Anda di halaman 1dari 4

Halaman 5 - 12

A. Pengertian Akuntansi
Pada mulanya pengertian akuntansi menurut Committe on Terminology of the
American Institute of Certified Public Accountants bahwa akuntansi adalah seni
mencatat, menggolongkan, dan mengikhtisarkan transaksi dan peristiwa yang paling
tidak sebagai bersifat keuangan dengan suatu cara yang bermakna dan dalam satuan
uang, serta menginterpretasikan hasilnya. Akhir akhir ini akuntansi selain dipandang
sebagai seni, juga dipandang sebagai bahasa dunia usaha, yaitu sebagai sarana untuk
mengkomunikasikan informasi tentang perusahaan.
Akuntansi juga bisa didefinisikan sebagai konsep informasi, dimana
merupakan kegiatan jasa yang menyediakan informasi kuantitatif terutama yang
bersifat keuangan, tentang kesatuan kesatuan ekonomi agar bermanfaat dalam
pengambilan keputusan. Sedangkan definisi juga didefinisikan sebagai sistem
informasi dimana merupakan proses yang menjalin sumber informasi, saluran
kominikasi dan seperangkat penerima. Pandangan ini menekankan pada konseptual
empiris. Maksudnya adalah pertama, diasumsikan bahawa sistem akuntansi adalah
satu satunya sistem pengukuran yang formal suatu organisasi. Kedua, bahwa
pandangan ini menimbulkan kemungkinan perancangan suatu sistem akuntansi secara
proposional yang mampu menyediakan informasi yang berguna bagi semua pemakai.
Ketiga, adalah menekankan pentingnya pengirim akuntansi (akuntan) dan penerima
akuntansi (pemakai).
Dengan melihat berbagai definisi akuntansi, secara umum akuntansi bisa
didefinisikan sebagai seni, ilmu, sistem informasi yang di dalamnya menyangkut
pencatatan, pengklasifikasian dengan cara sepatutnya dan dalam satuan uang atas
transaksi dan kejadian setidak tidaknya sebagian mempunyai sifat keuangan serta
adanya penginterpretasian hasil pencatatan dan disajikan dalam laporan keuangan.
B. Kerangka Konseptual Akuntansi
Kerangka konseptual akuntansi adalah suatu sistem pertalian yang erat (koheren) dari
tujuan dan konsep konsep dasar yang saling berhubungan dan saling mengarahkan
terciptanya prinsip prinsip yang konsisten serta menggambarkan sifat, fungsi, dan
keterbatasan akuntansi beserta laporan keuangan. Kerangkan konseptual akuntansi
akan dapat dirumuskan prinsip prinsip akuntansi yang dapat menjadi acuan bagi
para pemakai informasi akuntansi dan selanjutnya hal ini akan mendasari praktik
akuntansi dan hasilkan tujuan dan dasar praktik akuntansi dan pelaporan keuangan.
Kerangka konseptual juga akan memberikan pedoman untuk memilih alternatif yang
mencerminkan posisi keuangan dan hasil operasi dengan cara yang paling akurat
dalam lingkungan tertentu.
Kerangka konseptual dibagun dari tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah
tujuan pokok akuntansi, tingkatan kedua adalah konsep dasar pelaporan yang terdiri
dari karakteristik informasi dan elemen laporan keuangan. Tujuan pokok dari konsep
dasar palaporan tersebut selanjutnya digunakan pada tingkatan ketiga yaitu menyusun
pedoman pelaksanaan. Pedoman pelakasanaan harus memperhatikan asumsi, prinsip,
dan kendala.

1. Tujuan Pokok Akuntansi


Tujuan pokok akuntansi adalah tujuan umum laproan keuangan yaitu memberikan
informasi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan bagi para pemakainya.
Secara khusus laporan keuangan harus mencapai tujuan memberikan informasi
keuangan yang didapat dipercaya mengenai posisi aktiva, hutang dan modal
beserta perubahannya, sehingga dapat digunakan untuk menaksir prospek arus
kas, kondisi keuangan, prestasi, dan potensi perusahaan atau bank dalam
menghasilkan laba serta dapat menjelaskan bagaimana dana diperoleh dan
digunakan.
Tujuan laporan keuangan memberikan informasi yang dibutuhkan oleh
pengambil keputusan. Ini berarti dapat saja berubah sesuai dengan kebutuhan
pemakai, situasi dan kondisi ekonomi, politik, hukum maupun aspek lingkungan
bisnis. Tetapi tidak boleh dilupakan bahwa laporan keuangan tersebut disusun
dalam konteks untuk memenuhi semua pemakai yang berbeda beda atau bersifat
umum.
2. Konsep Dasar Pelaporan
Konsep dasar pelaporan merupakan penghubung antara pedoman pelaksanan
dengan tujuan yang hendak dicapai. Dalam konsep ini harus mampu menjelaskan
karakteristik atau mutu informasi dan elemen penyedia jasa informasi dapat
menentukan : kepada siapa informasi tesebut ditujukan, tipe tipe informasi yang
dibutuhkan, dan bagaimana karakteristik informasi yang bermanfaat bagi semua
pihak dapat dipenuhi.
a. Karakteristik Mutu Informasi Akuntansi
Pemilihan metode akuntansi, tipe informsi, dan dan format informasi
yang diperlukan akan menentukan nilai kegunaan informasi bagi pengambil
keputusan. Sehingga informasi yang disajikan haru informasi yang baik dan
memberikan manfaat yang lebih besr daripada biaya yang harus dikeluarkan
untuk memperoleh/ menyajikan informasi tersebut. Informasi yang dimengerti
adalah informasi yang mempunyai sifat relevansi dan reliabilitas, memiliki
daya banding, dan konsisten.
Relevansi Informasi Akuntansi
Kualitas primer suatu informasi akuntansi ditentukan oleh relevansi dan
reliabilitasnya. Relevansi ini dapat dikur melalui maksud penggunaan
informasi tersebut. Relevansi berarti memilih metode pengukuran dan
pelaporan yang dapat membantu setiap pemakai laporan keuangan yang
akan mengambil keputusan.
Informasi yang relevan adalah informasi yang menimbulkan
perbedaan. Perbedaan itu dapat memperlemah atau memperkuat
pengharapan yang ada. Relevansi selalu dikaitkan dengan feedback dan
nilai prediktif dari informasi tersebut. Jika pengambil keputusan tidak
merasa diperkuat atau diperlemah oleh informasi yang disajikan, maka
informasi itu bisa dikatakan tidak mengandung relevansi, sebaliknya
apabila pengambil keputusan dapat memperhitungkan konsekuensi yang
akan timbul di kemudian hari atas dasar informasi, maka informasi
tersebut dikatan relevan. Informasi dikatakan relevan kalau disajikan tepat

waktu, sebab infomasi yang basi atau disampaikan tidak tepat waktu akan
tidak ada gunanya bagi pengambil keputusan atau dengan kata lain tidak
relevan.
Realibilitas Informasi Akuntansi
Infomasi yang disampaikan harus andal, dalam arti bebas dari pengertian
yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat dipercaya pemakainya
yaitu telah disajikan dengan benar dari yang seharusnya disajikan atau
secara wajar diharapkan dapat disajikan, sehingga mencerminkan secara
tepat mengenai keataan atau peristiwa ekonomi yang akan disampaikan.
Keandalan informasi ini pertimbangan sehat, serta harus lengkap dan ada
ketepatan dalam penyajian. Ketepatan dalam menyajikan (jujur)
merupakan kesesuaian antara infomasi yang dilaporkan dengan hasil
hasil aktual dari aktivitas ekonomi yang diukurnya.
Komparabilitas atau Daya Banding
Informasi semakin bermanfaat apabila dapat dikaitkan dengan standar
ukuran tertentu. Satndar ukuran ini menjadikan informasi dapat
diperbandingkan. Perbadingan dapat dilakukan terhadap data dari periode
yang berbeda dalam satu perusahaan, atau/dan dapat terhadap data atau
informasi dari perusahaan lain yang sejenis dalam satu periode yang sama.
Perbadingan ini untuk mengidentifikasikan kecenderungan atau tren posisi
dan kinerja keuangan serta perubahan posisi keuangan baik secara absolut
maupun relatif. Oleh karena itu pengukuran dan penyajian informasi
keuangan dari transaksi atau peristiwa lain yang serupa harus dilakukan
secara konsisten.
Kosistensi
Menyajikan informasi keuangan atau akuntansi dihadapkan pada berbagai
alternatif metode akuntansi. Oleh sebab itu agar informasi akuntansi
bermanfaat, penggunaan metode akuntansi harus konsisten agar
kekontinuan dan kekomparabelan laporan keuangan tercapai.
b. Elemen elemen Laporan Keuangan
Elemen pokok laporan keuangan terdiri dari:
Aktiva adalah manfaat ekonomi yang dinyatakan untuk sumber
sumber ekonomi yang dimiliki perusahaan, yang meliputi barang dan
hak hak yang memberikan manfaat di masa yang ajan datang dan
didapat dari transaksi atau peristiwa yang terjadi dimasa lalu.
Hutang atau kewajiban adalah pengorbanan sumber ekonomis yang
mungkin di masa yang akan datang yang timbul dari kewajiban entitas
tertentu pada saat ini, untuk menyerahkan aktiva atau memberikan jasa
kepada entitas lain di masa mendatang sebagai akibat dari transaksi
atau peristiwa di masa lampau.
Modal adalah jumlah uang yang dinyatakan untuk sisa hak atas aktiva
perusahaan setelah dikurangi seluruh kewajibannya.
Pendapatan adalah jumlah kotor dari kenaikan aktiva atau penurunan
kewajiban (atau kombinasi keduanya). Pendapatan timbul dari aktivitas

penjualan barang atau jasa, penyerahan jasa dan aktivitas lainnya yang
mengakibatkan diperolehnya pendapatan atau laba bagi perusahaan.
Biaya adalah jumlah kotor dari penurunan aktiva atau kenaikan
kewajiban. Biaya ini timbul dari kegiatan pembuatan atau mengadaan
barang dan jasa, dan lain lain kegiatan usaha untuk memperoleh
pendapatan dalam suatu periode.
Laba adalah selisih lebih dari antara pendapatan di atas biaya dalam
suatu periode, dan rugi apabila terjadi sebaliknya.
3. Prinsip Akuntansi
Prinsip akuntansi adalah dalil atau doktrin untuk mengawasi suatu sistem atau
aktivitas tertentu yang telah diterima kebenarannya. Pada hakekatnya akuntansi
selalu berkembang dan selalu berubah sesuai dengan perkembangan dan
perubahan nilai nilai yang terjadi di masyarakat. Prinsip akuntansi dapat bersifat
tertulis maupun tidak tertulis sebagai akibat yang timbul dari pengalaman yang
dapat digunakan daebagai oedoman dalam menyajikan informasi keuangan.
Prinsip prisnip tersebut adalah:
a. Prinsip Harga Perolehan
Dalam prinsip ini ditekankan bahwa aktiva, hutang, modal, penghasilan dan
biaya hendaknya dicatat sebesar harga perolehan yang disepakati oleh kedua
belah pihak yang bertransaksi.
b. Prinsip Realisasi Penghasilan
Prinsip ini pada dasarnya mencakup pengertian, pengukuran, dan pengakuan
penghasilan. Penghasilan adalah setiap pertambahan aktiva atau penurunan
hutang yang timbul dari penjualan barang atau jasa selama periode akuntansi.
Dalam kaitannya dengan pengakuan penghasilan, maka timbul
beberapa metode pengakuan penghasilan, yang pertama pada saat penjualan
barang atau jasa. Bila penjualan barang dan jasa sudah tersedia dan dapat
diukur secara pasti, mkaa metode ini dapat diterapkan. Kedua adalah
pengakuan penghasilan dapat dilakukan pada saat sebelum melakukan
penjualan. Metode ini dapat digunakan kalau pemasaran barang dan jasa sudah
terjamin misalnya sudah adanya kontrak/ perjanjian tertentu dengan pihak lain,
kemudian harganya sudah relatif pasti dan sebagian besar kegiatan untuk
memperoleh penghasilan di maksud sudah dilaksanakan. Ketiga adalah
pengakuan penghasilan didasarkan pada saat penerimaan kas. Metode ini
dapat dilakukan kalau resiko terjadi piutang tidak tertagih atau jangka waktu
relatif lama. Metode ini digunakan bank terutama bila mengakui pendapatan
bunga yang berasal dari kredit bermasalah bahkan macet. Untuk kredit macet,
pendapatan bunga tidak akan akui menjadi rekening nominal (pendapatan
bunga) sebelum benar benar direalisasi.