Anda di halaman 1dari 18

I.

DEFINISI
Trauma kepala adalah gangguan pada otak yang bersifat non degeneratif dan non

kongenital yang disebabkan oleh kekuatan mekanik eksternal, yang menyebabkan terjadinya
kerusakan kognitif, fisikal, dan fungsi psikososial yang permanen atau sementara, dengan
disertai berkurangnya atau perubahan tingkat kesadaran.
Akan tetapi, definisi dari trauma kepala adalah tidak selalu tetap dan cenderung untuk
bervariasi bergantung kepada spesialitas dan keadaan lingkungan. Seringkali, trauma/cedera otak
disamakan dengan trauma kepala.
II.

ETIOLOGI

Penyebab terbanyak trauma kepala adalah kecelakaan lalu lintas dimana lebih dari setengah
kasus terjadi lebih sering pada daerah perkotaan. Penyebab lainnya adalah jatuh dari tempat
tinggi, korban kekerasan, trauma akibat olahraga, dan trauma penetrasi. Trauma kepala dua
sampai empat kali lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan pada perempuan, dan lebih
sering terjadi pada umur kurang dari 35 tahun.
III.

KLASIFIKASI TRAUMA KEPALA

Klasifikasi trauma kepala dibagi berdasarkan mekanisme trauma, beratnya trauma, dan
morfologi trauma.
1. Mekanisme:

Tumpul : kecepatan tinggi (kecelakaan lalu lintas) dan kecepatan rendah (jatuh, dipukul)

Tembus/penetrasi : cedera peluru dan cedera tembus lainnya.

2. Beratnya:

Ringan (GCS 14-15)

Sedang (GCS 9-13)

Berat (GCS 3-8)

3. Morfologinya:

Fraktur tengkorak : kalvaria (linier/steleate, depresi/nondepresi, terbuka/tertutup), basis


kranii(dengan/tanpa kebocoran LCS, dengan/tanpa parese CN VII).

Lesi intrakranial : fokal (epidural, subdural, intraserebral), difus (komosio ringan,


komosio klasik, cedera akson difus)
(ATLS, 1999)

IV.

KLINIS

Tingkat kesadaran pasien adalah hal terpenting dalam mengevaluasi pasien trauma kepala.
Glascow Coma Scale (GCS) merupakan alat bantu yang dipakai untuk menentukan derajat
trauma kepala. GCS dibagi menjadi tiga kategori, yaitu eye opening (E), motor response (M),
dan verbal response (V).
Tabel Glasgow Coma Scale
Eye Opening
Score

1 Year or Older

0-1 Year

Spontaneously

Spontaneously

To verbal command

To shout

To pain

To pain

No response

No response
Best Motor Response

Score

1 Year or Older

0-1 Year

Obeys command

Localizes pain

Localizes pain

Flexion withdrawal

Flexion withdrawal

Flexion abnormal (decorticate)

Flexion abnormal (decorticate)

Extension (decerebrate)

Extension (decerebrate)

No response

No response
Best Verbal Response

Score
5

>5 Years
Oriented and converses

2-5 Years

0-2 Years

Appropriate words Cries appropriately

Disoriented and converses Inappropriate words Cries

Inappropriate words; cries Screams

Inappropriate crying/screaming

Incomprehensible sounds Grunts

Grunts

No response

No response

No response

Pasien trauma kepala memiliki riwayat satu ataupun kombinasi dari cedera kepala primer,
bergantung pada derajat dan mekanisme trauma yang terjadi. Tipe cedera kepala primer adalah
cedera kulit kepala, fraktur tengkorak, fraktur basis cranii, kontusio, perdarahan intrakranial,
perdarahan subarachnoid, perdarahan intraventrikuler, hematom epidural, hematom subdural,
cedera penetrasi, dan cedera akson difus.
Untuk mengetahui adanya fraktur cranii, perlu ditanyakan saat kejadian trauma, mekanisme
cedera, progresivitas gejala yang terjadi akibat cedera tersebut. Fraktur tulang tengkorak dapat
bersifat linier, comminuted, depressed, dan steleate.
Pada fraktur basis kranii, pasien memiliki riwayat terbentur pada belakang kepala, penurunan
kesadaran, kejang, mual, muntah dan defisit neurologis. Tanda patognomonis trauma basis cranii
adalah adanya Battle sign, raccoon eyes, dan CSF otorrhea dan rhinorrhea. Terjepitnya saraf
kranial optikus terjadi pada 1-10% pasien fraktur basis kranii.
Kontusio terjadi akibat cedera kepala primer pada lobus temporalis dan frontalis. Hal ini
karena pada daerah tersebut terdapat protuberantia kalvaria. Terdapat gejala penyimpangan
neurologis progresif sekunder akibat edema serebral lokal, infark, dan/atau pembentukan-lambat
hematom.
Hematom epidural terjadi akibat adanya laserasi pada arteri atau vena pada daerah antara
tulang tengkorak dan lapisan duramater. Hematom terbentuk 6-8 jam bila lesi berasal dari arteri
atau lebih dari 24 jam bila berasal dari vena setelah cedera kepala. Lokasi hematom biasanya
pada lobus temporalis, frontalis, dan oksipitalis. Pasien biasanya mengalami lucid interval, yaitu
suatu periode dimana pasien dalam keadaan sadar yang terjadi antara penurunan kesadaran
dengan adanya defisit neurologis. Lucid interval lebih sering terjadi pada dewasa dibandingkan
pada anak-anak. Defisit neurologis terjadi akibat adanya kompresi, akibat ekspansi hematom,
pada lobus temporalis dan/atau pada batang otak.

Hematom subdural terjadi pada daerah antara lapisan duramater dan korteks serebrii. Lesi ini
terjadi akibat robekan pada bridging vein atau adanya laserasi pada arteri korteks akibat cedera
akselerasi-deselerasi. Lesi ini juga dapat disebabkan trauma akibat persalinan, biasanya terjadi
pada 12 jam kehidupan yang ditandai adanya kejang (shaken baby syndromes), fontanel yang
menonjol, peningkatan lingkar kepala, anisokor, dan gagal nafas.
Perdarahan intraventrikuler biasanya terjadi pada trauma minor dan dapat sembuh spontan.
Perdarahan masif dapat menyebabkan hidrosefalus obstruktif, terutama bila terjadi pada level
foramen Monroe dan aquaduktus Sylvii.
Perdarahan subarachnoid adalah bentuk perdarahan yang umum terjadi pada trauma kepala.
Perdarahan disebabkan adanya gangguan pada pembuluh darah kecil pada korteks serebrii.
Lokasi lesi biasanya pada sepanjang falx serebrii atau tentorium dan lapisan luar korteks. Gejala
klinis yang biasanya terjadi adalah mual, muntah, sakit kepala, gelisah, demam, dan kaku kuduk.
Cedera akson difus terjadi akibat gaya akselerasi-deselerasi yang tejadi secara terus-menerus
yang mengakibatkan gangguan pada jalur akson-akson kecil. Area yang umumnya terganggu
adalah ganglia basalis, talamus, nukleus hemisfer profunda, dan korpus kolosum. Pasien
biasanya memberikan gejala klinis berupa perubahan status mental dan adanya perpanjangan
status vegetatif. Pada pemeriksaan CT-scan biasanya didapatkan adanya petekie.
Pemeriksaan Fisik
1. Primary Survey
A. Airway, dengan kontrol servikal:
Yang pertama harus dinilai adalah jalan nafas, meliputi pemeriksaan adanya obstruksi
jalan nafas yang dapat disebabkan benda asing, fraktur tulang wajah, fraktur mandibula atau
maksila, fraktur laring atau trakea.
- Bila penderita dapat berbicara atau terlihat dapat berbicara - jalan nafas bebas.
- Bila penderita terdengar mengeluarkan suara seperti tersedak atau berkumur - ada

obstruksi parsial.
- Bila penderita terlihat tidak dapat bernafas - obstruksi total.
Jika penderita mengalami penurunan kesadaran atau GCS < 8 keadaan tersebut definitif

memerlukan pemasangan selang udara.


Selama pemeriksaan jalan nafas, tidak boleh dilakukan ekstensi, fleksi atau rotasi pada
leher.

Dalam keadaan curiga adanya fraktur servikal atau penderita datang dengan multiple
trauma, maka harus dipasangkan alat immobilisasi pada leher, sampai kemungkinan
adanya fraktur servikal dapat disingkirkan.

B. Breathing, dengan ventilasi yang adekuat


Pertukaran gas yang terjadi saat bernafas mutlak untuk pertukaran oksigen dan
mengeluarkan karbondioksida dari tubuh. Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik

dari paru, dinding dada, dan diafragma.


Pada inspeksi, baju harus dibuka untuk melihat ekspansi pernafasan dan jumlah

pernafasan per menit, apakah bentuk dan gerak dada sama kiri dan kanan.
Perkusi dilakukan untuk mengetahui adanya udara atau darah dalam rongga pleura.
Auskultasi dilakukan untuk memastikan masuknva udara ke dalam paru-paru
Gangguan ventilasi yang berat seperti tension pneumothoraks, flail chest, dengan

kontusio paru, dan open pneumothorasks harus ditemukan pada primary survey.
Hematothorax, simple pneumothorax, patahnya tulang iga dan kontusio paru harus

dikenali pada secondary survey


C. Circulation, dengan kontrol perdarahan
a. Volume darah

Suatu keadaan hipotensi harus dianggap hipovolumik sampai terbukti sebaliknya.

Jika volume turun, maka perfusi ke otak dapat berkurang sehingga dapat mengakibatkan
penurunan kesadaran.

Penderita trauma yang kulitnya kemerahan terutama pada wajah dan ekstremitas, jarang
dalarn keadaan hipovolemik. Wajah pucat keabu-abuan dan ekstremitas yang dingin merupakan
tanda hipovolemik.

Nadi
- Periksa kekuatan, kecepatan, dan irama
- Nadi yang tidak cepat, kuat, dan teratur : normovolemia
- Nadi yang cepat, kecil : hipovolemik
- Kecepatan nadi yang normal bukan jaminan normovolemia
- Tidak ditemukannya pulsasi dari arteri besar, merupakan tanda diperlukan
resusitasi segera.
b. Perdarahan
Perdarahan eksternal harus dikelola pada primary survey dengan cara penekanan pada
luka
D. Disability
Evaluasi terhadap keadaan neurologis secara cepat. Yang dinilai adalah tingkat kesadaran,

ukuran pupil dan reaksi pupil terhadap cahaya dan adanya parese.
Suatu cara sederhana menilai tingkat kesadaran dengan AVPU
A : sadar (Alert)
V : respon terhadap suara (Verbal)
P : respon terhadap nyeri (Pain)
U : tidak berespon (Unresponsive)
Glasgow Coma Scale adalah sistem skoring sederhana dan dapat memperkirakan keadaan
penderita selanjutnya. Jika belum dapat dilakukan pada primary survey, GCS dapat diiakukan
pada secondary survey.
Menilai tingkat keparahan cedera kepala melalui GCS :
a. Cedera kepala ringan (kelompok risiko rendah)
- Skor GCS 15 (sadar penuh, atentif; orientatif)
- Tidak ada kehilangan kesadaran (misalnya : konklusi)
- Tidak ada intoksikasi alkohol atau obat terlarang
- Pasien dapat tnengeluh nyeri kepala dan pusing
- Pasien dapat menderita abrasi, Iaserasi, atau hematoma kulit kepala
- Tidak ada kriteria cedera sedang-berat
b. Cedera kepala sedang, (kelompok risiko sedang)
Skor GCS 9-14 (konfusi, letargi, atau stupor)
Konklusi
Amnesia pasca trauma
Muntah
Tanda kemungkinan fraktur kranium (tanda Battle, mata rabun, hemotimpanum, otorea atau
-

rinorea cairan serebro spinal)


Kejang

c. Cedara kepala berat (kelompok risiko berat)


Skor GCS 3-8 (koma)
Penurunan derajat kesadaran secara progresif
Tanda neurologis fokal
Cedera kepala penetrasi atau teraba fraktur depresi kranium
Penurunan kesadaran dapat terjadi karena berkurangnya perfusi ke otak atau trauma
langsung ke otak. Alkohol dan obat-obatan dapat mengganggu tingkat kesadaran penderita. Jika
hipoksia dan hipovolemia sudah disingkirkan, maka trauma kepala dapat dianggap sebagai
penyebab penurunan kesadaran, bukan alkohol sampai terbukti sebaliknya.
E. Exposure
Penderita trauma yang datang harus dibuka pakaiannya dan dilakukan evaluasi terhadap jejas
dan luka.
2. Secondary Survey

Adalah pemeriksaan dari kepala sampai kaki (head to toe, examination), termasuk
reevaluasi tanda vital.

Pada bagian ini dilakukan pemeriksaan neurologis lengkap yaitu GCS jika belum
dilakukan pada primary survey

Dilakukan X-ray foto pada bagian vang terkena trauma dan terlihat ada jejas.
V.

PENANGANAN CEDERA KEPALA RINGAN (GCS 14-15)

Sekitar 80% dari semua pasien cedera kepala dikategorikan sebagai cedera kepala ringan. Pasien
sadar tetapi mungkin mengalami hilang ingatan atas kejadian yang melibatkan cederanya. Bisa
terdapat riwayat singkat terjadinya pingsan namun sulit untuk diketahui. Gambaran ini sering
berhubungan dengan alcohol atau zat intoksikan lainnya.
Kebanyakan pasien dengan cedera kepala ringan sembuh tanpa penanganan berarti. Tetapi,
sekitar 3% mengalami komplikasi yang tidak terduga, mengakibatkan disfungsi neuroligik berat
jika penurunan status mental terlambat dideteksi.
Pemeriksaan CT scan perlu dipertimbangkan pada semua pasien yang mengalami pingsan lebih
dari lima menit, amnesia, nyeri kepala berat, dan GCS<15 atau defisit neurologic fokal yang
berhubungan dengan otak. Foto cervical X-ray perlu dilakukan jika terdapat nyeri leher atau
nyeri saat palpasi.
Pemerikasaan CT scan adalah metode yang lebih disukai. Jika tidak tersedia, skull X-ray bisa
dilakukan terhadap cedera kepala tumpul dan penetrans. Yang harus diperhatikan pada foto
kepala:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Fraktur linear atau depressed


Posisi midline pineal gland jika ada kalsifikasi
Level udara cairan pada sinus
Pneumocephals
Fraktur fasial
Benda asing

Indikasi rawat pasien cedera kepala ringan yaitu :


- Pingsan > 15menit
- Post Traumatic Amnesia > 1Jam
- Pada observasi penurunan kesadaran
- Sakit Kepala >>
- Fraktur

- Otorhoe / Rinorhoe
- Cedera penyerta,
- CT-Scan Abnormal
- Tidak ada keluarga
- Intoksikasi alkohol / Obat-obatan.

Jika pasien asimtomatik, sadar penuh, normal secara neurologis, maka pasien diamati selama
beberapa jam, diperiksa ulang, dan jika masih normal, akan dipulangkan.
Pesan untuk penderita / keluarga, Segera kembali ke Rumah Sakit bila dijumpai hal-hal sbb :
-Tidur / sulit dibangunkan tiap 2 jam
- Mual dan muntah yang terus memburuk
- Sakit Kepala yang terus memburuk
- Kejang
- Kelemahan tungkai & lengan (hemiparese)
- Bingung / Perubahan tingkah laku /gaduh gelisah
- Pupil anisokor
- Nadi naik / turun (bradikardi)

VI.

PENANGANAN CEDERA KEPALA SEDANG (GCS 9-13)

Kira-kira sekitar 10% dari pasien cedera kepala adalah termasuk cedera kepala sedang. Pasien
masih dapat mengikuti perintah sederhana tetapi pasien biasanya bingung dan somnolen dan
mungkin terdapat defisit neurologis fokal seperti hemiparesis. Sekitar 10-20% dari pasien ini
mengalami penurunan kesadaran hingga koma.
Sebelum dilakukan penanganan neurologis, anamnesa singkat dilakukan dan kardiopulmoner
distabilkan terlebih dahulu. CT scan kepala perlu dilakukan dan dokter bedah saraf dihubungi.

Semua pasien ini memerlukan observasi di ruang ICU atau unit serupa yang memudahkan
observasi dan evaluasi neurologis ketat untuk 12 hingga 24 jam pertama. CT scan untuk follow
up dalam 12-24 jam dianjurkan jika hasil CT scan awal abnormal atau jika terjadi penurunan
pada status neurologis pasien.

VII.

PENANGANAN CEDERA KEPALA BERAT (GCS 3-8)

Pasien yang mengalami cedera kepala berat tidak mampu untuk mengikuti perintah sederhana
bahkan setelah stabilisasi kardiopulmoner. Pendekatan wait and see pada pasien ini bisa
berakibat fatal, maka diangnosis dan penanganan cepat sangatlah penting. Jangan menunda CT
scan.
A. Primary Survey dan Resusitasi
Cedera kepala sering tidak disebabkan oleh cedera sekunder. Hipotensi pada pasien dengan
cedera kepala berat berhubungan dengan tingkat mortalitas yang meningkat dua kali lipat
dibanding pasien tanpa hipotensi (60% vs 27%). Adanya hipoksia ditambah hipotensi
berhubungan dengan tingkat mortalitas yang mencapai 75%. Maka dari itu, stabilisasi
kardiopulmoner pada pasien cedera kepala berat adalah prioritas dan dan harus segera
tercapai.
Transient respiratory arrest dan hipoksia dapat menyebabkan cedera otak sekunder. Pada
pasien koma, intubasi endotrakeal harus dilakukan segera. Pasien diberi oksigen 100%
sampai didapat gas darah, lalu penysuaian tepat terhadap F IO2. Pulse oxymetri adalah
pembantu yang berguna dan diharapkan didapat saturasi O 2 > 98%. Hiperventilasi harus
digunakan pada pasien dengan cedera kepala berat secara hati-hati dandipakai hanya saat
terjadi penurunan tingkat neurologic.
Hipotensi biasanya tidak terkait dengan cedera kepala itu sendiri kecuali pada stadium
terminal saat terjadikegagalan vena medular. Perdarahan intrakranila tidak menyebabkan
syok hemoragik. Euvolemia harus segera dilakukan jika pasien hipotensi.
Hipotensi adalah penanda kehilangan banyak darah, walau tidak terlalu jelas. Penyebab yang
harus diperhatikan yaitu cedera spinal cord, kontusio jantung atau tamponade dan tension
pneumothorax.
B. Pemeriksaan Neurologis
Segera setelah status kardiopulmoner pasien stabil, pemeriksaan neurologis yang cepat dan
langsung. Terdiri dari pemeriksaan GCS dan reflex cahaya pupil. Pada pasien koma, respon
motorik dapat dilakukan dengan mencubit otot trapezius atau dengan nail-bed pressure.
C. Secondary Survey
Pemeriksaan seperti GCS, lateralisasi dan reaksi pupil sebaiknya dilakukan untuk mendeteksi
penurunan neurologik sedini mungkin.
D. Prosedur Diagnostik

CT scan kepala emergensi harus dilakukan sedini mungkin setelah hemodinamik stabil. CT
scan juga harus diulang bila ada perubahan pada status klinis dan secara rutin 12-24 jam
setelah cedera untuk pasien dengan kontusio atau hematom pada CT scan awal.

TINJAUAN PUSTAKA
I.

ANATOMI
Pengenalan kembali anatomi tengkorak sangat berguna dalam mempelajari akibat-akibat

cedera kepala. (1)

Kulit kepala (scalp)

Tulang tengkorak

Meningen

Otak

II.

Cairan cerebro spinal

Tentorium
FISIOLOGI

A. Tekanan intracranial (TIK)


Berbagai proses patologis yang mengenai otak dapat mengakibatkan perubahan
tekanan intrakranial yang selanjutnya akan mengganggu fungsi otak yang akhirnya
berdampak buruk terhadap penderita.

Tekanan intrakranial yang tinggi dapat

menimbulkan gangguan fungsi otak dan mempengaruhi kesembuhan penderita. Jadi


kenaikan tekanan intrakranial (TTIK) tidak hanya merupakan indikasi adanya masalah
serius dalam otak, tetapi justru merupakan masalah utamanya. TIK normal pada saat
istirahat kira-kira 10 mmHg (136mmH 2O). TIK lebih tinggi dari 20 mmHg dianggap
tidak normal dan TIK lebih dari 40mmHg termasuk ke dalam kenaikan TIK berat.
Semakin tinggi TIK setelah cedera kepala semakin buruk prognosisnya. (1)
B. Doktrin Monro-Kellie
Konsep utama doktrin Monro-Kellie adalah bahwa volume intrakranial selalu
konstan, karena rongga kranium pada dasarnya merupakan rongga yang tidak mungkin
terekspansi. TIK yang normal tidak berarti tidak adanya lesi massa intrakranial, karena
TIK umumnya tetap dalam batas normal sampai kondisi penderita mencapai titik
dekompensasi dan memasuki fase ekspansional kurva tekanan-volume.(Gambar 1) (1)

iij
Gambar 1. Kompensasi intracranial terhadap massa yang ekspansi

C. Tekanan Perfusi Otak (TPO)


Tekanan perfusi otak merupakan indikator yang sama penting dengan TIK. TPO
mempunyai formula sebagai berikut:
TPO = MAP TIK
Maka dari itu, mempertahankan tekanan darah yang adekuat pada penderita cedera kepala
adalah sangat penting, terutama pada keadaan TIK yang tinggi. (1)
TPO kurang dari 70mmHg umunya berkaitan dengan prognosis yang buruk pada
penderita cedera kepala.
D. Aliran Darah ke Otak (ADO)
Aliran darah ke otak normal kira-kira 50 ml/100 gr jaringan otak/menit. Bila
ADO menurun sampai 20-25ml/100 gr/menit, aktivitas EEG akan hilang dan pada ADO
5 ml/100 gr/menit, sel-sel otak mengalami kematian dan terjadi kerusakan menetap. Pada
penderita trauma, fenomena autoregulasi akan mempertahankan ADO pada tingkat
konstan apabila MAP 50-160 mmHg. Bila MAP < 50mmHg ADO menurun curam, dan
bila MAP >160mmHg terjadi dilatasi pasif pembuluh darah otak dan ADO meningkat.
Mekanisme autoregulasi sering mengalami gangguan pada penderita cedera kepala.
Akibatnya penderita tersebut sangat rentan terhadap cedera otak sekunder karena iskemi
sebagai akibat hipotensi yang tiba-tiba. (1)
Bila mekanisme kompensasi tidak bekerja dan terjadi kenaikan eksponensial TIK,
perfusi otak sangat berkurang, terutama pada penderita yang mengalami hipotensi. Maka
dari itu, bila terdapat TTIK, harus dikeluarkan sedini mungkin dan tekanan darah yang
adekuat tetap harus dipertahankan. (1)
III.

KLASIFIKASI
Cedera kepala diklasifikasikan secara praktis dikenal tiga deskripsi klasifikasi yaitu

berdasarkan:
1.

Mekanisme

Cedera kepala tumpul, biasanya berkaitan dengan kecelakaan mobil-motor,


jatuh, atau pukulan benda tumpul. (1)

Cedera kepala tembus, disebabkan oleh peluru atau tusukan. Adanya penetrasi
selaput dura menentukan cedera apakah cedera tembus atau tumpul. (1)

2.

Beratnya cedera
GCS digunakan secara umum dalam deskripsi beratnya cedera penderita kepala.
Penderita dengan GCS 14-15 diklasifikasikan ke dalam cedera kepala ringan, GCS 913 termasuk cedera kepala sedang, dan GCS 3-8 termasuk cedera kepala berat. (1)

3.

Morfologi

Cedera Kepala Primer


Cedera kepala primer dibagi dalam lima kategori:
1.

Kerusakan kulit kepala


Kerusakan kulit kepala dapat dimulai dari kontusi jaringan yang kecil
sampai dengan avulsi total dari lapisan kulit kepala. Karena kulit kepala
kaya akan pembuluh darah, maka laserasi yang besar dapat menyebabkan
kehilangan darah yang banyak dan dapat menyebabkan syok.(2,3)

2.

Fraktur tulang kepala


Fraktur tulang kepala merupakan hasil dari trauma tumpul atau penetrasi.
Fraktur tulang kepala dapat dikategorikan menjadi fraktur linier dan
fraktur depressed. Fraktur linier dapat terjadi pada kubah kranium atau
basis kranium, tergantung pada beban energi yang terjadi dengan arah
jarak deselerasi, dan bentuk objek yang membentur kepala. (2,3)
a. Fraktur linier pada kubah kranium
Fraktur linier terjadi secara sekunder terhadap kekuatan yang
besar pada permukaan yang lebar,merupakan cedera benturan
yang disebabkan oleh perubahan bentuk kepala dari sisi
benturan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah kejadian,

sisi, arah dan tingkat fraktur.(Gambar 2) (2,3)

Gambar 2. Fraktur linier os temporal

b. Fraktur basis kranii


Fraktur basis kranii terjadi pada 19-21% dari semua fraktur
tulang kepala dan 4% dari seluruh cedera kepala. Fraktur basis
kranii sering merupakan ekstensi dari fraktur kubah kranium,
dapat juga timbul dari aliran beban pada benturan langsung pada
basis kranii. (Gambar 3). (2,3)
Tempat-tempat yang relatif lemah pada basis kranii adalah sinus
sfenoid, foramen magnum, hubungan temporal dengan petrosum,
sfenoid ring bagian dalam. Tempat-tempat ini mudah terjadi
fraktur.

Gambaran

fraktur

tergantung

dari

kekuatan

tenaga,struktur tulang dan foramen pada basis kranii. Fraktur


basis kranii dengan robek dura sangat mudah terjadi infeksi atau
dapat juga terjadi fistula pada duramater yang ditandati dengan
bocornya LCS berupa rinorre dan ottorea. (2,3)
Fraktur basis kranii juga berhubungan dengan cedera saraf otak
dan pembuluh darah, karena dapat terjadi terpotongnya saraf otak
atau pembuluh darah oleh fragmen fraktur atau strangulasi. (2,3)

Gambar 3. Fraktur Basis Kranii

c. Fraktur depressed
Fraktur

depressed

biasanya

merupakan

dari

gaya

yang

terlokalisir pada satu tempat di kepala. Ketika gaya tersebut


cukup besar, atau terkonsentrasi pada daerah sempit, tulang
terdesak ke bawah, sehingga menghasilkan fraktur depressed.
Keadaaan tersebut tergantung dari besarnya benturan dan
kelenturan tulang kepala. (Gambar 4 dan 5) (2,3)

Gambar 4. Fraktur depressed

Gambar 5. Repair fraktur depressed