Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
I.1.

Gangguan Somatoform
Istilah somatoform berasal dari bahasa Yunani soma yang berarti tubuh. Gangguan
somatoform didefinisikan sebagai kelompok kelainan dimana ; (a) gejala fisik yang
mengarahkan kepada dugaan gangguan medis namun tidak dapat dibuktikannya patologi
atau bukti-bukti yang mendukung penyakit fisik sebagai penyebab gejala, (b) adanya
dugaan kuat bahwa gejala- gejala tersebut berkaitan dengan faktor psikologis
Gangguan ini mencakup interaksi antara tubuh dengan pikiran (body-mind interaction).
Gangguan-gangguan yang termasuk di dalam kategori gangguan somatoform memiliki
beberapa ciri umum yang sama ; (a) manifestasi stres psikologik menjadi gejala somatik, (b)
perilaku sakit yang abnormal (abnormal illness behavior) yaitu disebabkan adanya
ketidaksesuaian antara pengertian yang ditangkap pasien tentang kondisi sakitnya
(perceived illness) dengan penyakit yang dialaminya (documented disease), (c) adanya
amplifikasi, yaitu dimana sensasi dari gejala fisik mengakibatkan rasa cemas (anxiety),
kemudian rasa cemas dan aktivasi autonomik yang diasosiasikan dengan rasa cemas
tersebut mengakibatkan eksaserbasi gejala fisik, (d) penderitaan (distress) yang bermakna
dan seringnya angka kunjungan untuk pelayanan medis

I.2.

Gangguan Cemas Menyeluruh


Tiap manusia pasti mempunyai rasa cemas, rasa cemas ini terjadi pada saat adanya
kejadian atau peristiwa tertentu, maupun dalam menghadapi suatu hal. Misalkan, orang
merasa cemas, ketika tampil dihadapan banyak orang atau ketika sebelum ujian
berlangsung. Kecemasan yang dimiliki seseorng yang seperti di atas adalah normal, dan
bahkan kecemasan ini perlu dimiliki manusia. Akan tetapi kecemasan berubah menjadi
abnormal ketika kecemasan yang ada di dalam diri individu menjadi berlebihan atau
melebihi dari kapasitas umumnya.

Individu yang mengalami gangguan seperti ini bisa dikatakan mengalami anxiety
disorder (gangguan kecemasan) yaitu ketakutan yang berlebihan dan sifatnya tidak rasional.
Seseorang dikatakan menderita gangguan kecemasan apabila kecemasan ini mengganggu
aktivitas dalam kehidupan dari diri individu tersebut, salah satunya yakni gangguan fungsi
sosial. Misalnya kecemasan yang berlebihan ini menghambat diri seseorang untuk menjalin
hubungan akrab antar individu atau kelompoknya.1
I.3.

Rumusan Masalah
Pada rumusan masalah ini penyusun ingin menjelaskan tentang definisi, faktor
penyebab, gejala klinis, cara menegakkan diagnosa, komplikasi dan penatalaksanaan dari
gangguan somatoform dan gangguan cemas menyeluruh.

I.4.

Tujuan
Tujuan referat ini adalah:
a. Untuk mengetahui secara rinci tentang gangguan somatoform dan gangguan cemas
menyeluruh
b. Untuk mengetahui cara menegakkan diagnosa dan penatalaksanaan
I.5. Manfaat
Semoga referat ini dapat berguna bagi penyusun maupun pembaca untuk lebih
mengetahui tentang definisi, etiologi, faktor penyebab, gejala klinis, komplikasi,
penanganan dan prognosis dari gangguan somatoform dan gangguan cemas menyeluruh.

BAB II
2

TINJAUAN PUSTAKA
II.1.

Definisi
A. Gangguan Somatoform
Gangguan somatoform di definisikan sebagai gangguan dengan ciri utama adanya
keluhan-keluhan gejala fisik yang berulang-ulang disertai dengan permintaan
pemeriksaan medik, meskipun berkali-kali terbukti hasilnya negatif dan juga sudah
dijelaskan oleh dokternya bahwa tidak ditemukan kelainan yang menjadi dasar
keluhannya.
Penderita juga menyangkal dan menolak untuk membahas kemungkinan kaitan
antara keluhan fisiknya dengan problem kemungkinan kaitan antara keluhan fisiknya
dengan problem atau konflik dalam kehidupan yang dialaminya, bahkan meskipun
didapatkan gejala-gejala anxietas dan depresi.
B. Gangguan Cemas
Gangguan Cemas Menyeluruh (Generalized Anxiety Disorder) merupakan salah
satu jenis gangguan kecemasan dengan karakteristik kekhawatiran yang tidak dapat
dikuasai dan menetap, biasanya terhadap hal-hal yang sepele/tidak utama. Individu
dengan gangguan cemas menyeluruh akan terus menerus merasa khawatir tentang hal-ha
yang kecil/sepele. 1,2,3
Nevid, dkk (2005) menjelaskan bahwa kecemasan adalah suatu keadaan emosional
yang mempunyai ciri-ciri seperti keterangsangan fisiologis, perasaan tegang
yang tidak menyenangkan, dan perasaan aprehensif atau keadaan khawatir yang
mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Kecemasan
merupakan keadaan suasana perasaan (mood) yang ditandai oleh gejala-gejala
jasmaniah seperti ketegangan fisik dan kekhawatiran tentang masa depan
(American Psychiatric Association, 1994; Barlow, 2002).

II.2.
ETIOLOGI
A. Gangguan Somatoform
Terdapat beberapa klasifikasi gangguan somatoform yang terdapat pada PPDGJIII antara lain :
3

a. Gangguan somatisasi (F.45.0)


b. Gangguan somatoform tidak terinci (F.45.1)
c. Gangguan hipokondrik (F 45.2)
d. Disfungsi otonomik somatoform (F 45.3)
e. Gangguan nyeri somatoform menetap (F 45.4)
f.

Gangguan somatoform lainnya (F. 45.8)


Untuk etiologi dari gangguan somatoform didasarkan dari klasifikasi gangguan

somatoform tersebut seperti pada gangguan somatisasi, hipokondriasis. Etiologi dari


gangguan somatisasi adalah sebagai berikut :
a. Faktor Psikososial
Penyebab gangguan somatisasi tidak diketahui. Secara psikososial gejala
gangguan ini merupakan bentuk komunikasi sosial yang bertujuan untuk
menghindari kewajiban, mengekspresikan emosi, atau menyimpulkan perasaan.
Pengajaran orang tua, contoh orang tua, dan budaya dapat mengakibatkan pasien
terbiasa menggunakan somatisasi.1
b. Faktor Biologis
Transmisi genetik yang berperan dalam gangguan somatisasi terjadi pada 10-20%
wanita turunan pertama sedangkan saudara laki-lakinya cenderung menjadi
penyalahgunaan zat dan gangguan kepribadian antisosial. Pada kembar
monozigot transmisi terjadi 29% sedangkan dizigot 10%.1
Sedangkan etiologi dari hipokondriasis disebabkan pasien memiliki skema
kognitif yang salah. Pasien menginterpretasikan sensasi fisik yang mereka rasakan
secara berlebihan. Menurut teori psikodinamik hipokondriasis terjadi karena
permusuhan dan agresi dipindahkan ke dalam bentuk somatik melalui mekanisme
repression dan displacement. Kemarahan yang dimaksud berasal dari kejadian
4

penolakan dan ketidakpuasan di masa lalu. Selain kemarahan, dapat juga


penyebabnya adlaah rasa bersalah dan gejala timbul karena pasien ingin menebus
kesalahannya melalui penderitaan somatik.
B. Gangguan Cemas
Upaya untuk menjelaskan penyebab dari munculnya gangguan kecemasan,
Accocella dkk (1976) memaparkan dari beberapa sudut pandang teori. Menurut para
ahli psikofarmaka, Gangguan Kecemasan Menyeluruh bersumber pada neurosis,
bukan dipengaruhi oleh ancaman eksternal tetapi lebih dipengaruhi oleh keadaan
internal individu.2,3,5
Jadi, individu yang mengalami Gangguan Kecemasan Menyeluruh, menurut
pendekatan psikodinamika berakar dari ketidakmampuan egonya untuk mengatasi
dorongan-dorongan yang muncul dari dalam dirinya secara terus menerus sehingga
ia akan mengembangkan mekanisme pertahanan diri. Mekanisme pertahanan diri ini
sebenarnya upaya ego untuk menyalurkan dorongan dalam dirinya dan bisa tetap
berhadapan dengan lingkungan. Tetapi jika mekanisme pertahanan diri ini
dipergunakan secara kaku, terus-menerus dan berkepanjangan maka hal ini dapat
menimbulkan perilaku yang tidak adaptif dan tidak realistis.1, 6, 7

II.3.

MANIFESTASI KLINIS
A. Gangguan Somatoform
Gangguan-gangguan yang termasuk di dalam kategori gangguan somatoform
memiliki beberapa ciri umum yang sama ;
a.manifestasi stres psikologik menjadi gejala somatik,
b.perilaku sakit yang abnormal (abnormal illness behavior) yaitu disebabkan
adanya ketidaksesuaian antara pengertian yang ditangkap pasien tentang kondisi
sakitnya (perceived illness) dengan penyakit yang dialaminya (documented
disease),
5

c.adanya amplifikasi, yaitu dimana sensasi dari gejala fisik mengakibatkan rasa
cemas (anxiety), kemudian rasa cemas dan aktivasi autonomik yang diasosiasikan
dengan rasa cemas tersebut mengakibatkan eksaserbasi gejala fisik,
d.penderitaan (distress) yang bermakna dan seringnya angka kunjungan untuk
pelayanan medis
B. Gangguan Cemas
Gambaran klinis bervariasi, diagnosis Gangguan Cemas Menyeluruh ditegakkan
apabila dijumpai gejala-gejala antara lain keluhan cemas, khawatir, was-was, ragu
untuk bertindak, perasaan takut yang berlebihan, gelisah pada hal-hal yang sepele
dan tidak utama yang mana perasaan tersebut mempengaruhi seluruh aspek
kehidupannya, sehingga pertimbangan akal sehat, perasaan dan perilaku
terpengaruh. Selain itu spesifik untuk Gangguan Kecemasan Menyeluruh adalah
kecemasanya terjadi kronis secara terus-menerus mencakup situasi hidup (cemas
akan terjadi kecelakaan, kesulitan finansial), cemas akan terjadinya bahaya, cemas
kehilangan kontrol, cemas akan`mendapatkan serangan jantung. Sering penderita
tidak sabar, mudah marah, sulit tidur. 3,7,8
Selain itu, berdasarkan The Journal of the American Medical Association gejala
dari gangguan cemas menyeluruh didapatkan seperti :
Takikardi dan jantung berdebar-debar.
Berkeringat atau kemerahan pada kulit
Ketegangan otot
Sakit kepala
Susah tidur
Perubahan nafsu makan
Mual, muntah, dan diare
kegelisahan atau lekas marah
Untuk lebih jelasnya gejala-gejala umum ansietas dapat dilihat pada tabel di
bawah:
Tabel 1. Gejala-gejala Gangguan Cemas Menyeluruh:11
Ketegangan Motorik

Hiperaktivitas Otonomik

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Kedutan otot/ rasa gemetar


Otot tegang/kaku/pegal
Tidak bisa diam
Mudah menjadi lelah
Nafas pendek/terasa berat
Jantung berdebar-debar
Telapak tangan basah/dingin
6

Kewaspadaan

berlebihan

Penangkapan berkurang

dan

8. Mulut kering
9. Kepala pusing/rasa melayang
10. Mual, mencret, perut tak enak
11. Muka panas/ badan menggigil
12. Buang air kecil lebih sering
13. Perasaan jadi peka/mudah ngilu
14. Mudah terkejut/kaget
15. Sulit konsentrasi pikiran
16. Sukar tidur
17. Mudah tersinggung

II.4. DIAGNOSIS
A. Gangguan Somatoform
1. F45.0 Gangguan Somatisasi
Pedoman Diagnostik
Diagnosis pasti memerlukan semua hal berikut:
a.Adanya banyak keluhan-keluhan fisik yang bermacam-macam yang tidak dapat
dijelaskan atas dasar adanya kelainan fisik, yang sudah berlangsung sedikitnya 2
tahun;
b. Tidak mau menerima nasehat atau penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak
ada kelainan fisik yang dapat menjelaskan keluhan-keluhannya;
c.Terdapat disabilitas dalam fungsinya di masyarakat dan keluarga, yang berkaitan
dengan sifat keluhan-keluhannya dan dampak dari perilakunya.
2. F45.1 Gangguan Somatoform Tak Terinci
Pedoman Diagnostik
Keluhan-keluhan fisik bersifat multipel, bervariasi dan menetap, akan tetapi

gambaran klinis yang khas dan lengkap dari gangguan somatisasi tidak terpenuhi;
Kemungkinan ada ataupun tidak faktor penyebab psikologis belum jelas, akan
tetapi tidak boleh ada penyebab fisik dan keluhan-keluhannya.

3. F45.2 Gangguan Hipokondrik


Pedoman Diagnostik
Untuk diagnosis pasti, kedua hal ini harus ada:
a.Keyakinan yang menetap adanya sekurang-kurangnya satu penyakit fisik yang
serius yang melandasi keluhan-keluhannya, meskipun pemeriksaan yang berulangulang tidak menunjang adanya alasan fisik yang memadai, ataupun adanya

preokupasi yang menetap kemungkinan deformitas atau perubahan bentuk


penampakan fisiknya (tidak sampai waham);
b. Tidak mau menerima nasehat atau dukungan penjelasan dari beberapa dokter
bahwa tidak ditemukan penyakit atau abnormalitas fisik yang melandasi keluhankeluhannya.
4. F45.3 Disfungsi Otonomik Somatoform
Pedoman Diagnostik
Diagnosis pasti memerlukan semua hal berikut:
a.Adanya gejala-gejala bangkitan otonomik, seperti palpitasi, berkeringat, tremor,
muka panas/flushing, yang menetap dan mengganggu;
b. Gejala subjektif tambahan mengacu pada sistem atau organ tertentu (gejala tidak
khas);
c.Preokupasi dengan dan penderitaan (distress) mengenai kemungkinan adanya
gangguan yang serius (sering tidak begitu khas) dari sitem atau organ tertentu,
yang tidak terpengaruh oleh hasil pemeriksaan-pemeriksaan berulang, maupun
penjelasan-penjelasan dari para dokter;
d. Tidak terbukti adanya gangguan yang cukup berarti pada struktur/fungsi dari
sistem atau organ yang dimaksud.
Karakter kelima :
F45.30 = Jantung dan sistem kardiovaskular
F45.31 = Saluran pencernaan bagian atas
F45.32 = Saluran pencernaan bagian bawah
F45.33 = Sistem pernapasan
F45.34 = Sistem genito-urinaria
F45.38 = Sistem atau organ lainnya
5. F45.4 Gangguan Nyeri Somatoform Menetap
Pedoman Diagnostik
Keluhan utama adalah nyeri berat, menyiksa dan menetap, yang tidak dapat

dijelaskan sepenuhnya atas dasar proses fisiologik maupun adanya gangguan fisik.
Nyeri timbul dalam hubungan dengan adanya konflik emosional atau problem
psikososial yang cukup jelas untuk dapat dijadikan alasan dalam mempengaruhi

terjadinya gangguan tersebut.


Dampaknya adalah meningkatnya perhatian dan dukungan, baik personal maupun
medis, untuk yang bersangkutan.

6. F45.8 Gangguan Somatoform Lainnya


Pedoman Diagnostik
8

Pada gangguan ini keluhan-keluhannya tidak melalui sistem saraf otonom, dan
terbatas secara spesifik pada bagian tubuh atau sistem tertentu.
Tidak ada kaitan dengan adanya kerusakan jaringan.
Gangguan-gangguan berikut juga dimasukkan dalam kelompok ini:
a.globus hystericus
b.
Tortikolis psikogenik, dan gangguan gerakan spasmodik lainnya
c.Pruritus psikogenik
d.
Dismenore psikogenik
e.Teeth grinding

7. F45.9 Gangguan Somatoform YTT


B. Gangguan Cemas

Diagnosis gangguan cemas menyeluruh menurut PPDGJ-III ditegakkan berdasarkan :5


Penderita harus menunjukkan anxietas sebagai gejala primer yang berlangsung
hampir setiap hari untuk beberapa minggu sampai beberapa bulan, yang tidak terbatas
atau hanya menonjol pada keadaan situasi khusus tertentu saja (sifatnya free

floating atau mengambang).


Gejala-gejala tersebut biasanya mencakup unsur-unsur berikut:
1. Kecemasan (khawatir akan nasib buruk, merasa seperti di ujung tanduk, sulit
berkonsentrasi, dsb)
2. Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak dapat santai); dan
3. Overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan, berkeringat, jantung berdebar-

debar, sesak napas, keluhan lambung, pusing kepala, mulut kering, dsb)
Adanya gejala-gejala lain yang sifatnya sementara (untuk beberapa hari), khususnya
depresi, tidak membatalkan diagnosis utama Gangguan Anxietas Menyeluruh, selama
hal tersebut tidak memenuhi kriteria lengkap dari episode depresif (F.32.-), gangguan
anxietas fobik (F.40.-), gangguan panik (F42.0), atau gangguan obsesif-kompulsif

II.5.

(F.42.-) 3,4,7
PENANGANAN
Terapi pada Gangguan Kecemasan Menyeluruh pada umumnya dapat dilakukan dengan
2 cara yakni terapi psikologis (psikoterapi) atau terapi dengan obat-obatan (farmakoterapi).
Angka-angka keberhasilan terapi yang tinggi dilaporkan pada kasus-kasus dengan
diagnosis dini. Psikoterapi yang sederhana sangat efektif, khususnya dalam konteks
hubungan pasien dengan dokter yang baik, sehingga dapat membantu mengurangi
farmakoterapi yang tidak perlu.1,6, 8
Penanganan dengan psikoterapi

juga

dapat

dijelaskan

melalui

pendekatan

psikodinamika, humanistik eksistensialis atau pendekatan behavioristik maupun kognitif.1


9

Menurut para ahli psikodinamika, karena gangguan ini berakar pada keadaan internal
individu sehubungan dengan adanya konflik intrapsikis yang dialami individu sehingga ia
mengembangkan suatu bentuk mekanisme pertahanan diri, maka upaya menanganinya juga
terarah pada pemberian kesempatan bagi individu untuk mengeluarkan seluruh isi pikiran
atau perasaan yang muncul di dalam dirinya. Asumsinya adalah jika individu bisa
menghadapi dan memahami konflik yang dialami, ego akan lebih bebas dan tidak harus
terus berlindung di balik mekanisme pertahanan diri yang dikembangkannya.1,7
Teknik dasar yang digunakan disebut free association, individu diminta untuk
menjelaskan secara sederhana tentang hal-hal yang ada di dalam pikirannya, tanpa melihat
apakah itu logis atau tidak, tepat atau tidak, ataupun pantas atau tidak. Hal-hal dari alam
bawah sadar atau tidak sadar yang diungkapkan akan dicatat oleh terapis untuk
diinterpretasikan. Tehnik ini juga bisa dimanfaatkan saat menggunakan teknik dream
interpretation; individu diminta untuk menceritakan mimpinya secara detail dan tepat.
Kedua teknik ini memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Dalam melaksanakan
teknik-teknik tersebut di atas, ada dua hal yang biasanya muncul, yaitu apa yang disebut
dengan resistance (yaitu individu bertahan dan beradu argumen dengan terapis saat terapis
mulai sampai pada bagian sensitif), dan transference (yaitu individu mengalihkan
perasaannya pada terapis dan menjadi bergantung.1,5, 7
Sementara para ahli dari pendekatan humanistik eksistesialis yang melihat kecemasan
sebagai hasil konflik diri yang terkait dengan keadaan sosial dimana pengembangan diri
menjadi terhambat, maka mereka lebih menyarankan untuk membangun kembali diri yang
rusak (damaged self). Tekhniknya sering disebut sebagai client centered therapy yang
berpendapat bahwa setiap individu memiliki kemampuan yang positif yang dapat
dikembangkan sehingga ia membutuhkan situasi yang kondusif untuk mengeksplorasi
dirinya semaksimal mungkin.1,7, 8
Setiap permasalahan yang dihadapi setiap individu sebenarnya hanya dirinyalah yang
paling mengerti tentang apa yang sedang dihadapinya. Oleh karena itu, individu itu
sendirilah yang paling berperan dalam menyelesaikan permasalahan yang mengganggu
dirinya.1,7,8
Karena para ahli melihat kecemasan sebagai sebagai hasil dari belajar (belajar menjadi
cemas) maka untuk menanganinya perlu dilakukan pembelajaran ulang agar terbentuk pola
perilaku baru, yaitu pola perilaku yang tidak cemas.1,7
10

Tehnik

yang

digunakan

untuk

mengurangi

kecemasan

adalah

systematic

desentisitization, yaitu mengurangi kecemasan dengan menggunakan konsep hirarki


ketakutan, menghilangkan ketakutan secara perlahan-lahan mulai dari ketakutan yang
sederhana sampai ke hal yang lebih kompleks. Pemberian reinforcement (penguat) juga
dapat digunakan dengan secara tepat memberikan variasi yang tepat antara pemberian
reward- jika ia memperlihatkan perilaku yang mengarah keperubahan ataupun punishment
jika tidak ada perubahan perilaku atau justru menampilkan perilaku yang bertolak
belakang dengan rencana perubahan perilaku. Adanya model yang secara nyata dapat
dilihat dan menjadi contoh langsung kepada individu juga efektif dalam upaya melawan
pikiran-pikiran yang mencemaskan.7, 8
Pendekatan kognitif yang melihat gangguan kecemasan sebagai hasil dari kesalahan
dalam

mempersepsikan

ancaman

(misperception

of

threat)

menawarkan

upaya

mengatasinya dengan mengajak individu berpikir dan mendesain suatu pola kognitif baru.
David Clark dkk (dalam Acocella dkk, 1996) mengembangkan desain kognitif yang
melibatkan 3 bagian yaitu1 :
1. Identifikasi interpretasi negatif yang dikembangkan individu tentang sensasi tubuhnya
2. Tentukan dugaan atau asumsi dan arahkan alternatif intrepretasi, yang noncatastropic.
3. Bantu individu menguji validitas penjelasan dan alternatif-alternatif tersebut.
Dengan kata lain, para ahli dari pendekatan kognitif ini menyatakan bahwa tujuan dari
terapi sebagai upaya menangani gangguan kecemasan adalah membantu individu
melakukan intrepretasi sensasi tubuh dengan cara yang noncatastropic1.
Dalam beberapa hal, penanganan terhadap penderita gangguan kecemasan tidak selalu
hanya berpegang pada satu tehnik saja, atau hanya mengikuti pendapat salah satu ahli dari
suatu pendekatan saja. Terapi yang diberikan dapat sekaligus dengan menggunakan lebih
dari satu pendekatan atau lebih dari satu tehnik, asalkan tujuannya jelas dan tahapantahapannya juga terinci.1,6,7
Pertimbangkan penggunaan obat-obatan maupun psikoterapi. Anti depresan yang baru,
venlafaksin XR, tampaknya cukup efektif dan aman untuk pengobatan gangguan cemas
menyeluruh. Gunakan benzodiazepin dengan tidak berlebihan(diazepam, 5 mg per oral, 3-4
kali sehari atau 10 mg sebelum tidur) untuk jangka pendek(beberapa minggu hingga
11

beberapa bulan); biarkan penggunaan obat-obatan untuk mengikuti perjalanan penyakitnya.


Pertimbangkan pemberian buspiron untuk pengobatan awal atau untuk pengobatan kronis
(20-30 mg/hari dalam dosis terbagi). Pasien tertentu yang telah terbiasa dengan efek cepat
benzodiazepin akan merasakan kurangnya efektivitas buspiron. Anti depresan trisiklik,
SSRI, dan MAOI bermanfaat terhadap pasien-pasien tertentu (terutama bagi mereka yang
disertai dengan depresi). Sedangkan pasien dengan gejala otonomik akan membaik dengan
-bloker (misal, propanolol 80-160 mg/hari). 4, 8
Tabel 2. Sediaan Obat Anti-Anxietas dan Dosis Anjuran (menurut IiMS Vol. 30-2001)11
N
o
1.

2.

Nama Generik
Diazepam

Chlordiazepoxide

Nama Dagang

Sediaan

Diazepin

Tab. 2-5 mg

Lovium

Tab. 2-5 mg

Stesolid

Tab. 2-5 mg

Cetabrium

Amp. 10mg/2cc
Drg. 5-10 mg

Arsitran

Tab. 5 mg

Dosis Anjuran
10-30 mg/h

15-30 mg/h

3.

Lorazepam

Tensinyl
Ativan

Cap. 5 mg
Tab. 0,5-1-2 mg

2-3 x 1 mg/h

4.
5.

Clobazam
Alprazolam

Renaquil
Frisium
Xanax

Tab. 1 mg
Tab. 10 mg
Tab. 0,25-0,5 mg

2-3 x 1m mg/h
0,75-1,50 mg/h

Sulpiride
Buspirone
Hydroxyzine

Alganax
Dogmatil
Buspar
Iterax

Tab. 0,25-0,5 mg
Cap. 50 mg
Tab. 10 mg
Caplet 25 mg

100-200 mg/h
15-30 mg/h
3x25 mg/h

6.
7.
8.

Obat anti-anxietas Benzodiazepine yang bereaksi dengan reseptornya (benzodiazepine


receptors) akan meng-reinforce the inhibitory action of GABA-ergic neuron, sehingga
hiperaktivitas tersebut di atas mereda.11
Dorong rasa percaya diri, rumatan aktivitas produktif, dan kognisi yang berdasarkan
pada realita. Latihlah pasien dengan teknik relaksasi (misal biofeedback, meditasi,
otohipnotis). Lebih dari 50% pasien menjadi asimtomatik seiring berjalannya waktu, tetapi
12

sisanya memberat pada derajat hendaya yang bermakna. Bantulah pasien untuk memahami
akan sifat kronis penyakitnya dan mengerti akan adanya kemungkinan untuk selamanya
hidup dengan beberapa gejala yang memang tidak akan hilang. 4,6
II.6.

PROGNOSIS
Prognosis Gangguan Kecemasan Menyeluruh sukar untuk untuk diperkirakan. Nemun
demikian beberapa data menyatakan peristiwa kehidupan berhubungan dengan onset
gangguan ini. Terjadinya beberapa peristiwa kehidupan yang negatif secara jelas
meningkatkan kemungkinan akan terjadinya gangguan. Hal ini berkaitan pula dengan berat
ringannya gangguan tersebut.8,10

KESIMPULAN
Kecemasan adalah perasaan yang tidak menyenangkan, tidak enak, khawatir dan
gelisah. Keadaan emosi ini tanpa objek yang spesifik, dialami secara subjektif dipacu oleh
ketidaktahuan yang didahului oleh pengalaman baru, dan dikomunikasikan dalam hubungan
interpersonal. Neale dkk (2001) mengatakan bahwa kecemasan sebagai perasaan takut yang
tidak menyenangkan dan dapat menimbulkan beberapa keadaan psikopatologis sehingga
mengalami apa yang disebut Gangguan Kecemasan.
Gambaran klinis bervariasi dapat dijumpai keluhan cemas, khawatir, was-was, ragu
untuk bertindak, perasaan takut yang berlebihan, gelisah pada hal-hal yang sepele dan tidak
utama yang mana perasaan tersebut mempengaruhi seluruh aspek kehidupannya, sehingga
pertimbangan akal sehat, perasaan dan perilaku terpengaruh. Selain itu spesifik untuk Gangguan
Kecemasan Menyeluruh adalah kecemasanya terjadi kronis secara terus-menerus mencakup
situasi hidup (cemas akan terjadi kecelakaan, kesulitan finansial), cemas akan terjadinya
bahaya, cemas kehilangan kontrol, cemas akan`mendapatkan serangan jantung. Sering penderita
tidak sabar, mudah marah, sulit tidur.
Diagnosis gangguan cemas menyeluruh menurut PPDGJ-III ditegakkan jika penderita
menunjukkan anxietas sebagai gejala primer yang berlangsung hampir setiap hari untuk
beberapa minggu sampai beberapa bulan, yang tidak terbatas atau hanya menonjol pada
13

keadaan situasi khusus tertentu saja (mengambang). Gejala-gejala tersebut biasanya


mencakup unsur-unsur berikut: Kecemasan (khawatir akan nasib buruk, merasa seperti di ujung
tanduk, sulit berkonsentrasi), ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak
dapat santai); dan overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan, berkeringat, jantung berdebardebar, sesak napas, keluhan lambung, pusing kepala, mulut kering, dsb).
Terapi pada Gangguan Kecemasan Menyeluruh pada umumnya dapat dilakukan dengan
2 cara yakni terapi psikologis (psikoterapi) atau terapi dengan obat-obatan (farmakoterapi).
Obat pilihan yang digunakan adalah antianxietas (golongan benzodiazepine

khuusnya

diazepam dan alprazolam. Anti depresan juga dapat dikombinasikan misalnya golongan SSRI
yakni fluoxetine.
DAFTAR PUSTAKA
1. Maria, Josetta. Cemas Normal atau Tidak Normal. Program Studi Psikologi. Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
2. Kaplan, H., Sadock, Benjamin. 1997. Gangguan Kecemasan dalam Sinopsis Psikiatri:
Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis Edisi ke-7 Jilid 2. Jakarta: Bina Rupa
Aksara. Hal. 1-15
3. Kaplan, Harold. I. 1998. Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat. Jakarta: Widya Medika. Hal.
145-54
4. Tomb, D. A. 2000. Buku Saku Psikiatri Edisi 6. Jakarta : EGC. Hal. 96-110
5. Maslim, Rusdi. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ-III. Jakarta:
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Unika Atmajaya. Hal. 72-75
6. Adiwena, Nuklear. 2007. Anxietas. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Islam
Indonesia.
7. Eldido. Anxiety Disorder; Tipe-tipe dan Penanganannya. 20 Oktober 2008.
8. Yates, W. R. 2008. Anxiety Disorders. Update August 13, 2008. www.emedicine.com
9. Anonim. Kecemasan atau Ansietas. Update 32 Desember 2008.
www.mitrariset.blogspot.com
10. Ashadi. Gangguan Campuran Anxietas dan Depresi. Updates 22 Mei 2008.
www.sidenreng.com
11. Maslim, Rusdi. 2007. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Jakarta: Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Unika Atmajaya. Hal. 12

14