Anda di halaman 1dari 45

1

A. Judul
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS ICT TERHADAP
PRESTASI BELAJAR SISWA PADA BIDANG STUDI MATEMATIKA
B. Latar Belakang Masalah
Pembangunan dalam bidang pendidikan adalah usaha untuk membentuk
kepribadian dan sikap watak hidup anak didik, tujuannya untuk dapat
menciptakan kehidupan bagi anak didik dalam menuju masa depan yang lebih
baik sebagai anggota masyarakat dalam suatu Negara. Tujuan pendidikan sangat
tergantung pada falsafah hidup suatu bangsa, oleh karena tujuan pendidikan
mempunyai tujuan yang berdasarkan Pancasila, hal ini telah ditegaskan dalam
Garis-garis Besar Haluan Negara.
Pelaksanaan pelajaran merupakan salah satu faktor yang berpengaruh
terhadap usaha-usaha dalam pencapaian tujuan-tujuan pendidikan. Tujuan akhir
pendidikan pada umumnya dan sekolah khususnya adalah pengembangan pribadi
murid. Dengan demikian juga halnya Sekolah Menengah Atas (SMA) merupakan
suatu lembaga pendidikan formal yang menjadi wadah untuk mendewasakan
anak.
Matematika adalah suatu disiplin ilmu pengetahuan yang diajarkan pada
setiap jenjang pendidikan, matematika dapat membawa manusia untuk dapat
berfikir kreatif dan dinamis. Pengajaran matematika merupakan sarana penunjang
untuk berbagai disiplin ilmu pengetahuan lainnya, baik dalam ilmu pengetahuan
alam maupun ilmu pengetahuan sosial. Matematika dapat digunakan sebagai ilmu
untuk menganalisa dan untuk menyederhakanan sebagai problema, baik yang
menyangkut dengan matematika itu sendiri maupun masalah lain yang timbul
dalam masyarakat.

Kenyataannya walaupun mata pelajaran matematika itu penting, namun


masih banyak siswa yang kurang mampu menyelesaikan persoalan matematika,
karena itu tidak dapat melepaskan perhatian dari semua pihak yang tekait. Hal ini
tidak dapat dipisahkan dari masalah guru, siswa, fasilitas yang tersedia, dana,
media pendidikan, serta faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi siswa dalam
belajar matematika.
Guru merupakan

faktor

penting

dalam

menentukan

keberhasilan

pembelajaran. Pemilihan model dan media pembelajaran menjadi bagian penting


yang harus dipilih oleh guru. Penggunaan model yang kurang tepat akan berakibat
jelek pada prestasi siswa.
Kemajuan di bidang ICT berpengaruh terhadap perilaku manusia,
mendorong manusia untuk meningkatkan efisiensi pada setiap kegiatannya. Pada
masa-masa mendatang diyakini bahwa tidak ada bidang kehidupan manusia yang
tidak memanfaatkan ICT.
Salah satu teknologi yang penting dikembangkan saat ini adalah komputer,
karena komputer bisa dipakai sebagai sarana untuk menyajikan informasi dan
dapat dimanfaatkan di berbagai bidang pendidikan. Sebagai contoh, dengan
adanya komputer multimedia yang mampu menampilkan gambar maupun tulisan
yang diam dan bergerak serta bersuara. Sudah saatnya komputer dijadikan sebagai
salah satu alternatif pilihan media pembelajaran yang efektif dan efisien.
Schoenfeld (Utari, 2003:10) menyatakan bahwa matematika merupakan
suatu proses yang aktif dan genertif yang dikerjakan oleh pelaku dan pengguna
matematika. Proses matematika yang aktif tersebut, memuat penggunaan alat
matematika secara sistematis untuk menemukan pola, kerangka masalah dan
menetapkan proses penalaran.

Sayangnya, diantara mata pelajaran yang lainnya prestasi belajar


matematika saat ini sangat rendah. Salah satu faktor penyebabnya adalah
penyampaian materi pelajaran yang kurang menarik dan tidak adanya media
pembelajaran yang diterapkan di dalam proses pembelajaran tersebut, sehingga
siswa cenderung merasa bosan. Untuk itu diperlukan solusi yang tepat untuk
mengatasi masalah tersebut sehingga diharapkan berpengaruh pada siswa dalam
belajar matematika.
Salah satu cara untuk meningkatkan keaktifan siswa pada pelaksanaan
pembelajaran matematika adalah dengan pengembangan model pembalajaran
berbasis ICT salah satunya memakai Sofware Microsoft Power Point. Program ini
dapat menampilkan informasi yang berupa tulisan, gambar sehingga siswa dapat
lebih memahami materi yang disampaikan oleh guru. Media pembelajaran ini juga
cocok digunakan dalam proses pembelajaran pada kelas yang siswanya cukup
banyak.
ICT dalam pembelajaran matematika tidak hanya terbatas dalam
pengunaannya sebagai alat bantu dalam mengajar di kelas tetapi juga dapat
dimanfaatkan untuk pengerjaan tugas-tugas siswa. Guru dapat memanfaatkan
teknologi tersebut untuk memberikan tugas kepada siswa melalui email dan
pengumpulan tugas siswa juga dapat dilakukan melalui e-mail. Dengan
menerapkan model\ tersebut diharapkan pengaruh dan efesiensi pengajaran
matematika dapat ditingkatkan. Artinya, keterbatasan ruang dan waktu dapat
teratasi karena siswa dapat mengumpulkan tugasnya atau guru dapat memberikan
tugas tanpa terhalang oleh keterbatasan ruang dan waktu. Selain itu, ICT dalam
pembelajaran matematika juga dapat dilakukan dalam bentuk e-learning. Hal ini

dimaksudkan agar pembelajaran yang ada tidak selalu menggunakan bukubuku


saja akan tetapi juga menggunakan dan memanfaatkan perkembangan teknologi,
yaitu internet. Pelaksanaan pembelajaran dalam bentuk e-learning menuntut
kesiapan sekolah dalam menyediakan fasilitas perpustakaan sebagai sarana
pendukung sekolah yang dapat menunjang keberhasilan bentuk pembelajaran ini.
Penerapan pembelajaran ini juga menuntut kesiapan siswa dalam
menggunakan sarana prasarana teknologi informasi dan komunikasi misalnya
komputer, sehingga siswa mampu menggunakan komputer untuk masuk ke dunia
internet. Disamping itu siswa juga harus memiliki pengetahuan jelajah internet
terutama adalah berkaitan dengan situssitus yang bisa memberikan ilmu
pengetahuan. Karena menurut Kikis (2008), penerapan ICT sebagai inovasi dalam
proses belajar mengajar harus didukung oleh akses internet secara teratur baik
oleh guru maupun siswa Dalam menyiapkan semua itu, peran aktif guru sangat
diperlukan untuk membimbing siswa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Hal
ini disebabkan karena tidak sedikit siswa yang telah memiliki pengetahuan
tentang dunia internet akan menyalahgunakannya. Dan salah satu bentuk
penyalahgunaan tersebut adalah siswa membuka sistus-situs yang berbau
pornografi. Olehnya itu pengawasan guru juga merupakan hal yang perlu
diperhatikan.
Dalam pembelajaran matematika, tingkat kecerdasan dan kecekatan siswa
dalam memahami permasalahan yang ada merupakan suatu modal awal yang
nantinya akan membuat siswa mudah dalam menerima materi yang disampaikan
oleh guru. Dengan tingkat kecerdasan dan kecekatan yang tinggi setiap siswa akan
mempunyai peluang besar dalam mencapai keberhasilan belajarnya.

Mengingat setiap siswa memiliki tingkat kecerdasan dan kecekatan yang


berbeda itulah, maka kemungkinan prestasi belajar yang dihasilkan oleh siswa
yang berkemampuan awal yang lebih tinggi berbeda dengan prestasi belajar siswa
dengan kemampuan awal yang lebih rendah. Berdasarkan uraian diatas maka
penulis

tertarik untuk

melakukan penelitian tentang

pengaruh

model

pembelajaran berbasis ICT terhadap prestasi belajar siswa pada bidang


studi matematika.
C. Identifikasi, Pembatasan, dan Rumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan maka dapat diperoleh
beberapa permasalahan yang dapat diidentidikasikan sebagai berikut :
a. Semakin rendahnya prestasi belajar siswa pada mata pelajaran
matematika.
b. Kurang tepatnya media pembelajaran yang digunakan guru dalam
penyampaian materi.
2. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah diatas, agar diperoleh suatu
kedalaman pada penarikan kesimpulan, maka diperlukan adanya batasan
masalah yang bertujuan agar penelitian yang akan dilakukan dapat tercapai
pada sasaran dan tujuannya. Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini
adalah penggunaan model pembelajaran berbasis ICT dengan menggunakan
Softwere Power Point, dan penerapan e-learning
3. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah diatas, maka dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut : Apakah terdapat pengaruh model pembelajaran
berbasis ICT terdalap prestasi belajar siswa pada bidang studi matematika?
D. Variabel Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka variabel


penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Variabel bebas : Model Pembelajaran ICT dan model Konvensional
2. Variabel terikat : Prestasi belajar matematika siswa
E. Tujuan Penelitian
Yang menjadi tujuan penelitian ini adalah : Untuk mengetahui,
pengaruh model pembelajaran berbasis ICT terhadap prestasi belajar siswa
pada bidang studi matematika.
F. Manfaat Penelitian
1. Secara Teoritis
Secara umum hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan
kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan dalam hal pembelajaran
matematika utamanya pada model berbasis ICT dengan menggunakan
Sofware Microsoft powerpoint dan penerapan e-learning.
2. Secara Praktis
a. Dapat membantu guru matematika mengetahui daya tangkap siswa
terhadap materi yang telah diajarkan.
b. Dapat memberikan satu alternatif pemecahan masalah kesulitan siswa
dalam pembelajaran matematika.
c. Dapat memberikan informasi kepada guru atau calon guru tentang
penggunaan model pembelajaran berbasis ICT.
G. Definisi Operasional
Untuk menghindari terjadinya perbedaan penafsiran terhadap istilah-istilah
yang digunakan pada penelitian ini, perlu dikemukakan definisi operasional
sebagai berikut :
1. Model Pembelajaran ICT yaitu pendekatan pembelajaran menggunakan
bahan pembelajaran interaktif dengan media komputer. Tentunya model
pembelajaran ICT ini diterapkan dalam pembelajaran matematika

2. Prestasi belajar adalah seluruh kecakapan hasil (achievement) yang


diperoleh melalui belajar di sekolah, yang dinyatakan dengan nilai nilai
prestasi belajar berdasarkan hasil tes prestasi belajar.
3. Model pembelajaran konvensional adalah model pembelajaran tradisional
atau disebut juga dengan metode ceramah, karena sejak dulu metode ini
telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dengan anak
didik dalam proses belajar dan pembelajaran dalam pembelajaran
konvensional ditandai dengan ceramah yang diiringi dengan penjelasan,
serta pembagian tugas dan latihan.
H. Tinjauan Pustaka
1. Belajar
a. Pengertian Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah kegiatan belajar
merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti berhasil tidaknya
pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung kepada bagaimana proses
belajar yang dialami siswa sebagai anak didik.
Pandangan seseorang tentang belajar akan mempengaruhi tindakannya
yang berhubungan dengan belajar. Dan tidak setiap orang mempunyai
pandangan yang sama dalam belajar. Diantara para ahli psikologi maupun ahli
pendidikan terdapat keragaman dalam cara mendefinisikan dan menjelaskan
tentang belajar.
Namun demikian baik secara eksplisit pada akhirnya nampak ada suatu
kesamaan dalam hal maknanya. Pengertian belajar adalah : suatu proses
yang mengarah kepada perubahan tingkah laku seseorang berkat adanya
pengalaman (Slameto,2003:2).
Syah (1995:13) menyatakan bahwa belajar dapat dipahami sebagai
tahapan perubahan tingkah lau individu yang relatif menerap sebagai hasil

pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses


perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasatkan praktek atau
pengalaman tertentu. Belajar adalah memodifikasi atau mempertangguh
kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or
strengthening of behavior through experiencing) (Hamalik, 1998:36)
Perubahan dapat dinyatakan sebagai suatu kecakapan, suatu kebiasaan,
suatu sikap, suatu pengertian, sebagai pengetahuan atau apresiasi (penerimaan
atau penghargaan). Tentang berbagai definisi belajar, Surachman (1979 dalam
Mulyadi,1998:18) memandang belajar dari kenyataan-kenyataan yang timbul
daripada proses belajar. Dan menyimpulkan bahwa :
Belajar dapat dipandang sebagai hasil, di mana guru di mana melihat
bentuk terakhir dari berbagai pengalaman interaksi edukatif. Belajar dapat
pula dipandang sebagai proses di mana guru terutama melihat apa yang
terjadi selama siswa menjalani pengalaman-pengalaman edukatif untuk
mencapai suatu tujuan. Dan akhirnya belajar juga dapat dipandang sebagai
sebuah fungsi, yang dalam hal ini ditunjukkan pada aspek-aspek yang
menentukan atau memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku dalam
pengalaman edukatif.

Rumusan belajar tersebut dapat berguna bagi guru untuk dapat


meningkatkan atau memotivasi siswa dalam belajar. Tidak hanya itu saja guru
juga dapat melihat setiap perubahan yang terjadi pada siswa dalam proses
pembelajaran.
b. Prinsip-prinsip belajar
Menurut William Burton dalam Hamalik (2004:31) prinsipprinsip
belajar adalah sebagai berikut :
1)
Proses belajar ialah pengalaman, berbuat, mereaksi, dan melampui
(under going).
2)

Proses itu melalui bermacammacam ragam pengalaman dan mata


pelajaran mata pelajaran yang terpusat pada suatu tujuan tertentu.

3)

Pengalaman belajar secara maksimum bermakna bagi kehidupan


murid.

4)

Pengalaman belajar bersumber dari kebutuhan dan tujuan murid


sendiri yang mendorong motivasi yang kontinu.

5)

Proses belajar dan hasil belajar disyarati oleh hereditas dan


lingkungan.

6)

Proses belajar dan hasil usaha belajar secara materiil dipengaruhi


oleh perbedaan perbedaan individual dikalangan murid-murid.

7)

Proses belajar berlangsung secara efektif apabila pengalaman


pengalaman dan hasilhasil yang diinginkan disesuaikan dengan
kematangan murid.

8)

Proses belajar yang terbaik apabila murid mengetahui status dan


kemajuan.

9)

Proses belajar merupakan kesatuan fungsional dari berbagi


prosedur.

10)

Hasilhasil belajar secara fungsional bertalian satu sama lain, tetapi


dapat didiskusikan secara terpisah.

11)

Proses belajar berlangsung secara efektif dibawah bimbingan yang


merangsang dan membimbing tanpa tekanan dan pemeriksaan.

12)

Hasilhasil belajar adalah polapola perbuatan, nilainilai ,


pengertianpengertian, apresiasi, abilitas, dan keterampilan.

13)

Hasilhasil belajar diterima murid apabila memberi kepuasan


kepada kebutuhannya dan berguna serta bermakna baginya.

10

14)

Hasilhasil

belajar

pengalamanpengalaman

dilengkapi

yang

dengan

jalan

dapat

dipersamakan

lambat

laun

serangkaian
dan

dengan

dipersatukan

menjadi

pertimbangan yang baik.


15)

Hasilhasil

belajar

itu

kepribadian dengan kecepatan yang berbedabeda


16)

Hasil hasil belajar yang telah dicapai adalah bersifat kompleks


dan dapat berubah ubah (adaptable), jadi tidak sederhana dan statis.

c. Faktor Faktor Belajar


Menurut Hamalik (2004:32) faktorfaktor belajar adalah sebagai
berikut:
1)

Faktor kegiatan, penggunaan dan ulangan; siswa yang belajar

melakukan banyak kegiatan baik kegiatan neural system, seperti melihat,


mendengar, merasakan, berfikir, kegiatan motoris, dan sebagainya maupun
kegiatan kegiatan lainnya yang diperlukan untuk memperoleh
pengetahuan, sikap, kebiasaan, dan minat. Apa yang telah dipelajari perlu
digunakan secara praktis dan diadakan ulangan secara kontinu dibawah
kondisi yang serasi, sehingga penguasaan hasil belajar menjadi lebih baik.
2)

Belajar memerlukan latihan, dengan jalan ; relearning,


recalling, dan reviewing agar pelajaran yang terlupakan dapat dikuasai
kembali dan pelajaran yang belum dikuasai akan dapat lebih mudah
dipahami.

3)

Belajar siswa lebih berhasil, belajar akan lebih berhasil jika


siswa merasa berhasil dan mendapatkan kepuasannya. Belajar hendaknya
dilakukan dalam suasana yang menyenangkan.

11

4)

Siswa yang belajar perlu mengetahui apakah ia berhasil atau


gagal dalam belajarnya. Keberhasilan akan menimbulkan kepuasan dan
mendorong belajar lebih baik, sedangkan kegagalan akan menimbulkan
frustasi.

5)

Faktor asosiasi besar manfaatnya dalam belajar, karena semua


pengalaman belajar antara yang lama dengan yang baru, secara berurutan
diasosiasikan, sehingga menjadi satu kesatuan dalam pengalaman.

6)

Pengalaman masa lalu (bahan apersepsi) dan pengertian


pengertian yang telah dimiliki siswa, besar peranannya dalam proses
belajar. Pengalaman dan pengertian itu menjadi dasar untuk menerima
pengalaman pengalaman baru dan pengertian pengertian baru.

7)

Faktor kesiapan belajar, siswa yang telah siap belajar akan


dapat melakukan kegiatan belajar lebih mudah dan lebih berhasil. Faktor
kesiapan ini erat hubungannya dengan masalah kematangan, minat,
kebutuhan, dan tugas tugas perkembangan.

8)

Faktor minat dan usaha, belajar dengan minat akan mendorong


siswa belajar lebih baik daripada yang tanpa minat. Namun demikian,
minat tanpa adanya usaha yang baik maka belajar sulit untuk berhasil.

9)

Faktor faktor fisiologis, kondisi fisik siswa yang belajar akan


sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar.

10) Faktor intelegensi, siswa yang cerdas akan lebih berhasil dalam kegiatan
belajar, karena ia akan lebih mudah menangkap dan memahami pelajaran
dan lebih mudah mengingat ingatnya.

12

d. Proses Belajar
Proses belajar adalah perubahan di dalam diri siswa yang terjadi sebagai
akibat pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungannya. Syah
(dalam Setiani,2008:12), menyatakan bahwa proses belajar dapat diartikan
sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik yang
terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat pasif dalam arti
berorientasi ke arah yang lebih maju dari pada keadaan yang sebelumnya.
Pandangan bahwa hubungan proses belajar mengajar yaitu timbal balik
antara guru dengan siswa dan antara siswa sendiri. Guru menyampaikan materi
pelajaran dengan berbagai teknik dan metode yang tpat, siswa menerima
informasi sebagai stimulus dan melakukan respon terhadapnya, sehingga
menimbulkan pemahaman dan perilaku baru. Selain itu siswa harus mengikuti
secara aktif kegiatan belajar mengajar untuk mengembangkan kemampuan,
mengamati,

menginterpretasikan,menggeneralisasikan

materi

hasil

penerimaannya.
Oleh karena itu tugas guru ialah harus bisa mengelola faktor variabelvariabel yang mendukung proses belajar mengajar, kegiatan belajar itu
merupakan aktivitas yang

berproses, sudah tentu di dalamnya terjadi

perubahan-perubahan yang bertahap. Perubahan-perubahan tersebut timbul


melalui fase-fase yang satu dengan yang lainnya bertalian secara berurutan dan
fungsional. Menurut Bruner (dalam Setiani, 2008:14) menyatakan ... dalam
proses pembelajaran siswa menempuh tiga fase sebagai berikut a). Fase
informasi b). Fase transformasi c). Fase evaluasi (tahap penilaian materi).
2. Model Pembelajaran

13

Menurut R. Widodo (2009) model pembelajaran dapat diartikan sebagai


Kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu
dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru
dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar mengajar. Sedangkan
menurut A. Suyitno (dalam Hernawati, 2007:22) Model pembelajaran adalah
suatu pola atau langkah-langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan agar
tujuan atau kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat dapat
dicapai dengan lebih efektif dan efisien.
Model pembelajaran mempunyai makna yang berbeda dari pada pendekatan,
strategi, metode, maupun teknik pembelajaran. Menurut A. Sudrajat (2008)
dalam artikelnya yang berjudul Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode,
Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran menyatakan bahwa:
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut
pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan
tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya
mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran
dengan cakupan teoretis tertentu. Sedangkan strategi pembelajaran pada
dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan
diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Menurut Kemp (dalam Wina
Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu
kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan
pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Lalu, metode
pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata
dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Selanjutnya metode
pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan
demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan
seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik.
Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan
metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Kemudian
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik
pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka
terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model
pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar
dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru.

14

Menurut Nn (2008) Istilah model pembelajaran mempunyai 4 ciri khusus


yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode pembelajaran, yaitu :
1) Rasional teoritis yang logis yang disusun oleh pendidik.
2) Tujuan pembelajaran yang akan dicapai
3) Langkah-langkah mengajar yang diperlukan agar model pembelajaran
dapat dilaksanakan secara optimal.
4) Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat
dicapai.
Dalam pelaksanaannya di lapangan, model pembelajaran banyak jenisnya
beberapa diantaranya adalah model pembelajaran berbasis ICT, model
pembelajaran berbasis pemecahan masalah, dan model yang lainnya. Masingmasing model pembelajaran tersebut tentu saja memiliki kelebihan sekaligus
kelemahan masing-masing. Oleh karena itu, hal tersebut dapat diatasi dengan
cara menerapkan model-model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang
diajarkan, maka dengan demikian pencapaian tujuan pembelajaran pun
diharapkan dapat diperoleh secara maksimal.
Adapun konteks yang akan dibahas adalah model pembelajaran berbasis
ICT.
2.1 Model Pembelajaran berbasis ICT
a. Hakikat dan Pengertian Model ICT
Teknologi informasi dan komunikasi (ICT) dalam rentang waktu yang
sangat signifikan telah mnejadi salah satu fondasi pembangunan bagi
masyarakat modern. Sebagian negara saat ini menganggap pemahaman
tentang ICT dan penguasaan keahlian-keahlian dasar dan konsep-konsep ICT
sebagai bagian dari jenjang pendidikan, bersama dengan membaca, menulis
dan berhitung.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah merambah ke berbagai

15

sektor bidang kehidupan, bukan saja bidang pendidikan akan tetapi hampir
semua

aspek dalam kehidupan umat manusia yang bersifat multi

dimensional. Teknologi memberikan kemudahan, kebaikan, dan mempercepat


proses komunikasi yang lebih efektif serta efesien yang dapat meningkatkan
kualitas kehidupan manusia. Manusia sebagai mahluk homo sapiens dan
sekaligus sebagai homo faber telah mengembangkan teknologi yang
menghasilkan berbagai keajaiban. Manusia disebut homo faber karena ia
mahluk yang suka membuat peralatan, sedangkan sebagai homo sapiens
karena ia selalu berpikir yang mencerminkan kaitan antara pengetahuan yang
bersifat teoritis dengan teknologi yang bersifat praktis. Pada dasarnya ilmu
merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala
alam yang memungkinkan manusia melakukan serangkaian tindakan untuk
menguasai gejala tersebut berdasarkan penjelasan yang ada (Suriasumantri,
1999).
Untuk mendefinisikan teknologi informasi dan komunikasi (ICT)
terdapat dua istilah yang perlu diperhatikan, yaitu informatika (ilmu
komputer) dan teknologi informatika. Informatika merupakan sebuah ilmu
pengetahuan yang membahas tentang desain, realisasi, evaluasi dan
penggunaan, dan pemeliharaan
1. Pengertian ICT
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah merambah ke berbagai
sektor bidang kehidupan, bukan saja bidang pendidikan akan tetapi hampir
semua aspek dalam kehidupan umat manusia yang bersifat multi dimensional.
Teknologi memberikan kemudahan, kebaikan, dan mempercepat proses
komunikasi yang lebih efektif serta efesien yang dapat meningkatkan kualitas

16

kehidupan manusia. Manusia sebagai mahluk homo sapiens dan sekaligus


sebagai homo faber telah mengembangkan teknologi yang menghasilkan
berbagai keajaiban. Manusia disebut homo faber karena ia mahluk yang suka
membuat peralatan, sedangkan sebagai homo sapiens karena ia selalu berpikir
yang mencerminkan kaitan antara pengetahuan yang bersifat teoritis dengan
teknologi yang bersifat praktis. Pada dasarnya ilmu merupakan kumpulan
pengetahuan

yang

bersifat

menjelaskan

berbagai

gejala

alam

yang

memungkinkan manusia melakukan serangkaian tindakan untuk menguasai


gejala tersebut berdasarkan penjelasan yang ada (Suriasumantri, 1999).
Model pembelajaran ICT adalah sebuah model dalam pembelajaran yang
menggunakan pendekatan pembelajaran dengan bahan pembelajaran interaktif
dengan media komputer.
3. Pembelajaran Berbasis ICT
Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa dibandingkan dengan
pembelajaran konvensional , pembelajaran interaktif dengan media computer
memiliki beberapa keuntungan, misalnya penggunaan komputer yang tepat
akan mampu meningkatkan kemampuan siswa, kecepatan siswa dalam
menguasai konsep yang dipelajari, dan retensi (daya ingat) yang lebih lama.
Komputer merupakan salah satu media audio visual yang mampu
mengemas bahan ajar dalam sebuah rangkaian animasi gambar atau suara
sehingga membuat kesan menarik bagi siswa. Seperti yang dinyatakan oleh
Kusumah (2004:3), bahwa komputer dapat memberikan pelayanan secara
repetitif, menampilkan sajian dalam format dan desain yang menarik, animasi
gambar dan suara yang baik, serta melayani perbedaan individual.
Pembelajaran berbasis komputer adalah salah satu strategi atau bentuk
pembelajaran dengan menggunakan media komputer untuk menyampaikan

17

seluruh atau sebagian dari isi kandungan mata pelajaran. Pembelajaran berbasis
komputer ini diperlihatkan dalam suatu tampilan yang menjadikan aktivitas
pembelajaran menjadi lebih menarik dan berkesan. Pembelajaran ini akan
memberikan nuansa baru yang mampu membangkitkan motivasi dan
kreativitas siswa sehingga menuntut siswa terlibat aktif dan partisipatif dalam
proses pembelajarannya.
Dalam pelaksanaannya, teknik penggunaan dan pemanfaatan media turut
memberikan andil yang besar dalam menarik perhatian siswa dalam PBM,
karena pada dasarnya media mempunyai dua fungsi utama, yaitu media sebagai
alat bantu dan media sebagai sumber belajar bagi mahasiswa (Djamarah, 2002;
137). Umar Hamalik (1986), Djamarah (2002) dan Sadiman, dkk (1986),
mengelompokkan media ini berdasarkan jenisnya ke dalam beberapa jenis :
a) Media auditif, yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara
saja, seperti taperecorder.
b) Media visual, yaitu media yang hanya mengandalkan indra penglihatan
dalam wujud visual.
c) Media audiovisual, yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur
gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, dan
media ini dibagi ke dalam dua jenis audiovisual diam, yang menampilkan
suara dan visual diam, seperti film sound slide. Audiovisual gerak, yaitu
media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak,
seperti film, video cassete dan VCD.
3.1 Fungsi ICT dalam Pembelajaran
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam hal internet
sudah sedemikian pesatnya. Penggunaan internet tidak hanya terbatas pada
kegiatan bisnis semata, namun pada saat ini kegunaan internet juga dapat

18

digunakan untuk pembelajaran. Teknologi Informasi dan Komunikasi


memilliki tiga fungsi utama yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran,
yaitu (1) teknologi berfungsi sebagai alat (tools), untuk membantu
pembelajaran, misalnya dalam mengolah kata, 2) Teknologi berfungsi sebagai
ilmu pengetahuan (science), (3) Teknologi berfungsi sebagai bahan dan alat
bantu untuk pembelajaran (literacy). Dalam hal ini teknologi dimaknai sebagai
bahan pembelajaran sekaligus sebagai alat bantu untuk menguasai sebuah
kompetensi berbantuan komputer. Dalam hal ini posisi teknologi tidak ubahnya
sebagai guru yang berfungsi sebagai: fasilitator, motivator, transmitter, dan
evaluator. Sebagai bagian dari pembelajaran, teknologi/ICT memiliki tiga
kedudukan, yaitu sebagai suplemen, komplemen, dan substitusi (Riyana,
2008). Dikatakan berfungsi sebagai suplemen (tambahan), apabila peserta didik
mempunyai
pembelajaran

kebebasan
melalui

memilih,
ICT

atau

apakah

akan

tidak.

Dalam

memanfaatkan
hal

ini,

materi

tidak

ada

kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran


melalui ICT. Sekalipun sifatnya hanya opsional, peserta didik yang
memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau wawasan.
Walaupun materi pembelajaran melalui ICT berperan sebagai suplemen, para
guru tentunya akan senantiasa mendorong, mengggugah, atau menganjurkan
para peserta didiknya untuk mengakses materi pembelajaran melalui ICT yang
telah disediakan. Dikatakan berungsi sebagai komplemen (pelengkap), apabila
materi pembelajaran melalui ICT diprogramkan untuk melengkapi materi
pembelajaran yang diterima peserta didik di dalam kelas. Sebagai komplemen

19

berarti materi pembelajaran melalui ICT diprogramkan untuk menjadi materi


reinforcement (pengayaan) yang bersifat enrichment atau remedial bagi peserta
didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional. Beberapa
perguruan tinggi di negara-negara maju memberikan beberapa alternatif model
kegiatan pembelajaran/perkuliahan kepada para mahasiswanya. Tujuannya
adalah untuk membantu mempermudah para siswa mengelola kegiatan
pembelajaran sehingga para mahasiswa dapat menyesuaikan waktu dan
aktivitas lainnya dengan kegiatan pembelajaran.
3.2 Keunggulan dan kelemahan ICT
a) Keuntungan bagi siswa:
(1).Interaksi siswa dengan guru bisa dilakukan melalui e-mail
(2).Interaksi siswa dengan siswa bisa dilakukan melalui milis
(3).Interaksi siswa dan siswa dengan guru bersama-sama
(4).Interaksi siswa dengan pelajaran akan lebih dekat
(5).Mendapat sumber belajar alternatif yang tersedia secara luas.
b) Keuntungan bagi guru:
(1).Efisien dan efektif
(2).Memperkecil kesalahan persepsi
(3).Mengatasi masalah kekurangan alat
(4).Mengembangkan kompetensi guru di bidang ICT.
(5).Mengembangkan ICT dengan belajar mandiri, berinisiatif, kreatif dan
inovatif.
(6).Berkomunikasi

dengan

sesama

guru

secara

nasional

maupun

internasional
(7).Memperoleh materi ajar secara cepat dan murah berbasis ICT
c) Kelemahan pemanfaatan ICT:
(1).Penggunaan internet memerlukan infrastruktur yang memadai.
(2).Penggunaan internet mahal
(3).Komunikasi melalui internet sering kali lamban.
3.3 Pemanfaatan ICT dalam kegiatan pembelajaran
Pemanfaatan ICT dalam pembelajaran tidak hanya terbatas dalam
pengunaannya sebagi alat bantu dalam mengajar di kelas tetapi juga dapat
dimanfaatkan untuk pengerjaan tugas-tugas siswa. Guru dapat memnfaatkan

20

teknologi tersebut untuk memberikan tugas kepada siswa melalui email dan
pengumpulan tugas siswa juga dapat dilakukan melalui email. Dengan
menerapkan metode tersebut diharapkan efektifitas dan efesiensi pengajaran
dapat ditingkatkan. Artinya, keterbatasan ruang dan waktu dapat teratasi karena
siswa dapat mengupulkan tugasnya atau guru dapat memberikan tugas tanpa
terhalang oleh keterbatasan ruang dan waktu. Selain itu, penerapan ICT dalam
pembelajaran biologi juga dapat dilakukan dalam bentuk e-learning. Hal ini
dimaksudkan agar pembelajaran yang ada tidak selalu menggunakan buku
buku saja akan tetapi juga menggunakan dan memanfaatkan perkembangan
teknologi, yaitu internet.
Salah satu cotoh bahan ajar ICT adalah :
a) Microsoft Powerpoint
Microsoft Powerpoint merupakan aplikasi yang disiapkan oleh
Microsoft Corporation untuk melakukan presentasi di depan publik yang
terbatas. Aplikasi ini dilengkapi dengan fitur-fitur dan menu yang lengkap
sehingga sebuah presentasi dapat dibuat semenarik dan seatraktif mungkin.
Dalam prakteknya di kelas, pemanfaatan aplikasi powerpoint
membutuhkan dukungan perangkat keras (hardware) yaitu satu unit komputer
portable yaitu laptop dan in-focus yang berfungsi sebagai wide-screen
Dengan tersedianya aplikasi ini di pasaran, guru dapat memanfaatkan aplikasi
powerpoint untuk kepentingan presentasi di kelas.
Kegiatan pembelajaran akan sangat menarik dan menyenangkan di mata
siswa, karena guru dalam presentasinya dapat menyisipkan suara tertentu atau
bahkan lagu, gambar lucu ataupun animasi yang menarik sehingga siswa
merasa senang dan tidak bosan di kelas. Dengan powerpoint telah terjadi
revolusi cara mengajar guru, jika selama ini kelas dianggap siswa sebagai

21

penjara, maka setelah guru menggunakan powerpoint, kelas berubah


menjadi kelas yang menyenangkan di mana di dalamnya terjadi kegiatan
pembelajaran.
Pemanfaatan aplikasi powerpoint sebagai technology based education
dan multimedia learning secara bertahap sejatinya mulai diterapkan oleh guru
dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Powerpoint sebagai software
presentasi ternyata sangat membantu guru dalam memancing minat dan
motivasi siswa untuk belajar. Di samping itu, suasana kelas menjadi aktif dan
siswa merasa senang dengan presentasi yang ditampilkan guru. Dengan
powerpoint guru menjadi leluasa untuk berimprovisasi merencanakan
pembelajaran yang atraktif karena fasilitas yang ada pada aplikasi powerpoint
sangat lengkap untuk membuat presentasi yang tidak membosankan. Di
samping itu, guru memiliki banyak pilihan menampilkan kegiatan
pembelajaran sekreatif mungkin untuk kepentingan belajar siswa.
Di antara fitur yang tersedia dalam microsoft powerpoint yang dapat
digunakan oleh guru dalam membuat presentasi pembelajaran adalah:
(1).Variasi background
(2).Variasi teks, warna dan grafik
(3).Menggabungkan file;
(4).Hyperlink
(5).Navigasi
(6).Insert picture, video dan audio
(7).Variasi animasi
(8).Insert flash.
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan ketika akan membuat
presentasi pembelajaran dengan menggunakan microsoft powerpoint adalah:
(1).Aspek Pembelajaran:
(a). Substansi materi harus sesuai dengan konsep dan teori yang benar.
(b).Pemilihan topik harus sesuai dengan kurikulum
(c). Adanya konsistensi antara materi dan tujuan pembelajaran.
(d).Aktualitas (sesuai dengan perkembangan mutakhir).
(e). Adanya kejelasan pesan yang membantu mempermudah memahami

22

konsep dan memperjelas pemahaman.


(f). Pemberian contoh untuk membantu penjelasan
(g).Pemilihan KD yang divisualkan terutama yang bersipat verbal.
(2).Aspek Teknis:
(a). Suara (audio) digunakan untuk memperjelas konsep dan mencairkan
suasana kelas.
(b).Tampilan layar presentasi seperti warna dan tata letak harus
memperjelas ilustrasi.
(c). Teks harus memperhatikan jenis font, ukuran dan warna.
(d).Movie dan animasi untuk memperjelas pesan.
(e). Navigasi perlu memperhatikan penempatan navigasi dan bentuknya
yang mudah menarik perhatian.
(f). Efisiensi dengan memperhatikan waktu, tenaga dan biaya.
b) E-learning
Jaya Kumar C. Koran (2002), mendefinisikan e-learning sebagai
sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian
elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran,
interaksi, atau bimbingan. Ada pula yang menafsirkan e-learning sebagai
bentuk pendidikan jarak jauh yang dilakukan melalui media internet.
Sedangkan Dong (dalam Kamarga, 2002) mendefinisikan e-learning sebagai
kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat elektronik komputer yang
memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. Atau e-learning
didefinisikan sebagai berikut: e-Learning is a generic term for all
technologically supported learning using an array of teaching and learning
phone

bridging,

audio

and

videotapes,

teleconferencing,

satellite

transmissions, and the more recognized web-based training or computer aided


instruction also commonly referred to as online courses (Soekartawi, Haryono
dan Librero, 2002).
Rosenberg (2001) menekankan bahwa e-learning merujuk pada

23

penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang


dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini senada dengan
Cambell (2002), Kamarga (2002) yang intinya menekankan penggunaan
internet dalam pendidikan sebagai hakekat e-learning. Bahkan Onno W. Purbo
(2002) menjelaskan bahwa istilah e atau singkatan dari elektronik dalam elearning digunakan sebagai istilah untuk segala teknologi yang digunakan
untuk mendukung usaha-usaha pengajaran lewat teknologi elektronik internet.
Internet, Intranet, satelit, tape audio/video, TV interaktif dan CD-ROM adalah
sebagian dari media elektronik yang digunakan Pengajaran boleh disampaikan
secara synchronously (pada waktu yang sama) ataupun asynchronously
(pada waktu yang berbeda). Materi pengajaran dan pembelajaran yang
disampaikan melalui media ini mempunyai teks, grafik, animasi, simulasi,
audio dan video. Ia juga harus menyediakan kemudahan untuk discussion
group dengan bantuan profesional dalam bidangnya.
Ada 3 (tiga) fungsi pembelajaran elektronik terhadap kegiatan
pembelajaran di dalam kelas (classroom instruction), yaitu sebagai suplemen
yang sifatnya pilihan/opsional, pelengkap (komplemen), atau pengganti
(substitusi).(Siahaan, 2002).
1. Suplemen
Dikatakan berfungsi sebagai supplemen (tambahan), apabila peserta didik
mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi
pembelajaran

elektronik

kewajiban/keharusan

bagi

atau

tidak.

pesertadidik

Dalam
untuk

hal

ini,

tidak

mengakses

ada

materi

pembelajaran elektronik. Sekalipun sifatnya opsional, peserta didik yang


memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau

24

wawasan.
2. Komplemen (tambahan)
Dikatakan berfungsi sebagai komplemen (pelengkap) apabila materi
pembelajaran

elektronik

diprogramkan

untuk

melengkapi

materi

pembelajaran yang diterima siswa di dalam kelas (Lewis, 2002). Sebagai


komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk
menjadi materi reinforcement (pengayaan) atau remedial bagi peserta didik
di

dalam

mengikuti

kegiatan

pembelajaran

konvensional.

Materi

pembelajaran elektronik dikatakan sebagai enrichment, apabila kepada


peserta didik yang dapat dengan cepat menguasai/memahami materi
pelajaran yang disampaikan guru secara tatap muka (fast learners) diberikan
kesempatan untuk mengakses materi pembelajaran elektronik yang memang
secara khusus dikembangkan untuk mereka. Tujuannya agar semakin
memantapkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran
yang disajikan guru di dalam kelas. Dikatakan sebagai program remedial,
apabila kepada peserta didik yangmengalami kesulitan memahami materi
pelajaran yang disajikan guru secara tatapmuka di kelas (slow learners)
diberikan kesempatan untuk memanfaatkan materi pembelajaran elektronik
yang memang secara khusus dirancang untuk mereka.
Tujuannya agar peserta didik semakin lebih mudah memahami materi
pelajaran yang disajikan guru di kelas.
3. Substitusi (pengganti)
Beberapa perguruan tinggi di negara-negara maju memberikan beberapa
alternatif

model

kegiatan

pembelajaran/perkuliahan

kepada

para

mahasiswanya.Tujuannya agar para mahasiswa dapat secara fleksibel


mengelola kegiatan perkuliahannya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain

25

sehari-harin siswa.
E-learning juga membeerikan manfaat yang bersar dalam proses
pembelajaran. Menurut A. W. Bates (Bates, 1995) dan K. Wulf (Wulf, 1996)
manfaat Pembelajaran elektronik Learning (e-Learning) itu terdiri atas 4
hal, yaitu:
1. Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan
guru atau instruktur (enhance interactivity). Apabila dirancang secara
cermat, pembelajaran elektronik dapat meningkatkan kadar interaksi
pembelajaran, baik antara peserta didik dengan guru/instruktur, antara
sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dengan bahan belajar
(enhance interactivity). Berbeda halnya dengan pembelajaran yang bersifat
konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran
konvensional

dapat,

berani

atau

mempunyai

kesempatan

untuk

mengajukanpertanyaan ataupun menyampaikan pendapatnya di dalam


diskusi. Hal ini disebabkan karena pada pembelajaran yang bersifat
konvensional,

kesempatan

yang

ada

atau

yang

disediakan

dosen/guru/instruktur untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas.


2. Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja
(time and place flexibility). Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas
secara elektronik dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui
internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber
belajar ini kapan saja dan dari mana saja (Dowling, 2002). Demikian juga
dengan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan kepada guru
begitu selesai dikerjakan. Tidak perlu menunggu sampai ada janji untuk
bertemu dengan guru.

26

3. Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach


aglobal audience). Dengan fleksibilitas waktu dan tempat, maka jumlah
peserta didik yang dapat dijangkau melalui kegiatan pembelajaran
elektronik semakin lebih banyak atau meluas. Ruang dan tempat sert waktu
tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja,
seseorang dapat belajar. Interaksi dengan sumber belajar dilakukan melalui
internet. Kesempatan belajar benar-benarterbuka lebar bagi siapa saja yang
membutuhkan.
4. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran
(easy updating of content as well as archivable capabilities). Fasilitas yang
tersedia dalam teknologi internet dan berbagai perangkat lunak (software)
yang terus berkembang turut membantu mempermudah pengembangan
bahan belajar elektronik. Demikian juga dengan penyempurnaan atau
pemutakhiran bahan belajar sesuai dengan tuntutan perkembangan materi
keilmuannya dapat dilakukan secara periodik dan mudah. Di samping
itu,penyempurnaan metode penyajian materi pembelajaran dapat pula
dilakukan, baik yang didasarkan atas umpan balik dari peserta didik maupun
atas hasil penilaian guru selaku penanggungjawab atau pembina materi
pembelajaran itu sendiri.
4. Langkah-langkah pembelajaran ICT
a) Siswa ditugasi untuk menjelajahi internet dan berbagai situs yang
tersedia sebanyak mungkin untuk mencari, menemukan, dan mengunduh
b)
c)
d)
e)

pelajaran yang akan dicapai.


Guru mempersiapkan bahan ajar berbasis ICT dalam pembelajaran.
Siswa berinteraksi dengan guru tentang yang disampaikan guru.
Siswa diberi tugas dan siswa mengirimkan tugas tersebut melalui e-mail.
Untuk setiap tugas, siswa diminta memberikan komentar terhadap

27

pekerjaan siswa yang lain.


f) Guru memberikan kesimpulan.
5. Model Pembelajaran Konvensional
Menurut Djamarah (dalam Ariyanti, 2010 : 13) metode pembelajaran
konvensional adalah metode pembelajaran tradisional atau disebut juga dengan
metode ceramah, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat
komunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar dan
pembelajaran dalam pembelajaran konvensional ditandai dengan ceramah yang
diiringi dengan penjelasan, serta pembagian tugas dan latihan .
Menurut Subiyanto (dalam Siska, 2008 : 16), bahwa pembelajaran
konvensional mempunyai cirri-ciri sebagai berikut :
a. Peserta didik tidak mengetahui apa tujuan mereka belajar pada hari itu
b. Guru biasanya mengajar dengan berpedoman pada buku
c. Tes atau evaluasi biasanya bersifat sumatif dengan maksud untuk
mengetahui perkembangan siswa
d. Siswa harus mengikuti cara belajar yang dipilih oleh guru dengan patuh
mempelajari urutan yang diterapkan dan kurang sekali mendapatkan
kesempatan untuk menyatakan pendapatnya.
Pembelajaran konvensional cenderung mengakibatkan siswa menjadi
pasif karena siswa hanya menerima semua materi yang dijelaskan oleh guru.
Semua kegiatan didominasi oleh guru, sehingga siswa kurang aktif dalam
kegiatan pembelajaran.
6. Prestasi Belajar
a. Pengertian Prestasi Belajar
Jika kita membicarakan mengenai belajar, tentu saja kita tidak akan
terlepas dari bagaimana hasil belajar itu sendiri, dan jika kita membicarakan
mengenai hasil belajar maka kita tidak akan pula terlepas dari membicarakan
bagaimana prestasi belajar. Apalagi jika hal ini dibahas dalam konteks belajar
di lingkungan pendidikan terutama di sekolah.
Untuk mengetahui hasil belajar para peserta didiknya, maka guru akan

28

mengukur hasil belajar para peserta didiknya tersebut dengan melakukan


penilaian terhadap hasil belajar mereka misalnya melalui tes, dapat berupa tes
pada setiap akhir pembelajaran, setelah selesai membahas satu pokok bahasan
atau bab, atau pula dapat berupa tes pada setiap akhir semester atau yang lebih
dikenal dengan sebutan Ujian Akhir Semester (UAS). Kemudian setelah
penilaian terhadap hasil belajar ini selesai barulah dapat dilihat sejauh mana
prestasi para peserta didik tersebut. Bagaimana pula prestasi belajar para
peserta didik ini jika dibandingkan dengan peserta didik yang lain.
Istilah prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu dari kata prestatie,
dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil usaha (A.
Muhamad : 2008). Kemudian M. Syah (dalam A. Muhamad:2008) menjelaskan
bahwa Prestasi belajar merupakan taraf keberhasilan murid atau santri dalam
mempelajari materi pelajaran di sekolah atau pondok pesantren dinyatakan
dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi
pelajaran tertentu. Sedangkan menurut A. Muhamad (2008):
Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai dari suatu kegiatan atau usaha
yang dapat memberikan kepuasan emosional, dan dapat diukur dengan alat atau
tes tertentu. Dalam proses pendidikan prestasi dapat diartikan sebagai hasil dari
proses belajar mengajar yakni, penguasaan, perubahan emosional, atau perubahan
tingkah laku yang dapat diukur dengan tes tertentu.

b. Jenis Jenis Prestasi Belajar


Menurut Taksonomi Blood dalam Sadiyah (1992: 82-90), terdapat tiga
domain pengembangan individu dalam proses belajar untuk mendapatkan
perubahan dan pengembangan potensi diri yang dimiliki sehingga dapat
diperoleh karakter yang dikehendaki. Ketiga domain itu adalah penetahuan
(kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor).
a. Wilayah pengembangan intelektual (kognitif) meliputi aspek-aspek sebagai
berikut.

29

1) Ilmu pengetahuan (pengenalan, perseptual, dan hapalan), yang meliputi


pengetahuan tentang terminologi, ukuran fakta, kebiasaan, penggolongan
jenis, metodologi, azas, dan kelaziman, serta teori dalam bentuk
kemampuan menunjukan kembali.
2) Pengertian (pemahaman) yang meliputi terjemahan, penafsiran, dan
ekstrapolation dalam bentuk kemampuan menjelaskan, menafsirkan, dan
dapat mendefinisikan dengan bahasa sendiri.
3) Aplikasi (penerapan) dalam bentuk kemampuan memberikan contoh,
menggunakan dengan tepat, dan memecahkan masalah.
4) Analisis, meliputi analisis unsur, analisis hubungan, dan analisis prinsipprinsip, dalam bentuk kemampuan menguraikan, menghubungkan
menyimpilkan dan mengklasifikasikan.
5) Sintesis (membuat perpaduan) meliputi hasil komunikasi tunggal, hasil
atau rencana, hasil dari hubungan yang abstrak, dalam bentuk kemampuan
menghubungkan, menyimpulkan, dan menggeneralisasikan.
6) Evaluasi/ kesimpulan meliputi pembuktian dari dalam luar, dalam bentuk
menafsirkan , memberi kritik dan memberikan pertimbangan dan
penilaian.
Kelima aspek di atas merupakan fokus penelitian ini, walaupun penelitian
tentang prestasi peserta didik ini berfokus pada domain kognitif saja atau bidang
akademik siswa, penulis juga akan mengulas sedikit domain yang lain walaupun
tidak diteliti dalam penelitian ini.
b. Wilayah Pengambangan sikap (afektif) mencakup aspek-aspek sebagai
berikut.
1) Receiving (penerimaan) yang meliputi kesadaran, kerelaan menerima, dan
mengontrol

perhatian

yang

terpilih,

dalam

bentuk

kemampuan

menunjukkan sikap meneerima atau menolak.


2) Responding (reaksi jawaban) yang meliputi menyerahkan dalam jawaban,

30

kerelaan untuk menjawab, kepuasan dan tanggapan, dalam bentuk


kemampuan kesediaan terlibat, berperan serta, memanfaatkan atau
meninggalkan.
3) Valuing (penilaian) meliputi penerimaan suatu nilai, kecondongan untuk
suatu nilai, kepercayaan akan hal-hal tertentu, dalam bentuk kemampuan
memandang penting, bermanfaat, indah dan harmonis.
4) Internalisasi (pendalaman) meliputi pemberian makna atau paham suatu
nilai, organisasi sistem penilaian, dalam bentuk kemampuan meyakini,
mengakui, dan mengingkari.
5) Karakterisasi (penghayatan) nilai, lukisan yang sesuai dengan sifat, dalam
bentuk kemampuan melembagakan atau meniadakan, meniadakan dalam
pribadi atau tingkah laku sehari-hari.
c. Wilayah Pengembangan psikomotor (keterampilan), yang mencakup aspekaspek berikut:
1) Imitation (peniruan), meliputi dorongan hari dan pengulangan terangterangan.
2) Manipulation (memperbanyak) meliputi mengikuti secara langsung,
pemilihan, dan pendekatan.
3) Precision (ketelitian), memproduksi kembali dan memeriksa
4) Artixulation (pengucapan dengan nyata sesuai dengan apa adanya),
meliputi mengurutkan dan menyelaraskan.
5) Naturalization (mengalamikan), meliputi otomatisasi dan menghias
interior.
Berdasarkan banyak wilayah pengembangan dalam proses belajar
menurut Bloom di atas, meka prestasi belajar digolongkan dalam tiga jenis,
yaitu:
1) Prestasi Kognitif, yang meliputi kemampuan pengetahuan, pengertian
aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
2) Prestasi afektif, yane meliputi kemampuan receiving, responding, valuing,

31

internalisasi, dan karakterisasi.


3) Prestasi psikomotor, yang meliputi imitation, manipulation, precision,
artixulation, naturalization.
c. Indikator Prestasi Belajar
Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dari data hasil belajar siswa
sebagaimana terurai di atar, adalah mengetahui garis-garis besar indikator
dikaitkan jenis prestasi yang hendak diungkap atau diukur.
Adapun yang menjadi indikator prestasi menurut taksonomi Bloom
(Winkel:1996:245-247) sebagai barikut.
a. Pengetahuan (knowledge), mengacu pada kemampuan mengenal, atau
mengingat materi yang sudah dipelajari dari yang sedarhana sampai pada
teori yang sukar. Yang penting adalah kemampuan mengingat keterangan
dengan baik dan banar.
b. Pemahaman, mengacu kepada kemampuan memahami makna materi.
c. Penerapan, mengacu pada kemampuan menggunakan atau menerapkan
materi yang sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut
penggunaan aturan.
d. Analisis, mengacu pada kemampuan menguraikan materi kedalaman
komponen-komponen atau faktor penyebabnya dan mampu memahami
hubungan di antara bagian yang satu dengan yang lainnya, sehingga struktur
dan aturannya dapat lebih dimengerti.
e. Sintesis, mengacu pada kemampuan memadukan atau komponen-komponen
sehingga membentuk suatu pola struktur atau bentuk baru.
f. Evaluasi, mengacu pada kemampuan memberikan pertimbangan terhadap
nilai-nilai materi untuk tujuan tertentu.
d. Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Muhibin Syah, 1995:132), faktor yang mempengaruhi belajar siswa
diantaranya :
a. Faktor internal (faktor dari dalam diri siswa), yakni jasmani dan rohani
siswa.

32

b. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di


sekitar siswa.
c. Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar
siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa.
7. Pengkajian hasil Penelitian Terdahulu
Hasil penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh saudara Herman
Dwisurjono dan Abdul Gafur tentang pemanfaatan ICT untuk peningkatan
mutu pembelajaran SMA menunjukan bahwa responden termasuk baik atau
tinggi. Dengan kata lain, potensi untuk mengimplementasikan ICT di SMA
termasuk tinggi karena didukung oleh SDM yang memiliki kompetensi tinggi.
Implementasi ICT pada umumnya telah dilaksanakan secara sistematis dengan
mengikuti model mulai dari disain, pengembangan/produksi, pemanfaatan,
pengelolaan, dan evaluasi. Namun terdapat beberapa langkah pada masingmasing tahap yang belum dilaksanakan secara jelas, misalnya pengembangan
sistem pembelajaran yang terintegrasi dengan ICT, pemanfaatan ICT sebagai
suatu sistem, pengelolaan sistem penyampaian, dan evaluasi fektifitas
implementasi ICT secara menyeuruh, juga masih memiliki beberapa hambatan.
8. Kerangka Pemikiran
Pemilihan dan penggunaan metode mengajar memiliki arti penting untuk
mencapai keberhasilan dalam pendidikan. Keberhasilan pendidikan banyak
ditentukan oleh pendidik dalam menggunakan model pembelajaran.
Adapun tujuan umum pembejalaran matematika adalah agar siswa dapat
memahami pelajaran matematika. Berdasarkan tujuan ini, maka pendidik harus
memiliki keahlian dalam menggunakan metode dan model yang efektif dan
efisien, agar bisa memberikan kecerahan berfikir bagi peserta didik yang dapat
menghasilkan hasil belajar yang baik bagi peserta didik. Dan tentunya prestasi

33

peserta didik tidak terlepas dari pengaruh indikator, kurikulum, daya serap,
presensi guru, presensi siswa, dan prestasi belajar. Tentunya dengan mengikuti
perkembangan teknologi.
Maka dari itu penulis menilai model pembelajaran berbasis ICT
berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Pembelajaran ICT adalah
pendekatan pembelajaran menggunakan bahan pembelajaran interaktif dengan
media komputer.
Tujuan dari pembelajaran adalah untuk mehghasilkan prestasi bagi peserta
didik, tentunya tidak akan lepas dari indikator-indikator prestasi belajar, yang
secara singkat menjadi kognitif, afektif, dan psikomotor.
Indikator-indikator tersebut berlaku untuk menentukan pengaruh model
pembelajaran berbasis ICT dalam pembelajaran matematika.
9. Hipotesis
Dari kerangka pemikiran di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah :
Model Pembelajaran berbasis ICT berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa
pada bidang studi matematika.
I. Metodologi Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
eksperimen. Penelitian eksperimen adalah penelitian yang mengkaji sebab
akibat dari suatu peristiwa dan pengaruh dari dari suatu variable terhadap
variable yang lain dikaji dalam situasi yang terkontrol. (Rahadi, 2008 : 24)
Penelitian ini hanya dilakukan pada dua kelompok. Kegiatan pertama yang
dilakukan adalah dengan memberikan tes awal terhadap masing-masing
kelompok. Tes awal dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal siswa
sebelum diberi perlakuan. Setelah diberi perlakuan maka langkah selanjutnya
adalah melakukan tes akhir. Tes akhir digunakan untuk mengetahui apakah ada

34

peningkatan prestasi belajar. Berdasarkan uraian diatas, maka desain penelitian


ini dinamakan Randomized control group pretest-posttest design. Adapun
desain penelitiannya menurut Rahadi (2010) adalah sebagai berikut :
Table 1
Randomized control group pretest-posttest
Kelompok

Pretest

Perlakuan

Posttest

Eksperimen

Kontrol

Keterangan :
T

= Tes awal (pretest)

= Tes akhir (posttest)

= Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran berbasis


ICT

2. Populasi dan Sampel


Populasi didefinisikan sebagai semua hal yang diobservasi yang relevan
dengan pertanyaan atau masalah yang dipertanyakan, sedangkan sampel adalah
sejumlah (tidak semua) hal yang diobservasi yang relevan dengan pertanyaan
yang dipertanyakan (Sundayana, 2002: 10). Dari pengertian tersebut, maka
populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 3 Garut, dan
sampelnya adalah siswa Kelas X-9.
3. Metode Pengumpulan Data

35

Data yang kita jadikan sebagai objek, harus benar-benar jujur, yakni
kebenarannya dapat dipercaya (Sundayana, 2002:16). Oleh karena itu, kita
harus menggunakan metode pengumpulan dengan baik dan benar. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan kuantitatif.
Dalam pengumpulan datanya, dibutuhkan alat pengumpul data. Alat
pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes,observasi,
wawancara, dan angket. Tes merupakan soal atau latihan yang diberikan
kepada siswa yang berfungsi untuk mengukur pengetahuan, intelegensi serta
kemampuan yang dimiliki siswa. Jenis tes yang digunakan adalah tes
kemampuan kognitif dalam bentuk tes uraian.
Untuk mendapatkan hasil penelitian yang baik, maka tes yang akan kita
lakukan harus diuji coba terlebih dahulu. Uji coba yang dilakukan berfungsi
untuk mengetahui apakah soal yang dibuat layak digunakan untuk penelitian
atau tidak. Suatu tes dikatakan baik, jika setiap soalnya memiliki validitas,
reliabilitas, daya pembeda, dan indeks kesukaran yang baik. Oleh karena itu,
peneliti harus mengujinya, yaitu sebagai berikut:
a. Validitas butir soal
Arikunto (Sundayana, 2010: 1) mengatakan bahwa : Validitas adalah
suatu ukuran yang menunjukan tingkat

kevalidan atau kesahihan suatu

instrumen. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkap data


dari variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen
menunjukan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari
gambaran tentang variabel yang dimaksud.
Langkah-langkah untuk menguji validitas menurut Sundayana (2010 :
1) adalah:

36

1) Menghitung harga korelasi setiap butir soal dengan rumus Pearson/Produt


Moment , yaitu :

rxy

N XY

N x

X Y

N Y

Keterangan :
rxy
= Koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y
= Jumlah responden / banyak siswa

X
Y

= Banyak skor item

= Banyak skor total (seluruh item)


2) Melakukan perhitungan uji t dengan rumus :

t hitung

r N 2
1 r 2

Keterangan :

r = Koefisien korelasi hasil r hitung


N = Jumlah responden / banyak siswa
c) Mencari ttabel untuk = 0,05 dan derajat kebebasan (dk = N 2)
d) Membuat kesimpulan dengan kriteria pengujian sebagai berikut:
Jika thitung > ttabel berarti valid, atau
Jika thitung ttabel berarti tidak valid
Adapun kriteria untuk menafsirkan koefisien validitas menurut Rahadi (2009:
9), yaitu:

Tabel 2
Validitas Butir Soal

37

b.

Besarnya rxy

Interpretasi

rxy

Validitas sangat tinggi


Validitas Tinggi
Validitas Sedang
Validitas rendah
Validitas Sangat rendah
Tidak Valid

0,80 <

1,00

rxy
0,60 <

0,80

rxy
0,40 <

0,60

rxy
0,20 <

0,40

rxy
0,00 <
0,20
rxy
0,00
Reliabilitas Soal
Menurut Sundayana (2010 : 9) reliabilitas instrumen penelitian adalah
suatu alat yang memberikan hasil yang tetap sama (konsisten, ajeg). Situasi,
kondisi atau hal apapun tidak mempengaruhi hasil pengukurannya. Dalam
menguji reliabilitas instrumen penelitian, maka peneliti menggunakan rumus
Cronbachs Alpha () untuk tipe soal uraian.
Rumus Cronbachs Alpha () menurut Sundayana (2010 : 9) adalah :
2
si
n

r11
1
2

s t
n 1
Keterangan :

r11
n

= Koefisien reliabilitas instrumen


= Banyaknya butir pertanyaan

s
st

2
i

= Jumlah varians item

= Varians total

Digunakan kriteria menurut Guilford (dalam Sundayana, 2010 : 9) :


Tabel 3
Klasifikasi Koefisien Reliabilitas
Koefisien Reliabilitas (r)

Interpretasi

r11

Derajat reliabilitas sangat

0,00
0,20 <
0,40 <
0,60 <
0,80 <

r11
r11
r11
r11

0,20
0,40
0,60
0,80

rendah
Derajat reliabiltas rendah
Derajat reliabilitas
sedang/Cukup
Derajat reliabilitas tinggi
Derajat reliabilitas sangat tinggi

1,00

c. Menentukan Daya Pembeda Butir Soal


Daya pembeda (DP) soal adalah kemampuan suatu soal untuk bisa
membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang
berkemampuan rendah.
Rumus DP untuk tipe soal uraian:
SA SB
DP
IA
(Sundayana, 2010 : 14)
Keterangan :
SA = Jumlah skor kelompok atas
SB = Jumlah skor kelompok bawah
IA = Jumlah skor ideal kelompok atas
Untuk menginterpretasikan daya pembeda butir soal digunakan kategori
menurut Sundayana (2010 : 14) sebagai berikut :
Tabel 4
Daya Pembeda
Besarnya DP
DP 0,00
0,00 < DP 0,20
0,20 < DP 0,40
0,40 < DP 0,70
0,70 < DP 1,00
d. Tingkat Kesukaran Butir Soal

Interpretasi
Sangat jelek
Jelek
Cukup
Baik
Sangat Baik

Tingkat Kesukaran (TK) adalah keberadaan suatu butir soal

apakah

dipandang sukar, sedang, atau mudah dalam mengerjakannya.


Rumus tingkat kesukaran untuk tipe soal uraian :
SA SB
TK
IA IB
(Sundayana, 2010 : 14)
Keterangan :
SA
= Jumlah skor kelompok atas
SB
= Jumlah skor kelompok bawah
IA
= Jumlah skor ideal kelompok atas
IB
= Jumlah skor ideal kelompok bawah
Untuk menginterpretasikan indeks kesukaran butir soal digunakan
kategori menurut Sundayana (2010 : 14) sebagai berikut :
Tabel 5
Indeks Kesukaran
Besarnya TK
TK = 0,00
0,00 < TK 0,30
0,30 < TK 0,70
0,70 < TK 1,00
TK = 1,00

Interpretasi
Terlalu sukar
Sukar
Sedang / Cukup
Mudah
Terlalu mudah

4. Teknis Analisis Data


Setelah data terkumpul, maka dilakukan analisis data dengan
menggunakan pendekatan statistik untuk menentukan prestasi belajar matematik,
objek penelitian yang pembelajarannya menggunakanmodel pembelajaran
berbasis ICT. Adapun langkah-langkahnya menurut Sundayana (2010 : 17)
sebagai berikut:
a. Uji normalitas data
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal
atau tidak. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut :
1)Menghitung nilai rata-rata yaitu skor yang diperoleh pre tes dan post tes.
2)Menentukan deviasi standar (simpangan baku).

3) Ubahlah data diskrit (data mentah) menjadi data interval dengan cara
membuat tabel normalitas data .
4)Menentukan nilai Chi-kuadrat hitung dengan rumus :

2
=

( fi Ei )
Ei

5) Menentukan Chi-kuadrat tabel dengan rumus :

2
2
X tabel
X (1
) k 3

dengan

k = banyaknya kelas interval.


:
6)Menentukan normalitas dengan kriteria pengujian

2 hi t ung 2 tabel
Jika

<

, maka populasi berditribusi normal.

2 hi t ung 2 tabel
Jika

, maka populasi berditribusi tidak normal

b. Uji Homogenitas
Kedua data berdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan uji homogenitas
variansinya. Perhitungannya sebagai berikut:
a. Mencari nilai F hitung

F=

Vb
Vk

, V = S2

Keterangan, Vb = varians besar


Vk = varians kecil
b. Menentukan derajat kebebasan
db1 = n1 1
db2 = n2 1
keterangan :
db1= derajat kebebasna pembilang

db2 = derajat kebebasna penyebut


n1 = ukuran sampel varian besar
n1 = ukuran sampel varian kecil
Ftabel F n1 1 / n2 1
c. Menentukan
d. Penentuan homogenitas
Jika Fhitung < Ftabel maka varians tersebut homogen
Jika Fhitung Ftabel maka varians tersebut tidak homogen
c. Uji Hipotesis
Menghasilkan varians yang homogen, maka dilanjutkan dengan uji t dengan
langkah-langkah sebagai berikut :

a. Merumuskan hipotesis nol dan hipotesis alternatifnya;


b. Mencari deviasi standar gabungan, dengan rumus :

(n1 1)s12 (n 2 1)s22


n1 n 2 2
c.

dsg =
Mencari nilai thitung
x1 x 2

dsg

n1 n2
n1 .n2

thitung =
d. Menentukan nilai ttabel = t (dk = n1 + n2 - 2)
e. Pengujian hipotesis dengan kriteria :
-ttabel thitung ttabel , maka Ho diterima
Jika menghasilkan varians yang tidak homogen, maka dilanjutkan dengan uji t
dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Merumuskan hipotesis nol dan hipotesis alternatifnya
b. Menentukan nilai thitung, dengan rumus :

x1 x 2
s12 s 22

n1 n 2

t'hitung =

c. Menentukan kriteria pengujian hipoteisis :


w1t1 w2 t 2
w1t1 w2 t 2
w1 w2
w1 w2
Ho diterima jika < t <
2
2
s1
s2
w1 n1 w2 n2 t1 t n1 1
t 2 t n 2 1
=
,
=
, =
, dan
=
dengan
d. Uji Mann Whitney

Jika salah satu dari keduanya berdistribusi tidak normal, maka data
dianalisis dengan menggunakan uji statistik non parametrik yaitu dengan Uji
Mann Whitney dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1) Merumuskan hipotesis statistik
2) Membuat daftar tabel data kedua kelompok sampel dan mengurutkannya
dari data paling besar sampai data paling kecil
3) Menyusun peringkat dari kedua kelompok sampel tersebut secara bersamasama (digabungkan), peringkat diberikan mulai dari data yang terkecil
4) Menentukan nilai U dan U, dengan nilai yang paling kecil antara U dan U
yang diambil,
n1(n1 1)
R1
1
2
2
U1 = n .n +

U= (n1)(n2) U

5) Menentukan rata-rata kedua kelompok dengan rumus :


1
2 1
2
n = ( n )( n )
6) Menentukan nilai T dengan rumus :
t3 t
T

12
, dengan t adalah banyak data yang bernilai sama
7) Menentukan deviasi standar gabungan dengan menggunakan rumus :
n .n N 3 N

1 2
T



N(N 1) 12
=
Keterangan :
N = n1 + n2

8) Menentukan nilai Zhitung


U

Zhitung =
9) Menentukan nilai Ztabel dengan Ztabel = Z0,5(1- ) untuk = 0,05
10) Melakukan pengujian hipotesis dengan kriteria sebagai berikut :
Jika Ztabel < Zhitung < Ztabel , maka Ho diterima dan
Jika Zhitung diluar daerah penerimaan Ho, maka Ho ditolak
e. Analisis Tes Rata-rata
Keefektifan suatu pengajaran juga dapat dianalisis dengan analisis rata-rata
berdasarkan kelompok nilai rata-rata sebagai berikut dalam Nanang (2010).
Nilai Rata-rata
Pengajaran Remidi
Kurang dari 55
Kurang efektif
55 s.d 74
Cukup efektif
75 atau lebih
Sangat efektif
f. Analisis KBK dan RTP
Setelah pengajaran selesai siswa diberi tes. Selanjutnya hasil tes dianasisis
melalui ketuntasan belajar klasikal.menurut DEPDIKBUD (1995:21)
banyaknya siswa yang tuntas
KBK =
100
jumlah siswa
Ket: KBK 85
KBK 85

termasuk tuntas

tidak tuntas
skor tes
Ketercapaian=
100 65
skor maksimal

Untuk pengaruh dilakukan analisis RTP. Menurut DEPDIKBUD (1995:21)


skor seluruh siswa 100
RTP=
skor ideal banyak siswa
Kriteria :
90 RTP 100 :sangat tinggi
80 RTP 90 : tinggi
65 RTP 80 : sedang

55 RTP 65 : rendah
0 RTP 55 :sangat rendah

g. Uji Peningkatan Prestasi Belajar

Untuk mengetahui ada dan tidaknya peningkatan prestasi belajar


matematika siswa dengan menggunakan pembelajaran berbasis ICT, dapat
dihitung dengan rumus Gain Ternormalisasi (normalized gain) menurut Meltzer
(2002) sebagai berikut:
Gain Ternormalisasi (g) = skor post test skor pre test
skor ideal skor pre tes

Kriteria gain ternormalisasi (g)


g < 0,3
: rendah

0,3 g 0,7

: sedang

0,7 g

: tinggi
J. Alokasi Waktu
Tabel rencana waktu pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut :

N
o
1
2
3
4
5
6
7
8

Kegiatan
Persiapan
Proposal
Bimbingan
Proposal
Seminar
Proposal
Persiapan
Penelitian
Penelitian
Pengumpu
lan
Data
Pengolaha
n
Data
Analisis
Data

Nov
3 4

Des
2 3

Jan
2 3

Waktu
Feb
2 3

Mar
2 3

Apr
2 3

Mei
1 2

K. Daftar Pustaka
Ahmad dan Nana. (2009). Teknologi Pengajaran. Bandung : Sinar Baru
Algesindo
Hamalik, O .(2005). Proses Belajar Mengajar. Jakarta : PT Bumi Aksara
Hamzah. (2007). Model Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Rahadi, M. Evaluasi Proses Hasil Pembelajaran Matematika (PHPM).
Modul STKIP. Garut: tidak diterbitkan.
Rahadi, M. (2010). Penelitian Tindakan. Modul STKIP. Garut: tidak
diterbitkan.
Riduwan. (2002). Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian. Bandung:
CV Alfabeta
Rusli. (2009). Teknologi Komunikasi dan Informasi dalam Pendidikan.
Jakarta: Gaung Persada.
Sugiyono.(2008). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Alfabeta.
Sundayana, R. (2010). Komputasi Data Statistik. Garut:STKIP.
Sundayana, R. (2002).. Garut: STKIP.
Noni,N.Penerapan
TIK
dalam
pembelajaran.
[online].tersedia:
http://www.scribd.com/doc/32973174/Pembelajaran-Berbasis-Ict.
Surjono dan abdul. 2010. Potensi Pemanfaatan ICT Untuk Peningkatan Mutu
Pembelajaran

Sma

Di

Kota

Yogyakarta.[online].tersedia:

http://www.journal.uny.ac.id/index.php/cp/article/view/337/pdf