Anda di halaman 1dari 24

Makalah Teknologi Mekanik III

Wire Drawing

Disusun Oleh:
Nama

: Ilham Romadhona (13/02858)


Fritz Gultom

Kelas

(13/*****)

: CM1

PROGRAM DIPLOMA TEKNIK MESIN


SEKOLAH VOKASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2015

DAFTAR ISI
Kata Pengantar.................................................................................................................. i
Pendahuluan....................................................................................................................... ii
Bab I
Teori Dasar............................................................................................................... 1
Bab II
Pembuatan Kabel Listrik......................................................................................... 4
i.

Wire Drawing.............................................................................................. 5

ii.

Stranding...................................................................................................... 13

iii.

Insulation..................................................................................................... 14

iv.

Proses Cabling............................................................................................. 16

v.

Inner Sheath................................................................................................. 17

vi.

Armoring..................................................................................................... 17

vii.

Outer Sheath................................................................................................ 18

Penutup............................................................................................................................... 19
Daftar Pustaka................................................................................................................... 20

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan Rahmat, dan
Karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah Wire Drawing ini sebatas pengetahuan dan
kemampuan yang dimiliki.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan pembaca. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang pembaca harapkan. Untuk itu, kami berharap
banyak kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada
sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Yogyakarta, 22 Juni 2015

Penulis
Pendahuluan

Dalam sistem instalasi listrik rumah tangga, kabel listrik adalah salah satu komponen
vital yang merupakan media penghantar listrik dari sumber tenaga listrik ke peralatan yang
menggunakan tenaga listrik atau menghubungkan suatu peralatan listrik ke peralatan listrik
lainnya. Ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu perbedaan arti antara penghantar, kabel
listrik dan kawat penghantar.
Penghantar adalah suatu benda yang berbentuk logam ataupun non logam yang bersifat
konduktor atau dapat mengalirkan arus listrik dari satu titik ke titik yang lain, dan pengahantar
dapat berupa kabel ataupun kawat penghantar.
Kabel listrik adalah penghantar logam yang dilindungi dengan isolasi atau isolator. Bila
jumlah penghantar logam tadi lebih dari satu maka keseluruhan kabel berisolasi tadi dilengkapi
lagi dengan selubung pelindung yang dimana masing-masing memiliki warna yang berbedabeda. Pada kabel listrik biasanya konduktor terbuat dari tembaga atau aluminium sedangkan
untuk isolatornya biasanya terbuat dari bahan termoplastik atau termosetting. Kemampuan hantar
sebuah kabel listrik ditentukan oleh KHA (kemampuan hantar arus) yang dimiliki sebab
parameter hantaran listrik ditentukan dalam satuan ampere.selain itu kemampuan hantar arus
juga ditentukan oleh luas penampang konduktor yang berada dalam kabel listrik, adapun
ketentuan tentang KHA kabel listrik diatur didalam spesifikasi SPLN. Dan kabel listrik menurut
tegangannya terdiri atas kabel listrik tegangan rendah, kabel listrik tegangan menengah dan kabel
listrik tegangan tinggi.
Kawat penghantar adalah penghantar yang juga terbuat dari logam tetapi tidak diberi
isolasi. Sebagai contoh adalah kawat grounding pada instalasi penangkal petir atau kawat
penghantar pada sistem transmisi listrik tegangan menengah dan tinggi.

BAB I
TEORI DASAR

A. Pengertian Kabel Listrik


Kabel listrik adalah media untuk mengantarkan arus listrik ataupun informasi. Bahan dari
kabel ini beraneka ragam, khusus sebagai pengantar arus listrik, umumnya terbuat dari tembaga
dan umumnya dilapisi dengan pelindung. Isolator (pelindung) adalah bahan pembungkus kabel

yang biasanya terbuat dari karet atau plastik. Kemampuan hantar sebuah kabel listrik ditentukan
oleh kemampuan hantar arus yang dimilikinya dalam satuan Ampere.
Beberapa Contoh Kabel Listrik
1. Kabel NYA
Biasanya digunakan untuk instalasi rumah dan sistem tenaga. Dalam instalasi rumah
digunakan ukuran 1,5 mm2 dan 2,5 mm2. Berinti tunggal, berlapis bahan isolasi PVC, dan
seringnya untuk instalasi kabel udara. Kode warna isolasi ada warna merah, kuning, biru dan
hitam. Kabel tipe ini umum dipergunakan di perumahan karena harganya yang relatif murah.
Lapisan isolasinya hanya 1 lapis sehingga mudah cacat, tidak tahan air dan mudah digigit tikus.

2. Kabel NYM
Kabel NYM memiliki lapisan isolasi PVC (biasanya warna putih atau abuabu), ada yang
berinti 2, 3 atau 4. Kabel NYM memiliki lapisan isolasi dua lapis, sehingga tingkat keamanannya
lebih baik dari kabel NYA (harganya lebih mahal dari NYA). Kabel ini dapat dipergunakan
dilingkungan yang kering dan basah, namun tidak boleh ditanam.

3. Kabel NYY
Kabel ini dirancang untuk instalasi tetap di dalam tanah yang dimana harus tetap
diberikan perlindungan khusus (misalnya duct, pipa PVC atau pipa besi). Instalasi bisa
ditempatkan di dalam dan di luar ruangan, dalam kondisi lembab ataupun kering, memiliki
lapisan isolasi PVC (biasanya warna hitam), ada yang berinti 2, 3 atau 4. Dan memiliki lapisan
isolasi yang lebih kuat dari kabel NYM (harganya lebih mahal dari NYM). Kabel NYY memiliki
isolasi yang terbuat dari bahan yang tidak disukai tikus.

4. Kabel NYAF
Kabel ini direncanakan dan direkomendasikan untuk instalasi dalam kabel kotak
distribusi pipa atau di dalam duct. Kabel NYAF merupakan jenis kabel fleksibel dengan
penghantar tembaga serabut berisolasi PVC. Digunakan untuk instalasi panel-panel yang
memerlukan fleksibelitas yang tinggi. Kabel jenis ini sangat cocok untuk tempat yang
mempunyai belokan belokan tajam. Digunakan pada lingkungan yang kering dan tidak dalam
kondisi yang lembab/basah atau terkena pengaruh cuaca secara langsung.
TEKNIK MESIN SV UGM |ILHAM ROMADHONA DAN FRITZ
GULTOM

5. Kabel NYFGbY/NYRGbY/NYBY
Kabel ini dirancang khusus untuk instalasi tetap dalam tanah yang ditanam langsung
tanpa memerlukan perlindungan tambahan (kecuali harus menyeberang jalan). Pada kondisi
normal ke dalaman pemasangan di bawah tanah adalah 0,8 meter.

TEKNIK MESIN SV UGM |ILHAM ROMADHONA DAN FRITZ


GULTOM

BAB II
PEMBUATAN KABEL LISTRIK

Secara garis besar pabrik pembuatan kawat dari wire rod atau baja batangan terdiri dari
dua proses utama yaitu, proses preparasi wire rod dan proses wire drawing. Skematika Pabrik
pembuatan Kawat dapat dilihat pada gambar di bawah.

Tahapan Preparasi pada prinsipnya membersihkan permukaan wire rod dari lapisan
oksida yang muncul selama proses hot rolling. Tahapan ini terdiri dari empat tahap yaitu
pickling, cleaning, phosphating dan normalizing. Peralatan/Mesin untuk proses preparasi
permukaan wire rod yang akan diproses dapat dilihat pada gambar di bawah.
Tahap Pickling adalah tahap yang bertujuan melarutkan lapisan besi oksida dengan
larutan asam (HCL atau H2SO4) pada temperatur antara 75 85 Celcius. Lapisan oksida
yang terdapat pada permukaan wire rod akan larut.
Tahap cleaning adalah tahap pembersihan sisa larutan asam yang menempel pada
permukaan wire rod dengan dengan media air. Tujuan dari cleaning adalah untuk
menghindari terjadinya reaksi sisa asam dengan permukaan, dan ini akan menyebabkan
permukaan wire rod menjadi cacat, terjadi lubang-lubang kecil.
Tahap Phosphating adalah pelapisan permukaan wire rod dengan senyawa phosphat
untuk melindungi permukaan dari pengaruh lingkungan dan memudahkan proses
penarikan kawat (wire drawing). Permukaan menjadi bebas dari kotoran. Senyawa yang
umum digunakan adalah zinc phosphate atau calcium phosphate
Tahap normalisasi merupakan tahap akhir yang bertujuan menetralkan permukaan wire
rod dari senyawa/zat yang reaktif sehingga tidak mudah berinteraksi dengan lingkungan.
Contoh penampilan wire rod setelah diproses pickling dan phosphating dapat dilihat pada
gambar di bawah. Wire rod sebelum di preparasi terlihat berwarna abu-abu gelap dengan
sejumlah karat warna merah kecoklatan. Tampak bahwa setelah diproses preparasi
permukaan menjadi lebih terang, tidak tampak lagi adanya karat maupun scale.
TEKNIK MESIN SV UGM |ILHAM ROMADHONA DAN FRITZ
GULTOM

1. Proses Wire drawing


Proses wire drawing merupakan proses pembentukan logam dimana suatu logam
direduksi penampangnya dengan cara menarik logam
disalah satu ujungnya dengan
menggunakan peralatan tarik. Tujuan utama dari penarikan kawat adalah untuk mengecilkan
diameter batang kawat, wire rod. Batang Kawat berdiameter D1 direduksi dengan memberi gaya
tarik melalui cetakan menjadi kawat beriameter D2. Sehingga terjadi reduksi area atau
pengurangan luas. Wire Drawing merupakan salah satu jenis proses manufaktur dengan
memanfaatkan fenomena deformasi plastis akibat gaya pembentukan. Gaya pembentukan ini
berupa tekanan dan tarikan yang terjadi sewaktu benda kerja melewati die. Wire drawing sering
diaplikasikan dalam pembuatan kabel listrik, kawat dan pipa. Proses penarikan kawat meliputi
penarikan logam melalui cetakan oleh gaya tarik yang bekerja pada bagian keluar cetakan. Aliran
plastik terutama disebabkan oleh gaya tekan yang timbul sebagai reaksi dari logam terhadap
cetakan.

A. Berdasarkan Temperature Pengerjaan


Proses penarikan kawat umumnya dilakukan pada temperatur rendah atau temperature
ruang, sehingga pembentukan ini disebut sebagai cold drawing. Pada proses penarikan terjadi
deformasi yang cukup besar, sehingga sering terjadi peningkatan temperatur yang relatif besar.
Dengan demikian pada proses penarikan kawat digunakan pelumas yang mampu mengurangi
dan tahan terhadap pengaruh panas yang timbul akibat gesekan. Selain itu pelumas juga
berfungsi sebagai media pendingin. Air merupakan media pendingin yang biasa digunakan untuk
mengurangi efek panas yang ditimbulkan selama proses deformasi. Skematika cetakan
untuk wire drawing ditunjukan pada gambar dibawah. Konstruksi tempat masuknya logam ke
cetakan (die) dibuat sedemikian, sehingga kawat yang masuk cetakan akan menarik pelumas
bersama dengan masuknya batang kawat. Bentuk lonceng dibuat agar dapat meningkatkan
tekanan hidrostatis dan memindahkan aliran pelumas.
Peningkatan temperatur pada operasi wire drawing merupakan hal yang umum terjadi.
Meskipun penarikan batang kawat biasanya dilakukan pada kondisi dingin. Deformasi plastik
TEKNIK MESIN SV UGM |ILHAM ROMADHONA DAN FRITZ
GULTOM

dan gesekan akan menaikkan temperatur kawat hingga beberapa puluh derajat celcius. Sebagian
panas akan dilepaskan pada pendingin blok dan dies. Namun, karena panas yang diserap blok
dan cetakan relatif kecil, maka kenaikan temperatur menjadi relatif besar. Selama proses
deformasi, temperatur kawat tidak boleh melebihi dari 160 celcius. Temperatur yang terlalu
tinggi dapat merubah sifat-sifat metalurgis kawat.
Pada temperatur dibawah menunjukkan temperatur lingkungan pengerjaan/ machining. Untuk
beberapa proses machining. Dapat dilihat temperature cold working pada tembaga
PROSES

T/TM

KETERANGAN

COLD WORKING

< 0,3

T = Temperatur Pembentukan

WARM WORKING

0,3 0,5

TM = Temperatur cair logam

HOT WORKING

> 0,6

Temperatur rekristalisasi = 0,5

TA = Temperatur lingkungan/ ruang


Tm = Temperatur lebur/ leleh pengerjaan material

Batasan dari ketiga kelompok tersebut bukan semata-mata ada panas atau tidak pada
proses pengerjaannya.

Batasan tersebut lebih berkaitan dengan ada tidaknya proses pelunakan selama proses
berlangsung.

Batasan kapan suatu proses dikatakan mengalami pengerjaan dingin atau pengerjaan
panas adalah didasarkan pada temperatur rekristalisasi logam selama proses tersebut
berlangsung.

TEKNIK MESIN SV UGM |ILHAM ROMADHONA DAN FRITZ


GULTOM

B. Batas Reduksi Pada Wire Drawing


Sudut reduksi (reduction angle) adalah bagian dari cetakan di mana terjadi reduksi
diameter. Sudut reduksi ini merupakan variabel diesyang sangat penting dalam
proses wire drawing. Pada daerah bantalan (bearing) tidak terjadi reduksi diameter, namun
menambah gesekan pada permukaan kawat. Fungsi utama daerah permukaan bantalan adalah
untuk memastikan diameter dan roundness kawat sesuai dengan targetnya. Tirus belakang
(back relief) pada dies memungkinkan kawat untuk mengembang sedikit, setelah kawat keluar
dari cetakan.
Pada umumnya reduksi penampang untuk setiap tahap dies atau draft tidak lebih dari 30
35%. Untuk mendapatkan diameter akhir dengan total lebih besar dari 35 %, maka diperlukan
reduksi ganda atau bertahap untuk mencapai reduksi keseluruhan. Diameter kawat berkurang
setelah melalui dies tertentu, sedangkan kecepatan dan panjang kawat bertambah. Jadi kecepatan
setiap blok atau capstan harus bertambah besar agar tidak terjadi slip antara kawat dan blok. Hal
ini dapat dicapai bila kecepatan setiap blok atur dengan memasang motor tersendiri. Bila
kecepatan kawat dan kecepatan blok tidak sesuai, maka kawat akan menggeser pada blok
sewaktu berputar. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya gesekan berlebihan yang menimbulkan
panas.

C. Zona Deformasi Proses Wire Drawing


Zona deformasi adalah daerah dimana gaya-gaya yang terlibat pada pembentukan akan
menyebabkan logam berubah bentuk atau dimensi. Gaya pembetukannya merupakan resultan
dari semua gaya yang terlibat pada daerah deformasi. Agar terjadi perubahan bentuk yang
permanen, maka deformasinya harus deformasi plastik, Besar gaya yang diberikan terhadap
logam harus mencapai tegangan alirnya, Gaya yang diberikan ini harus menghasilkan kondisi
luluh pada logam, tetapi tidak menyebabkan logam mengalami perpatahan setempat.
Pada proses wire drawing yang terjadi adalah gaya tarik. Gaya yang menarik wire rod ke luar
dari dies. Gaya ini akan menimbulkan gaya tekan tak langsung akibat reaksi antara wire
roddengan dies. Kombinasi gaya-gaya ini menyebabkan wire rod mengalir sepanjang daerah
deformasi melalui dies berdiameter D2. Perbandingan antara diameter rata-rata, D2 dengan
panjang daerah deformasi, L disebut Delta Factor.

TEKNIK MESIN SV UGM |ILHAM ROMADHONA DAN FRITZ


GULTOM

D. Delta faktor pada wire drawing


Keberhasilan proses wire drawing sangat ditentukan oleh variabel proses penarikannya.
Dua variable yang cukup berperan pada proses wire drawing adalah geometri die yang akan
menentukan zona deformasi dan drafting design yang menentukan besarnya reduksi pada tiaptiap blok reduksi. Variabel-variabe ini dinyatakan dengan Delta factor. Delta Factor merupakan
perbandingan antara diameter rata-rata terhadap panjang daerah deformasi.
Hubungan antara besarnya reduksi tiap dies dan besarnya sudut reduksi dapat dilihat pada
Gambar dibawah.

TEKNIK MESIN SV UGM |ILHAM ROMADHONA DAN FRITZ


GULTOM

Daerah operasi wire drawing terbagi menjadi tiga bagian. Wire drawing yang beroperasi pada
Daerah aman memiliki delta factor antara dua dan tiga. Operasi ini akan menghasilkan produk
tanpa cacat. Operasi akan berjalan lancar. Operasi wire drawing dengan kondisi delta
factor kurang daripada dua berpotensi menimbulkan cacat pada permukan kawat.
Sedangkan wire drawing yang beroperasi dengan delta factor lebih dari tiga cenderung
menghasilkan kawat yang memiliki cacat center burst atau chevron. Cacat chevron dapat
menyebabkan kawat putus saat proses drawing. Putus saat drawing ditandai dengan permukaan
patahan kawat yang membentuk Cup and Cone. Pada penarikan kawat besarnya nilai delta
factor dapat ditentukan dengan persamaan berikut:

= Delta Faktor
D2 = diameter kawat
L = Panjang kontak permukaan kawat dan dies.
= setengah sudut reduksi, radian
r = reduksi area (%)

Sudut reduksi biasa juga disebut sebagai sudut dies. Setengah sudut reduksi () akan
menentukan besarnya geometri daerah deformasi. Namun untuk deformasi yang sederhana
besarnya factor delta dapat dinyatakan dengan delta factor, = D2//L. Pada penarikan kawat
karbon rendah umumnya menggunakan sudut reduksi antara 16 sampai 20 derajat untuk reduksi
20%. Dengan nilai delta factor, biasanya berkisar antara 2 3. Sedangkan untuk penarikan
kawat karbon tinggi biasanya menggunakan sudut reduksi 10 sampai 16 derajat dengan reduksi
per pass atau dies antara16 25 %. Nilai delta factor, yang lebih tinggi akan sesuai untuk
reduksi yang lebih tinggi dan sudut reduksi yang lebih rendah.
Untuk menurunkan delta factor, , dapat dilakukan dengan memperkecil sudut reduksi (),
memperbesar L atau dengan menaikan reduksi r yang akan menurunkan D2. Makin kecil D2/L
makin besar pengaruh gesekan pada antar permukaan wire rod dan dies. Ini artinya akan
menaikan temperatur deformasi.
Besarnya sudut reduksi yang digunakan untuk penarikan agar pemakaian energi deformasi
menjadi minimum dapat ditentukan dengan persamaan berikut:
TEKNIK MESIN SV UGM |ILHAM ROMADHONA DAN FRITZ
GULTOM

A1 = luas penampang kawat awal


A2 = luas penampang kawat keluaran dari dies
u = koefisien gesekan

Nilai optimum delta factor akan menghasilkan energi deformasi yang digunakan selama
penarikan kawat menjadi minimum. Nilai optimum delta factor adalah:

Delta Factor Kurang Daripada Dua

Delta factor optimum untuk proses wire drawing adalah antara 2 sampai 3. Delta
Factor yang terlalu rendah, kurang dari 2 akan menyebabkan luas kontak antar
muka wire rod dan dies menjadi besar, zona deformasi menjadi besar. Ini akan menimbulkan
efek gesekan menjadi besar pula. Pengaruh selanjutnya akan muncul cacat permukaan seperti
goresan (scratch),material pick-up. Terkadang di ikuti dengan munculnya panas yang berlebihan.
Panas berlebihan ini dapat berpengaruh terhadap sifat-sifat metalurgis permukaan material.
Contoh cacat yang terdapat pada permukaan kawat dapat dilihat pada gambar dibawah. Kawat
ini didrawing dengan kondisi delta factor kurang dari dua.

TEKNIK MESIN SV UGM |ILHAM ROMADHONA DAN FRITZ


GULTOM

10

Delta Factor Lebih Daripada Tiga

Delta Factor yang terlalu tinggi, lebih daripada 3 dapat menyebabkan zona deformasi menjadi
kecil. Daerah deformasi menjadi sangat terbatas. Hal ini menyebabkan permukaan kawat
mendapat gaya tekan yang besar, sedangkan bagian tengah kawat akan menerima gaya tarikyang
besar.
Keadaan
ini
memberikan
berkecenderungan
terbentuknya
cacat center
burst,permukaan kawat yang lebih keras dan rendahnya keuletan. Sifat-sifat ini tidak cocok
untuk produk-produk yang dibentuk dengan melibatkan proses puntir seperti pada
ikatan spring atau proses cold heading pada pembuatan kepala baut.
Contoh cacat terjadi pada kepala baud dapat dilihat pada Gambar 3.
di drawingdengan kondisi delta factor lebih daripada tiga.

TEKNIK MESIN SV UGM |ILHAM ROMADHONA DAN FRITZ


GULTOM

Kawat ini

11

Keberhasilan dalam proses wire drawing dipengaruhi oleh:


1.
2.
3.
4.

Material kawat
Geometri dies
Kontak antara kawat dan dies
Spesifikasi produk yang dihasilkan

TEKNIK MESIN SV UGM |ILHAM ROMADHONA DAN FRITZ


GULTOM

12

2. PROSES STRANDING
Setelah diameter conductor dibuat sesuai dengan spesifikasi melalui proses wire drawing,
proses selanjutnya adalah memilin conductor dengan menggunakan stranding machine, maksud
memilin ini adalah menggabungkan conductor yang satu dengan yang lain agar menjadi satu
kesatuan.
Pada proses Stranding, di mana sejumlah elemen elemen pada kabel digabungkan dengan torsi
tertentu pada sumbu inti kabel, dengan gerakan secara simultan sampai kabel berbentuk baru dan
dengan dimater yang lebih besar. Pada Proses Stranding, Kabel yang dililitkan memiliki gaya
yang berimbang pada gerakan pemutaran kabel dan tekanan lentur pada profil kabel, sehingga
kabel masih dalam keadaan belum fleksibel. Tingkat fleksibilitas pada saat kabel setelah di
stranding ditentukan oleh struktur kabel, material, arah pada saat melakukan stranding dan
panjang kabel saat proses stranding.
Dalam pemilinan kawat yang sering kita sebut stranding prosess ada beberapa hal yang harus
kita perhatikan, terutama pada pembuatan stranding bentuk Compact dan sector. Diameter akhir
dan dan kepadatan dari stranding sangat menentukan banyak tidaknya penggunaan bahan. Dalam
hal ini bahan penghantarnya sendiri dan juga bahan isolasi serta pembungkus lainya.

Gambar Bentuk bentuk dalam pemilinan kabel

TEKNIK MESIN SV UGM |ILHAM ROMADHONA DAN FRITZ


GULTOM

13

3. INSULATION
Insulation (isolasi) merupakan proses isolasi pada konductor yang sudah dipilin terlebih
dahulu hingga menjadi sebuah konductor yang dipilin sesuai tipe yang di inginkan. Pada proses
insulation ini Bahan isolasi yang terpilih dileburkan terlebih dahulu dalam tungku pemanas,
kemudian dilewatkan secara bersamaan dengan kabel yang sudah dipilin (proses stranding)

TEKNIK MESIN SV UGM |ILHAM ROMADHONA DAN FRITZ


GULTOM

14

1.Tempat peletakan PVC, 2.Cutting and coiling, 3.Extruder with crosshead die, 4.Cooling unit,
5.Haul-off station

Deskripsi penjelasan untuk gambar diatas :


Isolasi / pelapis untuk kawat dan kabel biasanya dicampur dengan dua atau lebih komponen pada
screw extruder tunggal atau kembar. Isolasi atau bahan yang digunakan untuk melapisi
dilewatkan melalui crosshead die. Kemudian inti kabel atau kabel dilewatkan melalui pipa
khusus dan Polimer dimasukkan pada sisi pipa untuk melapisi inti kabel. Setelah proses
penarikan (kawat sambil dilapisi isolasi), kawat yang sudah terisolasi didinginkan oleh udara
ataupun air yang disemprotkan mengenai isolasi. Kemudian Isolasi tadi dilewatkan ke haul-off
dan dipotong melalui alat pemotong.
Untuk pelapis multilayer, misalnya untuk pembuatan kabel koaksial, proses multistage harus
digunakan. Pertama, inti kabel harus terisolasi dan didinginkan kemudian dilewatkan ke
pencetak khusus berbentuk melingkar dan kemudian Bahan isolasi dianyam sehingga berbentuk
sesuai dengan ukuran kabel. Produk ini kemudia dilapisi dengan isolasi fleksibel dan permanen
pada langkah ekstrusi lain.
Untuk Kabel Tanah, Beberapa lapisan dapat dikerjakan secara bersamaan. Dan juga strip kode
untuk warna kabel dapat menggunakan alat alat khusus selama proses isolasi

A. Contoh Bahan Isolasi


Bahan isolasi yang baik yaitu bahan yang mempunyai kekuatan isolasi tinggi, dielektris
tinggi, tahan terhadap kelembapan, dan asam nan tinggi pula. Selain itu, mempunyai mekanis
TEKNIK MESIN SV UGM |ILHAM ROMADHONA DAN FRITZ
GULTOM

15

nan sesuai. Bahan nan digunakan sebagai isolator konduktor ialah bahan nan terbuat dari PVC
(Polivinilclorida).
Untuk membuat bahan ini lebih fleksibel digunakan bahan pelunak (plasticier) sebagai
pencampurnya, dengan bahan isolator dari PVC mampu menahan suhu sampai 70 derajat celcius,
dan bahkan ada nan mampu menahan suhu mencapai 105 derajat celcius.
Isolasi kabel listrik juga mempunyai selubung nan terbagi dalam beberapa lapisan, sebagai
berikut:
Selubung dari bahan plastik PVC
Bahan nan digunakan merupakan bahan nan sama dengan isolator kabel, tapi di sini
bahan PVC ini diubah menjadi plastik buat selubung kabel. Selubung ini diletakan di luar kabel.
Sehingga membentuk lapisan nan lebih halus dan bersih.
Selubung dari bahan polyurethane dan polymide
Bahan dari polymide dibuat dari bahan asam amine dan asam karbon, sedangkan
polyurethane dibuat dari bahan polysocianates dan polyalcohol. Selubung dari bahan-bahan ini
mampu melindungi dengan baik dari segi prosedur dan daya isolasinya. Kebanyakan kabel nan
berselubung dari bahan ini digunakan pada instalasi pesawat dan juga loka industri lainnya.
Selubung dari bahan karet
Bahan nan digunakan terbuat dari karet. Selubung dari karet ini kebanyakan digunakan
buat kabel nan fleksibel. Sedangkan buat selubung karet nan tahan panas digunakan campuran
silikon.
Selubung dari bahan logam
Bahan nan digunakan terbuat dari logam nan gunanya buat melindungi isolasi dari air,
api, dan loka homogen nan berbahaya. Selubung ini mempunyai campuran timah hitam dan
kebanyakan dipakai pada selubung kabel di pompa bensin. Ada juga nan mengunakan selubung
logam dari seng dan alumunium. Biasanya selubung buat kabel ini digunakan di daerah nan
sering mengalami getaran kuat, seperti pemasangan kabel pada jalur kereta api. Dan kebanyakan
selubung dari bahan logam ini masih dibungkus pelindung dari bahan karet atau PVC buat
mencegah karat.
Selubung dari bahan amour
Bahan ini buat melindungi kabel dari tekanan nan tinggi dan biasanya terbuat dari
beberapa plat baja. Kabel ini biasanya dihubungkan ke ground tanah buat mencegah terjadinya
kebocoran tegangan dampak dari rusaknya selubung.
Isolasi pada kabel bertujuan untuk mencegah terjadinya aliran listrik dari penghantar
beroperasi ke tanah atau penghantar lainnya yang berdekatan. Isolasi yang ideal harus
mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

Mampu menahan stress listrik yang ditimbulkan oleh tegangan bolak-balik


Tahanan jenis yang tinggi
Tidak menghisap air / uap air (non hygroskopis)
Mudah dibengkokkan (fleksibel)
Tidak mudah terbakar

TEKNIK MESIN SV UGM |ILHAM ROMADHONA DAN FRITZ


GULTOM

16

Sanggup menahan tegangan impuls yang tinggi


Dapat bekerja pada suhu rendah atau suhu tinggi

4. PROSES CABLING
Proses cabling adalah proses menggabungkan beberapa kabel (penghantar yang sudah
ada isolasinya). Dalam hal ini proses pemilinan 2 hingga 5 inti kabel berisolasi XLPE atau PVC,
sesuai dengan jenis kabel dan langkah yang di tentukan. Proses ini berlaku bagi semua power
Cable multi core dangan penghantar dari tembaga atau aluminium dengan inti lebih dari satu.

5. INNER SHEATH
Merupakan proses isolasi konductor yang sudah mengalami proses cabling atau
pemilinan 2 inti kabel atau lebih conductor yang sudah digabung menjadi satu. Setelah proses
cabling, dilakukan extrusi kembali, adalah proses bedding. Sama halnya dengan proses
insulation, materialnya pun sangat beragam seperti yang telah di sebutkan sebelumnya

TEKNIK MESIN SV UGM |ILHAM ROMADHONA DAN FRITZ


GULTOM

17

6. ARMORING
Armoring adalah proses pemasangan perisai baja yang dibeliti hingga menutupi
konduktor lebih dari 90%. Setelah itu ditambahkan seal tipe baja untuk melapisi perisai baja
yang berbentuk flat tersebut

7. OUTER SHEATH
Outher sheath adalah proses final pada proses pembuatan kabel. Outher sheath adalah
proses pengisolasian yang terakhir, setelah proses ini selesai maka proses pembuatan kabel
sudah selesai.
TEKNIK MESIN SV UGM |ILHAM ROMADHONA DAN FRITZ
GULTOM

18

Penutup
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai tugas Teknologi Mekanik III tentang Wire
Drawing yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan
dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang
ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca berkenan memberikan kritik dan saran yang
membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di
kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya
juga para pembaca pada umumnya.

TEKNIK MESIN SV UGM |ILHAM ROMADHONA DAN FRITZ


GULTOM

19

Daftar Pustaka
1. Groover, P., Mikell. Fundamentals of Modern Manufacturing: Materials, Processes, and
Systems, Fourth Edition, John Wiley & Sons, Inc., 2007.
2. Thomas Maxwell, 2001, Maintenance, Design, Measuring And Pressure Lubrication Of
The Wire Drawing Die,Wire Journal International, Vol. 34, Number 5. May.
3. Pearce, R., 1991, Sheet Metal Forming, The Adam Higler Series on New
Manufacturing processes and Materials. New Jersey.
4. Hosford, W. F., 1993, Metal Forming, Mechanics & Metallurgy, Second edition,
Printice-Hill, Inc., New Jersey.
5. Biz, Ardra. (2011). Pabrik Pembuatan Kawat. Tahapan Produksi Kawat Dari Wire Rod.
Tersedia
:
http://ardra.biz/sain-teknologi/metalurgi/pembentukan-logam-metalforming/pabrik-pembuatan-kawat-tahapan-produksi-wire-rod-manjadi-kawat/
[22 Juni 2015]
6. Khumairah, Mastura. Jenis Jenis Kabel Listrik.
Tersedia: http://elektro-unimal.blogspot.com/2013/06/jenis-jenis-kabel-listrik.html
7. https://id.wikipedia.org/wiki/Kabel_listrik

TEKNIK MESIN SV UGM |ILHAM ROMADHONA DAN FRITZ


GULTOM

20