Anda di halaman 1dari 12

IV.

2 Pembahasan
Pada percobaan ini dilakuakan pengidentifikasian kation dan anion dengan menggunakan
kromatografi lapis tipis berdasarkan kecepatan partisi dan adsorbsi dari zat uji ke dalam eluen dengan
parameter Rf dari noda yang terbentuk. Lempeng yang digunakan menggunakan adsorben yang terbuat
dari silika gel.
Peralatan yang digunakan pada KLT ini meliputi suatu lempeng tipis. Dengan batuan alat ini
bahan sorben dapat dibuat rata pada pelat dan dapat dilapiskan dengan ketebalan yang diinginkan. Pelat
ini memungkinkan sejumlah larutan diperiksa dan larutan pembanding ditotolkan padab titik awal. Selain
pelat juga digunakan bejana kromatografi dari bahan tembus cahaya dengan tutup rapat. Bejana dilapisi
kertas saring dan sejumlah besar fase gerak dituangkan untuk penjenuhan kertas dan pada dasar bejana
diisi dengan pelarut pengembang setinggi 1,5 ml. Ditutup dan dibiarkan jenuh dengan eluen.
Adsorben yang paling banyak digunakan dalam kromatografi lapis tipis adalah silika gel dan
aluminium oksida. Silika gel umumnya mengandung bahan tambahan kalsium sulfat untuk mempertinggi
daya lekatnya. Silika gel digunakan sebagai adsorben untuk kromatografi senyawa-senyawa netral, asam
dan basa. Selain itu silika gel mempunyai efek pemisahan melalui proses adsorbsi dan partisi.
Larutan zat uji ditotolkan 2,5 cm dari bawah dan minimum 2 cm dari sisi pelat, sedemikian rupa
sehingga terjadi noda teratur yang maksimum berdiameter 6 mm, tetapi pada percobaan ini syarat
tersebut tidak diperhatikan sehingga lempeng yang digunakan lebernya sangat kecil. Penotol yang
digunakan sebaiknya berdiameter 0,1 mm 1 mm, sehingga larutan zat uji yang digunakan juga sesuai
dengan apa yang diinginkan.
Setelah ditotolkan, pelat diuapkan. Lalu pelat diletakkanvertikal dalam bejana kromatografi dan
titik awal harus tetap berada disebelah atas permukaan fase mobil. Bejana ditutup dan disimpan pada
suhu 20 25 oC. Jika fase gerak sudah melewati trayek yang diberikan dalam monografi, pelat
dikeluarkan dari bejana dan dikeringkan diudara. Cara pengembangan pada KLT adalah menaik.
Untuk KLT dapat digunakan metode identifikasi dengan menggunakan pereaksi kimia. Pereaksi
yang sering digunakan asam sulfat pekat dalam bentuk yang disemprotkan. Akan terbentuk noda gelap
senyawa yang dipisahkan karena terjadi pengarangan. Tetapi pada praktikum ini tidak digunakan
pereaksi karena senyawa yang ingin dipisahkan sudah berwarna.
Harga Rf merupakan parameter karasteritik kromatografi kertas dan kromatografi lapis tipis.
Harga ini merupakan ukuran kecepatan migrasi suatu senyawa pada kromatogram dan pada kondisi
konstan merupakan besaran karasteristikdan reproduksibel. Harga Rf didefinisikan sebagai perbandingan
antara jarak senyawa dari titik awal dan jarak tepi muka pelarut dari titik awal. Harga Rf dipengaruhi oleh
faktor berikut :

Pelarut yang digunakan

Bahan pengemban (jenis dan ketebalan lapisan).

Suhu.

Kejenuhan ruangan akan pelarut.

Kelembaban udara.

Konsentrasi dan komposisi larutan yang diperiksa.

Panjang trayek migrasi.

Senyawa asing dan pencemaran pelarut.

Ketidakhomogenan lempeng.
Berdasarkan faktor-faktor diatas, maka kesalahan dalam melakuakn peraktikum ini tetap mesti

ada. Misalnya suhu udara padasaat praktikum dan kelembaban udara, karena pada saat praktikum diluar
hujan. Selain itu Cuma digunakan satu jenis adsorben, sehingga pemisahan yang dilakukan kurang teliti
karena harga Rf-nya dan warna bercak mungkin saja bisa sama.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan zat terlarut oleh suatu proses migrasi
diferensial dinamis dalam sistem yang terdiri dari dua fase atau lebih, salah satu diantaranya
bergerak secara berkesinambungan dalam arah tertentu dan di dalamnya zat-zat itu menunjukkan
perbedaan mobilitas disebabkan adanya pembedaan dalam adsorpsi, partisi, kelarutan, tekanan
uap, ukuran molekul, atau kerapatan muatan ion. Atau secara sederhana kromatografi biasanya
juga di artikan sebagai teknik pemisahan campuran berdasarkan perbedaan kecepatan
perambatan komponen dalam medium tertentu. Kromatografi di gunakan untuk memisahkan
substansi campuran menjadi komponen-komponen. Seluruh bentuk kromatografi bekerja
berdasarkan prinsip ini.
Kromatografi lapis tipis merupakan salah satu analisis kualitatif dari suatu sampel yang
ingin di deteksi dengan memisahkan komponen-komponen sampel berdasarkan perbedaan
kepolaran. Kromatografi lapis tipis adalah metode pemisahan fisika-kimia dengan fase gerak
(larutan pengembang yang cocok), dan fase diam (bahan berbutir) yang diletakkan pada
penyangga berupa plat gelas atau lapisan yang cocok. Pemisahan terjadi selama perambatan
kapiler (pengembangan) lalu hasil pengembangan di deteksi. Zat yang memiliki kepolaran yang
sama dengan fase diam akan cenderung tertahan dan nilai Rf-nya paling kecil. Kromatografi

lapis tipis digunakan untuk memisahkan komponen-komponen atas dasar perbedaan adsorpsi
atau partisi oleh fase diam di bawah gerakan pelarut pengembang.
Pada identifikasi noda atau penampakan noda, jika noda sudah berwarna dapat langsung
diperiksa dan ditentukan harga Rf. Rf merupakan nilai dari Jarak relative pada pelarut. Harga
Rf dihitung sebagai jarak yang ditempuh oleh komponen dibagi dengan jarak tempuh oleh eluen
(fase gerak) untuk setiap senyawa berlaku rumus sebagai berikut:

Rf juga menyatakan derajat retensi suatu komponen dalam fase diam. Karena itu Rf juga
disebut factor referensi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi gerakan noda dalam kromatografi lapisan tipis yang
juga mempengaruhi harga Rf adalah :
Struktur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan.
Sifat dari penyerap dan derajat aktifitasnya.
Biasanya aktifitas dicapai dengan pemanasan dalam oven, hal ini akan mengeringkan molekulmolekul air yang menempati pusat-pusat serapan dari penyerap. Perbedaan penyerap akan
memberikan perbedaan yang besar terhadap harga Rf meskipun menggunakan fase bergerak dan
zat terlarut yang sama tetapi hasil akan dapat diulang dengan hasil yang sama, jika
menggunakan penyerap yang sama, ukuran partikel tetap dan jika pengikat (kalau ada) dicampur
hingga homogen.
Tebal dan kerataan dari lapisan penyerap.
Pada prakteknya tebal lapisan tidak dapat dilihat pengaruhnya, tetapi perlu diusahakan tebal
lapisan yang rata. Ketidakrataan akan menyebabkan aliran pelarut menjadi tak rata pula dalam
daerah yang kecil dari plat.
Pelarut (dan derajat kemurniannya) fase bergerak.
Kemurnian dari pelarut yang digunakan sebagai fase bergerak dalam kromatografi lapisan tipis
adalah sangat penting dan bila campuran pelarut digunakan maka perbandingan yang dipakai
harus betul-betul diperhatikan.
Derajat kejenuhan dan uap dalam bejana pengembangan yang digunakan.
Teknik percobaan.
Arah pelarut bergerak di atas plat. (Metoda aliran penaikan yang hanya diperhatikan, karena cara
ini yang paling umum meskipun teknik aliran penurunan dan mendatar juga digunakan).
Jumlah cuplikan yang digunakan.
Penetesan cuplikan dalam jumlah yang berlebihan memberikan hasil penyebaran noda-noda
dengan kemungkinan terbentuknya ekor dan efek tak kesetimbangan lainnya, hingga akan
mengakibatkan kesalahan-kesalahan pada harga-harga Rf.
Suhu.

Pemisahan-pemisahan sebaiknya dikerjakan pada suhu tetap, hal ini terutama untuk mencegah
perubahan-perubahan dalam komposisi pelarut yang disebabkan oleh penguapan atau perubahanperubahan fase.
Kesetimbangan.
Ternyata bahwa kesetimbangan dalam lapisan tipis lebih penting dalam kromatografi kertas,
hingga perlu mengusahakan atmosfer dalam bejana jenuh dengan uap pelarut. Suatu gejala bila
atmosfer dalam bejana tidak jenuh dengan uap pelarut, bila digunakan pelarut campuran, akan
terjadi pengembangan dengan permukaan pelarut yang berbentuk cekung dan fase bergerak lebih
cepat pada bagian tepi-tepi dan keadaan ini harus dicegah.
Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau kombinasi cairanpadatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan
membawa komponen-komponen yang terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang
berbeda bergerak pada laju yang berbeda.
Sedangkan fase diam untuk kromatografi lapis tipis seringkali juga mengandung
substansi yang mana dapat berpendar flour dalam sinar ultra violet. Pendaran ini ditutupi pada
posisi dimana bercak pada kromatogram berada, meskipun bercak-bercak itu tidak tampak
berwarna jika dilihat dengan mata. Namun, apabila di sinarkan dengan sinar UV pada
lempengan, akan timbul pendaran dari posisi yang berbeda dengan posisi bercak-bercak. Bercak
tampak sebagai bidang kecil yang gelap.
Sementara UV tetap di sinarkan pada lempengan, harus dilakukan penandaan posisiposisi dari bercak-bercak dengan menggunakan pensil dan melingkari daerah bercak-bercak itu.
Ketika sinar UV dimatikan, bercak-bercak tersebut tidak tampak kembali.

Gambar : Bercak yang ditimbulkan oleh sinar UV

Gambar : Sebelum dan sesudah di lakukannya kromatografi pada plat KLT

2.2. Prinsip Kerja KLT


Pada proses pemisahan dengan kromatografi lapis tipis, terjadi hubungan kesetimbangan
antara fase diam dan fase gerak, dimana ada interaksi antara permukaan fase diam dengan gugus
fungsi senyawa organik yang akan diidentifikasi yang telah berinteraksi dengan fasa geraknya.
Kesetimbangan ini dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu : kepolaran fase diam, kepolaran fase gerak,
serta kepolaran dan ukuran molekul.
Pada kromatografi lapis tipis, eluent adalah fase gerak yang berperan penting pada
proses elusi bagi larutan umpan (feed) untuk melewati fase diam (adsorbent). Interaksi
antara adsorbent dengan eluent sangat menentukan terjadinya pemisahan komponen. Oleh
sebab itu pemisahan komponen secara kromatografi dipengaruhi oleh laju alir eluentdan
jumlah umpan. Eluent dapat digolongkan menurut ukuran kekuatan teradsorpsinya pelarut atau
campuran pelarut tersebut pada adsorben dan dalam hal ini yang banyak digunakan adalah
jenis adsorben alumina atau sebuah lapis tipis silika. Suatu pelarut yang bersifat larutan relatif
polar, dapat mengusir pelarut yang tak polar dari ikatannya dengan alumina (gel silika).
Semakin dekat kepolaran antara senyawa dengan eluen maka senyawa akan semakin terbawa
oleh fase gerak tersebut. Hal ini berdasarkan prinsip like dissolved like.

2.3. Prosedur Kerja Pemisahan dengan KLT


Gel silika adalah bentuk dari silikon dioksida (silika). Atom silikon dihubungkan oleh
atom oksigen dalam struktur kovalen yang besar. Namun, pada permukaan gel silika, atom
silikon berlekatan pada gugus -OH.
Jadi, pada permukaan gel silika terdapat ikatan Si-O-H selain Si-O-Si. Gambar ini
menunjukkan bagian kecil dari permukaan silika.

Permukaan gel silika sangat polar dan karenanya gugus -OH dapat membentuk ikatan
hidrogen dengan senyawa-senyawa yang sesuai di sekitarnya, sebagaimana halnya gaya van der
Waals dan atraksi dipol-dipol.
Pada kromatografi lapis tipis, fase diam berupa plat yang biasanya disi dengansilica gel.
Sebuah garis pensil di gambar dekat bagian bawah fase diam dan setetes larutan campuran
ditempatkan di atasnya. Garis pada fase diam berguna untuk menunjukkan posisi asli

campuran. Pembuatan garis harus menggunakan pensil karena jika semua ini dilakukan
dengan tinta, pewarna dari tinta juga akan bergerak sebagai kromatogram berkembang. Ketika
titik campuran kering, fasa diam diletakkan berdiri dalam gelas tertutup yang telah berisi fasa
gerak dengan posisi fase gerak di bawah garis. Digunakan gelas tertutup untuk memastikan
bahwa suasana dalam gelas jenuh dengan uap pelarut.
Pelarut (fasa gerak) perlahan-lahan bergerak naik, komponen-komponen yang berbeda
dari campuran berjalanan pada tingkat yang berbeda dan campuran dipisahkan memiliki warna
yang berbeda.

Gambar tersebut menunjukkan plat


setelah

pelarut

telah

bergerak.

Pelarut

diperbolehkan untuk naik hingga hampir mencapai bagian atas plat yang akan memberikan
pemisahan maksimal dari komponen-komponen pewarna untuk kombinasi tertentu dari pelarut
dan fase diam.

Jarak yang ditempuh pelarut


Untuk identifikasinya dapat di gunakan harga Rf meskipun harga-harga Rf dalam lapisan tipis
kurang tepat bila dibandingkan pada kertas. Seperti halnya pada kertas harga Rfdidefinisikan
sebagai berikut :

Harga-harga Rf untuk senyawa-senyawa murni dapat dibandingkan dengan harga-harga


standard. Perlu diperhatikan bahwa harga-harga Rf yang diperoleh berlaku untuk campuran
tertentu dari pelarut dan penyerap yang digunakan, meskipun daftar dari harga-harga Rf untuk
berbagai campuran dari pelarut dan penyerap dapat diperoleh.
2.4. Fase Diam dan Fase Gerak KLT
Pada kromatografi, komponen-komponennya akan dipisahkan antara dua buah fase yaitu
fase diam dan fase gerak. Fase diam akan menahan komponen campuran sedangkan fase gerak
akan melarutkan zat komponen campuran. Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan
tertinggal. Sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat.
Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau kombinasi cairan-padatan)

dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa
komponen-komponen yang terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang berbeda
bergerak pada laju yang berbeda.
Fase Diam
Pelaksanaan kromatografi lapis tipis menggunakan sebuah lapis tipis silika gel atau
alumina yang seragam pada sebuah lempeng gelas atau logam atau plastik yang keras. Gel silika
(atau alumina) merupakan fase diam. Fase diam untuk kromatografi lapis tipis seringkali juga
mengandung substansi yang mana dapat berpendar flour dalam sinar ultra violet. Fase diam
lainnya yang biasa digunakan adalah alumina-aluminium oksida. Atom aluminium pada
permukaan juga memiliki gugus -OH.
Fase Gerak
Dalam kromatografi, eluent adalah fase gerak yang berperan penting pada proses elusi
bagi larutan umpan (feed) untuk melewati fase diam (adsorbent). Interaksi
antaraadsorbent dengan eluent sangat menentukan terjadinya pemisahan komponen.
Eluent dapat digolongkan menurut ukuran kekuatan teradsorpsinya pelarut atau campuran
pelarut tersebut pada adsorben dan dalam hal ini yang banyak digunakan adalah jenis adsorben
alumina atau sebuah lapis tipis silika. Penggolongan ini dikenal sebagai deret eluotropik pelarut.
Suatu pelarut yang bersifat larutan relatif polar, dapat mengusir pelarut yang relatif tak polar dari
ikatannya dengan alumina (gel silika).
Kecepatan gerak senyawa-senyawa ke atas pada lempengan tergantung pada:
Bagaimana kelarutan senyawa dalam pelarut, Hal ini bergantung pada bagaimana besar atraksi
antara molekul-molekul senyawa dengan pelarut.
Bagaimana senyawa melekat pada fase diam, misalnya gel silika. Hal ini tergantung pada
bagaimana besar atraksi antara senyawa dengan gel silika.
2.5. Kelebihan Metode Kromatografi Lapis Tipis
Beberapa keuntungan dari kromatografi lapis tipis ini adalah sebagai berikut :
Kromatografi lapis tipis banyak digunakan untuk tujuan analisis.
Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi warna, fluorosensi atau
dengan radiasi menggunakan sinar ultraviolet.
Dapat dilakukan elusi secara menaik (ascending), menurun (descending), atau dengan cara elusi
2 dimensi.
Dapat untuk memisahkan senyawa hidrofobik (lipid dan hidrokarbon) yang dengan metode
kertas tidak bisa
Ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen yang akan ditentukan merupakan
bercak yang tidak bergerak.
Hanya membutuhkan sedikit pelarut.
Waktu analisis yang singkat (15-60 menit)
Investasi yang kecil untuk perlengkapan (Biaya yang dibutuhkan ringan).

Preparasi sample yang mudah


Kemungkinan hasil palsu yang disebabkan oleh komponen sekunder tidak mungkin
Kebutuhan ruangan minimum

Analisis KLT banyak digunakan karena :


Waktu yang diperlukan untuk analisis senyawa relatif pendek

Dalam analisis kualitatif dapat memberikan informasi semi kuantitatif tentang konstituen utama
dalam sampel
Cocok untuk memonitor identitas dan kemurnian sampel
Dengan bantuan prosedur pemisahan yang sesuai, dapat digunakan untuk analisis kombinasi
sampel terutama dari sediaan herbal.
2.6. Aplikasi Metode KLT Dalam Bidang Farmasi
Contoh penggunaan metode pemisahan secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dapat
diterapkan dalam menganalisis adanya senyawa paracetamol dan kafein dalam sediaan obat
paten seperti poldanmig yang beredar di pasaran apakah memenuhi persyaratan mutu obat atau
tidak. Sehingga dengan kadar yang tepat obat dapat memberikan efek terapi yang dikehendaki.
Setiap komponen memiliki harga Rf sendiri-sendiri, dengan bantuan dari sinar ultraviolet
maka dapat ditentukan noda yang tidak tampak oleh kasat mata. Cara yang biasa dilakukan
dengan menyemprotkan KMNO4 dalam H2SO4 yang kemudian akan berinteraksi dengan
komponen-komponen sampel baik secara kimia maupun berdasarkan kelarutan membentuk
warna-warna tertentu.
Noda kemudian dihitung harga Rf-nya. Harga Rf dihitung dengan menggunakan
perbandingan jarak yang ditempuh solut dengan jarak yang ditempuh fase gerak. Nilai
maksimum Rf adalah 1 dan nilai minimumnya 0. Dengan menggunakan silika gel sebagai fase
diam, harga Rf 1 menunjukkan jika senyawa tersebut sangat nonpolar sedangkan harga Rf 0
menunjukkan bahwa senyawa tersebut sangat polar.
PEMBAHASAN
Percobaan ini bertujuan untuk memisahkan komponen-komponen dari kulit batang kemiri dan untuk
menentukan perbandingan eluen yang dapat menghasilkan pemisahan yang bagus.
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan cara pemisahan campuran senyawa menjadi senyawa murninya.
Kromatografi juga merupakan analisis cepat yang memerlukan bahan sangat sedikit, baik penyerap maupun
cuplikannya. KLT dapat digunakan untuk memisahkan senyawa-senyawa yang sifatnya hidrofobik seperti
lipida-lipida dan hidrokarbon yang sukar dikerjakan dengan kromatografi kertas. KLT juga dapat berguna
untuk mencari eluen untuk kromatografi kolom, analisis fraksi yang diperoleh dari kromatografi kolom,
identifikasi senyawa secara kromatografi, dan isolasi senyawa murni skala kecil.
Pelaksaanan kromatografi lapis tipis menggunakan sebuah lapis tipis silika atau alumina yang seragam pada
sebuah lempeng gelas atau logam. Gel silika (atau alumina) merupakan fase diam. Fase diam untuk
kromatografi lapis tipis seringkali juga mengandung substansi yang mana dapat berpendarflour dalam sinar
ultra violet. Fase gerak merupakan pelarut atau campuran pelarut yang sesuai. Pelaksanaan ini biasanya
dalam pemisahan warna yang merupakan gabungan dari beberapa zat pewarna atau pemisahan dan isolasi

pigment tanaman yang berwarna hijau dan kuning.


Sampel yang dipisahkan merupakan fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi n-butanol dari ekstrak kulit
batang kemiri. Sedangkan pelarut yang digunakan sebagai eluen adalah n-heksan, etil asetat, kloroform,
metanol, dan air. Eluen yang digunakan merupakan pencampuran dari pelarut tersebut. Eluen yang dibuat
adalah perbandingan n-heksan : etil asetat adalah perbandingan 6:4, 7:3, dan 9:1, sedangkan
perbandingan kloroform : metanol : air yang digunakan adalah 10:6:0,5. Pada fraksi etil asetat dan nheksan menggunakan eluen campuran keduanya. Sedangkan pada fraksi n-butanol menggunakan eluen
kloroform : metanol : air.
Tiap fraksi-fraksi ekstrak yang terdapat dalam botol vial dilarutkan dengan kloroform/metanol dengan
perbandingan 1:1. Penambahan ini bertujuan agar hasil pencampuran tiap fraksi ekstrak menjadi agak non
polar, karena kloroform merupakan non polar dan metanol adalah semi polar, sehingga pada saat penotolan
diharapkan hasil yang baik dikarenakan tingkat kepolaran yang seimbang.
Setelah membuat eluen yang akan digunakan dilanjutkan dengan menyiapkan plat KLT yaitu dengan
memotongnya sesuai dengan panjang 7,5 cm dan lebar 2 cm. Dan kemudian dibuat batas bawah dan
atasnya agar mudah untuk menghitung Rfnya. Batas bawah yang dibuat adalah 1 cm dan batas atas adalah
cm. batas bawah dan batas atas ini dibuat dengan menggunakan pensil. Sebuah garis menggunakan
pensil digambar dekat bagian bawah lempengan dan setetes pelarut dari campuran pewarna ditempatkan
pada garis itu. Diberikan penandaan pada garis di lempengan untuk menunjukkan posisi awal dari tetesan.
Sebagai penanda batas atas dan batas bawah fase diam (yang akan dilalui eluen) digunakan pensil, karena
pensil mengandung senyawa karbon yang tidak larut dalam eluen. Jika ini dilakukan menggunakan tinta,
pewarna dari tinta akan bergerak selayaknya kromatogram dibentuk, oleh karena itu digunakan pensil
sebagai penandanya. Batas bawah diberi garis 1 cm dan bagian atas 1/2 cm. Dimana eluen yang digunakan
tidak boleh lebih dari 1 cm, hal ini dikarenakan sesuai dengan prinsip kapilaritas, yaitu untuk menaikkan
spot (ascending). Kapilaritas adalah naiknya cairan eluen melalui pori-pori kapiler lempeng. Penotolan
biasanya dilakukan menggunakan pipa kapiler kaca tetapi dapat pula dilakukan penyemprotan atau alat
otomatis. Lalu pelarut dibiarkan menguap atau dihilangkan dengan bantuan aliran udara kering. Selanjutnya
lapisan dimaksudkan ke bejana pengembang sesuai dengan fraksi dan perbandingan masing-masing.
Ketika bercak dari campuran itu mengering, lempengan ditempatkan dalam sebuah gelas kimia bertutup
berisi pelarut dalam jumlah yang tidak terlalu banyak. Perlu diperhatikan bahwa batas pelarut berada di
bawah garis dimana posisi bercak berada. Alasan untuk menutup gelas kimia adalah untuk meyakinkan
bawah kondisi dalam gelas kimia terjenuhkan oleh uap dari pelarut. Untuk mendapatkan kondisi ini, dalam
gelas kimia biasanya ditempatkan beberapa kertas saring yang terbasahi oleh pelarut. Kondisi jenuh dalam
gelas kimia dengan uap mencegah penguapan pelarut.
Karena pelarut bergerak lambat pada lempengan, komponen-komponen yang berbeda dari campuran
pewarna akan bergerak pada kecepatan yang berbeda dan akan tampak sebagai perbedaan bercak warna.
Pelarut dapat mencapai sampai pada bagian atas dari lempengan. Ini akan memberikan pemisahan
maksimal dari komponen-komponen yang berwarna untuk kombinasi tertentu dari pelarut dan fase diam.
Deteksi bercak digunakan 2 cara, yaitu fisika dan kimia. Untuk cara fisika, digunakan sinar UV. Sejumlah
senyawa alam akan berflouresensi yaitu memancarkan cahaya tampak saat dikenai sinar UV atau
mengabsorpsi sinar UV. Senyawa yang mengabsorpsi sinar UV akan tampak sebagai daerah gelap di bawah
UV. Oleh kerana itu digunakan sinar UV dengan tujuannya untuk mendeteksi senyawa yang dapat
berfluoresensi, dimana senyawa tersebut memiliki gugus khromofor. Gugus khromofor merupakan gugus
yang dapat memberi atau menghasilkan warna. UV digunakan dengan panjang gelombang 254 nm dan 366
nm. Panjang gelombang 254 nm tujuannya untuk menampakkan solut sebagai bercak yang gelap.
Sedangkan jika dibawah panjang gelombang 366 nm untuk menampakkan bercak yang berfluoresensi
sehingga pada pengamatan terlihat bercak berpendar (memancarkan cahaya).
Keuntungan menggunakan UV ialah karena sinar UV tidak merusak senyawa yang dideteksi, sehingga hasil
kromatografi dapat kembali digunakan.
Sedangkan untuk cara kimia, yaitu dengan mereaksikan bercak menggunakan asam sulfat pekat melalui
cara penyemprotan lalu dipanaskan dengan tujuan untuk mengoksidasi solut-solut organik yang tampak
sebagai bercak hitam kecoklatan. Adanya warna hitam kecoklatan itu menunjukkan adanya senyawa organik
pada sampel. Asam sulfat bersifar membakar. Hal ini dimaksudkan untuk mendeteksi senyawa karbon. Hal
ini dibuktikan dengan munculnya warna coklat kehitaman. H2SO4 memutuskan ikatan rangkap, sehingga
yang terlihat adalah karbonnya.

Pada proses pendeteksian dengan menggunakan sinar UV terlihat bercak pada lempeng silika gel tampak
berekor. Hal ini disebabkan karena sampel masih mengandung air dimana pada proses pemisahan kurang
sempurna.
Dari hasil pengamatan dapat dilihat pada fraksi n-hexan dengan eluen n-hexan dan etil asetat dengan
perbandingan 6:4 menghasilkan noda yang berekor dan tidak terpisah sehingga perbandingan eluennya
harus dikecilkan. Hal yang sama terjadi dengan fraksi yang lain dengan eluen yang berbeda-beda
perbandingannya menghasilkan spot yang berekor dan senyawa yang tidak terpisah kecuali pada fraksi nhexan dengan eluen n-hexan dan etil asetat dengan perbandingan 7:3 yang menghasilkan spot yang tidak
berekor dan senyawa yang terpisah. Eluen yang baik pada percobaan kali ini adalah fraksi n heksan : etil
asetat dengan perbandingan 7:3, karena senyawa-senyawa yang terlarut oleh pelarutnya terpisah dengan
baik membentuk spot-spot yang berada di tengah.
Ketika pelarut mulai membasahi lempengan, pelarut pertama akan melarutkan senyawa-senyawa dalam
bercak yang telah ditempatkan pada garis dasar. Senyawa-senyawa akan cenderung bergerak pada
lempengan kromatografi sebagaimana halnya pergerakan pelarut.
Cepatnya senyawa-senyawa dibawa bergerak ke atas pada lempengan, tergantung pada kelarutan senyawa
dalam pelarut, hal ini bergantung pada bagaimana besar atraksi antara molekul-molekul senyawa dengan
pelarut. Serta bagaimana senyawa melekat pada fase diam, dalam hal ini gel silika, tergantung pada
bagaimana besar atraksi antara senyawa dengan gel silika.
Warna yang terbentuk pada saat pelarutan lebih banyak pada ekstrak n-hexan daripada ekstrak etil asetat.
Hal ini dikarenakan senyawa kulit batang kemiri lebih banyak yang tertarik ke pelarut n-hexan daripada etil
asetat. Ini menunjukkan bahwa senyawa dalam kulit batang kemiri lebih banyak yang bersifat non polar.

1.

Pembahasan

Pada percobaan ini yaitu untuk mengetahui cara pemisahan dengan metode kromatografi lapis tipis dan
memisahkan pigmen warna dengan metode kromatografi lapis tipis. Dalam hal ini, tinta warna merah,
ungu dan biru yang dijadikan sebagai sampel yang akan dipisahkan oleh pelarut cair yaitu kloroform
(CHCl3) : etanol (C2H5OH) dengan nilai perbandingan 3:2 dan 2:3. Kloroform : etanol dimasukkan ke
dalam chamber sebanyak 3 mL yang berfungsi sebagai pelarut nonpolar pada kromatografi lapis tipis.
Setelah itu memasukkan lapis tipis ke dalam oven listrik selama 10 menit, lalu membuat garis pada jarak
1 cm dari salah satu sisinya yang berfungsi sebagai pembatas ketika lapis tipis dimasukkan ke dalam
chamber yang berisi pelarut. Selanjutnya memberikan tiga sekat pada lapis tipis dan menotolkan tinta
berwarna ungu, merah dan biru ke masing-masing antara sekat yang telah dibuat, dalam hal ini tinta
berwarna berfungsi sebagai zat yang akan dipisahkan pigmen warnanya pada setiap tinta. Setelah itu
meletakkan KLT ke dalam chamber yang telah disediakan dengan sisi plat yang mengandung tetesantetesan zat pada bagian bawah dan menjaga agar tetesan-tetesan tidak tercelup ke dalam pelarut, lalu
menutup chamber. Setelah permukaan pelarut berjalan hingga bagian dari tinggi plat KLT tersebut,
lalu mengeluarkan plat dari chamber dan member tanda permukaan pelarut serta noda-noda yang
terbentuk pada plat dengan pensil yang berfungsi untuk mengetahui nilai Rf dari tiap noda yang
terbentuk dari hasil pengukuran perbandingan antara panjang noda dan pelarutnya.
Berdasarkan data yang diperoleh, nilai Rf dari tiap noda yang terbentuk yaitu, untuk tinta ungu dengan
perbandingan eluen kloroform : etanol (3:2) membentuk noda ungu, biru, ungu muda dan pink dengan
nilai Rf yang diperoleh yaitu 0,12857; 0,14285; 0,25714 dan 0,28571. Pada tinta merah dengan
perbandingan eluen kloroform : etanol (3:2) membentuk noda merah dan pink dengan nilai Rf yang

diperoleh yaitu 0,07142; 0,35714. Pada tinta biru dengan perbandingan eluen kloroform : etanol (3:2)
membentuk noda biru dan biru muda dengan nilai Rf yang diperoleh yaitu 0,17142; 0,35714. Pada tinta
ungu dengan perbandingan eluen kloroform : etanol (2:3) membentuk noda ungu, biru, biru tua, ungu
pink dan pink tua dengan nilai Rf yang diperoleh yaitu 0,76373; 0,83516; 0,81318; 0,71428 dan 0,70329.
Pada tinta merah dengan perbandingan eluen kloroform : etanol (2:3) membentuk noda merah, pink dan
pink muda dengan nilai Rf yang diperoleh yaitu 0,82417; 0,76923; 0,61538. Pada tinta biru dengan
perbandingan eluen kloroform : etanol (2:3) membentuk noda biru dan biru muda dengan nilai Rf yang
diperoleh yaitu 0,83516 dan 0,84615. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa semakin panjang ukuran
noda pada setiap zat maka semakin besar pula nilai Rf yang diperoleh sebab panjang ukuran noda
berbanding lurus dengan nilai Rf. Nilai Rf yang berbeda-beda tergantung pada noda-noda yang tampak
karena noda-noda yang timbul pada KLT memiliki jarak masing-masing yang tidak akan sama dengan
jarak noda yang lain dibagi dengan jarak pelarut (eluen) yang digunakan, dalam hal ini nilai pelarut yang
baik berdasarkan teori yaitu akan menghasilkan nilai Rf antara 0,5 sampai 0,8. Dapat diketahui dari
percobaan bahwa nilai Rf yang baik terdapat pada pelarut (eluen) kloroform:etanol (2:3) karena pada
percobaan diperoleh nilai Rf sekitar 0,7 sampai 0,8.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


Pada praktikum yang telah dilakukan, digunakan hasil ekstraksi sampel
buah naga yang telah dilakukan dengan cara sokletasi. Kromatografi lapis
tipis merupakan salah satu analisis kualitatif dari suatu sampel yang ingin
di deteksi dengan memisahkan komponen-komponen berdasarkan
kepolarannya. Kromatografi digunakan untuk memisahkan substansi
campuran menjadi komponen-komponennya.
Pelaksanaan kromatografi lapis tipis menggunakan sebuah lapis tipis
silika atau aluminia yang seragam pada sebuah lempeng gelas atau logam
atau plastk yang keras. Gel silika (aluminia) merupakan fase diam. Fase
diam untuk kromatografi lapis tipis sering kali juga mengandung substansi
yang mana dapat berpendar dalam sinar ultraviolet.
Namun, pada percobaan ini, plat kromatografi lapis tipis tidak
mengeluarkan pendar flour. Ini bukan dikarenakan dalam buah naga
terdapat komponen-komponen atau senyawa-senyawa, tetapi dalam
kesalahan penyemprotan dengan larutan NaOH 1% dalam etanol : air (1:1).
Eluen yang praktikan lakukan mengalami perbandingan 1 : 9 antara
methanol : etil. Prinsip kerja dari kromatografi lapis tipis ini adalah dengan
memisahkan sampel berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel
dengan pelarut yang digunakan. Teknik ini biasanya menggunakan fase
diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya disesuaikan dengan jenis
sampel yang ingin dipisahkan.

Semakin dekat kepolaran antara sampel dengan eluen maka sampel


akan mudah terbawa oleh fase gerak tersebut. Jarak antara jalannya pelarut
bersigat relative. Oleh karena itu, diperlukan suatu perhitungan tertentu
untuk memastika spot (noda) yang terbentuk memiliki jarak yang sama
walaupun ukuran jarak platnya berbeda. Nilai perhitungan tersebut adalag
Rf. Nilai ini digunakan sbagai perbandingan relati antara sampel. Nilai
Rfjuga menyatakan derajat retensi suatu komponen dalam fasa diam,
sehingga nilai Rf sering juga di sebut faktor retensi. Namun, pada
praktikum yang telah dilakukan, noda tak tampak sehingga tak dapat
dilakukan perhitungan nilai Rf.