Anda di halaman 1dari 20

BAB V

PERENCANAAN ELEMEN LENTUR DAN AKSIAL


4.1 Denah Kolom
Perencanaan elemen lentur dan aksial berdasarkan dari denah kolom yang
sudah direncanakan , seperti pada Gambar 4.1

Gambar 4.1 Denah Kolom


4.2 Analisa Pembebanan
Nilai gaya aksial terbesar diperoleh dari analisa pembebanan portal
memanjang seperti ditunjukkan pada Gambar 4.2.

Gambar 4.2 Pembebanan Portal Memanjang dengan Gempa

Gambar 4.3 Bidang M, D, N pada Kolom yang di Tinjau Akibat Beban Mati

Gambar 4.4 Bidang M, D, N pada Kolom yang di Tinjau Akibat Beban Hidup

Gambar 4.5 Bidang M, D, N pada Kolom yang di Tinjau Akibat Beban Gempa
4.3 Disain Tulangan Lentur Kolom
4.3.1 Definisi Kolom
Desain tulangan kolom sesuai SNI 03-2847-2002 Pasal 23.4.
a. Gaya tekan aksial terfaktor maksimum > 0,1 Ag fc
Pu maksimal = 136.92 ton = 1369200 N
Pu > 0,1 x (400x400) mm2 x 30 MPa
1369200 N > 480000 N

OK

b. Sisi terpendek kolom tidak kurang dari 300 mm


Sisi terpendek = 500 mm
500 mm > 300 mm
OK
Syarat sisi terpendekkolom terpenuhi.
b
c.
h > 0,4
500
500
1> 0,4

> 0,4
OK

Syarat geometri balok terpenuhi.


d. Tinggi efektif kolom
d = h p D/2 = 500 40 10 25/2 = 437.5 mm
e. Check konfigurasi penulangan
Asumsi digunakan tulangan baja 12D25 (As = 5890.486 mm2),

4.3.2

sehingga s = 5890.486/250000 = 2.3562 %.


Syarat konfigurasi penulangan terpenuhi, 1% << 6%.
Portal Bergoyang dan Tidak bergoyang
Elemen tekan (kolom) pada struktur harus dikelompokkan
sebagai portal tidak bergoyang atau portal bergoyang. Berdasarkan SNI
03-2847-2002, suatu portal dapat dianggap tak bergoyang bila
perbesaran momen-momen di ujung akibat pengaruh orde dua tidak
melebihi 5% dari momen-momen ujung orde satu. Suatu tingkat pada
struktur boleh dianggap tidak bergoyang bila nilai :
Pu o
Q=
V us x l c < 5%
dimana : Pu adalah total beban vertikal tiap lantai

Vus adalah beban gempa nominal tiap lantai


o adalah simpangan relatif antar tingkat
lc adalah panjang komponen struktur tekan
Hasil analisis apakah portal memanjang termasuk portal bergoyang
atau tidak ditunjukkan pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Cek Portal Memanjang Bergoyang atau Tidak

Hasil analisis menunjukkan bahwa portal memanjang termasuk portal


tidak bergoyang.
4.3.3

Kelangsingan Kolom
Berdasarkan SNI 03-2847-2002

Pasal

12.12.2,

perhitungan

kelangsingan portal bergoyang (untuk komponen tekan yang tidak


ditahan terhadap goyangan samping), bolehdiabaikanapabila:
k lu
M1
3412
r
M2

( )

dimana : r (radius girasi) =

I
A atau 0,3h untuk kolom persegi.

lu adalah panjang bersih kolom


k (faktor panjang efektif)
M1 adalah momen ujung terfaktor yang lebih kecil pada
komponen tekan; bernilai positif bila komponen struktur
melentur dengan kelengkungan tunggal, negative bila
komponen struktur melentur dengan kelengkungan ganda.
M2 adalah momen ujung terfaktor yang lebih besar pada
komponen struktur tekan; selalu bernilai positif
Faktor panjang efektif (k) komponenstrukturtekanataukolom sangat
dipengaruhi
olehrasiodarikomponenstrukturtekanterhadapkomponenstrukturlenturpa
dasalahsatuujungkomponenstrukturtekan
dihitungdalambidangrangka

yang

ditinjau

yang
()

seperti

yang

tercantumpada SNI 03-2847-2002 Pasal 12.11.6sebagaiberikut:

Ec

Ik
lu

Ec

Ib
lu

( )
( )

1. Sisi atas kolom yang ditinjau:


a. Kolom yang didesign
b=500 mm; h=500 mm ; l u=4750 mm
Ec =4700 f 'c =4700 30=25742,9602 MPa

I g=

1
1
3
3
9
4
b h = 500 500 =5.208 10 mm
12
12
9

I c =0,70 I g=0,70 5.208 10 =3.646 10 mm

b. Kolom atas
b=500 mm; h=500 mm ; l u=4750 mm
Ec =4700 f 'c =4700 30=25742,9602 MPa
I g=

1
1
3
3
9
4
b h = 500 500 =5.208 10 mm
12
12

I c =0,70 I g=0,70 5.208 10 9=3.646 109 mm 4


c. Balok atas kanan
b=400 mm ; h=600 mm ;l u =9000 mm
Ec =4700 f 'c =4700 30=25742,9602 MPa

I g=

1
1
b h3 = 400 600 3=7.2 109 mm4
12
12
9

I b=0,35 I g=0,35 7.210 =2.52 10 mm

d. Balok atas kiri


b=400 mm ; h=600 mm ;l u =9000 mm
Ec =4700 f 'c =4700 30=25742,9602 MPa
I g=

1
1
3
3
9
4
b h = 400 600 =7.2 10 mm
12
12

I b=0,35 I g=0,35 7.210 9=2.52 109 mm4


Nilai

atas =

untuk kolom bagian atas adalah


9

)(
)
2.52 10
25742,9602 2.52 10
+(
( 25742,9602
)
)
9000
9000
25742,9602 x 3.646 10
25742,9602 x 3.646 10
+
4750
4750
9

= 2.741
2. Sisi bawah kolom yang ditinjau:
a. Kolom yang didesign
b=500 mm; h=500 mm ; l u=4750 mm
Ec =4700 f 'c =4700 30=25742,9602 MPa
I g=

1
1
b h3 = 500 5003=5.208 10 9 mm 4
12
12

I c =0,70 I g=0,70 5.208 10 9=3.646 109 mm 4


b. Kolom bawah
b=500 mm; h=500 mm ; l u=4750 mm

Ec =4700 f 'c =4700 30=25742,9602 MPa

I g=

1
1
b h3 = 500 5003=5.208 10 9 mm 4
12
12

I c =0,70 I g=0,70 5.208 10 9=3.646 109 mm 4


c. Balok bawah kanan
b=400 mm ; h=600 mm ;l u =9000 mm
Ec =4700 f 'c =4700 30=25742,9602 MPa
I g=

1
1
b h3 = 400 600 3=7.2 109 mm4
12
12

I b=0,35 I g=0,35 7.210 9=2.52 109 mm4


d. Balok bawah kiri
b=400 mm ; h=600 mm ;l u =9000 mm
Ec =4700 f 'c =4700 30=25742,9602 MPa

I g=

1
1
3
3
9
4
b h = 400 600 =7.2 10 mm
12
12

I b=0,35 I g=0,35 7.210 9=2.52 109 mm4


Nilai

bawah=

untuk kolom bagian bawah adalah

25742,9602 x 3.646 109


25742,9602 x 3.646 109
+
4750
4750

)(
)
10
( 25742,960290002.52 10 )+( 25742,96022.52
)
9000
9

= 2.741
Nilai k diperoleh dengan menggunakan monogram untuk portal tidak
bergoyang seperti yang ditunjukkan Gambar 4.4 dengan memplotkan nilai
atas
bawah

= 2.741 dan

bawah

= 2.741. Buat garis antara

atas

dan

sehinnga memotoing garis k. Nilai k adalah nilai yang terpotong

oleh garis yang menghubungkan atas dan bawah .

Gambar 4.6 Monogram Faktor Panjang Efektif


Monograf di atas memberikan nilai k = 0,88
k lu
M1
<3412
r
M2

( )

M1
0.88 4050
<3412
210
M2

( )

16.971 < 34 -12

( 9.459
9.721 )

16.971 <22.323
Hasil perhitungan menunjukan bahwa kolom pada bangunan bertingkat
tinggi ini termasuk kolom tidak langsing, sehingga tidak perlu
memperhitungkan perbesaran momen.

4.3.4

Diagram Interaksi Kolom

Kunci dalam perhitungan diagram in suatu tulangan sudah mencapai


kondisi leleh atau belum. Kondisi leleh suatu tulangan ditentukan oleh

regangannya. Perhitungan regangan menggunakan sifat perbandingan


segitiga.
0,003
c

1
teraksi kolom adalahbesarnya nilai c . Besarnya nilai c mempengaruhi apakah
cs 1

1 =

cs 1
c

x 0,003

kalikan kedua ruas dengan Ebaja = 200000MPa


cs 1
c62,5
fs1 = 600
=
600
c
c
lakukan hal yang sama untuk 2, 3, dan 4
cs 2
c187.5
fs2 = 600
=
600
c
c
fs3 = 600

cs 3
= 600
c

c312.5
c

fs4 = 600

cs 4
= 600
c

c437.5
c

nilai f maksimal adalah saat mencapai kondisi leleh yaitu fy = 360MPa


Besarnya nilai c diperoleh dari Persamaan
P = 0
Cc + Cs1 + Cs2 Ts3 Ts4 = 0
dimana
Cc = 0,85 x fc x a x b
Cs1 = As1 x fs1
Cs2 = As2 x fs2
Ts1 = As4 x fs4
Ts2 = As5 x fs5
Nilai momen didapat dari besarnya gaya dikali jarak / lengan. Pada
perhitungan tugas ini nilai momen diukur dari pusat plastis kolom (0,5 h).
h
a
h
h
Mn = Cc x ( 2 2 )+ Cs1 x ( 2 s1) + Cs2 x ( 2 s2) + Ts1 x (s3
h
2 ) + Ts2 x (s4

h
2 )

a. Kondisi Balance, regangan beton maksimum mencapai 0,003 dan tulangan


tarik sisi terluar pasti mencapai tegangan leleh.

Cb =

600 d
600 x 437.5
=
600+ fy
600+360

= 273.44 mm

Pno = 0,65 x 3064.36 kN = 1991.834 kN


Mb = 0,65 x 678.37 kN = 440.941 kN m
b. Kondisi Pno, aksial maksimumtekan terjadi saat e = 0
Pno = Pconcrete + Psteel
Pno = 0,85 x fc x (Ag As) + fy x As
Pno = 0,85 x 30 MPa x (250000)mm2 + 360 MPa x 5890.486 mm2
Pno = 8495574.96 N = 8495.575 kN
Pno = 0,65 x 8495.575 kN = 5522.124 kN
c. Kondisilentur murni, terjadi saat Pu = 0 dan tulangan tarik sisi terluar pasti
mencapai tegangan leleh

Mb = 0,8 x 420.579 kN = 273.377 kN m


d. Kondisi aksial maksimum tarik, semua tulangan pasti mencapai tegangan leleh,
terjadi saat e = 0
Pu = Psteel
Pu = fy x As
Pu = 360 MPa x 7853,9816 mm2
Pu = 2826353,376 N = 2826,353kN
Pu = 0,65 x 2826,353 kN = 1837,1296 kN

e. Kondisi runtuh zona tekan 1, tulangan tekan sisi terluar pasti mencapai
tegangan leleh, terjadi saat C > Cb

10

Pno = 0,65 x 3614.5 kN = 2349.425 kN


Mb = 0,65 x 647.397 kN = 420.808 kN m
f. Kondisi runtuh zona tekan 2, tulangan tekan sisi terluar pasti mencapai
tegangan leleh, terjadi saat C > Cb

Pno = 0,65 x 4542.06 kN = 2952.339 kN

11

Mb = 0,65 x 584.962 kN = 380.225 kN m


g. Kondisi runtuh zona tarik 1, tulangan tarik sisi terluar pasti mencapai tegangan
leleh, terjadi saat C < Cb

Pno = 0,65 x 1872.98 kN = 1217.437 kN


Mb = 0,65 x 645.719 kN = 419.717 kN m
h. Kondisi runtuh zona tarik 2, tulangan tarik sisi terluar pasti mencapai tegangan
leleh, terjadi saat C < Cb

12

Pno = 0.65 x 1105.30 kN = 718.445 kN


Mb = 0.65 x 267.798 kN = 193.569 kN m
i. Kondisi Pn = 0,1Pno, tulangan tarik sisi terluar pasti mencapai tegangan leleh,
terjadi saat Pn = 0,1Pno.

Pno = 0,65 x 834.54 kN = 542.451 kN


Mb = 0,65 x 544.251 kN = 353.736 kN m
j. Kondisi tekan asimtosis, perilaku balok tidak bisa diprediksi.
0,8 ( Pno) = 0,8 x 2199,5805 kN = 1759,6644 kN

13

Sehingga diperoleh diagram interaksi seperti ditunjukkan pada Gambar 4.7

Diagram Interaksi Kolom


6000

5424

5000
4000
3000
P (kN)

2952
2349
1992

2000

0
-1000

1217

542

1000
0

50
-1378

100

-718
150 200

250

0
300

350

400

450

500

-2000
M (kNm)

14

Gambar 4.7 Gambar Diagram Interaksi Kolom


Gaya Pu dan Mu maksimal pada portal memanjang saat terjadi gempa dari
hasil analitis yang ditunjukan pada gambar 4.2 adalah 1369.2 KN dan 97.2
KNm .
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Pu dan Mu yang terjadi masih berada
dalam grafik interaksi P-M kolom yang artinya kolom Kuat.
4

Tinjauan Lentur Biaksial


Perhitungan lentur biaksial menggunakan metode Beban Berlawanan dari
Bresler. Menurut Wang dan Salmon (1987) , Besler menyatakan bahwa Pi yang
dihitung menggunakan persamaan metode beban berlawanan adalah sangat
cocok dengan hasil-hasil percobaan , seperti penyebaran (deviasi) 9,4%, dan
dengan rata rata 3,3%.Tabel 4.3. menunjukan gaya-gaya dalam dan
kombinasi pembebanan yang bekerja pada kolom yang ditinjau untuk
dilakukan peninjauan lentur biaksial.
Gaya-gaya dalam dan kombinasi pembebanan yang terjadi
pada Kolom (K1-40 x 40)

Gaya
Dalam

Mati
(DL)

P(kN)

743,9

Vmax(
kN)

1,96

Beban
Gem
Hidu
pa
p
arah
(LL)
X(Ex)
296,
1,84
66
34,8
2,01
1

Kombinasi
Gem
pa
arah
Y(Ey)
24,8
9
23,4
3

1,2 DL +
1,6 LL

1,2 D + 1,0 LL
+1,0 Ex

1,2 D + 1,0 LL
+1,0 Ey

1366,28

1190,52

1213,57

5,568

39,172

27,792

M2b
Mx
(kNm)
My
(kNm)

7,94

5,61

51,55

20,8
3

86,6
6
61,3
6

78,7
49,9
1

18,50
4
95,18
8

M2
s
0
0

M2b
140,1
12
144,0
5

M2s

M2b

M2s

132,6

132,1
52

132,1
52

132,6

140,1
12
144,0
5

Perhitungan Lentur Biaksial


Pu = 1366,28 kN
Muy = 144,05 kNm dan Mux = 140,112 kNm
Eksentrisitas minimum emin = 15 + 0,03h = 15 +0,03 (400) = 27 mm
Eksentrisitas arah X adalah :

15

Muy
Pu

ex =

144,05(1000)
1366,28

= 29,27 mm > emin maka digunakan ex

Eksentrisitas arah Y adalah :


Mux
Pu

ey =

140,112 (1000)
1366,28

= 8,900 mm < emin maka digunakan

emin
Gambar 4.9. merupakan diagram interaksi P dan e pada kolom yang
ditinjau

Diagram Biaxial
6773
7000
6000
5000
3825

4000
P(kN)

3105
2685

3000

1687

2000

1256

1000
0
25
0

50

75 125 175 225 275 325 375 425 475 525


100 150 200 250 300 350 400 450 500
e (mm)

16

Gambar 4.5. Diagram Interaksi P-e Kolom (K1-500x500) dengan tulangan 12 D 25

1
Pni

= Pnx

1
Pni

= 3989 + 4004 - 7360,3

+ Pny

- Po

Pni = 2741,496 kN
pni = 0,65*(2741,496) = 1781,972 kN > 1366,28 kN
Berarti penampang cukup karena kemampuan penampang Pni lebih besar dari gaya
yang bekerja pada penampang yaitu Pu.

4.4 Desain Shear Reinforcement


M pr x DF + M pr x DF
423,81+225,41
Vsway =
=
= 216,407kN
3
ln
top

btm

Vsway> Vanalitis
216,407 kN > 65,10 kN
Vc =

1
f ' c
6

xbxd=

1
30 x 400 x 340,5 = 124,333 kN
6

Check
Vu
1
>

Vc

216,407
1
>
0,75
2 x 124,333
288,542 kN > 62,1665 kN
Check
Vu
> Vc +

1
3 xbxd

17

288,542 > 124,333 +

1
3 x (400 x 340,5)/1000

288,542 > 169,733 kN


Vsperlu =

Vu

Vc

Vsperlu = 288,542 124,333 kN = 164,209 kN


Coba gunakan D10 110 (Av = 157,08 mm2)
Vs =

Av x fy x d
=
s

157,08 x 360 x 340,5


110

= 175,044kN

Vs > Vsperlu
4.5 Desain Confinement Reinforcement
Total cross section hoops berdasarkan SNI 03-2847-2002 Pasal 23.4.4.1 tidak
kurang dari salah satu yang tebesar antara
'
Ag
s x hc x f c
Ash = 0,3 (
)
(
A ch
fyh

1)

0,09 x s x hc x f ' c
Ash = (
)
fyh
Coba gunakan 4 tulanganD13 (Av = 530,93 mm2)
hc = b 2(40 + db) = 400 2(40 + x 13) = 307 mm
Ach = (bw 2(40)) x (bw 2(40)) = (400 80)2 = 102400 mm2
A sh
s

Ag
hc x f ' c
= 0,3 (
)
(
A ch
fyh

1) = 0,3 (

307 x 30
160000
)
(
360
102400

1) =

mm2
4,317 mm
A sh
s

2
0,09 x 307 x 30
0,09 x hc x f ' c
mm
=(
)=(
) = 2,303 mm
360
fyh

mm2
Ambil nilai terbesar 4,317 mm
Spasi maksimum adalah yang terkecil di antara :

18

a. cross section dimensi kolom = 400/4 = 100 mm


b. 6 kali diameter tulangan longitudinal = 6 x 19 = 114 mm
350h x
c. sx< 100 +
, dimana hx = 2/3 hc
3
2
350 x 307
3
sx< 100 +
3

= 148,444 mm

Digunakan spasi 100 mm


Ahoops = 4,317 x 100 = 431,7 mm2, maka digunakan
Av>Ahoops
4.5.1

Untuk Bentang di luar lo


1
Vc regular = 6 f ' c

xbxd=

1
30
6

x 400 x 340,5 = 124,333

kN
SNI persamaan (47) memberikan harga Vc
Nu
1
Vc = (1 + 14 Ag ) x 6 f ' c x b x d
245890
14 x 160000 ) x

= (1 +

1
30 x 400 x 340,5
6

= 137,981 Kn

Vsperlu =

Vu

Vc

Vsperlu = 288,542 137,981 kN = 150,561 kN


Coba gunakan D10 125 (Av = 157,08 mm2)
Vs =

Av x fy x d
=
s

157,08 x 360 x 340,5


125

= 154,039 kN

Vs > Vsperlu
4.5.2

Data Perencanaan
Gaya Terfaktor pada kolom atas
Axial Force = 685,32 kN
- Gaya Terfaktor pada kolom yang didisain
Axial Force = 1127,12 kN
Shear Force = 69,26 kN
- Tinggi efektif kolom
d = h p D/2 = 400 40 10 25/2 = 337,5 mm
-

19

Check konfigurasi penulangan


Asumsi digunakan tulangan baja 12D25 (As = 5890,486 mm2),
sehingga s = 5890,486/160000 = 3,68 %.
Syarat konfigurasi penulangan terpenuhi, 1% << 6%.
Kuat Kolom
Mpr1 = 288 kN m
Mpr2 = 147 kN m
Mc
> 1,2 Mg
Mpr3 + Mpr4 > 1,2 (Mpr3 + Mpr4)
> 1,2 (Mpr3 + Mpr4)

20