Anda di halaman 1dari 30

AKUNTANSI PERBANKAN SYARIAH

JUAL BELI DAN BAGI HASIL

KELOMPOK :
MELIA AYU DEWI MIRANDA
GILANG CITA PRADANA

110822184
110822203

WAHYU SUKOCO

110822209

ADIN INDRA KURNIAWAN

110822215

DANU SUGARA

110822221

AKUNTANSI MURABAHAH
Murababah adalah transaksi penjualal barang dengan menyatakan harga perolehan
dankeuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli dimana pembayaran dapat
dilakukan secara tunai ataupun kredit dimana diperkenankan harga berbeda untuk cara
pembayaran yang berbeda.

Ketentuan Objek Jual Beli


.
1. Barang yang diperjualbelikan adalah barang halal
2. Barang yang diperjualbelikan harus dapat diambil manfaatnya atau memiliki nilai Barang
tersebut dimiliki oleh penjual
3. Barang tersebut dapat diserahkan tanpa tergantung dengan kejadian tertentu di masa
depan
4. Barang tersebut harus diketahui secara spesifik dan dapat diidentifikasikan oleh pembeli
sehingga tidak ada gharar (ketidakpastian)
5. Barang tersebut dapat diketahui kuantitas, kualitas, dan harganya dengan jelas
6. Barang yang diakadkan secara fisik ada di tangan penjual

STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN


Standar akuntansi keuangan murabahah adalah PSAK 59 dan disempurnakan PSAK 102 yakni
tentang pengakuan dan pengukuran murabahah dari pihak penjual dan pembeli akhir.

Pengakuan dan pengukuran


AKUNTANSI UNTUK PENJUAL
A. Pada saat perolehan aset murabahah diakui sebagai persediaan sebesar harga
perolehan
B. Pengukuran aset setelah perolehan
a.

b.

Jika murabahah pesanan mengikat :

Dinilai sebesar harga perolehan

Jika terjadi kerusakan sebelum aset diserahkan kepada pembeli maka


penurunan nilai tersebut menjadi beban penjual (bank) dan penjual
(bank) akan mengurangi nilai akad.

Murabahah tanpa pesanan dan tidak mengikat

Dinilai berdasarkan harga perolehan atau nilai bersih yang dapat


direalisasi (yang terendah)

Jika nilai bersih dapat di realisasi lebih rendah dari harga perolehan maka
selisih diakui sebagai kerugian

C. Diskon pembelian aset murabahah


a.

Jika terjadi sebelum akad diakui sebagai pengurang harga perolehan aset

b.

Jika terjadi setelah akad dan sesuai akad yang disepakati menjadi hak pembeli
maka diakui sebagai utang kepada pembeli

c.

Jika terjadi setelah akad dan sesuai akad yang disepakati menjadi hak penjual
maka diakui sebagai tambahan keuntungan

d.

Jika terjadi setelah akad dan tidak terdapat dalam akad maka diakui
sebagai pendapatan operasi lain

D. Kewajiban penjual kepada pembeli atas pengembalian potongan pembelian akan


tereliminasi pada saat
a.

dilakukan pembayaran kepada pembeli sebesar jumlah potongan dikurangi biaya


pengembalian

b.

dipindahkan sebagai dana kebajikan jika pembeli sudah tidak dapat dijangkau
penjual

E. Pada saat akad murabahah,piutang murabahah diakui sebesar harga perolehan


ditambah keuntungan yang disepakati. Pada akhir periode laporan keuangan piutang
murabahah dinilai sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi yaitu saldo piutang
dikurangi cadangan kerugian piutang
F. Pengakuan keuntungan murabahah
a. Pada saat penyerahan barang jika tunai dan jika secara tangguh tidak melebihi
satu tahun atau selama periode akad sesuai dengan tingkat resiko dan usaha
untuk merealisasikan keuntungan pada transaksi tangguh lebih dari satu tahun
b. Metode yang dipilih sesuai karakteristik resiko antara lain :

Keuntungan diakui saat penyerahan aset murabahah digunakan untuk


murabahah tangguh dimana resiko penagihan kas relatif kecil

Keuntungan diakui secara proporsional dengan kas yang berhasil ditagih


dari piutang murabahah dimana diterapkan pada resiko piutang tak
tertagihnya relatif besar

Keuntungan diakui saat seluruh piutang murabahah berhasil ditagih


diterapkan pada resiko tak tertagihnya piutang cukup besar.metode ini
jarang dipakai karena transaksi mudarabah tangguh tidak terjadi jika tidak
ada kepastian tentang penagihan kasnya

G. Potongan pelunasan piutang murabahah


Diberikan karena pembeli melunasi tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang
disepakati diakui sebagai pengurang keuntungan murabahah

Potongan diberikan saat pelunasan : penjual mengurangi piutang murabahah


dan keuntungan murabahah

Diberikan setelah pelunasan : penjual menerima piutang dari pembeli kemudian


membayarkan potongan pelunasan pada pembeli

H. Potongan angsuran murabahah

I.

Jika disebabkan karena pembeli membayar tepat waktu diakui sebagai


pengurang keuntungan murabahah

Jika disebabkan oleh penurunan kemampuan pembayaran piutang dari pembeli


maka diakui sebagai beban

Denda

Dikenakan jika pembeli lalai dalam melakukan kewajibannya sesuai akad denda
diakui sebagai dana kebajikan

J. Uang muka (urbun)

Diakui sebagai uang muka pembelian sebesar jumlah yang diterima

Pada saat barang jadi dijual kepada pembeli maka diakui sebagai pembayaran
piutang

Jika barang batal dijual kepada pembeli makauang muka dikembalikan kepada
pembeli setelah dikurangi biaya2 yang telah dikeluarka oleh penjual

AKUNTANSI UNTUK PEMBELI AKHIR


A. Hutang yang timbul dari transaksi murabahah tangguh diakui sebagai hutang
murabahah sebesar harga beli yang disepakati (jumlah yang wajib dibayarkan).
B. Aset yang diperoleh melalui transaksi murabahah diakui sebesar biaya perolehan
murabahah tunai. Selisih antara harga beli yang disepakati dengan biaya perolehan
tunai diakui sebagai beban murabahah tangguhan.

C. Beban murabahah tangguhan diamortisasi secara proporsional dengan porsi hutang


murabahah.
D. Diskon pembelian yang diterima setelah akad murabahah, potongan pelunasan dan
potongan hutang murabahah sebagai pengurang beban murabahah tangguhan.
E. Denda yang dikenakan akibat kelalaian dalam melakukan kewajiban sesuai dengan
akad diakui sebagai kerugian.
F. Potongan uang muka akibat pembeli akhir batal membeli barang diakui sebagai
kerugian.
PENYAJIAN
A. Piutang murabahah disajikan sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan, yaitu saldo
piutang murabahah dikurangi penyisihan kerugian piutang.
B. Margin murabahah tangguhan disajikan sebagai pengurang (contra account) piutang
murabahah.
PENGUNGKAPAN
A. Lembaga keuangan syariah mengungkapkan halhal yang terkait dengan transaksi
murabahah, tetapi tidak terbatas, pada:
a.

Harga perolehan aset murabahah;

b.

Janji pemesanan dalam murabahah berdasarkan pesanan sebagai kewajiban


atau bukan; dan

c.

Pengungkapan yang diperlukan sesuai Pernyataan Standar Akuntansi


Keuangan Nomor 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.

KETENTUAN TRANSISI
A. Pernyataan ini berlaku secara prospektif untuk transaksi murabahah yang terjadi setelah
tanggal efektif. Untuk meningkatkan daya banding laporan keuangan maka entitas
dianjurkan menerapkan Pernyataan ini secara retrospektif.
TANGGAL EFEKTIF
A. Pernyataan ini berlaku untuk penyusunan dan penyajian laporan keuangan lembaga
keuangan syariah yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2008.
PENARIKAN
A. Pernyataan ini menggantikan PSAK 59: Akuntansi Perbankan Syariah, yang
berhubungan dengan pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan
murabahah

JURNAL STANDAR

Pada saat pembayaran uang muka ke supplier


(penjual membeli aset dari supplier)
Uang muka ke supplier

xxx

Kas

xxx

Pada saat perolehan barang murabahah


Persediaan/aktiva murabahah

xxx

Uang muka ke supplier

xxx

Kas

xxx

Pada saat dibatalkan,sebagian uang muka diterima kembali


Kas

xxx

Beban operasi lain

xxx

Uang muka kepada supplier

xxx

Pada saat penjualan kepada pembeli


Pembayaran secara tunai :
Kas

xxx

Pendapatan margin murabahah

xxx

Persediaan/aktiva murabahah

xxx

Pembayaran secara angsuran :


Piutang murabahah

xxx

Margin murabahah tangguhan

xxx

Persediaan/aktiva murabahah

xxx

Uang muka (urbun)


Penarimaan uang muka dari pembeli
Kas

xxx
Titipan uang muka pembeli (urbun)

xxx

Pembatalan pesanan, pengambalian urbun kepada pembeli setelah dikurangi beban


atau kerugian (jika ada), dan urbun lebih besar dari kerugian atau beban
Titipan uang muka (urbun)

xxx

Beban/kerugian

xxx

kas

xxx

Pembatalan pesanan, pengambalian urbun kepada pembeli setelah dikurangi beban


atau kerugian (jika ada), dan urbun lebih kecil dari kerugian atau beban
Titipan uang muka pembeli (urbun)

xxx

Piutang kepada pembeli

xxx

Beban/kerugian

xxx

Apabila murabahah jadi dilaksanakan


Titipan uang muka pembeli (urbun)

xxx

Piutang murabahah

xxx

Pada saat penerimaan angsuran dari pembeli


Kas

xxx

Margin tangguhan murabahah

xxx

Piutang murabahah

xxx

Pendapatan margin murabahah

xxx

Pada saat terjadi tuggakan angsuran


Pada saat pengakuan pendapatan
Piutang murabahah jatuh tempo

xxx

Margin murabahah tangguhan

xxx

Piutang murabahah

xxx

pendapatan margin murabahah

xxx

Pada saat penerimaan angsuran tunggakan


Kas

xxx
Piutang murabahah jatuh tempo

xxx

Pemberian potongan pelunasan antara lain dapai menggunaka metode

Jika saat pelunasan, bank mengurangi piutang murabahah dan keuntunga


murabahah

Margin murabahah tangguhan

xxx

Piutang murabahah (sebesar potongan)

xxx

Kas

xxx

Margin murabahah tangguhan

xxx

Pendapatan margin murabahah

xxx

Piutang murabahah
(sebesar sisa jumlah yang tidak di potong)

xxx

Jika setelah pelunasan,bank terlebih dahulu menerima pelunasan piutang


murabahahdari pembeli,kemudian bank membayar muqasah kepada pembeli
dengan mengurangi keuntungan murabahah
Kas

xxx

Margin murabahah tangguhan

xxx

Pendapatan margin murabahah


Piutang murabahah
Beban muqasah

xxx
xxx
xxx

Kas (sebesar potongan)

xxx

Penarimaan denda, apabila nasabah melanggar perjanjian dengan


sengaja
Kas

xxx
Rekening dana kebajikan

xxx

Akuntansi Salam
Salam adalah akad jual beli barang pesanan (muslam fiih) dengan pengiriman di
kemudian hari oleh penjual (muslam illaihi) dan pelunasannya dilakukan oleh pembeli (al
muslam) pada saat akad disepakati sesuai dengan syarat-syarat tertentu.
Salam Parallel
Pelaksanaan dua transaksi sekaligus
Bank dengan nasabah dan bank dengan supplier atau pihak ketiga lainnya.
Akad salam pertama tidak boleh tergantung dengan akad salam kedua.

Karakteristik Akad Salam


Dalam akad salam, harga barang pesanan yang sudah disepakati tidak dapat berubah
selama jangka waktu akad. Apabila barang yang dikirim tidak sesuai dengan ketentuan
yang telah disepakati sebelumnya, maka pembeli boleh melakukan khiar yaitu memilih
apakah transaksi dilanjutkan atau dibatalkan.
Karakteristik transaksi salam diuraikan pada (psak 103, paragraf 6-11)
Pengakuan dan pengukuran diatur dalam PSAK 59 dan PSAK 103.

Rukun Salam
Pelaku (pembeli dan penjual)
Obyek akad (barang yang akan diserahkan dan modal salam yang berbentuk harga)
Ijab kabul

Ketentuan Syariah
1. Pelaku
a. ada penjual dan pembeli
b. Cakap hukum (Berakal dan dapat membedakan),

2. Obyek akad

modal salam :

modal harus diketahui jenis dan jumlahnya

Berbentuk uang tunai. Para ulama berbeda pendapat masalah


bolehnya pembayaran dalam bentuk aset perdagangan. Beberapa
ulama menganggapnya boleh.

Modal salam diserahkan ketika akad berlangsung, tidak boleh utang


atau merupakan pelunasan utang. Hal ini adalah untuk mencegah
praktek riba melalui mekanisme salam.

Barang Salam:

Barang tersebut harus dapat dibedakan/ diidentifikasi mempunyai


spesifikasi dan karakteristik yang jelas seperti kualitas, jenis, ukuran,
macam, dan mutu.

Barang tersebut harus dapat dikuantifikasi /ditakar/ ditimbang.

Waktu penyerahan barang harus jelas, tidak harus tanggal tertentu


boleh juga dalam kurun waktu tertentu. Hal tersebut diperlukan untuk
mencegah gharar atau ketidakpastiahan yaitu harus ada pada waktu
yang ditentukan.

Hal yang Membatalkan Kontrak


Barang yang dipesan tidak ada pada waktu yang ditentukan
Barang yang dikirim cacat atau tidak sesuai dengan yang disepakati dalam akad,
Barang yang dikirim kualitasnya lebih rendah dan pembeli membatalkan.

PSAK no 59
Bank sebagai Pembeli
Piutang salam diakui pada saat modal usaha salam dibayarkan atau dialihkan kepada
penjual.
Modal usaha salam

Bentuk kas diukur sebesar jumlah yang dibayarkan.

Bentuk aktiva non kas diukur sebesar nilai wajar (yang disepakati bank dan
nasabah)

Akuntansi pembeli: Bank sebagai pembeli


Kewajiban salam dihentikan pengakuannya (derecognation) pada saat penyerahan
barang kepada pembeli.
Utang Salam

xxx

Penjualan

xxx

Dalam transaksi salam paralel, selisih antara jumlah yang dibayar oleh pembeli dan
biaya perolehan barang pesanan diakui keuntung an/kerugian pada saat penyerahan
barang pesanan oleh penjual.
-

Pencatatan ketika membeli persediaan:


Aset Salam

xxx

Kas

xxx

Pencatatan penyerahan persediaan bila jumlah yang dibayar oleh pembeli lebih kecil
dari biaya perolehan barang.
Utang Salam

xxx

Kerugian Salam

xxx

Aset Salam

xxx

Pencatatan penyerahan persediaan bila jumlah yang dibayar oleh pembeli lebih besar
dari biaya perolehan barang
Utang Salam

xxx

Aset Salam

xxx

Keuntungan Salam

xxx

Bank sebagai Penjual


Utang salam diakui pada saat bank menerima modal usaha salam sebesar modal yang
diterima. Modal usaha salam berupa Kas diukur sebesar kas yang diterimadan berupa aktiva
non kas diukur sebesar nilai wajar (nilai yang disepakati)
Bank sebagai penjual (salam biasa)
Pada saat bank/LKS menyerahkan barang kepada pembeli
Hutang salam

xxx

Persediaan (barang pesanan)


Pendapatan bersih salam

xxx
xxx

Bank/LKS hanya mengirimkan sebagian barang pesanan


Piutang salam (sebesar jumlah yang diterima)

xxx

Persediaan (barang pesanan)

xxx

Pengenaan denda kepada pembeli mampu tetapi tidak memenuhi kewajiban dengan
sengaja
Kas

xxx
Rekening dana kebajikan

xxx

Salam Paralel
Apabila bank melakukan salam paralel selisih antara jumlah yang dibayar nasabah dan biaya
perolehan barang diakui sebagai keuntungan atau kerugian pada saat pengiriman barang
kepada nasabah.
Pada saat bank memesan barang dan membayarnya
Piutang Salam

xxx
Kas

xxx

Pada saat bank menerima barang dari supplier


Persediaan Barang Salam
Piutang Salam

xxx
xxx

Apabila barang pesanan tidak sama (lebih kecil) dengan kas yang dibayarkan bank
kepada suplier maka bank mencatat pada saat penyerahan kepada barang nasabah
pembeli
Utang Salam

xxx

Persediaan Barang Salam

xxx

Pendapatan Bersih Salam

xxx

Apabila barang pesanan lebih kecil dengan kas yang dibayarkan bank kepada suplier
maka bank mencatat pada saat penyerahan kepada barang nasabah pembeli
Utang Salam

xxx

Kerugian Salam

xxx

Persediaan Barang Salam

xxx

AKUNTANSI ISTISHNA
Adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan
kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli/mustashni) dan
penjual (pembuat, shani). Shani akan menyiapkan barang yang dipesan sesuai dengan
spesifikasi yang telah disepakati dimana ia dapat menyiapkan sendiri atau melalui pihak lain
(istishna parallel).

Karakteristik Akad Istishna


a.

memerlukan proses pembuatan setelah akad disepakati;

b.

sesuai dengan spesifikasi pemesan (customized), bukan produk massal; dan

c.

harus diketahui karakteristiknya secara umum yang meliputi jenis, spesifikasi


teknis, kualitas, dan kuantitasnya.

Jenis Akad Istishna


Istishna adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu
dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan
(pembeli/mustashni) dan penjual (pembuat, shani).
Istishna Paralel adalah suatu bentuk akad istishna antara penjual dan pemesan,
dimana untuk memenuhi kewajibannya kepada pemesan, penjual melakukan akad
istishna dengan pihak lain (sub kontraktor) yang dapat memenuhi aset yang dipesan
pembeli. Syaratnya akad istishna pertama tidak bergantung pada istishna kedua. Selain
itu penjual tidak boleh mengakui adanya keuntungan selama konstruksi.

Rukun & Ketentuan Syariah

Pelaku terdiri dari pemesan (pembeli/ mustashni) dan penjual (pembuat, shani).
Harus Cakap Hukum dan Baligh

Obyek akad berupa barang yang akan diserahkan dan modal istishna yang
berbentuk harga

ijab kabul/serah terima

Ketentuan syariah untuk akad salam juga berlaku untuk akad istisna

Perbandingan salam dengan istishna


subyek

salam

Istishna

Aturan dan keterangan

Pokok
kontrak

Muslam fihi

Mashnu

Barang ditangguhkan, dengan spesifikasi

Harga

Dibayar saat kontrak Boleh saat kontrak,


boleh diangsur, boleh
kemudian hari

Sifat
kontrak

Mengikat secara asli Mengikat secara ikutan Salam mengikat semua pihak sejak semula,
(thabai)
sementara istishna dianggap mengikat
(thabii)
berdasarkan pandangan para fuqaha demi
kemashlahatan, serta tidak bertentangan
dengan aturan syariah

Kontrak
paralel

Salam paralel

Istishna paralel

Cara penyelesaian pembayaran merupakan


perbedaan utama antara salam dan istishna

Baik salam paralel maupun istishna paralel sah


asalkan: kedua kontrak secara hukum adalah
terpisah.

Ketentuan tentang Pembayaran


Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang, atau
manfaat; demikian juga dengan cara pembayarannya
Harga yang telah ditetapkan dalam akad tidak boleh berubah. Akan tetapi apabila
setelah akad ditandatangani pembeli mengubah spesifikasi dalam akad maka
penambahan biaya akibat perubahan ini menjadi tanggung jawab pembeli.
Pembayaran dilakukan sesuai kesepakatan
Pembayaran tidak boleh berupa pembebasan utang

Ketentuan tentang barang


Harus jelas spesifikasinya (jenis, ukuran, mutu), sehingga tidak ada lagi jahalah dan
perselisihan dapat dihindari.
Penyerahannya dilakukan kemudian
Waktu dan penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan.
Pembeli tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya
Tidak boleh menukar barang kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan
Dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan kesepakatan, pemesan
memiliki hak khiyar (hak memilih) untuk melanjutkan atau membatalkan akad.
Dalam hal pesanan sudah dikerjakan sesuai dengan kesepakatan hukumnya mengikat,
tidak boleh dibatalkan sehingga penjual tidak dirugikan karena ia telah menjalankan
kewajibannya sesuai kesepakatan.

Berakhirnya istishna
kondisi-kondisi berikut:
dipenuhinya kewajiban secara normal oleh kedua belah pihak
persetujuan bersama kedua belah pihak untuk menghentikan kontrak
pembatalan hukum kontrak. Ini jika muncul sebab yang masuk akal untuk mencegah
dilaksanakannya kontrak atau penyelesaiannya, dan masing-masing pihak bisa
menuntut pembatalannya

Akuntansi untuk Penjual


Biaya perolehan istishna terdiri dari:
a.

Biaya langsung yaitu: bahan baku dan tenaga kerja langsung untuk membuat
barang pesanan, atau tagihan produsen/kontraktor pada entitas untuk istishna
paralel.

b.

Biaya tidak langsung adalah biaya overhead termasuk biaya akad dan praakad.

c.

Khusus untuk istishna paralel: seluruh biaya akibat produsen/ kontraktor tidak
dapat memenuhi kewajiban jika ada.

Biaya perolehan/pengeluaran selama pembangunan atau tagihan yang diterima dari


produsen/kontraktor diakui sebagai aset istishna dalam penyelesaian, jurnal melakukan
pengeluaran untuk akad istishna
Dr. Aset istishna dalam penyelesaian

xxx

Cr. Persediaan, kas, utang, dll

xxx

Untuk akun yang dikredit akan tergantung apa yang digunakan oleh perusahaan untuk
memenuhi kewajiban akad tersebut.

Akuntansi untuk Penjual


Beban praakad diakui sebagai beban tangguhan dan diperhitungkan sebagai biaya
istishna jika akad disepakati. Jika akad tidak disepakati maka biaya tersebut dibebankan
pada periode berjalan.
Saat dikeluarkan biaya pra akad, dicatat:
Dr. Biaya Pra Akad Ditangguhkan xxx
Cr. Kas

xxx

Jika Akad disepakati, maka dicatat:


Dr. Beban Istishna

xxx

Cr. Biaya Pra Akad Ditangguhkan

xxx

Jika Akad tidak disepakati, maka dicatat:


Dr. Beban

xxx

Cr. Biaya Pra Akad Ditangguhkan

xxx

Jika pembeli melakukan pembayaran sebelum tanggal jatuh tempo dan penjual
memberikan potongan, maka potongan tersebut sebagai pengurang pendapatan
istishna.
Pengakuan Pendapatan dapat diakui dengan 2 metode:
1.

Metode persentase penyelesaian, adalah sistem pengakuan pendapatan yang


dilakukan seiring dengan proses penyelesaian berdasarkan akad istishna.

2.

Metode akad selesai adalah sistem pengakuan pendapatan yang dilakukan


ketika proses penyelesaian pekerjaan telah dilakukan.

Untuk metode persentase penyelesaian, pengakuan pendapatan dilakukan sejumlah


bagian nilai akad yang sebanding dengan pekerjaan yang telah diselesaikan tersebut
diakui sebagai pendapatan istishna pada periode yang bersangkutan.

Pendapatan diakui: berdasarkan persentase akad yang telah diselesaikan biasanya


menggunakan dasar persentase pengeluaran biaya yang dilakukan dibandingkan
dengan total biaya, kemudian persentase tersebut dikalikan dengan nilai akad.

Margin Keuntungan juga diakui berdasarkan cara yang sama dengan pendapatan.
Persentase penyelesaian = Biaya yang telah dikeluarkan
Total biaya untuk penyelesaian
Pengakuan Pendapatan = Persentase penyelesaian x Nilai Akad
Pengakuan Margin

= Persentase penyelesaian x Nilai Margin

Dimana nilai margin tersebut adalah: Nilai Akad Total Biaya


Untuk pengakuan pendapatan di tahun-tahun berikutnya (jika >1 tahun)
Pendapatan Tahun Berjalan = Pendapatan s/d saat ini Pendapatan telah diakui
bagian margin keuntungan istishna yang diakui selama periode pelaporan ditambahkan
kepada aset istishna dalam penyelesaian. Jurnal untuk pengakuan pendapatan dan
margin keuntungan adalah:
Dr aset istishna dlm penyelesaian (margin keuntungan) xxx
Dr. Beban istishna( biaya yang telah dikeluarkan)
Cr. Pendapatan Istishna

xxx
xxx

(pendapatan yg hrs diakui diperiode berjalan )


Untuk metode persentase penyelesaian, pada akhir periode harga pokok istishna diakui
sebesar biaya istishna yang telah dikeluarkan sampai periode tersebut.
Untuk metode akad selesai tidak ada pengakuan pendapatan, harga pokok dan
keuntungan sampai dengan pekerjaan telah dilakukan. Sehingga pendapatan diakui
pada periode dimana pekerjaan telah selesai dilakukan.
Jika besar kemungkinan terjadi bahwa total biaya perolehan istishna akan melebihi
pendapatan istishna maka taksiran kerugian harus segera diakui.

Pada saat penagihan (metode persentase penyelesaian& akad selesai):


Dr. Piutang Istishna(sebesar nilai tunai)

xxx

Cr. Termin Istishna

xxx

Termin istishna tersebut akan disajikan sebagai akun pengurang dari akun Aset Istishna
dalam penyelesaian.
Pada saat penerimaan tagihan, jurnal::
Dr. Kas (sebesar uang yang diterima ) xxx
Cr. Piutang Usaha

xxx

Jika akad Istishna dilakukan dengan pembayaran tangguh, maka pengakuan pendapatan
dibagi menjadi 2 bagian:

margin keuntungan pembuatan barang pesanan yang dihitung


apabila istishna dilakukan tunai, akan diakui sesuai persentase penyelesaian.
Dr. Aset istishna dlm penyelesaian (margin keuntungan)

xxx

Dr. Beban istishna (biaya yang dikeluarkan)

xxx

Cr. Pendapatan Istishna

xxx

(pendapatan yg hrs diakui di periode berjalan )

Selisih antara nilai akad dan nilai tunai pada saat penyerahan diakui
selama periode pelunasan secara proporsional sesuai dgn pembayaran.
- pada saat penandatanganan akad:
Dr. Piutang Istishna(selisih Nilai Tunai&Nilai Akad)
Cr. Pendapatan Istishna Tangguh

xxx
xxx

- Pada saat pembayaran dan pengakuan pendapatan selisih nilai:


Dr. Pendapatan Istishna Tangguh (secara proporsional)

xxx

Cr. Pendapatan Akad Istishna

xxx

Dr. Piutang Istishna(kas yang diterima)

xxx

Cr. Kas

xxx

Penyajian, penjual menyajikan dalam laporan keuangan hal-hal sebagai berikut:


a.

Piutang istishna' yang berasal dari transaksi istishna' sebesar jumlah


yang belum dilunasi oleh pembeli akhir.

b.

Termin istishna' yang berasal dari transaksi istishna' sebesar jumlah


tagihan termin penjual kepada pembeli akhir.

Pengungkapan, penjual mengungkapkan transaksi istishna' dalam laporan keuangan,


tetapi tidak terbatas, pada:
a.

Metode akuntansi yang digunakan dalam pengukuran pendapatan


kontrak istishna'

b.

Metode yang digunakan dalam penentuan persentase penyelesaian


kontrak yang sedang berjalan

c.

Rincian piutang istishna' berdasarkan jumlah, jangka waktu, dan kualitas


piutang

d.

Pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK No. 101 tentang Penyajian

Laporan Keuangan Syariah


Akuntansi untuk Pembeli
Pembeli mengakui aset istishna dalam penyelesaian sebesar jumlah termin yang ditagih
oleh penjual dan sekaligus mengakui utang istishna kepada penjual.
Dr. Aset istishna dalam penyelesaian
Cr. Utang kepada Penjual

xxx
xxx

Aset istishna yang diperoleh melalui transaksi istishna dengan pembayaran tangguh
lebih dari satu tahun diakui sebesar: biaya perolehan tunai. Selisih antara harga beli
yang disepakati dalam akad istishna tangguh dan biaya perolehan tunai diakui sebagai
beban istishna tangguh.
Dr. Aset istishna dlm penyelesaian (nilai tunai)

xxx

Dr. Beban istishna tangguh


(selisih nilai tunai &harga beli)

xxx

Cr. Utang kepada Penjual

xxx

Beban istishna tangguhan diamortisasi secara proporsional sesuai dengan porsi


pelunasan utang istishna
Dr.

Beban istishna

xxx

Cr. Beban istishna tangguh

xxx

Jika barang pesanan terlambat diserahkan karena kelalaian atau kesalahan penjual,
mengakibatkan kerugian pembeli, maka kerugian tersebut dikurangkan dari garansi
penyelesaian proyek yang telah diserahkan penjual.
Jika kerugian itu lebih besar dari garansi, maka selisihnya diakui sebagai piutang jatuh
tempo kepada penjual dan jika diperlukan dibentuk penyisihan kerugian piutang.
Dr. Piutang jatuh tempo kepada penjual

xxx

Cr. Kerugian aset istishna

xxx

Setelah sebelumnya pembeli mengakui adanya kerugian


Jika pembeli menolak menerima barang pesanan karena tidak sesuai dengan spesifikasi
dan tidak memperoleh kembali seluruh jumlah uang yang telah dibayarkan kepada
penjual, maka jumlah yang belum diperoleh kembali diakui sebagai piutang jatuh tempo
kepada penjual dan jika diperlukan dibentuk penyisihan kerugian piutang.
Dr. Piutang jatuh tempo kepada penjual

xxx

Cr. Aset istishna dalam penyelesaian

xxx

Jika pembeli menerima barang pesanan yang tidak sesuai dengan spesifikasi, maka
barang pesanan tersebut diukur dengan nilai yang lebih rendah antara nilai wajar dan
biaya perolehan. Selisih yang terjadi diakui sebagai kerugian pada periode berjalan.
Dr. Aset istishna dlm penyelesaian (nilai wajar)

xxx

Dr. Kerugian

xxx

Cr.Aset istishnadlm penyelesaian (biaya perolehan)

xxx

Penyajian, pembeli menyajikan dalam laporan keuangan hal-hal sebagai berikut:


a.

Hutang ishtisna' sebesar tagihan dari produsen atau kontraktor yang belum
dilunasi.

b.

Aset istishna' dalam penyelesaian sebesar:


(i)

persentase penyelesaian dari nilai kontrak penjualan kepada pembeli


akhir, jika istishna' paralel; atau

(ii)

kapitalisasi biaya perolehan, jika istishna'.

Pengungkapan, pembeli mengungkapkan transaksi istishna dalam laporan keuangan,


tetapi tidak terbatas, pada:
a.

rincian utang istishna berdasarkan jumlah dan jangka waktu;

b.

pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK No. 101 tentang Penyajian


Laporan Keuangan Syariah.

AKUNTANSI MUDHARABAH
Keuntungan usaha secara mudharabah di bagi menurut kesepakatan yang di tuangkan
dalam kontrak,sedangkan apabila rugi di tanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu
bukan akibat kelalaian si pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan
atau kelalaian si pengelola,si pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.

Pengakuan dan Pengukuran.


ENTITAS SEBAGAI PEMILIK DANA

Dana syirkah temporer yang disalurkan oleh pemilik dana diakui sebagai investasi mudharabah
pada saat pembayaran kas atau penyerahan aset nonkas kepada pengelola dana.
Pengukuran investasi mudharabah adalah sebagai berikut:
a) investasi mudharabah dalam bentuk kas diukur sebesar jumlah yang diberikan pada
saat pembayaran;
b) investasi mudharabah dalam bentuk aset nonkas diukur sebesar nilai wajar aset nonkas
pada saat penyerahan:
i.

jika nilai wajar lebih rendah daripada nilai tercatatnya diakui sebagai kerugian;

ii.

jika nilai wajar lebih tinggi daripada nilai tercatatnya diakui sebagai keuntungan
tangguhan dan diamortisasi sesuai jangka waktu akad mudharabah.

Contoh kasus :
Kasus ini menggunakan informasi yang terdapat dalam ilustrasi 1 akad mudharabah antara
Bank Syariah IQTISADUNA dan PT.jogja information Technology (JIT) dengan pembiayaan
sebesar Rp 1.000.000.000,- dan nisbah 40:60. Atas pengelolaan dana mudharabah tersebut,
PT.JIT mencatat laba sebesar Rp. 100.000.000,- pada tahun pertama dan segera
dibagihasilkan kepada Bank Syariah IQTISADUNA pada awal tahun kedua akad.

Adapun pembagian porsi untuk masing masing pihak adalah sebagai berikut :
Shahibul maal (Bank) =40%xRp 100.000.000 =Rp 40.000.000
Mudharib (PT.jiT)

=60%xRp 100.000.000 = Rp 60.000.000

Kasus pengakuan laba


Jurnal yang dibuat oleh Bank Syariah IQTISADUNA pada saat menerima bagi hasil
tersebut adalah sebagai berikut:
Kas

Rp. 40.000.000
Pendapatan bagi hasil Mudarabah

Rp.40.000.000

Kasus Pengakuan Rugi


Jika PT.JIT mengalami kerugian pada tahun pertama sebesar Rp 100.000.000,- dan
berdasarkan fakta yg di sepakati antara kedua belah pihak terungkap bahwa kerugian
terjadi karena bencana alam sehingga mengakibatkan aktiva mudharabah dan di luar
kemampuan mudharib untuk menghindarinya,maka jurnal yang dibuat Bank Syariah
ISTISADUNA atas kejadian tersebut adalah :
A.

Pada saat pembentukan cadangan kerugian pembiayaan mudharabah


Beban Penyisihan Kerugian Pembiayaan Mudharabah Rp 100.000.000
Penyisihan Kerugian Mudharabah
Rp100.000.000

B.

Pada saat penghapus bukuan pembiayaan mudharabah.


Penyisihan Mudharabah Rp.100.000.000
Pembiayaan Mudharabah Rp.100.000.000

Kasus bagi hasil belum direalisasikan


Jika PT. JIT mengakui adanya keuntungan dalam pengelolaan pembiayaan mudharabah
sebesar Rp 100.000.000 dan sampai saat yang ditentukan ternyata PT. JIT belum
membayarkan bagian bagi hasil yang menjadi hak bank syariah IQTISADUNA sebesar
Rp 40.000.000 maka bank syariah IQTISADUNA akan mengakui kejadian tersebut
dalam jurnal sebagai berikut:
Piutang kepada Mudharib Rp 40.000.000
Pendapatan Mudharabah Rp 40.000.000

AKUNTANSI MUSYARAKAH
Musyarakah permanen
Musyarakah yang jumlah modalnya tetap sampai akhir masa musyarakah.

musyarakah menurun
Musyarakah yang jumlah modalnya secara berangsur-angsur menurun karena dibeli oleh mitra
musyarakah

DASAR PENGATURAN
Penyerahan modal musyarakah

Pembiayaan musyarakah
Diakui pada saat pembayaran tunai dan non kas kepada mitra
Pengukuran pembiayaan musyarakah pada awal akad dalam bentuk :
1. Kas dinilai jumlah yang dibayar
2. Aktiva non kas dinilai sebesar nilai wajar => selisih nilai wajar dengan nilai buku
diakui sebagai keuntungan atau kerugian bank saat penyerahan Biaya yang terjadi
akibat akad tidak diakui bagian pembiayaan musyarakah, kecuali ada persetujuan
seluruh mitra

Pembiayaan Musyarakah setelah akad


1. Musyarakah permanen dinilai sebesar historis setelah dikurangi kerugian (jika ada)
2. Musyarakah menurun dinilai sebesar historis dikurangi bagian pembiayaan bank
yang telah dikembalikan mitra (harga jual wajar) dan kerugian
Selisih nilai historis dan nilai wajar bagian pembiayaan yang dikembalikan diakui
sebagai keuntungan atau kerugian bank pada periode berjalan
3. Akad belum jatuh tempo diakhiri dan pengembalian seluruh atau sebagian modal =>
selisih nilai historis dan nilai pengembalian diakui sebagai laba sesuai nisbah yang
disepakati atau rugi dengan porsi modal mitra
4. Akad diakhiri => pembiayaan belum dikembalikan oleh mitra diakui sebagai piutang
jatuh tempo kepada mitra

LABA atau RUGI MUSYARAKAH

Laba -> diakui sebesar bagian bank sesuai nisbah yang disepakati

Rugi -> diakui secara proporsional sesuai dengan kontribusi modal

Musyarakah permanen melewati satu periode pelaporan

Keuntungan diakui sesuai nisbah yang disepakati pada periode berjalansedangkan kerugian
diakui pada periode terjadinya kerugian dan mengurangi pembiayaan musyarakah
Kerugian akibat kelalaian mitra: (pr 51)

Ditanggung oleh mitra

Diperhitungkan sebagai pengurang modal mitra (kecuali mitra mengganti dengan dana
baru)

PENGAKUAN DAN PENGUKURAN

Pembiayaan musyarakah dalam bentuk kas dinilai sebesar jumlah yang dibayarkan.

Pembiayaan musyarakah yang diberikan dalam bentuk aktiva non-kas dinilai sebesar
nilai wajar aktiva non-kas.

Selisih antara nilai wajar dan nilai buku aktiva non-kas diakui sebagai keuntungan atau
kerugian Bank pada saat penyerahan.

Biaya-biaya yang timbul akibat akad musyarakah tidak dapat diakui sebagai bagian
pembiayaan musyarakah kecuali ada persetujuan dari seluruh mitra musyarakah.

Pengakuan keuntungan/pendapatan dan kerugian musyarakah:


Dalam pembiayaan musyarakah permanen yang melewati satu periode laporan maka
Laba diakui pada periode terjadinya sesuai dengan nisbah bagi hasil yang telah
disepakati. Rugi diakui pada periode terjadinya kerugian tersebut dan mengurangi
pembiayaan musyarakah. Apabila dalam pembiayaan musyarakah menggunakan
metode bagi laba (profit sharing), dimana periode sebelumnya terjadi kerugian, maka
keuntungan yang diperoleh pada periode tersebut harus dialokasikan terlebih dahulu
untuk memulihkan pengurangan modal akibat kerugian pada periode sebelumnya

JURNAL AKUNTANSI MITRA AKTIF


Pada saat mitra aktif menerima uang tunai kepada musyarakah
Debit

kas
Kredit

investasi musyarakah

Pada saat mitra aktif menerima aktiva non kas kepada musyarakah
a.Jika nilai wajar aktiva yang diterima lebih rendaha atas nilai buku :
Debit

aktiva non kas (sebesar nilai buku)


Kredit

kerugian penerimaan aktiva

Kredit

investasi musyarakah(sebesar nilai buku)

b.Jika nilai wajar aktiva yang diterima lebih tinggi atas nilai buku :
Debit

aktiva non kas (sebesar nilai buku)

Debit

keuntungan penerimaan aktiva


Kredit

investasi musyarakah (sebesar nilai buku)

Pengakuan biaya akad musyarakah


a.Pada saat biaya di keluarkan
Debit

beban akad musyarakah


Kredit

kas

b.Jika biasa akad diakui sebagai beban : tidak ada jurnal


c.Jika berdasarkan kesepakatan dapat diakui sebagai bagian dari investasi musyarakah
Debit

beban akad musyarakah


Kredit

investasi musyarakah

Pembayaran keuntungan musyarakah


Debit

keuntungan bagi hasil musyarakah


Kredit

kas

Pengakuan kerugian musyarakah tanpa ada kelalaian


Debit

investasi musyarakah
Kredit

kerugian bagi hasil musyarakah

Pengakuan kerugian yang disebabkan oleh kelalaian manajemen


Debit

investasi musyarakah
kredit

utang kepada mitra pasif

Penurunan / pelunasan modal musyarakah dengan mengalihkan kepada mitra


musyarakah lainnya
Debit

investasi musyarakah
Kredit

kas

Pengembalian modal musyarakah non kas dengan nilai wajar lebih rendah dari nilai
historis
Debit

investasi muyarakah
Kredit

kerugian penyelesaian pembiayaan


musyarakah (SNB)

Kredit

aktiva non kas (sebesar nilai wajar)

Pengembalian modal musyarakah non kas dengan nilai wajar lebih tinggi dari nilai
historis
Debit

investasi musyarakah

Debit

keuntungan penyelesaian pembiayaan musyarakah (SNB)


Kredit

aktiva non kas (nilai wajar)

Pada saat akad musrayakah diakhiri sebelum jatuh tempo atau pada saat jatuh tempo
dan investiasi musyarakah belum dibayarkan kepada mitra pasif
Debit

investasi musyarakah
Kredit

hutang kepada mitra pasif

AKUNTANSI MITRA PASIF


Pada saat mitra pasif membayarkan yang tunai kepada musyarakah
Debit

pembiayaan musyarakah
Kredit

kas

Pada saat mitra pasif menyerahkan aktiva non kas kepada musyarakah
a.Jika nilai wajar aktiva yang diserahkan lebih rendah atas nilai buku
Debit

pembiayaan musyarakah (sebesar nilai wajar)

Debit

kerugian penyerahan aktiva


Kredit

aktiva non kas sebesar nilai buku

b.Jika nilai wajar aktiva yang diserahkan lebih besar atas nilai buku
Debit

pembiayaan musyarakah (sebesar nilai wajar)


Kredit

aktiva non kas (sebesar nilai buku)

Kredit

keuntungan penyerahan aktiva

Pengakuan biaya akad musyarakah


a.Pada saat biaya dikeluarkan
Debit

beban akad musrayakah


Kredit

kas

b.Jika biaya diakui sebagai beban : tidak ada jurnal


c.Jika berdasarkan kesepakatan dapat diakui sebagai pembiayaan
Debit

pembiayaan musyarakah
Kredit

beban akad musyarakah

Penerimaan keuntungan musrayakah


Debit

kas
Kredit

keuntungan bagi hasil musyarakah

Pengakuan kerugia musyarakah tanpa kelalaian mitra


Debit

kerugian bagi hasil musyarakah


Kredit

pembiayaan musyarakah

Pengakuan kerugian yang disebabkan oleh kelalaian mitra musyarakah


Debit piutang mitra
Kredit

pembiayaan musyarakah

Penurunan/pelunasan modal musyarakah dengan mengalihkan kepada mitra


musyarakah lainnya
Debit

kas
Kredit

pembiayaan musyarakah

Pengembalian modal musyarakah non kas dengan nilai wajar lebih rendah dari nilai
historis
Debit

aktiva non kas (sebesar nilai wajar)

Debit

kerugian penyelesaian pembiayaan musyarakah


(SNB)
Kredit

pembiayaan musyarakah

Pengembalian modal musyarakah non kas dengan nilai wajar lebih tinggi dari nilai
historis
Debit

aktiva non kas(sebesar nilai wajar)


Kredit

keuntungan penyelesaian pembiayaan


musyarakah (SNB)

Kredit

pembiayaan musyakarah

Pada saat akad musyarakah diakhiri sebelum jatuh tempo atau pada saar jatuh tempo
dan pembiayaan musyarakah dibayar oleh mitra
Debit

piutang kepada mitra


Kredit

pembiayaan musyarakah