Anda di halaman 1dari 13

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan

: Kesehatan lingkungan kerja dan keamananbahan tambahan pangan

Sub Pokok Bahasan

- Pengertian kesehatan lingkungan kerja


-

Ciri-ciri lingkungan sehat


Aspek kesehatan lingkungan kerja
Cara penyaringan air kotor
Pengertian pangan
Bahan tambahan pangan yang biasa digunakan dalam
masayarakat.

I.

TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan pada tenaga kerja home industry
tahu di Dusun Karangsari Planjan Kesugihan Cilacap, di harapkan tenaga kerja
mampu memahami tentang kesehatan lingkungan kerja dan keamanan bahan
pangan yang digunakan dalam pembuatan tahu.
2. Tujuan Khusus
2.1
Tenaga kerja mampu memahami tentang pengertian kesehatan lingkungan
2.2
2.3
2.4
2.5
2.6

kerja
Tenaga
Tenaga
Tenaga
Tenaga
Tenaga

kerja mampu memahami tentang ciri-ciri lingkungan sehat


kerja mampu memahami tentang aspek kesehatan lingkungan kerja
kerja mampu memahami tentangcara penyaringan air kotor
kerja mampu memahami tentang pengertian pangan
kerja mampu memahami tentang bahan tambahan pangan yang biasa

digunakan dalam masayarakat.

II.

SASARAN
Seluruh tenaga kerja di home industry tahu Bapak Suyatno Jl. S. Parman Dusun
Karang sari Planjan Kesugihan Cilacap.

III.

Rencana waktu dan tempat


a. Hari/tanggal: Selasa, 3 November 2015
b. Waktu
: Pukul 15.00 s.d Selesai
1

c. Tempat

: Rumah Bapak Suyatno di Jl. S. Parman Dusun Karangsari Planjan

Kesugihan Cilacap
IV.

METODE
1. Ceramah
2. Demonstrasi
3. Tanya jawab

V.

MEDIA
1. Leaflet
2. Lembar balik
3. Alat penyaringan ( botol aqua 1 liter, arang, ijuk, jerami, kerikil besar, kerikil kecil,
pasir, wadah baskom)

VI.

PELAKSANAAN KEGIATAN
N
o
1.

Tahap

Kegiatan Penyuluhan
Kegiatan
Pembukaan 1. Memberikan salam
2. Memperkenalkan diri
3. Menyampaikan
tujuan
penyuluhan
4. Menyampaikan

kontrak

Isi

tentang:
a. Pengertian

kesehatan

lingkungan kerja
c. Cara penyaringan air
kotor
d. Pengertian pangan
e. Bahan
tambahan
digunakan

4. Menyepakati

mendengarkan
kesehatan

lingkungan kerja
b. Ciri-ciri
lingkungan

pangan

1. Menjawab salam
2. Mendengarkan
3. Mendengarkan
7 Menit

persepsinya
materi 1. Memperhatikan dan 25 Menit

1. Menjelaskan

sehat
b. Aspek

Waktu

kontrak waktu
5. Memberikan

waktu
5. Apersepsi
2.

Kegiatan Peserta

yang

biasa
dalam
2

penyaji

masayarakat.
2. Demonstrasi penyaringan
air kotor
2. Memperhatikan
3.

Penutup

dengan seksama
1. Memberikan kesempatan 1. Mengajukan
tenaga

kerja

untuk

bertanya.
2. Menjawab pertanyaan.

pertanyaan.
2. Mendengarkan,

menyimak
3. Evaluasi kembali materi 3. Menjawab
penyuluhan

kepada

pertanyaan

masyarakat

dengan

peserta

memberikan
dan

pertanyaan
memberikan

mendemonstrasikan
kembali

kesempatan peserta untuk

penyaringan

mempratekkan

kotor.

penyaringan air kotor


4. Memberikan
reinforcement
5. Menyampaikan
kesimpulan

kepada

dan

air
15 Menit

4. Peserta

tampak

senang

dan

tersenyum
5. Mendengarkan dan
Menyimak

masyarakat

kesimpulan
6. Memberikan

salam

penutup
7. Membagikan leaflet

yang

disampaikan
6. Menjawab salam
7. Menerima leaflet

VII.

PENGORGANISASIAN KELOMPOK
3

Moderator
Penyaji
Fasilitator

VIII.

: Erni Rahmawati
: Putri Wilujeng Lestari
: 1. Dian Nuraini
2. Eka Wulandari
3. Gilang Ulung Winangsit
4. Dwi Yunita

EVALUASI
a. Evaluasi persiapan
1) Pengkajian dilakukan 9 hari sebelum pelaksanaan penyuluhan kesehatan
2) Perencanaan penentuan materi sudah sesuai dan tepat.
3) Sudah dibentuknya struktur oranisasi atau pembagian peran.
4) Satuan Acara Penyuluhan(SAP) disusun 1 minggu sebelum pelaksanaan
5) Leaflet, lembar balik dan alat demonstrasi penyaringan air kotor siap H-3
sebelum pelaksanaan
6) Door prize dipersiapkan H-1
7) Penyuluh kesehatan mampu menguasai materi yang akan disampaikan.
b. Evaluasi proses
1) 100% peserta hadir tepat waktu
2) Peserta aktif
3) Alat dan tempat bisa digunakan sesuai rencana.
c. Evaluasi hasil
1) 90% peserta dapat mendemonstrasikan penyaringan air kotor.
2) 80% peserta dapat menjawab pertanyaan yang di berikan.
3) 100% penyuluh dapat melakukan kegiatan atau tugas sesuai
perannya.

IX.

MATERI PENYULUHANAN (Terlampir)

LAMPIRAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA DAN KEAMANAN BAHAN PANGAN
A. KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA
1. Pengertian kesehatan lingkungan
Menurut, WHO (World Health Organization) Kesehatan lingkungan adalah suatu
keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia & lingkungan agar dapat
menjamin keadaan sehat dari manusia.
Menurut, Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Kesehatan
lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan
ekologi yang dinamis antara manusia & lingkungannya untuk mendukung tercapainya
kualitas hidup manusia yang sehat & bahagia.
2. Lingkungan Sehat
Ciri-ciri lingkungan sehat antara lain sebagai berikut.
a. Udara bersih, segar, dan terasa sejuk. Selain itu, juga tidak berbau.
b. Ada tempat sampah dan keadaannya bersih. Dengan adanya tempat sampah,
sampah jadi tidak berserakan. Dengan demikian, tidak menimbulkan bau yang
tidak sedap.
c. Terdapat saluran air yang bersih dan lancar. Air dalam saluran air akan mengalir
dengan lancar. Hal ini karena tidak tersumbat oleh sampah.

d. Terdapat berbagai tumbuhan hijau yang terpelihara dan tertata rapi. Dengan adanya
tumbuhan, udara akan menjadi lebih bersih. Selain itu, keadaan lingkungan rumah
akan terlihat lebih indah.
3. Aspek kesehatan lingkungan kerja :
a. Ketersediaan air yang bersih
1) Pengertian Air Bersih:
a) Secara Umum: Air yang aman dan sehat yang bisa dikonsumsi manusia.
b) Secara Fisik : Tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa.
c) Secara Kimia:PH netral (bukan asam/basa), Tidak mengandung racun dan
logam berat berbahaya
2) Sanitasi Air
Persyaratan Air Bersih, Air selain merupakan kebutuhan pokok bagi
manusia, juga dapat menjadi sarana penyebaran penyakit ataupun keracunan.
Air bersih yang sehat harus memenuhi persyaratan Peraturan Menteri
Kesehatan No. : 416/MENKES/PER/IX/1990.
Adapun persyaratan air bersih sbb.:
a) Syarat Fisik
1) Jernih
2) Tidak berwarna
3) Tidak berasa
4) Tidak berbau
5) Temperatur tidak melebihi suhu udara.
b) Syarat Kimia
1) Tidak mengandung unsur kimia yang bersifat racun.
2) Tidak mengandung zat yang menimbulkan gangguan kesehatan.
c) Syarat Bakteriologis :
Tidak mengandung kuman parasit, kuman patogen, bakteri E. coli.
Ketentuan

Bila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari 4

bakteri E. Coli maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan.


d) Syarat Radio aktif :
Tidak mengandung sinar alfa, sinar gamma
6

3) Cara penjernihan air


Alat :
a) Botol aqua 1 liter
b) Arang
c) Ijuk
d) Jerami
e) Kerikil besar
f) Kerikil kecil
g) Pasir
h) kapas
i) Baskom
Berikut ini cara membuat alat penyaring air sederhana dan
langkahnya :
Potong pangkal botol aqua 1 liter separo tinggi. Masukkan
jerami, ijuk,pasir, kerikil kecil, kerikil besar, dan arang sesuai
posisi dan masukan kapas sebagai penyekat dari setiap
material.Langsung tuangkan air keruh atau sumber air yang
anda masih ragu kualitasnya dari atas menuju ke wadah
baskom 1. Secara otomatis air akan mengalir dari wadah 1 ke
tempat penampungan air bersih.

B. KEAMANAN BAHAN PANGAN


1. Pengertian Pangan
a. Menurut Peraturan Pemerintah RI nomor 28 tahun 2004 pangan adalah segala
sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun yang
tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi
manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain
yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan atau pembuatan makanan
atau minuman.

2. Bahan Tambahan Makanan


7

Dibawah ini merupakan bahan tambahan makanan yang biasa digunakan dalam
masyarakat.
a. Bahan Pewarna (Colour Agent)
Penambahan bahan pewarna pada makanan dilakukan untuk
beberapa tujuan, yaitu:
1) Memberikan kesan menarik bagi konsumen
2) Menyeragamkan warna makanan
3) Menstabilkan warna
4) Menutupi perubahan warna selama proses pengolahan
5) Mengatasi perubahan warna selama penyimpanan
Bahan pewarna makanan dibagi menjadi 2 jenis yaitu pewarna
alami dan pewarna sintetis.
Pewarna alami adalah pewarna yang dibuat melalui proses
ekstraksi, isolasi, atau derivatisasi (sintesis parsial) dari tanaman,
hewan, mineral atau sumber alami lain termasuk pewarna identik
alami. Bahan pewarna dapat diperoleh dari hewan, tumbuhan, atau mineral.
Pewarna yang diperoleh dari bahan-bahan ini tidak memerlukan proses pengolahan
yang rumit. Sampai sejauh ini, sumber utama bahan pewarna adalah tumbuhan,
khususnya akar-akaran, beri-berian, kulit kayu, daun, dan kayu. Sebagian dari
pewarna ini digunakan dalam skala komersil.
Secara kuantitas, dibutuhkan zat pewarna alami yang lebih banyak daripada
zat pewarna sintetis untuk menghasilkan tingkat pewarnaan yang sama. Pada
kondisi tersebut, dapat terjadi perubahan yang tidak terduga pada tekstur dan aroma
makanan. Zat pewarna alami juga menghasilkan karakteristik warna yang lebih
pudar dan kurang stabil bila dibandingkan dengan zat pewarna sintetis. Oleh karena
itu zat ini tidak dapat digunakan sesering zat pewarna sintetis.
Contoh : Kurkumin Cl.No.75300; Riboflavin; Karmin; Karmin
Cl.No.75470;

Klorofil

Cl.No.75810;

Karamel;

Beta-karoten

Cl.No.75130; Antosianin; dan Titanium sioksida Cl.No.77891.


Pewarna sintetis adalah pewarna yang diperoleh/dibuat
secara sintesis kimiawi. Pewarna digunakan produsen untuk memberikan
penampilan yang menarik pada hasil produksi mereka melalui penggunaan bahan
bahan tambahan kimiawi untuk makanan (BTM) atau Food Additives.

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti Rusia, M.M. Andrianova, menemukan


bahwa pewarna merah No 2 (FD & C Merah No.2) menyebabkan. Hal-hal yang
mungkin memberikan dampak negatif tersebut terjadi bila:
a. Pewarna sintetis ini dimakan dalam jumlah kecil namun berulang.
b. Bahan pewarna sintetis ini dimakan dalam jangka waktu yang lama.
c. Kelompok masyarakat luas dengan daya tahan yang berbeda-beda, yaitu
tergantung pada umur, jenis kelamin, berat badan, mutu makanan sehari-hari
dan keadaan fisik.
d. Berbagai masyarakat yang mungkin menggunakan bahan pewarna sintetis
secara berlebihan.
e. Penyimpanan bahan pewarna sintetis oleh pedagang bahan kimia yang tidak
memenuhi persyaratan.
Ciri-ciri
makanan

yang

menggunakan

pewarna

berbahaya/tekstil diantaranya adalah distribusi warna tidak rata


(pangan bentuk padat), berpendar jika terkena cahaya langsung,
dan biasanya warna sangat mencolok.
b. Bahan Pemanis (Sweetener)
Pemanis dapat berupa pemanis alami dan pemanis buatan.
Pemanis alami adalah pemanis yang dapat ditemukan dalam
bahan

alam

meskipun

prosesnya

secara

sintetik

ataupun

fermentasi.Contoh : Sorbitol, Manitol, Isomalt, Glikosida steviol,


Maltitiol, Silitol.
Pemanis buatan

adalah

pemanis

yang

diproses

secara

kimiawi, dan senyawa tersebut tidak terdapat di alam. Pemanis


buatan sering ditambahkan ke dalam makanan dan minuman
sebagai

pengganti

gula

karena

mempunyai

kelebihan

dibandingkan dengan pemanis alami (gula tebu/sukrosa), yaitu :


1) Rasanya lebih manis
2) Membantu mempertajam penerimaan terhadap rasa manis
3) Tidak mengandung kalori atau mengandung kalori yang jauh
lebih rendah sehingga cocok untuk penderita penyakit gula
(diabetes)
4) Harganya lebih murah
Contoh : Siklamat, Sakarin, Aspartam, Asesulfam-K, Sukralosa,
dam Neotam.
9

Tingkat kemanisan pemanis buatan tersebut dapat mencapai


puluhan bahkan ratusan kali gula alami. Siklamat mempunyai
tingkat kemanisan 30-80 kali gula alami, Aspartam 180 kali gula
sedangkan sakarin 300 kali gula alami, sehingga pemanis buatan
tersebut sering disebut sebagai biang gula.
c. Bahan Pengawet (Preservative)
Bahan pengawet umumnya digunakan untuk mengawetkan
pangan yang mempunyai sifat mudah rusak. Bahan ini dapat
menghambat

atau

memperlambat

proses

fermentasi,

pengasaman atau peruraian yang disebabkan oleh mikroba.


Tetapi tidak jarang produsen pangan menggunakannya pada
makanan

yang

relative

awet

dengan

tujuan

untuk

memperpanjang masa simpan atau memperbaiki tekstur.


Pengawet yang banyak dijual di pasaran dan digunakan untuk
mengawetkan

berbagai

makanan

adalah

benzoat,

yang

umumnya terdapat dalam bentuk natrium benzoat atau kalium


benzoat

yang

bersifat

lebih

mudah

larut.

Benzoat

sering

digunakan untuk mengawetkan berbagai makanan dan minuman


seperti sari buah, minuman ringan, saus tomat, saus sambal, jem
dan jeli, manisan, kecap dan lain-lain.
Penggunaan pengawet dalam makanan harus tepat, baik jenis
manapun dosinya. Suatu bahan pengawet mungkin efektif untuk
mengawetkan makanan tertentu, tetapi tidak efektif untuk
mengawetkan makanan lainnya, karena makanan mempunyai
sifat yang berbeda-beda sehingga mikroba perusak yang akan
dihambat pertumbuhannya juga berbeda.
Pada saat ini masih banyak ditemukan penggunaan bahan
pengawet yang dilarang namun digunakan dalam makanan dan
berbahaya bagi kesehatan, misalnya boraks dan formalin. Boraks
dan formalin bukan pengawet untuk pangan.
Boraks atau pijer atau bleng (bahasa jawa) adalah campuran
garam mineral konsentrasi tinggi yang dipakai dalam pembuatan
10

beberapa makanan tradisional, seperti karak dan gendar. Bleng


adalah bentuk tidak murni dari boraks, sementara asam borat
murni buatan industri farmasi lebih dikenal dengan nama boraks.
Dalam dunia industri, boraks menjadi bahan solder, bahan
pembersih, pengawet kayu, antiseptik kayu, dan pembasmi
kecoa.
Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya
sangat menusuk. Di dalam formalin terkandung sekitar 37%
formaldehid dalam air. Biasanya ditambahkan metanol hingga
15% sebagai pengawet. Formalin biasa digunakan pada industri
plastik, anti busa, bahan konstruksi, kertas, karpet, tekstil, cat,
mebel serta pengawet mayat dan organ tubuh.
Pada umumnya, alasan para produsen menggunakan boraks
dan formalin sebagai bahan pengawet makanan adalah karena
kedua bahan ini mudah digunakan dan mudah didapat, karena
harganya relatif murah dibanding bahan pengawet lain (BTP)
yang tidak berpengaruh buruk pada kesehatan. Selain itu, boraks
dan formalin merupakan senyawa yang bisa memperbaiki tekstur
makanan sehingga menghasilkan bentuk yang bagus.
Makanan yang sering ditambahkan boraks adalah kerupuk
karak, baso, mie basah, pisang molen, lemper, siomay, lontong,
ketupat, dan pangsit. Sedangkan yang ditambahkan formalin
adalah tahu, mie basah, ikan segar dan hasil laut, tempura, dan
gula jawa.
Ciri-ciri makanan yang ditambahkan boraks dan formalin
adalah sbb :
1) Bakso yang menggunakan boraks memiliki kekenyalan khas
yang berbeda dari kekenyalan bakso yang menggunakan
bahan daging. Tekstur kulit kering dan berwarna keputihan.
2) Kerupuk yang mengandung boraks kalau digoreng akan
mengembang dan empuk, teksturnya bagus, renyah dan dapat
memberikan rasa getir.

11

3) Ikan segar yang menggunakan formalin tidak rusak sampai 3


hari pada suhu kamar, insang berwarna merah tua dan tidak
cemerlang, dan memiliki bau menyengat khas formalin.
4) Tahu yang menggunakan formalin berbentuk bagus, kenyal,
tidak mudah hancur, awet hingga lebih dari 3 hari, bahkan
lebih dari 15 hari pada suhu lemari es, dan berbau menyengat
khas formalin.
5) Mie basah yang menggunakan formalin biasanya lebih awet
sampai 2 hari pada suhu kamar (25 derajat celcius), berbau
menyengat, kenyal, tidak lengket dan agak mengkilap.
6) Gula jawa yang ditambahkan formalin teksturnya cenderung
keras, tidak mudah remuk dan lumer, bau agak menyengat.
Makanan tersebut yang telah ditambahkan boraks dan
formalin

biasanya

ditambahkan

lebih

awet

pengawet.

dari

Sebagai

makanan

indikator

yang

biologis

tidak
dapat

diperhatikan bahwa lalat tidak akan menghinggapi makanan yang


mengandung formalin dan boraks tersebut.
Bahaya makanan yang mengandung Boraks bagi kesehatan
jika dikonsumsi adalah sbb :
1) Bahaya akut:
Badan berasa tidak enak (malaise), mual nyeri hebat pada
perut bagian atas (epigastric), pendarahan gastro-enteritis
disertai muntah darah, diare, lemah, mengantuk, demam, dan
sakit kepala.
2) Bahaya kronis/jangka panjang
Hilangnya nafsu makan (anorexia), turunnya berat badan,
iritasi ringan disertai gangguan pencernaan, kulit ruam dan
merah-merah, kulit kering dan mukosa

membran dan bibir

pecah-pecah, lidah merah, radang selaput mata, anemia,


kerusakan ginjal, kegagalan sistem sirkulasi akut, dan bahkan
kematian

12

Bahaya

makanan

yang

mengandung Formalin bagi

kesehatan jika dikonsumsi adalah sbb :


1) Bahaya akut
Iritasi, alergi, kemerahan, mata berair, mual, muntah, rasa
terbakar, sakit perut dan pusing
2) Bahaya kronis/jangka panjang
Iritasi pada saluran pernafasan, muntah-muntah dan kepala
pusing, rasa terbakar pada tenggorokan, penurunan suhu
badan dan rasa gatal di dada, Selain itu juga dapat terjadi
kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan
syaraf pusat dan ginjal. Bila dikonsumsi menahun dapat
menyebabkan kanker.
3. Pemanfaatan Limbah
Proses produksi tahu menghasilkan dua jenis limbah, yaitu limbah cair dan limbah
padat. Limbah padat dapat dimanfaatkan menjadi makanan ternak, sedangkan limbah
cair tahu dapat dimanfaatkan menjadi biogas, tetapi belum banyak pengusaha tahu
yang belum memanfaatkan limbah cair tahu dan membuangnya ke sungai begitu saja.

DAFTAR PUSTAKA
Purwono. 2007. Budidaya 8 Jenis Tanaman Pangan Unggul. Jakarta.
Penebar Swadaya
Pradipta,
Yuhandira.
2012
.Pewarna
Makanan
Alami
dan
Buatan.<http://yuhandirapradipta.blogspot.com/2012/04/pewarnamakanan-alami-dan-buatan.html> di akses pada tanggal 18 oktober
2015
Sukoharjo Dkk.2013.Bahan Tambahan Pangan (BTP) Yang Diperbolehkan
Dan Yang Berbahaya. <http://dkk.sukoharjokab.go.id/read/bahantambahan-pangan-btp-yang-diperbolehkan-dan-yang-berbahaya>
di
akses pada tanggal 18 oktober 2015

13