Anda di halaman 1dari 3

TUGAS INDIVIDU

: Citra dan Pengindraan Jauh

RINGKASAN JURNAL (MAKSIMAL 2 LEMBAR)


APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DENGAN CITRA SATELIT QUICKBIRD
UNTUK PEMETAAN MANGROVE DI PULAU KARIMUNJAWA, KABUPATEN
JEPARA, JAWA TENGAH

OLEH :
MUH. NURHIDAYAT
F1G1 12 013

KENDARI
2015

BAHAN DAN METODE


3.1. Waktu dan Lokasi
Penelitian ini meliputi beberapa pulau di Taman Nasional Karimunjawa, yaitu P.
Karimunjawa, P. Menjangan Besar dan P. Menjangan Kecil. Survei lapang dilaksanakan pada
tanggal 3-12 Juli 2004 di Taman Nasional Laut Karimunjawa, Kabupaten / DATI II Jepara,
Jawa Tengah. Analisis citra dilakukan di Laboratorium Geomatic and Natural Resources,
SEAMEO-BIOTROP, Bogor.
3.2. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang diperlukan dalam penelitian lapang maupun analisis data adalah :
1. Kompas bidik
2. Meteran
3. Buku identifikasi mangrove Kitamura
4. GPS Garmin 12 XL
5. Peta rupabumi skala 1 : 25.000 dari BAKOSURTANAL
6. Print out peta komposit citra QuickBird
7. Software ER Mapper 5.5 dan Arc View 3.1
8. Citra Satelit QuickBird 3 Juli 2003
3.3. Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan analisis data penginderaan jauh. Untuk
endukung analisis yang akan dilakukan maka dilaksanakan survei lapang (ground check).
3.3.1. Survei lapang
Survei lapang perlu dilakukan sebagai salah satu input data dalam menginterpretasi
citra satelit di Suatu daerah. Kegiatan survei lapangan ini meliputi berbagai kegiatan, baik
pengukuran posisi dengan GPS, maupun pengumpulan data lapangan seperti identifikasi jenis
mangrove dan pengukuran diameter batang. Pengambilan contoh dilakukan secara acak
(random sampling), dimana tiap contoh mewakili beberapa tingkat kerapatan mangrove.
3.3.1.1. Penentuan lokasi
Titik contoh ditentukan pada setiap lokasi pemetaan dengan prinsip penyebaran yang
merata, keterwakilan dan dapat dijangkau. Tiap lokasi ditentukan beberapa titik contoh
tergantung dari luas lokasi, keseragaman penutupan lahan, dan belum tuntasnya pengenalan
penutup lahan dalam proses
interpretasi.
3.3.1.2. Ukuran, jumlah dan bentuk petak contoh
Ukuran, jumlah dan bentuk petak contoh tergantung pada strata pertumbuhan (pohon,
semai, anakan), kerapatan dan keragaman jenis serta heterogenitas. Dalam penentuan ukuran
petak pada prinsipnya adalah bahwa petak harus cukup besar agar mewakili komunitas, tetapi
juga harus cukup kecil agar individu yang ada dapat dipisahkan.
Metode yang digunakan untuk memperoleh data kerapatan mangrove adalah
metode transek kuadrat (quadrate transect). Metode ini digunakan untuk
menghitung jumlah tegakan mangrove di dalam transek berukuran 10 m x 10 m,
5 m x 5 m, dan 1 m x 1 m. Transek 1 m x 1 m dan 5 m x 5 m terletak di dalam
transek 10 m x 10 m (Gambar 4).
Transek 10 m x 10 m digunakan untuk menghitung jumlah tegakan mangrove pada
tingkat pohon yang memiliki diameter batang > 4 cm. Transek 5 m x 5 m digunakan untuk
menghitung jumlah tegakan mangrove pada tingkat anakan dengan diameter batang < 4 cm
dan tingginya > 1 m. Transek 1 m x 1 m, 5x5 m2, 1x1 m2, 10x10 m2, digunakan untuk
menghitung jumlah tegakan mangrove pada tingkat semai yang tingginya kurang dari 1 m.
3.3.1.3. Parameter yang diukur
Dalam analisis vegetasi ada beberapa parameter yang diamati di lapangan, yaitu :

a. Nama spesies
b. Diameter batang, dengan cara mengukur kelilingnya, untuk mengetahui luas bidang dasar
untuk menduga volume pohon dan tegakan
3.3.2. Pengolahan data lapang
Data mengenai spesies, diameter batang, dan jumlah tegakan diolah lebih lanjut untuk
mendapatkan kerapatan jenis, frekuensi jenis, luas area penutupan, dan indeks nilai penting.
Nilai penting suatu jenis berkisar antara 0 dan 300. Nilai penting ini memberikan suatu
gambaran mengenai pengaruh atau peranan suatu jenis tumbuhan mangrove dalam komunitas
mangrove.
3.3.3. Pemrosesan data citra
Citra QuickBird diproses dengan menggunakan software ER Mapper 5.5 dan Arc View 3.1,
sedangkan analisis visual dilakukan berdasarkan hasil identifikasi objek. Beberapa tahap
yang akan dilakukan dalam pengolahan citra antara lain : pemulihan citra, penajaman citra
dan klasifikasi citra. Dari tahapan inilah informasi mengenai kerapatan dan distribusi
mangrove didapatkan.
3.3.3.1. Pemulihan citra
Pemulihan citra dilakukan dengan tujuan untuk memulihkan data citra yang
mengalami distorsi ke arah gambaran yang tidak sesuai dengan keadaan aslinya. Proses
pemulihan citra ini terdiri dari koreksi geometrik dan koreksi radiometrik. Distorsi geometrik
terjadi karena adanya pergeseran piksel dari letak yang sebenarnya. Distorsi tersebut
disebabkan oleh kurang sempurnanya sistem kerja Scan Deflection System dan
ketidakstabilan sensor atau satelit, dimana untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan
koreksi geometrik yang melalui dua tahap, yaitu : transformasi koordinat dan resampling.
Transformasi koordinat dilakukan dengan menggunakan Ground Control Point atau
disebut juga GCP. GCP (titik kontrol tanah) adalah suatu kenampakan geofrafis yang unik
dan stabil sifat geometrik dan radiometriknya serta lokasinya dapat diketahui dengan tepat,
misalnya : persimpangan jalan, sudut dari suatu bangunan ataupun tambak dan sebagainya.
GCP yang telah ditentukan ditempatkan pada citra dan pada peta topografi dengan tingkat
akurasi satu pixel. Penempatan GCP yang benar akan menghasilkan matriks transformasi
hubungan titik-titik pada citra dan system proyeksi yang terpilih.
3.3.3.6. Gabungan citra hasil klasifikasi dengan indeks vegetasi
Penutupan lahan berdasarkan hasil klasifikasi meliputi distribusi, genus, dan luasan
mangrove, sedangkan kerapatan mangrove diperoleh dari klasifikasi indeks vegetasi. Proses
selanjutnya adalah citra penutupan lahan hasil supervised classification dengan metode
maximum likelihood ditumpang-tindihkan (overlay) dengan citra hasil analisis indeks
vegetasi. Hasil overlay ini memberikan informasi mengenai genus mangrove dan tingkat
kerapatannya.