Anda di halaman 1dari 10

1

ANALISIS KEBUTUHAN INPUT PERTANIAN TANAMAN PANGAN DI


KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR
1
Dompak Napitupulu, Elwamendri, Yanuar Fitri, Sarman, Zuhdi, Itang
1

2 Ringkasan
Penelitian ini dilaksanakan dengan metode survey pada tahun 2011 di
wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur dengan tujuan untuk menganalisis
kebutuhan input optimal pada berbagai jenis lahan pangan di Kabupaten
Tanjung Jabung Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola usahatani
tanaman pangan dominan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur adalah pola
mono kultur (Padi Sawah atau Padi Ladang) dan sebahagian kecil lainnya
dengan pola tumpang gilir (Padi Sawah Kedele atau Padi Sawah Jagung).
Hasil analisis tanah menunjukkan bahwa penggunaan pupuk Urea dan KCL
tidak dianjurkan lagi sementara kebutuhan unsur hara Kalium dapat disuplay
dengan penggunaan pupuk SP36 dengan dosis 40 kg/ha.
Kata kunci: input optimal, tanaman pangan, pasang surut

Summary
This research was undertaken in Year 2011 in Tanjung Jabung Timur
Regency. The main purpose of the research was to analysing the optimal input
need of food crop farm in this area. It was found that the main food crop grown in
Tanjung Jabung Timur is rice which is planted in monoculture crop pattern. Never
the less, in some places farmer also found cultivated their food crop land in
shifting cultivation crop pattern. It was found that some input has been use in
optimal level for they already exist in that land narularly. The only input needed
was fosfat that can be supplied by applying 40 Kg/ha SP36

3 PENDAHULUAN
Salah satu sumberdaya yang menjadi andalan utama Kabupaten
Tanjab Timur untuk menopang percepatan pembangunan perekonomian
daerah adalah sumberdaya lahan pertanian termasuk didalamnya
pertanian tanaman pangan. Dalam Dokumen Rencana Pembangunan
Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten Tanjung Jabung Timur Tahun
2006 2011 dicantumkan bahwa salah satu arah kebijakan
pembangunan daerah ini adalah meningkatnya produktivitas komoditi
pertanian sesuai dengan kondisi dan potensi wilayah yang dimiliki.
Artinya sektor pertanian masih diharapkan sebagai basis pertumbuhan
ekonomi daerah Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

1
Dosen pada Fakultas Pertanian Universitas Jambi
2

Data statistik menunjukkan bahwa Kabupaten Tanjung Jabung
Timur telah mampu menghasilkan padi hingga 4 (empat) ton per hektar
pada era tahun 1980an hingga tahun 1990an. Menurunnya daya
produksi lahan pertanian sawah di daerah ini menyebabkan
produktivitas usahatani padi tersebut ditengarai telah semakin menurun
(Napitupulu, dkk, 2009). Namun demikian, sektor pertanian masih
menyumbang lebih besar dari 20 persen dari total PDRB Kabupaten
Tanjung Jabung Timur selama periode tahun 2007 hingga 2009.
Laporan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Tanjung Jabung
Timur (2010) menunjukkan bahwa Potensi tanam padi dan palawija di
daerah ini adalah seluas + 49.758 Ha. Diataranya berhasil dipanen pada
tahun 2009 untuk 7 komoditi utama adalah seluas 37.798 Ha, yakni
terdiri dari tanaman padi sawah seluas 32.977 Ha, Jagung 1.749 Ha,
Kedelai 2.539 Ha, Kacang Tanah 119 Ha, Kacang Hijau 63 Ha, Ubi Kayu
234 Ha dan Ubi Jalar 117 Ha. Data tersebut secara eksplisit
menunjukkan bahwa usahatani tanaman pangan di daerah ini masih
potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu penopang
perekonomian daerah.
Sesuai dengan latar belakan yang disajikan diatas, maka
penelitian ini ditujukan untuk: Menganalisis kebutuhan input optimal
pada berbagai lahan pangan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur

4 TINJAUAN PUSTAKA
1. Teknologi Pengairan
Lahan pasang surut merupakan daerah yang secara alami
berdrainase buruk, bahkan tergenang. Karena itu, untuk pemanfaatan
pertanian, perbaikan drainase/pengelolaan air merupakan syarat
pertama. Perbaikan drainase dilakukan dengan pembuatan saluran-
saluran. Intensitas drainase ditentukan oleh tipe penggunaan yang
direncanakan, karena itu tipe penggunaan menentukan rancangan
saluran. Pertanian dengan tanaman lahan kering tentu memerlukan
drainase yang lebih intensif dari pada pertanian untuk tanaman padi.
Intensitas drainase yang berlaku pada waktu ini dirancang untuk
memungkinkan penanaman baik padi maupun tanaman lahan kering
pada lahan yang sama. Hal ini tidak selalu menunjukkan hasil yang
diinginkan. Tanpa introduksi teknologi tambahan, tidak selalu terdapat
penggenangan yang memadai bagi pertanaman padi, juga tidak selalu
terdapat tingkat drainase yang memadai bagi pertumbuhan tanaman
lahan kering.
Menurut Noor (1996) kunci keberhasilan dalam pengelolaan dan
pengembangan pertanian lahan rawa pasang surut adalah terletak pada
sistem reklamasi dan pengelolaan air. Pengelolaan air di lahan rawa
3

harus bersifat terpadu karena dampak yang ditimbulkan dari penerapan
suatu sistem pengelolaan di suatu wilayah dapat mencapai wilayah-
wilayah sekitarnya dengan radius yang cukup luas dalam suatu wilayah
penampungan (catchment basin). Hal ini karena suatu kawasan rawa
dapat diidentikan dengan suatu daerah aliran sungai (DAS) yang
mempunyai keterkaitan antara satu wilayah hulu (atas) dengan wilayah
hilir (bawah) lainnya, walaupun dalam suatu dataran dengan kemiringan
topografi yang sama.
Lahan rawa bersifat labil dan dinamis. Perubahan suatu wilayah
dapat berpengaruh terhadap wilayah sekitarnya yang berada dalam
suatu kawasan aliran sungai. Saling mempengaruhi antara satu wilayah
dengan wilayah lainnya dalam hubungannya dengan pengel;olaan air
adalah karena sifat gerakan atau rembesan air secara horisontal cukup
besar. Kecepatan rembesan secara horisontal dapat mencapai 2 km/jam.
Kecepatan rembesan secara horisontal ini lebih besar pada lahan
gambut daripada lahan mineral alluvial.
Direktorat Rawa (1992) menunjukkan bahwa di daerah pasang
surut terdapat empat kategori regim air. Pengkategorian ini memang
baik, karena menunjukkan bahwa tanaman utama dapat dikaitkan
dengan kategori regim air, misalnya, pertanaman padi dua kali setahun
akan sesuai dengan kategori A, padi-palawija sesuai kategori B, palawija-
palawija sesuai dengan kategori C, dan tanaman pohon-pohonan sesuai
dengan kategori D. Manfaat pengkategorian ini akan nampak terutama
pada musim hujan.
(1). Pengaturan tata air pada petak-petak tersier.
(2) Pembangunan sistem surjan.
Prospek hasil padi yang diperoleh dengan penerapan sistem tata
air satu arah yang ditambah dengan input kapur, pupuk dan
pelumpuran memberikan hasil yang cukup baik. Hal ini karena akibat
perubahan kualitas air dan sifat kimia tanah. Terjadi penuruanan kadar
Fe
2+
, Al
3+
dan SO
2-
dalam air tanah setelah penerapan sistem tata air
satu arah.
2. Teknologi Pengolahan Tanah
Penyiapan lahan untuk budidaya padi di lahan rawa pasang surut
yang utama adalah pemberantasan gulma yang spesifik dan dominan di
lahan rawa masam, yaitu purun tikus (Eleocharis dulcis). Penggunaan
herbisida mulai dikenal setelah digalakkan pengembangan varietas
varietas unggul yang berumur relatif pendek. Akibatnya diperlukan
waktu yang lebih singkat untuk menyiapkan lahan, khususnya untuk
meningkatkan intensitas pertanaman. Hasil penelitian menunjukkan
penggunaan herbisida untuk membasmi gulma sebelum pengolahan
4

tanah lebih lanjut dapat memberikan hasil padi lebih baik dan dapat
menekan biaya penyiapan lahan.
3. Aplikasi pupuk
Pemupukan merupakan suatu keharusan bagi kelangsungan
hidup petani pasang surut. Menurut hasil penelitian produksi padi
menurun dengan meningkatnya usia pengusahaan. Pemupukan N dan P
sampai batas tertentu dapat melipatgandakan produksi pada
pengusahaan tahun kedua (Sabihan dkk, 1979). Anwarhan dan Satari
(1988) lebih lanjut menganjurkan juga pemupukan bagi lahan pasang
surut tipe B, C dan D dengan pemupukan bentuk kapsul atau bola
tanah (mudball fertilizer).
Sekalipun kadar N pada sebagian tanah pasang surut tergolong
tinggi, tetapi respon padi terhadap N sangat jelas. Tanaman padi yang
dipupuk N tampak lebih hijau dan segar dibandingkan tanaman tanpa
dipupuk N. Pupuk N juga sering diberikan pada pertanaman padi
varietas lokal. Hasil percobaan di beberapa lokasi lahan pasang surut
termasuk diantaranya sulfat masam menunjukkan pemupukan N dapat
meningkatkan hasil padi varietas unggul.
4. Pembrantasan gulma dan hama penyakit
Gulma utama pada lahan pasang surut adalah rumput purun
tikus (Eleocharis dulcis). Petani tradisional umumnya menggunakan alat
tajak yaitu sejenis parang panjang bertangkai panjang untuk memotong
dan sekaligus mamapas tanah setebal 2 -5 cm. Rumput atau gulma
dipuntal, lalu dicincang dipotong kecil-kecil dan dihamburkan secara
merata sebagai sumber hara setelah mengalami dekomposisi.
Hama utama yang sering menjadi masalah di lahan pasang surut
adalah tikus, penggerek batang padi putih, walang sangit wereng coklat
dan hama putih palsu. Pengendalian tikus di lahan pasang surut dapat
dilakukan dengan perbaikan aspek pengelolaan teknis budidaya,
sanitasi, fisik kimia, musuh alami, fumigasi dan penggunaan umpan
racun. Pengendalian hama penggerek batang padi putih, walang sangit,
wereng coklat dan hama putih palsu, dapat menggunakan insektisida
seperti Furadan, Sedangkan untuk pengendalian yang disebabkan oleh
jamur digunakan fungisida.
5. Panen
Panen dilakukan apabila tanaman sudah mencukupi umur
dengan melihat tanda-tanda kematangan buah/bulir Padi. Buah Padi
yang masak akanterlihat berisi, warna kuning, kandungan air sekitar
25%. Tanaman Padi yang sudah dapat dipanen terlihat batangnya mulai
menguning dan menunduk(tidak tegak) pada lebih dari 80% luas areal
tanaman.
5

Seminggu sebelum dipanen sawah dikeringkan terlebih dahulu,
untukmencegah terjadinya rebah dan memudahkan panen. Pemanenan
dapatmenggunakan alat seperti sabit atau parang dengan memotong
ujung pangkalbatang bawah. Padi lokal yang tidak mudah rontok
biasanya dipanen secaratradisional dengan menggunakan ani-ani.
Penggunaan alat ani-ani sepertiitu membutuhkan tenaga kerja relatif
banyak sehingga akhir-akhir ini kurangdisukai.
6. Pendapatan Usahatani Tanaman Pangan
Suatu usahatani dikatakan berhasil apabila usahatani tersebut
dapat memenuhi kewajiban membayar bunga modal, alat-alat yang
digunakan, upah tenaga luar serta sarana produksi yang lain termasuk
kewajiban terhadap pihak ketiga dan dapat menjaga keberlanjutan
usahataninya.
Menurut Soekartawi (1991), pendapatan bersih usahatani
merupakan selisih antara jumlah penerimaan dengan biaya usahatani.
Pendapatan bersih usahatani merupakan keuntungan yang diperoleh
petani dalam usahatani. Secara matematis tingkat pendapatan dapat
dirumuskan sebagai berikut:
Pd = Tr Tc
Dimana : Pd = Pendapatan Usahatani (Rp)
Tr = Total Penerimaan Usahatani
Tc = Total Biaya biaya Produksi

5 METODE PENELITIAN
1. Ruang Lingkup Kegiatan
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kebutuhan input
pertanian sebagai upaya pengembangan usahatani tanaman pangan
dalam kaitannya dengan upaya pewujudan ketahanan pangan di
Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Data yang dibutuhkan terdiri dari
data primer dan data sekunder. Data primer dihimpun melalui
wawancara langsung dengan responden yang terpilih menjadi sampel
serta dalam media Focus Group Diskusi yang melibatkan sejumlah
informan kunci.
2. Metode Analisis
Metoda analisis yang digunakan adalah metoda kompilasi data dan
analisis data survey. Data yang diperoleh dari petani responden
dikumpulkan untuk diklasifikasi dan ditabulasi, kemudian dianalisis
secara deskriptif. Selanjutnya analisis yang dilakukan dalam penelitian
ini adalah analisis pendapatan.
- Penerimaan usahatani
6

- Biaya produksi usahatani
- Pendapatan yang diperoleh petani (Soekartawi, 2002 yaitu:
Pd = Tr Tc
Dimana : Pd = Pendapatan Usahatani kedelai (Rp)
Tr = Total Penerimaan usahatani
Tc = Total Biaya produksi
Kebutuhan inmput teknologi usahatani tanaman pangan didekati
dengan mengkaji potensi daya dukung sumberdaya lahan dan
permasalahan sentral dalam usahatani tanaman pangan di Kabupaten
Tanjabtim.

HASIL PENELITIAN
Penggunaan Lahan
Berdasarkan hasil interpretasi atas citra satelit landsat tahun
2007, dan data penunjang lain, maka penggunaan lahan yang ada saat
ini terdiri dari :
1. Lahan pertanian padi dan palawija
2. Lahan perkebunan kelapa;
3. Lahan perkebunan sawit
4. Lahan pertambangan dan industri
5. Lahan hutan tanaman adalah hutan yang ditanami vegetasi
untuk mendukung industri.
6. Lahan tambak /kolam,
7. Lahan pemukiman dan perkotaan,.
Kependudukan
Penduduk Kabupaten Tanjung Jabung Timur pada tahun 2008
berjumlah 211.789 jiwa dan meningkat menjadi 213.781 jiwa pada
tahun 2009. Dengan luas wilayah 5.445 km
2
maka tingkat kepadatan
penduduk pada tahun 2009 adalah sebesar 39,26 jiwa/km
2
. Jumlah
penduduk laki-laki tercatat sebesar 108.128 jiwa dan perempuan
sebesar 105.653 jiwa, dengan demikian sex ratio-nya adalah 102,34. hal
ini menunjukkan bahwa pada tahun 2009 secara rata-rata terdapat 102
orang laki-laki untuk setiap 100 orang penduduk perempuan.
Sumber Daya Manusia
Keberhasilan program pengembangan komoditas pangan di
Kabupaten Tanjung Jabung Timur sangat tergantung kepada
sumberdaya Manusia sebagai pelaku usaha. Ketersediaan aparat
Pembina teknis pertanian di satuan Kerja Perangkat Daerah Dinas
7

Pertanian Perikanan dan peternakan Kabupaten Tanjung Jabung Timur
disajikan dalam Tabel 4-6. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa 6
(enam) BPP definitive serta 5 (lima) Pra BPP dengan 75 aparat
penyuluhan lapangan (PPL) yang telah tersedia pada 11 Kecamatan di
daerah ini. Meskipun secara kuantitas ketersediaan lembaga
penyuluhan tersebut sudah cukup memadai karena telah tersedia satu
BPP pada setiap wilayah Kecamatan, kualitas tenaga penyukuh yang
ditandai dengan latar belakang pendidikan mayoritas ahli madya masih
harus ditingkatkan.
Potensi Produksi tanaman pangan
Areal potensial untuk pengembangan pertanian di kabupaten
Tanjung Timur ditentukan berdasarkan hasil studi yang dimulai dari
identifikasi secara manual melalui tampilan rona pada citra satelit yaitu
didasarkan atas kesamaan rona (warna) dengan areal yang sudah
diketahui sebagai arael pertanian. Adapun hasil identifikasi areal
potensial pengembangan pertanian tanaman pangan di Kabupaten
Tanjung Jabung Timur di sajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Peta sebaran areal pertanian di Kabupaten Tanjung Jabung
Timur
Benih bisa dibilang input terpenting dalam budi daya pertanian.
Tanpa benih yang berkualitas tidak akan diperoleh hasil panen yang
baik. Sayangnya, memilih benih yang baik bukanlah pekerjaan mudah
mengingat sifat benih yang tidak transparan. Maksudnya, mustahil
mengetahui karakteristik dan kualitas tanaman yang akan tumbuh dari
sekantong benih hanya dengan melihatnya. Kualitas benih baru bisa
diketahui ketika benih tersebut ditanam dan kemudian tumbuh.
8

Salah satu kelemahan pengembangan usahatani tanaman pangan
di Kabupaten Tanjung Jabung Timur berdasarkan hasil kajian
pengembangan tanaman pangan Tahun 2010 adalah ketidak sesuaian
varietas tanaman pangan (padi) varietas unggul umur pendek yang
cenderung memiliki batang tanaman pendek. Pengalaman berusahatani
lahan pasang surut yang dimiliki petani pada dasarnya dapat
dikembangkan untuk dapat memuliakan varietas lokal yang telah
beradaptasi dengan lokasi (teknologi spesifik lokasi) sehingga dapat
memiliki produktivitas tinggi dan atau memiliki sifat sifat unggul
lainnya.
Dari beberapa kajian yang telah dilakukan di lahan sawah pasang
surut menunjukkan bahwa dengan pengelolaan tanah, air dan
penggunaan varietas unggul yang tepat, usahatani padi di lahan ini
dapat berhasil. Beberapa varietas unggul padi lahan rawa seperti; IR 42,
Indragiri dan Inpara 1, 2 dan 3. Salah satu hasil penelitian yang
menggunakan varietas Inpara 1, 2 dan 3 menunjukkan bahwa varietas
ini dapat berproduksi 5 6 ton/ha bila diusahakan dengan tepat.
Berdasarkan alternatif pola tanam yang ditawarkan dapat
diketahui jumlah kebutuhan input benih yang dibutuhkan. Untuk pola
tanam alternatir pertama dibutuhkan input benih padi per hektar
dengan dua kali musim tanam sebesar 2 x 25 kg/ha yakni sebanyak 50
kg/ha. Sedangkan untuk pola tanam alternatif kedua diperlukan input
benih sebanyak 25 kg/ha untuk padi dan 40 kg/ha untuk kedelai atau
15 kg/ha untuk tanaman jagung. Selanjutnya untuk pola tanam
alternatif ketiga dibutuhkan input benih sebanyak 50 kg/ha untuk
tanaman padi dan 15 kg/ha untuk tanaman jagung serta 40 kg/ha
untuk tanamana kedelai.
Penggunaan input pupuk
Pemberian bahan amelioran atau bahan pembenah tanah dan
pupuk merupakan faktor penting unuk memperbaiki kondisi tanah dan
meningkatkan produktivitas lahan. Berdasarkan beberapa hasil
penelitian staf pengajar dan mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas
Jambi status kesuburan tanah di lahan pasang surut di wilayah Tanjung
Jabung Timur tergolong sedang. Hal ini ditunjukkan dengan kandungan
N total dan K total termasuk kriteria berkisar antara rendah sampai
sedang. Sementara itu kandungan P rata-rata termasuk rendah. Oleh
karena dalam program pemupukan dalam rangka efisiensi, pemupukan
N dan K tidak diperlukan, sedangkan untuk P sangat diperlukan.
Hasil studi lapangan dari bebrapa petani menunjukkan bahwa
pertumbuhan padi cukup baik, namun malainya kurang berisi/bernas,
banyak yang hampa.
9

Pendapatan Usahatani Tanaman Pangan
Peluang peningkatan pendapatan petani pangan di Kabupaten
Tanjung Jabung Timur masih mungkin dilakukan. Pola tanam yang
dilakukan saat ini adalah Padi Kedelai/Jagung. Peningkatan
pedapatan petani pangan dapat dilakukan dengan melakukan beberapa
penyempurnaan dengan seperti:
a. Menggunakan benih genjah sehingga pola tanam dalam satu
tahun menjadi Padi Padi Kedele atau Jagung.
b. Melakukan rasionalisasi penggunaan input terutama input
pupuk, karena menurut hasil analisis tanah menunjukkan bahwa
penggunaan pupuk urea dan pupuk KCL tidak dianjurkan karena
kebutuhan unsur Nitrogen dan unsur Kalium telah tersedia
secara memadai di dalam tanah.
c. Jika praktek pengelolaan pertanian pangan mengikuti
penyempurnaan seperti yang diuraikan pada bagian terdahulu,
maka petani pangan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur akan
dapat memperoleh pendapatan sebagai berikut:
6
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
6.1. Kesimpulan
1) Pola usahatani tanaman pangan pada areal potensial usahatani
tanaman pangan di wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur yang
dominan dilakukan petani adalah Pola mono kultur (Padi Sawah
atau Padi Ladang) dan pola tumpang gilir (Padi Sawah Kedele atau
Padi Sawah Jagung).
2) Penggunaan input usahatani tanaman pangan di wilayah Kabupaten
Tanjung Jabung Timur, khusus untuk beberapa input tertentu
(Urea, KCL) telah melebihi kebutuhan tanaman, karena unsur hara
ini telah tersedia secara cukup di dalam tanah.
3) Hasil analsis tanah menunjukkan bahwa penggunaan pupuk Urea
dan KCL tidak dianjurkan lagi sementara kebutuhan unsur hara
Kalium dapat disuplay dengan penggunaan pupuk SP36 dengan
dosis 40 kg/ha.

6.2. Saran
1. Secara fisik produktifitas lahan panga di Kabupaten Tanjung Jabung
Timur masih dapat ditigkatkan dengan melakukan pengelolaan
permukaan air tanah melalui teknik kanalisasi untuk
mempertahankan permukaan air tanah.
2. Peningkatan produktivitas dan pedapatan petani pangan dapat
dilakukan dengan melakukan penyempurnaan pola tanam Padi
10

Padi Kedele atau Jagung. Penerapan pola tanam ini juga disertai
dengan menggunakan benih genjah.
3. Beriringan dengan itu upaya rasionalisasi penggunaan input
terutama input pupuk perlu disesuaikan dengan kebutuhan
tanaman, Untuk kasus pupuk ini, direkomendasikan bahwa
kebutuhan unsur hara yang perlu dipasok melalui proses
pemupukan hanya unsur hara Fosphat



DAFTAR PUSTAKA
Noor M. 1996. Padi marginal. Penebar Swadaya. Jakarta.
.2001. Pertanian Lahan Gambut, Potensi dan Kendala.
Kanisius. Yogyakrata.
.2004. Lahan Rawa Sifat dan Pengelolaan Tanah
Bermasalah Sifat Masam. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Raihan, S., S. Saragih., R. Simatupang dan M. Yusuf Maamun, 1996.
Rakitan Teknologi Budidaya Palawija Berbasis Padi di Lahan
Pasang Surut. Edisi Khusus Balitkabi No. 8; 133 158.
Saragih, S. 1993. Teknologi Budidaya Padi dan Palawija di Lahan Pasang
Surut Tipe B. Makalah disampaikan pada Jumpa Teknologi
Pengembangan Usahatani Terpadu di Lahan Marginal tanggal 12-
13 Maret 1993 di Palangka Raya, Kal-Teng.
Saragih, S. 1995. Penelitian Sistem Pengelolaan Air pada Lahan Pasang
Surut Tipe B untuk Pola tanaman Padi-Padi, Padi-Palawija dan
Palawija-Palawija. Laporan Hasil Penelitian 1995.
Sabran, M., Eddy William dan M. Saleh. 2000. Pengujian Galur Kedelai
di Lahan Pasang Surut. Bul. Agron (28) (2) 41 48
Susilawati, M. Sabran, Rustan Massinai dan Rukayah, 2003. Paket
Teknologi Usahatani Lahan Pasang Surut di Kalimantan Tengah.
Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian dan Pengkajian Teknologi
Pertanian. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan
Tengah; 55 63.