Anda di halaman 1dari 3

Pendahuluan

Sianida adalah zat beracun yang sangat mematikan. Efek dari sianida ini
sangat cepat dan dapat mengakibatkan kematian dalam jangka waktu beberapa menit.
Sianida biasanya dapat ditemukan dalam bentuk sodium sianida dan potassium sianida yang
berbentuk serbuk dan berwarna putih. Sianida dalam dosis rendah dapat ditemukan di alam
dan ada pada setiap produk yang biasa kita makan atau gunakan. Sianida dapat diproduksi
oleh bakteri, jamur dan ganggang. Sianida juga ditemukan pada rokok, asap kendaraan
bermotor, dan makanan seperti bayam, bambu, kacang, tepung tapioka dan singkong. Sianida
banyak digunakan pada industri terutama dalam industri pembuatan garam seperti natrium,
kalium, atau kalsium sianida.
Singkong merupakan tanaman yang mudah tumbuh di Indonesia. Singkong
mengandung linamarin dan lotaustralin yang berpotensi sebagai racun. Keduanya termasuk
golongan glikosida sianogenik. Linamarin terdapat pada semua bagian tanaman, terutama
terakumulasi pada akar dan daun. Singkong dibedakan atas dua tipe yaitu pahit dan manis.
Singkong tipe pahit mengandung kadar racun yang lebih tinggi daripada tipe manis. Jika
singkong mentah atau yang dimasak kurang sempurna dikonsumsi maka kedua racun tersebut
akan berubah menjadi senyawa kimia yang dinamakan hidrogen sianida yang dapat
menimbulkan gangguan kesehatan. Singkong manis mengandung sianida kurang dari 50 mg
per kilogram, sedangkan yang pahit mengandung sianida lebih dari 50 mg per kilogram.
Meskipun sejumlah kecil sianida masih dapat ditoleransi oleh tubuh, jumlah sianida yang
masuk ke tubuh tidak boleh melebihi 1 mg per kilogram berat badan per hari.
Gejala keracunan sianida antara lain meliputi penyempitan saluran nafas, mual,
muntah, sakit kepala, bahkan pada kasus berat dapat menimbulkan kematian. Penanganan
konvensional atau terapi standar untuk intoksikasi sianida adalah dengan kombinasi senyawa
NaNO2 (natrium nitrit) dan Na2S2O3 (natrium tiosulfat) disuntik secara bergantian dengan rute
intravena (IV).
Asam sianida terbentuk secara enzimatis dari dua senyawa prekursor yaitu linamarin
dan mertil linamarin. Kedua senyawa terbut akan akan dirombak menjadi glukosa, aseton dan
asam sianida oleh enzim linamarase dan oksigen. Asam sianida memiliki sifat mudah larut
dan mudah menguap, oleh karena itu untuk menurunkan atau mengurangi kadar asam sianida
dapat dilakukan dengan pencucian atau perndaman karena asam sianida akan larut dan ikut
terbuang dengan air.

Sifat fisik dan kimiawi yang dimiliki oleh sianida adalah rasa pahit, iritan kulit,
mukos, bau khas, vasokontrikstor dan dapat berikatan dengan logam Co, Cu, Fe. Sianida
dapat diabsorpsi secara baik melalui kulit, mukosa saluran cerna, dan inhalasi. Faktor yang
mempengaruhi keracunan sianida antara lain kandungan sianida dalam bahan, kecepatan/
jumlah intake dan kecepatan metabolisme.
Mekanisme kerja sianida adalah menghambat enzim yang berperan di dalam respirasi
(cytochrom oxidase). Enzim tersebut menyebabkan oksigen tidak dapat digunakan oleh
jaringan (tetap dalam sirkulasi darah) sehingga terjadi kekurangan oksigen. Mekanisme kerja
yang lain adalah dengan menjadi vaso kontriktor.
Tujuan
Paraktikum ini bertujuan untuk mengetahui gejala klinis yang dtimbulkan oleh racun
sianida dan dapat mengetahui antidota yang dapat bekerja terhadap racun. Selain itu juga
bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan sianida dalam tanaman dan sampel asal hewan.

Pembahasan yusa
Daun ketela pohon mengandung sianida yang meupakan toksik tanaman. Jumlah sianida yang
tinggi dapat menyebabkan keracunan, akan tetapi sianida yang tinggi hanya terdapat pada
ketela jenis tertentu (Widjanarko 2000). Sehingga pada percobaan mengidentifikasi
kandungan CN pada tanaman menggunakan daun singkong. Pengujian dilakukan dengan cara
menumbuk daun singkong kemudian dipanaskan pada penanggas air.

Percobaan dilakukan dengan kontrol positif menggunakan KCN dan kontrol negatif
menggunakan aquades. Saat dilakukan pemanasan diletakkan kertas pikrat untuk mendeteksi
ada tidaknya HCN pada sampel. Kertas pikrat akan berubah warna merah apabila terdapat
kandungan HCN. Hasil yang didapatkan bahwa daun singkong mengandung sianida karena
kertas pikrat bewarna merah.Proses yang terjadi ketika pemanasan yaitu sianida pada daun
akan lepas atau menguap dan akan tertangkap oleh kertas pikrat. Racun sianida dapat hilang
dengan beberapa proses yaitu pencincangan perendaman atau penggilingan dan dapat
dilakukan dena perebusan yang lama ( Murtidjo 2001 & Meliana et al 2014)
Murtidjo.2001. Pedoman Meramu Pakan Ikan. Kanisius : Yogyakarta
Meiliana, Roekistiningsih, Endang Sutjiati.2014. Pengaruh Proses Pengolahan Daun
Singkong

(Manihot esculenta Crantz) dengan Berbagai Perlakuan Terhadap Kadar -

Karoten. Indonesian Journal of Human Nutrition 1 : 23-34.