Anda di halaman 1dari 7

PRANATA PEMBANGUNAN

Disusun Sebagai Tugas Mata Kuliah


PRANATA PEMBANGUNAN
Dosen Pembimbing : Bambang

DISUSUN OLEH:
Nama Kelompok :
1. Angelia Devina E. (1311014)
2. Septa Indah P.C (1311016)
3. Juliana Purnamasari (1311024)
4. Delsy Oktarina (1311025)
Jurusan

: Teknik Arsitektur

UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS PALEMBANG


JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR
Alamat: Jln. Bangau no. 60 Palembang
Tahun Ajaran 2015/2016

1.1 Pengertian Green Building


Green Building adalah bangunan dimana sejak dimulai dalam tahap perencanaan,
pembangunan,

pengoperasian

hingga

dalam

operasional

pemeliharaannya

memperhatikan aspek-aspek dalam melindungi, menghemat, mengurangi penggunaan


sumber daya alam, menjaga mutu dari kualitas udara di dalam ruangan, dan
memperhatikan kesehatan penghuninya yang semuanya berpegang kepada kaidah
bersinambungan.
Istilah Green building merupakan upaya untuk menghasilkan bangunan dengan
menggunakan proses-proses yang ramah lingkungan, penggunaan sumber daya secara
efisien selama daur hidup bangunan sejak perencanaan, pembangunan, operasional,
pemeliharaan, renovasi bahkan hingga pembongkaran.
Bangunan hijau (green building) didesain untuk mereduksi dampak lingkungan
terbangun pada kesehatan manusia dan alam, melalui : efisiensi dalam penggunaan
energi, air dan sumber daya lain ; perlindungan kesehatan penghuni dan
meningkatkan produktifitas pekerja ; mereduksi limbah / buangan padat, cair dan gas,
mengurangi polusi / pencemaran padat, cair dan gas serta mereduksi kerusakan
lingkungan.
1.2 Konsep Pembangunan Green Building
Beberapa aspek utama green building antara lain :
1. Material
Material yang digunakan untuk membangun harus diperoleh dari alam, dan
merupakan sumber energi terbarukan yang dikelola secara berkelanjutan. Daya tahan
material bangunan yang layak sebaiknya teruji, namun tetap mengandung unsur bahan
daur ulang, mengurangi produksi sampah, dan dapat digunakan kembali atau didaur
ulang.
2. Energi
Penerapan panel surya diyakini dapat mengurangi biaya listrik bangunan.
Selain itu, bangunan juga selayaknya dilengkapi jendela untuk menghemat
penggunaan energi, terutama lampu dan AC. Untuk siang hari, jendela sebaiknya
dibuka agar mengurangi pemakaian listrik. Jendela tentunya juga dapat meningkatkan

kesehatan dan produktivitas penghuninya. Green building juga harus menggunakan


lampu hemat energi, peralatan listrik hemat energi, serta teknologi energi terbarukan.

3. Air
Penggunaan air dapat dihemat dengan menginstal sistem tangkapan air hujan.
Cara ini akan mendaur ulang air yang dapat digunakan untuk menyiram tanaman atau
menyiram toilet. Gunakan pula peralatan hemat air, seperti pancuran air beraliran
rendah, tidak menggunakan bathtub di kamar mandi, menggunakan toilet hemat air,
dan

memasang

pemanas

air

tanpa

listrik.

4. Kesehatan
Penggunaan bahan-bahan bagunan dan furnitur harus tidak beracun, bebas
emisi, rendah atau non-VOC (senyawa organik yang mudah menguap), dan tahan air
untuk mencegah datangnya kuman dan mikroba lainnya. Kualitas udara dalam
ruangan juga dapat ditingkatkan melalui sistim ventilasi dan alat-alat pengatur
kelembaban udara.
1.3 Manfaat Pembangunan Green Building
A. Manfaat Lingkungan
* meningkatkan dn melindungi keragaman ekosistem
* memperbaiki kualitas udara
* memperbaiki kualitas air
* mereduksi limbah
* konservasi sumber daya alam
B. Manfaat Ekonomi
* Mereduksi biaya operasional
* Menciptakan dan memperluas pasar bagi produk dan jasa hijau
* Meningkatkan produktivitas penghuni

C. Manfaat Sosial
* Meningkatkan kesehatan dan kenyamanan penghuni
* Meningkatkan kualitas estetika
* Mereduksi masalah dengan infrastruktur lokal
Penjabaran

prinsi-prinsip

green

architecture

beserta

langkah-langkah

mendesain green building menurut: Brenda dan Robert Vale, 1991, Green
Architecture Design fo Sustainable Future:
1. Conserving Energy (Hemat Energi)
Sungguh sangat ideal apabila menjalankan secara operasional suatu bangunan
dengan sedikit mungkin menggunakan sumber energi yang langka atau membutuhkan
waktu yang lama untuk menghasilkannya kembali. Solusi yang dapat mengatasinya
adalah desain bangunan harus mampu memodifikasi iklim dan dibuat beradaptasi
dengan lingkungan bukan merubah lingkungan yang sudah ada. Lebih jelasnya
dengan memanfaatkan potensi matahari sebagai sumber energi. Cara mendesain
bangunan agar hemat energi, antara lain:
A. Banguanan dibuat memanjang dan tipis untuk memaksimalkan pencahayaan
dan menghemat energi listrik.
B. Memanfaatkan energi matahari yang terpancar dalam bentuk energi thermal
sebagai sumber listrik dengan menggunakan alat Photovoltaicyang diletakkan
di atas atap. Sedangkan atap dibuat miring dari atas ke bawah menuju dinding
timur-barat atau sejalur dengan arah peredaran matahari untuk mendapatkan
sinar matahari yang maksimal.
C. Memasang lampu listrik hanya pada bagian yang intensitasnya rendah. Selain
itu juga menggunakan alat kontrol penguranganintensitas lampu otomatis
sehingga lampu hanya memancarkan cahaya sebanyak yang dibutuhkan
sampai tingkat terang tertentu.
D. Menggunakan Sunscreen pada jendela yang secara otomatis dapat mengatur
intensitas cahaya dan energi panas yang berlebihan masuk ke dalam ruangan.
E. Mengecat interior bangunan dengan warna cerah tapi tidak menyilaukan, yang
bertujuan untuk meningkatkan intensitas cahaya.
F. Bangunan tidak menggunkan pemanas buatan, semua pemanas dihasilkan oleh
penghuni dan cahaya matahari yang masuk melalui lubang ventilasi.

G. Meminimalkan penggunaan energi untuk alat pendingin (AC) dan lift.

2. Working with Climate (Memanfaatkan kondisi dan sumber energi alami)


Melalui pendekatan green architecture bangunan beradaptasi dengan
lingkungannya. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan kondisi alam, iklim dan
lingkungannya sekitar ke dalam bentuk serta pengoperasian bangunan, misalnya
dengan cara:
A. Orientasi bangunan terhadap sinar matahari.
B. Menggunakan sistem air pump dan cros ventilation untuk mendistribusikan
udara yang bersih dan sejuk ke dalam ruangan.
C. Menggunakan tumbuhan dan air sebagai pengatur iklim. Misalnya dengan
membuat kolam air di sekitar bangunan.
D. Menggunakan jendela dan atap yang sebagian bisa dibuka dan ditutup untuk
mendapatkan cahaya dan penghawaan yang sesuai kebutuhan.
3. Respect for Site (Menanggapi keadaan tapak pada bangunan)
Perencanaan mengacu pada interaksi antara bangunan dan tapaknya. Hal ini
dimaksudkan keberadan bangunan baik dari segi konstruksi, bentuk dan
pengoperasiannya tidak merusak lingkungan sekitar, dengan cara sebagai berikut:
A.

Mempertahankan kondisi tapak dengan membuat desain yang mengikuti

B.

bentuk tapak yang ada.


Luas permukaan dasar bangunan yang kecil, yaitu pertimbangan mendesain

C.

bangunan secara vertikal.


Menggunakan material lokal dan material yang tidak merusak lingkungan.

4. Respect for User (Memperhatikan pengguna bangunan)

Antara pemakai dan green architecture mempunyai keterkaitan yang sangat


erat. Kebutuhan akan green architecture harus memperhatikan kondisi pemakai yang
didirikan di dalam perencanaan dan pengoperasiannya.

5. Limitting New Resources (Meminimalkan Sumber Daya Baru)


Suatu bangunan seharusnya dirancang mengoptimalkan material yang ada
dengan meminimalkan penggunaan material baru, dimana pada akhir umur bangunan
dapat digunakan kembali unutk membentuk tatanan arsitektur lainnya.
6. Holistic
Memiliki pengertian mendesain bangunan dengan menerapkan 5 poin di atas
menjadi satu dalam proses perancangan. Prinsip-prinsip green architecturepada
dasarnya tidak dapat dipisahkan, karena saling berhubungan satu sama lain. Tentu
secar parsial akan lebih mudah menerapkan prinsip-prinsip tersebut. Oleh karena itu,
sebanyak mungkin dapat mengaplikasikan green architecture yang ada secara
keseluruhan sesuai potensi yang ada di dalam site.

CONTOH BANGUNAN GREEN BUILDING

EDITT TOWER SINGAPURA (Ecological Design In The Tropics)

1. Nama Bangunan : EDITT Tower Singapura (Ecological Design In The Tropics)


Tinggi Bangunan : 26 Lantai
Luas Lahan : 855 M

Singapura memiliki bangunan yang indah tinggi dengan perusahaan EDITT


Tower (Ecological Design in the Tropics). Proyek ini akan dibangun dengan
dukungan finansial dari National University. Desain menara ini terdiri dari 26 lantai
dengan panel fotovoltaik. Bangunan pencakar langit akan menggunakan vegetasi
organik untuk membungkus bangunan yang juga berfungsi sebagai insulator dinding
hidup. Proyek ini diambil oleh TRHamzah & Yeang dan dirancang untuk
mengumpulkan air hujan, baik untuk irigasi tanaman dan kebutuhannya