Anda di halaman 1dari 48
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM BIOPROSES Materi : ISOLASI ENZIM Oleh : 1. Akhmad Latif Ardiansyah 2.

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM BIOPROSES

Materi :

ISOLASI ENZIM

Oleh :

1. Akhmad Latif Ardiansyah

2. Dinda Labibah Ubay

3. Eko Nur Widodo

4. Yulia Rachmawati

NIM : 21030113130200

NIM : 21030113130196

NIM : 21030113120081

NIM : 21030113120092

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI INDUSTRI

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS DIPONEGORO

2015

ISOLASI ENZIM HALAMAN PENGESAHAN Laporan resmi isolasi enzim yang disusun oleh : Kelompok : 1/Rabu

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM HALAMAN PENGESAHAN Laporan resmi isolasi enzim yang disusun oleh : Kelompok : 1/Rabu Siang
ISOLASI ENZIM HALAMAN PENGESAHAN Laporan resmi isolasi enzim yang disusun oleh : Kelompok : 1/Rabu Siang

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan resmi isolasi enzim yang disusun oleh :

Kelompok

: 1/Rabu Siang

Nama/NIM : Akhmad Latif Ardiansyah

Dinda Labibah Ubay

Eko Nur Widodo

Yulia Rachmawati

Telah diterima dan disetujui pada :

Hari

:

Tanggal

:

Laporan

disusun

sebagai

syarat

untuk

mengikuti

responsi

dan

seminar

Laboratorium

Mikrobiologi Industri.

Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Abdullah, MS.

NIP 19551231 198303 1 004

Mengetahui

PLP

Jufriyah, ST.

NIP 197001091997032001

Semarang,

Juni 2015

Asisten Pembimbing

Tria Friandani

NIM 21030111110152

Semarang, Juni 2015 Asisten Pembimbing Tria Friandani NIM 21030111110152 Laboratorium Mikrobiologi Industri ii
ISOLASI ENZIM RINGKASAN Enzim adalah senyawa protein yang dapat mempercepat atau mengkatalis reaksi kimia. Enzim

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM RINGKASAN Enzim adalah senyawa protein yang dapat mempercepat atau mengkatalis reaksi kimia. Enzim berperan
ISOLASI ENZIM RINGKASAN Enzim adalah senyawa protein yang dapat mempercepat atau mengkatalis reaksi kimia. Enzim berperan

RINGKASAN

Enzim adalah senyawa protein yang dapat mempercepat atau mengkatalis reaksi kimia. Enzim berperan dalam mengubah hasil reaksi, sehingga kecepatan reaksi yang dihasilkan dapat dijadikan keukuran keaktifan enzim. Ciri khas enzim ditandai oleh adanya spesifikasi untuk substrat yang mirip secara biologis. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengisolasi enzim dari sampel getah buah papaya, buah nanas matang dan nanas muda, menghitung parameter kinetik enzimatik serta membandingkan aktivitas enzim protease pada berbagai variabel sumber enzim dan variabel suhu.

Kata enzim berasal dari bahasa Yunani “enzyme” yang berarti didalam sel. Enzim merupakan sejenis protein kompleks yang unik dan merupakan bahan antara yang penting untuk metabolisme dan berbagai perubahan kimia dalam tubuh. Untuk mengisolasi enzim dari tanaman dilakukan 3 proses pemisahan yaitu ekstraksi padat cair, sentrifugasi dan presipitasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim diantaranya adalah konsentrasi substrat, konsentrasi enzim, suhu, racun enzim serta PH.

Bahan yang digunakan adalah getah papaya, nanas matang, nanas muda, solven etanol, cysteine, celite, NaCl, Aquadest dan susu. Sedangkan alat yang digunakan antara lain beakerglass, centrifuge, cuvet, kertas saring, magnetic stirrer, tabung reaksi, Erlenmeyer penghisap, gelas ukur, pengaduk, stopwatch, timbangan, kompor listrik dan thermometer. Cara kerja dari percobaan ini adalah dengan mengikuti prosedur isolasi enzim dan reaksi enzimatis.

Hasil dari percobaan ini adalah suhu sangat mempengaruhi aktivitas enzim terbukti pada suhu yang berbeda mengakibatkan aktivitas enzim yang berbeda pula. Aktivitas enzim optimum pada suhu 55 o C dan menurun setelah 60 o C, hal ini dikarenakan protein mengalami denaturasi. Pada konsentrasi substrat dan suhu yang sama aktivitas enzim papain lebih tinggi daripada bromelain, enzim papain mempunyai keaktifan sintetik yaitu kemampuan membentuk protein baru sehingga waktu yang dibutuhkan untuk hidrolisa protein pada enzim papain lebih cepat daripada bromelin. Aktivitas enzim pada substrat nanas matang lebih tinggi daripada nanas muda, karena kadar bromelain nanas matang 0,06%-0,08% sedangkan nanas muda 0,04%-0,06%. Pada perbandingan konsentrasi yang berbeda antara substrat dengan enzim mempengaruhi aktivitas enzim secara signifikan.

Kesimpulan dari percobaan ini adalah kenaikan suhu sampai suhu optimum akan meningkatkan aktivitas enzim, suhu yang lebih tinggi dari suhu optimum akan menurunkan aktivitas enzim serta semakin banyak substrat maka aktivitas enzim akan meningkat. Sebagai saran, lakukanlah tiap prosedur dari isolasi enzim dan reaksi enzimatis dengan benar serta teliti dalam mengamati endapan yang terbentuk.

enzimatis dengan benar serta teliti dalam mengamati endapan yang terbentuk. Laboratorium Mikrobiologi Industri iii
ISOLASI ENZIM SUMMARY Enzymes are protein compounds that can accelerate or catalyze chemical reactions. Enzymes

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM SUMMARY Enzymes are protein compounds that can accelerate or catalyze chemical reactions. Enzymes play
ISOLASI ENZIM SUMMARY Enzymes are protein compounds that can accelerate or catalyze chemical reactions. Enzymes play

SUMMARY

Enzymes are protein compounds that can accelerate or catalyze chemical reactions. Enzymes play a role in changing the reaction proceeds, so that the resulting reaction speed can be index activity of the enzyme. Characteristic of the enzyme is characterized by the presence of similar specifications for biological substrate. The purpose of this experiment is to isolate the enzyme from papaya fruit sap samples, ripe pineapple and fresh pineapple, calculate and compare the kinetic parameters of enzymatic activity of the protease enzyme in various enzyme source variable and temperatures variable.

The word enzyme comes from the Greek "enzyme" which means inside the cell. An enzyme is a protein complex that is unique and is the essential ingredient for metabolism and chemical changes in the body. To isolate the enzyme from the plant made 3 solid separation process liquid extraction, centrifugation and precipitation. Factors that affect the activity of such enzymes is substrate concentration, enzyme concentration, temperature, PH and toxins.

Materials used are gum papaya, ripe pineapple, fresh pineapple, solvent ethanol, cysteine, celite, NaCl, Aquadest and milk. While the tools are used among others beakerglass, centrifuge, cuvet, filter paper, magnetic stirrer, test tubes, suction Erlenmeyer, measuring cups, stirrers, stopwatch, scales, electric stove and a thermometer. The workings of this experiment is follow isolation procedures enzymes and enzymatic reactions.

Results from this experiments are temperature very affects enzyme activity proved to be at different temperatures resulted in different enzyme activity. The optimum enzyme activity at

55 o C and 60 o C decreased after, this is because the proteins undergo denaturation. On the

substrate concentration and the same temperature papain enzyme activity higher than bromelain, papain enzyme having the ability of forming the synthetic activity of the new proteins so that the time required for protein hydrolysis enzyme papain faster than bromelain. Fresh pineapple enzyme activity on the substrate is higher than fresh pineapple, ripe pineapple bromelain because the levels of 0.06% -0.08% 0.04% while the fresh pineapple - 0.06%. In the comparison of different concentrations between the substrate with the enzyme

affects the activity of the enzyme significantly.

The conclusion from this experiment is the rise in temperature to the optimum temperature will increase the activity of the enzyme, a temperature higher than the optimum temperature will decrease the activity of the enzyme as well as a growing number of substrates will increase the activity of the enzyme. As a suggestion, do each procedure of isolation of enzymes and enzymatic reaction properly and meticulous in observing the precipitate formed.

enzymatic reaction properly and meticulous in observing the precipitate formed. Laboratorium Mikrobiologi Industri iv
ISOLASI ENZIM PRAKATA Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM PRAKATA Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat
ISOLASI ENZIM PRAKATA Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat

PRAKATA

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan hidayahnya, kami dapat menyelesaikan Laporan Resmi Praktikum Bioproses dengan judul “Isolasi Enzim” dengan lancar.

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak maka laporan ini tidak dapat terselesaikan. Oleh karena itu penulis menyampaikan terimakasih kepada :

1. Bapak Dr. Ir. Abdullah, MS. Selaku dosen pembimbing materi praktikum Isolasi Enzim.

2. Ibu Jufriyah, ST selaku PLP.

3. Pradia Paundradewa selaku koordinator asisten Laboratorium Mikrobiologi Industri.

4. Tria Friandani selaku asisten pengampu materi praktikum Isolasi Enzim.

5. Teman-teman yang telah mendukung hingga selesainya makalah ini.

Penulis berharap laporan ini dapat memberikan manfaat dan menambah pengetahuan bagi setiap pembaca pada umumnya. Penulis menyadari laporan ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari berbagai pihak sangat diharapkan untuk menuju sempurnanya laporan ini.

Semarang,

Juni 2015

Penyusun

diharapkan untuk menuju sempurnanya laporan ini. Semarang, Juni 2015 Penyusun Laboratorium Mikrobiologi Industri v
ISOLASI ENZIM DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL i LEMBAR PENGESAHAN ii RINGKASAN iii SUMMARY iv PRAKATA

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL i LEMBAR PENGESAHAN ii RINGKASAN iii SUMMARY iv PRAKATA
ISOLASI ENZIM DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL i LEMBAR PENGESAHAN ii RINGKASAN iii SUMMARY iv PRAKATA

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

i

LEMBAR PENGESAHAN

ii

RINGKASAN

iii

SUMMARY

iv

PRAKATA

v

DAFTAR ISI

vi

DAFTAR TABEL

viii

DAFTAR GAMBAR

ix

BAB I PENDAHULUAN

1

I.1. Latar belakang masalah

1

I.2. Tujuan Percobaan

1

I.3. Manfaat percobaan

1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2

II.1. Isolasi

2

II.2. Enzim

2

II.3. Isolasi Enzim

2

II.4. SIfat-sifat Enzim

4

II.5. Penggolongan Enzim

4

II.6. Jenis dan Sumber-sumber Enzim

4

II.7. Enzim Papain dalam Getah Pepaya

5

II.8. Enzim Bromelin dalam Nanas

6

II.9. Kinetika Enzimatik

7

II.10. Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Enzim

8

II.11. Kegunaan Enzim

9

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

11

III.1. Alat dan Bahan

11

III.1.1 Alat

11

III.1.2 Bahan

11

11 III.1. Alat dan Bahan 11 III.1.1 Alat 11 III.1.2 Bahan 11 Laboratorium Mikrobiologi Industri vi
ISOLASI ENZIM III.2. Gambar Alat 12 III.3. Variabel Operasi 13 III.4. Cara Kerja 13 BAB

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM III.2. Gambar Alat 12 III.3. Variabel Operasi 13 III.4. Cara Kerja 13 BAB IV
ISOLASI ENZIM III.2. Gambar Alat 12 III.3. Variabel Operasi 13 III.4. Cara Kerja 13 BAB IV

III.2. Gambar Alat

12

III.3. Variabel Operasi

13

III.4. Cara Kerja

13

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

15

IV.1. Hasil Percobaan

15

IV.2. Pembahasan

16

IV.2.1 Hubungan antara suhu(T) vs aktivitas enzim(A)

16

IV.2.2 Perbandingan aktivitas enzim papain dan bromelain

17

IV.2.3 Pengaruh sumber enzim bromelain terhadap aktivitas enzim

18

IV.2.4. Hubungan Konsentrasi Enzim dan Substrat terhadap Aktivitas Enzim

18

IV.2.5. Mekanisme Pemecahan Protein /Reaksi Enzim Proteolitik

19

BAB V PENUTUP

21

V.1. Kesimpulan

21

V.2. Saran

21

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

22

A. LEMBAR PERHITUNGAN

B. LAPORAN SEMENTARA

C. LEMBAR KUANTITAS REAGEN

REFERENSI LEMBAR ASISTENSI

B. LAPORAN SEMENTARA C. LEMBAR KUANTITAS REAGEN REFERENSI LEMBAR ASISTENSI Laboratorium Mikrobiologi Industri vii
ISOLASI ENZIM DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Klasifikasi enzim berdasarkan jenis reaksi yang dikatalisis 4 Tabel

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Klasifikasi enzim berdasarkan jenis reaksi yang dikatalisis 4 Tabel 2.2
ISOLASI ENZIM DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Klasifikasi enzim berdasarkan jenis reaksi yang dikatalisis 4 Tabel 2.2

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Klasifikasi enzim berdasarkan jenis reaksi yang dikatalisis

4

Tabel 2.2 Jenis dan sumber-sumber enzim

5

Tabel 2.3 Komposisi getah papaya

5

Tabel 2.4. Kegunaan enzim di Industri

10

Tabel 4.1. Data hasil percobaan

15

Tabel 4.2. Aktivitas enzim variabel I

15

Tabel 4.3. Aktivitas enzim variabel II

15

Tabel 4.4. Aktivitas enzim variabel III

15

enzim variabel II 15 Tabel 4.4. Aktivitas enzim variabel III 15 Laboratorium Mikrobiologi Industri viii
ISOLASI ENZIM DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Pengaruh konsentrasi substrat terhadap kecepatan awal reaksi enzimatik 7

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Pengaruh konsentrasi substrat terhadap kecepatan awal reaksi enzimatik 7
ISOLASI ENZIM DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Pengaruh konsentrasi substrat terhadap kecepatan awal reaksi enzimatik 7

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Pengaruh konsentrasi substrat terhadap kecepatan awal reaksi enzimatik

7

Gambar 2.2 Grafik pemetaan kebalikan ganda (Linewaver-Burk)

8

Gambar 3.1 Beaker glass

12

Gambar 3.2 Centrifuge

12

Gambar 3.3 Cuvet

12

Gambar 3.4 Kertas saring

12

Gambar 3.5 Magnetic stirrer

12

Gambar 3.6 Tabung reaksi

12

Gambar 3.7 Erlenmeyer penghisap

12

Gambar 3.8 Mortar

12

Gambar 3.9 Gelas ukur

12

Gambar 3.10 Pengaduk

12

Gambar 3.11 Stopwatch

12

Gambar 3.12 Timbangan

12

Gambar 3.13 Indikator pH

12

Gambar 3.14 Kompor listrik

12

Gambar 3.15 Termometer

12

Gambar 3.16 Corong penghisap

12

Gambar 3.17 Pompa Vakum

12

Gambar 4.1. Hubungan Suhu (T) vs Aktivitas Enzim (A)

16

Gambar 4.2. Perbandingan aktivitas enzim Papain dan Bromelain

17

Gambar 4.3. Pengaruh variabel I dan II terhadap aktivitas enzim

18

Gambar 4.4. Perbedaan konsentrasi enzim : substrat terhadap aktivitas enzim

18

Gambar 4.5. Mekanisme Umum Hidrolisa Enzimatik Substrat Peptida

20

18 Gambar 4.5. Mekanisme Umum Hidrolisa Enzimatik Substrat Peptida 20 Laboratorium Mikrobiologi Industri ix
ISOLASI ENZIM BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Enzim adalah senyawa protein yang dapat mempercepat

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Enzim adalah senyawa protein yang dapat mempercepat atau
ISOLASI ENZIM BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Enzim adalah senyawa protein yang dapat mempercepat atau

BAB I PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Enzim adalah senyawa protein yang dapat mempercepat atau mengkatalis reaksi kimia. Enzim berperan dalam mengubah hasil reaksi, sehingga kecepatan reaksi yang dihasilkan dapat dijadikan keukuran keaktifan enzim. Enzim hanya dapat bereaksi pada pH dan temperature tertentu. Ciri khas enzim ditandai oleh adanya spesifikasi untuk substrat yang mirip secara biologis. Cara kerja enzim tergantung dari suhu serta lamanya waktu yang diberikan. Enzim dapat mempercepat atau mengkatalis reaksi kimia tetapi tidak mempengaruhi kesetimbangan reaksi (Marison,1988). Enzim dapat diproduksi oleh mikroba atau bahan lainnnya seperti hewan dan tumbuhan. Enzim juga dapat diisolasi dalam bentuk murni (Kurnia, 2010). Dalam percobaan ini dilakukan isolasi enzim papain dari getah pepaya dan enzim bromelain dari sari buah nanas dan diuji aktivitasnya pada larutan casein.

II.

Tujuan Percobaan

1. Mengisolasi enzim protease dari getah buah pepaya, sari buah nanas matang dan sari buah nanas muda

2. Menghitung parameter kinetik enzimatik

3. Membandingkan aktivitas enzim protease berdasarkan variabel waktu operasi, suhu, dan perbandingan ezim:susu.

III.

Manfaat Percobaan

1. Mahasiswa mampu mengisolasi enzim protease dari getah buah pepaya, sari buah

nanas matang dan sari buah nanas muda

2. Mahasiswa mampu menghitung parameter kinetik enzimatik

3. Mahasiswa mampu membandingkan aktivitas enzim protease berdasarkan variabel waktu operasi, suhu, dan perbandingan ezim:susu.

protease berdasarkan variabel waktu operasi, suhu, dan perbandingan ezim:susu. Laboratorium Mikrobiologi Industri 1
ISOLASI ENZIM BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1. Isolasi Kata isolasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1. Isolasi Kata isolasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti
ISOLASI ENZIM BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1. Isolasi Kata isolasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Isolasi

Kata isolasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pemisahan suatu hal dari hal lain. Dapat pula diartikan sebagai suatu usaha untuk memisahkan senyawa yang bercampur sehingga kita dapat menghasilkan senyawa tunggal yang murni. Tumbuhan mengandung ribuan senyawa sebagai metabolit primer dan metabolt sekunder. Biasanya proses isolasi senyawa dari bahan alami yang dilakukan adalah mengisolasi senyawa metabolit sekunder, karena dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Kandungan senyawa dari tumbuhan untuk isolasi dapat diarahkan pada suatu senyawa yang lebih doinan dan salah satu usaha isolasi senyawa tertentu maka dapat dimanfaatkan pemilihan pelarut organik yang akan digunakan pada isolasi tersebut, dimana pelarut polar akan lebih mudah melarutkan senyawa polar dan sebaliknya senyawa non polar lebih mudah larut dalam pelarut non polar (Komariah, 2013).

II.2. Enzim

Kata enzim berasal dari bahasa Yunani “enzyme” yang berarti didalam sel. Enzim merupakan sejenis protein kompleks yang unik dan merupakan bahan antara yang penting untuk metabolisme dan berbagai perubahan kimia dalam tubuh. Enzim dapat mempercepat atau mengkatalis reaksi kimia tetapi tidak mempengaruhi kesetimbangan reaksi (Marison,1988). Enzim dapat diproduksi oleh mikroba atau bahan lainnnya seperti hewan dan tumbuhan. Enzim juga dapat diisolasi dalam bentuk murni (Kurnia, 2010).

II.3. Isolasi Enzim

Untuk mengisolasi enzim dari tanaman dilakukan 3 proses pemisahan

a. Ekstraksi padat cair

Merupakan salah satu metode pemisahan cairpadatan. Pada proses ini, komponen yang tidak larut dipisahkan dari bahan padatan dengan bantuan solvent. Ketika solvent dicampur dengan sampel, maka solvent akan melarutkan ekstrak dengan difusi sampai terjadi keseimbangan konsentrasi.

akan melarutkan ekstrak dengan difusi sampai terjadi keseimbangan konsentrasi. Laboratorium Mikrobiologi Industri 2
ISOLASI ENZIM b. Sentrifugasi Merupakan cara memisahkan bagian seperti partikel dalam medan gaya sentrifugal partikel

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM b. Sentrifugasi Merupakan cara memisahkan bagian seperti partikel dalam medan gaya sentrifugal partikel yang
ISOLASI ENZIM b. Sentrifugasi Merupakan cara memisahkan bagian seperti partikel dalam medan gaya sentrifugal partikel yang

b. Sentrifugasi

Merupakan cara memisahkan bagian seperti partikel dalam medan gaya sentrifugal partikel yang berukuran berbeda dalam berbagai ukuran. Densitas dan bentuk akan mengendap searah sentrifugal dengan kepentingan berbeda (Shuler,

1992).

c. Presipitasi

Presipitasi adalah metode yang paling baik digunakan untuk mendapatkan protein dan telah banyak digunakan dalam skala kecil maupun besar. Ada 5 metode yang digunakan untuk presipitasi protein, yaitu:

1) Salting out, pada metode ini garam netral ditambahkan pada larutan yang mengandung enzim. Konsentrasi garam berpengaruh terhadap keseimbangan antara gaya elekrostatik (yang menjaga protein dalam larutan) dan gaya hidrofobik (yang menyebabkan protein menggumpal) sehingga menyebabkan protein terendapkan.

2) Presipitasi oleh pelarut organik, dalam proses ini pelarut organik (yang harus dapat larut dalam air) ditambahkan pada larutan yang mengandung protein terlarut.

3) Isoelectric preciptation, metode ini memanfaatkan sifat protein yang direduksi kelarutannyapada titik isoelektrik yang didefnisikan sebagai pH dimana molekul memiliki net charge.

4) Presipitasi oleh polimer non-ionik, ketika polimer dengan berat molekul yang besar ditambahkan pada larutan yang mengandung protein maka akan membentuk dualapisan dan protein terekstraksi dalam lapisan polimer dan meninggalkan sel.

5)

Presipitasi oleh polielektrolit, metode ini baru dapat digunakan dalam skala kecil. Keuntungan dari metode ini adalah hanya dengan polielektrolit dengan konsentrasi rendah (0,05-0,1 %) dapat mengendapkan sejumla besar protein.

(Shuler, 1992)

rendah (0,05-0,1 %) dapat mengendapkan sejumla besar protein. (Shuler, 1992) Laboratorium Mikrobiologi Industri 3
ISOLASI ENZIM II.4. Sifat – Sifat Enzim Sifat- sifat enzim adalah sebagai berikut: a. Dalam

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM II.4. Sifat – Sifat Enzim Sifat- sifat enzim adalah sebagai berikut: a. Dalam jumlah
ISOLASI ENZIM II.4. Sifat – Sifat Enzim Sifat- sifat enzim adalah sebagai berikut: a. Dalam jumlah

II.4. Sifat Sifat Enzim

Sifat- sifat enzim adalah sebagai berikut:

a. Dalam jumlah kecil dapat mengkatalis substrat dalam jumlah besar.

b. Enzim bereaksi optimum pada 40°C dan tekanan normal.

c. Reaksi enzimatis berlangsung pada pH netral.

d. Tidak dapat menghidrolisis disakarida dan polisakarida.

e. Umumnya dipakai koenzim

f. Enzim biasanya merusak zat yang dapat mengurangi keaktifannya.

g. Biasanya diperlukan energi aktivasi

(Marison, 1988 dan Kurnia, 2010)

II.5. Penggolongan enzim Enzim biasanya diberikan nama yang menggambarkan reaksi yang dikatalisis oleh enzim tersebut, misalnya urease (enzim yang mengkatalisis hidrolisis urea). Dalam beberapa kasus, enzim dinamakan dengan penambahan “-ase” setelah nama substrat atau reaksi katalisis. beberapa enzim ada pula yang nama trivialnyatidak menggambarkan reaksi yang dikatalisis, contohnya renin, tripsin, papain, bromelin dan lain-lain. Berdasarkan jenis reaksi yang dikatalisis, enzim dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Tabel 2.1 Klasifikasi enzim berdasarkan jenis reaksi yang dikatalisis

No

Kelas

Jenis Reaksi yang Dikatalisis

1

Oksidureduktase Pemindahan elektron

2

Transferase Reaksi pemindahan gugus fungsional

3

Hidrolase Reaksi hidrolisis (pemindahan gugus fungsional ke air)

4

Liase Penambahan gugus ke ikatan ganda atau sebaliknya

5

Isomerase Pemindahan gugus di dalam molekul menghasilkan bentuk isomer

6

Ligase Pembentukan ikatan C-C, C-S, C-O dan C-N oleh reaksi kondensasi yang berkaitan dengan penguraian ATP

II.6.

(Marison, 1988)

Jenis dan Sumber-sumber Enzim Enzim dapat bersumber dari mikroba, tumbuhan maupun hewan. Berikut tabel jenis enzim dan sumbernya:

dari mikroba, tumbuhan maupun hewan. Berikut tabel jenis enzim dan sumbernya: Laboratorium Mikrobiologi Industri 4
ISOLASI ENZIM Tabel 2.2 Jenis dan sumber-sumber enzim Jenis Mikroba Jenis Tumbuhan Jenis Hewan Amylase

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM Tabel 2.2 Jenis dan sumber-sumber enzim Jenis Mikroba Jenis Tumbuhan Jenis Hewan Amylase
ISOLASI ENZIM Tabel 2.2 Jenis dan sumber-sumber enzim Jenis Mikroba Jenis Tumbuhan Jenis Hewan Amylase

Tabel 2.2 Jenis dan sumber-sumber enzim

Jenis

Mikroba

Jenis

Tumbuhan

Jenis

Hewan

Amylase

B. subtilis

Β amylase

Barley grain

Α amylase

Pancreas

A.

oryzae

A.

niger

Pennicillinase

B. subtilis

Peroxide

Horeradish

Lipase

Bovine/porcine

 

root

Invertase

A. oryzae

Papain

Papaya

Pepsin

Porcine

S. cerevisae

 

Cellulase

A. niger

Bromelain

Nanas

Rennet

Bovine

 

(Fowler, 1988)

II.7. Enzim Papain dalam Getah Pepaya

Enzim papain adalah enzim yang terdapat pada getah papaya merupakan jenis

enzim proteolitik yaitu enzim yang mengakatalisa reaksi pemecahan rantai polipeptida

pada protein dengan cara menghidrolisa ikatan peptidanya menjadi senyawa yang

lebih sederhana seperti dipeptida dan asam amino. Komposisi getah pepaya dapat

dilhat pada tabel berikut

Tabel 2.3 Komposisi getah pepaya

dilhat pada tabel berikut Tabel 2.3 Komposisi getah pepaya (Edahwati, 2011) Enzim papain termasuk enzim proteolitik

(Edahwati, 2011)

Enzim papain termasuk enzim proteolitik dan enzimnya disebut protease. Sifat

kimia enzim protease tergantung dari jenis gugusan kimia yang yang terdapat dalam

enzim tersebut. Karena papain memiliki gugus sulfihidril pada lokasi aktifnya maka

enzim papain termasuk dalam golongan enzim proteolitik sulfihidril. Enzim papain

mempunyai keaktifan sintetik yaitu kemampuan untuk membuat protein baru atau

senyawa yang menyerupai protein yang disebut plastein. Disamping keaktifan untuk

memecah protein (Edahwati, 2011).

yang disebut plastein. Disamping keaktifan untuk memecah protein (Edahwati, 2011). Laboratorium Mikrobiologi Industri 5
ISOLASI ENZIM Enzim papain dapat diisolasi dari getah yang terdapat pada daun, batang dan buah

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM Enzim papain dapat diisolasi dari getah yang terdapat pada daun, batang dan buah pepaya
ISOLASI ENZIM Enzim papain dapat diisolasi dari getah yang terdapat pada daun, batang dan buah pepaya

Enzim papain dapat diisolasi dari getah yang terdapat pada daun, batang dan buah pepaya yang masih muda. Pada penelitian yang dilakukan oleh Firman Sebayang (2006), isolasi papain dilakukan menggunakan aseton 85% sebagai pengendap enzim. Setelah melalui tahap penyaringan dan pengeringan beku diperoleh papain 1,25 gram untuk setiap 50 ml getah. Salah satu aplikasi enzim papain dalam industri makanan adalah untuk pelunakkan daging. Dalam penelitian yang dilakukan Silaban dkk. (2012) perbandingan antara enzim papain dengan menggunakan pengaktif dan enzim tanpa pengaktif. Enzim papain dengan pengkatif optimum pada pH 5,5; suhu 500C; konsentrasi enzim 0,05 gram; dan konsentrasi substrat 1,0 gram dengan aktivitas enzim sebesar 50,2120 x 10 -3 unit/mg dan tingkat kelunakan sebesar 7,5097 g/mm 3 .

Sedangkan enzim tanpa pengaktif optimum pada pH 5,5 ;suhu 500C; konsentrasi enzim 0,075 dan konsentrasi substrat 1,0 dengan aktivitas spesifik sebesar 41,6068 x

10 -3 unit/mg dan tingkat kelunakan sebesar 8,4189 g/mm 3 .

II.8. Enzim Bromelin dalam Nanas Bromelin adalah enzim yang diperoleh dari sari atau batang buah nanas (Ananas comosus) dan banyak digunakan dalam proses chilled proofing bir, karena dapat menghidrolisis habis protein menjadi bagian-bagian yang larut, sehingga tidak dapat keruh. Baik buah nanas yang muda maupun yang tua mengandung bromelin. Bahkan keaktifan bromelin pada kasein dari buah yang lebih muda lebih tinggi bila dibanding buah yang lebih tua. Enzim bromelin dapat diperoleh dengan cara mengempa batang tanaman nanas dan diendapkan sarinya dengan aseton. Seperti papain, bromelin tergolong kelompok enzim protease sulfihidril. Bedanya dengan papain, enzim bromelin merupakan glukoprotein sedangkan papain merupakan protein (Edahwati,

2011).

Pada penelitian yang dilakukan Wuryanti (2004), isolasi enzim dari bah nanas dilakukan dengan metoda ekstraksi, lalu ditentukan aktivitas unit dengan substrat kasein dan penentuan kadar protein dengan metoda Lowry menggunakan spektrofotometer. Hasil isolasi merupakan ekstrak kasar enzim bromelin dengan kadar 10,299 mg/mL dan aktivitas spesifik 0,521 U/mg. Salah satu aplikasi enzim bromelin dalam industri yaitu untuk mendegadasi protein dalam limbah pabrik tahu. Protein dalam air limbah pabrik tahu (ALPT) dapat

protein dalam limbah pabrik tahu. Protein dalam air limbah pabrik tahu (ALPT) dapat Laboratorium Mikrobiologi Industri
ISOLASI ENZIM menyebabkan masalah bagi lingkungan. Dalam penelitian yang dilakukan Prawesti (2010) menunjukkan bahwa enzim

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM menyebabkan masalah bagi lingkungan. Dalam penelitian yang dilakukan Prawesti (2010) menunjukkan bahwa enzim
ISOLASI ENZIM menyebabkan masalah bagi lingkungan. Dalam penelitian yang dilakukan Prawesti (2010) menunjukkan bahwa enzim

menyebabkan masalah bagi lingkungan. Dalam penelitian yang dilakukan Prawesti (2010) menunjukkan bahwa enzim bromelin amobil mampu mendegradasi protein dari ALPT. Pada konsentrasi alginat 2% dengan konsentrasi substrat 80% dan pada pH 6,5 selama 9 jam sebesar 59,641%. Hasil uji perulangan menunjukkan bahwa enzim bromelin amobil cukup baik digunakan hingga lima kali proses degradasi protein dari ALPT.

II.9. Kinetika Enzimatik Konsentrasi substrat mempengaruhi kecepatan reaksi yang dikatalisis oleh enzim. Pengaruh berbagai konsentrasi substrat terhadap kecepatan reaksi awal jika enzim dijaga konstan dapat dilihat pada gambar berikut:

jika enzim dijaga konstan dapat dilihat pada gambar berikut: Gambar 2.1 Pengaruh konsentrasi substrat terhadap kecepatan

Gambar 2.1 Pengaruh konsentrasi substrat terhadap kecepatan awal reaksi enzimatik.

(Marison,1988)

Pada konsentrasi substrat yang amat rendah, kecepatan reaksipun amat rendah, tetapi kecepatan ini akan meningkat dengan meningkatnya konsentrasi substrat. Jika kita menguji pengarugh konsentrasi substrat yang terus meningkat setiap saat kita mengukur kecepatan awal reaksi yang dikatalisis ini, kita akan menemukan bahwa kecepatan ini meningkat dengan nilai yang semakin kecil. pada akhirnya, akan tercapai titik batas, dan setelah melampaui titik ini, kecepatan reaksi hanya akan meningkat sedemikian kecil dengan bertambahnya konsentasi substrat. Bagaimanapun tingginya konsentrasi substrat setelah titik ini tercapai, kecepatan reaksi akan mendekati, tetapi tidak akan pernah mencapai garis maksimum. Pada batas ini, yang disebut kecepatan maksimum (Vmaks), enzim menjadi jenuh substratnya, dan tidak dapat berfungsi lebih cepat.

(Vmaks), enzim menjadi jenuh substratnya, dan tidak dapat berfungsi lebih cepat. Laboratorium Mikrobiologi Industri 7
ISOLASI ENZIM Pada Gambar 2.1 akan terlihat sukarnya menyatakan konesentrasi substrat yang diperlukan untuk mencapai

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM Pada Gambar 2.1 akan terlihat sukarnya menyatakan konesentrasi substrat yang diperlukan untuk mencapai
ISOLASI ENZIM Pada Gambar 2.1 akan terlihat sukarnya menyatakan konesentrasi substrat yang diperlukan untuk mencapai

Pada Gambar 2.1 akan terlihat sukarnya menyatakan konesentrasi substrat yang diperlukan untuk mencapai vmaks. Namun demikian, karena kurva yang menyataan hubungan ini meemiliki bentuk umum yang sama bagi semua enzim (kurva ini berbentuk hiperbola), Michaelis-Menten mendefinisikan suatu tetapan, yang dinyatakn sebagai km (konsentrasi substrat tertentu pada saat enzim mencapai kecepatan maksimumnya). persamaan Michaelis-Menten secara matematika dapat dinyatakan dalam persamaan

secara matematika dapat dinyatakan dalam persamaan dengan Vo = kecepatan awal pada konsentrasi substrat

dengan

Vo

= kecepatan awal pada konsentrasi substrat [S]

Vmaks

= kecepatan maksimum

Km

= tetapan Michaelis-Menten enzim bagi substrat tertentu

Persamaan

Michaelis-Menten dapat

ditrannsformasi

(Marison, 1988) secara aljabar menjadi

bentuk lain yang lebih umum digunakan untuk memetakan data percobaan

yang lebih umum digunakan untuk memetakan data percobaan Gambar 2.2 Grafik pemetaan kebalikan ganda ( Linewaver-Burk

Gambar 2.2 Grafik pemetaan kebalikan ganda (Linewaver-Burk) (Marison, 1988)

II.10.Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Enzim

a. Konsentrasi substrat Aktivitas enzim akan meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi tertentu sampai dengan titik dimana enzim mengalami akivitas tertinggi kemudian akan mengalami penurunan aktivitas dengan

mengalami akivitas tertinggi kemudian akan mengalami penurunan aktivitas dengan Laboratorium Mikrobiologi Industri 8
ISOLASI ENZIM bertambahnya substrat atau ttik dimana enzim sudah secara keseluruhan membentuk kompleks enzim-substrat. b.

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM bertambahnya substrat atau ttik dimana enzim sudah secara keseluruhan membentuk kompleks enzim-substrat. b.
ISOLASI ENZIM bertambahnya substrat atau ttik dimana enzim sudah secara keseluruhan membentuk kompleks enzim-substrat. b.

bertambahnya substrat atau ttik dimana enzim sudah secara keseluruhan membentuk kompleks enzim-substrat.

b. Pengaruh pH Perubahan aktivitas enzim akibat perubahan pH lingkungan disebabkan terjadinya perubahan ionisasi enzim, substrat atau kompleks enzim substrat serta perubahan kemampuanpeningkatan dan pengaruh laju reaksi. Pada umumnya enzim menunjukkan aktivitas maksimum pada suatu kisaran pH yang disebut pH optimum, yang umumnya antara pH 4,5-8,0 (Kurnia, 2010).

c. Temperatur tinggi Pada umumnya semakin tinggi temperatur semakin naik laju reaks baik yang tidak dikatalisis maupun yang dikatalisis oleh enzim. Namun enzim merupakan senyawa protein yang sangat peka terhadap perubahan temperatur. Semakin tinggi temperatur akan terjadi perubahan struktur enzim yang diikuti dengan hilangnya aktivitas katalitik dari enzim tersebut. Di Indonesia, temperatur optimum bagi proses enzimatis dilakukan pada temperatur kamar. Hampir semua enzim memiliki aktivitas optimum pada temperatur sekitar 30 o C dan denaturasi dimulai pada temperatur 45 o C (Kurnia, 2010).

d. Temperatur pembekuan Beberapa enzim dapat terdenaturasi pada temperatur pembekuan. Proses pembekuan yang tiba-tiba dapat menimbulkan hilangnya aktivitas enzim yang sedang diekstraksi, karena proses ini dapat mengakibatkan perubahan struktur enzim. Pada pembekuan terjadi larutan dengan viskositas tinggi yang dapat menghalangi difusi enzim substrat, akibatnya dapat membatasi aktivitas enzim. Beberapa enzim dapat rusak apabila dibiarkan pada temperatur rendah bukan beku (chilling). Keadaan tersebut dikenal dengan nama denaturasi dingin (Kurnia, 2010).

II.11.Kegunaan Enzim Enzim lebih dipilih karena tenaga katalisnya tinggi, mempunyai range aktiviti yang luas, serta reaksinya dapat dijalankan pada pH, suhu dan tekanan yang cukup rendah. Enzim terbanyak digunakan di industri makanan. Selain itu untuk detergent. Produk produk obat farmasi dan tekstil.

makanan. Selain itu untuk detergent. Produk – produk obat farmasi dan tekstil. Laboratorium Mikrobiologi Industri 9
ISOLASI ENZIM Tabel 2.4. Kegunaan enzim di Industri Industri Bidang Enzim Asal Penggunaan Makanan Roti

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM Tabel 2.4. Kegunaan enzim di Industri Industri Bidang Enzim Asal Penggunaan Makanan Roti
ISOLASI ENZIM Tabel 2.4. Kegunaan enzim di Industri Industri Bidang Enzim Asal Penggunaan Makanan Roti

Tabel 2.4. Kegunaan enzim di Industri

Industri

Bidang

Enzim

Asal

Penggunaan

Makanan

Roti

α-Amylase Protease α-Amylase Protease β-Glukonase Papain Glu-Iso α-Amylase Selulase Protease α-Amylase Lipase α-Amylase

Jamur

Pertumbuhan yeast (gula) Reduksi protein untuk biskuit Pertumbuhan yeast (gula) Degradasi protein (peptida) Mengurangi viskositas Melunakkan High Fructosa Syrup Syrup pati Bau dan pelunak Menghilangkan sisa protein Hidrolisa lemak Menghilangkan sisa pati

 

Jamur

 

Bir

Gabah

 

Bakteri

Jamur

 

Daging

Tanaman

Pemanis

Bakteri

 

Bakteri

 

Sayuran

Jamur

Detergent

Biological

Bakteri

Farmasi

Diagnosa

Mikroba

Tekstil

Bakteri

(Fowler, 1988)

Bakteri Farmasi Diagnosa Mikroba Tekstil Bakteri (Fowler, 1988) Laboratorium Mikrobiologi Industri 10
ISOLASI ENZIM BAB III METODOLOGI PERCOBAAN III.1. Bahan dan Alat yang Digunakan III.1.1 Bahan yang

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM BAB III METODOLOGI PERCOBAAN III.1. Bahan dan Alat yang Digunakan III.1.1 Bahan yang digunakan
ISOLASI ENZIM BAB III METODOLOGI PERCOBAAN III.1. Bahan dan Alat yang Digunakan III.1.1 Bahan yang digunakan

BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

III.1. Bahan dan Alat yang Digunakan

III.1.1

Bahan yang digunakan

a. Tanaman sebagai sumber enzim, yaitu:

Getah buah pepaya 15 gram

Sari buah nanas matang 20 ml

Sari buah nanas muda 20 ml

b. Solvent (etanol) @20 ml

c. Cystein @1,5 gram

d. Celite @1,5 gram

e. NaCl @1 gram

f. NaOH/ CH 3 COOH secukupnya

g. Aquadest @20 ml

h. Susu : 64,125 gr

III.1.2

Alat yang digunakan

a.

Beaker glass

j.

Pengaduk

b.

Centrifuge

k.

Stopwatch

c.

Cuvet

l.

Timbangan

d.

Kertas saring

m.

Indikator pH

e.

Magnetic stirrer

n.

Kompor listrik

f.

Tabung reaksi

o.

Termometer

g.

Erlenmeyer penghisap

p.

Corong penghisap

h.

Mortar

q.

Pompa vakum

i.

Gelas ukur

p. Corong penghisap h. Mortar q. Pompa vakum i. Gelas ukur Laboratorium Mikrobiologi Industri 11

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM III.2. Gambar Alat Gambar 3.1 Beaker glass Gambar 3.2 Gambar 3.3 Cuvet Gambar 3.4
ISOLASI ENZIM III.2. Gambar Alat Gambar 3.1 Beaker glass Gambar 3.2 Gambar 3.3 Cuvet Gambar 3.4

III.2. Gambar Alat

ISOLASI ENZIM III.2. Gambar Alat Gambar 3.1 Beaker glass Gambar 3.2 Gambar 3.3 Cuvet Gambar 3.4
Gambar 3.1 Beaker glass

Gambar 3.1 Beaker glass

Gambar 3.2

Gambar 3.2

Gambar 3.3 Cuvet

Gambar 3.3 Cuvet

Gambar 3.1 Beaker glass Gambar 3.2 Gambar 3.3 Cuvet

Gambar 3.4 Kertas saring

Centrifuge

 
3.3 Cuvet Gambar 3.4 Kertas saring Centrifuge   Gambar 3.5 Magnetic stirrer Gambar 3.6 Tabung reaksi
3.3 Cuvet Gambar 3.4 Kertas saring Centrifuge   Gambar 3.5 Magnetic stirrer Gambar 3.6 Tabung reaksi
3.3 Cuvet Gambar 3.4 Kertas saring Centrifuge   Gambar 3.5 Magnetic stirrer Gambar 3.6 Tabung reaksi

Gambar 3.5

Magnetic stirrer

Gambar 3.6

Tabung reaksi

Gambar 3.7

Erlenmeyer

penghisap

Gambar 3.8 Mortar

Gambar 3.7 Erlenmeyer penghisap Gambar 3.8 Mortar Gambar 3.9 Gelas ukur Gambar 3.10 Pengaduk Gambar
Gambar 3.7 Erlenmeyer penghisap Gambar 3.8 Mortar Gambar 3.9 Gelas ukur Gambar 3.10 Pengaduk Gambar
Gambar 3.7 Erlenmeyer penghisap Gambar 3.8 Mortar Gambar 3.9 Gelas ukur Gambar 3.10 Pengaduk Gambar
Gambar 3.7 Erlenmeyer penghisap Gambar 3.8 Mortar Gambar 3.9 Gelas ukur Gambar 3.10 Pengaduk Gambar

Gambar 3.9 Gelas ukur

Gambar 3.10

Pengaduk

Gambar 3.11

Stopwatch

Gambar 3.12

Timbangan

Gambar 3.13

Gambar 3.13

Gambar 3.14

Gambar 3.14

Gambar 3.15

Gambar 3.15

Gambar 3.13 Gambar 3.14 Gambar 3.15

Indikator pH

Kompor listrik

Termometer

Gambar 3.16 Corong penghisap

 
 

Gambar 3.17 Pompa vakum

Termometer Gambar 3.16 Corong penghisap   Gambar 3.17 Pompa vakum Laboratorium Mikrobiologi Industri 12

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM III.3. Variabel Operasi  Waktu operasi : 10 menit stirring dengan magnetic stirrer, 20
ISOLASI ENZIM III.3. Variabel Operasi  Waktu operasi : 10 menit stirring dengan magnetic stirrer, 20

III.3. Variabel Operasi

Waktu operasi : 10 menit stirring dengan magnetic stirrer, 20 menit sentrifugasi.

Suhu

Kecepatan sentrifugasi

: 40 o C, 55 o C, 70 o C, 85 o C

: 2000 rpm : 1:5, 5:1

Perbandingan (Enzim:Susu) III.4. Cara Kerja III.4.1 Isolasi Enzim

(Enzim:Susu) III.4. Cara Kerja III.4.1 Isolasi Enzim 1. Masukkan sampel dari tanaman sebagai sumber enzim ke

1. Masukkan sampel dari tanaman sebagai sumber enzim ke dalam beaker glass sesuai variabel

2. Tambahkan ke dalam beaker glass tersebut celite 1,5 gram, cystein

1,5 gram, aquadest 20 ml dan solvent 20 ml lalu atur pHnya sesuai

variabel

3. Aduk dengan magnetic stirrer campuran tersebut selama 10 menit pada suhu kamar

4. Saring dengan kertas saring dan menggunakan pompa vakum, sehingga didapat filtrat I dan endapan I, buang endapannya

5. Pada filtrat I tambahkan pengendap 1 gram

6. Masukkan pada cuvet lalu disentrifugasi selama 20 menit dengan kecepatan 2000 rpm

7. Saring hasil sentrifugasi dengan kertas saring dan menggunakan

poma vakum, sehingga didapatan endapan II dan filtrat II

8. Keringkan dan timbang endapan II (misal a gram), simpan endapan

II

9. Tambahkan garam pengendap 1 gram pada filtrat II, lalu simpan 1 malam dalam lemari es

10. Saring filtrat II dengan kertas saring dan menggunakan pompa vakum, sehingga didapatkan endapan III dan filtrat III

11. Keringkan dan timbang endapan III (misal b gram)

12. Ambil endapan II, campurkan dengan endapan III, jika jumlah dari endapan II dan III (a+b gram) lebih besar dari 1 gram, ambil 1 gram

endapan tersebut, larutkan dalam air sampai 10 ml (lautan ini adalah

enzim

1 gram endapan tersebut, larutkan dalam air sampai 10 ml (lautan ini adalah enzim Laboratorium Mikrobiologi

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM 13. Jika a+b kurang dari 1 gram, ambil 1 ml filtrat III, encerkan sampai
ISOLASI ENZIM 13. Jika a+b kurang dari 1 gram, ambil 1 ml filtrat III, encerkan sampai
ISOLASI ENZIM 13. Jika a+b kurang dari 1 gram, ambil 1 ml filtrat III, encerkan sampai

13. Jika a+b kurang dari 1 gram, ambil 1 ml filtrat III, encerkan sampai 10 ml (larutan ini adalah enzim). III.4.2 Reaksi Enzimatis

1. Buat larutan casein/ susu 38%W dengan basis 135 ml

2. Panaskan larutan casein tersebut sampai suhu 40 o C, 55 o C, 70 o C, 85 o C

3. Ambil larutan enzim dan casein tersebut sesuai varabel (Enzim:Susu = 1:5, 5:1)

4. Setelah mencapai suhu tersebut, tuangkan larutan enzim ke dalam larutan casein

5. Catat waktu sampai terjadinya penggumpalan pertama

6. Perhitungan aktivitas enzim proteolitik:

pertama 6. Perhitungan aktivitas enzim proteolitik: Dengan : ρ = densitas casein (susu) V =

Dengan :

ρ

= densitas casein (susu)

V

= perbandingan volume enzim:susu

t

= waktu penggumpalan

Tidak diatur 10 menit . T = 30 0 C
Tidak diatur
10 menit . T = 30 0 C
t = waktu penggumpalan Tidak diatur 10 menit . T = 30 0 C 10 menit.

10 menit. ῳ = 2000

t = waktu penggumpalan Tidak diatur 10 menit . T = 30 0 C 10 menit.

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN IV.1. Hasil Percobaan Tabel 4.1. Data hasil percobaan
ISOLASI ENZIM BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN IV.1. Hasil Percobaan Tabel 4.1. Data hasil percobaan

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

IV.1. Hasil Percobaan

Tabel 4.1. Data hasil percobaan

IV.1. Hasil Percobaan Tabel 4.1. Data hasil percobaan Variabel Massa endapan I (a) Massa endapan II

Variabel

Massa endapan I (a)

Massa endapan II (b)

Massa a + b

1

0,21 g

0,26 g

0,47 g

2

0,15 g

0,35 g

0,48 g

3

0,88 g

0,27 g

0,95 g

Tabel 4.2. Aktivitas enzim variabel I

Suhu ( 0 C)

t 1 (casein 5 ml)

t 2 (casein 1 ml)

A 1 (mcu/g)

A 2 (mcu/g)

40

8 s

5 s

0,5

0,032

55

4 s

3 s

1

0,053

70

8 s

5 s

0,5

0,032

85

9 s

4 s

0,45

0,04

Tabel 4.3. Aktivitas enzim variabel II

Suhu ( 0 C)

t 1 (casein 5 ml)

t 2 (casein 1 ml)

A 1 (mcu/g)

A 2 (mcu/g)

40

14 s

10 s

0,285

0,016

55

9 s

6 s

0,45

0,0267

70

17 s

3 s

0,235

0,053

85

8 s

5 s

0,5

0,032

Tabel 4.4. Aktivitas enzim variabel III

Suhu ( 0 C)

t 1 (casein 5 ml)

t 2 (casein 1 ml)

A 1 (mcu/g)

A 2 (mcu/g)

40

20 s

13 s

0,2

0,012

55

15 s

8 s

0,267

0,02

70

13 s

7 s

0,307

0,022

85

4 s

1,5 s

1

0,106

Keterangan :

Variabel I

: Getah Pepaya

 

Variabel II : Sari Buah Nanas Matang Variabel III : Sari Buah Nanas Muda

  Variabel II : Sari Buah Nanas Matang Variabel III : Sari Buah Nanas Muda Laboratorium

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM IV.2. Pembahasan IV.2.1. Hubungan antara Suhu (T) vs Aktivitas Enzim (A) Gambar 4.1. H
ISOLASI ENZIM IV.2. Pembahasan IV.2.1. Hubungan antara Suhu (T) vs Aktivitas Enzim (A) Gambar 4.1. H

IV.2. Pembahasan

ISOLASI ENZIM IV.2. Pembahasan IV.2.1. Hubungan antara Suhu (T) vs Aktivitas Enzim (A) Gambar 4.1. H

IV.2.1. Hubungan antara Suhu (T) vs Aktivitas Enzim (A)

IV.2.1. Hubungan antara Suhu (T) vs Aktivitas Enzim (A) Gambar 4.1. H ubungan Suhu (T) vs

Gambar 4.1. Hubungan Suhu (T) vs Aktivitas Enzim (A)

Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa aktivitas enzim mengalami peningkatan dari rentang suhu 40 0 C sampai suhu 55 0 C dan setelahnya mengalami penurunan. Hal ini karena suhu optimum enzim protease (Papain dan Bromelin) memiliki suhu optimum 55 0 C , sehingga terjadi peningkatan maksimal pada range suhu tersebut. Sesuai dengan yang disampaikan Baehaki (2008), setiap enzim memiliki aktivitas maksimum pada suhu tertentu, bertambahnya suhu akan meningkatkan aktivitas enzim hingga tercapai suhu optimum tercapai dan setelahnya, kenaikan suhu di atas suhu optimum mengakibatkan penurunan aktivitas enzim. Aktivitas enzim optimum pada temperature 55 o C dan menurun setelah 60 o C, hal ini dikarenakan sebagian protein telah mengalami kerusakan atau terdenaturasi. Temperatur lingkungan yang meningkat di sekitar enzim akan menyebabkan putusnya ikatan hidrogen, ikatan ion atau interaksi hidrofobik sehingga struktur tersier enzim berubah, yang menyebabkan struktur lipatan enzim membuka pada bagian permukaan sehingga sisi aktif enzim berubah mengakibatkan terjadi penurunan aktivitas enzim (Tri, 2012).

aktif enzim berubah mengakibatkan terjadi penurunan aktivitas enzim (Tri, 2012). Laboratorium Mikrobiologi Industri 16

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM IV.2.2. Perbandingan aktivitas enzim Papain dan Bromelain Gambar 4.2. Perbandingan aktivitas enzim Papain
ISOLASI ENZIM IV.2.2. Perbandingan aktivitas enzim Papain dan Bromelain Gambar 4.2. Perbandingan aktivitas enzim Papain
ISOLASI ENZIM IV.2.2. Perbandingan aktivitas enzim Papain dan Bromelain Gambar 4.2. Perbandingan aktivitas enzim Papain

IV.2.2. Perbandingan aktivitas enzim Papain dan Bromelain

IV.2.2. Perbandingan aktivitas enzim Papain dan Bromelain Gambar 4.2. Perbandingan aktivitas enzim Papain dan

Gambar 4.2. Perbandingan aktivitas enzim Papain dan Bromelain

Dari gambar 4.2 dapat dilihat bahwa aktivitas enzim papain lebih besar daripada aktivitas enzim bromelin pada perbandingan substrat casein dan suhu yang sama. Sifat kimia enzim protease tergantung dari jenis gugusan kimia yang ada pada enzim tersebut. Enzim papain dan bromelain merupakan kelompok sulfihidril. Perbedaan di antara keduanya adalah enzim bromelain merupakan glukoprotein sedangkan enzim papain merupakan protein. Bromelin mempunyai dua gugus pokok yaitu asam amino protein dan gugus karbohidrat sebagai gugus prostetiknya. Sedangkan Menurut Yamamoto (1975) yang dikutip oleh Muchtadi et.al., (1992) bahwa di dalam getah dan daun pepaya terdapat tiga jenis enzim protease yaitu enzim papain sebanyak 10 persen, kimopapain 45 persen, dan lisozim 20 persen. Enzim papain mempunyai keaktifan sintetik yaitu kemampuan membentuk protein baru yang disebut plastein dari hasil hidrolisis protein (Winarno, 1986) . Sehingga waktu yang dibutuhkan untuk hidrolisa protein pada enzim papain lebih cepat daripada bromelin Hal tersebut mempengaruhi keaktifan keduanya, enzim papain lebih aktif daripada enzim bromelain (Edahwati, 2011).

Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Hendalia (2009) enzim papain memiliki keaktifan yang lebih tinggi daripada enzim bromelain, karena selain mampu memecah senyawa protein substrat, enzim papain juga memiliki sifat keaktifan sintetis. Oleh karena itu juga pada grafik dihasilkan aktivitas enzim papain yang lebih tinggi.

karena itu juga pada grafik dihasilkan aktivitas enzim papain yang lebih tinggi. Laboratorium Mikrobiologi Industri 17

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM IV.2.3. Pengaruh Sumber Enzim Bromelain terhadap Aktivitas Enzim Gambar 4.3. pengaruh variabel I dan
ISOLASI ENZIM IV.2.3. Pengaruh Sumber Enzim Bromelain terhadap Aktivitas Enzim Gambar 4.3. pengaruh variabel I dan
ISOLASI ENZIM IV.2.3. Pengaruh Sumber Enzim Bromelain terhadap Aktivitas Enzim Gambar 4.3. pengaruh variabel I dan

IV.2.3. Pengaruh Sumber Enzim Bromelain terhadap Aktivitas Enzim

Pengaruh Sumber Enzim Bromelain terhadap Aktivitas Enzim Gambar 4.3. pengaruh variabel I dan II terhadap aktivitas

Gambar 4.3. pengaruh variabel I dan II terhadap aktivitas enzim

Dalam percobaan ini sumber enzim bromelain dibedakan menjadi 2

yaitu variabel II dari buah Nanas matang dan Variabel III dari buah Nanas

muda. Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa aktivitas enzim pada variabel II

(Nanas matang) lebih tinggi daripada variabel III (Nanas muda). Hal tersebut

terjadi karena pada dasarnya hanya dibutuhkan jumlah enzim yang sedikit

untuk mengikat substrat. Jumlah enzim pada buah nanas matang lebih banyak

daripada nanas muda. Pada nanas matang memiliki kadar bromelain 0,06% -

0,08% sedangkan pada buah nanas muda kadar bromelainnya 0,04% - 0,06%.

Semakin banyak enzim yang berikatan dengan substrat, maka semakin banyak

pula kompleks enzim-substrat yang terbentuk sehingga aktivitas enzim juga

meningkat (Munasir, 2013).

IV.2.4. Hubungan Konsentrasi Enzim dan Substrat terhadap Aktivitas Enzim

Konsentrasi Enzim dan Substrat terhadap Aktivitas Enzim Gambar 4.4. Pengaruh perbedaan konsentrasi enzim dan

Gambar 4.4. Pengaruh perbedaan konsentrasi enzim dan substrat terhadap aktivitas enzim

4.4. Pengaruh perbedaan konsentrasi enzim dan substrat terhadap aktivitas enzim Laboratorium Mikrobiologi Industri 18

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM Pada percobaan ini dibedakan konsentrasi enzim dan substrat menjadi 2 yaitu dengan perbandingan enzim
ISOLASI ENZIM Pada percobaan ini dibedakan konsentrasi enzim dan substrat menjadi 2 yaitu dengan perbandingan enzim
ISOLASI ENZIM Pada percobaan ini dibedakan konsentrasi enzim dan substrat menjadi 2 yaitu dengan perbandingan enzim

Pada percobaan ini dibedakan konsentrasi enzim dan substrat menjadi 2 yaitu dengan perbandingan enzim : substrat, 1:5 dan 5:1. Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa pada perbandingan enzim dan substrat 1:5 aktivitas enzimnya lebih tinggi daripada 5:1. Hal ini dikarenakan pada variabel 5:1, konsentrasi substrat sedikit sehingga kompleks antara enzim-substrat juga sedikit sehingga aktivitas enzim pun rendah. Sedangkan pada variabel 1:5, banyak terbentuk kompleks enzim-substrat sehingga aktivitas enzim meningkat.

Kecepatan reaksi yang dikatalisis oleh enzim sangat dipengaruhi oleh konsentrasi substrat. Pada konsentrasi substrat yang sangat rendah, kecepatan reaksi yang dikatalisis enzim juga sangat rendah. Sebaliknya, kecepatan reaksi akan meningkat dengan meningkatnya konsentrasi substrat sampai tercapai titik tertentu, yaitu titik batas kecepatan reaksi maksimum. Setelah titik batas, enzim menjadi jenuh oleh substratnya, sehingga tidak dapat berfungsi lebih cepat. Pembatas kecepatan enzimatis ini adalah kecepatan penguraian kompleks enzim-substrat menjadi produk dan enzim bebas (Lehningher, 1995).

IV.2.5. Mekanisme Pemecahan Protein /Reaksi Enzim Proteolitik Protease merupakan kelompok enzim yang sangat kompleks yang menduduki posisi sentral dalam aplikasinya pada bidang fisiologis dan produk- produk komersil. Protease ekstraseluler berperan dalam hidrolisis substrat polipeptida besar. Protease adalah enzim yang mengkatalisasi pemecahan ikatan peptide dalam peptida, polipeptida, dan protein dengan menggunakan reaksi menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana seperti peptida rantai pendek, dan asam amino. Banyak protease mengkatalisasi dengan reaksi yang sama dengan reaksi kimia umum, reaksi hidrolisis yang serupa ditunjukkan pada gambar 4.5

reaksi kimia umum, reaksi hidrolisis yang serupa ditunjukkan pada gambar 4.5 Laboratorium Mikrobiologi Industri 19

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM Gambar 4.5. Mekanisme Umum Hidrolisa Enzimatik Substrat Peptida Hidrolisis ikatan peptida adalah reaksi
ISOLASI ENZIM Gambar 4.5. Mekanisme Umum Hidrolisa Enzimatik Substrat Peptida Hidrolisis ikatan peptida adalah reaksi
ISOLASI ENZIM Gambar 4.5. Mekanisme Umum Hidrolisa Enzimatik Substrat Peptida Hidrolisis ikatan peptida adalah reaksi
ISOLASI ENZIM Gambar 4.5. Mekanisme Umum Hidrolisa Enzimatik Substrat Peptida Hidrolisis ikatan peptida adalah reaksi

Gambar 4.5. Mekanisme Umum Hidrolisa Enzimatik Substrat Peptida

Hidrolisis ikatan peptida adalah reaksi penambahan-penghilangan, dimana protease bertindak sebagai nukleofili atau bereaksi dengan membentuk satumolekul air. Secara umum nukleofili membentuk intermediat tetrahedral dengan atom karbon karbonil pada ikatan peptida. Satu gugus amina dilepaskan dan dikeluarkan dari sisi aktif, yang digunakan secara bersamaan dengan satu molekul air. Pada protease tertentu, adisi enzim-asil dapat dibentuk. Intermediat tetrahedral kedua akhirnya dibentuk dan menghasilkan produk karboksilat, proton, dan enzim bebas yang diregenerasi (Rosliana,

2009).

produk karboksilat, proton, dan enzim bebas yang diregenerasi (Rosliana, 2009). Laboratorium Mikrobiologi Industri 20

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM 5.1. Kesimpulan BAB V PENUTUP 1. Semakin tinggi suhu maka aktivitas enzim juga akan
ISOLASI ENZIM 5.1. Kesimpulan BAB V PENUTUP 1. Semakin tinggi suhu maka aktivitas enzim juga akan

5.1. Kesimpulan

BAB V

PENUTUP

ISOLASI ENZIM 5.1. Kesimpulan BAB V PENUTUP 1. Semakin tinggi suhu maka aktivitas enzim juga akan

1. Semakin tinggi suhu maka aktivitas enzim juga akan meningkat dalam range suhu optimumnya, suhu lebih tinggi dari suhu optimum akan menurunkan aktivitas enzim.

2. Semakin banyak enzim yang berikatan dengan substrat, kecepatan reaksi semakin meningkat dan semakin banyak kompleks enzim substrat yang terbentuk.

3. Aktivitas enzim papain lebih tinggi daripada enzim bromelain

4. Kadar enzim bromelain pada nanas matang lebih tinggi yaitu 0,06% - 0,08% sedangkan nanas muda 0,04% - 0,06%, begitu pula aktivitas enzim bromelain pada nanas matang lebih tinggi daripada nanas muda.

5.2. Saran

1. Keringkan endapan yang terbentuk sampai benar-benar kering.

2. Timbanglah variabel-variabel dengan tepat.

3. Telitilah dalam mengamati terjadinya penggumpalan pertama pada substrat setelah dicampur dengan enzim.

4. Catatlah waktu penggumpalan sesuai dengan terjadinya penggumpalan pertama.

4. Catatlah waktu penggumpalan sesuai dengan terjadinya penggumpalan pertama. Laboratorium Mikrobiologi Industri 21

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM DAFTAR PUSTAKA Abdullah, Moch Busairi. 2002. Lactic Acid Fermentation of Pineapple Wastes by Lactobacillus
ISOLASI ENZIM DAFTAR PUSTAKA Abdullah, Moch Busairi. 2002. Lactic Acid Fermentation of Pineapple Wastes by Lactobacillus
ISOLASI ENZIM DAFTAR PUSTAKA Abdullah, Moch Busairi. 2002. Lactic Acid Fermentation of Pineapple Wastes by Lactobacillus

DAFTAR PUSTAKA Abdullah, Moch Busairi. 2002. Lactic Acid Fermentation of Pineapple Wastes by Lactobacillus Delbrueckii. Malaysia:UTM.

August, E. 2000. Kajian Penggunaan Lipase Amobil dari Aspergillus Niger pada Pembuatan Monoasilgliserol yang Bersifat Antibakteri dari Minyak Kelapa. Institut Pertanian Bogor.

Baehaki, 2008 dalam Tri N., Puji A. dan Winda R. 2012. Pengaruh Temperatur terhadap Aktivitas Enzim Protease dari Daun Sansakng (Pycnarrhena cauliflora Diels). Universitas Tanjungpura.

Edahwati, Ir.Luluk, MT.

2011. Aplikasi Penggunaan Enzim Papain dan Bromelin

terhadap Perolehan VCO. UPN Press.

Fowler,

M.W.

1988.

Biotechnology

for

Engineers:

Biological

Systems

in

Technological Processes. halaman 171-182. John Wiley & Sons.

Hendalia, Ella. 2009. Efektifitas Penggunaan Larutan Enzim Papain dan Bromelin dalam Meningkatkan Kecernaan dan Retensi Protein Tepung Bulu Ayam. Universitas Jambi.

Komariah, Nurul. 2013. Isolasi Senyawa Antioksidan dari Ekstrak Etil Asetat Herba Kemangi. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah.

Kurnia, DRD. 2010. Studi Aktivitas Enzim Lipase dari Aspergillus Niger sebagai Biokatalis Pada Proses Gliserolisis untuk Menghasilkan Monoasilgliserol.

Kusuma, S .A .F. 2010. Enzim. Universitas Padjadjaran.

Lehninger. 1995. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta:Erlangga.

Marison,

I.W.

1988.

Biotechnology

for

Engineers:

Biological

Systems

in

Technological Processes. halaman 94-119. John Wiley & Sons.

Muchtadi. 1992. Penelitian Tahu Susu. Universitas Jenderal Soedirman

Munasir,

2013.

Enzim

Protease

Buah

Nanas.

Universitas

Sumatera

Utara.

Soedirman Munasir, 2013. Enzim Protease Buah Nanas . Universitas Sumatera Utara. Laboratorium Mikrobiologi Industri 22

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM Noviyanti, Tri. 2012. Pengaruh Temperatur Terhadap Aktivitas Enzim Protease Dari Daun Sansakng (Pycnarrhena
ISOLASI ENZIM Noviyanti, Tri. 2012. Pengaruh Temperatur Terhadap Aktivitas Enzim Protease Dari Daun Sansakng (Pycnarrhena
ISOLASI ENZIM Noviyanti, Tri. 2012. Pengaruh Temperatur Terhadap Aktivitas Enzim Protease Dari Daun Sansakng (Pycnarrhena

Noviyanti, Tri. 2012. Pengaruh Temperatur Terhadap Aktivitas Enzim Protease Dari Daun Sansakng (Pycnarrhena cauliflora Diels). Universitas Tanjungpura.

Prawesti, Y.D.H., 2010. Penggunaan Enzim Bromelin Amobil dari Buah Nanas (Ananas comosus) untuk Pengurangan Kandungan Protein Air Limbah Pabrik Tahu. Surabaya : ITS.

Rosliana.

2009.

Isolasi

Bakteri

dan

Uji

Aktivitas

Enzim

Protease.

Jakarta

:

Universitas Indonesia.

 

Scragg,

A.

H.,

1988.

Biotechnology

for

Engineers:

Biological

Systems

in

Technological Processes. halaman 94-119. John Wiley & Sons.

Sebayang, F. 2006. Imobilisasi Enzim Papain dari Getah Papaya dengan Alginat. Universitas Sumatera Utara.

Shuler, Michael L. dan Fikret Kargi. 1992. Bioprocess Engineering Basic Concepts. New Jersey:Prentice Hall.

Silaban,Prof.Dr.Ramlan, Freddy T.M.P.,S.Pd.,M.Pd., Rahmadani. 2012. Kajian Pemanfaatan Enzim Papain Getah Buah Pepaya untuk Melunakkan Daging. Universitas Negeri Medan.

Tri N., Puji A. dan Winda R. 2012. Pengaruh Temperatur terhadap Aktivitas Enzim Protease dari Daun Sansakng (Pycnarrhena cauliflora Diels). Universitas Tanjungpura.

Winarno, F. 1986. Enzim Pangan. Jakarta: Gramedia.

Wuryanti. 2004. Isolasi dan Penentuan Aktivitas Spesifik Enzim Bromelin dari Buah Nanas (Ananas comosus L.). Semarang : Universitas Diponegoro.

Bromelin dari Buah Nanas (Ananas comosus L.) . Semarang : Universitas Diponegoro. Laboratorium Mikrobiologi Industri 23

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM LEMBAR PERHITUNGAN 1. Endapan I + endapan II Variabel I = (0,21 + 0,26)
ISOLASI ENZIM LEMBAR PERHITUNGAN 1. Endapan I + endapan II Variabel I = (0,21 + 0,26)

LEMBAR PERHITUNGAN

1. Endapan I + endapan II

Variabel I

= (0,21 + 0,26) gram = 0,47 gram

Variabel II

= (0,15 + 0,33) gram = 0,48 gram

Variabel III = (0,68 + 0,27) gram = 0,95 gram

2. Aktivitas enzim

III = (0,68 + 0,27) gram = 0,95 gram 2. Aktivitas enzim dengan a. Variabel I

dengan

= (0,68 + 0,27) gram = 0,95 gram 2. Aktivitas enzim dengan a. Variabel I Pada

a. Variabel I Pada perbandingan Enzim : Susu = 1:5

Suhu 40 o C

Suhu 40 o C mCu/gr

mCu/gr

Suhu 55 o C

Suhu 55 o C mCu/gr

mCu/gr

Suhu 70 o C

Suhu 70 o C mCu/gr

mCu/gr

Suhu 85 o C

Suhu 85 o C mCu/gr

mCu/gr

Pada perbandingan Enzim : Susu = 5:1

Suhu 40 o C

Suhu 40 o C mCu/gr

mCu/gr

Suhu 55 o C

Suhu 55 o C mCu/gr

mCu/gr

Suhu 70 o C

Suhu 70 o C mCu/gr

mCu/gr

Suhu 85 o C

Suhu 85 o C mCu/gr

mCu/gr

b. Variabel II Pada perbandingan Enzim : Susu = 1:5

Suhu 40 o C

Suhu 55 o C

Suhu 70 o C

Suhu 85 o C

40 o C Suhu 55 o C Suhu 70 o C Suhu 85 o C mCu/gr

mCu/gr

o C Suhu 55 o C Suhu 70 o C Suhu 85 o C mCu/gr mCu/gr

mCu/gr

o C Suhu 55 o C Suhu 70 o C Suhu 85 o C mCu/gr mCu/gr

mCu/gr

o C Suhu 55 o C Suhu 70 o C Suhu 85 o C mCu/gr mCu/gr

mCu/gr

o C Suhu 55 o C Suhu 70 o C Suhu 85 o C mCu/gr mCu/gr
o C Suhu 55 o C Suhu 70 o C Suhu 85 o C mCu/gr mCu/gr

Laboratorium Mikrobiologi Industri

A-1

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM Pada perbandingan Enzim : Susu = 5:1 Suhu 40 o C mCu/gr Suhu 55
ISOLASI ENZIM Pada perbandingan Enzim : Susu = 5:1 Suhu 40 o C mCu/gr Suhu 55

Pada perbandingan Enzim : Susu = 5:1

Suhu 40 o C

Suhu 40 o C mCu/gr

mCu/gr

Suhu 55 o C

Suhu 55 o C mCu/gr

mCu/gr

Suhu 70 o C

Suhu 70 o C mCu/gr

mCu/gr

Suhu 85 o C

Suhu 85 o C mCu/gr

mCu/gr

c. Variabel III Pada perbandingan Enzim : Susu = 1:5

Suhu 40 o C

Suhu 40 o C mCu/gr

mCu/gr

Suhu 55 o C

Suhu 55 o C mCu/gr

mCu/gr

Suhu 70 o C

Suhu 70 o C mCu/gr

mCu/gr

Suhu 85 o C

mCu/gr

mCu/gr

Pada perbandingan Enzim : Susu = 5:1

Suhu 40 o C

mCu/gr Pada perbandingan Enzim : Susu = 5:1 Suhu 40 o C mCu/gr Suhu 55 o

mCu/gr

Suhu 55 o C

Suhu 70 o C

Suhu 85 o C

o C mCu/gr Suhu 55 o C Suhu 70 o C Suhu 85 o C mCu/gr

mCu/gr

o C mCu/gr Suhu 55 o C Suhu 70 o C Suhu 85 o C mCu/gr
o C mCu/gr Suhu 55 o C Suhu 70 o C Suhu 85 o C mCu/gr

mCu/gr

mCu/gr

o C mCu/gr Suhu 55 o C Suhu 70 o C Suhu 85 o C mCu/gr
o C mCu/gr Suhu 55 o C Suhu 70 o C Suhu 85 o C mCu/gr

Laboratorium Mikrobiologi Industri

A-2

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM BIOPROSES Materi : ISOLASI ENZIM KELOMPOK : 1/RABU SIANG ANGGOTA :
ISOLASI ENZIM LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM BIOPROSES Materi : ISOLASI ENZIM KELOMPOK : 1/RABU SIANG ANGGOTA :
ISOLASI ENZIM LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM BIOPROSES Materi : ISOLASI ENZIM KELOMPOK : 1/RABU SIANG ANGGOTA :
ISOLASI ENZIM LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM BIOPROSES Materi : ISOLASI ENZIM KELOMPOK : 1/RABU SIANG ANGGOTA :

LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM BIOPROSES

Materi :

ISOLASI ENZIM

KELOMPOK : 1/RABU SIANG ANGGOTA :

1. AKHMAD LATIF ARDIANSYAH

2. DINDA LABIBAH UBAY

3. EKO NUR WIDODO

4. YULIA RACHMAWATI

NIM : 21030113130200 NIM : 21030113130196 NIM : 21030113120081 NIM : 21030113120092

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEORO SEMARANG

2015

INDUSTRI JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEORO SEMARANG 2015 Laboratorium Mikrobiologi Industri B-1

Laboratorium Mikrobiologi Industri

B-1

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM I. TUJUAN PERCOBAAN 1. Mengisolasi enzim protease dari getah buah pepaya, sari buah nanas
ISOLASI ENZIM I. TUJUAN PERCOBAAN 1. Mengisolasi enzim protease dari getah buah pepaya, sari buah nanas
ISOLASI ENZIM I. TUJUAN PERCOBAAN 1. Mengisolasi enzim protease dari getah buah pepaya, sari buah nanas

I. TUJUAN PERCOBAAN

1. Mengisolasi enzim protease dari getah buah pepaya, sari buah nanas matang

dan sari buah nanas muda

2. Menghitung parameter kinetik enzimatik

3. Membandingkan aktivitas enzim protease berdasarkan variabel waktu operasi, suhu dan perbandingan enzim:susu.

II. PERCOBAAN

2.1 Bahan yang Digunakan

a. Tanaman sebagai sumber enzim, yaitu:

Getah buah pepaya 15 gram

Sari buah nanas matang 20 ml

Sari buah nanas muda 20 ml

b. Solvent (etanol) @20 ml

c. Cystein @1,5 gram

d. Celite @1,5 gram

e. NaCl @1 gram

f. NaOH/ CH 3 COOH secukupnya

g. Aquadest @20 ml

h. Susu : 64,125 gr

2.2 Alat yang Dipakai

a. Beaker glass

b. Centrifuge

c. Cuvet

d. Kertas saring

e. Magnetic stirrer

f. Tabung reaksi

g. Erlenmeyer penghisap

h. Mortar

i. Gelas ukur

j. Pengaduk k. Stopwatch l. Timbangan m. Indikator pH n. Kompor listrik o. Termometer p. Corong penghisap q. Pompa vakum

2.3 Variabel Operasi

Waktu operasi stirrer,20 menit sentrifugasi

: 10 menit stirring dengan magnetic

operasi stirrer, 20 menit sentrifugasi : 10 menit stirring dengan magnetic Laboratorium Mikrobiologi Industri B-2

Laboratorium Mikrobiologi Industri

B-2

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM  Suhu : 40 o C, 55 o C, 70 o C, 85 o
ISOLASI ENZIM  Suhu : 40 o C, 55 o C, 70 o C, 85 o
ISOLASI ENZIM  Suhu : 40 o C, 55 o C, 70 o C, 85 o

Suhu

: 40 o C, 55 o C, 70 o C, 85 o C

Kecepatan sentrifugasi

: 2000 rpm

Perbandingan (Enzim:Susu)

: 1:5, 5:1

2.4

Cara Kerja

2.4.1. Isolasi Enzim

1. Masukkan sampel dari tanaman sebagai sumber enzim ke dalam beaker glass sesuai variabel

2. Tambahkan ke dalam beaker glass tersebut celite 1,5 gram, cystein 1,5 gram, aquadest 20 ml dan solvent 20 ml lalu atur pHnya sesuai variabel

3. Aduk dengan magnetic stirrer campuran tersebut selama 10

menit pada suhu kamar

4. Saring dengan kertas saring dan menggunakan pompa

vakum, sehingga didapat filtrat I dan endapan I, buang

endapannya

5. Pada filtrat I tambahkan pengendap 1 gram

6. Masukkan pada cuvet lalu disentrifugasi selama 20 menit

dengan kecepatan 2000 rpm

7. Saring hasil sentrifugasi dengan kertas saring dan menggunakan poma vakum, sehingga didapatan endapan II dan filtrat II

8. Keringkan dan timbang endapan II (misal a gram), simpan endapan II

9. Tambahkan garam pengendap 1 gram pada filtrat II, lalu simpan 1 malam dalam lemari es

10. Saring filtrat II dengan kertas saring dan menggunakan

pompa vakum, sehingga didapatkan endapan III dan filtrat

III

11. Keringkan dan timbang endapan III (misal b gram)

12. Ambil endapan II, campurkan dengan endapan III, jika jumlah dari endapan II dan III (a+b gram) lebih besar dari 1

endapan III, jika jumlah dari endapan II dan III (a+b gram) lebih besar dari 1 Laboratorium

Laboratorium Mikrobiologi Industri

B-3

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM garam, ambil 1 gram endapan tersebut, larutkan dalam air sampai 10 ml (lautan ini
ISOLASI ENZIM garam, ambil 1 gram endapan tersebut, larutkan dalam air sampai 10 ml (lautan ini
ISOLASI ENZIM garam, ambil 1 gram endapan tersebut, larutkan dalam air sampai 10 ml (lautan ini

garam, ambil 1 gram endapan tersebut, larutkan dalam air sampai 10 ml (lautan ini adalah enzim) 13. Jika a+b kurang dari 1 gram, ambil 1 ml filtrat III, encerkan sampai 10 ml (larutan ini adalah enzim). 2.4.1. Reaksi Enzimatis

1. Buat larutan casein/ susu 38%W dengan basis 135 ml

2. Panaskan larutan casein tersebut sampai suhu 40 o C, 55 o C,

70 o C, 85 o C

3. Ambil larutan enzim dan casein tersebut sesuai varabel (Enzim:Susu = 1:5, 5:1)

4. Setelah mencapai suhu tersebut, tuangkan larutan enzim ke dalam larutan casein

5. Catat waktu sampai terjadinya penggumpalan pertama

6. Perhitungan aktivitas enzim proteolitik:

pertama 6. Perhitungan aktivitas enzim proteolitik: Dengan : ρ = densitas casein (susu) V =

Dengan :

ρ

= densitas casein (susu)

V

= perbandingan volume enzim:susu

t

= waktu penggumpalan

2.5 Hasil Percobaan Tabel aktivitas enzim variabel I

Suhu ( 0 C)

t 1 (casein 5 ml)

t 2 (casein 1 ml)

A 1 (mcu/g)

A 2 (mcu/g)

40

8 s

5 s

0,5

0,032

55

4 s

3 s

1

0,053

70

8 s

5 s

0,5

0,032

85

9 s

4 s

0,45

0,04

Tabel aktivitas enzim variabel II

Suhu ( 0 C)

t 1 (casein 5 ml)

t 2 (casein 1 ml)

A 1 (mcu/g)

A 2 (mcu/g)

40

14 s

10 s

0,285

0,016

55

9 s

6 s

0,45

0,0267

70

17 s

3 s

0,235

0,053

85

8 s

5 s

0,5

0,032

0,0267 70 17 s 3 s 0,235 0,053 85 8 s 5 s 0,5 0,032 Laboratorium

Laboratorium Mikrobiologi Industri

B-4

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM Tabel aktivitas enzim variabel III Suhu ( 0 C) t 1 (casein 5 ml)
ISOLASI ENZIM Tabel aktivitas enzim variabel III Suhu ( 0 C) t 1 (casein 5 ml)
ISOLASI ENZIM Tabel aktivitas enzim variabel III Suhu ( 0 C) t 1 (casein 5 ml)

Tabel aktivitas enzim variabel III

Suhu ( 0 C)

t 1 (casein 5 ml)

t 2 (casein 1 ml)

A 1 (mcu/g)

A 2 (mcu/g)

40

20 s

13 s

0,2

0,012

55

15 s

8 s

0,267

0,02

70

13 s

7 s

0,307

0,022

85

4 s

1,5 s

1

0,106

Praktikan

Latif, Dinda, Eko , Yulia

Mengetahui

Asisten

Tria Friandani

r a k t i k a n Latif, Dinda, Eko , Yulia Mengetahui Asisten Tria

Laboratorium Mikrobiologi Industri

B-5

ISOLASI ENZIM

ISOLASI ENZIM LEMBAR KUANTITAS REAGEN PRAKTIKUM KE : 3 MATERI : Isolasi Enzim HARI/TANGGAL : 15
ISOLASI ENZIM LEMBAR KUANTITAS REAGEN PRAKTIKUM KE : 3 MATERI : Isolasi Enzim HARI/TANGGAL : 15
ISOLASI ENZIM LEMBAR KUANTITAS REAGEN PRAKTIKUM KE : 3 MATERI : Isolasi Enzim HARI/TANGGAL : 15

LEMBAR KUANTITAS REAGEN

PRAKTIKUM KE

: 3

MATERI

: Isolasi Enzim

HARI/TANGGAL

: 15 April 2015

KELOMPOK

: 1/Rabu Siang

NAMA

: 1. Ahmad Latif Ardiansyah

: 2. Dinda Labibah Ubay

: 3. Eko Nur Widodo

: 4. Yulia Rahmawati

ASISTEN

: Tria Friandani

KUANTITAS REAGEN

ISOLASI ENZIM PROTASE

- Getah buah papaya 15 gr + celite 1,5 gr + cysteine 1,5 gr + etanol 20 ml + aquadest 20 ml

- Sari buah nanas matang 20 ml + celite 1,5 gr + cysteine 1,5 gr + etanol 20 ml + aquadest 20

ml

- Sari buah nanas muda 20 ml + celite 1,5 gr + cysteine 1,5 gr + etanol 20 ml + aquadest 20

ml

Magnetic stirrer : 10 menit , T kamar Sentrifugasi : 20 menit, 2000 rpm

REAKSI ENZIMATIK

- Larutan casein : susu bubuk dancow putih 38%w basis 135 ml

- T campuran : 40 0 C ; 55 0 C ; 70 0 C ; 85 0 C

- Enzim : susu = 1:5 & 5:1

TUGAS TAMBAHAN :

- Cari jurnal tentang isolasi enzim papain dan enzim bromelin

- Di BAB II ditambahkan penjelasan tentang enzim papain pada getah buah papaya & enzim bromelin pada buah nanas + aplikasinya + fungsi reagen (sumber yang valid !)

Semarang, 15 April 2015 Asisten

Tria Friandani

fungsi reagen (sumber yang valid !) Semarang, 15 April 2015 Asisten Tria Friandani Laboratorium Mikrobiologi Industri

Laboratorium Mikrobiologi Industri

C-1

REFERENSI

REFERENSI
 

DIPERIKSA

 

KETERANGAN

TANDA TANGAN

NO.

TANGGAL

 
 

1.

5 Mei 2015

- Perbaiki hal.Pengesahan, Daftar isi, intisari, Daftar Gambar, Daftar Tabel

 
 

-

BAB I Dapus

Lembar perhitungan jangan center

-

-

Lapsem sesuaikan BAB

III

- Referensi sesuaikan daftar pustaka

- Kuantitas reagen

 

perbaiki

2.

1 Juni 2015

-

Dapus sesuaikan dengan isi laporan

-

Reff stabile dan sesuaikan dapus

-

Perbaiki format judul & penulisan laporan