Anda di halaman 1dari 25

TUGAS

WAWASAN KEBANGSAAN

Disusun oleh :
Nabil Kirom

(2112030026)

D3 TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2014

BAB I
SEJARAH KEBANGSAAN INDONESIA

Indonesia, sejak diproklamirkan kemerdekaan negara ini menganut falsafah


bahwa hanya ada satu bangsa di wilayah negara Republik Indonesia yaitu bangsa
Indonesia. Hal ini sesuai dengan tekad (pakai d atau t sih) para pemimpin Indonesia
yang tercetus pada Sumpah Pemuda tahun 1928. Tetapi, kemudian perlu dipahami
lebih dalam bahwa konteks satu bangsa yang diucapkan dalam sumpah pemuda
tersebut sangat bernuansa historis, dimana semua manusia atau kelompok manusia
(anda boleh menyebutnya dengan suku bangsa) yang berdiam di wilayah Indonesia
punya majikan yang sama yaitu pemerintah Belanda (yang diwakili oleh pemerintah
kolonial Hindia Belanda).
Ini yang kemudian menyebabkan bahwa rasa persatuan atau kesadaran akan
kebutuhan bersama untuk menentang kolonialisme dalam bentuk apapun kemudian
menjadi manifes dengan munculnya rasa kebangsaan Indonesia. Tetapi harap diingat
bahwa proses penaklukan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda yang belangsung
cukup sukses hanya di pulau Jawa, sedang di bagian timur dan barat dari Indonesia
malah berlangsung dalam periode yang amat singkat kurang dari 45 tahun. Secara legal
formal dalam hukum internasional mengatur tentang kepemilikan suatu wilayah yang
dinyatakan terra nullius oleh hukum internasional, yang kemudian mensyaratkan
adanya keefektifan pemerintahan di wilayah yang dikuasai, baik secara politik, hukum,
dan ekonomi (lihat kasus sipadan dan ligitan), Aceh dan Papua Barat adalah wilayah
terakhir yang kemudian secara efektif dikuasai dan dimasukkan ke dalam wilayah
Hindia Belanda.

Proses Pembentukan Indonesia.


Dari sejak awal pergerakan kemerdekaan dari tindasan pemerintah kolonial
Hindia Belanda dimulai dari daerah-daerah lokal (setingkat propinsi/kabupaten kalau
sekarang), hal ini wajar karena mengingat bahwa rasa kebangsaan di tingkat lokal
sangat kuat (ini terbukti hingga saat ini).
Kemudian setelah pemerintah Belanda menerapkan politik etis di Indonesia
mulai terbentuk segolongan elit terdidik dan terpelajar di seluruh kepulauan Indonesia
yang kemudian mentransformasikan dirinya dengan identitas keindonesiaan dalam
wujud perhimpunan mahasiswa Indonesia di negeri Belanda yang berwadah dalam
Perhimpunan Indonesia.
Pada saat yang sama, partai-partai politik atau yang menyamai partai politik tidak
ada yang menggunakan identitas keindonesiaan (sebagai contoh Budi Utomo, Sarikat
Islam, NIP), kecuali PKI. Saat itu hanya Partai Komunis Indonesia-lah yang
menggunakan identitas keindonesiaan, walaupun mereka tidak bisa mengklaim bahwa

dalam pergerakan kemerdekaan mereka adalah pelopor penggunaan nama Indonesia


karena pada awalnya pun mereka menggunakan nama Perserikatan Komunis Hindia.
Harus diakui bahwa dua organisasi politik inilah yang memperkenalkan identitas
keindonesiaan pada dunia Internasional (PI untuk ke luar negeri dan PKI untuk ke
dalam negeri), dan kemudian menjadi sandaran bagi partai-partai politik yang berbasis
nasionalisme untuk menggunakan identitas keindonesiaan.
Sehingga proses adanya kesadaran keindonesiaan ini kemudian lebih dikarenakan
adanya penindasan secara politik, ekonomi, dan hukum yang dilakukan oleh
pemerintah kolonial Hindia Belanda, tanpa adanya kesadaran luhur akan pentingnya
federasi yang longgar antar bangsa di wilayah Indonesia.

Proses Pemerdekaan dan Kemerdekaan Indonesia


Proses penyatuan Indonesia yang sedikit mengambil bentuk keterpaksaan mulai
mengemuka ketika pemerintahan fasis Jepang memberikan sedikit kemerdekaan untuk
merancang proses kemerdekaan Indonesia kepada para pemimpin Indonesia.
Pikiran-pikiran yang kemudian mengemuka kemudian malah menjadi manifes
dalam bentuk negara integralistik yang dalam sejarah perjalanannya justru anti
demokrasi dan menjadikan tiap rejim yang memerintah tidak menghormati hak asasi
manusia. Hal ini kemudian menjadi basis legalitas pembentukan Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang dinyatakan dalam pasal 1 ayat 1 UUD RI.
Pikiran tentang negara integralistik ini sebenarnya sangat dijiwai oleh paham
kosmologi Jawa yang sangat feodal itu, yang sayangnya justru di adopsi oleh para
pemimpin Indonesia (mungkin ini berkaitan dengan banyaknya pemimpin Indonesia
yang berasal dari Jawa). Yang kemudian justru menciptakan suatu monster yang
melenyapkan segala kearifan lokal masyarakat adat di Indonesia (lihat UU
pemerintahan di desa pada masa rejim orde baru). Dan hal ini kemudian menuimbulkan
resistensi daerah-daerah di luar Jawa yang menolak hegemoni Jawa atas pemerintahan
di Indonesia, sehingga yang diciptakan oleh setiap pemerintahan di Indonesia bukannya
rasa kebangsaan Indonesia tetapi malah memunculkan adanya Sentimen
Keindonesiaan .
Proses yang terjadi dengan pemaksaan ini malah diteruskan oleh rejim militer
orde baru. Proses yang sama kemudian terjadi pada wilyah Timor Leste atas nama
integrasi, wilayah tersebut dimasukkan (baca;dianeksasi) secara melanggar hukum
internasional ke dalam wilyaah Indonesia, pada saat yang sama di Aceh dan Papua juga
terjadi kekerasan yang sistematis demi melanggengkan ideologi militer yaitu persatuan
dan negara integralistik.

Di Bawah Rejim Korporatis Militer Orde Baru


Masa ini ditandai dengan lenyapnya penghargaan terhadap perbedaan tiap bangsa
yang hidup di Indonesia, dengan diterapkannya suatu kebijakan yang mengharamkan
masalah SARA didiskusikan secara terbuka. Perbedaan yang ada kemudian dicoba
untuk ditutupi dengan slogan semu bhinneka tunggal ika versi orde baru dan militer
kemudian secara mencolok diberi baju baru sebagai stabilisator dan dinamisator
dalam kehidupan politik nasional.
Di dalam rejim ini paham negara integralistik kemudian sangat menonjol,
sehingga setiap perbedaan pendapat dibungkam dengan cara-cara kekerasan.
Kebebasan akademik kemudian diberangus dengan menempatkan satu unit milisi
mahasiswa di tiap kampus yang diberi baju Resimen Mahasiswa. Pada saat ini pula
berbagai bibit ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah mulai bermunculan
meskipun dalam skala lokal dan sangat elitis sekali. Di dua propinsi Indonesia; Aceh
dan Papua Barat serta satu koloni Indonesia Timor Leste- kemudian secara terbuka
mengumumkan prinsip politiknya untuk memperoleh kemerdekaan dari Indonesia.
Penindasan yang dilakukan secara sistematis di dua propinsi dan satu koloni ini
ternyata tidak menyurutkan niat untuk merdeka. Bahkan setelah jatuhnya presiden
Soeharto pada tahun 1998, gerakan kemerdekaan di Aceh, Papua Barat, dan Timor
Leste semakin berkibar dan semakin mendapat tempat di hati bangsa Aceh, Papua
Barat, dan Timor Leste serta menjadi pusat perhatian dunia Internasional karena
ditemukan fakta tentang terjadinya pelanggaran Hak Asasi Manusia di dua propinsi dan
satu koloni Indonesia itu.

Munculnya Tawaran Otonomi Khusus


Setelah kemenangan bangsa Timor Leste melepaskan diri dari kolonialisme
Indonesia, di Aceh dan Papua Barat semakin bertambah kuat keinginan kemerdekaan
ini. Gerakan Aceh Merdeka justru mulai menampilkan perlawanan bersenjata secara
terbuka dan lebih dari 30 % pemerintahan di tingkat kecamatan telah diambil alih
secara efektif oleh Gerakan Aceh Merdeka. Sementara di Papua Barat dengan
diselenggarakannya Kongres Rakyat Papua II yang salah satu resolusinya adalah
meminta pemerintah Indonesia mengembalikan kedaulatan bangsa Papua Barat seperti
yang telah dicapai pada tahun 1961, dan hasil dari Kongres tersebut mendapat
dukungan yang meluas di seluruh wilayah Papua Barat.
Dalam keadaan terdesak seperti ini, disamping dengan maraknya kampanye di
dunia internasional tentang pelanggaran hak asasi manusia, kemudian pemerintah
Indonesia menawarkan resep otonomi khusus. Tawaran ini mendapatkan reaksi yang
berbeda dari rakyat di Aceh dan Papua Barat. Tetapi tawaran ini kemudian malah tidak
didiskusikan secara terbuka dengan bangsa Aceh dan Papua Barat dan malah kemudian
menetapkan secara sepihak materi dalam UU otonomi khusus tersebut.

Bagaimana Sekarang?
Pemerintah Indonesia sebaiknya segera berunding ulang dengan wakil-wakil
bangsa Aceh dan Papua Barat secara terbuka untuk penyelesaian damai di Aceh dan
Papua Barat serta menghukum para pelaku pelanggaran hak asasi manusia. Dan tidak
lagi melakukan aksi perdamaian semu serta mulai mengakui bahwa disamping bangsa
Indonesia juga terdapat bangsa Aceh dan Papua Barat serta bangsa-bangsa lain yang
hidup secara berdampingan di wilayah negara Indonesia. Dan kemudian juga
memformulasi ulang bentuk negara kesatuan menjadi negara federal di dalam UUD RI.

BAB II
IDEOLOGI PANCASILA
Secara etimologis, ideologi berasal dari bahasa Yunani yaitu idea dan logia. Idea
berasal dari idein yang berarti melihat. Idea juga diartikan sesuatu yang ada di dalam
pikiran sebagai hasil perumusan sesuatu pemikiran atau rencana. Kata logia
mengandung makna ilmu pengetahuan atau teori, sedang kata logis berasal dari kata
logos dari kata legein yaitu berbicara.
Istilah ideologi sendiri pertama kali dilontarkan oleh Antoine Destutt de Tracy
(1754 1836), ketika bergejolaknya Revolusi Prancis untuk mendefinisikan sains
tentang ide. Jadi dapat disimpulkan secara bahasa, ideologi adalah pengucapan atau
pengutaraan terhadap sesuatu yang terumus di dalam pikiran.Dalam tinjauan
terminologis, ideology is Manner or content of thinking characteristic of an individual
or class (cara hidup/ tingkah laku atau hasil pemikiran yang menunjukan sifat-sifat
tertentu dari seorang individu atau suatu kelas).
Ideologi adalah ideas characteristic of a school of thinkers a class of society, a
plotitical party or the like (watak/ ciri-ciri hasil pemikiran dari pemikiran suatu kelas di
dalam masyarakat atau partai politik atau pun lainnya). Ideologi ternyata memiliki
beberapa sifat, yaitu dia harus merupakan pemikiran mendasar dan rasional. Kedua,
dari pemikiran mendasar ini dia harus bisa memancarkan sistem untuk mengatur
kehidupan. Ketiga, selain kedua hal tadi, dia juga harus memiliki metode praktis
bagaimana ideologi tersebut bisa diterapkan, dijaga eksistesinya dan disebarkan.
Pancasila dijadikan ideologi dikerenakan, Pancasila memiliki nilai-nilai falsafah
mendasar dan rasional. Pancasila telah teruji kokoh dan kuat sebagai dasar dalam
mengatur kehidupan bernegara. Selain itu, Pancasila juga merupakan wujud dari
konsensus nasional karena negara bangsa Indonesia ini adalah sebuah desain negara
moderen yang disepakati oleh para pendiri negara Republik Indonesia kemudian nilai
kandungan Pancasila dilestarikan dari generasi ke generasi.
Pancasila pertama kali dikumandangkan oleh Soekarno pada saat berlangsungnya
sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Republik Indonesia
(BPUPKI).
Pada pidato tersebut, Soekarno menekankan pentingnya sebuah dasar negara.
Istilah dasar negara ini kemudian disamakan dengan fundamen, filsafat, pemikiran yang
mendalam, serta jiwa dan hasrat yang mendalam, serta perjuangan suatu bangsa
senantiasa memiliki karakter sendiri yang berasal dari kepribadian bangsa.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Pancasila secara formal yudiris
terdapat dalam alinea IV pembukaan UUD 1945. Di samping pengertian formal
menurut hukum atau formal yudiris maka Pancasila juga mempunyai bentuk dan juga
mempunyai isi dan arti (unsur-unsur yang menyusun Pancasila tersebut). Tepat 64

tahun usia Pancasila, sepatutnya sebagai warga negara Indonesia kembali menyelami
kandungan nilai-nilai luhur tersebut.

Ketuhanan (Religiusitas)
Nilai religius adalah nilai yang berkaitan dengan keterkaitan individu dengan
sesuatu yang dianggapnya memiliki kekuatan sakral, suci, agung dan mulia. Memahami
Ketuhanan sebagai pandangan hidup adalah mewujudkan masyarakat yang
beketuhanan, yakni membangun masyarakat Indonesia yang memiliki jiwa maupun
semangat untuk mencapai ridlo Tuhan dalam setiap perbuatan baik yang dilakukannya.
Dari sudut pandang etis keagamaan, negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa
itu adalah negara yang menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk
agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Dari dasar ini
pula, bahwa suatu keharusan bagi masyarakat warga Indonesia menjadi masyarakat
yang beriman kepada Tuhan, dan masyarakat yang beragama, apapun agama dan
keyakinan mereka.

Kemanusiaan (Moralitas)
Kemanusiaan yang adil dan beradab, adalah pembentukan suatu kesadaran
tentang keteraturan, sebagai asas kehidupan, sebab setiap manusia mempunyai potensi
untuk menjadi manusia sempurna, yaitu manusia yang beradab. Manusia yang maju
peradabannya tentu lebih mudah menerima kebenaran dengan tulus, lebih mungkin
untuk mengikuti tata cara dan pola kehidupan masyarakat yang teratur, dan mengenal
hukum universal.
Kesadaran inilah yang menjadi semangat membangun kehidupan masyarakat dan
alam semesta untuk mencapai kebahagiaan dengan usaha gigih, serta dapat
diimplementasikan dalam bentuk sikap hidup yang harmoni penuh toleransi dan damai.

Persatuan (Kebangsaan) Indonesia


Persatuan adalah gabungan yang terdiri atas beberapa bagian, kehadiran
Indonesia dan bangsanya di muka bumi ini bukan untuk bersengketa. Bangsa Indonesia
hadir untuk mewujudkan kasih sayang kepada segenap suku bangsa dari Sabang sampai
Marauke. Persatuan Indonesia, bukan sebuah sikap maupun pandangan dogmatik dan
sempit, namun harus menjadi upaya untuk melihat diri sendiri secara lebih objektif dari
dunia luar. Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk dalam proses sejarah
perjuangan panjang dan terdiri dari bermacam-macam kelompok suku bangsa, namun
perbedaan tersebut tidak untuk dipertentangkan tetapi justru dijadikan persatuan
Indonesia.

Permusyawaratan dan Perwakilan


Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan hidup berdampingan dengan
orang lain, dalam interaksi itu biasanya terjadi kesepakatan, dan saling menghargai satu
sama lain atas dasar tujuan dan kepentingan bersama. Prinsip-prinsip kerakyatan yang
menjadi cita-cita utama untuk membangkitkan bangsa Indonesia, mengerahkan potensi
mereka dalam dunia modern, yakni kerakyatan yang mampu mengendalikan diri, tabah
menguasai diri, walau berada dalam kancah pergolakan hebat untuk menciptakan
perubahan dan pembaharuan.
Hikmah kebijaksanaan adalah kondisi sosial yang menampilkan rakyat berpikir
dalam tahap yang lebih tinggi sebagai bangsa, dan membebaskan diri dari belenggu
pemikiran berazaskan kelompok dan aliran tertentu yang sempit.

Keadilan Sosial
Nilai keadilan adalah nilai yang menjunjung norma berdasarkan ketidak
berpihakkan, keseimbangan, serta pemerataan terhadap suatu hal. Mewujudkan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan cita-cita bernegara dan
berbangsa. Itu semua bermakna mewujudkan keadaan masyarakat yang bersatu secara
organik, dimana setiap anggotanya mempunyai kesempatan yang sama untuk tumbuh
dan berkembang serta belajar hidup pada kemampuan aslinya. Segala usaha diarahkan
kepada potensi rakyat, memupuk perwatakan dan peningkatan kualitas rakyat, sehingga
kesejahteraan tercapai secara merata.

BAB III
HAK ASASI MANUSIA

Pengertian HAM (Hak Asasi Manusia) - Definisi atau pengertian HAM atau Hak
Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri manusia sejak manusia lahir yang
tidak dapat diganggu gugat dan bersifat tetap. kita sebagai warga negara yang baik
tentunya haruslah saling menghormati satu sama lain dengan tidak membedakan ras,
agama, golongan, jabaatan ataupun status sosial.
dibawah ini merupakan sedikit dari pembagian Hak Asasi Manusia :

Pengertian HAM atau Hak Asasi Manusia (Human Rights)


secara universal ham adalah hak dasar yang dimiliki oleh seseorang sejak lahir
sampai mati sebagai anugerah dari tuhan YME. semua orang memiliki hak untuk
menjalankan kehidupan dan apa yang dikendakinya selama tidak melanggar norma dan
tata nilai dalam masyarakat. Hak asasi ini sangat wajib untuk dihormati, dijunjung
tinggi serta dilindungi oleh negara, hukum dan pemerintah. setiap orang sebagai harkat
dan martabat manusia yang sama antara satu orang dengan lainnya yang benar-benar
wajib untuk dilindungi dan tidak ada pembeda hak antara orang satu dengan yang
lainnya.
Pengertian HAM atau Hak Asasi Manusia (Human Rights)
HAM adalah hak fundamental yang tak dapat dicabut yang mana karena ia adalah
seorang manusia.
Jack Donnely, mendefinisikan hak asasi tidak jauh berbeda dengan pengertian di
atas. Hak asasi adalah hak-hak yang dimiliki manusia semata-mata karena ia manusia.
Umat manusia memilikinya bukan karena diberikan kepadanya oleh masyarakat atau
berdasarkan hukum positif, melainkan semata-mata berdasarkan martabatnya sebagai
manusia dan hak itu merupakan pemberian dari tuhan yang maha esa.
Sementara menurut John Locke, Hak Asasi Manusia adalah hak yang dibawa
sejak lahir yang secara kodrati melekat pada setiap manusia dan tidak dapat diganggu
gugat. John Locke menjelaskan bahwa HAM merupakan hak kodrat pada diri manusia
yang merupakan anugrah atau pemberian langsung dari tuhan YME.
secara filosofis, pandangan menurut hak asasi manusia adalah, "jika wacana
publik masyarakat global di masa damai dapat dikatakan memiliki bahasa moral yang
umum, itu adalah hak asasi manusia." Meskipun demikian, klaim yang kuat dibuat oleh
doktrin hak asasi manusia agar terus memunculkan sikap skeptis dan perdebatan
tentang sifat, isi dan pembenaran hak asasi manusia sampai dijaman sekarang ini.

Memang, pertanyaan tentang apa yang dimaksud dengan "hak" itu sendiri kontroversial
dan menjadi perdebatan filosofis terus (Shaw, 2008)
diatas merupakan sedikit pengertian dari HAM, dewasa ini banyak sekali
pengertian HAM menurut beberapa pendapat, dan sampai sekarang pun HAM masih
belum jelas, karena setiap individu itu mempunyai pemikiran pemikiran masing masing
tentang HAM.

BAB IV
DEMOKRASI
Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara
sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara
untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.
Salah satu pilar demokrasi adalah prinsip trias politica yang membagi ketiga
kekuasaan politik negara (eksekutif, yudikatif dan legislatif) untuk diwujudkan dalam
tiga jenis lembaga negara yang saling lepas (independen) dan berada dalam peringkat
yg sejajar satu sama lain. Kesejajaran dan independensi ketiga jenis lembaga negara ini
diperlukan agar ketiga lembaga negara ini bisa saling mengawasi dan saling mengontrol
berdasarkan prinsip checks and balances.
Ketiga jenis lembaga-lembaga negara tersebut adalah lembaga-lembaga
pemerintah yang memiliki kewenangan untuk mewujudkan dan melaksanakan
kewenangan eksekutif, lembaga-lembaga pengadilan yang berwenang
menyelenggarakan kekuasaan judikatif dan lembaga-lembaga perwakilan rakyat (DPR,
untuk Indonesia) yang memiliki kewenangan menjalankan kekuasaan legislatif. Di
bawah sistem ini, keputusan legislatif dibuat oleh masyarakat atau oleh wakil yang
wajib bekerja dan bertindak sesuai aspirasi masyarakat yang diwakilinya (konstituen)
dan yang memilihnya melalui proses pemilihan umum legislatif, selain sesuai hukum
dan peraturan.
Selain pemilihan umum legislatif, banyak keputusan atau hasil-hasil penting,
misalnya pemilihan presiden suatu negara, diperoleh melalui pemilihan umum.
Pemilihan umum tidak wajib atau tidak mesti diikuti oleh seluruh warganegara, namun
oleh sebagian warga yang berhak dan secara sukarela mengikuti pemilihan umum.
Sebagai tambahan, tidak semua warga negara berhak untuk memilih (mempunyai hak
pilih).
Kedaulatan rakyat yang dimaksud di sini bukan dalam arti hanya kedaulatan
memilih presiden atau anggota-anggota parlemen secara langsung, tetapi dalam arti
yang lebih luas. Suatu pemilihan presiden atau anggota-anggota parlemen secara
langsung tidak menjamin negara tersebut sebagai negara demokrasi sebab kedaulatan
rakyat memilih sendiri secara langsung presiden hanyalah sedikit dari sekian banyak
kedaulatan rakyat. Walapun perannya dalam sistem demokrasi tidak besar, suatu
pemilihan umum sering dijuluki pesta demokrasi. Ini adalah akibat cara berpikir lama
dari sebagian masyarakat yang masih terlalu tinggi meletakkan tokoh idola, bukan
sistem pemerintahan yang bagus, sebagai tokoh impian ratu adil. Padahal sebaik apa
pun seorang pemimpin negara, masa hidupnya akan jauh lebih pendek daripada masa
hidup suatu sistem yang sudah teruji mampu membangun negara. Banyak negara
demokrasi hanya memberikan hak pilih kepada warga yang telah melewati umur
tertentu, misalnya umur 18 tahun, dan yang tak memliki catatan kriminal (misal,
narapidana atau bekas narapidana).

Isitilah demokrasi berasal dari Yunani Kuno yang diutarakan di Athena kuno
pada abad ke-5 SM. Negara tersebut biasanya dianggap sebagai contoh awal dari
sebuah sistem yang berhubungan dengan hukum demokrasi modern. Namun, arti dari
istilah ini telah berubah sejalan dengan waktu, dan definisi modern telah berevolusi
sejak abad ke-18, bersamaan dengan perkembangan sistem demokrasi di banyak
negara.
Kata demokrasi berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan
kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai
pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh
rakyat dan untuk rakyat. Konsep demokrasi menjadi sebuah kata kunci tersendiri dalam
bidang ilmu politik. Hal ini menjadi wajar, sebab demokrasi saat ini disebut-sebut
sebagai indikator perkembangan politik suatu negara.
Demokrasi menempati posisi vital dalam kaitannya pembagian kekuasaan dalam
suatu negara (umumnya berdasarkan konsep dan prinsip trias politica) dengan
kekuasaan negara yang diperoleh dari rakyat juga harus digunakan untuk kesejahteraan
dan kemakmuran rakyat. Prinsip semacam trias politica ini menjadi sangat penting
untuk diperhitungkan ketika fakta-fakta sejarah mencatat kekuasaan pemerintah
(eksekutif) yang begitu besar ternyata tidak mampu untuk membentuk masyarakat yang
adil dan beradab, bahkan kekuasaan absolut pemerintah seringkali menimbulkan
pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia.
Demikian pula kekuasaan berlebihan di lembaga negara yang lain, misalnya
kekuasaan berlebihan dari lembaga legislatif menentukan sendiri anggaran untuk gaji
dan tunjangan anggota-anggotanya tanpa mempedulikan aspirasi rakyat, tidak akan
membawa kebaikan untuk rakyat. Intinya, setiap lembaga negara bukan saja harus
akuntabel (accountable), tetapi harus ada mekanisme formal yang mewujudkan
akuntabilitas dari setiap lembaga negara dan mekanisme ini mampu secara operasional
(bukan hanya secara teori) membatasi kekuasaan lembaga negara tersebut.

BAB V
GEOPOLITIK

Geopolitik berasal dari kata geo dan politik. Geo berarti bumi dan politik berasal
dari bahasa Yunani politeia. Poli artinya kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri dan
teia artinya urusan. Geopolitik merupakan Ilmu penyelenggaraan negara yang setiap
kebijakannya dikaitkan dengan masalah masalah geografi wilayah atau tempattinggal
suatu bangsa. Geopolitik biasa juga di sebut dengan wawasan nusantara. Geopolitik
diartikan sebagai sistem politik atau peraturan-peraturan dalam wujud kebijaksanaan
dan strategi nasional yang didorong oleh aspirasi nasional geografik (kepentingan yang
titik beratnya terletak pada pertimbangan geografi, wilayah atau territorial dalam arti
luas) suatu Negara, yang apabila dilaksanakan dan berhasil akan berdampak langsung
kepada system politik suatu Negara. Sebaliknya, politik Negara itu secara langsung
akan berdampak pada geografi Negara yang bersangkutan. Geopolitik bertumpu pada
geografi sosial (hukum geografis), mengenai situasi, kondisi, atau konstelasi geografi
dan segala sesuatu yang dianggap relevan dengan karakteristik geografi suatu Negara.
Maka kebijakan penyelenggaraan bernegara didasarkan atas keadaanatau tempat tinggal
negara itu. Geopolitik juga bisa disebut wawasan nusantara.
Berbagai Pandangan Tentang Geopolitik
Frederich Ratzel (1844-1904) seorang penggagas geopolitik sebagai ilmu bumi
politik (Political Geography), peletak dasar-dasar suprastruktur geopolitik bahwa
kekuatan suatu negara harus mampu mewadahi pertumbuhannya. Semakin luas ruang
potensi geografi yang ditempati sekelompok politik (kekuatan), makin memungkinkan
kelompok politik itu tumbuh. Negara sebagai suatu organisme yang memerlukan ruang
hidup, mengenal proses lahir, hidup, dan mati.
Rudolf Kjellen (1864-1922) dan Karl Haushofer (1869-1946) mengembangkan
geopolitik sebagai Geographical Politic yang menitik beratkan kepada analisis
fenomena geografi dari aspek politik geografi menyangkut kependudukan, ekonomi
sosial, dan pemerintahan, bahwa negara tidak sekedar satuan biologis juga mempunyai
inteketualitas.
Negara sebagai satu kesatuan politik yang menyeluruh, meliputi geografi,
kependudukan, ekonomi, sosio & crato (pemerintahan) politik. Dinamika kebudayaan
berupa gagasan, kegiatan ekonomi harus diikuti oleh pemekaran wilayah. Perluasan ini
dapat dilakukan secara damai atau kekerasan. Berarti dapat menuju ke arah politik adu
kekuatan dan adu kekuasaan serta ekspansionisme.

Karl Haushofer (1928) ajarannya (mengacu pokok pikiran Kjellen ) berkembang


di Jerman Adolf Hitler (Nazisme), dan di Jepang berupa ajaran Hako Ichiu yang di
landasi oleh faham militerisme dan fasisme. Pokok pikiran ajarannya:

1. Suatu bangsa dalam mempertahankan hidupnya mengikuti hukum alam,


artinya yang kuat atau unggul akan tetap bertahan hidup.
2. Geopolitik sebagai doktrin negara yang menitik beratkan pada soal strategi
perbatasan.
3. Ruang hidup bangsa dan tekanan kekuasaan ekonomi dan sosial yang rasial
mengharuskan pembagian baru dari kekayaan alam di dunia.
4. Geopolitik sebagai landasan ilmiah bagi tindakan politik dalam
mempertahankan kelangsungan hidup untuk mendapat ruang hidup.
5. Teori ekspansionisme, dan wilayah dunia dibagi-bagi menjadi region-region
yang akan dikuasai oleh bangsa unggul seperti AS, Inggeris, Jerman, Rusia, dan Jepang
di Asia

BAB VI
GEOSTRATEGI
A.

Pengertian

Geostrategi adalah suatu strategi dalam memanfaatkan kondisi geografis Negara


dalam menentukan kebijakan, tujuan dan sarana untuk mewujudkan cita-cita
proklamasi dan tujuan nasional. Geostrategi memberi arahan tentang bagaimana
merancang strategi pembangunan guna mewujudkan masa depan yang lebih baik,
aman, dan sejahtera.
Geostrategi/ Ketahanan Nasional Indonesia adalah strategi dalam memanfaatkan
konstelasi geografis Negara Indonesia untuk menentukan kebijakan, tujuan, dan saranasarana untuk mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia, serta memberi arahan tentang
bagaimana merancang strategi pembangunan guna mewujudkan masa depan yang lebih
baik, aman dan sejahtera. Geostrategi Indonesia dirumuskan dalam wujud konsepsi
Ketahanan Nasional.
Geostrategi/ Ketahanan Nasional adalah kondisi kehidupan nasional yang harus
diwujudkan. Kondisi kehidupan tersebut sejak dini dibina secara terus menerus dan
sinergis mulai dari pribadi, keluarga, lingkungan, daerah dan nasional. Proses
berkelanjutan untuk mewujudakan kondisi tersebut dilakukan berdasarkan pemikiran
geostrategi berupa konsepsi yang dirancang dan dirumuskan dengan memelihara
kondisi bangsa dan konstelasi geografi Indonesia. Konsepsi tersebut dinamakan
Konsepsi Ketahanan Nasional Indonesia.
Ketahanan Nasional merupakan kondisi dinamik suatu bangsa, berisi keuletan
dan ketangguhan, yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional,
dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan
baik yang datang dari dalam maupun dari luar, yang langsung maupun tidak langsung
membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara serta
perjuangan mengejar tujuan perjuangan nasionalnya.
Dari definisi tersebut ada beberapa istilah yang perlu dijelaskan artinya agar tidak
menimbulkan perbedaan penafsiran. Istilah-istilah tersebut adalah:
1)
Daya tahan : kekuatan yang menyebabkan seseorang atau sesuatu
dapat bertahan, kuat menderita, atau kuat menaggung beban.
2)
Keuletan : suatu usaha yang terus-menerus secara giat dengan
kemauan keras didalam menggunakan segala kemampuan dan kecakapan untuk
mencapai tujuan dan cita-cita.
3)
Identitas : ciri khas suatu negara sebagai suatu totalitas, yaitu negara
yang dibatasi oleh wilayah, penduduk, sejarah, pemerintahan dan tujuan nasional.

4)
Integritas : kesatuan yang menyeluruh didalam kehidupan bangsa
baik sosial maupun alamiah, potensial, maupun real.
5)
Tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan : tantangan
merupakan usaha yang bersifat mengubah atau merombak kebijakan secara
kosepsional, dari sudut kriminal atau politis. Hambatan merupakan usaha yang bersifat
atau bertujuan melemahkan/menghalangi kebijakan, yang tidak bersifat konsepsional
dan yang berasal dari dalam. Kalau berasal dari luar, hambatan ini dapat disebut
gangguan.
Ketahanan Nasional pada hakikatnya merupakan suatu konsepsi dalam
pengaturan dan penyelenggaraan kesejahteraandan kemakmuran serta pertahanan dan
keamanan dalam kehidupan nasional. Untuk dapat mencapai tujuan Nasionalnya, suatu
bangsa harus mempunyai kekuatan, kemampuan, daya tahan dan keuletan. Inilah yang
dinamakan Ketahanan Nasional. Dengan demikian jelaslah bahwa Ketahanan Nasional
harus diwujudkan dengan mempergunakan baik pendekatan kesejahteraan (prosperty
approach) maupun pendekatan keamanan (security approach).
Kehidupan nasional tersebut diatas meliputi beberapa aspek, yang dapat
dikelompok-kelompokkan sebagai berikut:
(a)

Aspek ilmiah, yang meliputi:

1)

Letak geografis;

2)

Keadaan dan kekayaan alam;

3)

Keadaan dan kemampuan penduduk.

(b) Aspek sosial (kemasyarakatan), yang meliputi:


1)
Ideologi. Dapat diartikan sebagai kondisi dinamis kehidupan ideologi
bangsa Indonesia. Ketahanan ini diartikan mengandung keuletan dan ketangguhan
kekuatan nasional dalam menghadapi serta mengatasi segala tantangan, ancaman,
hambatan dan gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam secara langsung
maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan kehidupan ideologi bangsa dan
negara Indonesia.
2)
Politik. Ketahanan pada aspek politik diartikan sebagai kondisi dinamis
kehidupan politik bangsa Indonesia yang berisi keuletan dan ketangguhan kekuatan
nasional dalam menghadapi serta mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan
gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam secara langsung maupun tidak
langsung untuk menjamin kelangsungan kehidupan politik bangsa dan negara Republik
Indonesia berdasar Pancasila dan UUD 1945.
3)
Ekonomi. Ketahanan Ekonomi diartikan sebagai kondisi dinamis kehidupan
perekonomian bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan kekuatan nasional dalam
menghadapi serta mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang

datang dari luar maupun dari dalam secara langsung maupun tidak langsung untuk
menjamin kelangsungan perekonomian bangsa dan negara berlandaskan Pancasila dan
UUD 1945.
4)
sosial budaya. Ketahanan sosial budaya diartikan sebagai kondisi dinamis
budaya Indonesia yang berisi keuletan dan ketangguhan kekuatan nasional dalam
menghadapi serta mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang
datang dari luar maupun dari dalam secara langsung maupun tidak langsung
membahayakan kelangsungan kehidupan sosial budaya.
5)
Militer (pertahanan dan keamanan). Ketahanan pertahanan dan keamanan
diartikan sebagai kondisi dinamis kehidupan pertahanan dan keamanan bangsa
Indonesia mengandung keuletan, ketangguhan, dan kemampuan dalam
mengembangkan, menghadapi dan mengatasi segala tantangan dan hambatan yang
datang dari luar maupun dari dalam yang secara langsung maupun tidak langsung
membahayakan identitas, integritas, dan kelangsungan hidup bangsa dan negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Perlu dikemukakan disini bahwa sebenarnya Ketahanan Nasional dapat juga
dipandang sebagai suatu kondisi dan suatu strategi.
Ketahanan Nasional sebagai kondisi akan nampak dengan jelas apabila diajukan
pertanyaan bagaimana Ketahanan Nasional kita dewasa ini? Jelaslah bahwa yang
dinyatakan bukan konsepsi, melainkan kondisi bangsa dan negara Indonesia. Sesuai
dengan konsepsi, kondisi Ketahanan Nasional tersebut mengandung kemampuan untuk
menyusun seluruh kekuatan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Kekuatan ini
diperlukan untuk dapat mengatasi dan menanggulangi segala macam dan bentuk
ancaman yang ditujukan kepada bangsa dan Negara Indonesia.
Dengan memperhatikan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
apabila kita berbicara tentang Ketahanan Nasional kita, maka hal ini berarti
mempersoalkan tentang kemampuan dan kelemahan bangsa kita serta ancamanancaman yang kita hadapi, baik dari luar maupun dalam. Dengan demikian kondisi
Ketahanan Nasional akan sangat tergantung pada:
(a)
(b)
tersebut.

ancaman atau bahaya yang dihadapi oleh bangsa dan negara;


kemampuan dan daya tahan kita untuk menghadapi ancaman dan bahaya

Oleh karena itu perlu dilakukan apresiasi yang setepat-tepatnya atas kemampuan
dan daya tahan diri sendiri serta ancaman dan bahaya yang mengancam. Kelemahankelemahan diri diri sendiri tidak ditutup-tutupi dan diabaikan demikian pula ancaman
dan bahaya yang dihadapi tidak boleh diremehkan.
Didalam praktek apresiasi yang setepat-tepatnya sulit untuk dikerjakan
oleh karena diperlukan penelitian dan pengualitatif. Kriteria yang dapat dipakai untuk

mengukur belum diketemukan, oleh karena itu masih merupakan tantangan bagi kita
untuk menemukan alat pengukur atau metode pengukuran, paling tidak yang bersifat
kualitatif.
Ketahanan Nasional sebagai strategiberpokok pangkal pada masalah
kelangsungan hidup (survival) dari suatu bangsa. Masalah survival ini bukanlah
masalah dari Negara dan bangsa Indonesia saja, tetapi juga menjadi negara-negara
sedang berkembang lainnya, bahkan juga menjadi masalah negara-negara maju, tidak
salah apabila dikatakan bahwa masalah kelangsungan hidup (survival) merupakan
masalah utama bagi semua bangsa. Walaupun masalahnya sama, yaitu masalah survival
(kelangsungan hidup), tetapi bahaya dari ancaman yang dihadapi berbeda, ditambah
lagi situasi dan kondisi negara-negara tadi sangat berlainan, maka cara-cara yang
dipilih untuk mempertahankan kelangsungan hidup suatu bangsa dan negara
dipengaruhi oleh macam atau jenis bahaya dan ancaman yang dihadapi serta situasi dan
kondisi bangsa dan negara yang bersangkutan.
Dalam hubungan dengan uraian diatas timbul pertanyaan strategi apa yang
dianut oleh Indonesia?. Dengan mengingat bahaya ancaman yang dihadapi Indonesia,
yaitu infiltrasi san subversi yang ditujukan kepada semua bidang kehidupan Nasional
serta situasi dan kondisi bangsa kita, dimana mempunyai kemuk yang sedang
membangun, maka strategi yang dipilih ialah strategi Ketahanan Nasional yang
meliputi Ketahanan Nasional dibidang Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya dan
Militer atau Hankam.

B.

Sifat-sifat Ketahanan Nasional


Ketahanan Nasional memiliki beberapa sifat, yaitu:
1)

Sifat Manunggal

Setiap bangsa yang berusaha mencapai cita-citanya tidak dapat lepas dari segenap
aspek kehidupan Nasionalnya, baik alamiah maupun yang sosial. Setiap aspek
kehidupan tadi saling pengaruh-mempengaruhi dan saling berkaitan, sehingga sangan
sendirinya terdapat hubungan interpendensi dan korelasi.
Dengan demikian maka segenap aspek kehidupan Nasional tersebut harus
merupakan suatu kesatuan yang bulat/utuh sehungga mewujudkan sesuatu yang
manunggal.
Aspek-aspek kehidupan nasional, seperti telah dikemukakan diatas meliputi aspek
alamiah yang terdiri dari letak geografis, kekayaan alam dan kemampuan penduduk (tri
gatra) dan aspek sosial yang terdiri dari IPOLEKSOSBUDMIL (pancagatra).

Jadi sifat manunggal berarti bahwa adanya integrasi atara trigatra dan pancagatra,
yang kesemuanya disebut astagatra. Sifat integratif tidak dapat diartikan pencampur
adukan semua aspek, tetapi integrasi dilaksanakan secara serasi dan selaras.
Dari uraian diatas, maka sifat manunggal didalam Ketahanan Nasional itu
adalah tepat, karena sifat integratif/manunggal merupakan syarat bagi terbentuknya
Kekuatan Nasional yang dapat menciptakan Ketahanan Nasional.
Hal ini sesuai pula dengan salah satu pikiran pokok yang harus melandasi
Ketahanan Nasional, yaitu dengan memandang semua permasalahan. Secara
menyeluruh /integral. Dengan demikian, sifat manunggal didalam Ketahanan Nasional
suatu bangsa merupakan sesuatu yang mutlak.
2)

Sifat mawas ke dalam.

Mawas kedalam berarti bahwa suatu bangsa harus lebih memperhatikan kedalam
dirinya daripada keluar, oleh karena Ketahanan Nasional terutama diarahkan kepada
diri bangsa dan negara itu sendiri dengan tujuan mewujudkan hakekat dan sifat
nasionalnya sendiri. Hal ini tidak berarti bahwa bangsa itu harus menutup atau
mengisolasikan diri dari dunia luar, juga tidak berarti bahwa bangsa itu harus menjadi
bangsa yang chauvinist yaitu bangsa yang hanya mementingkan diri sendiri.
Jadi mawas kedalam merupakan kemampuan dan kesanggupan untuk terus
menerus meneliti kekuatan dan kemampuannya yang kongkrit selanjutnya
bersedia/berusaha untuk menghilangkan atau setidak-tidaknya mengurangi kelemahankelemahan atau kerawanan yang ada serta memanfaatkan dan meningkatkan
kekuatannya demi Ketahanan Nasional. Sifat mawas kedalam ini harus dimiliki oleh
seluruh bangsa itu terutama oleh pimpinan baik pimpinan formal maupun informal.
Di atas disebutkan bahwa mawas ke dalam tidak berarti menutup diri terhadap
dunia luar. Disadari bahwa dengan kemajuan teknologi yang pesat maka telah dapat
dirasakan makin meningkatnya interdependensi antar bangsa di dunia sehingga dalam
sifat mawas kedalam telah pula diperhatikan kepentingan-kepentingan negara lain.
Dengan demikian diharapkan bahwa kerukunan antara bangsa sejauh mungkin akan
terjamin.
Dari uraian di atas jelas bahwa sifat mawas ke dalam adalah suatu sifat yang
penting untuk Ketahanan Nasional.

3)

Sifat berwibawa

Seperti diuraikan di atas, bahwa Ketahanan Nasional akan terwujud apabila suatu
bangsa dapat mengembangkan semua unsur kekuatan nasionalnya yang mencakup
aspek alamiah maupun nasional maupun sosial, menjadi satu kesatuan yang bulat.

Ketahanan Nasional suatu bangsa yang mampu menghadapi dan mengatasi segala
tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan, baik yang datang dari luar maupun dari
dalam, yang langsung maupun tidak langsung, akan dapat menjamin kelangsungan
hidup bangsa dan negara tersebut.
Semakin tinggi Ketahanan Nasional suatu bangsa semakin besar kemampuannya
untuk menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan
tersebut diatas, sehingga harus diperhitungkan oleh pihak-pihak lain. Tingkat
Ketahanan Nasional yang diperhitungkan oleh pihak lain dan mempunyai daya
pencegah akan mewujudkan kewibawaan nasional. Dengan demikian berwibawa
merupakan salah satu sifat yang harus dimiliki oleh Ketahanan Nasional.
4)

Sifat berubah menurut waktu

Konsepsi Ketahanan Nasional adalah bersifat obyektif umum, maka secara


teoritis konsepsi tersebut harus dapat diterapkan dinegara manapun saja. Satu hal tidak
boleh kita lupakan adalah bahwa faktor situasi dan kondisi negara yang bersangkutan
adalah sangat menentukan (dominan). Situasi dunia internasional akan selalu berubah
dan berkembang terus sesuai dengan kepentingan masing-masing negara berdasarkan
aspirasi nasionalnya masing-masing negara tersebut di dalam mencapai tujuannya. Bagi
bangsa-bangsa yang dalam pengetrapan Konsepsi Ketahanan Nasional mempunyai
salah satu sifat/ciri yang cukup kenyal dan dinamis di dalam menghadapi perubahanperubahan situasi dan kondisi baik yang berasal dari dalam maupun dari luar, maka
bangsa-bangsa tersebut akan dapat mempertahankan eksistensinya.
Perubahan-perubahan perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang sedang
atau akan dihadapi, sehingga hal ini akan memperkuat daya tahan dan keuletan guna
meningkatkan kondisi Ketahanan Nasional disegala bidang. Perlu ditekankan bahwa
penyesuaian prubahan untuk menentukan strategi yang paling tepat guna
mempertahankan kelangsungan hidup bangsa melalui Ketahanan Nasional ini harus
selalu dilandasi oleh falsafah bangsa yang bersangkutan, dan wawasan yang dianut oleh
bangsa yang bersangkutan, yang harus dilaksanakan secara realistis dan pragmatis
sesuai kemampuan dan pembatasan-pembatasan yang ada.

5)

Sifat tidak membenarkan sikap adu kekuasaan dan kekuatan

Konsepsi Ketahanan Nasional tidak bertujuan untuk menanamkan rasa


permusuhan terhadap suatu negara ataupun sekelompok negara tertentu, serta tidak
menyetujui konfrontasi dan dominasi dalam bentuk apapun. Pada dasarnya, dengan
konsepsi Ketahanan Nasional hendak dibina daya, kekuatan dan kemampuan suatu
bangsa dan negara demi terjaminnya kemerdekaan, kesejahteraan dan kebahagiaan
serta keamanan bangsa dan negara itu sendiri. Daya, kekuatan dan kemampuan bangsa
dan negara ini dengan sendirinya juga dapat diaplikasikan dalam pergaulan

internasional untuk menghadapi tantangan, ancaman, gangguan dan hambatan baik


langsung maupu tidak langsung yang dapat membahayakan kelangsungan hidup,
kesejahteraa dan keamanan bangsa dan negara. Pembentukan dan pengembangan
kekuatan nasional itu sendiri, baik fisik maupun dalam bentuk lainnya, pada dasarnya
bukanlah suatu hal yang negatif. Yang negatif adalah motivasi dari penggunaan
kekuatan itu oleh orang-orang atau negara terhadap negara atau bangsa lain dalam
memaksakan kehendaknya.
Oleh karena itu konepsi Ketahanan Nasional mengutamakan konsultasi dan saling
menghargai di dalam pergaulan hidup antagonisma dan adu kekuasaan. Hal ini
mengabaikan pembangunan, pembinaan, dan pengembangan kekuatan.

BAB VII
OTONOMI DAERAH

Pendahuluan
Pengertian otonomi daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom
untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Selain pengertian otonomi daerah sebagaimana disebutkan diatas, kita juga dapat
menelisik pengertian otonomi daerah secara harafiah. Otonomi daerah berasal dari kata
otonomi dan daerah. Dalam bahasa Yunani, otonomi berasal dari kata autos dan
namos. Autos berarti sendiri dan namos berarti aturan atau undang-undang, sehingga
dapat dikatakan sebagai kewenangan untuk mengatur sendiri atau kewenangan untuk
membuat aturan guna mengurus rumah tangga sendiri. Sedangkan daerah adalah
kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah.

Berdasarkan pengertian otonomi daerah yang disebutkan diatas sesungguhnya


kita telah memiliki gambaran yang cukup mengenai otonomi daerah. Namun perlu
diketahui bahwa selain pengertian otonomi daerah yang disebutkan diatas, terdapat juga
beberapa pengertian otonomi daerah yang diberikan oleh beberapa ahli atau pakar.

Pengertian Otonomi Daerah Menurut Para Ahli


Beberapa pengertian otonomi daerah menurut beberapa pakar, antara lain:
Pengertian Otonomi Daerah menurut F. Sugeng Istianto, adalah:
Hak dan wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah
Pengertian Otonomi Daerah menurut Ateng Syarifuddin, adalah:
Otonomi mempunyai makna kebebasan atau kemandirian tetapi bukan kemerdekaan
melainkan kebebasan yang terbatas atau kemandirian itu terwujud pemberian
kesempatan yang harus dapat dipertanggungjawabkan
Pengertian Otonomi Daerah menurut Syarif Saleh, adalah:
Hak mengatur dan memerintah daerah sendiri dimana hak tersebut merupakan hak
yang diperoleh dari pemerintah pusat

Selain pendapat pakar diatas, ada juga beberapa pendapat lain yang memberikan
pengertian yang berbeda mengenai otonomi daerah, antara lain:
Pengertian otonomi daerah menurut Benyamin Hoesein, adalah:
Pemerintahan oleh dan untuk rakyat di bagian wilayah nasional suatu Negara secara
informal berada di luar pemerintah pusat
Pengertian otonomi daerah menurut Philip Mahwood, adalah:
Suatu pemerintah daerah yang memiliki kewenangan sendiri dimana keberadaannya
terpisah dengan otoritas yang diserahkan oleh pemerintah guna mengalokasikan sumber
material yang bersifat substansial mengenai fungsi yang berbeda
Pengertian otonomi daerah menurut Mariun, adalah:
Kebebasan (kewenangan) yang dimiliki oleh pemerintah daerah yang memungkinkan
meeka untuk membuat inisiatif sendiri dalam rangka mengelola dan mengoptimalkan
sumber daya yang dimiliki oleh daerahnya sendiri. Otonomi daerah merupakan
kebebasan untuk dapat berbuat sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat
Pengertian otonomi daerah menurut Vincent Lemius, adalah:
Kebebasan (kewenangan) untuk mengambil atau membuat suatu keputusan politik
maupun administasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Di dalam otonomi
daerah tedapat kebebasan yang dimiliki oleh pemerintah daerah untuk menentukan apa
yang menjadi kebutuhan daerah namun apa yang menjadi kebutuhan daerah tersebut
senantiasa harus disesuaikan dengan kepentingan nasional sebagaimana yang telah
diatur dalam peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi

BAB VIII
GLOBALISASI
Pengertian Globalisasi.
Menurut asal katanya, kata "GLOBALISASI" diambil dari kata global, yang
maknanya ialah universal. Globalisasi adalah proses penyebaran unsur-unsur baru
khususnya yang menyangkut informasi secara mendunia melalui media cetak maupun
elektronik.
Ada pula yang mengatakan globalisasi yaitu sebagai berikut :
- hilangnya batas ruang dan waktu akibat kemajuan teknologi informasi.
- suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas
wilayah.
(Menurut Edison A. Jamli dkk.Kewarganegaraan.2005) Globalisasi pada
hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan
untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan
bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia.

Pengaruh Globalisasi
Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu
negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif
dan pengaruh negatif.
Dampak positif globalisasi antara lain:
- Mudah memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan
- Mudah melakukan komunikasi
- Cepat dalam bepergian (mobilitas tinggi)
- Menumbuhkan sikap kosmopolitan dan toleran
- Memacu untuk meningkatkan kualitas diri
- Mudah memenuhi kebutuhan

Dampak negatif globalisasi antara lain:


- Informasi yang tidak tersaring.
- Membuat tidak kreatif, karna prilaku konsumtif.

- Membuat sikap menutup diri, berpikir sempit.


- Banyak meniru perilaku yang buruk.
- Mudah terpengaruh oleh hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan atau
kebudayaan suatu negara.
Jadi adanya kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi
kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu
pengaruh positif dan pengaruh negatif. Dampak-dampak pengaruh globalisasi tersebut
kita kembalikan kepada diri kita sendiri sebagai generasi muda Indonesia agar tetap
menjaga etika dan budaya, agar kita tidak terkena dampak negatif dari globalisasi.