Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN

BBLR (BERAT BAYI LAHIR RENDAH)


RUANG 11 (PERINATOLOGI) Di RSUD Dr SAIFUL ANWAR MALANG
DEPARTEMEN PEDIATRIK

OLEH:
ASRI PUJI LESTARI
NIM. 0910720024
Kelompok 5

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2013

A. DEFINISI BBLR
Bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) adalah seluruh bayi dengan berat badan
saat lahir <2500 gram (Reeder, 2003).
Bayi baru lahir ini dianggap mengalami kecepatan pertumbuhan intrauterine
kurang dari yang diharapkan atau pemendekan periode gestasi. Kelahiran
preterm dan BBLR umumnya terjadi bersamaan (misalnya, <32 minggu dan
berat lahir <1200 gram) (Bobak, 2004)
Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat
badan kurang dari 2.500 gram tanpa memperhatikan usia gestasi. Berat lahir
adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir (Wong, 2004).
B. KLASIFIKASI BBLR
1. Cukup bulan ( 37 41 minggu ), post term ( > 42 minggu ) akan tetapi memiliki
berat badan 2500 SGA / KMK
2. Kurang bulan ( 28 - < 37 minggu ) dengan berat badan sesuai dengan usia
kehamilan prematur.
3. Kurang bulan ( 28 - < 37 minggu) dengan berat badan kurang dari usia
kehamilan prematur murni + KMK
4. Bila usia kehamilan tidak diketahui atau terjadi pada bayi besar (pada ibu
dengan diabetes melitus)
C. FAKTOR ETIOLOGI BBLR
1. Faktor Ibu
Gizi saat hamil yang kurang
Kekurangan gizi selama hamil akan berakibat buruk terhadap janin. Pertambahan
berat badan selama kehamilan rata-rata 0,3-0,5 kg/ minggu. Bila dikaitkan dengan
usia kehamilan, kenaikan berat badan selama hamil muda 5 kg, selanjutnya tiap
trimester (II dan III) masing-masing bertambah 5 kg. Pada akhir kehamilan,
pertambahan berat badan total adalah 9-12 kg. Bila terdapat kenaikan berat badan
yang berlebihan, perlu dipikirkan adanya risiko bengkak, kehamilan kembar,
hidroamnion, atau anak besar. Indikator lain untuk mengetahui status gizi ibu hamil
adalah dengan mengukur LLA. LLA adalah Lingkar Lengan Atas. LLA kurang dari
23,5 cm merupakan indikator kuat untuk status gizi yang kurang/ buruk. Ibu berisiko
untuk melahirkan anak dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Dengan
demikian, bila hal ini ditemukan sejak awal kehamilan, petugas dapat memotivasi ibu
agar ia lebih memperhatikan kesehatannya (Hidayati, 2009).
Umur Ibu
Berat badan lahir rendah juga berkolerasi dengan usia ibu. Persentase tertinggi bayi
dengan berat badan lahir rendah terdapat pada kelompok remaja dan wanita berusia
lebih dari 40 tahun. Ibu-ibu yang terlalu muda seringkali secara emosional dan fisik
belum matang, selain pendidikan pada umumnya rendah, ibu yang masih muda
masih tergantung pada orang lain. Kelahiran bayi BBLR lebih tinggi pada ibu-ibu
muda berusia kurang dari 20 tahun. Remaja seringkali melahirkan bayi dengan berat

lebih rendah. Hal ini terjadi karena mereka belum matur dan mereka belum memiliki
sistem transfer plasenta seefisien wanita dewasa. Pada ibu yang tua meskipun
mereka telah berpengalaman, tetapi kondisi badannya serta kesehatannya sudah
mulai menurun sehingga dapat memengaruhi janin intra uterin dan dapat
menyebabkan kelahiran BBLR. Faktor usia ibu bukanlah faktor utama kelahiran
BBLR, tetapi kelahiran BBLR tampak meningkat pada wanita yang berusia di luar
usia 20 sampai 35 tahun.
Jarak Hamil Dan Bersalin Terlalu Dekat
Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun dapat menimbulkan pertumbuhan janin kurang
baik, persalinan lama dan perdarahan pada saat persalinan karena keadaan rahim
belum pulih dengan baik. Ibu yang melahirkan anak dengan jarak yang sangat
berdekatan (di bawah dua tahun) akan mengalami peningkatan risiko terhadap
terjadinya perdarahan pada trimester III, termasuk karena alasan plasenta previa,
anemia dan ketuban pecah dini serta dapat melahirkan bayi dengan berat lahir
rendah.
Paritas Ibu
Anak lebih dari 4 dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan janin sehingga
melahirkan bayi dengan berat lahir rendah dan perdarahan saat persalinan karena
keadaan rahim biasanya sudah lemah.
Penyakit Menahun Ibu
Asma bronkiale
Pengaruh asma pada ibu dan janin sangat tergantung dari sering dan
beratnya serangan, karena ibu dan janin akan kekurangan oksigen (O2) atau
hipoksia. Keadaan hipoksia bila tidak segera diatasi tentu akan berpengaruh
pada janin, dan sering terjadi keguguran, persalinan premature atau berat

janin tidak sesuai dengan usia kehamilan (gangguan pertumbuhan janin).


Infeksi saluran kemih dengan bakteriuria tanpa gejala (asimptomatik)
Frekuensi bakteriuria tanpa gejala kira-kira 2 10%, dan dipengaruhi oleh
paritas, ras, sosioekonomi wanita hamil tersebut. Beberapa peneliti
mendapatkan adanya hubungan kejadian bakteriuria dengan peningkatan
kejadian

anemia

dalam

kehamilan,

persalinan

premature,

gangguan

pertumbuhan janin, dan preeklampsia.


Hipertensi
Ibu dengan hipertensi akan menyebabkan terjadinya insufisiensi plasenta,
hipoksia sehingga pertumbuhan janin terhambat dan sering terjadi kelahiran
prematur. Hipertensi pada ibu hamil merupakan gejala dini dari pre-eklamsi,
eklampsi

dan

penyebab

gangguan

menghasilkan berat badan lahir rendah.


Diabetes Mellitus

pertumbuhan

janin

sehingga

Diabetes mellitus dan penyakit infeksi menjadi salah satu penyebab BBLR
karena janin tumbuh lambat atau memperpendek usia kehamilan ibu.
Gaya Hidup
Konsumsi obat-obatan pada saat hamil: Peningkatan penggunaan obat-obatan
(antara 11% dan 27% wanita hamil, bergantung pada lokasi (geografi) telah
mengakibatkan makin tingginya insiden kelahiran premature, BBLR, defek
kongenital, ketidakmampuan belajar, dan gejala putus obat pada janin (Bobak,
2004). Konsumsi alkohol pada saat hamil: Penggunaan alkohol selama masa hamil
dikaitkan dengan keguguran (aborsi spontan), retardasi mental, BBLR dan sindrom
alkohol janin.
2. Faktor Kehamilan

Komplikasi Hamil

Pre-eklampsia/ Eklampsia
Pre-eklampsia/ Eklampsia dapat mengakibatkan keterlambatan pertumbuhan
janin dalam kandungan atau IUGR dan kelahiran mati. Hal ini disebabkan
karena Pre-eklampsia/Eklampsia pada ibu akan menyebabkan perkapuran di
daerah plasenta, sedangkan bayi memperoleh makanan dan oksigen dari
plasenta, dengan adanya perkapuran di daerah plasenta, suplai makanan
dan oksigen yang masuk ke janin berkurang.

Ketuban Pecah Dini


Ketuban dinyatakan pecah sebelum waktunya bila terjadi sebelum proses
persalinan berlangsung. Ketuban Pecah Dini (KPD) disebabkan oleh karena
berkurangnya kekuatan membran yang diakibatkan oleh adanya infeksi yang
dapat berasal dari vagina dan serviks. Pada persalinan normal selaput
ketuban biasanya pecah atau dipecahkan setelah pembukaan lengkap,
apabila ketuban pecah dini, merupakan masalah yang penting dalam obstetri
yang berkaitan dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi ibu.

Hidramnion

Hidramnion atau kadang-kadang disebut juga polihidramnion adalah keadaan


di mana banyaknya air ketuban melebihi 2000 cc. Gejala hidramnion terjadi
semata-mata karena faktor mekanik sebagai akibat penekanan uterus yang
besar kepada organ-organ seputarnya. Hidramnion harus dianggap sebagai
kehamilan dengan risiko tinggi karena dapat membahayakan ibu dan anak.
Prognosis anak kurang baik karena adanya kelainan kongenital, prematuritas,
prolaps funikuli dan lain-lain.

Hamil ganda/Gemeli
Berat badan janin pada kehamilan kembar lebih ringan daripada janin pada
kehamilan tunggal pada umur kehamilan yang sama. Sampai kehamilan 30
minggu kenaikan berat badan janin kembar sama dengan janin kehamilan
tunggal. Setelah itu, kenaikan berat badan lebih kecil, mungkin karena
regangan

yang

berlebihan

menyebabkan

peredaran

darah

plasenta

mengurang. Berat badan satu janin pada kehamilan kembar rata-rata 1000
gram lebih ringan daripada janin kehamilan tunggal. Berat badan bayi yang
baru lahir umumnya pada kehamilan kembar kurang dari 2500 gram. Suatu
faktor penting dalam hal ini ialah kecenderungan terjadinya partus
prematurus.

Perdarahan Antepartum
Perdarahan antepartum merupakan perdarahan pada kehamilan diatas 22
minggu hingga mejelang persalinan yaitu sebelum bayi dilahirkan (Saifuddin,
2002). Komplikasi utama dari perdarahan antepartum adalah perdarahan
yang menyebabkan anemia dan syok yang menyebabkan keadaan ibu
semakin jelek. Keadaan ini yang menyebabkan gangguan ke plasenta yang
mengakibatkan anemia pada janin bahkan terjadi syok intrauterin yang
mengakibatkan kematian janin intrauterin (Wiknjosastro, 1999 : 365). Bila
janin dapat diselamatkan, dapat terjadi berat badan lahir rendah, sindrom
gagal napas dan komplikasi asfiksia.

3. Faktor Janin
Cacat Bawaan (kelainan kongenital)

Kelainan kongenital merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang


timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur. Bayi yang dilahirkan dengan kelainan
kongenital, umumnya akan dilahirkan sebagai Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) atau
bayi kecil untuk masa kehamilannya. Bayi Berat Lahir Rendah dengan kelainan
kongenital yang mempunyai berat kira-kira 20% meninggal dalam minggu pertama
kehidupannya.
Infeksi Dalam Rahim
Infeksi hepatitis terhadap kehamilan bersumber dari gangguan fungsi hati dalam
mengatur dan mempertahankan metabolisme tubuh, sehingga aliran nutrisi ke janin
dapat terganggu atau berkurang. Oleh karena itu, pengaruh infeksihepatitis
menyebabkan abortus atau persalinan prematuritas dan kematian janin dalam rahim.
Wanita hamil dengan infeksi rubella akan berakibat buruk terhadap janin. Infeksi ini
dapat menyebabkan bayi berat lahir rendah, cacat bawaan dan kematian janin
D. PATOFISIOLOGI BBLR
Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan yang belum
cukup bulan atau prematur, disamping itu juga disebabkan dismaturitas. Artinya,
bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu), tapi BB lahirnya lebih kecil
ketimbang kehamilannya, yaitu tidak mencapai 2500 gram. Biasanya hal ini
terjadi karena adanya gangguan pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan
yang disebabkan oleh penyakit ibu seperti adanya kelainan plasenta, infeksi,
hipertensi, dan keadaan-keadaan lain yang menyebabkan suplai makanan ke
bayi jadi berkurang.
Gizi yang baik diperlukan seorang ibu hamil agar pertumbuhan janin tidak
mengalami hambatan dan selanjutnya akan melahirkan bayi dengan berat
normal. Dengan kondisi kesehatan yang baik, system reproduksi normal, tidak
menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa prahamil maupun saat
hamil, ibu akan melahirkan bayi lebih besar daripada ibu dengan kondisi
kehamilan yang sebailknya, ibu dengan kondisi kurang gizi kronis pada masa
hamil sering melahirkan bayi BBLR, vitalitas yang rendah dan kematian yang
tinggi, terlebih lagi bila ibu menderita anemia.
Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada
pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun selvotak. Anemia gizi dapat
mengakibatkan kematian janin di dalam kandungan, abortus, cacat bawaan,
BBLR, anemia pada bayi yang dilahirkan, hal ini dapat mengakibatkan morbiditas
dan mortilitas ibu dan kematian perinatal secara bermakna lebih tinggi. Pada ibu

hamil yang menderita anemia berat dapat meningkatkan resiko morbiditas ibu
dan bayi, kemungkinan melahirkan bayi BBLR dan premature juga lebih besar.

E. MASALAH-MASALAH YANG TERJADI PADA BBLR


Dengan kurang sempurnanya alat-alat dalam tubuhnya baik anatomis maupun
fisiologis maka mudah timbul beberapa kelainan seperti berikut ini :
1.

Suhu tubuh yang tidak stabil oleh karena kesulitan mempertahankan suhu tubuh
yang disebabkan oleh penguapan yag bertambah akibat dari kurangnya jaringan
lemak dibawah kulit, permukaan tubuh relatif lebih luas dibandingkan dengan
berat badan, otot yang tidak aktif,produksi panas yang berkurang oleh karena
lemak coklat (brown fat) yang belum cukup serta pusat pengaturan suhu yang
belum berfungsi sebagaimana mestinya.

2.

Gangguan pernafasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada BBLR. Hal
ini disebabkan kekurangan surfactan(rasio lesitin/sfingomielin kurang dari 2),
pertumbuhan dan pengembangan paru yang belum sempurna, otot pernafasan
yang masih lemah yang tulang iga yang mudah melengkung(pliable thorak)

3.

Penyakit gangguan pernafasan yang sering pada bayi BBLR adalah penyakit
membran hialin dan aspirasi pneumoni.

4.

Gangguan alat pencernaan dan problema nutrisi, distensi abdomen akibat dari
motilitas

usus

berkurang,

volume

lambung

berkurang

sehingga

waktu

pengosongan lambung bertambah, daya untuk mencernakan dan mengabsorbsi


lemak, laktosa,vitamin yang larut dalam lemakdan bebberapa mineral tertentu
berkurang.

Kerja

dari

sfingter

kardio

esofagus

yang

belum

sempurna

memudahkan terjadinya regurgitasi isi lambung ke esofagus dan mudah terjadi


asspirasi.
5.

Immatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia dan defisiensi vitamin K.

6.

Ginjal yang immatur baik secara anatomis maupun fungsinya. Produksi urine
yang sedikit, urea clearence yang rendah, tidak sanggup mengurangi kelebihan
airtubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat mudah terjadi edema dan
asidosis metabolik.

7.

Perdarahan mudahbterjadi karena pembuluh darah yang rapuh (fragile),


kekurangan faktor pembekuan seperti protrombine, faktor VII dan faktor
christmas.

8.

Gangguan imunologok, daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang karena


rendahya kadar IgG gamma globulin. Bayi prematur relatif belum sanggup
membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap infeksi masih
belum baik.

9.

Perdarahan intraventrikuler, lebih dari 50% bayi prematur menderita perdarahan


intraventrikuler. Hal ini disebabkan oleh karena bayi BBLR sering menderita

apnea,asfuksia berat dan sindroma gangguan pernafasan. Luasnya perdarahan


intraventrikuler ini dapat
10. Retrolental Fibroplasia: dengan menggunakan oksigen dengan konsentrasi
tinggi(PaO2 lebih dari 115 mmHg : 15 kPa) maka akan terjadi vasokonstriksi
pembuluh darah retina yang diikuti oleh proliferasi kapiler-kapiler baru kedaerah
yang iskemi sehingga terjadi perdarahan, fibrosis, distorsi dan parut retina
sehingga bayi menjadi buta. Untuk menghindari retrolental fibroplasia maka
oksigen yang diberikan pada bayi prematur tidak boleh lebih dati 40%. Hal ini
dapat dicapai dengan memberikan oksigen dengan kecepatan 2 liter permenit.
F. MANIFESTASI KLINIS BBLR
Gejala Klinis Sebelum Bayi Dilahirkan
a. Pada anamnesa sering dijumpai adanya riwayat abortus partus prematurus dan
lahir mati.
b. Pergerakan janin yang pertama (quikening) terjadi lebih lambat, gerakan janin
lebih lambat, walaupun kehamilannya sudah agak lanjut.
c. Pembesaran uterus tidak sesuai tuanya kehamilan.
d. Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut seharusnya.
e. Sering dijumpai kehamilan dengan oligohidramnion atau bisa pula hidramnion,
hiperemesis gravidarum danpada hamil lanjut dengan toxemia gravidarum.
Setelah Bayi Lahir
a. Bayi prematur
Vernik kaseosa sedikit/tidak ada
Jaringan lemak bawah kulit sedikit
Tulang tengkorak lunak mudah bergerak
Menangis lemah
Kulit tipis, merah dan transparan
Tonus otot hipotoni
b. Kelainan yang dijumpai antara lain:
1. Suhu tubuh yang tidak stabil, akibat dari:
Kurangnya jaringan lemak di bawah kulit
Permukaan tubuh yang relatif lebih luas dibandingkan dengan berat

badan
Otot yang tidak aktif
Produksi panas yang berkurang oleh karena lemak coklat yang belum

cukup
Pusat pengaturan suhu yang blm berfungsi sebagaimana semestinya
2. Gangguan pernafasan, akibat dari:
Kurang surfaktan
Pertumbuhan dan perkembangan paru yang belum sempurna
Otot pernafasan yang masih lemah dan tulang iga yang mudah
3.

melengkung
Gangguan alat pencernaan dan problemalnutrisi
Distensi abdomen akibat dari motilitas usus berkurang

Volume lambung berkurang sehingga waktu pengosongan lambung

bertambah
Daya untuk mencernakan, mengabsorbsilemak, laktosa, vitamin yang

larut dalam lemak dan beberapa mineral tertentu berkurang.


Kerja dari spingter esofagus belum sempurna sehingga memudahkan

terjadi aspirasi.
4. Immatur hati memudahkan terjadinya hiperbilirubinemia dan defisiensi vitamin K
5. Ginjal yang immatur baik secara anatomismaupun fungsinya:
Produksi urin yang sedikit
Urea clearence yang rendah
Tidak sanggup mengurangi kelebihan air tubuh dan elektrolit dari badan
6.

dengan akibat mudahnya terjadi edema


Perdarahan mudah terjadi karena:
Pembuluh darah yg rapuh
Kekurangan faktor pembekuan seperti protombin
Gangguan Imunologik: daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang

karena rendahnya kadar IgG gamma globulin.


G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK BBLR
Tidak banyak pemeriksaan diagnostic yang dapat dilakukan untuk menegakkan
diagnose bayi BBLR, pada masa kehamilan ibu dapat melakukan pemeriksaan USG
1.
2.
3.
4.
H.

untuk mengetahui berat badan bayi dan kondisi janin, pemeriksaan lainnya:
Penilaian APGAR Score
Pengkajian spesifik
Pemeriksaan fungsi paru janin
Pemeriksaan fungsi kardiovaskuler
PENATALAKSANAAN MEDIS BBLR
Berikut ini dijelaskan penatalaksaan pada BBLR dari sisi keperawatan dan medis
(Nuraini, 2010)

1. Pastikan bahwa bayi terjaga tetap hangat


2. Bungkus bayi dengan kain lunak, kering, selimut, pakai topi untuk menghindari
kehilangan panas
3. Awasi frekuensi pernapsan terutama dalam 24 jam pertama, guna mengetahui
syndrome aspirasi mekonium/sindrom gangguan pernapasan idiopatik
4. Suhu diawasi jangan sampai kediniginan karena BBLR mudah hipotermi akibat dari
luas permukaan tubuh bayi realitf besar dari lemak subkutan. BMR dari BBLR rendah
saat lahir dan meningkat cepat selama 10 hari pertama kehidupan. Oleh karena itu
penting untuk mempertahankan suhu tubuh dengan memberikan pakaian pada bayi.
Suhu ruangan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah tidak sesuai dengan seharusnya
dapat meningkatkan kematian bayi BBLR
5. Dorong ibu menyusui dalam 1 jam sekali
6. Jika bayi haus, beri makanan dini berguna untuk mencegah hipoglekimia

10

7. Jika bayi sianosis atau sukar bernafas (frekuensi < 30 atau 60/menit)). Tarikan
dinding dada ke dalam atau merintih beri O2 melalui kateter hidung.
8. Cegah infeksi oleh karena rentan oleh pemindahan IgB dari ibu ke janin terganggu.
Bayi BBLR ditempatkan di ruang khusus, harus ada pengaturan izin masuk, mencuci
tangan sesudah dan sebelum menyentuh bayi serta gunakan gown dan masker.
9. Perika kadar gula darah tiap 8-12 jam.
10. Pemberian makanan secara dini dianjurkan untuk membantu mencegah terjadinya
hipoglikemia dan hiperbillirubin. ASI merupakan pilihan pertama, dapat diberikan
melalui kateter ( sonde ), terutama pada bayi yang reflek hisap dan menelannya
lemah. Bayi berat lahir rendah secara relative memerlukan lebih banyak kalori,
dibandingkan dengan bayi preterm. Petunjuk untuk volume susu yang diperlukan
Umur/hari
1
2
3
4
5
6
7
14
21
28

Jmlh ml/kg BB
50- 65
100
125
150
160
175
200
225
175
150

NUTRISI PADA BBLR


Menurut Iskandar Wahidiyat, 2001
1. Kebutuhan parenteral\
Bayi BBLR < 1500 gram menggunakan D5%
Bayi BBLR > 1500 gram menggunakan D10%
2. Kebutuhan nutrisi enteral
BB < 1250 gram = 24 kali per 24 jam
BB 1250-< 2000 gram = 12 kali per 24 jam
BB > 2000 gram = 8 kali per 24 jam
3. Kebutuhan minum pada neonatus :
Hari ke 1 = 50-60 cc/kg BB/hari
Hari ke 2 = 90 cc/kg BB/hari
Hari ke 3 = 120 cc/kg BB/hari
Hari ke 4 = 150 cc/kg BB/hari
Dan untuk tiap harinya sampai mencapai 180 200 cc/kg BB/hari

Test Kocok (shake Test)

Sebaiknya dilakukan pada bayi yang berusia < 1jam dengan mengambil cairan
amnion yang tertelan dilambung dan bayi nelum diberikan makanan. Cairan
amnion 0,5 cc ditambah garam faal 0,5 cc, kemudian ditambah 1 cc alcohol 95

11

% dicampur dalam tabung kemudian kocok 15 detik, kemudian diamkan selama


15 menit dengan tabung tetap berdiri ,
1. (+) : bila terdapat gelembung-gelembung yang membentuk cincin artinya
surfaktan terdapat dalam paru dalam jumlah yang cukup.
2. (-) : bila tidak ada gelembung atau gelembung sebanyak permukaan artinya
paru paru belum matang / tidak ada surfaktan.
3. ragu : bila terdapat gelembung tapi tidak ada cincin jika hasilnya ragu maka
tes harus diulang.
APGAR SKOR
a. Pengertian Apgar Skor
Apgar skor adalah suatu metode sederhana yang digunakan untuk menilai
keadaan umum bayi sesaat setelah kelahiran (Prawirohardjo : 2002).
Penilaian ini perlu untuk mengetahui apakah bayi menderita asfiksia atau tidak.
Yang dinilai adalah frekuensi jantung (Heart rate), usaha nafas (respiratory
effort), tonus otot (muscle tone), warna kulit (colour) dan reaksi terhadap
rangsang (respon to stimuli) yaitu dengan memasukkam kateter ke lubang
hidung setelah jalan nafas dibersihkan (Prawirohardjo : 2002).
Setiap penilaian diberi angka 0,1,2. Dari hasil penilaian tersebut dapat diketahui
apakah bayi normal (vigorous baby = nilai apgar 7-10), asfiksia ringan (nilai
apgar 4-6), asfiksia berat (nilai apgar 0-3) (Prawirohardjo : 2002).

12

BALLARD SCORE

Sistem penilaian ini dikembangkan oleh Dr. Jeanne L Ballard, MD untuk


menentukan usia gestasi bayi baru lahir melalui penilaian neuromuskular dan
fisik.
Penilaian neuromuskular meliputi postur, square window, arm recoil, sudut
popliteal, scarf sign dan heel to ear maneuver. Penilaian fisik yang diamati
adalah kulit, lanugo, permukaan plantar, payudara, mata/telinga,dan genitalia.
1. Penilaian Maturitas Neuromuskular
a. Postur
Tonus otot tubuh tercermin dalam postur tubuh bayi saat istirahat dan adanya
tahanan saat otot diregangkan (Gambar II.3). Ketika pematangan berlangsung,
berangsur-angsur janin mengalami peningkatan tonus fleksor pasif dengan arah
sentripetal, dimana ekstremitas bawah sedikit lebih awal dari ekstremitas atas.
Pada awal kehamilan hanya pergelangan kaki yang fleksi. Lutut mulai fleksi
bersamaan dengan pergelangan tangan. Pinggul mulai fleksi, kemudian diikuti
dengan abduksi siku, lalu fleksi bahu. Pada bayi prematur tonus pasif ekstensor
tidak mendapat perlawanan, sedangkan pada bayi yang mendekati matur
menunjukkan perlawanan tonus fleksi pasif yang progresif.

b. Square Window
Fleksibilitas pergelangan tangan dan atau tahanan terhadap peregangan
ekstensor memberikan hasil sudut fleksi pada pergelangan tangan. Pemeriksa
meluruskan jari-jari bayi dan menekan punggung tangan dekat dengan jari-jari
dengan lembut. Hasil sudut antara telapak tangan dan lengan bawah bayi dari

13

preterm hingga posterm diperkirakan berturut-turut > 90 , 90 , 60 , 45 , 30 ,


dan 0 (Gambar II.4).

c. Arm Recoil
Manuver ini berfokus pada fleksor pasif dari tonus otot biseps dengan mengukur
sudut mundur singkat setelah sendi siku difleksi dan ekstensikan. Arm recoil
dilakukan dengan cara evaluasi saat bayi terlentang. Pegang kedua tangan bayi,
fleksikan lengan bagian bawah sejauh mungkin dalam 5 detik, lalu rentangkan
kedua lengan dan lepaskan.Amati reaksi bayi saat lengan dilepaskan. Skor 0:
tangan tetap terentang/ gerakan acak, Skor 1: fleksi parsial 140-180 , Skor 2:
fleksi parsial 110- 140 , Skor 3: fleksi parsial 90-100 , dan Skor 4: kembali ke
fleksi penuh (Gambar II.5).

d. Popliteal Angle
Manuver ini menilai pematangan tonus fleksor pasif sendi lutut dengan menguji
resistensi ekstremitas bawah terhadap ekstensi. Dengan bayi berbaring
telentang, dan tanpa popok, paha ditempatkan lembut di perut bayi dengan lutut
tertekuk penuh.
Setelah bayi rileks dalam posisi ini, pemeriksa memegang kaki satu sisi dengan
lembut dengan satu tangan sementara mendukung sisi paha dengan tangan

14

yang lain. Jangan memberikan tekanan pada paha belakang, karena hal ini
dapat mengganggu interpretasi.
Kaki diekstensikan sampai terdapat resistensi pasti terhadap ekstensi. Ukur
sudut yang terbentuk antara paha dan betis di daerah popliteal. Perlu diingat
bahwa pemeriksa harus menunggu sampai bayi berhenti menendang secara
aktif sebelum melakukan ekstensi kaki. Posisi Frank Breech pralahir akan
mengganggu manuver ini untuk 24 hingga 48 jam pertama usia karena bayi
mengalami kelelahan fleksor berkepanjangan intrauterine. Tes harus diulang
setelah pemulihan telah terjadi (Gambar II.6).

e. Scarf Sign
Manuver ini menguji tonus pasif fleksor gelang bahu. Dengan bayi berbaring
telentang, pemeriksa mengarahkan kepala bayi ke garis tengah tubuh dan
mendorong tangan bayi melalui dada bagian atas dengan satu tangan dan ibu
jari dari tangan sisi lain pemeriksa diletakkan pada siku bayi. Siku mungkin perlu
diangkat melewati badan, namun kedua bahu harus tetap menempel di
permukaan meja dan kepala tetap lurus dan amati posisi siku pada dada bayi
dan bandingkan dengan angka pada lembar kerja, yakni, penuh pada tingkat
leher (-1); garis aksila kontralateral (0); kontralateral baris puting (1); prosesus
xyphoid (2); garis puting ipsilateral (3); dan garis aksila ipsilateral (4) (Gambar
II.7).

15

f. Heel to Ear
Manuver ini menilai tonus pasif otot fleksor pada gelang panggul dengan
memberikan fleksi pasif atau tahanan terhadap otot-otot posterior fleksor
pinggul. Dengan posisi bayi terlentang lalu pegang kaki bayi dengan ibu jari dan
telunjuk, tarik sedekat mungkin dengan kepala tanpa memaksa, pertahankan
panggul pada
permukaan meja periksa dan amati jarak antara kaki dan kepala serta tingkat
ekstensi lutut ( bandingkan dengan angka pada lembar kerja). Penguji mencatat
lokasi dimana resistensi signifikan dirasakan. Hasil dicatat sebagai resistensi
tumit ketika berada pada atau dekat: telinga (-1); hidung (0); dagu (1); puting
baris (2); daerah pusar (3); dan lipatan femoralis (4) (Gambar II.8).

2. Penilaian Maturitas Fisik


a. Kulit
Pematangan kulit janin melibatkan pengembangan struktur intrinsiknya
bersamaan dengan hilangnya secara bertahap dari lapisan pelindung, yaitu
vernix caseosa. Oleh karena itu kulit menebal, mengering dan menjadi keriput
dan / atau mengelupas dan dapat timbul ruam selama pematangan janin.
Fenomena ini bisa terjadi dengan kecepatan berbeda-beda pada masing-masing
janin tergantung pada pada kondisi ibu dan lingkungan intrauterin.
Sebelum perkembangan lapisan epidermis dengan stratum corneumnya, kulit
agak transparan dan lengket ke jari pemeriksa. Pada usia perkembangan
selanjutnya kulit menjadi lebih halus, menebal dan menghasilkan pelumas, yaitu
vernix, yang menghilang menjelang akhir kehamilan. pada keadaan matur dan
pos matur, janin dapat mengeluarkan mekonium dalam cairan ketuban. Hal ini

16

dapat mempercepat proses pengeringan kulit, menyebabkan mengelupas,


pecah-pecah, dehidrasi, sepeti sebuah perkamen.
b. Lanugo
Lanugo adalah rambut halus yang menutupi tubuh fetus. Pada extreme
prematurity kulit janin sedikit sekali terdapat lanugo. Lanugo mulai tumbuh pada
usia gestasi 24 hingga 25 minggu dan biasanya sangat banyak, terutama di
bahu dan punggung atas ketika memasuki minggu ke 28. Lanugo mulai menipis
dimulai dari punggung bagian bawah. Daerah yang tidak ditutupi lanugo meluas
sejalan dengan maturitasnya dan biasanya yang paling luas terdapat di daerah
lumbosakral. Pada punggung bayi matur biasanya sudah tidak ditutupi lanugo.
Variasi jumlah dan lokasi lanugo pada masing-masing usia gestasi tergantung
pada genetik, kebangsaan, keadaan hormonal, metabolik, serta pengaruh gizi.
Sebagai contoh bayi dari ibu dengan diabetes mempunyai lanugo yang sangat
banyak.
Pada melakukan skoring pemeriksa hendaknya menilai pada daerah yang
mewakili jumlah relatif lanugo bayi yakni pada daerah atas dan bawah dari
punggung bayi.
c. Permukaan Plantar
Garis telapak kaki pertama kali muncul pada bagian anterior ini kemungkinan
berkaitan dengan posisi bayi ketika di dalam kandungan. Bayi dari ras selain
kulit putih mempunyai sedikit garis telapak kaki lebih sedikit saat lahir. Di sisi lain
pada bayi kulit hitam dilaporkan terdapat percepatan maturitas neuromuskular
sehingga timbulnya garis pada telapak kaki tidak mengalami penurunan. Namun
demikian penialaian dengan menggunakan skor Ballard tidak didasarkan atas
ras atau etnis tertentu.
Bayi very premature dan extremely immature tidak mempunyai garis pada
telapak kaki. Untuk membantu menilai maturitas fisik bayi tersebut berdasarkan
permukaan plantar maka dipakai ukuran panjang dari ujung jari hingga tumit.
Untuk jarak kurang dari 40 mm diberikan skor -2, untuk jarak antara 40 hingga
50 mm diberikan skor -1. Hasil pemeriksaan disesuaikan dengan skor di tabel.
d. Payudara
Areola mammae terdiri atas jaringan mammae yang tumbuh akibat stimulasi
esterogen ibu dan jaringan lemak yang tergantung dari nutrisi yang diterima
janin. Pemeriksa menilai ukuran areola dan menilai ada atau tidaknya bintikbintik akibat pertumbuhan papila Montgomery (Gambar II.11). Kemudian
dilakukan palpasi jaringan mammae di bawah areola dengan ibu jari dan telunjuk
untuk mengukur diameternya dalam milimeter
e. Mata/Telinga
Daun telinga pada fetus mengalami penambahan kartilago seiring
perkembangannya menuju matur. Pemeriksaan yang dilakukan terdiri atas
palpasi ketebalan kartilago kemudian pemeriksa melipat daun telinga ke arah
wajah kemudian lepaskan dan pemeriksa mengamati kecepatan kembalinya
daun telinga ketika dilepaskan ke posisi semulanya
f. Genital (Pria)
Testis pada fetus mulai turun dari cavum peritoneum ke dalam scrotum kurang
lebih pada minggu ke 30 gestasi. Testis kiri turun mendahului testis kanan yakni
pada sekitar minggu ke 32. Kedua testis biasanya sudah dapat diraba di canalis
inguinalis bagian atas atau bawah pada minggu ke 33 hingga 34 kehamilan.

17

Bersamaan dengan itu, kulit skrotum menjadi lebih tebal dan membentuk rugae.
Testis dikatakan telah turun secara penuh apabila terdapat di dalam zona
berugae. Pada nenonatus extremely premature scrotum datar, lembut, dan
kadang belum bisa dibedakan jenis kelaminnya. Berbeda halnya pada neonatus
matur hingga posmatur, scrotum biasanya seperti pendulum dan dapat
menyentuh kasur ketika berbaring.
Pada cryptorchidismus scrotum pada sisi yang terkena kosong, hipoplastik,
dengan rugae yang lebih sedikit jika dibandingkan sisi yang sehat atau sesuai
dengan usia kehamilan yang sama.
g. Genital (wanita)
Untuk memeriksa genitalia neonatus perempuan maka neonatus harus
diposisikan telentang dengan pinggul abduksi kurang lebih 45o dari garis
horisontal.
Abduksi yang berlebihan dapat menyebabkan labia minora dan klitoris tampak
lebih menonjol sedangkan aduksi menyebabkankeduanya tertutupi oleh labia
majora 9. Pada neonatus extremely premature labia datar dan klitoris sangat
menonjol dan menyerupai penis. Sejalan dengan berkembangnya maturitas fisik,
klitoris menjadi tidak begitu menonjol dan labia minora menjadi lebih menonjol.
Mendekati usia kehamilan matur labia minora dan klitoris menyusut dan
cenderung tertutupi oleh labia majora yang membesar.
Labia majora tersusun atas lemak dan ketebalannya bergantung pada nutrisi
intrauterin. Nutrisi yang berlebihan dapat menyebabkan labia majora menjadi
besar pada awal gestasi. Sebaliknya nutrisi yang kurang menyebabkan labia
majora cenderung kecil meskipun pada usia kehamilan matur atau posmatur dan
labia minora serta klitoris cenderung lebih menonjol.
3. Interpretasi Hasil
Masing-masing hasil penilaian baik maturitas neuromuskular maupun fisik
disesuaikan dengan skor di dalam tabel dan dijumlahkan hasilnya.

18

I.
J. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS BBLR SECARA UMUM
PENGKAJIAN
1. Prematuritas murni

BB < 2500 gram, PB < 45 cm, LK < 33 cm, LD < 30 cm

Masa gestasi < 37 minggu

Kepala lebih besar dari pada badan, kulit tipis transparan, mengkilap dan licin

Lanugo (bulu-bulu halus) banyak terdapat terutama pada daerah dahi, pelipis,
telinga dan lengan, lemak subkutan kurang, ubun-ubun dan sutura lebar

Genetalia belum sempurna, pada wanita labia minora belum tertutup oleh labia
mayora, pada laki-laki testis belum turun.

Tulang rawan telinga belum sempurna, rajah tangan belum sempurna

Pembuluh darah kulit banyak terlihat, peristaltik usus dapat terlihat

Rambut tipis, halus, teranyam, puting susu belum terbentuk dengan baik

Bayi kecil, posisi masih posisi fetal, pergerakan kurang dan lemah

Banyak tidur, tangis lemah, pernafasan belum teratur dan sering mengalami
apnea, otot masih hipotonik

Reflek tonus leher lemah, reflek menghisap, menelan dan batuk belum sempurna

2. Dismaturitas

Kulit berselubung verniks kaseosa tipis/tak ada,

Kulit pucat bernoda mekonium, kering, keriput, tipis

Jaringan lemak di bawah kulit tipis, bayi tampak gesit, aktif dan kuat
INTERVENSI KEPERAWATAN

19

No

Diagnosa Keperawatan

1.

Pola nafas tidak efektif


b/d

tidak

Tujuan/Kriteria
Pola nafas yang efektif

adekuatnya

ekspansi paru

Rencana Tindakan

Berikan posisi kepala sedikit ekstensi

Berikan oksigen dengan metode yang

Kriteria :

sesuai

Kebutuhan oksigen

menurun

Observasi irama, kedalaman dan


frekuensi pernafasan

Nafas spontan,
adekuat

2.

Gangguan

pertukaran

gas

kurangnya

b/d

ventilasi

alveolar

Tidak sesak.

Tidak ada retraksi

Pertukaran gas adekuat

Kriteria :

sekunder

terhadap
defisiensi surfaktan

Berikan oksigen dengan metode yang


sesuai

Tidak sianosis.

Observasi warna kulit

Analisa gas darah

Ukur saturasi oksigen

Observasi tanda-tanda perburukan

normal

Lakukan isap lendir kalau perlu

Saturasi oksigen
normal.

pernafasan

Lapor dokter apabila terdapat tandatanda perburukan pernafasan

Kolaborasi dalam pemeriksaan


analisa gas darah

Kolaborasi dalam pemeriksaan


surfaktan

No

Diagnosa Keperawatan

Tujuan/Kriteria

20

Rencana Tindakan

3.

Resiko tinggi gangguan

Hidrasi baik

keseimbangan
keseimbangan
dan

cairan

elektrolit

Kriteria:

b/d
ginjal

ketidakmampuan
mempertahankan
keseimbangan

cairan

dan elektrolit

Observasi turgor kulit.

Catat intake dan output

Kolaborasi dalam pemberian cairan

Turgor kulit elastik

Tidak ada edema

Produksi urin 1-2

intra vena dan elektrolit

Kolaborasi dalam pemeriksaan


elektrolit darah

cc/kgbb/jam
Elektrolit darah

dalam batas normal


Perubahan nutrisi kurang
4.

dari

kebutuhan

berhubungan

tubuh

adekuatnya

persediaan

zat

besi,

Kriteria :
Berat badan naik 10-

30 gram / hari

metabolisme

Tidak ada edema

yang tinggi dan intake

Protein dan albumin

yang kurang adekuat

Berikan ASI/PASI dengan metode


yang tepat

dengan

tidak
kalsium,

Nutrisi adekuat

Observasi dan catat toleransi minum

Timbang berat badan setiap hari

Catat intake dan output

Kolaborasi dalam pemberian total


parenteral nutrition kalau perlu

darah dalam batas


normal
Resiko tinggi hipotermi
5

atau

hipertermi

imaturitas

b/d

Suhu bayi stabil


Suhu 36,5 0C -37,2

fungsi

termoregulasi

atau

perubahan

suhu

Rawat bayi dengan suhu lingkungan


sesuai

C
Akral hangat

Hindarkan bayi kontak langsung


dengan benda sebagai sumber

lingkungan

dingin/panas

Ukur suhu bayi setiap 3 jam atau


kalau perlu

21

Ganti popok bila basah

No

Diagnosa Keperawatan

6.

Resiko

tinggi

gangguan

terjadi

Tujuan/Kriteria

Perfusi jaringan baik

perfusi

jaringan b/d imaturitas


fungsi kardiovaskuler

Rencana Tindakan

Tekanan

Ukur tekanan darah kalau perlu

darah

Observasi warna dan suhu kulit

normal

Pengisian

kembali

kapiler <2 detik

Akral

hangat

dan

tidak sianosis

Produksi

urin

1-2

Observasi pengisian kembali kapiler

Observasi adanya edema perifer

Kolaborasi dalam pemeriksaan


laboratorium

obatan

cc/kgbb/jam

Kolaborasi dalam pemberian obat-

Kesadaran
composmentis

7.

Resiko

tinggi

injuri

Tidak ada injuri

susunan saraf pusat b/d


hipoksia

Kriteria :

Kesadaran
composmentis

Cegah terjadinya hipoksia

Ukur saturasi oksigen

Observasi kesadaran dan aktifitas


bayi

Gerakan aktif dan

Observasi tangisan bayi

Tidak ada kejang

Observasi adanya kejang

ataupun twitching

Lapor dokter apabila ditemukan

terkoordinasi

Tidak ada tangisan


melengking

kelainan pada saat observasi

22

Ukur lingkar kepala kalau perlu

Hasil USG kepala

dalam batas normal

8.

Resiko tinggi infeksi b/d


imaturitas

Kolaborasi dalam pemeriksaan USG


kepala

Bayi tidak terinfeksi

fungsi

imunologik

Kriteria :

Hindari bayi dari orang-orang yang

Suhu 36,5 C -37,2

terinfeksi kalau perlu rawat dalam

inkubator

Darah rutin normal

Cuci tangan sebelum dan sesudah


kontak dengan bayi

Lakukan tehnik aseptik dan antiseptik


bila melakukan prosedur invasif

No

9.

Diagnosa Keperawatan

Resiko tinggi gangguan


integritas

kulit

Tujuan/Kriteria

Integritas kulit baik

Rencana Tindakan

Lakukan perawatan tali pusat

Observasi tanda-tanda vital

Kolaborasi pemeriksaan darah rutin

Kolaborasi pemberian antibiotika

Kaji kulit bayi dari tanda-tanda

b/d

imaturitas struktur kulit

kemerahan, iritasi, rash, lesi dan lecet


Kriteria :

pada daerah yang tertekan

Tidak ada rash

Tidak ada iritasi

Tidak plebitis

Gunakan plester non alergi dan


seminimal mungkin

Ubah posisi bayi dan pemasangan


elektrode atau sensor

10.

Koping keluarga tidak


efektif b/d kondisi kritis

Koping keluarga efektif


Kriteria :

Memberikan kesempatan pada ortu


berkonsultasi dengan dokter

23

pada bayinya, perawatan


yang lama dan takut
untuk merawat bayinya

setelah pulang dari RS

Ortu kooperatif dg

Rujuk ke ahli psikologi jika perlu

perawatan bayinya.

Berikan penkes cara perawatan bayi

Pengetahuan ortu

BBLR di rumah termasuk pijat bayi,

bertambah

metode kanguru, cara memandikan

Orang tua dapat

Lakukan home visit jika bayi pulang

merawat bayi di

dari RS untuk menilai kemampuan

rumah

orang tua merawat bayinya

DAFTAR PUSTAKA
1. Abraham, Rudolph. 2006. Buku Ajar Rudolph Volume 1. Jakarta: EGC.
2. Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik Edisi 4. Jakarta:
EGC.
3. Cecila L. Betz & Linda A. Sowden. 2002. Keperawatan Pediatri Edisi 3. Jakarta:
EGC.
4. Saifudin, Abdul Bahri. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
5. Elizabet J. Corwin. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
6. J.C.E. Underwood. 1999. Patologi Umum Dan Sistematik. Vol 2. Jakarta: EGC.

24