Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Tujuan Percobaan
Mengetahui pengaruh lama waktu ekstraksi terhadap waktu ekstrak yang
didapatan dengan menggunakan proses ekstraksi batch
Mengetahui pegaruh suhu ekstraksi terhadap hasil ekstrak yang

1.2.

didapatkan dengan menggunakan proses ekstraksi secara batch


Tinjauan Pustaka
Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun
cair dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat
mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya.
Ekstraksi padat cair atau leaching adalah transfer difusi komponen
terlarut dari padatan inert ke dalam pelarutnya. Proses ini merupakan proses
yang bersifat fisik karena komponen terlarut kemudian dikembalikan lagi ke
keadaan semula tanpa mengalami perubahan kimiawi. Ekstraksi dari bahan
padat dapat dilakukan jika bahan yang diinginkan dapat larut dalam solven
pengekstraksi. Ekstraksi berkelanjutan diperlukan apabila padatan hanya
sedikit larut dalam pelarut. Namun sering juga digunakan pada padatan yang
larut karena efektivitasnya. [Lucas, Howard J, David Pressman. Principles
and Practice In Organic Chemistry].
Banyak proses biologi, inorganik dan substansi organik terjadi
dalam campuran dengan komponen yang berbeda dalam solid. Tujuannya
adalah untuk memisahkan campuran solute atau menghilangkan komponen
solute yang tidak diinginkan fase solid, solid dikontakkan dengan fase cair.
Dua fase ini dikontakkan dengan intim dan solute dapat mendifusi dari fase
solid ke fase cair yang mana menyebabkan pemisahan original komponen
dalam solid. Proses ini disebut liquid-solid leaching atau leaching
sederhana. Istilah ekstraksi juga digunakan untuk mendeskripsikan unit

operasi, meskipun itu juga mengarah pada liquid-liquid. Dalam leaching


ketika komponen yang tidak diinginkan dihilangkan dari solid dengan
menggunakan air, proses ini disebut washing (pencucian) (Geankoplis,
1997:723).
Leaching ialah suatu perlakuan istimewa dalam satu atau lebih komponen
padatan yang terdapat pada suatu larutan. Dalam unit operasi, leaching
merupakan salah satu cara tertua dalam industri kimia, yang pemberian
namanya tergantung dari cara yang digunakan. Industri metalurgi ialah
pengguna terbesar operasi leaching ini. Dalam penggunaan campuran
mineral dalam jumlah besar dan tak terhingga, leaching dipakai sebagai
pemisah. Contoh, tembaga yang terkandung dalam biji besi dileaching
dengan asam sulfat atau amoniak, dan emas dipisahkan dengan larutan
sodium sianida. Leaching memainkan peranan penting dalam proses
metalurgi alumunium, cobalt, mangan, nikel dan timah (Tim Dosen Teknik
Kimia, 2009: 45). Ektraksi padat-cair juga digunakan dalam industri dalam
manufaktur dari kopi instan untuk menutup kembali pelarut kopi dari
lingkungan sekitar. Aplikasi lainnya dalam dunia industri termasuk ekstraksi
inyak kacang kedelai menggunakan hexane sebagai pelarut dan discovery
dari uranium dai ores low grade dengan ekstraksi dengan asam sulfur atau
sodium karbonat (Foust dkk, 1980: 15-16). Bila zat padat itu membentuk
massa terbuka yang permeabel atau telus (permeable) selama proses
leaching itu, pelarutnya mungkin berperkolasi (mengalir melalui ronggarongga) dalam hamparan zat padat yang tidak teraduk. Dengan zat padat
yang tak permeabel yang tersintrgasi pada waktu proses leaching, zat padat
itu terdispersi (tersebar) ke dalam pelarut, dan dipisah kemudian dari pelarut
itu. Kedua metode itu dapat dilaksanakan dengan sistem tumpak (batch)
maupun kontinu (sinambung) (Mc Cabe dkk, 1994: 80).
Dalam beberapa kasus leaching hamaparan zat padat, pelarutnya
mungkin bersifat mudah menguap, sehingga operasinya memerlukan tangki
tertutup di bawah tekanan. Tekanan diperlukan pula untuk mendorong
pelarut melalui zat padat yang kuran permeabel. Deretan tangki bertekanan,

yang dioperasikan dengan aliran pelarut arus lawan-arah dinamakan baterai


difusi (diffusion battery). Pengurasan dengan hamparan bergerak melalui
pelarut tanpa pengadukan atau dengan sedikit sekali pengadukan. Ekstraktor
Bollman mempunyai elevator yang ditempatkan dalam suatu rumahan.
Ember-ember itu berlubang-lubang dasarnya.
Ada beberapa jenis metode operasi leaching, yaitu :
1. Operasi dengan sistem bertahap tunggal dalaam metode ini pengontakan
antara padatan dan pelarut dilakukan sekaligus dan kemudian disusul
dengan pemisahan larutan dari padatan sisa. Cara ini jarang ditemui
dalam operasi industri, karena perolehan solute yang rendah
2. Operasi kontinu dengan sistem bertahap banyak dengan aliran
berlawanan (countercurrent) dalam sistem ini aliran bawah dan atas
mengalir secara berlawanan. Operasi ini dimulai pada tahap pertama
dengan mengontakkan larutan pekat, yang merupakan aliran atas tahap
kedua, dan padatan baru, operasi berakhir pada tahap ke n (tahap
terakhir), dimana terjadi pencampuran antara pelarut baru dan padatan
yang berasal dari tahap ke-n (n-1). Sistem ini memungkinkan didapatnya
perolehan solute yang tinggi, sehingga banyak digunakan di dalam
industri (Treyball, 1985: 719).
Ada empat faktor penting yang harus diperhatikan dalam operasi ekstraksi:
1. Ukuran partikel
Ukuran partikel mempengaruhi kecepatan ekstraksi. Semakin kecil
ukuran partikel maka areal terbesar antara padatan terhadap cairan
memungkinkan terjadi kontak secara tepat. Semakin besar partikel, maka
cairan yang akan mendifusi akan memerlukan waktu yang relative lama
2. Faktor pengaduk
Semakin cepat laju putaran pengaduk partikel akan semakin terdistribusi
dalam permukaan kontak akan lebih luas terhadap pelarut. Semakin lama
waktu pengadukan berarti difusi dapat berlangsung terus dan lama
pengadukan harus dibatasi pada harga optimum agar dapat optimum agar
konsumsi energi tak terlalu besar. Pengaruh faktor pengadukan ini hanya
ada bila laju pelarutan memungkinkan.
3. Temperatur

Pada banyak kasus, kelarutan material akan diekstraksi akan meningkat


dengan temperatur dan akan menambah kecepatan ekstraksi.
4. Pelarut
Pemilihan pelarut yang baik adalah pelarut yang sesuai dengan viskositas
yang cukup rendah agar sirkulasinya bebas. Umumnya pelarut murni
akan digunakan meskipun dalam operasi ekstraksi konsentrasi dari solute
akan meningkat dan kecepatan reaksi akan melambat, karena gradien
konsentrasi akan hilang dan cairan akan semakin viskos pada umumnya
(Coulson, 1955: 721). Dalam biologi dan proses pembuatan makanan,
banyak produk yang dipisahkan dari struktur alaminya menggunakan
ekstraksi cair-padat. Proses terpenting dalam pembuatan gula, leaching
dari umbi-umbian dengan produksi minyak tumbuhan, pelarut organic
seperti hexane, acetone, dan lainnya digunakan untuk mengekstrak
minyak dari kacang kedelai, biji bunga tumbuhan dan lain-lain. Dalam
industri farmasi, banyak produk obat-obatan diperoleh dari leaching akar
tanaman, daun dan batang. Untuk produksi kopi instan, kopi yang sudah
dipanggang di leaching dengan air segar. Teh dapat larut diproduksi
dengan menggunakan pelarut air dan daun teh (Geankoplis, 1997: 724725).
Karena alasan ekonomi dan pelestarian lingkungan, seringkali sisa
pelarut yang tertinggal dalam rafinat dipisahkan (misalnya dengan
pemanasan langsung menggunakan kukus) dan diambil kembali pada akhir
proses ekstraksi.Untuk mencapai unjuk keda ekstraksi atau kecepatan
ekstraksi yang tinggi pada ekstraksi padat-cair, syarat-syarat berikut harus
dipenuhi:

Karena perpindahan massa berlangsung pada bidang kontak antara fasa


padat dan fasa cair, maka bahan itu perlu sekali memiliki permukaan
yang seluas mungkin. Ini dapat dicapai dengan rnemperkecil ukuran
bahan ekstraksi. Dalam hal itu lintasan-lintasan kapiler,yang harus
dilewati dengan cara difusi, menjadi lebih pendek sehingga mengurangi

tahanannya. Pada ekstrak terkurung dalarn sel-sel seringkali perlu


dibentuk kontak langsung dengan pelarut melalui dinding sel yang
dipecahkan. Pemecahan dapat dilakukan misalnya dengan menekan atau
menggerus bahan ekstraksi.Untuk alat-alat ekstraksi tertentu harus dijaga
agar pada pengecilan bahan ekstraksi, ukuran partikel yang diperoleh
tidak menjadi terlalu kecil. Bila hal itu terjadi, tidak dapat dipastikan
bahwa bahan ekstraksi cukup permeabel untuk pelarut.

Kecepatan alir pelarut, sedapat mungkin besar dibandingkan dengan laju


alir bahan ekstraksi, agar ekstrak yang terlarut dapat segera diangkut
keluar dari permukaan bahan padat. Tergantung pada jenis ekstraktor
yang digunakan, hal tersebut dapat dicapai baik dengan pengadukan
secara turbulen, atau dengan pemberian laju alir pelarut yang tinggi Suhu
yang lebih tinggi (viskositas pelarut lebih rendah, kelarutan ekstrak lebih
besar) pada umumnya menguntungkan untuk kerja ekstraksi.

Ekstraksi padat-cair tak kontinu


1. Dalam hal yang paling sederhana bahan ekstraksi padat dicampur
beberapa kali dengan pelarut segar di dalam sebuah tangki pengaduk.
Larutan ekstrak yang terbentuk setiap kali dipisahkan dengan cara
penjernihan (pengaruh gaya berat) atau penyaringan (dalam sebuag alat
yang dihubungkan dengan ekstraktor).Proses ini tidak begitu ekonomis,
digunakan misalnya di tempat yang tidak tersedia ekstraktor khusus atau
bahan ekstraksi tersedia dalam bentuk serbuk sangat halus, sehingga
karena bahaya penyumbatan,ekstraktor lain tidak mungkin digunakan.
2. Ekstraktor yang sebenamya adalah tangki-tangki dengan pelat ayak yang
dipasang di dalamnya. Pada alat ini bahan ekstraksi diletakkan diatas
pelat ayak horisontal. Dengan bantuan suatu distributor, pelarut dialirkan
dari atas ke bawah. Dengan perkakas pengaduk (di atas pelat ayak) yang
dapat dinaikturunkan, pencampuran seringkali dapat disempurnakan, atau
rafinat dapat dikeluarkan dari tangki setelah berakhirnya ekstraksi.

Ekstraktor semacarn ini hanya sesuai untuk bahan padat dengan partikel
yang tidak terlalu halus.
Yang lebih ekonomis lagi adalah penggabungan beberapa ekstraktor yang
dipasang seri dan aliran bahan ekstraksi berlawanan dengan aliran pelarut.
Dalam hal ini pelarut dimasukkan kedalam ekstraktor yang berisi campuran
yang telah mengalami proses ekstraksi paling banyak. Pada setiap ekstraktor
yang dilewati, pelarut semakin diperkaya oleh ekstrak.Pelarut akan
dikeluarkan dalam konsentrasi tinggi dari ekstraktor yang berisi campuran
yang mengalami proses ekstraksi paling sedikit.Dengan operasi ini
pemakaian pelarut lebih sedikit dan konsentrasi akhir dari larutan ekstrak
lebih tinggi.
Cara lain ialah dengan mengalirkan larutan ekstrak yang keluar dari pelat
ayak

ke

sebuah

ketel

destilasi,

menguapkan

pelarut

di

situ,

menggabungkannya dalam sebuah kondenser dan segera mengalirkannya


kembali ke ekstraktor untuk dicampur dengan bahan ekstraksi. Dalam ketel
destilasi konsentrasi larutan ekstrak terus menerus meningkat. Dengan
metode ini jumlah total pelarut yang diperlukan relatif kecil. Meskipun
demikian, selalu terdapat perbedaan konsentrasi ekstrak yang maksimal
antara bahan ekstraksi dan pelarut.Kerugiannya, adalah pemakaian banyak
energi karena pelarut harus diuapkan secara terus menerus.
Pada ekstraksi bahan-bahan yang peka terhadap suhu terdapat sebuah bak
penampung sebagai pengganti ketel destilasi. Dari bak tersebut larutan
ekstrak dialirkan ke dalam alat penguap vakum (misalnya alat penguap pipa
atau film). Uap pelarut yang terbentuk kemudian dikondensasikan,pelarut
didinginkan dan dialirkan kem bali ke dalam ekstraktor dalam keadaan
dingin.

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-industri/teknologi-

proses/pelaksanaan-proses-ekstraksi/

BAB II
PERCOBAAN

2.1.
Variabel Percobaan
A. Variabel tetap
:
- Jumlah bahan (bayam merah) : 70 gram
- Volume pelarut (air)
:2L
B. Variabel berubah :
- Waktu ekstraksi
: 10,20,30,40,50 menit
- Suhu pelarut
: 50 oC dan 70 oC
2.2. Alat dan Bahan
A. Alat-alat yang digunakan:
- Kolom ekstraktor
- Tangku penampung (pemanas)
- Pompa
- beakerglass
- neraca digital
- piknometer
- thermometer
- stopwatch
- corong
- spektrofotometer
B. Bahan-bahan yang digunakan:
bayam merah
aquadest (H2O)
2.3.
Prosedur Percobaan
A. Persiapan Bahan
Menyiapkan bayam merah dipotong kasar sebanyak 70 gram
Memasukkan pelarut air sebanyak 2L ke dalam tangki pemanas
B. Preparasi larutan
Buat larutan besi sulfat 2-10 ppm sebanyak 100 mL
C. Menentukan Panjang Gelombang Maksimum
Pipet larutan besi sulfat 2 ppm sebanyak 50 mL
- Mengukur nilai %T dan A dari larutan 2 ppm dengan spektrofotometer
-

sinar tampak pada panjang gelombang 0 nm sampai 520 nm


Menggunakan larutan blangko untuk mengenolkan harga %T sebelum
pengukuran serapan larutan standart pada setiap penggantian panjang

gelombang.
Membuat kurva hubungan antara panjang gelombang dengan absorbansi

(%T) dan menentukan panjang gelombang maksimum.


D. Pembuatan kurva kalibrasi
Ambil larutan besi sulfat 2-10 ppm
Ukur besarnya transmitan pada panajang gelombang maksimum
Buat kurva kalibrasi antara panjang gelombang dan konsentrasi
E. Pengukuran sampel larutan
Ambil sampel produk ekstraksi pada berbagai waktu 10,20,30,40 dan 50
Ukur besarnya transmitan pada panjang gelombang maksimum

Tentukan konsentrasi larutan dari kurva kalibrasi


F. Prosedur proses ekstraksi warna
- Memasukkan air sebagai pelarut pada tangki pemanas sebanyak 2L dan

memanaskan sampai suhu mencapai 50 oC.


Memasukkan bahan ke dalam kolom ekstraktor sebanyak 70 gram.
Membuka valve (globe valve) dari tangki pemanas ke dalam kolom

ekstraktor setelah pelarut (air) mencapai suhu 50 oC.


Menghidupkan pompa dan motor ekstraktor, mengalirkan pelarut ke dalam

kolom ekstraktor dengan menggunakan spray dan membiarkan bahan di


-

dalam kolom ekstraktor selama 5 menit.


Mengeluarkan larutan warna yang telah terbentuk dari kolom ekstraktor

dengan membuka valve dari tangki ekstraktor ke dalam tangki penampung.


Kemudian mengulangi prosedur diatas dengan waktu : 10,20,30,40,50

menit.
Dan mengulangi kembali pada waktu yang sama dengan suhu 70 oC.
G. Menghitung densitas larutan warna
Menimbang piknometer kosong dan mencatat berat serta volume
-

piknometer kosong.
Mengambil beberapa mL larutan warna dan memasukkannya ke dalam

piknometer sampai penuh.


Menimbang piknometer yang telah terisi dengan larutan warna dan

mencatatnya.
Menghitung massa jenisnya dengan menggunakan rumus:

berat piknometer isi - berat piknometer kosong


Volume piknometer

H. Menghitung %yield produk


Menghitung %yield dengan rumus sebagai berikut:
%yield

2.4.
Gambar Peralatan
Keterangan gambar:
1. Thermo Controler
2. Tombol pompa
3. Tombol Heater
4. Tombol motor penggerak
5. Box control
6. Gate valve
7. Baut penyambung
8. Sprayer

berat produk

berat bahan baku

x100%

9. Kolom ekstraktor
10. Keranjang (tempat bahan)
11. Globe valve
12. Pompa
13. Check valve
14. Tangki pemanas
15. Heater
16. Flowmeter
Keterangan gambar:
1. Tombol turn on-off
2. Insert blank (larutan blanko)
3. Insert Unknown (larutan limbah)
4. Set tempat sampel
5. Skala pembacaan panjang gelombang ()
6. Set panjang gelombang
7. Kabel listrik
8. Set zero
9. Skala pembacaan (%T )
10. Set mode
11. Set function

2.5. Data Pengamatan


Tabel 2.5.1. Data kalibrasi spektrofotometer
No
1

Konsentrasi Fe(ppm)
2

Absorbansi
0,20412

0,45593

0,49894

0,49894

10

0,49080

Tabel 2.5.2.Data hasil pengamatan densitas larutan warna suhu 50 oC


No

t (menit)

Piknometer

Piknometer isi

(gr/ml)

13,84

44,27

1,2172

13,84

44,27

1,2172

13,84

44,13

1,2116

13,84

44,13

1,2116

13,84

43,72

1,1952

13,84

43,72

1,1952

13,84

43,71

1,1948

13,84

43,71

1,1948

13,84

43,68

1,1936

13,84

43,68

1,1936

13,84

43,22

1,1752

13,84

43,22

1,1752

rata-rata

kosong
1

10

15

20

25

30

Tabel 2.5.3.Data hasil pengamatan densitas larutan warna suhu 50 oC

1,2172

1,2116

1,1952

1,1948

1,1936

1,1752

No

t (menit)

Piknometer

Piknometer isi

(gr/ml)

13,84

43,72

1,19520

13,84

43,74

1,19600

13,84

43,77

1,19720

13,84

43,78

1,19760

13,84

43,8

1,19840

13,84

43,8

1,19840

13,84

43,81

1,19880

13,84

43,81

1,19880

13,84

43,71

1,19480

13,84

43

1,16640

13,84

44,1

1,21040

13,84

44,2

1,21440

rata-rata

kosong
1

5
2

10

15

20

25

30

Tabel 2.5.4.Data hasil pengamatan absorbansi larutan warna suhu 50 oC


No
1

t (menit)

%T

Absorbansi

41,5

0,3820

41,9

0,3778

A rata-rata

0,3799

1,1956

1,1974

1,1984

1,1988

1,1806

1,2124

10

15

20

25

30

39,6

0,4023

39,9

0,3990

36,5

0,4377

36,3

0,4401

10,4

0,9830

10,7

0,9706

10,3

0,9872

10,2

0,9914

10

1,0000

10,1

0,9957

0,4007

0,4389

0,9768

0,9893

0,9978

Tabel 2.5.5.Data hasil pengamatan absorbansi larutan warna suhu 70 oC


No
1
2
3
4

t (menit)

5
10
15
20

%T

Absorbansi

23,6

0,6271

23,6
21

0,6271
0,6778

21,2
20,4

0,6737
0,6904

20,5
19,8

0,6882
0,7033

19,9

0,7011

A rata-rata

0,6271
0,6757
0,6893
0,7022

25

30

19,8

0,7033

18,8
18,5

0,7258
0,7328

18,6

0,7305

0,7146

0,7317

2.6. Hasil Perhitungan


Tabel 2.6.1.Hasil perhitungan densitas larutan warna(g/mL) untuk waktu ekstraksi
5,10,15,20,25,30 menit pada suhu 50 oC
No

t (menit)

10

15

20

25
30

Piknometer

Piknometer

Volume

rata-

kosong

isi

piknometer

(gr/ml)

rata

13,84

44,27

(mL)
25

1,2172

13,84

44,27

13,84

44,13

13,84

44,13

13,84

43,72

13,84

43,72

13,84

43,71

13,84

43,71

13,84

43,68

13,84

43,68

13,84

43,22

1,2172
25

1,2116
1,2116

25

1,1952
1,1952

25

1,1948
1,1948

25

1,1936
1,1936

25

1,1752

1,2172

1,2116

1,1952

1,1948

1,1936
1,1752

13,84

43,22

1,1752

Tabel 2.6.2.Hasil perhitungan densitas larutan warna(g/mL) untuk waktu ekstraksi


5,10,15,20,25,30 menit pada suhu 50 oC
No

t (menit)

Piknometer

Piknometer

Volume

rata-

kosong

isi

piknometer

(gr/ml)

rata

43,72

(mL)
1,19520

1,1956

1,19600

0.98920

1,19720

1,1974

1,19760

0.99600

1,19840

1,1984

1,19840

0.99760

1,19880

1,1988

1,19880

0.99680

1,19480

1,1806

1,16640

0.99840

13,84
13,84

10

13,84
13,84

15

13,84
13,84

20

13,84
13,84

25

13,84
13,84

30

13,84
13,84

43,74
43,77
43,78
43,8
43,8
43,81
43,81
43,71
43
44,1
44,2

1,2124
1,21040

13,84

10

15

20

25

30

Tabel 2.6.3.Hasil perhitungan konsentrasi Fe(ppm) pada larutan warna untuk


waktu ekstraksi 5,10,15,20,25,30 menit pada suhu 50 oC
No

t (menit)

%T

Absorbansi

A rata-rata

Konsentrasi
Fe (ppm)

10

15

20

25

30

41,5

0,3820

41,9

0,3778

39,6

0,4023

39,9

0,3990

36,5

0,4377

36,3

0,4401

10,4

0,9830

10,7

0,9706

10,3

0,9872

10,2

0,9914

10

1,0000

10,1

0,9957

0,3799

91,7414

0,4007

97,5183

0,4389

108,1390

0,9768

257,5532

0,9893

261,0226

0,9978

263,3998

Tabel 2.6.4.Hasil perhitungan konsentrasi Fe(ppm) pada larutan warna untuk


waktu ekstraksi 5,10,15,20,25,30 menit pada suhu 50 oC
No

t (menit)

%T

Absorbansi

A rata-rata

Konsentrasi
Fe (ppm)

10

15

20

25

30

23,6

0,6271

23,6

0,6271

21

0,6778

21,2

0,6737

20,4

0,6904

20,5

0,6882

19,8

0,7033

19,9

0,7011

19,8

0,7033

18,8

0,7258

18,5

0,7328

18,6

0,7305

0,6271

160,4133

0,6757

173,9229

0,6893

177,6967

0,7022

181,2891

0,7146

184,7190

0,7317

189,4605

Tabel 2.6.5.Hasil perhitungan %yield pada larutan warna untuk waktu ekstraksi
5,10,15,20,25,30 menit pada suhu 50 oC

Waktu
(menit)
5

10

15

20

25

30

Suhu(oC)
50

50

50

50

50

50

Konsentrasi

Massa

Fe (ppm)

produk(g)
30,43

117,60%

30,43

117,60%

30,29

117,06%

30,29

117,06%

29,88

115,48%

29,88

115,48%

29,87

115,44%

29,87

115,44%

29,84

115,32%

29,84

115,32%

29,38

113,55%

29,38

113,55%

91,7414

97,5183

108,1390

257,5532

261,0226

263,3998

%yield

%yield
rata-rata
117,6039%

117,0628%

115,4783%

115,4396%

115,3237%

113,5459%

Tabel 2.6.6.Hasil perhitungan %yield pada larutan warna untuk waktu ekstraksi
5,10,15,20,25,30 menit pada suhu 50 oC
Waktu
(menit)
5

Suhu(oC)
50

Konsentrasi

Massa

Fe (ppm)

produk(g)
30,43

117,60%

30,43

117,60%

160,4133

%yield

%yield
rata-rata
117,6039%

10

15

20

25

30

50

173,9229

50

177,6967

50

181,2891

50

184,7190

50

189,4605

30,29

117,06%

30,29

117,06%

29,88

115,48%

29,88

115,48%

29,87

115,44%

29,87

115,44%

29,84

115,32%

29,84

115,32%

29,38

113,55%

29,38

113,55%

117,0628%

115,4783%

115,4396%

115,3237%

113,5459%

Tabel 2.6.7.Hasil perhitungan regresi pada kalibrasi untuk larutan standart dengan
menggunakan Spektrofotometer
No

Konsentrasi Fe (ppm)

Absorbansi

x2

Xy

(x)
2

(y)
1,69897

3,3979

1,39794

16

5,5918

1,22185

36

7,3311

1,09691

64

8,7753

10

1,00000

100

10,0000

30

6,415668776

220

35,0961

2.7.

Grafik

Grafik 2.7.1. Hubungan antara panjang gelombang () dan absorbansi (A) dalam
penentuan panjang gelombang maksimum

Grafik 2.7.2. Hubungan antara konsentrasi larutan (x) dan absorbansi (y) dalam
penentuan persamaan mencari konsentrasi Fe didalam larutan.

Grafik 2.7.3. Hubungan antara densitas () dan % yield pada suhu operasi 50 oC

Grafik 2.7.4. Hubungan antara waktu (t) dan % yield pada suhu operasi 50 oC

Grafik 2.7.5. Hubungan antara densitas () dan % yield pada suhu operasi 50 oC

Grafik 2.7.6. Hubungan antara waktu (t) dan % yield pada suhu operasi 70 oC

BAB III
PEMBAHASAN
1.

Hubungan antara panjang gelombang () dan absorbansi (A) dalam


penentuan panjang gelombang maksimum.
Berdasarkan teori maka dicari titik absorbansi maksimal pada panjang
gelombang tertentu untuk digunakan dalam proses kalibrasi.
Berdasarkan hasil percobaan, pada grafik 2.7.1. didapatkan hasil yang sesuai
dengan teori maka didapat panjang gelombang maksimumnya.

2. Hubungan antara konsentrasi larutan (x) dan absorbansi (y) dalam penentuan
persamaan mencari konsentrasi Fe didalam larutan.
Berdasarkan teori yang ada maka di dapatkan persamaan linier dengan metode
interpolasi.
Hal ini sesuai dengan persamaan :
y = ax+b
Berdasarkan hasil percobaan, pada grafik 2.7.2. didapatkan grafik yang sesuai
dengan teori. Sehingga didapat persamaan linier yang tersaji didalam grafik
untuk menentukan berapa konsentrasi Fe didalam larutan ekstrak.
3. Hubungan antara densitas () dan % yield pada suhu operasi 50 dan 70 oC.
Berdasarkan teori Hubungan antara densitas () dan % yield pada suhu
operasi 50 dan 70 oC adalah berbanding lurus. Dimana semakin besar densitas
maka jumlah yield yang didapat semakin besar.

Hal ini sesuai dengan persamaan :

%yield =

(berat produk)
x 100%
berat bahan baku

Dimana untuk berat produk digunakan perhitungan menggunakan densitas:

berat produk = larutan x volume larutan

Berdasarkan hasil percobaan, pada grafik 2.7.3. dan grafik 2.7.5.


didapatkan hasil yang sesuai dengan teori dimana semakin besar densitas
maka semakin besar pula %yield yang di dapat karena %yield sendiri untuk
perhitungannya berbanding lurus dengan densitas larutan.
4. Hubungan antara waktu (t) dan % yield pada suhu operasi 50 dan 70 oC.
Berdasarkan teori hubungan waktu operasi dan %yield yang diperoleh.
Dimana semakin lama waktu operasi maka laju pertambahan jumlah yield
yang didapat semakin besar.
Hal ini sesuai dengan persamaan :
%yield =

(berat produk)
x 100%
berat bahan baku

Dimana untuk berat produk digunakan perhitungan menggunakan densitas


larutan dan berat bahan baku dipengaruhi densitas air:

berat produk = larutan x volume larutan

berat bahan baku = ( air x volume air) berat bayam merah

Berdasarkan hasil percobaan, pada grafik 2.7.4. dan grafik 2.7.6.


didapatkan hasil yang sesuai dengan teori yaitu semakin lama waktu operasi
maka %yield yang didapat juga semakin besar.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

Dari hasil percobaan dapat diambil kesimpulan :


1. Dari grafik untuk menentukan panjang gelombang maksimum pada sebesar
360 nm .
2. Dari grafik hubungan antara konsentrasi larutan (x) dan absorbansi (y) dalam
penentuan persamaan mencari konsentrasi Fe didalam larutan didapat
persamaannya adalah y= 0.0036x + 0.0496.
3. Dari grafik untuk Hubungan antara densitas () pada suhu operasi 50 oC antara
lain: 1,02880; 1,04080; 1,00360; 0,99760; 0,99520; 0,99960; 0,99600;
0,99640; 0,99680; 0,99640 dan variasi % yield yang didapat antara lain:
96,31%; 96,27%; 96,39%; 95,96%; 96,15%; 96,58% ; 96,81% ; 96.70%;
99.40% ; 100.56% hasil ini membuktikan sesuai dengan teori dimana semakin
besar densitas maka semakin besar pula %yield yang di dapat karena %yield
sendiri untuk perhitungannya berbanding lurus dengan densitas larutan.
4. Dari grafik untuk Hubungan antara densitas () pada suhu operasi 70 oC antara
lain: 0,99960; 0,98920; 0,99400; 0,99600; 0,99600; 0,99760; 1.00040;
0,99680; 0,99880; 0,99840 dan variasi % yield yang didapat antara lain:
96,5797% ; 95,5749% ; 96,0386% ; 96,2319% ; 96,2319% ; 96,3865% ;
96,6570% ; 96,3092% hasil ini membuktikan sesuai dengan teori dimana

semakin besar densitas maka semakin besar pula %yield yang di dapat karena
%yield sendiri untuk perhitungannya berbanding lurus dengan densitas larutan
5. Dari grafik untuk Hubungan antara waktu operasi (t) pada suhu operasi 50 oC
antara lain: 10, 20 30, 40, 50 menit dan variasi % yield yang didapat antara
lain: 96,31%; 96,27%; 96,39%; 95,96%; 96,15%; 96,58% ; 96,81% ; 96.70%;
99.40% ; 100.56% hasil ini membuktikan sesuai dengan teori dimana
semakin lama waktu operasi maka semakin besar pula %yield yang di dapat
karena %yield sendiri untuk perhitungannya berbanding lurus dengan naiknya
densitas karena lamanya waktu operasi.
6. Dari grafik untuk Hubungan antara waktu operasi (t) pada suhu operasi 70 oC
antara lain: 10, 20 30, 40, 50 menit dan variasi % yield yang didapat antara
lain: 96,5797% ; 95,5749% ; 96,0386% ; 96,2319% ; 96,2319% ; 96,3865% ;
96,6570% ; 96,3092% hasil ini membuktikan sesuai dengan teori dimana
semakin lama waktu operasi maka semakin besar pula %yield yang di dapat
karena %yield sendiri untuk perhitungannya berbanding lurus dengan naiknya
densitas karena lamanya waktu operasi.

4.2. Saran

1. Motor pengaduk pada keranjang ekstraktor perlu diperbaiki agar proses


pengadukan dapat berjalan lebih sempurna.
2. Pompa pada alat lebih baik diganti dengan laju alir yang lebih kecil karena
terlalu cepat laju alir masuk dibanding laju alir yang keluar.

DAFTAR PUSTAKA

Cabe, Mc. Operasi Teknik Kimia jilid 1. Erlangga, Jakarta, 1991.


Geankoplis, C. Transport Processes and Unit Operations. University of
Minnesota, New
Delhi, 1997.
Jobsheet Pilot Plant. 2013. Politeknik Negeri Sriwijaya : Palembang.