mungkin tentang Ivea, pasti tentang Ivea karena keduanya
berbisik-bisik sambil memandanginya. Tara kemudian
meninggalkan mereka dan dalam beberapa detik kemudian
wanita itu sudah terdengar berbicara dengan pelanggan
sambil tertawa keras. Sedangkan Nathan, sekarang sudah
berada di hadapanya dan tersenyum lembut.
Kalian membicarakan apa? Membicarakan aku?
Tanya Ivea.
Nathan menggeleng sambil menggeser kursinya untuk
merapat ke sisi Ivea. Membicarakan aku! Jawabnya.
Kau? Ada apa?
Karena aku sedang gugup sekarang!
Ivea
jadi
semakin
heran,
Nathan
sedang
membicarakan apa!
Kau kenapa? Tanya Nathan. Kenapa Mbak Tara
sampai memintaku menemanimu? Kau ingin aku temani?
Ivea menggeleng kuat-kuat. Tidak, dia yang
mengambil inisiatif itu sendiri. Ivea kemudian diam
karena menyadari Nathan sedang memandanginya. Ia
tertunduk. Mungkin tidak ada salahnya bila Ivea
menceritakan kegelisahanya pada Nathan dengan harapan
bisa sedikit mengurangi beban. Soal desain kemarin, tadi

siang aku sudah mengumpulkanya. Aku cuma gelisah


karena ekspresi Kay saat melihatnya kurang baik. Aku
khawatir mendapatkan nilai yang tidak bagus. Seharusnya
aku tau bagaimana selera Kay. Tapi desainku benar-benar
berlawanan dengan seleranya! Bagaimana ini! Ivea
kemudian menutup wajahnya.
Beberapa detik berikutnya rasa hangat dari tangan
Nathan menjalari tanganya. Nathan telah menggenggam
kedua tangan Ivea erat-erat dan memandanginya dengan
pandangan tak biasa. Apa yang kau butuhkan?
En..tah-lah! Jawab Ivea gugup, Ia berdehem kecil.
Seandainya aku bisa melupakan masalah ini untuk sejenak
saja, sampai besok pagi.
kalau begitu akan ku kabulkan!
Dan tubuhnya berada dalam pelukan Nathan seketika.
Ivea terkejut dengan sikap Nathan kali ini. Nathan sudah
bersikap seperti orang lain, tapi pelukan Nathan entah
mengapa mengingatkanya kepada Kay. Ia tidak bisa
melupakanya, Cara Nathan ini gagal, mengingat Kay
berarti mengingat tugasnya dan pandangan tidak puas Kay
di kelas tadi. Ivea berusaha mendorong tubuh Nathan tapi
Nathan menolak untuk melepaskanya.
Aku rasa cara ini tidak akan berhasil. Hatiku tidak
cukup kuat untuk melupakan masalah yang sangat
mengganggu itu!
Lalu
bagaimana
caranya
agar
kau
bisa
melupakanya? rangkulan Nathan semakin kuat, suara

Nathan barusan terdengar sangat dekat dengan telinga


Ivea. Kau pernah membaca Vampire Knight?
Mmm? Tidak!
Perlu hati yang kuat untuk melupakan masalah yang
mendominasi sebagian besar fikiran kita, dan kau tau Yuki
dalam komik itu berpendapat apa? Mungkin harus menjadi
vampire dulu baru kau bisa memiliki hati yang kuat.
lalu apa hubunganya?
Apa kau mau menjadi Vampir? Suara Nathan tibatiba terdengar mengerikan, Ia meniru kata-kata Kaname
Kuran dengan sukses.
Kau jangan becanda!
Aku serius. Bila di dunia ini memang ada vampire,
apa kau juga mau menjadi vampire?
Ivea terdiam sesaat. Kelihatanya cara Nathan kali ini
berhasil, kekhawatiran Ivea sedikit memudar beralih
kepada fikiranya tentang vampir. Vampir bisa hidup abadi
kan? Menjalani masa hidup yang lama dengan beban
meminum darah untuk bertahan hidup memang
memerlukan hati yang kuat. Terlebih usia yang panjang
membuat vampire mungkin menghadapi masalah lebih
banyak dan lebih kompleks.
Jika aku adalah vampir, apakah kau akan merelakan
darahmu untuk ku minum?
Jika itu memang bisa membuat aku jadi lebih kuat
kenapa tidak! Jawab Ivea jenaka. Ia tertawa kecil dengan
pembicaraan mengenai vampir ini, tapi tawanya segera
memudar begitu merasakan nyeri yang mematikan

syarafnya. Ivea tidak mampu bergerak lagi, Nathan benarbenar sudah menggigit lehernya.
***
Nathan memandangi dirinya di cermin. Ia tertawa
melihat wajahnya sendiri sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya sesekali. Tindakan bodoh seperti apa yang
sudah di lakukanya tadi sore? Ia tidak menyangka kalau
dirinya bisa bertindak sejauh itu. Tara tadi memang
membisikkan padanya untuk lebih berani, tapi tentu yang
di maksud Tara dengan berani bukan menggigit ivea
seperti tadi. Masih terngiang di telinga Nathan pekikan
kecil Ivea yang sangat dekat dengan telinganya. Sakit. Pasti
begitu, meskipun Ivea tidak terluka tapi tubuhnya menjadi
lemah seketika. Seandainya tidak ada Tara, Nathan
mungkin tidak akan berhenti sebelum leher ivea benarbenar sobek dan mengeluarkan darah.
Ponsel Nathan berbunyi. Ia merogoh saku celananya
dan mengeluarkan ponsel itu dari sana, membuka Flapnya
dan mendekatkanya ke telinga. Telpon dari Aliya, Nathan
sebenarnya tidak ingin menerima telpon dari wanita itu,
tapi entah mengapa tubuhnya bergerak melawan perintah
otaknya.
Hallo,Jawab Nathan dengan tidak bersemangat.
Nat, Kau sibuk tidak malam ini? Bisa temani aku ke
acara ulang tahun teman?
Maaf,Aku sedang capek!

Kalau besok bagaimana? Motormu di tinggal saja,


besok aku jemput di galeri. Kau mau kan menemaniku
belaja?
Nathan memijat pelipisnya. Yang ada di fikiranya
sekarang cuma Ivea, yang ingin di lakukanya hanya
berbaring di tempat tidur semalaman dan dan mengenang
kejadian tadi. Untuk pertama kalinya ia menganggap Aliya
sebagai pengganggu. Aku tidak bisa, besok ada
pemotretan pree wedding di Anyer. Maaf! Dan Nathan
segera menutup ponselnya sebelum Aliya berkata lebih
banyak lagi.
Ia sudah berusaha lepas dari Aliya dan datang kepada
Ivea. Meskipun perasaanya pada aliya belum lenyap
seratus persen, tapi Nathan sangat menyadari bahwa
perasaanya kepada Ivea semakin membesar. Saat ini Ivea
mendominasi fikiranya.
Bagaimana keadaanya sekarang? Fikir Nathan. Ia
berusaha mengetik pesan unuk Ivea sekedar untuk
menanyakan keadaanya. Tapi Nathan baru sadar kalau
dirinya tidak pernah menyimpan nomor ponsel Ivea. Ia
menghela nafas berat. Jam dinding menunjukkan waktu
tengah malam, Nathan jadi gelisah begitu ingat kalau besok
dia tidak akan bertemu Ivea seharian untuk mengucapkan
kata maaf yang tadi tidak sempat di ucapkan karena Tara
sudah histeris melihat kelakuanya. Ia membaringkan
tubuhnya di ranjang, Ivea mungkin sudah tidur, tapi
Nathan sama sekali tidak bisa tidur.

5
Kelihatanya upaya Nathan memang sukses. Ivea sama
sekali tidak mengingat-ingat lagi tentang tugasnya yang
mengkhawatirkan itu. Bahkan mungkin dirinya tidak ingat
kalau dirinya pernah mendapat tugas yang menjadikanya
gelisah selama seminggu penuh. Yang Ivea ingat hanya
rasa nyeri yang masih terngiang-ngiang meskipun
sebenarnya ia tidak begitu merasa sakit lagi seperti
kemarin.
Bercanda Nathan agak kelewatan, Ivea menggosokgosok lehernya dan masih merasa nyilu saat kulit
jemarinya menyentuh bekas gigitan itu. Seluruh lengan
sebelah kanan juga merasakan hal yang sama. Ivea bahkan
harus mengaduh saat Voni menepuk bahunya tadi pagi.
Tapi meskipun begitu, pembicaraan tentang Vampire juga
cukup menarik. Ivea jadi ingin tau bagaimana cerita komik
yang di sebut-sebut Nathan itu.
Ivea Suara Voni berbisik mengejutkan Ivea,
sebenarnya bukan hanya suara Voni, tapi genggaman erat
pada lenganya yang membuat rasa nyeri itu bangkit lagi.
Ivea segera menarik lenganya dan memandangi Voni.
Ada apa?
Madame Bian memanggilmu!
Pandangan Ivea segera beralih kedepan kelas, dimana
Bian dan Kay ada disana dan memandangi Ivea dengan

heran. Butuh waktu lama bagi Ivea untuk menyadari apa


yang sedang di lakukan oleh mereka berdua dikelas ini.
Tapi kemudian kesadaran Ivea pulih seratus persen dan dia
sudah bisa mengingat Kalau Kay sedang mengumumkan
hasil tugasnya dan Bianlah yang mengambil alih penilaian
terhadap rancangan Ivea dan teman-teman lainya.
Ya, Madame! Ivea menjulurkan tanganya keatas
sebisa mungkin sambil menahan rasa sakit.
Kau melamun? Tanya Bian. Sedang tidak sehat?
Tidak, saya cuma kurang tidur karena memikirkan
hasil rancangan saya.
Voila! Kau tidak sia-sia mengorbankan waktu
tidurmu. Berdasarkan penilaianku, Rancanganmu yang
menempati posisi tertinggi. Cantik, ringan, sopan, dan
yang paling penting ekonomis.
Ya? Ivea terkejut. Maksudku, benarkah?
Tentu saja. Ku harap dalam waktu dua minggu kau
bisa menyelesaikan gaunmu itu karena selain jaminan nilai
semester, kau juga memenangkan satu halaman dari
majalahku. Bian tersenyum seolah-olah dia ikut
berbahagia. Dan selama pembuatan gaun itu, kau akan
mendapat bimbingan penuh dari Miseur kalian ini.
Selamat!
Ivea sangat senang, Ia ingin melompat-lompat untuk
mengekspresikan perasaanya, tapi tidak jadi mengingat
tubuhnya tidak begitu fit. Walhasil, seharian ini hanya di
habiskanya dengan senyum sumringah hingga akhirnya ia
pulang kuliah dan kembali bekerja di galeri. Hari ini

Meskipun di galeri sangat sibuk, Ivea menjalaninya dengan


suka cita, membantu Tara adalah pekerjaan yang paling
menyenangkan untuk di lakukan hari ini.
Kau kenapa? Senyum-senyum sepanjang hari. Jangan
bilang kalau kau terkena gangguan kejiwaan karena virus
yang di tularkan Nathan kemarin! Bisik Tara nakal.
Jam didinding menunjukkan kalau hari sudah semakin
gelap. Tapi galeri baru saja sepi setelah seharian ini di
penuhi dengan hiruk pikuk yang benar-benar membuat
semua orang sibuk, baik Kay, Tara dan juga Ivea. Sebentar
lagi jam makan malam tiba, beberapa lampu Galeri sudah
dimatikan dan mereka akan segera pulang.
Aku cuma bahagia, rancanganku mendapat
sambutan baik.
Oaku kira Kata-kata Tara menggantung.
bagaimana rasanya sekarang? Sudah lebih baik? Aku
bingung karena kemarin sore kau seperti orang yang tidak
berdaya.
Ivea tersenyum mengingat kejadian kemarin.
Untungnya Kay sedang tidak ada di tempat. Kalau saat itu
Kay ada, semuanya pasti lebih heboh. Aku baik-baik saja!
Tapi seharian ini kau memakai jaket, mencurigakan
sekali. Apakah berbekas?
Sedikit!
Angin malam tiba-tiba berhembus begitu Tara dan
Ivea keluar dari galeri dan menunggu Kay turun untuk
mengunci pintu. Tapi seseorang segera menghampirinya.
Wanita berambut panjang dengan make Up tebal yang

membuatnya tampak ekstra cantik menyapa mereka


dengan ramah. Bianca Karta. Penampilanya diluar maupun
di sekolah selalu tampak sama. Tapi di sekolah Bian tidak
pernah memakai gaun sependek yang di kenakanya
sekarang.
Kalian sudah mau pulang? Mana Kay?
Sebentar lagi dia turun! Jawab Tara. Kau masuk
saja, aku mau mengantar Ivea pulang!
Oh, tunggu sebentar. Tara, Kau pulang sendirian
tidak apa-apa kan? Aku dan Eve punya urusan penting
yang harus di bicarakan!
Bagaimana Eve? Tidak apa-apa? Tara bertanya
kepada Ivea. Dan setelah melihat Ivea menggeleng kecil
dengan di sertai senyumnya, Tara memutuskan untuk
pulang sendirian. Aku permisi dulu! Katanya sebelum
akhirnya Tara benar-benar pergi dengan mobilnya.
Tidak perlu menunggu lama, Kay turun dan
menghampiri mereka. Ia terlihat santai dengan Jeans, Tshirt hitam dan Jas abu-abunya. Rambut panjangnya yang
berwarna kemerahan di ikat rapi seperti yang selalu Kay
lakukan di Kampus.
Kau bercanda? Kita mau ke karaoke. Kenapa kau
berpenampilan seperti akan pergi mengajar? Tanya Bian
sengit begitu melihat Kay mengunci pintu galerinya.
Karaoke? Kau bilang kita cuma pergi makan bersama
staf perencanaanmu!
Memangnya di Karaoke tidak bisa makan?

Kay mendesis kesal. Dan kau mau mengajak Eve


ketempat seperti itu?
Memangnya kenapa? Eve bukan anak usia belasan
tahun lagi kan? Lagi pula ini bukan mauku. Mereka yang
mengatur
tempatnya
dan
kita
hanya
tinggal
menghadirinya saja. Kenapa harus repot?
***
Ivea berkali-kali melihat Jam monolog yang menjadi
screen saver ponselnya. Sekarang sudah jam sepuluh
malam. Seharusnya dia sudah tidur nyenyak di rumah
bersama Chastine. Ivea sangat gelisah meskipun Bian dan
teman-teman
lainya
adalah
orang-orang
yang
menyenangkan, meskipun Chastine juga ada disini, Ivea
tetap merasa rishi. Dia adalah orang luar yang bergabung
dalam acara yang di adakan oleh para staff SmiloQueen
karena satu rancanganya akan memenuhi salah satu
halaman majalah yang di gawangi Bian untuk edisi bulan
depan.
Kay sendiri juga sudah menguap beberapa kali. Ia
memandangi Ivea dan menggerakkan mulutnya seperti
sedang mengatakan sesuatu. Meskipun tanpa suara Ivea
bisa menangkap bahwa Kay mengajaknya pulang. Ivea
mengangguk senang. Akhirnya ada juga orang yang
sefikiran denganya untuk segera pergi menghindari pesta
aneh di tempat konyol seperti ini. Selang beberapa saat,
Kay dan Bian terlihat berdebat di tengah deru musik yang

kencang, tapi kemudian Kay dan Bian saling berpelukan


dan Bian juga melakukan hal yang sama pada Ivea.
Hati-hati di jalan ya? Kata Bian sebelum akhirnya ia
melepaskan pelukannya pada Ivea dan membiarkan Ivea di
bawa pergi oleh Kay.
Sepanjang koridor gedung karaoke ini sangat asing
bagi Ivea. Dari beberapa pintu bahkan terdengar bunyibunyian aneh yang membuat Ivea merinding. Beberapa
orang laki-laki yang berjalan berselisihan dengan mereka
terus memandangi Ivea tanpa henti. Salah satu dari mereka
mencoba mendekat dan memaksa Ivea untuk mengobrol
denganya meskipun Ivea tidak bersedia. Sejak saat itu
tangan Kay menggenggam tangan Ivea erat, mengesankan
bahwa Ivea adalah miliknya, bersamanya dan tidak boleh
di ganggu tanpa seizinya. Setidaknya Ivea masih merasa
beruntung karena Kay juga ikut hari ini.
Kau dan Nathan bagaimana? Belakangan ini aku
sangat sibuk sehingga tidak bisa memperhatikan kalian
lagi Kay membuka suaranya.
Kami baik-baik saja. Belakangan semuanya semakin
membaik!
Mmm! Gumam Kay mengerti. Kalau begitu aku
tidak perlu sok protektif lagi kan?
Untuk apa menanyakan hal seperti itu? Bukanya
semenjak pulang dari Jepang kau dan aku nyaris tidak
pernah saling bicara!
Begitu ya? Kay kelihatanya sedang tidak
bersemangat bicara. Mungkin pembicaraanya kali ini

sedikit di paksakan agar dia dan Ivea tidak kelihatan


canggung.
Kenyataanya memang begitu. Semenjak pulang dari
Jepang, Kay tidak pernah berdebat dengan Ivea seperti
dulu mereka hanya berbicara di kampus dan pembicaraan
itu benar-benar murni tentang pelajaran. Belakangan Ivea
selalu pulang bersama Tara, Kay mungkin tidak tau kalau
Ivea sudah pindah rumah. Mereka hanya pernah berbicara
sekali di galeri, saat Kay memeluk Ivea beberapa waktu
lalu.
Tunggu, Kau lihat disana? Kay tiba-tiba berbalik dan
membawa Ivea kehadapanya. Ia sedang menghindari
seseorang. Tapi yang mana? Jauh di belakang Kay terdapat
lebih dari tiga orang yang berjalan dengan arah yang sama.
Lihat yang berseragam!
Ivea melongok sambil sedikit menjinjit melewati bahu
Kay yang lebih tinggi darinya. Ia bisa melihat laki-laki yang
di maksudkan Kay. Tubuh tinggi dengan garis wajah tegas,
sambil berjalan ia mengenakan jaket kulit berwarna hitam
yang dari tadi di pegangnya. Siapa?
Petugas itu, dia pernah menangkapku karena
mengira aku adalah salah satu Hostes di sebuah club Gay!
Ivea memandang Kay heran. Klub Gay? Kapan? Kau
Gay? Benarkah?
Kecilkan suaramu! Kay menggeram. Tentu saja
tidak. Aku kesana karena harus menemui seseorang!
benarkah? Kali ini suara Ivea kedengaran nakal
seperti suara Sinchan.

Kau jangan menggodaku! Sekarang bukan waktunya!


Kau harus menolongku! Bisik Kay. Ia merapatkan tubuh
Ivea kedinding sehingga Ivea bisa merasaakan terpaan
nafas Kay di wajahnya, jarak mereka sangat dekat. Untuk
sebentar saja, Jadilah pacarku!
Jadilah pacarku. Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di
telinga Ivea berkali-kali. Lagi-lagi ia merasakan debaran
yang sama untuk kedua kalinya. Melihat wajah Kay
dengan jelas hampir saja membuat kaki-kaki Ivea lunglai,
ia benar-benar kehilangan Tenaga untuk berdiri. Kay
memegangi kedua lengan Ivea untuk mempertahankan
posisinya saat ini, tapi jeritan kecil Ivea benar-benar
membuatnya terkejut.
Kau kenapa? Apa yang salah?
Ivea menggosok lehernya lagi. Rasa nyilu yang luar
biasa menusuk di sekujur lengan kananya, rasa nyilu yang
berasal dari sesuatu yang kini tengah di belainya dengan
telapak tangan. Kay menarik tangan Ivea penasaran dan
menyibak sedikit kerah jaket yang di kenakan Ivea seharian
ini. Kedua matanya membesar melihat bekas gigitan yang
membiru dan menimbulkan bengkak ringan.
Astaga, siapa yang melakukanya? Desis Kay.
Aku waktu itusedikit gelisahjadi..Umm..jadi
Nathan Ivea tidak tau harus berkata apa. Otaknya sama
sekali tidak bisa berfikir jernih sekarang.
Nathan? Jadi ini yang kau bilang membaik?
Yasepertinya hubungan kalian memang sudah sangat

membaik. Kalian berdua sudah melakukan hal seperti


apa?
***
Pintu ruangan kerja Kay di tutup. Sepertinya Kay
sama sekali tidak ingin di ganggu, dia bahkan tidak
mengajar hari ini. Entah mengapa Ivea merasa semua ini
terjadi karena salahnya. Tadi malam Kay kelihatanya
benar-benar marah karena Ivea tidak menjawab satupun
pertanyaanya. Kay juga tidak mau mengantar Ivea dan
membiarkanya pulang sendirian.
Sudah berbagai cara di lakukan Ivea untuk membujuk
Tara agar bersedia mengunjungi Kay di ruangaanya.
Karena walau bagaimanapun Tara adalah orang yang
paling dekat dengan Kay. Bagaimana bila terjadi apa-apa
di dalam? Katanya pada saat itu. Tapi Tara selalu
menggeleng dan menolak.
kalau dia menutup pintu berarti sedang tidak ingin di
ganggu! Jawab Tara. Sebenarnya ada masalah apa?
Kenapa sepertinya kau merasa bersalah begini? Kalian
bertengkar?
Ivea angkat bahu. Dia sendiri juga tidak tau apakah
masalah Kay hari ini berkaitan denganya. Tapi Ivea tetap
merasa bersalah.
Kau bawakan saja coklat panas untuknya, karena di
luar sedang hujan. Kalau dia membuka pintu untuk mu,
silahkan masuk. Kalau tidak, lebih baik menyerah saja.

Coklat panas, benarkah bisa menarik perhatian Kay?


Ivea memandangi derai hujan di luar dari jendela kaca.
Tiba-tiba ia merasakan udara di sekelilingnya berubah
menjadi dingin, dengan cepat Ivea berjalan kedapur dan
kembali dengan membawa coklat panas untuk Kay. Semula
Ivea ragu untuk menganggu, tapi pada akhirnya Ivea
memberanikan diri mengetuk pintu ruang kerja Kay yang
tertutup rapat. Tidak perlu menunggu lama, pintu itu
terbuka dan sebelah mata Kay mengintip di baliknya, ia
melihat coklat panas yang di bawa Ivea kemudian
membuka pintu lebar-lebar dan kembali berbaring di sofa.
Ivea tersenyum senang. Coklat panas memang jitu. Ia
mengikuti Kay kedalam dan meletakkan coklat panas di
atas meja yang berantakan kemudian duduk di lantai, tepat
di sebelah sofa dimana Kay berbaring dan menghadap
kearahnya.
Kau sedang marah ya? Tanya Ivea. Kay, kau marah
padaku?
Kedua bola mata kelabu milik Kay memandangi Ivea
lekat-lekat. Sejurus kemudian kepalanya menggeleng
pelan.
lalu kenapa seharian disini? Apa dari tadi kau
berbaring seperti ini?. Ivea kemudian meyentuh kening
Kay dan berusaha membandingkan dengan suhu
tubuhnya. Atau kau sedang sakit?
Kay menepis tanganya lalu mendorong kepala Ivea
dengan telunjuknya. Jangan kurang ajar kepada orang tua.
Berani-beraninya kau menyentuh kepalaku.

Aku kan cuma khawatir!


Aku tidak apa-apa. cuma sedang tidak bersemangat.
Kay kemudian menunjuk keatas meja kerjanya dimana
terdapat sebuah tas kertas besar berwarna merah muda.
disana ada bahan-bahan yang kau butuhkan untuk
wedding dressmu. Bian mengantarkanya tadi pagi.
Pokoknya malam ini kau sudah harus memulai
pekerjaanmu! Aku ingin gaunmu selesai dalam tiga hari
agar segala kesalahanya nanti bisa cepat di perbaiki.
Ivea berdiri dari duduknya menuju tas kertas
berwarna merah muda dan memeriksa isinya. Sifon dan
brokat masing-masing di bungkus rapi dalam sebuah
plastik bening. Ternyata bahan-bahan untuk rancanganya
disiapkan oleh Bian, semula Ivea kira ia harus
mengusahakanya sendiri. Perhatian Ivea kemudian beralih
kepada dompet berwarna hijau tua milik Kay yang terbuka
di atas meja. Sebuah foto disana menarik perhatianya.
Difoto itu, Kay memeluk dua orang wanita, yang pertama
adalah wanita yang sangat dewasa berambut kemerahan
sama seperti Kay dan yang satu lagi gadis bertubuh mungil
dengan rambut hitam lurus, juga wajahnya yang agak
bulat, manis sekali. Ivea membawa dompet itu mendekati
Kay yang masih betah berbaring di sofa.
Dia siapa? Ivea menunjuk wanita berparas Khas
eropa yang ada di dalam foto.
Ibuku! Jawab Kay singkat.
Kalau gadis Jepang ini siapa? Pacarmu?

Sekali lagi Kay mendorong kepala Ivea dengan


telunjuknya. Kenapa kau tertarik sekali dengan masalah
percintaanku? Dia adikku!
Ogh? Ivea kelihatan terkejut. Ia memandangi foto itu
sekali lagi. Sama sekali tidak mirip. Kay memang memiliki
sedikit ciri yang biasa di miliki orang-orang Jepang di
wajahnya, Tapi gadis ini sangat tidak mirip denganya.
Kenapa?
Tidak mirip!
Aku dan dia satu ayah! Sebelum menikah dengan
ibuku ayahku menikah dengan ibunya dan punya satu
anak laki-laki, kemudian mereka bertengkar dan ibunya
melarikan diri. Selama itu, Ayah menikah dengan ibuku,
sampai akhirnya wanita itu ditemukan kembali dalam
keadaan sakit keras. Dia kembali tinggal bersama kami dan
setahun kemudian melahirkan Sachi, anak itu. Lalu harihari ibunya di penuhi bau obat di rumah sakit. Wanita itu
meninggal saat Sachi berusia delapan tahun.
Berarti kau masih punya kakak laki-laki?
Iya, tentu saja. Tsuyoshi. Dia di adopsi keluarga
Hidaka saat masih berusia dua atau tiga tahun, jadi saat
ibunya di temukan dia benar-benar tidak bersama ibunya.
Tapi selama ibunya di rumah sakit dia sering datang. Lama
sekali kami tidak bertemu dan baru di pertemukan
beberapa saat sebelum dia membawa Sachi kerumahnya
untuk beberapa hari. Tsuyoshi di keluarga Hidaka berganti
nama menjadi Yoshi.
Wah, kalau begitu keluargamu pasti ramai sekali.

Kay tersenyum. Setidaknya bila salah satu anaknya


menghilang, ibuku tidak akan kesepian.
Maaf, mengganggu!
Kay dan Ivea spontan menoleh kearah pintu yang
terbuka. Nathan ada disana sedang memandang mereka
berdua. Sebuah senyum menghiasi wajahnya yang
kelihatan lebih bersinar daripada biasanya.
Ada apa? Tanya Kay.
Aku mau pamit pulang! Jawabnya. Eve, kau mau
pulang bersamaku?
Ivea menggeleng pelan. Lain kali ya? Aku masih
banyak pekerjaan.
Tentang rancangan itu kan? Aku sudah dengar dari
Tara, selamat ya?
Terima kasih!
Aku punya sesuatu untukmu! Kata Nathan, sejurus
kemudian ia mendekati Kay dan Ivea lalu menberikan
sesuatu kepada gadis itu. Sebuah komik Vampire Knight
Volume pertama. Ada nama Nathan di lembar
pertama.Kalau begitu aku pulang dulu. Kay, aku pulang
dulu!. Nathan menganggukkan kepalanya sopan lalu
berbalik pergi.
Ivea tiba-tiba saja tertunduk dan menghembuskan
nafas pelan-pelan. Butuh hati yang kuat untuk
menyembunyikan rasa malu-malunya. Tapi tadi ia
melakukanya, Apakah Ivea sudah berubah jadi vampire
sehingga cukup kuat untuk menghadapi Nathan? Ivea

tersenyum tipis sambil memandang komik yang di berikan


Nathan untuknya.
Ehm Kay berdehem dengan sengaja. Kau dan dia
sama saja! Mengapa semuanya jadi begini? Kalian
belakangan ini semakin dekat ya? Kalau begitu percuma
saja aku sok protektif selama ini. Atau mungkin dia
menyadari kalau dia membutuhkanmu karena aku? Kau
harus berterima kasih padaku!
Ya, Miseur! Terimakasih, thank you, Arigato,
Kamsahamnida, Merci
Kay tertawa. Kalian berdua sudah resmi pacaran?
Ivea menggeleng.
Kenapa? Anak itu apakah sedang malu-malu? Kalau
begitu kau saja yang menyatakan cinta duluan. Tidak usah
buang-buang waktu lebih banyak. Tidak ada salahnya
bersikap Agresif, Aku suka dengan perempuan yang berani
mengusahakan cintanya!
Aku tidak yakin akan melakukan itu
Kenapa?
Karena sepertinya aku menyukai orang lain!
Kay terperangah. Ivea dapat melihat ekspresi Kay
yang sangat terkejut dengan ucapanya tentang keberadaan
orang baru dihatinya.
Apa? Siapa? Mahasiswa di kampus? Lalu kau mau
apa?
Ivea angkat bahu. Sepertinya aku akan memilih
Nathan pada akhirnya. Selama semuanya baik-baik saja

dan tidak ada masalah sebaiknya aku memilih Nathan. Iya


kan?
Apakah orang baru itu juga menyukaimu?
Entahlah!
Mengapa tidak kau cari tau saja dulu. Setelah itu baru
memilih. Jangan sampai salah pilih. Sebab Nathan masih di
ikuti Aliya meskipun kelihatanya sekarang lebih sering
bersamamu. Kalau laki-laki yang baru tidak punya orang
lain dan juga menyukaimu apa salahnya! Ujar Kay
menasihati.
***
Seharusnya hari-hari bersama Nathan bisa berangsung
dengan manis, Tapi Ivea tidak merasa sepenuhnya
demikian. Kadang-kadang tawa, senyum dan sapaan lemah
lembutnya sama sekali palsu. Ivea menantikan Kay, Sapaan
dari Kay bisa membuatnya bersemangat. Jika Kay
memintanya untuk mengerjakan sesuatu, Ivea akan
langsung mengerjakanya tanpa menunda-nunda lagi. Ia
akan membatalkan semua janjinya dengan Nathan dengan
berbagai alasan. Tapi meskipun begitu, bila di suruh
memilih, Ivea akan memilih Nathan untuk bersamanya
dibandingkan dengan Kay. Karena perasaan Nathan
kepadanya sudah jelas sedangkan Kay tidak. Karena
Nathan menganggapnya sebagai wanita sedangkan Kay
belum tentu.

Sesuai dengan target, gaun rancangan Ivea dapat di


selesaikan dalam tiga hari dan hanya butuh seharian untuk
memperbaiki semua kesalahanya. Setelah itu, Ivea dan Kay
kembali jarang berbicara. Kay bahkan lebih suka meminta
Nathan untuk membantu semua pekerjaan Ivea sehingga
waktu-waktu Ivea hanya diisi dengan Nathan. Seperti kali
ini. Ivea dan Nathan makan siang bersama di caf milik
Tara dan di pojok sana, Kay dan Tara juga makan siang
bersama. Ivea hanya bisa mencuri-curi pandang sesekali
kearah Kay dan berusaha lebih banyak memperhatikan
Nathan. Tapi beberapa saat kemudian Ivea menjadi sangat
bahagia bisa semeja dengan Kay karena Bian tiba-tiba
datang dan mengajak semuanya bergabung bersama dalam
satu meja.
Besok modelku akan datang. Kalian siapkan saja
tempatnya aku ingin fotonya nanti di latar belakangi gaungaun rancangan Kay yang di kenakan oleh manekin
berwarna hitam. Soal fotografer, aku bisa bergantung
padamu kan Nathan? Bian berbicara dengan serius.
Senyum cerah menghiasi wajahnya setelah melihat Nathan
mengangguk lugu. Aku percaya karyamu yang terbaik
Terima kasih. Jawab Nathan.
Eve, Kau juga bersiap-siap. Dengan rancangan ini,
bisa saja namamu menanjak dalam sekejab. Kau tau kan
majalahku seringkali menerbitkan selebriti baru! Bian
agak menyombongkan diri kemudian menertawakan
kesombonganya beberapa saat. Besok bisa saja galeri jadi
ramai karena model yang ku pakai adalah artis terkenal.

Aku sebenarnya ingin mencari pasangan yang artis juga.


Tapi akhirnya aku putuskan untuk meminta kepada Kay
menjadi pasangan model itu besok!
Aku? Kay tampak terkejut. Aku tidak bersedia!
Bian menempelkan kedua telapak tanganya dan
menjunjungnya tinggi di atas kepala. Ia bertindak seperti
sedang menyembah Kay yang ada di hadapanya. Tolong
aku! Kau sangat fotogenic. Kau dulu juga seorang model
kan?
Tapi aku sudah sangat lama tidak di foto!
Karena itu coba lagi. Kehadiranmu sebagai model
majalah ini mengesankan kalau kau mengakui rancangan
Ivea. Ayolah ku mohon!
Tapi tidak semudah itu!
Kay, Ku mohon. Eve. Ayo bantu aku untuk
membujuknya. Ini debut pertama rancanganmu. Bian
mulai memprovokasi Ivea. Ivea memandang Kay yang juga
memandangnya. Tapi dia tidak melakukan apa-apa. Ia tau
Kay akan bersedia, Kay tidak pernah menolak untuk
membantu Bian meskipun harus bertengkar dulu
sebelumnya.

6
Pukul 15.45 sore. Seharusnya pemotretan sudah di
mulai beberapa jam yang lalu, tapi model yang akan di foto
bersama Kay sama sekali belum datang. Bian sudah
mondar-mandir dengan handphonenya sejak tadi dan
ponsel itu juga berdering setiap kali. Kelihatanya Bian
adalah orang yang sangat sibuk dan di butuhkan banyak
orang. Ia membatalkan banyak janji karena keterlambatan
hari ini. Tiga orang staf Bian juga melakukan hal yang
sama. Terkadang mereka mengeluh kepada Bian dan
Wanita itu masih meminta mereka untuk bersabar.
Ada apa sebenarnya? Tanya Nathan kepada Ivea
sambil berbisik. Mereka berdua mendapat pemandangan
langka sekarang, beberapa orang di dalam ruangan yang
sama tengah kebingungan karena satu orang.
Ivea angkat bahu. Artisnya tidak bisa di hubungi.
Bian sudah berusaha menelpon manajernya, dia bilang,
mereka menggunakan mobil yang berbeda. Si menejer
sedang terjebak macet sekarang. Mungkin artisnya juga!
Sekarang Jam pulang Kerja. Wajar saja kalau macet.
Seharusnya mereka tau kalau keadaan kota kita seperti ini
adanya. Kenapa tidak datang lebih cepat? Mereka harusnya
sudah disini pada jam makan siang kan? Nathan
menimang-nimang kameranya lalu memandang wajah
Ivea.

Berat? Tanya Ivea


Apa?
Kamera. Sejak tadi siang kau terus memegangnya!
Kenapa? Aku bahkan bisa memegangnya lebih lama
kalau harus ambil foto di luar galeri. Nathan kemudian
memotret Ivea sekali dalam tempo yang sangat tak bisa di
prediksi.
Ivea benar-benar terkejut saat lampu Blitz
menyilaukan matanya. Ia kemudian harus menahanya
beberapa kali lagi. Apa yang kau lakukan?
Aku sedang memotret sekarang! Jawabnya.
Gadis itu mendesis pelan. Ivea dan Nathan lalu saling
tersenyum. Tapi suara keras Kay mengagetkan keduanya.
Kay tidak pernah bicara keras selama ini.
Kapan akan di mulai? Tanya Kay. Ia terlihat kesal
kepada Bian yang baru saja menjauh dari pintu masuk
galeri. Galeriku harus ditutup dan Tara harus melayani
Fitting di rumah pelanggan karena ini.
Bisa tunggu sebentar lagi? Suara Bian terdengar
memelas. Ia sedang memohon. Bian tau kalau Kay sudah
kesal karena Kay memang tidak suka menunggu. Kay tidak
pernah memberi toleransi kepada keterlambatan.
Kenapa harus dia? Mereka tidak professional,
seharusnya mereka sudah datang dari tadi dan mereka
masih menggunakan macet sebagai alasan? Nonsense!
Bian tidak menjawab apa-apa. Ia hanya memasang
wajah bingung yang sangat super sehingga membuat Kay
semakin kesal.

Sebaiknya kau cari penggantinya! Aku tidak akan


mengizinkan orang-orang itu menginjak galeriku!
Tapi Kay, mana boleh begitu! Semua orang punya
kesempatan kan? Mungkin sedang terjadi sesuatu makanya
bisa seperti ini!
Bi, Ini sudah hapir malam, Kau kira semuanya bisa
selesai dengan cepat? Artismu itu juga harus Fitting!
Berkali-kali dia tidak pernah datang untuk Fitting
meskipun sudah kami telpon sehingga aku harus membuat
gaun itu sesuai dengan ukuran perancangnya. Seharusnya
dia sadar kalau wedding dress tidak sama dengan gaun
yang lain. Bagaimana aku tau dia punya chemistry atau
tidak dengan gaun rancangan Ivea kalau dia selalu
menganggap remeh urusan ini?. Kay mendengus keras
lalu berjalan dengan cepat kedalam ruang kerjanya.
Bian Mengigit bibirnya. Kay membuatnya semakin
tenggelam dalam kebingungan. Kepalanya berusaha
berfikir dengan cepat. Dirinya kemudian mendekati
Chastine, asistenya untuk berdiskusi beberapa saat. Sejurus
kemudian Bian terlihat memegangi kepalanya seolah-olah
kepala itu adalah gunung api yang siap meletus kapan saja
dan Bian sedang berusaha menahan letusanya. Bian hampir
kehabisan kendali, padahal dirinya sedang tidak ingin
marah dan mencaci maki karena banyak jadwal yang
tertunda dan di sebabkan oleh masalah ini. Ivea dan
Nathan saling pandang. Keributan tadi sempat membuat
mereka beralih perhatian.

Kelihatanya Kay sangat marah. Sekarang giliran


Ivea yang berbisik kepada Nathan.
Tentu saja. Dia sama sekali tidak suka dengan orang
yang meremehkan sesuatu. Artis itu sudah meremehkan
kinerjanya dengan tidak datang untuk Fitting. Kay dulu
juga seorang model, hal seperti ini mungkin sudah di luat
batas toleransinya jika ia menepatkan diri sebagai model.
Eve, kau sendiri lihat kan? Kay sudah menahan diri sejak
hampir dua jam, itu berarti dia berusaha untuk memahami
selama itu dan ini adalah pertama kalinya Kay menoleransi
keterlambatan selama lebih dari lima belas menit!
Lalu bagaimana? Apa yang akan terjadi?
Sepertinya wanita itu tidak akan datang untuk di
foto. Tapi seharusnya debut gaunmu ini tidak boleh batal.
Nathan mendesah. Bagi Kay, gaun pernikahan itu punya
nyawa, ia harus di gunakan oleh orang yang cocok. Karena
itu ada orang yang terlihat cantik saat pesta pernikahanya
meskipun pernikahanya sangat sederhana. Tapi ada juga
yang terlihat tidak meskipun pernikahanya mewah dan
melibatkan banyak orang terkenal.
Ivea mengerti sekarang. Kay memang selalu
mengerjakan proyek wedding dress-nya lebih maksimal dari
pada harus merancang pakaian yang biasa. Tidak jarang,
saat Fitting Kay merubah keadaan gaun hampir enam
puluh persen. Kay memang di kenal sebagai perancang
yang keras kepala, tapi pelanggan tidak pernah protes
karena semua yang Kay lakukan dapat memuaskan hati

mereka. Ivea sangat ingin seperti Kay, Ivea sangat


mengidolakanya.
Kau punya ide? Bianca Karta mengejutkan mereka.
Ia tiba-tiba saja menyela pembicaraan Nathan dan Ivea
dengan wajah yang berada dalam posisi sangat dekat
dengan wajah Nathan. Kau fotografernya. Kau punya
pengganti? Sepertinya kau sangat faham dengan selera
Kay.
Nathan agak gelagapan di perlakukan begitu. Tentu
saja ia sangat memahami Kay, Nathan bekerja kepad Kay
semenjak galeri itu dibuka pada tahun pertama Kay tiba di
Indonesia. Ia menggeser duduknya sehingga rapat dengan
Ivea dan menghindari pandangan mata Bian. Pengganti?
Tentu saja mereka tidak akan mau di hubungi semendadak
ini, kecuali bila pemotretanya di tunda. Atau
Atau?
Nathan memandang Ivea sesaat. Jadikan Ivea sebagai
pengganti!
Apa? Ivea terpekik kecil
Kenapa? Tanya Bian setelah memandang Ivea
sekilas. Berikan alasan yang tepat!
Kay selalu mencocokkan gaun sesuai dengan
karakter pemakainya, karena itu dia selalu membutuhkan
waktu perbaikan dan Fitting yang cukup lama. Kalau Kay
menggunakan tubuh Eve untuk Fitting, berarti dia sudah
membuat gaun itu cocok untuk dipakai oleh Ivea!
Bian mengangguk-angguk. Karena itu setiap gaunya
bernyawa! desisnya. Pantas saja Kay selalu memilih siapa

model yang akan mengenakan gaunnya bila fashion show.


Chastine, kau tolong aku. Bawa Eve keruangan Kay
sekarang. Laki-laki itu pasti tau sebaiknya dia didadani
seperti apa!
Tapi aku tidak fotogenic!
Semua orang jadi fotogenic kalau berfoto untuk
facebook!
Tapi aku tidak punya facebook! Ivea masih berusaha
membela diri. Tapi apapun yang dilakukanya percuma. Ia
sudah diseret oleh beberapa orang pegawai Bian dan
dikurung dalam ruangan Kay untuk beberapa lama.
***
Coba gunakan yang baby pink! Kay memberi saran
kepada Ebi, penata rias bawaan Bian dengan suara lembut.
Wanita itu kemudian mengganti kuasnya dan segera
meraih Blush On dengan Brand mahal itu kemudian
menyapukanya di wajah Ivea dengan hati-hati. Setelah itu
dirinya tidak perlu di perintahkan lagi untuk
menyesuaikan warna lipstick dengan semua tata rias yang
sudah di lakukanya atas campur tangan Kay. Tidak lama
kemudian Ebi meminta izin untuk keluar dari ruangan dan
meninggalkan kotak Make Up berwarna hitam dan silver
besar miliknya di atas meja.
Kenapa kau menutup pintu? Tanya Ivea begitu
melihat Kay menutup pintu ruang kerjanya rapat-rapat.

Karena kau harus mengganti pakaianmu! jawabnya.


Kay kemudian mendekat dan memperhatikan wajah Ivea
lekat-lekat. Jari tengah sebelah kananya menyapu bedak
yang kelihatanya bertumpuk di sekitar alis Ivea yang
sebelah kanan.
Ivea dapat merasakan desiran darahnya bila berada
dekat dengan Kay seperti ini, matanya tidak sanggup
memandang Kay berlama-lama sehingga ia membuang
pandanganya kearah lain. Kay membuka kancing
kemejanya perlahan dan spontan Ivea menahan tangan Kay
untuk melanjutkan aksinya.
Apa yang akan kau lakukan?
Kay memandang wajah Ivea yang kelihatanya agak
ketakutan. Apa lagi? Membantumu mengganti pakaian
tentunya!
Aku bisa menggantinya sendiri di Fitting room
Kau gila? Kalau kau menggantinya sendiri Make Up
di wajahmu itu bisa berantakan. Apa kau lupa betapa
cerobohnya dirimu? Aku tidak pernah membiarkan
siapapun mengenakan gaun di galeri ini tanpa bantuan,
karena Tara sedang tidak ada, jadi aku akan melakuknya
sendiri.
Tapi, Kay
Apa? Kau tidak sedang berfikir yang macam-macam
kan? Ini sudah jadi pekerjaanku, Aku sudah biasa
melakukan hal seperti ini! Kay kemudian mendorong
kepala Ivea dengan telunjuknya, Hal yang paling paforit

untuk di lakukanya kepada gadis itu. Kau memakai


pakaian dalam kan?
Tentu saja!
Kalau begitu apa yang kau takutkan?
Tetap saja aku tidak bisa!
Kay memutar bola matanya kesal. Ia kemudian meraih
sisa satin yang berada di atas sofa ruang kerjanya dan
memberikanya kepada Ivea. Ivea meraih satin berwarna
putih itu dengan ekspresi tidak mengerti. Kalau begitu
kau buka bajumu sendiri, lalu pakai kain itu seperti kau
menggunakan handuk saat mandi. Kalau sudah selesai
bilang padaku! Kata Kay memberi instruksi lalu
membalikkan tubuhnya menghadap ke pintu.
Ivea menjalankan semua petunjuk Kay, ia membuka
bajunya terlebih dahulu dengan hati-hati. Ivea tidak ingin
dimarahi Kay nanti kalau make Up-nya rusak sebagai hasil
dari perilaku keras kepalanya barusan.
Kalau begini kau jangan pernah berfikir untuk jadi
model, tubuhmu akan dengan mudah dilihat oleh orang
lain. Kata Kay.
Spontan Ivea menyentuh dadanya. Ia benar-benar
terkejut mendengar suara Kay yang tiba-tiba. Ivea tau Kay
sudah sering melakukan itu, membantu model
menggunakan pakaian yang serba repot seperti gaun
pengantin tentu saja sudah jadi makanan Kay sehari-hari.
Tapi berdekatan dengan Kay saja ia sudah merasa malu,
Apalagi jika Kay sampai membuka pakaianya seperti yang

akan dilakukanya tadi, Ivea ragu kalau ia bisa melanjutkan


semuanya kalau itu benar-benar terjadi.
Kay, aku sudah Suara Ivea menggantung. Ia akan
melanjutkan ucapanya itu dengan kata-kata seperti apa?
Semua kata tetap saja membuatnya ragu untuk
mengucapkanya.
Kay berbalik dan mengambil gaun rancangan Ivea dari
dalam lemari di ruang kerjanya. Ivea yakin, perasaan itu
sepertinya hanya dirasakanya sendiri. Kay tidak
menampilkan
ekspresi
apa-apa
selain
ekspresi
profesionalnya dalam mengerjakan apapun yang sudah
menjadi pekerjaanya.
***
Kay, aku sudah Kay menelan ludah. Ivea
menggantung ucapanya dan sekarang sudah saatnya Kay
menjalankan tugasnya sebaik mungkin.
Bodoh, wajah seperti apa yang di tampilkanya? Fikir Kay.
Ekspresi Ivea mengesankan kalau Kay akan segerak
memakanya bulat-bulat. Tentu saja tidak. Apapun yang
Ivea fikirkan Kay tetap tidak akan melakukan apa-apa.
Meskipun Ivea juga perempuan, Meskipun Kay adalah
laki-laki normal yang biasa, pekerjaan tetap pekerjaan dan
ia tidak akan pernah melakukan hal bodoh apapun yang
akan merusak citranya selama ini.
Kay menggenggam sifon pada gaun buatanya -bersama Ivea tentunya -- dengan lembut. Pemilihan shifon

untuk gaun pernikahan adalah ide nekat yang cukup


brilian. Saat pertama kali membaca deskripsi tugas milik
Ivea, Kay sudah merasa tidak percaya kalau gadis itu
memilih bahan yang lain dari biasanya, rancanganya juga
bagus dan memiliki kesan ganda. Gaun rancangan Ivea
bisa dikenakan orang dengan karakter apa saja tanpa harus
merombaknya secara signifikan.
Aku baru tau kalau kau dulu juga model! Suara Ivea
memecahkan suasana sunyi diantara mereka seketika.
Kay masih melanjutkan pekerjaanya, Memangnya
kenapa? Aku kurang tampan?
Astaga! Kenapa kau harus merusak suasana dengan
berkata hal seperti itu? Aku tau, kebanyakan model
memang berakhir sebagai perancang busana. Tapi itu
jarang terjadi pada model pria kan? Apalagi konsentrasi
yang kau pilih adalah busana pernikahan!
Ibuku juga seorang desainer! Kay menjawab singkat.
Lalu kenapa kau memilih untuk konsentrasi di
bidang ini? Meskipun kau juga merancang pakaian yang
lainya, tapi pelangganmu kebanyakan adalah orang-orang
yang mungkin datang kemari hanya sekali seumur
hidupnya!
Kay berhenti bergerak sesaat, dia kelihatanya sedang
memikirkan jawaban untuk pertanyaan ivea. Dan setelah
menemukanya, Kay menjawab pertanyaanya sambil
melanjutkan pekerjaanya. Entahlah, mungkin karena saat
tercantik seorang wanita adalah sewaktu dia tampil dengan

busana pernikahanya. Dan aku suka wanita cantik! Kay


tersenyum nakal.
Geez! Ivea berdesis. Aku serius. Kenapa kau
menjawabnya sambil bercanda?
Aku juga serius! Jawab Kay sengit. Wanita yang
akan menikah itu, memancarkan aura kebahagiaan yang
spesial, seperti apapun mereka, semuanya akan terlihat
cantik dan sangat bersemangat untuk jadi lebih dan lebih
cantik pada harinya. Aku suka membantu mereka untuk
terlihat cantik.
Kay sudah selesai, Ia memperhatikan Ivea dengan
jarak yang cukup jauh sambil menyilangkan kedua tangan
di depan dadanya. Ada yang kurang, tentu saja sepatu. Kay
kemudian mengambil high heels di dalam kotak sepatu di
atas meja kerjanya, sepatu berwarna silver itu adalah milik
Bian dan Kay cukup puas saat memakaikan sepatu itu,
ukuranya sangat pas dengan Ivea.
Kau sudah merasa jadi Cinderella? Tanya Kay
sambil mendongak keatas untuk melihat wajah ivea yang
memerah. Tapi tetap saja Kay masih merasa kurang. Ia
kemudian mengambil beberapa perhiasan yang sudah
disediakan. Pilihanya jatuh pada kalung silver dengan
bandul laba-laba di hiasi pemata yang tidak terlalu
mencolok dan meminta Ivea memakainya.
Selain kalung, Kay juga meraih beberapa buah gelang
dan cincin yang senada. Kali ini ia memakaikanya sendiri,
dan saat Kay mengenakan cincin di jari Ivea, Ivea merasa

kalau dirinya sedang diliputi kebahagiaan sekarang. Kay


menghela nafas lega lalu memperhatikan Ivea sekali lagi.
Eve, kau benar-benar seperti seorang wanita yang
akan segera menikah. Kau punya aura yang sama dengan
wanita yang akan menjalani kehidupan baru mereka. Kau
sedang merasakan apa? Kelihatanya seperti orang yang
sedang jatuh cinta! Komentar yang manis. Ivea benarbenar membuat Kay kagum hari ini sangat cantik dalam
kesederhanaan yang di tampilkanya. Apa karena Nathan
sedang menunggu di luar?
***
Try to relax, Eve! Teriak Bian keras-keras.
Walau bagaimanapun Ivea tetap bukanlah seorang
model yang bisa langsung memberikan pose artistik. Butuh
penyesuaian yang cukup memakan waktu. Tapi Bian masih
bisa bersabar karena ia tengah bersenang hati melihat Ivea
yang tampil dengan sangat manis. Nathan memang benar
kalau Kay selalu menjadikan sebuah gaun sederhana yang
di rancang Ivea menjadi bernyawa.
Kau tidak pernah berfoto? Anggap saja seperti
sedang foto di studio! Kay berbicara sambil memijat-mijat
sendiri bahunya. Sekarang dia sudah cukup lelah meskipun
tidak terlalu banyak bekerja hari ini. Aku kebelakang
dulu. Bajuku sudah berkeringat, sepertinya harus segera
diganti! Katanya kemudian setelah menyeka keringat
yuang keluar dari sela-sela rambutnya. Ia perlu minum,

semoga segelas air putih bisa mendinginkan kepalanya


yang sudah panas karena stress. Kaki-kakinya terdengar
melangkah tegas meninggalkan Ivea berdiri sendirian di
depan kamera.
Ivea terpaku saat semua orang istirahat, merasa
dirinya sedikit payah dan tidak berguna. Semua orang bisa
saja kesal dan marah padanya meskipun mereka tidak
memperlihatkanya secara terang-terangan. Melihat wajah
Kay tadi, Ivea tau Kay bisa saja berteriak kesal seandainya
dia adalah orang yang tidak punya kendali emosi seperti
Bian. Tapi selama ini Kay selalu menyembunyikan
emosinya dengan sukses kecuali tadi, saat Kay memarahi
Bian karena model yang tidak datang sama sekali hingga
sekarang.
Rasa dingin menyengat lengan Ivea sehingga ia
bergindik melihat sesuatu yang menempel di sana. Kaleng
softdrink yang berembun di sodorkan oleh Nathan
untuknya membuat perasaanya lebih sejuk, Pria itu
tersenyum dan Ivea membalasnya.
Terimakasih! Ujar Ivea setelah mengambilnya dari
Nathan. Ivea kemudian membukanya dan mulai minum
sebanyak-banyaknya. Dia sangat haus.
Your pleasure! Nathan kemudian duduk di lantai
begitu saja.
Ivea semula bingung melihat Nathan selonjoran
dengan cueknya. Seandainya dia tidak sedang
menggunakan gaun, mungkin Ivea akan melakukan hal

yang sama. Ivea lebih memilih Jongkok di samping Nathan


sambil terus meminum Softdrinknya sesekali.
Maaf ya.
Nathan memandang Ivea dengan rona yang berbeda.
Atas apa?
Atas merepotkan kalian semua. Terutama dirimu,
Seharusnya kau sudah pulang sekarang. Tapi jam segini
masih harus bekerja karena aku!
Tawa kecil menghiasi wajah Nathan. Aku sering
menghadapi kejadian yang seperti ini, Pre wedding
kebanyakan dilakukan oleh orang biasa yang bukan model.
Yang harus kau lakukan hanya berusaha untuk lebih rileks.
Ummsebenarnya berat untuk mengatakan ini, tapi
anggaplah foto kali ini adalah foto pre wedding mu dengan
Kay!
Mendengar ucapan Nathan, Ivea hanya bisa tutup
mulut, Nathan dan Kay menarik perhatianya dengan sama
banyaknya. Bagaima mungkin ia bisa menumbuhkan
anggapan seperti itu bila di tempat yang sama, Nathan
melihat mereka melalui lensa kamera. Ivea mendesah, ia
memijati tumit kakinya yang sudah kelelahan, rasanya
nyeri sekali.
Kalau lelah duduk saja dulu! Kata Nathan,
sepertinya Nathan memperhatikan Ivea saat gadis itu
memijati tumit kakinya.
Aku memakai Gaun berwarna putih, bagaimana
kalau kotor?

Kalau begitu duduk disini! Kay menepuk lututnya


dengan tangan kanan.
Bagaimana bisa aku duduk disana? Kau bisa
kesakitan, Aku ini berat
Tidak akan terjadi apa-apa, aku biasa melakukanya
dengan keponakanku di rumah! Ayolah, waktu istirahat
sangat sempit jangan sampai kau pingsan sebelum aku
mendapatkan foto yang bagus!
Ivea berfikir lama, tapi akhirnya ia memilih untuk
mengikuti saran Nathan dan beralih untuk duduk di atas
lututnya. Tiba-tiba tangan Nathan menarik lengan Ivea
sebelum gadis itu sempat duduk dan sekarang Ivea benarbenar ada di pangkuanya, sangat dekat. Wajah Ivea
terlihat lebih jelas, begitu juga ekspresi malu-malunya yang
berhasil membuat jantung Nathan berdetak semakin
kencang.
Nat, semua orang melihat kita! Kata Ivea pelan.
Wajahnya menunduk. Beberapa orang pegawai Bian yang
masih ada di ruangan itu berbisik-bisik sambil melihat
kearah mereka berdua.
Tidak usah di perdulikan!Tetaplah begini, sebentar
saja!
Belakangan ini kau kenapa? Sikapmu sangat berani
dan membuat aku malu, maksudkuini tidak memalukan.
Kau hanya membuatku malu untuk melihat wajahmu
Ya? Aku juga. Tapi ini satu-satunya cara agar kau
terus mengingat aku. Kita sangat jarang bertemu
belakangan ini. Kau lebih sering bersama Kay. Seandainya

bukan Kay aku pasti sudah cemburu. Kalimat terakhir di


ucapkan Nathan dengan berbisik. Wajahnya juga tertuduk,
tentu saja ia juga merasakan hal yang sama dengan yang
Ivea rasakan sekarang.
Nat, boleh aku bersandar padamu? suara Ivea
terdengar sangat pelan. Tapi cukup untuk membuat
Nathan terperangah heran. Ivea merebahkan kepalanya di
bahu Nathan sebelum laki-laki itu mengatakan ya. Ivea
sedang memikirkan kebimbangan hatinya, memikirkan
Kay dan Nathan di saat yang sama membuat hatinya
seperti di serang bencana. Ivea ingin tenang dalam pelukan
Nathan untuk sebentar saja dan melupakan semua masalah
yang mengganggu fikiranya dan sepertinya berhasil. Ivea
cukup merasa damai meskipun ia mendengar detak
jantung Nathan yang sama kerasnya dengan yang Ivea
punya. Tapi detakan demi detakan membuatnya seperti di
hopnotis, beberapa saat kemudian Ivea merangkul Nathan
erat-erat.
Seandainya kau bisa bersikap seperti itu padaku kita
bisa menyelesaikan pemotretan ini dengan cepat!
Suara Kay membuat Ivea membuka mata dan
menegakkan kepalanya. Laki laki itu sekarang sudah
berjongkok di sebelah Nathan dan memandangi mereka
berdua dengan wajah yang lebih segar. Kay sudah
mengenakan pakaian serba hitam dengan jas putih
sekarang. Rambutnya yang tadi di ikat rapi kali ini di
biarkanya terurai alami.

Lihat! Wajah kalian merah! Kay kemudian tertawa


senang dan baru berhenti setelah dirinya puas.
Menertawakan Ivea dan Nathan kelihatanya bisa
mengurangi tekanan yang sudah di dapatnya selama
seharian.
Tidak lucu! Kata Ivea sinis.
Kau marah karena aku mengganggu? Baiklah, aku
minta maaf, tapi kalian lanjutkan nanti saja kita harus
memulainya lagi agar cepat selesai karena aku aku ingin
segera tidur!
Ivea melepaskan rangkulanya dari Nathan dan berdiri
di bantu oleh Kay. Kepada siapa dia akan berakhir?
Benarkah ia melepaskan Nathan dan menyambut tangan
Kay seperti ini pada akhirnya nanti? Semuanya di mulai
kembali. Nathan disana, berada jauh darinya dan kembali
memegang kamera. Sedangkan Ivea berada disini sangat
dekat dengan Kay yang belakangan membuatnya diliputi
rasa bingung yang berkepanjangan. Sesaat kemudian
Lampu Blitz menyambar lagi. Kay merangkul pinggang
Ivea dan membawanya dekat dengan tubuhnya.
Eve, coba lihat mataku! Bisik Kay. Cobalah untuk
memaksakan perasaanmu padaku kali ini saja. Aku sudah
sangat lelah!
Aku juga sedang berusaha.
Kau tau? Melihatmu dan Nathan tadi aku jadi merasa
tidak penting. Kau bisa setenang itu denganya sedangkan
selalu tegang bersamaku! Aku cemburu!

Cemburu? Ivea membatin. Benarkah Kay cemburu? Ia


memandang wajah Kay dalam-dalam dan Kay tersenyum
untuknya. Perlahan-lahan bayangan Nathan memudar dari
ingatan Ivea berganti dengan Kay. Hanya Kay.
Eve, untuk saat ini, Jadilah calon Istriku!
***
Ivea
mengaduk-aduk siomay-nya dengan tidak
bersemangat. Bayangan tentang senyum Kay kali itu sangat
menghantuinya. Sebenarnya bagaimana perasaan Kay
padanya? Rasa cemburu yang Kay katakana waktu itu rasa
cemburu yang bagaimana?
Kurasa, dia mengatakan hal itu hanya untuk membuatmu
memperhatikanya. Buktinya, setelah itu, Nathan mendapatkan
banyak foto bagus kan? Kata Chastine tadi malam saat Ivea
menceritakan semuanya. Bagaimana bisa kau akhirnya
memikirkan Kay sedangkan sekarang kau sedang sangat dekat
dengan Nathan. Eve, jangan bermain api. Semua perhatian Kay
selama ini tidak perlu kau masukkan kedalam hati. Aku sudah
mengenalnya lama dan dia termasuk orang yang suka
mempermainkan hati perempuan. Hanya saja semenjak dia
mempermainkan hati sepupu Bian, Kay tidak pernah terlihat
memiliki kedekatan Spesial dengan wanita manapun selain Tara.
Kelihatanya dia Jera karena kejadian itu sempat membuat
hubungan persahabatanya dan Bian menjadi sengit. Dia tidak
menyukai gadis sepertimu sayang, Kay hanya menyukai
perempuan yang Agresif. Kay memang suka menggoda siapa

saja, sekarang tinggal dirimu yang menentukan dirimu harus


bagaimana dan berbuat seperti apa!
Ivea meminum Jusnya sedikit, lalu kembali ke
lamunanya. Chastine benar. Sepertinya Ivea memang tidak
perlu berharap. Ia sudah punya Nathan sekarang dan
perhatian Nathan kepadanya sangat penuh, bahkan
berlimpah. Ponsel Ivea berdering. Pesan dari Kay
mengganggu keputusan yang baru di buatnya.
Cepatlah keruanganku.
Aku ingin memperlihatkan sesuatu.
(Sender: Kay 08984455xxx)
Kesana atau tidak? Ivea masih menimbang-nimbang.
Hatinya menginginkan Ivea segera kesana untuk menemui
Kay. Tapi fikiranya berontak. Seandainya ada Nathan
disini, Ivea yakin kalau dirinya akan lebih memilih untuk
bersama Nathan. Mempercayakan hati kepada yang sudah
jelas dan meninggalkan ketidak jelasan. Kali ini tidak apaapa. Ivea harap ia bisa menemui Kay untuk yang terakhir
kalinya dengan perasaan seperti ini. Dengan langkah
gontai, Ivea berjalan meninggalkan Siomaynya di atas meja
kantin dan menemui Kay di ruang kerjanya. Beberapa
teman yang tidak begitu dikenalnya menyapa Ivea di
sepanjang jalan dan Ivea hanya bisa membalas dengan
senyuman. Selama ini Ivea bukanlah orang yang menonjol,
ia lebih suka duduk di kelas sampai mata kuliah dimulai.
Tapi karena hari ini Voni tidak datang, Ivea memilih

menghabiskan waktu di kantin. Merasakan udara kampus


dengan serius, ini adalah pertama kali untuknya.
Maaf, Miseur! Ada apa? Ivea bertanya dengan sopan
kepada Kay yang sibuk dengan laptopnya.
Perhatian Kay beralih kepadanya. Kay membuka kaca
matanya dan memandang Ivea sebentar lalu mengeluarkan
sesuatu dari laci meja kerjanya. SmiloQueen. Coba lihat
ini. Bian memberikanya padaku pagi ini!
Ivea mendekati Kay dan membuka majalah yang ada
di atas meja. Ia bisa menebak, apa yang ingin Kay
perlihatkan. Hari ini SmiloQueen yang memuat
rancanganya terbit dan sudah di bagi-bagikan ke beberapa
kelas di fakultasnya. Masing-masing kelas mendapatkan
satu. Mungkin karena itu beberapa anak yang tidak di
kenal tadi menyapanya. Ivea kelihatan kewalahan karena ia
tidak juga menemukanya sehingga Kay akhirnya turun
tangan dan membantunya menemukan halaman yang
ingin Ivea temukan. Foto mereka mengisi satu halaman
penuh dan terlihat sangat bagus. Nathan memang
fotografer yang hebat.
Bagaimana? disini aku tampan tidak? Kay mulai
bercanda seperti biasa.
Ivea hanya tersenyum.
Lihat, Akhirnya kau bisa juga berfoto dengan wajah
semanis ini. Aku kira waktu itu kita harus melakukanya
sampai pagi!
Ya, terima kasih!
Kedua alis Kay bertaut. Terima kasih kenapa?

Aku bisa begini karena kemarin kau menggodaku.


Lelucon tentang permintaanmu untuk menjadikanku calon
Istri waktu itu benar-benar membuatku terkejut!
Lelucon? Wajah Kay agak serius. Tapi sesaat
berikutnya ia tersenyum dan berkata demgan nada yang
biasa. Aku tidak bercanda. Ini Kan foto prewedding kita.
Nanti akan ku tempel dalam ukuran besar di galeri.
Bagaimana?
Sudahlah. Kau tidak perlu bercanda seperti ini. Kau
sangat keterlaluan, Kata-kata cemburumu itu sudah
membuatku hampir percaya dan
dan apa? Tanya Kay setelah mendengar kata-kata
yang menggantung keluar dari mulut Ivea. Dan kau
sudah jatuh cinta padaku?
Kaki-kaki Ivea terasa melemah. Kenapa Kay selalu
menggodanya dengan cara seperti ini? Setelah bersikap
aneh, Kay akan segera membahas mengenai Ivea dan
Nathan seolah-olah semua yang di ucapkanya sama sekali
bukan apa-apa. Perasaanmu kepadaku sebenarnya seperti apa?
Fikir Ivea.
Miseur Suara beberapa mahasiswi mengganggu
mereka. Para gadis iti masuk secara bergerombol
mengelilingi meja Kay membuat Ivea tersingkir ketepi
ruangan. Tidak ada satupun yang menyadari keberadaanya
dan tidak ada satupun yang memperdulikanya. Ivea
membiarkan Majalah itu tetap berada di meja dan hanya
memandangi Kay yang sibuk meladeni penggemarnya.

Kami sudah lihat di majalah. Miseur. Kau keren


sekali kata salah seorang dari mereka.
Coba saja waktu mengajar kau berpenampilan seperti
ini.
kalau begitu aku jamin kalian semua akan
mendapatkan nilai semester yang rendah Suara Kay
terdengar sayup-sayup di antara keriuhan yang terjadi
dalam ruanganya. Karena kalian tidak akan
memperhatikan pelajaran. Cuma memperhatikanku!
Ah, Miseur. Bisa saja!
Wanita di foto itu siapa? Rasanya pernah lihat!
dia? Calon istriku! Kay tersenyum. Ivea bisa melihat
kalau Kay sedang memandangnya. Tapi segera kembali
memandangi mahasiswinya satu persatu. Tidak, aku
bercanda. Apa kalian tidak tau kalau dia mahasiswi yang
mendapatkan nilai tertinggi dalam mata kuliahku!
Beruntung sekali dia!
kalau kalian ingin seperti dia, dapatkan nilai yang
tinggi juga!
Apa kalian sedang berpacaran?
Kau memberikanya nilai tinggi karena dia pacarmu?
Kalian ini bicara apa? Dia sudah berpacaran dengan
fotografer yang mengambil foto ini. Nilai tinggi karena
usaha. Makanya berusahalah!
Ivea menghela nafas dan berbalik pergi. Sikapnya
semakin goyah, ia menjadi semakin bimbang.
***

Apa-apaan dia? Dia sudah mulai bertindak nakal


terhadapmu? Seru Chastine di atas ranjangnya. Ia
memandang Ivea yang sedang mengeringkan rambut
dengan handuk diiringi dengan ekspresi terkejutnya.
Astaga, dia kenapa? Apa dia benar-benar menyukaimu?
Ivea angkat bahu.
Lalu bagaimana dengan Nathan?
Nathan juga belum memastikan hubungan kami
sampai sekarang. Jangan-jangan Nathan juga sedang
mengerjaiku!
Chastine memandang Ivea iba, jari-jari lentiknya
membelai wajah Ivea dengan lembut. Aku tidak tau apa
yang terjadi. Menurutku ikuti saja alurnya, biarkan
mengalir apa adanya. Tapi aku tekankan satu hal. Jangan
pernah Kau bertindak duluan kepada Kay! Dia akan sangat
mengharapkan itu. Selama aku mengenalnya, Kay selalu
dikejar-kejar dan wanita selalu bertindak lebih dulu
terhadapnya. Tentu saja dia akan senang kalau para wanita
berbuat seperti itu, jadi bila akhirnya terjadi apa-apa dia
tidak perlu bertanggung jawab!
Benarkah? jadi dia tidak pernah menyatakan
perasaanya kepada perempuan manapun?
Dia yang selalu menerima banyak pernyataan cinta
dengan berbagai cara. Bisa jadi Kay memang menyukaimu.
Apapun bisa terjadi kan? Kalian terlalu sering berinteraksi
dan terlalu sering bersama-sama!

***
Nathan menggenggam tangan Ivea di iringi hembusan
angin sepoi-sepoi yang membelai. Keduanya sedang
bersandar di motor matic milik Nathan yang di parkir di
bawah pohon rindang di taman kampus. Belakangan ini
Nathan selalu datang dan menemui Ivea di tempat yang
sama dan jam yang sama. Ivea mendadak jadi sangat
terkenal dan semua anak dari fakultasnya menyapanya.
Kay juga mendadak menjadi idola, hampir setiap hari ia
dikejar-kejar oleh para gadis itu dan harus menemani
mereka ngobrol seharian. Ivea sebenarnya sangat cemburu.
Ia dan Kay bahkan tidak pernah bicara lagi semenjak itu
dan yang dirasakanya hanya tinggal kerinduan demi
kerinduan yang datangnya sangat tidak di inginkan. Tapi
kedatangan Nathan yang rutin jadi sangat menghiburnya.
Setidaknya bersama Nathan, Ivea jarang mengingat Kay
dengan menggunakan perasaan.
Lalu bagaimana Kabar Kay kali ini? Tanya Nathan.
Entahlah. Aku jarang berbicara denganya. Bahkan di
kelas juga. Di galeri apa lagi.
Belakangan ini dia sangat jarang ada di galeri.
Dia meladeni para fansnya sampe sore!
Nathan tertawa ringan. kau sendiri? Tidak dikejarkejar oleh para fans pria?
Bagaimana mungkin aku bisa? Kay sudah
menyebarkan kepada para Fansnya kalau aku berpacaran
dengan fotografer yang mengambil gambar di majalah

waktu itu. Jadi hampir sefakultas menyangka kalau berita


itu benar!
Nathan mendehem. Jadi menurutmu berita itu tidak
benar? Eve, Aku benar-benar menyukaimu!
Ivea terdiam, akhirnya Nathan mengatakanya juga.
Meskipun Ivea tidak menyukai Nathan sebanyak dulu, tapi
ia cukup senang dengan kata-kata Nathan barusan.
Maaf, aku membuatmu sangat lama menunggu!
lanjut Nathan.
Ivea tersenyum begitu saja. Tidak apa-apa! Kau
hampir saja terlambat karena ku kira aku akan segera
menikah dengan Kay!
Nathan spontan tertawa. Ivea juga berusaha untuk
tertawa meskipun sebenarnya kata-kata yang di ucapkanya
tadi serius. Menikah dengan Kay? Ivea menggelengkan
kepalanya. Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu
barusan?
Apa? Nat, Kau dan perempuan ini? Suara Aliya
terdengar lantang di belakang mereka. Ivea menoleh
kepada wanita itu, wanita yang selalu bersama Nathan
dulu. Wanita yang sering mengantar Nathan setiap pagi ke
Galeri. Wanita yang membuat Nathan mengatakan bahwa
dia tidak bisa menyukai Ivea lebih dari seorang teman.
Kau serius? Kau bahkan masih makan bersamaku tadi
malam dan sekarang kau mengatakan kalau kau suka pada
wanita lain?
Makan malam? Tanya Ivea. Matanya memandang
Nathan meminta kejelasan.

Eve kau salah faham!


Nat, Kau bilang kau tidak akan pernah melepaskanku
sebelum aku yang melepaskanmu. Sekarang kau ingin
menjalani dua hubungan sekaligus? Aliya menyela.
Nathan terlihat sangat marah. Dia menggenggam
tangan Ivea kuat-kuat lalu berbicara dengan Aliya dengan
suara Intens. Bisakah kau menghentikan ucapanmu itu?
selama ini kau bisa saja pergi dengan laki-laki manapun
dan aku tidak berhak untuk marah karena kita tidak punya
hubungan apa-apa. Sekarang apa hak mu untuk bicara
seperti itu? Aku menyukai Ivea dan kau tidak punya hak
apa-apa untuk melarangku!
Jadi sekarang kau ingin balas dendam?
Balas dendam? Ivea memegangi kepalanya,
mengapa ia menangkap sesuatu yang negatif dari
perdebatan ini? Mengapa pertengkaran Nathan dan Aliya
mengesankan kalau Nathan sedang menjadikanya alat
untuk balas dendam? Apa kau benar-benar hanya
menyukaiku? Tanya Ivea kepada Nathan. Ia memandang
Nathan penuh Tanya.
Eve! Nathan memanggil Ivea seolah-olah sedang
meminta Ivea untuk memikirkan kembali perkataanya.
Untuk apa Ivea bertanya? Bukankah semua perilakunya
selama ini sudah jelas, Nathan memperhatikanya dan
menyukainya dengan sungguh-sungguh.
Kenapa sangat mudah bagi mu untuk mengatakan
kau sedang suka pada siapa, kau tidak bisa mencintai
siapa, dan kau tidak mungkin mencintai siapa. Kenapa kau

sangat suka mempermainkan hati perempuan dengan katakata seperti itu?


Aku? Nathan mulai terpancing karena Ivea
menghempas tangannya yang tadi menggenggam tangan
Ivea. Aku mempermainkan siapa? Jadi selama ini kau
menganggap aku sedang main-main denganmu? Atau
sebenarnya kau yang sedang mempermainkanku?
Kenapa semuanya jadi berbalik kepadaku? Suara
Ivea mulai bergetar.
Ya, tentu saja kau menganggap aku tidak penting.
Karena selama ini kau lebih percaya kepada Kay dari pada
aku, kau lebih memilih bersamanya daripada bersamaku!
Aku bodoh sudah percaya dengan kata-kata orang lain
kalau kalian berdua sudah seperti saudara. Kau fikir
bagaimana perasaanku melihat kalian terus bersama,
tertawa bersama sedangkan denganku kau tidak pernah
seperti itu. Kau fikir bagaimana perasaanku melihat kalian
berdua berpelukan berkali-kali melalui lensa kamera
Sekarang kau ingin menyalahkanku? Potong Ivea.
Baiklah kalau kau berfikir begitu Aku akan mengabulkan
permintaanmu. Aku menyukai Kay! dan kau, jangan
pernah lagi mendekatiku selamanya! Ivea memandang
Nathan dan Aliya bergantian, lalu segera melangkahkan
kakinya secepat mungkin.
Ivea tidak kembali kekelas, Ia benar-benar pergi
menjauh dari tempat itu. Mengapa ia bisa mengatakan halhal seperti itu? Kenapa dia tidak percaya kepada Nathan?
Seharusnya Ivea bisa lebih bersabar, Ivea menyentuh

pipinya. Tidak ada airmata yang keluar. Apa yang terjadi


pada hatinya?
***

7
Semestinya ada beberapa anak yang mengerjakan
tugas kelompok bersama Ivea hari ini, tapi seperti biasa
Ivea hanya melakukanya sendirian karena teman-temanya
yang lain bolos tanpa alasan. Ivea sebenarnya ingin segera
pulang dan kembali bekerja di Chinamons, tapi rasanya ia
sedang enggan bertemu dengan Nathan hari ini, Ivea hanya
ingin beristirahat sebentar. Di galeri Ia tidak akan
menemukan ketenangan sama sekali jika harus berhadapan
dengan wajah kesal Nathan yang selalu membuatnya
tertekan.
Ia duduk di bangkunya sambil memutar Dieu tristesse,
instrumental klasik dan romantic milik Chopin yang paling
di sukainya. Irama lembutnya membuat Ivea mulai
memejamkan mata dan menikmatinya dengan seluruh,
hingga tiba-tiba tas yang berada di pangkuanya terjatuh.
Ivea membuka matanya dan melihat seseorang mengambil
tasnya yang berada di lantai dan mengembalikanya
kepangkuan Ivea. Kay tampak terengah-engah kelelahan,
dia mengikat rambut panjangnya yang terurai lalu
menggerakkan bibirnya seolah sedang membicarakan
sesuatu. Ivea mencabut sebelah handset dari telinganya
dan memandang Kay heran.
Miseur? Katanya.

Maaf aku mengganggu. Aku cuma mau menghindar


dari mereka sebentar. Aku sangat butuh ketenangan,
sepertinya belakangan ini aku benar-benar kehilangan yang
satu itu! Keluhnya pelan. Suaranya lembut seperti biasa.
Butir-butir keringat terlihat di dahi Kay saat dia menyeka
rambutnya yang berwarna coklat jatuh perlahan. Dia
benar-benar terlihat lelah, semenjak fotonya muncul
dimajalah tiba-tiba saja para mahasiswi sejurusan bahkan
sekampus mengidolakanya. Pada hari-hari sebelum ini,
Kay melayani mereka dengan sopan, tapi mugkin ia sudah
lelah di ganggu setiap hari sehingga membuatnya memilih
untuk melarikan diri.
Kelihatanya tadi masuk kekelas yang disana
Coba kita lihat kesana dulu
kalau ternyata tidak ada bagaimana?
Aku lihat kok!
Suara-suara dari kejauhan sayup-sayup terdengar,
meskipun sebelah telinga Ivea masih menggunakan
handset, ia masih bisa mendengar perdebatan beberapa
siswi disana. Ivea tiba-tiba saja merasa tidak rela kalau Kay
di temukan dan harus melayani pertanyaan anak-anak itu
atau menemani mereka ngobrol sampai merasa bosan.
Bukankah selama ini Ivea selalu merasa cemburu dengan
itu? Kay dan dirinya jadi terasa begitu jauh semenjak Kay
menjadi idola. Meskipun ia dan Kay bertemu lebih sering,
meskipun dirinya mengenal Kay lebih dulu ia tetap tidak
bisa merelakanya. Ivea spontan menarik Kay untuk
bersembunyi di bawah meja dan sekarang, ia sedang

berhadapan dengan Kay dalam jarak yang sangat dekat,


jemarinya menggenggam pakaian Kay kuat. Sepasang mata
Kay memandang Ivea heran dan Ivea sendiri juga begitu, ia
tidak menyangka kalau dirinya berani melakukan hal ini.
Maaf, Miseur, tadi kau bilang tidak ingin di ganggu,
jadi aku cumaumcuma berusaha membantu! Ivea
berbisik, dirinya merasa sangat gugup karena suasana yang
aneh sedang meliputinya sekarang. Tiba-tiba saja udara
menjadi panas membuat Ivea menghembuskan nafasnya
perlahan.
Kay masih menatap wajah Ivea heran, tapi kemudian
dia membisikkan kata terimakasih di telinga Ivea membuat
jantung Ivea seakan berhenti berdetak.
Kan sudah ku duga, tidak ada!
Kemana Miseur pergi?
Sudahlah, kita pulang saja. Aku punya janji!
Suara-suara itu lagi, semula terdengar sangat dekat.
Tapi kemudian Ivea tau bahwa mereka sudah menjauh
seiring dengan menghilangnya suara langkah kaki mereka,
suasana sudah benar-benar sunyi sekarang. Meskipun
begitu Ivea dan Kay masih dalam posisi ini dan tidak ada
satupun dari keduanya yang ingin bergerak. Ivea semakin
gugup, dirinya sangat menyukai Kay semenjak malam itu
dan sekarang orang yang sangat di sukainya sedang berada
di hadapanya. Bagaimana dengan perasaan Kay padanya?
Apakah Kay benar-benar tidak merasakan apa-apa? Atau
Kay sebenarnya juga seperti dirinya saat ini, kerepotan
mengatur debaran jantungnya? Ivea sangat gugup karena

Kay sendiri sama sekali tidak berinisiatif untuk bergerak.


Bagaimana caranya agar Kay tau bahwa Ivea
menyukainya?
Ivea teringat pada cerita Chastine tempo hari, Kay
selalu mendapatkan pernyataan cinta, lalu apakah untuk
bisa lebih sering bersamanya Ivea harus bertindak Agresif?.
Entah kenapa Ivea tiba-tiba saja terpengaruh, dan nekat
mendekatkan wajahnya kepada wajah Kay yang membuat
bibir mereka bersentuhan. Tapi Kay segera menjauhkan
wajahnya dari wajah Ivea dan membuat gadis itu
tertunduk malu. Ia benar-benar melakukanya tanpa sadar.
Mengapa Ivea menjadi sangat berani seperti ini?
Anu, maaf! Aku.tiba-tiba saja,Maafkan aku!
Ivea masih berbisik meskipun ia tau sekarang sudah tidak
ada siapa-siapa selain mereka berdua. Ia benar-benar
menyesali keberanianya yang tiba-tiba saja datang tanpa di
duga. Bagaimana bila Kay tidak suka dengan perbuatanya
ini? Mata Ivea berkaca-kaca menahan kekecewaan kepada
diri sendiri, wajahnya mungkin sudah sangat merah
sekarang. Ivea memegang pipinya yang panas dan
memejamkan matanya, ia harap Kay segera menghilang
ketika Ivea membuka mata.
Tapi tiba-tiba saja dalam waktu singkat Ivea sudah
menyadari bahwa bibirnya dan bibir Kay saling
berpangutan lembut. Tubuhnya sekarang benar-benar
berada dalam dekapan Kay dan sangat rapat, sama seperti
rangkulan yang dirasakanya saat sesi pemotretan gaun
pengantin pada hari itu.

Kay!. Hanya itu kata yang bergema di hati Ivea saat


ini. Tubuhnya bergetar hebat.
***
Kaki-kaki Ivea melemah, sebelah tanganya mencoba
mempertahankan dirinya dalam posisi berdiri dengan
bertumpu ke dinding. Ia gugup saat melangkahkan kaki
memasuki Chinamons dan akan bertemu dengan Kay
setelah kejadian tadi. Diam-diam Ivea berharap Kay tidak
melihatnya, atau Kay sedang pergi entah kemana dan tidak
kembali ke butiknya pada hari ini.
Bermacam rasa sudah mengaduk-aduk batin Ivea.
Malu, Bahagia, heran, semuanya bercampur. Apakah Kay
juga menyukainya? Jika tidak mengapa Kay melakukan hal
seperti itu tadi. Ia masih mengingat pandangan Kay
padanya setelah kejadian itu, juga senyumanya dan
semuanya. Bahkan bayangan punggung Kay ketika lakilaki itu meninggalkanya.
Chinamons benar-benar sepi, Ivea melihat jam
tanganya dan segera maklum karena ini jam istirahat
sebelum Galeri di buka kembali sejam kemudian. Pintu
ruang kerja Kay ada disana. Ivea melangkah perlahan
karena ingin tau apakah Kay ada disana? Atau bila Kay
ada, apa yang sedang dilakukanya? Apakah Kay juga
merasa gugup seperti yang dirasakanya saat ini?

Kamu serius? Ivea mendengar suara seseorang


didalam ruangan Kay. Suara Bian yang merupakan sahabat
dekat Kay.
Aku menciumnya karena simpati Suara Kay juga
terdengar. Mencium karena simpati? Siapa yang mereka
bicarakan? Ivea? Dada Ivea tiba-tiba saja sesak. Lalu aku
harus bagaimana? Dia sudah terlalu menunjukkan
perasaanya padaku, melihat wajahnya yang seperti itu, dia
pasti sangat malu saat itu Kay menyambung ucapanya.
Kay. Bukankah kau malah semakin memberikan
harapan kepadanya?
Aku tau, aku juga menyesali semua perbuatan
nakalku padanya. Tapi aku juga kasihan bila harus
menolaknya terang-terangan pada saat itu. Mungkin
setelah ini aku akan memintanya melupakan kejadian itu
Sebenarnya siapa wanita itu, kapan kejadianya?
Tadi siang, soal siapa dia kau tidak perlu tau!
Sekarang ayo kita makan.
Tunggu, aku beres-beres dulu!
Dan Ivea merasa tidak ada lagi yang perlu di dengar.
Sesak didadanya berubah menjadi nyeri yang sangat
mengiris. Ivea menyembunyikan diri di ruang ganti dan
berusaha menarik nafas dalam-dalam agar udara bisa
masuk keparu-parunya setelah bunyi mobil Kay menjauh.
Tapi menarik nafas seperti itu malah membuat dadanya
semakin sesak. Ivea menangis dan terus begitu untuk
beberapa lama. Ia baru berhenti begitu mendengar
beberapa orang masuk kedalam galeri. Seorang

diantaranya membuka pintu ruang ganti yang memang


tidak terkunci dan menemukan Ivea disana. Tara tiba-tiba
saja memeluknya seolah-olah dia mengetahui masalahnya
dan ingin mengatakan pada Ivea, tidak apa-apa. Tidak
usah di fikirkan.
Kau kenapa? Kau punya masalah di Kampus? Tara
membelai punggungnya.
Ivea mengangkat wajahnya dan menggeleng pelan,
sebisa mungkin ia memaksakan seulas senyum untuk
menenangkan hati Tara yang mungkin sekarang sedang
mengkhawatirkanya. Aku mau kekamar mandi. Katanya
dengan suara parau. Ivea beridiri dan melangkahkan kaki
menuju kamar madi. Ia termenung Disana untuk beberapa
waktu. Ivea bisa melihat matanya yang agak memerah. Ia
membasuh mukanya dengan air dari keran westafel dan
memakai bedak, sebisa mungkin ia menyembunyikan
matanya yang bengkak.
Eve, kau sedang apa di dalam? Suara Tara terdengar
lagi. Kau di minta menemui Kay di ruanganya!
Ivea menelan ludahnya. Apa yang harus dilakukanya
sekarang? Kay pasti memintanya melupakan kejadian
memalukan tadi. Ivea bahkan merasa dia sudah tidak
punya muka untuk bertemu dengan Kay. Langkahlangkahanya yang berat di paksakanya untuk berjalan
keluar dari kamar mandi dan menuju ruangan Kay,
wajahnya tertunduk begitu Kay membukakan pintu lalu
memintanya masuk. Laki-laki itu menutup pintu dan

kembali duduk di meja kerjanya. Hati Ivea sudah sangat


berantakan, mungkin penampilanya juga sama.
Eve. Kau kenapa? Kata Kay, masih sama lembutnya
dengan nada bicaranya yang biasa.
Tapi bisa-bisanya dia masih menunjukkan perhatian
seperti itu, perhatianya hanya akan membuat hati Ivea
semakin sakit. Miseur memanggilku karena apa?
UmmmSuara Kay terdengar bergumam. Ia jelas
menyiapkan sesuatu. Sesuatu yang akan dia katakan,
sesuatu yang akan membuat hati Ivea merasa semakin
kecewa. Lupakan kejadian tadi. Tadi siang saat melihat
wajahmu
Kumohon hentikan! Tiba-tiba saja suara Ivea
menjadi bertenaga. Ia mengangkat wajahnya dan berusaha
memandang wajah Kay yang terkejut dengan nada
suaranya. Aku yang salah. Aku akan melupakan
semuanya. Jadi tolong Miseur juga melupakanya!
***
Ivea menangis? Melihat gadis itu keluar dari kamar
mandi dengan mata bengkak membuat Nathan merasa
serba salah. Seharusnya hari ini dia meminta maaf kepada
Ivea atas pertengkaran kemarin. Nathan memang sengaja
datang ke galeri meskipun sebenarnya ia sedang tidak
bersemangat. Tapi walau bagaimanapun Nathan
membutuhkan Ivea dan perasaan itu sama sekali tidak bisa
di bohongi.

Kalian punya masalah? Tara bertanya, mungkin


karena melihat wajah Nathan yang bersedih dan tidak
bersemangat. Kenapa dia menangis ya? Aku kira dia
sedang ada masalah di kampus. Tapi melihat tampangmu
kali ini sepertinya masalah itu terjadi antara kalian berdua
saja.
Kemarin memang ada pertengkaran, Mbak!
Wah, ternyata benar. Kalian punya masalah apa?
Cuma salah faham kok mbak, Aliya sumber
masalahnya.
Lhamemangnya kamu masih berhubungan sama
Aliya?
Nggak tau lah, Mbak! Nathan memegang kepalanya.
Nathan mungkin kurang tegas, ia bersalah karena
masih bertemu dengan Aliya sampai malam itu, karena dia
berjanji untuk tidak melepaskan Aliya sebelum gadis itu
yang menyuruhnya pergi. Tapi perasaanya kepada Ivea
tidak main-main. Nathan benar-benar menyukai Ivea
dengan sepenuh hati dan kemarin siang semuanya menjadi
kacau. Ia menyesali emosinya yang terlalu cepat
tertumpah. Seharusnya dia memohon Ivea untuk tinggal di
sisinya, seharusnya ia tidak membiarkan Ivea pergi dan
memaksanya untuk mendengarkan penjelasan Nathan
tentang Aliya.
Bunyi suara Ivea Intens terdengar dari dalam ruangan
Kay, hanya satu kata yang samar yang cukup untuk
membuat Nathan terdorong mendekati pintu ruang kerja
Kay dan mendapati Ivea membuka pintu dan berhadapan

denganya. Gadis itu menangis lagi? Nathan berusaha


menggapai tangan Ivea yang meninggalkanya, tapi tidak
dapat, Ivea berhasil keluar dari galeri. Nathan tidak akan
menyerah begitu saja, ia mengejar ivea sampai tangan Ivea
berhasil di gapainya dan membuat gadis itu menghentikan
langkahnya.
Eve! desisnya.
Ivea terisak, Nathan berusaha melihat wajahnya yang
tertunduk.Tapi Ivea menolak dan berusaha melepaskan
tanganya yang di genggam Nathan dan hanya mengatakan
beberapa kata sebelum pergi meninggalkan Nathan dalam
keadaan termangu.
Maaf, Nat! Maafkan aku!
***
Tara masuk ke ruangan Kay setelah melihat Ivea
berlari keluar galeri sambil menangis. Kay terlihat sedang
bingung sambil memandangi I-pod silver yang di jatuhkan
Ivea dengan pandangan kosong. Pasti telah terjadi sesuatu.
Fikir Tara. Tadi, beberapa saat setelah Ivea masuk
keruangan Kay, ia mendengar teriakannya. Mungkin Kay
dan Ivea berdebat, karena apa?
Kay! Tara berusaha mengembalikan kesadaran Kay.
Kau kenapa?
Ya? Kay mungkin berharap Tara mengulangi katakatanya. Tapi Kay sudah kembali bicara sebelum Tara

membuka mulut. Aku cuma bingung dengan anak itu hari


ini. Mungkin aku sudah melakukan kesalahan besar!
Bingung? Oh, mungkin karena dia menangis ya? Tadi
setelah kau mengantarkan kunci Galeri ke caf, aku
langsung kembali kesini dan membuka galeri. Lalu ku
dengar ada suara tangis di Fitting room, ternyata dia.
Mungkin dia sedang punya masalah dengan Nathan.
Tiba-tiba Tara merasakan ada sebuah atmosfir aneh.
Kay memandangnya dengan ekspresi serius yang tak biasa.
Jadi dia sudah disini sebelum kau datang? Tanya
Kay.
Tara mengangguk.
apakah dia mendengarkan pembicaraanku dan
Bian? Kay tiba-tiba memegangi kepalanya. Dia terlihat
sangat kesal.
Kay, Sebenarnya ada masalah apa? Apa ada yang
bisa ku bantu?
Tara, Aku tau kau bisa menyimpan rahasia. Kay
berdiri dari kursinya dan mendekati Tara yang berdiri
membelakangi pintu. Sebenarnya, aku dan Eve.

***
Lupakan kejadian tadi. Tadi siang saat melihat wajahmu aku
benar-benar kelepasan menunjukkan perasaanku. Semula ku kira
ini bisa berlanjut dengan baik tapi kemudian aku merasa bahwa
hubungan yang seperti ini akan merusak persahabatan kita.

Seharusnya Kay mengatakanya saat itu, Meskipun


ucapan seperti ini benar-benar hanya sebuah kepurapuraan, tapi Kay merasa kata-kata yang seperti itu akan
tepat dan tidak menyakiti hati Ivea. Ini memang bukan
pertama kalinya Kay menghadapi masalah dengan
perempuan karena ulahnya sendiri, Ivea entah yang
keberapa, tapi Ivea adalah orang pertama yang
membuatnya memikirkan semua ini secara lanjut.
Aku akan melupakan semuanya. Jadi tolong Miseur juga
melupakanya.
Kata-kata yang masih membayangi Kay hingga
sekarang. Dan Miseur? Ivea hanya memanggilnya Miseur
bila mereka sedang di Kampus, selama ini dirinya dan Ivea
bersahabat sangat baik dan anak itu juga merupakan
sahabat yang menyenangkan. Meskipun usia mereka
terpaut tujuh tahun, Ivea selama ini selalu memanggil Kay
dengan nama, dan hari ini dia memanggil Kay dengan
sebutan Miseur?
Padahal Kay sangat berharap kalau semuanya akan
segera membaik setelah dia mengucapkan kata-kata itu.
Tapi Ivea tidak memberikan kesempatan sama sekali. Katakata melupakan yang Ivea ucapkan entah mengapa
menjadi begitu menusuk. Kata melupakan itu tampaknya
bukan hanya kata-kata yang menuju pada kejadian saat itu,
tapi semuanya. Ivea mungkin memang berniat membuang
semuanya. Gadis itu tidak datang kekelas Kay, bahkan
mungkin tidak datang ke Kampus sama sekali dan di
galeri, Kay tidak lagi mendengar Ivea tertawa riang

bersama Tara ataupun melihatnya bersama Nathan. Kay


juga tidak melihat Ivea yang menungguinya untuk minta
diantar pulang dengan headset di telinganya.
Kay seringkali menunggui kehadiran Ivea di
persimpangan jalan dimana dirinya biasa menjemput atau
mengantar Ivea pulang, dan Ivea tidak pernah muncul. Kay
sangat menyesal karena dirinya tidak pernah memaksa
untuk mengantarkan Ivea sampai rumah, sekarang dirinya
tidak tau lagi harus mencari Ivea kemana. Bahkan alamat
yang berada di buku data karyawan pun bukan alamat
dimana Ivea sekarang. Gadis itu memang pernah tinggal
disana pada awal kedatanganya kekota ini, tapi sekarang
Ivea sudah pindah entah kemana. Sudah seminggu ini yang
Kay bisa lakukan hanya memandangi kursi dimana Ivea
biasa duduk di kelas atau melihat gaun rancangan Ivea
yang di pajang di ruangan Kay setiap hari. Ivea benarbenar menghilang dari sisinya.
Kay, Bagaimana dengan Fashion Show di Tokyo
pertengahan tahun ini? Kau akan ikut mengisi acara, kan?
Bian mengagetkan Kay.
Jendela yang Kay pandangi tidak berisi sesuatu yang
spesial, tapi ia memang tidak membutuhkan sesuatu yang
spesial karena perhatian Kay memang tidak sedang menuju
kesana. Kay berbalik memandangi Bian yang sibuk
menyantap donat di kantornya. Bian memang tukang
makan, meskipun begitu wanita ini sama sekali tidak
pernah kelebihan berat badan. Semua wanita di dunia pasti
sangat iri dengan anugrah spesialnya yang satu itu.

Biarkan aku berfikir dulu!


Kau mau memikirkanya dulu? Kau tidak pernah
melewatkan kesempatan untuk menampilkan busanabusana rancanganmu di luar negri, Lagipula ibumu juga
masih berada di Tokyo kan? Kau sedang punya masalah?
Kay menekan pelipis kananya dengan jari. Wajahnya
seharian ini hanya berisikan ekspresi gusar. Bian mungkin
heran dengan Kay hari ini, biasanya Kay sangat pandai
menyembunyikan perasaanya tapi kali ini, Kay sama sekali
tidak bisa menyembunyikan ketidak tenanganya. Kay bisa
maklum melihat alis Bian yang terangkat karena
melihatnya uring-uringan hari ini Boleh aku minta kopi?
Tentu saja kalau itu bisa menenangkanmu! Bian
kemudian mengangkat telpon dan berbicara pada
sekretarisnya. Chastine, tolong bawakan secangkir kopi
keruanganku, ya? Dan wanita itu lalu menutup telpon.
Chastine? Tanya Kay.
Kau tidak sedang menanyakan siapa Chastine kan?
Dia adalah kariawanmu yang kau oper kekantorku. Kau
bilang saat itu, Chastine harus bisa mengembangkan
dirinya.
Ya, tentu saja Kay ingat. Chastine adalah salah satu
kariawanya, juga salah seorang mahasiswa yang pernah di
ajarinya saat Kay masih di Paris. Chastine adalah salah satu
kariawan tercerdas yang Kay punya dan keputusan untuk
memindahkan Chastine kekantor majalah mode milik Bian
adalah salah satu usaha Kay untuk membuat chastine lebih
berkembang. Karena dengan begitu, Chastine bisa lebih

memperkaya diri dengan pengetahuan Mode yang Bian


miliki. Dan satu lagi, Chastine yang membawa Ivea ke
Gallerinya untuk menggantikan pekerjaannya. Saat itu
chastine bilang kalau Ivea adalah teman serumahnya di
tempat tinggal yang baru. Chastine pasti tau dimana Ivea,
Chastine mungkin bisa membantunya.
***

8
Kay berjalan gusar mengitari koridor rumah sakit.
Ruang Lavender nomor tujuh, Chastine bilang Ivea berada
disana, Ivea jatuh dari tangga rumah Kos-nya dan sempat
koma selama 34 Jam. Dan begitu bangun Ivea kelihatanya
benar-benar seperti orang kebingungan. Gadis itu
mengalami Amnesia Parsial yang membuatnya melupakan
kejadian yang dialaminya selama satu tahun terakhir.
Chastine juga mengatakan bahwa dia bingung harus
melakukan hal seperti apa, mereka tidak tau siapa orang
tuanya karena Ivea tidak pernah bercerita, tidak ada data
yang pasti dan sekarang dia mulai kehabisan uang untuk
membayar biaya rumah sakit.
Ketemu, Bisik Kay. Ruang Lavender nomor tujuh
tertera di depan pintu yang berwarna baby blue. Kay
membuka pintu dan menemukan Ivea disana. Gadis itu
tengah duduk dan memandangnya dengan bingung saat
Kay mendekat dan duduk disamping tempat tidurnya. Ivea
mengenakan piama rumah sakit dengan kening yang di
tutupi perban, mungkin dibaliknya ada luka. Dan
rambutnya yang panjang, sekarang hanya tinggal sebahu.
Kau siapa? Tanya Ivea dengan pandangan heran.
Kau benar-benar tidak mengingatku?
Maaf. Mungkin kita pernah kenal, tapi aku sedang
tidak mengingat siapa-siapa. Chastine bilang aku amnesia.

Ivea berbicara sambil menggosok-gosok tengkuknya,


kelihatanya ia sedang merasa tidak enak karena sudah
melupakan Kay.Aku bahkan tidak ingat pada Chastine,
tapi dia sangat baik. Dia selalu menemaniku disini
Kau bahkan tidak ingat Chastine?
Ivea mengangguk. Kurasa biaya disini sangat mahal.
Aku ingin pulang, dia pasti terbebani. Katanya. Matanya
memandangi sekeliling ruangan tempatnya dirawat.
Kau ingin pulang kemana? Kau ingat rumah orang
tuamu?
Ivea menggigit bibirnya.Seingatku, Aku tidak punya
siapa-siapa. Aku datang kekota ini untuk bekerja dan
melanjutkan sekolah. Chastine bilang aku serumah
denganya, mungkin kembali tinggal disana akan lebih baik
daripada menghabiskan uang disini! Ivea tersenyum.
Senyum yang nyaris saja Kay lupakan karena Kay
belakangan ini hanya bisa mengingat wajah Kecewa Ivea
saat pertemuan mereka yang terakhir. Kau belum
menjawab pertanyaanku, Kau siapa?
Aku? Kay termenung sesaat. Dia harus mengatakan
apa? Hubunganya dengan Ivea sangat complicated. Ivea
adalah karyawan terbaiknya. Ivea juga mahasiswanya di
Kampus. Dia dan Ivea seringkali bersama-sama meskipun
perdebatan selalu mewarnainya. Tapi belakangan Ivea
terasa sangat jauh, dan begitu mereka punya kesempatan
untuk bersama, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Nanti
aku ceritakan! Kay naik keatas tempat tidur dan memeluk

Ivea erat-erat. Walau bagaimanapun Ivea adalah teman


yang dirindukan Yang pasti kita adalah sahabat baik.
Begitukah? Bagaimana kita bisa bersahabat?
Chastine yang memperkenalkan kita! Jawab Kay.
Hatinya merasa lebih lega. Setidaknya Ivea dan dirinya bisa
berbicara tanpa ganjalan seperti ini lagi. Setidaknya Ivea
tidak mengingat kejadian buruk yang membuatnya
menangis dan pergi meninggalkan Kay. Eve, maukah kau
menjadi sahabatku lagi?
Tentu saja!
Kalau begitu jangan menghilang lagi. Kay membelai
kepala Ivea. Oh, Ya. Rambutmu kenapa?
Oh, ini? Waktu aku terbangun, aku lihat rambutku
sudah sangat panjang. Aku cuma mengingat wajahku
dengan rambut yang seperti ini, Jadi jika aku melihat
cermin aku seperti sedang melihat orang asing. Lalu aku
meminta Chastine memotongnya untukku. Kenapa? Aneh
ya?
Kay melepaskan pelukanya dan memandangi wajah
Ivea yang tersenyum untuknya sekali lagi. Tidak, Kau
cantik!
***
Kay sudah mengambil alih semuanya dengan motivasi
yang tidak di mengerti. Mungkin perasaan bersalah disertai
keinginan besar untuk menebusnya yang membuat Kay
mengganti semua uang Chastine yang keluar untuk Ivea

dan melunasi biaya rumah sakit. Semula Chastine menolak


karena walau bagaimanapun, baginya Ivea sudah seperti
adik. Tapi Kay berkeras sehigga Chastine tidak bisa
mengatakan apa-apa lagi. Keinginan Chastine untuk
merawat Ivea setelah keluar dari rumah sakitpun di tolak
oleh Kay begitu melihat keadaan tempat tinggal Chastine
dan Ivea selama ini. Kamar yang sempit harus di tempati
oleh tiga orang. Bagi Kay, keadaan seperti itu tidak akan
membantu kepulihan Ivea sama sekali.
Sekarang, Kay lebih memilih Bian sebagai orang yang
diyakininya akan menampung Ivea hingga kesehatanya
membaik. Dirinya dan Ivea sedang berada di rumah Bian
sekarang, Rumah yang sejuk dan di atur seminimalis
mungkin membuat tempat yang sederhana itu kelihatan
luas. Rumah ini sengaja di bangun untuk iklim tropis
dengan banyak dinding kaca dan tanaman rambat yang
menutupi tembok. Rumah yang sudah banyak berubah
sejak terakhir kali Kay kunjungi, mungkin sekitar setengah
tahun. Selama ini Kay lebih suka berbicara dengan Bian di
kantornya, di galeri atau di Kampus.
Bagaimana? Tanya Kay setelah menjelaskan semua
persoalanya.
Bian memandang Ivea yang duduk di sebelah Kay.
Gadis itu tampak bingung karena dikelilingi oleh tempat
yang asing. Teentu saja aku mau! Dia bisa menemaniku
disini!
kalau begitu aku bisa tenang. Aku mungkin akan
menitipkanya selama seminggu

Selama-lamanya juga boleh! potong Bian. Tapi apa


benar dia tidak ingat apa-apa?
Kay mengangkat bahunya. Aku juga sedang bingung
bagaimana cara menjelaskan banyak hal kepadanya. Aku
harap setelah seminggu terlewati Eve tetap bisa
melanjutkan kehidupanya secara normal meskipun tidak
mengingat apa-apa.
Kembali ke Kampus misalnya? Begitu kan?
Tentu saja. Aku harus banyak menjelaskan tentang
keadaanya kepada ketua yayasan, jika tidak Eve bisa di
keluarkan dari Kampus!
Kampus? Ivea tiba-tiba ikut campur mendengar
kata-kata Kampus. Aku sudah mendaftar masuk ke
universitas? Aku sudah lulus? Jurusan apa yang ku pilih?
Pertanyaanmu banyak sekali, darimana aku harus
menjelaskanya? Kata Bian sambil tersenyum pada Ivea.
Kau mungkin tidak ingat, kau sudah mendaftar beberapa
bulan lalu kekampus tempat Kay dan aku mengajar. Kau
juga mendapatkan nilai tertinggi pada desain wedding
dress mu, itu karena aku yang jadi juri! Bian kemudian
tertawa anggun. Dan rancanganmu itu, berhak tampil di
dalam majalahku edisi bulan lalu. Tunggu sebentar! Bian
kemudian berdiri dan masuk kesalah satu ruangan di
dalam rumahnya. Tak lama kemudian dia keluar dengan
membawa majalah bertajuk SmiloQueen itu dan membuka
salah satu halaman penting sambil menjatuhkan
pinggulnya disamping Ivea. Ia menunjukkan sebuah foto
disana dimana Ivea berada dalam rangkulan Kay dengan

mata yang saling beradu pandang. Foto itu menunjukkan


kesederhanaan dan kehangatan dari Gaun yang di kenakan
Ivea. Kesan itu semakin di perkuat dengan penampilan Kay
yang mengenakan jas putih. Rambut panjang Kay yang
diurai terkesan seperti di tiup angin dan menunjukkan
wajah Kay dari samping dengan Jelas. Lihat ini!
Ivea memandang Kay seakan tak percaya. Lalu
matanya kembali memandangi gambar dirinya dan Kay
dimajalah. Gambar itu sudah tidak pernah Kay Lihat lagi
semenjak Bian memberikannya kepada Kay pada hari
majalah SmiloQueen terbit. Ini kedua kalinya, tapi Kay
mendapati kesan yang berbeda saat melihat fotonya kali
ini.
Kalian berdua kelihatan serasi sekali. Bian kembali
berceloteh. Lihat pandangan itu, meskipun sedang akting,
kalian benar-benar kelihatan seperti pasangan yang sedang
jatuh cinta.
Disini Aku akting ya? Ivea bertanya sambil
mengamati wajahnya di gambar. Ternyata aku berbakat
jadi artis ya? Di foto ini, aku kelihatan benar-benar seperti
orang yang sedang jatuh cinta! Aku ingin segera bertemu
dengan fotografernya!
Tentu saja. Kalian semua berteman baik di galleri
milik Kay yang dinamainya chinamons itu! Kau juga
bekerja disana menggantikan posisi Chastine, lalu Kay
memberikan kau formulir pendaftaran Kampus mode itu.
Jadi Kau ke Kampus pada pagi hari dan ke galleri pada
siang hari

Benarkah? Tanya Ivea kepada Kay dengan wajah


gembiranya. Aku bekerja di gallerimu? Bersama fotografer
yang memotret kita ini?
Ya, Tentu saja Jawab Kay sekenanya. Setelah
keadaanmu membaik aku akan mengajakmu kesana
Kapan?
Mungkin seminggu lagi. Besok, aku akan berangkat
ke Tokyo! Kay berusaha tersenyum. Akting, mengapa
belakangan ini dia sulit berakting seperti yang seringkali di
lakukanya? Dulu dengan mudahnya Kay memanipulasi
perasaanya. Tapi belakangan mengatur perasaanya
menjadi begitu sulit. Kay merasa kalau dirinya sudah
berubah pelan-pelan.
***
Kay berjalan cepat diiringi Tara Soedarnadi menuju
mobil yang menjemputnya. Ia merasa sangat lelah karena
jet lag ringan. Kegiatan di Tokyo yang padat membuatnya
tidak sempat beristirahat sama sekali. Indonesia masih
sangat pagi tapi Kay sudah merasakan panas yang
menyengat, udara yang menyadarkan Kay kalau dia sudah
kembali ke tanah air dan sudah meninggalkan musim
dingin di Tokyo. Selama disana Kay seringkali mengingat
Ivea, bukankah Ivea pernah menanyakan tentang Tokyo
padanya sebelum kejadian buruk merusak hubungan
mereka berdua dengan sukses. Ivea mengatakan ingin
melihat salju di Tokyo, tapi saat itu Kay mematahkan

harapanya dengan mengatakan bahwa di Tokyo sama


sekali tidak ada salju yang turun meskipun sedang musim
dingin. Mengenang semuanya mengingatkan Kay pada
Ivea. Seminggu sudah dirinya dan Ivea tidak bertemu,
bagaimana keadaanya sekarang?
Tara, kau bawa berapa mobil? Tanya Kay kepada
Tara yang berjalan bersisian denganya sambil mendorong
troli barang-barang milik Kay.
Tentu saja dua! Jawab Tara sambil menunjuk mobil
yang semakin mereka dekati. Sebuah Nissan merah milik
Kay dan Picato hijau milik Tara. Barang-barangmu yang
banyak itu tidak akan cukup dalam satu mobil.
Siapa yang menyetir mobilku?
Nathan!
kalau begitu, Aku pinjam kunci mobilmu. Aku masih
ada urusan lain yang harus di selesaikan. Kau kembali ke
galleri saja bersama Nathan!
Meskipun ragu, Tara tetap mengambil kunci mobilnya
dan memberikanya kepada Kay. Kay sendiri dengan
tangkas berjalan menuju Picato Hijau milik Tara dan
melajukanya sekencang mungkin menuju rumah Bian. Jam
segini Bian pasti ada di kantor, tapi seharusnya Ivea berada
di rumah dan tidak kemana-mana. Meskipun selama di
Tokyo Kay tidak pernah berbicara dengan Ivea, tapi dirinya
dan Bian selalu membicarakanya setiap hari. Bian
kelihatanya sangat suka dengan keberadaan Ivea
dirumahnya sehingga selama pembicaraan Bian berkali-kali
memuji Ivea.

Dia rajin sekali, aku jadi sering makan siang dirumah.


Begitu aku pulang dia selalu memasak masakan yang enak
untukku. Dan aku bersumpah kalau aku tidak pernah
memintanya melakukan itu. Itu kemauanya sendiri.
Kata-kata Bian yang satu itu sudah sangat melekat di
benak Kay. Bian selalu mengucapkanya berulang-ulang
dan tidak pernah bosan. Tapi bagaimana dengan Ivea? Bisa
jadi gadis itu malah merasa sebaliknya.
Kay sudah sampai dirumah Bian. Pintu pagar Bian
terbuka secara otomatis karena sensor telapak tangan Kay
sudah tertanam dalam memori pengamanya. Kay bisa saja
masuk kerumah ini tanpa password apapun seperti yang
sering dilakukanya setengah tahun lalu. Tapi kelihatanya
kali ini tidak begitu. Pintu utama tidak terbuka dengan
sendirinya setelah Kay menekan beberapa Tuts password.
Mungkin Paswornya sudah di ganti. Hal tersebut memaksa
Kay untuk menekan tombol bel pada pads password itu
beberapa kali dan ia harus menunggu hingga pintu
terbuka. Ivea yang berada di balik pintu terlihat senang
dengan kedatanganya, tapi gadis itu kelihatan tidak sama.
Penampilanya tidak seperti Ivea yang biasa, rambut
pendeknya yang berwarna hitam sudah berubah menjadi
coklat gelap, kulitnya lebih bersih dan menebarkan aroma
wangi Issey Miyaki yang sangat Kay kenal sebagai salah
satu parfum yang sangat Bian sukai. Terakhir, Ivea tidak
menggunakan Jeans atau celana pendek. Sebuah dress mini
berwarna baby pink dikenakanya untuk melapisi baju kaos
kuning berlengan pendek yang sangat pas di tubuhnya.

Bian benar-benar sudah membuatnya menjadi seperti


boneka.
Kau sudah pulang? katanya.
Tentu saja! Jawab Kay sambil menguap dan
melangkah masuk kerumah itu tanpa dipersilahkan
terlebih dahulu.
Kay memilih sofa ruang tengah dan berbaring disana
dengan nyaman. Badanya benar-benar sangat lelah dan
butuh relaksasi. Mungkin setelah ini Kay akan memanjakan
dirinya di Spa. Ivea yang tadi menghilang beberapa menit,
datang mendekatinya dan membawa secangkir teh hangat
lalu meletakkanya di atas meja. Kay tau itu dibuat
untuknya, ia kemudian duduk dan menghirup aroma
wangi dari teh melati.
Bian belum pulang!
lalu kenapa? Tanya Kay dengan kening berkerut.
Kenapa Ivea memberikan informasi basi itu? Tentu saja
Kay sudah tau kalau Bian tidak ada dirumahnya pada jam
segini. Aku kesini untuk numpang istirahat. Galleriku
pasti sedang sangat berantakan dan aku tidak mungkin
beristirahat disana. Tapi aku rasa Tara dan yang lain akan
membereskanya hari ini juga.
Bagaimana dengan Tokyo? Disana sedang turun salju
kan?
Di Tokyo tidak ada salju yang turun! Jawab Kay.
Bohong!
Tentu saja tidak. Aku sudah berkali-kali ke Tokyo
dan tidak pernah melihat salju!

Ivea tidak menjawab apa-apa lagi, wajahnya yang


memandang Kay dengan ekspresi kesal membuat Kay
menahan tawanya, ia ingat kalau dulu, Kay sangat suka
melihat wajah Ivea yang seperti ini, ia juga seringkali
menertawakan gadis itu bila dia terjatuh atau menabrak
sesuatu. Kay merogoh saku celananya dan mengeluarkan
sebuah kotak beludru berwarna merah muda lalu
memberikanya kepada Ivea. Ivea menerimanya dengan
heran, pelan-pelan ia membuka kotak itu dan melihat
sebuah kalung dengan bandul berbentuk Kristal salju yang
terbuat dari perak. Kalung itu memiliki rantai yang tidak
begitu panjang dan berwarna hitam pekat.
Ini untukku? Tanyanya.
Aku cuma meminjamkanya! Kau bilang ingin lihat
salju di Tokyo, aku berkeliling mencarinya dan salju yang
ku temukan hanya itu. Sudah ku bilang kan, di Tokyo tidak
turun Salju. Kalaupun ada, sangat jarang sekali terjadi!
Jawab Kay. Ingat, Kau harus mengembalikanya kalau kau
melihat Salju turun di Tokyo suatu saat nanti
Apa kita sering seperti ini? Tanya Ivea lagi.
Kali ini Kay tidak langsung menjawab. Ia memandang
Ivea bimbang. Seperti apa?
berdebat maksudku!
Iya, tentu saja begitu. Tapi kita bukan musuh, aku
berani bersumpah! Bukankah aku pernah bilang kalau kita
bersahabat baik?
Iya, Berdebat bukan berarti bermusuhan kan? Kau
tidak perlu ketakutan begitu! Kata Ivea sambil

memperhatikan salju yang dibawakan Kay untuknya


dengan wajah penuh rona bahagia.
Kay menggigit bibirnya. Apakah benar dia bertindak
seperti orang ketakutan tadi? Kay memang takut kalau Ivea
membencinya seperti waktu itu. Meskipun pada waktu itu
Ivea tidak mengatakan apa-apa, tapi dari pandangan
matanya yang penuh dengan kekecewaan Kay bisa
merasakan bahwa Ivea yang dihadapanya saat itu sudah
membencinya. Kay memandang Ivea lagi. Wajah Ivea yang
terlihat sangat senang kali ini membuat Kay seolah hanya
bermimpi buruk saja, wajah penuh binar ini sepertinya
tidak mungkin menghadirkan ekspresi yang benar-benar
mengahancurkan hati Kay seperti saat itu. Tapi bukankah
ini terjadi karena Ivea tidak mengingatnya? Lalu
bagaimana bila ingatanya sudah kembali?
***
Kay benar-benar tidur nyenyak di sofa berwarna hitam
pekat itu, cahaya silau dari jendela bahkan sama sekali
tidak mengganggunya. Melihat Kay yang seperti ini
membuat Ivea merasa kalau Kay pernah menjadi bagian
yang sangat penting dlam hidupnya. Tapi memang begitu
seharusnya kan? Seperti cerita Bian, bisa di bilang selama
setahun belakangan ini, Kay adalah sosok yang paling
sering ditemuinya. Pagi di Kampus siang sampai sore di
galeri, bahkan tak jarang sampai malam hari. Bahkan pada
hari liburpun, dia dan Kay akan bertemu seharian penuh

karena Kay tinggal di galerinya dan menjadi penyebab


mengapa Galeri itu tidak pernah ditutup.
Selain itu Kay juga pernah bilang kalau mereka
bersahabat baik, juga sering berdebat. Dan sepertinya
hubungan mereka semakin dekat semenjak busana
rancangan Ivea menang dalam penilaian Bian dan
membuat pertemuan mereka semakin intens karena
membuat gaun itu. Tapi menurut Kay, hubunganya dan
Kay juga sempat renggang karena foto dirinya bersama
Kay tersebar di Kampus dan Kay mendadak menjadi idola
yang dikejar-kejar para siswi seantero Kampus. Sejak itu
komunikasi diantara mereka nyaris tidak ada sama sekali.
Mungkin itulah yang membuat Kay seperti menemukan
sesuatu yang sudah lama hilang saat melihat Ivea dirumah
sakit.
Bunyi tapak high heels yang di pakai Bian terdengar
jelas dan berisik. Dia pulang untuk makan siang seperti
biasa. Ivea mendekati Bian dan mengatakan kalau Kay
sedang tidur dan Bian sebaiknya jangan terlalu berisik.
Maka wanita itu segera melepas sepatunya dan berjingkat
menuju kamarnya di lantai atas dan kembali beberapa
menit kemudian untuk memantu Ivea menyiapkan makan
siang.
kau sepertinya sangat memperhatikan Eve, begitu
sampai disini kau langsung kerumahku! Bian menggoda
Kay saat mereka makan siang bertiga di rumahnya. Ia
belakangan memang sering makan siang di rumah karena

Ivea selalu memasakkan masakan-masakan lezat untuknya


dan menelpon untuk makan siang bersama.
Aku mau menjemputnya!
Apa? ekspresi nakal Bian tadi langsung berubah.
Menjemputnya? Aku sudah terlanjur suka pada Eve.
Memangnya kau mau membawanya kemana?
Umm Kay berhenti memasukkan makanan
kemulutnya. Mungkin kembali kerumah Chastine.
Chastine mungkin cemas!
Tidak bisa! Kalau Chastine khawatir dia bisa datang
kerumahku kapan saja! Aku akan menelponya!
Bi, Sudah ku katakan kalau setelah seminggu,
kehidupan Eve harusnya kembali normal meskipun
ingatanya belum pulih.
Apakah dia jadi tidak normal kalau dia hidup
bersamaku? Dia bisa ku antar ke Kampus, aku juga tidak
akan melarangnya bekerja di gallerimu.
Kau memperlakukanya seperti boneka. Kay
memandang Ivea yang memperhatikan pertengkaranya
dan Bian dengan bingung. Dia bukan Manekin yang bisa
kau dandani sesukamu. Bagiku Eve yang sekarang tidak
seperti Eve yang pernah ku kenal sebelumnya.
Kenapa? Karena di tanganku dia berubah menjadi
cantik seperti cinderella? Kau khawatir kalau nanti kau
menyukainya?
Kau gila? Bukan sekali dua kali aku bertemu dengan
model yang jauh lebih cantik darinya. Aku cuma berfikir
kalau sekarang perubahanya terlalu mencolok!

Kay tertegun sesaat, Ia segera menutup mulutnya


karena khawatir kalau-kalau Ivea tersinggung dengan katakatanya. Tapi kelihatanya Ivea sama sekali tidak
tersinggung dan malah membela bian dengan mengatakan
kalau dirinya menyukai penampilan barunya dan Ivea juga
menyukai Bian, Bahkan Ia memanggil Bian dengan sebuan
Mom, sama seperti Kay memanggil ibunya. Kay merasa
dikeroyok hingga akhirnya dia hanya bisa menyerah dan
membiarkan Ivea tetap bersama Bian sampai pada waktu
yang di kehendakinya.
***
Benarkah kau tidak mengingat apa-apa? Tara
bertanya pada Ivea dengan antusias. Masih sulit baginya
untuk percaya kalau Ivea benar-benar telah mengalami
Amnesia. Rasanya baru kemarin Tara memeluk Ivea yang
menangis seorang diri di Fitting room dan sekarang ia
melihat Ivea tersenyum seolah tidak pernah terjadi masalah
apa-apa terhadapnya.
Kau benar-benar melupakanku? Tanya Nathan ikut
campur. Waktu aku melihatmu terakhir kali, kau
meninggalkan Chinamons sambil menangis, ku kira karena
beberapa hari sebelumnya kita bertengkar!
Aku menangis? Ivea bertanya, wajahnya tampak
berubah menjadi lebih heran.
Tara meninggalkan Natahan dan Ivea berbincangbincang. Tadi ia melihat kalau Kay masuk keruanganya

dan masih mengenakan pakaian yang sama dengan


pakaian yang dikenakanya di bandara sepulang dari
Jepang. Tara mengetuk pintu ruang kerja Kay dan Kay
membukakan pintu untuknya.
Ada apa? Tanyanya.
Tara duduk di sofa yang berada di sebelah kanan
pintu sambil memandang Kay yang duduk di atas meja
kerjanya. Kau semalam tidak pulang? Kau bersamanya?
Kay tertawa ringan. Kau sedang memikirkan apa?
Aku semalaman di rumah Pamanku dan pagi tadi mampir
kerumah Bian untuk menjemputnya. Dia tinggal di rumah
Bian sekarang!
Memangnya kau pikir aku mengira apalagi? Kau
tidak mengganti pakaian lalu datang bersamanya setelah
hampir jam makan siang. Setelah apa yang terjadi pada
kalian berdua, kau dan dia bisa saja
Kalau kau berfikir seperti itu, aku jadi menyesal
bercerita padamu. Kay berpindah duduk ke sofa dan
berhadapan dengan Tara. Ia terlihat masih tidak begitu
baik, wajah yang biasanya tampak bersinar itu sedikit
pucat menunjukkan kalau dirinya lelah dan kurang tidur.
Kay, dia benar-benar hilang ingatan? Tanya Tara
penasaran.
Begitulah kenyataanya. Aku di beritahu Chastine
kalau dia sedang dirawat dirumah sakit dan saat aku
kesana dia bertanya aku siapa Kay tertawa getir.
Chastine bilang dia terjatuh di tangga rumah Kos. Semula
aku tidak percaya. Tapi setelah melihat keadaan tempat

tinggal mereka aku rasa hal yang seperti itu mungkin


untuk terjadi
Kalau begitu kau beruntung, setidaknya dia tidak
akan
menuntutmu
karena
melakukan
pelecehan
kepadanya! Dan Tara harus menahan sakit sebagai
ganjaran dari ucapanya. Kay sudah mencubit pipinya
keras-keras dan memandanginya dengan mata yang
melotot.
Kau bilang apa? Kata Kay, lalu melepaskan
siksaanya terhadap Tara pelan-pelan. Aku malah jadi
merasa bersalah. Dengan bodohnya aku mengambil alih
semua yang bersangkutan denganya, memindahkanya
kerumah Bian dan membayar rumah sakit. Atau bisa saja
aku membayar uang semesternya untuk semester depan.
Karena beasiswanya sudah pasti di cabut. Dia sangat
banyak meninggalkan mata kuliah.
Tinggal beberapa bulan lagi. Bukanya Eve salah satu
murid tercerdas? Kalau aku jadi kau, aku juga akan
mencarikan beasiswa yang lain. Tapi tidak perlu khawatir.
Kau juga pernah melakukanya dengan Chastine kan?
Kedua alis Kay bertaut. melakukan apa?
Sekarang pikiranmu yang entah kemana! Tentu saja
menyekolahkanya, kau pikir melakukan apa? Suara Tara
terdengar agak kesal. Tapi kemudian ekspresi wajahnya
membaik. Memangnya,
kau dan Chastine pernah
melakukan apa?
Aku menganggap Chastine seperti adikku, kau kira
aku setega apa terhadap adik sendiri?

Bukankah dulu kau juga pernah bilang kalau Ivea


mengingatkanmu kepada adikmu itu? Tapi akhirnya kau
juga
Sudah!
Cukup.
Bagaimana
kalau
dia
mendengarnya?
Sekarang giliran Kay yang kesal. Tara tertawa
terbahak-bahak dan hampir tidak bisa berhenti jika mereka
tidak mendengar suara ketukan pintu. Kay berdiri dari
sofanya dan membukakan pintu untuk seseorang. Bian.
Wanita ini masih se-trendi biasanya, segala yang
dimilikinya selalu membuat Tara merasa iri. Wanita Kaya,
dan berkepribadian baik, Bian selalu mudah untuk dekat
dengan orang lain. Seperti sekarang, Wanita itu mendekati
Tara dan menyapa dengan senyumnya yang cantik.
Kedengaranya seru sekali, Kalian sedang bicara
tentang apa? katanya. Tara, apa kabarmu?
Tentu baik-baik saja, Madame jawab Tara. Dia
memang selalu memanggil Bian dengan panggilan
Madame meskipun dia tau kalau Bian sama sekali belum
menikah sejak mereka berkenalan pertama kali di paris.
Kau masih setia saja dengan laki-laki ini! Bian
berkata sambil menunjuk wajah Kay yang berada di
hadapanya. apa kau tidak mau pindah kerja? Ke
SmiloQueen misalnya. Pengalaman kerjamu bisa membuat
karirmu menjulang tinggi!
Hey, Chastine sudah ku serahkan kepadamu dan kau
masih mau merampok tangan kananku? Kay menyela.
Sebenarnya kau kesini untuk apa?

Aku mau melihat Cinderellaku!


Tara memandang Kay. Cinderella? Siapa?
Bukankah tadi dia berada di luar bersama Nathan?
Kay bertanya penasaran, Cinderella itu kelihatanya
menghilang.
Bian menggeleng. Tidak ada! Biar aku telpon!
Wanita itu kemudian mengeluarkan ponsel dari tasnya dan
menelpon seseorang. Hallo, Bonjour. Apa Eve
bersamamu? Oh, sedang makan siang. Aku bisa tenang.
Aku membawakan ponselnya yang ketinggalan. Nanti biar
dia minta kepada Kay saja ya. Merci! Dan Bian menutup
telponya. Ia kemudian mengeluarkan sebuah ponsel mahal
dan menyerahkanya kepada Kay. Aku titip untuk Eve,
katakan padanya tidak usah menunggu karena malam ini
mungkin aku tidak pulang Kemudian Bian membuka
pintu tanpa kata-kata pamit. Ia hanya melambaikan
tanganya lembut kearah Tara dan Tara berusaha
membalasnya.
Cinderella yang dimaksud Bian, Eve? Tanya Tara
setelah Bian pergi.
Kay memasukkan Ponsel itu kesaku pakaianya. Tentu
saja. Kau bisa lihatkan perubahan Eve yang drastis? Ku
rasa dia mendadak menganggap dirinya sebagai ibu peri
begitu aku meninggalkan Eve dirumahnya dan begitu aku
kembali dari Tokyo, Anak itu sudah berubah dan hampir
tidak ku kenali.
Ya, Aku juga begitu tadi. Ivea tidak terlihat seperti
gadis sederhana pada umumnya. Dia terlihat seperti putri

dengan perawatan spesial dan barang-barang bermerek.


Tara teringat akan penampilan Ivea yang berbeda, anak itu
tidak lagi menggunakan kaos oblong atau kemeja yang di
padu dengan Jeans dan Sepatu kets. Ivea berubah menjadi
putri manis dengan make Up tipis dan kemeja sutra
berwarna coklat. Sebuah Belt emas melilit pinggangnya dan
high heels berwarna senada menghiasi kakinya. Dia seperti
model. Apa kau tidak tertarik padanya?
Apa? Tanya Kay kaget. Dia tau kalau Tara sedang
bercanda, tapi baginya pertanyaan ini harus di jawab
dengan serius. Entahlah, ku rasa penampilan barunya
membuatku merasa risih, dia mengingatkanku pada
seseorang. Aku lebih menyukai Eve yang ku kenal dulu!
Tapi kurasa, Eve yang kau kenal dulu bahkan tidak
mau memandangmu! Tara tersenyum penuh canda. Tapi
senyumnya segera pudar saat melihat wajah Kay yang
tidak seperti biasa. Aku lapar. Ayo kita makan ke caf
sebelah! katanya kemudian mengalihkan pembicaraan.
***

9
Ivea, Mungkin penampilanya berbeda, tapi Nathan
yakin kalau Ivea tetap orang yang sama. Orang yang
Nathan harapkan untuk senyum setiap saat dan orang
yang di inginkan untuk selalu memberi senyuman itu
kepadanya. Ivea sedang sibuk membolak-balik komik
Vampire Knight yang dari tadi di bawa-bawa Nathan dan
yang bisa Nathan lakukan hanya memandanginya.
Kamu suka baca komik ya? Ivea berbicara dengan
suara yang Nathan rindukan, meskipun kedengaranya Ivea
tidak berbicara dengan logatnya yang biasa. Mendengar
Ivea seperti mendengarkan Bian berbicara. Ivea meniru
Bian seratus persen, dimulai dari Style, Atitude, hingga
gaya bicara. Ceritanya bagus? Boleh pinjam yang Volume
satu?
Eve, volume satu sudah ada di tanganmu. Jawab
Nathan.
Benarkah? Aku letakkan dimana ya? Nanti akan ku
cari, mungkin tertinggal di rumah Chastine. Ivea lalu
tersenyum. Ceritakan tentang hubungan kita, Kau bekerja
di galeri juga? Sebagai apa? Hubungan kita dekat tidak?
Nathan tersenyum sebelum ia bicara. Aku harus
cerita seperti apa? Bagaimana harus memulainya ya?
Dari mulai kita ketemu bagaimana?

Ivea, Setahun lalu kau datang ke galeri, di bawa oleh


Chastine untuk menggantikanya. Chastine dulu bekerja di
galeri juga sebelum dia di mutasi ke kantornya Bian. Saat
itu kau sama sekali tidak menarik. Demi tuhan, aku sama
sekali tidak membayangkan kalau akhirnya kita bisa seing
bersama dan bergandengan tangan. Aku dulu sangat tidak
suka kalau harus dekat-dekat denganmu. Tapi Kay
sepertinya bertindak, dan seringkali melibatkan kita berdua
dalam situasi yang sama.
Kalau begitu kita punya hubungan khusus?
Bagiku iya! Setidaknya kau pernah tersenyum dan
mengatakan tidak apa-apa saat aku minta maaf karena
terlalu lama membiarkanmu menunggu kata-kata kalau
aku sangat menyukaimu.
Astaga, Are ya my boy friend?
Entahlah. Karena beberapa saat setelah itu kita
langsung bertengkar hebat dan kau pergi meninggalkanku.
Kita hanya bertemu di galeri saat kau keluar dari ruangan
Kay sambil menangis. Aku kira saat itu kau cerita tentang
masalah kita pada Kay, tapi entahlah! Nathan mengulangi
kata-kata itu sekali lagi. Ia tidak begitu yakin kalau Ivea
menangis saat itu karenanya, Tapi bukankah Ivea hanya
punya masalah denganya?
Kita bertengkar karena masalah apa?
Karena
Aliya!...
Dan
Nathan
kemudian
menceritakan semuanya, tentang dirinya dan Aliya,
tentang dirinya dan Ivea serta masalah yang terjadi
diantara mereka dengan sangat detail. Berkali-kali Nathan

menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi. Nathan juga


mengatakan kalau ia sempat mengira Ivea tidak ingin
bertemu denganya lagi sehingga tidak pernah kembali lagi
ke chinamons. Hatinya benar-benar diliputi emosi pada
dirinya sendiri dan segala kebodohan yang dilakukanya. Ia
baru berhenti bicara saat Ivea menggenggam tanganya dan
mereka saling pandang beberapa saat.
Aku minta maaf! Ujar Ivea.
Maaf? Aku yang bersalah dan harusnya aku yang
minta maaf!
Ivea menggeleng. Sepertinya itu terjadi karena aku
tidak mengerti masalah antara kau dan Aliya. Seandainya
aku saat itu lebih bersabar dan meminta kau menjelaskanya
dengan baik-baik, kau tidak akan sekacau ini sekarang!
Kau sudah meminta maaf, Eve. Saat itu aku berusaha
mengejarmu. Kau minta maaf meskipun kau tidak
mengizinkan aku melihat airmatamu dan pergi!
Kalau begitu. Light Up! Kita lupakan masalahnya dan
mulai dari awal lagi bagaimana? Untuk sekarang mungkin
aku masih bingung. Tapi kita jalani saja semuanya dulu,
Aku rasa kau orang yang baik!
***
Ivea tadi memandang Nathan dengan perasaan aneh
meliputinya. Nathan mungkin memang seseorang yang
spesial yang pernah ada di hidupnya dulu. Ia dapat
merasakan semua chamistry nya. Hatinya entah mengapa

merasa begitu tenang bila ada di dekat laki-laki ini dan


Komik yang dibawanya juga membuat Ivea merasa sangat
dekat. Terlebih saat Nathan bilang kalau Volume satu dari
Komik Vampire knight saat itu sudah ada padanya. Ivea
menjadi semakin yakin dengan perasaanya dan kata-kata
Nathan mungkin saja benar.
Ivea Melihat keadaan Caf dengan mata berkeliling,
Dejavu sangat sering terjadi belakangan ini, tapi Ia maklum
karena semuanya memang terjadi di tempat-tempat yang
pernah dia datangi. Ivea mengangkat tangan memanggil
pelayan yang ada di dekat pintu, dengan tangkas pelayan
itu mendekat dan menanyakan pesananya, dan sebuah
Ekspresso dengan krim menjadi sasaranya. Tidak berapa
lama kemudian pesananya segera datang dan tersaji. Ivea
berterimakasih dengan memberikan seulas senyum,
beberapa detik kemudian senyumnya bertambah lebar saat
Tara dan Kay mendekat dan duduk di mejanya setelah
Tara berbicara banyak dengan pelayan yang di temuinya
saat masuk.
Bagaimana Eve? Pelayanan di Caf ku baik kan?
Tanya Tara sambil tersenyum. Ia dan Kay duduk
berdampingan dan kelihatanya sangat dekat.
Ini caf-mu?
Ya, Kau mungkin tidak ingat. Tapi semua pegawai
dari Galeri sebelah ataupun yang pernah bekerja dan
pernah berhubungan dengan Chinamons akan mampir
kesini saat makan siang seperti sekarang. Dulu kau juga
begitu, kau suka kemari meskipun hanya memesan

secangkir teh! Tara kemudian memandang isi cangkir


yang ada di hadapan Ivea. Tapi sepertinya seleramu
berubah.
Oh? Ini? Aku sedang ingin minum kopi! Ivea
mengkonfirmasi mengapa ia memesan kopi siang-siang
begini. Tadi Mom, menelpon Nathan dia menitipkan
ponselku tidak?
Ya,Jawab Kay, ia mengeluarkan sebuah ponsel
mahal penuh dengan permata berwarna oranye menempel
pada casingnya. Kristal yang berkilauan itu juga menempel
di ponsel Bian dengan warna yang berbeda, bukan stiker
permata plastik biasa seperti yang di jual di pasaran. Orang
yang jeli pasti tau kalau Bian sangat suka dengan perhiasan
dan Kristal mahal yang menempel di ponselnya dan juga
ponsel Ivea itu juga menjadi perhiasan baginya. Nathan
mana?
Dia? Tadi dapat telpon dari rumah dan baru saja
pulang! Jawab Ivea. Ada satu pertanyaan yang ingin ku
tanyakan pada kalian. Kalian tau aku dan Nathan sedang
menjalin hubungan?
Well.Tara bersuara lebih dulu, karena Kay
kelihatanya tidak antusias dengan pertanyaan Ivea tentang
Nathan. Selama ini kedekatan kalian memang agak
berbeda. Dulu kau mengejarnya dengan cara yang cukup
sopan dan manis, berusaha menarik hatinya terus menerus,
sampai tiba-tiba dia membawa Aliya ke galeri dan
mengatakan kalau dia tidak bisa menyukaimu lebih dari
seorang teman.

Ya, dia sudah menceritakan yang itu, dan sudah


menarik kata-katanya!
Oh, Ya? Tentu saja harus begitu. Karena setelah
kejadian itu perhatiannya kepadamu malah semakin
bertambah. Biasanya Nathan pulang sebelum jam makan
siang, tapi semenjak itu dia selalu kemari hanya untuk
melihatmu makan siang. Dia juga membantumu saat kau
kebingungan dengan desain gaunmu yang di tugaskan Kay
pada waktu itu!
Benarkah? Kalau begitu seharusnya aku berfoto
dengan dia untuk majalah waktu itu!
Apa yang kau katakan? Kau cuma model pengganti!
Kau tidak punya hak memilih pasangan! Kay tiba-tiba saja
menuding. Tara menyenggolnya sambil membisikkan
sesuatu yang kelihatanya membuat Kay bersikap lebih
tenang dan berbicara lagi dengan nada yang lebih datar.
Lagi pula mana mungkin dia berfoto denganmu, dia
bertugas memotret pada saat itu!
Jadi dia fotografernya? Ivea kelihatan senang.
Kay mengangguk, ada sesuatu yang tidak bisa di
mengerti sedang terjadi padanya sekarang. Kay merasa
cemburu dan dia tidak bisa menyembunyikan perasaanya?
Kay menyesali sikapnya barusan.
Tentu saja, dia sering mengambil fotomu diamdiam!
Dia sudah menceritakanya juga dan memperlihatkan
salah satunya kepadaku!

Benarkah? suara Tara terdengar bersemangat. Apa


dia sudah menceritakan tentang kenakalanya padamu? Dia
pernah mencideraimu. Kalian membuat cerita konyol
tentang vampir dan dia menggigitmu. Sehari setelahnya
lengan kananmu akan terasa sakit kalau di sentuh, lalu dia
memberimu komik sebagai ucapan permintaan maaf,
judulnyavampireummmvampire apa ya?
Vampir Knight? Aku sudah menduganya. Saat
melihatnya membawa komik itu aku merasa sudah sangat
akrab dengan Vampire Knight. Ternyata begitu? Aku jadi
ingin membaca komik itu segera. Kay, nanti kau mau
mengantarku kerumah Chastine?
Baiklah! Lagipula aku ragu membiarkanmu pergi
sendiri, Kau mungkin tidak ingat jalanya!
Lalu, KauAku biasa memanggilmu apa? Wajah
Ivea beralih memperhatikan Tara.
Mbak Tara, seperti Nathan!
Mbak Tara! Ivea mengangguk-angguk. Sepertinya
kau banyak tau tentang Nathan, mungkin nanti aku akan
sering bertanya padamu! Tidak apa-apa, Kan?
Tara mengibaskan telapak tanganya sambil tersenyum.
Tentu saja tidak, Aku akan menceritakan semua yang ku
ketahui tentang Nathan. Katanya sambil melirik Kay
yang disadarinya juga sedang memandangnya dengan
pandangan tak suka!
***

Seharusnya Ivea menjalani kehidupan yang normal,


Itu yang sangat Kay harapkan. Tapi meskipun Ivea selalu
menjalankan kegiatanya seperti sedia kala, tetap saja ada
yang tidak sama. Ivea seringkali datang ke galeri bersama
Bian atau membawa mobil sendiri, terlalu mewah untuk
seorang pegawai. Selain itu di kampus, Ivea mendadak
menjadi ramah dan punya banyak teman selain Voni yang
sebangku denganya. Gadis itu sekarang sering berpindahpindah tempat duduk, sering nongkrong di kantin dan
yang paling menonjol Ivea sangat suka memakai barangbarang Mahal. Menjadi anak angkat dari Bianca Karta
membuat Ivea akhirnya meniru semua perilaku Bian
seratus persen. Ivea yang Kay kenal dulu sudah
menghilang berganti dengan orang baru yang meskipun
berwajah sama tapi semua yang dilakukan dan apapun
yang melekat padanya sangat berbeda.
Belakangan ini Kay merasakan ada yang berbeda dari
sikapnya kepada Ivea. Dia seringkali tidak bisa menolak
permintaan Ivea padanya dan akan memperhatikan Ivea
dengan perhatian ekstra, tapi kemudian bisa diam seribu
bahasa setelah melihat Ivea bersama Nathan, atau
menanggapi cerita tentang Nathan dengan tidak
bersemangat. Ivea benar-benar hanya menganggapnya
sebagai seorang sahabat. Entah mengapa Kay merasa
kecewa dan berharap Ivea segera kembali mengingat
perasaanya kepada Kay saja.
Kau lihat? Ini surat-suratnya. Ivea akan segera
menjadi anaku dan resmi secara hukum!

Kay memandang Bian yang dari tadi duduk di


depanya. Hari ini Bian datang kekampus meskipun tidak
ada jam mengajar. Hal yang paling jarang di lakukanya.
Kay tau Bian hanya sedang memamerkan rencananya yang
sudah terlaksana meskipun belum sempurna. Ia bahkan
juga menambah embel-embel Karta di belakang nama Ivea
sebagai tanda kalau Ivea memang putrinya. Kay
menggeleng heran. Kau serius mengangkat gadis yang
lebih muda sekitar tujuh tahun darimu sebagai anak? Dia
lebih pantas jadi adikmu bukan?!
memangnya
kenapa?
Aku
suka
saat
dia
memanggilku dengan sebutan Mom!
Kay memandangi wajah sahabatnya dengan anggukan
tak mengerti. Bian sepertinya sedang menikmati peranya
sebagi Ibu. Dia sekarang punya seorang putri yang dengan
suka rela meniru semua perilakunya. Ya, tentu saja. Kau
bahkan sudah berhasil membuatnya mirip denganmu!
Memangnya kenapa? Kau selalu mengungkit hal
seperti itu! Kau kesal karena aku sudah mengubahnya jadi
tipe-mu?
Apa?
Aku tau, aku adalah satu-satunya perempuan di
dunia ini yang sangat sesuai dengan seleramu. Tapi kau
tidak mungkin mencintaiku kan? Karena kau tau aku tidak
suka punya hubungan khusus dengan laki-laki, cinta cuma
akan menghambat karirku saja! Karena itu kau menggoda
sepupuku, Kau berharap kami punya sikap yang sama tapi
ternyata tidak.

Kay tertawa mengejek. Kau percaya diri sekali!


Apa kau lupa kau pernah mengatakan hal seperti itu
sewaktu kita kuliah dulu? Wah gampang sekali kau
melupakanya! Tapi kau pasti tidak akan pernah melupakan
seleramu sendiri kan? Karena itu kau menyukai Ivea.
Karena anak itu sangat mudah berubah menjadi aku, dan
dia adalah peniru yang cerdas!
Kay melengos. Ia memang pernah menyukai Bian.
Tapi itu sudah sangat lama sekali dan dia bahkan sudah
melupakanya, juga melupakan bagaimana cara mencintai
seseorang dengan perasaan seperti itu. Dan belakangan
perasaan seperti itu tumbuh tanpa disadarinya saat melihat
perubahan Ivea perlahan-lahan. Kay tidak suka dengan
perubahan Ivea. Perubahan itu membuatnya risih, karena
perubahan Ivea itu akan membuatnya kembali konyol dan
bodoh seperti saat dia menanti perasaan Bian untuknya
dulu.
Terserah kalau kau tidak mau mengakuinya. Yang
jelas kau tidak boleh merusak hubungan Ivea dengan
Nathan, mereka sedang hangat-hangatnya.Kata Bian
sambil membereskan surat-surat yang tadi di tunjukkanya
kepad Kay. Aku mau ke Paris besok pagi. Tolong gantikan
aku mengajar beberapa kali ya? Sekarang aku pergi dulu.
Take Care!
***

10
Ivea memandangi pintu galeri dengan ragu. Jam di
ponselnya sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan
dia tidak bisa kembali kerumah karena ia sudah melupakan
pasword untuk masuk kerumah. Selama ini Ivea memang
tidak pernah di tinggal oleh Bian lebih dari sehari dan ini
pertama kalinya. Kepergian Bian ke Paris sudah berjalan
dua hari dan masih ada tiga atau empat hari lagi menjelang
kepulanganya kembali ke Indonesia.
Lampu di lantai dua masih menyala terang, Kay pasti
masih bangun dan mau membantunya. Ivea menetapkan
hati untuk melangkah masuk kedalam galeri dan disana
masih ada Tara yang mungkin tidak sedang
memperhatikanya, Wanita itu kelihatanya sedang
menerima telpon penting dan Ivea juga tidak mau
mengganggu. Ia menaiki tangga menuju lantai dua,
membuka satu-satunya pintu yang ada disana lalu melihat
Kay yang sedang berkutat dengan gaun rancanganya yang
kemudian memandang kearahnya.
Kau sedang apa? Tanya Kay. Bukankah tadi kau
sudah pulang bersama Nathan?
Apa kau membantuku? Aku melupakan password
untuk masuk kerumah. Apa kau bisa memberitahuku
paswordnya?

Kay menghentikan pekerjaanya. Ivea tau, Kay pasti


menganggapnya bodoh. Ivea juga tidak mengerti apa yang
ada di fikiranya hari ini sehingga ia bisa melupakan
paswornya sama sekali. Apa kau fikir aku tau? Pasword
rumah itu sudah diganti oleh Bian. Apa kau sudah
mencoba menelponya?
Ivea mengangguk. Tapi tidak bisa terhubung!
Kalau begitu masuk saja dulu, istirahatlah di tempat
manapun yang kau suka! Kata Kay sambil memainkan
ponselnya.
Mungkin dia mencoba menghubungi Bian. Fikir Ivea. Ivea
menutup pintu kembali dan duduk di sofa yang
menghadap ke televisi. Ini pertama kalinya Ivea masuk
keruang tinggal Kay, Atau sudah pernah sebelumnya?
Ruangan ini lebih persis dengan ruang kerja dibandingkan
dengan kamar. Di semua tempat dipenuhi dengan kain dan
patung, Ruang kerja Kay di lantai bawah jauh lebih rapi
dibandingkan dengan ini.
Sepertinya tidak aktif. Biasanya dia menelponku
kalau pekerjaanya sudah selesai. Kita tunggu saja! Kata
Kay sambil mengembalikan ponselnya keatas meja yang
berada dekat dengannya. Nathan tau?
Tidak, tadi dia cuma mengantar sampai depan
rumah. Aku tidak mengizinkanya masuk karena Bian
berpesan begitu. Jadi dia pulang sebelum aku masuk
kerumah.
Seharusnya dia memastikan sampai kau masuk
kerumah, baru pergi!

Aku yang menyuruhnya pergi! Ivea membela. Tapi


dia segera menutup mulutnya. Entah mengapa Ivea merasa
kalau pembicaraanya dan Kay tidak seperti biasanya. Kay
terkesan sangat cuek, mungkin karena sedang sibuk
bekerja.
***
Aku yang menyuruhnya pergi! Kata-kata Ivea itu
membuat Kay yersenyum kecut. Ivea masih berusaha
membela Nathan saat Kay menyalahkanya.
Kay hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan
kembali berkonsentrasi pada gaunya. Pemasangan payet
yang sama sekali tidak bisa di bilang sederhana membuat
mata Kay mulai mengabur. Ini memang belum jam tidur
Kay yang biasa, tapi melihat kerumitan yang seperti ini
membuat Kay merasa lebih cepat mengantuk. Kay hanya
punya sisa waktu dua minggu sebelum busana rancangan
ini di perlihatkan kepada banyak orang nantinya.
Perhelatan Show busana pengantin besar-besaran akan
diadakan kembali di Tokyo bulan depan dan tentunya Kay
harus ikut serta. Sekarang Kay harus berkonsentrasi untuk
menyelesaikan pemasanganya. Bila malam ini dia tidak
tidur, seharusnya busana ini bisa diselesaikan dengan
sukses besok pagi. Ponsel Kay berbunyi nyaring
membuatnya kembali mengentikan pekerjaanya. Mungkin
telpon dari Bian. Ia memandang Ivea sejenak sebelum

meraih ponselnya dan melihat gadis itu memandanginya


penasaran. Telpon dari Tara.
Ya? Kay menjawab telponya setelah memberikan
gelengan kepada Ivea yang mengisyaratkan bahwa bukan
Bian yang menelpon.
Kay, aku mau pulang! Aku sudah lelah sekali.
Bagaimana dengan pintunya?
Kau tunggu disana sebentar, aku akan turun! Kay
lalu menutup ponselnya. Ia kemudian berbicara kepada
Ivea. Kau mau kopi?
Kalau tidak merepotkan!
Kalau begitu tunggu saja disini. Aku mau kebawah
dulu!
Jarum dan benang yang ada di tangannya diletakkan
Kay diatas meja dan ia segera membuka pintu lalu
menuruni tangga. Sebenarnya Kay masih kesal dengan
penolakan Ivea saat Kay ingin mengantarnya pulang. Ivea
lebih memilih pergi bersama Nathan karena mereka berdua
mau makan malam dulu. Tapi melihat Wajah Ivea barusan,
rasa kesal Kay mendadak sirna.
Terimakasih untuk hari ini! Kay berkata kepada
Tara yang berada didepan pintu.
Tara hanya tersenyum dan melambaikan tangan
menuju mobilnya yang di parkir di pinggir jalan. Setelah
mobil berwarna Hijau itu melesat pergi, Kay mengunci
pintu dan membuat dua cangkir kopi di pantry. Dengan
tangkas kedua cangkir kopi itu dibawanya menaiki tangga
lalu membuka pintu dengan menggunakan kaki. Kay

sudah terbiasa melakukan ini. Ivea berada dekat dengan


Busna rancanganya, Kay bisa melihat wajahnya yang
sangat antusias melihat setiap detil dari segala sisi.
Ini kopimu! Kay menyerahkan secangkir kopi
kepada Ivea dan Ivea menyambutnya.
Terima kasih
Kembali! balas Kay sambil menyeruput kopinya.
Ivea juga melakukan hal yang sama sambil
memandangi busana pengantin buatan Kay. Busana yang
sangat cantik berwarna putih bersih. Ivea memperhatikan
busana unik itu dengan tidak bosan-bosanya. Seperti
busana pengantin pada umumnya, super panjang dan
menyapu lantai. Tapi Kay membuatnya sedikit berbeda,
Bagian atasnya dibuat sedemikian rupa menyerupai rompi
dengan lengan yang ketat hingga kesiku. Bagian ini
memiliki payet yang sangat Kaya dan bahu yang terbuka.
Kay sengaja membuatnya terkesan seperti kebaya mini
diatas gaun mewah. Tapi pemasangan payet yang belum
selesai membuat Kay selalu merasa kalau rancanganya
belum sempurna.
Ini yang akan dibawa ke Tokyo? Tanya Ivea.
Ya, Mungkin dibawah dadanya akan kupasang Obi
berwarna Gold tapi aku masih ragu dengan warna itu.
Sudah ku coba tapi aku merasa masih belum sempurna.
Aku rasa akan terlihat bagus, aku bisa
membayangkanya!
Kau membayangkan yang seperti apa?
Tentu saja pemasangan Obi di patung itu!

Itu masalahnya! Patung dan tubuh manusia itu


berbeda Kay berujar gusar. Tentu saja apapun yang
dipasangkankan ke patung itu akan terlihat baik-baik saja.
Mungkin Kay memang perlu melihat gaunya dipakai oleh
manusia. Dia lalu memandang Ivea, dan tiba-tiba saja
timbul ide. Bagaimana bila Ivea yang mengenakan gaun
ini, Kay bisa melihat kekuranganya dan menutupinya
dengan menambah ini itu seperti yang pernah dilakukanya
pada gaun rancangan Ivea dulu.
Eve, kau mau membantuku?
***
Ivea mengenakan gaun indah itu. Dicermin, gaun
rancangan Kay tampak berkilauan di terpa cahaya lampu
yang terang benderang. Ivea tidak bosan-bosanya
memandangi bayangan dirinya dan memikirkan apa yang
membuat penampilanya akan lebih sempurna. Dengan
susah payah Ivea mengambil salju pemberian Kay dan
mengenakanya di lehernya. Rantai hitamnya membuat
warna kulitnya terlihat lebih bercahaya dan dia merasa
benar-benar sudah menjadi Cinderella.
Tinggal sepatu kaca dan semua beres. Bisiknya. Ivea
kemudian mengikat rambutnya rapi dan memandangi
dirinya dicermin sekali lagi. Ia sudah merasa cukup. Tapi
kenapa dirinya ingin terlihat cantik di depan Kay? Ivea
menggigit bibirnya bingung.
***

Apa kau masih lama? Kay berteriak dari luar pintu


kamarnya. Ia sudah sangat gelisah dan tak sabar lagi untuk
melihat ivea mengenakan gaun buatanya. Anak itu sudah
menghabiskan waktu hampir tiga puluh menit dan
membiarkan Kay berdiri di depan pintu dalam waktu yang
cukup lama. Kaki-kaki Kay sudah lelah berdiri.
Sudah, Kau boleh masuk
Akhirnya. Bisik Kay lega. Ia membuka pintu dan
menemui Ivea yang membuatnya benar-benar terkejut.
Gadis itu berubah menjadi orang yang berbeda lagi. Bukan
Ivea yang mengatakan akan melupakanya, Bukan juga Ivea
yang hidup di bawah bayang-banyang Bian. Melainkan
Ivea yang dulu sempat membuatnya terperangah saat gadis
itu mengenakan gaun rancanganya sendiri yang menang
atas penilaian Bian. Ya, Kay ingat kalau saat itu jantungnya
sempat berdetak cepat melihat Ivea mengenakan pakaian
indah berwarna putih, sama seperti saat ini. Tidak, saat ini
mungkin adalah saat dimana Jantungnya berdetak dalam
tempo tercepat seumur hidupnya.
Beautiful! Seru Kay tanpa sengaja.
Maksudmu aku? Tanya Ivea dengan pandangan
nakalnya. Kata-katanya itu benar-benar mengembalikan
Kay kedunia nyata dengan sangat sukses.
Kay mendekat. Tentu saja gaun rancanganku!.
Katanya geram. Kay memegang pergelangan tangan Ivea
dan menunjuk satu garis diagonal dari siku hingga ke
bahu. Kurasa bisa di tambah payet disini

Sekarang Kenakan obinya!


Mmmbaiklah! Kay kemudian berjalan kesalah
satu dari tiga lemari pakaianya yang berjejer didinding
yang sama dengan dinding tempat televisi bersandar. Ia
kelihatan bingung memilih, sesekali Kay melihat kearah
Ivea dan kembali tanpa membawa apa-apa.
Mana obinya? Tanya Ivea heran.
Aku rasa sudah sempurna tanpa itu! Kata Kay
sambil mengangkat sebelah alisnya. Coba katakan, bagian
mana yang rasanya tidak nyaman?
Mmm..
Ivea meraba
tubuhnya
Kemudian
memposisikan kedua tanganya di punggung. Aku rasa
bagian dadanya sedikit sempit.
Kay memperhatikan tubuh Ivea sebentar lalu
meninggalkanya untuk mengambil pisau Cutter yang
berada diatas meja kerjanya dan kemudian kembali
berjalan menuju punggung Ivea. Coba lepaskan
Kebayanya! Katanya. Dan perintahnya segera di turuti.
Ivea membuka lapisan terluar dari gaun itu dan
memberikanya kepada Kay. Setelah meletakkan Kebaya itu
diatas sofa, Kay berusaha membuka jahitan di punggung
gaunya dengan pisau cutter. Tanganya gemetar tanpa
alasan yang jelas. Kay heran dengan dirinya yang merasa
gugup saat berdekatan dengan Ivea seperti ini, Tidak
seperti biasa dan berbeda dengan sebelumnya. Selama ini
Kay bahkan terbiasa membantu modelnya untuk
berpakaian dan dirinya sama sekali tidak pernah ragu

untuk memotong apa saja dengan cutter setiap kali Fitting.


Tapi kali ini
Tenanglah Kay!. Gumamnya dalam hati.
Kay mencoba menenangkan diri dan akhirnya ia
memutuskan untuk segera menyelesaikan pekerjaanya.
Semula semuanya berjalan baik-baik saja, tapi kemudian
terdengar teriakan kesakitan dari mulut Ivea karena
punggung sebelah kananya terluka dan berdarah. Kay
menjadi sangat Shock dan segera melempar pisau cutternya
jauh-jauh.
Apa yang harus ku lakukan? Katanya bingung.
***
Kau hampir saja membuatku trauma dengan ini!
Kay menggerutu sambil mengoleskan revanol dengan
kapas pada luka Ivea. Beberapa kali Ivea terdengar
mengaduh pelan. Kay tau Ivea pasti kesakitan, luka yang
didapatnya cukup dalam dan mengeluarkan banyak darah.
Selimut coklat muda milik Kay sekarang sudah dihiasi
noda merah yang beberapa menit lalu terus mengalir dari
lukanya.
Seharusnya aku yang mengatakan kata-kata trauma!
Ivea balas menggerutu. Lalu Ia kembali menggigit bibirnya
menahan perih saat Kay membubuhkan obat luka di
punggungnya. Kau tau rasanya nyeri sekali.
Kay tau pasti memang begitu rasanya. Ini pertama
kalinya dia melakukan kesalahan seperti ini dalam

hidupnya. Selama ini dirinya selalu menggunakan cutter


untuk merapikan benang atau untuk membuka Jahitan bila
gaun buatanya kekecilan seperti tadi. Kay tidak bisa
membayangkan bagaimana bila salah satu pelanggan
Gellerinya yang mengalami ini. Galleri miliknya bisa segera
di tutup dan bangkrut, selain itu nama baiknya bisa rusak
dan masa depannya yang semula terang dan jelas berubah
jadi gelap.
Fikiriannya melayang kekejadian penuh kepanikan
tadi, Kay sama sekali tidak bisa berfikir jernih karena
otaknya di penuhi dengan emosi-emosi yang tak bisa
dikendalikanya seperti biasa. Yang difikirkanya hanya
membantu Ivea membuka gaun itu dan segera menutupi
tubuh Ivea dengan selimutnya. Kay menggigit bibirnya, ia
sama sekali tidak menyangka akan ada kejadian sekonyol
itu yang membuatnya terlihat seperti orang gila hingga
berakhir seperti ini, duduk di atas sofa dan mengobati luka
Ivea dengan hati-hati. Ivea seringkali terluka karenanya
dan luka yang paling parah adalah luka yang merenggut
ingatan gadis itu hingga sekarang. Kay menelan ludahnya
berat, kegugupanya bertambah parah begitu menyadari
dirinya sedang menghadapi punggung Ivea dengan
tubuhnya yang dibungkus selimut. Otak Kay kembali
mencoba meruntut mengapa hal yang seperti ini bisa
terjadi, ia menyentuh dadanya yang rasanya akan meledak.
bagaimana dengan gaunmu? Tanya Ivea setelah
mereka saling diam beberapa lama.

Aku akan memperbaikinya malam ini! Masalah yang


lain jangan kau fikirkan dulu. Jawab Kay, ia menempelkan
perban pada luka Ivea sebagai langkah terakhir. Besok
kita kerumah sakit!
Aku akan membantumu memperbaikinya! Ivea
berujar pelan sambil berusaha mengambil pakaianya yang
berada di lantai yang tidak jauh dari sofa tempat dirinya
dan Kay duduk sekarang. Tapi Kay merampas pakaian
Ivea seketika saat menyadari kalau Ivea ingin
mengambilnya. Gadis itu terperangah sambil memandang
Kay tak mengerti.
Kau tidak boleh mengenakan pakaian ini!
Apa maksudmu? Lalu bagaimana caranya aku
membantumu? apa aku harus berselimut seperti ini sampai
pagi? Apa yang akan Kau lakukan?
Kau fikir aku akan melakukan apa? Kay berkata
sinis sambil mendorong kepala Ivea dengan lagak kesal.
Pakaianmu ini sangat sempit. Makanya, rubahlah cara
berpakaianmu jangan meniru Bian. Kalau kau masih
berkeras untuk memakai pakaian seperti ini, lukamu bisa
bermasalah!
***
Ivea tertidur dengan tenang disebelahnya, itu yang
Kay lihat saat pertama kali dia membuka mata. Semalaman
dirinya benar-benar memperbaiki gaunya dan di bantu
oleh anak itu. Kay menguap dan melihat darah di pakaian

yang dikenakannya tanpa sengaja. Semula Kay mengira


kalau semua yang terjadi adalah mimpi, saat dirinya
meihat Ivea mengenakan gaun buatanya, saat Kay gugup
berdiri di belakang Ivea, teriakan gadis itu saat cutter Kay
mengenai punggungnya, dan saat Kay mengobati luka itu
dengan perasaan yang tak menentu.
Kay memandang Ivea yang tertidur dengan
menggunakan Piama milik Kay yang kelihatan kebesaran
pada tubuh Ivea yang kecil. Mereka berdua mungkin baru
tidur setelah langit berubah warna menjadi biru karena
Ivea benar-benar nekat menyelesaikan gaun buatan Kay
malam itu juga. Kay turun dari ranjangnya dan beranjak
kekamar mandi. Setelah beberapa waktu, ia keluar dan
mengganti pakaianya lalu mencari dompet dan ponselnya
yang entah berada dimana karena kegaduhan semalam
membuat semua barangnya berpindah. Kay menemukan
ponselnya terjatuh diatas meja dan dompetnya di sekitar
patung yang mengenakan gaun bermasalah itu. Setelah
semuanya beres, Ia kembali mendekati Ivea dan
membangunkanya dengan lembut. Tidak begitu sulit
karena meskipun Ivea pastinya sedang dalam keadaan
yang sangat mengantuk, gadis itu tetap membuka mata.
Kau sudah bangun? Tanyanya.
Kay mengangguk diiringi senyum. Ayo kita kerumah
sakit.
Sekarang?
Tentu saja, Sebelum karyawan yang lain datang dan
berfikir yang tidak-tidak, ayo kita pergi!

Aku masih sangat mengantuk!


Nanti kita lanjutkan saja dirumahmu, atau dimana
saja. Yang jelas jangan disini. Bagaimana kalau nanti
pacarmu datang dan salah sangka! Sebenarnya Kay
merasa sangat berat mengatakan hal itu. Memangnya
kenapa kalau Nathan datang dan salah sangka? Seharusnya
itu memang terjadi agar Kay tidak perlu menyaksikan Ivea
dan Nathan bersama-sama lagi. Kay memukul kepalanya
keras-keras, apa yang sedang di fikirkanya?
***
Tara Soedarnadi baru saja tiba ke galeri saat sebuah
pesan singkat masuk ke inbox ponselnya. Pesan dari Kay
yang mengatakan bahwa dia pergi pagi-pagi sekali karena
harus mengerjakan sesuatu yang penting. Kay
meninggalkan Kuncinya tergantung pada banner galeri di
pinggir jalan. Dengan langkah agak terburu-buru Tara
kembali ke pinggir jalan dan mengamati banner yang
lampunya masih menyala, Ternyata Kay menyembunyikan
kunci itu di tempat yang tidak begitu tersembunyi dan bisa
di lihat dengan jelas. Perbuatan nekat Kay yang seperti ini
baru pertama kali dilakukanya karena selama ini Kay selalu
membawa kunci Galeri kemana-mana dan bila Tara butuh,
Tara akan menjemputnya ketempat yang di beritahu Kay.
Urusan Kay hari ini kelihatanya bukan urusan yang Kay
ingin Tara ketahui.

Mbakcepetan buka ni! Nathan berteriak dari pintu


galeri sambil menggendong kiriman untuk Kay yang pagipagi sekali sudah sampai di rumahnya.
Tara kemudian mendekat dan membuka pintu dengan
terburu-buru dan membiarkan Natahan masuk terlebih
dahulu dan meletakkan kotak seukuran televisi 24 inch itu
di depan pintu ruang kerja yang dikunci. Kiriman dari
Jalan Jalak di daerah luar kota sana. Dari alamatnya, Tara
sudah tau bahwa kotak itu berisi woll yang dipesan Kay
untuk kebutuhan desainya yang baru. Kay memang
meminjam alamat Nathan untuk pengiriman barang dari
luar kota.
Apa perlu di antar kekamar? Tanya Nathan.
Nafasnya terengah-engah.
Nanti biar aku yang bawa. Kau ini kenapa?
Kelihatanya capek sekali, karena bawa kotak woll itu?
Bukan, aku kesini naik bis dicampur jalan kaki karena
motorku masuk bengkel! Tapi banyakan jalan kakinya.
Jawab Nathan. Ia kemudian duduk selonjoran dilantai
marmer dan berusaha menenangkan dirinya. Bos kita
kemana? Sudah berangkat ke kampus?
Tara angkat bahu. Dengan cueknya ia mengambil
kotak kiriman yang diletakkan Nathan begitu saja dan
membawanya kelantai atas. Kay pernah berpesan bila Woll
pesananya datang, Nathan harus segera meletakkan
kiriman itu dikamarnya, Tapi melihat keadaan Nathan
yang sangat kelelahan itu, Tara menjadi tidak tega. Lagi
pula Kunci kamar Kay hanya Tara yang memiliki

duplikatnya dan hanya Tara yang bisa masuk kesana kapan


saja dia butuh. Tara meletakkan kotak kiriman di lantai
sebelum ia membuka pintu lebar-lebar. Kamar Kay kali ini
lebih berantakan daripada yang biasanya, seperti sudah
terjadi kegaduhan besar disini. Ia berjalan masuk dan
meletakkan kotak tersebut disisi tempat tidur lalu kembali
memandangi kamar yang berantakan. Tanpa sengaja
matanya tertuju kepada selimut yang berhiaskan noda
darah diatas tempat tidur, Tara mendekat.
Ini darah siapa?. Fikirnya. Apa yang terjadi semalam?
Apakah Kay terluka lalu diculik? Tara mengibaskan tangan
di depan wajahnya untuk melenyapkan fikiran paniknya.
Mana mungkin Kay di culik kalau dia masih bisa mengirim
pesan kepada Tara dengan bahasa khasnya yang tidak bisa
ditiru orang lain. Tara merasa ini bukan waktunya untuk
ambil pusing, Tapi begitu melihat pakaian perempuan
diatas sofa Ia hanya bisa terkesiap. Pakaian yang sangat
dikenalinya, milik Ivea.
Eve ada disini semalam? Mereka melakukan apa?
Kenapa bisa ada noda darah diatas tempat tidur? Kenapa
Pakaian Eve bisa berserakan dilantai? Aku seharusnya
mencurigai mereka sejak awal Tara menggerutu.
Tanganya dengan cepat mengambil ponsel yang akan
digunakanya untuk menelpon Kay dan bertanya mengenai
kecurigaanya. Tapi Tara segera mengurungkan niatnya,
Bahkan Kay sampai menggantungkan kunci Galerinya di
banner, ini kejadian yang Kay tidak ingin siapapun tau,
kejadian yang seharusnya sebagai teman, ia juga

membantu untuk menyembunyikanya. Tara menggigit


bibirnya, untung saja yang naik kesini adalah dirinya
bukan Nathan. Sekarang yang harus dilakukanya hanya
diam dan pura-pura tidak tau.
***
Aku di rampok. Sejak kemarin aku berada di kantor
polisi dan ponselku di tahan sebagai barang bukti. Aku
baru saja keluar dan sangat ingin mandi! Bian menggerutu
di ponsel. Dia menjelaskan penyebab ponselnya tidak bisa
dihubungi.
Di paris mungkin sedang gelap. Kay tau Bian pasti
sangat lelah meskipun wanita itu bercerita dengan
semangat menggebu-gebu. Kay sendiri masih harus
menguap beberapa kali karena menunggu Ivea yang
sedang berada di ruang dokter. Sekarang harusnya kau
beristirahat.
Tentu saja aku akan begitu kalau tidak melihat
panggilan darimu dan beberapa pesan dari Eve. Pagi-pagi
sekali aku menghubungi Eve tapi ponselnya tidak aktif.
Jadi aku menghubungimu!
Kay menggeliat. Mungkin ponsel Ivea sudah
kehabisan batrei karena semalaman Ivea bersamanya dan
sibuk dengan masalah-masalah tadi malam. Kay
memandangi pintu ruang dokter dan berharap Ivea segera
keluar, ia sudah bosan menunggu. Jadi Pasword
rumahmu apa?

Kenapa aku harus memberitahumu? Aku mau bicara


dengan Eve. Di pesanya dia mengatakan kalau dia
bersamamu tadi malam!
Kenapa aku tidak boleh tau? Kay bertanya dengan
agak berang. Kau menggantinya karena aku?
Tentu saja! Karena aku punya privasi dan aku tidak
ingin lelaki manapun tau. Kau laki-laki kan?
Pertanyaan bodoh yang selalu membuat Kay tertawa.
Tentu saja dia laki-laki, Jika tidak Kay tidak akan
merasakan perasaan apa-apa tadi malam. Tidak akan
gugup dan melakukan hal konyol yang jadi penyebab Ivea
berada diruang dokter sekarang. Kau perlu bukti yang
seperti apa?
Tidak, tentu saja aku percaya kalau kau laki-laki,
karena itu aku mengganti paswornya dan tidak
menginginkan kau masuk kerumahku lagi sembarangan
seperti dulu. Sekarang ada Eve dirumahku. Aku tidak mau
kejadian yang seperti dulu terulang lagi.
Kay menelan ludahnya. Kejadian dulu itu adalah
kejadian yang hampir saja Kay lupakan jika Bian tidak
mengingatkanya. Kay tentu saja tidak akan melakukan apaapa kepada Bian, tapi saat itu Kay melakukan sesuatu
kepada Mia sepupu bian sebelum wanita itu akhirnya
kembali ke Paris. Kenapa kau mengungkitnya?
Karena aku tidak mau melihatmu meniduri Eve
seperti yang kau lakukan pada sepupuku! Kalau itu terjadi
pada Eve persahabatan kita bisa putus!

Kau mengubah password karena takut aku tidur


seranjang dengan Eve? Karena dia melupakan Paswordmu,
Kami semalaman sudah tidur diranjang yang sama! Kay
berkata dengan nada geram, ia tau kalau Bian akan sangat
terganggu dengan hal ini. Di ujung sana Bian mencaci
makinya dalam bahasa Prancis yang sangat Kay rindukan.
Kau akan mati setelah aku pulang! Teriak Bian
keras.
Kau fikir kami melakukan apa? Kami tidak
melakukan hal yang aneh selain tidur karena semalaman
dia membantuku memasang payet gaunku. Kay menguap
lebar. See? Kalau aku bisa aku sudah melakukanya
semalam! Tapi semalaman tidak terjadi apa-apa!
What?
Sekarang berikan Paswordnya!
Mom menelpon? Boleh aku bicara? Suara Eve
membuat Kay terkejut.
Ia mengelus dadanya dan menggelengkan kepalanya.
Kay harap jantungnya yang shock segera kembali normal.
Telpon genggam berwarna hitam itu disodorkanya kepada
Ivea dan gadis itu mengambilnya. Ivea membawa ponsel
Kay menjauh seolah-olah pembicaraannya dan Bian tidak
boleh didengar siapa-siapa.
Kay menguap sekali lagi dan memegangi kepalanya
yang mulai pusing. Senyumnya tiba-tiba saja mengembang
mengingat pembicaraanya dan Bian tadi. Kekhawatiran
Bian membuatnya terdengar seperti seorang ibu dan Kay
baru mengingat kembali kalau selama ini Bian

memperlakukan Ivea seperti anaknya sendiri. Bukankah


Ivea memanggil Bian dengan sebutan Mom? Pengalaman
buruk Bian dengan Kay membuatnya sangat berhati-hati
menjaga Ivea. Tentu saja Kay bisa paham, tapi ia merasa
kalau Bian sedikit keterlaluan. Apa yang bisa dilakukanya
pada Ivea? Kalau dia bisa dia sudah melakukanya. Walau
bagaimanapun Kay adalah laki-laki normal yang pasti
sangat menginginkan hal seperti itu dalam keadaan
romantis seperti tadi malam. Kay punya banyak
kesempatan, tapi berdekatan dengan Ivea hanya bisa
membuatnya gugup dan membeku.
Ayo pulang! Ivea mengembalikan ponsel milik Kay.
Dia sudah memberi tahuku Paswordnya. Kau lelah kan?
Nanti beristirahat di rumah saja!
Kay menggeleng. Aku akan mengantarmu pulang
dan kembali ke Galeri setelah mengerjakan urusan lain.
Aku mau istirahat disana saja.
***
Bicaranya nanti saja, Aku sangat lelah, semalaman aku
tidak bisa tidur karena mengerjakan sesuatu
Kata-kata Kay begitu dia kembali ke galeri sangat
mengusik Tara. Semalaman Kay tidak tidur karena
melakukan sesuatu? Sesuatu yang seperti apa? Tara
Melayani pelanggan yang sedang Fitting gaun pengantinya
dengan sedikit kehilangan konsentrasi. Benaknya masih

memikirkan segala macam kecurigaan yang menunjuk


kepada satu arah.
Ini sudah pas! Dimana aku harus membayarnya? Kau
bisa langsung mengantarkanya kerumahku kan?
Pelanggan wanita itu membangunkan Tara dari
lamunanya.
Sebisa mungkin Tara melayani semuanya dengan baik,
mengenai pembayaran dan packing gaun sampai
memerintahkan Nathan mengantarkan gaun itu kealamat
yang diberikan pelanggan mereka dengan mobil miliknya.
Lalu Tara kembali termenung sambil bersandar kepatung
yang menggunakan kebaya berwarna hijau.
Mesra sekali! Kay mengejeknya sambil terus berjalan
kedapur.
Tara hanya bisa memandang Kay masih dengan
pandangan curiga. Tiba-tiba Ivea masuk, wajahnya yang
segar itu tersenyum dan menyapa Tara ramah.
Kenapa kau datang? Suara Kay menyambut sapaan
Ivea yang ditujukan kepada Tara. Seharusnya kau tidur
saja!
Aku sudah tidur, dan sekarang waktunya aku kerja!
Ivea segera mendekati Kay dan keduanya berjalan
beriringan di dapur.
Tara menggigit bibirnya. Mereka berdua sedang
membicarakan apa? Mengapa membuat Tara semakin salah
paham? Tara mengikuti keduanya ke pantry dan
menyaksikan Ivea membuatkan secangkir kopi untuk Kay.

Keduanya kemudian duduk berhadapan dan mengorol


dengan suara yang cukup jelas untuk Tara dengar.
Setelah ini kau harus membereskan kamarku! Kay
berbicara lalu menyeruput kopinya.
Kenapa aku? Tanya Ivea. bukankah ruangan itu
memang sudah berantakan?
Hei, apa kau tidak lihat kalau semalam semuanya
berpindah tempat. Itu karena kau!
Kenapa aku lagi? Kau lupa kalau kau sudah
membuatku mengeluarkan banyak darah? Aku yang
dirugikan!
Kalau kau tidak berteriak aku tidak akan sepanik tadi
malam! kenapa kau suka sekali membantah? Padahal tadi
malam kau terlihat sangat manis!Kay melengos.
Ivea juga melakukan hal yang sama. Meskipun
keduanya sempat diam, tapi itu tidak memakan waktu
lama. Ivea dan Kay kembali berbicara seolah-olah mereka
tidak pernah berdebat sebelumnya. Masalah perdebatan,
bukan hal yang aneh bagi Tara, melainkan mengenai apa
yang mereka bicarakan. Tara benar-benar sudah jadi
penjahat kali ini, sejak kapan ia jadi suka menguping
pembicaraan orang?
Kau mengatakan semua yang terjadi semalam kepada
Bian? Suara Kay lebih pelan dari sebelumnya. Apakah dia
sudah sadar kalau Tara sedang memperhatikan mereka?
Sedikit, dan harus ku lanjutkan begitu dia pulang!
Dia bisa membunuhku! Kay memegangi kepalanya.
Bagaimana lukanya?

Masih sedikit nyeri, apalagi waktu tersiram air. Habis


mau bagaimana lagi, aku sangat ingin mandi. Rasanya
tubuhku di penuhi bau-bau aneh!
Luka? Tara ingat kalau ada darah di selimut Kay saat
ia memasuki kamar Kay untuk meletakkan barang kiriman.
Fikiran Tara semakin tidak menentu, ia menggigit bibirnya
lagi dengan bingung. Tara tidak akan membiarkan Kay dan
Ivea melakukan ini kepadanya, membuat wanita intelek
seperti dirinya menjadi terlihat bodoh. Walau Kay ingin
merahasiakanya, Tara tetap harus menanyakanya.
Kay! Sepertinya aku harus membicarakan sesuatu
padamu! Kata Tara begitu keberanianya terkumpul untuk
masuk ke Pantry untuk menghampiri Kay dan Ivea yang
terkejut melihatnya.
***

11
Astaga! Bian berseru kaget saat melihat luka yang
sudah mengering di punggung Ivea. Tentu saja ini sangat
membuat Bian juga merasakan perih yang sama karena
Ivea sudah sangat-sangat di sayanginya. Setelah
mendengar cerita Ivea, selama di Paris Bian tidak bisa
tenang, fikiranya selalu ingin pulang dan melihat sendiri
luka yang disebabkan oleh sahabatnya. Masih sakit?
Ivea menggeleng.
Ceroboh sekali dia!
Kay bilang, aku terlalu gemuk. Katanya dia tidak
pernah melakukan kesalahan seumur hidupnya, termasuk
salah dengan ukuran pakaian!
Apa yang dia katakan, tentu saja kau tidak gemuk!
Bahkan kau sudah mengurangi banyak dari bobot
tubuhmu yang dulu. Dia itu membuat pakaian dengan
ukuran siapa? Ukuran model-modelnya yang berdada rata
itu, seenaknya saja dia mengatakan kalau kau gemuk!
Ivea tersenyum. Senyum yang perlahan menenangkan
kekesalanya untuk sementara. Tapi walau Bian sangat tau
kalau Kay mengatakan hal-hal seperti itu untuk
melindungi diri ia masih merasa kesal, tentu saja ia sangat
mengenal orang seperti apa Kay itu. Mereka bersahabat
bukan sehari dua hari, Mereka bersahabat hampir sepuluh
tahun. Bian tiba-tiba teringat pada kata-kata Kay tempo

hari tentang dia dan Ivea yang sudah menghabiskan


malam bersama. Ivea juga telah menceritakan semuanya,
dan hal itu membuatnya penasaran.
Apa benar kalian tidak melakukan apa-apa? Tanya
Bian.
Tentu saja, Mom!
Bian kembali bernafas lega lalu memeluk Ivea eraterat. Aku bisa tenang! Katanya pelan. Meskipun begitu
ada seberkas perasaan heran terbersit di benaknya. Kay
tidak melakukan apa-apa dalam keadaan yang sudah
sangat terbuka lebar untuknya melakukan sesuatu? Bian
tau kalau Kay bukan orang seperti itu, Kay bahkan bisa
melakukan sesuatu disaat suasana dan keadaan sama sekali
tidak mendukung. Tapi kepada Ivea dia tidak melakukan
apapun, Kay benar-benar melewatkan kesempatanya kali
ini.
Apa Nathan tau?
Mmm! Ivea bergumam mengiyakan. Tapi aku
cuma bilang kalau aku bermalam di galeri dan tidak
melakukan apa-apa selain membantu Kay menyelesaikan
gaunya. Aku tidak menceritakan semuanya, Dia bisa
berfikiran macam-macam tentang kami!
Ya, Sebaiknya Nathan tidak usah tau!
Mom,
Ada apa?
Sebenarnya aku dan Kay ada hubungan apa?
Bian terkejut untuk kesekian kalinya. Mengapa Ivea
bertanya seperti itu? Setahu Bian, perlakuan Kay kepada

Ivea dimasa lalu sama dengan perlakuanya kepada semua


orang yang dekat denganya. Kay memang sosok yang bisa
dekat dengan siapa saja dan bila ada orang lain yang dekat
dengan Kay secara spesial, bisa di bilang Tara Soedarnadi
orangnya. Kay selalu membagi apapun yang dia punya
dengan Tara, berbagi cerita dan rahasia. Meskipun Bian
dan Kay adalah teman dekat, Bian sendiri ragu kalau Kay
pernah menceritakan rahasianya secara terbuka kepada
Bian jika laki-laki itu tidak sedang dalam keadaan mabuk.
Kenapa kau bertanya seperti itu?
Entah kenapa aku meras dekat denganya sejak
pertama kali kami bertemu di rumah sakit, tapi saat dia
bilang kami pernah bersahabat baik, aku kira aku mengerti
kenapa perasaan seperti itu timbul. Tapi terkadang aku
selalu ingin marah saat melihatnya. Apa yang harus ku
lakukan? Meskipun sudah berusaha menjauh, aku sering
sekali mendekatinya tanpa sadar. Mom, aku rasa ada
sesuatu yang penting antara aku dan dia yang sudah
terlupakan!
Kalau begitu kau Tanya saja kepadanya! Tapi
yakinkan dulu kalau itu memang penting. Jangan sampai
kau membuatnya tertawa!
***
Berhentilah bersikap seperti ini. Kenapa kau suka sekali
berfikiran yang tidak-tidak tentang aku dan Ivea? Aku sangat

sulit menerima diriku sendiri bila aku benar-benar terlibat hal-hal


seperti yang kau fikirkan itu!
Karena kau selalu membuatku curiga. Harusnya aku ingat
kalau kau menganggap Ivea seperti adikmu sendiri, iya kan?
Kay menghela nafas berat. Pertanyaan Tara terus
mengelayuti fikiranya. Meskipun saat itu mulutnya
mengatakan Ya, Tapi hatinya merasa Tidak. Sikapnya
kepada Sachi tidak seperti ini. Pada awalnya memang iya,
perdebatanya dengan Ivea selalu mengingatkanya pada
perang saudara yang selalu terjadi antara dirinya dan adik
perempuan satu-satunya. Karena Ivea dan Sachi sama,
sama persis. Tapi Ivea yang sekarang adalah orang yang
bisa membuat perasaanya berubah menjadi naif secara tibatiba. Menbuat Kay sering kehilangan kendali dan
membuatnya melupakan cara untuk menyembunyikan
segala macam perasaan dan emosi.
Angin yang berhembus dari jendela yang terbuka
membuat rambut pendek Ivea berkibar beberapa saat, Ivea
pun kemudian menyeka sejumput rambut yang menempel
di wajahnya. Kay hanya bisa memperhatikan Ivea sesekali
dan Ivea benar-benar tidak menyadari pandangan Kay
kepadanya.
Miseur ada di dalam gak? Suara-suara berisik di luar
mengganggu Kay.
Pasti anak-anak itu, anak-anak yang tidak bosanbosanya mengejar-ngejarnya. Kay kali ini benar-benar tidak
sedang ingin di ganggu. Dia sedang menikmati sesuatu
tentang Ivea dan masih tidak ingin berhenti begitu saja.

Lalu apa yang harus dilakukanya? Mungkin Ivea shock


saat Kay menarik tanganya untuk bersembunyi di bawah
meja dan menutup mulut gadis itu. Suara-suara di luar
membuka pintu dan tidak menemukan apa-apa.
Lalu Miseur kemana? Kata suara itu.
Mungkin di ruangan lain
Tapi bukanya Ivea tadi di panggil oleh Miseur?
Madame Rhea yang memanggilnya tadi kan? Suara yang
berbeda lagi. Berarti yang mencari-cari Kay memang bukan
hanya satu atau dua orang.
Sudah, ke katin sajalah. Sebentar lagi bel berbunyi
Dan pintu ditutup dengan bunyi yang keras. Kay
memandang Ivea beberapa saat, kali ini di sangat grogi,
tapi Ivea sama sekali tidak memberikan kesempatan apaapa kepada Kay, dia kembali duduk di kursi yang di
sediakan untuknya dan Kay pun akhirnya melakukan hal
yang sama.
Dejavu. Kenangan yang tidak bisa terlupakan di kelas
waktu itu terulang kembali dan kali ini Kay yang
melakukanya. Tapi melihat reaksi Ivea yang biasa-biasa
saja, entah mengapa Kay merasa kecewa. Apa benar Ivea
sudah melupakan perasaanya kepada Kay seperti yang
pernah di ungkapkannya dengan cara berbeda waktu itu?
Diam-diam Kay menyesal pernah meminta Ivea untuk
melupakanya.
Wah, Miseur! Sepertinya kau sudah punya fans setia!
Kata Ivea.

Kay memandang Ivea dan tersenyum pahit. Ini


berkat desain wedding dressmu itu. Juga berkat model dari
Bian yang tidak bisa datang karena terjebak macet.
Yep, Juga karena penduduk Indonesia yang
memenuhi jalan raya waktu itu, berkat ketidak teraturan
lalu lintas kota, berkat takdir kita karena tinggal di Negara
seperti ini! Ivea tertawa kecil seolah-olah yang
dikatakanya barusan adalah kejadian yang lucu.
Ya, tentu saja, semua berkat takdir, berkat Tuhan. Jika
wedding dressmu tidak menang aku tidak akan difoto bersamamu,
aku tidak akan di kejar-kejar anak-anak itu sehingga bersembunyi
di kelasmu, aku tidak akan melihat wajah kecewamu di bawah
meja kelas waktu itu, dan aku tidak akan menciummu. Tapi
berkat kesalahanku kau benar-benar terasa jauh meskipun
sebnarnya kita sangat dekat.
Miseur, kau masih menyimpan majalah yang memuat
foto kita? Suara Ivea mengembalikan Kay kedunia nyata.
Aku ingin melihatnya
Tentu saja! Kay berusaha memberi senyum
terbaiknya meskipun senyum itu palsu, Ia sebenarnya
sedang tidak ingin tersenyum saat ini.
Kay membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan
beberapa tumpukan majalah. Ia memperhatikan edisinya
satu persatu dan menemukan majalah itu di tumpukan
paling bawah. Kay memang tidak pernah menyimpan
majalah edisi lawas terkecuali yang satu itu. Ia
menyodorkanya kepada Ivea.
Ivea membukanya perlahan halaman demi halaman,
sepertinya dia sedang tidak terburu-buru untuk

menemukan halaman spesial itu. Dan Kay menunggu


dengan hati berdebar sampai pada akhirnya lembaran itu
terbuka juga. Foto dirinya dan Ivea yang difoto seluruh
badan dalam posisi berpandangan, dimana tengan kirinya
merangkul pinggang Ivea erat-erat seolah-olah Ivea
memang hanya miliknya, dan pandangan Ivea itu, benarbenar pandangan penuh cinta sedangkan Kay, dia sangat
mengetahui bahwa apapun yang terlihat dalam foto itu
hanya sandiwara.
Gaun ini bagus ya?
Ivea menunjuk ke pinggangnya yang di rangkul Kay
dalam gambar dengan telunjuknya. Dan Kay tiba-tiba
menggenggam
tanganya
erat.
genggaman
yang
menyiratkan jadilah milikku itu membuat perhatian Ivea
beralih kepada Kay. Kay melakukan itu karena ingin,
benar-benar karena kehendak hatinya yang paling dalam,
hatinya ingin meneriakkan sesuatu, tapi mengapa sangat
sulit untuk di keluarkan?
Bel sudah berbunyi. Kembalilah kekelas! katanya
sambil tersenyum.
***
Ivea berjalan menapaki lantai koridor selangkah demi
selangkah. Fikiranya masih melayang ke kejadian tadi,
dimana Kay menggenggam tanganya erat-erat. Sulit
baginya untuk menyembunyikan perasaanya waktu itu,
Ivea tidak yakin kalau ia bisa menyembunyikan

kegalauanya seratus persen. Belakangan ini dirinya


seringkali berfikir tentang kedekatanya dengan Kay.
Mengapa dia cemburu saat melihat Kay bersama Tara di
caf waktu itu? Ia juga heran dengan hasratnya untuk jadi
lebih cantik di depan Kay, selain itu perhatian-perhatian
Kay selalu membuat Ivea merasa kalau antara dirinya dan
Kay ada sesuatu, Kay menyembunyikan sesuatu. Atau
sebenarnya Ivea sendiri yang mulai bimbang?
Tapi dirinya dan Nathan sedang baik-baik saja. Lalu
kenapa Ivea bisa memikirkan orang lain? Kadang terlintas
di fikiranya kalau Kay hanya bercanda, atau perhatian Kay
kepadanya hanya sebatas perhatian antar saudara. Tapi
siapapun akan tau kalau perhatian Kay kepadanya sama
seperti perhatian yang Nathan berikan. Menghasilkan
perasaan yang sama, kebahagiaan yang sama. Tapi saat
bersama Kay jiwanya sama sekali tidak tenang, tidak
seperti saat dirinya bersama Nathan. Kay membuatnya
takut kalau interaksi mereka yang berlebihan di lihat orang
sedangkan bersama Nathan Ivea seolah-olah ingin semua
orang tau dan mengatakan betapa serasinya mereka.
Ivea menggeleng. Ia hanya milik Nathan dan tidak
boleh memikirkan orang lain. Bukankah dia pernah marah
besar pada Nathan karena merasa di khianati? Meskipun
Ivea tidak mengingat kejadian itu sama sekali tapi ia bisa
membayangkan bagaimana kecewanya Nathan padanya
saat itu. Dia tidak akan melakukan hal yang sama kepada
Nathan. Tidak akan pernah. Ivea mengambil ponsel dari

dalam tasnya dan sibuk menekan beberapa tuts lalu segera


berkonsentrasi mendengarkan sesuatu disana.
Ya,
Eve!
Sudah
pulang
kuliah?
Nathan
menjawabnya dengan semangat.
Sudah, Kau ada dimana sekarang?
Di Lapangan. Aku sedang tidak di galeri sekarang,
jadi tidak bisa menjemputmu!
Tidak apa-apa. Kita bertemu di galeri saja ya? Ingat
jangan langsung pulang karena aku akan menunggu
sampai kau datang!
Iya, Baiklah!
Nat.. Ivea memanggil nama Nathan dengan manja.
Aku merindukanmu!
***
Hari ini di kampus sangat-sangat membosankan. Aku
teringat kau terus setiap jam, setiap menit, setiap detik
Ivea berbicara dengan nada mesra sambil menopang
dagunya dan memandangi Nathan yang sibuk minum air
putih. Sepertinya Nathan sangat kehausan karena seharian
ini dia sibuk membantu Tara mengantar beberapa Gaun
pernikahan.
Hei. Sejak kapan kau jadi suka merayu sepeti ini?
Tanya Nathan diiringi tawa heranya. Ia kemudian duduk
di hadapan Ivea yang masih memandanginya.
Ivea menggeleng, dia sendiri juga tidak tau mengapa
tiba-tiba begini. Yang di ketahuinya, Ia sedang mengingat

orang lain dan tidak ingin Nathan tau. Sikap Kay padanya
di Kampus belakangan ini semakin membuatnya merasa
bimbang. Bagaimana mungkin Kay menunjukkan
perhatianya dengan sangat menonjol di depan temantemanya. Gosip sudah merebak tentang hubungan antara
dirinya dan Kay. Tapi Ivea sendiri juga bingung mengapa
ia sama sekali tidak mampu menolak ataupun menghindar.
Kenapa menggeleng? Artinya, aku tidak tau, atau aku
tidak sedang merayu? Nathan melanjutkan perkataanya
setelah melihat gelengan ringan dari Ivea.
Mungkin yang pertama,
Jadi kau mengakui kalau sedang merayuku?
Memangnya kenapa? Tidak aneh kan bagi orang
yang sedang pacaran?
Kali ini Nathan kembali tertawa disertai anggukan
mengerti dari kepalanya. Nathan memandang jam di
dinding, waktu sudah menunjukkan pukul 16.45, perutnya
sudah berbunyi berkali-kali. Kau ada pekerjaan?
Maksudku. Apa kita bisa pulang dan makan? Aku sangat
lapar. Sejak pagi aku sama sekali tidak menyentuh
makanan.
Kalau begitu begini saja! Ivea menyodorkan
pergelangan tangan bagian dalamnya kepada Nathan.
Drink My blood, please!
Nathan memandangi Ivea dengan pandangan kaget
bercampur heran. Ia pernah melakukan ini, membahas
mengenai vampir dan darah. Apa Ivea ingat sesuatu? Apa
kau mengingatnya?

Mengingat apa?
Kita pernah melakukan ini, memang tidak seratus
persen mirip. Tapi ini mengingatkan aku pada kejadian
itu.
Waktu kau menggigitku dulu? Aku tidak ingat tapi
aku pernah mendengarnya dari Mbak Tara dan selama ini
aku bertanya-tanya apa sebabnya. Beberapa waktu lalu aku
mengunjungi rumahku yang lama untuk mengambil
beberapa barang. Dan di antara barang-barangku, aku
menemukan Komik Vampire knight dan di sampulnya ada
namamu. Waktu kita ke caf pada saat pertama kali
bertemu, umm, maksudnya saat pertama kali bertemu
setelah aku kehilangan ingatanku, Saat itu kau membawa
komik dengan judul yang sama. Jadi aku penasaran dan
mencari-cari kelanjutanya di toko buku.
Akhirnya kau membacanya juga? Dulu kelihatanya
kau tidak tertarik!
Benarkah? Mungkin karena yang kau berikan itu
Volume pertama. Aku dulu juga tidak terlalu suka
membaca buku yang ada gambarnya. Ivea kemudian
tersenyum. selama membacanya. Aku seringkali bertanyatanya. Hubungan kita ini seperti apa? Jika aku Yuki kau
Zero atau Kaname?
Mungkin aku Zero! Aku tidak seperti Kaname Kuran
yang memperhatikan Yuki sejak awal karena ternyata Yuki
dan Kaname bersaudara. Kau sudah baca?
Ivea mengangguk. Aku selalu memperhatikanmu
sejak awal, benarkan? Berusaha untuk dekat meskipun kau

selalu bersikap dingin sampai akhirnya entah apa yang


membuatmu simpati dan mulai memperhatikanku.
Zero memperhatikan Yuki karena gadis itu selalu
dalam lindungan Kaname.
Tunggu dulu. Kalau aku benar-benar seperti Yuki
lalu siapa Kaname Kuran?
Kau masih tidak sadar? Mata Nathan membesar
seolah-olah pembicaraan mereka adalah pembicaraan yang
seru. Kay adalah Kaname Kuran bagimu. Semua orang
mengatakan kalau aku tidak perlu khawatir karena dia
menganggapmu sebagai saudaranya. Tapi Bukankah
Kaname mencintai adiknya sendiri?
Astaga, Kata-katamu terkesan kalau kau sedang
cemburu! Ini pertama kalinya! Ivea menyipitkan matanya.
Walau bagaimanapun aku sangat senang mendengar katakatamu barusan!
Nathan dan Ivea saling pandang. Ada binar
kebahagiaan saat Ivea dan Nathan bersama. Nathan pelanpelan berubah menjadi orang yang berbeda. Ia bisa
merasakan perbedaanya. Saat bersama Ivea Nathan
bukanlah dirinya lagi dan tidak begitu mengerti kenapa
bisa begitu, Tapi bukankah cinta tidak perlu alasan?
Baiklah, Aku sudah tidak bisa menahanya lagi! Ujar
Nathan. Tanganya kemudian menarik tangan Ivea yang
terkulai di atas meja, tangan yang tadi disodorkan Ivea
untuknya. Nathan mendekatkan pergelangan tangan
bagian dalam milik Ivea kemulutnya. Gurat-gurat nadi
berwarna biru yang tergambar disana benar-benar

membuatnya dahaga. Nona, Kau yang menawarkan, jadi


jangan mengeluh bila ini terasa sakit seperti waktu itu!
Jantung Ivea memacu lebih cepat. Ini yang dia cari dan
inilah yang seharusnya. Perasaan seperti ini seharusnya
hanya di rasakanya dengan Nathan. Ivea menggigit
bibirnya dan memejamkan matanya sebagai antisipasi dari
rasa sakit yang akan di terimanya.
***
Sial, bernafaslah Kay!, Bisik Kay pada dirinya sendiri.
Entah sudah berapa lama ia termangu memandangi Ivea
dan Nathan di dalam sana. cuma tangan kan? Cuma tangan
Ivea yang di sentuh tapi itu sudah cukup berhasil membuat
Kay merasakan perih di hatinya. Ia menarik nafasnya
dalam-dalam seolah-olah Kay memang harus memaksakan
udara untuk masuk kejantungnya karena hanya dengan
cara itulah oksigen dapat memenuhi rongga paru-parunya.
Seumur hidupnya ini adalah pertama kali dirinya merasa
sesakit ini, sangat pedih. Apa yang harus di lakukanya?
Apa dia akan terus membiarkan kejadian-kejadian seperti
ini mengganggunya? Dulu dengan tega dia mampu untuk
merampas milik orang lain. Apa sekarang dia harus
melakukanya juga?
***

Ivea dan Nathan berjalan bergandengan keluar dari


Pantry. Kay berusaha melemahkan tubuhnya yang kaku.
Emosi sudah berhasil memenuhi kepalanya. Mengapa
mereka bisa punya cerita semanis itu? Mengapa Ivea selalu
membiarkan dirinya di lukai oleh Nathan karena cerita
Vampir. Kisah yang bodoh dan aneh!. Kay tertawa
menyembunyikan kesedihanya. Tentu saja, karena Nathan
dan Ivea punya lebih banyak waktu bersama. Fikir Kay. Dan
selanjutnya mereka tidak akan punya kisah apa-apa lagi.
Kay mendekati keduanya dan merampas tangan Ivea
dari genggaman Nathan, Bukan hal yang di sukai untuk di
lakukan. Tapi harus karena Kay tidak ingin membagi Ivea
dengan Nathan lagi seperti sebelum-sebelumnya. Kay bisa
merasakan ada Atmosfir aneh menyelisip. Pandangan mata
Ivea dan Nathan yang sama heranya tertuju pada Kay
seorang. Bahkan mereka bisa memiliki kesamaan seperti itu
dalam waktu yang seperti ini.
Kay? Ada apa? Desis Nathan.
Kay memandang Ivea sejenak lalu kembali menatap
mata Nathan dengan tegas. Aku perlu mengakui sesuatu.
Nat, bukan cuma kau yang memiliki hati Eve. Aku juga!
Dan perlu kau tau saat Eve menangis keluar dari
ruanganku dulu, Ivea menangis bukan karena kau, tapi
karena kami bertengkar. Kay agak berbohong. Eve,
pernah mengkhianatimu denganku pada saat itu. Dan kami
sudah pernah berciuman.
Kay tau, Nathan cukup bijak sana untuk tidak
melayangkan pukulan apapun kewajahnya. Yang

dilakukan Nathan hanya memandangi Kay dan Ivea secara


bergantian dan penuh kekecewaan. Ia tidak percaya, tentu
saja. Bahasa tubuhnya mengatakan seperti itu. Perlahanlahan ia mundur dan akhirnya berjalan pergi dengan
langkah yang sangat cepat.
Tapi semuanya belum berakhir. Ivea berontak. Ia
menjerit histeris dan memanggil-manggil nama Nathan.
Air mata itu keluar lagi, Ivea menangis lagi. Gadis itu
berusaha melepaskan tanganya dari genggaman Kay.
Lepaskan akuNathan tunggu!... Ivea mengemis
belas kasihan Kay. Dan Kay tidak bisa menolak lagi.
Dengan berat hati ia melepaskan genggaman tanganya
dan membiarkan Ivea pergi mengejar Nathan. Beberapa
saat kemudian terdengar suara gaduh di luar, keduanya
bertengkar hebat. Tidak, lebih tepatnya Nathan mencaci
maki Ivea dan gadis itu terus mengiba dan meminta maaf.
Tapi Nathan kelihatanya tidak semudah itu untuk
memaafkan.
:Kau ini kenapa? Mengapa harus bertindak seperti
itu? Tara tiba-tiba saja bersuara.
Kay sendiri hanya bisa terdiam membisu ia duduk
begitu saja dilantai sambil memegangi kepalanya. Katakata Tara barusan terdengar seperti menghakiminya
dengan sangat sinis. Tiba-tiba saja Kay merasa tersingkir. Ia
merasakan sentuhan lembut Tara di kepalanya. Gadis itu
sekarang duduk di hadapanya dengan pandangan
bijaksananya.

Kau sudah benar-benar berhasil melukai banyak


orang dalam satu waktu! Suara Tara terdengar lebih
lemah meskipun ucapanya masih sinis seperti sebelumnya.
Semuanya sedang sakit sekarang.
Aku hanya ingin Eve menjadi milikku saja!
Ya, tapi kau malah membuat dia semakin menjauh.
Kay sejak kapan Kau merasakan perasaan seperti ini?
Mengapa untuk yang satu ini tidak kau ceritakan padaku?
Kau tidak pernah menyembunyikan sesuatu dariku kan?
Tubuh Kay bergetar. Suaranya juga begitu. Aku tidak
yakin untuk bercerita padamu!
Sejak kapan kau butuh keyakinan untuk bercerita
kepadaku? Selama ini kau selalu datang kepadaku dalam
keadaan tidak yakin. Kau tidak sedang merampas permen
dari tangan anak kecil kan? Kau suka tapi tidak terlalu
butuh, sedangkan Nathan, dia suka dan sangat butuh.
Sekarang kau sudah menghancurkan semuanya!
Kenapa kau malah memojokkanku! Suara Kay
berubah menjadi lebih Intens.
Tara terkejut. Tapi kemudian Ia merangkul sahabatnya
itu erat-erat. Apa harus aku membelamu dan
menyalahkan Nathan? Kita bukan anak kecil lagi. Sudah
lah. Mudah-mudahan ini akan jadi yang terbaik untuk
semuanya.
***

12
Ivea hari ini tidak ingin datang ke galeri. Ia tidak ingin
bertemu Kay dan siapapun. Hari ini adalah hari pertama
dirinya tidak melihat air mata lagi di wajahnya. Benarkah
bahwa Ivea sudah mengkhianati Nathan dengan Kay? Ivea
mengerti mengapa selama ini dia bisa berebar saat berada
dekat dengan Kay. Mengapa Kay sangat memperhatikanya.
Bahkan ia dan Kay pernah berciuman? Nathan bahkan
mengaku tidak pernah melakukan itu sebelumnya.
Mungkinkah selama ini cinta Ivea kepada Kay lebih besar
dibandingkan dengan perasaanya kepada Nathan? Ivea
bimbang.
Ranjang yang sangat kusut itu sudah menjadi pelarian
Ivea selama berjam-jam. Sejak pagi dia ada dirumah, Bian
juga begitu. Hari ini hari libur yang paling membosankan
dalam hidup Ivea selama ini. Dia tidak ingin melakukan
apa-apa, tidak bersemangat untuk melakukan sesuatu.
Yang Ivea lakukan hanya memejamkan mata berharap rasa
kantuk menyerang dan dirinya segera melewati hari ini
karena tertidur sampai besok. Tapi apapun yang
dilakukanya untuk itu, sudah sangat sia-sia. Bahkan obat
tidur yang sudah di telanya sepertinya tidak memberikan
reaksi apa-apa. Ponsel Ivea berdering keras, sebuah pesan
masuk dari Kay.

Sore ini aku berangkat


Ke Tokyo. Mungkin akan
Lebih lama dari sebelumnya
c.u!
(Sender: Kay 08984455xxx)
Ivea mendesah, sudah lebih dari seminggu ia
melarikan diri dan ia juga sudah melewatkan banyak hari
dari cerita-cerita apapun di luar sana. Hari ini
keberangkatan Kay ke Tokyo dalam rangka fashion
shownya. Tapi kenapa Ivea merasa seperti akan kehilangan
Kay selama-lamanya? Kenapa ia merasa Kay seperti akan
meninggalkanya?
Dear, Kau kenapa? Sakit? Apa perlu ku bawakan
obat? Suara Bian terdengar di depan pintu.
Tidak, aku baik-baik saja!
Kalau begitu kau bisa keluar sebentar? Nathan
menunggumu di bawah.
Dengan langkah lemah Ivea melangkah dan membuka
pintu. Mom, bisakah kau mengatakan padanya untuk
menunda pertemuan ini? Aku akan bertemu denganya
nanti malam, sekarang aku benar-benar sedang tidak
bersemangat!
***
Jaga galeri selama aku pergi. Suatu saat nanti aku
pasti kembali. Kay berkata sambil menepuk bahu Tara.

Cuma Tara yang bisa di andalkan saat ini. Cuma Tara


orang yang paling Kay percaya.
Lonceng yang berada di pintu kaca galeri berbunyi
karena daun pintu bergeser dari tempatnya. Ivea masuk
dan memandangi Kay dengan tatapan yang tidak bisa di
mengerti. Ini pertama kalinya Kay melihat Ivea lagi setelah
kajadian waktu itu. Wajahnya kelihatan sembab dan
matanya bengkak.
Bisa kita bicara? Kata Ivea dengan suara parau.
Kay mengangguk dan berjalan menuju kamarnya di
lantai dua. Ivea mengikutinya dengan patuh. Gadis ini
pasti tidak berhenti mengeluarkan air mata selama
seminggu ini, matanya merah menandakan kalau kejadian
ini sudah menjadi pukulan yang berat baginya. Kay
kembali mengemasi barang-barangnya. Terlalu banyak
untuk sekedar menghadiri fashion Show ke Tokyo. Dia
membawa dua buah koper besar hanya untuk tinggal
disana selama seminggu? Ivea merasa kalau Kay benarbenar akan pergi jauh.
Kau mau pindah? Kenapa membawa barang
sebanyak ini? Tanya Ivea.
Aku mau istirahat, liburan. Jawab Kay sambil
tersenyum.
Kau ingin melarikan diri? Apa karena kau sudah
mengakui sesuatu waktu itu?
Gerakan Kay tiba-tiba terhenti. Wajah Ivea yang
kecewa terlihat lagi. Mengakui apa? Nyaris lima puluh
persen dari pengakuan Kay waktu itu berisi kebohongan,

Ivea dan dia tidak mengkhianati Nathan, mereka bahkan


tidak memiliki hubungan spesial apa-apa pada waktu
kejadian itu. Kay mengerti, cepat atau lambat seharusnya
dia bersikap jujur. Tapi bukankah lebih baik Ivea
mengingatnya dengan sendirinya?
Bisakah Kau menceritakan seperti apa hubungan kita
dulu?
Aku takut menceritakanya dengan membohongi
perasaanmu. Aku bisa saja menceritakan kejadian itu dari
sudut pandangku, lalu aku jadi benar dan kau bersalah.
Apanya yang benar dan salah?
Kay menyelesaikan Packingnya dan memutar
tubuhnya menghadapi Ivea dengan serius. Masih
terkenang di benaknya saat dia lepas kendali dan
merampas tangan Ivea dari genggaman Nathan dan
mengeluarkan kata-kata bodoh itu, saat itu Ivea menangis
dan terlihat sangat terluka oleh rasa cemburu laki-laki itu.
Kay menyesalinya.
Bagaimana dengan hubunganmu dan Nathan?
Ivea menggeleng tak yakin. Kurasa sudah berakhir.
Kau sangat sedih?
Kau ingin menghindariku? Kau merasa bersalah
kepada Nathan?
Eve, Aku selalu menyakiti orang lain bila aku
mengikuti perasaanku. Semua pernah menjadi korbanya,
Bian, Nathan, bahkan kau!
Seharusnya kau pergi setelah masalahnya beres.
Kenapa kau menyakitiku seperti ini! Ivea menahan air

matanya yang hampir jatuh. Tapi bulir bening itu tidak bisa
di tahan lagi, dan tumpah tanpa di inginkan. Kau ingin
aku menyelesaikan masalah seperti ini sendiri? Aku
bahkan tidak punya kenangan apa-apa untuk mencari jalan
keluarnya, bahkan untuk sekedar membuat alasan!
Kay memegangi kepalanya. Bagaimana ini? Kenapa ia
merasa terdesak? seharusnya masalah itu tidak menjadi
kusut seperti sekarang. Apa yang harus ia lakukan? Walau
bagaimanapun, tinggal disisi Ivea baginya sudah menjadi
keinginan yang juga berarti Kay mengikuti perasaanya.
Kay menyeka air mata Ivea dan membelai wajahnya
dengan lembut.
Aku rasa lebih baik kau mengingat semuanya sendiri.
Setelah kau ingat, Kau boleh mendatangiku dan melakukan
apa saja! Tapi jangan pernah katakan akan melupakan
semuanya. Semula aku merasa lega saat tau kau
melupakan masalah itu, Tapi setelah menyadari kalau kau
melupakan perasaanmu kepadaku hatiku jadi sakit!
Perasaanku yang bagaimana?
Kay menggeleng. Aku sendiri juga belum tau. Aku
butuh waktu untuk memikirkanya
lalu kenapa kau berkata seperti itu?
Kay kehabisan kata. Kenapa ia berkata begitu? Kay
dan Ivea memang tidak pernah memiliki hubungan Khusus
dimasa lalu. Tapi hubungan seperti itu mendadak ada saat
melihat Ivea dirumah sakit. Saat Ivea berubah, saat Ivea
menceritakan tentang hubunganya dan Nathan, saat-saat
yang belakangan membuatnya sudah kehilangan sesuatu

yang penting. Eve, aku tidak bisa menjawab apa-apa. Tapi


aku harap, ini bisa membantumu mengingat sesuatu. Dan
bibir Kay membelai bibir Ivea lembut sekali lagi. Kay
sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya diharapkan
oleh dirinya. Ivea mengingat semuanya atau tidak, Ivea
yang menjauh atau dia yang pergi. Air mata Ivea jatuh
membasahi tangan Kay yang masih menyentuh wajahnya.
Kay bisa merasakan isakanya pelan. Dan secara perlahan
juga Kay mengakhiri keinginanya yang diharapkanya tidak
akan pernah berakhir. Saat-saat seperti ini membuat Kay
merasakan kalau perasaan kasihnya sangat nyata, kalau
kali ini dia tidak bersalah dan Ivea juga, kalau seharusnya
ia merasakan perasaan seperti ini sejak awal. Kay menyeka
air mata Ivea.
Ivea menggigit bibirnya sambil memandang Kay
heran. Apa kita sering melakukanya?
Kay tidak menjawab apa-apa. Ini yang kedua, tapi
yang pertama kali di lakukanya dengan penuh cinta.
Ivea semakin membenci dirinya. Sepertinya Ia benarbenar memiliki Affair dengan Kay dan mengkhianati
Nathan. Kenapa dia membiarkan bibirnya di sentuh orang
lain selain kekasihnya. Nathan bahkan tidak pernah
melakukanya. Aku pergi dulu! Kata Ivea dan berusaha
menjauh secepat mungkin. Kay tidak bisa berbuat apa-apa
selain memandangi Ivea hingga bayanganya menghilang.
***

Nathan duduk dengan gelisah di ruang tamu. Jam


didinding menunjukkan pukul 22. 15 Malam. Ivea belum
datang juga padahal dia menjanjikan akan menemui
Nathan mala mini. BIan juga sangat gelisah dan berulang
kali menghubungi Ponsel Ivea tapi tidak tersambung juga.
Dia juga berkali-kali menghubungi ponsel Kay dan sama.
Nathan
memejamkan matanya berharap di beri
ketenangan untuk menghadapi semua ini. Ivea dan Kay,
mereka berdua sedang apa? Bian bilang kalau Ivea tadi sore
minta izin untuk pergi menemui Kay yang akan berangkat
ke Jepang. Ada sejumput kecemburuan di sudut hati
Nathan mendengarnya, tapi dia tidak bisa marah kepada
Ivea. Bukan salah Ivea sendiri.
Baiklah kalau kau berfikir begitu Aku akan mengabulkan
permintaanmu. Aku menyukai Kay! dan kau, jangan pernah lagi
mendekatiku selamanya.
Kata-kata Ivea waktu itu terus berputar berulang kali
di dalam kepalanya. Karena itukan Ivea pergi kepada Kay?
Mereka berciuman setelah pertengkaran itu kan? Sewaktu
mendengar cerita dari Tara hatinya merasa sakit yang lebih
daripada sekedar merasa di khianati. Ivea, wanita yang
dicintainya dengan sepenuh hati pergi meninggalkan
Nathan karena kesalahanya. Ivea mengkhianati nya karena
Nathan sudah terlalu sering membuatnya merasa bimbang.
Eve! Kenapa kau baru pulang? Bian berteriak
melampiaskan kekhawatiranya. Kau tidak apa-apa Kan?
Kay tidak melakukan apa-apa terhadapmu kan?

Nathan menoleh kearah pintu dimana Bian


menyambut Ivea dengan penuh kecemasan. Ivea
menggeleng singkat.
lalu kenapa kau pulang semalam ini?
Aku pergi nonton, Mom. Kebioskop!
Sayang! Bian memeluknya erat-erat. Kau pasti
menangis di dalam bioskop! Lihat matamu bengkak seperti
ini! Kau mau istirahat? Pasti sangat lelah! Nathan dari tadi
menunggumu. Tapi kalau kau tidak mau bicara biar dia
pulang dulu saja dan bertemu besok pagi! Tidak apa-apa
kan Nat?
Bian memandang Nathan dengan mata yanag agak
memohon. Berat memang bagi Nathan untuk menerima
permintaan Bian, tapi dirinya tidak akan memaksakan
kehendaknya. Nathan berusaha untuk tersenyum. Ya,
tidak masalah!
Ivea memandangnya. Matanya merah seperti orang
yang kurang tidur. Wajahnya yang sembab membuat
Nathan merasa kasihan. Pasti Ivea sangat ingin berbaring
dan tidur. Atau sekedar mengurung diri dikamar untuk
melanjutkan lagi tangisanya. Tapi Ivea menolak, ia
melepaskan diri dari rangkulan Bian dan duduk di sofa
yang sama dengan Nathan.
Mom, bisa kami bicara berdua saja? Pintanya
dengan suara parau.
Bian tidak langsung meng-iya kan. Dia gelisah apakah
menolak permintaan Ivea dan tetap tinggal atau pergi. Tapi
akhirnya dia memilih opsi kedua dan pergi ke kamarnya.

Nat, Aku mohon maaf! Ivea memulai.


Nathan tersenyum kecut. Akhirnya aku mengerti apa
makna kata maafmu saat kau keluar dari ruang kerja Kay
waktu itu.
Ivea tidak menjawab ataupun membalas, dia hanya
diam saja seolah-olah siap untuk mendengarkan cacian dari
Nathan sekali lagi.
Kau tidak bersalah, Semua yang terjadi juga
disebabkan olehku sendiri. Kau mungkin tidak ingat, Tapi
kurasa perasaanmu sekarang sama dengan perasaanku saat
kita bertengkar karena Aliya waktu itu. Rasa kecewa
karena orang yang kita sayangi tidak percaya pada kita.
Aku bahkan tidak yakin kalau aku masih orang yang kau
sayangi.
Nat! Ivea memandangnya. Aku sedang bingung
sekarang. Aku tidak ingat apa-apa. Tapi harus mengalami
kejadian seperti ini dimana aku sama sekali tidak punya
kenangan untuk membela diri. Sekarang aku mengerti
mengapa aku selalu merasa tidak tenang saat bersama Kay.
Karena Aku sudah melakukan hal buruk kepadamu dan
aku takut kau mengetahuinya.
Jari-jari Nathan spontan membelai kepala Ivea.
Sekarang siapa pilihanmu?
Ivea menggeleng. Dia tidak tau. Dia pasti sangat
bingung.
Siapapun pilihanmu, aku akan selalu ada disisimu.
Setidaknya sampai perasaanku kepadamu benar-benar
hilang dan kita bisa berteman baik!

***
Mengapa sampai sekarang aku masih tidak bisa
mengingatnya? Kapan ingatanku akan kembali? Sebenarnya aku
dan Kay ada masalah apa?
Ivea memandangi cermin di kamarnya. Kay sudah
pergi ke Tokyo hampir setahun dan beberapa bulan
belakangan tidak memberikan kabar sama sekali. Tidak ada
satu orangpun yang membicarakanya. Begitu juga dengan
Tara. Meskipun Ivea sudah tau banyak tentang dirinya dan
Kay dari Tara, Ivea masih bingung dengan semua jalan
cerita yang ada. Dia dan Nathan sangat intim, seolah-olah
mereka berdua adalah pasangan paling bahagia di dunia,
hingga tiba-tiba Aliya datang dan hubungan mereka
hancur pada hari itu juga. Lalu Ivea dan Kay berciuman di
kelas, karena apa? Saat itu perasaanya pada Kay
bagaimana? Apakah dia mencintai Kay?
Eve! Nathan mencarimu! Bian berteriak dari luar
pintu kamarnya.
Ivea memejamkan matanya. Nathan sudah datang
kembali dan menunggu keputusanya dengan setia. Aku
menunggu sampai kau benar-benar bersama Kay dan
meninggalkanku. Jika bukan Kay, aku tidak akan pernah
melepaskanmu. Kata-kata Nathan yang masih terus
membayangi Ivea hingga sekarang. Ivea masuk ke kamar
mandi dan membasuh mukanya. Setelah membubuhkan
bedak tipis di wajahnya, ia segera turun menemui Nathan
yang menyambutnya dengan pandangan khawatir.

Kemana senyumanmu yang biasa? Tanya Ivea. Ia


selalu berusaha bersikap senatural mungkin pada Nathan.
Setidaknya, Tanpa Kay, selama setahun ini dirinya dan
Nathan bisa tertawa bersama lagi.
Aku dapat berita buruk untukmu!
Berita buruk apa?
Kay akan menikah di Tokyo akhir minggu ini. Aku
tidak akan mendapatkanya jika saja Mbak Tara tidak
keceplosan bicara. Sepertinya hal ini memang di rahasiakan
rapat-rapat dari siapapun.
Menikah? Otak Ivea tiba-tiba terasa kosong.
Menikah? Ia bahkan perlu waktu yang lama untuk
mencerna kata-kata itu. Kay akan menikah dengan orang
lain di Tokyo, berarti Kay akan meninggalkanya untuk
selama-lamanya.
***
Ivea dan Kay duduk berhadapan di restoran tiga lantai
itu. Tokyo sedang musim dingin, tapi dada Ivea terasa
begitu sesak dan panas . bagaimana dia harus bersikap?
Apakah dia harus marah-marah?
Maaf karena tidak memberi tahu sebelumnya! Kata
Kay dengan suara parau. Sejurus kemudian ia berdehem
kecil berusaha menormalkan suaranya.
Seharusnya aku yang bilang begitu. Aku benar-benar
payah, mengejarmu ke Tokyo berharap kau membatalkan
pernikahanmu dan kembali ke Indonesia bersamaku!

Aku sangat menyayangimu Eve. Rasa sayang yang


tidak pernah ku rasakan kepada orang lain sebelumnya.
Semula aku ragu karena ku fikir perasaan kali ini ada
karena kau sudah menyerupai perempuan yang pernah
aku cintai. Tapi ternyata perasaan seperti ini pada akhirnya
hanya kepadamu saja. Tapi rasa sayangku sendiri tidak
cukup!
Ivea memandang Kay shock. Apakah Kay sedang
mengatakan bahwa dia mencintai Ivea? Lalu mengapa dia
masih
memilih
untuk
menikah
dengan
orang
lain?Bukankah Ivea pernah meminta Kay untuk tinggal
dulu? Itu artinya Ivea juga ingin bersama Kay kan? apa
alasanmu mengatakan itu? Apa kau mengerti perasaanku
bagaimana?
Perasaan yang bagaimana?
Meskipun aku tidak ingat apa-apa, Aku sudah
mendengar ceritanya dari Mbak Tara! Cukup banyak untuk
tahu orang seperti apa aku ini sebenarnya.
Kay diam sejenak lalu berbicara lagi. Semula aku
mengira juga begitu. Kita berciuman, itu awal dari
semuanya. Kau pergi lalu meninggalkanku dalam rasa
bersalah yang tak berujung. Kemudian kita dipertemukan
lagi dalam keadaan berbeda. Kau menepati janjimu untuk
melupakan semuanya dan aku tertekan karena kau juga
melupakan perasaanmu kepadaku. Semua yang terjadi
antara kita sangat membuatku stress. Aku kira aku bisa
merampasmu dari Nathan. Tapi melihatkau menangis

histeris saat Nathan meninggalkanmu membuat aku sadar


kalau aku cuma merasakan cinta ini sendiri
Ivea memijat kepalanya yang terasa sakit sebulir air
mata mengalir dipipinya dengan anggun. Ivea yang sama
persis dengan Bianca Karta. Menjadi putri Bian membuat
Ivea benar-benar meniru segala tindak tanduknya. Tapi
Kay meyakini perasaanya kepada Ivea dan perasaanya
kepada Bian adalah perasaan yang sama. Ia mungkin
mencintai Ivea karena Bian, tapi dia tidak pernah berfikir
menjadikan Ivea sebagai pengganti Bian karena perasaanya
kepada Bian sendiri juga sudah sangat lama lenyap dan
menghilang. Kay tersenyum getir untuk dirinya sendiri,
tapi Ia berusaha setegar mungkin untuk menghadapinya.
Apa kau baik-baik saja? Kay bersuara lagi. Tapi kali
ini Ivea tidak menjawab. Tubuhnya kaku dan terjatuh ke
lantai begitu saja.

Epilog
Gaun merah darah yang Ivea kenakan tersembunyi
dalam mantel bulu yang dihadiahkan Bian untuknya sehari
sebelum Ivea memutuskan untuk berangkat ke Tokyo
bersama Nathan. Laki-laki itu berjalan bersamanya dalam
dandanan prima tuxedo hitam yang membuat Nathan
benar-benar tampak maskulin. Keduanya memasuki toko
bunga yang baru saja buka di pusat kota Tokyo.
ohai-o gozaimasu! Nathan menyapa pemilik toko
dengan aksen bahasa Jepang yang sangat mahir. Beberapa
detik kemudian ia dan pemilik toko berbincang-bincang
dan membiarkan Ivea berjalan mengelilingi toko bunga dan
melihat-lihat.
Serumpun lilac berwarna putih bersih menarik
pehatianya. Ivea menyentuh kalung berbandul salju yang
di kenakanya. Fikiranya mengawang, kembali mengingat
Kay, kembali mengingat masa lalu satu persatu dan
semuanya tersusun rapi sejak awal. Sejak hari dimana
hujan turun lebat dan Kay memintanya memanggil
Nathan, saat dimana Kay menepis tangan Nathan waktu ia
terjatuh dan mendapatkan sebuah luka memar di
keningnya. Saat pulang dari Karaoke, saat ia dan Kay
bercumbu di dalam kelas.
Cepat atau lambat kau akan menyadari kalau perasaanmu
padaku hanya pelarian, Eve. Kau menyukaiku saat itu karena
Kau terlanjur kecewa pada Nathan yang selalu menyebabkan

kebimbangan dalam hatimu. Semenjak itu kau mencari orang lain


yang bisa menggantikan posisi Nathan dan aku adalah orang
yang kau pilih. Karena kita selalu bersama dan berinteraksi lebih
sering karena aku membalas ciumanmu di kelas waktu itu. Aku
juga sudah terlibat rasa yang sama dalam waktu yang cukup
lama, berharap kau melihatku. Di satu sisi aku sangat ingin kau
kembali ingat semuanya dan mengingat perasaanmu waktu itu.
Tapi disisi lain aku takut, bila kau mengingat semuanya kau akan
pergi jauh. Aku menunggu sampai hatiku sendiri tidak sanggup
menahanya dan aku berfikir untuk merampasmu dari Nathan.
Tapi hari itu juga aku sadar kalau aku cuma figuran dalam kisah
kalian. Kau memohon Nathan untuk tidak meninggalkanmu,
ingat? Kau tidak pernah memohon kepadaku untuk bersamamu
saat aku akan berangkat ke Tokyo.Kau juga dengan mudahnya
memaafkan Nathan yang saat itu mengatakan kalau dia tidak bisa
menyukaimu lebih dari seorang teman, Tapi kau tidak bisa
memaafkankuseperti kau menerima semua kekuarangan Nathan
dengan baik. Yang ada di hatimu cuma dia, dari awal dan hingga
akhirnya. Seandainya aku tidak ada, Aliya tidak ada, kalian
mungkin sudah menjadi pasangan termanis di dunia. Aku
cemburu. Kau lihat, kau pasti bisa melihat tubuhku sendiri
bergetar hebat menahan perasaan ini. Tapi aku harus kuat untuk
mengatakan semuanya, agar bukan cuma aku yang sadar. Tapi
dirimu juga menyadarinya.
Eve, kau sudah dapatkan bunga yang cocok? Suara
Nathan mengejutkanya.
Ivea memandang wajah Nathan dan berusaha untuk
tersenyum. Bagaimana dengan Buket bunga Lili? Aku ingin

buket besar yang bisa ku berikan kepada mempelai


wanitanya secara langsung.
Apa tidak apa-apa kita hanya membawa bunga
kepernikahan Kay? Kau tidak ingin memberikan hadiah
yang lain?
Ivea merogoh tas tangan miliknya dan mengeluarkan
sebuah kotak beludru berwarna merah muda. Ia kemudian
meletakkan kotak itu di atas meja dan melepas kalung yang
di pakainya. Aku harap ini di bungkus di dalam buket
bunganya. Ini Kalung pemberian Kay. Dia pernah bilang,
Aku harus mengembalikanya setelah aku melihat salju
turun di Tokyo!
Nathan tersenyum. Ia lalu memberikan kotak beludru
bersama kalung berbandul Kristal salju itu kepada pemilik
toko dan mengucapkan sesuatu dalam bahasa Jepang.
Pemilik toko kemudian memberikan secarik kartu kepada
Nathan.
Tulislah ucapanmu disini selama dia merangkai
bunga! Nathan meletakkan kartu itu di atas meja,
kemudian mengeluarkan sebuah bolpoint silver dari balik
tuxedonya.
Ivea menuliskan sesuatu setelah berfikir lama, ia harap
kata-kata yang di tulisnya bisa menjadi doa yang
terkabulkan oleh Tuhan yang menentukan takdir manusia.
For : Kay

Wish You Happiness


From: Ivea

Ivea mengamati kartunya sekali lagi. Umm, Nat,


boleh aku minta kartu lagi?
tunggu sebentar! Nathan kemudian berjalan
mendekati pemilik toko yang sedang serius merangkai
bunga. Beberapa saat kemudian Nathan kembali dengan
membawa kartu yang sama persis dengan yang pertama ia
dapat. Ia kemudian memberikan kartu itu kepada Ivea
tanpa kata-kata. Ivea menyambutnya dengan senyum. Ia
kembali menulis kata-kata baru.
For :Miseur Keith Fujisawa

Wish you Happiness, Sensei!


From

:Eve & Nat

Ivea memberikan kartu itu kepada Nathan. Dalam


beberapa menit kemudian, buket bunga sudah siap dalam
tampilan yang agung dan cantik. Ivea memegangnya
dengan sangat manis. Setelah Nathan membayarnya,
mereka keluar dari Toko itu sambil bergandengan tangan.
Salju turun perlahan menghiasi pagi hari di Tokyo. Pagi ini
benar-benar akan jadi permulaan yang baru bagi
semuanya.
Eve, Kita naik taksi saja! Kepalamu bisa putih di
penuhi salju!
Aku sudah lama sekali ingin melihat salju di Tokyo.
Kita jalan kaki saja dulu. Kalau aku lelah, baru kita naik
taksi!

Setelah dari pesta pernikahan ini, kita mau kemana?


Terserah
Bagaimana kalau kita makan malam saja? Kita
tambah sehari lagi ya? Jangan pulang besok!
Hei, Mom bisa marah padaku! Dia akan datang hari
ini dan kurasa dia tidak akan mengizinkanku untuk
menghabiskan waktu di Tokyo bersamamu.
Memangnya kenapa? Kau kan di Tokyo bersama
calon suamimu!
Ivea hanya tertawa. Tawa yang kali ini benar-benar
menandakan kalau dirinya sudah terlepas dari segala
beban yang menggelayutinya selama ini. Dulu, saat ia
bertengkar dengan Nathan, dan saat Kay mengatakan
kepada Bian kalau dia akan meminta Ivea melupakan
kejadian yang terjadi di antara mereka, Ivea benar-benar
berharap tuhan mencabut ingatanya. Tapi ternyata
melupakan sesuatu bukan jalan keluar terbaik, Saat dirinya
sudah melupakan semua, Ivea malah sibuk untuk
mengingat kembali apa yang pernah di lupakanya. Karena
manusia tidak pernah puas. Sekarang semuanya sudah
kembali terkumpul menjadi satu, tidak ada satupun yang
ingin Ivea lupakan. Semuanya akan menjadi kisah yang
tertanam dalam dasar hatinya dan akan di bukanya
sewaktu-waktu untuk sekedar di kenang.