Anda di halaman 1dari 35

PERCOBAAN I

PENGENALAN ALAT DAN BUDAYA K3

I.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS :


-

Mampu mengidentifikasi beberapa macam alat dan menggunakannya dengan


benar

Mengenalkan peralatan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di laboratorium.

Mampu menggunakan peralatan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di


laboratorium dengan benar

II.

PENGENALAN ALAT
Berikut akan dibicarakan mengenai beberapa alat yang akan digunakan dalam
Praktikum Kimia Dasar I/Kimia Anorganik :
1.

Pipet volum. Pipet ini terbuat dari kaca dengan skala/volume tertentu, digunakan
untuk mengambil larutan dengan volume tepat sesuai dengan label yang tertera
pada bagian yang menggelembung (gondok) pada bagian tengah pipet. Gunakan
propipet atau bulb untuk menyedot larutan.

2.

Pipet ukur. Pipet ini memiliki skala,digunakan untuk mengambil larutan dengan
volume tertentu. Gunakan bulb atau karet penghisap untuk menyedot larutan,
jangan dihisap dengan mulut.

3.

Labu ukur (labu takar), digunakan untuk menakar volume zat kimia dalam
bentuk cair pada proses preparasi larutan. Alat ini tersedia berbagai macam
ukuran.

4.

Gelas Ukur, digunakan untuk mengukur volume zat kimia dalam bentuk cair. Alat
ini mempunyai skala, tersedia bermacam-macam ukuran. Tidak boleh digunakan
untuk mengukur larutan/pelarut dalam kondisi panas. Perhatikan meniscus pada
saat pembacaan skala.

5.

Gelas Beker, Alat ini bukan alat pengukur (walaupun terdapat skala, namun
ralatnya cukup besar). Digunakan untuk tempat larutan dan dapat juga untuk
memanaskan larutan kimia. Untuk menguapkan solven/pelarut atau untuk
memekatkan.

6.

Buret. Alat ini terbuat dari kaca dengan skala dankran pada bagian bawah,
digunakan untuk melakukan titrasi (sebagai tempat titran).

7.

Erlenmeyer, Alat ini bukan alat pengukur, walaupun terdapat skala pada alat
gelas tersebut (ralat cukup besar). Digunakan untuk tempat zat yang akan
dititrasi. Kadang-kadang boleh juga digunakan untuk memanaskan larutan.

8.

Spektrofotometer dan Kuvet,kuvet serupa dengan tabung reaksi, namun


ukurannya lebih kecil. Digunakan sebagai tempat sample untuk analisis dengan
spektrofotometer. Kuvet tidak boleh dipanaskan. Bahan dapat dari silika (quartz),
polistirena atau polimetakrilat.

9.

Tabung reaksi. Sebagai tempat untuk mereaksikan bahan kimia, dalam skala
kecil dan dapat digunakan sebagai wadah untuk perkembangbiakkan mikroba.

10. Corong , Biasanya terbuat dari gelas namun ada juga yang terbuat dari plastik.
Digunakan untuk menolong pada saat memasukkan cairan ke dalam suatu wadah
dengan mulut sempit, seperti : botol, labu ukur, buret dan sebagainya.

11. Timbangan analitik, digunakan untuk menimbang massa suatu zat.

12. Gelas arloji, digunakan untuk tempat bahan padatan pada saat menimbang,
mengeringkan bahan, dll.

13. Pipet tetes. Berupa pipa kecil terbuat dari plastik atau kaca dengan ujung
bawahnya meruncing serta ujung atasnya ditutupi karet. Berguna untuk
mengambil cairan dalam skala tetesan kecil.
4

14. Pengaduk gelas,

digunakan

untuk

mengaduk

larutan,

campuran,

atau

mendekantir (memisahkan larutan dari padatan).

15. Spatula, digunakan untuk mengambil bahan.

16. PH Meter Digital, digunakan untuk mengukur derajat keasamaan suatu larutan

17. Bola Hisap (Bulb), digunakan untuk menghisap larutan dengan bantuan pipet

III.

PENGENALAN BUDAYA KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (K3) DI


LABORATORIUM
Keterampilan bekerja di laboratorium maupun dunia kerja dapat diperoleh

melalui kegiatan praktikum.Di samping itu ada kemungkinan bahaya yang terjadi di
laboratorium seperti adanya bahan kimia yang karsinogenik, bahaya kebakaran,
keracunan, sengatan listrik dalam penggunaan alat listrik (kompor, oven, dll).Di
samping itu, orang yang bekerja di Laboratorium dihadapkan pada resiko yang cukup
besar, yang disebabkan karena dalam setiap percobaan digunakan :
1. Bahan kimia yang mempunyai sifat mudah meledak, mudah terbakar, korosif,
karsinogenik, dan beracun.
2. Alat gelas yang mudah pecah dan dapat mengenai tubuh.
3. Alat listrik seperti kompor listrik, yang dapat menyebabkan sengatan listrik.
4. Penangas air atau minyak bersuhu tinggi yang dapat terpecik.
Untuk mencegah terjadinya kecelakaan di laboratorium, hal yang harus dilakukan pada
saat bekerja di Laboratoriumantara lain :
1. Tahap persiapan
a. Mengetahui secara pasti (tepat dan akurat) cara kerja pelaksanaan praktikum
serta hal yang harus dihindari selama praktikum, dengan membaca petunjuk
praktikum.
b. Mengetahui sifat bahan yang akan digunakan sehingga dapat terhindar dari
kecelakaan kerja selama di Laboratorium. Sifat bahan dapat diketahui dari
Material Safety Data Sheet (MSDS).
6

c. Mengetahui

peralatan

yang

akan

digunakan

serta

fungsi

dan

cara

penggunaannya.
d. Mempersiapkan Alat Pelindung Diri seperti jas praktikum lengan panjang,
kacamata goggle, sarung tangan karet, sepatu, masker, dll.
2. Tahap pelaksanaan
a. Mengenakan Alat Pelindung Diri.
b. Mengambil dan memeriksa alat dan bahan yang akan digunakan.
c. Menggunakan bahan kimia seperlunya, jangan berlebihan karena dapat
mencemari lingkungan.
d. Menggunakan peralatan percobaan dengan benar.
e. Membuang limbah percobaan pada tempat yang sesuai, disesuaikan dengan
kategori limbahnya.
f. Bekerja dengan tertib, tenang dan hati-hati, serta catat data yang diperlukan.
3. Tahap pasca pelaksanaan
a. Cuci peralatan yang digunakan, kemudian dikeringkan dan kembalikan ke
tempat semula.
b. Matikan listrik, kran air, dan tutup bahan kimia dengan rapat (tutup jangan
tertukar).
c. Bersihkan tempat atau meja kerja praktikum.
d. Cuci tangan dan lepaskan jas praktikum sebelum keluar dari laboratorium.
Selain pengetahuan mengenai penggunaan alat dan teknis pelaksanaan di
laboratorium, pengetahuan resiko bahaya dan pengetahuan sifat bahan yang
digunakan dalam percobaan.Sifat bahan secara rinci dan lengkap dapat dibaca pada
Material Safety Data Sheet (MSDS) yang dapat didownload dari internet. Berikut ini
sifat bahan berdasarkan kode gambar yang ada pada kemasan bahan kimia :
Simbol berbahaya

Toxic (sangat
beracun)

Huruf kode: T+

Bahan ini dapat menyebabkan


kematian atau sakit serius bila masuk
ke dalam tubuh melalui pernapasan,
pencernaan atau melalui kulit

Corrosive(korosif)
Huruf kode: C

Bahan ini dapat merusak jaringan


hidup, menyebabkan iritasi kulit, dan
gatal.

Huruf kode: E

Bahan ini mudah meledak dengan


adanya panas, percikan bunga api,
guncangan atau gesekan.

Huruf kode: O

Bahan ini dapat menyebabkan


kebakaran. Bahan ini menghasilkan
panas jika kontak dengan bahan
organik dan reduktor.

Huruf kode: F

Bahan ini memiliki titik nyala rendah


dan bahan yang bereaksi dengan air
untuk menghasilkan gas yang mudah
terbakar.

Explosive (bersifat
mudah meledak)

Oxidizing

(pengoksidasi)

flammable (sangat
mudah terbakar)

Harmful (berbahaya)
Huruf kode: Xn

Bahan ini menyebabkan luka bakar


pada kulit, berlendir dan mengganggu
pernapasan.

PERCOBAAN 2
PEMBUATAN DAN PENGENCERAN LARUTAN
I.

Tujuan Instruksional Khusus :


1. Membuat larutan dengan konsentrasi tertentu
2. Mengencerkan larutan dengan konsentrasi tertentu

II. Dasar Teori


Larutan adalah campuran yang terdiri dari dua atau lebih komponen yang bercampur
secara homogen (Chang, 2003)
Komponen terdiri dari 2 yaitu :
1. Solut : zat yang larut
2. Solvent : pelarut (zat yang melarutkan solut dan biasanya jumlahnya lebih besar)
Konsentrasi, dapat dinyatakan dalam beberapa cara, misalnya (Chang,2003) :
1. Mol
berat zat (g)
n=
berat molekul (Mr)
2. Molaritas
mol zat terlarut (mol)
M=
volume larutan (L)
3. Molalitas
mol zat terlarut (mol)
m=
berat pelarut (kg)
4. Normalitas
mol zat terlarut x ekivalen (eq)
N=
Volume larutan (L)
5. % berat (b/v) atau (w/v)
berat zat terlarut (g)
% w/v =
100 ml larutan

x 100%
9

6. % volum (v/v)
volum zat terlarut (ml)
% v/v =
100 ml larutan

x 100%

7. Fraksi mol
mol zat terlarut (mol)
x=
mol zar terlarut (mol) + mol pelarut (mol)
8. ppm
berat zat terlarut (mg)
ppm =
volume larutan (L)
berat zat terlarut (mg)
ppm =
berat (kg)

9. ppb
berat zat terlarut (g)
ppb =
volume larutan (L)
berat zat terlarut (g)
ppb =
berat (kg)

Pengenceran

V1 x M1 = V2 x M2
V1 x N1 = V2 x N2
V1 = volume awal
M1 = konsentrasi awal (Molaritas, M)
N1 = konsentrasi awal (Normalitas, N)
V2 = volume akhir
M2 = konsentrasi akhir (Molaritas, M)
N2 = konsentrasi akhir (Normalitas, N)

10

Catatan : Bila ingin mengencerkan H2SO4 pekat, maka harus menambahkan bahan

kimia pekat tersebut ke dalam air, bukan sebaliknya


Contoh :
Buatlah 100 ml larutan HNO3 0,2 N dari larutan HNO3pekat 69%. Diketahui massa jenis
larutan HNO3pekat 69%= 1,49 g/mL; berat molekul larutan HNO3pekat 69% = 63.01
g/mol.
Jawab :

Berat HNO3 dalam HNO3 pekat 69% = 1,49 g/ml x 69 ml =102,81 gram

Normalitas (N) HNO3 =


102,81 g x 1
N=
63,01 g/mol x (100/1000)
N = 16,32 N

V1 x N1 = V2 x N2
0,2 N x 100 ml
V1 =
16,32 N
N = 1,22 ml dilarutkan hingga 100 ml (menggunakan labu ukur)

III. Bahan dan Alat


Bahan :
NaCl, HCl 32%, Etanol 96 %, gula pasir, dan akuades.
Alat :
Neraca analitik, labu takar 100 ml, gelas ukur, pipet tetes
IV.

Tugas
Buatlah larutan dengan konsentrasi masing-masing di bawah ini kemudian tulislah
prosedur kerjanya secara lengkap di Lembar Kerja Praktikum :
1. 100 mL larutan NaCl 0,1 M
2. 100 mL larutan NaCL 100 ppm
3. 100 mL lautan etanol 20 % (v/v)
4. 100 mL larutan gula 5 % (b/v)
5.

100

mL

larutan

HCl

0,1

dari

larutan

HCl

32%.

11

12

MODUL PERCOBAAN 3
ASIDI ALKALIMETRI

I.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS:


1. Membuat larutan standar HCl 0,1 M
2. Membuat larutan standar sekunder NaOH 0,1 M dan standar primer H2C2O4
3. Melakukan standarisasi larutan HCl 0,1 M dan NaOH 0,1 M
4. Menggunakan larutan standar NaOH 0,1 M untuk menetapkan kadar asam asetat cuka
perdagangan

II.

DASAR TEORI

2.1

Analisis Volumetri
Analisis volumetri adalah suatu analisis kimia kuantitatif untuk menentukan
banyaknya suatu zat dalam volume tertentu dengan mengukur banyaknya volume larutan
standar yang dapat bereaksi secara kuantitatif dengan zat yang akan ditentukan. Penentuan
konsentrasi zat atau larutan dilakukan dengan cara mereaksikannya secara kuantitatif dengan
suatu larutan lain pada konsentrasi tertentu (Brady, 1990).
Larutan standar primer merupakan larutan yang telah diketahui konsentrasinya
(molaritas atau normalitas) secara pasti melalui pembuatan langsung. Larutan standar primer
berfungsi untuk menstandarisasi / membakukan atau untuk memastikan konsentrasi larutan
tertentu, yaitu larutan yang konsentrasinya belum diketahui secara pasti (larutan standar
sekunder). Larutan standar sekunder (titran) biasanya ditempatkan pada buret yang
kemudian ditambahkan ke dalam larutan zat yang telah diketahui konsentrasinya secara
standar primer). Proses penambahan larutan standar ke dalam larutan yang akan ditentukan
sampai terjadi reaksi sempurna disebut titrasi. Sedang saat dimana reaksi sempurna
dimaksud tercapai disebut titik ekivalen atau titik akhir titrasi. Pada proses titrasi
ditambahkan indikator ke dalam larutan standar primer untuk mengetahui perubahan warna
sebagai indikasi bahwa titik ekuivalen titrasi telah tercapai.
Zat yang dapat digunakan sebagai larutan standar primer harus memenuhi syarat
berikut :
1.

Kemurniannya tinggi

2.

Stabil (tidak mudah menyerap H2O atau CO2, tidak bereaksi dengan udara, tidak
mudah menguap, tidak mudah terurai, dan tidak berubah pada pengeringan)

3.

Memiliki massa molekul (Mr atau BM) yang tinggi

4.

Larutan bersifat stabil

Analisis volumetri dapat dibagi menjadi 3 yaitu (Vogel, 1994):


1.

Titrasi netralisasi (asam-basa) : yaitu suatu proses titrasi yang tidak mengakibatkan
terjadinya baik perubahan valensi maupun tebentuknya endapan dan atau terjadinya
suatu senyawa kompleks dari zat-zat yang saling bereaksi.
Yang termasuk dalam reaksi netralisasi adalah :

a. Titrasi asidimetri yaitu titrasi terhadap larutan basa bebas dan larutan garam-garam
terhidrolisis yang berasal dari asam lemah dengan larutan standar asam.
b. Titrasi alkalimetri yaitu titrasi terhadap larutan asam bebas dan larutan garam-garam
terhidrolisis yang berasal dari basa lemah dengan larutan standar basa.
Pada titrasi asam-basa, pH titik akhir titrasi ditentukan dengan banyaknya konsentrasi
H+ yang berlebihan dalam larutan, yang besarnya tergantung pada sifat asam, basa dan
konsentrasi larutan. Oleh karena itu, pada penambahan titran yang lebih lanjut pada titik
akhir titrasi akan menyebabkan perubahan pH yang cukup besar dan indikator yang
digunakan harus berubah warna sehingga perubahan indikator asam-basa tergantung
pada pH titik ekivalen.
2.

Titrasi pengendapan dan atau pembentukan kompleks yaitu suatu proses titrasi yang
dapat mengakibatkan terbentuknya suatu endapan dan atau terjadinya suatu senyawa
kompleks dari zat-zat yang saling bereaksi yaitu suatu zat yang akan ditentukan dengan
larutan standarnya.

3.

Titrasi reduksioksidasi atau redoks yaitu suatu proses titrasi yang dapat
mengakibatkan terjadinya perubahan valensi atau perpindahan elektron antara zat-zat
yang saling bereaksi. Dalam hal ini sebagai larutan standarnya adalah larutan dari zatzat pengoksidasi atau zat-zat pereduksi.

2.2

Larutan Standar
Larutan standar adalah larutan yang mengandung suatu zat dengan berat ekivalen
tertentu dalam volume yang tertentu. Larutan standar dapat dinyatakan dalam Molar (M)

atau Normal. Larutan dengan konsentrasi satu normal (1 N) adalah larutan yang mengandung
1 grek suatu zat tertentu dalam volume 1 liter. Larutan standar dapat dibuat dari zat yang
berbentuk cair (misalnya HCl) atau dari zat yang berbentuk padat atau kristal (NaOH)
(Brady, 1990).
1.

Pembuatan larutan dari padatan / kristal (misalnya NaOH)


M

G 1000
x
Mr V(mL)

Keterangan :
M = konsentrasi larutan (Molar)
G = massa padatan / kristal (g)
Mr = massa molekul relatif (g/mol)
V = volume larutan (mL)
2.

Membuat larutan dari larutan pekat (misalnya H2SO4)


Untuk membuat larutan dari larutan pekat seperti H2SO4 terlebih dahulu perlu diketahui
konsentrasi dari larutan pekat tersebut. Konsentrasi larutan pekat dapat dihitung dengan
rumus :
M

x % x 10
Mr

Keterangan
M = molaritas
% = kadar (%)
= berat jenis
Mr = massa molekul relatif
Selanjutnya, untuk membuat larutan dengan konsentrasi tertentu dari larutan pekat,
dapat digunakan rumus pengenceran berikut :
V1 xM1 V2 xM2

Keterangan :
V1= Volume larutan yang akan diencerkan
M1 = Konsentrasi larutan yang akan diencerkan
V2= Volume larutan hasil pengenceran
M2 = Konsentrasi larutan hasil pengenceran

3.

Larutan standar dari zat yang berbentuk padat/kristal


1.

Larutan standar primer


yaitu larutan standar yang terbuat dari zat padat yang kemurniannya tinggi
Contoh : Na2CO3, Na2C2O4 .2H2O, K2Cr2O7, Na2B4O7.10 H2O

2.

Larutan standar sekunder


yaitu larutan standar yang terbuat dari zat padat yang kemurniannya rendah.
Konsentrasi larutan sekunder ditentukan dengan menstandarisasi / membakukan
larutan tersebut dengan larutan standar primer untuk menentukan faktor
normalitasnya yaitu perbandingan antara normalitas larutan yang terjadi dengan
normalitas yang dikehendaki.
Contoh : NaOH, Ba(OH)2, KMnO4, Na2S2O3 dan sebagainya (Skoog et al., 1995)

4.

Pembuatan

larutan

standar

primer

Natrium

tetraborat

(Boraks)

(Na2B4O7.10H2O)
Untuk membuat 500 mL Natrium Boraks 0,05 M; 0,1 N, dihitung berat Natrium Boraks
yang akan dilarutkan :
G 1000
x
Mr V(mL)
MxMrxV 0,05x381x500
G

9,6 gram
1000
1000

Larutkan 9,6 gram Natrium tetraborat dengan akuades dalam gelas beker, kemudian
pindahkan ke dalam labu takar 500 mL dan tambahkan akuades sampai tanda batas.

III. BAHAN DAN ALAT


3.1

Bahan
HCl 0,1M, NaOH 0,1M, indikator fenolftalein (PP), indikator metil orange, Boraks
(Na2B4O7.10H2O), akuades, H2C2O4.2H2O, asam cuka perdagangan.

3.2

Alat
Gelas ukur 25 ml, labu takar 100 ml, timbangan analitik, erlenmeyer, pipet tetes, buret, labu
takar 250 ml.

IV.

PROSEDUR KERJA

4.1

Membuat Larutan Standar HCl 0,1M


Terlebih dahulu hitunglah konsentrasi HCl pekat (molaritas) dengan menggunakan rumus :

x % x 10
Mr

Harga , % serta Mr dapat diketahui dari botol reagen.


Cara pembuatan HCl 0,1M
Untuk membuat HCL 0,1 M dari HCl pekat yang telah diketahui molaritasnya, dilakukan
pengenceran dengan menggunakan rumus :

V1 xM1 V2 xM2
Ambil x ml (V1)HCl pekat M1dengan gelas ukur atau pipet ukur dan dimasukkan ke dalam
labu takar yang mempunyai isi V2 ml, sehingga diperoleh HCl 0,1 M sebanyak V2 ml. Jika
akan membuat 250 ml maka masukkan HCl pekat tersebut dalam labu takar 250 ml dan
tambahkan akuades hingga tanda batas. Kocok perlahan hingga homogen.

4.2

Standarisasi larutan HCl dengan Boraks ( Na2B4O7.10 H2O)


Persamaan Reaksi:
Na2B4O7 10 H2O + 2 HCl 2 NaCl + 4H3BO3 + 5H2
1 grammolHCl =2 x grammol Na2B4O7 10H2O
Sehingga, larutan HCl 0,1 M (0,1 N) distandarisasi dengan larutan Boraks 0,05 M (0,1 N)
Konsentrasi HCl hasil standarisasi dapat dihitung dengan :
Diketahui :
Mboraks 0,05M
Vboraks 25ml
VHCl a ml
MHCl ?
VHCl x MHCl
mol HCl
2

VBoraks x MBoraks mol Boraks 1


MHCl

2 x Vboraks xMboraks
VHCl

Tahapan Kerja :
1.

Menimbang Na2B4O7.10 H2Oyang tepat di dalam botol penimbang 1,9 gram (untuk
membuat larutan boraks 0,05 M)

2.

Larutkan dalam gelas beker kemudian masukkan ke dalam labu ukur 100 mL,
tambahkan akuadest sampai volume 100 mL (tanda batas).

3.

Ambil 10 ml dan masukkkan ke dalam erlenmeyer. Beri 2 tetes indikator metil oranye.

4.

Larutan boraks dititrasi dengan HCl dalam buret sampai terlihat perubahan warna dan
catatlah volume HCl.

Perhitungan :
Mr Na2B4O710H2O = 381 g/mol
Massa boraks = 1,9 gram
MBoraks = 0,05 M
VBoraks = 10 mL
V HCl = a ml
Molaritas HCl = MHCl

MHCl

4.3

2 x Vboraks xMboraks
VHCl

Membuat Larutan Standar NaOH 0,1M


Untuk membuat larutan NaOH 0,1 M dari kristal NaOH, dihitung dengan rumus :
G 1000
x
Mr V(mL)
G
1000
0,1M
x
40g / mol 100mL

G 0,4gram

Timbang 0,4 gram kristal NaOH. Larutkan kristal tersebut dan diencerkan hingga 100 ml
(labu takar).
Standarisasi NaOH dengan H2C2O4.2H2O (asam oksalat)
Persamaan reaksi:
H2C2O4 + 2 NaOH Na2C2O4 + 2 H2O
1 grammol NaOH = 2 grammol H2C2O4
Tahapan Kerja:

1.

Timbang dengan tepat asam oksalat dihidrat sebanyak 0,63 gram pada gelas arloji.
Larutkan dalam gelas beker kemudian pindahkan ke dalam labu ukur 100 mL dan
tambahkan akuades sampai tanda batas.

2.

Ambil 10 mL larutan asam oksalat dan masukkan ke dalam erlenmeyer.

3.

Beri 1-2 tetes indikator pp lalu dititrasi dengan larutan NaOH yang akan distandarisasi
hingga terjadi perubahan warna. Catat volume NaOH yang ditambahkan.

Perhitungan :
MrH2C2O4 = 126 g/mol
Massa H2C2O4 = 0,63 gram
MH2C2O4= 0,05 M
VH2C2O4= 10 mL
V NaOH = a ml
MolaritasNaOH = MNaOH

MNaOH

4.4

2 x VH2C2O4 xMH2C2O4
VNaOH

Penggunaan larutan standar asam dan basa untuk menetapkan kadar asam asetat
pada cuka
Tahapan Kerja:
1.

Sebanyak 10 mL larutan asam cuka perdagangan diambil dengan menggunakan pipet


ukur, dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL, encerkan dengan akuades sampai tanda
batas (pengenceran 10 kali, Fp = 10)

2.

Ambil 10 mL larutan yang telah diencerkan tersebut dengan pipet kemudian


dimasukkan ke dalam erlemneyer 250 mL, tambahkan 2-3 tetes indikator pp

3.

Larutan

tersebut

kemudian

dititrasi

dengan

larutan

NaOH

yang

telah

distandardisasi/dibakukan sampai terjadi perubahan warna (perubahan warna tidak akan


berubah apabila digoyang-goyangkan).
4.

Catat volume akhir titrasi NaOH dan hitung kadar asam asetat dalam cuka tersebut.

5.

Lakukan duplo

Perhitungan :
Reaksi : NaOH + CH3COOH CH3COONa + H2O

Konsentrasi asam cuka perdagangan :


Molaritas NaOH (hasil standarisasi) : a M
Volume titrasi rata-rata :b mL
(Masam cuka xVasam cuka ) (MNaOH xVNaOH )XFp
Masam cuka

(MNaOH xVNaOH )xFp


Vasam cuka

Masam cuka

(aMxbmL)x10
Vasam cuka

Kadar asam cuka perdagangan :


M = G/Mr x 1000/v (mL)
G = M x Mr x v (mL)
______________
1000
Kadar = G/0.01 L x 100% = % (b/v)

PERCOBAAN 4
LARUTAN PENYANGGA (BUFFER)
I.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

1. Memahami sifat larutan penyangga


2. Membuat larutan buffer
3. Mengukur pH larutan penyangga menggunakan pH meter
II.

DASAR TEORI

Larutan penyangga atau larutan buffer atau dapar merupakan suatu larutan yang dapat
mempertahankan nilai pH tertentu. Adapun sifat yang paling menonjol dari larutan
penyangga ini seperti pH larutan penyangga hanya berubah sedikit pada penambahan
sedikit asam kuat. Disamping itu larutan penyangga merupakan larutan yang dibentuk oleh
reaksi suatu asam lemah dengan basa konjugatnya ataupun oleh basa lemah dengan asam
konjugatnya. Reaksi ini disebut sebagai reaksi asam-basa konjugasi. Disamping itu
mempunyai sifat berbeda dengan komponen-komponen pembentuknya (Alexander ,2011).
Prinsip kerja larutan penyangga adalah ketika ion hidrogen ditambahkan pada larutan
penyangga, ion tersebut akan ternetralisasi oleh basa di dalam larutan penyangga. Ion
hidroksida juga akan ternetralisasi oleh asam. Reaksi netralisasi tersebut tidak akan
memberikan pengaruh yang banyak terhadap pH larutan penyangga (Padmono, 2007).
Larutan penyangga atau larutan buffer atau larutan dapar merupakan suatu larutan
yang dapat menahan perubahan pH yang besar ketika ion ion hidrogen atau hidroksida
ditambahkan, atau ketika larutan itu diencerkan. Buffer dapat dibagi menjadi 3 jenis sesuai
kapasitasnya, yaitu buffer yang kapasitasnya 0, buffer yang kapasitasnya tak hingga, serta
buffer yang kapasitasnya dibatasi sebanyak n. Buffer dengan kapasitas terbatas inilah yang
disebut sebagai bounded-buffer (Underwood, 2002 ). Sifat dari larutan buffer yaitu pH
larutan tidak berubah jika diencerkan dan tidak berubah pula jika ditambahkan kedalamnya
sedikit asam atau basa (Padmono, 2007).
Larutan buffer sering digunakan dalam bidang kimia analisis seperti pada pembuatan
fase gerak pada KCKT dan ekstraksi obat dari larutan berair. Jenis buffer yang paling
sederhana tersusun atas asam/basa lemah yang dikombinasikan dengan asam/basa kuat.
Sistem buffer yang umum adalah sistem natrium asetat atau asam asetat. Cara langsung
yang digunakan untuk membuat buffer adalah dengan menambahkan natrium hidroksida
pada asam asetat sampai pH yang dikehendaki tercapai. Kisaran pH yang paling efektif
untuk membuat buffer adalah satu unit pH disekitar nilai pKa asam atau basa lemah yang

digunakan untuk membuat buffer. Sebagai contoh, nilai pKa asam asetat adalah 4,76
karenanya kisaran pH buffer yang paling efektif adalah 3,76 hingga 5,76 (Golib, 2007).
III.

BAHAN DAN ALAT

Bahan :

HCl 0,01 M

NaOH 0,01 M

NaCl 0,1 M

Aquades

NH3 0,1 M

NH4Cl 0,1 M

CH3COOH 0,1 M

CH3COONa 0,1 M

Kertas lakmus

Alat :

Pipet ukur 10 mL

Bulb (bola hisap)

Gelas ukur 100 mL

Gelas ukur 50 mL

Beaker Glass 500 mL

Beaker Glass 100 mL

Beaker Glass 250 mL

pH meter & larutan buffer pH 4; 7: 9,21

Pengaduk

Tissue

Label

IV.

PROSEDUR KERJA

4.1 Kalibrasi pH meter


1. Siapkan pH meter dan larutan buffer dengan urutan pH 7; 4,01; dan 9,21 (biasanya
tersedia bersama pH meter)
2. Hidupkan alat
3. Bilas elektroda dengan aquades
4. Keringkan dengan tisu
5. Celupkan dalam larutan buffer pH 7

6. pilih mode kalibrasi


7. Tunggu selama 1-2 menit sampai pembacaan pH stabil (sampai nilai yang tertera di
display tidak berubah)
8. Angkat dan bilas elektroda dengan aquades , keringkan dengan tisu
9. Selanjutnya lakukan prosedur no 3-8 untuk buffer pH 4,01 kemudian buffer pH 9,21
10. pH meter telah siap digunakan
4.2 Pengujian Larutan Buffer
4.2.1 Pengujian Larutan Buffer NaCl 0,1 M
1.

Siapkan larutan 70 mL NaCl 0.1 M dan ukur pH nya dengan pH meter dan kertas
lakmus

2.

Siapkan 3 gelas kimia 100 ml, isi masing-masing dengan 20 ml larutan NaCl 0,1
M, kemudian:

Kedalam beaker glass I tambahkan 10 ml larutan HCl 0,01 M

Kedalam beaker glass II tambahkan 10 ml larutan NaOH 0,01 M

Kedalam beaker glass III tambahkan 20 ml akuades

Ukur pH ketiga larutan itu menggunakan pH meter dan kertas lakmus .

4.2.2 Pengujian Larutan Buffer Asetat


3. Campurkan 35 ml larutan CH3COOH 0,1 M dengan 35 ml larutan NaCH3COO 0,1
M dalam beaker glass yang berbeda. Ukur pH larutan tersebut menggunakan pH
meter dan kertas lakmus
4. Siapkan 3 beaker glass yang bersih, isi masing-masing beaker glass dengan 20
ml larutan dari prosedur (3). Kemudian:

Kedalam beaker glass I tambahkan 10 ml larutan HCl 0,01 M

Kedalam beaker glass II tambahkan 10 ml larutan NaOH 0,01 M

Kedalam beaker glass III tambahkan 20 ml akuades

Ukur pH ketiga larutan itu menggunakan pH meter dan kertas lakmus .

4.2.3 Pengujian Larutan Buffer Salmiak


5. Campurkan 35 ml larutan NH3 0,1 M dan35 ml larutan NH4Cl 0.1 M dalam sebuah
beaker glass. Ukur pH larutan tersebut.
6. Siapkan 3 beaker glass yang bersih, isi masing-masing beaker glass dengan 10
ml larutan dari prosedur (5). Kemudian:

Ke dalam gelas kimia 1 tambahkan 10 ml larutan HCl 0,01M

Ke dalam gelas kimia 2 tambahkan 10 ml larutan NaOH 0,01 M

Ke dalam gelas kimia 3 tambahkan 20 ml akuades

Ukur pH ketiga larutan tersebut menggunakan pH meter dan kertas lakmus

PERCOBAAN 5
REAKSI REDUKSI OKSIDASI
I.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS


1. Mempelajari reaksi reduksi
2. Mempelahari reaksi oksidasi

II.

DASAR TEORI
Reaksi oksidasi adalah reaksi yang menaikkan bilangan oksidasi suatu unsur dalam
zat yang mengalami oksidasi, dapat juga sebagai kenaikan muatan positif (penurunan
muatan negatif) dan umumnya juga kenaikan valensi.Sedangkan reaksi reduksi adalah
reaksi yang menurunkan bilangan oksidasi atau muatan positif, menaikkan muatan negatif
dan umumnya menurunkan valensi unsur dalam zat yang direduksi.Jadi ketika
mengoksidasi atau mereduksi suatu persenyawaan sebenarnya yang dioksidasi atau
direduksi itu adalah unsur tertentu yang terdapat dalam persenyawaan tersebut. Contoh:
MnO2 + 4 HCl

MnCl2 + Cl2 + 2 H2O

Pada reaksi di atas, MnO2 sebagai oksidator dan HCl sebagai reduktor, dengan
perkataan lain MnO2 mengoksidasi HCl sedangkan HCl mereduksi MnO2.Tetapi yang
dioksidasi ataupun direduksi adalah suatu unsur dalam persenyawaan-persenyawaan
yang bersangkutan. Dalam hal ini yang dioksidasi adalah unsur Cl karena muatannya
tampak berubah dari bermuatan negatif Cl- dalam HCl menjadi Cl0. Dalam molekul Cl2,
yang direduksi unsur Mn karena muatannya turun dari Mn4+ dalam MnO2 menjadi Mn2+
dalam MnCl2 (Fritz and Schenk, 1987)
Kadang-kadang oksidator dan reduktor dalam suatu reaksi merupakan unsur yang
sama, seperti contoh berikut:
Pb + PbO2 + 2 H2SO4

2 PbSO4 + 2H2O

Pada reaksi di atas, oksidatornya Pb4+ dari PbO2 dan reduktornya logam Pb dan
baik oksidator maupun reduktor berubah menjadi Pb2+ dalam PbSO4.

Reaksi ini terjadi dalam akumulator mobil yang sedang menghasilkan arus listrik
(tepatnya arus listrik terjadi karena reaksi tersebut). Bila aki tersebut sudah habis,
berarti sudah terlalu banyak yang berubah menjadi PbSO4, maka perlu direcharge dengan
memaksakan reaksi di atas berjalan ke arah sebaliknya, yaitu sebagai berikut:
2 PbSO4 + 2 H2O

Pb +PbO2 +2 H2SO4

Reaksi di atas juga merupakan reaksi redoks baik oksidator maupun reduktornya
merupakan unsur yang sama yaitu Pb2+ yang direduksi menjadi Pb0, sedang Pb2+ sebagai
reduktor dioksidasi menjadi Pb4+. Reaksi demikian dimana oksidator dan reduktornya zat
yang sama, bahkan unsur yang sama dengan tingkat bilangan oksidasi yang sama pula
dinamakan reaksi disproporsionasi atau auto oskidasi reduksi.
Kemungkinan terjadinya suatu reaksi redoks
Untuk mengetahui apakah terjadi reaksi redoks bila zat A direaksikan dengan zat B, ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1.

Tingkat oksidasi unsur-unsur dalam zat A maupun zat B, apakah ada yang dapat
naik dan ada yang dapat turun bilangan oksidasinya. A harus berisi unsur yang
dapat dioksidasi dan B berisi unsur yang dapat direduksi atau sebaliknya. Misalnya
reaksi antara asam nitrat dan ferri oksida.
HNO3 + Fe2O3

Reaksi di atas bukan reaksi redoks karena H, N dan Fe sudah mempunyai bilangan
oksidasi, hanya dapat direduksi.
Lain halnya dengan reaksi:
FeSO4 + I2

Reaksi di atas mungkin merupakan reaksi redoks, karena Fe2+ muatannya dapat
naik menjadi Fe3+, sedang I0 muatannya turun menjadi I-.
2.

Apakah benar terjadi reaksi redoks, masih tergantung dari kekuatan oksidator dan
kekuatan reduktor. Perhatikan reaksi antara FeSO4 dan I2 maka artinya apalah I2
cukup kuat untuk mengoksidasi FeSO4 atau sebaliknya apakah FeSO4 cukup kuat
untuk mereduksi I2. Harus dimengerti bahwa oksidator maupun reduktor

mempunyai kekuatan yang berbeda-beda. Ukuran kekuatan mengoksidasi atau


mereduksi itu diberikan oleh besarnya potensial redoks system yang bersangkutan.
Lebih jelasnya, seandainya terjadi oksidasi FeSO4 oleh I2, maka reaksinya sebagai
berikut:
6 FeSO4 + 3 I2

2 Fe(SO4)3 + 2 FeI3

Atau dengan reaksi ion, yang terjadi sebenarnya ialah:


2 Fe2+ + I2

2 Fe3+ + 2 I-

Fe2+ melepaskan electron yang diterima oleh I2, maka reaksi yang terjadi dengan
perantaraan electron tersebut dapat dipecah menjadi dua reaksi separuh atau half
reaction, sebagai berikut:
2 Fe2+
I2 + 2 e

2 Fe3+ + 2 e
2 I-

Tiap reaksi separuh merupakan pasangan redoks dari bentuk oksidator dan
bentuk reduktor zat tertentu dan setiap pasangan mempunyai nilai potensial redoks
standart (Eo) yang dapat dicari dalam tabel potensial redoks.
III. BAHAN DAN ALAT
Bahan

: Logam seng
Logam tembaga
Larutan CuSO4 0.1 M
Larutan AgNO3 0.1 M
Amplas

Alat

: Botol kaca kecil


Gelas ukur
Botol semprot
Pipet ukur
Penjepit kayu

IV.

CARA KERJA
1.

Siapkan alat dan bahan.

2.

Masukkan larutan CuSO4 0.1 M sebanyak 10 ml ke dalam botol kaca kecil.

3.

Siapkan sepotong logam seng berukuran 40.5 cm yang telah diamplas bersih.
Kemudian masukkan ke dalam larutan CuSO4.

4.

Amati perubahan yang terjadi.

5.

Lakukan kembali percobaan seperti di atas dengan menggunakan logam tembaga


dan mengganti larutan CuSO4 0.1 M dengan larutan AgNO3 0.1 M.

PERCOBAAN 6
PENENTUAN KONSENTRASI ZAT WARNA MENGGUNAKAN
SPEKTROFOTOMETER UV-VIS
I.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS :


1.

Membuat kurva standar kalium permanganat.

2.

Menentukan konsentrasi kalium permanganat dalam larutan sampel yang belum


diketahui konsentrasinya dengan metode spektrometri.

II.

DASAR TEORI
Analisis spektrofotometri sinar tampak merupakan analisis kimia yang didasarkan
pada pengukuran intensitas warna larutan yang akan ditentukan konsentrasinya
dibandingkan dengan warna larutan standar, yaitu larutan yang telah diketahui
konsentrasinya. Penentuan konsentrasi didasarkan pada absorpsimetri, yaitu metode
analisis kimia yang didasarkan pada pengukuran absorpsi (serapan) radiasi gelombang
elektromagnetik (Thomas dan Burgess, 2007).
Metode analisis spektrofotometri digunakan pada larutan berwarna, dimana
absorpsi terjadi pada bagian sinar tampak (visible) dari spektrum gelombang
elektromagnetik, yaitu pada panjang gelombang 400 750 nm.Jika larutan tidak
berwarna, maka larutan direaksikan dengan pereaksi kimia yang sesuai agar senyawa
dalam larutan menjadi berwarna. Adapun spektrum cahaya tampak (warna yang
diserap) dan warna-warna komplementer (warna yang dilihat oleh mata) adalah
sebagai berikut (Thomas dan Burgess, 2007):
Panjang gelombang, nm

Warna yang
diserap

Warna komplementer

400-435

Violet

Kuning-hijau

435-480

Biru

Kuning

480-490

Hijau-biru

Orange

490-500

Biru-hijau

Merah

500-560

Hijau

Ungu

560-580

Kuning-hijau

Violet

580-595

Kuning

Biru

595-610

Orange

Hijau-biru

610-750

Merah

Biru-hijau

Pengukuran absorbansi spektrofotometer biasanya dilakukan pada yang sesuai


dengan absorbansi larutan encer yang masih terdeteksi.Adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi absorbansi adalah jenis pelarut, pH, suhu, konsentrasi, elektrolit yang
tinggi dan adanya pengganggu (Thomas dan Burgess, 2007).
Bila radiasi elektromagnetik dilewatkan pada suatu bahan atau larutan dalam
media transparan (kuvet), maka ada beberapa kemungkinan pada radiasi tersebut,
yaitu:
a. diserap (absorbed)
b. diteruskan (transmitted)
c. dipantulkan (reflected)
d. dihamburkan (scattered)
Jika ditulis dalam persamaan, maka sinar atau intensitas yang datang (Io) (cahaya
yang dilewatkan pada suatu bahan) adalah penjumlahan dari sinar yang diserap (Ia),
sinar yang diteruskan (It), sinar yang dipantulkan (Ir) dan sinar yang dihamburkan
(Is):
Io = Ia + It + Ir + Is
Meskipun efek dari keempat kemungkinan di atas pada umumnya terjadi, tetapi dapat
diusahakan untuk memperkecil efek penghamburan dan pemantulan sehingga
interaksinya dibatasi pada sinar yang diserap dan diteruskan saja.
Hukum Yang Melandasi Spektrofotometri (Day and Underwood, 2001)
Hukum Lambert-Beer dijadikan landasan dalam analisis spektrofotometri.Jika
suatu cahaya monokromatik melalui suatu media yang transparan, maka logaritma
intensitas cahaya yang datang dibanding intensitas cahaya yang diteruskan sebanding
dengan absorbansi serta absorptivitas molar (koefisien ekstingsi molar), tebal media
(kuvet) dan konsentrasi larutan.Nilai koefisien ekstingsi molar bergantung pada sifat
absorpsi molar spesies dan panjang gelombang yang digunakan.Penyimpangan
Hukum Lambert- Beer disebabkan oleh efek fisika atau kimia, variasi indeks refraksi
dengan konsentrasi dan batas lebar pita sinar datang.
Log (Io/It) = - log T = A = abc

Io

It

Larutan pengabsorbsi berkonsentrasi c


Keterangan:
Io: Intensitas cahaya yang datang
It: Intensitas cahaya yang diteruskan
T : Transmitansi
A: Absorbansi
a : absorptivitas molar
b : tebal media
c : konsentrasi larutan
Spektrum Absorpsi
Spektrum absorpsi menyatakan hubungan antara absorbansi (A) sebagai sumbu
y dengan panjang gelombang () sebagai sumbu x. Spektrum absorbsI berguna dalam
penentuan panjang gelombang maksimum ( maks). Pengukuran spektrum absorbsi
dilakukan dengan cara mengukur absorbansi larutan dengan konsentrasi tetap pada
berbagai panjang gelombang. Panjang gelombang maksimum diperoleh dari pemilihan
panjang gelombang yang menghasilkan absorbansi maksimum.
Untuk mengetahui apakah senyawa pengabsorbi memenuhi hukum LambertBeer, maka diperlukan plot kurva baku/standar absorbansi terhadap konsentrasi.
Konsentrasi larutan yang akan diukur ditentukan dari pengukuran absorbansi atau
transmitansi pada panjang gelombang tertentu (tetap) beberapa larutan yang telah
diketahui konsentrasinya (larutan baku), selanjutnya dibuat plot (grafik) kurva standar
antara absorbansi (sumbu y) dengan konsentrasi (sumbu x).
Instrumentasi Spektrofotometer (Spectronic)
Spektrofotometer (Spektronik) pada prinsipnya terdiri dari monokromator kisi
difraksi dan sistem deteksi elektronik, amplifikasi dan pengukuran.

Skema bagian-bagian spektrofotometer


Atau secara garis besar terdiri dari:
1. Sumber Cahaya
Sumber cahaya merupakan sumber tenaga radiasi yang stabil, sumber yang
biasa digunakan adalah lampu tungsten (wolfram). Sumber cahaya berfungsi
untuk

memancarkan

cahaya

polikromatis.

Sumber

cahaya

pada

spektrofotometer, harus memiliki pancaran radiasi yang stabil dan intensitas


yang tinggi. Cahaya polikromatis ini kemudian menuju bagian spektrofotometer
yang berikutnya yaitu monokromator.
2. Monokromator
Monokromator berfungsi untuk menyeleksi cahaya polikromatis sehingga
dihasilkan cahaya monokromatis dengan panjang gelombang sesuai dengan
yang diinginkan. Sistem monokromator ini terdiri dari Prisma, Grating (kisi
difraksi),

dan

Slit. Cahaya monokromatis diseleksi panjang gelombang

tertentunya yang sesuai, kemudian dilewatkan melalui celah sempit yang disebut
slit. Ketelitian dari monokromator dipengaruhi juga oleh lebar celah (slit width)
yang dipakai. Cahaya monokromatis yang dihasilkan kemudian dilewatkan ke
sampel.
3. Tempat Sampel (cuvet)
Kuvet merupakan tempat untuk menampung sampel yang akan dianalisis
menggunakan spektrofotometer. Kuvet terbuat dari bahan kuarsa, plexiglass dan
terdapat pula kuvet jenis disposable yang terbuat dari plastik. Kuvet memiliki
bentuk tabung empat persegi dengan ukuran panjang 1 x 1 cm dan tinggi 5 cm.
Di dalam kuvet, cahaya monokromatis yang dilewatkan ke sampel akan sebagian
diserap dan sebagian diteruskan.
4. Detektor

Peranan detektor penerima adalah memberikan respon terhadap cahaya pada


berbagai panjang gelombang. Detektor akan mengubah energi cahaya menjadi
energi listrik yang selanjutnya akan ditampilkan oleh penampil data dalam
bentuk jarum penunjuk atau angka digital.
5. Output data/Data Visual
Output

data

merupakan

bagian

dari

spektrofotometer

yang

berfungsi

menunjukan data absorbansi yang dihasilkan. Jenis dari output data berbedabeda tergantung jenis spektrofotometernya. Dapat berupa komputer di luar
spektrofotometer atau di dalam spektrofotometer tersebut.
III.

ALAT DAN BAHAN


Alat:
1. Labu Takar 10 mL
2. Tabung reaksi
3. Rak tabung reaksi
4. Aluminium Foil
5. Gelas Beaker 250 mL
6. Gelas Beaker 500 mL
7. Pipet Tetes
8. Pipet Ukur 10 mL
9. Botol Semprot
10. Spektrofotometer
11. Kuvet
Bahan:
1. Larutan Induk KMnO4 10-3M
2. Larutan Sampel A
3. Larutan Sampel B
4. Aquadest
5. Tissue

IV.

PROSEDUR KERJA
1.

Buat larutan standar KMnO4 dengan mengencerkan larutan KMnO4 10-3 M menjadi
1x10-4; 2x10-4; 3x10-4; 4x10-4; dan 5x10-4 menggunakan akuades. Konsentrasi
yang digunakan menggunakan rentang yang cukup jauh agar menghasilkan kurva
yang optimum dan hasil absorbansi yang memenuhi hukum Lambert-Beer yaitu
0,2 1.

2.

Kemudian ukur Absorbansi (A) larutan KMnO4 5x10-4 M pada panjang gelombang
490 nm - 550 nm. Tentukan panjang gelombang () maksimumnya.

3.

Ukur absorbansi masing-masing larutan pada maksimum yang diperoleh pada


langkah ke-2.

4.

Buat kurva standar antara Absorbansi (y) terhadap konsentrasi (sumbu x)

5.

Letakkan larutan sampel kalium permanganat yang ingin diketahui konsentrasinya


dalam kuvet dan ukur absorbansi larutan sampel pada maksimum.

6.

Gunakan kurva standar untuk menentukan konsentrasi larutan sampel KMnO4.

7.

Bahas hasil yang diperoleh.

NOTE : pembacaan Absorbansi larutan pada range 0,2-1,0.