Anda di halaman 1dari 20

Hubungan Kanker Serviks Dengan Human Papiloma Virus (HPV)

Pembimbing : dr. Shintia Sp.PA


Disusun oleh : Kelompok 4
Arif Nurkalim*, Fitry Hardiyanti*, Jelita Sihombing*,
Richard Simak*, Mutiara Meilyn Pane*, Stephanie
Clara*, Ricko Ciady*, Defita Firdaus*, Jessyca
Augustia*, Maria Sunvratys*, Trisna Fajar
Kepaniteraan Dasar, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Alamat Korespondensi: Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510
Abstrak
Kanker serviks atau kanker leher rahim adalah keganasan yang terjadi pada
serviks (leher rahim). Faktor resiko terdiri dari orang menderita Human
papillomavirus (HPV) dan immune rendah. Gaya hidup yang buruk seperti
sosioekonomi rendah, merokok dan multiple seksual partner. HPV telah diketahui
memiliki lebih dari 100 tipe, hanya 30 diantaranya yang beresiko kanker serviks. Di
Indonesia diperkirakan di temukan 40 ribu kasus baru kanker mulut Rahim setiap
tahunnya. Apabila dideteksi pada stadium awal, kanker serviks invasif merupakan
kanker yang paling berhasil diterapi, sebesar 92% untuk kanker lokal.
Key Words: Kanker serviks, Human Papillomavirus, Perilaku seksual, Vaksinasi
Abstract
Cervical cancer is a malignancy that occurs in the cervix (neck of the womb).
Risk factors consisted of people suffering from the Human papillomavirus ( HPV )
and a low immunity. Poor lifestyle such as low socioeconomic, smoking and multiple
sexual partners. HPV has been found to have more than 100 types but only 30 of them
are at risk of cervical cancer. In Indonesia approximately over 40 thousand new cases
cervical cancer each year. Invasive cervical cancer is most successfully treated
cancers if found in early stages. As much as 92% success rate for local cancer.
Key Words: Cervical Cancer, Humanpapillomavirus, Sexual Behavior, Vacination

Kanker Serviks
Kanker serviks adalah keganasan yang terjadi pada serviks yang merupakan
bagian terendah dari rahim yang menonjol ke puncak liang senggama atau vagina.
Dewasa ini, kanker serviks sudah menjadi masalah nasional yang harus diperhatikan.
Kanker ini menjadi pembunuh nomor satu perempuan di Indonesia yang berusia
antara 30 hingga 60 tahun.1 Kesadaran, pengetahuan dan kepedulian tentang kanker
serviks perlu ditumbuhkan agar lebih banyak perempuan yang terselamatkan dari
kanker tersebut.
Human Papilloma Virus (HPV) adalah sekumpulan grup virus yang
menginfeksi manusia pada sel epitel di kulit dan membran mukosa (salah satunya
adalah daerah kelamin) dan dapat menyebabkan keganasan. Virus ini memiliki type
yang sangat banyak, hampir 100 tipe HPV sampai saat ini berhasil di identifikasi.
Tipe HPV 16 dan 18 diketahui sebagai penyebab 70% dari kasus keganasan di serviks
wanita. Tipe HPV 6 dan 11 diketahui sebagai penyebab dari 90% kasus kutil kelamin
(Condyloma accuminatum). Cara penularannya terutama melalui kontak atau
hubungan seksual. Tidak terbukti penularan dari kolam renang, maupun dari tempat
duduk toilet atau penggunaan WC umum.1
Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala dini pada kanker serviks tidak spesifik seperti adanya sekret
vagina yang agak lebih banyak dan kadang-kadang dengan bercak perdarahan.
Umumnya tanda ini sangat minimal dan sering diabaikan oleh penderita. Tanda yang
lebih klasik adalah seperti terjadinya perdarahan bercak yang berulang, terutama
ketika setelah melakukan hubungan intim. Perdarahan menjadi lebih sering,
lebih banyak dan berlangsung lebih lama. Kemudian dapat dilihat tanda lain seperti
sekret vagina sedikit mengental dan terdapat bau yang tidak sedap pada tahap nekrosis
yang lebih lanjut.2
Nekrosis ini terjadi karena pertumbuhan tumor yang cepat dan tidak diimbangi
dengan pertumbuhan pembuluh darah agar mendapat aliran darah yang cukup.
Nekrosis ini akan menimbulkan bau tidak sedap dan reaksi peradangan non spesifik.
Pada stadium lanjut, tumor sudah menyebar ke luar dari serviks dan melibatkan
jaringan di rongga pelvis.

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik pada kecurigaan pasien dengan kanker serviks harus
dilakukan pemeriksaan skrining sedini mungkin. Penilaian profilaksis dan terapi
vaksin serta pengembangan strategi skrining yang berkesinambungan dengan tes HPV
dan metode lain berdasarkan sitologi. Namun metode yang sekarang ini sering
digunakan adalah tes Pap dan IVA. Tes Pap memiliki sensitivitas 51% dan spesifisitas
98%. Selain itu pemeriksaan Pap Smear masih memerlukan penunjang laboratorium
sitologi dan dokter ahli patologi yang relatif memerlukan waktu dan biaya besar.
Sedangkan IVA memiliki sensitivitas sampai 96% dan spesifisitas 97% untuk program
yang dilaksanakan oleh tenaga medis yang terlatih.1 Hal ini menunjukkan bahwa IVA
memiliki sensitivitas yang hampir sama dengan sitologi serviks sehingga dapat
menjadi metode skrining yang efektif pada Negara berkembang seperti di Indonesia.
Pada tes IVA dengan mengunakkan tes visual dengan larutan asam cuka (asam
asetat 2%) dan larutan iosium lugol pada serviks dan melihat perubahan warna yang
terjadi setelah dilakukan olesan. Tujuannya untuk melihat adanya sel yang mengalami
dysplasia sebagai salah satu metode skrining kanker serviks. 1 Namun tes ini tidak
direkomendasikan pada wanita pasca menopause, karena daerah zona transisional
seringkali terletak kanalis servikalis dan tidak tampak dengan pemeriksaan inspekulo.
Sebelum melakukan pemeriksaan sebaiknya diberikan informasi mengenai
prosedur tindakan, bagaimana dikerjakan dan apa artinya hasil tes positif. Yakinkan
pasien telah memahami dan menandatangani informed consent. Pada pemeriksaan
inspekulo secara umum meliputi dinding vagina, serviks, dan fornik.
Interpretasi klasifikasi IVA sesuai temuan klinis pada hasil tes positif dapat
ditemukan plak putih yang tebal atau epitel acetowhite. Sedangkan pada hasil tes
negatif terdapat permukaan polos dan halus, berwarna merah jambu, ektropion, polip,
servitis, dan inflamasi. Khusus pada kanker terlihat massa mirip dengan kembang kol
atau bisul.1,2
Kriteria wanita yang dianjurkan untuk menjalani tes kanker atau prakanker
dianjurkan bagi semua wanita berusia 30 dan 45 tahun. Kanker serviks menempati
angka tertinggi diantara wanita berusia 40 hingga 50 tahun, sehingga tes harus
dilakukan pada usia dimana lesi prekanker lebih mungkin terdeteksi, biasanya 10

sampai 20 tahun lebih awal. Wanita yang memiliki faktor resiko juga merupakan
kelompok yang paling penting untuk mendapat pelayanan tes.
Waktu untuk menjalani tes IVA dapat dilakukan kapan saja dalam siklus
menstruasi, termasuk saat menstruasi pada masa kehamilan dan saat asuhan nifas atau
paksa keguguran. Untuk masing-masing hasil akan diberikan beberapa instruksi baik
yang sederhana untuk pasien (mis.kunjungan ulang untuk tes IVA setiap 5 tahun) atau
isu-isu khusus yang harus dibahas bersama, seperti kapan dan dimana pengobatan
yang diberikan, resiko potensial dan manfaat pengobatan, dan kapan perlu merujuk
untuk tes tambahan atau pengobatan lebih lanjut.
Pemeriksaan Penunjang
Karena tes IVA sekarang ini adalah suatu kewajiban pemeriksaan fisik yang
dilakukan di Puskesmas dan di Rumah Sakit kepada setiap wanita dengan keluhan
yang mengarah kepada kecurigaan kanker serviks, oleh sebab itu diperlukan
pemeriksaan penunjang yang lebih lengkap seperti kolposkopi. Kolposkopi adalah
pemeriksaan dengan menggunakan kolposkop, yaitu suatu alat seperti mikroskop
bertenaga rendah dengan sumber cahaya di dalamnya. Pemeriksaan ini merupakan
pemeriksaan standar bila hasil pap smear abnormal. Pemeriksaan ini untuk melihat
kelainan epitel serviks, pembuluh darah setelah pemberian asam asetat. Tidak hanya
berbatas pada serviks, namun pemeriksaan ini juga dapat memeriksa vulva dan
vagina. Pemeriksaan kolposkopi dilakukan untuk menentukan waktu dan lokasi
biopsy harus di lakukan.3 Selain itu dapat dilakukan biopsy di daerah abnormal di
bagian yang telah dilakukan kolposkopi.
Selain itu tes HPV juga berguna untuk menginterpretasikan hasil samar-samar
dari tes Papanicolaou. Jika perempuan memiliki tes Papanicolaou menunjukkan sel
skuamosa atipikal signifikansi ditentukan (ASCUS) dan tes HPV positif, maka
pemeriksaan tambahan dengan kolposkopi adalah merupakan indikasi.
Uji DNA HPV telah dipakai sebagai uji tambahan paling efektif cara
mendeteksi keberadaan HPV sedini mungkin. Uji DNA HPV dapat mengetahui
golongan hr-HPV atau Ir-HPV dengan menggunakan tekhnik HCII atau dengan
metode PCR, uji DNA HPV juga dapat melihat genotipe HPV dengan metode DNAHPV Micro Array System, Multiplex HPV Genotyping Kit, dan Linear Array HPV

Genotyping Test. Meode PCR dan elektroforesis dapat mengetahui keberadaan HPV
tanpa mengetahui genotipe secara spesifik.1-3
Metode Hybrid Capture II System digunakan untuk mengetahui keberadaan
HPV dengan memperkirakan kuantitas / jumlah virus tanpa mengetahui genotipe
HPV-nya. Metode Multiplex HPV Genotyping Kit digunakan untuk mendeteksi 24
genotipe HPV. Metode DNA-HPV Micro Array digunakan untuk mendeteksi 21
genotipe HPV. Metode Linear Array HPV Genotyping Test digunakan untuk
mendeteksi 37 genotipe HPV.1-3
Dalam perkembangannya, banyak ahli dalam the American Cancer Society,
the American College of Obstetricians and Gynecologists, the American Society for
Colposcopy and Cervical Pathology, dan the US Preventive Services Task Force
menetapkan protokol skrining bersama-sama dengan melakukan skrining awal.
Skrining dilakukan sejak seorang wanita telah melakukan hubungan seksual (vaginal
intercourse) selama kurang lebih tiga tahun dan umurnya tidak kurang dari 21 tahun
saat pemeriksaan. Hal ini didasarkan pada karsinoma serviks berasal lebih banyak dari
lesi prekursornya yang berhubungan dengan infeksi HPV onkogenik dari hubungan
seksual yang akan berkembang lesinya setelah 3-5 tahun setelah paparan pertama dan
biasanya sangat jarang pada wanita di bawah usia 19 tahun.
Pemeriksaan DNA HPV juga dimasukkan pada skrining bersama-sama dengan
Paps smear untuk wanita dengan usia di atas 30 tahun. Penelitian dalam skala besar
mendapatkan bahwa Paps smear negatif disertai DNA HPV yang negatif
mengindikasikan tidak akan ada CIN 3 sebanyak hampir 100%. Kombinasi
pemeriksaan ini dianjurkan untuk wanita dengan umur diatas 30 tahun karena
prevalensi infeksi HPV menurun sejalan dengan waktu. Infeksi HPV pada usia 29
tahun atau lebih dengan ASCUS hanya 31,2% sementara infeksi ini meningkat sampai
65% pada usia 28 tahun atau lebih muda. 1-3 Walaupun infeksi ini sangat sering pada
wanita muda yang aktif secara seksual tetapi nantinya akan mereda seiring dengan
waktu. Sehingga, deteksi DNA HPV yang positif yang ditemukan kemudian lebih
dianggap sebagai HPV yang persisten. Apabila ini dialami pada wanita dengan usia
yang lebih tua maka akan terjadi peningkatan risiko kanker serviks.

Skrining untuk wanita di bawah 30 tahun berisiko dianjurkan menggunakan


Thinprep atau sitologi serviks dengan liquid-base method setiap 1-3 tahun. Skrining
untuk wanita di atas 30 tahun menggunakan Paps smear dan pemeriksaan DNA HPV.
Bila keduanya negatif maka pemeriksaan diulang 3 tahun kemudian. Skrining
dihentikan bila usia mencapai 70 tahun atau telah dilakukan 3 kali pemeriksaan
berturut-turut dengan hasil negatif. Pemeriksaan darah lengkap, fungsi ginjal, fungsi
hepar, dan pemeriksaan radiologi untuk mengetahui abnormalitas yang mungkin
ditemukan pada metastasis.
Epidemiologi
Untuk wilayah ASEAN, insiden kanker serviks di Singapore sebesar 25,0 pada
ras Cina; 17,8 pada ras Melayu; dan Thailand sebesar 23,7 per 100.000 penduduk.
Insiden dan angka kematian kanker serviks menurun selama beberapa decade terakhir
di AS. Hal ini karena skrining Pap menjadi lebih popular dan lesi serviks pre-invasif
lebih sering dideteksi daripada kanker invasive. Diperkirakan terdapat 3700 kematian
akibat kanker serviks pada 2006. Di Indonesia diperkirakan di temukan 40 ribu kasus
baru kanker serviks setiap tahunnya. Menurut data kanker berbasis patologi di 13
pusat laboratorium patologi, kanker serviks merupakan penyakit kanker yang
memiliki jumlah penderita terbanyak di Indonesia, yaitu lebih kurang 36%. Dari data
17 rumah sakit di Jakarta 1977, kanker serviks menduduki urutan pertama, yaitu 432
kasus di antara 918 kanker pada perempuan.3
Di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, frekuensi kanker serviks sebesar
76,2% di antara kanker ginekologi. Terbanyak pasien datang pada stadium lanjut,
yaitu stadium IIB-IVB, sebanyak 66,4%. Kasus dengan stadium IIIB, yaitu stadium
dengan gangguan fungsi ginjal, sebanyak 37,3% atau lebih dari sepertiga kasus.
Relative survival pada wanita dengan lesi pre-invasif hampir 100%. Relative 1 dan 5
years survival masing-masing sebesar 88% dan 73%. Apabila dideteksi pada stadium
awal, kanker serviks invasif merupakan kanker yang paling berhasil diterapi, dengan
5 YSR sebesar 92% untuk kanker lokal. Keterlambatan diagnosis pada stadium lanjut,
keadaan umum yang lemah, status sosial ekonomi yang rendah, keterbatasan sumber
daya, keterbatasan sarana dan prasarana, jenis histopatologi, dan derajat pendidikan
ikut serta dalam menentukan prognosis dari penderita.3

Etiologi
Peristiwa kanker serviks diawali dari sel serviks normal yang terinfeksi oleh
HPV. Infeksi HPV umumnya terjadi setelah wanita melakukan hubungan seksual.
Sebagian infeksi HPV bersifat hilang timbul sehingga tidak terdeteksi dalam kurun
waktu kurang lebih 2 tahun pasca infeksi. Hanya sebagian kecil saja dari infeksi yang
menetap dalam jangka waktu yang lama sehingga menimbulkan kerusakan lapisan
lendir menjadi prakanker.
HPV telah diketahui memiliki lebih dari 100 tipe, dimana sebagian besar
diantaranya tidak berbahaya dan akan lenyap dengan sendirinya. Dari 100 tipe HPV
tersebut hanya 30 diantaranya yang beresiko kanker serviks. Adapun tipe yang
beresiko adalah HPV 16, 18, 31 dan 45 yang sering ditemukan pada kanker maupun
lesi prakanker serviks yaitu menimbulkan kerusakan sel lendir luar menuju
keganasan. Sementara tipe yang beresiko sedang yaitu HPV 33,35,39,51,52,56,58,59
dan 68 dan yang beresiko rendah adalah HPV tipe 6, 11, 26, 42, 43, 44, 53, 54, 55,
dan 56. Dari tipe-tipe ini, HPV tipe 16 dan 18 merupakan penyebab tersering kanker
serviks yang terjadi di seluruh dunia. HPV tipe 16 mendominasikan infeksi (50-60 %)
pada penderita kanker serviks disusul dengan tipe 18 (10-15%). Faktor lain yang
berhubungan dengan kanker serviks adalah aktivitas seksual terlalu muda < 16 tahun,
jumlah pasangan yang lebih dari 1 orang.1-3
Patofisiologi
Proses terjadinya infkesi HPV mengikuti fisiologi siklus sel yang terdiri dari 4
fase, yaitu G1, S, G2 dan M. Dimana pada saat fase S, terjadi replikasi DNA dan pada
fase M terjadi pembelahan sel atau mitosis. Dan G adalah gap yang berada antara fase
S dan M. Perlu diketahui pada infeksi HPV ada peran dari p53 yang terdapat juga
pada siklus sel, dimana berpengaruh pada transisi G2-M dan juga transisi G1-S.
Sedangkan pRb berpengaruh pada transisi G1-S. Mutasi oleh infeksi HPV ini akan
menyebabkan inaktivasi fungsi p53 dan pRb yang menyebabkan proliferasi yang tidak
dapat dikontrol.

Gambar 1. Peran p53 dan pRb.4

Gambar 2. Patofisiologi kanker serviks.4

Infeksi dimulai dari virus yang masuk kedalam sel melalui mikro abrasi pada
jaringan permukaan epitel, sehingga dimungkinkan sel masuk kedalam sel basal. Sel
basal terutama sel stem terus membelah, bermigrasi mengisi sel bagian atas,
berdiferensiasi dan mensintesis keratin. Protein virus pada infeksi HPV mengambil
ahli perkembangan siklus sel dan mengikuti diferensiasi sel seperti gambar diatas.
Lebih rincinya mengenai proses yang terjadi pada tingkat selularnya, integrasi
DNA virus dengan genom sel tubuh merupakan awal dari proses yang mengarah
transformasi. Genom HPV berbentuk sirkuler dan panjangnya 8 kb, punya 8 open

reading frames (ORFs) dan dibagi menjadi gene early (E) dan late (L). Gen E mengisi
6 protein E yaitu E1, E2, E4, E5, E6, E7, yang banyak terkait dalam proses replikasi
virus dan onkogen, sedangkan gen L mengsintesis 2 protein L yaitu L1 dan L2 yang
terkait dengan pembentukan kapsid.2,3 Protein E6 dan E7 disebut onkogen karena
kemampuannya mengikat protein proapoptotik, p53 dan pRb sehingga sel yang
terinfeksi aktif berproliferasi yang mengakibatkan terjadinya lesi pre kanker yang
kemudian dapat berkembang menjadi kanker.
Integrasi DNA virus dimulai pada daerah E1-E2. Integrasi menyebabkan E2
tidak berfungsi, tidak berfungsi E2 menyebabkan rangsangan terhadap E6 dan E7
yang akan menghambat p53 dan pRb. E6 mempunyai kemampuan yang khas mampu
berikatan dengan p53. P53 yaitu protein yang termasuk supresos tumor yang
menregulasi siklus sel baik pada G1-S maupun G2-M. Pada saat terjadi kerusakan
DNA, p53 teraktifasi dan meningkatkan ekspresi p21, menghasilkan cell arrest atau
apoptosis. Proses apoptosis ini juga merupakan cara pertahanan sel untuk mencegah
penularan virus virus pada sel-sel didekatnya. Kebanyakan virus tumor menghalangi
induksi apoptosis. E6 membentuk susunan kompleks dengan regulator p53 seluler
ubiquitin ligase / E6AP yang meningkatkan degrasi p53.

Inaktifasi p53

menghilangkan kontrol siklus sel, arrest dan apoptosis. Penurunan p53 menghalangi
proses proapoptotik, sehingga terjadi peningkatan proliferasi.2,3
Sehingga semua proses yang terjadi di atas itu memungkinkan HPV
menyerang epitel serviks dan terjadi kanker serviks. Mengingat dasar siklus sel
dimana setiap fase harus menghasilkan sel yang sesuai dengan fasenya. Jadi apabila
ada produk sel yang dihasilkan tidak sesuai dan hilangnya fungsi dari p53 maka akan
tercipta banyak sel-sel rusak yang berkembang.

Gambar 3. Progresivitas kanker serviks dimulai dari infeksi HPV. 5

Gambar 4. Staging kanker serviks gambaran normal sampai IIB 6

Gambar 5. Staging kanker serviks6

Faktor resiko

Ada beberapa faktor resiko yang dapat terjadi seperti infeksi HPV yang
hampir 99% kanker serviks dan high grade CIN diasosikan dengan HPV tipe 16 dan
18, yang menyebabkan 70% dari seluruh kasus kanker serviks.

1-4

Biasanya infeksi

HPV banyak terjadi pada orang dengan keadaan imun yang lemah seperti pada kasus
orang dengan HIV dan AIDS. Selain itu merokok dapat ditengarai memicu percepatan
proses oksidasi pada kasus pasien dengan kanker serviks yang mempunyai riwayat
merokok.
Faktor yang lebih penting ialah faktor seksual, semakin sering berganti-ganti
pasangan seksual dan tidak menggunakan pelindung seperti kondom akan
meningkatkan resiko terkena HPV apabila anda berhubungan dengan orang yang
terinfeksi. Selain HPV yang mungkin terkena berbagai macam penyakit infeksi
seksual seperti HIV yang nantinya akan menurunkan daya imunitas dan
mempermudah terjadinya infeksi dari HPV.
Usia dini saat coitus pertama kali juga berperan dalam terjadinya HPV, selain
itu juga ditemukan bahwa banyak kejadian infeksi yang terjadi akibat berhubungan
intim dengan laki-laki terinfeksi.
Penatalaksanaan
Terapi karsinoma serviks dilakukan bilamana diagnosis telah dipastikan secara
histologik dan sesudah dikerjakan perencanaan yang matang oleh tim yang sanggup
melakukan rehabilitasi dan pengamatan lanjutan (tim kanker / tim onkologi).
Tindakan pengobatan atau terapi sangat bergantung pada stadium kanker serviks saat
didiagnosis. Dikenal beberapa tindakan (modalitas) dalam tata laksana kanker serviks
seperti terapi lesi prakanker serviks, yang pada umunya tergolong NIS (Neoplasia
Intraepital Serviks) dapat dilakukan dengan observasi saja, medikamentosa, terapi
destruksi dan terapi eksisi.
Tindakan observasi dilakukan pada tes Pap dengan hasil HPV, atipia, NIS 1
yang termasuk dalam lesi intraepitelial skuamosa derajat rendah (LISDR). Terapi NIS
dengan destruksi dapat dilakukan pada LISDR dan LISDT (Lesi intraeoitelial serviks
derajat tinggi). Demikian juga terapi eksisi dapat ditujukan untuk LISDR dan LISDT.

Perbedaan antara terapi destruksi dan terapi eksisi adalah pada terapi destruksi tidak
mengangkat lesi tetapi pada terapi eksisi ada spesimen lesi yang diangkat.Terapi NIS
yang lain adalah dengan destruksi lokal. 7 Tujuannya metode ini untuk memusnahkan
daerah-daerah terpilih yang mengandung epitel abnormal yang kelak akan digantikan
dengan epitel skuamosa yang baru.
Cara yang lain adalah dengan menggunakan krioterapi yang bertujuan untuk
menyembuhkan penyakit dengan cara mendinginkan bagian yang sakit sampai dengan
suhu 00 C. Pada suhu sekurang-kurangnya 250C sel-sel jaringan termasuk NIS akan
mengalami nekrosis. Sebagai akibat dari pembekuan sel-sel tersebut, terjadi
perubahan tingkat seluler dan vaskular, yaitu sel-sel mengalami dehidrasi dan
mengkerut, konsentrasi elektrolit dalam sel terganggu, syok termal dan denaturasi
kompleks lipid protein disertai status umum sistem mikrovaskular. Pada saat ini
hampir semua alat menggunakan N20.8
Elektrokauter memungkinkan untuk pemusnahan jaringan dengan kedalaman
2-3mm. Lesi NIS 1 yang kecil di lokasi yang keseluruhannya terlihat pada umumnya
dapat disembuhkan dengan efektif.7-9 Diatermi Elektroagulasi Radikal dapat
memusnahkan jaringan lebih luas (sampai kedalaman 1cm) dan efektif dibandingkan
elektrokauter tapi harus dilakukan dengan anestesia umum. Tetapi fisiologi serviks
dapat dipengaruhi, dianjurkan hanya terbatas pada NIS1/2 dengan batas lesi yang
dapat ditentukan. CO2 Laser adalah muatan listrik yang berisi campuran gas helium,
nitrogen dan gas CO2 yang menimbulkan sinar laser dengan gelombang 10,6 u.
Sedangkan terapi NIS dengan cara eksisi dapat dilakukan konisasi (cone
biopsy) dengan membuat sayatan berbentuk kerucut pada serviks dan kanal serviks
untuk diteliti oleh ahli patologi. Digunakan untuk diagnosa ataupun pengobatan prakanker serviks. Lalu dengan cara Punch Biopsy yaitu menggunakan alat yang tajam
untuk mengambil sampel kecil jaringan serviks.
Pentalaksanaan yang lain dengan Loop electrosurgical excision procedure
(LEEP) yang menggunakan arus listrik yang dilewati pada kawat tipis untuk
memotong jaringan abnormal kanker serviks. Kemudian Trakelektomi radikal
(radical trachelectomy) yang dilakukan oleh dokter bedah yang mengambil leher

rahim, bagian dari vagina, dan kelenjar getah bening di panggul. Pilihan ini dilakukan
untuk wanita dengan tumor kecil yang ingin mencoba untuk hamil di kemudian hari
Tindakan bedah yang lain adalah menggunakan histerektomi yang merupakan
sebuah tindakan pembedahan yang bertujuan untuk mengangkat uterus dan serviks
(total) ataupun salah satunya (subtotal). Biasanya dilakukan pada stadium klinik IA
sampai IIA (klasifikasi FIGO). Umur pasien sebaiknya sebelum menopause, atau bila
keadaan umum baik, dapat juga pada pasien yang berumur kurang dari 65 tahun.
Pasien juga harus bebas dari penyakit umum yang beresiko tinggi seperti penyakit
jantung, ginjal dan hepar.
Dimana tindakan histerektomi dapat dibedakan menjadi dua yaitu total
histerektomi dengan pengangkatan seluruh rahim dan serviks serta radikal
histerektomi yang dilakukan dengan pengangkatan seluruh rahim dan serviks, indung
telur, tuba falopi maupun kelenjar getah bening di dekatnya.
Sedangkan dengan terapi kanker serviks invasif dapat dilakukan dengan dua
cara yaitu pembedahan dan radioterapi. Terapi ini menggunakan sinar ionisasi (sinar
X) untuk merusak sel-sel kanker. Terapi radiasi bertujuan untuk merusak sel tumor
pada serviks pada serviks serta mematikan parametrial dan nodus limpa pada pelvik.
Kanker serviks stadium II B, III, IV diobati dengan radiasi. Metoda radioterapi
disesuaikan dengan tujuannya yaitu tujuan pengobatan kuratif atau paliatif.
Pengobatan kuratif ialah mematikan sel kanker serta sel yang telah menjalar ke
sekitarnya dan atau bermetastasis ke kelenjar getah bening panggul, dengan tetap
mempertahankan

sebanyak

mungkin

kebutuhan

jaringan

sehat

di

sekitar

seperti rektum, vesika urinaria, usus halus, ureter. Radioterapi dengan dosis
kuratif hanya akan diberikan pada stadium I sampai III B. Bila sel kanker
sudah keluar rongga panggul, maka radioterapi hanya bersifat paliatif yang
diberikan secara selektif pada stadium IV A.7-9
Ada 2 macam radioterapi, yaitu radiasi eksternal sinar yang berasal dari
sebuah mesin besar. Penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit, penyinaran biasanya
dilakukan sebanyak 5 hari/minggu selama 5-6 minggu. Sedangkan radiasi internal

dengan menggunakan zat radioaktif yang terdapat di dalam sebuah kapsul


dimasukkan langsung ke dalam serviks. Kapsul ini dibiarkan selama 1-3 hari dan
selama itu penderita dirawat di rumah sakit. Pengobatan ini bisa diulang beberapa kali
selama 1-2 minggu.
Efek samping dari terapi penyinaran seperti iritasi rektum dan vagina,
kerusakan kandung kemih dan rektum. Biasanya, selama menjalani radioterapi
penderita tidak boleh melakukan hubungan seksual. Kadang setelah radiasi internal,
vagina menjadi lebh sempit dan kurang lentur, sehingga bisa menyebabkan nyeri
ketika melakukan hubungan seksual. Untuk mengatasi hal ini, penderita diajari untuk
menggunakan dilator dan pelumas dengan bahan dasar air. Pada radioterapi juga bisa
timbul diare dan sering berkemih.
Untuk kemoterapi penatalaksanaan kanker dapat dilakukan pemberian obat
melalui infus, tablet, atau intramuskuler. Obat kemoterapi digunakan utamanya untuk
membunuh sel kanker dan menghambat perkembangannya. Tujuan pengobatan
kemoterapi tegantung pada jenis kanker dan fasenya saat didiagnosis. Beberapa
kanker mempunyai penyembuhan yang dapat diperkirakan atau dapat sembuh dengan
pengobatan kemoterapi. Dalam hal lain, pengobatan mungkin hanya diberikan untuk
mencegah kanker yang kambuh, ini disebut pengobatan adjuvant.10
Dalam beberapa kasus, kemoterapi diberikan untuk mengontrol penyakit
dalam periode waktu yang lama walaupun tidak mungkin sembuh. Jika kanker
menyebar luas dan dalam fase akhir, kemoterapi digunakan sebagai paliatif untuk
memberikan kualitas hidup yang lebih baik. Kemoterapi kombinasi telah digunakan
untuk penyakit metastase karena terapi dengan agen-agen dosis tunggal belum
memberikan keuntungan yang memuaskan Contoh obat yang digunakan pada kasus
kanker serviks antara lain CAP (Cyclophopamide Adremycin Platamin), PVB
(Platamin Veble Bleomycin) dan lain lain.8-10
Obat kemoterapi yang paling sering digunakan sebagai terapi awal bersama
terapi radiasi pada stage IIA, IIB, IIIA, IIIB, and IVA adalah cisplatin, flurouracil.
Sedangkan obat kemoterapi yang paling sering digunakan untuk kanker serviks stage
IVB / recurrent seperti mitomycin, pacitaxel, ifosamide, topotecan telah disetujui

untuk digunakan bersama dengan cisplastin untuk kanker serviks stage lanjut, dapat
digunakan ketika radiasi tidak dapat dilakukan atau tidak menampakkan hasil kanker
serviks yang timbul kembali atau menyebar ke organ lain.7-10
Efek samping dari kemoterapi seperti adanya lemas yang timbulnya mendadak
atau perlahan dan tidak langsung menghilang saat beristirahat, kadang berlangsung
terus sampai akhir pengobatan. Mual dan muntah yang berlangsung singkat atau lama.
Dapat diberikan obat anti mual sebelum, selama, dan sesudah pengobatan. Gangguan
pencernaan, karena ada beberapa obat kemoterapi yang dapat menyebabkan diare,
bahkan ada yang diare sampai dehidrasi berat dan harus dirawat. Kadang sampai
terjadi sembelit. Bila terjadi diare kurangi makan-makanan yang mengandung serat,
buah dan sayur. Harus minum air yang hilang untuk mengatasi kehilangan cairan.
Namun apabila susah BAB dianjurkan makan-makanan yang berserat.
Kerontokan rambut bersifat sementara, biasanya terjadi dua atau tiga minggu
setelah kemoterapi dimulai. Dapat juga menyebabkan rambut patah didekat kulit
kepala. Dapat terjadi seminggu setelah kemoterapi. Efek pada otot dan saraf akan
menyebabkan kesemutan dan mati rasa pada jari tangan dan kaki. Serta kelemahan
pada otot kaki. Efek pada darah akan berpengaruh pada kerja sumsum tulang yang
merupakan pabrik pembuat sel darah merah, sehingga jumlah sel darah merah
menurun. Yang paling sering adalah penurunan sel darah putih (leukosit). Penurunan
sel darah terjadi setiap kemoterapi, dan test darah biasanya dilakukan sebelum
kemoterapi berikutnya untuk memastikan jumlah sel darah telah kembali normal.
Penurunan jumlah sel darah dapat menyebabkan orang menjadi mudah terkena
infeksi. Hal ini disebabkan oleh penurunan leukosit, karena leukosit adalah sel darah
yang memberikan perlindungan infeksi. Ada juga beberapa obat kemoterapi yang
menyebabkan peningkatkan leukosit.
Untuk manajemen nyeri kanker berdasarkan kekuatan obat anti nyeri kanker,
dikenal 3 tingkatan obat, yaitu nyeri ringan (VAS 1-4) obat yang dianjurkan antara
lain Asetaminofen, OAINS (Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid), nyeri sedang (VAS 56) obat kelompok pertama ditambah kelompok opioid ringan seperti kodein dan

tramadol sedangkan nyeri berat (VAS 7-10) obat yang dianjurkan adalah kelompok
opioid kuat seperti morfin dan fentanil.
Pencegahan
Infeksi HPV risiko tinggi merupakan penyebab terjadinya kanker serviks,
sehingga tindakan skrining mengalami pergeseran yang semula ditujukan untuk
pencegahan sekunder bergeser untuk tujuan pencegahan primer. Mencegah terjadinya
infeksi HPV risiko tinggi merupakan pencegahan primer dan dianggap lebih penting,
karena pencegahan sekunder mempunyai beberapa kelemahan, antara lain pencegahan
sekunder tidak mencegah terjadinya NIS (CIN). Terapi lesi prakanker yang baru
terdeteksi pada pencegahan sekunder seringkali menimbulkan morbiditas terhadap
fungsi fertilitas pasien, dan pencegahan sekunder akan mengalami hambatan pada
sumber daya manusia dan alat yang kurang.
Pencegahan primer hanya mungkin dilakukan dengan deteksi terjadinya
infeksi HPV risiko tinggi terlebih dahulu. Identifikasi terjadinya infeksi HPV risiko
tinggi dapat dilakukan dengan Hybrid Capture (HC) atau dengan Polymerase Chain
Reaction (PCR). Selain itu, berbagai macam cara mendeteksi HPV, antara lain dengan
Vira Pap, Vira Type, dan HPV Profile. Dengan metode-metode tersebut dapat
diidentifikasi kelompok HPV risiko rendah (HPV tipe 6, 11, 42, 43 dan 44), dan risiko
tinggi (HPV tipe 16, 18, 31, 33 , 35, 39,45, 51, 52, 56 dan 58).11
Pemeriksaan HC dinilai lebih mudah dilakukan dalam program skrining
karena mampu mendeteksi LSIL, ASCUS dan HSIL secara lebih sensitif
dibandingkan dengan pemeriksaan pap smear, walaupun dengan spesifisitas yang
lebih rendah. Sensitivitas HC pada NIS I, HSIL dan kanker adalah sebesar 51,5%,
89,3% (85,2-96,5%), dan 100%, berturut-turut, dengan spesifisitas 87,8% (81-95%).12
Pedoman Vaksinasi HPV (Dimodifikasi dari Pedoman Vaksinasi HPV yang
Disusun HOGI) Perjalanan penyakit kanker serviks invasive, Sel epitel serviks
normal, terinfeksi HPV risiko tinggi, berdegenerasi menjadi lesi prakanker kemudian
berdegenerasi menjadi kanker serviks invasive.

Vaksin dibuat dengan teknologi rekombinan, vaksin berisi VLP (virus like
protein) yang merupakan hasil cloning dari L1 (viral capsid gene) yang mempunyai
sifat imunogenik kuat.
Vaksinasi HPV merupakan pencegahan primer kanker serviks uterus
(vaksinasi profilaksis HPV 16,18). Pap smear merupakan bagian dari pencegahan
sekunder. Pencegahan yang terbaik adalah dengan melakukan vaksinasi dan pap
smear untuk menjangkau infeksi HPV risiko tinggi lainnya, karena jangkauan
perlindungan vaksinasi tidak mencapai 100% (89%).13
Jenis vaksin bivalen (16, 18) dan quadrivalen (16, 18, 6, 11). HPV 16 dan
HPV 18 merupakan HPV risiko tinggi (karsinogen), sedangkan HPV 6 dan 11
merupakan HPV risiko rendah (non-karsinogen).13
Tujuan vaksinasi adalah untuk mencegah infeksi HPV 16, 18 (karsinogen
kanker serviks). Vaksinasi tidak bertujuan untuk terapi. Lama proteksi vaksin bivalen
53 bulan, dan vaksin quadrivalen berkisar 36 bulan.12,13 Untuk perempuan yang belum
terinfeksi HPV 16 dan HPV 18. Usia pemberian vaksin (disarankan usia >12 tahun).
Belum cukup data efektivitas pemberian vaksin HPV pada laki-laki.30 Efektivitas pada
penelitian fase II proteksi NIS 2/3 karena HPV 16 dan 18 pada yang divaksinasi
mencapai 100% (Protokol 007), dan proteksi 100% dijumpai sampai 2-4 tahun
pengamatan (follow up).

22

Proteksi silang vaksin bivalen (HPV tipe 16 dan 18)

mempunyai proteksi silang terhadap HPV tipe 45 (dengan efektivitas 94%) (cross
protection) dan HPV tipe 31 (dengan efektivitas 55%).14
Populasi target berdasarkan pustaka vaksin diberikan pada perempuan usia
antara 9-26 tahun (rekomendasi FDA-US). Populasi target tergantung usia awal
hubungan seksual (di negara Uni Eropa usia 15 tahun, Italia usia 20 tahun, di Czech
29 tahun, Portugal usia 18 tahun hanya 25% dan di Iceland 72%). 14 Vaksinasi pada ibu
hamil tidak dianjurkan, sebaiknya vaksinasi diberikan setelah persalinan. Sedangkan
pada ibu menyusui vaksinasi belum direkomendasikan. Vaksin diberikan secara
suntikan intramuskular. Diberikan pada bulan 0, 1, 6 (dianjurkan pemberian tidak
melebihi waktu 1 tahun). Efek samping terdiri dari nyeri pelvis, nyeri lambing, nyeri
sendi, nyeri otot, mual, muntah, diare, dan febris. Seluruh petugas kesehatan meliputi

para medis, dokter umum, dokter spesialis yang mendapat pelatihan pemberian vaksin
HPV.
Secara keseluruhan sensitivitas HC dibandingkan dengan pemeriksaan pap
smear lebih tinggi 23% (untuk NIS I sebesar 11% dan untuk NIS II-III sebesar 8%),
dan spesifisitas HC lebih rendah 6% dibandingkan dengan pap smear. Sensitivitas
gabungan HC dan pap smear akan meningkatkan sensitivitas sampai 39%, dan
spesifisitas tetap lebih rendah 7%. Pemeriksaan HC saja hanya mampu mendeteksi
infeksi HPV risiko tinggi tetapi tidak mampu mendeteksi kelainan sel prakanker
sehingga spesifisitas HC lebih rendah jika dibandingkan dengan pap smear.8-10
Temuan pada HC dan pap smear pada beberapa institusi menjadi dasar penelitian
protokol skrining dan tindak lanjut hasil pemeriksaan. HC yang positif harus diikuti
dengan pengawasan yang ketat, kelainan sitologi harus diikuti dengan terapi,
sedangkan hasil negatif keduanya menjadi dasar pemberian vaksinasi HPV.13-15
Prognosis
Faktor-faktor yang menentukan prognosis adalah umur penderita, keadaan
umum, tingkat klinik keganasan, sitopatologi sel tumor, kemampuan ahli atau tim ahli
yag menanganinya serta sarana pengobatan yang ada.
Table 1. Stadium Kanker Serviks7,9

Stadium

Penyebaran kanker serviks

Persentase harapan hidup 5


tahun

Karsinoma in situ

100

Terbatas pada uterus

85

II

Menyerang luar uterus tetapi

60

meluas ke dinding pelvis


III

Meluas ke dinding pelvis dan atau


sepertiga bawah vagina atau
hidronefrosis

Kesimpulan

33

HPV risiko tinggi merupakan karsinogen kanker serviks uteros. Vaksin HPV
adalah vaksin HPV kapsid L1 tipe 16 dan 18, dan pemberian vaksin bertujuan
mencegah infeksi HPV tipe 16 dan 18 (vaksinasi profilaksis). Vaksinasi HPV
memberi perlindungan terhadap infeksi HPV sebesar 89%.
Daftar Pustaka
1. Rasjidi I. Kanker pada wanita. Jakarta: Elex Media Komputindo;2010.h.55-77.
2. Bagus I. Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga berencana untuk
pendidikan bidan. Jakarta: EGC; 2005.h.427-8.
3. Cunningham FG. Mcdonald PC. Karsinoma serviks. Obstetric Williams.
Jakarta:EGC; 2007.h.21;1622-5.
4. AW Braithwaite, G Del Sal and X Lu. Some p53-binding proteins that can
function as arbiters of life and death. (diakses pada tanggal 22 September
2015). Diunduh dari :
http://www.nature.com/cdd/journal/v13/n6/fig_tab/4401924f1.html
5. Kilas proses infeksi virus, DNA, dan morfologi sel. Nat Rev Cancer. 2007.
Nature Publishing Group. (diakses pada tanggal 22 September 2015). Diunduh
dari : http://www.medscape.com/viewarticle/553264
6. Staging kanker serviks diambil dari Longo DL, Fauci AS, Kasper DL, Hauser
SL, Jameson JL, Loscatzo J : Principle of internal medicine, 18 th edition.
(diakses

pada

tanggal

22

September

2015).

Diunduh

dari

www.accessmedicine.com
7. Zhai Y, Kuick R, Nan B, Ota I et al. Gene expression analysis of preinvasive
and invasive cervical squamous cell carcinomas identifies HOXC10 as a key
mediator of invasion. Cancer Res: 2007.h.67;10163-72.
8. Scotto L, Narayan G, Nandula SV, Arias-Pulido H et al. Identification of copy
number gain and over expressed genes on chromosome arm 20q by an
integrative genomic approach in cervical cancer: potential role in progression.
Genes Chromosomes Cancer: 2008.h.47;755-65.
9. Healthwise. Cervical cancer. (diakses pada tanggal 22 September 2015).
Diunduh dari : http://www.webmd.com/cancer/cervical-cancer/
10. Defination of Precancerous. (diakses pada tanggal 22 September 2015).
Diunduh dari:
http://www.emedicinehealth.com/script/main/art.asp?articlekey=5018
11. Wiknjosastro H, et all. Serviks Uterus. Ilmu Kandungan. Edisi Kedua. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono;2009.h.380-7.

12. Hum SH, Lee JK, Oh MJ, Hur JY, Na JY, Park KY, et al. Persistent HPV
infection after conization in patients with negative margins. Gynecol Oncol:
2006;p.101;418-22.
13. Longatto FA, Erzaen M, Brnacas M, Roteli MC, Naud P, Derchain SFM, et al.
Human Papillomavirus testing as a optional screening tool in low-resource
settings of Latin America: experience from the Latin American screening
study:Int J Gynecol;2006.p.16;955-62.
14. Koutsky LA, Harper DM. Current findings from prophylactic HPV vaccine
trials. Vaccine:2006.p.243:3114-3121.