Anda di halaman 1dari 6

Nama : Shahnaz Nadia

NPM

: 1243050029
1. Metode OECD Guideline 423 Pada Pengujian Toksisitas:

Pada tahun 2001, OECD mengeluarkan pedoman uji toksisitas akut oral
yang lain yaitu OECD 423 sebagai alternatif untuk uji toksisitas akut oral yang
dapat menggantikan metode 401 (Schelde, Elke, Gisela, & Detlev, 2005; OECD
2001 c). Prinsip dari metode toksisitas akut oral ini adalah hewan uji yang
digunakan lebih sedikit (3 hewan uji dengan jenis kelamin yang sama tiap tahap
uji) dan menggunakan kematian hewan uji sebagai endpoint (Barile, 2008).
Kelompok hewan uji (3 hewan uji) diberikan dosis awal dan dilihat respon
kematian dan respon fisiologisnya. Pemberian dosis selanjutnya mengikuti respon
dari hewan uji yang diberikan dosis awal. Jika jumlah hewan uji yang mati lebih
dari satu, maka dosis untuk uji berikutnya diturunkan, begitupun sebaliknya
(OECD, 2001 c).
Sebelum dilakukan uji utama, dilakukan uji pendahuluan terlebih dahulu
untuk menentukan dosis awal menggunakan satu hewan uji pada tiap dosis.
Hewan uji yang digunakan adalah tikus atau mencit (rodentia) dengan jenis
kelamin betina. Hewan uji jantan tidak diikutsertakan karena menurut beberapa
penelitian menyatakan bahwa hewan uji betina (tikus maupun mencit) lebih
sensitif dalam pengujian (OECD, 2001 a,b,c). Setidaknya menggunakan 3 hewan
uji untuk masing-masing kelompok dosis namun dilakukan uji pendahuluan
terlebih dahulu.
Dosis yang diberikan pun sama dengan dosis pada pedoman OECD 420
yaitu 5, 50, 300, dan 2000 mg/ kg bb. Perbedaannya hanya pada jumlah mencit
tiap dosis (OECD, 2001 b,c). Nilai LD50 ditentukan dari jumlah hewan uji yang
mati pada kelompok dosis yang diberikan.

2. Beberapa metode yang umum dipakai untuk menentukan

LD50
a. Metode Trevan
Metode Trevan mulai digunakan pada tahun 1972
(Anonimous

2006).

Metode

ini

merupakan

cara

yang

sederhana, tetapi memerlukan jumlah hewan yang besar


untuk memperoleh hasil yang lebih teliti. Beberapa tingkat
dosis harus ditentukan terlebih dahulu. Pengamatan dilakukan
24 jam setelah perlakuan dan ditentukan persen kematian
setiap kelompok. Antara log dosis dan persen kematian
dihubungkan sehingga didapatkan grafik yang berbentuk
sigmoid. Nilai LD50 didapatkan dengan cara menarik garis dari
angka 50% pada sumbu Y dan diplotkan pada sumbu X. Titik
potong pada absis merupakan LD50 yang ditentukan.
b. Metode Perhitungan dengan Cara Grafik Miller dan
Tainter
Metode perhitungan Miller dan Tainter mulai digunakan
pada tahun 1944. Metode Miller dan Tainter merupakan
metoda yang paling umum dipakai dalam perhitungan efektif
dosis

(Anonimous

2006).

Perhitungan

LD 50 berdasarkan

metode ini memerlukan kertas probit logaritma. Skala yang


digunakan adalah skala logaritma dan skala probit. Skala
logaritma digunakan pada absis sebelah kanan sedangkan
skala probit digunakan pada ordinat sebelah kiri. Skala dibuat
dalam skala persen yang setara dengan skala probit atau nilai
persen dapat dilihat di dalam tabel probit.
c. Metode Aritmatik Reed dan Muench
Metode ini menggunakan nilai-nilai kumulatif. Asumsi
1
yang dipakai bahwa kematian
seekor hewan akibat dosis

tertentu akan mengalami kematian juga oleh dosis yang lebih

besar dan hewan bertahan hidup pada dosis tertentu juga


akan tetap bertahan hidup pada dosis yang lebih rendah.
Kematian kumulatif diperoleh dengan menambahkan secara
suksesif ke bawah dan hidup kumulatif diperoleh dengan
menambahkan secara suksesif ke atas. Persen hidup dari
dosis-dosis yang berdekatan dengan LD50 dihitung.

Penetuan LD50 didapatkan berdasarkan persamaan berikut :

Persentase tepat di atas 50% - % hidup dibawah 50%


P.D = Persentase tepat di atas 50% - % tepat dibawah
50%

Sehingga nilai LD50 didapatkan, Log 10 LD50 = - 7 + (P.Dx


10)
Dimana :
P.D = Jarak proporsional
P = Proporsi peningkatan dosis
d. Metode Karber
Metode Karber mulai digunakan pada tahun 1931
(Anonimous 2006). Perhitungan nilai LD50 berdasarkan metode
Karber menggunakan rata-rata dari jumlah kematian hewan
pada tiap kelompok dan perbedaan antar dosis untuk interval
yang sama. Hasilhasil dari dosis yang lebih besar dari dosis
yang

menyebabkan

kematian

seluruh

hewan

dalam

sekelompok dosis dan dosis yang lebih rendah yang dapat


ditolerir oleh seluruh hewan dalam suatu kelompok, tidak
digunakan. Jumlah perkalian diperoleh dari hasil kali beda
dosis dengan rata-rata kematian pada interval yang sama.
Nilai LD50, didapatkan dari dosis terkecil yang menyebabkan
2

kematian seluruh hewan dalam satu kelompok, dikurangi

dengan jumlah perkalian dibagi jumlah hewan dalam tiap


kelompok. Apabila dijabarkan dalam bentuk rumus adalah
seperti berikut.
LD 50 = a (b/c)
Dimana :

a = Dosis terkecil yang menyebabkan kematian tertinggi

dalam satu kelompok dosis


b = Jumlah perkalian antara beda dosis dengan rata-rata

kematian pada interval sama.


c = Jumlah hewan dalam satu kelompok.
e. Metode Perhitungan Secara Grafik

Litchfield

dan

Wilcoxon
Metode Litchfield dan Wilcoxon mulai digunakan pada
tahun 1949. Metode ini merupakan salah satu metode yang
sering dipakai dalam penetuan efektif dosis (Anonimous
2006). Metode ini terdiri dari tingkat data dan range data
dosis yang digunakan. Tingkat data akan dibandingkan
dengan suatu nilai untuk melihat diterima atau tidaknya
hipotesis

yang

menggunakan

digunakan

banyak

tabel

(EPA

2002).

Metode

dan

beberapa

ini

monogram.

Heterogenitas data ditentukan dengan uji chi kuadrat.


f. Metode Thomson dan Weil
Metode Thomson dan Weil mulai digunakan pada tahun
1952. Metode Thomson dan Weil memiliki kelebihan dari pada
metode-metode sebelumnya. Metode Thomson dan Weil
mempunyai

tingkat

kepercayaan

yang

cukup

tinggi

(Anonimous 2006). Metode ini merupakan metode yang sering


digunakan karena tidak memerlukan hewan percobaan yang
cukup banyak. Perhitungan LD50 tidak menggunakan kertas
probit logaritma. Uji heterogenitas data tidak dilakukan dalam
metode Thomson dan Weil (Anonimous 2006). Metode ini
3

menggunakan daftar perhitungan LD50 sehingga hasil lebih

akurat. Bentuk rumus dari metode Thomson dan Weil adalah


sebagai berikut:
Log LD50 = Log D + d (f + 1)
Keterangan:

D = dosis terkecil yang digunakan


d = logaritma kelipatan
f = suatu faktor pada daftar perhitungan LD50 Weil (1952),

dimana
r adalah jumlah kematian hewan dalam satu kelompok uji
n adalah jumlah hewan percobaan per kelompok
k adalah jumlah hewan percobaan -1

Kisaran nilai LD50 dihitung dengan rumus:


Log kisaran = Log LD50 2 d f
Dimana f = suatu nilai pada tabel yang tergantung pada nilai
n dan k
g. Cara Farmakope Indonesia

Menurut Farmakope Indonesia III penelitian toksisitas akut harus


memenuhi syarat sebagai berikut:
1) Menggunakan seri dosis dengan pengenceran berkelipatan tetap.
2) Jumlah hewan percobaan atau jumlah biakan jaringan tiap kelompok harus
sama.
3) Dosis diatur sedemikikan rupa, sehingga memberikan efek dari 0% sampai
100%. Nilai LD50 dapat dihitung dengan rumus:
m = a b (pi 0,5 )
Dimana:

m = log LD50
a = logaritma dosis terendah yang masih menyebabkan kematian 100%
tiap kelompok.
b = beda logaritma dosis yang berurutan.
pi = jumlah hewan yang mati yang menerima dosis i dibagi
dengan jumlah hewan seluruhnya yang menerima dosis i