Anda di halaman 1dari 20

TUGAS REVIEW KAPAL

KHUSUS
Oil Tanker
Bulk Carrier

Timber Carrier
Fishing Vessel

Di susun oleh :

Gde A. Prabhawatya Poundra


NIM : 2012.02.1.0021

JURUSAN TEKNIK PERKAPALAN


FAKULTAS TEKNIK dan ilmu kelautan
UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA

TANKER

1.1.

Terdapat beberapa pembagian kapal tanker :


A. Berdasarkan DWT :
1. 35.000 45.000

=> Panamax Tanker

2. 70.000 120.000 => Afranax Tanker


3. 120.000 165.000 => Suesmax Tanker
4. 200.000 310.000 => VLCC ( Very Large Crude Carrier )
5. 310.000 550.000 => ULCC ( Ultra Large Crude Carrier )

B. Berdasarkan Muatannya :
1. Crude Oil Carriers, yaitu kapal tanker pengangkut
minyak mentah
2. Product Tankers, yaitu kapal pengangkut minyak
hitam

Adapun perbedaan antara minyak mentah

dan minyak hitam ialah minyak mentah merupakan minyak


yang diangkut dari tempat pengeboran dan minyak hitam
merupakan minyak setelah dari tempat pengeboran diolah
kembali lalu diangkut oleh product tanker yang akhirnya
didistribusikan.
1.2.

Karakteristik kapal tanker :


1. Gemuk
2. Paralel middle body panjang (daya angkut besar)
3. Ukuran kapal besar
4. Kamar Mesin di belakang, alasannya :

a. karena bentuk tengah lebih

besar ( PMB ) (memaksimalkan daya angkut)

b. poros pendek

c.

pengaturan

trim

tidak

dipersoalkan
d.

menghindari

terjadinya

kebakaran
e.

Hanya

menggunakan

oiltight bulkhead

5. Freeboard untuk kapal tanker lebih kecil, alasannya

karena decknya kedap air sehingga tidak masalah


jika air laut naik ke atas deck.

Pembagian ruang muat lebih banyak dibandingkan


kapal General Cargo

Permeabilitas () ruang muat < 0,65 karena


pembagian ruang muat yaitu Volume ruang
kapal tanker << dan B>> dimana =

muat

V u
V

Adapun untuk mengurangi pengaruh dari permukaan bebas


:

1. Pemasangan Longitudinal Bulkhead, fungsinya : untuk


membagi kapal secara manjang sehingga mengurangi inersia
pada kapal.
2. Ekspantion Trunk, fungsinya :

a. mengurangi pengaruh ruang permukaan bebas

b. Ekspansi (pemuaian)

c. jembatan, d. memperbesar ruang muat

3. Memasang summer tank :


a. Pada saat summer diisi agar memenuhi sarat summer
b. Pada saar winter, summer tank dikosongkan
1.3.

Sistem Pipa Muat ( Single Bottom )

1. Ring Line ( 1 jenis muatan )


2. Direct Line ( lebih dari 1 jenis muatan )
3. System Khusus Crude Oil ( Free Flow System )

1.4.

Cargo Pump

Q = 0,7/t . L .B . H (m3/jam)

Dimana : Q = Total Capacity

t = Waktu Bongkar Muat (10-12 jam atau 24 jam)


Ada 2 jenis Pompa :
a. Main Line
b. Stripping Line ( Pompa lebih kecil dari Main Line )

1.5.

Vapour Lines

Di atas permukaan muatan terdapat 2-3% uap minyak yang


harus dikeluarkan Karena memiliki tekanan. Sehingga ada
sistem yang harus ada untuk mengatur tekanan agar
tekanan tetap sama dengan tekanan udara luar :
a. P.V. Valve ( Pressure Vacum Valve ) => fungsinya
menyamakan tekanan udara di dalam tangki dengan
tekanan udara luar. Valve akan terbuka secara otomatis
apabila tekanan berbeda lalu terhubung pada 1 pipa
utama pengeluaran. Kekurangannya apa salah satu
sambungan

mengalami

kerusakan

bisa

menggangu

fungsi dari valve yang lain.


b. Vent Stop, ada di setiap tangki dan tidak harus
terhubung pada 1 pipa utama lagi. Sehingga dalam
fungsinya tidak menggangu dari valve tangki yang lain.

1.6.

Steam Heating Coil

Fungsinya

memanaskan

muatan

agar

tidak

membeku.

Menurut Hanseke :
Luas Penampang pipa pemanas 0,05 m2 terhadap 1 m3
Volume tangki


1.7.

Untuk Viscositas tinggi 0,175 m2

Untuk Double Hull/Skin Tanker


-

Alternatif Design
1. Base Vessel
2. Double Bottom : 2 m double bottom, B/15 Double
bottom + wing tank
3. Double Skin with 1 Longitudinal Bulkhead
4. Double Skin with two Longitudinal bulkhead
5. Khusus : Horizontal sub division

H design -> oleh MHI

BULK CARRIER

2.1. Jenis Bulk Carrier :

Grain Carrier => berupa biji bijian tumbuhan, contohnya :


gandum, beras

Ore Carrier => hasil tambang, contohnya : besi, chrome,


mangan, dll

Coal Carrier (Collier) => batu bara

berupa : 1. Coak

(<1000oC), 2. Cole (>1000oC)

Seiring perkembangan zaman jenisnya menjadi :

Oil-Ore Carrier

Coal-Ore Carrier

OBO (Oil, Bulk, Ore)

Universal / Multiplayer Bulk Carrier

2.2. Karakteristik Bulk Carrier :

Single deck

Kamar mesin di belakang

Khusus muatan curah

Bentuk penampang di ruang muat khusus

Orientasi desain muatan (dibatasi kedalaman dari dermaga


karena kapal ini harus merapat ke dermaga)

2.3. Large Bulk Carrier

a. 40 50% dari B Moulded, biasanya yang digunakan 45%


b. 58 70% dari Hold Length (jarak bulkhead ke bulkhead di
ruang muat), biasanya yang digunakan 64%

2.4. Medium & Small Bulk Carrier

a. 45 55% dari B moulded, biasanya yang digunakan adalah


50%
b. 62 72% dari Hold Length, biasanya yang digunakan 68%

2.5. Klasifikasi dari Bulk Carrier :

Small Bulk Carrier 10.000

Hardy Size Bulk Carrier 10.000 35.000

Hardy Max Bulk Carrier 35.000 50.000

Panamax Bulk Carrier 50.000 80.000

Cape Size Bulk Carrier 80.000 and over

Large Bulk Carrier 200.000 and over

2.6. Tutup Palkah ( Patent Skull Cover => mc.gragor )

Persyaratan :

1. Kedap ( kekedapan bisa dipertanggung jawabkan )


2. Operasi pembukaan dan penutupan palkah harus cepat

2.7. Hold Compartement Kapasitas

Harus bisa menampung muatan berdasarkan kapasitasnya

Menurut D. Anderson berupa ketentuan pada saat

kapal kosong berupa:

Tf (Trim depan) = 0,027 0,030 L

Ta (Trim Belakang) = 0,040 0,045 L

Ballast = 0,35 0,45 DWT

2.8. Estimasi of Cargo Capacity

1. Untuk Tanker :

Total Capacity = L .B .De . Cb

Dimana :

L = Lpp

B = B moulded

De = D moulded + Chamber + 1/6 (sheer front +

sheer aft) (tinggi Double Bottom + top ceiling)

Cb (0,85D) = Cb pada 0,85 D moulded

2. Untuk Bulk Carrier :

Total Capacity = Lh .B . Dc

Dimana :

Lh = Length of hold cargo

B = B moulded

Dc = D moulded + chamber depth of double

bottom

Cb = Cb pada 0,85 D moulded

ORE CARRIER :

3.1. Specific volume untuk muatan Ore Carrier :

a. Chrome = 0,28 0,35 m3/ton -> 10 12 cbf/ton

b. Besi = 0,35 0,5 m3/ton -> 12 18 cbf/ton

c. Mangan = 0,90 1,27 m3/ton -> 18 -25 cbf/ton

d. Bauxit = 0,9 1,27 m3/ton -> 35 45 cbf/ton

3.2. Stabilitas Kapal Ore Carrier


MG = KB + MB KG

Jadi apabila KG sangat kecil menyebabkan MG sangat besar


MG berpengaruh pada periode oleng kapal yaitu : T=

0,8 B
MG

, jadi apabila MG sangat besar maka Periode oleng T sangat


kecil.
Contoh periode oleng kapal :
1. General Cargo = 7 12 detik
2. Tanker = 8 14 detik
3. Passanger = 20 detik

3.3. Adapun cara (menaikkan titik berat pada kapal)


mengatasi pengaruh MG yang terlalu besar diantaranya :
a. tinggi double bottom ditinggikan hingga H supaya titik
berat naik
b. memasang TST agar muatan mengumpul dan titik berat
naik
c. memasang HST
d. memasang Wing Tank, pengaruhnya pada stabilitas dilihat

dimana KM merupakan f(B), KB


merupakan

f(T),

dan

KG

merupakan

f(H).

adapun perbandingan dimensi dimensi kapal memiliki


pengaruh terhadap kapal :
1. L/H = Titik KM
2. L/B = Resistance
3. B/T = Stabilitas
4. H/T = Freeboard
5. B/H = Stabilitas
Dimensi untuk wing tank :

l/B = 0,3 0,4

b/B = 0,4 0,6

t/H = 0,2 0,4

B/T = 2,35 2,5

e. menggunakan palkah menggantung

f. Ore Coal Carrier ( menggunakan Portable Longitudinal

Bulkhead )

GRAIN CARRIER :

4.1. Specific volume untuk muatan Grain Carrier :

- Wheat = 44 48 cbf/tons -> 1,2 -1,35 m3/ton

- Oaks = 65 67 cbf/tons

- Rye = 48 32 cbf/tons

- Maite = 45 49 cbf/tons -> 1,25 1,4 m3/ton

- Barley = 53 65 cbf/tons

4.2. Masalah masalah yang timbul :

- Muatan akan memadat saat di tengah perjalanan

- Kapal grain carrier bergerak ke kiri ke kanan


sehingga diatasi dengan TST

4.3. Adapun ketentuan ketentuan dari kapal grain carrier :

- Jika muatan miring 12o maka kapal tidak boleh


oleng lebih dari 5o

- Lubang untuk menambahkan muatan saat kapal


mulai berjalan dan muatan mulai memadat

Fungsi TST dan HST pada Grain Carrier :

TST berfungsi untuk mengurangi pergeseran muatan

HST berfungsi untuk mempermudah bongkar muat

Cara mengatasi muatan yang memadat dan bergeser


Shafting panel kayu menghambat pergerakan
muatan dalam ruang muat

Trimming hatch lubang lubang yang diisi karung


dan papan papan akan mengganggu gerakan muatan
dalam ruang muat

COAL CARRIER ( Collier ) :


Pada muatan ini pergeseran muatan sangat sedikit, karena
bentuk

partikel

tidak

rata

dan

saling

terikat

antar

partikelnya.
Dengan specific volume : 1,1 1,25 m 3-> 40 45 cbf/tons.
Lalu pada General Cargo 1,2 1,7 m3/ton
Hatchway sebesar 0,6 0,7 B

Sudut Talud => sudut oleng aman saat muatan mulai


bergeser pada rolling yang lambat -> statutorial angle of
repose
Dynamical angle of repose => sudut oleng aman saat
muatan bergeser pada rolling cepat
Menurut Mitchell MG terbaik yaitu MG = 18 = 54 cm

Periode (T) =

2 .0,38 . B
. MG

= berkisar antara 7 12 detik

d =

1+

4y
cos( s)
2
t

TIMBER CARRIER

6.1. Karakteristik :

- Muatan di atas deck sebesar 30% terhadap payload, adapun


masalah yang timbul : a. Konstruksi dan kekuatan, b.
Stabilitas, c. Freeboard

- Muatan kayu di atas deck diikat dengan kuat sehingga tidak


bergerak dan bisa dianggap bangunan atas menambah daya
apung cadangan ( masuk dalam koreksi bangunan atas pada
freeboard. Freeboard diijinkan kecil.

- Memiliki hatchway yang besar dan hatch cover yang kuat


untuk muatan di atas deck.Menggunakan pontoon cover.

- Derrick besar untuk muatan kayu yang besar dan


diletakkan pada suatu platform

- Pada midship L ( midship half length ), double bottom


dipasang memanjang dan melintang untuk diisi ballast
sehingga menurunkan titik G.
Pengaruh

Muatan

di

atas

deck

terhadap

Struktur

(Konstruksi & Kekuatan) Kapal harus mendapat tambahan


penguatan :

1. Tutup palkah (hatch cover lebih kuat)

2. Konstruksi deck (deck beam lebih besar)

3. Konstruksi kapal secara umum (modulus penampang


gading)

6.2. Standar Muatan Kayu

1. Standar :

- Kayu Balok = 165 cbf -> 4,672 m3

- Kayu Papan = 150 cbf -> 4,246 m3

- Kayu Gelondongan = 120 cbf -> 3,398 m3


2. Ruang yang diperlukan ( rata rata )

- dalam palkah : 220 cbf/st = 6,23 m3/st

- di atas geladak : 200 cbf/st = 5,66 m3/st

6.3. Stabilitas
Yang mempengaruhi :

Muatan kayu di atas geladak

Air yang membasahi muatan

( Pada musim winter ) air membeku di sela sela kayu

Bahan bakar yang disimpan di double bottom habis

Berat ballast di double bottom = 1/6 DWT

6.4. Lambung Timbul (Freeboard)

=>Umumnya kapal tidak boleh ada muatan di atas deck


lebih besar dari 5% dari DWTnya, pengecualian untuk kapal
Timber Carrier karena harus memiliki Timber Certificate
dengan prasyarat: a. Struktur

b. Stabilitas

c. Lambung Timbul

d. Pengikatan muatan

e. Pengamanan Crew

6.5. Struktur

Persyaratan Konstruksi Timber Carrier :

1. Freeboard -> berdasarkan gaya hidrostatis

2. Muatan 30% di atas geladak -> diperkuat dengan pontoon


cover

6.6. Freeboard

=>untuk muatan di atas geladak tidak lebih dari 5%DWT


pada

summer

mark

kecuali

memiliki

Timber

Carrier,

prasyarat :

- struktur

-stabilitas

- lambung timbul

- pengikatan muatan

- perlindungan crew kapal, contohnya : life line( catwalk,


flying bridge)

- dll

Fishing Boat

Kapal Ikan
1. Kapal penangkap ikan
2. Kapal pengolah ikan
3. Kapal pengangkut hasil tangkapan
4. Kapal penelitian dan pelatihan penangkapan ikan
Alat tangkap ikan

1. Dengan alat tombak


2. Dengan jaring netting (Drift net dan Gillnet fishing
(memakai pemberat))
3. Dengan pancing (long liner dan pole and line boat)
Merancang Kapal Ikan

1. Jenis ikan

Jenis ikan yang akan ditangkap

2. Perlengkapan penangkapan


Perlengkapan penangkapan, tergantung pada alat tangkap
yang digunakan dalam operasional.

3. Fasilitas pengawetan dan pengolahan

Dalam pengangkutan diharapkan hasil tangkapan tetap


dalam keadaan segar, untuk itu kapal perikanan harus dilengkapi
dengan tempat penyimpanan ikan/palka yang berinsulasi dan
biasanya untuk menyimpan es tetapi ada yang dilengkapi dengan
mesin pendingin tempat pembekuan ikan

4. Jarak pelayaran/kemampuan jelajah

Kapal perikanan harus mempunyai kemampuan jelajah,


untuk menempuh jarak yang sangat tergantung pada kondisi
lingkungan perikanan

5.Olah gerak

Kapal perikanan memerlukan olah gerak/manuver kapal


yang baik terutama pada waktu operasi penangkapan dilakukan.