Anda di halaman 1dari 233

STANDAR PELAYANAN PROFESI

DOKTER SPESIALIS BEDAH UMUM INDONESIA

Honesty, Courage, Modesty

EDITOR

Prof. Dr. IDG. Sukardja, dr SpB (K) Onk


Prof. Dr. Bambang Purnomo SH
Prof. Dr. Dr. med. Paul Tahalele SpB, SpBTKV
Martopo Marnadi, dr SpB
Urip Murtedjo, dr SpB (K) KL. PGD Pall Med (ECU)

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia 2002

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

STANDAR PELAYANAN PROFESI


DOKTER SPESIALIS BEDAH UMUM INDONESIA

EDISI I 2002
(Revisi 2003)

EDITOR

Prof. Dr. IDG. Sukardja, dr SpB (K) Onk


Prof. Dr. Bambang Purnomo SH
Prof. Dr. Dr. med. Paul Tahalele SpB, SpBTKV
Martopo Marnadi, dr SpB
Urip Murtedjo, dr SpB (K) KL. PGD Pall Med (ECU)

Disusun dan Diterbitkan


Oleh
PABI

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia 2002

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

ii

KATA PENGANTAR
Persatuan Dokler Spesialis Bedah Umum Indonesia (PABI) sebagai organisasi
profesi dokter bidang pembedahan secara mandiri dengan penuh tanggung jawab menyusun
dan menerbitkan buku Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia
bagi para anggotanya.
Standar Pelayanan Profesi ini disusun melalui kesepakatan dan kajian menyeluruh
pelayanan medis bedah di Indonesia oleh para Dokter Spesialis Bedah Umum maupun para
Dokter Konsultan Bedah Digestif, Bedah Anak. Bedah Onkologi, Bedah Kepala dan Leher.
Bedah Toraks Kardiovaskular. Bedah Vascular, Bedah Ortopedi, Urologi, Bedah Plastik,
Bedah Saraf. yang mempunyai itikat baik atas dasar kesejawatan. saling menghormati dan
bekerjasama menuju masa depan penjagaan mutu serta peningkatan mutu pelayanan
kesehatan.
Dokter Spesialis Bedah Umum dalam melaksanakan kegiatan keahliannya dan atau
kewenangannya sesuai dengan substansi yang tercantum didalam Piagam Atlantik 1942,
Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa 1945, Deklarasi Hak Asasi Manusia Se Dunia 1948 dan
UU Kesehatan No. 23 tahun 1992, wajib hukumnya untuk mematuhi standar pelayanan
profesi. Dasar kewenangan ini tertulis didalam katalog Program Studi Ilmu Bedah 1997.
Standar- pelayanan profesi ini merupakan pedoman atau acuan bagi para Dokter
Spesialis Bedah Umum didalam menjalankan profesinya dengan tujuan menjaga mutu
pelayanan kesehatan kepada masyarakat serta melindungi Dokter Spesialis Bedah Umum
didalam menjalankan profesinya.
Wewenang untuk menentukan jenis pelayanan didalam suatu kegiatan profesi
merupakan tanggung-jawab profesi itu sendiri, maka telah disusun standar pelayanan profesi
oleh Tim Penyusun buku ini dari PABI. Pedoman atau acuan yang terdapat di dalam buku ini
dapat dipakai secara Nasional, baik oleh rumah sakit pemerintah maupun swasta.
Tim penyusun menghimbau kepada seluruh dokter spesialis di lingkungan bidang
pembedahan untuk saling menghormati dan menghargai kesamaan-kesamaan kompetensi.
Disamping itu, menyadari atas keterbatasan kemampuan masing-masing hendaknya kita
saling membutuhkan dan saling mendukung satu terhadap yang lain demi kepentingan
kelancaran pelayanan kesehatan dan keselamatan penderita.
Tim penyusun sadar bahwa isi buku ini belum sempurna, belum lengkap dan masih
banyak kelemahan-kelemahan yang perlu diperbaiki, sehingga akan ditinjau kembali dan
disempurnakan secara berkala sesuai perkembangan ilmu dan teknologi.
10 Juli 2002
Tim penyusun.
Buku Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia Edisi I 2002 ini
telah mengalami revisi 2003 atas saran dan bantuan serta koreksi dari : Prof. Soelarso
Reksoprodjo, MD. FICS Tjakra Wibawa Manuaba, dr. SpB (K) Onk, MPH, Sunarto
Reksoprawito, dr SpB(K) KL, Yoga Wijayahadi, dr. Sp.B, J. Iswanto, dr. SpB (K) Dig.
DAFTAR ISI

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

iii

DAFTAR ISI
PENGANTAR ....................................................................................................................
DAFTAR ISI ......................................................................................................................
SAMBUTAN KETUA UMUM PABI ...............................................................................
SAMBUTAN KETUA KOLEGIUM ILMU BEDAH INDONESIA ................................
SAMBUTAN UMUM PP IKABI ......................................................................................
SAMBUTAN KETUA UMUM PB IDI .............................................................................
SURAT KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT PABI
TENTANG TIM PENYUSUN DAN PENASEHAT SPPDSBUI .....................................
SURAT KEPUTUSAN PENGURUS PUSAT PABI
TENTANG PEMBERLAKUAN PELAKSANAAN SPPDSBUI .....................................
PENDAHULUAN ..............................................................................................................
TIM PENYUSUN ..............................................................................................................
POLA PEMBAHASAN .....................................................................................................
SKEMA WEWENANG & TINDAKAN DOKTER SPESIALIS BEDAH UMUM .........
TOPIK PEMBAHASAN :
I. BEDAH DIGESTIF
ICD
1. TRAUMA TAJAM ABDOMEN
S.27.8, S.32, S.35. S.36, S.37
2. TRAUMA TUMPUL ABDOMEN
S.27.8, S.32, S.35. S.36, S.37
3. CEDERA LIMPA
S.36.0
4. TRAUMA HEPAR
S.36,1
5. KARSINOMA REKTI
C. 19 C 20
6. KARSINOMA LAMBUNG
C16
7. KARSINOMA KOLON
C18
8. KARSINOMA PANKREAS
C25
9. RADANG GRANULOMATIK USUS
K 50 K 51
10. HERBUA INGUINALIS LATRALIS / MEDALIS K 40 I 41
11. APENDISITIS
K 35 K 37
12. KHOLELITHIASIS
K 80
13. KOLESTASIS (SURGIKAL)
K 83
14. HEMOROID
I 84
15. FISTULA PERIANAL
K 60
16. PERITONITIS UMUM
K 65
II. BEDAH ANAK
1. ATRESIA ESOFAGUS DAN MALFORMASI
Q 39.0
TRAKEO ESOFAGUS
2. STENOSIS PILORIK HIPERTROFIK
Q 40.0
3. ATRESIA DAN STENOSIS DUODENUM
Q 41
4. ATRESIA DAN STENOSIS YEYUNO ILEAL Q 41
5. HERNIA DIAFRAGMATIKA KONGETAL
Q 79.0
6. OMFALOKEL
Q 79.2
7. GASTROSKISIS
Q 79.3
8. GRANULOMA / FISTULA UMBILIKALIS
Q 79.5
9. HIRSCHPRUNGS DISEASE
Q 43.1
10. INTUSSUSEPSI
K 56.1
11. MALFORMASI ANUREKTAL
Q 42
12. INVAGINASI USUS
K 56.1
13. NECROTIZING ENTREROCOLITIS
P. 77
III. BEDAH ONKOLOGI
ICD
1. TUMOR JINAK TULANG
D 16
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

iii
iv
viii
x
xi
xii
xiii
xiv
xv
xvi
xvii
xix

1
5
9
10
12
14
15
16
17
18
19
21
22
23
24
25

28
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
43
iv

2. TUMOR JIKA KULIT DAN


NON NEOPLASTIK KULIT
3. TUMOR JINAK JARINGAN LUNAK DAN
TUMOR NON NEOPLASTIK JARINGAN
LUNAK
4. TUMOR JINAK GENETALIA LAKI &
TUMOR NON NEOPLASMA
GENETALIA LAKI
5. TERATOMA
6. KANKER PEDIATRI
7. LIMFOMA MALIGNA
8. LIMFADENOPATI
9. KANKER TULANG
10. KANGKER TESTIS
11. KANKER RONGGA MULUT
12. KANKER PENIS
13. KANKER PAYUDARA
14. TUMOR JINAK PAYUDARA
15. DISPLASIA PAYUDARA & TUMOR
NON NEOPLASMA PAYUDARA LAINNYA
16. KANKER ANUS
17. KANKER KULIT
18. KANKER JARINGAN LUNAK
19. KANKER GINJAL
20. TIMOR JINAK UROLOGI &
TUMOR NON NEOPLASMA UROLOGI
IV. BEDAH KEPALA LEHER
1. FRAKTUR MANDIBULA
2. FRAKTUR MAKSILA
3. FRAKTUR ZIGOMA
4. TRAUMA JARINGAN LUNAK WAJAH
5. FRAKTUR NASAL
6. KARSINOMA TIROID
7. STRUMA
8. PEMBESARAN KELENJAR GETAH BENING
K DAN L
9. TUMOR PAROTIS
10. AMELOBLASTOMA
11. HIGROMA KOLI
12. RANULA
13. TUMOR JINAK RONGGA MULUT
14. TUMOR JINAK JARINGAN LUNAK
KEPALA DAN LEHER
15. KISTA BRANCHIOGENIK
16. KANGKER RONGGA MULUT
17. KISTA ODONTOGENIK
18. FLEGMON DASAR MULUT
19. ABSES MAKSILOFASIAL
20. KISTA DUKTUS TIROGLOSUS
V. BEDAH TORAKS KARDIOVASKULAR
1. PATAH TULANG IGA
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

D 23

44

D 17 & D 21

47

D 29

50

C 64, C79.4, C22.0 C 22.2


C81 S/D C85
R59
C40-C41
C 62
COO C 06
C60
C50
D24

53
55
57
59
61
62
64
66
69

N60 N 64
C21
C43-C44
C49
C64

71
73
75
77
79

D30
ICD
S02.6
S02.4
S02.4
S00, S01, S07
S02.2
C73
E04, E05, E06

81

C77.0
C07
D16.5
D18.1
K11.6
D 10.3

91
92
93
94
95
96

Q18.0
C00 C06
K09.0
K12.2
L02.0
Q89.2
ICD
S22.3,4

84
85
86
87
88
89
90

97
98
99
100
101
102
103
105
v

2. LUKA TUSUK DINDING TORAKS


3. FLAIL CHEST
4. PNUMOTORAKS
5. HEMATOTORAKS
6. TAMPONADE ANTUNG
7. EMBOLI ARTERI AKUT
8. DEEP CEIN THROMBOSIS (DVT)
9. PIOTORAKS (EMPIEMA TORAKS)
10. VARICES TUNGKAI
11. GANGREN DIABETIK
12. BUERGER IS DISEASE ATAU PENYAKIT
ARTERI PERIFER OKLUSI (PAPO)
13. AV SHUNT ATAU AFISTULA ARTERI
VENOSA
VI. BEDAH UROLOGI
1. RUPTUR BULI-BULI
2. RETENTIO URINAE
3. HIPERTROFI PROSTAT BENIGNA (BPH)
4. TUMOR TESTIS
5. KRIPTORKHISMUS
6. HIPOSPADIA
7. HIDROKEL TESTIS / FUNIKULI
8. BATU SALURAN KEMIH
9. VARICOCELE SCROTUM
10. TORSIO TESTIS
11. PIONEPHROSIS
VII. NEDAH PLASTIK & REKONSTRUKSI
1. LUKA BAKAR
2. KELOID
3. KONTRAKTUR
4. SUMBING BIBIR (LABIOSKISIS)
5. CELAH LANGIT-LANGIT (PALATOSKISIS)
VIII. BEDAH ORTHOPEDI
1. DISLOKASI BAHU
2. FRAKTUR KLAVIKULA
3. FRAKTUR HUMERUS
4. FRAKTUR CRURIS
5. FRAKTUR GALEAZI
6. FRAKTUR MONTEGIA
7. FRAKTUR RADIUS ULNA
8. FRAKTUR COLLES
9. PATAH TULANG TERBUKA
10. FRAKTUR KOMPRESI VERTEBRA
11. DISLOKASI SIKU
12. DISLOKASI PANGGUL
13. FRAKTUR FEMUR
14. FRAKTUR PATELA
15. RUPTUR TENDON ACHILLES
16. FRAKTUR OLEKRANON
17. FRAKTUR SIPRAKONDILER SIKU

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

S21-29
S22.5
S27.0
S27.1
S26.0
I74
I80.2
J86.9
I83
E10-E14.5

106
108
109
110
111
112
113
115
116
117
118

T 14.5
ICD
S37.2
R33

119

C62, D29
Q53
Q54
N43.3
N21.0
I86.1
N44
N12.6
ICD
T20-T31
L73
M67
036
037
ICD
S43.0
S42.0
S42.3
S82
S52.3
S52.0
S52.4
S52.5
T02
T08
S3.1
S73.0
S72
S82.0
S86.0
S52.0
S42.4

121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
133
134
135
136
137
139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150
151
152
153
154
155

vi

IX. BEDAH SARAF


ICD
1. CIDERA KEPALA RINGAN
S06.0
2. CIDERA KEPALA SEDANG
S06.0
3. CIDERA KEPALA BERAT
S06
4. FRAKTUR BASIS KRANII
S02.1
5. FRAKTUR IMPRESI TULANG
TENGKORAK TERBUKA ATAU TERTUTUP S.02.0
6. HEMOTOM EPIDURAL
S06.4
7. CIDERA SUMSUM TULANG BELAKANG
S32
X. BEDAH TRAUMATOLOGI
ICD
1. CIDERA OTAK RINGAN
(COMMOTIO CEREBRI)
S06.0
2. CIDERA OTAK SEDANG
(FOCAL BRAIN INJURY)
S06.3
3. CIDERA KEPALA BERAT
(LACERATION CEREBRI)
S06.2
4. PERDARAHAN EPIDURAL
S06.4
5. FRAKTUR IMPRESI ATAP TENGKORAK
S02.00 / S02.01
6. TRAUMA JARINGAN LUNAK WAJAH
S00, S01. S07
7. FRAKTUR MAKSILA
S02.4
8. FRAKTUR NASAL
S02.2
9. FRAKTUR ZIGOMA
S02.4
10. FRAKTUR MANDIBULA
S02.6
11. PATAH TULANG TERBUKA
S02.1, S12.1, S22.1, S32.1,
S42.1, S52.1, S62.1, S72.1
S82.1, S92.1, TO2.1, T08.1, T10.1
12. DISLOKASI BAHU
S43.0
13. FRAKTUR RADIUS ULNA
S52.4
14. FRAKTUR MONTEGIA
S52.0
15. FRAKTUR GALEAZI
S52.3
16. FRAKTUR OLEKRANON
S52.0
17. FRAKTURA SUPRAKONDILER SIKU S42.4
18. FRAKTUR HUMERUS
S42.3
19. FRAKTUR KLAVIKULA
S42.0
20. PATAH TULANG IGA
S22.3, S22.4
21. FLAIL CHEST
S.22.5
22. HEMATOTORAKS
S27.1
23. PNEUMOTORAKS
S27.0, K93 P25.1 A16.2
24. LUKA TUSUK DINDING TORAKS
S21
25. FRAKTUR KOMPRESI VERTEBRA
S12, S22.0, S320, T08
26. DISLOKASI PANGGUL
S73.0
27. TRAUMA TAJAM ABDOMEN
S27.8, S31. S35, S36, S37
28. TRAUMA TUMPUL ABDOMEN
S27.8, S30, S35, S36, S37
29. LUKA BAKAR
T20, T31
30. RUPTUR BULI-BULI
S37.2
31. FRAKTUR PATELA
S82.0
32. FRAKTUR CRURIS
S82
33. RUPTUR TENDON ACHILES
S86.0
DAFTAR KETERANGAN ISTILAH DA SINGKATAN

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

158
159
160
161
162
163
164

168
169
170
171
172
173
174
175
176
177
178

179
180
181
182
183
184
185
186
187
188
189
191
192
196
197
198
199
200
201

vii

PABI
PERSATUAN DOKTER SPESIAUS BEDAH UMUM INDONESIA
Indonesian General Surgeons Society
Address: Dept. of Surgery Airtangga University Medical School / Dr. Soatomo Hospital
Dr. Moestopo No. 6 - 8. Surabaya 60286. INDONESIA
Telp.: 62J1.5501327, 62.31.5028753, 62.31. 5049256
Fax. : 62.31.5024972, 62.31.5028753, 62.31. 5049256
e-mail: tahatete@milra.net.id

SAMBUTAN
KETUA UMUM PABI
Sejarah pertumbuhan dan petkembangan organisasi profesi yang menghimpun para
Dokter Ahli Bedah Indonesia di dalam satu wadah yang bernama Perhimpunan Ahli Bedah
Indonesia (" PABI ") diadakan untuk pertama kalinya pada tahun 1954 di Jakarta dimana
terpilih sebagai ketuanya adalah Prof.M. Soekarjo. Pada saat itu mereka merupakan para Ahli
Bedah Umum pertama di Indonesia. Kemudian berdiri Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI)
yang sebetulnya merupakan kelanjutannya " PABI " pada 1967 di Semarang dengan ketuanya
tetap. Setelah itu, IKABI berkembang dengan pesat dan mulai menetaskan anak~ anak
organisasi seperti PABOI (1982 ), IAUI ( 1983 ), Perapi ( 1990 ) dan seterusnya (sekarang
bukan anak organisasi IKABI tetapi OPPBS). Sebagai akibat perkembangan ilmu bedah
umum yang semula merupakan " main stem of surgery " kemudian menjadi tergeser,
demikian pula para Dokter Spesialis Bedah Umum di Indonesia. Untuk mengembalikan citra
dan jatJ diri Dokter Spesialis Bedah Umum. maka berdirilah organisasi profesi Persatuan
Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia ( PABI) yang secara resmi diterima sebagai salah
satu OPPBS di dalam organisasi IKABI melalui suatu konferensi kerja 7 April 2002 di
Jakarta.
Pelayanan kasus pembedahan di Indonesia oleh Dokter Spesialis Bedah Umum
sekitar 80%, oleh karena itu didaiam menjaga mutu pelayanan medis bidang pembedahan,
PABI berkewajiban manerbitkan buku acuan atau standar. pelayanan profesi Dokter Spesialis
Bedah Umum di Indonesia dalam rangka melindungi para anggotanya dan penderita. Buku
acuan ini merupakan kelanjutan dan penyempurnaan serta melengkapi buku Standar
Pelayanan Medis yang disusun oleh Ikatan Dokter Indonesia tahun 1993 dan diterbitkan oleh
Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. Ide penerbitan buku ini
mengacu pada buku General Surgery at the Distric Hospital yang diterbitkan oleh Organisasi
Kesehatan Sedunia (WHO, 1988) yang berlaku sebagai suatu acuan profesi, serta didukung
oleh ketentuan Deklarasi Internasional tentang human right dan social welfare dan Undang Undang Kesehatan no. 23 tahun 1992.
Dalam menjalankan profesinya, seorang Dokter Spesialis Bedah Umum
berkewajiban untuk mematuhi standar profesinya. Buku acuan ini juga sebagai implementasi
Katalog Program Studi Ilmu Bedah (1997) dan sekaligus merupakan standar pelayanan
berdasarkan kompetensi yang dipunyai oleh seorang Dokter Spesialis Bedah Umum yang di
dapat selama pendidikan spesialisasinya. Kewenangan untuk melakukan tindakan
pembedahan merupakan hak istimewa yang diberikan kepada seorang Dokter Spesialis
Bedah, oleh karena itu hams dikerjakan secara bertanggung jawab berlandaskan etik dan
moral serta pertama - tama jangan merugikan penderita Per Primun Non Nocera.
Buku acuan ini menjadi sangat bermakna sebagai antisipasi dibertakukannya Undang
Undang Praktek Kedokteran dan berdirinya Konsil Kedokteran Indonesia yang akan mengatur
dan menentukan kebijakan kegiatan profesi kedokteran Indonesia mulai sejak pendidikan
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

viii

dokter umum tampai pendidikan speSialisasi dan pelayanannya kepada masyarakat, termasuk
didalamnya registrasi dan sertifikasi serta pengadilan disiplin profesi.
Harapan kami agar buku ini dapat dipakai sebagai standar profesi diseluruh tempat
pelayanan kesehatan - pembedahan di Indonesia,
Surabaya, Juli 2002

Dr.Dr.med.Paul Tahalele SpB, SpBTKV


Ketua Umum PABI

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

ix

KOLEGIUM ILMU BEDAH INDONESIA


PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS BEDAH INDONESIA
Sekretariat:
Bagian Bedah RS. Or. Cipro Mangunkusumo,
Jl. Diponegoro No. 17. Jakarta Pusat
Telp. & Fax. (021) 3905553
Rek. Bank: Ac. No. 0999010-03569 BBD Capem RSCM, Jakarta

SAMBUTAN KETUA KOLEGIUM ILMU BEDAH INDONESIA


Kolegium Ilmu Bedah Indonesia, menyambut positif terbitnya buku standar
pelayanan profesi. Hal ini merupakan bukti kepedulian organisasi profesi untuk mengatur
rumah tangganya sendiri antara lain memberikan acuan kewenangan pelayanan bedah pada
para anggotanya, yang berarti juga melindungj para pasien.
Kewenangan pelayanan yang berdasarkan kemampuan yang didapat dan hasil
menjalani pendidikan dengan kurikulum yang diakui merupakan satu hal yang mutlak. Tidak
ada pihak manapun yang dapat mempersoalkan hal ini.
Adalah tugas kita bersama untuk lebih memantapkan pelaksanaan pendidikan
program studi Ilmu Bedah Umum agar kemampuan yang didapat setelah selesainya
pendidikan dapat dipertanggung jawabkan. Untuk mencapai maksud ini seyogyanya tidak ada
pendidikan Program Studi Spesialis Bedah lainnya yang tidak membantu pelaksanaan
pendidikan Program Studi Ilmu Bedah Umum merupakan tombak pelayanan bedah di negara
kiia dan mencakup 70% dari spesialis Bedah di Indonesia dengan cakupan pelayanan yang
luas.
Persoalan tumpang tindih pelayanan yang ada dibuku ini dengan pelayanan dari
spesialis bedah lainnya harus dilihat secara positif, karena lebih banyak lagi ahli bedah yang
dapat melakukan satu pelayanan tertentu yang pembelajarannya dan penilaian kemampuannya
seharusnya sama. Kolegium Ilmu Bedah Indonesia akan terus berusaha meningkatkan
kemampuan spesialis bedah dengan menyempurnakan kurikulum sesuai dengan
pengembangan Iptekdok. Antara lain telah dilaksanakan dengan diselenggarakannya DSTC
untuk para Resident dan dimulainya OSCA untuk penilaian kemampuan ketrampilan bedah
dasar. Untuk masa mendatang direncanakan suatu kursus Surgical Intensive Care dan teknik teknik dasar laparaskopi, yang kemudian dilanjutkan dengan kemampuan meiakukan Minimal
Invasive Surgery bagi lulusan pendidikan program studi bedah umum. Dengan uraian diatas
jelaslah bahwa sikap dan pemikiran untuk mengembangkan kemampuan satu jenis spesialis
bedah dengan mengurangi kemampuan ahli bedah umum adalah merupakan kesalahan yang
sangat mendasar.
Akhirnya marilah kita bersama - sama menyerap perkembangan Iptekdok, saling
memahami dalam memantapkan pelaksanaah program studi masing - masing untuk
menghasilkan lulusan yang leblh berkwalitas demi peningkatan pelayanan pada pasien pasien kita.
Jakarta, 1 Juni 2002
Soerarso Hardjowasito dr SpB, SpBTKV
Ketua

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

IKATAN DOKTER INDONESIA


PENGURUS PUSAT
PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS BEDAH INDONESIA
IKABI
Sekretariat: Bagian Bedah FKUVRSUPN dr. Cipto Mangunkusumo. JL Diponegoro 71. Jakarta Pusat Telp.
(021) 390 5553 Fax. (021) 390 8270

SAMBUTAN
KETUA UMUM PERHIMPUNAN DOKTER
SPESIALIS BEDAH INDONESIA
Saya menyambut dengan gembira penerbitan Buku " Standar Profesi Bedah
(DARSIDAH) untuk Ahli Bedah Umum. Hal Ini akan membawa konsekuensi
dilaksanakannya profesi seorang ahli Bedah sesuai" conduct" yang berlaku, dan juga dapat
dilakukan oleh ahli bedah lainnya yang mempunyai keahlian atau spesifikasi lain tetapi dalam
bidang ilmu yang sama, yaitu ILMU BEDAH (SURGERY).
Adanya buku " DARSIDAH" semacam ini, yang diharapkan pada penyusunannya
melalui diskusi bersama antar keahlian spesifik, akan membawa manfaat dihindarinya
masalah " tumpang tindih " yang sering mensaukan kita semua dalam menjalankan profesi
kita sebagai " ahli bedah atau "Dokter spesialis bedah". Karena itu adanya buku "
DARSIDAH " ini diharapkan akan menyadarkan kita semua, bahwa dalam menjalankan
profesi kita, tidaklah harus saling berseteru, I agar pelayanan pada penderita yang bermotto : "
KEPENTTNGAN PENDERITA AKAN SAYA UTAMAKAN " dapat benar- benar
berorientasi pada kepentingan penderita, bukan pada kepentingan pribadi atau kepentingan
sesuatu " cabang ilmu " tertentu saja.
Tentunya akan diterbitkan pula buku " DARSIDAH " untuk bidang Ilmu Bedah yang
lain, yang diharapkan pula menempuh proses penulisan buku " DARSIDAH " untuk Ahli
Bedah Umum ini, agar masing - masing spesifikasi profesi Bedah dan keahlian Bedah dapat
benar - benar saling] menunjang, hingga fungsi IKABI tetap dapat menjadi pemersatu para
ahli Bedah dan lebih penring lagi: menjadi perekat sesama profesi bedah
Selamat bekeria sesuai dengan panduan standar profesi ini,

Ketua Umum IKABI

Prof. Dr. Med. Puruhito dr. SpB, SpBTKV, FICS

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

xi

SAMBUTAN
KETUA UMUM PENGURUS BESAR
IKATAN DOKTER INDONESIA
Assalmnu'alaikum Wr. Wb.
Pertama-tama saya selaku ketua umum PB IDI mengucapkan selamat atas
keberhasilan para para sejawat yang melaksanakan pelayanan bedah umum, menyelesaikan
buku Standar Pelayanan Bedah Umum
Standar Pelayanan dari satu pelayanan profesi merupakan langkah awal menuju
jaminan mutu pelayanan (quality assurance) dan kualitas merupakan kunci keberhasilan
pelayanan. Dalam menghadapi era globalisasi, maka mutu merupakan salah satu syarat
penting untuk bisa memenangkan kompetisi global. Oleh karena itulah, kami pengurus besar
IDI sangat menghargai upaya dan hasil para sejawat spesialis bedah yang melaksanakan
pelayanan bedah umum.
Kami yakin dalam standar pelayanan yang disusun dalam buku ini terjadi tumpang
tindih dengan sejawat bedah lain misalnya dalam bidang traumatologi, onkologi, pediatri,
namun saya yakin kesejawatan yang dikembangkan dengan penuh kearifan dan saling
menghargai, masalah tumpang tindih (kalau ada) dapat diselesaikan dengan baik. Masalah
tumpang tindih ini juga dengan mudah kita atasi dengan perubahan paradigma yang
sebelumnya (mungkin) spesialisasi ini dianggap sebagai kapling, berubah menjadi :
spesialisasi harus dianggap sebagai kompetensi
Sekian dan selamat membaca dan bekerja
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Ketua Umum PB IDI

Prof. Dr. M. Achmad Djojosugito, dr., MHA., FICS

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

xii

PABI
PERSATUAN DOKTER SPESIALIS BEDAH UMUM INDONESIA
Indonesian General Surgeons Society
Address: Dept. of Surgery Airtangga University Medical School / Dr. Soatomo Hospital
Dr. Moestopo No. 6 - 8. Surabaya 60286. INDONESIA
Telp.: 62J1.5501327, 62.31.5028753, 62.31. 5049256
Fax. : 62.31.5024972, 62.31.5028753, 62.31. 5049256
e-mail: tahatete@milra.net.id

Pengurus Pusat PABI


No. 001/SK/07/2001
Tentang
Tim Penyusun beserta Penasehat
Buku Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis
Bedah Umum Indonesia (SPPDSBUI)
Pengurus Pusat PABI
Menimbang :
a. bahwa untuk meningkatkan dan menjaga mutu peiayanan kesehatan
khususnya bidang pembedahan, keberadaan Standar Peiayanan Profesi
Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia (SPPDSBUI) sangat diperlukan.
b. Bahwa Standar Peiayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia
saat ini belum ada dan untuk mewujudkan hal tersebut dibentuk Tim
Penyusun Buku Standar Peiayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah Umum
Indonesia beserta Penaseharnya
Mengingat :
1. UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan Nasional (Lembaran Negara tahun
1992 Nomer 100, Tambahan Lembaran Negara Nomer 3495)
2. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 590/Men.Kes/SKAW1993 tentang
periunya peiayanan medis pada setiap sarana peiayanan kesehatan sesuai
dengan kebutuhan dan standar peiayanan yang berlaku
Memperhatikan :
1. Proklamasi berdirinya PABI tanggal 12 Juli 2000 di Surabaya
2. Hasil Rapat Nasional PABI tanggal 4 Juli 2001 di Yogyakarta yang dihadiri
oleh sekMar 600 orang Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia
3. Pengesahan berdirinya PABI secara hukum di hadapan Notaris tanggal 4 Jull
2001 dl Yogyakarta.
Memutuskan
Menetapkan
Pertama : Keputusan Pengurus Pusat PABI tentang Tim Penyusun Buku Standar
Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia beserta
Penasehatnya. (Lihat lampiran).
Kedua
: Kepada Tim Penyusun Buku SPPDSBUI diberi tugas menyusun standar
pelayanan profesi yang berlaku bagi para anggotanya.
Ketiga
: Apabila di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam keputusan ini,
akan diperbaiki sesuai keperluan.
Ditetapkan di : Surabaya
Pada tanggal : 10 Juli 2001

Dr. Dr. Med Paul Tahalele SpB. SpBTKV


Ketua Umum Sementara
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

xiii

PABI
PERSATUAN DOKTER SPESIAUS BEDAH UMUM INDONESIA
Indonesian General Surgeons Society
Address: Dept. of Surgery Airtangga University Medical School / Dr. Soatomo Hospital
Dr. Moestopo No. 6 - 8. Surabaya 60286. INDONESIA
Telp.: 62J1.5501327, 62.31.5028753, 62.31. 5049256
Fax. : 62.31.5024972, 62.31.5028753, 62.31. 5049256
e-mail: tahatete@milra.net.id

Pengurus Pusat PABI


Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis
Bedah Umum Indonesia (SPPDSBUI)
Pengurus Pusat PABI
Menimbang:
a. bahwa dalam rangka memenuhi tuntutan dan kebutuhan masyarakat penerima
jasa pelayanan kesehatan terhadap pelayanan kesehatan khususnya bidanq
pambedahan bermutu, dipandang periu untuk menerbitkan Standar Pelayanan
Profesi Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia (SPPDSBUI)
b. bahwa organisasi profesi PABI turut bertanggung jawab terhadap mutti
pelayanan kesehatan khususnya bidang pembedahan para anggotanya.
c. bahwa dalam rangka melaksanakan tanggung jawab tersebut diatas Pengurus
Pusal PABI menyusun dan menerbitkan buku Standar Pelayanan Profesi
Dokter Spesialii Bedah Umum Indonesia bagi para anggotanya.
Mengingat:
1. UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan Nasional (Lembaran Negara tahun
1992 Nomer 100, Tambahan Lembaran Negara Nomer 3495)
2. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PABI 2002.
3. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 595/Men.Kes/SKMI/1993 tentang
periunya pelayanan medis pada setiap sarana pelayanan kesehatan sesuai
dengan kebutuhan dan standar pelayanan yang beriaku.
Memperhatikan:
1. Hasil Konker IKABI tanggal 6-7 April 2002 di Jakarta tentang diterimanya
PABI kedalam IKABI.
2. Hasil Rapat Panitia Ad Hoc IKABI bersama OPPBS tanggal 8 Juni 2002
tonlnnn rancangan perubahan AD/ART IKABI
Memutuskan
Menetapkan:
Pertama : Keputusan Pengurus Pusat PABI tentang Pemberlakuan Pelaksanaan Standar
Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia (SPPDSBUI) yang
ditetapkan berkekuatan secara Normatif bagi para anggotanya.
Kedua
: Kepada para anggota PABI yang dalam menjalankan pekerjaan
pembedahannya ntuk mengacu pada setiap prosedur yang terdapat didalam
buku SPPDSBUI tersebut.
Ketiga
: Apabila di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam keputusan ini,
akan diperbaiki sesuai keperluan.
Ditetapkan di : Denpasar
Pada tanggal : 10 Juli 2002

Dr. Dr. Med Paul Tahalele SpB. SpBTKV


Ketua Umum Sementara
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

xiv

PENDAHULUAN
Dokter Spesialis Bedah didalam menjalankan dan mengamalkan profesinya
mempunyai wewenang sesuai dengan kompetensi yang didapat selama pendidikan.
Kompetensi tersebut meliputi: penguwtnni, pengetahuan dan teknologi dibidang Ilmu Bedah.
kemampuan ketrampilan dan sikap-perilaku.
Pengetahuan dan teknologi yang hams dikuasai seorang Dokter Spesialis Bedah
Umum telnh dicantumkan didalam Katalog Pendidikan Program Studi Ilmu Bedah tahun
1997 maupun didalnm kurikulum dan panduan pendidikan di masing-masing Pusat
Pendidikan. Demikian pula kemampun ketrampilan yang harus dikuasai dengan melalui
pelatihan-pelatihan kerja, telah ditentukan didalam pendidikannya. Semua ini merupakan
kompetensi Dokter Spesialis Bedah Umum, yang melipull pembedahan elektif, pembedahan
darurat baik trauma maupun non trauma. Dengan demikian penanganan kasus-kasus bedah
dilaksanakan oleh Dokter Spesialis Bedah Umum secara holistic, konprehensip dan
fnultidisiplin. Untuk melengkapi pelayanan diperlukan kompetensi dibidany Traumatologi
dan "Critical Care".
Selaras dengan kemajuan dan pengembangan Pengetahuan dan Teknologi di bidang
Ilmu Bedah yang demikian pesatnya, Dokter Spesialis Umum dituntut secara terus menerus
dan dinaml* menguasai Pengetahuan dan Teknologi tersebut.
Agar Dokter Spesialis Bedah Umum dapat bekerja secara optimal diperlukan acuan
berupA satu standar pelayanan profesi Dokter Spesialis Bedah Umum mempunyai tujuan
sebagai berikut:
1. Melindungi penderita pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk mendapatkan
pelayanan sesuai standar.
2. Melindungi Profesi dari tuntutan-tuntutan masyarakat yang tidak wajar.
3. Sebagai pedoman didalam pengawasan dan pembinaan praktek Dokter Spesialis Bedah
Umum untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
4. Sebagai acuan dan pelengkap Rumah Sakit Pemerintah maupun swasta didalam
menjalankan pelayanan kesehatan secara tepat
5. Sebagai pedoman sesama profesi dibidang spesialisasi bedah untuk saling menghorrr.ati
dan menghargai kewenangan bidang keahlian masing-masing.
Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah Umum diartikan sebagai pedoman
yang harus dipergunakan sebagai petunjuk didalam menjalankan profesi secara baik dan
benar. Didalam aplikasi pelaksanaannya akan sangat tergantung kepada situasi dan kondisi
setempat, khususnyi menyesuaikan dengan fasilitas dan sumber daya manusia. Karena itu
Standar Pelayanan Profesi ini dibuat dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut sehingga
menghasilkan standar yang lentur dan cukup sederhana untuk memenuhi keinginan melayani
masyarakat sebaik-baiknya.
Acuan ini merupakan prosedur untuk menangani kasus-kasus yang akan ditangani
oleh Doktef Spesialis Bedah Umum. Telah dicantumkan batas-batas wewenang dari Dokter
Spesialis Bedah Umum pada kasus-kasus tertentu yang harus dirujukatau yang dapat
ditangani sendiri. Diharapkan rumah sakit pemerintah maupun swasta di seluruh Indonesia
dapat menetapkan pelayanan kasus - kasus tersebut sesuai dengan buku Pedoman Standar
Profesi.
Dokter spesialis bedah umum didalam profesinya, mampu bersikap dan berperilaku
secara bertanggung jawab serta mentaati semua ketentuan sesuai dengan standar pelayanan
profesi di dalam menjaga mutu pelayanan. Sikap tersebut diatas perlu dilandasi dengan etika
dan moral yang baik terhadap penderita, sejawat, dan mitra kerja yang lain sesuai dengan lafal
sumpah dokter. Standar ini akan selalu mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi sehingga
secara berkala akan selalu dievaluasi dan disempurnakan sesuai dengan perkembangan ilmu
kedokteran.
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

xv

TIM PENYUSUN
Anggota tim terdiri dari beberapa Kepala Bagian Bedah, Ketua-ketua maupun
sekretaris Program Studi Ilmu Bedah, Konsultan-konsultan maupun Dokter Spesialis Bedah
senior lain yang sangat antusias didalam PABI untuk menyusun standar profesi ini.
SusunanTim Penyusun dan Penasehat:
Keputusan PP PABI No. 001/SK/07/2001
Ketua
Sekretaris
Anggota

:
:
:

Penasehat

Martopo Mamadi, dr. SpB


Urip Murtedjo, dr. SpB (K) KL, PGD Pall Med (ECU)
Dr. med.Dr. Paul Tahalele, SpB, SpB TKV
Tjakra Wibawa Manuaba. dr. SpB(K) Onk, MPH
Sunarto Reksoprawiro, dr. SpB(K)KL
Faried W Husain, dr. SpB(K)DIG
Sutamto Wibowo, dr. SpB (K) DIG
Rochmad Idjrai, dr. SpB (K) DIG
Sahal Fatah, dr. SpB,SpBTKV
Didik Soediarto, dr. SpB (K) Onk
Soetrisno Alibasah. dr. SpB (K) DIG
Poerwadi, dr. SpB (K) BA
Gatot Waluyo, dr. SpB (K) BA.
Soejarsono, dr. SpB
Timbang Simanjutitak, dr. SpB
Purwoko, dr. SpB
I Nengah Kuning Atmajaya.dr. SpB
Dr. Abdul Hafid Bajamal, dr. SpBS
INW. Steven Christian, dr. SpB (K) Onk
J. Iswanto, dr. SpB (K) Dig
Dr Arjono Djuned Fbesponegoro,dr.SpB (K) DIG
Prof. John Pieter, dr SpB (K) DIG
Prof. Dr. IDG. Sukardja, dr. SpB (K) Onk
Prof. Adrie Manoppo, dr.SpB (K) Onk
Prof. Dr. Umar Kasan, dr. SpBS
Prof. Syamsuhidayat, dr. SpB (K) DIG
Prof. Widjoseno Gardjito, dr. SpU.
Warko Karmadihardja, dr. SpB (K) DIG.
Prof. Dr. med. Puruhito, dr. SpBTKV.
Prof. Kamadi Thalut, dr. SpB (K) DIG.
Prof. Dr. .IGN. Riwato, dr. SpB (K) DIG.
Prof. Faried Nur Mantu, dr. SpB. (K) BA
Prof. Basoeki Wiryowidjoyo, dr. SpBS

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

Suryanto, dr. SpB


Budi Yuwono, dr. SpB.
Basrul Hanafi. dr. SpB (K) DIG
Yan Ngantung, dr. SpB, SpBP
Agung Prasmono, dr SpB, SpBTKV
I Wayan Sudarsa, dr. SpB (K) Onk HN.
Nazar, dr. SpB
Adjinul Bahri, dr. SpB
Jimmy Panelewen, dr. SpB
Purnohadi Utomo, dr. SpB
Yoga Wijayahadi, dr. SpB.
Kustiyo Gunawan, dr. SpB (K)BA.
Hertanto, dr. SpB
Heru Koesbianto, dr. SpB, SpBTKV.
Tirta Hamijaya Rahardja, SpB.
M.Noor Amrullah, dr. SpB.
Purboyo, dr. SpB.
Peter Manoppo, dr. SpB

xvi

POLA PEMBAHASAN
Demi keseragaman dan kemudahan didalam mempelajari isi Standar Pelayanan
Profesi Dokter Spesialis Bedah Umum, baik oleh kalangan sendiri maupun dokter spesialis
yang lain, maka tim penyusun menganggap perlu untuk memperbaiki dan menyempumakan
pola pembahasan yang dilakukan oleh Tim Studi PB-IDI.
1. Nomor ICD ( International Statistical Classification of Diseases and Related Health
Problems, Tenth Revision)
2. Diagnosis
Diagnosis atau nama penyakit atau sindroma ditulis sesuai ICD yang berlaku. Yang
dimaksud disini adalah diagnosis utama.
3. Kriteria diagnosis
Kriteria - kriteria yang dipakai untuk menegakkan diagnosis berupa pemeriksaan klinis
dan pemeriksaan penunjang.
4. Diagnosis banding
Dicantumkan maksimum 3 (tiga) nama penyakit.
5. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan-pemeriksaan (laboratorium, radiologi, pemeriksaan khusus) yang diperlukan
untuk menunjang diagnosis maupun untuk menyingkirkan diagnosis banding
6. Konsultasi
Ditujukan kepada konsultan bedah dan spesialis lain yang terkait untuk penanganan
bersama dalam menegakkan diagnosis dan terapi terhadap panyakit-penyakit penyerta
maupun komplikasi yang terjadi.
7. Perawatan rumah sakit
Dijelaskan periu dirawat inap atau rawat jalan, bersifat segera atau biasa. Perlu pula
dijelaskan dalam kondisi yang bagaimana hal tersebut perlu dilaksanakan.
8. Terapi
Dikatagorikan kedalam tujuan, cara, macam, waktu terapi dan terapi komplikasi
a. Tujuan terapi: kuratif atau paliatif
b. Cara terapi: bedah atau non bedah
c. Macam - macam terapi: terapi utama, ajuvan, tambahan, komplikasi
d. Waktu terapi: darurat atau elektif
e. TeTapi komplikasi dari terapi.
9. Tempat pelayanan
Kelas rumah sakit dan fasilitas yang minimal yang bisa dipakai untuk tempat pelayanan
pembedahan.
10. Penyulit
Dicantumkan komplikasi yang mungkin timbul, baik karena penyakitnya sendiri, maupun
akibat tindakan atau terapi.
11. Informed consent
Dinyatakan periu atau tidak.
12. Tenaga standar
Dicantumkan tenaga yang berkompeten menangani kasus tersebut dan juga member!'
kewenangan terapi yang dapat dilakukan (dokter umum, dokter spesialis bedah umum,
dokte spesialis bedah Iain maupun konsuhan dokter spesialis lain)
13. Lama perawatan
a. Khusus untuk penyakit tanpa komplikasi
b. Untuk tindakan pembedahan, adalah lama perawatan pasca operasi rawat inap di
Rumah Sakit.
14. Masa pemulihan
Masa istirahat di luar rumah sakit sebelum dapat melakukan aktivitas kembali.
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

xvii

15. Hasil
Disebutkan keadaan penderita selesai tindakan pembedahan dan perawatan di rumah sakit
Dapat disebutkan kemungkinan yang paling baik sampai kemungkinan yang pasti jelek
(sembuh, menyembuh, sembuh dengan follow up, sembuh dengan komplikasi cacat fisik
- mental atau kecacatan sampai kemungkinan kematian)
16. Patologi
Khusus pada penderita yang dilakukan tindakan sesuai dengan indikasi.
17. Otopsi
Diperlukan pada kasus kematian tidak wajar atau tidak jelas
18. Prognosis
Disebutkan pada umumnya baik. dubouis ad bonam, dubouis ad malam, jelek.
19. Tindak Lanjut ( Follow up)
Keadaan klinis penderita setelah penderita keluar rumah sakit sampai melakukan aktifitas
sehari - hari.
Sebagai pelengkap yang bersifat keharusan, dokter yang merawat harus membuat Catatan
Medik (Medical Records).

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

xviii

WEWENANG
DOKTER SPESIALIS
BEDAH UMUM INDONESIA

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

xix

ICOPIM

5-541
5-541
5-467
5-461
1-644
1-694
5-454
5-505
5-413
5-520
5-524
5-460
5-470
5-470
5-511
5-511
5-442
5-438
5-454
5-530
5-493
5-491
5-484
5-454
5-485
5-514
5-458
5-458

1. Jenis Tindakan Bidang Bedah Digestif

1. Laparotomi
2. Torako-laparotomi (darurat)
3. Penutupan ptrforail sederhana
4. Pembuatan stoma (gastrostomi, Ileostomi,
Kolostomi, Sigmoldostomi)
5. Rektoskopi / Anuskapi
6. Laparoskopik diagnostlk.(darurat)
7. Reaksi dan anastomosis usus
8. Prnanggulangan trauma hepar (darurat)
9. Splenektomi
10. Drenase pankreatitis (darurat)
11. Pankreasektomi (partial & darurat)
12. Eksteriorisasi
13. Appendektomi terbuka
14. Appendektomilaparoikoplk
15. Koleslitektomi terbuka
16. Kolcilitcktoml laparoskopik
17. Gastroenterostomi
18. Gastrektomi (partial)
19. Hemlkolektoml
20. Herniotomi
21. Hemoroidektomi
22. Fistulektomi, fistulotomi (Fisura ani)
23. Operasi Miles
24. Operasi Hartmann
25, Reseksl Anterior sigmoid
26. Pasang "T" tube
27. Rouxen Y anatomosis
28. Bypass enterotomi

DSpB

DSpBO

DSpU

DSpBS

Bedah
Umum

Bedah
Orthope
di

Bedah
Urdogi

Bedah
Saraf

DokterSpeslalls Bedah Yang Berwewenang


DSpBP
DSpB (K)
DSpB (K)
DSpB
Dig.
BA
(K) Onk
Bedah
Bedah
Bedah Anak
Bedah
Plastik
Digestif
(khusus)
Tumor

X
X
X
X

X
X
X
X

X
X
X
X

X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X

X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X

X
X
X
X
X
X
X
X
X

DSpB
(K) BL
Bedah
kepala
leher

BSpBTKV
Bedah toraks
kardio
vaskuler

DSpB (K)
Vask
Bedah
vaskuler

X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X

Catatan : sebagai dokter konsultan dari dokter spesialis bedah umum adalah DspBO, DspU, DSpBS, DSpBP, DSp(K) Dig, DSpB(K)BA, DSpB(K)KL, DSpBTKV, DSp(K)Vask

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

xx

ICOPIM

5-541
5-541
5-467
5-460
5-537
5-542
5-530
5-630
5-468
5-540
5-496
5-542
5-624
5-643
5-537
5-554
5-496
5-640
5-433
5-413
5-625
5-483
5-542
5-401
5-401
5-470

2. Jenis Tindakan Bidang Bedah Anak

1. Laparotomi
2. Toraks laparotomi
3. Penutupan perforasi sederhana
4. Penbuatan stoma (gastrostomi, Ileostomi,
koteitomi, ligmoidoshiml)
5. Operasi hernia diafragma traumatik
6. Selioplasti
7. Herniotomi
8. Ligasi tinggi hidrokel
9. Operasi invaginasi laparotomi
10. Operasi tumor retroperitoneal
1l. Operasi PSA RP terbatas
12. Operasi omfalokel
13. Operasi kriptorkhlimus
14. Operasi hypospadia
15. Repair Hernia diafragmatika kongenital / kel.
diafragma kongenltal
16. Operasi Willema tumor
17. Anoplasti sederhana (cut back?
18. Circumsisi
19. Operasi piloromiotomi
20. Spleenektomi
21, Detorsitorsi testis & orkidopeksi
22. Anastomosis tarik trobos
23. Operasi kelainan umbilicus
24. Eksisi higroma
25. Eksisi limpangloma
26. Appendektomi

DSpB

DSpBO

DSpU

DSpBS

Bedah
Umum

Bedah
Orthope
di
X

Bedah
Urdogi

Bedah
Saraf

X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X

DokterSpeslalls Bedah Yang Berwewenang


DSpBP
DSpB (K)
DSpB (K)
DSpB
Dig.
BA
(K) Onk
Bedah
Bedah
Bedah Anak
Bedah
Plastik
Digestif
(khusus)
Tumor

X
X

X
X
X
X

X
X
X
X

X
X
X
X
X
X

X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X

X
X

X
X

X
X
X

X
X
X

X
X
X

X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X

DSpB
(K) BL
Bedah
kepala
leher

BSpBTKV
Bedah toraks
kardio
vaskuler
X
X

DSpB (K)
Vask
Bedah
vaskuler
X
X

X
X

X
X

Catatan : sebagai dokter konsultan dari dokter spesialis bedah umum adalah DspBO, DspU, DSpBS, DSpBP, DSp(K) Dig, DSpB(K)BA, DSpB(K)KL, DSpBTKV, DSp(K)Vask

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

xxi

ICOPIM

3. Jenis Tindakan Bidang Bedah Onkologi

DokterSpeslalls Bedah Yang Berwewenang


DSpB

DSpBO

DSpU

DSpBS

DSpBP

DSpB (K)

DSpB (K)

DSpB

DSpB

Dig.

BA

(K) Onk

(K) BL

BSpBTKV

DSpB (K)
Vask

Bedah

Bedah

Bedah

Bedah

Bedah

Bedah

Bedah Anak

Bedah

Bedah

Bedah toraks

Bedah

Umum

Orthope

Urdogi

Saraf

Plastik

Digestif

(khusus)

Tumor

kepala

kardio

vaskuler

leher

vaskuler

di
1-599

1. Biopsy Insisional/biopsy cubit

5-860

2. Ekstirpasi tumor Jinak mamma

5-884

3. Ekstirpasi tumor jinak kulit /Jaringan lunak

X
X

lainnya
5-261

4. Ekstirpasi tumor jinak parotis

5-655

5. Salphingo oophorektomi bilateral pada kanker

payudara
5-861

6. Mastektomi simpleks

5-869

7. Mastektomi subkutaneus

5-863

8. Mastektomi radikal .

5-862

9. Modifikasl mastektomi radikal

5-061

10.Strumektomi

5-063

11.Tiroidektomi pada Ca

5-403

12.Radikal neck dissection (RND) (classical)

5-262

13.Parotidektomi

5-885

14.Operasi tumor jaringan lunak

5-899

15.Eksisi luas dan rekonstruksi sederhana

5-894

16.Flap kulit / otot

X
\-

Catatan : sebagai dokter konsultan dari dokter spesialis bedah umum adalah DspBO, DspU, DSpBS, DSpBP, DSp(K) Dig, DSpB(K)BA, DSpB(K)KL, DSpBTKV, DSp(K)Vask

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

xxii

ICOPIM

4. Jenis Tindakan Bidang Bedah Onkologi

DokterSpeslalls Bedah Yang Berwewenang


DSpB

DSpBO

DSpU

DSpBS

DSpBP

DSpB (K)

DSpB (K)

DSpB

DSpB

Dig.

BA

(K) Onk

(K) BL

BSpBTKV

DSpB (K)
Vask

Bedah

Bedah

Bedah

Bedah

Bedah

Bedah

Bedah Anak

Bedah

Bedah

Bedah toraks

Bedah

Umum

Orthope

Urdogi

Saraf

Plastik

Digestif

(khusus)

Tumor

kepala

kardio

vaskuler

leher

vaskuler

di
1-599

1. Biopsy Insisional/biopsy cubit

5-860

2. Ekstirpasi tumor Jinak mamma

5-884

3. Ekstirpasi tumor jinak kulit /Jaringan lunak

X
X

lainnya
5-261

4. Ekstirpasi tumor jinak parotis

5-655

5. Salphingo oophorektomi bilateral pada kanker

payudara
5-861

6. Mastektomi simpleks

5-869

7. Mastektomi subkutaneus

5-863

8. Mastektomi radikal .

5-862

9. Modifikasl mastektomi radikal

5-061

10.Strumektomi

5-063

11.Tiroidektomi pada Ca

5-403

12.Radikal neck dissection (RND) (classical)

5-262

13.Parotidektomi

5-885

14.Operasi tumor jaringan lunak

5-899

15.Eksisi luas dan rekonstruksi sederhana

5-894

16.Flap kulit / otot

Catatan : sebagai dokter konsultan dari dokter spesialis bedah umum adalah DspBO, DspU, DSpBS, DSpBP, DSp(K) Dig, DSpB(K)BA, DSpB(K)KL, DSpBTKV, DSp(K)Vask

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

xxiii

ICOPIM

5. Jenis Tindakan
Kardiovaskuler

Bidang

Bedah

Toraks
DSpB

DSpBO

DSpU

DSpBS

Bedah
Umum

Bedah
Orthope
di

Bedah
Urdogi

Bedah
Saraf

DokterSpeslalls Bedah Yang Berwewenang


DSpBP
DSpB (K)
DSpB (K)
DSpB
Dig.
BA
(K) Onk
Bedah
Bedah
Bedah Anak
Bedah
Plastik
Digestif
(khusus)
Tumor

DSpB
(K) BL
Bedah
kepala
leher

BSpBTKV
Bedah toraks
kardio
vaskuler
X

DSpB (K)
Vask
Bedah
vaskuler

5-340

1. Torakotomi (darurat)

5-790

2. Fiksasi Internal Iga

8-740

3. Pemasangan WSD / drainase toraks

8-740

4, Perawatan trauma toraks konservatif

5-380

5. Rekonstruksi vaskular perifer (trauma)

5-371

6. Perikardiosenteis terbuka (darurat)

5-340

7. Reseksi Iga

5-051

8 Simpatektomi tomkal

5-051

9. Simpatektomi lumbal / simpatektomi periarterial

5-384

10. Stripting varises, eksisi varises, ligasi - komunikan

5-392

11. Operasi A V shunt (Brecia Cimino)

5-340

12. Opesi jendela toraka

X.

8-193

13. Perawatan verbal non bedah

5-382

14, Operasi aneurisma perifer

5-847 "

15. Debridement, amputasif gangren diabetik atau

penyakit y.l
5-884

16. Eksisi Hemangloma

5-380

17, Embolaktomi perifer darurat

Catatan : sebagai dokter konsultan dari dokter spesialis bedah umum adalah DspBO, DspU, DSpBS, DSpBP, DSp(K) Dig, DSpB(K)BA, DSpB(K)KL, DSpBTKV, DSp(K)Vask

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

xxiv

ICOPIM

5-572
8-134
5-554
5-557
5-622
5-565
5-578
5-636
1-652
5-571
5-611
5-590
5-590
5-550
5-550
5-603
5-630
5-550
5-551
5-643
15-624
5-562
5-580
5-580
5-566

6. Jenis Tindakan Bidang Bedah Urologi

1. Punksi buli-buli/sistostomi
2. Kateterisasi / businasi
3. Nefrektomi
4. Repair urehtra, ureter, ginjal (trauma)
5. Orkhidektomi
6. Ureterostomi eksterna (darurat)
7. Repair ruptur buli - buli
8. Vasektomi
9. Sistoskoplk, endoskopikdiagnostik
10. Section alta
11. Hidrokelektomi
12. Insist Infiltrat urin
13. Insist perirenal abses
14. Drenase pionefrosis
IS. Nefrostomi
16. Prostatektomi terbuka
17. Ligasi tinggi Varikokel
18. Nefrolitokmi
19. Pielolitotomi
20. Operasi Hipospodia
21. Repair Kriplorkhismus & orkhidopeksi
22. Ureterolitotomi 1/3 tengah & proximal
23. Urethralitotomi
24. Urethrostomi eksterna
25. Uretero-ileo shunt

DSpB

DSpBO

DSpU

DSpBS

Bedah
Umum

Bedah
Orthope
di

Bedah
Urdogi

Bedah
Saraf

X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X

X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X

DokterSpeslalls Bedah Yang Berwewenang


DSpBP
DSpB (K)
DSpB (K)
DSpB
Dig.
BA
(K) Onk
Bedah
Bedah
Bedah Anak
Bedah
Plastik
Digestif
(khusus)
Tumor

DSpB
(K) BL
Bedah
kepala
leher

BSpBTKV
Bedah toraks
kardio
vaskuler

DSpB (K)
Vask
Bedah
vaskuler

X
X
X
X
X
X
X

X
X
X
X
X
X

X
X
X

Catatan : sebagai dokter konsultan dari dokter spesialis bedah umum adalah DspBO, DspU, DSpBS, DSpBP, DSp(K) Dig, DSpB(K)BA, DSpB(K)KL, DSpBTKV, DSp(K)Vask
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

xxv

ICOPIM

7. Jenis Tindakan Bidang Bedah Plastik dan


Rekonstruksi

DokterSpeslalls Bedah Yang Berwewenang


DSpB

DSpBO

DSpU

DSpBS

DSpBP

DSpB (K)

DSpB (K)

DSpB

DSpB

Dig.

BA

(K) Onk

(K) BL

BSpBTKV

DSpB (K)
Vask

Bedah

Bedah

Bedah

Bedah

Bedah

Bedah

Bedah Anak

Bedah

Bedah

Bedah toraks

Bedah

Umum

Orthope

Urdogi

Saraf

Plastik

Digestif

(khusus)

Tumor

kepala

kardio

vaskuler

leher

vaskuler

di
5-883

1. Debridement luka bakar

5-217

2. Repair fraktur tulang hidung

5-763

3. Repair fraktur tulang mandibula

5-763

4.Repair fraktur tulang Matella

5-893

S. Tandur alih kulit

5-831

6. Release kontraktur

5-884

7. Eksisi keloid

5-894 .

8. Labioplasti

5-275

9.Palatoplasti

X.

5-643

10.Operasi Hipopsoel

5-894

11.Flap Kulit / otot

X
X

Catatan : sebagai dokter konsultan dari dokter spesialis bedah umum adalah DspBO, DspU, DSpBS, DSpBP, DSp(K) Dig, DSpB(K)BA, DSpB(K)KL, DSpBTKV, DSp(K)Vask

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

xxvi

ICOPIM

8. Jenis Tindakan Bidang Bedah Orthopedi

DokterSpeslalls Bedah Yang Berwewenang


DSpB

DSpBO

5-792
5-792
1-503
8-310
5-783

1. Tindakan reposisi tertutup dan immobilisasi


2. Debridement fraktur terbuka gr I-II-III
3. Fiksasi eksternal
4. Amputasi ekstrimitas
5. Disatikulasi sendi kecil dan sedang
6. Pemasangan traksi (skeletal, skin, Gibson)
7. Tendon repair
8. Disartikulasi sendi besar : panggul, bahu, lutut
9. Reduksi Terbuka dan fiksasl Interna (ORIF):
Nailing
: Femur, Tibia
Plate & Screw : remit-, Tibia, radius, ulna, Humerus
Clavicula
K. Wire : Tangan dan Kakl (Cerpalla, Tharsalia
Phalanx)
10. Tension band wiring (tbw|: Olecranon, Patella,
Ankle
11. Blopsi Tulang
12. Perawatan CTEV konservatlf
13. Sekwesterektomi / guttering

DSpBS

DSpBP

DSpB (K)

DSpB (K)

DSpB

DSpB

Dig.

BA

(K) Onk

(K) BL

BSpBTKV

DSpB (K)
Vask

Bedah

Bedah

Bedah

Bedah

Bedah

Bedah

Bedah Anak

Bedah

Bedah

Bedah toraks

Bedah

Umum

Orthope

Urdogi

Saraf

Plastik

Digestif

(khusus)

Tumor

kepala

kardio

vaskuler

leher

vaskuler

di
8-208
5-795
8-330
5-847
5-840
8-40
5-824
5-844
5-792
8-362
5-792

DSpU

X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X

X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X

X
X
X

X
X
X

Catatan : sebagai dokter konsultan dari dokter spesialis bedah umum adalah DspBO, DspU, DSpBS, DSpBP, DSp(K) Dig, DSpB(K)BA, DSpB(K)KL, DSpBTKV, DSp(K)Vas

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

xxvii

ICOPIM

9. Jenis Tindakan Bidang Bedah Orthopedi

DokterSpeslalls Bedah Yang Berwewenang


DSpB

DSpBO

DSpU

DSpBS

DSpBP

DSpB (K)

DSpB (K)

DSpB

DSpB

Dig.

BA

(K) Onk

(K) BL

BSpBTKV

DSpB (K)
Vask

Bedah

Bedah

Bedah

Bedah

Bedah

Bedah

Bedah Anak

Bedah

Bedah

Bedah toraks

Bedah

Umum

Orthope

Urdogi

Saraf

Plastik

Digestif

(khusus)

Tumor

kepala

kardio

vaskuler

leher

vaskuler

di
5-011

1. Boor hole

5-011

2. Trepanasi trauma (fraktur cranium, EDH)

5-020

3. Reposisi fraktur Imprest

5-042

4. Repair saraf perifer

5-021

S. Eksisi meningokel & mielokel (sederhana)

'

Catatan : sebagai dokter konsultan dari dokter spesialis bedah umum adalah DspBO, DspU, DSpBS, DSpBP, DSp(K) Dig, DSpB(K)BA, DSpB(K)KL, DSpBTKV, DSp(K)Vas

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

xxviii

ICOPIM

5-511
5-541
5-541
5-467
5-461
1-644
1-694
5-454
5-505
5-413
5-520
5-524
5-460
8-208
5-795
8-330
5-847
5-840
S-792
8-362
5-792
5-792
5-792
5-844
5-824
8-40
5-883
5-311
5-763

10. Jenis Tindakan Bidang Bedah Traumatologi

1.
1.
2.
3.
4.

Laparotomi
Laparotomi
Torako-laparotomi
Penutupan perforasi sederhana
Penbuatan stoma (gastrostomi, Ileostomi,
koteitomi, ligmoidoshiml)
5. Rektoskopi / anuskopi
6. Laparoskopik dlagnostik
7. Reseksi dan anastomosis usus
8. Penanggulangan trauma hepar (darurat)
9. Splenektomi
10. Drenase pankreaotis (darurat)
1 l. Pankreasektomi (partial & darurat)
12. Eksterlorisasi .
13. Tindakan reposisi tertutup dan immobilisasi
14. Debridement fraktur terbuka gr I-II-III
15. Fiksasi eksternal
16. Amputasi ekstremitas
17. Disartikulasi sendi kecil dan sedang
18. Reduksi terbuka dan fiksasi Interna
Nailing
: lemur, tibia
Plate & Screw : lemur, tibia, radius, ulna,
humerus, davteula
K. Wire : tangan dan kaki (carpalia, tarsalla,
phalanx)
19. Tenston band wiring (tbw); olecranon, patella,
ankle
20. Disartlkulail sendl besar: panggul, bahu, lutut
21. Tendon repair
22. Pemasangan Iraltsi { skeletal, skin, glisson )
23.Tindakan pada trauma jarlngan lunak wajah
24.Trakheostoml
25.Repalr fraktui mandibuta

DSpB

DSpBO

DSpU

DSpBS

Bedah
Umum

Bedah
Orthope
di

Bedah
Urdogi

Bedah
Saraf

x .
X
X
X
X

X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X

X
X
X
X
X

X
X

X
X

X
X
X
X
X
X

X
X
X
X

DokterSpeslalls Bedah Yang Berwewenang


DSpBP
DSpB (K)
DSpB (K)
DSpB
Dig.
BA
(K) Onk
Bedah
Bedah
Bedah Anak
Bedah
Plastik
Digestif
(khusus)
Tumor

X
X
X

X
X
X
X
X

X
X
X
X
X

X
X
X
X
X
X
X
X

X
X
X
X
X
X
X
X

X
X

DSpB
(K) BL
Bedah
kepala
leher

X
X
X

BSpBTKV
Bedah toraks
kardio
vaskuler

DSpB (K)
Vask
Bedah
vaskuler

X
X

X
X

Catatan : sebagai dokter konsultan dari dokter spesialis bedah umum adalah DspBO, DspU, DSpBS, DSpBP, DSp(K) Dig, DSpB(K)BA, DSpB(K)KL, DSpBTKV, DSp(K)Vas

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

xxix

ICOPIM

5-763
5-216
5-340
5-790
8-740
8-740
5-380
5-371
5-883
5-537
5-011
5-011
5-020
5-042
5-021
8-134
5-554
5-557
5-622
5-565
5-578
5-572

11. Jenis Tindakan Bidang Bedah Traumatologi

26. Repair fraktur makslia


27,Repair fraktur zigoma
28, Repair fraktur nasal
29.Torakotomi
30. Fiksasi internal iga
31 Pemasangan WSD / drainase toraks
32.Perawatan trauma toraks konservatif
33.Rekontruksi vaskular perifer
34 perikardiosentesis terbuka
35. Debridement luka Dakar
39.0perasi Hernia diafragmatika traumatik
40. Boor hole
41.Trepanasi trauma (Fraktur cranium, EDH)
42. Fraktur reposisi impresi
43.Repair saraf perifer
44,Eksisi meningokel & mlelokel (sederhana)
45.Kateterisasi / businasi
46.Nefrektomi
47.Repair uretra, ureter, ginjal
48.Orkhidektomi
49. Ureterostomi eksterna
50. Repair ruptur buli-buli
51. Sistostomi

DSpB

DSpBO

DSpU

DSpBS

Bedah
Umum

Bedah
Orthope
di

Bedah
Urdogi

Bedah
Saraf

x
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X

DokterSpeslalls Bedah Yang Berwewenang


DSpBP
DSpB (K)
DSpB (K)
DSpB
Dig.
BA
(K) Onk
Bedah
Bedah
Bedah Anak
Bedah
Plastik
Digestif
(khusus)
Tumor
X
X
X

X
X

DSpB
(K) BL
Bedah
kepala
leher
X
X
X

BSpBTKV
Bedah toraks
kardio
vaskuler

DSpB (K)
Vask
Bedah
vaskuler

X
X
X
X
X
X
X
X

X
X

X
X
X
X
X

X
X
X
X
X
X
X
X

X
X
X
X
X
X
X

Catatan : sebagai dokter konsultan dari dokter spesialis bedah umum adalah DspBO, DspU, DSpBS, DSpBP, DSp(K) Dig, DSpB(K)BA, DSpB(K)KL, DSpBTKV, DSp(K)Vas

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

xxx

I.
BEDAH DIGESTIF

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

31

ICD

Diagnosis

Kriteria diagnosis

S 27.8 ,S31, S. 35.S 36. S 37


Cedera pada toraks bagian bawah, abdomen, pinggang
collumna, vertebralis - lumbalis dan pelvis.
TRAUMA TAJAM ABDOMEN
Ruptur Diaphragma
S 27.8.1
Luka Terbuka Bokong
S 31.0
Luka Terbuka Abdomen, Pinggang dan Inguinal S 31.1
Luka Terbuka Penis S31.2
Luka Terbuka Skrotum dan Testis S31.3
Luka Terbuka Vagina dan Vulva
S 31.4
Luka Terbuka Multipel di Abdumen, Pinggang dan Pelpis
S31.7.
Ruptur Aorta Abdominalis
S35.0
Ruptur V. Kava inferior
S 35.1
Ruptur a. Soeliaka atau Mesenterika dan cabang cabangnya
S35.2
Ruptur V Porta atau V. Lienalis Dan Cabang cabangnya
S35.3
Ruptur VasaRenalis S35.4
Ruptur Vasa Iliaka Dan Cabang - cabangnya S 35.5
Ruptur Pembuluh Darah di Abdomen, Pinggang, dan rong
Pelvis S.35.7
Ruptur Pembuluh Darah Lainnya di Abdomen, Pinggang dan
Rongga Pelvis lainnyaS.35.8
Ruptur Limpa S 36.0.1
Ruptur Hepar & kandung empedu
S 36.1.1
Ruptur Rankreas
S 36.2.1
Ruptur lambung
S 36.3.1
Ruptur Duodenum
Ruptur Jejunum
S 36.4.1
Ruptur Ileum
Ruptur Colon
S 36.5.1
Ruptur Rektum
S 36.6.1
Ruptur organ intra abdomen Multiple S 36.7.1
Hematoma retroperitoneum S 36.8. 1
Ruptur Ginjal S. 37.0.1
Ruptur Ureter
S. 37.1.1
Ruptur Kandung Kemih
S. 37.2.1 .
Ruptur Uretra
S. 37.3.1
Ruptur Ovarium
S. 37.4.1
Ruptur Tuba Falopi
S. 37.5.1
Ruptur Uterus
S. 37.6.1
Ruptur Organ Intra Pelvis Multipel S. 37.7.1
Ruptur Kelenjar Adrenal
S. 37.8.1
Ruptur Kelenjar Prostat
S. 37.8.1
Ruptur Vesikula Seminalis
S. 37.8.1
Ruptur Vas Deferens
S. 37.8.1
Mekanisme Trauma
Trauma yarig disebabkan senjata tajam :
Pisau, Sangkur, Celurit, Parang, Besi. Obeng, Gunting

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

4
5

Diagnosa banding
Pemerinsaan
penunjang

:
:

Trauma yang disebabkan oleh senjata api. baik yang


dengan kecepatan rendah ( Low energy velocity ) pun
dengan kecepatan tinggi ( High energy velocity )
Tanda klinis.
Sistim pernapasan dan hemodinamika
Stabil
Tidak stabil
Inspeksi:
Adanya luka atau luka - luka terbuka di regio toraks bagian
bawah, regio abdomen, pinggang dan atau pelvis.
Ada atau tidak ada eviserasi organ - organ intra abdomen dan
atau epiplosil.
Ada atau tidak ada distensi abdomen.
Pada luka tembak, khususnya luka tembak senjata api harus
ditentukan adanya luka tembak masuk dan apakah ada luka
tembak keluar.
Auskultasi:
Auskultasi regio toraks ( kiri )
Suara napas menurun, bisa terdengar bising usus
Auskultasi regio abdomen:
Bising usus bisa normal, menurur. atau hilang.
Palpasi:
Nyeri tekan di kuadran tertentu atau seiuruh regio
Abdomen, Defans muskuler, Nyeri takan lepas.
Perkusi
Perkusi regio toraks bagian bawah bisa normal atau redup
atau timpani
Pekak hati bisa positif atau negatif
Nyeri ketok dinding abdomen
Tes undulasi atau tes shifting dullness bisa positip, bisa
negatip
Colok dubur:
Bisa normal
Bisa ditemukan kelainan - kelainan :
Prostat yang melayahg, laserasi pada dinding anorektum,
teraba fragmentasi tulang - tulang panggul, nyeri pada
perabaan di dinding anorektum, pada sarung tangan bisa
ditemukan tetesan atau noda darah, berarti positif ada cedera
pada saluran cerna
Disesuaikan dengan fasilitas UGD / Rumah Sakit setempat
Pilihan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi:
Foto toraks posisi AP,
Foto toraks dengan pemasangan pipa lambung,polos
abdomen,
Foto pelvis
USG
Lavase peritoneum diagnostik ( PL),
IVP
Uretro-sistografi,

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

Foto kontras saluran cerna bagian atas,


CT scan abdomen,
Angiografi,
Indikasi USG sama dengan indikasi
DPL:
Flasien trauma dengan : Penurunan tingkat kesadaran
Perubahan / gangguan fungsi sensoris
Cedera pada organ - organ yang bertetangga
Pemeriksaan fisik abdomen yang meragukan.
Kemungkinan dokter putus kontak dengan pasien untuk
waktu yang cukup panjang.
Hasil DPL yang meragukan ( khusus untuk USG abdomen )
yaitu: Lekosit < 500/mm3, eritrosit < 100.000 / mm3
Rawat inap untuk tujuan observasi
Tindakan resusitasi ABCD sesuai konsep ATLS kalau
kondisi pernapasan dan hemodinamika penderita tidak stabil.
Terapi konservatif:
Terapi konservatif dilakukan bila tidak ada indikasi
laparotoml segera, atau hasil pemeriksan penunjang tidak
mengungkapkan adanya cedera organ intra abdomen yang
nyata.
Terapi konservatif dengan cara observasi,, dapat dilakukan
sampai 2 x 24 jam.
Terapi operatif:
Laparotomi eksplorasi dengan insisi median
Indikasi laparotomi eksplorasi:
Tanda-tanda perdarahan intra peritoneal, yaitu adanya syok
hipovolemi dengan distensi abdomen yang progresif.
Tanda-tanda peritonitis generalisata
Pneumoperitoneum pada foto toraks
Pada foto toraks tampak gambaran hernia diafragmatika
(Ruptur Diafragma)
Cairan lavase keluar melalui pipa drenase rongga pleura
Pada tindakan DPL, keluar darah > 10 ml atau cairan usus
Hasil DPL positip berdasarkan analisa laboratoris, yaitu:
jumlah eritrosit > 100.000/mm3 cairan lavase jumlah lekosit
> 500/mm cairan lavase amilase > 20IU/L cairan lavase
Eviserasi atau epiplosil Luka tembak senjata api
Minimal Rumah Sakit Was C atau Rumah sakit yang ada
fasilitas pembedahan yang memadai
Perdarahan massif
Syok hipovolemik, yang bisa berakibat syok irreversibel
Koagulasi intra vaskuler yang diseminasi (DIC)
Koagulopathi, Hipotermia, Asidosis. SIRS - sepsis, ARDS,
Pneumonia
Pankreatitis pasca trauma, perdarahan saluran cerna,
Gangguang fungsi hati.
ARF (gagal ginjal akut)
Gagal multi organ

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13

Lama Perawatan

14

Masa Pemulihan

15

Hasil

16
17
18

Patologi
Prognosis
Otopsi

:
:
:

Perlu
Dokter spesialis Bedah Umum
DokterSpesialis Bedah (K) Bedah Digestif
Bervariasi, tergantung beratnya cedera
Bisa berlangsung antara 10 hari - 3 bulan
Juga bervariasi, tergantung beratnya cedera
Bisa membutuhkan waktu antara 2 minggu - 3 bulan
Cedera ringan: bisa sembuh tanpa gejala sisa
Cedera berat:
Kalau tidak ada penyulit, dapat disembuhkan dengan atau
tanpa kecacatan
Kalau ada penyulit, bisa sembuh dengan atau tanpa
kecacatan, atau bisa meninggal dunia.
Cedera mengancam nyawa:
Bila timbul penyulit
Bisa sembuh dengan atau tanpa kecacatan, atau bisa
meninggal
dunia
Angka kematian bisa sampai > 70%
Tergantung beratnya cedera
Semua pasien trauma abdomen meninggal dunia perlu otopsi
klinik.

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

ICD

Diagnosis

Kriteria diagnosis

S 27.8 ,S31, S. 35.S 36. S 37


Cedera pada toraks bagian bawah, abdomen, pinggang
collumna, vertebralis - lumbalis dan pelvis.
Ruptur Diaphragma S27.8.0
Kontusi Bokong dan Panggul S 30.0
Kotusio Abdomen, Pinggang dan Inguinal S 30.1
Kontusio Perineum dan Genital S 30.2
Ekskoriasi, Laserasi superficial S 30.7
multiple di Abdomen,
Pinggang dan Panggul.
Ruptur limpa S 36.0.0
Ruptur Hepar & kandung empedu S36.1.0
Ruptur Pankreas S36.2.0
Ruptur lambung S 36.3.0
Ruptur Duodenum
Ruptur Jejunum
Ruptur Ileum
S 36.4.0
Ruptur Colon S 36.5.0
Ruptur Rectum S 36.6.0
Ruptur organ intra abdomen S 36.7.0
Multiple
Hematoma retroperitoneum S 36.8.0
Ruptur Ginjal
Kontusio Ginjal
S 37.0.0
Hematoma retroperitoneum S 36.8.0
Ruptur Ginjal S 37.0.0
Ruptur Ureter S 37.1.0
Ruptur Kandung Kemih S 37.2.0
Ruptur Uretra S 37.3.0
Ruptur Ovarium S 37.4.0
Ruptur Tuba Falopi S 37.5.0
Ruptur Uterus S 37.6.0
Ruptur Organ Intra Pelvis Multipel S 37.7.0
Ruptur Kelenjar Adrenal S 38.2.0
Ruptur Kelenjar Prostat S 38.2.0
Ruptur Vesikula Seminalis S 38.2.0
Ruptur Vas Deferen S 38.2.0
Mekanisme Trauma
Kecelakaan lalu lintas
Jatuh dari ketinggian
Kecelakaan keija
Cedera olah raga
Tindakan kekerasan atau penganiayaan
Cedera akibat hiburan atau wisata
Tandaklinis.
Sistim pernapasan dan hemodinamika
Stabil
Tidak stabil
Inspeksi:
Dinding abdomen bisa tampak normal

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

Jejas pada dinding abdomen


jejas pada dinding dada bagian bawah
Abdomen tampak distensi
Jejas dapat berupa : excoriasi, hematoma,
Memar kulit, lacerasi
Auskultasi:
Auskultasi regio toraks ( kiri)
Suara napas menurun, bisa terdengar bising usus
Auskultasi regio abdomen:
Bising usus bisa normal, menurun atau hilang.
Palpasi:
Nyeri tekan d: kuadran tertentu atau seluruh regio
Abdomen, Defans muskuler, Nyeri tekan lepas.
Perkusi
Perkusi regio toraks bagian bawah bisa normal atau redup
atau timpani
Fekak hati bisa positif atau negatif
Nyeri ketok dinding abdomen
Tes undulasi atau tes shifting dullness bisa positip, bisa
negatip
Colok dubur:
Bisa normal
Bisa ditemukan kelainan - kelainan :
Prostat yang melayang, laserasi pada dinding anorektum,
teraba fragmentasi tulang - tulang panggul, nyeri pada
perabaan di dinding anorektum, pada sarung tangan bisa
ditemukan tetesan atau noda darah, berarti positif ada cedera
pada saluran cerna
Disesuaikan dengan fasilitas UGD / Rumah Sakit setempat
Pilihan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi:
Foto toraks posisi AP, Foto toraks dengan pemasangan pipa
lambung,polos abdomen,
Foto pelvis
USG
Lavase peritoneum diagnostik ( PL),
IVP
Uretro-sistografi,
Foto kontras saluran cerna bagian atas,
CT scan abdomen,
Angiografi,
Indikasi USG sama dengan indikasi DPL:
Flasien trauma dengan :
Penurunan tingkat kesadaran
Perubahan / gangguan fungsi sensoris
Cedera pada organ - organ yang bertetangga
Pemeriksaan fisik abdomen yang meragukan.
Kemungkinan dokter putus kontak dengan pasien untuk
waktu yang cukup panjang.
Hasil DPL yang meragukan ( khusus untuk USG abdomen )
yaitu: Lekosit < 500/mm3, eritrosit < 100.000 / mm3

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

Konsultasi

Bila diperlukan Konsultasi Dokter Spesialis Bedah Toraks


Kardiovaskular

Rawat inap untuk tujuan observasi

Perawatan rumah
sakit
Terapi

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13

Lama Perawatan

14

Masa Pemulihan

15

Hasil

Tindakan resusitasi ABCD sesuai konsep ATLS kalau


kondisi pernapasan dan hemodinamika penderita tidak stabil.
Terapi konservatif:
Terapi konservatif dilakukan bila tidak ada indikasi
laparotomi segera, atau hasil pemeriksan penunjang tidak
mengungkapkan adanya cedera organ intra abdomen yang
nyata.
Terapi konservatif dengan cara observasi dapat dilakukan
sampai 2 x 24 jam.
Terapi operatif:
Laparotomi eksplorasi dengan insisi median
Indikasi laparotomi eksplorasi:
Tanda-tanda perdarahan intra peritoneal, yaitu adanya
syok hipovolemi dengan distensi abdomen yang progesif
Tanda-tanda peritonitis generalisata
Pneumoperitoneum pada foto toraks
Pada foto toraks tampak gambaran hernia diafragmnllki
(Ruptur Diafragma)
Cairan lavase keluar melalui pipa drenase rongga pleum
Pada tindakan DPL, keluar darah > 10 ml atau
cairan usus >
Hasil DPL positip berdasarkan analisa laboratoris, yaitu :
jumlah eritrosit > 100.000/mm3 cairan lavase
jumlah lekosit > 500/mm cairan lavase
amilase >20 IU/Lcairan lavase
Minimal Rumah Sakit Was C atau Rumah sakit yang ada
fasilitas pembedahan yang memadai
Perdarahan massif
Syok hipovolemik, yang bisa berakibat syok irreversibel
Koagulasi intra vaskuler yang diseminasi (DIC)
Koagulopathi, Hipotermia, Asidosis.
SIRS - sepsis, ARDS, Pneumonia
Pankreatitis pasca trauma, perdarahan saluran cerna,
Gangguang fungsi hati.
ARF (gagal ginjal akut)
Gagal multi organ
Perlu
Dokter spesialis Bedah Umum
DokterSpesialis Bedah (K) Bedah Digestif
Bervariasi, tergantung beratnya cedera
Bisa berlangsung antara 10 hari - 3 bulan
Juga bervariasi, tergantung beratnya cedera
Bisa membutuhkan waktu antara 2 minggu - 3 bulan
Cedera ringan : bisa sembuh tanpa gejala sisa
Cedera berat:
Kalau tidak ada penyulit, dapat disembuhkan dengan atau

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

16
17

Patologi
Otopsi

:
:

18

Prognosis

tanpa
kecacatan
Kalau ada penyulit, bisa sembuh dengan atau tanpa
kecacatan,
atau bisa meninggal dunia.
Cedera mengancam nyawa:
Bila timbul penyulit
Bisa sembuh dengan atau tanpa kecacatan, atau bisa
meninggal dunia
Angka kematian bisa sampai > 70%
Semua pasien trauma abdomen meninggal dunia perlu otopsi
klinik.
Tergantung beratnya cedera

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

6
7

:
:
:

S 36.0
CEDERA LIMPA
Penyebab : umumnya akibat trauma tumpul dan trauM
tembus abdomen
Klinis
Anamnesa: terdapat trauma tumpul pada perut kiri atas atau
trauma dada kiri bawah dengan atau tanpa fraktur kosta, luka
tusuk abdomen / totakal bawah
Nyeri pada perut kiri atas, nyeri dapat menjalar pada bahu
kiri
Tanda-tanda sjok karena perdarahan
Terdapat tanda-tanda cairan bebas dalam rongga perut
Trauma perut dengan cedera organ disertai perdarahan dalam
perut antara lain cedera lambung, cedera ginjal kiri, cidera
hepar kiri
Dilakukan DPL yang positif
Pemeriksaan USG perut atau CT Scan
Dokter Spesialis lain yang terkait bila diperlukan
Rawat inap
Dilakukan laparotomi eksplorasi sito dengan insisi pad.i (J
tengah atas.
Tindakan terhadap limpa:
Cedera linier - dilakukan penjahitan secara matras. Cedera
laserasi atau pedikel jika putus dilakukan pengangkatan
limpa (splenektomi) disertai tandur ulang jaringan limpa
kedalam
Bursa omentalis
Minimal Rumah Sakit kelas C
atau Rumah sakit yang ada fasilitas pembedahan yang
memadai
Shock, perdarahan yang profus
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Digestif
5 7 hari
1 - 2 minggu
Sembuh tanpa cacat
Tidak diperlukan
Diperlukan bila meninggal
Baik bila penanganan cepat dan tepat

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

6
7

:
:
:

S 36.0
TRAUMA HEPAR (CEDERA HEPAR)
Penyebabnya dapat berupa trauma tembus perut/ trauma
tajam, maupun trauma tumpul
Anamnesa, terdapat trauma tembus perut atas atau trauma
tumpul pada perut kanan atas atau toraks kanan bawah
Nyeri pada daerah hipokondrium kanan dengan atau tanpa
jejas (trauma tumpui)
Terdapat luka tembus perut (pada trauma tembus)
Shock dengan tanda - tanda perdarahan dan tanda-tanda
cairari bebas dalam rongga peritoneum
Trauma perut dengan cedera organ disertai perdarahan, antara
lain: cedera pankreas, cedera vaskuler, cedera ginjal
duodenum,
dan. limpa.
Diagnostik Peritoneal Lavage (DPL)
Ultrasonografi (USG) abdomen / CT Scan
Dokter spesialis terkait, bila diperlukan
Rawat inap
Segera (cito) laparotomi eksplorasi dengan insisi pada garis
tengah sebelah atas.
Macam tindakan pada cedera hepar :
Cedera linier : dilakukan penjahitan secara matras dengan
benang yang tebal (no 1,0 atau 2,0) yang dapat diserap
Laserasi segmental: dapat dilakukan reseksi secara wedge
atau
reseksi segmental dan ditutup dengan omentum
Serasi yang luas dengan perdarahan profus dilakukan
pemasangan tampon (DCS) yang sulit dihentikan dan dalam
2 x 24 jam dilakukan stabilisasi kemudian dilakukan
reeksplorasi laparotomi untuk terapi definitif.
DCS : Damage Control Surgery
Catatan :
Untuk mengatasi perdarahan yang hebat akibat saat
melakukan tindakan diatas, dapat dibantu dengan tindakan
pringle
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit Iain dengan fasilitas pembedahan yang memadai
Perdarahan hebat saat pembedahan
Perdarahan kembali pasca pembedahan
Sjok hipovolemik
Peritonitis kimiawi

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

10

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Hematobilia
TRIAS : Hipotermia Asidosis Gangguan Koagulopati
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Digestif
5 7 hari
1 - 2 minggu
Sembuh
Diperlukan bila meninggal

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

11

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

Tempat Pelayanan

19 - C 20
KARSINOMA REKTI
Klinis
Berak darah & lendir, berbau, gangguan kebiasaan BAB
Nyeri saat BAB, tenesmus pada kasus lanjut, ileus obstruktif
Colok dubur:
a. Teraba tumor berbenjol, rapuh, tukak, mudah berdarah
b. Ca.rektum letak rendah (2/3 bag. Bawah) umumnya dapat
tercapai dengan baik
c. Ca.rektum letak tinggi (1/3 bag. Atas) sering tak tercapai
dengan colok dubur
d. Ditentukan deskriptif tumor secara lengkap untuk
menentukan resektabilitas - batas atas - bawah sirkuler
mobilitas
e. Dilakukan biopsi dari tumor patologi
Disentri amoebia kolon
Divertikufosis kolon
Polip rektum
Haemorrhoid & TBC rectum
Penyakit usus inflamasi (IBD )
Proktokopi/rektoskopi, CTScan, Endo Ultrasonografi
Ba inloop kolon.
USG abdomen, foto toraks
Dokterspesialis Bedah ( K) Digestif
Rawat inap untuk persiapan operasi dan terapi
Ca. Rektum 12 cm diatas anus dilakukan reseksi anterior Ca.
Rektum kurang i2 cm dari anus : Tl
Terjangkau - diferensasi baik diiakukan eksisi lokal
Ca. Rektum 6-12 cm dari anus :
- Stage I
reseksi anterior rendah ( LAR )
- Stage II/IH terapi kombinasi multiple (MCT ) +
Reseksi anterior rendah
Ca. Rektum kurang 6 cm dari anus :
- Stage I diferensasi baik LAR / reseksi abdomino
perineal
(APR)
- Stage 11/111 MCT + LAR/APR
- Stage I diferensasi jelek APR
- Stage II/III MCT + APR
Minimal Rumah Sakit kelas C
atau Rumah sakit yang ada fasilitas pembedahan yang
memadai

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

12

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Perdarahan
Kegagalan anastomosis
Obstruksi ileus
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Digestif
7 14 hari
1 - 2 minggu
Sangat diperlukan
-

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

13

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

6
7

:
:

C16
KARSINOMA LAMBUNG
Klinis
Gejala anemia berat
Anoreksia, BB turun, muntah, hematemesis, rasa nyeri
epigastrium, massabdomen pace stadium lanjut
Tukak peptikum - gastritis
Perdarahan varices esofagus, sirhosis
Barium intake" Foto Esofagogastrodudenoskopi
Ultrasonografi, CT Scan . Endo USG
Dokter Spesialis lain yang terkait bila diperlukan Rawat inap
Rawat inap

Karssinoma gaster, resektabel


a. a. Ca.terletakdi antrum, dilakukan sub total gastrektomi
disertai
pengangkatan omentum secara en-block, serta diseksi
KGB.
b. Ca.terletak pada korpus bagian dan ftirdus / cardia
dilakukan
total gastrektomi diseksi kelenjar disertai splenektomi.
Rekonstruksi dengan Roux es Y-Esofagus jejunostomi
Catatan :
Terhadap tindakan diatas bila dirasakan kurang pengalaman
sangat dianjurkan untuk konsultasi pada spesialis bedah
K.Digestif. (RS tipeA/B)
Terhadap Ca.Gaster non resektabel, dilakukan jejunostomi
feeding (permanen)
Terapi adjuvant ------ chemoterapi
: Minimal Rumah Sakit kelas C
atau Rumah sakit yang ada fasilitas pembedahan yang
memadai
: Perdarahan
Kebocoran anastomosis - radang
: Perlu
: Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Digestif
: 5 7 hari
: 1 - 2 minggu
: (-)
: Sangat diperlukan
: : -

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

14

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

C18
KARSINOMA KOLON
Klinis
Perubahan kebiasaan buang air besar
Berak darah dan lendir
Anemia dan diare untuk karsinoma kolon kanan
Tanda-tanda obstruksi untuk kolon kiri pada fase lanjut
teraba tumor dan metastase hepar
Desenteri amoeba
Polip rektum
Divertikulosis kolon
Hemoroid & TBC rektum
Radang granulamatik usus
Barium inloop
Kolonoskopi
Endo ultrasonografi
USG/CTScan
Dokter Spesialis Bedah (K) Digestif
Rawat inap untuk persiapan operasi dan terapi
Kolon kanan
: hemikolektomi kanan
Kolon transversum : Reseksi dan Reanastomose
Kolon kiri
: Hemikolektomi kiri
Sigmoid
: Chemoterapi di bawah
Minimal Rumah Sakit kelas C
atau Rumah sakit yang ada fasilitas pembedahan yang
memadai
Perdarahan
Kegagalan anastomosis
Obstruksi ileus
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Digestif
7 14 hari
2 - 4 minggu
Perlu
Baik dalam stadium dini
-

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

15

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

C25
KARSINOMA PANKREAS
Klinis
Ikterus
Berat badan turun, gatal gatal
Kantong empcdu membesar (hydrops) (Courvosier)
Batu saluran empedu
Stenosis saluran empedu
Kolangio karsinoma
USG
ST Scan
ERCP
Dokter Spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat inap untuk perawatan operasi dan tindakan
Resektabel: Duodenopan kreatektomi cefalik
Inresektable : By pass bilio digestif
Minimal Rumah Sakit kelas C
atau Rumah sakit yang ada fasilitas pembedahan yang
memadai
Ikterus
Obstruksi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Digestif
7 14 hari
2 - 4 minggu
Perlu
Baik dalam stadium dini
-

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

16

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

6
7

:
:
:

C 50 - 51
RADANG GRANOLOMATIK USUS
(Inflammatory Bowel Disease - IBD)
Tukak kolitis (ulcerative colitis)
Timbulnya tukak superfisial dimulai pada rectum, dapat
menyumbat ke kolon (K51)
Deitis terminalis (Crohn disease)
Radang segmental yang mengenai seluruh lapis usus
terutama pada ileum terminalis (K 50)
Ulcerative colitis nyeri abdomen diare, berak darah seperti
anemia.
Ileitis terminalis nyeri abdomen diare, anemia, malnutrisi
Gastroenteritis
Irritable Bowel Syndrome (K 50)
Kolitis
Karsinoma kolon
Barium enema foto
Kolbnoskopi
Dokter Spesialis (K) Digestif
Rawat inap untuk persiapan operasi dan terapi
Obat-obat
: Sulfa salazin
Indikasi Bedah : Penyulit (+)
Perdarahan profus
Resiko keganasan
Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan fasilitas pembedahan yang memadai
Perdarahan
Fistula enterokutan
feus obstruksi
Keganasan
Fistula perianal
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Digestif
7-14hari
1-2 minggu
Sangat diperlukan
Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

17

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

4
5

:
:
:
:

Dokter Spesialis lain yang terkait bila diperlukan


Rawat Inap / rawat jalan

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

C 40 - 41
HERNIA INGUINALIS LATERALIS / MEDIAI IS
Daerah lipat paha
Benjolan pada lipat paha, dapat keluar masuk.
Dapat berupa hernia inguinalis lateralis,
hernia inguinalis me-dialis (diatas lig. Inguinale),
hernia femoralis dibawah lig.
Inguinale
Klinis dapat reponibilis, ireponibilis, inkarserata
Hidrokel varikokel, Andesensus testis
Laboratorium rutin

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Operasi segera bila inkarserata (Bassini)


Operasi terencana untuk hernia reponibilis dan
hemia ireponibilis (Bassini)
Hernioraphy menurut Bassini /shouldice atau
lebih baik dengan memakai
Prolene Mesh (Lichtenstein)
Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan fasilitas pembedahan yang memadai
Perdarahan, hematoma
Untuk inkarserata: nekrosis usus,
sepsis asidosis residif
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K)Digestif
7-14hari
1-2 minggu
Sembuh total
-

6
7

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

18

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

K 35 - 37
APENDISITIS
Dapat berupa:
Apendisitis akut
Periapendikuler infiltrat
Periapendikuler abses
Apendisitis perforata yang disertai peritonitis lokal atau
Peritonitis umum
Klinis
Nyeri ke McBurney defance muscular
Panas badan meningkat. kadang disertai muntah
Masa -), pada periapendikuler infiltrat teraba masa yang
nyeri
tekan pada perut kanan bawah, defens muskuler (+)
Nyeri tekan (+), colok dubur nyeri jam 09.00
Beda temperatur rektal dengan axiler lebih dari 1 derajat C
Divertikulitis, limpa denitis
Keradangan organ kandungan
KET, torsio testis kanan
Gastroenteritis - colitis
Laboratorium rutin

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi

:
:

Dokter Spesialis lain yang terkait bila diperlukan


Rawat Inap

Apendisitis kronis
: direncanakan Apendektomi elektif
Apendisitis akut
: direncanakan apendektomi segera
Periapendikuler abses : insisi, drainase
Periapendikuler infiltrat : pertama dirawat konservasi
medikamentosa yang adekwat, bila masa mengecil ukuran
cm atau menghilang, dilakukari apendektomi dengan inil
paramedian. Apendisitis perforata disertai tanda-tanda
peritonitis lokal dilakukan apendektomi dengan insisi
gradiron atau pall median.
Bila ditemukan tanda-tanda peritonitis umum dilakuk
laparotomi dengan insisi median
Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan fasilitas pembedahan yang memadai
Periapendikuler abses/ infiltrat
Perforasi terjadi peritonitis

Bedah
9

Tempat Pelayanan

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

19

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Periapendikuler infiltrat
Perlekatan (ileus obstruktif)
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Digestif
7-14hari
1-2 minggu
Sembuh total / cacat (-)
-

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

20

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

:
:

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

K80
KHOLELITHIASIS
Kelainan ini dapat disertai keradangan kronis atau akut
(kholesistitis kronis/ kholesistitis akut)
Kolik perut kanan atas, kadang menjalar ke belakang dapat
disertai radang akut kolesistitis atau penyumbatan
kholestasis Pada pemeriksaan, nyeri tekan pada
hipokondrium
kanan, terdapattanda peritonitis lokal (defansmuskuler (+)),
pertanda Murphy's positif
Proses keradangan pada organ-organ di daerah
hipokondrium, hepatitis, abses hepar, pankreatitis,
kholangitis, ulkus peptikum
Foto polos perut
USG abdomen, hepato bilier
Dokter spesialis terkait, bila diperlukan
Rawat Inap
Khoielitiasis disertai gejala direncanakan kholesistektomi
secara elektif
Khoielitiasis disertai radang akut, sebelum ada :
Pelekatan (infiltrat) dapat segera dibedah
Bila sudah ada masa dibari antibiotika sampai radang akut
reda, baru dilakukan kolesistektomi
Catatan : bagi yang mampu dan mempunyai pengalaman
dapat dilakukan sito kholesistektomi
Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan fasilitas pembedahan yang memadai
Perdarahan, hematoma
Untuk inkarserata: nekrosis usus,
sepsis asidosis residif
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Digestif
7-14hari
1-2 minggu
Sembuh total
-

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

21

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

K83
KOLESTASIS (SURGIKAL)
Dikenal 2 macam :
Kolestasis yang medikal, umumnya kelainan terletak intra
hepatal. Contoh : intra hepatik - serosis hepatic - hepatitis
Kolestasis, umumnya kelainan terletakekstra hepatikai.
Contoh: kelainan duktus kholedokhus karena batu, sikatrik,
stenosis pada papilla vatem / tumor pada kaput pankreas
Terdapat warna ikterik (kuning) pada sclera, kulit
rasa gatal pada tubuh. Tinja yang akholis. Kolik bilier pada
chololitiasis. Pemeriksaan fungsi hati : bilirubin direk
meningkat dari alkalifosfatase dan gamaglukoronil tranferase
meningkat
Batu empedu & koledokus, karsinoma kaput, pankreas,
kolangio karsinoma
USG, hepatobilier, foto gastroduodenal
Pada USG : dapat ditemukan batu pada saluran bilier,
adanya tumor pada kaput pankreas, adanya pelebaran
dari saluran empedu intra maupun ekstra hepatal.
Pada foto gastro duodenal dengan memakai kontras
ditemukan bentukan angka-3 terbaiik pada proyeksi
duodenum (Ca. caaput pankreas)
CT Scan - Endo USG - MRCP
Dokter spesialis terkait, bila diperlukan
Rawat jalan dan rawat inap
Tindakan pembedahan dapat bersifat: Kolelitiasis:
- Kolesistektomi
- Explorasi Karsinoma kaput pancreas
- Resektabel --- duodeno pankreatektomi cephalic
non resektabel - bypass billo digestif
Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan fasilitas pembedahan yang memadai
Kebocoran/ kegagalan penjahitan atau anastomose
Perdarahan durante/ pasca pembedahan
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K)Digestif
7-14hari
1-2 minggu
Perbaikan klinik/ paliatif, penyembuhan total
Biopsi lever, biopsi tumor
-

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

22

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

I 84
HEMOROID
Dikenal: Hemoroid interna dan ekstema
Keluar darah segar saat BAB, terutama saat feses akan keluar
atau setelah feses keluar.
Keluar benjolan lewat anus dapat masuk atau tidak
dapat masuk (Grade I sd. IV)

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

Rasa nyeri pada dubur, kadang terasa gatal pada dubur


Karsinoma rekti, polip rekti, prolaps rekti, keradangan GI tract
(Proktitis)
Proktoskopi, colok dubur

Konsultasi

Dokter Spesialis lain yang terkait bila diperlukan

Perawatan rumah
sakit

rawat inap

Terapi Bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

Stadium I & II tanpa atau dengan perdarahan : rawat jalan,


medikamentosa, pengaturan diet skleroterapi, ligasi ruber band
Stadium HI & IV: MRS, ligasi ruber band, operasi
haemoroidektorni
Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan fasilitas pembedahan yang memadai
Perdarahan, anemia grafts

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K)Digestif
Dokter Bedah TKV atau (K) Vaskular
5-10hari
1-2 minggu
Sembuh total, cacat fisik (-)
Diperlukan
-

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

23

1
2
3
4

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis
Diagnosa banding

:
:
:
:

Pemeriksaan
penunjang

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit

:
:

8
9

Terapi Bedah
Tempat Pelayanan

:
:

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

K 60
FISTULA PERIANAL
Dimuiai dengan radang septik, timbulnya abses dan fistula
Radang spesifik, (TBC)
Penyakit ileitis terminates
Hydradenitis
Sinus pilonidalis
Keganasan kolon rektum
Sondase
Penyuntikan kontras / perhydrol pada lubang fistel
Dokter Spesialis Bedah (K) Digestif
Rawat inap untuk persiapan operasi dan terapi
Fistulotomi kalau periu bertahap ( setor)
Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan fasilitas pembedahan yang memadai
Inkontinensi alvi.
Stenosis ani
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K)Digestif
5-10hari
1-2 minggu
Perlu
Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

24

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

Diagnosa banding

:
:
:

Dokter Spesialis lain yang terkait bila diperlukan


Rawat inap

8
9

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah
Tempat Pelayanan

K65
PERITONITIS UMUM
Keradangan peritoneum dapat karena kuman ( septic ) atau
kimiawi ( kemikal) peritonitis septic
Misalnya pada apendisitis perforata, perforasi usus
akibat tipus abdominalis, sedang peritonitis kimiawi
misalnya perforasi lambung - pankreatitis.
Nyeri tekan perut pada seluruh lapangan perut ( defance
muscular)
Riwayat trauma, riwayat infeksi
Pengukuran' temperatur rektal dan temperatur axilar dengan
selisih lebih 1 derajat C
Pankreatitis
Peritonitis septik
Peritonitis kimiawi
DPL, foto polos abdomen berbaring / diafragma

:
:

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Laksanakan operasi segera


Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan fasilitas pembedahan yang memadai
Shoclvsepsis, periekatan usus
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K)Digestif
7 - 14hari
1 - 2 minggu
Sembuh total, cacat (-)
Diperlukan untuk trauma
-

6
7

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

25

II.
BEDAH ANAK

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

26

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

Q 39.0
ATRESIA ESOFAGUS DAN
MALFORMASITRAKHEO ESOFAGUS
Tanda dan gejala:
Bayi tidak bisa menelan iudah segera setelah lahir,
tampnl saliva berlebihan dan memeriukan penghisapan.
Bisa terjad aspirasi, batuk, takhipnea dan hipoksia.
Pasase pipa nasogastrii F 10. gagal mencapai lambung
Foto polos leher, dada dan abdomen
1. Pada atresia esofagus dengan fistula trakheo esofagus
tampak pipa nasogastrik menggulung di kantong atas
esofagus dan udara di lambung dan usus
2. Pada atresia esofagus murni tanpa fistula dari atresll
esofagus dengan fistula trakheo esofagus proksimal,
tidak tampak adanya udara di lambung dan usus
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat inap
Penatalaksanaan pra bedah :
Menentukan rencana terapi dengan mengidentitifikasi resiko
berdasarkan status fisiologi bayi. Syarat repair primer tanpa
gastrostomi:
a. Auskultasi paru tidak ada kelainan
b. X - foto paru tidak ada kelainan
c. Tidak ada kelainan jantung
d. Ra 02 > 60 mm Hg (udara kamar)
Pembedahan : Pada atresia esofagus dengan fistula trakeo
esofagus dilakukan anastomosis esofagus ujung ke ujung
melalui torakotomi kanan transpleural atau ekstrapleural
Minimal rumah sakit kelas-B dengan fasilitas NICU
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai (fasilitas bedah anak & NICU )
a. Disfagia
b. Refluks gastroesofagus
c. Striktur anastomosis
d. Kebocoran anastomosis
e. Fistula trakheo esofagus berulang
f. Trakheomalasia, obstruksi jalan nafas,
penekanan vaskuler dan apnea reflektoris
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Bedah Anak

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

27

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

21 - 30 hari (tanpa penyulit)


4 - 8 minggu (tanpa penyulit)
Sembuh, sembuh dengan cacat atau meninggal
Dubious atau jelek

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

28

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit

:
:

Q40.0
STENOSIS PILORIK HIPERTROFIK
Gejala:
Muntah proyektil, mulai pada umur 2-3 minggu.
Muntah tidak pernah berwarna hijau
Tanda:
Teraba " tumor" di hipokondrium kanan atau di daerah
epigastrium (olive)
Tampakgelombang peristalisis lambung di abdomen dari kiri
atas ke ke kanan bawah
Spasme pilorus
Refluks gastro-esofagus
Konfirmasi diagnosis jika tumor tidak teraba:
1. Ultrasound : Tebal otot pylorus > 4 mm
Panjang kanal pilorus > 17 mm
2. Foto barium meal: String sign. Shoulder sign
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan
Rawat inap

Terapi Bedah

Filoromiotomi ( Prosedur Fredet -Ramsted )

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Minimal rumah sakit kelas-B dengan atau tanpa fasilitas


NICI)
Rumah sakit lain dengan fasilitas pembedahan anak
Perforasi mukosa Pilorus, paling sering
di pyloro duodenal junction
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Bedah Anak
3 - 4 hari
1 minggu
Sembuh dengan follow - up
Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

29

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit

:
:

Terapi Bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Q41
ATRESIA DAN STENOSIS DUODENUM
1. Polihidramnion bulan ke 7 - 8 kehamilan
2. USG antenatal: Dilatasi lambung dan duodenum
proksimal
Muntah cairan jernih atau bercampur empedu beberapa
jam setelah lahir. Distensi abdomen di sekitar
epigastrium, d'stensi menghilangsetelah muntah.
Defekasi bisa-normal
Stenosis : Web/ windshock
Atresia : Pankreas anulare
Foto polos abdomen posisi tegak dengan kontras udara
1. Stenosis : Tampak udara kecil - kecil tersebar di distal
duodenum
2. Atresia : Gambaran double bubble ( udara di gaster
dan duodenum)
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat inap
Penatalaksanaan pra-bedah : Dekompresi lambung,
koreksi cairan dan elektrolit, menyingkirkan kemungkinan
adanya kelainan penyerta yang lain.
Pembedahan : Diamond shaped side to side duodeno
duodenostomy. Bila perlu dilakukan pula Ladd's Procedure
Minimal rumah sakit kelas-B dengan atau tanpa fasilitas NICU
Kebocoran anastomosis dan sepsis lokal
Perforasi mukosa Pilorus, paling sering
di pyloro duodenal junction
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Bedah Anak
3 - 20 hari
2 - 3 minggu
Sembuh dengan follow - up
Survival rate 90%, mortalitas sering disebabkan kelainan
jantung dan kelainan kromosom

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

30

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

9
10
11
12

Tempat Pelayanan
Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Q41
ATRESIA DAN STENOSIS YEYUNO - ILEAL
Hidramnion bisa diketahui terutama pada trimester ke III
kehamilan
Semakin tinggi letak sumbatan, semakin awal terjadinya
muntah, abdomen tidak distensi, mekonium normal.
Semakin distal letak sumbatan, distensi abdomen lebili
mencolok, muntah terjadi kemudian, mekonium berwarna
abu-abu
Atresia kolon
Volvulus
Ileus mekonium
Foto polos abdomen pada atresia yeyunal tampak beberapa
gelembung udara dengan garis permukaan cairan di dalam
lumen usus.
Foto barium enema pada atresia ileum tampak
mikrokolon (unused)
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat inap
Renatalaksanaan pra-bedah: Resusitasi cairan dan elektrolit,
dekompresi dengan pipa nasogostrik/ orogastrik untuk
mencegah desakan pada diafragma, mencegah muntah dan
aspirasi.
Pembedahan : tergantung lokasi dan tipe atresia
Minimal rumah sakit kelas-B dengarffasilitas NICU
Kebocoran anastomosis dan sepsis local Short Bowel Syndrome
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Bedah Anak
14 - 44 hari
3 - 6 minggu
Sembuh dengan follow - up
Mortality rate 11,2%

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

31

ICD

Q 79.0

Diagnosis

HERNIA DIAFRAGMATIKA KONGENITAL

Kriteria diagnosis

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

Tanda dan gejala: Takhipnea, retraksi dinding dadn, ptititl,


sianosis, abdomen skafoid, mediastinum bergeser beil-iwrninn
dengan lesi di diafragma, auskultasi terdengar suara usus dl
hemitoraks yang bersangkutan. Suara nafasmenurunkmjliim.i di
hemitoraks yang bersangkutan
Congenital cystic adenomatoid malformation dari paru
Branchiogenic cyst
Sarkoma paru
X-Foto toraks
Bayangan usus berisi udara di hemitoraks bersangkutan,
jantung dan mediastinum bergeser beriawanan dari tempat lesi,
paru yang hipoplastik tampak di bagian medial.
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat inap

9
10
11
12

Tempat Pelayanan
Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Penatalaksanaan pra-bedah :
a. Stabilisasi dengan kontrol hipertensi pulmonal
b. Pemberian cairan dan elektrolit
c. Monitor CVP
d. Monitor produksi urin
e. Pasang pipa nasogastrik
f. Pemeriksaan echocardiography
Pembedahan :
Approach trans abdominal melalui irisan subcostal.
Reposisi organ viscra, eksisi kantong hernia, menutup defek.
Defek kecil : Tutup primer, defek besar
Tutup dengan prosthetic patch
Minimal rumah sakit kelas-B dengarffasilitas NICU
Kebocoran anastomosis dan sepsis local Short Bowel Syndrome
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Bedah Anak
14 hari
2 minggu
Sembuh atau sembuh dengan kecacatan
Dubious

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

32

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

:
:
:
:

Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)


Rawat Inap segera

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi

Q 79.2
OMFALOKEL
Bayi baru lahir. organ abdomen keluar melalui defekdi
Sentra umbilikus, tertutup membran amnion di bagian luar
dan lapisan peritoneum di bagian dalam
Gatroskisis.
X foto toraks, ekhokardiografi

Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

Umum:
Pasang pipa nasogastrik
Mencegah hipotermi
Antibiotika profilaksis
Merawat selaput omfalokel dengan pembalut basah dan
untuk mencegah infeksi dan trauma mekanik
Khusus:
Omfalokel dengan ukuran defek 8-10 cm, tampak hepm usus:
Diberikan bahan topikal untuk mempercepat epiteliaslisasi
(silver sulfadiazine ), defek ditutup di kemudian hari
Omfalokel dengan defek berukuran kecil dan sedang dilakukan
repair langsung, bila defek tidak mungkin ditutup primer
dilakukan
penutupan bertahap dengan silastic silo.
Minimal rumah sakit kelas -B dengan fasilitas NICU.
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
Kelainan jantung bawaan, refluks gastro-esofagus
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Bedah Anak
60 hari
8 minggu
Sembuh dengan cacat atau meninggal

16
17
18

Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:

Dubious

6
7

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

33

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

:
:
:
:

Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)


Rawat Inap

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi

Q79.3
GASTROSKISIS
Defek dinding abdomen lateral kanan dari umbilicus
Isi abdomen keluar melalui defek ( < 4 cm ), t
idak tertutup peritoneum, usus tebal dan memendek
oleh karena kontak cairan amnion in utero.
Omfalokel pecah.
X foto toraks, ekhokardiografi

Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Perawatan bisa segera dimulai segera setelah lahir


a. Melindungi usus dengan pembungkus steril untuk
mencegah kontaminasi, hipotermi. dan kehilangan
cairan tubuh.
b. Resusilasi cairan
c. Antibiotika profilaksis
d. Mempertahankan suhu tubuh
Prinsip :
Pembedahan : Reduksi organ visera ke dalam rongqa abdomen
tanpa meningkatkan tekanan intra abdominal berlebihan (tidak
lebih 20 mm Hg)
a. Repair primer
b. Repair bertahap
Minimal rumah sakit kelas-B dengan fasilitas NICU
Rumah sakit Iain yang mempunyai sarana pembedahan anak
Ileus berkepanjangan
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Bedah Anak
30 - 60 hari
6 - 8 minggu
Sembuh atau Meninggal
Dubious

6
7

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

34

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

:
:
:
:

Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)


Rawat Inap

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi

Q79.5
GRANULOMA/ FISTULA UMBILIKALIS
Duktus omfalornesenterikus persisten: Keluar cairan fekal darl
usus atau cairan mukus dari sinus.
Urakhus persisten: Keluar cairan berupa urin
Fblip umbilikus, berhubungan dengan kista atau sinus
Granuloma umbilikus : Keluar cairan semipurulen tanpa urin
atau feses
Omfalitis : Umbilikus kemerahan. edem, dan nyeri. Cepat
berkembang menjadi selulitis dinding abdomen
Omfalitis
Sinogram, USG, CT Scan

Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

1,2, dan 3 : Eksisi


4: Kauterisasi/lar. Nitras Argenti
5 : Insisi, drenase, antibiotika
Minimal rumah sakit kelas-B dengan fasilitas NICU
Rumah sakit Iain yang mempunyai sarana pembedahan anak
Perdarahan, infeksi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Bedah Anak
1 - 3 hari
1 minggu
Sembuh
Baik

6
7

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

35

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

Persiapan pra-bedah:
a. Irigasi kolon, dekompresi lambung
b. Resusitasi cairan
c. Antibiotika
Pembedahan:
a. Kolostomi
b. Definitif: Prosedur tank terobos.
Minimal rumah sakit kelas-B
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan anak
Kebocoran anastomosis
Striktur
Enterokolitis
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Bedah Anak
14 hari
12 - 24 minggu
Sembuh atau sembuh dengan cacat

16
17
18

Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:

Baik

Q 43.1
HIRSCHSPRUNG'S DISEASE.
Tanda dan gejala tampak sejak lahir:
a. Obstruksi akut usus : Distensi masif abdomen, muntah
kehijauan, retensi cairan di usus, hipovolemi dan asidosis.
b. Konstipasi berganti dengan diare dan distensi abdomen
c. Tanda - tanda enterokolitis : Distensi abdomen, diare,
muntah, panas, toksik
d. Tidak ada keinginan untuk defekasi
e. Tidak ada soiling
f. Malnutrisi
Konstipasi
Atresia ileum
Mekonium ileus
Sindroma sumbatan mekonium
Biopsi hisap dinding rectum: Tidak ditemukan
sel ganglion usus
Barium enema: Tampak transition zone
Manometri anorektal: Kegagalan relaksasi dari
sfingter ani internus pads saat rektum distensi
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat Inap

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

36

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

:
:
:
:

Dokter spesialis terkait


Rawat Inap

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi

Q56.1
INTUSSUSSEPSI
Klinis
Bayi/anak sehat, gizi cukup, tersering usia 5 - 9 bulan. 50%
kasus di bawah usia 1 tahun.
Trias intussussepsi:
1. Sakit kolik hilang timbul
2. Teraba masa, biasanya di abdomen kuadran kanan atas
3. Colok dubur didapatkan lendir darah
Radiobgis barium enema tampak cupping dan coil spring
Disentri amuba
Ultrasound abdomen

9
10
11
12

Tempat Pelayanan
Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

1. Terapi Non operatif:


Manfaat barium enema (reduksi hidrostatik) terutama pada
bayi
dengan intussussepsi yang idiopatik. Tidak bermanl.ial
mereduksi intussussepsi oleh karena lead point dnn
intussussepsi ileo-ileal.
Kontraindikasi berupa syok, sepsis, dilatasi masif usus halus
peritonitis, perforasi dan gangren usus.
Hidrostatik reduksi dengan barium enema merupakan
prosedur yang potensial membawa resiko, berupa perforasi
usus. Selain prosedur dilakukan, perlu kehadiran ahli bedah
dan kamar yang sudah siap.
Bayi dalam keadaan stabil, hidi cukup, terpasang infus.
Tanda keberhasilan reduksi jika didapatkan refluks barium
H ileum distal, klinis bayi rnembaik, diikuti defekasi barlufl
spontan dan masa di abdomen menghilang.
2. Terapi operatif
Indikasi : Tanda-tanda ppritonitis, syok, kegagalan reduksi
hidrostatik.
persiapan pra-bedah : Resusitasi, pasang prpa nascgasbfl
antibiotika.
Tehnik : Reduksi manual, observasi viabilitas usus dan lead
point Reseksi dan anastomosis dilakukan jika reduksi
manual gagal atau sudah ada gangren dan perforasi
Minimal RS tipe C Kebocoran anastomosis
Kebococran anastomosis
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Bedah Anak
7 - 14 hari
2 minggu
Sembuh dengan follow up
Baik

6
7

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

37

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

:
:

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi

Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13

Lama Perawatan

14

Masa Pemulihan

15
16
17
18

Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:

6
7

:
:
:

Q 42
MALFORMaSI - ANORECTAL
Bayi lahir tidak punya anus.
Letak tinggi:
Tanpa fistula: pada invertogram jarak antara ujung rektum
dengan anal dimple >lcm.
Dengan fistula, fistula rekto-vesika, fistula Rekto uretra,
fistula rekto vagina, fistula rektovestibular
Letak rendah :
Anus membranaseus
Tanpa fistula : pada invertogram jarak antara rektum
dan anal dimple <1 cm.
Dengan fistula: fist. Anovertibular, fist.anoperineal,
Bucket Handle.
Malformasi Anorektal yang lain
Foto invertogram (Wangenstein Rice), untuk yg tanpa fistel
pemeriksaan urine ( pada laki - laki)
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat Inap segera
Darurat
Letak tinggi: kolostomi
Letak rendah: anoplasti
Definitif:
Posterosagital Anorektoplasti dan tutup kolostomi 3 bulalj
kemudian
Minimal rumah sakit kelas - C ( kolostomi)
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedah
memadai (definitif)
Inkontinensia
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Bedah Anak
Kolostomi 7 hari
PSARP 7 hari
Kolostomi 1 hari
PSARP 24 hari
Anus yang kontinensia
Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

38

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

K 56.1
INVAGINASI USUS
Trias
- Invaginasi :
- Kolik usus
- Teraba mass
- Berak darah lendir dapat disertai / tanpa obstruksi usus
Foto:
- usus kecil dilatasi
- ada air fluid level
- usus besar kosong
bayi berumur 3 bulan sampai 2 tahun
Tumor, colitis amuba, obstruksi usus lain
Foto polos Abdomen.
Barium in loop sekaligus sbg terapi untuk yg baru
K/p USG ( bila tidak kembung)
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat Inap segera
Eksplorasi laparatomi: Reposisi
- bila nekrose reseksi buat stoma
- mengeliminir" lead point
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit iain yang mempunyai sarana
pembedahan memadai
Perdarahan
"Leakage anastomose" ; sepsis
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum Berpengalaman
Dokter Spesialis Bedah (K) Bedah Anak
Dokter Spesialis Bedah (K) Digestif
17 hari
17 hari
Sembuh atau meninggal
Kondisi penderita

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

39

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

P 77
NECROTIZING ENTEROCOLITIS

Kriteria diagnosis

4
5

:
:

8
9

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi
Tempat Pelayanan

Bayi mulai umur 3 hari dengan riwayat hipoksia sistemik


(mis. lahir prematur, persalinan dengan tindakan atau
bayi dengan pneumonia berat) atau hypoksia local mis
kembung
Ada tanda-tanda:
sindroma usus paralitik - sepsis.
foto polos abdomen ada gambaran dilatasi semua usui
nnenetap pada sen foto berikutnya, ada gambaran gas padu
vena porta atau dinding usus (pneumointestinalis); celluliUm
dinding abdomen
Sepsis
Foto polos Abdomen.
Laboratorium:darah tepi thrombositopenia.
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat Inap segera

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

6
7

:
:
:
:

Exsplorasi Laparotomi reseksi usus iliostomi.


Minimal rumah sakit kelas-B
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana
pembedahan pada neonatus
Sepsis
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum Berpengalaman
Dokter Spesialis Bedah (K) Bedah Anak
Tergantung kondisi penderita
1- 3 hari
Prognosa jelek
Perlu
Tidak perlu
Tergantung kondisi penderita

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

40

III.
BEDAH ONKOLOGI

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

41

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

:
:

8
9

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

13
14
15
16

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi

17
18
19

Otopsi
Prognosis
Tindak lanjut

D 16
TUMOR JINAK TULANG
1. Keluhan: tumor, nyeri tulang, timbul patah tulang
2. Fisik: tumor pada tulang konsistensi keras, berbatas tegas
atau ada patah tulang patologis
3. Radiologi: X-foto tulang; tampak densitas tulang
bertambah (osteoblastik) atau berkurang (osteolitik)
atau campuran.
4. Alkali fosfatase naik
1. Tumor ganas tulang 2. Kiste tulang
3. Osteomyeliti
Diagnosis
1. Radiologi: X-foto tulang, Ct-scan,
2. Biopsi: FN A, biopsi tulang, pemeriksaan spesimenoper;
Staging: - (Hanya untuk tumor ganas)
Bila periu kepada dokter spesialis yang terkait
Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan

:
:

1. Reseksi tulang
2. Kuretage
3. Cryosurgery
Minimal R.S. kelas-C.
R.S. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai
: Penyakit
Terapi
: Perlu
: Dokter Spesiaiis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Onkologi.
Dokter Spesialis Bedah Ortopedi
: 1 minggu
: 4 12 minggu
: Bebas tumor, sembuh
: Perlu untuk konfirmasi diagnosis Jenis histologi:
1. Tumor jinak tulang
1). Osteoma,
2). Osteobastoma
3). Kondroma,
4). Kondroblastoma
5). Adamantinoma
6). Fibroma
7). Hemangioma
8). Limfangioma
9). Giant cell tumor
Tumor non neoplasma
1). Kiste tulang
2). Fibrous displasia
: : Baik, tumor hilang / sembuh
: -

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

42

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

D 23
TUMOR JINAK KULIT &
TUMOR NON NEOPLASTIK KULIT
Neoplasma jinak kulit, D24
Terdapat lesi pada kulit berbentuk plaque, papel, nodus, atau
tumor yang berbatas tegas tanpa ada infiltrasi atau tanda metastasis
1. Papiloma
a. Berbentuk tumor papiler, menonjol diatas kulit,
permukaan kasar
b. Berwama seperti kulit normal disekitarnya
2. Epithelioma
a. Berbentuk nodus atau plaque kecil, didalam kulit
b. Berwama seperti kulit normal disekitarnya
3. Nevus pigmentosus
Plague atau nodus berwarna hitam
4. Kiste dermoid
a. Kista berisi sebum, subkutan, pada alis, garis tengah atau
brachial cleft
b. Timbul sejak lahir atau waktu anak-anak
5. Dermatofibroma
a. Berupa nodus kecil, keras, di kulit dan subkuSs
b. Berwarna coklat, menyerupai keloid
Tumor non neoplasma kulit
1. Verruca vulgaris
( B07)
1) Berupa tumor papiler kecil dikulit, dengan permukaan
yang kasar
2) Warnanya saperti kulit normal disekitarnya
2. Keratosis
(L82-L86)
1) Keratosis seborrhoicum,
( L82)
a. Lesi berupa plaque, nodule atau tumor berwarna
coklat atau kehitaman, sering multipel
b. Lokasi terutama pada kulit muka atau leher dan
tubuh
2) Keratosis Solaris = keratosis senilis (L57.0)
a. Bentuknya mirip dengan keratosis seborrhoincum
b. Umumnya terdapat pada orang tua
c. Lokast terutama pada muka, leher dan bagian kulil
yang terbuka
3) Keratoacanthoma
(L85.8)
a. Tumor papiler dengan sentral nekrose.
b. Dapat membesar dengan cepat dan mengalami
regresi spontan
c. Ada yang menganggap sebagai suatu karsinoma
kulit
keganasan rendah
4) Kiste epidermoid
(L72.0)
a). Tumor kisteus subkutan, berisi sebum, berdindim
epidermis
b). Lokasi umumnya di tangan atau kaki

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

43

4
5
6
7
8

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

:
:
:
:
:

Non Bedah
9

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi

:
:
:
:

5) Kiste sebaceus = Atheroma


(L72.1)
a) Tumor kisteus di kulit dan subkutan, berisi sebum I
b) Rada kulit diatas kiste terdapat puncta, berwarna
hitam, yaitu lubang kelenjar sebaceus yang bunlu
oleh sebum yang mengeras
c) Tumor mobil dan jaringan subkutan dibawahnya I
6) Molluscum contagiosum
(B08.1)
a) Nodus kecil di kulit, berwarna keputihen
b) Bila dipencet keluar inti yang keras
7) Granuloma
(L92.3)
a) Berupa nodus lunak di kulit, konsistensi
lunak mudah berdarah,
(L92.3)
b) Dapat berupa reaksi benda asing dibawalim
seperti benang
(T81.8)
Tumor ganas kulit
Diagnosis: Pemeriksaan patologi spesimen operasi
Staging : - (hanya untuk tumor ganas)
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait
Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan
1. Eksisi tumor,
2. elektrokoagulasi,
3. desikasi,
4. kuretage,
5. Dermabrasi
1. Olesi nitras argenti, tinctura podofili, trichlor asetate,
2. salep FU, salep keratolitik
Minimal R.S. kelss-C. R.S. lain yg mempunyai sarana
pembedahan yang memadai
Penyakit umumnya tidak ada
Terapi perdarahan infeksi, timbul keloid
Perlu
Dokter Spesiaiis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Onkologi.
Dokter Spesialis Bedah Kepala leher
Poliklinik
1 minggu
Bebas tumor, sembuh
Perlu untuk konfirmasi diagnosis
Jenis histologi:
Tumor jinak kulit
1) Nevus intradermal
2) Nevus junctional nevus
3) Compound nevus
4) Papiloma
5) Epithelioma
6) Adenoma
7) Keratoacanthoma
8) Syringoma

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

44

17
18
19

Otopsi
Prognosis
Tindak lanjut

:
:
:

9) Hydradenoma
10) Trichoepithelioma
Tumor non neoplasma kulit
1) seborrhoic keratosis
2) verruca vulgaris
3) molluscum contagiosum
Baik
3 bulan 6 bulan kemudian lepas

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

45

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

D 17 sd D21
TUMOR JINAK JARINGAN LUNAK &
TUMOR NON NEOPLASTIK JARINGAN LUNAK
Tumor jinak jaringan lunak
1. Lipoma, D17
Tumor berbentuk bulat, oval atau lobuler, tumbuh pelan
konsistensi lunak, tidak nyeri, singel atau multipel, subkutan
2. Hemangioma, D18
1) Hemangioma kapilare
Berbentuk plaque atau nodus pada kulit, berwarna
merah, yang terdapat sejak lahir atau timbul waktu aiia
anak
2) Hemangioma cavernosum
a. Tumor di kulit atau subkutan, seperti spons,
berwarna
kebiruan, sejak lahir atau timbul waktu bayi
b. Tumor dapat tumbuh dan membesar dengan cepat
tetapi dapat mengecil atau menghilang spontan
umumnya sebelum umur 5-7 tahun
3) Hemangioma arteriale (hemangioma racemosul cirrsoid
hemangioma)
a. Tumor berbentuk panjang, berbelok-belok,
berdenyut karena ada shunt antara arteri dan vena,
bayi atau kecil
b. Lokasi umumnya di subkutan di kepala
3. Limfangioma, D18
1) Limfangioma kapilare (Hmfangioma simpleks)
Berbentuk vesikel atau kutil kecil-kecil multipel, cairan
limfe, dengan kulit berwarna normal, timbul lahir atau
waktu kecil
2) limfangioma cavernosum
Berbentuk tumor atau berupa pembesaran organ, bibir
(makrocheili), lidah (makroglosi), dsb., dengan diatas
tumor berwarna normal, konsistensi seperti
3) Limfangioma kistikum (Higroma)
a. Berupa kista, berisi cairan limfe, dengan kulit d
tumor warnanya normal, timbul sejak lahir waktu
bayi
b. Lokasi umumnya di leher (higroma coli) at axilla
(higroma axillare).
4. Fibroma,
D21
1) Berbentuk tumor padat, berbatas tidak tegas, konsis-tensi
ada yang keras (fibroma durum), ada yang lunak

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

46

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

:
:

(fibroma molle) tergantung pada banyaknya jaringan


ikat pada tumor.
2) Lokasi subkutan, fascia, septum intermuskulare
3) Tumor desmoid ialah fibroma yang terdapat pada dinding abdomen pada fascia muskulus tektus atau obliquus
abdominis, Klinis kelihatannya sebagai tumor ganas,
tetapi patologis sebagai tumor jinak
5. Neurofibroma, D36.1
1) Berbentuk tumor bulat panjang, sering multipel
sepanjang jalan syaraf perifir, berasal dari bungkus
syaraf.
2) Dapat timbul nyeri atau paraestehia
Tumor non neoplasma
1. Neurofibromatosis von Recklinghausen, Q85.0
1) Suatu penyakit kongenital herediter, yang terdapat sejak
lahir atau baru manifest setelah dewasa, yang tumbuh
progresif dengan pelan
2) Berbentuk nodus, tumor atau polipoid, dikulit, subkutis
atau subfascial, multipel diseluruh tubuh, dengan
ukuran bervariasi, konsistensi lunak
3) Yang khas ialah terdapat cafe aux lait, suatu plaque
berwarna coklat susu pada kulit
4) Bila belakangan ada tumor yang tumbuh dengan cepat,
konsistensi berubah menjadi padat. harus dicurigai
mengalami transformasi ganas, menjadi neurogenic
sarcoma.
2. Ganglion, M67.4
1) Tumor kisteus dari bungkus tendon atau sendi, yang
berisi cairan seperti gudir.
2) Lokasi umumnya di subkutan di tangan (ganglion
karpi), kaki (ganglion tarsi) atau di poplitea. (ganglion
poplitea)
1). Tumor ganas jaringan lunak
1. Radiologis: X-foto, CT-san, MR1 pada tempat tumor
2. Patologis : FNA, biopsi, pemeriksaan spesimen operasi
Staging
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait.
Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan.
1. Eksisi tumor
2. Cryosurgery
3. Elektro cauter
4. Abrasi / dermobrasi

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

47

Non Bedah

1. Hemangioma: radiotrapi, kortikosteroid, tatouage


2. Ganglion : kortikosteroid intra kistik

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi

:
:
:
:

17
18
19

Otopsi
Prognosis
Tindak lanjut

:
:
:

Minimal R.S. kelas-C.


R.S. lain yg mempunyai sarana pembedahan ygmemadai
1. Penyakit: umumnya tidak ada
2. Terapi: perdarahan, infeksi Perlu.
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Onkologi.
Dokter Spesialis Bedah Kepala-leher
3 hari
1 minggu
Bebas tumor, sembuh
Perlu untuk konfirmasi diagnosis
1. Hemangioma
2. Lipoma
3. Fibroma
4. Benign fibrous histiocytoin
5. Neurofibroma
6. Rhabdomyoma
7. Synovioma
8. Leiomyoma
9. Gangion aponeutikum
10. Neurofibromatosis
Baik
12 Minggu, 24 Minggu kemudian lepas

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

48

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7

:
:

8
9

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi

:
:
:
:

17
18
19

Otopsi
Prognosis
Tindak lanjut

:
:
:

:
:

D 29
TUMOR JINAK GENITALIA LAKI &
TUMOR NON NEOPLASMA GENETALIA LAKI
Keluhan: Benjolan kedl di prostat, testis, penis, atau kulit
genitalia
Rsik: tumor kecil, umumnya < 2 cm; berbatas tegas, padat atau
kisteus, di prostat ( colok dubur), testis, epididymis, penis atau
skrotum
1. Tumor ganas 2. Hidrokel testis 3. Spematokel
Diagnosis
1. FNA, biopsi testis, pemeriksaan spesimen operasi
2. Patologi: biopsi eksisi, pemeriksaan spesimen operasi
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait.
Rawat jalan atau rawat inap untuk diagnosis dan tindakan
Eksisi tumor, TUR
Minimal RS. kelas-C.
R.S. lain yg mempunyai sarana pembedahan yg memadai
Penyakit: Terapi : perdarahan, infeksi
Perlu
Dokter Spesialis .Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Onkologi.
Dokter Spesialis Bedah Urologi
3hari
1 minggu
Bebas rumor / sembuh
Perlu untuk konfirmasi diagnosis
Jenis histologi :
1. Neoplasma
1). Prostat adenoma, fibroma, myoma
2). Testis & epididimis: teratoma matur, Sertoli sel tumor,
karsinoid, tumor Brenner
2 Tumor non neoplama:
1). Prostat: hyperplasia
2). Testis & epididimis : granuloma, spermatokel, hidrokel
Funikuli
3). Penis & skrotum: kiste epidermis, atheroma
Baik
-

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

49

ICD

2
3

Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

Non Bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14

Lama Perawatan
Masa Pemulihan

:
:

Teratoma
1 sacoccocygeal
2 troperitoneum
3 Mediatinum
4 Ovarium
5 Testis
6 Supraseller

Ganas
C76.3
C48.0
C38.3
C56.9
C62
C71.9

In situ
D09.7
D07.3
D07.6
-

Jinak
D36.7
D20.0
D15.2
D27
D29.2
D33.2

Tidak tentu
D48.7
D48.3
D38.3
D39.1
D40.1
D43.2

TERATOMA
1. Keluhan : Tumor pada tempat-tempat yang khas untuk lokasi
teratoma, seperti di sacroccygeal, testis, ovarium, dfl
2. Fisik:
1) Berbentuk tumor ada yang padat ada yang kistik yang
terdapat tempat-tempat yang khas untuk lokasi sunl
teratoma
2) Manifest sejak lahir, atau setelah dewasa. Makin dewasa
manifestnya, makin besar kemungkinan keganasan
3) Radiologi: X-foto plos/CT-scan, MRI: Nampak ada
klasifikai atau bentukan seperti tulang, gigi, dsb.
4) Eksplorasi operasi: Tumor berkapsul yang tegas (jinak)
atau tidak tegas (ganas), mengandung kulit, rambut, tulang,
usus dsb.
1. Tumor jinak atau ganas jaringan lunak
2. Tumor jinak atau ganas organ yang Bersangkutan
Diagnosis
1. Radiologis: X-foto, CT-scan, MRI pada tempat tumor
2. Fitologis : FNA, biopsi, pemeriksaan spesimen operasi
3. Eksplorasi operasi: untuk melihat keadaan tumor
Staging, hanya untuk tumor ganas
T : Klinis, imaging, patologi
N : Klinis, imaging, FNA
M : Klinis, imaging, patologi
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait.
Rawat jalan atau rawat inap untuk diagnosis dan tindakan
Teratoma jinak: eksisi tumor
Teratoma ganas: eksisi luas atau organtektomi
Radioterapi
Minimal R.S. kelas-C.
R.S. Iain yg mempunyai sarana pembedahan yg memadai
Penyakit: erosi atau destruksi tulang disekitamya
Terapi
1). Operasi: perdarahan, infeksi
2). Radioterapi: radionekrose
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah
Onkologi. Dokter Spesialis Bedah (K) Toraks.
7 hari
1 bulan

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

50

15

Hasil

16

Patologi

17

Otopsi

18

Prognosis

19

Tindak lanjut

Stadium dini : bebas kanker


Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang
St. sangat lanjut tidak sembuh, paliasi
Perlu untuk konfirmasi diagnosis
Jenis histologi:
1. Teratoma ganas
2. Teratoma jinak
3. Teratoma sifat tidak jelas
Perlu untuk:
konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak
jelas.
Stadium dini : baik
Stadium lanjut : dubius
St sangat lanjut: jelek
0-3 tahun: setiap 3 bulan sekali
3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali
>5 tahun : setiap 1 tahun sekali

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

51

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

C64-C79.4-C22.0-C22.2
KANKERPEDIATRI
1. TUMOR WILLEM
2. NEUROBLASTOMA.
3. HEPATOBLASTOMA, 4. RETINOBLASTOMA,
5. TERATOMA
1. Tumor Willem (nephroblastoma), C64
1) Tumor ginjal pada anak-anak, umumnya pada umur
dibawah 5 tahun
2) Ada trias gejala: tumor abdomen, nyeri dan hemahi
mungkin pula disertai anemi, hipertensi atau panas
3) Radiologi: pada IVP, ada filling defek di pyelum, USG
abdomen terlihat tumor dari ginjal
4) Laboratorium: hematuria, anemia,
2. Neuroblastoma adrenal, C79.
1) Tumor ganassyaraf atau ganglion perifir, dapat di leher
toraks, abdomen, tetapi umumnya di kelenjar adrai pada
umur dibawah 5 tahun, dapat mengalami spontan pada
bayi kurang dari 1 tahun
2) Pada penyitraan: X-foto polos, terlihat ada kalsifii dalam
tumor, Pada USG. Tumor berasal dari ginjal, IVP terlihat
pyelum normal
3) Laboratorium: dalam urine terdapat kenaikan koiamine,
VMA= vahyl mandelic acid, HVA = homo vandelic
acid.
3. Hepatoblastoma, C22.2
1) Keluhan: sakit perut, mual muntah, panas, anoi. berat
badan menurun
2) Tumor pada hati pada anak, umumnya dibawah tahun.
3) Radiologi: USG abdomen / CT-scan: nampak turn pada
hati
4) Laboratorium: AFP naik, gangguan fungsi hati, ikterus
4. Retinoblastoma, C69.2
1) Tumor mata pada anak-anak, umumnya umur 1-3 tahun
2) Terdapat Ieukocoria, releks papil putih, strabismus
Flexner-Wintersteiner rosette pada retina
3) Tumor dapat uni atau bilateral
5. Teratoma, C76.2
1) Terdapat tumor di mediastinum, retroperitoneum,
ovarium .testis, hati, dsb, yang terdlri dari campuran
derivat jaringan epithelial, endothelial dan mesun chymal
(tulang, kulit, rambut, gigi, usus, dsb).
2) Tumor dapat bersifat ganas, in situ, sifat tidak tentu atau
jinak
3) Radiologic Pada X-foto polos; tampak ada tulang atau
kalsifikasi dalam tumor Rada USG, CT-san atau MRI
nampak ada tulang atau macam-macam komponen
jaringan dalam tumor
1) Tumor jinak,
2) Limfoma maligna
Diagnosis
1. Radiologi: IMR USG abdomen, CT-scan, MRI

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

52

6
7
8

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

:
:
:

Non Bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12
13
14
15

Informed consent
Tenaga Standar
Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:
:
:

16

Patologi

17

Otopsi

18

Prognosis

19

Tindak lanjut

2. Laboratorium: darah, urine, fungsi hati, fungsi ginjal, AFR


Katekolamine
3. Sitologi: FNA, sitologi
4. Patologi, jenis histologi, derajat
Staging
T : Minis, imaging, patologi
N : Minis, imaging, patologi
M : Minis, imaging, patologi
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait.
Rawat jalan atau rawat inap untuk diagnosis dan tindakan
1. Eksisi luas tumor. Pada reseksi hepar 85% jaringan hepar
dapat direseksi dan akan mengalami regenerasi sempurna
dalam. 1-3 bulan.
2. Organtektomi: Rada tumor Willem: nefrektomi, pada
ovarium: ovariektomi, pada testis: orchidektomi, pada mata:
eksentrasio bulbi.
1. Radioterapi pre atau pasca bedah, atau radioterapi primer bila
tumor inoperable
2. Kemoterapi: dengan vincristine, actinomycin-D,
doxorubicin, cyclophospha-mide, dsb.
Minimal RS. kelas-C.R.S. lain yg mempunyai sarana
pembedahan yg memadai
1. Penyakit: perdarahan, infeksi, paraneoplastik sindrom
2. Terapi: perdarahan, infeksi, seroma, gangguan fungsi organ
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
10 14 hari
12 minggu
Stadium dini : bebas kanker
Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang
St sangat lanjut ttdak sambuh, paliasi
Perlu untuk konnrmasi diagnosis
Jenis histologi:
1. Ginjal
: nephroblastoma
2. Adrenal : neuroblastoma, ganglioneuroma,
3. Hepar
: hepatoblastoma, hepatocelular carcinoma
4. Mata
: retinoblastoma
5. Teratoma : malignant teratoma, benign teratoma, terato
carcinoma
Perlu untuk: konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang
sebabnya tidak jelas.
1. Stadium dini : baik
2. Stadium lanjut : dubius
3. St sangat lanjut jelek 0-3 tahun:
0-3 tahun: setiap 3 bulan sekali
3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali
>5 tahun : setiap 1 tahun sekali

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

53

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah
Non Bedah

:
:

C81 sd C85
LIMFOMA MALIGNA
1. Hodgkin Disease = HD
C81
2. Non Hodgkin Lymphoma = NHL
1) Foflicular (nodular) NHL, C82
2) Diffuse NHL,
C83
3. Peripherial and cutaneous T-cell lymphona, C84
4. Other and unspecified of non Hodgkin lymphoma, C85
1. Keluhan:
1) Pembesaran kelenjar limfesuperfisial seperli di leher,
ketiak, inguinal, atau benjolan di tonsil atau faring, atau
keluhan karena ada benjolan di perut
2) Fanas badan, penurunan berat badan atau berkeringat
malam yang tidak jelas sebabnya
2. Fisik: limfadenopati singel atau multiple, di salah satu atau
lebih regio kelenjar limfe superfisial, sepcrti di leher, ketiak,
inguinal, tonsil atau lingkaran Waldeyer
3. Radiobgi: USG abdomen, CT-scan abdomen, MRI untuk
terlihat adanya pembesaran kelenjar limfe
4. Fada laparotomi karena Ueus ditemukan adanya agregat
jaringan limfe atau kelenjar limfe yang menimbulkan
obstruksi ileus itu
1. Tumor jinak kelenjar limfe
2. Limphadenitis tuberkolosa non spesifik
3. Limphadenitis non spesifik :
Diagnosis
1. Epidemiologi: umur, faktor risiko
2. Radiologic X-foto toraks,x-foto tulang, USG abdomen, Ctscan, MRI,
3. Laboratorium : darah lengkap, fungsi hati, fungsi ginjal,
LDH, albumen, globulin, SGPT, SGPT, Alkali fosfatase,
sumsumtulang
4. Fatologi: biopsi kelenjar limfe, tulang, sumsum tulang
terbuka, atau dengan VC
5. Eksplorasi: laparoskopi, laparotomi, torakoskopi
6. Ratologis : Jenis histologi, pada HD = Hodgkin Disease,
ditemukan sel Reed Sternberg, pada NHL = Non Hodgkin
Limfoma[tidak.
7. Immunohistokimia: Sel-T atau sel-B
Staging
1. Winis : cS = clinical staging
2. Patologi: pS = pathological staging
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait.
Rawat jalan atau rawat inap untuk diagnosis dan tindakan
Laparotomi, jika timbul ileus atau peritonitis
1. Radioterapi:
1) 40 Gy, bila limfoma masih lokal pada satu regio
2) Pada sindroma vena cava superior
2. Kemoterapi: dengan
1). AVBD = adriamycin, bleomycin, vinblastine dan carbazine
2). MOPP = mechorethamine, Oncovin, prednison dan

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

54

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16

Patologi

17

Otopsi

18

Prognosis

19

Tindak lanjut

procarbazine
Minimal RS. kelas-C.
R.S. lain yg mempunyai sarana pembedahan yg memadai
1. Penyakit: ileus obstruksi, peritonitis, anemia, sindom vena cava
superior
2. Terapi:
1). Operasi : Perdarahan, infeksi,
2). Radtoterapi: Radiodermatitis, Radionekrose, Lemi.
3). Kemoterapi: Netropenia, Mual / muntah/tfopecia,
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Onkologi.
Dokter Spesialis Bedah Kardiovaskular Toraks.
24 hari
4 - 8 minggu
1. Stadium dini :bebaskanker
2. Stadium lanjut : DPS atau OS diperpanjang
St. sangat lanjut: tidak sembuh, paliasi
Perlu ntuk konfismasi diagnosis
Jenis histologi
1. Non Hodgkin lymphoma
1) Follicular (Nodular)
2) Diffuse
2. Hodgkin Disease
1) Lymphocytic predominace
2) Nodular sclerosis
3) Mixed cellularity
4) Lymphocytic depletion
5) Other hodgkins disease
6) Hodgkins unspectified
7) Mycosis dungoides
3. Plasmacytoma
4. Reticulosarcoma
Perlu untuk konfirmasi diagnosis dan kasus kematia yang
sebabnya tidak jelas
1. Stadium dini : baik
2. Stadium lanjut : dubius
3. St sangat lanjut jelek 0-3 tahun:
0-3 tahun: setiap 3 bulan sekali
3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali
>5 tahun : setiap 1 tahun sekali

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

55

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

:
:

8
9

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16

Patologi

:
:

R 59
LIMFADENOPATI
Ada pembesaran kelenjar limfe salah satu atau lebih di regio
leher, ketiak, inguinal yang dapat:
1. Singel atau multipel
2. Lepas atau melekat satu dengan yang lainnya membentuk
konglomerat
3. Dicurigai ganas:
1). Primer, apabila kelenjar membesar progresif, tanpa radang,
padat, terfiksasi, atau tidak sembuh dengan antibiotika atau
obat anti TBC.
2). Sekunden bila ditemukan ada tumor primernya
1. Limphadenitiskhronika, baikspesifikmaupun non spesil
2. Limfoma maligna (Hodgkin atau non Hodgkin)
3. Reaktif hiperplasia
4. Metastasis kanker dari tempat lain, ICD.C77 atau C80
Diagnosis
1. Radiologi: tergantung dari lokasi limfadenopati itu untuk
mencari tumor primernya
2. Patologi: FNA, biopsi eksisi,
3. Laboratorium: test immunokxjis (tbc, toksoplasma)
Staging, hanya untuk limfoma maligna atau metastase kanker
T : cari letak tumor primernya, Minis dan imaging
N : limadenopati adalah metastase regional atau metastase
jauhnya
M :cari lokasi metastase jauhnya, klinis dan imaging
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait.
Rawat jalan atau rawat inap untuk diagnosis dan tindakan
Tergantung dari penyebabnya
Minimal RS. kelas-C.
R.S. lain yg mempunyai sarana pembedahan yg memadai
Penyakit: Terapi : Perlu
Dokter Spesialis .Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Onkologi.
Dokter Spesialis Bedah Kepala - leher
tergantung dari sebabnya
tergantung dari sebabnya
Tergantung dari sebabnya
1. Tuberkulosa
:sembuh
2. Reaktif hiperplasia : sembuh
3. Limfoma maligna : bebas kanker
Metastase kanker : sukar sembuh
Perlu untuk konfirmasi diagnosis
Jenis histologi:
1. Limfadenitis tuberkulosa
2. Reaktif hiperplasia kelenjar limfe
3. Limfoma maligna

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

56

17
18

Otopsi
Prognosis

:
:

19

Tindak lanjut

4. Metastase kanker.
Dengan mengetahui jenis histologinya mungkin dapat
ditemukan tumor primemya (ICD. C77 atau ICD
topografinya) dan mungkin pula tidak ditemukan (diagnosis
menjadi MUO = Metastase of Unknown Origen atau CUP =
Cancer of Unknown Primary, ICD. C80)
1. Non neoplasma : baik
2. Neoplasma : tergantung dari stadiumnya
Tergantung dari penyababnya

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

57

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

:
:

Non Bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11

Informed consent

C 40 C41
KANKER TULANG
1. Keluhan: tumor, nyeri tulang, timbul patah tulang, paraplegia
2. Rsik: tumor pada tulang dengan invas keluar tulang, patah
tulang patologis, paraplegia,
3. Radiologi: X-foto tulang, CT-scan, MRl: ada pembentuk
tulang baru (Codman's trangle), ada "sunrays phenomen' pada
osteogenic sarcoma, atau phenomena " union peel = kulit
bawang" pada Ewing sarcoma, ada invasi tuma keluar tulang,
faktura patologis
1. Tumor jinak tulang
2. Kiste tulang
3. Osteomyelitis
Diagnosis
1. Epidemiologi: umur, iokasi tumor
2. Radiologi: X-foto tulang, Ct-scan, MRl, Scantigrafi tuUi
3. Laboratirium: darah, urine, fungsi hati, fungsi ginji
fosfatase alkali
4. Fatologi: Biopsi: FNA, biopsi tulang, pemeriksaan
spesimen (jenis histologi, derajat diferensiasi sel)
Staging
T : Klinis, imaging, patologi spesimen operasi
N: klinis, imaging
M :Klinis, imaging (X-foto thoraks, USG abdomen, CT-scan.
MRI scintigrafi tulang), patologi
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait.
Rawat jalan atau rawat inap untuk diagnosis dan tindakan
1. Ekstemitas:
1). reseksi tulang + transplantasi tulang atau protese t (limb
preserving operation)
2). amtupasi/disartikulasi
2. Kepala.leher, tubuh:
Reseksi radikal tulang / reseksi dinding toraks/ +
rekonstruksi
1. Radioterapi pra atau pasca bedah, atau radioterapl ft
2. Kemoteraphdgkombinasi cyclophosphamide, doxow
ifophosphamide, cisplatin, methotrexare
Minimal RS. kelas-C.
R.S. lain yg mempunyai sarana pembedahan yg memadai
1. Penyakit: fraktur, paraplegia
2. Terapi
1). Operasi : a). Perdarahan,
b). Hematoma,
c). Infeksi,
d). Cacat
2). Radioterapi : a). Radiodermatitis, b). Radionekrose,
c). Lemas,
d). fibrosis
3). Chemoterapi : a). Netropenia,
b). Mual / muntah,
c). Alopecia
Perlu

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

58

12

Tenaga Standar

Dokter Spesialis Bedah Onkologi.


Dokter Spesialis Bedah Ortopedi

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16

Patologi

17

Otopsi

18

Prognosis

19

Tindak lanjut

7 14 hari
4 - 12 minggu
1. Stadium dini
: bebas kanker
2. Stadium ianjut : DFS atau OS diperpanjang
3. sangat lanjut
: tidak sembuh, paliasi
Perlu untuk konfirmasi diagnosis
Jenis histologi:
1. Membentuk tulang atau kartilago
1). Osteogenic sarc,
2). Juxtacortical
osteosarc,
3). Chondrosarc,
4). Juxtra
chondrosarcoma,
5). Mesenchymal chondrosarcoma,
2. Lisis tulang
1). Giant cell tumor
2). Ewing sarcoma,
3. Lain-lain
1). Hemangioepithelioma,
2). Hemangiopericytoma,
3). Angiosarcoma,
4). Fibrosarcoma,
5). Liposarcoma,
6). Malignant
mesenchymoma
7). Undifferentiated sarc.,
8). Chordoma,
9). Adamantinoma dari tulang panjang,
Perlu untuk:
konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak
jelas.
1. Stadium dini :baik
2. Stadium lanjut : dubius
3. Stadium sangat lanjut: jelek
0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali
3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali
> 5 tahun : setiap 1 tahun sekali

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

59

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

:
:

Non Bedah
9

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

C62
KANKER TESTIS
1. Keluhan: Testis membesar, tumor testis, nyeri, terasa berai
2. Fisik: Tumor membesar, lokal atau difuse konsistensi padal
keras, kanan dan kiri tidak sama
3. Radiologi:
1). USG : testis bentuk irreguler, densitas heterogen
2). Lab : AFP naik > 15 ng/ml, HCG naik > 5 mIU/ml,.
LDH> 1-1.5 xN (normal)
1. Tumor jinak
2. Hidrokel testis
3. Orchitis
Diagnosis
1. Radiol.: X-foto toraks, USG abdomen, CT-scan abdomen
2. Laboratorium.: darah, urine, BUN, AFR HCG
3. Patologi: FNA, biopsi testis, pemeriksaanspesimen operasi
penis histologi, derajat diferensiasi)
Staging
T: Klinis, imaging, (USG testis), petanda tumor
N: Klinis, imaging
M: Klinis, imaging )X-foto toraks, USG abdomen, CT-scan,
MRI)
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait.
Rawat jalan atau rawat inap untuk diagnosis dan tindakan
Untuk Non seminoma
1. Lokal :
1). Orchidektomi total
2). Orchidektomi radikal
2. Nodus regional: diseksi kelenjar limfe retroperitoneal
Untuk Seminoma atau non seminoma
1. Radioterapi: 25-30 Gy
2. Kemoterapi: etoposide, cisplatin
Minimal RS. kelas-C.
R.S. lain yg mempunyai sarana pembedahan yg memadai
Penyakit: invasi ke kulit skrotum, vas deferen
Terapi
1). Operasi: perdarahan, infeksi
2). Radioterapi : mual, muntah, diarhoea, badan len nafsu
makan turun
3). Chemotcrapi: mual, muntah, diarhoea, badan lemes,
nafsu makan turun leukopeni, alopesia, dsb
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Onkologi.
Dokter Spesialis Bedah Urologi
7 14 hari
12 - 24 minggu
1. Stadium dini : bebas kanker o

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

60

2. Stadium lanjut : DPS atau OS diperpanjang


3. Stadium sangat lanjut: tidak sembuh, paliasi
16

Patologi

17

Otopsi

18

Prognosis

19

Tindak lanjut

Perlu untuk konfirmasi diagnosis


Jenis histologi:
1. Seminoma
2. Non seminoma
1). Embryonal care.
2). Choriocarcinoma
3). Teratoma maligna
4). Embryonal rhabdomyosarc,
5). York sac tumor
6). Leydig cell tumor
7). Granulosa cell tumor
Perlu untuk:
konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak
jelas
1. Stadium dini :baik
2. Stadium lanjut : baik
3. St sangat lanjut: dubius
0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali
3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali
> 5 tahun : setiap 1 tahun sekali

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

61

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

:
:

Non Bedah

C00 C06
KANKER RONGGA MULUT
Bibir COO, Pangkal lidah C01, Lidah C02,
Gusi C03, Dasar mulut C04, Palatum COS.
Rongga mulut lainnya C06
1. Keluhan : ada tumor atau ulkus, mudah berdarah, sering nyeri,
di mulut
2. Fisik:
1) Ada iesi di mulut dapat berupa indurasi, nodus, tumni
atau ulkus, yang mudah berdarah, sering nyeri, mulul
berbau, tidak menghilang dengan pengobatan konsei vatif
selama 2-4 minggu dengan tanda-tanda infiltrani
2) Ada pembesaran kelenjar limfe submandibula atau lelm
3) Ada lesi pra kanker seperti leukoplakia, eritroplasi Querat
4) Ada faktor predisposisi seperti merokok, nginang,
peminum alkohol, kelainan gigi, higiene mulut
3. Radiologi: Rada x-foto maksila / mandibula atau panoramik,
mungkin terlihat ada destruksi tulang
1. Tumor jinak mulut
2. Ulkus kronik benigna
3. Granuloma.
4. Stomatistis
Diagnosis
1. Radiologi: X-foto rahang, panoramik, CT-scan, MRI
2. Patologi:FNAbiopsi(imisi/eksisi/cakot), Spesimen operasi
histologi, derajat diferensiasi sel)
Staging
T: Klinis, imaging, patologi
N : Klinis, Imaging, patologi
M : Klinis, imaging (X-foto toraks, USG abdomen, CT-scan
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait.
Rawat jalan atau rawat inap untuk diagnosis dan tindakan
1. Tumorprimer
1) Eksisi luas bibir + rekonstruksi bibir
2) Eksisi luas Iesi trans-oral, defek mukosaditutup dengan
Thiersch pada tumor Tis atau T1
3) Operasi khusus:
a. Reseksi palatum/ mandibula/ pipi + rekonstruksi
b. Glosektomi total
c. Operasi commando dan rekontstruksi pada T2 ke atas
Pasca bedah : dipasang pipa nasogastik selama 7 hari dan
diberikan perawatan higiena mulut yang baik
2. Nodus regional : RND = Radical Neck Dissection
1. Radioterapi : untuk kasus yang inoperabel
2. Kemoterapi : dengan obat
1) tunggal : a. Cisplatin, b. Flourouracil c. Endoxan
2) Multifarma
a. VBM : Vincristin, Bleomycin, Methotexate

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

62

b. FAM : Flouroutacil, Adriamycin, Mitomycin-C


9

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

16

Patologi

17

Otopsi

18

Prognosis

19

Tindak lanjut

Minimal RS. kelas-C.


R.S. lain yg mempunyai sarana pembedahan yg memadai
: Penyakit:
1) Nyeri
2) Sukar makan dan minum
3) Trismus
4) Sukar nafas
Terapi
1) Operasi: perdarahan, Kiloma, Fitula orokutan, infeksi, sinus
dari implant, kawat/ plat skrup, nekrose flap
2) Radioterapi : mulut kerin, mukositis, infeksi, fibrosis
3) Chemotcrapi: Neutropenia, mukositis, infeksi, toksis
: Perlu
: Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis
Bedah Onkologi. Dokter Spesialis
Bedah Kepala-Ieher
: 7 14 hari
: 12 - 8 minggu
: 1. Stadium dini : bebas kanker
2. Stadium lanjut : DPS atau OS diperpanjang
3. Stadium sangat lanjut: tidak sembuh, paliasi
: Perlu untuk konfirmasi diagnosis
Jenis histologi
1. 1. Epithelial
1) Karsinoma in situ
2) Squamaos cell carcinoma
3) Adenocarcinoma carcinoma
4) Adenoid cystic carcinoma
5) Plemorphic carcinoma
6) Malignant melanoma
2. Mesenchymal
1) Fibrosarcoma
3) Rhabdomyosarcoma
2) Leiomyosarcoma,
4) Mal. hemangiopericytoma
: Perlu untuk:
konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak
jelas
: 1. Stadium dini :baik
2. Stadium lanjut : Dubius
3. St sangat lanjut: jelek
: 0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali
3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali
> 5 tahun : setiap 1 tahun sekali

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

63

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

:
:

Non Bedah

1. Radioterapi 40 gy, brachiterapi dengan implantasi irridium


2. Kemoterapi : bleomycin, methotrexate, cisplatin
: Minimal RS. kelas-C.
R.S. lain yg mempunyai sarana pembedahan yang memadai
: 1. Penyakit: kehilangan penis
2. Terapi : perdarahan, struktur uretra, infeksi
: Perlu
: Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Onkologi.
Dokter Spesialis Bedah Urologi
: 7 hari
: 4 - 8 minggu
: 1. Stadium dini : bebas kanker
2. Stadium lanjut : DPS atau OS diperpanjang
3. Stadium sangat lanjut: tidak sembuh, paliasi
: Perlu untuk konfirmasi diagnosis
Jenis histologi
2. 1. Squamous cell carcinoma
3. 2. Adenocarcinoma

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

16

Patologi

C60
KANKER PENIS
1. Keluhan : benjolan di penis
2. Fisik:
1) Lesi berupa plaque merah, nodus, tumor eksofitik, erosi
atau ulkus di glans atau preputium
2) Pembesaran kelenjar limfe inguinal
1. Tumor jinak
2. Condyloma
Diagnosis
1. Biopsi lesi, pemeriksaan spesimen operasi, jenis histologi,
derajat diferensiasi sel
2. Radiologi : X-foto toraks, USG abdomen, CT-abdomen
3. Laborat : darah, urine
Staging
T: Klinis, imaging
N : Klinis, Imaging (limfografi bipedal)
M : Klinis, imaging (X-foto toraks, USG abdomen, CT-scan
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait.
Rawat jalan atau rawat inap untuk diagnosis dan tindakan
1. Panektomi parsial atau total
2. Diseksi kelenjar limfe ileo-inguinal

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

64

17

Otopsi

18

Prognosis

19

Tindak lanjut

Perlu untuk:
konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak
jelas
1. Stadium dini :baik
2. Stadium lanjut : Dubius
3. St sangat lanjut: jelek
0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali
3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali
> 5 tahun : setiap 1 tahun sekali

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

65

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

:
:

C50
KANKER PAYUDARA
1. Keluhan : tumor atau borok yang mudah berdarah pada
payudara, erosi perdarahan atau keluar cairan abnormal
puting susu
2. Fisi : pada payudara terdapat tumor pada keras, batas tidak
jelas, bentuk tidak teratur, umumnya pada permulaan tidak
nyeri, tumbuh progresif, dan ada tanda-tanda infiltrasi atau
metastase
Tanda infiltrasi : mobilitas tumor terbatas, melekat kulit /
muskulus pektoralis / dinding dada, eritema kulit diatas
tumor, peau dorange, satelit nodule, ulserasi
Tanda metastase : regional ada pembesaran kelenjar limfe
ketiak / mammaria interna atau ada tumor di organ jauh
3. Radiologi :
a. Mammografi ada tumor batas tidak tegas, bentuk
irreguler, stellate, kalsifikasi mikro yang tidak teratur
b. USG mamma ada tumor berbatas tidak tegas, hiper
echoic
1. Tumor jinak mama
2. Tumor philodes
3. Displasia mamma
4. Mastitis khronika
5. Sarcoma jaringan lunak
6. Limfoma maligna
Diagnosis : Triple diagnostik
1. Klinis
2. Mammografi atau USG mamma
3. FNA
Juga VC / PC dan pemeriksaan patologi spesimen operasi
Staging
T: Klinis, imaging, patologi ( jenis histologi, derajat diferensiasi)
N : Klinis, imaging, biopsi sentinal node
M : Klinis, imaging (X foto toraks, USG abdomen, bone scan,
CT-scan, MRI
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait.
Rawat jalan atau rawat inap untuk diagnosis dan tindakan
1. Standard :
Masektomi radical modifikasi (patey / madden)
2. Alternatiif
1) Mastektomi radikal standard radical (Halstedt)
2) BCT/S (Breast Conserving Treatment / Surgery)

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

66

a. Tumorektomi / kwadrantektomi / segmentektomi


diseksi axilla + radioterapi pasca bedah
b. rekonstruksi mamma (myokutaneus latisimus
dorsi flap)
3) Pada tumor yang kanker mamma non palpable atau
kanker insitu diseksi axilla atau dari biopsi sentinal node
3. Mastektomi radikal modifikasi pada kanker mamma lanjut
lokal setelah mendapat kemoterapi adjuvant
Non Bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16

Patologi

1. Radioterapi : pra atau pasca operasi atau primer


2. Kemoterapi : adjuvant / neoadjuvant atau primer dengan :
CMF = cyclophosphamide, methotrexate, flourouracil
CAF = cyclophosphamide, adriamycin, flourouracil
3. Hormonterapi : pada kasus reseptor hormon positif dengan
ovariektomi, tamoxifen, arimex, GnRH analogue
4. Terapi paliatif dan bantuan
Minimal RS. kelas-C.
R.S. lain yg mempunyai sarana pembedahan yg memadai
1. Penyakit: kehilangan penis
2. Terapi : perdarahan, struktur uretra, infeksi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Onkologi.
Dokter Spesialis Bedah Urologi
7 hari
4 - 8 minggu
1. Stadium dini : bebas kanker
2. Stadium lanjut : DPS atau OS diperpanjang
3. Stadium sangat lanjut: tidak sembuh, paliasi
Perlu untuk konfirmasi diagnosis
Epithelial
1. Non infiltrating ductal atau lobular carcinoma
2. Infiltrating ductal atau infiltrating lobular carcinoma
3. Varian khusus
1) Medulary carc
2) Papulary carc
3) Cribriform carc
4) Mucinous carc
5) Scirrhus
6) Pagets disease
7) Squamous cell carc
8) Undifferentiated carc
Mesemchymal
1. Fibrosrcoma

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

67

2. Liposarcoma
3. Mal. Fibrous hisiocytoma

17

Otopsi

18

Prognosis

19

Tindak lanjut

Campuran
1. Mal tumor phyllodes
2. Carcinosarcoma
Perlu untuk:
konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang sebabnya tidak
jelas
1. Stadium dini :baik
2. Stadium lanjut : Dubius
3. St sangat lanjut: jelek
0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali
3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali
> 5 tahun : setiap 1 tahun sekali

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

68

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit

:
:

Terapi Bedah

D 24
TUMOR JINAK PAYUDARA
1) Fiboadenoma mamma
(1) Tumor di mamma pada wanita
a). Muda, dibawah umur 30 tahun
b). Tumbuh pelan dalam waktu tahunan
c). Batas tegas
d). Bentuk bulat atau oval,
e). Permukaan halus
f). Konsistensi padat elastis
g). Sangat mobil dalam korpus mamma
h) Tumor dapat singel atau multipel
(2). Nodus axilla tidak teraba membesar dan tidak ada
tanda metastase jauh.
2). Tumor filloides mamma
(1). Tumor pada mamma yang besar, > 5 cm dan da lebih
dari 30 cm
a). Diameter umumnya besar diatas
b). Barmukaan berbenjol-benjol
c). Ada bagian yang padat dan kisteus
d). Sangat mobil dari dinding dada
(2). Kulit diatas tumor mengkilat
(3).Vena subkutan membesar dan berbelok-belok
(venaektasi)
(4). Tidak ada tanda-tanda infiltrasi atau metastase
3). Papilloma intra duktal
(1). Perdarahan atau keluar cairan abnormal dari puting susu
(2). Tumor kecil di subareoler
1). Kanker payudara
2). Kiste payudara
3). Fibroadenosis
1). Epidemiologi: umur, faktor risiko
2). Radiologi: USG mamma / mammografi
3). Sitologi: FNA
4). Patologi: Biopsi, Vries Coup :
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait.
1). Fibroadenoma mamma: Poliklinik, kalau perlu MRS
untuk tumor yang multipel
2). Tumor filloides dan papiloma intraduktal: MRS
1). Rdroadenoma mamma: eksisi tumor mamma
2). Tumor filloides : eksisi tumor atau mastektomi simpel.
3). Papiloma intraduktal : duktektomi
4). Lain-lain tumor jinak : eksisi tumor mamma

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

69

9
10

Tempat Pelayanan
Penyulit

:
:

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi

:
:
:
:

17
18
19

Otopsi
Prognosis
Tindak lanjut

:
:
:

Minimal RS. kelas-C.


Operasi:
1). Perdarahan
2). Hematoma
3). Infeksi
Perlu ada informed consen
Spesialis Bedah Umum
Spesialis Bedah Onkologi
0 - 7 hari
1 2 minggu
Sembuh
1). Fibroadenoma,
2). Tumor phyllodes,
3). Lipoma,
Tumor jinak: baik
0-1 tahun : setiap 3 bulan sekali
> 1 tahun : lepas

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

70

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

Diagnosa banding

N60-N64
DISPLASIA PAYUDARA &
TUMOR NON NEOPLASMA PAYUDARA LAINNYA
1). Dysplasia mamma N60
(1). Tanpa tumor yang dominan
a). Nyeri pada mamma, sikiis sesuai dengan siklis
menstruasi atau non siklis
b). Mamma padat, noduler, lokal atau difuse
c). Keiainan dapat menghilang dan timbul deng spontan
sesuai dengan siklus menstruasi
(2). Dengan tumor
a). Kista mamma
Pada aspirasi keluar cairan serous, keruh atau seperti
nanah dalam kiste Kiste dapat singel (N60.0)atau
multipel (N60.1) pada satu atau kedua mamma,
b). Fibroadenosis mama (1CD. N60.2)
Tumor umumnyatidakbesar. konistensi padat,
tidaktegas Tumor dapat timbul dan mengecil atau
menghilang secara spontan Tumor sering multipel
dan bilateral
2). Mastitis
(1). Mastitis non puerperalis, N61
(2). Mastitis puerperalis (091)
a). Mastitis akuta / abses mamma Ada tanda-tanda
radang ( dolor, calor, rubor, mor, fungsio lesa)
c). Mastitis chrcnika
Tumor kecil umumnya di subareola melekat dengan
areola atau ditempat lain disertai atau tidak dengan
tanda-tanda radang.
3). Hipertrophi mamma
(1). Hipertrofi pada wanita
a). Ukuran besar mamma irielebihi ukuran normal
b). Dapat uni atau bilateral
(2). Ginekomasti = hipertrophi pada laki
a). Mamma pria membesar, seperti mamma wanita
b). Jaringan mamma subareoler paling sedikit sebesar
1 cm
4). Galaktokei
Terapat kiste pada mamma yang berisi air susu
(1). Galaktokei non puerperalis, (N64.8)
(2). Galaktokel puerperalis, (092.9)
1). Kanker payudara
2). Neoplasma jinak payudara

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

71

Pemeriksaan
penunjang

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

9
10

Tempat Pelayanan
Penyulit

:
:

11
12
13
14
15
16

Informed consent
Tenaga Standar
Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi

:
:
:
:
:
:

17
18
19

Otopsi
Prognosis
Tindak lanjut

:
:
:

1). Radiologi : mammografi / USG mamma


2). Sitologi : FNA
3). Patologi : biopsi insisi atau eksisi dengan sedian beku atau
parafin
Dokter spesialis yang terkait.
1). Poliklinik
2). MRS pro vries coup untuk menyingkirkan kanker payudara
1). Displasia mamma
(1). Konservatif: aspirasi kiste, antioksidan. EPO.
danocrine.tamoxifen. (2). Operasi: eksisi tumor, bila
konservatif gagal
2). Mastitis
(1). Non purulent: antibiotika
(2). Purulent / abses : insisi & drainage
3). Hypertrofi mamma
(1). Adolesesent: reduction mammopiasti
(2). Ginekomasti
a). Konservatif: dengan testosteron, antiestrogen
b). Operatif: Eksisi ginekomasti
4). Galatokel:
(1). Aspirasi
(2). Bila gagal: eksisi tumor
Minimal RS. kelas-C.
Operasi :
1). Perdarahan
2). Hematoma
3). Infeksi
Perlu ada informed consent
Spesialis Bedah Umum, Spesials Bedah Onkologi.
Pasca bedah: 2-3 hari
Tergantung pada jenis tumornya
Sembuh
perlu
1). Tumor displasia mamma
(1). Simple cyst, (4). Papillary cyst,
(2). Adenosis,
(5). Duct ectasia,
(3). Gynecomasty
2). Mastitis: radang
Baik
3 bulan sampai 1 tahun

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

72

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

:
:

Non Bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14

Lama Perawatan
Masa Pemulihan

:
:

C21
KANKER ANUS
Keluhan: nyeri kalau berak, berak darah atau lendir Fisik:
Terdapat tumor berbentuk eksofitik atau poltpod di anus, Pada
toucher rektum, spincter ani terba tegano, tumor mobU atau
melekatdenganstnjkturdisekitain Kelenjar limfe inguinal atau
perararektal terabn membesar
Anuskopi / proktoskopi: terdapat tumor di anus
Tumor jinak anus, Polip anus, Hemorrhoid
Diagnosis
Endoskopi: rektoskopi, EUS, kolonoskopi
Radiologi : foto kolon, doubel kontrast
Patologis : biopsi, jenis histologis, derajat diferensiasi sel,
pemeriksaan histologis spesimen operasi,
Staging
.
T : Klinis, imaging, patologi
N : Klinis, imaging, patolog
M : " Klinis, imaging (X-foto toraks, USG abdomen,
CT-scan MRI)
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait
Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan
Operabel : Eksisi anus untuk menyelamatkan spingtut
Reseksi abdominoperineal (operasi Miles)
Inoperabel: Sigmoidostomi
Elektrokoagulasi
Radioterapi: 40-50 Gy
Chemoterapi: dengan FUFA camptothecin, gemzar,
Paliatif : analgetika, nutrisi
Minimal RS. kelas-C.
R.S. lain yg mempunyai sarana pembedahan yg memadai
1. Penyakit obstruksj. ileus, anemi
2. Terapi
Operasi: perdarahan. infeksi Radioterapi: radiodermatitis,
proktitis, kistit
Kemoterapi: mual, muntah, leukopeni, infeksi, Toksis
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Onkologi
Dokter Spesialis Bedah Digestif
10-14 hari
24 minggu

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

73

15

Hasil

16

Patologi

17

Otopsi

18

Prognosis

19

Tindak lanjut

Stadium dini : bebas kanker


Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang '
Stadium sangat lanjut: tidak sembuh, paliasi
Epithelial
1). Squamous cell care., 2). Basal cell card.,
3). Basaloid carcinoma. 4). Mucoepidermoid care.,
5). Adenocarcinoma,
6). Melanoma maligna,
7). Raget's disease
8). Undifferentiated care.
Non epithelial
1). Leiomyosarcoma,
2). Rhabdomyosarcoma,
Perlu untuk: konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang
tidak jelas
1. Stadium dini : baik
2. Stadium lanjut : dubius
3. St sangat lanjut: jelek
0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali
3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali
> 5 tahun : setiap 1 tahun sekali

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

74

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

:
:

Non Bedah

C43 C44
KANKER KULIT
Melanoma maligna (C43)
1. Keluhan : andeng-andeng membesar, gatel, memborok atau
mudah berdarah
2. Fisik: Ada lesi dikulit berbentuk plague, indurasi, nodus,
tumor atau ulcus berwarna hitam atau coklat kehitaman
3. Ada nodus intransit atau nodus limfe regional
Kanker kulit lainnya, (C44)
BCC = Kanker sel basal,
SCC = kanker sel skwamosa
1. Keluhan: benjolan atau borok di kulit, mudah berdarah
2. Fisik: Ada lesi di kulit berbentuk plaque, indurasi, nodus,
tumor eksofitik atau ulkus yang berbau, tumbuh infiltratiff\
desbuktif dan progresif.
Ada pembesaran kelenjar limfe regional
1. Tumor jinak kulit 2. Keratosis seborrhoicum
3. Keratoakantoma 4. Leukoplakia
5. Eritroplasia Querat
Diagnosis
1. Radiologi:X-foto, CT-scan/MRl lokal pada lesi
2. Ratologi: Biopsi insisi atau eksisi, pemeriksaan spesimen
operasi (jenis histologi, derajat diferensiasi)
Staging
T : Minis, imaging, patologi
N : kiinis, imaging, patologi
M : kiinis, imaging, x-foto toraks, USG abdomen, CT-scan
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait
Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan
1. Eksisi luas. (pada BCC: tepi irisan Vz - 1 cm; SCC 1-2 dan
melanoma maligna 2-3 cm menyelilingi tumor). kulit ditutup
dengan flap lokal atau transplantasi kulit
2. Amputasi untuk kanker kulit di ekstrimitas yang infihrasi
tulang
3. Diseksi kelenjar limfe regional, bila ada metastase
Radioterapi pasca bedah kalau ada kontaminasi, operasi tidak
radikal,kasusinoperabel atau pada basalioma yang kalau
dioperasi akan menimbulkan defek yang luas dan rekonstruksi
sukar.
Kemoterapi
1. Melanoma maligna: Dacarbazine, cisplatin, melphalan
2. BCC dan SCC: 5-Flourouracil. cisplatin. methotrexate,
bleomycin

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

75

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16

Patologi

17

Otopsi

18

Prognosis

19

Tindak lanjut

Minimal RS. kelas-C.


R.S. lain yg mempunyai sarana pembedahan yg memadai
1. Penyakit: Fterdarahan, anemi, infeksi, defekyangluasdimuka
2. Terapi
1) Operasi: perdarahan, infeksi, seroma, nekrose kulit,
Thiersch gagal
2) Radioterapi: mual, muntah, diarhoea, badan lemes,
nafsu makan turun
3) Chemoterapi: mual, muntah, diarhoea, badan lemes,
nafsu makan turun leukopeni, alopesia, dsb.
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Onkologi
7 -14 hari
4 - 8 minggu
Stadium dini : bebas kanker
Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang '
St. sangat lanjut: tidak sembuh, paliasi
Epithelial
1. Basal cell carcinoma 2. Squamous cell carcinoma
3. Adenocarcinoma
4. Metatypical carcinoma
Melanosit
1. Malignant melanoma.
Mesenchymal
1. Dermatofibrosarcoma protubera
Perlu untuk: konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang
tidak jelas
1. Stadium dini : baik
2. Stadium lanjut : dubius
3. St sangat lanjut: jelek
0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali
3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali
> 5 tahun : setiap 1 tahun sekali

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

76

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

:
:

Non Bedah
9

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

C49
KANKER JARINGAN LUNAK
Keluhan: Tumor di ekstrimitas atau di tubuh yang tumbuh
progresif
Fisik;
- Tumor subkutan di ekstrimitas, di kepala-leher, dinding tubuh,
retroperitoneum dengan gambaran klinis yang sangat
bervariasi tergantung dari lokasinya. dapat superfisial atau
dalam.
- Tumor tumbuh progresif, umumnya besar > 5 menguasi
jaringan disekitarnya (tulang. kulit).
- Tumor jaringan lunak pada anak-anak harus dipikirkan
kemungkinan suatu tumor ganas.
- Radiologi: X-foto lokaL CT-scan, MRI tampak tumor bebatas
tidak tegas, menginfiltrasi kapsel atau jaringan disekitarnya
ada bagian tumor yang nekrosis. dan pada arteriografi tampak
tumor hiper-vaskuler, ada neovas-kularisasi
Tumor jinak jaringan lunak, hematom, tumor abdomen.
Diagnosis
Radiologi: X-foto polos, CT-scan, MRI,
Fatologi: biopsi, pemeriksaan spesimen operasi
Staging
1. T : klinis, imaging, patologi dari biopsi /spesimen operasi
(jenis histologi, derajat diferensiasi sel)
2. N : klinis, imaging,
3. M : klinis, imaging (x-foto toraks. USG abdomen, CT-l MRI),
patologi
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait
Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan
Tumor di ekstrimitas
1. Eksisi luas,
2. Eksisi kompartment,
3. Amputasi,
4. Disartikulasi
Tumor di kepala. leher, dinding tubuh
1. Eksisi luas,
2. Reseksi dinding torak
3. Eksisi dinding abdomen
Retroperitoneum : laparotomi / eksisi luas tumor
Radioterapi: 60-70 Gy pre atau pasca bedah atau primm
Kemoterapi, misalnya dengan CyVADIC
Minimal RS. kelas-C.
R.S. lain yg mempunyai sarana pembedahan yang memadai
Penyakit: perdarahan, anemi, invasi /penekanan struktur vital,
sesak nafas,
Terapi: perdarahan, infeksi, cacat berat
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Urhum
Dokter Spesialis Bedah Onkologi.
Dokter Spesialis Bedah Kardiovaskular toraks.

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

77

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16

Patologi

17

Otopsi

18

Prognosis

19

Tindak lanjut

7 -14 hari
4 12 minggu atau cacat seumur hidup
Stadium dini : bebas kanker
Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang '
St. sangat lanjut: tidak sembuh, paliasi
1. Malignant fibrous histiocytoma 2. Neurofibrosarkoma
3. Fibrosarcoma
4. Liposarcoma
5. Synovial sarcoma
6. Rhabdomyosarcoma
7. Leiomyosarcoma
8. Epitheloid sarcoma
8. Angiosarcoma
9. Mesenchymoma
10. Mesothelioma
11. Lain-lain
Perlu untuk: konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang
tidak jelas
Stadium dini : baik
Stadium lanjut : dubius
St sangat lanjut: jelek
0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali
3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali
> 5 tahun : setiap 1 tahun sekali

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

78

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

:
:

Non Bedah
9

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

C64
KANKER GINJAL
Kanker ginjal pada anak-anak
1. Keluhan: hematuria, tumor di pinggang
2. Fisik: Tumor di pinggang, uni atau bilateral
3. Radiologi: IMP: deformitas dari calices, tumor ginjal
USG, CT-scan. MRI: tumor ginjal
4. Explorasi laparotomi: tumor dari ginjal
Kanker ginjal pada orang dewasa
1. Keluhan: hematuria, nyeri di pinggang, keluhan
paraneoplastik seperti: anemia, hipertensi, erythro-cytosli,
hipercalcemia.Cushing sindrom, berat badan menuruni
hiperpireksi
2. Fisik: terdapat tumor di daerah ginjal
3. Laboratorium: hematuria
4. Radiologi:
a). IVP: ada filling defek dari calices atau pyelum
b). USG -J CT-scan, MRI: ada tumor di ginjal terbatas atau
meluas keluar ginjal
c). Retrograde pyelografi: ada ekstensi tumor ke pelvis
d). Angiografi: tumor hyopervasuler
Batu pyelum. Tumor jinak ginjal, Kiste ginjal
Diagnosis
1. Radiologi: IVR retrograde pyelografi, USG abdomen, d scan,
MRI angiografi, venacavografi,
2. Laborat: darah, urine, BUN, creatinin, uric acid, S(K SGPT
3. Ratologis : pemeriksaan spesimen operasi (jenis hisloll derajat
diferensiasi del)
Staging
T: Klinis, imaging, eksplorasi laparotomi, patologi
N: Klinis, imaging, ekspioras' laparotomi, patologi
M: Klinis, imaging, eksplorasi laparotomi, patologi
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait
Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan
Nefrektomi radikal
thrombo-embolektomi
Diseksi kelenjar limfe retroperitoneal
Radioterapi: pre atau'pasca bedah atau radioterapi primer
Kemoterapi: dengan'FU, doxorubucin, mitomycin, cis-platin
Minimal RS. kelas-C.
R.S. lain yg mempunyai sarana pembedahan yg memadai
Penyakit: gagal ginjal, infeksi

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

79

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16

Patologi

17

Otopsi

18

Prognosis

19

Tindak lanjut

Terapi
1). Operasi: perdarahan,' infeksi.
2). Radioterapi: mual, muntah, diarhoea, badan lemes,nafsu
makan turun
3). Chemoterapi: mual, muntah, diarhoea, badan lemes. nafsu
makan turun leukopeni, alopesia. dsb. :
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Onkologi.
Dokter Spesialis Bedah Urologi
7 -14 hari
12 24 minggu atau cacat seumur hidup
Stadium dini : bebas kanker
Stadium lanjut : DFS atau OS diperpanjang '
St. sangat lanjut: tidak sembuh, paliasi
Epithelial / Adenocarcinoma
a). Tubular card.,
b). Granular cell care,
c). Renal cell care.,
d). Papillary care,
e). Clear cell care, (hypernephroma) f). Carcinoid tumor
Mesenchymal cell
a). Fibrosacorna,:
b). Mai. Fibroushistiocytoma
c). Leiomyosarc.,,
d). Rhabdomomyosarc,
e). Hemangiosart.
Complex mixed cells
a Nephroblastoma; (Wilm tumor),, b). Teratoma
Perlu untuk: konfirmasi diagnosis dan kasus kematian yang
tidak jelas
Stadium dini : baik
Stadium lanjut : dubius
St sangat lanjut: jelek
0-3 tahun : setiap 3 bulan sekali
3-5 tahun : setiap 6 bulan sekali
> 5 tahun : setiap 1 tahun sekali

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

80

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

:
:

8
9

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi

:
:
:
:

:
:

D30
TUMOR JINAK SALURAN KENCING &
TUMOR NON NEOPLASMA UROLOGI
Keluhan : hematuria, disuria,
Ginjal: USG: terlihat tumor kecil di ginjal, padat atau kisteui
Pyelum : 1VP terlihat/if/ing de/ek di pielum
Buli-buli: kistografi, atau kistokopi terlihat tumor kecil
buli-buli
1. Tumor ganas
2. Urolithiasis
3. Infeksi
Diagnosis
1. Labotarorium : darah, urine, BUN, kreatinine
2. Radiologi
1). Ginjal : IVR USG, retrograde pyelografi,
2). Pielum : IVR pieloskopi, FNA, sitologi. biopsi
3). Buli-buli: IVR kistografi, kistoskopi,
3. Sitologi: urine
Patologi: FNA, TUR, spesimen operasi
Staging: - (Hanya untuk tumor ganas)
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait
Rawat inap untuk diagnosis dan tindakan
1. Eksisi tumor 2. TUR
Minimal RS. kelas-C.
R.S. lain yg mempunyai sarana pembedahan yg memadai
Penyakit: hematuria, infeksi
Terapi: perdarahan, infeksi Perlu
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum Dokter Spesialis Bedah
Onkologi. Dokter Spesialis Bedah Urologi
2 -5 hari
4 minggu atau cacat seumur hidup
Keluhan dan tumor hilang
Perlu untuk konfiirnasi diagnosis
Jenis histologi:
1. Tumor jinak
1). Ginjal : adenoma, fibroma, mioma
2). Pielum : transitional cell papilloma, adenoma
3). Buli-buli : transitional cell papilloma, swuamous cell
papiloma
2. Tumor non neoplasma:
1). Ginjal : kiste ginjal, hamartoma
2). Pielum : transitional cell metaplasia, metaplasia
3). Buli-buli : transitional cell metaplasia, squamous

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

81

metaplas., glandular metaplasia fibous polip,


endometriosis, hamatoma, hamatoma, kiste
17
18
19

Otopsi
Prognosis
Tindak lanjut

:
:
:

baik
-

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

82

IV.
BEDAH
KEPALA LEHER

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

83

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

:
:

X-foto mandibula AP+Lat+Eisler,atau panoramik

:
:

Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait


Rawat inap segera

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

9
10

Tempat Pelayanan
Penyulit

:
:

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Interosseus wiring+arc bar, atau plating (dikerjakan sebelum 14


hari dari trauma), arc bar dilepas hari ke 30
Rumah sakit dengan sarana pembedahan yang memadali
Maluniom
Non union
Osteomielitis
Kekakuan sendi temporomandibuler
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) KL
Dokter Spesialis Bedah Plastik & Rekonstruksi
3 hari
4 minggu
Tulang mandibula union, maloklusi (-), sembuh
Tidak perlu
Tidak perlu
baik

6
7

S 02.6
FRAKTUR MANDIBULA
Trauma pada mandibula yang mengakibatkan diskontinuitas
tulang mandibula, ditandai adanya maloklusi dan false move
ment, bisa disertai edema dan nyeri tekan.

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

84

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

S 02.4
FRAKTUR MAKSILA
Trauma daerah maksila yang mengakibatkan diskontinuitas
tulang maksila, ditandai dengan adanya maloklusi dan floating
maksila.
Bisa disertai edema, nyeri, hematoma, periorbital, rinore
X-foto Waters:
Le Fort I
: garis fraktur transversal bau/ah
Le Fort II
: garis fraktur pyramidal
Le Fort III
: garis fraktur transversal atas :
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait
Rawat inap segera
Suspensi frontosirkumferensial + arc bar, atau plating
(dikerjakan sebelum 7 hari dari trauma)
Arc bar bawah dilepas hari ke-30
Arc bar atas dan suspensi dilepas hari ke-60 :
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Maluniom
Non union
Osteomielitis
Kekakuan sendi temporomandibuler
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) KL
Dokter Spesialis Bedah Plastik & Rekonstruksi
3 hari
8 minggu
Tulang mandibula union, maloklusi (-), sembuh
Tidak perlu
Tidak perlu
Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

85

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

:
:

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

6
7

:
:
:

S 02.4
FRAKTUR ZIGOMA
Trauma daerah zigoma yang menyebabkan diskontinuitas tulang
zigoma, ditandai dengan adanya deformitas dan nyeri tekan.
Bisa disertai hematom periorbital, diplopia, parestesi
infraorbital, edema, enoptalmus atau eksoptalmus
X-foto Waters, nampak garis fraktur, biasanya pada 3 tempat
yaitu margo inferior orbita, silier dan arkus zigomatikus
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat inap segera
Reposisi Gillies.
Bila tidak stabil perlu fiksasi dengan interosem wiring atau
plating
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Malunion
Non union
Osteomielitis
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) KL
Dokter Spesialis Bedah Piastik & Rekonstruksi
3 hari
4 minggu
Tulang zygoma union, deformitas (-), gangguan okuli (-)
Tidak perlu
Tidak perlu
Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

86

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

:
:

X-foto bila curiga adanya fraktur tulang dibawah jaringan lunak

:
:

Dokter spesialis yang terkait (bila diperiukan)


Rawat inap segera

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Debridemen yang bersih, eksplorasi struktur dibawah kulit yang


ikut rusak.
Jahit luka :
Luka bersih : jahitan biasa
Luka kotor: jahitan jangan terlalu rapat, kalau perlu beri
drain hanschoen. Patokan :
Cari masing-masing pasangan dari jaringan yang terkoyak
Aposisi level muko kutaneus harus tepat
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Infeksi
Defek akibat hilangnya jaringan
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum .
Dokter Spesialis Bedah (K) KL
Dokter Spesialis Bedah Plastik & Rekonstruksi
5 - 7 hari
3 minggu
Luka sembuh, infeksi (-)
Tidak perlu
Tidak perlu
baik

6
7

S 00, S 01, S 07
TRAUMA JARINGAN LUNAK WAJAH
Periukaan yang mengenai jaringan lunak wajah, bisa berupa
trauma tajam, trauma tumpul atau ledakan. Ditandai adanya luka
terbuka pada wajah, bisa bersih atau kotor tergantung macam
dan tempat terjadinya trauma

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

87

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

:
:

X foto nasal

:
:

Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)


Rawat inap segera

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi

Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Reposisi segera, pasang tampon hidung dan gips kupu-kupu


Tampon hidung dilepas hari ke 3-4, gips kupu-kupu ditepas hari
ke-21
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
malunion
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) KL
Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi
3 - 4 hari
4 minggu
Tulang hidung union, deformitas (-)
Tidak perlu
Tidak perlu
baik

6
7

S 02.2
FRAKTUR NASAL
Trauma dacrah hidung yang mengakibatkan diskontinuitas
tulang hidung, ditandai dengan adanya deformitas hidung,
edema dan epistaksis

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

88

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi

:
:

6
7
8

:
:
:

Non Bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

C. 73
KARSINOMA TIROID
Benjolan di leher bagian depan, flout bergerak waktu menelan
disertai tanda pernbesaran yang cepat, suara parau, sesak nafas,
gangguan menelan, konsistensi keras, mobilitas terbatas,
pembesaran kelenjar getah bening leher, FNAB keganasan {+)
Tiroiditis kronis. struma adenomatosa
FNAB X-foto leher (kalau perlu)
Untuk staging: X-foto toraks, USG Abdomen, alkali fosfatase
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat inap segera
Total tiroidektomi/near/ total tiroidektomi +
FND bila metastase
ke kgb leher/
Radiasi eksterra/interna (J-131),
kemoterapi bila ada indikasi.
Substitusiterapi levotiroksin
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Sesak nafas, suara serak karena lesi rekuren, kejang karena
hipo-paratiroid, trakheomalaise, perdarahan
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) KL
Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi
5 hari
2 minggu
Tumor terangkat secara prognostik
Tidak perlu
Tidak perlu
Tergantung faktor prognostik
Baik bila usia < 45 tahun ukuran tumor < 4 cm, tipe
diferensiasi baik, tidak ada ekstensi

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

89

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit

:
:

Terapi

Non Bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

E 04, E 05, E 06
STRUMA
Benjolan/ massa di trigonum koli anterior sebelah bawah. ikut
bergerak keatas bila pcnderita melakukan gerakan menelan
Bentuk bisa difus, uninoduler atau multi noduler. Bisa disertai
gejala hipertiroidi (badan tambah kurus, gelisah, jantung
berdebar, sering keringatan, sulit tidur, diare) atau gejala
hipotiroidi (malas, mudah capek, ngantule tambah gemuk,
obstipasi, mata sembab). Curiga ganas bila tumbuhnya cepal.
sesak(+), disfagi(+), suara parau, benjolan keras, fixed, ada
pembesaran kgb leher.
Faal tiroid : T3, T4, TSH
Biopsi aspirasi jarum halus untuk struma uninodosa atau curiga
ganas
BMR (pada saat rawat inap)
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat Inap bila ada indikasi operasi
Keganasan
Hipertiroidi yang sudah teregulasi
Gejala penekanan
Keluhan kosmetik
Operasi, macamnya tergantung proses patologis tiroid:
M.Basedow
: tiroidektomi subtotal
Struma uninodosa
: lobektomi subtotal
Struma multinodosa : lobektomi/ tiroidektomi subtotal
(tergantung jumlah lobus yang terkena)
Tiroiditis kronis
: ismektomi
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Lesi N. rekuren, Hipcparatiroidi, Hematoma,
Krisis tiroid (untuk M.Basedow), Hipotiroidi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) KL
Dokter Spesialis Bedah (K) Onk
2 hari
2 minggu
Struma (-)
perlu
Tidak perlu
Baik, kecuali karsinoma anaplastik atau lanjut.

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

90

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit

:
:

Terapi Non Bedah

Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

C 77.0
PEMBESARAN KELENJAR GETAH BENING K & I.
Pembesaran kelenjar limfe dicurigai ganas bila :
Pembesaran progresif
Tanpa tanda radang
Ada tumor primer ditempat lain
Tidak sembuh dengan antibiotika
Benjolan teraba agak keras :
Limfadenitis spesifik/ non-spesifik
Limfoma maligna
Metastase dari tempat lain : FNAB, biopsy
FNAB, Biopsi eksisional, atau biopsy insisional
Pemeriksaan darah lengkap
Tumor marker bila ada fasilitas
Pemeriksaan serologis (TB-DOT toksoplasma)
CT-scan bila ada indikasi
Dokter spesialis yang terkait (bila diperiukan)
Poliklinis / opname bila perlu operasi dengan narkose
Sesuai penyebab (radioterapi, kemoterapi, pembedahan,
antibiotika)
Sesuai penyebab (radioterapi, kemoterapi, pembedahan,
antibiotika)
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Tergantung penyebab
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Onk.
Dokter Spesialis Bedah (K) KL
Tergantung penyebab
Tergantung penyebab
Pembesaran kelenjar getah bening dapat dieradikasi
perlu
Tidak perlu
Tergantung penyebab

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

91

1
2
3
4

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis
Diagnosa banding

:
:
:
:

Pemeriksaan
penunjang

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16
17
18

Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:

C. 07
TUMOR PAROTIS
Benjolart di regio parotis pre/infra/post aurikuler
Adenoma parolis,
Karsinoma parotis,
Metastase kelenjar getah bening parotis,
Metastase karsinoma nasofaring
Untuk keperluan staging karsinoma parotis:
Bila tumor fixed: X-foto mandibula, CT-scan bila ada fasilitas
X-foto toraks
USG hepar
Bone survey bila ada indikasi
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat Inap
Tumor operable : paratidektomi superticial
periksa-poto beku
jinak: paratidektomi superficial
ganas: paratidektomi total
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Lesi N.VII
Rstel liur
Sindroma Frey
Hematoma
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Onk.
Dokter Spesialis Bedah (K) KL
4 - 5 hari
2 minggu
Tumor terangkat radikal
Tumor ganas: daya tahan hidup 5 thn tergantung stadium makin
dini makin besar kemungkinan hidup 5 thn.
perlu
Tidak perlu
Tumor jinak - baik
Tumor ganas - Stadium dini: baik
Stadium lanjut: jelek

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

92

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non Bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

D 16.5
AMELOBLASTOMA
Benjolan berasal dari tulang mandibula atau maksila (jarang)
tak nyeri, tumbuh pelan (bertahun-tahun), konsistensi keras,
kadang ada fenomena bola pingpong, gigi yang bersangkutan
biasanya tak teratur
Ossifying fibroma
Kista odontogenik
Giant cell tumor
Mandibula : X-foto mandibula AP + Eisler atau panoramik
Maksila : X-foto Waters + Hap
Adanya gambaran kista multiple/ single
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat Inap
Reseksi megikutsertakan tulang sehat 1-2 cm d
ari bates lesi + rekonstruksi
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Perdarahan, hematom, fistel orokutan, lesi hipoglosus &
lingualis
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Onk. .
Dokter Spesialis Bedah (K) KL.
12 - 14 hari
4 minggu
Tumor terangkat radikal
perlu
Tidak perlu
Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

93

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

8
9

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non Bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

6
7

D 18.1
HIGROMA KOLI
Benjolan di leher sejak lahir/ bayi, membesar sesuai
pertumbuhan anak, bisa meluas ke wajah, rongga mulut, ketiak
atau mediastinum, dinding tipis, konsistensi kistik, sering
beriobi, sebagian berbatas jelas, tak nyeri tekan,
transiluminasi (+)
Lipoma, fimfangioma simpleks, hemangioma, kista
brankhiogenik

:
:

Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)


Rawat Inap

:
:

Ekstirpasi
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Led struktur vital (pemb. darah, saraf, saluran nafas dan
esophagus) hematoma, infeksi, edema laring
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Onk
Dokter Spesialis Bedah (K)KL
5 - 7 hari
14 minggu
Benjolan terangkat sebersih mungkin
perlu
Tidak perlu
Baik kecuali bila sangat ekstensif

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

94

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

K 11.6
RANULA

Kriteria diagnosis

4
5

:
:
:
:

Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)


Rawat Inap untuk operasi

8
9

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non Bedah
Tempat Pelayanan

Tumor kiste dibawah lidah akibat tersumbat muara kelenjar liur


sublingual
-

:
:

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Eksisiparsial dan marsupialisasi dinding kiste


Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Perdarahan
Infeksi
Perlu
DokterSpesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Bedah K&L
7 hari
4 minggu
Muara kelenjar liur terbuka, kiste terdrainase
Tidak perlu
Tidak perlu
Baik

6
7

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

95

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

:
:
:
:

Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)


Rawat inap

8
9

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi
Tempat Pelayanan

D 10.3
TUMOR JINAK RONGGA MULUT
Benjolan pada rongga mulut dengan batas jelas Fibroma,
papiloma, epulis
-

:
:

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Eksisi
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Perdarahan
Infeksi
Perlu
DokterSpesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Bedah K&L
7 hari
4 minggu
Muara kelenjar liur terbuka, kiste terdrainase
Tidak perlu
Tidak perlu
Baik

6
7

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

96

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

3
4
5

:
:
:
:
:

Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)


Rawat inap

8
9

Kriteria diagnosis
Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi
Tempat Pelayanan

TUMOR JINAK JARINGAN LUNAK KEPALA DAN


LEHER
Benjolan pada jaringan lunak dikepala atau leher
-

:
:

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13

Lama Perawatan

14
15
16
17
18

Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:

Eksisi
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Perdarahan
Infeksi
Perlu
DokterSpesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Bedah K&L
Kalau lokal anestesi bisa poliklinis
Kalau dengan general narkose perlu opname 1 hari
4 minggu
Tumor terangkat
Perlu
Tidak perlu
Baik

6
7

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

97

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

:
:
:

Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)


Rawat inap

8
9

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi
Tempat Pelayanan

Q 18.0
KISTA BRANCHIOGENIK
Benjolan kistik di depan 1/3 atas m sternokleido mastrideus di
leher akibat kelainan kongenital
Higroma
Tiroid aberan
-

:
:

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Eksisi
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Hematom
Infeksi
Fistel
Perlu
DokterSpesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Bedah K&L
7 hari
4 minggu
Tumor terangkat
Perlu
Tidak perlu
Baik

6
7

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

98

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

C 00 C 06
KANKER RONGGA MULUT
Lesi di rongga mulut berbentuk bunga kol / ulserasi / peninggian
yang tak hilang setelah 4 minggu, cenderung tumbuh cepat, bisa
disertai rasa tebal atau nyeri. Kemungkinan ada faktor
predisposisi seperti merokok, nginang, peminum alkohol, gigi
runcing, hygiene mulut jelek, malnutrisi, lesi prakanker berupa
leukoplakia, eritroplakia. Bisa disertai metatase pada kelenjar
getak bening leher, biopsy positif
Ulkus kronis benigna, granuloma
Biopsi 1 cm, biopsy eksisional (dengan batas 1 cm keliling
tumor) pada lokasi tertentu tumor > 1 cm. Biopsy insisional
Untuk keperluan staging :
Untuk mengetahui infiltrasi, bila tumor sangat dekat dengan
tulang : X-foto mandibula AP + Eisler/panoramic serta X-foto
maksila Waters + Hap.
Mengetahui metastase jauh : X : foto toraks, USG hepar dan
bone survey bila ada indikasi
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat inap
Eksisi luas sampai 1 1,5 cm diluar jaringan patologis,
nasograstrik feeding 7 hari, k/p rekonstruksi
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Infeksi, dehisensi luka, fistula orokutan, chyloma, nekrosis, flap,
seroma
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Onk
Dokter Spesialis Bedah (K) KL
10 hari
4 minggu
Sembuh total untuk stadium 1
Perlu
Tidak perlu
Stadium dini, baik
Stadium lanjut, jelek

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

99

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

8
9

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

6
7

:
:
:
:

K 09.0
KISTA ODONTOGENIK
Benjolan pada mandibula atau maksila, tidak nyeri, ada
gangren radiks atau gigi yang tidak tumbuh.
X foto nampak gambaran kista single
Kista radikuler
Kista folikuler
X foto mandibula AP/ Eisier, atau panoramik
X foto maksila Waters/ Hap
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat inap
Ekskokleasi (kuretase & ekstraksi gigi)
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Infeksi
hematoma
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) KL
Dokter Spesialis Bedah (K) Onk.
5 hari
2 minggu
Kista terangkat bersih
Perlu
Tidak perlu
Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

100

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

:
:
:
:

Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)


Rawat inap segera

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi

K 12.2
FLEGMON DASAR MULUT
Pembengkakan submandibular dengan rasa nyeri dan panas
badan, kulit diatasnya kemerahan, rasa hangatdan nyeri tekan.
Bisa disertai trismus dan mungkin ada riwayat sakit gigi
sebelumnya
-

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16
17
18

Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:

Insisi-drainase - kultur pus bila ada fasilitas


Antibiotika sesuai dengan kuman penyebab
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Obstruksi jalan nafas
Sepsis
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) KL
3-5 hari
1-2 minggu
Infeksi (-)
Setelah infeksi reda, konsul doktergigi bila sumber infeksinya.
dari gigi.
Tidak Perlu
Tidak perlu
Baik

6
7

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

101

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit

:
:

Terapi

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

6
7

:
:

L 02.0
ABSES MAKSILOFASIAL
Pembengkakan di daerah maksilofasial yang terlokalisir, disertai
rasa nyeri dan kadang disertai panas badan, kulit diatasnya
kemerahan, fluktuasi (+), nyeri tekan (+)
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat Inap segera
bila :
Lokasi didasar muiut, periorbital, nasofrontal
Diameter > 6cm
Insisi drainase - kultur pus bila ada fasilitas
Antibiotika sesuai dengan kuman penyebab
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Obstruksi jalan nafas
Sepsis
Trombosis sinus kavernosus
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) KL
3-5 hari
10-14 minggu
Abses (-1), infeksi reda
Tidak Perlu
Tidak perlu
Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

102

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Q 89.2
KISTA DUCTUS TIROGLOSUS

Kriteria diagnosis

Diagnosa banding

:
:
:

Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)


Rawat Inap

8
9

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi
Tempat Pelayanan

Benjolan di lehcrdaerah midline setinggi kartilago hioid, batas


jelas, kistik, tak nyeri tekan, ikut bergerak keatas bila penderita
menelan dan menjulurkan lidah
Struma pada istmus
Limfadenopati
Kista dermoid
-

:
:

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Operasi prosedur Sistrunk


Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Fistel
Residif
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Onk
Dokter Spesialis Bedah (K) KL
3 hari
14 minggu
Benjolan terangkat bersih bersama salurannya
Perlu
Tidak perlu
Baik

6
7

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

103

V.
BEDAH
TORAKS KARDIOVASKULAR

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

104

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit

:
:

Terapi Bedah

Non Bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

S.22.3.4
PATAH TULANG IGA
Secara klinis patah tulang iga merupakan terputusnya
kontinuitas jaringan tulang iga karena rudapaksa atau penyakit
Tanda dan gejala klinis berupa :
pada inspeksi gerakan dinding toraks asimetris, deformitas
pada paipasi nyeri tekaa, nyeri sumbu, krepitasi dari fragmen
tulang yang patah.
Kontusio muskulorum
Laboratorium : pemeriksaan darah dan ECG untuk evaluasi
klinis dan persiapan pembedahan
Radsologi: foto polos rongga dada PA/LAT.
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait.
Bila single, tanpa penyulit tak perlu rawat inap di rumah sakit
Bila multiple dan atau bila terdapat penyulit perlu rawat inap
di rumah sakit untuk observasi dan tindakan
Obat-obatananalgetika,anestesi inffitrasi atau blok, perawatan
konsevatif
Fiksasi internal daerah fraktur dengan memakai clip
" Shapp " costafix atau mini plate atau wire dengan bantuan
anestesi umum atau anestesi lokal atau anestesi blok
Syarat faktur tersebut tidak lebih dari 2 (dua) minggu
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Ruptur pleura parietalis dan empisema kutis.
Ruptur jaringan paru.
Pneumotoraks.
Perdarahan dan hematotoraks atau hemotoraks.
Osteomielitis.
Perlu
Dokter Umum (pertolongan pertama dan terapi konservatif
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Toraks-Kardiovaskular.
Dokter Spesialis Bedah (K) Toraks.
2 - 14 hari pasca bedah bila tanpa penyulit
2 minggu bila tanpa penyulit
Sembuh atau sembuh dengan kecacatan
Khusus untuk fraktur patologis dan osteomielitis
Perlu untuk kasus trauma atau kematian tidak wajar atau
jelas.
Baik atau dubious atau jelek

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

105

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

:
:

S.21-29
LUKA TUSUK DINDING TORAKS
Secara klinis luka tusuk dinding toraks beaipa luka (embus
dinding toraks dan bisa melukai organ didalam rongga toraks
atau rongga abdomen.
Tanda dan gejala klinis berupa :
Jejas, luka tusuk dinding toraks dan daerah abdomen bagian
atas. Gejala dan tanda lainnya dapat berupa anemia, sesak,
sucking chest wound, jejas atau luka tusuk dinding toraks
terutama diantara garis mid klavikularis kanan dan garis axillaris
depan kiri dapat melukai jantung dan pembuluh darah besar.
Luka tusuk tembus & luka tusuk tumpul
Laboratorium : DL dan EKG untuk keperluan evaluasi klinis
dan persiapan operasi.
Radiologi: foto polos toraks atau Echokardiografi (dilakukan
hanya bila kondisi stabil)
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait.
Rawat inap untuk observasi dan tindakan

Farmakologi: Antibiotika, analgetika, antipiretika

Non Bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

Bila pasien dalam keadaan tidak stabil dan bila ada indikasi,
segera resusitasi cairan dan cardio pulmonal, berikan 02
(tindakan A ,B ,C ).
Rasang pipa toraks WSD, bila perdarahan > 800 cc (anak 300)
(pada saat pemasangan pipa toraks setelah trauma atau 3-5
cc/Kg.BB. berturut-turut selama 2 jam pertama segera
dilakukan torakotomi antero lateral).
Bila ada sucking chest wound atau pneumotoraks terbuka, luka
ditutup dulu dengan bahan kedap udara lalu dipasang pipa
toraks WSD, atau langsung intubasi dan di pasang ventilator.
Pada luka tusuk daerah torakoabdominal, dibawah ICS VII, bila
tembus fascia dilakukan torakolaparotomi. Bila trias Beck positif
atau disertai syok berat dan perdarahan masif dilakukan
eksplorasi torakotomi kiri melalui ICS V dan selanjutnya terapi
definitif.
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Hematopneumotoraks.
Kontusio paru
Pneumonia
Prolong ventilator
Osteomyelitis kosta
Empiema toraks
Perlu
Dokter Umum (pertolongan pertama, pasang pipa toraks
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Toraks-Kardiovaskular

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

106

Dokter Spesialis Bedah (K) Toraks


Dokter Spesialis Bedah (K) Digestif
Dokter Spesialis Bedah (K) Anak (usia <12 tahun)
13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16
17

Patologi
Otopsi

:
:

18

Prognosis

2 - 14 hari
2 minggu
Sembuh atau sembuh dengan kecacatan atau meninggal

Perlu untuk kasus trauma atau kematian tidak wajar atau


jelas.
Baik atau dubious atau jelek

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

107

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

:
:

Non Bedah
9

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

S.22.5
FLAIL CHEST
Secara klinis flail chest ditandai dengan gerakan paradoksal pada
dinding toraks karena patah tulang iga multiple dan segmental
atau lebih dari 2 garis fraktur, hal ini disebabkan oleh trauma.
Tanda dan gejala klinis berlipa : Gangguan respirasi dari ringan
sampai berat. Pada inspeksi deformitas dinding toraks disertai
gerakan paradoksal dinding toraks yang patah.
Pada palpasi nyeri tekan dan nyeri tekan sumbu disertai
krepitasi.
Pada foto polos toraks: patah tulang iga multiple dan segmental
atau lebih dari 2 garis fraktur.
Laboratorium : DL, analisis gas darah, saturasi 02.
Kardiologi : EKG
Radiologi
: foto polos toraks AP/Iateral
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait.
Rawat inap untuk observasi, monitoring, pemasangan
ventilator dan tindakan.
Oksigenasi (02)
Tidur miring kearah daerah yang sakit.
Fiksasi daerah yang sakit tersebut dengan plester lebar yang
elastis. (sementara).
Bila penderita dengan gangguan nafas berat segera di intubasi
dan pernafasan buatan ambu bag atau segera pasang
ventilator. Obat-obatan analgetik, antibiorika dan resusitasi
cairan
Fixasi tulang iga yang patah dengan clips " Shapp" costafix atau
dengan wire atau mini plate
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Hematopneumotoraks
Kontusioparu
Pneumonia
Prolong ventilator
Osteoyelitis kosta
Empiema toraks
Perlu
Dokter Umum (pertolongan pertama, pasang pipa toraks
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Toraks-Kardiovaskular
Dokter Spesialis Bedah (K) Toraks
14 hari
2-4 minggu
Sembuh atau sembuh dengan kecacatan atau meninggal
Perlu untuk kasus trauma atau kematian tidak wajar atau
jelas.
Baik atau dubious atau jelek

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

108

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

:
:

6
7
8

:
:
:

Non Bedah

Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16
17

Patologi
Otopsi

:
:

18

Prognosis

S.27.0
PNEUMOTORAKS
Secara klinis pneumotoraks meaipakan suatu keadaan dimana
terdapat udara didalam rongga pleura dan mengakibatkan paru
menjadi kolaps, hal ini disebabkan oleh trauma atau penyakit.
Tanda dan gejala klinis berupa :
sesak nafas, pada inspcksi gerakan hemitoraks berkurang atau
menurun, pada perkusi hipersonor, pada auskultasi suara nafas
berkurang atau menurun, pada foto polos toraks ada bayangan
udara bebas pada hemitoraks yang bersangkutan dan paru
tampak kolaps.
Pada keadaan Tension ditandai dengan trachea terdorong kontra
lateral, bendungan vena-vena di leher, CVP meningkat,
hemitoraks yang terkena Iebih cembung
Laboratorium.: DL, BTA sputum
Radiologi
: Foto polos toraks
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait.
Rawat Inap untuk observasi atau tindakan
Oksigenasi, fisioterapi nafas, obat-obatan
Jarum kontra ventil atau jarum terbuka dilanjutkan dengan pipa
drainase (WSD) untuk kasus pneumotoraks tension
Punksi bila paru yang kolaps minimal < 30 %.
Pipa torakostomi dengan continous suction.
Bila pneumotoraks terbuka , luka ditutup atau dijahit dan
pasang pipa toraks.
Torakotomi, bila paru yang kolaps persisten atau terdapat fistel
bronkho - pleural.
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Empisema subkutis,Pneumonia,.SriunWng, Atelektasis.
Perlu
Dokter Umum. (pertolongan pertama, pasang WSD)
Dokter Spesialis Paru (Non Trauma )
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Toraks-Kardiovaskular
Dokter Spesialis Bedah (K) Toraks.
14 hari
2 minggu
Sembuh atau sembuh dengan kecacatan seperti Schwarte.
fibrosis paru.
Perlu untuk diagnosis
Perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas.
Baik atau dubious atau jelek

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

109

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

6
7
8

:
:
:

Non Bedah
9

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

S.27.1
HEMATOTORAKS
Secara klinis hematotoraks atau hcmotoraks ditandai dengan
adanya darah di dalam rongga pleura, hal ini dapat disebabkan
oleh trauma atau penyakit.
Tanda dan gejala klinis berupa :
anemia, sesak nafas, syok hipovolemik, pada inspeksi gerakan
hemitoraks yang bersangkutan menurun, pada perkusi redup
pada sisi yang sakit, pada auskuitasi suara nafas menurun,
dan pada foto polos toraks terdapat bayangan kesuraman
disertaisudutkostafrenikustumpul. pada punksi keluar darah.
Bila terdapat perdarahan massif, pada foto polos toraks tampak
trakhea deviasi dan CVP meningkat.
Atelektasis
Massa pada jaringan paru
Efusi pleura
Pneumotoraks Tension
Laboratorium: pemeriksaan DL, saturasi 02
Radiologi: foto polos toraks
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait
Rawat inap untuk observasi dan tindakah
Oksigenasi 02, transfusi darah bila perdarahan masif, obatobatan antibiotika. analgetika, antipiretika, fisio terapi nafas.
Pipa torakostomi atau WSD.
Bila masif dilakukan torakotomi (perdarahan > 800 cc) langsung
atau 3-5 cc/kg b.b. per jam
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Syok hipovolemik
Rbrotoraks atau Schwarte
Empiema torakis
Perlu
Dokter Umum (pertolongan pertama, punksi rongga toraks,
pasang pipa toraks WSD)
Dokter Spesialis Bedah Umum.
Dokter Spesialis Bedah Toraks-Kardiovaskular.
7-14 hari
1-2 minggu
Sembuh atau sembuh dengan kecacatan
Perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas.
Baik atau dubious atau jelek

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

110

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

S.26.0
TAMPONADE JANTUNG

Kriteria diagnosis

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

:
:

Secara klinis tamponade jantung merupakan suatu keadaan


dimana terjadi kompresi jantung akibat efusi cairan atau
penumpukan darah did alam kantong perikard yang berlebihan
hal ini dapat disebabkan karena trauma atau penyakit
Tanda dan gejala klinis berupa :
Pada anamesa adanya riwayat trauma atau penyakit lainnya
Pada pemeriksaan fisik terdapat :
a. Tris beck, hipotensi, bendungan vena leher (CVP
meningkat) suara jantung menjauh
b. Nadi meningkat, sesak nafas, pulsus paradoksus , CVP
meningkat (tidak semua pasien)
Pneumatoraks tension
Hematotoraks
Perikarditis konstriktiva
Laboratorium : DL, saturasi O2
Kardiologi : EKG, Ekokardiografi
Radiologi : foto polos toraks AP
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait
Rawat inap untuk observasi dan tindakah

Perakardial window

Non Bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

Transfusi darah, antibiotika, anagetika


Perikardiosintesis
Bila perikardiosintesis gagal dilanjutkan dengan torakotomi
anterior kiri ICS V
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Syok kardiogenik, henti jantung
Perlukaan jantung dan arteri vena besar atau paru
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum.
Dokter Spesialis Bedah Toraks-Kardiovaskular.
Dokter Spesialis jantung dan pembuluh darah
Dokter spesialis bedah (K) toraks
7-14 hari
1-2 minggu
Sembuh atau sembuh dengan kecacatan atau meninggal
Perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas.
Baik atau dubious atau jelek

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

111

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

:
:

I 74
EMBOLI ARTERI AKUT
Secara klinis emboli arteri akut merupakan tersumbatnya aliran
darah arterial oleh embolous atau gumpalan darah yang
mengikuti aliran darah.
Tanda dan gejala klinis berupa :
sindroma iskemik secara mendadak pada Ekstremitas yaitu
5 P Pain, Parestesia, Paralysis, Pulselessnes & Pallor
Trombosis vena akut ( DVT)
Laboratorium : DL, Studi hemostasis , LFT, RFT,
Saturasi 02 pada arteri perifer
Kardiologi : EKG, Ekokardiografi.
Radiologi
: Doppler ultrasonografi atau arteriografi
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait
Rawat inap untuk observasi dan tindakah

Embolektomi dengan Kateter Fogarfy.

Non Bedah
9

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Obat-obatan antikoagulan, Trombolitik dan penanganan


terhadap sumber emboli, seperti aterial fibrilasi, aneurisma
aorta abdominalis.
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Nekrpsis
Emboli berulang
Infeksi
Pendarahan luka operasi
Perlu
Dckter Spesialis Bedah Umum.
Dokter Spesialis Bedah Toraks-Kardiovaskular.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh darah .
Dokter Spesialis Bedah (K) Vaskular
5-10 hari
2 minggu
Sembuh atau sembuh dengan kecacatan
Baik, bila terjadinya kurang dari 8 jam

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

112

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

:
:

Non Bedah

Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14

Lama Perawatan
Masa Pemulihan

:
:

I 80.2
DEEP VEIN THROMBOSIS (DVT)
Secara klinis DVT mcrupakan pembuntuan aliran darah vena
dalam pada ekstrimitas bawah dan hal ini disebabkan adanya
thrombus yang menyumbat
Tanda dan gejala kiinis berupa:
nyeri tekan pada betis, pada pemeriksaan terdapat Homans
sign yattu nyeri pada otot-otot betis bila kaki dorso flexi, pitting
edema atau bcngkak yang luas dan kemerahan disertai
peningkatan suhu tubuh bila disertai infeksi, phlegmasia alba
dolens (milk leg = pucat) atau pucat. Kemudian disusul dengan
phlegmasia cerulea dolens (blue leg = sianosis), disertai
gangguan sensoris dan motoris. bila telah terjadi penekanan
pada sistem arterial.
Selulitis, miositis. osteomielitis,
fraktur dengan sindroma
kompartemen
Laboratorium :
DL dan studi koagulasi. berupa hitung trombosit,
prothrombin time (PTT), activated partial
throm boplastin time (APTT), dfl. Pletismografi (bila ada
fasilitas).
Doppler ultrasonografi (bila ada fasilitas).
Venografi atau plcbografi (bila ada fasilitas).
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait
Rawat inap untuk observasi dan tindakah
Thrombektomi dengan kateter forgaty dengan indikasi di vena
besar dan dalam dan waktu kurang 72 jan 1 yang rasa nyeri.
Tirah baring dengan kaki elevasi 8-10 inci.
Tungkai di balut dengan bebat elastis dan diberi
antiplogestikum sepcrti zinkzalf.
Obat-obatan antikoagulan, trombolitik
aterial fibrilasi, aneurisma
aorta abdominalis.
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Plebitis, sepsis, gangren, emboli paru.
Perlu
Dokter Urnum (perawatan konservatif).
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam.
Dokter Spesialis Bedah (K) Vaskular
Dokter Spesialis Hemalagi
7-14 hari
2 6 bulan

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

113

15

Hasil

16
17
18

Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:

Sembuh tidak sempurna atau meninggal


bila terjadi emboli paru (PE)
Dubois atau jelek

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

114

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

:
:

Non Bedah
9

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16
17
18

Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:

J 86.9
PIOTORAKS ( EMPIEMA TORAKS )
Secara klinis piotoraks merupakan terkumpulnya pus didalnm
rongga pleura dan hal ini disebabkan oleh infeksi.
Tanda dan gejala klinis berupa:
Pada inspeksi gerakan dinding toraks sisi yang bersangkutan
tertinggal, pada perkusi, redup, pada auskultasi suara nafas
menurun, pada punksi pleura keluar pus yang encer atau kental
Kilotoraks
Efusi Pleural karena penyebab lain, seperti metastasis
karsinoma.
Laboratorium : Dilakukan pemeriksaan DL, LFT dan RFT
untuk keperluan evaluasi klinis.
Mikrobiologi :TesRivalta, teskultur dan tes kepekaan kuman
pemeriksaan gram cairan pleura dan BTA
sputum.
Radiologi
: foto polos toraks
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait
Rawat inap untuk observasi dan tindakah
Ada 4 prinsip dasar
Drainase pus secepat dan sedekat mungkin.(bila pus encer
bisa melalui puksi atau bila pus kental langsung memasang
pipa toraks)
Mengembangkan paru seoptimal mungkin ( > 50 % ).
Menguraftgi dead space ( < 50 % ).
Memberantas atau eradikasi infeksi.
Membuat window - thoracostomy
Obat-obatan antibiotika, analgetika, a
antipiretika dan fisio terapi nafas
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Schwarte atau fibrosis pleura dan paru
Pneumonia
Sepsis
Piotoraks berulang
Piotoraks necessitasis
Perlu
DokterSpesialisBedahUmum.
DokterSpesialis Bedah Toraks-Kardiovaskular.
DokterSpesialisParu.
Dokter Spesialis Bedah (K) Toraks
10 - 30 hari
2 minggu
Sembuh atau sembuh dengan kecacatan berupa schwarte
berulang atau fibrosis pleura dan paru
Baik atau dubious atau jelek

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

115

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

I 83
VARICES TUNGKAI

Kriteria diagnosis

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

:
:

Secara klinis varises tungkai merupakan pelebaran,


pemanjangan dan berkelok-kelok pembuluh batik vena pada
ekstremitas bawah.
Tanda dan gejala klinis sesuai stadium klinik (stadium I s/d IV)
berupa: keluhan tak khas (I), pelebaran vena (II), varices tampak
jelas atau varices yang massif (ID), ulkus atau gangren (IV)
Tes klinik: Perthes, Trendelenburg.
Sindroma insufisiensi vena kronik
Laboratorium: pemeriksaan darah untuk persiapan operasi

:
:

Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait


Rawat inap untuk tindakan (stadium III, IV).

Striping, Eksisi / Ekstraksi, Ligasi venakomunikan untuk


stadium III, IV.
Eksisi ulcus, ligasi venakomunikan, transplantasi kulit untuk
stadium IV.

6
7
8

Non Bedah
9

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

Terapi sklerosis dan bebat elastik. (stadium I dan II) dan obatobatan phlebotropik
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Ulkus varicosum
Nyeri
Tromboflebitis
Sepsis
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular
Dokter Spesialis Bedah (K) Vaskular
5 - 10 hari
2 minggu
Sembuh atau sembuh dengan kecacatan

16
17

Patologi
Otopsi

:
:

18

Prognosis

Baik atau dubious

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

116

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi
Bedah

:
:

Non Bedah

9
10
11
12

Tempat Pelayanan
Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

E. 10 E 14.5
GANGREN DIABETIK
Secara klinis gangren diabetik ditandai dengan kematian
jaringan yang terjadi akibat makro dan mikro angiopati diabetik
dan disertai atau tanpa disertai faktor trauma atau infeksi.
Tanda dan gejala klinis berupa :
Berat ringannya lesi, kelainan kaki diabetik dibagi dalam derajat
menurut Wagner (derajat I s/d V).
Ulkus atau gangren bersifat tidak nyeri karena neuropati.
Tanda insufisiensi vaskular karena angiopati. :
Gartgren karena PAPO (Penyakit arteri perifer oklusif)
Penyakit arterio sklerotik obliterans
Ulcus trophicum atau ulkus trofik karena varices tungkai
Laboratorium : pemeriksaan DL, BSN
Mikrobiologi : kultur pus dan tes kepekaan kuman.
Radiologi
: foto polos ekstrimitas, doppler USG bila ada
indikasi gangguan vaskular
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait
Rawat inap untuk tindakan (nekrotomi, debridement,
disartikulasi, amputasi) dan regulasi gula darah
Pertama-tama perhatikan vaskularisasi :
Insisi drainage abses
Nekrotomi atau debridement
Disartikulasi atau amputasi ekstrermitas
Rekonstruksi vaskuler
Fengendalian penyakit DM, bbat-obatan antiagregasi
trombosit, antikoagulansia.
Perawatan lokal ulkus.infeksi selulitis, abses, osteomelitis.
Antibiotika sesuai kultur dan tes kepekaan, secara empiris dapat
diberi kombinasi gol Gram (-), Gram (+) dan anaerob. :
Minimal rumah sakit kelas-D
Kaki diabetik, Gas gangren, Sepsis
Perlu
Dokter Umum (perawatan konservatif dan insisi, nekrotomi,
debridement)
Dokter Spesialis Bedah Umum.
Dokter Spesialis Bedah Toraks-Kardiovaskular.
Dokter Spesialis Bedah (K) Vaskular
Dokter Spesialis Penyakit Dalam.
14 - 30 hari
2-4 minggu
Sembuh dengan kecacatan atau meninggal
Baik atau dubious atau jelek

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

117

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi
Bedah

:
:

I 73.1
BUERGER IS DISEASE atau Penyakit Arteri Perifer
Oklusif (PAPO)
Secara klinis penyakit arteri perifir oklusif ditandal dengan
penyempitan dan pembuntuan pembukih arteri di ekstrimitas
karena proses radang, tromboangitis obliterans atau penyakit
kologen.
Tanda dan gejala klinis biasanya terjadi pada :
Laki-laki muda yang perokok berat disertai nyeri pada
extermitas bawah menurut stadium Fontaine (I, IIa. Hb,
111,1V).
Pada inspeksi kulit kaki: Hiperpigmentasi kulit, Kuku jari kaki
menebal, Atrofl otot ekstrimitas bawah, Uiserasi atau gangrene
pada ekstrimitas bawah.
Penyakit arteri oklusi karena emboli kronik .
Penyakit Vasospastik (Raynaud's).
Arterio sklerosis obliterans.
Laboratorium: Darah rutin
Kardiologi : ECG, Ekhokardiografi.
Radiologi
: Arteriografi atau doppler USG
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait
Rawat inap untuk observasi dan tindakan.

:
Simpatektomi, nekrotomi, debridement,.amputasi

Non Bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi

:
:
:
:

Berhenti merokok dan obat-obatan vasodilator, antikoagulan


Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan yang
memadai
Ulserasi dan gangren yang progresif, infeksi di daerah ulcus
dan sepsis.
Pada Torakal Simpatektomi, Pneumetoraks, Hematotoraks.
Pada Lumbal Simpatektomi : Cedera vaskular dan
Incontenentia buli-buli
Perlu
Dokter Umum (terapi konservatif)
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Toraks-Kardiovaskular.
Dokter Spesialis Bedah (K) Vaskular.
7 - 4 hari
2-4 minggu
Sembuh dengan kecacatan
Spesimen diambil dari lesi dan ganglion simpatikus.

17

Otopsi

18

Prognosis

dubious atau jelek

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

118

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi

:
:

Ligasi pembuluh aferen dan eferen pada sistem vena .

Perawatan rumah
sakit
Terapi
Bedah
Non Bedah
Tempat Pelayanan

T 14.5
A-V SHUNT ATAU A-VISTULA ARTERI - VENOSA
Secara Winis A-V shunt atau A-V fistel merupakan hubungan
antara pembuluh darah arteri dan vena karena trauma atau
kelainan arteri - venosa
Tanda dan gejala klinis ditandai dengan :
adanya riwayat trauma di daerah lesi, pada inspeksi flebektasi
atau pelebaran vena di distal dan proksimal fistel, pada palpasi
massa yang berdenyut dan kompresebel, pada auskultasi
terdengarbising yang kontinyu. Pada kelainan A.V ada penyakit
dan yang membentuk malfungsi A-V (AVM)
Aneurisma.
Hemangioma.
Teleangiektasis.
Angiosarkoma.
Laboratorium : DL dan ECG untuk persiapan operasi
Radiologi : Doppler ultrasonografi, Arteriograft
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait, terutama suatu
AVM
Rawat inap untuk observasi dan tindakan.

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

Minimal rumah sakit kelas-C


Rurhah sakit lain yang mempunyai sarana p>embedal mil
memadai.
Iskemia perifer
Perdarahan
Gagal jantung
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Toraks-Kardiovaskular
Dokter Spesialis Bedah (K) Vaskular
5 - 10 hari
1-2 minggu
Sembuh atau sembuh dengan kecacatan

16
17

Patologi
Otopsi

:
:

18

Prognosis

Baik atau dubious

6
7
8

eksisfistel disertai rekontruksi pembuluh darah bila di perlukan


:

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

119

VI
Bedah Urologi

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

120

S 37.2
RUPTUR BULI-BULI
Trauma (+) langsung abdomen bagian bawah
Trauma tidak langsung akibat fractur pelvis
Tidak bisa kencing
Tidak bisa kencing
Massa suprapubik
Hematuria (+)
Tanda - tanda peritonitis (+)
Colokdubur : Prostat letaknya normal
Ruptur uretra posterior
Test buli-buli
Foto Pelvis
Urethrocystogram
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat Inap, segera

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi
Non Bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

Eksplorasi, jahit buli-buli, pasang dauer kateter,


Suprapubik Cystostomi bila ruptur lebar
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Infeksi
Kebocoran
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Urologi
7 hari
2 minggu
Kencing lancar
-

18

Prognosis

Baik atau dubious

:
:

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

121

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

R 33
RETENTIO URINAE

Kriteria diagnosis

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi
Non Bedah

Tak dapat kencing, teraba vesika urinaria pada suprapubik


Bisa trauma atau non trauma
Tumor buli-buli
Tumor abdomen
Puncti buli - buli

:
:

Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)


Rawat Inap, segera

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

Dipasang kateter bila tidak ada kontra indikasi (pada BPH,


buli-buli, neurogenik)
dipasang cystostomi bila ada kontra indikasi kateterisasi atau
bila kateterisasi gagal
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Infeksi
Kebocoran
Perlu
Dokter Umum { untuk kateterisasi)
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Urologi
Tergantung penyebab
Tergantung penyebab
Buli buli kosong
-

18

Prognosis

Baik atau dubious

6
7
8

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

122

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi
Non Bedah

:
:

HIPERTROFIPROSTAT BENIGN A (BPH)


Adanya retensio urine menahun
Adanya gejala prostatisme,
Tanda - Tanda test urine
Tanda - tanda UTI
Colok dubur terasa pembesaran prostat
Progtafitis
Carsinoma prostat
Laboratorium darah dan urine
IVP: Filling defect
Gambaran ureter distal: hocky stick phenomena
Cystogram
USG transrectal
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat Inap

:
Medikamentosa (alfa blocker & anti androgen)
Sementara pemasangan kateter

Bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Operasi terbuka (Prostatectomia)


TUR-P
Laser
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Infeksi, perdarahan, inkontinensia post operatif, striktura post
operatif
Perlu
Dokter umum unruk non bedah
Dokter Spesialis Bedah Umum unluk operasi terbuka
Dokter Spesialis Urologi untuk TUR - P, laser
5 10 hari
2 minggu
Kencing lancar
Perlu
-

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

123

1
2
3
4

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis
Diagnosa banding

:
:
:
:

Pemeriksaan
penunjang

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

C 62, D 29
TUMOR TESTIS
Benjolan pada testis, tidak nyeri di afonoskopi negatif
Hidrokel testis
Orchitis
Tbc testis
Penanda tumor (beta HCG, AFR laktat dehidrogenase / LDH)
Foto toraks
USG testis & abdomen
CT-scan bila tersedia
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat Inap
Orchidectomi tinggi
Kemoterapi
Radioterapi
Diseksi kelenjar limfe para aorta
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Hematoma
Perlengketan intra abdominal
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Urologi
Dokter Spesialis Bedah (K) Onkologi
7 hari
1 minggu
Tumor terangkat
Perlu
dubius

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

124

1
2
3
4

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis
Diagnosa banding

:
:
:
:

Pemeriksaan
penunjang

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi bedah

Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Q 53
KRIPTORKHISMUS
Testis tak teraba di skrotum
Testis teraba di inguinalis (ekstra abdominal) atau tak teraba
(intra abdominal)
Ektopik testis
Retraktil testis
USG
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat Inap untuk operasi
Anak: herniotomi dulu, dilanjutkan orkhidopeksi
Dewasa: orkhidektomi dan orkhidopeksi kontra lateral
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Perdarahan, atropi testis
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) Urologi
Dokter Spesialis Bedah (K) Bedah Anak
4-7 hari
1 minggu
Testis terletak di skrotum
Baik atau dubius

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

125

:
:
:
:
:

Q 54
HYPOSPADIA
Muara uretra tidak terletak pada glans penis

:
:

Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)


Rawat Inap untuk operasi

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis
Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

Tahap I : pemotongan kordae


Tahap II: repair uretra
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Fistula, striktur
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Urologi
Dokter Spesialis Bedah (K) Bedah Anak.
Dokter Spesialis Bedah Plastik
7 hari
Tergantung tahapan operasi
Lubang uretra terletak pada garis glans penis atau koroner

18

Prognosis

1
2
3
4
5
6
7

Laboratorium

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

126

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

N 43.3
HIDROKEL TESTIS / FUNIKULI

Kriteria diagnosis

Benjolan daerah inguinal atau skrotum


Transilumainasi (+)

Diagnosa banding

Hernia inguinalis lateralis, tumor inguinal testis

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi

Transiluminasi .

Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)

Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

Rawat Inap untuk operasi

Anak : umur kurang 2 tahun, observasi

6
7
8

Bedah
9

Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Anak : ligasi tinggi pada anak umur lebih 2 tahun


Dewasa: hidrokelektomi, marsupialisasi
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Perdarahan, hematoma
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Urologi
Dokter Spesialis Bedah (K) Bedah Anak
7 hari
1 minggu
Benjolan hilang
Untuk dewasa
-

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

127

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

N 21.0
BATU SALURAN KEMIH

Kriteria diagnosis

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

Batu saluran atas : keluhan kolik menjalar ke perut, inguinal


sampai genitalia eksterna, nyeri pinggang (+)
Batu saluran bawah : iritasi saluran kencing, disuria, penis
ditarik-tarik (anak kecil)
Nyeri ketok pada pinggang atau adanya massa pada pinggang
Infeksi saluran kemih, tumor traktus urogenitalis
Laboratorium
Foto polos abdomen
IVP
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat Inap untuk operasi

Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

Operasi
Endourologi.
Medikamentosa untuk batu diameter kurang dari cm.
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Gagal ginjal, urosepsis
Perlu
Dokter Umum untuk medika mentosa
Dokter Spesialis Bedah Umum untuk pyelototomi,
ureterolitotomi, sectio alta dan uretrolitotomi
Dokter Spesialis Bedah Urologi untuk neprolitotomi,
pyelolitotomi, ureterolitotomi dan endourologi
Tergantung jenis tindakan
Tergantung jenis tindakan
Aliran kencing lancar, rasa sakit hilang
Baik atau dubious

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

128

:
:
:
:
:

I 86.1
VARICOCELE SCROTUM
Pelebaian, pemanjangan dan berkelok-keloknya vena di skrotum
Hidrokel funikuli
Analisa sperma ( usia produktif ) :

:
:

Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)


Rawat Inap

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis
Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

Eksisi varicocele
Ligasi tinggi Ralomo
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Hematom
Trauma arteria spermatika :

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16
17
18

Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:

1
2
3
4
5
6
7

Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Urologi
Dokter Spesialis Bedah (K) Vaskular
7 hari
1 minggu
Benjolan tetap ada beham tentu hilang
(ada operasi palomo )
Diharapkan fertilitas membaik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

129

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

:
:
:

Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)


Rawat Inap

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

N. 44
TORSIO TESTIS
Testis terletak lebih. tinggi
Sumbu testis melintang
Nyeri (+)
Orchitis
Orchiofuniculitis
USG Doppler bila tersedia

Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16
17
18

Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:

Orchidopeksi, bila masih viable


Orchidectomi, bila nekrosis
Orchidopeksi sisi yang lain
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Nekrose
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Urologi
7 hari
1 minggu
Putaran testis tereposisi dan terfiksasi Testis tinggal satu
Testis sisi yang lain terfiksasi
Perlu bila orchidectomi
Baik

6
7

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

130

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

N 13.6
PIONEPHROSIS

Kriteria diagnosis

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

Fase akhir dari obstruksi dan infeksi yang parah pada ginjal
Ginjal tak berfungsi dan penuh berisi nanah
Bulging dan nyeri ketok pada daerah Flank sisi yang sakit
Kadang disertai demam (tanda UTI positip )
USG positip
Hidronephrosis, Pyelonephrosis, tumor
Lab urine dan darah
FotoBNO, IVP
USG, renogram
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat Inap, segera

Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

Nefrostomi
Nefrektomi bila tidak berfungsi
Antibiotika, analgetika
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan
memadai
Urosepsis
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Urologi
14 hari
2 minggu
Nanah hilang atau ginjal terangkat
Dubious

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

131

VII.
Bedah Plastik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

132

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7
8

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

18

Prognosis

T20 T31
LUKA BAKAR
Luka bakar merupakan kerusakan pada jaringan karena
pengaruh suhu (baik panas maupun dingin) atau dan
penyerapan energi fisik dan dari kontak dengan bahan-bahan
kimia, Setiap penyebab mempunyai gambaran klinis yang
khusus dan manajemen pengelolaannya.
Pembagian derajat luka bakar :
Derajat I: Hanya mengenai cairan epidermis luar, tampak
hiperemi dan eritema
Derajat II : Mengenai lapisan epidermis yang lebih dalam
sebagian dermis disertai lepuh, edema jaringai dan
basah
Derajat III : Mengenai semua lapisan epidemis dan dermis
biasanya tampak luka kering dengan vena
koagulasi pada permukaan kulit
Tanda atau gejala klinik : nyeri, cemas, dehidrasi

Laboratorium : DL, UL, RFT, elektrolit, protein darah


Mikrobiologi : kultur dan tes kepekaan kuman
Radiologi
: foto polos toraks AP
Jantung
: EKG
: Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
: Rawat Inap untuk luka bakar derajat II - III minimal 15%
luasnya atau trauma didaerah muka atau trauma inhalasi.
: - Tindakan darurat ABC, retutilasi jantung, paru, otak
- Koreksi elektrolit dengan rumus "Rule of Nine" dun M
Hiperaktif
- Perawatan terhadap jantung, paru, ginjal, hati
- Terapi Suportif seperti nutriri, protein
- Antibiotika, analgetika, antidiuretika
- Ftertolongan pertama bisa diberikan air dingin (singkat)
: Minimal rumah sakit kelas-C atau Rumah Sakit dengan fasilitas perawatan luka bakar
memadai
: Gangguan elektrolit, gangguan fungsi jantung, paru, otak,
kontraktur hati dan ginjal, infeksi sepsis
: Perlu
: Dokter Umum (pertolongan pertama maupun terapi konservatif
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Plastik
: 7 - 30 hari
: 4 - 8 minggu
: sembuh atau sembuh dengan bercacat atau meninggal dunia
:
: diperlukan bila penderita meninggal dunia karena trauma atau
sebab yang tidak jelas
: Baik atau dubious atau jelek

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

133

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

:
:

8
9

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

6
7

:
:
:
:

L. 73
KELOID
Suatu penyakit tumor jinak pada kulit yang disebabkan oleh
akumulasi kolagen pada jaringan ikat kendor saal penyembuhan
luka.
Laboratorium Hb.; hematokrit; elektrolit darah

Rawat jalan bila dilakukan dengan local anestesi.


Rawat inap atas indikasi ko-morbiditas lain :
Eksisi :
Minimal rumah sakit kelas-C.
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana memadai :
Perdarahan
Infeksi :
Perlu
Dokter SpesialisBedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Plastik j
5 hari
3 minggu
Pemendekan berhasil dikendorkan

Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

134

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

M. 67
KONTRAKTUR

Kriteria diagnosis

Memendeknya jarak antara dua titik pada permukaan tubuh


akibat proses kontraksi pada penyembuluin lukn

4
5

:
:

Foto roentgen bila dicurigai ada kerusakan/kelainan sendi.

:
:

Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait.


Rawat inap untuk operasi

8
9

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi bedah
Tempat Pelayanan

:
:

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Release kontraktur dan graft/flap


Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana pembedahan yang
memadai
Perdarahan, Necrosis graft / flap
Infeksi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Plastik
Dokter Spesialis Bedah Orthopedi
Dokter Spesialis Bedah (K) Kepala Leher untuk daerah KL
Tergantng derajat parah luka bakar

6
7

Keloid tereksisi
Perlu
Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

135

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Q 36
SUMBING BIBIR (LABIOSKISIS)

3
4
5

Kriteria diagnosis
Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi

:
:
:

Kelainan bawaan bibir atas tidak menyatu

8
9

Perawatan rumah
sakit
Terapi bedah
Tempat Pelayanan

Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait.


Dokter Gigi
Dokter Spesialis Anak
Rawat inap untuk operasi

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

:
:

Labioplasti
Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit lain yang mempunyai sarana memadai
Perdarahan
Infeksi
Parut luka tidak baik
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Plastik
5hari
2 minggu
bibir atas-menyatu, dengan garis bibir yang tepat

Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

136

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

O 37
CELAH LANGIT-LANGIT (PALATOSKISIS)

Kriteria diagnosis

Kelainan bawaan. Terdapat celah pada langit-langit

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi

:
:
:

Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait.


Dokter Gigi
Dokter Spesialis Anak

Perawatan rumah
sakit
Terapi Non Bedah
bedah

Rawat inap untuk operasi

Speech therapy, perbaikan gigi


Palatorafi

Tempat Pelayanan

Minimal rumah sakit kelas C


Rumah sakit lain yang mempunyai sarana memadai

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

Perdarahan
Infeksi
Suara sengau
Mai oclusi gigi
Fistula Oronasal
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Plastik

13

Lama Perawatan

10 hari

14
15
16
17
18

Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:

3 minggu
celah langit-langit terkoreksi.

7
8

Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

137

VIII.
BEDAH ORTOPODI

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

138

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non Bedah

bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

6
7

:
:
:

S 43.0
DISLOKASI BAHU
Riwayat trauma
Nyeri(+)
Deformitas - asimetri
Gangguan gerakan bahu
Fr. dislokasi '
fir. dan dislokasi
Foto polos bahu AP / lat
Dokter Spesialis lain yang terkait bila diperlukan
Rawat jalan
Rawat Inap bila operasi
Reduksi menurut Kocher atau Hipokrates
K/p dengan pembiusan
Untuk kasus-kasus neglected
Minimal rumah sakit kelas C
RS dengan fasilitas pembedahan yang memadai
Cidera N. Assttss plexus brachialis
Gangguan sirkulasi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi (terutama kasus ngeglected)
7 hari
4 - 6 minggu
Tereposisi dg baik

Baik
Kaku sendi dapat terjadi ( Operasi)

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

139

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non Bedah

:
:

6
7
8

S 42.0
FRAKTUR KLAVIKULA
Riwayat trauma
Tanda pasti fraktur pada klavikula
Foto polos adanya fraktur di clavicula
Dislokasi acromio-clavicular
Foto polos clavicula AP

:
:

Dokter spesialis terkait, bila diperlukan


Rawat jalan untuk pcrawatan non bedah
Rawat inap untuk perawatan bedah

figure of-8/ ransel verband, arm sling

bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Plate & screw


K-wire (lebih baik)
Dua indikasi bedah (absolut): - Fraktur terbuka
- Gangguan neurovaskular
Minimal RS kelas-C
RS lain dengan fasilitas pembedahan yang memadai
Vaskuler
Saraf
Infeksi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi
1 - 7 hari
1 1,5 bulan
Tereposisi dengan baik
Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

140

S 42.3
FRAKTUR HUMERUS
Riwayat trauma
Tanda pasti fraktur humerus
Angulasi, perpcndekan, rotasi
Kondisi Minis nervus radialis
Foto polos adanya fraktur humerus

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

:
:

Foto polos humerus AP / lat

:
:

Dokter Spesialis lain yang terkait (bila diperlukan )


Rawat jalan

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non Bedah

Reposisi dengan pembiusan Gips U-slab / Hanging cast

bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

6
7

Nailing / plate and screw


Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan tasilitas pembedahan yang memadai
Lesi N.Radialis (masuk informed concert)
Infeksi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi
1 - 14 hari
12 24 minggu
Tereposisi dan terfiksasi pada posisi fungsional yang optimal

Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

141

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

:
:

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non Bedah

bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

6
7

S 82
FRAKTUR CRURIS
Riwayat trauma
Tanda pasti patah tulang pada tibia/ fibula
Foto Ro : fraktur pada tibia dan pada fibula
Foto polos cruris AP/Lat

:
:

Dokter spesialis terkait, bila diperlukan


Rawat jalan untuk non bedah
Rawat inap untuk pembedahan

Reposisi
Long leg cast/ PTB cast
Pemasangan impiant/ piate-screw
Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan tasilitas pembedahan yang memadai
Malunion/ delayed union
Compartment syndrome (pada kasus tertutup)
Infeksi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi
1 minggu
4 - 8 minggu
Tereposisi dan terfiksasi pada posisi fungsional yang optimal

Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

142

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

S 52.3
FRAKTUR GALEAZI

Kriteria diagnosis

Adanya trauma
Tanda-tanda pasti patah tulang
Foto polos: patah tulang radius 1/3 mid distal diafisis dengan
dislokasi scndi radioulnar distal

4
5

:
:

Radiologi: Polos lengan bawah AP/ lat

:
:

Dokter spesialis terkait, bila diperlukan


Rawat inap

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non Bedah

Reposisi
Gips sampai diatas siku

bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

6
7

Operasi bila non bedah gagal


Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan tasilitas pembedahan yang memadai
Malunion, nonunion, gangguan gerak
Infeksi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi
7 hari
6 minggu
Ffagmen tulang tereposisi & terfiksasi dengan baik

Baik / Gangguan gerak

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

143

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

S 52.0
FRAKTUR MO'NTEGIA

Kriteria diagnosis

Adanya trauma
Tanda tanda pasti patah tulang
FbtoPolos : patah tulang ulna proksimal dan dislokasi caput radii

4
5

:
:

Radiologi: foto polos lengan bawah AP / lat

:
:

Dokter spesialis terkait, bila diperlukan


Rawat inap

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16
17
18

Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:

Pembedahan, tidak boleh membuang caput radii, terutama


pada anak-anak
Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan tasilitas pembedahan yang memadai
Non union, malunion, gangguan gerak, infeksi
Infeksi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi
7 hari
6 minggu
Fragmen tulang ulna tereposisi dan terfiksasi dengan baik
Caput radii tereposisi
Baik / Gangguan gerak

6
7

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

144

S 52.4
FRAKTUR RADIUS-ULNA
Trauma
Tanda-tanda pasti patah tulang regio antcbrachii
Ro foto antebrachii AP / lat

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

:
:

Radiologi: foto polos Antebrachii AP / lat

:
:

Dokter spesialis terkait, bila diperlukan


Rawat inap

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non Bedah

Bedah
Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Reposisi dengan pembiusan


Gips sampai diatas siku atau disebut long arrc plaslw bahaya
penekanan N.
Radialis Bila non bedah gaga plate & screw
Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan tasilitas pembedahan yang memadai
Compartment syndrome Neuropraxia N. Radialis Infeksi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Urrium
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi
7 hari
6 8 minggu
Fragmen tulang tereposisi dan terfiksasi dengan baik

6
7

Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

145

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

S 52.5
FRAKTUR COLLES

Kriteria diagnosis

Tanda-tanda pasti patah tulang


Trauma lengan karena menahan dengan out strecht hand

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non Bedah

:
:

Radiologi: foto polos Antebrachii AP / lat

:
:

Dokter spesialis terkait, bila diperlukan


Rawat inap

Reposisi dengan pembiusan


Rksasidalam posisi pronasi. semi fleksidan ul
Gips sampai di bawah siku atau disebut mould d
siku untuk mencegah gerakan rotasi (pro-supinasi
Bila non bedah gagal
Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan tasilitas pembedahan yang memadai
Compartment syndrome
Suddec atropi
Infeksi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Urrium
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi
7 hari
4 - 6 minggu
Fragmen tulang tereposisi dan fiksasi pada posis'
optimal
Fungsional baik

6
7
8

Bedah
9

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16
17
18

Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:

Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

146

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

T 02
PATAH TULANG TERBUKA

Kriteria diagnosis

Tarida-tanda trauma pasti patah tulang Ada perlukaan di daerah


fraktur (1,11,111) Fragmen tulang berhubungan dengan dunia
luar

4
5

:
:

Radiobgi: foto polos AP / lat

:
:

Dokter spesialis terkait, bila diperlukan


Rawat inap

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Debridement
Fiksasi interna untuk grade HI (pertimbangkan berapn
sesudah kejadian, ingat Frederich-golden period)
Fiksasi ekstema untuk grade HI
Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan tasilitas pembedahan yang memadai
Infeksi
Perdarahan.
Cpmparbnent syndroma
Emboli lemak
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Urrium
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi
1 2 minggu
12 minggu
Mencapai posisi anatomi dan fungsional optimal

6
7

Dubius ad bonam

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

147

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non Bedah

:
:

Bedah
9

Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil Bedah

:
:
:

16
17
18

Non bedah
Patologi
Otopsi
Prognosis
Non bedah

:
:
:

Bedah

T 08
FRAKTUR KOMPRESI VERTEBRA
Riwayat trauma
Nyeri tulang belakang
Adanya kyphosis
Lesi saraf+/Kelainan degeneratif tulang belakang
Gibbus karena tbc tulang belakang
Foto polos AP/Lat dark
- vertebra torakal
- vertebra lumbosakra!
- vertebra servikal
Dokter spesialis terkait, bila diperlukan
Rawat inap
Bedrestgips korset/ brace (stabil & tidak ada lesi medulla spinalis)
Bila ada gangguan neurologis "5 pillow nursing"
Tidak stabil
Ada lesi medulla spinalis
Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan tasilitas pembedahan yang memadai
Infeksi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah t Jmum untuk non bedah
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi untuk tindakan
pembedahan, atau Spesialis Bedah Saraf
2 - 4 minggu
> 12 minggu
Immobilisasi dengan brace
Fiksasi rigid
Jepitan medulla spinalis (-)

Baik
Dubius ad malam

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

148

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

:
:
:

Dokter spesialis terkait, bila diperlukan


Rawat inap

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non Bedah

S 3.1
DISLOKASISIKU
Riwayat trauma
Deformitas/asimetri
Limitasi gerakan sendi : :
Fr. dislokasio cpicondyler humeri, caput collum radii atau
anconius olecranon
foto polos siku AP / lat

: Reposisi dengan pembiusan


Imobilisasi dengan posisi fleksi

Bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

6
7

Operasi bila reposisi gagal :


Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan tasilitas pembedahan yang memadai
Lesi N.Ulnaris, N.Medianus
Lesi vaskuler
Infeksi
Perlu
: Dokter Spesialis Bedah Umum untuk tindakan non bedah
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi terutama bila memerlukan
pembedahan
1 7 hari
4 - 6 minggu
Tereposisi dengan baik

Baik
Kaku sendi bisa terjadi (operasi)

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

149

:
:

S 73.0
DISLOKASI PANGGUL
Riwayat trauma
Nyeri panggul
Posisi aduksi dan internal rotasi pada sisi yang sakit
Tungkai memendek pada sisi Sakit
Fr. dislokasi
Fr. dan dislokasi
Foto polos panggul AP/ lat atau AP/aksial juga proyeksi
amblurator atau alar (oblique)
Dokter spesialis terkait, bila diperlukan
Rawat inap

Reposisi cara bigelow dengan pembiusan

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non Bedah

Bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

6
7

Operasi bila terapi non bedah gagal


Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan tasilitas pembedahan yang memadai
Fraktur intra artikuler
Cidera N. ischiadicus
Avascular necrosis kaput femoris
Infeksi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum untuk tindakan non bedah
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi terutama bila memerlukan
pembedahan
2 minggu
8 minggu
Tereposisi dengan baik

Baik
Kaku sendi bisa terjadi (operasi)

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

150

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

:
:
:

Dokter spesialis terkait, bila diperlukan


Rawat Inap untuk operasi

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non Bedah

S 72.0
FRAKTUR FEMUR
Trauma mayor pada paha
Tanda pasti patah tulang (+)
Kemungkinan jenis fraktur femur yang sulit di deteksi secara
klinis:
fraktur shaft femur
fraktur trokanter
fraktur kolum femoris
fraktur kondilus femur
Foto polos

Bila menolak operasi:


Traksi skeletal
Traksikulit

Bedah
Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16
17
18

Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:

6
7

Operatif
Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan tasilitas pembedahan yang memadai
Non union, mal-union, infeksi dan cidera neurovackuler
Perlu
Dokter Umum yang terlatih untuk traksi
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi
Operasi: Shaft femur (nailing/ plate screw)
Dokter Spesialis Umum,
Dokter Sp.Bedah Orthopaedi Kolum femur, Trokhanter &
kondilus femur :
Dokter Bedah Orthopaedi
5 hari
1 minggu
Posisi anatomis optimal
Fungsional baik

Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

151

S 82.0
FRAKTUR PATELA
Adanya trauma pada lutut
Tanda pasti patah tulang patela
Fungsiolaesa
Foto : patah tulang patela

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non Bedah

:
:

Foto poles lutut AP/lat

:
:

Dokter Spesialis yang terkait


Rawat jalan dan rawat inap

Pasang koker gips hanya untuk kasus yang tidak terjadi distraksi

6
7
8

Pasang tension band wiring


Patelektomi untuk grade IV

Bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16
17
18

Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:

Minimal rumah sakit kelas C


Rumah sakit dengan tasilitas pembedahan yang memadai
Haemarthrosis
Infeksi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi
2 - 7 hari
8 - 12 minggu
Kedua fragmen patella tereposisi & rigid
Fragmen terangkat

Baik/Cacat

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

152

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

S 86.0
RUPTUR TENDON ACHILES

Kriteria diagnosis

Trauma oleh karena mendadak melakukan gerakan Kontraksi


achiles Posisi kaki plantar fiexi Fungsilaesa

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi

:
:
:

Dokter Spesialis lain yang terkait (bila diperiukan )

rawat inap

Perawatan rumah
sakit
Terapi

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Pada kasus clean cut. operasi dengan teknik Bunnel atau Kmlg
Pada kasus Ruptur Tendon Achilles tertutup, operasinya tidak
bisa dengan cara Bunnel atau Kessles karena permukaan tendon
don tidak rata-bahkan mungkin terdapat iuga jaringan avulsi
fraktur os calcis (calcaneus)
Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan tasilitas pembedahan yang memadai
Non union, mal union & infeksi
lnfeksi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi
2 minggu
12 minggu
Kedua fragmen terjahit dengan posisi optimal

6
7

Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

153

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

:
:
:
:

Dokter Spesialis lain yang terkait (bila diperlukan )


rawat inap

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi bedah

S 52.0
FRAKTUR OLEKRANON
Adanya trauma di siku
Tanda pasti patah tulang pada siku
Foto: olekranon patah
Fraktur lain di daerah siku
Foto polos Siku AP/ lat

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Operasi dengan pemasangan tension band wiring atau mungkin


perlu plate & screw bila garis fraktur didaerah shearing force
pada waktu fleksi.
Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan tasilitas pembedahan yang memadai
Kaku sendi siku
Lesi nervus Ulnaris
Infeksi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi
7 hari
4 - 6 minggu
Fraqrnen terfiksasi dengan baik

6
7

Dubius / Cacat

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

154

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

:
:
:
:

Dokter Spesialis lain yang terkait (bila diperlukan )


rawat inap

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi non bedah

S 42.4
FRAKTURA SUPRAKONDILER SIKU
Adanya trauma
Tanda-tanda pasti patah tulang di atas siku
Fraktur-fraktur lain di daerah siku
Radiologi: foto siku AP/ lat

Reposisi dengan pembiusan


Traksi : Bila non bedah gagal

bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

6
7

operasi
Minimal rumah sakit kelas C
Rumah sakit dengan tasilitas pembedahan yang memadai
Kompresi pembuluh darah, Volkmann's Ishaemic Contracture
Kaku sendi siku, mal-union
Infeksi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi
3 minggu
4 - 6 minggu
Kedua fragmen tereposisi & terfiksasi dengan baik

Dubius / Kaku sendi siku

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

155

IX.
Bedah Saraf

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

156

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi

9
10

Tempat Pelayanan
Penyulit

:
:

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

6
7

:
:
:

S 06.0
CIDERA KEPALA RINGAN
Adanya trauma di kepala
CS14-15
Cidera kepala sedang
CVA-TIA
Mabuk
Keracunan Obat
Fbto polos kepala AP/Lat
Fbto polos servikal lateral bila diperlukan
Dokter Spesialis lain yang terkait (bila diperlukan )
Rawat inap pro observasi 2 x 24
Istirahat di tempat tidur
Observasi adanya tanda-tanda komplikasi seperti Hematom
Epidural atau Hematom Subdural, Cidera saraf kranial
Observasi fungsi vital dan neurologis
Obat simptomatis-suportif
Minimal RS kelas - C
Hematom Subdural
Cidera Saraf Kranial
Hematom Epidural
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Saraf
2 4 hari
1 minggu
GCS 15
Perlu
Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

157

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi bedah

:
:

Non bedah
9

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

S 06.0
CIDERA KEPALA SEDANG
Adanya trauma di kepala
GCS9-13
Cidera kepala sedang
CVA
Mabuk
Intoksikasi
CT Scan kepala, bila tidak tersedia dapat dilakukan
Foto polos kepala AP / lat
Foto polos servikal lateral
Dokter spesialis lain yang terkait bila diperlukan
Segera Rawat inap
Istirahat di tempat tidur
Stabilitas fungsi vital (A, B , C )
Deteksi dini adanya tanda-tanda perdarahan intrakranial
Observasi fungsi vital dan neurologis
Pasang collar brace sampai terbukti tidak terdapat fraktur
servikal
Obatsuportif dan simptomatis
Manitol bila diperlukan
Kejang diberi Valium 5-10 mg/iv sampai kejang berhenti
dilanjutkan dengan Phenitoin 3 x 100 mg /iv (diencerkan 20 cc
aqua)
Obat simptomatis
Bila ada indikasi
Rumah sakit yang ada
Dokter Bedah Saraf
Perdarahan intrakranial
Edema otak
Herniasi otak
Pneumonia
Cidera otak sekunder
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Saraf
1 2 minggu
1 -2 minggu
GCS 15
Perlu
Pada umumnya baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

158

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7
8

Konsultasi
:
Perawatan rumah :
sakit
Terapi Non bedah :

bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16
17
18

Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:

S 06
CIDERA KEPALA BERAT
Adanya trauma di kepala
GCS3-8
Koma karena sebab lain
Hb, aula darah, analisa gas darah
CT-Scan kepala tanpa kontrast
Fbto polos servikal lateral
Dokter spesialis lain yang terkait bila diperlukan
Segera Rawat inap di ICU
Pasang collar brace sampai terbukti tidak dijumpai fraklw
Servikal
Resusitasi dan intubasi endotraheal
Observasi fungsi vital dan neuroiogis
Manitol 2 cc/kg BB/20 menit setiap 6 jam
Phenitoin 3 x 100 mg iv (diencerkan dgn 20 cc aqua)
Obat-obat suportif
Obat simptomatis
Operatif bila ada indikasi
Minimal rumah sakit klas C atau
Rumah sakit yang ada Dokter Bedah Saraf dengan peralatan
pembedahan yang memadai
Cidera otak sekunder
Oedema Otak
Perdarahan intrakranial
Infark
Pneumonia
Her niasi otak
Perlu untuk perawatan maupun tindakan
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Saraf
7 30 hari
4 10 minggu
GCS membaik kemudian perawatan dan rehabilitasi dilanjutkan
dirumah
Perlu
Dubius ad rnalam

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

159

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

S 02.1
FRAKTUR BASIS KRANII
Adanya trauma di kepala disertai salah satu tanda :
Keluar darah / likuor dan" hidung atau telinga
Brill Haematoma
Battle Sign
Lesi saraf kranial

Diagnosa banding

:
:
:

Dokter spesialis lain yang terkait bila diperlukan


Segera Rawat inap di ICU

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

Fraktur tulang hidung atau fraktur tulang wajah


Trauma pada kelopak atau mata
CT Scan kepala tanpa kontras

Istirahat ditempat tidur, simptomatis, antibiotika, perawatan


kebersihan lubang hidung atau lubang telinga

bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16
17
18

Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:

6
7

Bila kebocoran likuor deras atau indikasi lain


Minimal rumah sakit Kelas C atau
Rumah sakit yang ada Dokter Bedah Saraf dengan
peralatan pembedahan yang memadai
Meningitis
Lesi saraf kranial
Fistula karotiko-kavernosa
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Saraf
7 14 hari
2 minggu
Tidak ada kebocoran likuor
Tidak ada meningitis
Perlu
Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

160

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

:
:

6
7
8

:
:
:

bedah
9

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16
17
18

Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:

S 02.0
FRAKTUR IMPRESI TULANG TENGKORAK11IUHM
ATAU TERTUTUP
Adanya trauma di kepala
Sebagian fragmen tulang masuk
Dengan atau tanpa keluarnya jaringan otak
Dengan atau tanpa jejas / luka di kepala
Hematom subgaleal
Fbto polos kepala tiga posisi
CT Scan Kepala bila ada indikasi
Dokter spesialis lain yang terkait bila diperlukan
Segera Rawat inap di ICU
Debridement dan Bevasi bagian tulang yang depresi indikasi
Bila depresi lebih dari tebal tulang tengkorak
Ada fragmen tulang yang masuk ke otak
Kosmetik
Frakrur Imprest diseftai luka terbuka
Indikasi lain misalnya : Perdarahan intrakranial
Minimal rumah sakit Kelas C atau
Rumah sakit dengan fasilitas pembedahan yang memadai
Kebcooran liquor serebrospinalis oedema cerebri
Meningitis
Epilepsi
Perdarahan intrakranial
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Saraf
7 14 hari
2 minggu
Tidakterjadi infeksi
Tidak terjadi epilepsi
Perlu
Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

161

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

9
10

bedah
Tempat Pelayanan
Penyulit

:
:

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16
17
18

Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:

6
7

:
:
:

S 06.4
HEMATOM EPIDURAL
Trauma di kepala disertai sakit kepala, mual dan muntah yang
semakin berat
Foto kepala.: terdapat fraktur linier
Adanya interval bebas (lucid interval)
Adanya lateralisasi atau Tanda herniasi otak
Hematom Subdural atau Intraserebral
Stroke - ICH
Tumor otak
CT Scan kepala
Foto polos kepala AP / lat. Bila CT scan tidak tersedia
Dokter spesialis lain yang terkait bila diperlukan
Segera Rawat Inap untuk tindakan diagnostik / bedah
Manitol 5 cc/kgBB/20 menit ( untuk memberi kesempatan
dilakukan transportasi, diagnostik, persiapan bedah )
Kejang diberi Valium 5-10 mg/iv dilanjutkan Phenitoin 3 x 100
mg /iv/diencerkan 20 cc aqua
Burr Hole (kraniotomi) diagnostik
(bila tidak tersedia CT Scan atau pasien sangat cepat memburuk)
Rumah sakit dengan fasilitas pembedahan Bedah Saraf
Herniasi otak
Pneumonia
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Saraf
14 hari
2-4 minggu
Tidak ada peningkatan tekanan intra kranial
GCS membaik
Perlu
Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

162

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7
8

Konsultasi
:
Perawatan rumah :
sakit
Terapi Non bedah :

bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16
17
18

Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:

S 32
CIDERA SUMSUM TULANG BELAKANG
Trauma di tulang belakang
Nyeri dilokasi tulang belakang
Jejas di lokasi tulang belakang
Foto vertebra : terdapat fraktur kompresi, dislokasi
Adanya defisit neurologis
Sindrom Guillian Barre
Stroke-ICH
Tumor otak
Foto polos vertebra AP/L
CT Scan bila diperlukan
MRI bila diperlukan
Dokter spesialis lain yang terkait bila diperlukan
Segera Rawat Inap untuk tindakan diagnostik / bedah
Fiksasi, imobilisasi (collar dan papan pengangkut)
Resusitasi
Solumedrol (harus diberikan sebehim 8 jam pertama)
Dosis pertama:
30 mg/kgBB/diencerkan aqua 40cc/drip dalam 15 menit
Dosis berikutnya:
5,4 mg/kgBB/diencerkan aqua 10 cc/drip dalam 60 menit selama
23 jam
Kontra indikasi Solumedrol:
hamil, DM, herpes, TBC aktif, ulkus peptikum, umur < 13 tahun
Terapi terhadap spinal shok (beri vasopressor bukan cairan)
Atasi bradikardi (sulfas atropin)
Cegah hipotermi
Dekompresi / reposisi / fiksasi / stabilisisi tergantung indikasi
Minimal rumah sakit kelas C atau
Rumah sakit dengan fasilitas pembedahan yang memadai
Spinal Shok
Kehimpuhan otot nafas / apnea
Pneumonia
Luka Dekubitus/kontraktur/infeksi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Saraf
14 hari
2-4 minggu
Bisa didudukkan atau diberdirikan
Tidak terdapat dekubitus
Perlu
Tergantung beratnya cidera

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

163

BEBERAPA HAL PENTING MENGENAI CIDERA KEPALA


1. Cidera kepala adalah kegawat daruratan bedah saraf
2. Resiko kecacatan dan kematian cukup besar
3. Cidera otak sekunder meningkatkan morbiditas dan mortalitas
4. Cidera otak sekunder dapat terjadi karena kejang, hipotensi, hipoglikemia dan hipoksi
5. Komplikasi dapat terjadi pada fase akut, fase subakut maupun fase kronis
6. Diperlukan perhatian dan penanganan serta observasi berkeianjutan dan jangka panjang
Derajad cidera kepala :
Ditentukan oleh nilai GCS (Glasgow Coma Scale = skala koma dari Glasgow) yang paling
rendah pada 6 jam pertama sesudah optimal resusitasi.
Cidera Kepala Ringan bila GCS antara 14 - 15
Cidera Kepala Sedang bila GCS antara 9 -13
Cidera Kepala Berat bila GCS antara 3-8
Glasgow Coma Scale (GCS) :
E = Reaksi membuka mata :
4 = buka mata spontan
3 = buka mata dengan rangsangan suara/dipanggil
2 = buka mata bila dirangsang nyeri
1 = tidak dapat buka mata walau dirangsang apapun
V = Reaksi berbicara :
5 = komunikasi verbal baik, jawaban tepat
4 = disorientasi waktu, tempat, orang
3 = dengan rangsangan hanya ada kata-kata bukan kalimat
2 = dengan rangsangan hanya ada suara, tak berbentuk kata
1 = tak ada suara dengan rangsangan apapun
M = Reaksi gerakan lengan/tungkai:
6 = menuruti perintah
5 = melokalisir nyeri .
4 = withdrawal = hanya menarik bagian tubuhnya bila nyeri
3 = bila nyeri timbul fleksi abnormal (dekortikasi)
2 = bila nyeri timbul ekstensi abnormal (deserebrasi)
1 = tidak ada gerakan dengan rangsangan apapun

Indikasi rujukan ke Rumah Sakit yang ada Dokter Spesialis Bedah Saraf:
1. Cidera kepaia ringan dengan gejala Tekanan [ntrakranial Meningkat (bradikardi atau
kejang, muntah hebat, nyeri kepaia hebat) yang tidak menghilang dengan pemberian obatobatan
2. Cidera kepala sedang
3. Cidera kepala berat
4. Fraktur impresi (tertutup atau terbuka)
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

164

5. Luka tusuk, luka kena clurit, luka tembak


6. Sebaiknya sebelum merujuk dikomunikasikan dulu dengan tempat rujukan
Manitol 20% :
Berfungsi sebagai osmotik diuretik yang sangat berguna untuk :
1. Hematom epidural, hematom subdural, hematom intraserebral selama transportasi,
diagnostik atau menunggu pembedahan.
2. Cidera kepala sedang dengan dedem
3. Cidera kepala berat
4. Tanda Tekanan intra kranial yang meningkat atau tanda-tanda herniasi

Peralatan dan obat emergensi :


1. Bag. And mask / ambu bag
2. Oksigen dan masker
3. Pipa endotrakea
4. Tube irifaring
5. Valium
6. Manitol 20 %
7. Alat dan cairan infus

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

165

X
Bedah Traumalogi

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

166

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit

Terapi

Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Prognosis

:
:
:
:
:

6
7

:
:

S 06.0
CIDERA OTAK RINGAN
(COMMOTIO CEREBRI)
Adanya trauma di kepala
Kehilangan kcsadaran lebih 15 menit
GCS9-13
Somnolcn dan retrograde amnesia (+)
Laterallsasl (-)
Cidera kepala sedang
CVA
Mabuk
Foto Ro servical & foto Ro Kepala AP/lat, bila diperlukan
Dokter spesialis lain yang terkait bila diperlukan
Rawat jalan
Rawat inap bila GCS menurun
Adanya laterasi
Muntah, nyeri kepala dan vertigo bertambah berat
Istirahat di tempat tidur
Observasi fungsi vital & neurologis
Obat simptomatis suportif
Minimal RS Kelas C
RS lain dengan fasilitas pembedahan yang memadai
Tidak ada
Perlu
Dokter umum
Dokter spesialis saraf
Dokter sepsialis bedah
Dokter spesialis bedah saraf
2 - 4 hari
1minggu
GCS 15
baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

167

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

Kriteria diagnosis

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7
8

Konsultasi
:
Perawatan rumah :
sakit
Terapi Non bedah :

Bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

S 06.3
CIDERA OTAK SEDANG
(FOCAL BRAIN INJURY)
Adanya trauma di kepala
Kehilangan kcsadaran lebih 15 menit
GCS9-13
Somnolcn dan retrograde amnesia (+)
Laterallsasl (-)
CVA
Mabuk
Intoksikasi
Foto Ro servikal
Foto Ro kepala AP/lat
CT scan kepala bila tersedia
Dokter spesialis lain yang terkait bila diperlukan
Segera rawat inap untuk observasi dan tindakan
Istirahat ditempat tidur
Observasi-fungsi vital & neurologis
Pasang collar brace
Stabilitas.fungsi vital
Obat-obai supportif:
Memperbaiki metabolisme otak
Kortikosteroid
Mannitol
Obat simpiomatis :
Antibiotika profilaksis
Bila ada tanda perdarahan intra kranial
Minimal RS kelas-C ,
RS lain dengan fasilitas pembedahan yang memadai
Edema otak
Herniasi otak
Dekubitus
Pneumonia
Cidera otak sekunder
Hanya bila dilakukan operasi
Dokter Spesialis Saraf untuk n&n bedah saja
Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah Saraf
1 2 minggu
1 2 minggu
GCS 15
Periu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas.
Dubius ad bonam

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

168

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

:
:

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

Bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

6
7

:
:
:

S 06.2
CIDERA KEPALA BERAT (LACERATION CEEBRI)
Adanya trauma di kepala Kehilangan kesadaran sampai koma
GCS3-8 Lateralisasl -/+
Koma penyebab lain
Lab : darah lengkap, gula darah, analisa gas darah Foto Ro
servikal & CT scan kepala bila sudah stabil
Dokter spesialis lain yang terkait bila diperlukan
Segera rawat inap untuk observasi dan tindakan
Pasang collar brace
Resusitasi kardiopulmoner
Observasi fungsi vital dan menurologis
Obat supportif
Obat simptomatis :
Operatif bila ada indikasi :
Minimal RS kelas-C
RS Iain dengan fasilitas pembedahan yang memadai
Pneumonia
Dekubitus
Herniasi otak
Cidera otak sekunder :
Hanya bila dilakukan operasi
Dokter Spesialis Saraf untuk non bedah saja
Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah Saraf
1 4 minggu
Tergantung kondisi
GCS membaik / meninggal
Perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas.
Dubius ad bonam
Jelek

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

169

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7
8

Konsultasi
:
Perawatan rumah :
sakit
Terapi Non bedah :

Bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16
17

Patologi
Otopsi

:
:

18

Prognosis

S 06.2
PERDARAHAN EPIDURAL
Adanya trauma di kepala
Adanya interval lucida beberapa menit sampai beberapa
Sakit kepala, mual, muntah yang semakin berat
Penurunan GCS
Adanya lateralisasi
Foto kepala: terdapat fraktur linier os temporalis
Tanda herniasi otak
Perdarahan subdural
Stroke ICH
Tumor otak :
X-foto kepala AP/lat
CT scan kepala bila tersedia
Burr Hole diagnostik bila diperlukan :
Dokter spesialis lain yang terkait bila diperlukan
Segera rawat inap untuk observasi dan tindakan
Supportif:
Ahtibiotika profilaksis
Kortikosteroid, dll
Sito trepanasi.
Hentikan perdrahan dan evakuasi :
Minimal RS kelas-C
RS Iain dengan fasilitas pembedahan yang memadai
Herniasi otak
Dekubitus
pneumonia :
Perlu
Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah Saraf :
1 4 hari
2 4 minggu
Perdarahan epidural berhenti
GCS membaik
Perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas.
Dibius ad malam / meninggal

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

170

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi bedah

Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

S 02.00 / S02.01
FRAKTUR IMPRESIATAP TENGKORAK
Adanya trauma di kepala
Adanya jejas di kepala
Sebagian fragmen tulang teraba masuk
Luka terbuka dengan jaringan otak keiuar
Fraktur impresi tcrtutup
Fraktur impresi terbuka
Ada atau tanpa laserasi otak
Ada atau tanpa perdarahan intrakranial yang menyertai
X-foto kepala tiga posisi
CT scan kepala bila tersedia
Burr Hole di diagnostik bila diperiukan
Dokter spesialis lain yang terkait bila diperlukan
Segera rawat inap untuk observasi dan tindakan
Macam operasi tergantung situasi
Debridement
Trepanasi
Qevasi
Indikasi :
1). Tertutup
bila kompresi lebih dari Vz tebal tulang tengkorak
bila lebih 1 cm
adanya defisit nervus lagi
kosmetik 2), Terbuka
3). Perdarahan intrakranial
Minimal RS kelas-C
RS lain yg mempunyai saran pembedahan yg memadai
Kebocoran liquor serebrospinalis Meningitis
Perlu
Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah Saraf
7 - 14 hari
2 4 minggu
Tekanan jaringan otak oleh tulang (-) Perdarahan intrakranial (-)
Perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas.
Dibius ad malam

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

171

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

S 00.S 01 / S07
TRAUMA JARINGAN LUNAK WAJAH

Kriteria diagnosis

Cedera superfisial kepala. S00


Luka terbuka kepala, SOI
Cedera remuk kepala, S07

Diagnosa banding

:
:
:

Dokter spesialis lain yang terkait bila diperlukan


Segera rawat inap untuk observasi dan tindakan

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi bedah

Perlukaan yang mengenai jaringan lunak wajah, bisn berupa


trauma tajam, trauma tumpul atau ledakan. Ditandai adanya luka
terbuka pada wajah, bisa bersih atau kotor tergantung macam
dan tempat terjadinya trauma
X-foto bila curiga adanya fraktur tulang dibawah jaringan lunak

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

Debridemen yang bersih, eksplorasi struktur dibawah kulit ikut


rusak.
Jahit luka :
Luka bersih : jahitan biasa
Luka kotor : jahitan jangan terlalu rapat, kalau perlu
beri drain hanschoen.
Patokan :
Cari masing-masing pasangan dari jaringan yang terkoyak
Aposisi level muko kutaneus harus tepat
Minimal RS kelas-C
RS lain yg mempunyai saran pembedahan yang memadai
Infeksi
Defek akibat hilangnya jaringan
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) KL
Dokter Spesialis Bedah Plastik & Rekonstruksi
5- 7 hari
21 hari
Luka sembuh, infeksi (-)
Tidak perlu
Tidak perlu
Baik

6
7

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

172

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

S 02.4
FRAKTUR MAKSILA

Kriteria diagnosis

Trauma daerah maksila yang mengakibatkan diskontinuitas


tulang maksila, ditandai dengan adanya maloklusi dan floating
maksila. Bisa disertai edema, nyeri, hematoma, periorbital,
rinore

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7

:
:

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

X-foto Waters:
Le Fort 1 : garis fraktur transversal bawah
Le Fort II
: garis fraktur pyramidal
Le Fort III : garis fraktur transversal atas
Dokter spesialis lain yang terkait bila diperlukan
Segera rawat inap untuk observasi dan tindakan
Suspensi frontosirkumferensial + arc bar, atau plating
(dikerjakan sebelum 7 hari dari trauma)
Arc bar bawah dilepas hari ke-30
Arc bar atas dan suspensi dilepas hari ke-60
Minimal RS. kelas-C
RS. lain yang mempunyai sarana pembedahan memadai
Malunion
Non union
Osteomielitis
Kekakuan sendi temporomandibuler
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) KL
Dokter Spesialis Bedah Plastik & Rekonstruksi
3 hari
8 minggu
Tulang maksila union, maloklusi tidak ada
Tidak perlu
Perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas.
baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

173

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

S 02.2
FRAKTUR NASAL

Kriteria diagnosis

Trauma daerah hidung yang mengakibatkan diskontinuitas


tulang hidung, ditandai dengan adanya deformitas hidung edema
dan epistaksis

4
5

:
:

X- foto nasal

:
:

Dokter spesialis lain yang terkait bila diperlukan


Segera rawat inap untuk observasi dan tindakan

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

Reposisi segera, pasang tampon hidung dan gips kupu kupu


Tampon hidung dilepas hari ke 3-4. gips kupu-kupu dilepas
hari ke-21
Minimal RS. kelas-C
RS. lain yang mempunyai sarana pembedahan memadai
Perdarahan
Malunion
Infeksi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah (K) KL
Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi
3 - 4 hari
4 minggu
Tulang hidung union, tidak ada deformitas
Tidak perlu
Perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas.
baik

6
7

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

174

S 02.4
FRAKTUR ZIGOMA
Trauma daerah zigoma yang menyebabkan diskontinuitas tulang
zigoma, ditandai dengan adanya deformitas dan nyeri tekan.
Bisa disertai hematom periorbital, diplopia, parestesi infraorbital,
edema, enoptalmus atau eksoptalmus

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi

:
:
:

X-foto Waters, nampak garis fraktur, biasanya pada 3 tempat


yaitu margo inferior orbita, silier dan arkus zigomatikus
Dokter spesialis lain yang terkait bila diperlukan

Segera rawat inap untuk observasi dan tindakan

Perawatan rumah
sakit
Terapi non bedah

Bila tidak ada deformitas atau diplopia, observasi


Analgetika : Reposisi Gillies.

Bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11

Informed consent

12

Tenaga Standar

Dokter Spesialis Bedah Umum


Dokter Spesialis Bedah (K) KL
Dokter Spesialis Bedah Plastik & Rekonstruksi :

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

3 hari
4 minggu
Tulang zygoma union, deformitas (-), gangguan okuli (-)

16
17

Patologi
Otopsi

:
:

Tidak perlu
Perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas.

18

Prognosis

baik

6
7

Reposisi dan fiksasi dengan interoseus wiring atau plating


Minimal RS. kelas-C
RS. lain yang mempunyai sarana pembedahan memadai
Malunion
Non union
Osteomielitis
Perlu

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

175

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

S 02.6
FRAKTUR MANDIBULA

Kriteria diagnosis

Trauma pada mandibula yang mengakibatkan diskontinuitas


tulang mandibula, ditandai adanya maloklusi dan falso
movement, bisa diseTtai edema dan nyeri tekan

4
5

:
:

X-foto mandibula AP+Lat+Eisler,atau panoramik

:
:

Dokter spesialis lain yang terkait bila diperlukan


rawat inap

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Bedah

9
10

Tempat Pelayanan
Penyulit

:
:

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

Interosseus wiring+arc bar, atau plating (dikerjakan sebelun


14 had dan trauma), arc bar dilepas hari ke 30
RS dengan fasilitas Kamar Operasi
Maluniom
Non union
Osteomielitis
Kekakuan sendi temporomandibuler
Perlu
Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah (K) H&N
Dokter Spesialis Bedah Plastik & Rekonstruksi
3 hari
4 minggu
Tuiang mandibula union.maloklusi (-), sembuh
Tidak perlu
Perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas.
baik

6
7

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

176

S02.-1, S12.-1, S22.-1, S32.-1, S42.-1. S52-1, S62-1, S72-1,


S82.-1, S92.-1, T02.-1, T08-1. T10-1
PATAH TULANG TERBUKA
Ada trauma
Ada tanda patah tulang (krepitasi. deformitas, pergerakan
abnormal, nyeri kalau bergerak, ganguan fungsi, pemendekan
tulang panjang)
Ada perlukaan di daerah fraktur (1,11,111)
Fragmen tulang berhubungan dengan dunia luar

ICD

2
3

Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi

:
:

Radiologi: foto Ro. AP / lat

:
:

Dokter spesialis lain yang terkait bila diperlukan


Rawat inap untuk observasi dan tindakan

Analgetika,
Antibiotika
Debridement
Fiksasi interna untuk grade I-II
Fiksasi eksterna untuk grade III
Minimal RS. kelas-C
RS. lain yang mempunyai sarana pembedahan memadai
Infeksi
Perdarahan
Kompartment syndroma
Emboli lemak
Perlu
Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi
7 - 14 hari
12 minggu
Mencapai posisi anatomi dan fungsional optimal
Tidak perlu
Perlu untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas.
baik

6
7
8

Bedah
9

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

177

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

:
:

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

Bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17
18

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi
Prognosis

:
:
:
:
:
:

6
7

S 43.0
DISLOKASI BAHU
Riwayat trauma Nyeri(+)
Deformitas - asimetri Gangguan gerakan bahu

X-fotobahuAP/lat

:
:

Dokter spesialis lain yang terkait bila diperlukan


Rau/at jalan
Rawat Inap untuk tindakan operasi

Reduksi menurut Kocher atau Hipokrates


K/p dengan pembiusan :
Reduksi operatif, untuk kasus-kasus neglected
Minimal RS. kelas-C
RS. lain yang mempunyai sarana pembedahan memadai
Cidera N.Axilaris / plexus brachials
Gangguan sirkulasi
Kaku sendi pada dislokasi sendi bahu lama
Perlu
Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi
7 hari
4 - 6 minggu
Tereposisi dengan baik
Tidak perlu
Baik
Kaku sendi dapat terjadi (Operasi)

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

178

ICD

S 52.4

2
3

Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:

FRAKTUR RADIUS-ULNA
Trauma
Tanda-tanda pasti patah tulang regio antebrachii
Ro foto antebrachii AP / lat

4
5

:
:

Radiologi: foto Ro.Antebrachii AP/Iat

:
:

Dokter spesialis lain yang terkait bila diperlukan


Rawat inap untuk observasi dan tindakan

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

Reposisi dengan pembiusan Gips sampai diatas siku

Bedah
Tempat Pelayanan

10
11

Penyulit
Informed consent

:
:

12

Tenaga Standar

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

6
7

Bila non bedah gagal -* plate & screw


Minimal RS. kelas-C
RS. lain yang mempunyai sarana pembedahan memadai
Compartmentsyndrome
Perlu
Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi
7 hari
6 - 8 minggu
Fragmen tulang tereposisi dan terfiksasi dg baik
Tidak perlu
Perlu, untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas
Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

179

ICD

S 52.0

2
3

Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:

FRAKTUR MONTEGIA
Adanya trauma
Tanda-tanda pasti patah tulang
Fbto Ro: patah tulang ulna proksimal dan dislokasi capud radii

4
5

:
:

Radiologi: foto Ro.lengan bawah AP / lat

:
:

Dokter spesialis lain yang terkait bila diperlukan


Rawat inap untuk observasi dan tindakan

8
9

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah
Tempat Pelayanan

:
:

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16
17

Patologi
Otopsi

:
:

18

Prognosis

Bedah pembcdahan
Minimal RS. kelas-C
RS. lain yang mempunyai sarana pembedahan memadai
Non union, malunion, gangguan gerak, infeksi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi
7 hari
6 minggu
Fragmen tulang ulna tereposisi dan terfiksasi dg baik
Cbut radii tereposisi atau dibuang
Tidak perlu
Perlu, untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas
Baik / Gangguan gerak

6
7

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

180

ICD

S 52.3

2
3

Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:

FRAKTUR GALEAZI
Adanya trauma
Tanda-tanda pasti patah tulang (nyeri, bengkak, deformitas,
krepitasi, gangguan fungsi)
Foto Ro: patah tulang radius dcngan disiokasi sendi
radioulnar distal

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

:
:

Radjologi :Ro. Lengan bawah AP/ lat

:
:

Dokter spesialis lain yang terkait bila diperlukan


Rawat inap untuk observasi dan tindakan

Reposisi
Gips sampai diatas siku

6
7
8

bedah
9

Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

Operasi reposisi dan fiksasi bila non bedah gagal


Minimal RS. kelas-C
RS. lain yang mempunyai sarana pembedahan memadai
Malunion, nonunion, gangguan gerak
Perlu
Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi
7 hari
6 minggu
Fragmen tetap terreposisi & terfiksasi dengan baik
Tidak perlu
Perlu, untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas
Baik / Gangguan gerak

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

181

ICD

S 52.0

2
3

Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:

4
5

:
:
:
:

Dokter spesialis lain yang terkait, bila diperlukan


Rawat inap untuk observasi dan tindakan

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

FRAKTUR OLEKRANON
Adanya trauma di siku
Tanda pasti patah tulang pada siku
X-Fbto: olekranon patah
Fraktur lain di daerah siku
Foto Ro-Siku AP/Lat

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

Operasi dengan pemasanganTension band wiring :


:
Minimal RS. kelas-C
RS. lain yang mempunyai sarana pembedahan memadai
Kaku sendi siku
Lesi nervus Ulnaris
Perlu
Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi :
7 hari
4-6 minggu
Fragmen tetap terreposisi & terfiksasi dengan baik
Tidak perlu
Perlu, untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas
Dubius / cacat

6
7

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

182

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

:
:
:
:

Dokter spesialis yang terkait, (bila diperlukan)


Rawat inap untuk observasi dan tindakan

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

S 42.4
FRAKTURA SUPRAKONDILER SIKU
Adanya trauma
Tanda-tanda pasti patah tulang di atas siku
Fraktur-fraktur lain di daerah siku
Radiologi: foto siku AP/ lat

Reposisi dengan pembiusan


Traksi

bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

6
7

Bila non bedah gagal operasi


Minimal RS. kelas-C
RS. lain yang mempunyai sarana pembedahan memadai
Fleksi pembuluh darah
Kaku sendi siku
Perlu
Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi :
21 hari
4-6 minggu
Kedua fragmen terreposisi & terfiksasi dengan baik
Tidak perlu
Perlu, untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas
Dubius / Kaku sendi siku

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

183

ICD

S 42.3

2
3

Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:

FRAKTUR HUMERUS
Riwayat trauma
Tanda pasti fraktur humerus (nyeri, bengkak, deformitas
angulasi/pemendekan, krepitasi, gangguan fungsi)
Angulasi, perpendekan, rotasi
Foto Ro adanya fraktur humerus

4
5

:
:

Foto Ro humerus AP / lat

:
:

Dokter Spesialis lain yang terkait bila diperlukan


Rawat jalan

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

Reposisi dengan pembiusan


Gips U-siab / Hanging cast

bedah
Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

6
7

Pemasangan implant / plate-screw


Minimal RS. kelas-C
RS. lain yang mempunyai sarana pembedahan memadai
Lesi N.Radialis
Perlu
Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi :
1 - 14 hari
12-24 minggu
Tereposisi dan ierfiksasi pada posisi fungsional yang optimal
Tidak perlu
Perlu, untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas
Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

184

ICD

S 42.0

2
3

Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:

4
5

:
:

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

FRAKTUR KLAVIKULA
Riwayat trauma
Tanda pasti fraktur pada klavikula (nyeri. deformitas, krepitasi)
Fbto Ro adanya fraktur di klavicula :
Disiokasi acromio-klavicular
X-foto klavicula AP

bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

6
7

:
:
:

Dokter spesialis terkait, bila diperlukan


Rawat jalan untuk perawatan non bedah
Rawat inap untuk perawatan bedah
Figure of-8 / ransel verband :
Plate & screw bila ada komplikasi vaskuler/ saraf
Non bedah gagal
Minimal RS kelas-C
RSIain yg mempunyai sarana pembedahan yg memadai
Lesi vaskuler
Lesi saraf
Perlu
Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah
1 - 7 hari
4 6 minggu
Terreposisi dengan baik
Tidak perlu
Perlu, untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas
Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

185

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit

:
:

Terapi Non bedah :

bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

S22. 3, S22. 4
PATAH TULANG IGA
Secara klinis patah tulang iga merupakan terputusnya
kontinuitas jaringan tulang iga karena rudapaksa atau penyakit
Tanda dan gejala klinis berupa :
pada inspeksi gerakan dinding toraks asimetris, deformitas
pada palpasi nyeri tekan. nyeri sumbu, krepitasi dari fragmen
tulang yang patah.
Kontusio muskulorum
Laboratorium : pemeriksaan darah dan ECG untuk evaluasi
klinis dan persiapan pembedahan
Radiologi: foto polos rongga dada PA/LAT
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait.
Bila single, tanpa penyulit tak perlu rawat inap di R.S.
Bila multiple dan atau bila terdapat penyulit perlu rawat inap
di R.S. untuk observasi dan tindakan.
Obat-obatan analgetika, anestesi infiltrasi atau blok, perawatan
Konsevatif
Fiksasi internal daerah fraktur dengan memakai clip atau mint
plate atau wire dengan bantuan anestesi umura atau anestesi
lokal atau anestesi blok.
Syarat fraktur tersebut tidak lebih dari 2 (dua) minggu
Minimal R.S. kelas-C.
R.S. lain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai
Ruptur pleura parietalis dan empisema kutis.
Ruptur jaringan paru.
Pneumotoraks.
Perdarahan dan hematotoraks atau hemotoraks.
Osteomielitis
Perlu
Dokter Umum (pertolongan pertama dan terapi konservatif
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Toraks-Kardiovaskular.
Dokter Spesialis Bedah (K) Toraks.
2 - 14 hari pasca bedah bila tanpa penyulit
2 minggu bila tanpa penyulit
Sembuh atau sembuh dengan kecacatan
Khusus untuk fraktur patologis dan osteomielitis
Perlu, untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas
Baik atau dubious atau jelek

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

186

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7

Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

:
:

bedah
9

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

S22.5
FLAIL CHEST
Secara klinis flail chest ditandai dengan gerakan paradoksal
pada dinding toraks karena patah tulang iga multiple dan
segmental atau lebih dari 2 garis fraktus, hal ini disebabkan oleh
trauma.
Tanda dan gejala klinis benjpa:
Gangguan respirasi dari ringan sampai berat.,
Pada inspeksi deformitas dinding toraks disertai gerakan
paradoksal dinding toraks yang patah.
Pada palpasi nyeri tekan dan nyeri tekan sumbu disertai
krepitasi.
Pada foto polos toraks: patah tulang iga multiple dan segmental
atau lebih dari 2 garis fraktur.
Laboratorium : DL, analisis gas darah, saturasi
Kardiologi : EKG
Radiologi
: foto polos toraks AP/Iateral
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait
Raw/at inap untuk observasi, monitoring, pemasangan ventilator
dan tindakan
Oksigenasi (02)
Tidur miring kearah daerah yang sakit.
Fiksasi daerah yang sakit tersebut dengan plester lebar yang
elastis. (sementara).
Bila penderita dengan gangguan nafas berat segera di intubasi
dan pernafesan buatan smbu bag atau segera pasang ventilator.
Obat-obatan analgetik, antibiotika dan resusitasi cairan
Fixasi tulang iga yang patah dengan dip atau dengan wire atau
mini plate
Minimal R.S kelas-C
R.S. Iain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai
Hematopneumotoraks
Kontusio paru
Pneumonia
Prolong ventilator
Osteomyelitis kosta
Empiema toraks
Perlu
Dokter Umum. (pertolongan pertama)
Dokter Spesialis Bedah Umum.
Dokter Spesialis Bedah Toraks-Kardiovaskular.
Dokter Spesialis Bedah (K) Toraks .
14 hari pasca bedah bila tanpa penyulis
14 - 30 minggu bila tanpa penyulit
Sembuh atau sembuh dengan kecacatan atau meninggal
Perlu, untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas
Baik atau dubious atau jelek

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

187

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

6
7
8

:
:
:

bedah

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

S 27.1
HEMATOTORAKS
Secara klinis hematotoraks atau hemotoraks ditandai dengan
adanya darah di dalam rongga pleura, hal ini dapat disebabkan
oleh trauma atau penyakit.
Tanda dan gejala klinis berupa:
anemia, sesak nafas, syok hipovolemik, pada inspeksi gerakan
hemitoraks yang bersangkutan menurun, pada perkusi redup
pada sisi yang sakit , pada auskultasi suara nafas menurun, dan
pada foto polos toraks terdapat bayangan kesuraman disertai
sudut kosta frenikus tumpul, pada punksikeluar darah. Bila
terdapat perdarahan massif, pada foto polos toraks tampak
trakhea deviasi dan CVP meningkat.
Atelectasis
Massa pada jaringan paru
Efusi pleura
Pneumotoraks Tension
Laboratorium : pemeriksaan DL, saturasi O2
Radiologi: foto polos toraks
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait
Rawat inap untuk observasi dan tindakan
Oksigenasi O,, transfusi darah bila perdarahan masif, obatobatan antibiotika, analgetika, antipiretika, fisio terapi nafas.
Pipa torakostomi atau WSD
Bila masif dilakukan torakotomi (perdarahan > 800 cc)
langsung atau 3-5 cc/kg b.b. per jam
Minimal R.S kelas-C
R.S. Iain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai
Syok hipovolemik
Fibrotoraks atau Schwarte
Empiema torakis
Perlu
Dokter Umum ( pertolongan pertama, punksi rongga toraks,
pasang pipa toraks WSD )
Dokter Spesialis Bedah Umum.
Dokter Spesialis Bedah Toraks-Kardiovaskular.
Dokter Spesialis Bedah (K) Toraks.
Dokter Spesialis Paru (Non-Trauma)
7 - 14 hari pasca bedah bila tanpa penyulit
1 - 2 minggu bila tanpa penyulit
Sembuh atau sembuh dengan kecacatan atau meninggal
Perlu, untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas
Baik atau dubious atau jelek

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

188

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

:
:

6
7
8

S 27.0 J93 P25.1 A16.2


PNEUMOTORAKS
Secara klinis pneumotoraks merupakan suatu keadaan dimana
terdapat udara didalam rongga pleura dan mengakibatkan paru
menjadi kolaps, hal ini disebabkan oleh trauma atau penyakit.
Tanda dan gejala klinis berupa:
sesak nafas, pada inspeksi gerakan hemitoraks berkurang atau
menurun, pada perkusi hiper sonor, pada auskultasi suara nafas
berkurang atau menurun, pada foto polos toraks ada bayahgan
udara bebas pada hemitoraks yang bersangkutan dan paru
tampak kolaps.
Pada keadaan Tension ditandai dengan trachea terdorong kontra
lateral, bendungan vena-vena di leher, GVP meningkat,
hemitoraks yang terkena lebih cembung

:
:

Laboratorium. : DL, BTA sputum


Radiologi
: Foto polos toraks
Bila perlu kepada dokter spesialis yang terkait
Rawat inap untuk observasi dan tindakan

Oksigenasi, fisioterapi nafas, obat-obatan .

bedah

Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16
17

Patologi
Otopsi

:
:

18

Prognosis

Jarum kontra ventil atau jarum terbuka dilanjutkan dengan


pipa drainase (WSD) untuk kasus pneumotoraks tension .
Punksi bila paru yang kolaps minimal < 30 %. Pipa
torakostomi dengan continous suction.
Bila pneumotoraks terbuka , luka ditutup atau dijahit dan
pasang pipa toraks.
Torakotomi, bila paru yang kolaps persisten atau terdapat fistel
bronkho - pleural.
Minimal R.S kelas-C
R.S. Iain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai
Empisema subkutis.Pneumonia, Shunting, Arelektasis.
Perlu
Dokter Umum. (pertolongan pertama, pasang WSD)
Dokter Spesialis Paru (Non Trauma )
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Toraks-Kardiovaskular
Dokter Spesialis Bedah (K) Toraks.
14 hari pasca bedah bila tanpa penyulis
2 minggu bila tanpa penyulit
Sembuh atau sembuh dengan kecacatan seperti Schwarte
fibrosis paru.
Feriu untuk diagnosis
Perlu, untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas
Baik atau dubious atau jelek

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

189

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

Diagnosa banding

Pemeriksaan
penunjang

6
7

Konsultasi
:
Perawatan rumah :
sakit
Terapi Non bedah :

bedah
9

Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Bedah

:
:
:

16
17
18

Non bedah
Patologi
Otopsi
Prognosis
Non bedah
bedah

S12, S22.0, S320, T08


FRAKTUR KOMPRESI VERTEBRA
Riwayat trauma
Nyeri tulang belakang
Adanya kyphosis
Lesi saraf + / Kclainan dcgeneratif tulang belakang
Gibbus karena tbc tulang belakang
Fbto Ro AP / Lat dari:
vertebra sevikal
vertebra torakal
vertebra Iumbosakral
Dokter spesialis terkait bila diperlukan
Rawat inap untuk observasi dan tindakan
Bedrest / gips korset / brace
Tidak stabil
Ada lesi medula spinalis
Minimal R.S kelas-C
R.S. Iain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai
Paraplegia
Perlu
Dokter Spesialis Bedah untuk non bedah
Ookter Spesialis Bedah Orthopaedi untuk tindakan pembedahan
14-28 hari pasca bedah bila tanpa penyulis
12 minggu bila tanpa penyulit
Mobilisasi dengan brace
Fiksasi rigid
Jepitan medulla spinalis (-)

:
:

Perlu, untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas

:
Baik
Dublus ad malam

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

190

S73.0
DISLOKASI PANGGUL
Riwayat trauma
Nyeri panggul
Posisi aduksi dan internal rotasi pada sisi yang sakit
Tungkai memendek pada sisi sakit

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

:
:

Fbto Ro panggul AP/Lat

:
:

Dokter spesialis terkait bila diperlukan


Rawat inap

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

Reposisi cara Bigelow dengan pembiusan

bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

6
7

Operasi reposisi bila terapi non bedah gagal


Minimal R.S kelas-C
R.S. Iain yang mempunyai sarana pembedahan yang memadai
Fraktur intra artikuler
Cidera N. Ischiadicus
Kaku sendi pada dislokasi lama
Perlu
Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi terutama bila memerlukan
pembedahan
2 minggu
8 minggu
Tereposisi dengan baik
Perlu, untuk kasus trauma dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas
Baik
Kaku sendi dapai terjadi ( operasi)

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

191

ICD

Diagnosis

Kriteria diagnosis

S 27.8, S 30.0, S. 35.S 36, S 37, Cedera pada toraks bagian


bawah, abdomen, pinggang, coliumha, vertebralis - lumbalis dan
pelvis
Ruptur Diaphragma S27.8.0
Kontusi Bokong dan Panggul S30.0
Kotusio Abdomen, Pinggang dan Inguinal
S 30.1
Kontusio Perineum dan Genital S.302
Ekskoriasi, Laserasi superficial S 30.7
multiple di Abdomen,
Pinggang dan Panggul.
Ruptur Limpa S36.0.0
Ruptur Hepar & kandung empedu S36.1.0
Ruptur Pankreas S 36.2.0
Ruptur lambung S 36.3.0
Ruptur Duodenum
.
Ruptur Jejunum
S 36.4.0
Ruptur Ileum
Ruptur Colon S 36.5.0
Ruptur Rectum S 36.6.0
Ruptur organ intra abdomen- S 36.7.0
Multiple
Hematoma retroperitoneum
Ruptur Ginjal
Kontusio Ginjal
Hematoma retroperitoneum S 36.8.0
Ruptur Ginjal S 37.0.0
Ruptur Ureter S 37.1.0
Ruptur Kandung Kemih S 37.2.0
Ruptur Uretra S 37.3.0
Ruptur Ovarium S 37.4.0
Ruptur Tuba Falopii S 37.5.0
Ruptur Uterus S 37.6.0
Ruptur Organ Intra Pelvis Multipel S 37.7.0
Ruptur Kelenjar Adrenal S 37.8.0
Ruptur Kelenjar Prostat S 37.8.0
Ruptur Vesikula Seminalis S 37.8.0
Ruptur Vas Deferen S 37.8.0
Mekanisme Trauma
Kecelakaan lalu lintas
Jatuh dari ketinggian
Kecelakaan kerja
Cedera olah raga
Tindakan kekerasan atau penganiayaan
Cedera akibat hiburan atau wisata
Tanda Minis.
Sistim pernapasan dan hemodinamika
Stabil
Tidak stabil
Inspeksi:
Dinding abdomen bisa tampak normal
Jejas pada dinding abdomen

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

192

Jejas pada dinding dada bagian bawah


Abdomen tampak distensi
Jejas dapat berupa : excoriasi, hematoma,
Memar kulit, lacerasi
Auskultasi:
Auskultasi regio toraks (kin )
Suara napas menurun, bisa terdengar bising usus
Auskultasi regio abdomen:
Bising usus bisa normal, menurun atau hilang.
Palpasi:
Nyeri tekan di kuadran tertentu atau seluruh regio
Abdomen, Defans muskuler, Nyeri tekan lepas.
Perkusi
Perkusi regio toraks bagian bawah bisa normal atau r edup
atau timpani
Pekak hati bisa positif atau negatif
Nyeri ketok dinding abdomen
Tes undulasi atau tes shifting dullness bisa ppsitip, bisa negatif
Colok dubur:
Bisa normal
Bisa ditemukan kelainan kelainan :
Prostat yang melayang, laserasi pada dinding anorektum,
fragmentasi tulang - tulang panggul, nyeri pada peralmait
dinding anorektum, pada sarung tangan bisa ditemukan tetesan
atau noda darah, berarti positif ada cedera pada saluran cerna
4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

Konsultasi

Perawatan rumah

Disesuaikan dengan fasilitas UGD / Rumah Sakit setempat


Pilihan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi:
Foto toraks, Fbsisi AR Foto toraks pemasangan pipa lambung
Foto pelvis
USG
Lavase peritoneum diagnostik (DPL)
1VP
Uretro-sistografi
Foto kontras saluran cerna bagian atas
CT scan abdomen
Angiografi
Indikasi USG sama dengan indikasi DPL:
Pasien trauma dengan:
Penurunan tingkat kesadaran
Perubahan / gangguan fungsi sensoris
Cedera pada organ - organ yang bertetangga
Pemeriksaan fisik abdomen yang meragukan
Kemungkinan dokter putus kontak dengan pasien untuk waktu
yang cukup panjang.
Hasil DPL yang meragukan ( khusus untuk USG abdomen )
yaitu : Lekosit < 500/mm3, eritrosit < 100.000 / mm3
Bila diperlukan Konsultasi Dokter Spesialis Bedah Toraks
Kardiovaskular
Rawat inap untuk tujuan observasi

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

193

sakit
Terapi

Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13

Lama Perawatan

14

Masa Pemulihan

15

Hasil

Tindakan resusitasi ABCD sesuai konsep AILS kalau kondisi


pernapasan dan hemodinamika penderita tidak stabil. Terapi
konservatif:
Terapi konservatif dilakukan bila tidak ada indikasi laparotomi
segera, atau hasil pemeriksan penunjang tidak mengungkapkan
adanya cedera organ intra abdomen yang nyata.
Terapi konservatif dengan cara observasi,, dapat dilakukan
sampai 2 x 24 jam.
Terapi operatif:
Laparotomi eksplorz^i dengan insisi median
Indikasi laparotomi eksplorasi:
Tanda-tanda perdarahan intra peritoneal, yaitu adanya
syok hipovplemi dengan distensi abdomen yang progresif.
Tanda-tanda peritonitis generalisata
Pneumoperitoneaum pada foto toraks
Pada foto toraks tampak gambaran hernia diafragmatika
(Ruptur Diafragma)
Cairan lavase keluar melalui pipa drenase rongga pleura
Pada tindakan DPL, keluar darah > 10 ml atau
cairan usus >
Hasil DPL positip berdasarkan analisa laboratoris, yaitu :
jumlah eritrosit > 100.000/mm3 cairan lavase
jumlah lekosit > 500/mm cairan lavase
amilase >20 IU/Lcairan lavase
Minimal Rumah Sakit Was C atau Rumah sakit yang ada
fasilitni
pembedahan yang memadai.
Perdarahan massif
Syok hipovolemik, yang bisa berakibat syok irreversibel
Koagulasi intra vaskuler yang diseminasi (D1C)
Koagulopathi, Hipotermia. Asidosis.
SIRS - sepsis, ARDS, Pneumonia
Pankreatitis pasca trauma, perdarahan saluran certm,
Gangguang fungsi hati.
ARF (gagal ginjal akut)
Gagal multi organ
Perlu
Dokter spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah (K) Bedah Digestif
Bervariasi, tergantung beratnya cedera
Bisa berlangsung antara 10 hari - 3 bulan
Juga bervariasi, tergantung beratnya cedera
Bisa membutuhkan waktu antara 2 minggu - 3 bulan
Cedera ringan : bisa sembuh tanpa gejala sisa
Cedera berat:
Kalau tidak ada penyulit, dapat disembuhkan dengan nlaii
tanpa kecacatan
Kalau ada penyulit, bisa sembuh dengan atau tanpa kecacnlsn,
atau bisa meninggal dunia. Cedera mengancam nyawa: Bila
timbul penyulit

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

194

Bisa sembuh dengan atau tanpa kecacatan, atau bisa menlni i pi


dunia
Angka kematian bisa sampai > 70%
16
17

Patologi
Otopsi

:
:

18

Prognosis

Semua pasien trauma abdomen meninggal dunia perlu otopsi


klinik
Tergantung beratnya cedera

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

195

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang

:
:

6
7
8

10
11
12

13
14
15
16
17
18

T20-T31
LUKA BAKAR
Luka bakar merupakan kerusakan pada jaringan karena
pengaruh suhu (baik panas maupun dingin) atau dari
penyerapan energi fisik dan dari kontak dengan bahan-bahan
kimia. Setiap penyebab mempunyai gambaran klinis yang
khusus dan manajemen pengelolaannya.
Pembagian derajat luka bakar :
Derajat I: Hanya mengenai cairan epidermis luar, tampak
hiperemi dan eritema
Derajat II: Mengenai lapisan epidermis yang lebih dalam dan
sebagian dermis disertai lepuh. edema jaringan dan
basah
Derajat III .Mengenai semua lapisan epidermis dan dermis,
biasanya tampak luka kering dengan vena koogulasi
pada permukaan kulit
Tanda dan gelaja klenik : nyeri, cemas, dehidrasi

Laboratorium: DL, UL, -RFT, elektrolit, protein darah


Mikrobiologi : kultur dan tes kepekaan kuman
Radiologi
: foto polos toraks AP
Jantung
: EKG
Konsultasi
: Dbkter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Perawatan rumah : Raw/at Inap untuk luka bakar derajat II-III minimal 15% luasnya
atau trauma didaerah muka atau trauma inhalasi.
sakit
Terapi Non bedah : - Tindakan darurat ABC, retutilasi jantung, paru, otak
- Koreksi elektrolit dengan rumus "Rule of Nine" dan koreksi
Hiperaktif
- Perawatan terhadap jantung, paru, ginjal, hati
bedah
- TerapiSuportifseperii nutrizi, protein
- Antibiotika, analgetika, antidiuretika
- Pertolongan pertama bisa diberikan air dingin (waktunya
singkat)
Tempat Pelayanan : Minimal rumah sakit kelas-C
atau rumah sakit dengan fasilitas perawatan luka bakar yang
memadai
Penyulit
: Gangguan elektrolit, gangguan fungsi jantung, paru, otak,
kontraktur hati dan ginjal, infeksi sepsis
Informed consent : Perlu
Tenaga Standar
: Dokter Umum (pertolongan pertama maupun terapi konservallf
Dokter Spesialis Bedahr Umum
Dokter Spesialis Bedah Plastik
Lama Perawatan
: 7 - 30 hari pasca bedah bila tanpa penyulis
Masa Pemulihan
: 4 8 minggu bila tanpa penyulit
: Sembuh atau sembuh dengan bercacat atau meninggal dunia
Hasil
Patologi
:
Otopsi
: Diperlukan bila penderita meninggal dunia karena trauma at. in
sebab yang tidak jelas
Prognosis
: Baik atau dubious atau jelek

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

196

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

S 37.2
RUPTUR BULI-BULI

Kriteria diagnosis

4
5

:
:

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah
bedah
Tempat Pelayanan

Trauma langsung pada abdomen bagian bawah


Trauma tidak langsung akibat fractur pelvis
Tidak bisa kencing
Massa suprapubik
Hematuria (+)
Tanda - tanda peritonitis (+)
Colok dubur : Prostat letaknya normal
Ruptur uretra posterior
Test buli-buli
Foto Pelvis Urethrocystogram
Dokter spesialis yang terkait (bila diperlukan)
Rawat inap segera untuk observasi dan tindakan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

6
7
8

:
:
:
:

Eksplorasi, jahit buli-buli, pasang dauer kateter.


Suprapubic kistostomi bila ruptur uretra posterior
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit Iain yg mempunyai sarana pembedahan memadai
Infeksi
Kebocoran
Perlu
Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Orthopaedi bila terdapat fractur pelvis
Dokter Spesialis Urologi akibat ruptur urethra posterior
7 hari
14 hari
Sembuh
Diperlukan bila penderita meninggal dunia karena trauma at. in
sebab yang tidak jelas
Baik

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

197

S 82.0
FRAKTUR PATELA
Adanya trauma pada lutut
Tanda pasti patah tulang patela
Fungsiolaesa
Foto: patah tulang patela

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

:
:

X-Foto lutut AP/Lat

:
:

Rawat jalan dan rawat inap

Pasang Kocher Gips untuk kasus undisplaced (I-II)

6
7
8

Pasang tension band wiring


Patelektomi untuk grade IV

bedah
Tempat Pelayanan

10

Penyulit

11
12

Informed consent
Tenaga Standar

:
:

13
14
15

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil

:
:
:

16
17

Patologi
Otopsi

:
:

18

Prognosis

Minimal rumah sakit kelas-C


Rumah sakit Iain yg mempunyai sarana pembedahan memadai
Haemartrosis
Infeksi
Perlu
Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi
2 - 7 hari
8 12 hari
Fragmen tulang patella terreposisi & rigid
Fragmen terangkat
Perlu untuk kasus trautama dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas
Baik / cacat

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

198

S 82
FRAKTUR CRURIS
Riwayat trauma
Tanda pasti patah tulang pada tibia/ fibula
Foto Ro : fraktur pada tibia dan pada fibula

1
2
3

ICD
Diagnosis
Kriteria diagnosis

:
:
:

4
5

:
:

Foto Ro cruris AP / Lat

:
:

Dokter spesialis terkait, bila diperlukan


Rawatjalan untuk non bedah Rawat inap untuk pembedahan

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

Reposisi Long leg cast / PTB cast :

bedah
Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

6
7

Pemasangan implant / plate-screw


Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit Iain yg mempunyai sarana pembedahan memadai
Malunion / delayed union
Perlu
Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi
7 hari
4 8 minggu
Tereposisi dan terfiksasi pada posisi yang optimal
Perlu untuk kasus trautama dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas
Baik / cacat

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

199

1
2

ICD
Diagnosis

:
:

S 86.0
RUPTUR TENDON ACHILES

Kriteria diagnosis

4
5

Diagnosa banding
Pemeriksaan
penunjang
Konsultasi
Perawatan rumah
sakit
Terapi Non bedah

:
:

Trauma oleh karena mendadak melakukan gerakan


Kontraksi Achiles Posisi kaki plantar flexi fungsilaesa
-

:
:

Dokter Spesialis lain yang terkait bila diperlukan


Rawat inap untuk observasi dan tindakan

Antibiotika

6
7
8

bedah
9

Tempat Pelayanan

10
11
12

Penyulit
Informed consent
Tenaga Standar

:
:
:

13
14
15
16
17

Lama Perawatan
Masa Pemulihan
Hasil
Patologi
Otopsi

:
:
:
:
:

18

Prognosis

Operasi dengan teknik Bunnel atau Kesler


Immobiiisasi dengan fore slab
Minimal rumah sakit kelas-C
Rumah sakit Iain yg mempunyai sarana pembedahan memadai
Non union, rhal union
Perlu
Dokter Spesialis Bedah
Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi
14 hari
12 minggu
Kedua fragmen terjahif dengan posisi optimal
Perlu untuk kasus trautama dan kematian yang tidak wajar atau
tidak jelas
Baik / cacat

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

200

DAFTAR KETERANGAN ISTILAH DAN SINGKATAN


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48

Istilah
ABC
AFTA
AP
ABVD
AVN
BCC
BCT/S
CAF
CTScan
CVA
CVP
Darsidah
DCS
DL
DPL
DSpB
DSpB(K)BA
DSpB(K)Dig
DSpB(K)KL
DSpB(K)Onk.
DSpB{K)Vask.
DSpBO
DSpBP
DSpBS
DSpBTKV
DSpU
DVT
EDH
EKG/ECG
FL
FNAB
FU
GCS
HD
HVA
IBD
ICD
ICH
ICS
ICU
KET
Lat"
LDH
LDH
LFT
IX Cast
MOPP
MRI

Airway, Breathing, Circulation


ASEAN FREE TRADE AREA
Antero - Posterior
Adriomycin, Bleomycin, Vinblastine, Dacarbazine
Artery, Vein, Nervus
Basal Cell Carcinoma
Breap Conserving Treatment/Surgery
Cyclophosphamide, Adriamycin, Fluorouracil
Computered Tomography Scanning
Cerebro Vascular Accident
Central Venous Pressure
Standar Profesi Bedah
Damage Control Surgery
Darah Lengkap
Diagnostic Peritoneal Lavage
Dokter Spesialis Bedah Umum
Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Anak
Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif
Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Kepala dan Leher
Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Onkologi"
Dokter Spesialis Bedah Konsultan Vaskular
Dokter Spesialis Bedah Ortopedi
Dokter Spesialis Bedah Plashk
Dokter Spesialis Bedah Saraf
Dokter Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular
Dokter Spesialis Urologi
Deep Vein Thrombose
Epidural Hematoma
FJektro Kardiografi
Faeces Lengkap
Fine Needle Aspiration Biopsy
Fluoro Uracil
Glasgow Coma Scale
Hodgin Disease
Homo Vandelic Acid
Inflammatory Bowel Disease
International Statistical Classification of Diseases and Related
Intra Cerebral Hemorrhage
Intercostal Space
Intensive Care Unit
Kehamilan Elektopik Terganggu
Lateral
Low Density Hypercholesterolemia
Laktat dehidrogenase
Liver Function Test
Long Leg Cast
Mechorethamine, Oncovin, Prednison, Procarbazine
Magnetic Resonance Imaging

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

201

49
50
51
52
53
54
55
56

MRS

57

PPIKABI

58
59
60
61
62
63
64
65

PS
K/P
RFT
RND
RS
RSARP
SCC
SPPDSBUI

66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76

TBC
TNM
TUR
TUR P
UL
USG
UTI
UU
VC
VMA
WSD

N
NHL
NICU
PA
PABI
Pa02

PBIDI

Masuk Rumah Sakit


Nervus
Non Hodgin Limfoma
Neonatal Intensive Care Unit
Patologi Anatomi atau Posterc - Anterior
Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia
Iekanan Partial Oksigen
Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia
Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Indonesia
(dahulu : Ikatan Ahli Bedah Indonesia)
Program Studi
Kalau perlu
Renal Function Test
Radical Neck Dissection
RumahSakit
Squamous Cell Carcinoma
Standar Pelayanan Profesi Dokter Spesialis Bedah Umum
Indonesia
Tuberculose
Tumor, Nodule, Metastase
Trans Urethral Resection
Traris Urethral Resection - Prostate
Urine Lengkap
Ultra sonografi
Urogenitales Tract Infection
Undang - undang
VriesCoup
Vanyl Mandelic Acid
Water Sealed Drainage

Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia

202