Anda di halaman 1dari 6

Dengan semakin berkembangnya lembaga-lembaga keuangan syariah di tanah air akhir-akhir ini dan adan

Dewan Pengawas Syariah pada setiap lembaga keuangan, dipandang perlu didirikan Dewan Syariah Nasio
yang akan menampung berbagai masalah/kasus yang memerlukan fatwa agar diperoleh kesamaan dalam
penanganannya dari masing-masing Dewan Pengawas Syariah yang ada di lembaga keuangan syariah.

Pembentukan Dewan Syariah Nasional merupakan langkah efisiensi dan koordinasi para ulama dalam
menanggapi isu-isu yang berhubungan dengan masalah ekonomi/keuangan. Dewan Syariah Nasional diha
dapat berfungsi untuk mendorong penerapan ajaran Islam dalam kehidupan ekonomi.

Dewan Syariah Nasional berperan secara pro-aktif dalam menanggapi perkembangan masyarakat Indones
dinamis dalam bidangn ekonomi dan keuangan.
Dewan Syariah Nasional bertugas:

- Menumbuh-kembangkan penerapan nilai-nilai syariah dalam kegiatan perekonomian pada umumnya dan
keuangan pada khususnya.
- Mengeluarkan fatwa atas jenis-jenis kegiatan keuangan.
- Mengeluarkan fatwa atas produk dan jasa keuangan syariah.
- Mengawasi penerapan fatwa yang telah dikeluarkan.

Dewan Syariah Nasional berwenang :


- Mengeluarkan fatwa yang mengikat Dewan Pengawas Syariah dimasing-masing lembaga keuangan syar
menjadi dasar tindakan hukum pihak terkait.

- Mengeluarkan fatwa yang menjadi landasan bagi ketentuan/peraturan yang dikeluarkan oleh instansi yan
berwenang, seperti Departemen Keuangan dan Bank Indonesia.

- Memberikan rekomendasi dan/atau mencabut rekomendasi nama-nama yang akan duduk sebagai Dewan
Pengawas Syariah pada suatu lembaga keuangan syariah.

- Mengundang para ahli untuk menjelaskan suatu masalah yang diperlukan dalam pembahasan ekonomi sy
termasuk otoritas moneter/lembaga keuangan dalam maupun luar negeri.

- Memberikan peringatan kepada lembaga keuangan syariah untuk menghentikan penyimpangan dari fatw
telah dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional.

- Mengusulkan kepada instansi yang berwenang untuk mengambil tindakan apabila peringatan tidak diinda
MEKANISME KERJA
Dewan Syariah Nasional

- Dewan Syariah Nasional mensahkan rancangan fatwa yang diusulkan oleh Badan Pelaksana Harian DSN
- Dewan Syariah Nasional melakukan rapat pleno paling tidak satu kali dalam tiga bulan, atau bilamana
diperlukan.

- Setiap tahunnya membuat suatu pernyataan yang dimuat dalam laporan tahunan (annual report) bahwa le
keuangan syariah yang bersangkutan telah/tidak memenuhi segenap ketentuan syariah sesuai dengan f
yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional.
Badan Pelaksana Harian

- Badan Pelaksana Harian menerima usulan atau pertanyaan hukum mengenai suatu produk lembaga keua
syariah. Usulan ataupun pertanyaan ditujukan kepada sekretariat Badan Pelaksana Harian.

- Sekretariat yang dipimpin oleh Sekretaris paling lambat 1 (satu) hari kerja setelah menerima usulan /pert
harus menyampaikan permasalahan kepada Ketua.

- Ketua Badan Pelaksana Harian bersama anggota dan staf ahli selambat-lambatnya 20 hari kerja harus me
memorandum khusus yang berisi telaah dan pembahasan terhadap suatu pertanyaan/usulan.

- Ketua Badan Pelaksana Harian selanjutnya membawa hasil pembahasan ke dalam Rapat Pleno Dewan Sy
Nasional untuk mendapat pengesahan.

- Fatwa atau memorandum Dewan Syariah Nasional ditandatangani oleh Ketua dan Sekretaris Dewan Sya
Nasional.
Dewan Pengawas Syariah
- Dewan Pengawas Syariah melakukan pengawasan secara periodik pada lembaga keuangan syariah yang
di bawah pengawasannya.

- Dewan Pengawas Syariah berkewajiban mengajukan usul-usul pengembangan lembaga keuangan syraiah
kepada pimpinan lembaga yang bersangkutan dan kepada Dewan Syariah Nasional.

- Dewan Pengawas Syariah melaporkan perkembangan produk dan operasional lembaga keuangan syariah
diawasinya kepada Dewan Syariah Nasional sekurang-kurangnya dua kali dalam satu tahun anggaran.

- Dewan Pengawas Syariah merumuskan permasalahan-permasalahan yang memerlukan pembahasan Dew


Syariah Nasional.
Pembiayaan DSN

- Dewan Syariah Nasional memperoleh dana operasional dari bantuan Pemerintah (Depkeu), Bank Indone

dan sumbangan masyarakat.


- Dewan Syariah Nasional menerima dana iuran bulanan dari setiap lembaga keuangan syariah yang ada.

- Dewan Syariah Nasional mempertanggung-jawabkan keuangan/sumbangan tersebut kepada Majelis Ulam


Indonesia.

2. Sejarah LP-POM MUI

Masalah halal dan haram bagi umat Islam adalah sesuatu yang sangat penting, yang menjadi bagian dari
keimanan dan ketaqwaan. Perintah untuk mengkonsumsi yang halal dan larangan menggunakan yang hara
sangat jelas dalam tuntunan agama Islam. Oleh karena itu tuntutan terhadap produk halal juga semakin ge
disuarakan konsumen muslim, baik di Indonesia maupun di Negara-negara lain.
Dalam sejarah perkembangan kehalalan di Indonesia, ada beberapa kasus yang berkaitan dengan masalah
tersebut. Misalnya kasus lemak babi pada tahun 1988. Isu yang berawal dari kajian Dr Ir Tri Susanto dari
Universitas Brawijaya Malang ini kemudian berkembang menjadi isu nasional yang berdampak kepada
perekonomian nasional.

Menyadari tanggung jawabnya untuk melindungi masyarakat, maka Majelis Ulama Indonesia mendirikan
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika atau lebih dikenal sebagai LP POM MUI. Lem
ini didirikan sebagai bagian dari upaya untuk memberikan ketenteraman batin umat, terutama dalam
mengkonsumsi pangan, obat dan kosmetika.

LP POM MUI didirikan pada tanggal 6 Januari 1989 dan telah memberikan peranannya dalam menjaga
kehalalan produk-produk yang beredar di masyarakat. Pada awal-awal tahun kelahirannya, LP POM MUI
berulang kali mengadakan seminar, diskusidiskusi dengan para pakar, termasuk pakar ilmu Syariah, dan
kunjungankunjungan yang bersifat studi banding serta muzakarah. Hal ini dilakukan untuk mempersiapk
dalam menentukan standar kehalalan dan prosedur pemeriksaan, sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan kaidah agama. Pada awal tahun 1994, barulah LP POM MUI mengeluarkan sertifikat hal
pertama yang sangat didambakan oleh konsumen maupun produsen, dan sekarang dapat dirasakan manfaa
oleh masyarakat..

Dalam perjalanannya LPPOM MUI telah mengalami 3 periode kepengurusan. Periode pertama dipimpin o
Dr Ir M Amin Aziz yang memegang tampuk kepemimpinan LPPOM MUI sejak berdiri tahun 1989 hingga
1993. Periode kedua adalah kepengurusan di bawah pimpinan Prof Dr Aisjah Girindra, yang memegang am
dari tahun 1993 hingga tahun 2006. Periode kepengurusan 2006-2011 dipegang olah Dr Ir HM Nadratuzza
Hosen.
Visi dan Misi
Visi:

Menjadi lembaga sertifikasi halal terpercaya di Indonesia dan Dunia untuk memberikan ketenteraman bag
Islam dan menjadi pusat halal dunia yang memberikan informasi, solusi dan standar halal yang diakui seca
nasional dan internasional
Misi:
1. Membuat dan mengembangkan standar system pemeriksaan halal.
2. Melakukan sertifikasi halal untuk produk-produk halal yang beredar dan dikonsumsi masyarakat.
3. Mendidik dan menyadarkan masyarakat untuk senantiasa mengkonsumsi produk halal.
4. Memberikan informasi yang lengkap dan akurat mengenai kehalalan produk dari berbagai aspek.

3 SEJARAH BASYARNAS

Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) adalah perubahan dari nama Badan Arbitrase Muamala
Indonesia (BAMUI) yang merupakan salah satu wujud dari Arbitrase Islam yang pertama kali didirikan di
Indonesia. Pendirinya diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), tanggal 05 Jumadil Awal 1414 H
bertepatan dengan tanggal 21 Oktober 1993 M. Badan Arbitrase Muamalat Indonesia (BAMUI) didirikan
bentuk badan hukum yayasan sesuai dengan akta notaris Yudo Paripurno, S.H. Nomor 175 tanggal 21 Okt
1993.

Peresmian Badan Arbitrase Muamalat Indonesia (BAMUI) dilangsungkan tanggal 21 Oktober 1993. Nam
diberikan pada saat diresmikan adalah Badan Arbitrase Muamalat Indonesia (BAMUI). Peresmiannya dita
dengan penandatanganan akta notaris oleh dewan pendiri, yaitu Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesi
(MUI) pusat yang diwakili K.H. Hasan Basri dan H.S. Prodjokusumo, masing-masing sebagai Ketua Umu
dan Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sebagai saksi yang ikut
menandatangani akta notaris masing-masing H.M. Soejono dan H. Zainulbahar Noor, S.E. (Dirut Bank
Muamalat Indonesia) saat itu. BAMUI tersebut di Ketuai oleh H. Hartono Mardjono, S.H. sampai beliau w
tahun 2003.

Kemudian selama kurang lebih 10 (sepuluh) tahun Badan Arbitrase Muamalat Indonesia (BAMUI)
menjalankan perannya, dan dengan pertimbangan yang ada bahwa anggota Pembina dan Pengurus Badan
Arbitrase Muamalat Indonesia (BAMUI) sudah banyak yang meninggal dunia, juga bentuk badan hukum
yayasan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan sudah tidak s
dengan kedudukan BAMUI tersebut, maka atas keputusan rapat Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesi
Nomor : Kep-09/MUI/XII/2003 tanggal 24 Desember 2003 nama Badan Arbitrase Muamalat Indonesia
(BAMUI) diubah menjadi Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) yang sebelumnya
direkomendasikan dari hasil RAKERNAS MUI pada tanggal 23-26 Desember 2002. Badan Arbitrase Syar
Nasional (BASYARNAS) yang merupakan badan yang berada dibawah MUI dan merupakan perangkat
organisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI). Di Ketuai oleh H. Yudo Paripurno, S.H.

Kehadiran Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) sangat diharapkan oleh umat Islam Indones
bukan saja karena dilatar belakangi oleh kesadaran dan kepentingan umat untuk melaksanakan syariat Isla
melainkan juga lebih dari itu adalah menjadi kebutuhan riil sejalan dengan perkembangan kehidupan ekon
dan keuangan di kalangan umat. Karena itu, tujuan didirikan Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYAR
sebagai badan permanen dan independen yang berfungsi menyelesaikan kemungkinan terjadinya sengketa

muamalat yang timbul dalam hubungan perdagangan, industri keuangan, jasa dan lain-lain dikalangan um
Islam.

Sejarah berdirinya Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) ini tidak terlepas dari konteks
perkembangan kehidupan sosial ekonomi umat Islam, kontekstual ini jelas dihubungkan dengan berdiriny
Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan Bank Perkreditan Rakyat berdasarkan Syariah (BPRS) serta Asuran
Takaful yang lebih dulu lahir.

Di dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan belum diatur mengenai bank syariah,
tetapi dalam menghadapi perkembangan perekonomian nasional yang senantiasa bergerak cepat, kompetit
dan terintegrasi dengan tantangan yang semakin kompleks serta sistem keuangan yang semakin maju dipe
penyesuaian kebijakan di bidang ekonomi, termasuk perbankan. Bahwa dalam memasuki era globalisasi d
dengan telah diratifikasinya beberapa perjanjian internasional di bidang perdagangan barang dan jasa,
diperlukan penyesuaian terhadap peraturan Perundang-undangan di bidang perekonomian, khususnya sekt
perbankan, oleh karena itu dibuatlah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 Tentang
Perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan yang mengatur tentang perbankan
syariah. Dengan adanya Undang-undang ini maka pemerintah telah melegalisir keberadaan bank-bank yan
beroperasi secara syariah, sehingga lahirlah bank-bank baru yang beroperasi secara syariah. Dengan adany
bank-bank yang baru ini maka dimungkinkan terjadinya sengketa-sengketa antara bank syariah tersebut de
nasabahnya sehingga Dewan Syariah Nasional menganggap perlu mengeluarkan fatwa-fatwa bagi lembag
keuangan syariah, agar didapat kepastian hukum mengenai setiap akad-akad dalam perbankan syariah, dim
di setiap akad itu dicantumkan klausula arbitrase yang berbunyi :

Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan diantara para pihak m
penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui
musyawarah.

Dengan adanya fatwa-fatwa Dewan Syariah Nasional tersebut dimana setiap bank syariah atau lembaga
keuangan syariah dalam setiap produk akadnya harus mencantumkan klausula arbitrase, maka semua seng
sengketa yang terjadi antara perbankan syariah atau lembaga keuangan syariah dengan nasabahnya maka
penyelesaiannya harus melalui Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS).

Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) berdiri secara otonom dan independen sebagai salah sa
instrumen hukum yang menyelesaikan perselisihan para pihak, baik yang datang dari dalam lingkungan ba
syariah, asuransi syariah, maupun pihak lain yang memerlukannya. Bahkan, dari kalangan non muslim pu
dapat memanfaatkan Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) selama yang bersangkutan
mempercayai kredibilitasnya dalam menyelesaikan sengketa.

Lahirnya Badan Arbitrase Syariah Nasional ini, menurut Prof. Mariam Darus Badrulzaman, sangat tepat k
melalui Badan Arbitrase tersebut, sengketa-sengketa bisnis yang operasionalnya mempergunakan hukum I
dapat diselesaikan dengan mempergunakan hukum Islam.