Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIK II

PERCOBAAN III
NORIT SEBAGAI ADSORBEN

OLEH :
NAMA

: ST. RAODAH NURULJANNAH

NIM

: F1F1 12 041

KELAS

:A

KELOMPOK

: II (DUA)

ASISTEN

: SYAHDAM HAMIDI

LABORATORIUM FARMASI
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2013
PERCOBAAN III

NORIT SEBAGAI ADSORBEN


A. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengkaji proses
adsorpsi menggunakan norit.
B. LANDASAN TEORI
Adsorpsi
substansi

secara

terlarut

umum

(soluble)

adalah

yang

proses

ada

penggumpalan

dalam

larutan,

oleh

permukaan zat atau benda penyerap, dimana terjadi suatu ikatan


kimia fisika antara substansi dengan penyerannya. Adsorpsi
menggunakan istilah adsorben dan adsorbat, dimana adsorben
merupakan suatu penyerap yang dalam hal ini berupa senyawa
karbon, sedangkan adsorbat adalah suatu media yang diserap
(Miranti, 2012).
Adsorpsi merupakan suatu proses penyerapan oleh padatan
tertentu terhadap zat tertentu yang terjadi pada permukaan zat
padat

karena

adanya

gaya

tarik

atom

atau

molekul

pada

permukaan zat padat tanpa meresap ke dalam. Proses adsorpsi


dapat terjadi karena adanya gaya tarik atom atau molekul pada
permukaan padatan yang tidak seimbang. Adsorpsi dapat terjadi
pada antarfasa padat-cair, padat-gas atau gas-cair. Molekul yang
terikat pada bagian antarmuka disebut adsorbat, sedangkan
permukaan yang menyerap molekul-molekul adsorbat disebut
adsorben (Tandy, dkk., 2012).
Proses adsorpsi merupakan

interaksi

antara

adsorbat

dengan situs aktif adsorben. Pada permukaan adsorben terdapat


situs aktif

dengan

jumlah

yang

sebanding

luas

permukaan

adsorben. Pada saat situs aktif tersebut belum jenuh oleh adsorbat
peningkatan konsentrasi adsorbat disertai dengan peningkatan
jumlah adsorbat yang teradsorpsi, tetapi bila situs aktif tersebut
telah jenuh maka peningkatan konsentrasi adsorbat tidak lagi
disertai peningkatan jumlah adsorbat yang teradsorpsi secara
signifikan (Buhani dan Suharso, 2010).
Salah satu metode efisien yang saat ini telah banyak
dikembangkan untuk penghilangan zat warna adalah adsorpsi
dengan menggunakan arang aktif. Arang aktif adalah arang yang
telah diaktivasi sehingga pori-porinya terbuka dan memiliki daya
jerap yang tinggi. Arang aktif merupakan adsorben yang baik dan
dapat digunakan untuk pemurnian, menghilangkan warna dan bau,
deklorinasi, detoksifikasi, penyaringan, pemisahan dan dapat
digunakan

sebagai

katalis.

Bahan-bahan

yang

dapat

dibuat

menjadi arang aktif dapat berupa kayu, tempurung kelapa, tongkol


jagung, sekam padi, biji buah-buahan, kulit kacang dan lain
sebagainya. Arang aktif dapat dibuat dengan mengaktifkan bahan
atau material yang mengandung karbon tersebut pada kondisi
tertentu (Roring, dkk., 2013).
Karbon aktif biasanya cenderung hanya untuk penukar ion
namun

kurang

efektif

mengadsorpsi

ion

logam

hexavalent

chromium (CrVI), sedangkan karbon aktif yang telah dimodifikasi


dengan surfaktan (SMAC) lebih bersifat hydrophilic, sehingga dapat
mengadsorpsi ion logam hexavalent chromium (Agustinus, dkk.,
2013).

Kecepatan

adsorpsi

tidak

hanya

tergantung

pada

perbedaan konsentrasi dan pada luas permukaan adsorben,


melainkan juga pada suhu, tekanan (untuk gas), ukuran partikel
dan porositas adsorben. Juga tergantung pada ukuran molekul
bahan yang akan diadsorpsi dan pada viskositas campuran yang
akan dipisahkan (cairan, gas) (Edahwati dan Suprihatin, 2003).
Arang aktif telah digunakan secara luas dalam berbagai
industri. Penggunaan arang aktif salah satunya adalah sebagai
adsorben. Arang aktif yang telah banyak digunakan saat ini adalah
yang berasal dari tempurung kelapa. Arang aktif dari tempurung
kelapa banyak digunakan sebagai adsorben karena memiliki daya
adsorpsi yang selektif, luas permukaan besar, dan memiliki daya
ikat kuat terhadap zat yang akan dipisahkan baik secara fisik
maupun kimiawi. Dalam penggunaannya sebagai adsorben, arang
dari tempurung kelapa perlu diaktivasi. Proses aktivasi berfungsi
untuk membuka pori-pori pada permukaan arang dengan cara
memecah ikatan hidrokarbon atau mengoksidasi molekul yang
terdapat pada permukaannya (Anggarini, dkk., 2013).
Isoterm adsorpsi merupakan suatu keadaan kesetimbangan
yaitu tidak ada lagi perubahan konsentrasi adsorbat baik di fase
terjerap maupun pada fase gas atau cair. Isoterm adsorpsi
biasanya digambarkan dalam bentuk kurva berupa plot distribusi
kesetimbangan adsorbat antara fase padat dengan fase gas atau
cair pada suhu konstan. Isoterm adsorpsi merupakan hal yang
mendasar dalam penentuan kapasitas dan afinitas adsorpsi suatu
adsorbat pada permukaan adsorben (Kundari dan Slamet, 2008).

C. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu :
Spektrofotometer
Kuvet
Gelas kimia
Pipet tetes
Timbangan analitik
Labu Erlenmeyer
Labu takar
Cawan petri
Botol semprot
2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
Arang
Akuades
Methyl red

D. PROSEDUR KERJA
1. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
Methyl
Methyl red
red 300
300
ppm
ppm
- diukur absorbans methyl red pada
400 nm-600 nm dengan interval 25
nm.
- ditentukan panjang gelombang
maksimum
= 440 nm
2. Adsorpsi Zat Warna
- ditimbang 0,1 gram
Arang
Arang
- dimasukkan setiap 0,1 gram masingmasing ke dalam 50 ml larutan
methyl red 150 ppm, 200 ppm, dan
250 ppm ditunggu selama 1 jam
- dikocok perlahan selama 10 menit
- didiamkan
- diukur absorbans filtrat pada
panjang gelombang 440 nm
Hasil pengamatan ?

3. Penentuan Konsentrasi Zat Warna


ditentukan
panjang gelombang
Methyl
Methyl- red
red
maksimum larutan zat warna secara
spektrometri
- dibuat kurva kalibrasi larutan
standar zat warna
- ditentukan konsentrasi zat warna
setelah adsorpsi menggunakan
kurva kalibrasi larutan standar
- dihitung berat zat warna yang
teradsorbsi
- dibuat grafik hubungan antara x/m
dan konsentrasi sesuai dengan
persamaan Freundlich
- ditentukan kapasitas adsorpsinya
Hasil pengamatan ?

E. HASIL PENGAMATAN
1. Tabel Pengamatan
a. Penentuan panjang gelombang
Panjang gelombang

Absorbans

(nm)
400
425
450
475
500

3,976
4,000
3,125
3,323
3,426

b. Absorbans larutan standar pada = 440 nm


Konsentrasi (ppm)
100
200
250
300

Absorbans
1,333
1,658
2,000
2,468

c. Absorbans larutan sampel pada = 440 nm


Konsentrasi (ppm)
150
200
250

Absorbans
0,912
0,676
0,732

2. Analisis Data
a. Kurva standar
Konsentrasi (ppm)
100
200
250
300

Absorbans
1,333
1,658
2,000
2,468

b. Konsentrasi sampel setelah adsorbsi


Konsentrasi (ppm)

Absorbans

150
200
250

0,912
0,676
0,732

Dik : y = 5,4977x + 696,49


y1 = 0,912
y2 = 0,676
y3 = 0,732
Dit :

Konsetrasi Akhir (x1, x2, x3) =...?


Massa Teradsorbsi =...?

Peny :
a. Konsentrasi akhir :
Untuk y1 :
y

= 5,4977x + 696,49

0,912 = 5,4977x + 696,49


X1

= -126,52 ppm

Untuk y2 :
y

= 5,4977x + 696,49

0,676 = 5,4977x + 696,49


X2

= -126,56 ppm

Untuk y3 :
y

= 5,4977x + 696,49

0,732 = 5,4977x + 696,49


X3

= -126,55 ppm

b. Massa Teradsorbsi
Massa Teradsorbsi
= [Teradsorbsi] x 0,05 L
= [276,52] x 0,05 L
x = 13,826
Massa Teradsorbsi
= [326,56] x 0,05 L
x = 16,328
Massa Teradsorbsi
= [376,55] x 0,05 L
x = 18,82
Samp
el
150
200
250

Konsentra

Konsentra

si

si

Awal
150
200
250

Akhir (x)
-126,52
-126,56
-126,55

Teradsorb
si

Massa
Teradsorb
si (mg)
13,826
16,328
18,82

276,52
326,56
376,55

Isothermal Adsorbsi
x

Log
x/m

(mg)
13,82

(mg)
0,138
100

6
16,32

2,102
-0,859

2
0,163
100

8
18,82

Log C
x/m

100

1
2,102
-0,787

2
0,188

-0,725

3
2,102

Persamaan Isotherm Adsorpsi Freundlich


Dik.

y = 0.5x + 21021

Log (x/m) =

Dit.

log C + log k

a. nilai k = ?
b. nilai n = ?

Peny. :
a. Log k = 21021
b.

= 0,5

=2

F.

PEMBAHASAN
Adsorpsi adalah suatu proses penyerapan partikel suatu
fluida (cairan maupun gas) oleh suatu padatan hingga terbentuk
suatu film (lapisan tipis) pada permukaan adsorben. Adsorpsi
berbeda dengan absorbsi. Dimana

Adsorpsi adalah suatu proses

pemisahan dimana komponen dari suatu fase fluida berpindah ke


permukaan

zat

padat

yang

menyerap.

Adsorpsi

merupakan

penyerapan suatu zat terhadap zat cair, padat ataupun gas yang
tidak sampai ke dalam zat tersebut tetapi hanya membentuk satu
lapisan saja yang menyelimuti zat yang lain atau bisa dikatakan zat
yang

terserap

hanya

berada

disekeliling

permukaan

zat.

Sedangkan proses absorpsi merupakan penyerapan suatu zat cair


ke dalam zat yang lainnya hingga keduanya menyatu.
Percobaan ini dilakukan untuk mengkaji proses adsorpsi
dengan menggunakan arang sebagai absorbennya. Proses adsorpsi
merupakan interaksi antara adsorbat dengan situs aktif adsorben.
Pada permukaan adsorben terdapat situs aktif dengan jumlah yang
sebanding luas permukaan adsorben. Pada saat situs aktif tersebut
belum jenuh oleh adsorbat peningkatan konsentrasi adsorbat.
Isoterm adsorpsi merupakan suatu keadaan kesetimbangan yaitu
tidak ada lagi perubahan konsentrasi adsorbat baik di fase terjerap
maupun pada fase gas atau cair.
Percobaan yang dilakukan pada adsorpsi isoterm arang aktif
adalah dengan menggunakan larutan organik

yaitu metilen red

dengan variasi 3 konsentrasi. Pada percobaan ini adsorban yang


digunakan

adalah

arang,

tetapi

kesalahannya

adalah

arang

tersebut tidak diaktifkan terlebih dahulu sehingga dimana sebelum


digunakan harus diaktifkan dulu dengan cara dipanaskan. Hal ini
agar pori-pori arang semakin besar sehingga dapat mempermudah
penyerapan. Karena semakin luas permukaan adsorben maka daya
penyerapannya pun semakin tinggi.

Dimana penggerusan pada

arang

permukaan

adalah

cara

memperluas

adsorbennya.

Pengaktifan arang dapat dilakukan dengan beberapa cara.


Aktifasi adalah suatu perlakuan terhadap arang

yang

bertujuan

cara

untuk

memperbesar

pori

yaitu

dengan

memecahkan ikatan hidrokarbon atau mengoksidasi molekulmolekul permukaan sehingga arang mengalami perubahan sifat,
baik fisika maupun kimia, yaitu luas permukaannya bertambah
besar dan berpengaruh terhadap daya adsorpsi. Selain karbon
aktif, yang biasa digunakan sebagai adsorben adalah silika gel,
zeolit dan penyaring molekul.
Prinsip percobaan adsorpsi isoterm didasarkan pada teori
freundlich, yaitu banyaknya zat yang diadsorpsi pada temperatur
tetap oleh suatu adsorben tergantung dari konsentrasi dan
kereaktifan adsorben mengadsorpsi zat-zat tertentu. Percobaan ini
menggunakan adsorpsi fisika karena adanya gaya Van Der Waals
antara adsorben dengan adsorbat yang digunakan sehingga proses
adsorpsi hanya terjadi ada permukaan larutan.
Perlakuan untuk penentuan panjang gelombang maksimum,
dimana methyl red pada panjang gelombang 400-500 nm dengan
interval 25 nm diukur nilai absorbansinya. Sehingga didapatkan
panjang gelombang maksimumnya yaitu 440 nm.

Perlakuan untuk adsorpsi zat warna, arang yang telah


ditimbang sebanyak 0,1 gram akan dimasukkan masing-masing ke
dalam 50 ml larutan methyl red 150 ppm, 200 ppm, dan 250 ppm.
Setelah beberapa saat,

diambil filtrat yang akan diukur nilai

absorbansinya pada panjang gelombang 440 nm. Arang yang yang


dimasukkan ke dalam sampel bertujuan untuk menarik zat warna
sampel tersebut. Arang tidak mudah larut dalam air karena arang
merupakan senyawa organik yang memiliki atom karbon. Untuk
sampel methyl red 150 ppm memiliki nilai absorbansi yaitu 0,912
A, sampel 200 ppm methyl red memiliki nilai absorbansinya yaitu
0,676 A, dan sampel 300 ppm memiliki nilai absorbansinya yaitu
0,732 A.
Dari nilai adsorbansi yang dihasilkan dimana konsentrasi
sampel mempengaruhi nilai absorbansinya, konsentrasi berbanding
lurus dengan nilai absorbansinya semakin tinggi konsentrasi
sampel yang diberikan maka semakin tinggi pula nilai absorbansi
yang dihasilkan. Tetapi, dalam percobaan ini, semakin tinggi
konsentrasi, nilai absorbansi tidak menentu. Hal ini kemungkinan
dikarenakan proses adsorpsi dalam sampel tidak berjalan dengan
baik karena alat yang digunakan tidak stabil.
Dari grafik hubungan antara konsentrasi terhadap absorbansi
sampel dengan kurva standar menggunakan konsentrasi 100 ppm,
200 ppm, 250 ppm dan 300 ppm didapatkannya suatu persamaan
garis yaitu y = 5.4977x + 696.49 dimana y adalah nilai absorbansi
dan x adalah konsentrasi akhir sampel. Sehingga konsentrasi akhir

dari larutan sampel methyl red 100 ppm, 200 ppm, dan 300 ppm
berturut-turut yaitu -126,52 ppm, -126,56 ppm, dan -126,55 ppm.
Dari hasil konsentrasi akhir tersebut, maka dapat ditentukan
massa

teradsorbsi

dengan

mengkalikan

nilai

teradsorbsi

(konsentrasi awal dikurang konsentrasi akhir sampel) dengan 0,05


L dan didapat nilai massa terabsorbsi berturut-turut yaitu 13,826
mg, 16,328 mg, dan 18,82 mg.

G. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat
disimpulkan

bahwa

semakin

banyak

konsentrasi

zat

yang

digunakan maka semakin tinggi pula nilai adsorpsinya yaitu, 150


ppm adsorbansinya 0,912 A, 200 ppm adsorbansinya 0,676 A, dan
250 ppm adsorbansinya 0,732 A.

DAFTAR PUSTAKA
Agustinus, Tri Sumardi E., dkk., 2013, Peningkatan Daya Serap Karbon
Aktif Terhadap Ion Logam Hexavalent Chromium (CRVI) Melalui
Modifikasi
Dengan Cationic Surfactant (Ethylinediamine),
Jurnal Riset Geologi Dan Pertambangan, Vol.23, No.1.
Anggarini, Dita, dkk., 2013, Studi Aktivasi Arang Dari Tempurung
Kelapa Dengan Pengozonan, Kimia.Student Journal, Vol. 2, No.
1, Malang.
Buhani
dan
Suharso,
2010,
Modifikasi
Silika
Dengan
3Aminopropiltrimetoksisilan Melalui Proses Sol Gel Untuk Adsorpsi
Ion Cd(Ii) Dari Larutan, J. Sains MIPA, Vol. 16, No. 3, Hal. 177
183, ISSN 1978-1873, Lampung.
Edahwati, Luluk dan Suprihatin, 2003, Kombinasi Proses Aerasi,
Adsorpsi, Dan
Filtrasi Pada Pengolahan Air Limbah Industri
Perikanan, Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan, Vol.1, No. 2,
Surabaya.
Idrus, Rosita, Boni P. L. dan Yoga S. P., 2013, Pengaruh Suhu Aktivasi
Terhadap Kualitas Karbon Aktif Berbahan Dasar Tempurung
Kelapa, Prisma Fisika, Vol. I No. 1, Pontianak.
Kundari, Anis Noor dan
Slamet Wiyuniati, 2008, Tinjauan
Kesetimbangan Adsorpsi Tembaga Dalam Limbah Pencuci Pcb
Dengan Zeolit, Seminar Nasional Iv Sdm Teknologi Nuklir, ISSN
1978-0176, Yogyakarta.
Miranti, S. T., 2012, Pembuatan Karbon Aktif Dari Bambu Dengan
Metode Aktivasi Terkontrol Menggunakan Activating Agent H 3PO4
dan KOH, Skripsi, Depok.
Roring, S. H., Mariska M. P., dan Jemmy A., 2013, Isotherm Adsorpsi
Rhodamin B Pada Arang Aktif Kayu Linggua, Jurnal Mipa UNSRAT
Online, 2 (1) 40-43, Manado.
Tandy, Edward, dkk., 2012, Kemampuan Adsorben Limbah Lateks Karet
Alam Terhadap Minyak Pelumas Dalam Air, Jurnal Teknik Kimia
USU, Vol. 1, No. 2,
Medan.