Anda di halaman 1dari 5

Pengertian Teknik BiblioTerapi

Bibliotherapi adalah sebuah terapi ekspresif yang didalamnya terdapat


hubungan individu dengan isi / intisari buku dan puisi dan tulisan lain
sebagai sebuah terapi. Bibliotherapy selalu dikombinasikan dengan kegiatan
menulis bagi peserta di dalam proses konseling. Penggunaan terapi pustaka
sebagai salah satu alternatif terapi dalam menangani berbagai permasalahan pada
remaja perlu dipertimbangkan. Hal ini disebabkan karena bibliotherapi dapat
merangsang remaja untuk berfikir, mudah, murah, dan dapat dilakukan kapan
saja serta melibatkan kemandirian dan partisipasi remaja sendiri secara penuh
sehingga efektivitas hasilnya cukup baik (Eliasa,2007).
Tujuan Teknik Biblioterapi
Tujuan bibliotherapy (http://shifa-idha-salsabila.blogspot.com.22 April 2015 )
pada dasarnya sama dengan tujuan bimbingan yaitu:

Membantu para anggota agar dapat membantu dirinya sendiri, Menyajikan


informasi yang dibutuhkan atau sesuai dengan nilai karakter yang ingin mereka
bangun.

Membentuk tingkah lakunya secara umum, dengan mngetahui informasi yang


ada dalam bahan bacaan, mereka dapat secara khusus membentuk sikap,
persepsi, mengubah prasangka sosial dan perubahan Iainnya.

Mendampingi seseorang yang tengah mengalami emosional yang berkecamuk


karena permasalahan yang dihadapi dengan menyediakan bahan-bahan bacaan
dengan topik yang tepat dan mengandung nilai-nilai karakter yang ingin
dibangun pada din individu yang bersangkutan.

Sebagai

stimulasi

pikiran

yang

memungkinkan

para

anggota

dapat

menyilangkan gagasan-gagasan sehingga kesadarannya menjadi meningkat.


Jenis-Jenis Teknik Biblioterapi.

Tipe bibliotherapi menurut Scechtman (2009) ada 2, yaitu:


Affective bibliotherapi
Bibliotherapi Afektif menggunakan fiksi dan literatur berkualitas tinggi untuk
membantu pembaca terhubung ke pengalaman emosional dan situasi manusia
melalui proses identifikasi.
Nilai positif dari bibliotherapy afektif adalah pemahaman diri yang tinggi,
menyadari bahwa masalah yang dihadapi adalah universal dan unik.
Pembaca mempelajari bahwa mereka dihubungkan dengan beberapa orang
dan budaya lain yang memberikan kenyamanan dan melegitimasi perasaan
dan pikiran mereka (Gladding,2005). Dengan mendengarkan atau membaca
cerita-cerita orang lainsebagai metode pengobatan memenuhi kebutuhan
dasar

manusia

untuk menemukan

kebenaran,

untuk

memahami,

untuk

menemukan suatu penjelasan untuk pengalaman yang menyakitkan, dan


bahkan untuk menantang ketidakadilan.
Kognitif bibliotherapy
Bibliotherapy kognitif telah dilakukan pada awal abad ke-20, dengan
psikiater dan pustakawan bekerja sama dalam upaya untuk membantu klien
dengan masalah psikologis.
Prosedur Teknik Biblioterapi
Oslen (2006) menyarankan lima tahap penerapan biblioterapi, baik dilakukan
secara perorangan maupun kelompok:
1.
2.
3.
4.
5.

Awali dengan motivasi.


Berikan waktu yang cukup.
Lakukan inkubasi.
Tindak lanjut..
Evaluasi.

Aplikasi Teknik Biblioterapi


Identifikasi kebutuhan-kebutuhan konseli.

Tugas ini dilakukan melalui pengamatan, berbincang dengan orangtua, penugasan


untuk menulis, dan pandangan dari sekolah atau fasilitas-fasilitas yang berisi
rekam hidup konseli.
Sesuaikan konseli dengan bahan-bahan bacaan yang tepat.
Carilah buku yang berhubungan dengan perceraian, kematian keluarga, atau
apapun yang dibutuhkan yang telah diidentifikasi. Jagalah hal-hal ini dalam
ingatan:

Buku harus sesuai dengan tingkat kemampuan baca konseli.


Tulisan harus menarik dan melatih klien untuk lebih dewasa.
Tema bacaan seharusnya sesuai dengan kebutuhan yang telah diidentifikasi

dari konseli.
Karakteristik seharus dapat dipercaya dan mampu memunculkan rasa empati.
Alur kisah seharusnya realistis dan melibatkan kreativitas untuk menyelesaian
masalah.

Putuskan susunan waktu dan sesi serta bagaimana sesi diperkenalkan pada
konseli.
Rancanglah aktivitas-aktivitas tindak lanjut setelah membaca
Motivasi konseli dengan aktivitas pengenalan seperti mengajukan pertanyaan
untuk menuju ke pembahasan tentang tema yang dibicarakan.
Libatkan konseli dalam fase membaca, berkomentar atau mendengarkan.
Berilah waktu jeda beberapa menit agar klien bisa merefleksikan materi
bacaannya. Kenalkan aktivitas tindak lanjut:

Menceritakan kembali kisah yang dibaca


Diskusi mendalam tentang buku, misalnya diskusi tentang benar dan salah,

moral, hukum, letak kekuatan dan kelemahan dari karakter utama dan lain-lain.
Aktivitas seni seperti menggambar ilustasi persitiwa kisah, membuat kolase
dari foto majalah dan berita utama untuk mengilustrasikan peristiwa-peristiwa

dalam kisah, melukis gambar peristiwa).


Menulis kreatif, seperti menyelesaikan kisah dalam cara yang berbeda,

mengkaji keputusan dari karakter.


Drama, seperti bermain peran, merekonstruksi kisah dengan wayang yang
dibuat selama aktivitas seni, yang menjadi coba-coba dalam karakter.

Dampingi konseli untuk meraih penutupan melalui diskusi dan menyusun daftar
jalan keluar yang mungkin atau aktivitas lainnya.
Kelemahan

dan

Kelebihan

Teknik

BiblioTerapi

(Analisis

SWOT

Biblioterapi)
Kekuatan teknik
Menurut Novitawati (2001) intervensi biblioterapi dapat dikelompokkan dalam
empat tingkatan, yaitu intelektual, sosial, perilaku, dan emosional.

Pada tingkat intelektual individu memperoleh pengetahuan tentang perilaku


yang

dapat memecahkan masalah, membantu

pengertian diri,

serta

mendapatkan wawasan intelektual.


Pada tingkat sosial, individu dapat mengasah kepekaan sosialnya.
Pada tingkat perilaku individu akan mendapatkan kepercayaan diri untuk
membicarakan masalah-masalah yang sulit didiskusikan akibat perasaan takut,

malu, dan bersalah.


Pada tingkat emosional, teknik ini dapat menyediakan solusi-solusi terbaik dari
rujukan masalah sejenis yang telah dialami orang lain sehingga merangsang
kemauan yang kuat pada individu untuk memecahkan masalahnya.

Kelemahan teknik
Meskipun biblioterapi mendorong perubahan secara individual, hal ini hanya
digunakan terbatas pada saat di mana krisis hadir. Bagaimanapun itu bukan obat
yang menghilangkan semua masalah psikologis yang telah mengakar secara
mendalam. Masalah-masalah mendalam yang terbaik dilayani melalui intervensi
terapi lebih intensif. Konseli usia anak-anak mungkin belum bisa melihat diri
lewat cermin sastra dan literatur pun bisa sebatas untuk tujuan melarikan diri saja.
Lainnya mungkin cenderung untuk merasionalisasi masalah mereka daripada yang
mereka hadapi. Namun orang lain mungkin tidak dapat mentransfer wawasan ke
dalam kehidupan nyata. Namun, pengalaman ini mengganti dengan karakter sastra
terbukti membantu banyak konseli.

DAFTAR PUSTAKA
Eliasa, Eva Imania dkk.(2007).Bibliotherapy Bertema Karir Untuk Meningkatkan
Motivasi Karir Pada Mahasiswa Program Studi Bimbingan dan
Konseling. Laporan Hasil Penelitian.Yogyakarta:FIP UNY
Erfors, T Bradley dkk.2010.35 Techniques Every Counselor Should Know.Pearson
Education
Nur Fathiyah,Kartika.(2006). Identifikasi Kecenderungan Penggunaan Terapi
Pustaka Untuk Penyelesaian Masalah Pada Remaja. Hasil
Penelitian.Yogyakarta: FIP UNY
Shechtman,Z.(2009)Treating Child and Adolescent Aggression Through
Bibliotherapy.The Springer Series on Human Exceptionality. DOI
10.1007/978-0-387-09745-9_9,_ Springer ScienceBusiness Media
http://shifa-idha-salsabila.blogspot.com.22 April 2015 diakses pada tanggal 14
Oktober 2015 pada pukul 13:38