Anda di halaman 1dari 17

DOKUMEN PERENCANAAN PRAKTIKUM

PIPETASI, QUALITY CONTROL (QC) DAN PENENTUAN


KADAR GLUKOSA
PRAKTIKUM KIMIA KLINIK

AN

Nama Anggota Kelompok 1 Gelombang 2


Ekstensi 2014:
Ahmad Riduan

13141003

Btari Karlinda

13141010

Fedri Baysar

13141015

Hafiezah Yuristina

13141019

Nelly Dandan Tibe

13141030

Nurul Hikmah

13141034

Rizky D.N.S

13141036

SEKOLAH TINGGI FARMASI BANDUNG


PROGRAM PENDIDIKAN STRATA 1
PROGRAM STUDI FARMASI
2015
1

PRE-ANALITIK
A. PERSIAPAN SUBJEK UNTUK PROSES SAMPLING
Dalam menyiapkan pasien untuk pemeriksaan laboratorium,

harus

memperhitungkan faktor-faktor seperti aktivitas fisik pasien, diet, intake obat,


merokok dan postur tubuh pasien.
Persiapan subjek :
1. Pasien dianjurkan puasa 8-12 jam sebelum pengambilan darah. Catatan,
diperbolehkan minum air putih.
2. Pasien dalam posisi mendekati keadaan basal, yakni :
Telah mendapat istrihat tidur yang cukup sebelum pemeriksaan.
Tidak dalam keadaan/mendapatkan setress yang berlebih.
Tidak/belum melakukan aktivitas berlebih, seperti berolahraga sebelum
pemeriksaan.
Pengambilan spesimen sebaiknya pagi hari antara pukul 06.00-09.00
WIB.
3. Menginformasikan kepada petugas, obat-obatan yang sedang dikonsumsi
pasien.
4. Menhindari merokok, mengkonsumsi alkohol sebelum pemeriksaan
B. PROSES PENGAMBILAN SAMPEL
Ada dua cara dalam pengambilan darah vena, yaitu cara manual dan cara
vakum. Cara manual dilakukan dengan menggunakan alat suntik (syring),
sedangkan cara vakum dengan menggunakan tabung vakum (vacutainer).
Prosedur Pengambilan Darah Vena Dengan Tabung Vakum, adalah :
Persiapkan alat-alat yang diperlukan : jarum, kapas alkohol 70%, tali
pembendung (turniket), plester, tabung vakum.
Pasang jarum pada holder, pastikan terpasang erat.
Lakukan pendekatan pasien dengan tenang dan ramah; usahakan pasien
senyaman mungkin.
Identifikasi pasien sesuai dengan data di lembar permintaan.
Verifikasi keadaan pasien, misalnya puasa atau konsumsi obat. Catat bila
pasien minum obat tertentu, tidak puasa dsb.
Minta pasien meluruskan lengannya, pilih lengan yang banyak melakukan
aktifitas.
Minta pasien mengepalkan tangan.
Pasang tali pembendung (turniket) kira-kira 10 cm di atas lipat siku.

Pilih bagian vena median cubital atau cephalic. Lakukan perabaan (palpasi)
untuk memastikan posisi vena; vena teraba seperti sebuah pipa kecil, elastis
dan memiliki dinding tebal. Jika vena tidak teraba, lakukan pengurutan dari
arah pergelangan ke siku, atau kompres hangat selama 5 menit daerah
lengan.
Bersihkan kulit pada baklnlgian yang akan diambil dengan kapas alkohol
70% dan biarkan kering. Kulit yang sudah dibersihkan jangan dipegang lagi.
Tusuk bagian vena dengan posisi lubang jarum menghadap ke atas.
Masukkan tabung ke dalam holder dan dorong sehingga jarum bagian
posterior tertancap pada tabung, maka darah akan mengalir masuk ke dalam
tabung. Tunggu sampai darah berhenti mengalir. Jika memerlukan beberapa
tabung, setelah tabung pertama terisi, cabut dan ganti dengan tabung kedua,
begitu seterusnya.
Lepas turniket dan minta pasien membuka kepalan tangannya. Volume
darah yang diambil kira-kira 3 kali jumlah serum atau plasma yang
diperlukan untuk pemeriksaan.
Letakkan kapas di tempat suntikan lalu segera lepaskan/tarik jarum. Tekan
kapas beberapa sat lalu plester selama kira-kira 15 menit. Jangan menarik
jarum sebelum turniket dibuka.
Lokasi yang tidak diperbolehkan diambil darah adalah :

Lengan pada sisi mastectomy


Daerah edema
Hematoma
Daerah dimana darah sedang ditransfusikan
Daerah bekas luka
Daerah dengan cannula, fistula atau cangkokan vascular
Daerah intra-vena lines Pengambilan darah di daerah ini dapat
menyebabkan darah menjadi lebih encer dan dapat meningkatkan atau
menurunkan kadar zat tertentu.

C. JENIS SAMPEL

Spesimen yang diambil hendaknya disesuaikan dengan jenis pemeriksaan


yang

akan

dilakukan.

Spesimen

yang

dipergunakan

dalam

pemeriksaan pada praktikum kali ini yaitu serum.


D. PENANGANAN SAMPEL
Identifikasi dan registrasi spesimen
Seluruh spesimen harus diperlakukan sebagai bahan infeksius
Patuhi cara pengambilan spesimen dan pengisian tabung yang benar
Gunakan sentrifus yang terkalibrasi
Segera pisahkan plasma atau serum dari darah dalam tabung lain, tempeli
label
Segera distribusikan spesimen ke ruang pemeriksaan
E. IDENTITAS SAMPEL
Pemberian identitas pasien dan atau spesimen adalah tahapan yang harus
dilakukan karena merupakan hal yang sangat penting. Pemberian identitas
meliputi pengisian formulir permintaan, pemeriksaan laboratorium dan
pemberian label pada wadah spesimen. Keduanya harus cocok/sama.
Pemberian identitas ini setidaknya memuat nama pasien, nomor ID atau nomor
rekam medis serta tanggal pengambilan. Kesalahan pemberian identitas
dapat merugikan. Untuk spesimen berisiko tinggi (HIV, Hepatitis) sebaiknya
disertai tanda khusus pada label dan formulir permintaan laboratorium
F. KUALITAS SAMPEL
Plasma dan serum dalam kondisi normal nampak jernih dan berwarna
kuning pucat. Perubahan warna dapat menjadi tanda bahwa sampel tidak
layak untuk dilakukan pemeriksaan. Sebagai contoh tampilan yang tidak
normal yaitu hemolisis. Hemolisis adalah Warna merah muda hingga merah,
menunjukkan adanya destruksi sel darah merah. Hemolisis terjadi ketika sel
darah merah rusak selama pengumpulan sampel yang mengakibatkan
hemoglobin dan komponen lain intraseluler keluar ke dalam serum atau
plasma. Spesimen dengan hemolisis juga bisa didapatkan pada pasien dengan
anemia hemolitik, penyakit hepar atau pada reaksi transfusi, tetapi
4

sebagian besar sampel dengan hemolisis adalah


dalam

pengumpulan

hasil

dari

kesalahan

dan penanganan spesimen. Hemolisis dapat

menginterferensi beberapa pemeriksaan laboratorium dengan peningkatan


kadar ammonia, katekolamin, creatinin kinase dan enzim lainnya, besi,
magnesium, fosfat, dan natrium.

Gambar 1. Sampel serum normal, sampel


serum dengan hemolisis ringan, sampel
serum dengan hemolisis.

PIPETASI
G. PERSIAPAN BAHAN PIPETASI
KMnO4
Aquadest

H. PERHITUNGAN JUMLAH KEBUTUHAN SAMPEL DAN REAGENT


PIPETASI DAN QC
a. Kebutuhan Sampel Larutan KMnO4 50 ppm
0,005 g = 5 mg
5 mg
5000 l
=
100 ml
100 ml = 50 l/ml (ppm)
b. Kebutuhan Pelarut Aquadest
1. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
Penambahan ke-1 sebanyak 100 ml
2. Pipetasi dan QC
Penambahan ke-1 sebanyak 100 ml
Penambahan ke-2 sebanyak 1 ml
Penambahan ke-3 sebanyak 500 l(0,5 ml)
Total penggunaan pelarut aquadest adalah 101,5 ml
I. KELENGKAPAN ALAT
Peralatan yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

bersih, kering
tidak mengandung deterjen atau bahan kimia
terbuat dari bahan yang tidak mengubah zat-zat dalam spesimen
sekali pakai buang (disposable)
steril (terutama untuk kultur kuman)
tidak retak/pecah, mudah dibuka dan ditutup rapat, ukuran sesuai dengan
volume spesimen

ANALITIK
A. DETAIL SETTING ALAT
Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
1. Dibuat larutan KMnO4 kadar 50 ppm dengan menimbang 0,005 gram
KMnO4 dilarutkan dengan 100 ml aquadest sebagai larutan baku.
2. Dilakukan penentuan panjang gelombang maksimum pada daerah visibel
400 800 nm. (panjang gelombang () max KMnO4 = 546 nm).
3. Dicatat panjang gelombang maksimum yang didapat. Panjang gelombang
yang diperoleh digunakan untuk mengukur absorbansi pada proses
pipetasi.
4. Dilakukan pengukuran sebanyak 5 kali pada panjang gelombang
maksimumnya.
6

B. DETAIL PROSEDUR ANALISIS


Prosedur Percobaan Pipetasi dan QC
1. Dibuat larutan KMnO4 kadar 50 ppm dengan menimbang 0.005 gram
KMnO4 dilarutkan dengan 100 ml aquadest sebagai larutan baku. Diukur
absorbannya pada panjang gelombang () maksimum yang telah diperoleh.
2. Dari Larutan baku, d i buat larutan KMnO4 kadar 25 ppm dengan
mengencerkan (menggunakan pipet ukur gelas) 1 ml larutan Baku
ditambah 1ml aquadest. (Kelompok. 1)
3. Dari Larutan baku, dibuat larutan KMnO4 kadar 25 ppm dengan
mengencerkan 500 l larutan baku ditambah 500 l aquadest (Kelompok
2)
4. Dibuat masing masing 5 tabung untuk setiap larutan yang diencerkan.
5. Diukur masing masing larutan dengan Spektrofotometer Uv-Vis pada
panjang gelombang maksimum yang telah diperoleh kemudian catat
absorbansinya.
6. Dihitung masing masing larutan dengan menggunakan Larutan Baku
sebagai standard.
7. Dihitung mean (nilai rata-rata), SD (Standar Deviasi)/penyimpangan dan
KV (Koefisien Variasi) dari tiap pengukuran.
8. Dari data yang diperoleh dibuat grafik pemantapan ketelitian dengan
ditentukannya batas peringatan (x+2SD) dan batas kontrol (x+3SD)

C. TEKNIK ANALISIS
D. LANDASAN TEORI ANALISIS
Pipet adalah alat yang digunakan untuk memindahkan sejumlah larutan/cairan
dalam jumlah tertentu dari suatu wadah/tempat ke wadah lain.
Jenis-jenis pipet adalah :
Pipet Tetes (Drop Pipette)
Untuk memindahkan cairan dari satu tempat ke tempat lain dalam jumlah
kecil dan tidak terukur teliti.
Pipet Ukur (Measuring Pipette)

Untuk memindahkan larutan dengan berbagai ukuran dengan menggunakan


bantuan alat hisap (1-50 ml).
Pipet Volume (Volume Pipette)
Untuk memindahkan larutan dengan satu ukuran/volume tertentu dengan
bantuan alat hisap.
Pipet Buret
Mirip pipet ukur tapi ada setelannya. Biasa dipakai untuk titrasi.
Mikro/Makro Pipet
Untuk memindahkan larutan dengan ukuran tertentu secara otomatis tanpa
bantuan alat hisap. Mikropipet untuk ukuran 5-1000 l
Makropipet untuk ukuran > 1000 l
Pipet yang banyak digunakan di Laboratorium klinik adlaah mikropipet
yang dikenal dengan nama Clinipet (pipet piston).
POST ANALITIK
A. PEGUKURAN PANJANG GELOMBANG
Panjang Gelombang Maksimum KMnO4 :
nm
B. PENGUKURAN ABSORBANSI SAMPEL
Tabel 1. Nilai Absorban Sampel pada Panjang Gelombang Maksimum
Sampel 25 ppm

Larutan
Nilai

Baku

S1

(1ml/1ml)
S2 S3 S4

nm

Sampel 25 ppm (50l/50


S5

S1

S2

S3

S4

S5

Absorba
n
C. PERHITUNGAN

KONSENTRASI

MEMBANDINGKAN
LARUTAN BAKU
Cs=
Keterangan

ABSORBAN
As
Ab

SAMPEL
SAMPEL

DAN

DENGAN
ABSORBAN

x Cb

: Cs = Konsentrasi Sampel
Cb = Konsentrasi Baku
As = Absorbansi Sampel
Ab = Absorabansi Baku

D. PERHITUNGAN MEAN, SD DAN KV PADA PIPETASI (QC)


8

1. Dihitung mean ( nilai rata rata ) dari setiap konsentrasi dengan rumus
X = x /n
Keterangan : X
= nilai rata rata

= jumlah
X
= nilai tiap pengamatan
n= Jumlah pengamatan
2. Hitung SD ( Standard Deviasi ) / penyimpangan dari tiap pengukuran
dengan rumus
SD =

( X )
n1

3. Hitung KV ( Koefisien Variasi ) dari tiap pengukuran dengan rumus

KV =

SD
x 100
X

Dari data yang diperoleh dibuat grafik pemantapan ketelitian dengan


ditentukannya batas peringatan (x+2SD) dan batas kontrolnya (x+3SD).

GLUKOSA
G. PERSIAPAN BAHAN GLUKOSA
Sampel (Serum)
Alkohol 70%
Reagent Komposisi Reagent :
Glucose oxidase
Peroxidase

23 U/mL
0,75 U/mL

Aminoantipyrine

0,30 mM

4-Chlorophenol

< 10 mM

Non reactive stabilizers and fillers Sodium Azide 0,05%


pH 7,4 0,15

H. PERHITUNGAN JUMLAH KEBUTUHAN SAMPEL DAN REAGENT


GLUKOSA DAN QC
a. Kebutuhan Sampel @10l
Delapan kali pengukuran untuk sampel (8x10l = 80l)
b. Kebutuhan Reagent @1.000l
Delapan kali pengukuran untuk sampel (8x1.000l = 8.000l)
Satu kali pengukuran untuk standar (1x1.000l = 1.000l)
Satu kali pengukuran untuk blanko (1x1.000l = 1.000l)
Total kebutuhan reagent adalah 10.000l
c. Kebutuhan Blanko @10l
Satu kali pengukuran untuk blanko (1x10l = 10l)
d. Kebutuhan Standar @10l
Satu kali pengukuran untuk standar (1x10l = 10l)
I. KELENGKAPAN ALAT
Peralatan yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

bersih, kering
tidak mengandung deterjen atau bahan kimia
terbuat dari bahan yang tidak mengubah zat-zat dalam spesimen
sekali pakai buang (disposable)
steril (terutama untuk kultur kuman)
tidak retak/pecah, mudah dibuka dan ditutup rapat, ukuran sesuai dengan
volume spesimen

ANALITIK
A. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
1. Dilakukan penentuan panjang gelombang maksimum pada daerah visibel
500-550 nm. (panjang gelombang () max glukosa = 510 nm).
2. Dicatat panjang gelombang maksimum yang didapat. Panjang gelombang
yang diperoleh digunakan untuk mengukur absorbansi pada proses
absorbansi pengukuran glukosa.
B. DETAIL PROSEDUR ANALISIS
Prosedur Pemeriksaan Glukosa
1. Pasien yang akan diambil darah berpuasa selama 12 jam (20.00-08.00)
2. Pada saat sebelum pengambilan, pasien tidak boleh melakukan aktivitas
yang berlebihan (seperti berolahrga ataupun setress)
10

3. Pengambilan darah dilakukan dengan metode tabung vakum


4. Tabung yang akan dgunakan sebelumnya diberi label agar tidak mudah
tertukar dengan tabung pasien lain
5. Pada saat pengambilan darah tabung yang memiliki daya vakum dapat
memompa darah pasien pada saat setelah disuntikkan.
6. Tabung yang berisi darah dibekukan pada suhu ruang selama 2 jam
7. Kemudian darah akan disenrufugasi dimana terdapat 2 lapisan yaitu
supernatan (atas) dan endapan (bawah), bagian supernatan (serum) yang
akan digunakan sebagai sampel.
8. Dipipet masing-masing sampel (serum) pada tabung 10 L dan
dimasukkan ke dalam tabung reaksi
9. Ditambah 1000 L reagen pada masing-masing tabung reaksi
10. Diinkubasi selama 10 menit pada suhu 37C
11. Diukur absorbansinya pada panjang gelombang yang telah diperoleh
Tabel 2. Volume Sampel dan Reagen pada Pemeriksaaan Glukosa
Jenis

Blanko

Standar

(L)
(L)
Reagent
1000
1000
Aquadest
10
Standar
10
Sampel
Tipe pengujian
: Endpoint

Sampel 1

Sampel 2

Sampel 3

(L)
1000
10

(L)
1000
10

(L)
1000
10

PROSEDUR QC PEMERIKSAAN GLUKOSA


1. Serum awal yang telah diperoleh
2. Ditambahkan serum pada satu tabung dari masing-masing tabung pada tiap
3.
4.
5.
6.
7.

kelompok (serum campuran)


Diambil 10 L serum campuran
Dimasukkan kedalam masing-masing tabung (total 5 tabung)
Ditambahkan 1000 L reagent pada masing-masing tabung
Diinkubasi pada suhu 37C selama 10 menit
Diukur absorbansinya pada panjang gelombang 510 nm (500-550 nm)
Tabel 3. Volume Sampel dan Reagent pada QC Pemeriksaan Glukosa
Jenis

Sampel 1 Sampel 2 Sampel 3

Sampel 4

Sampel 5

Reagent

(L)
1000

(L)
1000

(L)
1000

(L)
1000

(L)
1000

11

Sampel

10

10

10

10

10

E. TEKNIK ANALISIS
F. LANDASAN TEORI
Glukosa merupakan karbohidrat yang paling penting dalam biokimia
mamalia karena hampir semua karbohidrat dalam makanan akan dikonersi
menjadi glukosa untuk metabolisme selanjutnya. Penggunaan glukosa diatur
dalam tubuh oleh insulin. Kelebihan glukosa akan diubah menjadi glukagon
dan akan disimpan dalam hati dan otot dan akan digunakan bila diperlukan dan
akhirnya diubah menjadi lemak dan disimpan sebagai jaringan lemak.
Diabetes melitus adalah suatu penyakit yang dinyatakan dengan adanya
hiperglikemia kronik dan ganguaan terutama pada metabolisme karbohidrat;
selan itu juga berkaitan dengan gangguan metabolisme lemak dan protein.
Diabetes melitus merupakan suatu penyakit metabolik yang ditandai dengan
hiperglikemia yang terjadi akibat kerusakan sekresi ataupun aksi insulin.
Kondisi hiperglikemia yang terjadi dalam jangka waktu yang lama akan
menyebabkan perubahan fungsi dasn biokimia, dan selanjutnya perubahan
tersebut dapat menyebabkan kerusakan jaringan. Kerusakan jaringan inilah
yang menimbulkan komplikasi (baik komplikasi mikrovaskuler maupun
komplikasi makrovaskular).
Diagnosis untuk kelainan metabolisme kerbohidrat yang paling umum
digunakan, dilakukan dengan mengukur kadar glukosa plasma pada keadaan
puasa dan kadar glukosa 2 jam post prandial /sesudah makan (2 jam pp).
Spesimen yang digunakan adalah darah vena, tetapi untuk bayi ataupun
pasien yang venanya sukar ditusuk dapat digunakan darah kapiler. Sesuadah
puasa satu malam nilai glukosa kapiler hanya 2-3 mg/dl lebih tinggi daripada
konsentrasi glukosa vena, tetapi sesudah malan nilai glukosa kapiler lebih
tinggi 20-30 mg/dl.
Metode Pemeriksaan Glukosa

12

Metode pemeriksaan glukosa dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu secara
kimiawi dan enzimatik.
1. Metode Kimiawi :
Cara Reduksi (Hagendorn Jensen, Somogyi Nelson)
Cara Kondensasi (o-Toluidin)
Pada metode kimiawi cara reduksi perlu dilakukan deproteinasi dulu
(filtrat bebas protein dengan menggunakan TCA/Trikhloroacetat/Uranil
asetat). Metode kimiawi, cara reduksi ini tergantung pada sifat pereduksi
glukosa, tetapi karena tidak spesifik metode ini tidak dipakai lagi.
Metode orto-toluidin adalah metode kimia yang berdasarkan pada
kondensasi aldosakarida. Warna hijau stabil yang terbentuk kemudian
diukur secara spektrofotometri. Metode ini dapat digunakan untuk plasma,
urin, atau cairan serebrospinal tanpa pengendapan protein.
Galaktosa dan manosa bereaksi sedikit. Jadi nilai glukosa pada metode
kimiawi sedikit lebih tinggi daripada metode enzimatik.
2. Metode Enzimatik :
a. Metode Heksokinase (Metode-UV)
b. Metode Glukose-dehydrogenase (GLUC-DH)
c. Metode Glukose-Oxsidase (GOD)
Metode enzimatik sekarang ini banyak dipakai karena pada
pemeriksaan glukosa memberikan spesifitas maksimum untuk nilai glukosa.
Metode enzimatik untuk penentuan kadar glukosa yang banyak digunakan
adalah metode GOD-PAP, dimana glukosa dapat diukur dari reaksinya
dengan glukosa oksidase terbentuk asam glukonat dan hidrogen peroksida.
Hidrogen peroksida kemudian bereaksi dengan aseptor oksigen,
misalnya

fenilaminfenazon

(reagen

Trinder)

atau

aseptor

oksigen

kromogenat, dalam reaksi yang dikatalis oleh peroksidase untuk kemudian


membentuk warna merah-violet quinonirnine sebagai indikator.
Glukosa ditetapkan kadarnya setelah dioksidasi secara enzimatis
menggunakan enzim GOD (Glucose oksidase). H2O2 yang terbentuk
kemudian bereaksi dengan fenol dan 4-aminoantipirin dengan katalis enzim

13

peroksidase (POD) yang membentuk quinoneimine. Intensitas warna yang


bterbentuk sebanding dengan konsentrasi glukosa dalam sampel.
GOD (Glucose oksidase) adalah suatu enzim spesifik FAD yang
diperoleh dari jamur, karena dipakai untuk penafsiran glukosa. Semua
aerobic dehidrogenase yang diterangkan mengandung 2 molekul glukosa
nukleotida. PAP (Phenol Amino Peroksidase) mengandung antigen atau
antibodi dalam patogen jaringan. Mempertahankan kadar glukosa dalam
darah hingga stabil adalah salah satu yang paling baik pengaturannya dari
semua mekanisme homeostatik.
Glucose Oxidase

Glucose + H2O + O2

H2O2 + Gluconate

2H2O2 + 4-Chlorophenol + Aminoantipyrine

Quinoneimine + 4 H2O

POD

Kadar Gula Darah Normal Menurut WHO


Untuk mengetahui berapa kadar gula darah yang ideal, kita bisa
merujuk pada kadar gula darah normal menurut WHO. Dengan demikian,
kita memiliki acuran yang jelas agar tetap bisa menjaga kadar gula tidak
terlalu tinggi atau terlalu rendah.
- Ketika puasa: 4 - 7 mmol/l atau 72 - 126 mg/dl
- 90 menit setelah makan: 10 mmol/l atau 180 mg/dl
- Malam hari: 8 mmol/l atau 144 mg/dl

POST ANALITIK
A. PEGUKURAN

PANJANG

GELOMBANG

DENGAN

STANDAR

GLUKOSA
Panjang Gelembong Maksimum :

nm

B. PERHITUNGAN KONSENTRASI GLUKOSA


Tabel 4 . Nilai Absorbansi Blanko, Standar dan Sampel pada Panjang Gelombang

14

Nilai
Absorban

Blanko

Standar

Sampel 1

Sampel 2

Sampel 3

Tabel 5. Nilai Absorbansi Sampel pada Pemeriksaan Glukosa dengan Panjang


Gelombang
nm
Nilai
Sampel 1
Sampel 2
Sampel 3
Sampel 4
Sampel 5
Absorban
Konsentras
i
(X-x)
(X-x)2
|sampel|
Perhitungan konsentrasi glukosa = |standar| x C standar (mg/dL)
= Glukosa (mg/dL)
Keteranagan : Abs = Absorbansi
Faktor Konversi = Glukosa (mg/dL) x 0,05551
= Glukosa (mmol/L)
C. PERHITUNGAN MEAN, SD DAN KV PADA PEMERIKSAAN GLUKOSA
(QC)
1. Dihitung mean ( nilai rata rata ) dari setiap konsentrasi dengan rumus
X = x /n
Keterangan : X
= nilai rata rata

= jumlah
X
= nilai tiap pengamatan
n= Jumlah pengamatan
2. Hitung SD ( Standard Deviasi ) / penyimpangan dari tiap pengukuran
dengan rumus :
SD =

( X )
n1

3. Hitung KV ( Koefisien Variasi ) dari tiap pengukuran dengan rumus :

15

KV =

SD
x 100
X

Dari data yang diperoleh dibuat grafik pemantapan ketelitian dengan


ditentukannya batas peringatan (x+2SD) dan batas kontrolnya (x+3SD).

16

STRUKTUR ORGANISASI