Anda di halaman 1dari 4

BAB III

ANALISA KASUS
Seorang G1P0A0, usia 32 tahun, uk: 6 +2 minggu merupakan pasien rujukan dari
RSUD Sukoharjo dengan keterangan suspek kehamilan ektopik terganggu (KET). Pasien
pertama kali datang ke RSUD Sukoharjo dengan keluhan nyeri perut kiri yang muncul
mendadak sejak 6 jam SMRS, nyeri dirasakan terus-menerus hingga mengganggu aktivitas.
Selain nyeri perut kiri, pasien juga mengeluhkan keluarnya darah dari jalan lahir sebanyak
1/4 pembalut yang muncul hampir bersamaan dengan nyeri perut yang dirasakannya. Saat
ini pasien merasa hamil 6 minggu dengan hari pertama menstruasi terakhir (HPMT) pada 11
September 2015, adanya kenceng-kenceng, riwayat perdarahan maupun trauma sebelumnya
disangkal. Pasien mengaku pernah melakukan pemeriksaan kehamilan dan hasilnya pasien
positif hamil. Berdasarkan anamnesis yang didapat kita dapat mengetahui bahwa
kemungkinan besar pasien mengalami kehamilan ektopik terganggu. Hal ini tampak dari
didapatkannya gejala-gejala dari trias KET, yakni; nyeri perut sebelah kiri atau kanan yang
muncul mendadak, amenorrhea, dan keluarnya perdarahan dari jalan lahir. Kehamilan ektopik
merupakan suatu kehamilan yang terjadi di luar rahim, misalnya di dalam tuba, ovarium, atau
rongga perut. Menurut usia kehamilan saat berakhirnya kehamilan pasien yakni pada minggu
ke-6, dapat diduga kehamilan terjadi di dalam tuba pada bagian istmus tuba.
Faktor risiko yang mungkin berperan terhadap kehamilan ektopik antara lain; riwayat
infeksi menular seksual, riwayat apendiksitis, riwayat KET, penggunaan AKDR/IUD,
penggunaan obat-obat yang memacu kesuburan, paparan asap rokok, serta riwayat tumor atau
tindakan operatif yang mempengaruhi bentuk tuba. Berdasarkan anamnesis pasien
menyangkal adanya riwayat penggunaan KB, obat-obatan penyubur, apendiksitis, keputihan,
maupun tindakan operatif sebelumnya, namun suami pasien memiliki kebiasaan merokok
setiap harinya sehingga mungkin pasien sering terpapar asap rokok, selain itu faktor infeksi

yang bersifat asimptomatis dapat juga menyebabkan terjadinya perubahan atau penyempitan
lumen tuba yang tampak pada hasil peningkatan jumlah leukosit dalam pemeriksaan
laboratorium (AL: 18,7) walaupun tidak didapatkan riwayat demam sebelumnya.
Pada pemeriksaan keadaan umum dan tanda vital yang dilakukan saat pasien datang
ke IGD RSDM didapatkan keadaan umum tampak lemah, tekanan darah 100/70, HR
96x/menit, RR 24 x/menit, t 36,6 oC. Hal ini menunjukkan pada pasien sudah muncul tandatanda yang mengarah pada terjadinya syok hipovolemik akibat rupturnya tuba yang
menimbulkan perdarahan di dalam sehingga pasien memerlukan penanganan segera. Dari
pemeriksaan fisik didapatkan; nyeri tekan pada abdomen di regio hipokondriaka sinistra,
shifting dullness (+), sedangkan dari vaginal toucher didapatkan; cavum douglassi menonjol,
slinger pain (+), darah (+). Hasil dari pemeriksaan tersebut semakin membuktikan terjadinya
KET pada pasien yang tampak dari tanda khas pada KET berupa nyeri tekan abdomen,
shifting dullness (+), cavum douglassi yang menonjol serta slinger pain yang positif. Shifting
dullness yang positif menunjukkan telah terjadinya perdarahan ke dalam cavum abdomen.
Pemeriksaan penunjang dengan menggunakan USG transvaginal tampak gambaran
cairan bebas di cavum douglassi, sementara pada uterus tidak didapatkan Gestasional Sac
(GS), hasil pemeriksaan USG ini menyokong diagnosa KET pada pasien. Untuk diagnosa
yang lebih pasti pada pasien dilakukan tindakan kuldosintesis atau pungsi pada cavum
douglassi, hasilnya positif berupa keluarnya darah yang berwarna merah tua dan tidak
memeku setelah dihisap. Diperolehnya darah pada kuldosintesis menunjukkan 2
kemungkinan, yakni darah dari cavum douglassi atau dari vena, jika darah benar berasal dari
cavum douglassi akan berwarna merah dan tidak membeku setelah dihisap, sementara jika
darah berasal dari tertusuknya vena maka warnanya tidak terlalu tua dan segera membeku
setelah dihisap.

Berdasarkan pemeriksaan laboratorium pada saat pasien di IGD RSDM didapatkan


hasil anemia ringan (Hb: 8,3 g/dl) dan leukositosis (AL: 15,4 ribu/ul). Penurunan kadar
hemoglobin yang cepat dalam waktu 1 jam dari 11,9 menjadi 8,3 menunjukkan terjadinya
proses perdarahan yang masif ke dalam cavum abdomen. Pemeriksaan Hb serial juga
bermanfaat untuk mendukung penegakan diagnosis pada KET, pemeriksaan Hb serial
sebanyak 3x dengan jarak 1 jam dapat memberikan informasi penurunan yang cepat dari
kadar hemoglobin yang terjadi akibat proses perdarahan internal yang masif. Namun pada
pasien ini pemeriksaan Hb serial tidak perlu dilakukan, sebab dari anamnesis, pemeriksaan
fisik, serta USG nya sudah sangat mengarah kepada diagnosis KET, dan diagnosis KET
menjadi semakin pasti setelah tindakan kuldosintesis memberikan hasil positif. Peningkatan
jumlah leukosit menunjukkan kemungkinan proses infeksi dan inflamasi yang sedang
berlangsung.
KET harus dapat dibedakan dengan diagnosis banding yang lain, seperti salpingitis,
abortus, apendiksitis, maupun efek samping dari penggunaan AKDR. Pada salpingitis akan
didapatkan demam serta nyeri yang bilateral, selain itu tes kehamilan pada salpingitis pasti
negatif. Pada kasus abortus akan didapatkan perdarahan yang lebih banyak serta seringkali
disertai dengan pembukaan dari ostium uteri eksternum (OUE). Pada apendiksitis secara khas
akan didapatkan nyeri pada titik McBurney. Sementara perdarahan serta nyeri yang terjadi
pada kasus penggunaan AKDR sudah pasti dari anamnesis didapatkan riwayat penggunaan
AKDR beberapa saat sebelum keluhan muncul.
Penanganan pada kasus KET harus segera dilakukan laparotomi evakuasi untuk
mengatasi perdarahan arterial intraabdomen yang sedang berlangsung. Tindakan operatif
pada kasus KET harus dilakukan sesegera mungkin mengingat risiko akan kematian akibat
syok hipovolemik menjadi semakin besar jika terjadi keterlambatan dalam penanganan.
Tindakan operatif harus dilakukan tanpa perlu menunggu kondisi syok teratasi, asalkan

pemberian transfusi sudah berjalan maka tindakan operatif dapat dilaksanakan. Selain itu
pada pasien KET harus diberikan injeksi antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder yang
mungkin terjadi akibat tindakan laparotomi. Pada pasien ini penanganan yang dilakukan
sudah sesuai yakni tindakan laparotomi sesegera mungkin, pemberian transfusi 2 kolf untuk
mengganti volume darah yang hilang akibat perdarahan masif, serta pemberian antibiotik
dengan injeksi Cefazolin 2 gram/24 jam.
Prognosis dari kasus kehamilan ektopik secara umum baik jika segera diketahui sejak
masih dini atau saat kehamilan ektopik belum terganggu, sementara keterlambatan diagnosis
dan penanganan dari kasus KET akan memberikan prognosis yang buruk dengan risiko
mortalitas yang tinggi akibat dari syok hipovolemik yang terjadi. Selain itu kemungkinan
berulangnya KET pada kehamilan selanjutnya juga akan meningkat pada wanita yang sudah
memiliki riwayat KET sebelumnya.