Anda di halaman 1dari 3

Sejarah Hari Aksara Internasional (International Literacy Day)

Hari Aksara Internasional (International


Literacy Day) | gambar: unesco.org
Berdasarkan hasil keputusan PBB, Sejarah diperingatinya Hari Aksara Internasional
(International Literacy Day) bermula dari diadakanya sebuah Konferensi Tingkat Menteri
Negara-negara Anggota PBB yang diselenggarakan pada tanggal 17 November 1965 di
Teheran, Iran, oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural
Organization).
Berdasarkan Konferensi Tingkat Menteri Negara-negara Anggota PBB pada tanggal 17
November 1965 di Teheran, Iran tersebut menghasilkan sebuah keputusan sekaligus
menetapkan bahwa tanggal 8 September ditetapkan sebagai Hari Aksara Internasional
(International Literacy Day).
Ditetapkanya tanggal 8 September sebagai Hari Aksara Internasional (International Literacy
Day) bertujuan untuk mengingatkan kepada seluruh anggota PBB bahwa pada saat itu diakui
oleh hampir semua anggota PBB melalui UNESCO disebutkan bahwa masih tingginya
jumlah penduduk yang mengalami tuna aksara di seluruh negara-negara di dunia.
Dengan adanya ketetapan Hari Aksara Internasional (International Literacy Day) yang sudah
ditetapkan oleh PBB tersebut, maka UNESCO juga mencanangkan atau kampanye dengan

nama Satu Dekade Keaksaraan Persatuan Bangsa-Bangsa atau UNLD (United Nations
Literacy Decade) 2003-2012.
Apa yang sudah ditetapkan oleh PBB melalui UNESCO yang menetapkan bahwa tanggal 8
September sebagai Hari Aksara Internasional (International Literacy Day) harus dipatuhi dan
dilaksanakan oleh seluruh negara di dunia yang tergabung dalam anggota PBB.
Indonesia sebagai salah satu negara yang menjadi anggota PBB juga harus menjadikan
tanggal 8 September ini sebagai momentum untuk terus menjadikan perayaan Hari Aksara
Internasional (International Literacy Day) ini untuk memberantas buta huruf yang masih
banyak di Indonesia.
Jumlah buta aksara di Indonesia sendiri menurut beberapa tokoh dan pengamat jumlahnya
masih sangat tinggi. Ada sekitar 6 Juta penduduk Indonesia yang termasuk dalam usia
produktif yang ternyata masih buta aksara (Republika, 7/9/14).
Dari kondisi tersebut diatas tentunya bukanlah kondisi yang membanggakan. Melalui
peringatan Hari Aksara Internasional (International Literacy Day) ini harus dijadikan
momentum yang sebaik-baiknya untuk memberantas buta aksara di Indonesia.
Pemberantasan buta aksara harus terus dikampanyekan baik melalui pendidikan formal
maupun non formal yang diharapkan semua pihak ikut terlibat sehingga perayaan Hari
Aksara Internasional (International Literacy Day) yang diselenggarakan setiap tanggal 8
September ini tidak hanya sebatas ceremonial saja.

Selintas Hari Aksara Internasional


Posted Wed, 09/05/2012 - 15:27 by sidiknas

Berdasarkan Konferensi Tingkat Menteri Negara-Negara Anggota PBB pada tanggal 17


Nopember 1965 di Teheran, Iran, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and
Cultural Organization) menetapkan tanggal 8 September sebagai Hari Aksara Internasional
pertama kali dilakukan pada tahun 1966. Selanjutnya setiap tahun diperingati untuk
memahami status keaksaraan dewasa secara global. Mengingat masih tingginya jumlah
penduduk tuna aksara di dunia, UNESCO mencanangkan Satu Dekade Keaksaraan Persatuan
Bangsa-Bangsa atau UNLD (United Nations Literacy Decade) 2003-2012. Dekade
peningkatan penduduk global ini dibagi atas 5 (lima) tema yaitu : (i) Keaksaraan dan Gender
(2003-2004); (ii) Keaksaraan dan Pembangunan Berkelanjutan (2005-2006); (iii) Keaksaraan
dan Kesehatan (2007-2008); (iv) Keaksaraan dan Pemberdayaan (2009-2010); dan (v)
Keaksaraan dan Perdamaian (2011-2012).
Sejak tahun 1948 Indonesia memulai gerakan pemberantasan buta aksara secara besarbesaran, dalam kepemimpinan Presiden Soekarno. Program ini berlanjut dengan program
kelompok belajar Paket A Terintegrasi Pendidikan Mata Pencaharian. Keberhasilan
pendidikan dasar dan peningkatan keaksaraan penduduk ditandai dengan perolehan
penghargaan Avicenna Award dari UNESCO yang diserahkan kepada Presiden Soeharto
pada tahun 1994.
Tahun Pertama Dekade Keaksaraan Bangsa-Bangsa di Indonesia ditandai dengan peringatan
Hari Aksara Internasional ke 38 sekaligus Pencanangan Gerakan Membaca Nasional oleh
Presiden Republik Indonesia Megawati Soearnoputri pada tanggal 12 Nopember 2003.

Pada tanggal 2 Desember 2004, Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono
mendeklarasikan Gerakan Nasional Percepatan Pemberantasan Buta Aksara, yang kemudian
dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009,
sebagai salah satu prioritas program pembangunan di bidang pendidikan. Untuk mewujudkan
hal tersebut, pada tahun 2006 telah dikeluarkan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2006
tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan
Tahun Buta Aksara.
Sejalan dengan keberhasilan penuntasan tuna aksara, Indonesia mendapat penghargaan dari
Laura Bush, Duta Keaksaraan Internasional. Sehingga Ibu Negara Ani Susilo Bambang
Yudhoyono pada tanggal 31 Juli 2007 berbicara Upaya Pemberantasan Buta Huruf se-Dunia
(UNESCO Regional Conferences in Support of Global Literacy) pada Konferensi Regional
UNESCO di Beijing. Peringatan Hari Aksara Internasional di Indonesia terus dilaksanakan
dengan mengambil tema selaras tema UNLD.