Anda di halaman 1dari 2

NAMA : SASKIA BIYAKTO PUTRI

NIM : JSM 15.05.61.0028


Mengatasi Pelambatan Ekonomi
Ekonomi pada masa pemerintahan Jokowi-JK melemah. Beberapa indikator makro
ekonomi yang menunjukkan hal itu yaitu pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan 0,44
persen pada tahun 2015, angka pengangguran mengalami peningkatan 0,11 persen pada tahun
2015, dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyentuh Rp 13.200.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia melemah disebabkan oleh faktor domestik dan
global. Faktor domestik antara lain penataan organisasi di kementerian dan lembaga baru
belum selesai sehingga dana APBN belum dapat dicairkan. Pelaksanaan pembangunan
infrastruktur baru dimulai sehingga dampaknya baru dirasakan jangka menengah dan
panjang.
Faktor global yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia melemah antara
lain melemahnya ekonomi Tiongkok sebagai salah satu tujuan ekspor Indonesia dan
menurunnya harga komoditas primer. Komoditas primer menurun 34 persen dalam 12 bulan
yang mana ekspor Indonesia masih didominasi komoditas primer.
Cara mengatasi pelambatan ekonomi Indonesia antara lain menjaga daya beli
masyarakat dan mendongkrak konsumsi rumah tangga dengan mempertahankan inflasi tetap
rendah. Agar inflasi terjaga maka segala hal yang menyebabkan ekspektasi pelaku usaha
bahwa inflasi akan naik bisa dicegah.
Biasanya inflasi bulan April rendah, tetapi data menunjukkan bahwa inflasi dari April
2014 sampai April 2015 mencapai 6,79 persen dan khusus April 2015 mencapai 0,36 persen.
Padahal nanti masih ada musim liburan, tahun ajaran baru, dan bulan Ramadhan.
Hal-hal yang menyebabkan ekspektasi pengusaha bahwa inflasi dapat meningkat
antara lain pernyataan-pernyataan : pemerintah tidak akan mengimpor beras (bisa diartikan
harga beras akan naik), kuota sapi impor akan akan diturunkan (diartikan daging sapi akan
naik), premium akan diganti pertalite (biaya transportasi akan naik), dan lain-lain.
Hal lain yang dilakukan untuk mengendalikan inflasi adalah mengefektifkan kerja
Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) karena inflasi nasional 80% disumbang oleh inflasi di
daerah, sehingga TPID perlu memantau sumber-sumber inflasi misalnya ulah spekulan yang
menimbun barang.
Selain itu, perlu memperpendek rantai distribusi barang dari produsen ke konsumen
sehingga harga produk bisa lebih rendah dengan mendorong usaha eceran baik tradisional
maupun modern ke pelosok-pelosok dan pemanfaatan jalur rel kereta api ganda di utara Jawa
bisa lebih dioptimalkan sehingga harga stabil.
Di samping itu, mempercepat pembangunan infrastruktur juga dapat mengendalikan
inflasi dengan cara secara cepat menyelesaikan masalah-masalah yang timbul yaitu

pembebasan lahan, perizinan, proses lelang, serta benturan dan kekosongan aturan yang
memicu birokrasi yang berbelit.
Sehubungan dengan itu, restrukturisasi lembaga kementerian dan non kementerian
harus segera selesai supaya dana bisa segera dicairkan untuk mempercepat pencairan dana
APBN. Peran pemerintah sangat penting untuk mempercepat realisasi anggaran dan
mendorong Tim Evaluasi dan Pengawasan Realisasi Anggaran dapat bekerja maksimal.