Anda di halaman 1dari 38

Bab III

KLAIM

Tujuan bab:

Setelah mengikuti kuliah dan mempelajari


bagian ini diharapkan mahasiswa dapat:
Menjelaskan pengertian klaim dengan
benar
Menjelaskan dengan benar proses
penanganan klaim
Menyebutkan sebab-sebab terjadinya
klaim.

KLAIM (CLAIM)

adalah permintaan mengenai beaya, waktu


dan atau kompensasi penampilan atau
sesuatu yang telah ditetapkan dari salah
satu pihak terhadap pihak lain dalam suatu
kontrak konstruksi.
Ada yang mengartikan klaim sebagai
tuntutan, yang berkonotasi negatif padahal
klaim dalam pelaksanaan kontruksi adalah
suatu hal yang wajar walaupun ada juga
klaim yang harus diselesaikan lewat
pengadilan atau arbitrase.

Kategori Klaim:
Dari penyedia jasa terhadap pengguna jasa berupa:
Tambahan waktu pelaksanaan
Tambahan kompensasi
Tambahan konsesi pengurangan spesifikasi
teknis dan bahan
Dari pengguna jasa terhadap penyedia jasa berupa:
Pengurangan nilai kontrak
Percepatan waktu
Kompensasi atas kelalaian

Sebab-sebab timbulnya
klaim:
Dari pihak pengguna jasa:
Pekerjaan cacat
Pemutusan kontrak.
Dari Pihak penyedia jasa:
Kelambatan atas cacat informasi
Kelambatan atas cacat bahan
Perubahan gambar/ spesifikasi
Perubahan kondisi lapangan
Larangan metode kerja tertentu
Kontrak kurang jelas
Pengaruh pekerjaan yang berdekatan

Proses penanganan klaim:

Klaim berawal dari terjadinya suatu


perubahan pekerjaan. Perubahan
pekerjaan ini terdiri dua
kemungkinan:
Diketahui sebelumnya
Tidak diketahui sebelumnya

Pemberitahuan
Bila

perubahan pekerjaan diketahui


sebelumnya, maka langkah
selanjutnya pemberitahuan kepada
pengguna jasa.

Permintaan perubahan

Bila perubahan pekerjaan tidak diketahui


sebelumnya maka perubahan tersebut
dinamakan perubahan tidak resmi.
Untuk itu penyedia jasa mengajukan
permintaan perubahan kepada pengguna
jasa.

Penerbitan perintah
perubahan

Apabila pemberitahuan dan atau


permintaan perubahan disetujui
maka pengguna jasa wajib
menerbitkan Perintah Perubahan
Pekerjaan

Klaim

Apabila pemberitahuan dan atau


permintaan perubahan pekerjaan
tidak disetujui pengguna jasa maka
penyedia jasa mengajukan klaim.
Bila klaim disetujui diterbitkan
Perintah Perubahan Pekerjaan.

Arbitrase/ pengadilan

Apabila klaim tidak disetujui,


penyedia jasa dapat mengajukan
penyelesaian sengketa melalui
arbitrase atau pengadilan (sesuai
kesepakatan kontrak).

Amandemen kontrak

Setelah terbit Perintah Perubahan


harus diikuti dengan penerbitan
Amandemen Kontrak.

Hal-hal yang
dijadikan tuntutan
Di samping hal-hal yang disebutkan di
atas, terdapat beberapa masalah yang
dapat menimbulkan klaim antara lain:

Variations
Keadaan lapangan yang tidak sesuai
dengan kontrak
Pelanggaran kontrak
Penghentian/ penundaan pekerjaan
Keterlambatan dan pengaruhnya
Special Risk
Cangest Cost & Legistation

a. Variations

1.

Engineer/ konsultan dapat mengeluarkan


suatu variation order kepada kontraktor
karena keadaan lapangan yang tidak
sesuai dengan desain atau sebab-sebab
lainnya.

Misalnya :

Kenaikan atau pengurangan volume


suatu pekerjaan yang termasuk di dalam
kontrak.
Menghilangkan suatu jenis pekerjaan
Merubah karakter atau kualitas dari
suatu pekerjaan
Perubahan level, posisi, ukuran,
pekerjaan
Instruksi pekerjaan tambah yang
diperlukan untuk pelaksanaan proyek.

2. Tidak boleh ada variation

order yang dikerjakan oleh


kontraktor tanpa adanya
instruksi tertulis dari
Engineer/ pemimpin
proyek/ wakil pemilik
proyek.

Apabila ada instruksi lisan, maka kontraktor


harus mengkonfirmasikan secara tertulis
kepada konsultan/ engineer dalam waktu
maksimum 7 hari. Jika dalam 14 hari tidak
ada jawaban dari engineer, maka instruksi
lisan tersebut dianggap sebagai instruksi
tertulis. Penerbitan variation order
biasanya akan berdampak pada biaya,
sehingga apabila terdapat penambahan atau
pengurangan volume lebih dari 10%
dimungkinkan adanya negosiasi harga.

3.

Adanya variation order yang


berupa day work. Day work
adalah perintah tertulis dari
engineer kepada kontraktor
untuk mengerjakan suatu
pekerjaan berdasarkan day work
rate. Pekerjaan ini biasanya tidak
ada dalam kontrak, karena sukar
dihitung perkiraan biayanya.

b. Adverse Physical
Condition
Suatu keadaan atau situasi yang tidak sesuai
dengan kontrak atau penjelasan awal kontrak.
Ketidak sesauian itu antara lain:
keadaan lapisan tanah atau kondisi setempat
dibanding gambar rencana.
adanya halangan (obstruction) yang tidak
kelihatan dari semula.
Peraturan, baik daerah maupun pusat yang
dikelarkan setelah tender.
Pembayaran dari pemberi tugas terlambat,
tidak sesuai dengan kontrak. Dalam keadaan
seperti ini dimungkinkan adanya
perpanjangan waktu kontrak, yang apabila ini
disetujui, maka kontraktor berhak minta
biaya tambah.

c. Pelanggaran kontrak
Klaim ini terjadi karena hal-hal yang
telah disepakati dalam kontrak tidak
ditepati. Yang termasuk lingkup ini:
1 Higher Performance Standard

Termasuk dalam hal ini permintaan:


a.
percepatan waktu dari schedule yang
ditetapkan
yang mengakibatkan pertambahan biaya
overtime, equipment,material dan overhead.
b.
perubahan mutu bahan/ material

2.

Sequence Change
Apabila konsultan memerintahkan untuk
mengganti urutan/ sequence
pelaksanaan pekerjaan dari kontraktor
sesuai dengan keinginan konsultan,
maka segala resiko mungkin berupa
penambahan alat dan lain-lain dapat
diajukan sebagai klaim.

3.

Performance Method Change


Apabila dalam memerintahkan untuk
mengganti metode pelaksanaan
kontraktor sesuai dengan keinginan
konsultan maka segala resiko dapat
diklaimkan.

d. Suspension of works

Apabila dalam pelaksanaan suatu


pekerjaan konsultan/ engineer
memerintahkan untuk menunda pekerjaan
karena suatu hal, maka kontraktor berhak
mengajukan klaim dengan cara
mengirimkan pemberitahuan secara
tertulis dalam waktu maksimal 28 hari
sejak instruksi tersebut untuk
permohonan perpanjangan waktu.

e. Delay & impact

Apabila konsultan/ engineer terlambat


dalam suatu keputusan, maka
keterlambatan tersebut dapat
mengakibatkan perpanjangan waktu
pelaksanaan proyek. Biasanya dalam 28
hari konsultan harus sudah memutuskan:

1.Possesion of Site
Apabila employer/ engineer sudah
memberikan order of commence kepada
kontraktor, akan tetapi lapangan belum
dapat dikerjakan oleh kontraktor
(masalah pembebasan tanah dll).
2. Terlambat dalam keputusan shop
drawing dan metode.

f. Special risk

Yang termasuk ini adalah perang, invasi,


revolusi dan lain-lain, maka kontraktor
berhak peranjangan waktu.

g. Perubahan Cost dan


undang-undang.

Dimungkinkan adanya perubahan biaya


karena adanya eskalasi. Eskalasi ditetapkan
di dalam kontrak, meliputi:
1.
2.
3.

rumus eskalasi
cara pengambilan/ perumusan indeks.
cara pembayaran.

Sesuai dengan hal ini, maka kontraktor


berhak mengajukan klaim, apabila dalam
pelaksanaan proyek, pemerintah
mengeluarkan suatu peraturan atau undangundang yang mempengaruhi biaya.

Penyelesaian Sengketa
Konstruksi

Arbitrase adalah cara penyelesaian satu


sengketa perdata di luar peradilan umum
yang berdasarkan perjanjian arbitrase
yang dibuat secara tertulis oleh pihak
yang bersengketa. (ps 1 ay 1 UU Arbitrase
1999)

Mengapa harus arbitrase?


Karena dapat memberi kebebasan dan
otonomi yang sangat luas pada para
pihak untuk menyelesaikan sengketa
yang terjadi, khususnya dalam
menentukan rules dan institusi
arbitrase untuk pemeriksaan sengketa.
Memberi rasa aman dari ketidakpastian
yang terjadi akibat perbedaan sistem
hukum.

Keleluasaan bagi para pihak yang bersengketa


untuk memilih arbiter yang profesional dan pakar
dalam bidang yang menjadi obyek sengketa,
bersikap independen dalam memeriksa sengketa
Arbitrase lebih efisien dari segi waktu, prosedur dan
biaya. Putusan arbitrase umumnya bersifat final dan
mengikat dan tertutup untuk upaya hukum banding.
Pemeriksaan arbitrase bersifat tertutup (nonpublicity), sehingga memungkinkan adanya
perlindungan bagi pihak yang bersengketa untuk
informasi atau data usaha yang bersifat rahasia

Pertimbangan hukum arbitrase pada


umumnya cenderung bersifat individual dan
privat, di mana pertimbangan arbiter dalam
mengambil keputusan akan lebih
mengutamakan aspek privat sengketa
daripada aspek publiknya. Oleh karena sifat
privat itu maka penyelesaiannya sengketa
cenderung win-win solution, bukan win-loose
seperti yang selalu dipraktekkan pengadilan.
Putusan arbitrase umumnya bersifat nonprecedence di mana untuk jenis dan sifat
sengketa yang sama dimungkinkan adanya
putusan yang berbeda.

Obyek sengketa usaha jasa konstruksi


diklasifikasikan dua bagian:
1. Sengketa teknis
adalah sengketa yang terjadi akibat adanya perbedaan
atau ketidak sepahaman antara pengguna jasa dengan
penyedia jasa mengenai segala sesuatu hal yang
berkaitan dengan aspek teknis dalam pengerjaan
proyek. Misalnya : perbedaan perhitungan karena
perubahan spesifikasi.

2. Sengketa klaim pembayaran


yaitu sengketa yang terjadi akibat tindakan
pengguna
jasa yang menolak untuk membayar
harga pengerjaan
proyek kepada penyedia jasa
sesuai yang diperjanjikan.

Klausula-klausula arbitrase standar yang


dapat dimuat dalam kontrak:
a. Kesepakatan (komitmen) para pihak untuk
melaksanakan arbitrase jika terjadi sengketa.
b. Ruang lingkup arbitrase (dalam kontrak
konstruksi juga dapat diatur penyelesaian
yang sifatnya teknis)
c. Lembaga arbitrase yang digunakan
d. Ketentuan prosedural yang digunakan
e. Tempat dan bahasa yang digunakan dalam
arbitrase.
f. Pilihan terhadap hukum subtansi yang berlaku

Alternatif lembaga arbitrase:


1. Arbitrase ad Hoc.
adalah lembaga yang dibentuk atas dasar inisiatif dan
persetujuan para pihak yang bersengketa. Para pihak
menentukan sendiri cara-cara pemilihan arbiter,
kesekretariatan, aturan dan ketentuan prosedural,
tata administrasi dll.
Ciri khas penyelesaian ad Hoc:
- klausula arbitrase dirumuskan secara umum.
contoh klausula arbitrase:
Setiap perselisihan, sengketa atau tuntutan apapun yang
terjadi dalam pelaksanaan atau yang berkenaan
dengan
perjanjian ini akan diselesaikan melalui
arbitrase berdasarkan peraturan undang-undang
arbitrase
yang berlaku.

2. Arbitrase institusi
adalah arbitrase yang diselenggarakan oleh suatu
lembaga atau organisasi tertentu yang didirikan dan
mempunyai aturan prosedural tersendiri, termasuk
aturan pengangkatan dan daftar nama arbiter,
administrasi dan sistem pengawasan terhadap
proses
arbitrase.
Contoh lembaga arbitrase institusi:
1. ICC Paris
2. ICSID

3. The American Arbitration Association


4. BANI

Perjanjian arbitrase tidak menjadi batal disebabkan


oleh keadaan:

Meninggalnya salah satu pihak

Bangkrutnya salah satu pihak

Pewarisan

Berlakunya syarat-syarat hapusnya perikatan


pokok

Perjanjian dialihkan pada pihak ketiga

Berakhirnya atau batalnya perjanjian pokok


Arbiter tidak dapat mengundurkan diri
Dalam hal arbiter telah menerima penunjukan atau
pengangkatan maka yang bersangkutan tidak
dapat menarik diri kecuali atas persetujuan para
pihak.

Arbiter tidak dapat mengundurkan diri


Dalam hal arbiter telah menerima penunjukan atau
pengangkatan maka yang bersangkutan tidak dapat menarik
diri kecuali atas persetujuan para pihak.
Sanksi untuk Arbiter
Apabila arbiter tanpa alasan yang sah tidak memberikan
putusan dalam jangka waktu yang telah ditentukan, arbiter
dapar dihukum untuk mengganti biaya dan kerugian yang
diakibatkan kerugian tadi.
Putusan Arbitrase
Putusan arbitrase bersifat final, mempunyai kekuatan hukum
tetap dan mengikat para pihak. Dengan demikian terhadap
putusan arbitrase tidak dapat diajukan upaya banding,
kasasi atau peninjauan kembali.
Meskipun dinyatakan final dan tidak terbuka upaya hukum
apapun terhadapnya, namun arbitrase dimungkinkan
pembatalan oleh para pihak yang dibatasi hanya aspek
formal, bukan aspek materi. Pengadilan Negeri dapat
memutuskan apabila terbukti adanya unsur surat/ dokumen
palsu, dokumen disembunyikan pihak lawan atau ada tipu
muslihat salah satu pihak.

Rangkuman

Klaim adalah permintaan mengenai


beaya, waktu dan atau kompensasi
penampilan atau sesuatu yang telah
ditetapkan dari salah satu pihak terhadap
pihak lain dalam suatu kontrak
konstruksi.
Arbitrase adalah cara penyelesaian satu
sengketa perdata di luar peradilan umum
yang berdasarkan perjanjian arbitrase
yang dibuat secara tertulis oleh pihak
yang bersengketa.