Anda di halaman 1dari 17

TUGAS K 3

ARTIKEL TENTANG KEBISINGAN

OLEH :
NAMA : FADYAH YULITA A.
NO : 09
KELAS : MS 3B

POLITEKNIK NEGERI SEMARANG


SEMARANG
2015

ARTIKEL TENTANG KEBISINGAN


1. Pengertian Kebisingan
Pengertian kebisingan menurut beberapa ahli, antara lain:

Menurut Doelle (1993): suara atau bunyi secara fisis merupakan penyimpangan tekanan,
pergeseran partikel dalam medium elastis seperti misalnya udara. Secara fisiologis
merupakan sensasi yang timbul sebagai akibat propagasi energi getaran dari suatu sumber
getar yang sampai ke gendang telinga.

Menurut Patrick (1977): kebisingan dapat pula diartikan sebagai bentuk suara yang tidak
sesuai dengan tempat dan waktunya.

Menurut Prabu, Putra (2009) bising adalah suara yang mengganggu

Menurut Ikron I Made Djaja, Ririn A.W, (2005) bising adalah bunyi yang tidak
dikehendaki yang dapat mengganggu dan atau membahayakan kesehatan.

Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-48/MENLH/11/1996


definisi bising adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat
dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan kenyamanan
lingkungan.

Kebisingan dapat juga diartikan bentuk suara yang tidak sesuai dengan tempat dan waktunya,
sehingga secara umum kebisingan dapat diartikan sebagai suara yang merugikan manusia dan
lingkungan. Bising dikategorikan pada polutan lingkungan/buangan yang tidak terlihat, tapi
efeknya cukup besar. Kebisingan adalah bahaya yang umum di tempat kerja.
2. Sifat dan Sumber Bising
a. Sifat Bising
Sifat dari kebisingan antara lain (Goembira, Fadjar, Vera S Bachtiar, 2003):

Kadarnya berbeda;

Jumlah tingkat bising bertambah, maka gangguan akan bertambah pula;

Bising perlu dikendalikan karena sifatnya mengganggu.

b. Sumber Bising
Sumber-sumber bising sangat banyak, namun dikelompokkan menjadi kebisingan industri,
kebisingan kegiatan konstruksi, kebisingan kegiatan olahraga dan seni, dan kebisingan lalu
lintas. Selanjutnya, emisi kebisingan dipantulkan melalui lantai, atap, dan alat-alat.
Sumber bising secara umum (Goembira, Fadjar, Vera S Bachtiar, 2003):

Indoor : manusia, alat-alat rumah tangga dan mesin;

Outdoor: lalu lintas, industri dan kegiatan lain.

Pembagian sumber bising lain dapat dibedakan menjadi:


Sumber terbesar: lalu lintas (darat, laut dan udara)

Tingkat tekanan suara dari lalu lintas dapat diprediksi dari:


- Kecepatan lalu lintas;
- Kecepatan kendaraan;
- Kondisi permukaan jalan.
Industri: tergantung kepada jenis industri dan peralatan

- Mesin-mesin proses, pemotong, penggerinda, blower, kompresor, kipas dan pompa;


- Sumber terbesarnya abrasi gas pada kecepatan tinggi, fan dan katup ketel uap.
Bidang jasa gedung: ventilasi, pembangkit pendingin ruangan, pompa pemanas,

plambing dan elevator;


Bidang domestik: kegiatan rumah tangga, vaccum cleaner, mesin cuci, dan pemotong

rumput;
Aktivitas waktu luang: balap mobil, diskotik, ski dan menembak.

Diantara pencemaran lingkungan yang lain, pencemaran/polusi kebisingan dianggap istimewa


dalam hal (Goembira, Fadjar, Vera S Bachtiar, 2003):
[1] Penilaian pribadi dan penilaian subyektif sangat menentukan untuk mengenali suara
sebagai pencemaran kebisingan atau tidak. Terdapat kesulitan dalam menempatkan
kebisingan antara tingkat penilaian subjektif seorang individu yang menangkapnya
sebagai "kebisingan" dan tingkat fisik yang dapat diukur secara obyektif
[2] Kerusakannya setempat dan sporadis dibandingkan dengan pencemaran air dan
pencemaran udara (bising pesawat udara merupakan pengecualian).
Tidak ada perbedaan jelas antara siapa agresornya dan siapa korbannya, sebagaimana
yang sering terjadi ada korban-korban dari kebisingan akibat piano dan karaoke.
Meskipun jumlah keluhan yang terdaftar di kota-kota besar selama beberapa tahun
terakhir ini telah berkurang, kebisingan masih merupakan bagian besar dari keluhankeluhan masyarakat.
3.

Jenis-Jenis Bising

Jenis-jenis kebisingan yang sering ditemukan:


1.

Bising terus menerus (continuous noise)


Bising terus menerus dihasilkan oleh mesin yang beroperasi tanpa henti, misalnya
blower, pompa, kipas angin, gergaji sirkuler, dapur pijar, dan peralatan pemprosesan
(Goembira, Fadjar, Vera S Bachtiar, 2003).

Bising terus-menerus (Prabu,Putra, 2009) adalah bising dimana fluktuasi dari


intensitasnya tidak lebih dari 6 dB dan tidak putus-putus. Bising kontinyu dibagi menjadi
2 (dua) yaitu:

Wide Spectrum adalah bising dengan spektrum frekuensi yang luas. bising ini relatif
tetap dalam batas kurang dari 5 dB untuk periode 0.5 detik berturut-turut, seperti
suara kipas angin, suara mesin tenun.

Norrow Spectrum adalah bising ini juga relatif tetap, akan tetapi hanya mempunyai
frekuensi tertentu saja (frekuensi 500, 1000, 4000) misalnya gergaji sirkuler, katup
gas.

2.

Bising terputus-putus (intermittent noise)


Adalah kebisingan saat tingkat kebisingan naik dan turun dengan cepat, seperti lalu lintas
dan suara kapal terbang di lapangan udara (Goembira, Fadjar, Vera S Bachtiar, 2003).
Bising jenis ini sering disebut juga intermittent noise, yaitu bising yang berlangsung
secar tidak terus-menerus, melainkan ada periode relatif tenang, misalnya lalu lintas,
kendaraan, kapal terbang, kereta api (Prabu,Putra, 2009).

3.

Bising tiba-tiba (impulsive noise)


Merupakan kebisingan dengan kejadian yang singkat dan tiba-tiba. Efek awalnya
menyebabkan gangguan yang lebih besar, seperti akibat ledakan, misalnya dari mesin
pemancang, pukulan, tembakan bedil atau meriam, ledakan dan dari suara tembakan
senjata api (Goembira, Fadjar, Vera S Bachtiar, 2003). Bising jenis ini memiliki
perubahan intensitas suara melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya
mengejutkan pendengarnya seperti suara tembakan suara ledakan mercon, meriam
(Prabu,Putra, 2009).

4.

Bising berpola (tones in noise)


Merupakan bising yang disebabkan oleh ketidakseimbangan atau pengulangan yang
ditransmisikan melalui permukaan ke udara. Pola gangguan misalnya disebabkan oleh
putaran bagian mesin seperti motor, kipas, dan pompa. Pola dapat diidentifikasi secara
subjektif dengan mendengarkan atau secara objektif

dengan analisis frekuensi

(Goembira, Fadjar, Vera S Bachtiar, 2003).


5.

Bising frekuensi rendah (low frequency noise)


Bising ini memiliki energi akustik yang penting dalam range frekuensi 8-100 Hz. Bising
jenis ini biasanya dihasilkan oleh mesin diesel besar di kereta api, kapal dan pabrik,
dimana bising jenis ini sukar ditutupi dan menyebar dengan mudah ke segala arah dan
dapat didengar sejauh bermil-mil (Goembira, Fadjar, Vera S Bachtiar, 2003).

6.

Bising impulsif berulang

Sama dengan bising impulsif, hanya bising ini terjadi berulang-ulang, misalnya mesin
tempa (Prabu,Putra, 2009).
Berdasarkan pengaruhnya pada manusia, bising dapat dibagi atas (Prabu,Putra, 2009):
1. Bising yang mengganggu (Irritating noise).
Merupakan bising yang mempunyai intensitas tidak terlalu keras, misalnya mendengkur.
2. Bising yang menutupi (Masking noise)
Merupakan bunyi yang menutupi pendengaran yang jelas, secara tidak langsung bunyi ini
akan membahayakan kesehatan dan keselamatan tenaga kerja , karena teriakan atau isyarat
tanda bahaya tenggelam dalam bising dari sumber lain.
3. Bising yang merusak (Damaging/Injurious noise)
Merupakan bunyi yang intensitasnya melampui Nilai Ambang Batas. Bunyi jenis ini akan
merusak atau menurunkan fungsi pendengaran.
4.

Efek Kebisingan

Kebisingan mempunyai pengaruh terhadap manusia, yaitu:


1. Gangguan kenyamanan dan stress pada anak-anak (Freddy Hernawan, 2008);
2. Kebisingan

pada

intensitas

tinggi

dan

pemaparan

yang

lama

dapat

menimbulkan gangguan pada fungsi pendengaran dan juga pada fungsi non
pendengaran yang bersifat subyektif seperti gangguan pada komunikasi, gangguan
tidur, gangguan pelaksanaan tugas dan perasaan tidak senang/mudah marah (Dian
Anggraeni, 2006);
3. Gangguan pendengaran sebesar 3,85 % untuk kebisingan impulsif dan gangguan
pendengaran sebesar 27,78% untuk kebisingan kontinyu pada pekerja di industri kompor
dan bengkel las Malang (Pasaoran Tamba I, 2001);
4. Gangguan terhadap konsentrasi kerja yang dapat mengakibatkan menurunnya kualitas dan
kuantitas kerja (Goembira, Fadjar, Vera S Bachtiar, 2003);
5. Gangguan dalam kenikmatan bekerja terutama pada orang yang sangat rentan terhadap
kebisingan sehingga dapat menimbulkan rasa pusing, gangguan konsentrasi dan
kehilangan semangat kerja (Goembira, Fadjar, Vera S Bachtiar, 2003);
6. Menurut (Prabu, Putra, 2009) dampak kebisingan bagi pekerja:
1. Gangguan Fisiologis
Pada umumnya, bising bernada tinggi sangat mengganggu, apalagi bila terputus-putus
atau yang datangnya tiba-tiba. Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah ( 10
mmHg), peningkatan nadi, konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan
kaki, serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris.

Bising dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan pusing/sakit kepala. Hal ini
disebabkan bising dapat merangsang situasi reseptor vestibular dalam telinga dalam
yang akan menimbulkan evek pusing/vertigo. Perasaan mual,susah tidur dan sesak
nafas disbabkan oleh rangsangan bising terhadap sistem saraf, keseimbangan organ,
kelenjar endokrin, tekanan darah, sistem pencernaan dan keseimbangan elektrolit.
2. Gangguan Psikologis
Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi, susah tidur,
dan cepat marah. Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan
penyakit psikosomatik berupa gastritis, jantung, stres, kelelahan dan lain-lain.
3. Gangguan Komunikasi
Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi
pendengaran yang kurang jelas) atau gangguan kejelasan suara. Komunikasi
pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak. Gangguan ini menyebabkan
terganggunya pekerjaan, sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak
mendengar isyarat atau tanda bahaya. Gangguan komunikasi ini secara tidak langsung
membahayakan keselamatan seseorang.
4. Gangguan Keseimbangan
Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau
melayang, yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing (vertigo)
atau mual-mual.
5. Efek pada pendengaran
Pengaruh utama dari bising pada kesehatan adalah kerusakan pada indera pendengaran,
yang menyebabkan tuli progresif dan efek ini telah diketahui dan diterima secara umum
dari zaman dulu. Mula-mula efek bising pada pendengaran adalah sementara dan
pemuliahan terjadi secara cepat sesudah pekerjaan di area bising dihentikan. Akan
tetapi apabila bekerja terus-menerus di area bising maka akan terjadi tuli menetap dan
tidak dapat normal kembali, biasanya dimulai pada frekuensi 4000 Hz dan kemudian
makin meluas kefrekuensi sekitarnya dan akhirnya mengenai frekuensi yang biasanya
digunakan untuk percakapan.
7. Penurunan daya dengar.
Penurunan daya dengar dapat dibagi dalam tiga kategori, yaitu:
1. Trauma Akustik
Trauma akustik adalah efek dari pemaparan yang singkat terhadap suara yang keras
seperti sebuah letusan. Dalam kasus ini energi yang masuk ke telinga dapat mencapai
struktur telinga dalam dan bila melampaui batas fisiologis dapat menyebabkan

rusaknya membran thympani, putusnya rantai tulang pendengaran atau rusak organ
spirale (Goembira, Fadjar, Vera S Bachtiar, 2003). Trauma akustik adalah setiap
perlukaan yamg merusak sebagian atau seluruh alat pendengaran yang disebabkan
oleh pengaruh pajanan tunggal atau beberapa pajanan dari bising dengan intensitas
yang sangat tinggi, ledakan-ledakan atau suara yang sangat keras, seperti suara
ledakan meriam yang dapat memecahkan gendang telinga, merusakkan tulang
pendengaran atau saraf sensoris pendengaran (Prabu,Putra, 2009).

2. Temporary Threshold Shift (TTS)/Tuli Sementara


Tuli sementara merupakan efek jangka pendek dari pemaparan bising berupa kenaikan
ambang pendengaran sementara yang kemudian setelah berakhirnya pemaparan
bising, akan kembali pada kondisi semula. TTS adalah kelelahan fungsi pada reseptor
pendengaran yang disebabkan oleh energi suara dengan tetap dan tidak melampui
batas tertentu. Maka apabila akhir pemaparan dapat terjadi pemulihan yang sempurna.
Akan tetapi jika kelelahan melampaui batas tertentu dan pemaparan terus berlangsung
setiap hari, maka TTS secara berlahan-lahan akan berubah menjadi PTS (Goembira,
Fadjar, Vera S Bachtiar, 2003). TTS diakibatkan pemaparan terhadap bising dengan
intensitas tinggi. Seseorang akan mengalami penurunan daya dengar yang sifatnya
sementara dan biasanya waktu pemaparan terlalu singkat. Apabila tenaga kerja
diberikan waktu istirahat secara cukup, daya dengarnya akan pulih kembali
(Prabu,Putra, 2009).
3. Permanent Threshold Shift (PTS)/Tuli Permanen
Tuli permanen adalah kenaikan ambang pendengaran yang bersifat irreversible
sehingga tidak mungkin tejadi pemulihan. Gangguan dapat terjadi pada syaraf-syaraf
pendengaran, alat-alat korti atau dalam otak sendiri. Ini dapat diakibatkan oleh efek
kumulatif paparan terhadap bising yang berulang-ulang selama bertahun (Goembira,
Fadjar, Vera S Bachtiar, 2003).
Fase-fase perkembangan kurangnya pendengaran akibat bising tetap menurut Parmeggiani
(dikutip dalam Rozita E.,Wahyuni T, 2005) adalah:
a. Fase I
Terjadi pada 10-20 hari pertama pemaparan bising. Pada saat sudah bekerja, telinga
penderita terasa penuh, mendenging, sakit kepala ringan, pusing, dan merasa lelah.
b. Fase II

Terjadi pada jangka waktu pemaparan beberapa bulan sampai beberapa tahun. Pada fase
ini semua gejala subjektif hilang, kecuali telinga yang mendenging secara intermitten.
Gejala lain tergantung dari sifat bising, lama waktu pemaparan, dan prediposisi individual.
c. Fase III
Terjadi sebagai lanjutan fase II. Pada kondisi ini penderita merasa pendengarannya tidak
normal lagi. Penderita tidak dapat lagi mendengar pembicaraan-pembicaraan terutama jika
terdapat bising latar belakang.
d. Fase IV
Pada fase ini, diikuti oleh tinnitus yang tetap (terus menerus) yang menunjukan bahwa
terjadi kerusakan pada struktur syaraf dari cochlea. Hal ini tidak hanya mengganggu
pendengaran, tetapi juga mengganggu istirahat, tidur, dll.
Pengaruh yang ditimbulkan pada setiap tingkat bising dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut.
Tabel 2.1 Pengaruh Bunyi terhadap Fisiologis dan Psikologis Manusia
Bunyi (dBA)

Pengaruh terhadap Manusia

39-40

Tidak mengganggu

55-65

Penyempitan pembuluh darah dan peningkatan frekuensi denyut jantung

70

Kontinu akan berdampak penyakit jantung

80

Kelelahan mental dan fisik, psikomatis dan perasaan jengkel

90

Kerusakan alat pendengaran dan penurunan daya pendengaran

100

Kontinu dapat kehilangan pendengaran secara permanen dan pada waktu


singkat dapat mengurangi daya dengar

120

Rasa nyeri dan sakit

150

Kehilangan pendengaran pada saat itu juga

Sumber: Goembira, Fadjar, Vera S Bachtiar, 2003

a. Pengendalian Bising
Permasalahan kebisingan bisa diuraikan menjadi tiga komponen, (Goembira, Fadjar, Vera
S Bachtiar, 2003), yaitu:
1. Sumber radiasi;
2. Jalur tempuh radiasi;
3. Penerima (telinga).
Antisipasi kebisingan dapat dilakukan dengan intervensi terhadap ketiga komponen ini.
Secara garis besar, ada dua jenis pengendalian kebisingan, yaitu pengendalian bising aktif
(active noise control) dan pengendalian bising pasif (passive noise control).

A. Active Noise Control


1. Kontrol Sumber
Pengontrolan kebisingan pada sumber dapat dilakukan dengan modifikasi sumber, yaitu
penggantian komponen atau mendisain ulang alat atau mesin supaya kebisingan yang
ditimbulkan bisa dikurangi. Program maintenance yang baik supaya mesin tetap
terpelihara, dan penggantian proses. Misalnya mengurangi faktor gesekan dan kebocoran
suara, memperkecil dan mengisolasi elemen getar, melengkapi peredam pada mesin, serta
pemeliharaan rutin terhadap mesin. Tetapi cara ini memerlukan penelitian intensif dan
umumnya juga butuh biaya yang sangat tinggi (Goembira, Fadjar, Vera S Bachtiar, 2003).
Beberapa upaya untuk mengurangi kebisingan di sumber antara lain (Tambunan, 2005):

Mengganti mesin-mesin lama dengan mesin baru dengan tingkat kebisingan yang
lebih rendah

Mengganti jenis proses mesin (dengan tingkat kebisingan yang lebih rendah)
dengan fungsi proses yang sama, contohnya pengelasan digunakan sbg
penggantian proses riveting.

Sumber: Tambunan, 2005

Modifikasi tempat mesin, spt pemberian dudukan mesin dengan materialmaterial yang memiliki koefisien redaman getaran lebih tinggi

Pemasangan peredam akustik (acoustic barrier) dalam ruang kerja

Gambar 2.1 Hanging baffles (Tambunan, 2005)


Antisipasi kebisingan dengan kontrol sumber ternyata 10 kali lebih murah (unit harga
terhadap reduksi dB) daripada antisipasi pada propagasi atau kontrol lingkungan. Pada
area kerja dengan kebisingan > 100 dB A, kontrol sumber berupa kontrol rekayasa mesin
adalah hal yang mutlak dilakukan menurut Standard Basic Requirement OSHA.

Cladding

Cladding adalah salah satu jenis pengendali bising untuk mengurangi pancaran bising
dari pipa akibat aliran fluida di dalamnya. Cladding terdiri atas lapisan penyerap suara
dan bahan impermeable. Lapisan ini ada berbagai jenis dengan tingkat atenuasi yang
bervariasi.

Silencer, Attenuator, Muffler

Silencer (ditunjukkan pada Gambar 2.2), attenuator, muffler digunakan untuk


mereduksi bising fluida dengan meletakkannya di daerah atau jalur aliran fluida.

Gambar 2.2 Silencer


(Sumber: Rozita, 2005)

2. Kontrol Lingkungan
Rekayasa terhadap kebisingan di industri kurang diterapkan dengan baik. Beberapa
industri menyertakan spesifikasi tingkat kebisingan saat memilih alat baru, namun
terkadang masih mengalami masalah kebisingan. Hal lain yang dapat dilakukan antara
lain yaitu dengan pengendalian pada medium perambatan. Sebenarnya upaya
pengendalian ini memiliki tujuan untuk menghalangi perambatan suara dari sumber suara

yang menuju ke telinga manusia. Untuk menghalangi perambatan, ditempatkanlah sound


barrier antara sumber suara dan telingan. Pemblokiran rambatan ini hanya akan berhasil
jika sound barrier tidak ikut bergetar saat tertimpa gelombang yang merambat (tidak
beresonansi). Faktor terpenting yang akan mempengaruhi keberhasilan sound barrier
adalah bahan dimensi. Pengendalian kebisingan pada medium rambat terpaut pada:

Pemisahan ruangan dengan sekat atau pembatas akustik;

Menggunakan material yang memiliki daya serap suara;

Pembuatan barrier. Barrier digunakan untuk menghalangi paparan bising dari sumber
ke penerima dan dibangun di jalur propagasi antara sumber dan penerima;

Memasang panel dan penghalang;

Memperluas jarak antar sumber dan melakukan pemagaran.

3. Proteksi Personal
Proteksi personal yang bisa diterapkan adalah penggunaan earplugs dan earmuffs.
Pemilihan antara kedua proteksi ini disesuaikan dengan kondisi. Pada kenyataannya,
earmuffs bisa mengurangi desibel yang masuk ke telinga lebih besar dari earplugs.
Namun, pengalaman menunjukkan bahwa over proteksi juga dapat mengurangi efektifitas
proses.
1. Earmuffs
Earmuffs terbuat dari karet dan plastik. Earmuffs bisa digunakan untuk intensitas
tinggi (>95 dB), bisa melindungi seluruh telinga, ukurannya bisa disesuaikan untuk
berbagai ukran telinga, mudah diawasi dan walaupun terjadi infeksi pada telinga alat
tetap

dapat

dipakai.

Kekurangannya,

penggunaan

earmuffs

menimbulkan

ketidaknyamanan, rasa panas dan pusing, harga relatif lebih mahal, sukar dipasang
pada kacamata dan helm, membatasi gerakan kepala dan kurang praktis karena
ukurannya besar. Earmuffs lebih protektif daripada earplugs jika digunakan dengan
tepat, tapi kurang efektif jika penggunaannya kurang pas dan pekerja menggunakan
kaca mata.

Gambar 2.3 Earmuff (Tambunan, 2005)


2. Earplugs

Earplugs lebih nyaman dari earmuffs, berlaku untuk tingkat kebisingan sedang (80-95
dB) untuk waktu paparan 8 jam. Jenis earplugs ada bermacam-macam: padat dan
berongga. Bahannya terbuat dari karet lunak, karet keras, lilin, plastik atau kombinasi
dari bahan-bahan tersebut.

Gambar 2.4 Earplug (Tambunan, 2005)


Keuntungan dari ear plug adalah: mudah dibawa karen akecil, lebih nyaman bila
digunakan pada tempat yang panas, tidak membatasi gerakan kepala, lebih murah
daripada ear muff, lebih mudah dipakai bersama dengan kacamata dan helm.
Sedangkan kekurangan dari ear plug yaitu atenuasi lebih kecil, sukar mengontrol atau

Gambar 2.5 Earplug


(Sumber: Defi P,Iferta Inafalia, 2005)

diawasi, saluran telingan lebih mudah terkena infeksi dan apabila sakit ear plug tidak
dapat dipakai.

B. Passive Noise Control


Cara ini dilakukan dengan mereduksi sumber bising yang berbeda fase 180 o dari sumber
bising. Misalnya suatu sumber bising di satu titik dalam ruang merambat dengan gelombang
p1. Jika dapat dibangkitkan suatu gelombang anti bising p2 dengan komponen amplitudo dan
frekuensi yang sama dengan gelombang p1, dan berbeda fasa 180o, maka super posisi kedua
gelombang akan saling meniadakan.
C. Antisipasi Lain

Selain cara-cara pengendalian di atas, harus dilakukan antisipasi terhadap pekerja. Salah satu
tekniknya adalah dengan tes audiometric berkala terhadap pekerja, pendidikan/pelatihan dan
penghitungan fraksi dosis kebisingan. Tes audiometric biasanya dilakukan oleh ahli THT
secara medis.
5. Pengukuran Kebisingan
Suara atau bunyi memiliki intensitas yang berbeda, contohnya jika kita berteriak suara kita
lebih kuat daripada berbisik, sehingga teriakan itu memiliki energi lebih besar untuk mencapai
jarak yang lebih jauh. Unit untuk mengukur intensitas bunyi adalah desibel (dB). Skala
desibel merupakan skala yang bersifat logaritmik. Penambahan tingkat desibel berarti
kenaikan tingkat kebisingan yang cukup besar. Contoh, jika bunyi bertambah 3 dB, volume
suara sebenarnya meningkat 2 kali lipat.
Kebisingan bisa menggangu karena frekuensi dan volumenya. Sebagai contoh, suara
berfrekuensi tinggi lebih menggangu dari suara berfrekuensi rendah. Untuk menentukan
tingkat bahaya dari kebisingan, maka perlu dilakukan monitoring dengan bantuan alat:

a. Noise Level Meter dan Noise Analyzer, untuk mengidentifikasi paparan;


b. Peralatan audiometric, untuk mengetes secara periodik selama paparan dan untuk
menganalisis dampak paparan pada pekerja.
Ada beberapa macam peralatan pengukuran kebisingan, antara lain sound survey meter, sound
level meter, octave band analyzer, narrow band analyzer, dan lain-lain. Untuk permasalahan
bising kebanyakan sound level meter dan octave band analyzer sudah cukup banyak
memberikan informasi.

Sound Level Meter (SLM)


SLM (gambar 2.5) adalah instrumen dasar yang digunakan dalam pengukuran kebisingan.
SLM terdiri atas mikropon dan sebuah sirkuit elektronik termasuk attenuator, 3 jaringan
perespon frekuensi, skala indikator dan amplifier. Tiga jaringan tersebut distandarisasi
sesuai standar SLM. Tujuannya adalah untuk memberikan pendekatan yang terbaik dalam
pengukuran tingkat kebisingan total. Respon manusia terhadap suara bermacam-macam
sesuai dengan frekuensi dan intensitasnya. Telinga kurang sensitif terhadap frekuensi
lemah maupun tinggi pada intensitas yang rendah. Pada tingkat kebisingan yang tinggi,
ada perbedaan respon manusia terhadap berbagai frekuensi. Tiga pembobotan tersebut
berfungsi untuk mengkompensasi perbedaan respon manusia.

Gambar 2.4 Sound Level Meter


(Sumber: Defi P,Wahyuni T, 2005)

Octave Band Analyzer (OBA)


Saat bunyi yang diukur bersifat komplek, terdiri atas tone yang berbeda-beda, oktaf yang
berbeda-beda, maka nilai yang dihasilkan di SLM tetap berupa nilai tunggal. Hal ini tentu
saja tidak representatif. Untuk kondisi pengukuran yang rumit berdasarkan frekuensi,
maka alat yang digunakan adalah OBA. Pengukuran dapat dilakukan dalam satu oktaf
dengan satu OBA. Untuk pengukuran lebih dari satu oktaf, dapat digunakan OBA dengan
tipe lain. Oktaf standar yang ada adalah 37,5 75, 75-150, 300-600,600-1200, 1200-2400,
2400-4800, dan 4800-9600 Hz.

b. Standar Kebisingan
Setelah pengukuran kebisingan dilakukan, maka perlu dianalisis apakah kebisingan tersebut
dapat diterima oleh telinga. Berikut ini standar atau kriteria kebisingan yang ditetapkan oleh
berbagai pihak.
1. Keputusan Menteri Negara Tenaga Kerja No.KEP-51/MEN/1999 tentang nilai ambang
batas kebisingan. lihat Tabel 2.3 untuk lebih jelas.
2. Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Koperasi No.SE 01/MEN/1978
Nilai Ambang Batas yang disingkat NAB untuk kebisingan di tempat kerja adalah
intensitas tertinggi dan merupakan nilai rata-rata yang masih dapat diterima tenaga kerja
tanpa mengakibatkan hilangnya daya dengar yang tetap untuk waktu kerja yang terus
menerus tidak lebih dari 8 jam sehari dan 40 jam seminggu
NAB untuk kebisingan di tempat kerja ditetapkan 85 dB (A)
Tabel 2.3 Nilai Ambang Kebisingan
Menurut Kep Menaker No. KEP-51/MEN/1999
Waktu Pemaparan per hari
8
4
Jam
2
1

Intensitas (dB A)
85
88
91
94

30
15
7,5
3,75
1,88
0,94
28,12
14,06
7,03
3,52
1,75
0,88
0,44
0,22
0,11

Menit

Detik

97
100
103
106
109
112
115
118
121
124
127
13
133
136
139

Sumber: Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. KEP-51/MEN/1999

3. Department of Labor (DOL) OSHA CFR 1910.95


Tabel 2.4 Kriteria Kebisingan
Menurut DOL OSHA
Waktu (jam/hari)
8
6
4
3
2
1,5
1
0,5
<0,25

Tingkat Kebisingan (dB A)


90
92
95
97
100
102
105
110
115

Sumber: Barry H. Kartowitz (dikutip pada Defi P., Iferta Inafalia., 2005)

4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.718/Men/Kes/Per/XI/1987, tentang


kebisingan yang berhubungan dengan kesehatan
Tabel 2.6 Pembagian Zona Bising Oleh Menteri Kesehatan
No

Zona

1
2
3
4

A
B
C
D

Tingkat Kebisingan (dB A)


Maksimum yang
Maksimum yang
dianjurkan
diperbolehkan
35
45
45
55
50
60
60
70

Sumber: Peraturan Menteri Kesehatan No. 718/Men/Kes/Per/XI/1987

Keterangan:
Zona A = tempat penelitian, rumah sakit, tempat perawatan kesehatan dsb;

Zona B

= perumahan, tempat pendidikan, rekreasi, dan sejenisnya;

Zona C

= perkantoran, pertokoan, perdagangan, pasar, dan sejenisnya;

Zona D = industri, pabrik, stasiun kereta api, terminal bis, dan sejenisnya.
Formula ACGIH dan NIOSH untuk menghitung waktu maksimum yang diperkenankan
bagi seorang pekerja untuk berada dalam tempat kerja dengan tingkat kebisingan tidak
aman adalah sebagai berikut:

480

T
2

(L -85)

di mana:
T

waktu maksimum di mana pekerja boleh berhadapan dengan tingkat


kebisingan (dalam menit)

tingkat kebisingan (dB) yang dianggap berbahaya

exchange rate

5. ACGIH dan NIOSH


Tabel 2.5 Kriteria Kebisingan Menurut ACGIH dan NIOSH
DB
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103

Waktu Paparan yang


diperbolehkan (jam)
25,4
20,16
16
12,7
10,08
8
6,35
5,04
4
3,17
2,52
2
1,59
1,26
1
0,79
0,63
0,5
0,4
0,31
0,25
0,2
0,16
0,13

DB
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129

Waktu Paparan yang


diperbolehkan(jam)
37,5
2,98
2,36
1,88
1,49
1,18
0,94
0,74
0,59
0,47
0,37
0,3
0,23
0,19
0,15
0,12
0,09
0,07
0,06
0,05
0,04
0,03
0,02
0,02

104
105

0,1
0,08

130

0,01

Sumber: Draft Document (dikutip pada Defi P., Iferta Inafalia., 2005)