Anda di halaman 1dari 8

KEBIJAKAN INSENTIF FISKAL UNTUK MENDORONG

PENGEMBANGAN COAL BED METHANE SEBAGAI SUMBER ENERGI


BARU DI INDONESIA
(FISCAL INCENTIVE POLICY TO ENCOURAGE THE DEVELOPMENT OF
COAL BED METHANE AS A NEW ENERGY IN INDONESIA)
Hidayatullah
1. Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya, Jl. Palembang
Prabumulih Km. 32 Ogan Ilir, 30662, Indonesia
E-mail: hidayatullah_12.1993@yahoo.com
ABSTRAK
Dengan semakin menurunnya kemungkinan untuk mendapatkan sumber energi alternatif dalam waktu dekat,
kesenjangan yang terus melebar antara permintaan dan penawaran serta penurunan produksi bahan bakar fosil
konvensional, menyebabkan kebutuhan terhadap sumber-sumber gas non-konvensional, salah satunya Coal Bed
Methane (CBM) meningkat dengan pesat di seluruh dunia. Volume gas non-konvensional yang besar dan potensinya
dalam jangka panjang, ditambah dengan harga jual gas yang menggiurkan serta minat yang tidak bisa diprediksi
dalam pasar energi dunia, membawa gas non-konvensional ke garis terdepan yang menentukan sumber energi masa
depan. Kebijakan energi nasional Indonesia untuk mengamankan pasokan energi bagi kebutuhan domestik
mentargetkan pengurangan konsumsi minyak mentah Indonesia hingga 20%, dan mendorong penggunaan gas alam
(termasuk CBM) hingga 30% dan batubara hingga 33% pada tahun 2025. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Indonesia memiliki potensi sumber daya CBM hingga 450 trillion
cubic feet yang tersebar di sebelas areal cekungan batubara di berbagai lokasi di Indonesia, terutama di Sumatera dan
Kalimantan. CBM diharapkan dapat memasok 1-2% dari total kebutuhan energi pada tahun 2025. Dalam rangka
percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi di Indonesia melalui pengembangan CBM, perlu dukungan
kebijakan berupa insentif pajak dan fiskal yang menarik bagi investasi CBM untuk membuat investor tertarik
menanamkan modalnya. Selain meningkatkan cadangan gas, pengusahaan CBM juga dapat mengembangkan
pemanfaatan sumber energi ramah lingkungan serta memperluas lapangan kerja.
Kata kunci: insentif fiskal, energi, coal bed methane

ABSTRACT
With the declining chances to get the alternative energy sources in the near future, as well as a decrease in the
production of conventional fossil fuels, causing a need for sources of non-conventional gas, Coal Bed Methane (CBM),
one of which is rising rapidly around the world. The volume of non-conventional gas and its large potential in the long
term with an enticing gas selling price as well as the interest that cannot be predicted in the world energy market,
brought non-conventional gas to the forefront that determine future sources of energy. Indonesia's national energy
policy to secure energy supplies for domestic needs is targeting Indonesia's crude oil consumption reduction up to 20%,
and encourage the use of natural gas (including CBM) by 30% and coal up to 33% in 2025. Indonesia has the CBM
resources potential up to 450 trillion cubic feet which spread over various locations in Indonesia, especially in Sumatra
and Kalimantan. CBM is expected to supply 1-2% of total energy needs by 2025. In order to accelerate and expand
economic development in Indonesia through the development of CBM, we need policy support in the form of tax and
fiscal incentives to attract the investment of CBM.
Keywords: fiscal incentive, energy, coal bed methane

1. PENDAHULUAN
Dengan semakin menurunnya kemungkinan untuk mendapatkan sumber energi alternatif dalam waktu dekat,
kesenjangan yang terus melebar antara permintaan dan penawaran serta penurunan produksi bahan bakar fosil
konvensional, menyebabkan kebutuhan terhadap sumber-sumber gas non-konvensional (seperti tight gas, coal bed
methane (CBM), dan gas hidrat) meningkat dengan pesat di seluruh dunia. Volume gas non-konvensional yang besar
dan potensinya dalam jangka panjang, ditambah dengan harga jual gas yang menggiurkan serta minat yang tidak
bisa diprediksi dalam pasar energi dunia, membawa gas non-konvensional ke garis terdepan yang menentukan
sumber energi masa depan. Dengan keberhasilan pemasaran gas alam sebagai bahan bakar ramah lingkungan,
permintaan gas meningkat tajam di awal abad ke-21. Karena dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan relatif
kecil, harga gas mungkin akan bisa melebihi harga bahan bakar fosil. Oleh karena itu, peningkatan persentase
permintaan energi dunia yang signifikan akan dapat dipenuhi oleh gas alam. Beberapa ahli meyakini bahwa
konsumsi gas mungkin dapat melebihi konsumsi minyak bumi sebelum tahun 2025. Sumber-sumber gas nonkonvensional akan memainkan peranan penting dalam peta energi internasional.
Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan kebijakan energi nasional sebagai blue print bagi penggunaan
berbagai macam sumber energi pada tahun 2025 untuk mengamankan pasokan energi bagi kebutuhan domestik.
Kebijakan tersebut ditujukan untuk mengurangi konsumsi minyak mentah Indonesia hingga 20%, dan mendorong
penggunaan gas alam hingga 30% dan batubara hingga 33% pada tahun 2025.
Kebijakan tersebut mendorong penggunaan sumber-sumber energi alternatif bagi kebutuhan domestik
sebanyak 17%, yaitu masing-masing 5% untuk biofuel dan geothermal, 5% untuk sumber energi baru dan
terbarukan.
Salah satu sumber energi baru adalah Coal Bed Methane (CBM). CBM adalah gas alam yang terjebak dalam
cadangan batubara. Gas metana ini kerap dinilai sebagai masalah bagi operasi penambangan batubara yaitu dapat
menimbulkan ledakan pada pertambangan. Perkembangan teknologi menunjukkan bahwa CBM justru dapat
dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif yang terbaru serta bahan bakar ramah lingkungan, dimana
mengandung lebih dari 90% metana.
Rumusan masalah yang perlu dibahas diantaranya adalah :
1. Bagaimana cara mengembangkan potensi CBM di Indonesia agar bisa dijadikan sebagai sumber daya energi gas
non-konvensional di masa depan.
2. Kebijakan insentif fiskal apa saja yang perlu diterapkan oleh pemerintah Indonesia untuk mewujudkan
pengembangan potensi CBM di Indonesia.
3. Pengaruh kebijakan insentif fiskal terhadap pengembangan CBM di Indonesia.
Tujuan penulisan ini adalah :
1. Mengembangkan potensi CBM di Indonesia sebagai sumber daya energi di masa depan.
2. Menerapkan kebijakan insentif fiskal dalam rangka mewujudkan pengembangan CBM di Indonesia.
3. Menjelaskan bentuk insentif fiskal yang diterapkan dan hubungannya terhadap pengembangan CBM di
Indonesia.

2. METODE PENELITIAN
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan deskriptif, karena penelitian ini bertujuan
untuk mendeskripsikan kondisi dimana di masa depan akan dibutuhkan suatu sumber energi alternatif yang baru,
dikarenakan faktor-faktor seperti akan meningkatnya konsumsi gas terhadap minyak bumi dan batubara dikarenakan
penggunaannya yang relatif lebih ramah lingkungan bila dibandingkan minyak bumi ataupun batubara. Kedua jenis
sumber daya tersebut merupakan bahan bakar yang cukup sering digunakan saat ini, padahal emisi atau gas buang
yang ditimbulkannya kerap kali membawa pengaruh buruk bagi lingkungan. Disamping produk yang dihasilkan,
dalam tahap eksplorasi maupun eksploitasi minyak bumi dan batubara juga akan membawa pengaruh buruk bagi
lingkungan jika metode yang diterapkan tidak benar.
Data maupun deskripsi dari tulisan diambil dari artikel-artikel yang terdapat di internet yang digabungkan
kemudian disusun sedemikian rupa untuk menunjang rumusan masalah dari judul penulisan ini. Objek yang diteliti

adalah bagaimana kebijakan insentif fiskal mempengaruhi pengembangan CBM sebagai sumber energi baru di
Indonesia, pertimbangan perlunya insentif fiskal dalam pengembangan CBM.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


Upaya pengembangan eksplorasi dan eksploitasi Coal Bed Methane (CBM) yang lebih komprehensif dengan
penerapan teknologi yang tepat dapat dilakukan antara lain melalui pemberian investasi tambahan untuk
pengembangan pemanfaatan teknologi untuk peningkatan kapasitas CBM. Di sisi regulasi, untuk mendukung
pengembangan CBM perlu dilakukan percepatan revisi PP No. 62 Tahun 2008 tentang Perubahan atas PP No.1
Tahun 2007 tentang fasilitas pajak penghasilan untuk penanaman modal di bidang tertentu dan atau di daerah
tertentu. Revisi dimaksudkan untuk dapat menetapkan sub sektor baru sesuai prioritas yang layak untuk menerima
tax allowance (seperti untuk pajak gas coal bed methane yang IRRnya kurang menarik jika tanpa insentif).
3.1. Potensi Pengembangan CBM di Indonesia
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Ditjen Migas, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral,
Indonesia memiliki potensi sumber daya CBM hingga 450 Trillion Cubic Feet (TCF). Cadangan CBM sebesar
itu tersebar pada sebelas areal cekungan (basin) batubara di berbagai lokasi di Indonesia, baik di Sumatera,
Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Kesebelas basin lokasi CBM itu adalah Sumatera Selatan (183 TCF), Barito
(101,6 TCF), Kutai (89,4 TCF) dan Sumatera Tengah (52,5 TCF) untuk kategori high prospective. Basin
Tarakan Utara (17,5 TCF), Berau (8,4 TCF), Ombilin (0,5 TCF), Pasir/Asam-Asam (3,0 TCF) dan Jatibarang
(0,8 TCF) memiliki kategori moderate prospective. Sedangkan basin Sulawesi (2,0 TCF) dan Bengkulu (3,6
TCF) berkategori low prospective.
Batubara sebagai sumber dan sekaligus reservoir CBM memiliki karakter unik dan berbeda di masingmasing cekungan/blok, oleh karenanya diperlukan penelitian yang terarah dan berkelanjutan dalam rangka
pemahaman secara menyeluruh terhadap potensi CBM yang ada di Indonesia. Yang untuk selanjutnya
dituangkan dalam bentuk database potensi CBM di masing-masing cekungan batubara di Indonesia, data
tersebut selanjutnya sebagai data dasar bagi pengembangan model eksplorasi dan strategi pengambilan
keputusan pemerintah di bidang energi.
Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi CBM ke dua terbesar di dunia, dengan perkiraan
cadangan sebesar 453 TCF. Sampai saat ini, perkembangan bisnis CBM di Indonesia dapat dikatakan masih
dalam tahap inisiasi. Sebagai bisnis baru di bidang energi fosil, khususnya di Indonesia, bisnis CBM
mengandung banyak resiko. Paper ini akan mengangkat resiko dari sisi regulasi dan implikasinya terhadap
penurunan produksi migas Indonesia di masa mendatang.
Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, sebagai
pembina kegiatan usaha di bidang minyak dan gas bumi, menetapkan peta jalan (road map) pengembangan gas
metana batubara (CBM) di Indonesia hingga tahun 2025. Dalam road map tersebut direncanakan bahwa pada
tahun 2011 produksi CBM sudah dapat dipergunakan untuk kelistrikan. Perkiraan produksi yang diharapkan
terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dengan produksi rata-rata per sumur sebesar 250 MSCFD.

Gambar 1. Peta Sebaran CBM di Indonesia


(Sumber : Ditjen Migas)

3.2. Perlunya Insentif Fiskal dalam Pengembangan CBM


Dalam rangka percepatan proyek CBM dimaksud, perlu dukungan kebijakan berupa insentif pajak dan
fiskal yang menarik bagi investasi CBM. Insentif fiskal untuk pengembangan CBM bertujuan untuk membuat
investor tertarik menanamkan modalnya. Hal ini diperlukan mengingat pengembangan CBM selain bertujuan
untuk meningkatkan cadangan gas, juga mengembangkan pemanfaatan sumber energi ramah lingkungan serta
memperluas lapangan kerja.
Beberapa pertimbangan perlunya insentif fiskal untuk pengembangan CBM adalah sebagai berikut:
- CBM adalah sumber energi baru
Sumber energi baru adalah sumber energi yang dapat dihasilkan oleh teknologi baru baik yang berasal
dari sumber energi terbarukan maupun sumber energi tak terbarukan, dimana salah satu diantaranya adalah
gas metana batubara (coal bed methane). Pengusahaan CBM mulai dikembangkan di Amerika Serikat pada
dekade 1980-an. Di Indonesia, pengembangan CBM masih dalam tahap uji coba dan belum dapat
berproduksi secara komersial.
Sesuai dengan amanat undang-undang, penyediaan energi dari sumber energi baru dan sumber energi
terbarukan dapat memperoleh kemudahan dan/atau insentif dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah
sesuai dengan kewenangannya untuk jangka waktu tertentu hingga tercapai nilai keekonomiannya. Yang
dimaksud dengan nilai keekonomian adalah nilai yang terbentuk dari keseimbangan antara pengelolaan
permintaan dan penawaran. Insentif dapat berupa bantuan permodalan, perpajakan, dan fiskal. Kemudahan
dapat berupa penyederhanaan prosedur perizinan dan persyaratan pengusahaan.
- Pengembangan CBM memerlukan biaya yang tinggi pada tahap awal
Dibandingkan dengan gas alam konvensional, biaya untuk pengembangan CBM, terutama pada tahap
awal, sangat tinggi. Oleh karena itu, proyek-proyek pengembangan CBM tersebut membutuhkan kebijakankebijakan yang mendukung seperti subsidi dan pembebasan pajak untuk mencapai skala ekonomisnya. Hal ini
sudah efektif dan berhasil dijalankan dalam membangun industri CBM di Amerika Serikat, Kanada dan
Australia.
- Periode produksi CBM lebih lambat
Dibandingkan gas alam, CBM memiliki periode produksi lebih lambat. Pada umumnya,
pengembangan CBM memerlukan waktu sekitar 3 tahun untuk eksplorasi, dilanjutkan dengan tahapan
piloting and multi-piloting selama kurang lebih 3 tahun. CBM baru dapat diproduksi pada tahun ke-7.
Umumnya produksi terbesar atau puncak produksi terjadi pada periode tahun produksi ke-2 hingga ke-7.
Sedangkan lama periode produksi berkisar antara 10 hingga 20 tahun.
- CBM memberi manfaat bagi penambangan batubara
Proyek CBM memberikan manfaat guna perluasan penerapan penambangan bawah tanah untuk
batubara di Indonesia. Apabila CBM yang ada pada cekungan-cekungan batubara diambil, maka
pelaksanaan teknik tambang dalam atau tambang bawah tanah (underground mining) akan lebih aman.
Selama ini keberadaan gas methane dalam cekungan-cekungan batubara merupakan salah satu
masalah dalam pelaksanaan penambangan underground mining. Konsentrasi gas methane yang berada diatas
4% sangat berpotensi menimbulkan ledakan, seperti yang terjadi di Sawah Lunto pada 16 Juni 2010.
Biasanya CBM akan ditemukan pada kedalaman cekungan 500 600 meter. Pada kedalaman ini, tentu
batubara tidak bisa ditambang dengan metode open pit, melainkan harus dengan metode underground.
Kalau CBM-nya sudah dimanfaatkan maka pelaksanaan underground mining untuk batubara akan lebih
aman.
3.3. Insentif Perpajakan untuk Kegiatan Usaha Hulu Migas
Dasar hukum mengenai CBM di Indonesia untuk pertama kali diatur dalam Keputusan Menteri
Pertambangan dan Energi Nomor 1669 Tahun 1998 Pasal 2 yang menyatakan bahwa pengaturan hukum

Coal Bed Methane tunduk dan berlaku peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan minyak dan
gas bumi. Ketentuan tersebut dipertegas kembali dengan terbitnya Peraturan Menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral (ESDM) No. 36 Tahun 2008, dimana pada Pasal 3 ayat 1 diatur bahwa Pengusahaan Gas
Metana Batubara tunduk dan berlaku ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Kegiatan Usaha
Minyak dan Gas Bumi.
Fasilitas perpajakan untuk perusahaan-perusahaan migas diberlakukan dengan menganut prinsip lex
specialist, yaitu ketentuan yang diatur dalam kontrak bagi hasil (production sharing contract) bersifat
mengikat.
Kontrak bagi hasil migas terbagi ke dalam 2 kelompok, yaitu kontrak nailed down dan kontrak yang
tidak nailed down. Untuk kontrak yang nailed down, ketentuan perpajakan yang diatur dalam kontrak tetap
berlaku sepanjang masa kontrak dan tidak berubah meskipun terjadi perubahan peraturan di bidang perpajakan.
Kontrak yang tidak nailed down berlaku sebaliknya.
3.4. Hal-Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam Pemberian Insentif Fiskal bagi Pengusahaan CBM
Terdapat beberapa alternatif bentuk insentif fiskal bagi pengusahaan CBM di Indonesia. Mengingat
bahwa pengusahaan CBM menganut prinsip yang sama dengan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi
sebagaimana telah dijelaskan di atas, bentuk insentif fiskal yang mungkin untuk diberikan terutama terkait
dengan aspek-aspek dalam kontrak bagi hasil (production sharing contract) antara kontraktor dengan
pemerintah. Beberapa alternatif insentif fiskal tersebut antara lain:
1. Shareable FTP
2. Investment Credit
3. Tax Holiday
Pemberian insentif fiskal bagi pengembangan CBM harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar tujuan
diberikannya insentif dapat tercapai. Pada prinsipnya, dengan memberikan insentif, pemerintah melepaskan
kesempatan untuk mengumpulkan pendapatan dalam bentuk pajak dengan harapan agar industri dapat
berkembang pesat dan memberikan multiplier effect yang jauh lebih besar dari pengorbanan yang diberikan.
Karena itu, dalam pemberian insentif fiskal tersebut di atas, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan
sebagai berikut.
- Pemberian Shareable FTP melalui amandemen kontrak yang sebenarnya telah disepakati sebelumnya
Kontrak pengusahaan CBM di Indonesia dilaksanakan berdasarkan kontrak yang disepakati dan
ditandatangani bersama oleh pemerintah Indonesia (dalam hal ini BPMIGAS) dan kontraktor. Kontrak
tersebut memuat ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang operasionalisasi proyek dan bersifat mengikat
terhadap pihak-pihak yang berkontrak. Di dalam kontrak PSC tersebut diatur tentang FTP yaitu pengurangan
produksi untuk menjamin bagian minimum dari produksi CBM bagi pemerintah.
Dalam kontrak-kontrak yang sudah ditandatangani hingga saat ini, FTP seluruhnya menjadi bagian
pemerintah. Perubahan ketentuan mengenai FTP dari non-shareable menjadi shareable (FTP dibagi antara
pemerintah dan kontraktor) hanya dapat dilakukan melalui mekanisme amandemen kontrak atas persetujuan
pihak-pihak yang berkontrak. Konsekuensi dari amandemen kontrak adalah dibatalkannya kesepakatan
terdahulu dan membuat kesepakatan baru.
Hal yang perlu dipertimbangkan dalam amandemen kontrak tersebut adalah potensi munculnya post
bidding issue (permasalahan yang timbul setelah dilakukannya lelang untuk menentukan pemenang tender
kontrak). Pada saat suatu kontrak pengusahaan CBM ditawarkan untuk dilelang kepada kontraktorkontraktor yang berminat, pemenang tender bersedia menyetujui ketentuan-ketentuan dalam kontrak yang
ditawarkan. Apabila ternyata setelah kontrak berjalan terjadi perubahan terhadap kontrak tersebut, maka
pihak-pihak yang dinyatakan kalah dalam tender akan berkeberatan atas perubahan kontrak tersebut karena
jika seandainya ketentuan yang berubah tersebut diberitahukan pada saat lelang, penawaran mereka mungkin
akan berbeda dan mungkin saja mereka yang akan menjadi pemenang tender. Dengan kata lain, amandemen

kontrak setelah kontrak berjalan menimbulkan ketidakadilan bagi peserta tender yang kalah dan berpotensi
menimbulkan legal dispute.
- Pemberian Investment Credit harus tunduk pada ketentuan dalam PP 79 tahun 2010
Peraturan Pemerintah (PP) No. 79 Tahun 2010 mengatur tentang Biaya Operasi yang Dapat
Dikembalikan dan Perlakuan Pajak Penghasilan di Bidang Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. Mengingat
ketentuan dalam Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1669 Tahun 1998 Pasal 2 yang
mengatur bahwa Pengaturan hukum Coal Bed Methane tunduk dan berlaku peraturan perundangundangan di bidang pertambangan minyak dan gas bumi, maka ketentuan dalam PP di atas juga berlaku
terhadap pengusahaan CBM.
Dalam PP tersebut di atas diatur tentang investment credit (insentif investasi) sebagai tambahan
pengembalian biaya modal dalam jumlah tertentu, yang berkaitan langsung dengan fasilitas produksi, yang
diberikan sebagai insentif untuk pengembangan lapangan minyak dan/atau gas bumi tertentu. Dalam skema
PSC, insentif investasi, bersama dengan FTP dan cost recovery, merupakan pengurang terhadap hasil
produksi yang tersedia untuk dibagi (lifting) sehingga diperoleh equity to be split.
Untuk mendorong pengembangan wilayah kerja, Menteri ESDM dapat menetapkan bentuk dan besar
insentif investasi (sebagaimana diatur dalam pasal 10 PP No. 79 Tahun 2010). Lebih lanjut, dalam pasal 24
ayat 5 PP tersebut diatur bahwa insentif investasi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, dikonversi
menjadi gas bumi, dengan harga yang disepakati dalam kontrak penjualan gas bumi (dalam konteks CBM).
Pemberian insentif dalam bentuk investment credit dimungkinkan untuk diberikan dengan
menerbitkan Peraturan Menteri ESDM berdasarkan ketentuan dalam PP No. 79 tahun 2010 tersebut di atas.
Namun demikian, mengingat hingga saat ini belum ada pemberian insentif dalam bentuk investment credit,
maka Kementerian ESDM perlu untuk melakukan kajian terhadap usulan tersebut sebelum menerbitkan
Peraturan Menteri dimaksud.
- Pemberian insentif Tax Holiday memerlukan PMK perubahan PMK 130 tahun 2011
Ketentuan mengenai tax holiday diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 130/PMK.011/2011
tanggal 15 Agustus 2011 tentang Pemberian Fasilitas Pembebasan atau Pengurangan Pajak Penghasilan
Badan. Dalam PMK tersebut diatur bahwa kepada Wajib Pajak badan dapat diberikan fasilitas pembebasan
atau pengurangan Pajak Penghasilan badan (pasal 2 ayat 1). Pembebasan Pajak Penghasilan badan tersebut
dapat diberikan untuk jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) Tahun Pajak dan paling singkat 5 (lima) Tahun
Pajak, terhitung sejak Tahun Pajak dimulainya produksi komersial. Setelah berakhirnya pemberian fasilitas
pembebasan tersebut, Wajib Pajak diberikan pengurangan Pajak Penghasilan badan sebesar 50% (lima puluh
persen) dari Pajak Penghasilan terutang selama 2 (dua) Tahun Pajak. Namun demikian, dengan
mempertimbangkan kepentingan mempertahankan daya saing industri nasional dan nilai strategis dari
kegiatan usaha tertentu, Menteri Keuangan dapat memberikan fasilitas pembebasan atau pengurangan Pajak
Penghasilan badan dengan jangka waktu melebihi jangka waktu sebagaimana tersebut di atas.
- Pemberian insentif fiskal tidak menjamin mempercepat perkembangan pengusahaan CBM tanpa dibarengi
pemberian solusi atas permasalahan lainnya terutama permasalahan operasional
Pengusahaan CBM di Indonesia, seperti halnya industri pengusahaan sumber energi pada umumnya,
melibatkan banyak pihak dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Demikian pula aspek-aspek dalam
pengusahaan CBM juga saling terkait satu sama lain. Keekonomian pengusahaan CBM tidak terlepas dari
pengaruh aspek-aspek lain dalam industri tersebut, seperti aspek operasional, aspek lingkungan, aspek
pembebasan lahan, aspek hukum, aspek politik, dan lain sebagainya.
Komitmen pemerintah untuk mempercepat perkembangan pengusahaan CBM di Indonesia harus
didukung oleh seluruh pihak yang terlibat dalam industri pengusahaan CBM tersebut. Insentif fiskal hanya
salah satu instrumen yang berpotensi untuk meningkatkan keekonomian pengusahaan CBM di Indonesia.
Namun demikian, pemberian insentif fiskal semata tidak akan mampu untuk mendorong percepatan
pengembangan CBM apabila hambatan-hambatan tidak diatasi dengan tuntas dan komprehensif.

Pengembangan CBM mengalami berbagai permasalahan operasional di lapangan yang tentu saja
menghambat pengembangan CBM. Permasalahan tersebut antara lain tumpang tindih lahan, proses perijinan
dan perangkat hukum terkait lingkungan hidup. Permasalahan terkait tumpang tindih lahan terjadi karena
penggunaan lahan yang sama untuk eksploitasi batubara dan CBM (lokasi pemboran dan fasilitas produksi),
dalam hal PKP2B/KP Batubara terlebih dahulu melakukan eksploitasi di lahan tersebut.
Pemberian insentif fiskal yang tidak didukung dengan solusi yang komprehensif terhadap kendalakendala operasional di lapangan tidak akan memberikan win-win solution melainkan win-lose solution
karena insentif yang diberikan akan dinikmati oleh kontraktor namun hasil yang diharapkan dalam bentuk
percepatan pengembangan CBM tidak terwujud.
Dengan adanya kebijakan pemberian insentif fiskal dari pemerintah untuk pengusahaan CBM di Indonesia
maka pengembangan CBM di masa depan bisa berjalan lebih lancar, mengingat CBM merupakan sumber daya
energi baru yang nantinya bisa mendukung ataupun menggantikan sumber energi yang saat ini masih digunakan,
yaitu batubara dan minyak bumi. Disamping proses eksplorasi, eksploitasi, maupun produksi CBM membutuhkan
biaya yang tidak sedikit, CBM juga memberikan manfaat bagi penambangan batubara, khususnya penambangan
batubara bawah tanah (underground mining). Jika gas metana yang berada pada matriks lapisan batubara (yang
berada jauh di bawah permukaan) diambil dalam bentuk coal bed methane maka akan mengurangi resiko kecelakaan
yang ditimbulkan melalui penambangan bawah tanah (underground mining) sehingga kecelakaan seperti kebakaran
tambang bawah tanah akibat gas metana dapat dihindari.
Melalui pertimbangan-pertimbangan tersebut dalam mengupayakan pengembangan CBM di Indonesia maka
diharapkan pemerintah akan menerapkan kebijakan insentif fiskal sehingga para investor akan ikut menanamkan
modal dalam pengusahaan Coal Bed Methane di Indonesia.

4. KESIMPULAN
Permintaan terhadap sumber-sumber energi yang terus meningkat di satu sisi serta produksi bahan bakar fosil
konvensional yang terus mengalami penurunan di sisi yang lain telah mendorong meningkatnya kebutuhan terhadap
sumber-sumber gas non-konvensional (seperti tight gas, coal bed methane (CBM), dan gas hidrat). Konsumsi gas
diperkirakan akan melampaui konsumsi minyak bumi sebelum tahun 2025. Kebijakan energi nasional Indonesia
untuk mengamankan pasokan energi bagi kebutuhan domestik mentargetkan pengurangan konsumsi minyak mentah
Indonesia hingga 20%, dan mendorong penggunaan gas alam (termasuk CBM) hingga 30% dan batubara hingga
33% pada tahun 2025.
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Kementerian ESDM, Indonesia memiliki potensi sumber daya CBM
hingga 450 Trillion Cubic Feet (TCF) yang tersebar di sebelas areal cekungan (basin) batubara di berbagai lokasi di
Indonesia, terutama di Sumatera dan Kalimantan. CBM diharapkan dapat memasok 1-2% dari total kebutuhan
energi pada tahun 2025.
Dalam rangka pengusahaan pengembangan CBM, perlu dukungan kebijakan berupa insentif pajak dan fiskal
yang menarik bagi investasi CBM untuk membuat investor tertarik menanamkan modalnya. Selain meningkatkan
cadangan gas, pengusahaan CBM juga dapat mengembangkan pemanfaatan sumber energi ramah lingkungan serta
memperluas lapangan kerja.
Pengaturan hukum Coal Bed Methane tunduk dan berlaku peraturan perundang-undangan di bidang
pertambangan minyak dan gas bumi. Insentif perpajakan yang diberikan terhadap kegiatan usaha hulu minyak dan
gas bumi antara lain pembebasan bea masuk, Pajak Pertambahan Nilai ditanggung Pemerintah, serta biaya operasi
yang dapat dikembalikan dalam penghitungan bagi hasil dan pajak penghasilan.
Terdapat beberapa alternatif bentuk insentif fiskal bagi pengusahaan CBM di Indonesia. Bentuk insentif fiskal
yang mungkin untuk diberikan terutama terkait dengan aspek-aspek dalam kontrak bagi hasil (production sharing
contract) antara kontraktor dengan pemerintah, antara lain Shareable FTP, Investment Credit dan Tax Holiday.
Namun demikian, insentif fiskal bukan satu-satunya solusi untuk mendorong pengembangan CBM di Indonesia.
Permasalahan terkait teknis dan operasional harus diselesaikan agar tidak menghambat pengembangan CBM.

DAFTAR PUSTAKA
[1]

Insentif Fiskal untuk Mendorong Pengembangan Coal Bed Methane sebagai Sumber Energi Baru di Indonesia
(2012).
(http://eddysitepu.wordpress.com/2012/11/12/insentif-fiskal-untuk-mendorong-pengembangan-coalbedmethane-sebagai-sumber-energi-baru-di-indonesia/), diakses Mei 2014
[2] Indonesia, Undang-Undang Nomor: 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas, LNRI Tahun 2001 Nomor: 136
TLNRI Nomor: 4152.
[3] ________, Undang-Undang Nomor: 30 Tahun 2007 tentang Energi, LNRI Tahun 2007 Nomor: 96 TLNRI Nomor:
4746.
[4] ________, Peraturan Pemerintah Nomor 62 tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 1
Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu
dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu.
[5] ________, Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi.
[6] ________, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional.
[7] ________, Peraturan Pemerintah No. 79 Tahun 2010 tentang Biaya Operasi yang Dapat Dikembalikan dan
Perlakuan Pajak Penghasilan di Bidang Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi.
[8] ________, Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor: 36 tahun 2008 tentang Pengusahaan Gas
Metana Batubara.
[9] ________, Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 177/PMK.011/2007 tentang Pembebasan Bea Masuk atas Impor
Barang Untuk Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi serta Panas Bumi.
[10] _______, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 178/PMK.011/2007 tentang Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung
Pemerintah atas Impor Barang untuk Kegiatan Usaha Eksplorasi Hulu Minyak dan Gas Bumi serta Panas
Bumi.
[11] ________, Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1669 Tahun 1998.