Anda di halaman 1dari 17

Makalah

Sistem Drainase Perkotaan

OLEH
ICA CAPRIYATI HUSEN
E1A1 11 020

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2011
1

Kata Pengantar
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan kenikmatan dan petunjuk bagi manusia, serta iringan
sholawat senantiasa tercurahkan kehadirat Nabi Muhammad SAW. Berkat
semangat dan jerih payah, serta ridho Allah SWT, penulis dapat
menyelesaikan makalah ini dengan judul Sistem Drainase Perkotaan.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang turut
berpartisipasi dalam penyusunan makalah ini.
Penulis

menyadari

sebagai

manusia

biasa

masih

banyak

kekurangan dalam penulisan dan penyampaian makalah ini, maka dari itu
kritik serta saran dari pembaca yang sifatnya membangun sangat
diharapkan oleh penulis. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis
khususnya dan pembaca pada umumnya.
Akhir kata Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kendari,

Desember 2011

Penulis

Daftar Isi
Kata Pengantar .................................................................................

Daftar Isi ...........................................................................................

BAB I PENDAHULUAN
A.
B.
C.
D.

Latar Belakang ..................................................................


Rumusan Masalah .............................................................
Tujuan Penulisan ...............................................................
Manfaat Penulisan .............................................................

4
5
5
5

BAB II PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.

Pengertian .........................................................................
Fungsi Drainase ................................................................
Jenis-jenis Drainase ..........................................................
Fungsi Jaringan .................................................................
Sasaran Sistem Drainase ..................................................
Sistem Jaringan Drainase .................................................
Pengklasifikasian Saluran Drainase ..................................
Pola Jaringan Drainase .....................................................
Bentuk Saluran ..................................................................
Bangunan-banguan Sistem Drainase dan pelengkapnya.

6
6
7
8
10
11
12
14
15
16

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ........................................................................
B. Saran .................................................................................

19
19

Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pertumbuhan kota dan perkembangan industri menimbulkan


dampak

yang

cukup

besar

pada

siklus

hidrologi

sehingga

berpengaruh besar terhadap sistem drainase perkotaan.


Siklus keberadaan air di suatu lokasi dimana manusia bermukim,
pada masa tertentu akan mengalami keadaan berlebih, sehingga
dapat

mengganggu

kehidupan

manusia.

Selain

itu,

semakin

kompleksnya kegiatan manusia dapat menghasilkan limbah berupa air


buangan

yang dapat mengganggu kelangsungan hidupnya, dan

dengan adanya keinginan untuk meningkatkan kenyamanan dan


kesejahteraan hidup maka manusia mulai berusaha untuk mengatur
lingkungannya dengan cara melindungi daerah pemukimannya dari air
berlebih dan air buangan.
Di daerah yang belum berkembang/pedesaan, drainase terjadi
sevara alamiah sebagai bagian dari siklus hidrologi. Drainase alam ini
berlangsung tidak secara statis melainkan terus berubah secara
konstan menurut keadaan fisik lingkungan sekitar. Seiring dengan
berkembangnya kawasan perkotaan yang ditandai dengan banyak
didirikannya bangunan-bangunan yang dapat menunjang kehidupan
dan kenyamanan masyarakat kota, maka sejalan dengan itu
diperlukan pula suatu sistem pengeringan dan pengaliran air yang
baik untuk menjaga kenyamanan masyarakat kota. Sehingga drainase
perkotaan harus saling padu

dengan

sampah, sanitasi, dan

pengendalian banjir perkotaan.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Apa yang dimaksud dengan drainase?
2. Apa saja fungsi dari drainase?
3. Apa saja jenis-jenis drainase?
4. Apa saja sasaran sistem drainase?
5. Apa saja sistem jaringan drainase?
6. Apa saja pola jaringan drainase?
7. Apa saja bangunan-bangunan system drainase?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan drainase.
2. Untuk mengetahui apa saja fungsi dari drainase.
3. Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis drainase.
4. Untuk mengetahui apa saja sasaran sistem drainase.
5. Untuk mengetahui apa saja sistem jaringan drainase.
6. Untuk mengetahui apa saja pola jaringan drainase.
7. Untuk mengetahui apa saja bangunan-bangunan system drainase.
D. Manfaat Penulisan
Makalah ini dibuat untuk menambah pengetahuan bagi penulis
khususnya dan pembaca pada umumnya tentang sistem drainase
perkotaan.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Drainase yang berasal dari bahasa Inggris drainage mempunyai
arti mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air.
Dalam bidang teknik sipil, drainase secara umum dapat
didefinisikan sebagai suatu tindakan teknis untuk mengurangi
kelebihan air, baik yang berasal dari air hujan, rembesan, maupun
kelebihan air irigasi dari suatu kawasan/lahan, sehingga fungsi
kawasan/lahan tidak terganggu.
Drainase dapat juga diartikan sebagai usaha untuk mengontrol
kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas.
Secara umum, sistem drainase dapat didefinisikan serangkaian
bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang

kelebihan air dari suatu kawasan/lahan, sehingga lahan dapat


difungsikan secara optimal.
B. Fungsi Drainase
Fungsi/kegunaan dari sistem drainase, antara lain:
Membebaskan suatu wilayah terutama yang padat pemukiman dari
genangan air erosi dan banjir.
Karena aliran lancar, maka drainase juga berfungsi memperkecil
resiko kesehatan lingkungan bebas dari malaria dan penyakit
lainnya.
Kegunaan tanah pemukiman padat akan menjadi lebih baik karena
terhiindar dari kelembaban.
Dengan sistem yang baik, tata guna lahan dapat dioptimalkan dan
juga memperkecil kerusakan-kerusakan tanah, bentuk jalan, dan
bangunan-bangunan lainnya.
C. Jenis-jenis Drainase
1. Menurut sejarah terbentuknya
a. Drainase alamiah (natural drainage), yaitu sistem drainase yang
terbentuk secara alami dan tidak ada unsur campur tangan
manusia.
b. Drainase buatan , yaitu sistem drainase yang dibentuk
berdasarkan analisis ilmu drainase, untuk menentukan debit akibat
hujan dan dimensi saluran.
2. Menurut letak saluran
a. Drainase permukaan tanah (surface drainage), yaitu saluran
drainase yang berada di atas permukaan tanah yang berfungsi
mengalirkan air limpasan permukaan.
b. Drainase bawah tanah (sub surface drainage), yaitu saluran
drainase yang bertujuan mengalirkan air limpasan permukaan
melalui media di bawah permukaan tanah (pipa-pipa), dikarenakan
alasan-alasan tertentu. Alasan tersebut antara lain tuntutan artistik,

tuntutan fungsi permukaan tanah yang tidak membolehkan adanya


saluran di permukaan tanah seperti lapangan sepak bola, lapangan
terbang, taman, dan lain-lain.
3. Menurut fungsi
a. Single Purpose, yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan satu
jenis air buangan saja.
b. Multy Purpose, yaitu saluran yang berfungsi mengalirkan
beberapa jenis buangan, baik secara bercampur maupun
bergantian.
4. Menurut konstruksi
a. Saluran terbuka, yaitu sistem saluran yang biasanya
direncanakan hanya untuk menampung dan mengalirkan air hujan
(sistem terpisah), namun kebanyakan sistem saluran ini berfungsi
sebagai saluran campuran. Pada pinggiran kota, saluran terbuka ini
biasanya tidak diberi lining (lapisan pelindung). Akan tetapi saluran
terbuka di dalam kota harus diberi lining dengan beton, pasangan
batu (masonry) ataupun dengan pasangan bata.
b. Saluran tertutup, yaitu saluran untuk air kotor yang mengganggu
kesehatan lingkungan. Siste ini cukup bagus digunakan di daerah
perkotaan terutama dengan tingkat kepadatan penduduk yang
tinggi seperti kota Metropolitan dan kota-kota besar lainnya.
D. Fungsi Jaringan
Pada sistem pengumpulan air buangan yang diperhatikan ada
dua macam air buangan, yaitu air hujan dan air kotor (bekas).
Cara atau sistem buangan ada tiga, yaitu:
Sistem Terpisah (Separate System)
Air kotor dan air hujan dilayani oleh sistem saluran masingmasing terpisah. Pemilihan sistem ini didasarkan pada beberapa
pertimbangan, antara lain:
a. Periode musim hujan dan kemarau yang terlalu lama.

b. Kuantitas yang jauh berbeda antara air buangan dan air


hujan.
c. Air buangan

memerlukan

pengolahan

terlebih

dahulu

sedangkan air hujan tidak perlu dan harus secepatnya


dibuang ke sungai.
Keuntungan:
1. Sistem saluran mempunyai dimensi yang kecil sehingga
memudahkan pembuatan dan operasinya.
2. Penggunaan sistem terpisah mengurangi bahaya bagi
kesehatan masyarakat.
3. Pada instalasi pengolahan air buangan, tidak ada tambahan
beban kapasitas karena penambahan air hujan.
4. Pada sistem ini untuk saluran air buangan bisa direncanakan
pembilasan sendiri, baik pada musim kemarau maupun pada
musim hujan.
Kerugian:
Harus membuat dua sistem saluran sehingga memerlukan tempat
yang luas dan biaya yang cukup besar.

Sistem Tercampur (Combined System)


Air kotor dan air hujan disalurkan melalui satu saluran yang sama.
Saluran ini harus tertutup. Pemilihan sistem ini didasarkan pada
beberapa pertimbangan, antara lain:
a. Debit masing-masing buangan relatif kecil sehingga dapat
disatukan.
b. Kuantitas air buangan dan air hujan tidak jauh berbeda.
c. Fluktuasi curah hujan dari tahun ke tahun relatif kecil.
Keuntungan:
1. Hanya diperlukan sat sistem penyaluran air sehingga dalam
pemilihannya lebih ekonomis.
2. Terjadi pengenceran air buangan oleh air hujan sehingga
konsentrasi air buangan menjadi menurun.
Kerugian:
Diperlukan areal yang luas untuk menempatkan instalasi
tambahan utuk penanggulangan di saat-saat tertentu.

Sistem Kombinasi (Pseudo Separate System), atau sistem


interseptor.
Merupakan perpaduan antara saluran air buangan dan saluran air
hujan dimana pada waktu musim hujan air buangan dan air hujan
tercampur dalam saluran air buangan, sedangkan air hujan
berfungsi sebagai pengencer. Kedua saluran ini tidak bersatu
tetapi dihubungkan dengan sistem perpipaan interseptor.
Beberapa faktor yang dapat digunakan dalam pemillihan sistem
ini adalah:
a. Perbedaan yang besar antara kuantitas air buangan yang
akan disalurkan melalui jaringan penyalur air buangan dan
kuantitas curah hujan pada daerah pelayanan.
b. Umumnya di dalam kota dilalui sungai-sungai dimana air
hujan secepatnya dibuang ke dalam sungai-sungai tersebut.
c. Periode musim kemarau dan musim hujan yang lama dan
fluktuasi air hujan yang tidak tetap.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, maka secara

teknis dan ekonomis, sistem yang memungkinkan untuk diterapkan


adalah sistem terpisah antara air buangan rumah tangga dengan air
buangan yang berasal dari air hujan.
E. Sasaran Sistem Drainase
Sasaran penyediaan sistem drainase adalah:
1. Penataan sistem jaringan drainase primer, sekunder, dan tersier
melalui normalisasi maupun rehabilitasi saluran guna menciptakan
lingkungan yang aman dan baik terhadap genangan, luapan
sungai, banjir kiriman, maupun hujan lokal. Dari masing-masing
jaringan dapat didefinisikan sebagai berikut :
a. Jaringan Primer : saluran yang memanfaatkan sungai dan anak
sungai.
b. Jaringan Sekunder : saluran yang menghubungkan saluran
tersier dengan saluran primer (dibangun dengan beton/plesteran
semen).

c. Jaringan Tersier : saluran untuk mengalirkan limbah rumah


tangga ke saluran sekunder, berupa plesteran, pipa dan tanah.
2. Memenuhi kebutuhan dasar (basic need) drainase bagi kawasan
hunian dan kota.
3. Menunjang kebutuhan pembangunan (development need) dalam
menunjang
kawasan

terciptanya
andalan

dan

scenario

pengembangan

menunjang

sektor

kota

untuk

unggulan

yang

berpedoman pada Rancana Umum Tata Ruang Kota.


F. Sistem Jaringan Drainase
Sistem jaringan drainase umumnya terbagi menjadi dua
bagian, yaitu:
1. Sistem Drainase Makro
Sistem drainase makro yaitu sistem saluran/badan air yang
menampung dan mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air
hujan (Catchment Area). Pada umumnya sistem drainase makro ini
disebut juga sebagai sistem saluran pembuangan utama (major
system) atau drainase primer. Sistem jaringan ini menampung
aliran yang berskala besar dan luas seperti saluran drainase
primer, kanal-kanal atau sungai-sungai. Perencanaan drainase
makro ini umumnya dipakai dengan periode ulang antara 5 sampai
10 tahun dan pengukuran topografi yang detail mutlak diperlukan
dalam perencanaan sistem drainase ini.
2. Sistem Drainase Mikro
Sistem drainase mikro yaitu sistem saluran dan bangunan
pelengkap drainase yang menampung dan mengalirkan air dari
daerah tangkapan hujan. Secara keseluruhan yang termasuk
dalam sistem drainase mikro adalah saluran di sepanjang sisi jalan,
saluran/selokan air hujan di sekitar bangunan, gorong-gorong,
saluran drainase kota dan lain sebagainya dimana debit air yang
dapat

ditampungnya

tidak

terlalu

besar.

Pada umumnya drainase mikro ini direncanakan untuk hujan


dengan masa ulang 2, 5 atau 10 tahun tergantung pada tata guna

10

lahan yang ada. Sistem drainase untuk lingkungan permukiman


lebih cenderung sebagai sistem drainase mikro.
G. Pengklasifikasian Saluran Drainase
Jenis saluran untuk pembuangan air dapat dibedakan menjadi:
1. Saluran Air Tertutup
a. Drainase Bawah Tanah Tertutup, yaitu saluran yang menerima
air limpasan dari daerah yang diperkeras maupun yang tidak
diperkeras dan membawanya ke sebuah pipa keluar di sisi tapak
(saluran permukaan atau sungai), ke sistem drainase kota.
b. Drainase Bawah Tanah Tertutup dengan tempat penampungan
pada tapak, dimana drainase ini mampu menampung air limpasan
dengan volume dan kecepatan yang meningkat tanpa
menyebabkan erosi dan kerusakan pada tapak.
2. Saluran Air Terbuka
Merupakan saluran yang mengalirkan air dengan suatu permukaan
bebas. Pada saluran air terbuka ini jika ada sampah yang
menyumbat dapat dengan mudah untuk dibersihkan, namun bau
yang ditimbulkan dapat mengurangi kenyamanan. Menurut
asalnya, saluran dibedakan menjadi :
a. Saluran Alam (natural), meliputi selokan kecil, kali, sungai kecil
dan sungai besar sampai saluran terbuka alamiah.
b. Saluran Buatan (artificial), seperti saluran pelayaran, irigasi,
parit pembuangan, dan lain-lain. Saluran terbuka buatan

mempunyai istilah yang berbeda-beda antara lain :


Saluran (canal) : biasanya panjang dan merupakan selokan
landai yang dibuat di tanah, dapat dilapisi pasangan batu/tidak

atau beton, semen, kayu maupu aspal.


Talang (flume) : merupakan selokan dari kayu, logam,
beton/pasangan batu, biasanya disangga/terletak di atas
permukaan

tanah,

untuk

mengalirkan

air

berdasarkan

perbedaan tinggi tekan.


Got miring (chute) : selokan yang curam.

11

Terjunan (drop) : seperti got miring dimana perubahan tinggi air

terjadi dalam jangka pendek.


Gorong-gorong (culvert) : saluran tertutup (pendek) yang
mengalirkan air melewati jalan raya, jalan kereta api, atau

timbunan lainnya.
Terowongan Air Terbuka (open-flow tunnel) : selokan tertutup
yang cukup panjang, dipakai untuk mengalirkan air menembus
bukit/gundukan tanah.

3. Saluran Air Kombinasi, dimana limpasan air terbuka dikumpulkan


pada saluran drainase permukaan, sementara limpasan dari
daerah yang diperkeras dikumpulkan pada saluran drainase
tertutup.

H. Pola Jaringan Drainase


Pola jaringan drainase terdiri dari enam macam, yaitu:
1.Siku
Digunakan pada daerah yang mempunyai topografi sedikit lebih
tinggi daripada sungai. Sungai sebagai saluran pembuangan akhir
berada di tengah kota.
2.Paralel
Saluran utama terletak sejajar dengan saluran cabang. Apabila
terjadi

perkembangan

kota,

saluran-saluran

akan

dapat

menyesuaikan diri.
3.Gridiron
Digunakan untuk daerah dengan sungai yang terletak di pinggir
kota, sehingga saluran-saluran cabang dikumpulkan dahulu pada
saluran pengumpul.
4. Alamiah
Sama seperti pola siku, hanya beban sungai pada pola alamiah
lebih besar.

12

5.Radial
Digunakan

untuk

daerah

berbukit,

sehingga

pola

saluan

memencar ke segala arah.


6.Jaring-jaring
Mepunyai saluran-saluran pembuangan yang mengikuti arah jalan
raya dan cocok untuk daerah dengan topografi datar.
Pola jaring-jaring terbagi lagi menjadi empat jenis, yaitu:
1.Polaperpendicular
Adalah pola jaringan penyaluran air buangan yang dapat
digunakan untuk sistem terpisah dan tercampur sehingga
banyak diperlukan banyak bangunan pengolahan.
2.Pola
interceptor
dan
pola

zone

Adalah pola jaringan yang digunakan untuk sistem tercampur.


3.Pola fan
Adalah pola jaringan dengan dua sambungan saluran /cabang
yang dapat lebih dari dua saluran menjadi satu menuju ke satu
bangunan pengolahan. Biasanya digunakan untuk sistem
terpisah.
4.Polaradial
Adalah pola jaringan yang pengalirannya menuju ke segala
arah dimulai dari tengah kota sehingga ada kemungkinan
diperlukan banyak bangunan pengolahan.
I. Bentuk Saluran

Bentuk saluran drainase, antara lain:


Trapesium
Berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air hujan
dengan debit yang besar. Sifat alirannya terus menerus dengan
fluktuasi kecil. Bentuk saluran ini dapat digunakan pada daerah yang

masih cukup tersedia lahan.


Kombinasi trapesium dan segi empat
Berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air hujan
dengan debit yang besar dan kecil. Sifat alirannya berfluktuasi besar

dan terus menerus tapi debit minimumnya measih cukup besar.


Kombinasi trapesium dengan setengah lingkaran

13

Fungsinya sama dengan bentuk (2), sifat alirannya terus menerus dan
berfluktuasi besar dengan debit minimum keil. Fungsi bentuk
setengah lingkaran ini adalah untuk menampung dan mengalirkan
debit minimum tersebut.
Segiempat

Berfungsi untuk menampung dan menyalurkan limpasan air hujan


dengan debit yang besar. Sifat alirannya terus menerus dengan
fluktuasi kecil.
Kombinasi segi empat dengan setengah lingkaran
Bentuk saluran segi empat ini digunakan pada lokasi jalur saluran
yang tidak mempunyai lahan yang cukup/terbatas. Fungsinya sama

dengan bentuk (2&3)


Setengah lingkaran
Berfungsi untuk menyalurkan limbah air hujan untuk debit yang kecil.
Bentuk saluran ini umum digunakan untuk saluran-saluran ruah
penduduk dan pada sisi jalan perumahan padat.

J. Bangunan-bangunan Sistem Drainase dan Pelengkapnya


1. Bangunan-bangunan Sistem Saluran Drainase
Bangunan-bangunan dalam system drainase terbagi menjadi
bangunan struktur dan bangunan non-struktur.
a. Bangunan Struktur
Bangunan struktur adalah bangunan pasangan disertai dengan
perhitungan-perhitungan kekuatan tertentu. Contoh bangunan
struktur adalah:
- Bangunan rumah pompa
- Bangunan tembok penahan tanah
- Bangunan terjunan yang cukup tinggi
- Jembatan
b. Bangunan Non-struktur
Banguna non-struktur adalah bangunan pasangan atau tanpa
pasangan, tidak disertai dengan perhitungan-perhitungan
kekuatan tertentu yang biasanya berbentuk siap pasang.
Contoh bangunan non-struktur adalah:
- Pasangan (saluran cecil tertutup, tembok talud saluran,
mahole/bak control ususran cecil, street inlet).

14

Tanpa pasangan : Saluran tanah dan saluran tanah berlapis


rumput.

2. Bangunan Pelengkap Saluran Drainase


Bangunan pelengkap saluan drainase

diperlukan

untuk

melengkapi suatu system saluran untuk fungsi-fungsi tertentu.


Adapun bangunan-bangunan pelengkap system drainase antara
lain:
a. Catch Basin/Watershed
Bangunan dimana air masuk ke dalam system saluran tertutup
dan air mengalir bebas di atas permukaan tanah menuju match
basin. Catch basin dibuat pada tiap persimpangan jalan, pada
tempat-tempat yang rendah, maupun tempat parkir.
b. Inlet
Apabila terdapat saluran terbuka dimana pembuangannya
akan dimasukkan ke dalam saluran tertutup yang lebih besar,
maka dibuat suatu konstruksi khusus inlet. Inlet harus diberi
saringan agar sampah tidak masuk ke dalam saluran tertutup.
c. Headwall
Headwall adalah konstruksi khusus pada outlet saluran tertutup
dan ujung gorong-gorong yang dimaksudkan untuk melindungi
dari longsor dan erosi.
d. Shipon
Shipon dibuat bilamana ada persilaangan dengan sungai.
Shipon dibangun di bawah dari penampang sungai, karena
tertanam di dalam tanah maka pada waktu pembuatannya
harus dibuat secara kuat sehingga tidak terjadi keretakan
ataupun

kerusakan

konstruksi.

Sebaiknya

dalam

merencanakan drainase dihindarkan perencanaan dengan


menggunakan shipon, dan sebaiknya saluran yang debitnya
lebih tinggi tetap untuk dibuat shipon dan saluran drainasenya
yang dibuat secara terbuka atau gorong-gorong.
e. Bangunan terjun
f. Manhole
Untuk keperluan pemeliharaan sistemsaluran drainase tertutup
di setiap saluran diberi manhole pertemuan, perunahan
15

dimensi, perubahan bentuk selokan pada setiap jarak 10-25


meter. Lubang

mahole

dibuat sekecil

mungkin

supaya

ekonomis, cukup, dan dapat dimasuki oleh orang dewasa.


Biasanya lubang manhole berdiameter 60 cm dengan tutup
dari besi tulang.
g. Bangunan got miring
Selokan yang curam.
h. Gorong-gorong yaitu

saluran

tertutup

(pendek)

yang

mengalirkan air melewati jalan raya, jalan kereta api, atau


timbunan lainnya.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Siklus keberadaan air di suatu lokasi dimana manusia
bermukim, pada masa tertentu akan mengalami keadaan berlebih,
sehingga dapat mengganggu kehidupan manusia. Selain itu, semakin
kompleksnya kegiatan manusia dapat menghasilkan limbah berupa
air buangan yang dapat mengganggu kelangsungan hidupnya, dan

16

dengan adanya keinginan untuk meningkatkan kenyamanan dan


kesejahteraan hidup maka manusia mulai berusaha untuk mengatur
lingkungannya dengan cara melindungi daerah pemukimannya dari
air berlebih dan air buangan. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan
sistem drainase yang baik.
B. Saran
Sistem drainase harus terpadu dengan sanitasi, sampah,
pengendalian banjir, dan lain-lain.

17