Anda di halaman 1dari 69

KARAKTERISTIK ANAK AUTIS DI YAYASAN ANANDA KARSA MANDIRI (YAKARI) MEDAN

Oleh:

DINDA SARTIKA F J 060100188
DINDA SARTIKA F J
060100188

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2009

Dinda Sartika F.J : Karakteristik Anak Autis Di Yayasan Ananda Karsa Mandiri (YAKARI) Medan, 2009.

KARAKTERISTIK ANAK AUTIS

DI YAYASAN ANANDA KARSA MANDIRI (YAKARI)

MEDAN

Karya Tulis Ilmiah

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

Untuk Memperoleh Kelulusan Sarjana Kedokteran Oleh: DINDA SARTIKA F J NIM: 060100188
Untuk Memperoleh Kelulusan
Sarjana Kedokteran
Oleh:
DINDA SARTIKA F J
NIM: 060100188
Sarjana Kedokteran Oleh: DINDA SARTIKA F J NIM: 060100188 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2009

Dinda Sartika F.J : Karakteristik Anak Autis Di Yayasan Ananda Karsa Mandiri (YAKARI) Medan, 2009.

LEMBAR PENGESAHAN

Karakteristik Anak Autis di Yayasan Ananda Karsa Mandiri (YAKARI) Medan

Nama : Dinda Sartika F. J

NIM

: 060100188

Pembimbing Penguji Medan, 1 Desember 2009 Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Pembimbing
Penguji
Medan, 1 Desember 2009
Dekan
Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara

(dr. Zairul Arifin, Sp.A, DAFK)

(dr. Arlinda Sari Wahyuni, M.Kes)

(Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH) NIP. 19540220 198011 1 001

Dinda Sartika F.J : Karakteristik Anak Autis Di Yayasan Ananda Karsa Mandiri (YAKARI) Medan, 2009.

ABSTRAK

Autis merupakan gangguan perkembangan pervasif yang ditandai dengan ketidakmampuan penderita dalam berkomunikasi dan menjalin hubungan secara emosional dengan orang lain sehingga muncul gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi, pola kesukaan dan sikap yang tidak normal. Selain tidak mampu bersosialisasi, anak autis juga tidak dapat mengendalikan emosinya. Ciri penderita autis sangat bervariasi, oleh karena itu penting untuk diketahui gambaran karakteristik autis sebenarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik anak-anak penderita autis di Yayasan Ananda Karsa Mandiri (YAKARI) Medan. Desain penelitian ini adalah penelitian survey deskriptif. Subjek penelitian berjumlah 29 orang yang didiagnosa dokter sebagai anak penderita autis yang menjalani terapi di Yayasan Ananda Karsa Mandiri (YAKARI) Medan. Data penelitian didapat dengan melakukan observasi langsung yang didampingi terapis dari yayasan tersebut. Selanjutnya data dianalisa dengan menggunakan program SPSS 17. Dari penelitian ini diperoleh disribusi karakteristik dengan perincian:

ini diperoleh disribusi karakteristik dengan perincian: gangguan interaksi sosial yang paling banyak muncul yaitu

gangguan interaksi sosial yang paling banyak muncul yaitu ketidakmampuan anak untuk berempati dan mengekspresikan emosi sebanyak 19 anak (65,5%); gangguan berkomunikasi yang paling banyak muncul yaitu ketidakmampuan anak berbicara sesuai dengan tahap perkembangannya sebanyak 25 anak (86,2%); gangguan tingkah laku yang paling banyak muncul yaitu ketidakmampuan anak menggunakan mainan sesuai dengan fungsinya sebanyak 13 anak (44,8%). Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kebanyakan anak mengalami gangguan berkomunikasi.

Kata kunci: anak autis, gangguan interaksi sosial, gangguan berkomunikasi, gangguan tingkah laku.

ii

ABSTRACT

Autism is a form of pervasive development disorder marked with the disability of the patient in communicating and interacting emotionally with another person, which lead to a disability in social interactions, communications, preferences, and abnormal behavior. Besides the social disability, autistic child also has an uncontrolled emotion. Autism has various features, so it is crucial to know the actual characteristic of the child with autism. The objective of this study is to know the characteristics of the child with autism in Yayasan Ananda Karsa Mandiri (YAKARI) Medan. The study used decriptive survey design. The subjects were 29 children diagnosed with autism by the clinical practitioner who were undergoing therapy in Yayasan Ananda Karsa Mandiri (YAKARI) Medan. The data will be collected by direct observation with the therapist guidance. The collected datas will firther analyzed using SPSS 17 program. The study showed distribution of the autism characteristic as described: the dominant disorders in social interaction are inability to show emphaty and express emotion in 19 children (65,5%); the dominant disorder in communication is inability to speak according to their developmental step in 25 children (86,2%); the dominant disorder in behavior is inability to use toys according to their function in 13 children (44,8%). From the study, we can conclude that most children have communication disorder.

can conclude that most children have communication disorder. Keywords: autistic child, social interaction disorder,

Keywords: autistic child, social interaction disorder, communication disorder, behavioral disorder

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmad dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan sarjana kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Karya tulis ilmiah ini berjudul “Karakteristik Anak Autis

Karya tulis ilmiah ini berjudul “Karakteristik Anak Autis di Yayasan Ananda Karsa Mandiri (YAKARI) Medan”. Dalam penyelesaian penulisan karya tulis ilmiah ini, penulis banyak menerima bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi- tingginya kepada:

1.

2.

Bapak Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Bapak dr. Zairul Arifin, Sp.A, DAFK selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberi arahan dan masukan kepada penulis sehingga karya tulis ilmiah ini dapat terselesaikan dengan baik.

3.

Bapak dr. Wisman Dalimunthe, Sp.A selaku Dosen Penasehat Akademik yang telah membimbing penulis dalam mengikuti perkuliahan di Fakultas Kedokteran USU.

4.

Bapak/Ibu dosen Ilmu Kedokteran Komunitas (IKK) FK USU yang telah memberikan panduan, tanggapan dan saran kepada penulis sehingga proposal penelitian ini dapat terselesaikan.

Bapak Fahri Wandika selaku Pelaksana Harian di Yayasan Ananda Karsa Mandiri (YAKARI) Medan yang telah memberikan izin dan banyak bantuan kepada penulis dalam melakukan proses pengumpulan data di lokasi penelitian.

Terima kasih yang tiada tara penulis persembahkan kepada Ibunda dan Ayahanda tercinta, Hj. Rismawati Tanjung dan H. Anwar Jambak yang telah membesarkan dengan penuh kasih sayang dan tiada bosan-bosannya

5.

6.

iv

mendoakan serta memberikan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan pendidikan.

7. Kakak dan abang-abang tersayang, Devi Prita Dina, S.T, Dodi Ichwan, S.Sos dan Rahmad Saleh, S.STP, M.Si yang selalu memotivasi penulis dalam menyelesaikan pendidikan.

8. Seluruh sahabat-sahabat penulis atas kebersamaan yang tanpa disadari telah memberikan dukungan moril kepada penulis.

Untuk seluruh bantuan baik moril maupun materiil yang diberikan kepada penulis selama ini, penulis ucapkan terima kasih dan semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan imbalan pahala yang sebasar-besarnya.

Maha Esa memberikan imbalan pahala yang sebasar-besarnya. Penulis menyadari bahwa karya tulis ilmiah ini masih jauh

Penulis menyadari bahwa karya tulis ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan karya tulis ilmiah ini. Semoga karya tulis ilmiah ini dapat berguna bagi kita semua.

Medan, November 2009

Penulis

v

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Persetujuan ……………………………………………………. Abstrak Abctract Kata Pengantar
Halaman Persetujuan …………………………………………………….
Abstrak
Abctract
Kata Pengantar …………………………………………………………
Daftar Isi …………………………………………………………………
Daftar Tabel ………………………………………………………………
Daftar Lampiran
i
ii
iii
iv
vi
viii
ix
BAB 1
PENDAHULUAN ……………………………………………….
1
1.1.
Latar Belakang ……………………………………………
Rumusan Masalah ………………………………………….
Tujuan Penelitian …………………………………………
Manfaat Penelitian ………………………………………….
1
1.2.
2
1.3.
2
1.4.
3
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………
4
2.1.
Autis ………………………………………………………
4
2.1.1
4
2.1.2
2.1.3
Defenisi ……………………………………………
Etiologi ……………………………………………
Manifestasi Klinik ………………………………….
4
8
2.1.4
Penentuan Diagnosa ………………………………
10
BAB 3
KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL
12
3.1.
Kerangka Konsep Penelitian ……………………………….
12
3.2.
Defenisi Operasional ……………………………………….
12
BAB 4
METODE PENELITIAN ………………………………………
15
4.1.
4.2.
4.3.
Rancangan Penelitian ……………………………………….
Lokasi dan Waktu Penelitian ……………………………….
Populasi dan Sampel Penelitian …………………………….
15
15
15
4.4.
Metode Pengumpulan Data ………………………………
15
4.5.
Metode Analisis Data ………………………………………
16
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
17
5.1.
Hasil Penelitian
17
5.1.1.
Deskripsi Lokasi Penelitian
17
5.1.2.
Distribusi Proporsi Anak Penderita Autis berdasarkan
Sosiodemografi
17
5.1.2.
Distribusi Proporsi Anak Penderita Autis berdasarkan
Latar Belakang Orang Tua
19
5.1.3.
Distribusi Proporsi Anak Penderita Autis berdasarkan
Ada Tidaknya Gangguan Interaksi Sosial
19
5.1.4.
Distribusi Proporsi Anak Penderita Autis berdasarkan

vii

Ada Tidaknya Gangguan Berkomunikasi

20

5.1.5. Distribusi Proporsi Anak Penderita Autis berdasarkan Ada Tidaknya Gangguan Tingkah Laku

5.1.6. Distribusi Proporsi Umur berdasarkan Ada Tidaknya Gangguan Interaksi Sosial

5.1.7. Distribusi Proporsi Umur berdasarkan Ada Tidaknya Gangguan Berkomunikasi

5.1.8. Distribusi Proporsi Umur berdasarkan Ada Tidaknya Gangguan Tingkah Laku

5.2. Pembahasan

5.2.1. Anak Penderita Autis Berdasarkan Sosiodemografi

5.2.1.1.

Umur

5.2.1.2. Jenis Kelamin 5.2.1.3. Suku Bangsa 5.2.1.4. Agama 5.2.2. 5.2.3. 5.2.4. 5.2.5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.2.1.2. Jenis Kelamin
5.2.1.3. Suku Bangsa
5.2.1.4. Agama
5.2.2.
5.2.3.
5.2.4.
5.2.5.
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
6.2. Saran

Anak Penderita Autis Berdasarkan Latar Belakang Orang Tua

Anak Penderita Autis BerdasarkanAda Tidaknya Gangguan Interaksi Sosial Anak Penderita Autis BerdasarkanAda Tidaknya Gangguan Berkomunikasi Anak Penderita Autis BerdasarkanAda Tidaknya Gangguan Tingkah Laku

BAB 6

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………

LAMPIRAN ………………………………………………………………

viii

21

22

24

25

27

27

27

28

28

28

28

29

30

31

34

34

35

36

41

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Kriteria diagnostik DSM-IV-TR untuk gangguan autistik …

10

DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.1 Kriteria diagnostik DSM-IV-TR untuk gangguan autistik … 10 viii

viii

DAFTAR TABEL

Nomor

Judul

Halaman

2.1. Kriteria Diagnostik DSM IV-TR untuk gangguan austik .………

5.1. Distribusi Proporsi Anak Penderita Autis Berdasarkan Sosiodemografi

5.2.

5.3.

5.4.

5.5.

5.6.

5.7.

5.8.

Distribusi Proporsi Anak Penderita Autis Berdasarkan Latar Belakang Orang Tua

Distribusi Proporsi Anak Penderita Autis Berdasarkan Ada Tidaknya Gangguan Interaksi Sosial Distribusi Proporsi Anak
Distribusi Proporsi Anak Penderita Autis Berdasarkan Ada
Tidaknya Gangguan Interaksi Sosial
Distribusi Proporsi Anak Penderita Autis Berdasarkan Ada
Tidaknya Gangguan Berkomunikasi
Distribusi Proporsi Anak Penderita Autis Berdasarkan Ada
Tidaknya Gangguan Tingkah Laku
Distribusi Proporsi Umur Berdasarkan Ada Tidaknya
Gangguan Interkasi Sosial
Distribusi Proporsi Umur Berdasarkan Ada Tidaknya
Gangguan Berkomunikasi
Distribusi Proporsi Umur Berdasarkan Ada Tidaknya
Gangguan Tingkah Laku

10

18

19

20

21

21

23

24

26

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Daftar riwayat hidup Kuesioner Surat Izin Penelitian Surat Tanda Telah Melakukan Penelitian Data Induk

DAFTAR LAMPIRAN Daftar riwayat hidup Kuesioner Surat Izin Penelitian Surat Tanda Telah Melakukan Penelitian Data Induk

ix

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Autis merupakan gangguan perkembangan pervasif yang paling sering terjadi, ditandai dengan ketidakmampuan penderita dalam berkomunikasi dan menjalin hubungan secara emosional dengan orang lain (Halgin, 1997).

Autis diklasifikasikan sebagai ketidaknormalan perkembangan neuro yang menyebabkan interaksi sosial, kemampuan komunikasi, pola kesukaan, dan pola sikap yang tidak normal sebagai karakteristik mereka. Selain tidak mampu bersosialisasi, anak-anak penyandang autis juga tidak dapat mengendalikan emosinya (Veskarisyanti, 2008).

tidak dapat mengendalikan emosinya (Veskarisyanti, 2008). Jumlah anak yang terkena autis semakin meningkat pesat di

Jumlah anak yang terkena autis semakin meningkat pesat di berbagai belahan dunia. Di Kanada dan Jepang pertambahan ini mencapai 40 persen sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 disimpulkan terdapat 9 kasus autis per harinya. Di Amerika Serikat disebutkan autis terjadi pada 60.000 - 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalensi autis 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 1 diantara 1000 anak. Di Inggris pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka kejadian autis meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantara 10 anak menderita autis. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah penyandang autis namun diperkirakan jumlah anak autis dapat mencapai 150 –200 ribu orang. Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6-4 : 1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat (Judarwanto, 2008).

Penyebab autis belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autis disebabkan karena multifaktorial. Beberapa peneliti mengungkapkan terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autis disebabkan

2

oleh gangguan psikiatri/jiwa. Ahli lainnya berpendapat bahwa autis disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik anak- anak penyandang autis (Judarwanto, 2008).

Yang menarik, autis dapat terjadi pada semua kelompok masyarakat yakni mereka yang memiliki orang tua dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, pendidikan yang sangat beragam. Ini membuat para pakar semakin menaruh perhatian terhadap kelainan autis pada anak sehingga penelitian tentang autis semakin pesat dan berkembang (Judarwanto, 2006).

autis semakin pesat dan berkembang (Judarwanto, 2006). Pusat terapi untuk menangani gangguan autis di Kota Medan

Pusat terapi untuk menangani gangguan autis di Kota Medan sudah cukup banyak. Alasan peneliti mengambil Yayasan Ananda Karsa Mandiri adalah karena perizinan untuk penelitian hanya diberikan oleh pusat terapi ini.

1.2. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana gambaran karakteristik anak-anak penderita autis di Yayasan Ananda Karsa Mandiri (YAKARI) Medan.

1.3. Tujuan Penelitian

1.3.1.

Tujuan Umum Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik anak-anak penderita autis di Yayasan Ananda Karsa Mandir (YAKARI) Medan.

1.3.2. Tujuan Khusus Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah:

1. untuk mengetahui distribusi proporsi anak-anak penderita autis berdasarkan sosiodemografi (umur, jenis kelamin, suku bangsa, agama).

3

2. untuk mengetahui distribusi proporsi anak-anak penderita autis berdasarkan latar belakang orang tua (pekerjaan, pendidikan).

3. untuk mengetahui distribusi proporsi anak-anak penderita autis berdasarkan ada tidaknya gangguan dalam interaksi sosial.

4. untuk mengetahui distribusi proporsi anak-anak penderita autis berdasarkan ada tidaknya gangguan berkomunikasi.

5. untuk mengetauhi distribusi proporsi anak-anak penderita autis berdasarkan ada tidaknya gangguan tingkah laku.

1.4.

6. 7. 8.
6.
7.
8.

Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk:

1.

2.

untuk mengetahui perbedaan proporsi umur berdasarkan ada tidaknya gangguan dalam interaksi sosial.

untuk mengetahui perbedaan proporsi umur berdasarkan ada tidaknya gangguan berkomunikasi.

untuk mengetahui perbedaan proporsi umur berdasarkan ada tidaknya gangguan tingkah laku.

sebagai sarana informatif yang menggambarkan berbagai karakteristik anak-anak penderita autis sehingga meningkatkan wawasan baik peneliti maupun pembaca tentang anak-anak autis tersebut.

sebagai informasi bagi Dinas Kesehatan dalam memberikan penanganan bagi anak autis sesuai dengan karakteristiknya dan bahan masukan bagi Departemen Pendidikan Nasional dalam membuat sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak autis.

sebagai wadah pengaplikasian ilmu dalam pengembangan penelitian dan diharapkan dapat menambah perbendaharaan pustaka dalam bidang epidemiologi penyakit autis bagi peneliti lain

3.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Autis

2.1.1.

Definisi

Autis merupakan salah satu kelompok dari gangguan pada anak yang ditandai munculnya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, komunikasi, ketertarikan pada interaksi sosial, dan perilakunya (Veskarisyanti, 2008). Schreibman (1988) dalam McLaughlin (2002) juga menjelaskan bahwa autis disebut juga ”the ultimate learning disability” karena mereka mempunyai kesulitan besar dalam pemahaman bahasa dan interaksi sosial. Istilah autis berasal dari kata “auto” yang berarti berdiri sendiri. Istilah ini diperkenalkan oleh Leo Kanner, seorang psikiater dari Harvard pada tahun 1943 karena melihat anak autis memiliki perilaku aneh, terlihat acuh dengan lingkungan dan cenderung menyendiri seakan-akan hidup dalam dunia yang berbeda (Davidson, 2006).

Etiologi
Etiologi

2.1.2.

Beragam etiologi telah dipaparkan para peneliti. Tapi penyebab pasti autis belum sepenuhnya jelas. Adapun beberapa teori yaitu:

a. Teori Psikoanalitik Walaupun teori modern dari autis diduduki oleh faktor biologis yang diduga mempunyai pengaruh kuat sebagai penyebab kelainan, teori psikoanalitik lebih dahulu dikenal (Herbert, 2002). Teori yang paling dikenal adalah teori yang dikemukakan oleh Bruto Bettelheim (1967), yang sangat banyak menangani anak-anak autis. Asumsi dasarnya adalah autis sangat mirip dengan apati dan keputusasaan yang dialami oleh para penghuni kamp-kamp konsentrasi Jerman dalam Perang Dunia II yang menyebabkan kerusakan pada usia dini. Bettelheim

5

berpendapat bahwa balita telah menolak orang tuanya dan merasakan perasaan negatif mereka. Si bayi melihat bahwa tindakannya hanya berdampak kecil pada perilaku orang tua yang tidak responsive. Maka, si anak meyakini bahwa ia tidak memiliki dampak apa pun pada dunia, kemudian menciptakan “benteng kekosongan” autis untuk melindungi dirinya dari penderitaan dan kekecewaan (Davidson, 2006).

b. Genetik Studi epidemiologi menunjukkan bahwa laki-laki 3-4 kali berisiko lebih tinggi dari wanita. Sementara risiko autis jika memiliki saudara kandung yang juga autis sekitar 3 %. Studi lain menunjukkan, saudara kembar dengan jenis kelamin yang sama tapi merupakan monozigotik, mempunyai risiko 300 kali lebih besar dari pada dizigotik (Yoder, 2004). Lotspeich (1993) dan Steefenburg (1991) dalam Trottier (1999) menerangkan, bukti genetik dari laporan beberapa kasus menunjukkan adanya variasi dari keabnormalitasan kromosom. Piven (1994) menerangkan lebih lanjut, abnormalitas yang paling sering terjadi yaitu duplikasi pada kromosom 15 dan kromosom seks. Bagian 15q dari kromosom yang didapat secara maternal ditemukan paling banyak berpengaruh pada individu yang menderita autis. Bagian ini juga terlibat dalam basis genetik dari disleksia, salah satu gambaran klinis spektrum autis. Bahkan akhir-akhir ini, gen ini dilaporkan ikut berpartisipasi dalam pengkodean gen 3-gamma– aminobutyric acid (GABA)-A receptor subunits (Trottier, 1999). Kelainan dari gen pembentuk metalotianin disebut-sebut juga berpengaruh pada kejadian autis. Metalotianin adalah kelompok protein yang merupakan mekanisme kontrol tubuh terhadap tembaga (Cu) dan seng (Zn). Fungsi lain yaitu perkembangan sel saraf, detoksifikasi logam berat, pematangan saluran cerna, anti oksidan, dan penguat sistem imun. Disfungsi metalotianin akan menghasilkan gambaran yang sering kita lihat pada penderita autis seperti Leaky Gut Syndrome, pemecahan protein casein/gluten yang tidak lengkap, penurunan produksi asam lambung dan

seperti Leaky Gut Syndrome, pemecahan protein casein/gluten yang tidak lengkap, penurunan produksi asam lambung dan

6

kegagalan stimulasi pankreas oleh sekretin. Dapat juga memicu ketidakmampuan tubuh untuk membuang logam berat dan kelainan sistem imun. Teori ini juga dapat menerangkan penyebab lebih berisikonya laki- laki dari pada wanita. Ini dikarenakan sintesis metalotionin ditingkatkan oleh estrogen dan progesterone (Jepson, 2003).

Studi Biokimia dan Riset Neurologis Menurut Klauk (1997) dalam Trottier (1999), autis sering dihubungkan dengan kelainan metabolisme serotonin dan obat dengan target 5-HT ditemukan efektif dalam meringankan gejala autis. Anderson (1997) menerangkan, beberapa penelitian menemukan perbedaan pada level neurotransmiter serotonin dan dopamine antara anak autis dengan anak yang tidak autis, walaupun perbedaan ini tidak sepenuhnya jelas (Nolen, 2007). Sementara Cook (1990) menjelaskan dari penelitian lain, ditemukan sekitar sepertiga anak autis memiliki kadar serotonin yang tinggi di dalam darah (hyperserotonemia) (Trottier, 1999), dan kadar serotonin yang tinggi tersebut mempunyai korelasi dengan beberapa kebiasaan autis, seperti yang diterangkan Kapperman, (1987) dalam Trottier (1999). Penelitian menemukan adanya perbedaan ukuran dan morfologi serebelum dari penderita autis. Dengan menggunakan MRI (Magnetic Resonance Imaging), Courchesne (1991) menemukan hipoplasia dari lobus VI dan VII pada anak autis. Kelainan ini dihubungkan dengan gangguan mental pengalihan perhatian yang cepat pada penderita autis seperti yang diterangkan (Trottier, 1999). Minshew (1991) dalam Alloy (2004) melaporkan bahwa sekitar 50 persen penderita autis memiliki gambaran EEG yang abnormal. Pada studi yang lebih baru menunjukkan bahwa anak autis memiliki penurunan aktivitas EEG pada daerah frontal dan medial otak jika dibandingkan dengan anak yag normal. Frith (2000) dalam Noelan (2007) juga menjelaskan hal yang sama tetapi dibuktikan melalui pemeriksaan MRI.

c.

yag normal. Frith (2000) dalam Noelan (2007) juga menjelaskan hal yang sama tetapi dibuktikan melalui pemeriksaan

7

d. Toksisitas Merkuri

Secara fisiologis, keberadaan merkuri di tubuh dapat menimbulkan efek yang merugikan. Merkuri akan berikatan dengan kelompok sulfidril pada sejumlah protein yang menghasilkan penurunan fungsi enzim dan kehilangan integritas struktur. Merkuri juga kemungkinan memberikan kontribusi pada Leaky Gut dengan cara menghancurkan dinding mukosa intestinal. Merkuri dapat mengganggu cell-mediated immunity yang menghasilkan penurunan kemampuan dalam melawan infeksi virus dan jamur. Hal ini menyebabkan autoimunitas yang menghasilkan anti-brain antibodies. Ini menyebabkan atau bahkan memperparah defisiensi Seng (Zn) dan inaktivasi enzim yang bertugas memecah casein dan gluten. Merkuri mengubah kemampuan otak dalam apoptosis sel-sel otak. Hal ini mempengaruhi kemampuan anti-oksidasi tubuh oleh pengurangan glutation intraselular yang merupakan protein yang penting dalam pembersihan toksin dari tubuh (Jepson, 2003). Efek klinis terhadap CNS meliputi, gangguan perencanaan motorik, pandangan mengabur, penurunan lapangan pandang, insomnia, iritabilitas, tantrum, eksitabilitas, penarikan diri dari sosial, ansietas, gangguan memori jangka pendek, kesulitan kemampuan verbal, dan kesulitan untuk berkonsentrasi (Jepson, 2003).

verbal, dan kesulitan untuk berkonsentrasi (Jepson, 2003). Penggunaan antibiotik yang berlebihan Peresepan antibiotik

Penggunaan antibiotik yang berlebihan Peresepan antibiotik yang berlebihan adalah masalah yang tidak dapat dipisahkan dari autis.dan sudah memicu timbulnya resistensi organisme terhadap antibiotik sehingga organisme semakin sulit untuk dieradikasi (Jepson, 2003). Selain itu, penggunaan antibibiotik yang berlebihan dapat mengganggu keseimbangan mikroorganisme di tubuh (Herbert, 2002). Anak-anak autis mempunyai masalah khusus pada keadaan ini karena pada penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa anak-anak autis mempunyai aktivitas T-helper 1 Lymphocyte yang rendah (Jepson, 2003). Hal yang sama juga dikemukakan oleh Warren (1995) dalam Trottier (1999), anak-anak

e.

8

autis menunjukkan kelainan cell-mediated immunity termasuk kelainan aktivasi sel T dan penurunan jumlah helper-inducer lymphocytes. Keadaan ini menyebabkan rendahnya kemampuan untuk membersihkan organisme yang berbahaya dan mengembalikan keseimbangan flora normal intestinal. Ini dapat menghasilkan pertumbuhan jamur yang berlebihan dan bakteri yang persisten di saluran cerna mereka. Organisme tersebut dapat mengganggu proses pencernaan yang normal dan menghasilkan metabolit yang berbahaya yang pada akhirnya berpengaruh pada kelakuan autis (Jepson, 2003).

- - - -
-
-
-
-

2.1.3.

anak autis muncul dalam bidang:

1.

Manifestasi Klinis Veskarisyanti (2008) menjelaskan gangguan perkembangan pada

Komunikasi dimana muncul kualitas komunikasi yang tidak normal, ditunjukkan dengan:

kemampuan wicara yang tidak berkembang atau mengalami keterlambatan.

pada anak tidak tampak usaha untuk berkomunikasi dengan lingkungan sekitar.

tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan yang melibatkan komunikasi dua arah dengan baik.

anak tidak imajinatif dalam hal permainan atau cenderung monoton.

- bahasa yang tidak lazim yang selalu diulang-ulang atau stereotipik.

2. Interaksi sosial yang mengalami gangguan yang ditunjukkan sebagai:

- anak mengalami kegagalan untuk bertatap mata, menunjukkan wajah yang tidak berekspresi.

- ketidakmampuan untuk secara spontan mencari teman untuk berbagi kesenangan dan melakukan sesuatu bersama-sama.

- ketidakmampuan anak untuk berempati, dan mencoba membaca emosi yang dimunculkan oleh orang lain.

9

3. Perilaku anak yang ditunjukkan dengan ketertarikan yang sangat

terbatas dan banyak pengulangan terus-menerus dan stereotipik seperti:

- adanya suatu kelekatan pada rutinitas atau ritual yang tidak berguna, misalnya kalau mau tidur harus cuci kaki dulu, sikat gigi, pakai piyama, menggosokkan kaki di keset, baru mau naik ke tempat tidur.

Bila ada aktifitas di atas yang terlewat atau terbalik urutannya, maka ia akan sangat terganggu dan menangis bahkan berteriak-teriak minta diulang.

- Adanya suatu preokupasi yang sangat terbatas pada suatu pola perilaku yang tidak normal, misalnya
-
Adanya suatu preokupasi yang sangat terbatas pada suatu pola
perilaku yang tidak normal, misalnya duduk dipojok sambil
menghamburkan pasir seperti air hujan, yang bisa dilakukannya
berjam-jam.
-
Adanya gerakan-gerakan motorik aneh yang diulang-ulang, seperti
menggoyang-goyang badan, geleng-geleng kepala.
Gangguan sensoris
-
sangat sensitif terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk
sekalipun oleh orang tua mereka.
-
bila mendengar suara keras langsung menutup telinga.
-
senang mencium-cium, menjilat-jilat, menggigit-gigit mainan atau
benda-benda.
-
Tidak sensitif terhadap rasa sakit dan rasa takut.
Pola bermain

4.

5.

- Tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya.

- Tidak suka bermain dengan anak-anak sebayanya.

- Tidak bermain sesuai dengan fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik lalu rodanya diputar-putar.

- Menyenangi benda-benda yang berputar, seperti kipas angin, roda sepeda.

- Dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus-menerus dan dibawa kemana-mana.

10

6.

Emosi

- Sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis

tanpa alasan yang jelas.

- Temper Tantrum (mengamuk tak terkendali) jika dilarang atau tidak

diberikan keinginannya.

- Kadang suka menyerang dan merusak, berperilaku yang menyakiti

dirinya sendiri, serta tidak mempunyai empati dan tidak mengerti

perasaan orang lain.

Penentuan Diagnosa Kriteria diagnostik untuk gangguan autis menurut - - - -
Penentuan Diagnosa
Kriteria
diagnostik
untuk
gangguan
autis
menurut
-
-
-
-

2.1.4.

kurangnya respon sosial atau emosional.

DSM-IV-TR

terdapat pada tabel berikut:

Tabel 2.1 : Kriteria diagnostik DSM-IV-TR untuk gangguan autis

A.

Terdapat enam atau lebih dari kriteria (1), (2), dan (3) dengan minimal

terdapat dua dari kriteria (1) dan masing-masing satu dari kriteria (2) dan (3):

(1) Kesulitan dalam interksi sosial yang terwujud dalam kriteria berikut (minimal dua):

kesulitan yang tampak jelas dalam penggunaan perilaku nonverbal, seperti kontak mata, ekspresi wajah dan bahasa tubuh.

lemah dalam mengembangkan hubungan yang tepat dengan anak-anak sebaya sesuai dengan tahap perkembangan.

kurang berminat mencari dan melakukan hal-hal atau aktivitas bersama orang lain secara spontan.

Kesulitan dalam komunikasi seperti terwujud dalam kriteria berikut (minimal satu):

- keterlambatan atau sangat kurangnya bahasa verbal tanpa upaya untuk menggantinya dengan gerakan nonverbal.

- pada mereka yang cukup mampu berbicara, kesulitan tampak jelas dalam kemampuan untuk mengawali atau mempertahankan percakapan dengan orang lain.

- bahasa yang diulang-ulang atau membeo.

- kurang bermain sesuai tahap perkembangannya.

(3) Perilaku atau minat yang diulang-ulang atau stereotipe, terwujud

(2)

dalam kriteria berikut (minimal satu):

- preokupasi yang tidak normal pada objek atau aktivitas tertentu.

- keterikatan yang kaku pada ritual tertentu.

11

- tingkah laku yang stereotip dan repetitive, seperti: mengepak- ngepakkan tangan atau menjentikkan jari berulang-ulang.

- preokupasi yang tidak normal pada bagian-bagian tertentu dari suatu objek.

B. Keterlambatan atau keabnormalan fungsi (minimal satu) dari bidang berikut, berawal sebelum usia 3 tahun: interaksi sosial, bahasa untuk berkomunikasi dengan orang lain, atau permainan imajinatif.

C. Gangguan yang tidak dapat dijelaskan sebagai gangguan Rett atau gangguan disintegratif di masa kanak-kanak.

imajinatif. C. Gangguan yang tidak dapat dijelaskan sebagai gangguan Rett atau gangguan disintegratif di masa kanak-kanak.
imajinatif. C. Gangguan yang tidak dapat dijelaskan sebagai gangguan Rett atau gangguan disintegratif di masa kanak-kanak.
imajinatif. C. Gangguan yang tidak dapat dijelaskan sebagai gangguan Rett atau gangguan disintegratif di masa kanak-kanak.

BAB 3

KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka kerangka konsep dalam

penelitian ini adalah:

Sosiodemografi: • umur • jenis kelamin • suku bangsa • agama Latar belakang orang tua:
Sosiodemografi:
umur
jenis kelamin
suku bangsa
agama
Latar belakang orang tua:
Karakteristik Anak-Anak
Penderita Autis
pekerjaan
pendidikan
Gangguan dalam interaksi
sosial
Gangguan berkomunikasi
Gangguan tingkah laku

3.2. Definisi Operasional

Penderita autis: penderita yang didiagnosa dokter menyandang penyakit

autis berdasarkan gejala-gejala yang ada.

Umur: usia anak-anak penderita autis yang mengikuti program khusus di

Yayasan Ananda Karsa Mandiri (YAKARI) Medan, dikategorikan atas:

13

2. 6 – 10 tahun

3. 10 – 13 tahun

4. 14 – 16 tahun

5. 17 – 20 tahun

Jenis Kelamin: jenis kelamin anak-anak penderita autis di Yayasan Ananda Karsa Mandiri (YAKARI) Medan, dikategorikan atas:

1. Laki-laki

2. Perempuan

kepercayaan yang dianut Islam Kristen Protestan Kristen Katolik Hindu Budha PNS/POLRI/ABRI Karyawan Perusahaan
kepercayaan
yang
dianut
Islam
Kristen Protestan
Kristen Katolik
Hindu
Budha
PNS/POLRI/ABRI
Karyawan Perusahaan

Wiraswasta

Ibu Rumah Tangga

Pensiunan

Suku Bangsa: ras atau etnik yang melekat pada anak penderita autis, didapat biasanya berdasarkan garis keturunan yang dianggap sama.

Agama:

sebagai:

1.

2.

3.

4.

5.

oleh penderita autis, dikategorikan

Pekerjaan: aktivitas utama yang dilaksanakan sehari-hari oleh seseorang

dalam hal ini orang tua dari anak-anak penderita autis baik di dalam rumah maupun di luar rumah, dikategorikan atas:

1.

2.

3.

4.

5.

Pendidikan: tingkat/jenjang pendidikan formal yang pernah ditempuh dan

berhasil diselesaikan oleh seseorang dalam hal ini orang tua dari anak-anak penderita autis, dikategorikan atas:

1. SD

2. SMP

14

4. Akademi/Diploma

5. Sarjana (S1, S2, S3)

Gangguan dalam interksi sosial: gangguan kepribadian yang tidak fleksibel, tingkah maladaptif dan mengganggu fungsi individu dalam hubungan sosialnya.

Gangguan berkomunikasi: disabilitas belajar pada anak yang gagal untuk berkembang dalam bidang bahasa hingga ke tingkat yang sesuai dengan tingkat intelektualnya (Davidson, 2006).

yang sesuai dengan tingkat intelektualnya (Davidson, 2006). • Gangguan tingkah laku: gangguan perilaku yang tercermin

Gangguan tingkah laku: gangguan perilaku yang tercermin adanya pola ketidakpatuhan ekstrim pada anak-anak (Davidson, 2006).

15

BAB 4 METODE PENELITIAN

4.1. Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif yang memberikan gambaran karakteristik anak-anak penderita autis di Yayasan Ananda Karsa Mandiri (YAKARI) Medan.

autis di Yayasan Ananda Karsa Mandiri (YAKARI) Medan. 4.4.1. 4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini

4.4.1.

4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Yayasan Ananda Karsa Mandiri (YAKARI) Jalan Sei Putih No. 30 Kel. Merdeka Kec. Medan Baru Medan. Waktu penelitian adalah Juni-September 2009

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi pada penelitian ini adalah anak penderita autis yang mengikuti program khusus di Yayasan Ananda Karsa Mandiri (YAKARI) kemudian dari populasi akan diambil sebagai sampel penelitian dengan metode total sampling.

4.4. Metode Pengumpulan Data

Jenis Data Penelitian ini menggunakan data primer dimana data diambil langsung oleh peneliti untuk mengetahui karakteristik anak-anak penderita autis dengan mengamati anak-anak penderita autis tersebut.

4.4.2. Cara Pengumpulan Data Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang kemudian dibagikan kepada terapis yang menangani anak-anak penderita autis di Yayasan Ananda Karsa Mandiri. Kemudian terapis mengisi lembar kuesioner sesuai dengan keadaan anak-anak penderita autis

16

melalui observasi dan pengalamannya menangani anak-anak penderita autis tersebut.

4.5. Metode Analisa Data Data yang dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan bantuan komputer dan dianalisa secara statistik deskriptif menggunakan program SPSS 17.

kemudian diolah dengan menggunakan bantuan komputer dan dianalisa secara statistik deskriptif menggunakan program SPSS 17.

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian 5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian Yayasan Ananda Karsa Mandiri (YAKARI) merupakan pusat penanganan autis terpadu yang berada di jalan Sei Putih No. 30 Medan. YAKARI mengkhususkan melakukan penanganan terpadu bagi anak autis, yang dilakukan melalui tiga divisi utama, yaitu Divisi Medis yang menyelenggarakan klinik khusus autis, Divisi Pendidikan yang menyelenggarakan sekolah khusus autis dan Divisi Perkembangan yang menyelenggarakan berbagai kegiatan, seminar, diskusi, sharing, training/workshop, penyediaan obat-obatan, vitamin, supplemen, makanan khusus diet autis dan alat bantu terapi.

supplemen, makanan khusus diet autis dan alat bantu terapi. Sekolah khusus YAKARI menyelenggarakan pendidikan dan

Sekolah khusus YAKARI menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran kepada anak-anak autis dalam bentuk layanan Individual Class dan Individual Education Programme (IEP), dimana satu atau dua orang guru hanya menangani satu anak dengan kurikulum khusus sesuai dengan kebutuhan individu anak dengan berbagai program terapi antara lain terapi wicara, terapi perilaku dan terapi okupasi/sensori integrasi dengan 13 orang guru dan 10 ruang kelas. Kegiatan belajar-mengajar berlangsung selama 120 menit yang dilakukan setiap hari Senin sampai Jumat.

5.1.2. Distribusi Proporsi Anak Penderita Autis Berdasarkan Sosiodemografi Hasil penelitian karakteristik anak-anak penderita autis di Yayasan Ananda Karsa Mandiri (YAKARI) Medan, diperoleh distribusi berdasarkan sosiodemografi antara lain:

18

Tabel 5.1. Distribusi Proporsi Anak Penderita Autis Berdasarkan Sosiodemografi No. Sosiodemografi Anak
Tabel
5.1.
Distribusi
Proporsi
Anak
Penderita
Autis
Berdasarkan
Sosiodemografi
No.
Sosiodemografi
Anak Penderita Autis
N
%
1.
Umur:
a.
2-5 tahun
10
34,5
b.
6-10 tahun
9
31,0
c.
10-13 tahun
7
24,1
d.
14-16 tahun
1
3,4
e.
17-20 tahun
2
6,9
Total
29
100
2. Jenis Kelamin
a. Laki-laki
22
75,9
b. Perempuan
7
24,1
Total
29
100
3. Suku Bangsa:
a. Batak
16
55,2
b. Jawa
8
27,6
c. Tionghoa
4
13,8
d. Lainnya
1
3,4
Total
29
100
4.
Agama:
a. Islam
16
55,2
b. Kristen Protestan
8
27,6
c. Kristen Katolik
2
6,9
d. Budha
3
10,3
e. Hindu
0
0
f. Konhucu
0
0
Total
29
100
Berdasarkan tabel diatas, didapat diketahui bahwa kelompok umur yang

paling banyak adalah 2-5 tahun sebanyak 10 orang (34,5%), jenis kelamin

yang paling banyak yaitu laki-laki 22 orang (75,9%), suku bangsa yang

terbanyak adalah suku batak 16 orang (55,2%) , dan agama yang paling

banyak adalah agama Islam 16 orang (55,2%).

19

5.1.3. Distribusi Proporsi Anak Penderita Autis Berdasarkan Latar

Belakang Orang Tua

Hasil penelitian karakteristik anak-anak penderita autis di Yayasan Ananda

Karsa Mandiri (YAKARI) Medan, diperoleh distribusi berdasarkan latar

belakang orang tua antara lain:

Tabel 5.2. Distribusi Proporsi Anak Penderita Autis Berdasarkan Latar

Belakang Oranr Tua

Jumlah No. Latar Belakang Orang Tua N % 1. Pekerjaan: a. PNS/POLRI/ABRI 9 31,0 b.
Jumlah
No.
Latar Belakang Orang Tua
N
%
1. Pekerjaan:
a. PNS/POLRI/ABRI
9
31,0
b. Karyawan Perusahaan
8
27,6
c. Wiraswasta
12
41,4
d. Ibu Rumah Tangga
0
0
e. Pensiunan
0
0
Total
29
100
2. Pendidikan:
a. SD
0
0
b. SMP
0
0
c. SMA
8
27,6
d. Akademi/Diploma
0
0
e. Sarjana (S1, S2, S3)
21
72,4
Total
29
100
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa pekerjaan orang tua yang
paling banyak yaitu wiraswasta sebanyak 12 orang (41,4%), dan latar

pendidikan orang tua yang paling banyak yaitu Sarjana sebanyak 21 orang

(72,4%).

5.1.4. Distribusi Proporsi Anak Penderita Autis Berdasarkan Ada

Tidaknya Gangguan dalam Interaksi Sosial

Hasil penelitian karakteristik anak-anak penderita autis di Yayasan Ananda

Karsa Mandiri (YAKARI) Medan, diperoleh distribusi berdasarkan ada

tidaknya gangguan interaksi sosial antara lain:

20

Tabel 5.3. Distribusi Proporsi Anak Penderita Autis Berdasarkan Ada

Tidaknya Gangguan dalam Interaksi Sosial

Anak Penderita Autis No. Gangguan Interasi Sosial N % 1. Kontak mata saat berbicara: a.
Anak Penderita Autis
No.
Gangguan Interasi Sosial
N
%
1. Kontak mata saat berbicara:
a.
Ya
20
69
b.
Tidak
9
31
Total
29
100
2. Ekspresi wajah dan bahasa
tubuh yang sesuai:
a.
Ya
16
55,2
b. Tidak
13
44,8
Total
29
100
3. Bermain dengan anak
seusianya:
a. Ya
13
44,8
b. Tidak
16
55,2
Total
29
100
4. Berempati dan mengekspre-
sikan emosi yang sesuai:
a. Ya
10
34,5
b. Tidak
19
65,5
Total
29
100
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa anak yang melakukan kontak
mata sebanyak 20 orang (69%), anak yang tidak mampu mengekspresikan
wajah dan bahasa tubuh yang sesuai sebanyak 13 orang (44,8%), anak yang
tidak mau bermain dengan teman seusianya sebanyak 16 orang (55,2%), dan
anak yang tidak mampu berempati dan mengekspresikan emosi yang sesuai

sebanyak 19 orang (65,5%).

5.1.5. Distribusi Proporsi Anak Penderita Autis Berdasarkan Ada

Tidaknya Gangguan Berkomunikasi

Hasil penelitian karakteristik anak-anak penderita autis di Yayasan Ananda

Karsa Mandiri (YAKARI) Medan, diperoleh distribusi berdasarkan ada

tidaknya gangguan berkomunikasi antara lain:

21

Tabel 5.4. Distribusi Proporsi Anak Penderita Autis Berdasarkan Ada

Tidaknya Gangguan Berkomunikasi

Anak Penderita Autis No. Gangguan Berkomunikasi N % 1. Kebiasaan ekolalia: a. Ya 10 34,5
Anak Penderita Autis
No.
Gangguan Berkomunikasi
N
%
1. Kebiasaan ekolalia:
a. Ya
10
34,5
b. Tidak
19
65,5
Total
29
100
2. Kemampuan berbicara sesuai
dengan tahap perkembangan-
nya:
a. Ya
4
13,8
b. Tidak
25
86,2
Total
29
100
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa anak yang menpunyai
kebiasaan ekolalia sebanyak 10 orang (34,5%) dan tidak mampu berbicara
sesuai dengan tahap perkembangannya sebanyak 25 orang (86,2%).
5.1.6. Distribusi Proporsi Anak Penderita Autis Berdasarkan Ada
Tidaknya Gangguan Tingkah Laku
Hasil penelitian karakteristik anak-anak penderita autis di Yayasan Ananda
Karsa Mandiri (YAKARI) Medan, diperoleh distribusi berdasarkan ada
tidaknya gangguan tingkah laku antara lain:
Tabel 5.5. Distribusi Proporsi Anak Penderita Autis Berdasarkan Ada
Tidaknya Gangguan Tingkah Laku

No.

Gangguan Tingkah Laku

Anak Penderita Autis

N

%

1. Kebiasaan atau ritual tertentu

 
 

yang

tidak

normal yang

harus dilakukan setiap hari:

 

a. Ya

12

41,4

b. Tidak

 

17

58,6

 

Total

29

100

2. Menggunakan mainan sesuai dengan fungsinya:

 
 

a. Ya

16

55,2

b. Tidak

 

13

44,8

 

Total

29

100

22

3. perilaku

Memiliki

temper

tantrum:

a. Ya 11 37,9 b. Tidak 18 62,1 Total 29 100 4. Kecenderungan menyakiti diri
a.
Ya
11
37,9
b.
Tidak
18
62,1
Total
29
100
4. Kecenderungan
menyakiti
diri sendiri:
a.
Ya
5
17,2
b.
Tidak
24
82,8
Total
29
100
5. Tingkah laku stereotipe dan
repetitif:
a.
Ya
8
27,6
b.
Tidak
21
72,4
Total
29
100
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa anak yang memiliki
kebiasaan atau ritual tertentu yang tidak normal yang harus dilakukan setiap
hari sebanyak 12 orang (41,4%), anak yang tidak mampu menggunakan
mainan sesuai dengan fungsinya sebanyak 13 orang (44,8%), anak yang
mempunyai kebiasaan temper tantrum yaitu sebanyak 11 orang (37,9%), anak
yang mempunyai kecenderungan menyakiti diri sendiri sebanyak 5 orang
(17,20%) dan anak yang memiliki tingkah laku stereotip dan repetitif
sebanyak 8 orang (27,6%).
5.1.7.
Distribusi Proporsi Umur Berdasarkan Ada Tidaknya Gangguan
Interaksi Sosial

Hasil penelitian karakteristik anak-anak penderita autis di Yayasan Ananda

Karsa Mandiri (YAKARI) Medan, diperoleh distribusi proporsi umur

berdasarkan ada tidaknya gangguan interaksi sosial antara lain:

23

Tabel

5.6.

Distribusi

Proporsi

Umur

Berdasarkan

Ada

Tidaknya

 

Gangguan dalam Interaksi Sosial

 
 

Gangguan Interaksi Sosial

 

No.

Kelompok

 

KM

EWB

BM

EE

Umur

 

X

X

X

X

 

%

%

%

%

%

%

%

%

1.

2-5 tahun

 

6

4

5

5

4

6

3

7

 

20,7

13,8

17,2

17,2

13,8

20,7

10,3

24,1

2.

6-10 tahun

 

9

0

7

3

7

2

4

5

 

31

0

24,1

10,3

24,1

6,9

13,8

17,2

3. 10-13 tahun 4 3 4 2 2 5 2 5 13,8 10,3 13,8 6,9
3. 10-13 tahun
4
3
4
2
2
5
2
5
13,8
10,3
13,8
6,9
5
17,2
6,9
17,2
4. 14-16 tahun
1
0
0
1
0
1
1
0
3,4
0
0
3,4
0
3,4
3,4
0
5. 17-20 tahun
0
2
0
2
0
2
0
2
0
6,9
0
6,9
0
6,9
0
6,9
20
9
16
13
13
16
10
19
TOTAL
69
31
55,2
44,8
44,8
55,2
34,5
65,5
*Keterangan:
KM
EWB
BM
: kontak mata
: ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang sesuai
: bermain dengan anak seusianya
EE
: berempati dan Mengekspresikan emosi yang sesuai
: Ya
X
: Tidak
Berdasarkan tabel diatas, kelompok umur yang paling banyak menunjukkan
gangguan interaksi sosial adalah kelompok umur 2-5 tahun dimana yang tidak
melakukan kontak mata saat diajak bicara sebanyak 4 orang (13,8%), tidak

menunjukkan ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang sesuai sebanyak 5 orang

(17,2%), tidak bermain dengan anak seusianya sebanyak 6 orang (20,7%),

dan tidak mampu berempati dan menunjukkan emosi yang sesuai sebanyak 7

orang (24,1%).

24

5.1.8. Distribusi Proporsi Umur Berdasarkan Ada Tidaknya Gangguan

Berkomunikasi

Hasil penelitian karakteristik anak-anak penderita autis di Yayasan Ananda

Karsa Mandiri (YAKARI) Medan, diperoleh distribusi proporsi umur

berdasarkan ada tidaknya gangguan berkomunikasi antara lain:

Tabel

5.7.

Distribusi

Proporsi

Umur

Berdasarkan

Gangguan Berkomunikasi

Ada

Tidaknya

Gangguan Berkomunikasi Kelompok KE MB No. Umur √ X √ X % % % %
Gangguan Berkomunikasi
Kelompok
KE
MB
No.
Umur
X
X
%
%
%
%
4
6
0
10
1. 2-5 tahun
13,8
20,7
0
34,5
3
6
2
7
2. 6-10 tahun
10,3
20,7
6,9
24,1
2
5
1
6
3. 10-13 tahun
6,9
17,2
3,4
20,7
0
1
1
0
4. 14-16 tahun
0
3,4
3,4
0
1
1
0
2
5. 17-20 tahun
3,4
3,4
0
6,9
10
19
4
25
TOTAL
34,5
65,5
13,8
86,2
*Keterangan:
KE
: Kebiasaan Ekolalia
MB
: mampu berbicara sesuai dengan tahap perkembangannya
: Ya
X
: Tidak

Berdasarkan tabel diatas, kelompok umur yang paling banyak menunjukkan

gangguan berkomunikasi adalah kelompok umur 2-5 tahun dimana untuk

kebiasaan ekolalia sebanyak 6 orang (20,7%), dan tidak dapat berbicara

sesuai dengan tahap perkembangannya sebanyak 10 orang (34,5%).

25

5.1.9. Distribusi Proporsi Umur Berdasarkan Ada Tidaknya Gangguan

Tingkah Laku Hasil penelitian karakteristik anak-anak penderita autis di Yayasan Ananda Karsa Mandiri (YAKARI) Medan, diperoleh distribusi proporsi umur berdasarkan ada tidaknya gangguan berkomunikasi antara lain:

Mandiri (YAKARI) Medan, diperoleh distribusi proporsi umur berdasarkan ada tidaknya gangguan berkomunikasi antara lain:

Tabel 5.8. Distribusi Proporsi Umur Berdasarkan Ada Tidaknya Gangguan Berkomunikasi

Gangguan Tingkah Laku Kelompok RTN MF TT MDS SR No. Umur √ X √ X
Gangguan Tingkah Laku
Kelompok
RTN
MF
TT
MDS
SR
No.
Umur
X
X
X
X
X
%
%
%
%
%
%
%
%
%
%
4
6
6
4
2
8
1
9
1
9
1.
2-5 tahun
13,8
20,7
20,7
13,8
6,9
27,6
3,4
31
3,4
31
3
6
6
3
5
4
0
9
2
7
2.
6-10 tahun
10,3
20,7
20,7
10,3
17,2
13,8
0
31
6,9
24,1
3
4
4
3
2
5
2
5
4
3
3.
10-13 tahun
10,3
13,8
13,8
10,3
6,9
17,2
6,9
17,2
13,8
10,3
0
1
0
1
0
1
0
1
0
1
4.
14-16 tahun
0
3,4
0
3,4
0
3,4
0
3,4
0
3,4
2
0
0
2
2
0
2
0
1
1
5.
17-20 tahun
6,9
0
0
6,9
6,9
0
6,9
0
3,4
3,4
12
17
16
13
11
18
5
24
8
21
TOTAL
41,4
58,6
55,2
44,8
37,9
62,1
17,2
82,8
27,6
72,4
*Keterangan:
RTN
: Kebiasaan atau ritual tertentu yang tidak normal yang harus dilakukan
MF
: Menggunakan mainan sesuai dengan fungsinya
TT
: Memiliki perilaku temper tantrum
MDS
: Kecenderungan menyakiti diri sendiri
SR
: Tingkah laku stereotipe dan repetitif
: Ya
X
: Tidak

27

Dari tabel diatas, kelompok umur yang paling banyak menunjukkan gangguan tingkah laku sangat beragam. Kebiasaan atau ritual tertentu yang tidak normal yang harus dilakukan setiap hari paling banyak pada kelompok umur 2-5 tahun sebanyak 4 orang (13,8%), tidak menggunakan mainan sesuai dengan fungsinya paling banyak pada kelompok umur 2-5 tahun sebanyak 4 orang (13,8%), memiliki perilaku temper tantrum paling banyak pada kelompok umur 6-10 tahun sebanyak 5 (17,2%), memiliki kecenderungan menyakiti diri sendiri paling banyak pada kelompok umur 10-13 tahun dan kelompok umur 17-20 tahun masing-masing sebanyak 2 orang (6,9%) dan mempunyai tingkah laku stereotipe dan repetitif paling banyak pada kelompok umur 10-13 tahun sebanyak 4 orang (13,8%).

Anak Penderita Autis Berdasarkan Sosiodemografi
Anak Penderita Autis Berdasarkan Sosiodemografi

5.2. Pembahasan

5.2.1.

Hal-hal yang diamati berdasarkan sosiodemografi yaitu umur, jenis kelamin,

suku bangsa dan agama.

5.2.1.1. Umur Proporsi umur yang tertinggi pada anak penderita autis adalah anak dengan kelompok umur 2-5 tahun yaitu 34,5%. Sedangkan proporsi terendah pada anak penderita autis adalah anak dengan kelompok umru 14-16 tahun yaitu 3,4% (tabel 5.1.).

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Williams (2008), dimana pada penelitian tersebut menunjukkan umur untuk anak autis yang paling banyak berada pada rentang 2-5 tahun atau tepatnya usia 45 bulan. Peneliti juga berasumsi, hal ini juga dikarenakan adanya kegiatan terapi yang tidak mengikat dan memaksa. Artinya setelah beberapa waktu menjalani terapi, dengan berbagai alasan orang tua menghentikan kegiatan terapinya di Yayasan ini. Karena dari data yang didapat dari yayasan, lebih dari 50% kegiatan terapi dimulai pada rentang umur 2-5 tahun.

28

5.2.1.2. Jenis Kelamin

Proporsi jenis kelamin yang tertinggi pada anak penderita autis adalah anak dengan jenis kelamin laki-laki yaitu 75,9%. Sedangkan proporsi terendah pada anak penderita autis adalah anak dengan jenis kelamin perempuan yaitu 24,1% (tabel 5.1.). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Williams (2008) bahwa proporsi anak penderita autis berdasarkan jenis kelamin yang terbanyak adalah laki-laki yaitu sebanyak 87,2%.

Suku Bangsa Agama
Suku Bangsa
Agama

5.2.1.3.

Proporsi suku bangsa yang tertinggi pada anak penderita autis berdasarkan suku bangsa adalah suku batak yaitu 55,2%. Sedangkan proporsi terendah adalah suku lainnya dalam hal ini adalah suku gayo sebanyak 3,4% (tabel

5.1.).

Belum ada penelitian yang menunjukkan pengaruh suku bangsa terhadap kejadian autis. Di Indonesia sendiri didapat hasil yang sangat beragam tergantung lokasi penelitian.

5.2.1.4.

Proporsi agama yang tertinggi pada anak penderita autis berdasarkan agama adalah agama Islam yaitu 55%. Sedangkan proporsi terendah adalah agama Budha sebesar 10% (tabel 5.1.).

Tidak pernah ada penelitian yang menyangkutkan agama terhadap kejadian autis. Hasilnya pun pasti sangat beragam sesuai tempat dan lokasi penelitian.

5.2.2. Anak Penderita Autis Berdasarkan Latar Belakang Orang Tua

Hal-hal yang diamati berdasarkan latar bekalang orang tua yaitu pekerjaan dan pendidikan akhir orang tua. Proporsi yang tertinggi pada pekerjaan orang

29

tua dari anak penderita autis adalah wiraswasta yaitu 41%. Sedangkan proporsi terendah adalah PNS/POLRI/ABRI sebesar 10% (tabel 5.2.). Terlihat bahwa kebanyak anak penderita autis kebanyakan berasan dari kalangan ekonomi yang mapan. Memang belum ada penelitian yang khusus membahas tentang ini. Hasil ini juga dapat dipengaruhi oleh lokasi penelitian yang merupakan tempat terapi autis terpadu. Dengan biaya yang cukup tinggi, tentunya hanya anak dari keluarga dengan ekonomi yang mapan yang mampu mengikuti terapi ini.

dengan ekonomi yang mapan yang mampu mengikuti terapi ini. Proporsi yang tertinggi pada pendidikan orang tua

Proporsi yang tertinggi pada pendidikan orang tua dari anak penderita autis adalah Sarjana yaitu 72% (tabel 5.2.). Terlihat bahwa kebanyakan anak-anak autis lahir dari orang tua dengan tingkat pendidikan yang baik.

5.2.3.

Anak Penderita Autis Berdasarkan Ada Tidaknya Gangguan Interaksi Sosial

Dalam gangguan interaksi sosial, hal-hal yang diamati adalah kontak mata saat diajak bicara, ekspresi wajah dan tubuh yang sesuai, barmain dengan anak seusianya, dan berempati dan mengekspresikan emosi yang sesuai.

Tabel 5.3. menunjukkan bahwa anak yang melakukan kontak mata saat diajak bicara sebanyak 69%, anak yang menunjukkan ekspresi wajah dan tubuh yang sesuai sebanyak 55,2%, anak yang bermain dengan anak seusianya sebanyak 44,8% dan anak yang berempati dan mengekspresikan emosi yang sesuai sebanyak 34,5%.

Terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil yang didapat oleh penelitian sebelumnya. Hasil penelitian yang didapat oleh Volkmar (1995) menyebutkan dari 100 anak penderita autis yang diamati, hanya 2% saja yang melakukan kontak mata saat diajak bicara. Bahkan ada 50% anak yang sama sekali tidak melakukan kontak mata sepanjang pembicaraan. Perbedaan ini

30

mungkin dikarenakan, anak autis yang dijadikan sampel penelitian telah melakukan terapi yang intensif.

Sama dengan hasil penelitian ini, selain kontak mata, penelitian yang dilakukan oleh Salomon (2008) juga menunjukkan bahwa anak autis memiliki interaksi sosial yang buruk. Hal-hal yang diamati mencakup bermain dengan teman sebaya, menggunakan bahasa non-verbal, kemampuan bekerja sama dengan teman sebaya, berempati dan berbagi dengan sekitar menunjukkan adanya regresi yang signifikan jika dibandingkan dengan kelompok pembanding yang merupakan anak non-autis.

dengan kelompok pembanding yang merupakan anak non-autis. 5.2.4. Anak Penderita Autis Berdasarkan Ada Tidaknya

5.2.4. Anak Penderita Autis Berdasarkan Ada Tidaknya Gangguan Berkomunikasi Berdasarkan ada tidaknya gangguan berkomunikasi, hasil yang didapat yaitu anak yang memiliki kebiasaan ekolalia yaitu 34,4% dan anak yang mampu berbicara sesuai dengan tahap perkembangannya hanya 13,8% (tabel 5.4.).

Paul (1987) dalam Davidson (2006), menjelaskan sekitar 50% anak penderita autis tidak pernah belajar berbicara sama sekali. Namun pada mereka yang belajar berbicara, bicaranya mencakup berbagai keanehan termasuk ekolalia. Namun hal ini dapat menghilang seiring kemampuan berbahasanya melalui pelatihan yang intensif.

Penelitian yang dilakukan oleh Baird (2008), 30% anak menunjukkan keterlambatan kemampuan berbicara sesuai dengan tahap perkembangannya dan 8% dari 30% tersebut menunjukkan kemampuan berbahasa yang sangat buruk.

Seperti yang dijelaskan oleh Paul (1987) dalam Davidson (2006), kelemahan komunikasi dapat menjadi penyebab kelemahan sosial pada anak penderita autis dan bukan sebaliknya. Meskipun demikian, sekalipun anak mereka telah belajar berbicara sering kali kurang memiliki spontanitas verbal dan jarang berekspresi secara verbal serta pengguanaan bahasa mereka tidak selalu tepat.

31

5.2.5.

Anak Penderita Autis Berdasarkan Ada Tidaknya Gangguan Tingkah Laku

Berdasarkan ada tidaknya gangguan tingkah laku, hasil yang didapat yaitu anak yang memiliki kebiasaan atau ritual tertentu yang tidak normal yang harus dilakukan setiap hari yaitu 41,4%, anak yang mampu mengguanakan mainan sesuai dengan fungsinya sebanyak 55,2%, anak yang mempunya kebiasaan temper tantrum yaitu sebanyak 37,9%, anak yang mempunya kecenderungan menyakiti diri sendiri sebanyak 17,20% dan anak yang memiliki tingkah laku stereotip dan repetitif sebanyak 27,6% (tabel 5.5.).

laku stereotip dan repetitif sebanyak 27,6% (tabel 5.5.). Kebiasaan atau ritual yang tidak normal yang harus

Kebiasaan atau ritual yang tidak normal yang harus dilakukan setiap hari dan akan sangat marah jika kebiasaan itu tidak dilakukan atau bahkan berubah, merupakan kebiasaan anak yang sering muncul di awal masa sekolah yaitu antara umur 6-10 tahun (Davidson, 2006). Pada penelitian kali ini, kebiasaan yang terlihat saat observasi yaitu jongkok disudut kelas tiap jam 11 selama 10 menit, menjentik-jentikkan jari setiap mendengar dentingan jam yang berbunyi setiap jam, menatap sangat lama kipas angin atau benda berputar dan peneliti juga mendapat informasi dari terapis bahwa beberapa anak juga mempunya kebiasaan menggosok gigi setiap jam 9 malam dan akan sangat marah jika ternyata dia tahu dia belum gosok gigi padahal sudah lewat jam 9 malam.

Bauminger (2008) juga meneliti ketidakmampuan anak autis dalam menggunakan mainan sesuai dengan fungsinya dan mendapatkan hasil yang tidak terlalu bermakna. Pada penelitian ini, saat observasi peneliti mendapat ada 44,8% anak yang tidak mampu menggunakan mainan sesuai dengan fungsinya misalnya saat diberikan sebuah crayon warna, anak tersebut langsung menghancurkannya dan membuang krayon dengan sembarangan.

32

Perilaku temper tantrum dan kecenderungan menyakiti diri sendiri merupakan gangguan tingkah laku yang paling meresahkan orang tua yang memiliki anak penderita autis. Penelitian yang dilakukan oleh West (2009), menyebutkan bahwa sekitar 17% anak autis mengalami depresi yang diungkapkan dengan cara kecenderungan menyakiti diri sendiri dan adanya perilaku temper tantrum. Atau dengan istilah yang lain, mereka menyebutnya dengan sebutan mood disorder.

Beberapa penelitian sering menyebutkan bahwa adanya kebiasaan anak autis berupa gerakan aneh yang diulang-ulang (stereotip dan repetitif) sering diartikan sebagai gangguan neurologi (Williams, 2008). Hasil yang tidak berbeda didapatkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Goldman (2009), dimana 44% anak mempunyai kebiasaan kebiasaan berupa gerakan-gerakan aneh yang diulang-ulang dan harus dilakukan setiap hari. Namun penelitian ini tidak menerangkan gerakan aneh seperti apa yang dimaksud. Pada penelitian kali ini, saat observasi terlihat gerakan aneh tersebut berupa menggerakkan kepala ke kiri terus menerus sesering mungkin dan mengedip- ngedipkan mata.

Distribusi Umur Bedasarkan Gangguan Berkomunikasi dan Tingkah Laku
Distribusi
Umur
Bedasarkan
Gangguan
Berkomunikasi dan Tingkah Laku

5.2.6.

Interaksi

Sosial,

Dari tabel 5.6., tabel 5.7. dan tabel 5.8. dapat dilihat sebagian besar gangguan berada pada kelompok umur 2-5 tahun. Untuk gangguan interaksi sosial dan gangguan berkomunikasi, kelompok umur 2-5 tahun merupakan kelompok paling banyak jumlahnya.

Hasil yang tidak berbeda didapatkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Shumway (2009), dimana kebanyakan anak mulai terlihat gangguan dalam berbahasa pada kelompok umur 2-5 tahun. Menurut penelitian ini, masa rentang umur ini adalah saat yang sangat kritis untuk melakukan pemeriksaan terhadap pola komunikasinya khususnya pada anak yang belum mengikuti pendidikan formal maupun informal. Dari hasil penelitiannya, ditemukan

33

anak pada rentang umur ini, hampir selalu tidak melakukan kontak mata saat berkomunikasi, bagi anak yang melakukannya pandangan seolah-olah menembus terhadap apa yang dilihatnya (fokus pandangan tak terhingga).

Peneliti juga berasumsi, hasil ini dikarenakan anak pada kelompok umur ini baru memulai terapi nya di sekolah khusus autis, sehingga gejala-gejala masih muncul. Sedangkan pada kelompok umur yang lebih tinggi, anak-anak tersebut telah lama menjalani terapi sehingga gejala terlihat lebih ringan.

lama menjalani terapi sehingga gejala terlihat lebih ringan. Pada penelitian yang menghubungkan antara tingkah laku

Pada penelitian yang menghubungkan antara tingkah laku stereotip dan kecenderungan menyakiti diri sendiri, oleh Gal E (2008) dikatakan bahwa anak yang memiliki tingkah laku stereotip mempunyai kebiasaan yang lebih besar untuk menyakiti diri sendiri. Hal yang sama didapatkan pada penelitian ini dimana tingkah laku stereotip dan repetitif paling banyak pada kelompok umur 10-13 tahun (13,8%). Sementara itu, dari 17,2% anak yang memiliki kecenderungan menyakiti diri sendiri, 6,9 % diantaranya berada pada kelompok umur 10-13 tahun juga.

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1.

Kesimpulan

Dari uraian-uraian yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dalam penelitian ini dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu:

Distribusi proporsi anak penderita autis berdasarkan sosiodemografi yaitu umur yang terbanyak adalah anak dengan kelompok umur 2-5 tahun (34,5%), jenis kelamin yang terbanyak adalah laki-laki (75,9%), suku bangsa yang terbanyak adalah suku batak (55,2%), dan agama yang terbanyak adalah agama Islam (55%).

1.

mengekspresikan emosi yang sesuai sebanyak 34,5%.
mengekspresikan emosi yang sesuai sebanyak 34,5%.

2.

3.

Distribusi proporsi anak penderita autis berdasarkan latar belakang orang tua yaitu pekerjaan orang tua yang tertinggi adalah wiraswasta (41%), pendidikan orang tua dari anak penderita autis yang terbanyak adalah Sarjana (72%).

Distribusi proporsi anak penderita autis berdasarkan ada tidaknya gangguan interaksi sosial yaitu anak yang melakukan kontak mata saat diajak bicara sebanyak 69%, anak yang menunjukkan ekspresi wajah dan tubuh yang sesuai sebanyak 55,2%, anak yang bermain dengan anak seusianya sebanyak 44,8% dan anak yang berempati dan

4. Distribusi proprsi anak penderita autis berdasarkan ada tidaknya gangguan berkomunikasi yaitu anak yang memiliki kebiasaan ekolalia yaitu 34,4% dan anak yang mampu berbicara sesuai dengan tahap perkembangannya hanya 13,8%.

5. Distribusi proporsi anak penderita autis berdasarkan ada tidaknya gangguan tingkah laku yaitu anak yang memiliki kebiasaan atau ritual tertentu yang tidak normal yang harus dilakukan setiap hari yaitu 41,4%, anak yang mampu mengguanakan mainan sesuai dengan fungsinya sebanyak 55,2%, anak yang mempunya kebiasaan temper tantrum yaitu

35

sebanyak 37,9%, anak yang mempunya kecenderungan menyakiti diri sendiri sebanyak 17,20% dan anak yang memiliki tingkah laku stereotip dan repetitif sebanyak 27,6%. 6. Sebagian besar gangguan berada pada kelompok umur 2-5 tahun. Untuk gangguan interaksi sosial dan gangguan berkomunikasi, kelompok umur 2-5 tahun merupakan kelompok paling banyak jumlahnya.

6.2.

Saran

tahun merupakan kelompok paling banyak jumlahnya. 6.2. Saran 1. 2. 3. Dari seluruh proses penelitian yang

1.

2.

3.

Dari seluruh proses penelitian yang telah dijalani oleh penulis dalam menyelesaikan penelitian ini, maka dapat diungkapkan beberapa saran yang mungkin dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berperan dalam penelitian ini. Adapun saran tersebut, yaitu:

Penyakit autis merupakan penyakit yang belum terlalu dikenal masyarakat luas. Diharapkan kepada Dinas Kesehatan untuk lebih mensosialisasikan penyakit autis untuk deteksi dini sehingga tercapai penanganan yang maksimal.

Melalui hasil yang didapat dari penelitian ini, dengan beragamnya karakteristik anak autis, diharapkan kepada Dinas Kesehatan untuk dapat memberikan acuan dalam memberikan penanganan bagi anak autis sesuai dengan karakteristiknya.

Penelitian ini hanya menggunakan 1 kali observasi, diharapkan pada penelitian selanjutnya bisa melakukan observasi lebih dari 1 kali untuk benar-benar melihat gejala-gejala yang ada yang mungkin tidak dapat muncul setiap hari.

36

DAFTAR PUSTAKA

Alloy, L.B., Riskind, J.H., Manos, M.J., 2005. Abnormal Psychology: Current Perspectives Ninth Edition. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.

Association, American Psychiatric, 2000. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition, Text Revision, DSM-IV-TR. American Psychiatric Association, Washington DC.

DSM-IV-TR. American Psychiatric Association, Washington DC. &TS=1258547817&clientId=63928 . [Accesed 22

&TS=1258547817&clientId=63928. [Accesed 22 October 2009]

Bauminger, N., Marjorie, S., Anat, A., Kelly, H., Lilach, G., John, B., Sally, J. R., 2008. Children with Autism and Their Friends: A Multidimensional Study of Friendship in High-Functioning Autism Spectrum Disorders. Available from:

Baird, G., Charman, T., Pickles, A., Chandler, S., Loucas, T., Meldrum, D., Carcani, R. I., Serkana, D., Simonof, E., 2008. Regression, developmental trajectory and associated problems in disorders in the autism spectrum: the SNAP study. Available from:

[Accesed 1 November 2009] Davidson, G.C., Neale, J.M., and Kring, A.M., 2006. Psikologi Abnormal Edisi ke-9. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Feigelman, S., 2008. Growth, Development, and Behavior. In: Kliegman, R.M., Behrman, R.E., Jenson, H.B., Stanton, B.F.,. Nelson Textbook of Pediatrics

18 th Edition. New York: Saunders Elsevier, 54-65.

Goldman, S., Cuiling, W., Miran, W. S., Paul, E. G., 2009. Motor Stereotypies in Children with Autism and other Developmental Disorders. Available from:

37

&TS=1258547276&clientId=63928. [Accesed 1 November 2009]

Halgin, R.P., and Whitbourne, S.R., 1997. Abnormal Psychology: The Human Expenence of Psychological Disorders. USA: Times Minor Higher Education Group, Inc.

Jepson, B.M.D., 2003. Understanding Autism: The Physiological Basis and Biomedical Intervention Options of Autism Spectrum Disorders, Children’s Biomedical Center of Utah. Available from:

, 2008 b . Pencegahan Autis Pada Anak. Available from:
, 2008 b . Pencegahan Autis Pada Anak. Available from:

February 2009].

Judarwanto, W., 2008 a . Deteksi Dini dan Skrining Autis. Available from:

[Accesed

28

2009

Noelan and Hoksema, 2007. Abnormal Psychology. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.

Perko, S., and McLaughlin, T.F., 2002. Autism: Characteristic, Causes, and some Educational Intervention. International Journal of Special Education Vol 17. No.2. Available from:

Shumway, S., Amy, M. W., 2009. Communicative Acts of Children with Autosm Spectrum Disorders in The Second Year of Life. Available from:

38

&sid=1&Fmt=4&VInst=PROD&VType=PQD&RQT=309&VName=PQD

&TS=1258548082&clientId=63928. [Accesed 23 October 2009]

Soetjiningsih, 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: Penerbit Buku Kkedokteran EGC

Trottier, G., Srivastava, L. , Walker, C.D., 1999. Etiology of Infantile Autism: a Review of Recent Advance in Genetic and Neurobiological Research. Journal of Psychiatry and Neuroscience. Available from:

Journal of Psychiatry and Neuroscience. Available from: WCIT . [Accesed 1 March 2009]

WCIT. [Accesed 1 March 2009]

[Accesed 20 March 2009]

Veskarisyanti, G.A., 2008. 12 Terapi Autis Paling Efektif & Hemat: untuk Autis, Hiperaktif, dan Retardasi Mental. Yogyakarta: Pustaka Anggrek.

Volkmar, F. R., et al. 1995. An Evaluating of DSM-III Criteria for Infantile Autism. Journal of the American Academy of Child Psychiatry. Available from:

Willian, E., Kate, T., Helen, S., Alan, E., 2008. Prevalence and Characteristic oc Autistic Spectrum Disorders in ALSPAC Cohort. Available from:

&TS=1258547162&clientId=63928. [Accesed 20 October 2009]

Yoder, K.E., 2004. Exploring Autism: the Search for a Genetc Etiology, Penn State College of Medicine. Available from:

2009]

LAMPIRAN

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP : Dinda Sartika F J : Sibolga/21Juni 1988 2. 3. 4. Nama
: Dinda Sartika F J : Sibolga/21Juni 1988 2. 3. 4.
: Dinda Sartika F J
: Sibolga/21Juni 1988
2.
3.
4.

Nama Tempat/Tanggal Lahir Agama Alamat Riwayat Pendidikan

: Islam : Jl. D. I. Panjaitan No. 2 Medan : 1. Tahun 1994 lulus Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Sibolga

Tahun 2000 lulus SD Negeri No. 084089 Sibolga

Tahun 2003 lulus SMP Swasta Almuslimin Pandan Tahun 2006 lulus SMA N 1 (PLUS) Matauli Pandan

Riwayat Pelatihan

Riwayat Organisasi

: 1. Seminar dan Workshop Resusitasi Jantung Paru Otak (RJPO) TBM FK USU 2007

: 1. Anggota/Pengurus TIM BANTUAN MEDIS (TBM) FK USU Periode 2007-2008

LEMBAR PENGAMATAN

1. Identitas Anak dan Keluarga

Data Diri Anak

Nama

:

Umur

:

Jenis Kelamin

:

Agama

:

: : : : : : : : Apakah anak melakukan kontak mata saat diajak
:
:
:
:
:
:
:
:
Apakah anak melakukan kontak mata saat diajak berbicara?

Suku Bangsa

Data Diri Orang Tua Nama Umur Jenis Kelamin Agama Suku Bangsa Pekerjaan Pendidikan Terakhir

2. Karakteristik yang diamati

A. Interaksi Sosial:

1.

2.

3.

4.

a. Ya

Apakah anak memperlihatkan ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang sesuai saat diajak berbicara?

a. Ya

Apakah anak mau bermain dengan anak seusianya?

a. Ya

Apakah anak mampu berempati dan mengekspresikan emosi yang

seharusnya pada teman ataupun orang lain?

a. Ya

b. Tidak

b. Tidak

b. Tidak

b. Tidak

B. Gangguan berbahasa dan berbicara:

1. Apakah anak mempunyai kebiasaan ekolalia (membeo atau mengulangi apa yang kita ucapkan)? a. Ya b. Tidak

2. Apakah anak memiliki keterlambatan dalam hal berbicara dan berbahasa

sesuai tahap perkembangannya?

Umur Kemampuan 2-3 tahun Mampu menyusun kalimat dan mempergunakan kata-kata saya, mampu bertanya, mengerti kata-kata
Umur
Kemampuan
2-3 tahun
Mampu menyusun kalimat dan
mempergunakan kata-kata saya, mampu
bertanya, mengerti kata-kata yang
ditujukan kepadanya
Ya
Tidak
3-4 tahun
Mampu menyebut namanya, jenis kelamin
dan umurnya dan banyak bertanya
Ya
Tidak
4-5 tahun
Dapat menyebut hari-hari dalam
seminggu, dapat mengulang cerita yang
baru didengarnya
Ya
Tidak
5-6 tahun
Mampu menggunakan kalimat yang
menujukan masa depan, misalnya: hal-hal
yang dilakukannya dan mampu
menceritakan cita-citanya
Ya
Tidak
6-10 tahun
Mampu mengulangi dengan tepat kalimat-
kalimat panjang dalam sebuah paragraf
atau cerita yang baru dibacanya
Ya
Tidak
10-20 tahun
Mampu mengekspresikan pikirannya
dengan bahasa dan artikulasi yang tepat
Ya
Tidak

( *pilih salah satu sesuai umur)

C.

Gangguan Tingkah Laku:

1.

2.

3.

4.

5.

Apakah anak mempunyai kebiasaan atau ritual tertentu yang tidak normal yang harus selalu dilakukan tiap hari?

a. Ya

Apakah anak mampu menggunakan mainan sesuai dengan fungsinya?

a. Ya

Apakah anak memperlihatkan perilaku temper tantrum (mengamuk tak terkendali) jika dilarang atau tidak diberi keinginannya?

b. Tidak

b. Tidak

a. Ya b. Tidak a. Ya b. Tidak a. Ya b. Tidak
a. Ya
b. Tidak
a. Ya
b. Tidak
a. Ya
b. Tidak

Apakah anak mempunyai kecenderungan menyakiti diri sendiri?

Apakah anak punya tingkah laku stereotip dan repetitivef misalnya mengepakkan tangan atau menjentikkan jari berulang-ulang?

DATA INDUK

Nama Umur Jenis Kelamin Agama Suku Bangsa Pekerjaan Orang Tua Pendidikan Orang Tua D1 14
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Suku Bangsa
Pekerjaan Orang Tua
Pendidikan Orang Tua
D1
14
- 16 tahun
Laki-laki
Islam
Batak
PNS/POLRI/ABRI
Sarjana
D
2
6
- 10 tahun
Laki-laki
Islam
Batak
Karyawan Perusahaan
Sarjana
D
3
6
- 10 tahun
Laki-laki
Islam
Batak
Wiraswasta
Sarjana
D
4
17
- 20 tahun
Laki-laki
Kristen Protestan
tionghoa
PNS/POLRI/ABRI
Sarjana
D
5
2
- 5 tahun
Laki-laki
Kristen Protestan
Batak
Karyawan Perusahaan
Sarjana
D
6
2
- 5 tahun
Perempuan
Islam
lainnya
Karyawan Perusahaan
Sarjana
D
7
6
- 10 tahun
Perempuan
Islam
Batak
PNS/POLRI/ABRI
SMA
D
8
10
- 13 tahun
Laki-laki
Islam
Jawa
Karyawan Perusahaan
Sarjana
D
9
2
- 5 tahun
Laki-laki
Kristen Protestan
Batak
Wiraswasta
SMA
D
10
6
- 10 tahun
Laki-laki
Kristen Protestan
Batak
Karyawan Perusahaan
Sarjana
D
11
10
- 13 tahun
Laki-laki
Islam
Jawa
PNS/POLRI/ABRI
Sarjana
D
12
6
- 10 tahun
Laki-laki
Islam
Jawa
PNS/POLRI/ABRI
Sarjana
D
13
2
- 5 tahun
Laki-laki
Islam
Jawa
PNS/POLRI/ABRI
SMA
D
14
10
- 13 tahun
Laki-laki
Islam
Batak
Wiraswasta
Sarjana
D
15
6
- 10 tahun
Laki-laki
Budha
tionghoa
Wiraswasta
SMA
D
16
17
- 20 tahun
Perempuan
Budha
tionghoa
Wiraswasta
Sarjana
D
17
6
- 10 tahun
Laki-laki
Kristen Protestan
Batak
PNS/POLRI/ABRI
SMA
D
18
10
- 13 tahun
Perempuan
Islam
Jawa
Karyawan Perusahaan
Sarjana
D
19
2
- 5 tahun
Perempuan
Islam
Batak
PNS/POLRI/ABRI
Sarjana
D
20
2
- 5 tahun
Laki-laki
Kristen Katolik
Batak
Karyawan Perusahaan
Sarjana
D
21
2
- 5 tahun
Laki-laki
Islam
Jawa
Wiraswasta
Sarjana
D
22
2
- 5 tahun
Laki-laki
Kristen Protestan
Batak
Wiraswasta
Sarjana
D
23
10
- 13 tahun
Laki-laki
Islam
Jawa
PNS/POLRI/ABRI
Sarjana
D
24
6
- 10 tahun
Laki-laki
Budha
tionghoa
Wiraswasta
Sarjana
D
25
10
- 13 tahun
Laki-laki
Kristen Protestan
Batak
Wiraswasta
SMA
D
26
10
- 13 tahun
Laki-laki
Kristen Katolik
Batak
Wiraswasta
SMA
D
27
2
- 5 tahun
Laki-laki
Islam
Jawa
Wiraswasta
Sarjana
D
28
6
- 10 tahun
Perempuan
Kristen Protestan
Batak
Karyawan Perusahaan
Sarjana
D
29
2
- 5 tahun
Perempuan
Islam
Batak
Wiraswasta
SMA
Nama KM EWB BM EE KE MB RTN MF TT MDS SR D1 Ya Tidak
Nama
KM
EWB
BM
EE
KE
MB
RTN
MF
TT
MDS
SR
D1
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
D
2
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
D
3
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
D
4
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
D
5
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
D
6
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
D
7
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
D
8
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
D
9
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
D
10
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Tidak
Ya
D
11
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
D
12
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
D
13
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
D
14
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Ya
D
15
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
D
16
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
D
17
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
D
18
Ya
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
D
19
Ya
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
D20
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
D21
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
D22
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
D23
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
D24
Ya
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
D25
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
D26
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
D27
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
D28
Ya
Ya
Ya
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
D29
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Tidak
Umur Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid 2 - 5 tahun 10 34.5 34.5
Umur
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
2
- 5 tahun
10
34.5
34.5
34.5
6
- 10 tahun
9
31.0
31.0 65.5
10
- 13 tahun
7
24.1
24.1 89.7
14
- 16 tahun
1
3.4
3.4
93.1
17
- 20 tahun
2
6.9
6.9
100.0
Total
29
100.0
100.0
Jenis Kelamin
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
Laki-laki
22
75.9
75.9
75.9
Perempuan
7
24.1
24.1
100.0
Total
29
100.0
100.0
Suku Bangsa
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
batak
16
55.2
55.2
55.2
jawa
8
27.6
27.6
82.8
tionghoa
4
13.8
13.8
96.6
lainnya
1
3.4
3.4
100.0
Total
29
100.0
100.0
Agama Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid Islam 16 55.2 55.2 55.2 Kristen Protestan
Agama
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
Islam
16
55.2
55.2
55.2
Kristen Protestan
8
27.6
27.6
82.8
Kristen Katolik
2
6.9
6.9
89.7
Budha
3
10.3
10.3
100.0
Total
29
100.0
100.0
Statistics
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Suku Bangsa
N
Valid
29
29
29
29
Missing
0
0
0
0
Mean
2.1724
1.24
1.8276
1.66
Median
2.0000
1.00
1.0000
1.00
Std. Deviation
1.16708
.435
1.25553
.857
Variance
1.362
.190
1.576
.734
Range
4.00
1
4.00
3
Minimum
1.00
1
1.00
1
Maximum
5.00
2
5.00
4
Pekerjaan Orang Tua
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
PNS/POLRI/ABRI
9
31.0
31.0
31.0
Karyawan
8
27.6
27.6
58.6
Perusahaan
Wiraswasta
12
41.4
41.4
100.0
Total
29
100.0
100.0
 

Pendidikan Orang Tua

 
         

Cumulative

 

Frequency

Percent

Valid Percent

Percent

Valid

SMA

8

27.6

27.6

27.6

Sarjana

21

72.4

72.4

100.0

Total

29

100.0

100.0

 
Statistics Pekerjaan Pendidikan Orang Tua Orang Tua N Valid 29 29 Missing 0 0 Mean
Statistics
Pekerjaan
Pendidikan
Orang Tua
Orang Tua
N
Valid
29
29
Missing
0
0
Mean
2.1034
4.4483
Median
2.0000
5.0000
Std. Deviation
.85960
.90972
Variance
.739
.828
Range
2.00
2.00
Minimum
1.00
3.00
Maximum
3.00
5.00
Kontak Mata
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
Ya
20
69.0
69.0
69.0
Tidak
9
31.0
31.0
100.0
Total
29
100.0
100.0
Ekspresi Wajah Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid Ya 16 55.2 55.2 55.2 Tidak
Ekspresi Wajah
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
Ya
16
55.2
55.2
55.2
Tidak
13
44.8
44.8
100.0
Total
29
100.0
100.0
Bermain
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
Ya
13
44.8
44.8
44.8
Tidak
16
55.2
55.2
100.0
Total
29
100.0
100.0
Ekspresi Emosi
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
Ya
10
34.5
34.5
34.5
Tidak
19
65.5
65.5
100.0
Total
29
100.0
100.0
Ekolalia
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
Ya
10
34.5
34.5
34.5
Tidak
19
65.5
65.5
100.0
Total
29
100.0
100.0
Statistics Kontak Ekspresi Ekspresi Mata Wajah Bermain Emosi N Valid 29 29 29 29 Missing
Statistics
Kontak
Ekspresi
Ekspresi
Mata
Wajah
Bermain
Emosi
N
Valid
29
29
29
29
Missing
0
0
0
0
Mean
1.3103
1.4483
1.5517
1.6552
Median
1.0000
1.0000
2.0000
2.0000
Std. Deviation
.47082
.50612
.50612
.48373
Variance
.222
.256
.256
.234
Range
1.00
1.00
1.00
1.00
Minimum
1.00
1.00
1.00
1.00
Maximum
2.00
2.00
2.00
2.00
Berbicara dan berbahasa
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
Ya
4
13.8
13.8
13.8
Tidak
25
86.2
86.2
100.0
Total
29
100.0
100.0
Statistics
Berbicara dan
Ekolalia
berbahasa
N
Valid
29
29
Missing
0
0
Mean
1.6552
1.8621
Median
2.0000
2.0000
Std. Deviation
.48373
.35093
Variance
.234
.123
Range
1.00
1.00
Minimum
1.00
1.00
Statistics Berbicara dan Ekolalia berbahasa N Valid 29 29 Missing 0 0 Mean 1.6552 1.8621
Statistics
Berbicara dan
Ekolalia
berbahasa
N
Valid
29
29
Missing
0
0
Mean
1.6552
1.8621
Median
2.0000
2.0000
Std. Deviation
.48373
.35093
Variance
.234
.123
Range
1.00
1.00
Minimum
1.00
1.00
Maximum
2.00
2.00
Ritual yang tidak normal
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
Ya
12
41.4
41.4
41.4
Tidak
17
58.6
58.6
100.0
Total
29
100.0
100.0
gunakan mainan
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
Ya
16
55.2
55.2
55.2
Tidak
13
44.8
44.8
100.0
Total
29
100.0
100.0
Temper tantrum
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
Ya
11
37.9
37.9
37.9
Tidak
18
62.1
62.1
100.0
Total
29
100.0
100.0
Menyakiti diri
Cumulative Frequency Percent Valid Percent Percent Valid Ya 5 17.2 17.2 17.2 Tidak 24 82.8
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
Ya
5
17.2
17.2
17.2
Tidak
24
82.8
82.8
100.0
Total
29
100.0
100.0
Tingkah laku stereotip
Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid
Ya
8
27.6
27.6
27.6
Tidak
21
72.4
72.4
100.0
Total
29
100.0
100.0
Statistics
Ritual yang
gunakan
Temper
Menyakiti
Tingkah laku
tidak normal
mainan
tantrum
diri
stereotip
N
Valid
29
29
29
29
29
Missing
0
0
0
0
0
Mean
1.5862
1.4483
1.6207
1.8276
1.7241
Median
2.0000
1.0000
2.0000
2.0000
2.0000
Std. Deviation
.50123
.50612
.49380
.38443
.45486
Variance
.251
.256
.244
.148
.207
Range
1.00
1.00
1.00
1.00
1.00
Minimum
1.00
1.00
1.00
1.00
1.00
Maximum
2.00
2.00
2.00
2.00
2.00
 

Umur * Kontak Mata Crosstabulation

 
 

Kontak Mata

 
 

Ya

Tidak

Total

Umur

2

- 5 tahun

Count

6

4

10

 

%

of Total

20.7%

13.8%

34.5%

 

6

- 10 tahun

Count

9

0

9

 

%

of Total

31.0%

.0%

31.0%

10 - 13 tahun Count 4 3 7 % of Total 13.8% 10.3% 24.1% 14
10
- 13 tahun
Count
4
3
7
%
of Total
13.8%
10.3%
24.1%
14
- 16 tahun
Count
1
0
1
%
of Total
3.4%
.0%
3.4%
17
- 20 tahun
Count
0
2
2
%
of Total
.0%
6.9%
6.9%
Total
Count
20
9
29
%
of Total
69.0%
31.0%
100.0%
Umur * Ekspresi Wajah Crosstabulation
Ekspresi Wajah
Ya
Tidak
Total
Umur
2
- 5 tahun
Count
5
5
10
%
of Total
17.2%
17.2%
34.5%
6
- 10 tahun
Count
7
2
9
%
of Total
24.1%
6.9%
31.0%
10
- 13 tahun
Count
4
3
7
%
of Total
13.8%
10.3%
24.1%
14
- 16 tahun
Count
0
1
1
%
of Total
.0%
3.4%
3.4%
17
- 20 tahun
Count
0
2
2
%
of Total
.0%
6.9%
6.9%
Total
Count
16
13
29
%
of Total
55.2%
44.8%
100.0%
Umur * Bermain Crosstabulation
Bermain
Ya
Tidak
Total
Umur
2
- 5 tahun
Count
4
6
10
%
of Total
13.8%
20.7%
34.5%
6 - 10 tahun Count 7 2 9 % of Total 24.1% 6.9% 31.0% 10
6
- 10 tahun
Count
7
2
9
%
of Total
24.1%
6.9%
31.0%
10
- 13 tahun
Count
2
5
7
%
of Total
6.9%
17.2%
24.1%
14
- 16 tahun
Count
0
1
1
%
of Total
.0%
3.4%
3.4%
17
- 20 tahun
Count
0
2
2
%
of Total
.0%
6.9%
6.9%
Total
Count
13
16
29
%
of Total
44.8%
55.2%
100.0%
Umur * Ekspresi Emosi Crosstabulation
Ekspresi Emosi
Ya
Tidak
Total
Umur
2
- 5 tahun
Count
3
7
10
%
of Total
10.3%
24.1%
34.5%
6
- 10 tahun
Count
4
5
9
%
of Total
13.8%
17.2%
31.0%
10
- 13 tahun
Count
2
5
7
%
of Total
6.9%
17.2%
24.1%
14
- 16 tahun
Count
1
0
1
%
of Total
3.4%
.0%
3.4%
17
- 20 tahun
Count
0
2
2
%
of Total
.0%
6.9%
6.9%
Total
Count
10
19
29
%
of Total
34.5%
65.5%
100.0%
Umur * Ekolalia Crosstabulation
Ekolalia
Ya
Tidak
Total
Umur
2
- 5 tahun
Count
4
6
10
%
of Total
13.8%
20.7%
34.5%
6 - 10 tahun Count 3 6 9 % of Total 10.3% 20.7% 31.0% 10
6
- 10 tahun
Count
3
6
9
%
of Total
10.3%
20.7%
31.0%
10
- 13 tahun
Count
2
5
7
%
of Total
6.9%
17.2%
24.1%
14
- 16 tahun
Count
0
1
1
%
of Total
.0%
3.4%
3.4%
17
- 20 tahun
Count
1
1
2
%
of Total
3.4%
3.4%
6.9%
Total
Count
10
19
29
%
of Total
34.5%
65.5%
100.0%
Umur * Pembicaraan Crosstabulation
Pembicaraan
Ya
Tidak
Total
Umur
2
- 5 tahun
Count
0
10
10
%
of Total
.0%
34.5%
34.5%
6
- 10 tahun
Count
4
5
9
%
of Total
13.8%
17.2%
31.0%
10
- 13 tahun
Count
0
7
7
%
of Total
.0%
24.1%
24.1%
14
- 16 tahun
Count
0
1
1
%
of Total
.0%
3.4%
3.4%
17
- 20 tahun
Count
0
2
2
%
of Total
.0%
6.9%
6.9%
Total
Count
4
25
29
%
of Total
13.8%
86.2%
100.0%
Umur * Berbicara dan berbahasa Crosstabulation
Berbicara dan
berbahasa
Ya
Tidak
Total
Umur
2
- 5 tahun
Count
0
10
10
% of Total .0% 34.5% 34.5% 6 - 10 tahun Count 2 7 9 %
%
of Total
.0%
34.5%
34.5%
6
- 10 tahun
Count
2
7
9
%
of Total
6.9%
24.1%
31.0%
10
- 13 tahun
Count
1
6
7
%
of Total
3.4%
20.7%
24.1%
14
- 16 tahun
Count
1
0
1
%
of Total
3.4%
.0%
3.4%
17
- 20 tahun
Count
0
2
2
%
of Total
.0%
6.9%
6.9%
Total
Count
4
25
29
%
of Total
13.8%
86.2%
100.0%
Umur * gunakan mainan Crosstabulation
gunakan mainan
Ya
Tidak
Total
Umur
2
- 5 tahun
Count
6
4
10
%
of Total
20.7%
13.8%
34.5%
6
- 10 tahun
Count
6
3
9
%
of Total
20.7%
10.3%
31.0%
10
- 13 tahun
Count
4
3
7
%
of Total
13.8%
10.3%
24.1%
14
- 16 tahun
Count
0
1
1
%
of Total
.0%
3.4%
3.4%
17
- 20 tahun
Count
0
2
2
%
of Total
.0%
6.9%
6.9%
Total
Count
16
13
29
%
of Total
55.2%
44.8%
100.0%
Umur * Temper tantrum Crosstabulation
Temper tantrum
Ya
Tidak
Total
Umur 2 - 5 tahun Count 2 8 10 % of Total 6.9% 27.6% 34.5%
Umur
2
- 5 tahun
Count
2
8
10
%
of Total
6.9%
27.6%
34.5%
6
- 10 tahun
Count
5
4
9
%
of Total
17.2%
13.8%
31.0%
10
- 13 tahun
Count
2
5
7
%
of Total
6.9%
17.2%
24.1%
14
- 16 tahun
Count
0
1
1
%
of Total
.0%
3.4%
3.4%
17
- 20 tahun
Count
2
0
2
%
of Total
6.9%
.0%
6.9%
Total
Count
11
18
29
%
of Total
37.9%
62.1%
100.0%
Umur * Menyakiti diri Crosstabulation
Menyakiti diri
Ya
Tidak
Total
Umur
2
- 5 tahun
Count
1
9
10
%
of Total
3.4%
31.0%
34.5%
6
- 10 tahun
Count
0
9
9
%
of Total
.0%
31.0%
31.0%
10
- 13 tahun
Count
2
5
7
%
of Total
6.9%
17.2%
24.1%
14
- 16 tahun
Count
0
1
1
%
of Total
.0%
3.4%
3.4%
17
- 20 tahun
Count
2
0
2
%
of Total
6.9%
.0%
6.9%
Total
Count
5
24
29
%
of Total
17.2%
82.8%
100.0%
Umur * Tingkah laku stereotip Crosstabulation
Tingkah laku
stereotip
Total
Ya Tidak Umur 2 - 5 tahun Count 1 9 10 % of Total 3.4%
Ya
Tidak
Umur
2
- 5 tahun
Count
1
9
10
%
of Total
3.4%
31.0%
34.5%
6
- 10 tahun
Count
2
7
9
%
of Total
6.9%
24.1%
31.0%
10
- 13 tahun
Count
4
3
7
%
of Total
13.8%
10.3%
24.1%
14
- 16 tahun
Count
0
1
1
%
of Total
.0%
3.4%
3.4%
17
- 20 tahun
Count
1
1
2
%
of Total
3.4%
3.4%
6.9%
Total
Count
8
21
29
%
of Total
27.6%
72.4%
100.0%