Anda di halaman 1dari 2

63SinggihPramuSetyadi

Pengalaman Menginspirasi
Beberapa tahun yang lalu, ketika itu saya bertugas di SMP Negeri 3
Lawang. Setelah saya lulus PLPG sekitar tahun 2010, kemudian setahun
setelahnya, pertama kalinya saya menerima tunjangan profesi, senang
juga mendapat tambahan penghasilan dari pemerintah. Namun, itu hanya
berlangsung selama setahun. Tahun berikutnya peraturan pemerintah
yang mengharuskan mengajar sesuai sertifikat pendidikan minimal 24 jam
per minggu, membuat saya tidak bisa menerima tunjangan itu lagi.
Banyaknya guru matematika di SMP Negeri 3 Lawang, ada 7 guru dari
kebutuhan 4 guru, membuat saya sebagai guru yunior, harus mengalah.
Banyak teman guru yang tidak mendapat jatah 24 jam mengajar mapel
linier protes keras, bahkan hingga bertengkar dengan sesama guru. Hal ini
wajar sebagai imbas dari peraturan pemerintah tersebut. Tetapi tidak
demikian dengan saya, saya pasrah, ikhlas, berarti saat itu rejeki saya
belum sampai di sana. Saya tetap bekerja dan mengajar sebagai
kewajiban saya. Masih ditambah lagi kesehatan saya yang tidak kunjung
membaik sejak tahun 2006, ketika pertama kali saya harus masuk dan
keluar rumah sakit berkali-kali karena dokter mengatakan saya sakit
jantung. Saya serahkan semua kepada Allah.
Kemudian sekitar tahun 2012, isteri saya sakit (transfer meilitis) dan
memerlukan biaya sekitar 30 40 juta rupiah, sehingga saya menambah
hutang di Bank Jatim. Setelah sehat istri saya mencoba untuk berbisnis
dan akibatnya, saya harus menanggung kerugian sekitar 100 juta rupiah.
Akhirnya ke Bank Jatim juga menambah hutang saya (kompen) dengan
jangka waktu pengembalian selama 10 tahun. Saya hanya bisa pasrah,
kemudian Allah membukakan kepada saya, ternyata istri saya memang
berbuat sesuatu yang tidak benar dan itu terjadi sejak tahun 2008. Saya
pun berpikir berarti hal ini yang membuat rejeki saya seret dan hutang
semakin banyak.
Namun, kami akhirnya pasrah kepada Allah. Istri saya bertobat,
saya memaafkannya. Kami hampir tidak memiliki penghasilan. Untuk
makan benar-benar sulit. Sampai-sampai pembantu saya membantu
memberi makan kepada keluarga saya. Jadi keluarga saya benar-benar
jatuh bahkan secara ekonomi berada di bawah pembantu saya. Saya
tetap sabar, bagaimanapun ini sudah kehendak Allah.
Tahun 2013, Allah memberikan jalan kepada saya untuk mutasi ke
SMP Negeri 1 Lawang, agar saya bisa mengajar matematika 24 jam.
Alhamdulillah, sebuah rejeki yang luar biasa, bisa mutasi ke sekolah yang
tidak begitu jauh, yang sudah tentu diperebutkan banyak guru. Bulan
Maret 2013 saya mulai mengajar di SMP Negeri 1 Lawang, dan proses

mutasi dibantu sepenuhnya oleh Kepala TU SMP Negeri 3 Lawang (karena


permintaan kepala sekolah yang waktu itu dirangkap oleh satu orang).
Alhamdulillah, tahun 2014 saya kembali merasakan tunjangan profesi.
Karena hutang dan tanggungan begitu banyak, hingga setahun lebih saya
menerima TPP, hampir tidak terasa hasilnya. Namun, sedikit demi sedikit
perekonomian kami terangkat, sehingga saat ini kami sudah mulai bisa
merasakan rejeki dari Allah yang senantiasa mengalir kepada kami.
Sekalipun soal gaji dari pemerintah bisa dikatakan sangat minim, hampir
tidak ada, tetapi rejeki dari arah lain bisa membantu kami untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan kami.
Jadi, apapun yang terjadi, kunci dari segala yang kita alami di dunia
ini adalah kita pasrahkan semua kepada Allah. Allah yang memiliki semua
kehendak atas makhluknya, tidak perlu mengeluh, selalu mengedepankan
iklas, sabar, tawakal, dan memohon hanya kepada Allah kunci
kebahagiaan dan ketenteraman hati.