Anda di halaman 1dari 26

Ilmu Kesehatan Anak

Oleh :
Ana Yunitasari, dr.
Galih Herlambang, dr.
Ali Husein, S.Ked

KEJANG DEMAM
Definisi
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rectal di atas
38C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranial. Kejang demam terjadi pada 2-4% anak
berumur 6 bulan 5 tahun. Kejang disertai demam pada bayi berusia kurang dari 1 bulan tidak
termasuk kejang demam.
Klasifikasi
1. Kejang demam sederhana (KDS) :
Kejang demam yang berlangsung singkat < 15 menit, dan umumnya berhenti sendiri.
Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik tanpa gerakan fokal.
Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam
2. Kejang demam kompleks (KDK) :
Kejang lama > 15 menit
Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum yang didahului kejang parsial.
Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dilakukan sesuai indikasi untuk mencari penyebab kejang demam atau
kejang. Pemeriksaan dapat meliputi pemeriksaan laboratorium darah lengkap, gula darah, elektrolit,
urinalisis, dan biakan darah, urin, atau feses.
Pemeriksaan cairan serebrospinalis (pungsi lumbal) dilakukan untuk menegakkan atau
menyingkirkan kemungkinan meningitis. Pada bayi seringkali sulit menegakkan diagnosis
meningitis karena manifestasi klinis tidak jelas, sehingga pungsi lumbal dianjurkan pada :
1. Bayi < 12 bulang : sangat dianjurkan dilakukan.
2. Bayi 12-18 bulan : dianjurkan
3. Bayi > 18 bulan : tidak rutin dilakukan
Pemeriksaan EEG tidak direkomendasikan. EEG masih dapat dilakukan pada kejang demam
yang tidak khas misalnya KDK pada anak > 6 tahun atau kejang demam fokal.
Pencitraan (CT scan atau MRI kepala) dilakukan jika ada indikasi, yaitu :
1. Kelainan neurologis fokal yang menetap (hemiparesis) atau kemungkinan adanya lesi structural
di otak (mikrosefali, spasisitas).
2. Terdapat tanda peningkatan tekanan intracranial (kesadaran menurun, UUB menonjol, muntah
berulang, paresis N VI, edema papil)
Penatalaksanaan Saat Kejang

Apabila pasien datang dalam kondisi kejang, berikan oksigenasi dan potong kejang dengan
menggunakan diazepam rectal (stesolid) dosis 5 mg jika BB<10 kg atau 10 mg jika BB>10 kg.
Bila setelah pemberian diazepam rectal kejang masih belum berhenti, diazepam rectal dapat
diulang dengan dosis yang sama interval 5 menit.
Bila dengan 2 kali pemberian diazepam rectal kejang belum berhenti, segera pasang IV line, dan
berikan diazepam intravena dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB.
Bila kejang tetap belum berhenti berikan fenitoin intravena dosis awal (loading dose) 10-20
mg/kgBB/kali pemberian, dosis maksimal 100 mg, dengan kecepatan 1 mg/kgBB/menit atau <
50mg/menit. Bila kejang berhenti dosis rumatan selanjutnya adalah 4-8 mg/kgBB/hari dimulai
12 jam setelah dosis awal.
Jika tidak ada fenitoin, potong kejang juga bisa memakai fenobarbital intramuscular 10
mg/kgBB kemudian setelah kejang berhenti berikan rumatan fenobarbital 5mg/kgBB/hari dalam
2 dosis terbagi (tiap 12 jam IM).
Bila dengan fenitoin belum berhenti, pasien harus dirawat di ruang intensif dengan pengobatan
midazolam 0,2 mg/kgBB
Bila kejang telah berhenti pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang demam dan
faktor risikonya.
Penatalaksanaan Saat Demam
Anti piretik
: parasetamol 10-15 mg/kgBB/kali diberikan 4 kali sehari atau ibuprofen 510 mg/kgBB/kali diberikan 3-4 kali sehari.
Anti konvulsan : diazepam oral 0,3 mg/kgBB setiap 8 jam atau diazepam rectal 0,5mg/kgBB
setiap 8 jam saat suhu > 38,5C.
Pemberian Obat Rumat
Pengobatan rumat hanya diberikan bila kejang demam menunjukkan cirri sebagai berikut (salah
satu) :
1. Kejang lama > 15 menit.
2. Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya hemiparesis,
paresis Todd, cerebral palsy, retardasi mental hidrosefalus.
3. Kejang fokal.
4. Pengobatan rumat dipertimbangkan bila :
a. Kejang berulang 2 kali/lebih dalam 24 jam
b. Kejang demam terjadi pada bayi < 12 bulan
c. Kejang demam 4 kali pertahun
Jenis antikonvulsan untuk pengobatan rumat :
Asam valproat 15-40 mg/kgBB/hari dalam 2-3 dosis atau fenobarbital 3-4 mg/kgBB/hari dalam
1-2 dosis.
Lama pengobatan :
Pengobatan diberikan selama 1 tahun bebas kejang, kemudian dihentikan secara bertahap
selama 1-2 bulan.
Contoh Penulisan Resep
R/
Diazepam supp
No. I
imm (per rectal)
Atau
R/
Inj. Diazepam amp No. I
Cum spuit cc 3
No. I
imm (injeksi IV pelan)

MENINGITIS-ENSEFALITIS
Definisi
Meningitis adalah infeksi pada selaput jaringan otak dan medula spinalis (meninges) sedangkan
ensefalitis adalah infeksi pada jaringan otak. Jika terjadi keduanya disebut meningoensefalitis.
Klasifikasi dan Etiologi
Berdasarkan penyebabnya, meningitis dibagi menjadi :
1. Meningitis Bakterialis
Etiologi :
Usia 0-2 bulan
: Streptococcus grup B, Eschericia coli
Usia 2 bln-5 thn : Streptococcus pneumonia, Neisseria meningitidis, Haemofilus
influenza
Usia di atas 5 thn : Streptococcus pneumonia, Neisseria meningitidis
2. Meningitis Tuberkulosis
3. Meningitis Virus
Ensefalitis dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme seperti virus, bakteri, jamur,
dan protozoa.
Manifestasi Klinis
Meningitis Bakterialis :
Pada anamnesis : Seringkali didahului infeksi pada saluran nafas atas atau saluran cerna.
Gejala meningitis adalah demam, nyeri kepala, meningismus dengan atau tanpa penurunan
kesadaran, letargi, malaise, kejang dan muntah.
Pada pemeriksaan fisik : gangguan kesadaran dapat berupa penurunan kesadaran atau
iritabilitas. Dapat juga ditemukan ubun-ubun membonjol, kaku kuduk, atau tanda rangsal
meningeal (Brudzinski dan Kernig), kejang, dan deficit neurologis fokal. Tanda rangsal
meningeal mungkin tidak ditemukan pada anak dibawah 1 tahun. Dapat juga ditemukan
tanda peningkatan TIK. Jangan lupa mencari sumber infeksi di tempat lain (THT, sepsis,
pneumonia).
Meningitis Tuberkulosis :
Stadium I (inisial)
: pasien tampak apatis, iritabel, nyeri kepala, demam, malaise,
anoreksia, mual dan muntah. Belum tampak manifestasi kelainan neurologi.
Stadium II
: pasien tampak mengantuk, disorientasi, ditemukan tanda rangsang
meningeal, kejang, deficit neurologis fokal, paresis nervus cranial, dan gerakan involunter
(tremor, koreoatetosis, hemibalismus).
Stadium III
: kesadaran semakin menurun sampai koma, ditemukan tanda
peningkatan TIK, pupil terfiksasi, pernafasan ireguler disertai peningkatan suhu tubuh, dan
ekstremitas spastis.
Ensefalitis :
Pada anamnesis
: demam tinggi mendadak sering ditemukan hiperpireksia.
Penurunan kesadaran dengan cepat, sering disertai nyeri kepala, ensefalopati, kejang.
Kejang bersifat umum atau fokal, dan dapat berupa status konvulsivus.
Pada pemeriksaan fisik
: ditemukan hiperpireksia, penurunan kesadaran sampai koma,
kejang, peningkatan TIK, dan gejala serebral lain seperti kelumpuhan tipe UMN (spastis,
hiperrefleks, reflex patologis, dan klonus)
Pemeriksaan Penunjang
Meningitis Bakterialis
1. Darah perifer lengkap dan kultur darah.

2. Pungsi lumbal : LCS keruh dengan Tes Nonne / Tes Pandy positif, jumlah sel meningkat
100-10.000/mm3 dengan dominansi PMN, protein meningkat 200-500 mg/dl, glukosa
turun <40 mg/dl, pewarnaan gram, dan uji resistensi.
3. Pencitraan (CT scan dengan kontras atau MRI) jika dicurigai ada komplikasi seperti
empiema subdural, hidrosefalus, abses otak.
4. EEG ditemukan perlambatan umum.
.
Meningitis Tuberkulosis :
1. Darah perifer lengkap, laju endap darah, dan glukosa darah. Lekosit darah tepi sering
meningkat 10.000-20.000/mm3
2. Pungsi lumbal : LCS jernih, cloudy, atau santokrom. Jumlah sel 10-250/mm3 dan jarang
melebihi 500 sel, hitung jenis predominan limfosit meskipun pada stadium awal dapat
dominan PMN. Protein meningkat di atas 100 mg/dl dan glukosa turun < 35 mg/dl.
Rasio glukosa LCS dan glukosa darah di bawah normal. Pemeriksaan BTA dan kultur
Mycobacterium tuberculosis.
3. Pencitraan (CTscan/MRI) dapat menunjukkan lesi parenkim pada daerah basal otak,
infark, tuberkuloma, maupun hidrosefalus.
4. Foto rontgen dada dapat menunjukkan penyakit tuberculosis.
5. Uji tuberculin untuk mendukung diagnosis.
Ensefalitis :
1. Darah perifer lengkap
2. Pungsi lumbal untuk pemeriksaan LCS ditemukan : peningkatan jumlah sel 50200/mm3, hitung jenis didominasi sel limfosit, protein meningkat tapi tidak melebihi
200 mg/dl, glukosa normal.
3. Pencitraan (CTscan atau MRI) menunjukkan gambaran edema otak fokal maupun difus.
4. EEG pada umumnya normal tetapi pada beberapa pasien dapat ditemukan perlambatan
gelombang.
Penatalaksanaan
a. Meningitis tuberkulosa
Pengobatan medikamentosa sesuai rekomendasi American academy of pediatrics 1994
yaitu pemberian 4 macam OAT (rifampisin, isoniazid, pirazinamid, etambutol) selama 2
bulan dilanjutkan pemberian isoniazid dan rifampisin selama 10 bulan.
Dosis :
Isoniazid 10-20 mg/kgBB/hr dosis maksimal 300 mg/hr
Rifampisin 10-20 mg/kgBB/hr dosis maksimal 600 mg/hr
Pirazinamid 15-30 mg/kgBB/hr dosis maksimal 2000 mg/hr
Etambutol 15-20 mg/kgBB/hr dosis maksimal 1000 mg/hr atau injeksi streptomisin
IM 20-30 mg/kgBB/hr dengan dosis maksimal 1000 mg/hr.
b. Meningitis bakterialis :
Terapi dengan antibiotik empiris, kemudian disesuaikan dengan hasil kultur dan uji
resistensi antibiotik. Lama pengobatan 10-14 hari.
Antibiotik empirik :
Usia 1-3 bulan :
Ampisilin 200-400 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 4 dosis + sefotaksim 200-300
mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 4 dosis, atau
Seftriakson 100 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 2 dosis
Usia >3 bulan :
Sefotaksim 200-300 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 3-4 dosis, atau
Seftriakson 100 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 2 dosis, atau

Ampisilin 200-400 mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 4 dosis + kloramfenikol 100


mg/kgBB/hari IV dibagi dalam 4 dosis.
c. Ensefalitis :
Tata laksana tidak ada yang spesifik. Terapi suportif berupa tatalaksana hiperpireksia,
keseimbangan cairan dan elektrolit, peningkatan TIK, serta tata laksana kejang. Pasien
sebaiknya dirawat di ruang intensif.

BRONKIOLITIS
Definisi
Bronkiolitis merupakan inflamasi bronkioli pada bayi berusia < 2 tahun. Berdasarkan guideline dari
UK, bronkiolitis merupakan penyakit seasonal viral yang ditandai dengan panas, pilek, batuk, dan
mengi. Pada pemeriksaan klinis ditemukan inspiratory crackles dan atau wheezing ekspiratorik.
Etiologi
Bronkiolitis disebabkan oleh Respiratory syncytial virus (RSV), rhinovirus, adenovirus,
parainfluenza virus, enterovirus dan influenza virus. Bronkiolitis merupakan penyebab hospitalisasi
pada bayi usia 2-6 bulan dan sering terjadi misdiagnosis dengan asma.
Manifestasi Klinis
Anak yang menderita bronkiolitis mengalami demam namun tidak tinggi. Pilek sering timbul
sebelum gejala lain seperti batuk, sesak nafas, dan kesulitan makan. Kesulitan makan berkaitan
dengan sesak nafas. Batuk kering dan mengi khas untuk bronkiolitis.
Pemeriksaan Penunjang
Saturasi oksigen
: jika saturasi 92% pasien harus dirawat di ruang intensif, jika > 94%
pada udara ruangan dapat dipertimbangkan untuk pulang.
Analisis gas darah
: umumnya tidak diindikasikan pada bronkiolitis, namun dilakukan
pada bayi dengan distress nafas berat.
Foto toraks
: hanya dilakukan pada bayi dengan diagnosis meragukan atau
penyakit atipikal.
Pemeriksaan virologi
: rapid diagnosis infeksi virus pada saluran nafas adalah cost efektif
karena menurangi lama perawatan, penggunaan antibiptik, dan pemeriksaan mikrobiologi.
Pemeriksaan bakteriologi : tidak rutin dilakukan. Pemeriksaan bakteriologi urin
dipertimbangkan pada bayi usia <60 hari.
Pemeriksaan hematoogi : tidak diindikasikan pada bronkiolitis tipikal.
Tata Laksana
Bronkiolitis pada umumnya tidak memerlukan pengobatan. Terapi suportif seperti pemberian
oksigen, nasal suction masih dapat dilakukan. Fisioterapi dada dengan vibrasi dan perkusi tidak
direkomendasikan pada pasien yang dirawat di ruang intensif.
Menurut penelitian, pemberian antiviral, antibiotik, inhalasi 2 agonis, inhalasi kolinergik, dan
inhalasi kortikosteroid tidak direkomendasikan.
Indikasi rawat di ruang intensif :
Gagal mempertahankan saturasi oksigen > 92% dengan terapi oksigen
Perburukan status pernafasan yang ditandai dengan peningkatan distress nafas.
Apneu berulang

PNEUMONIA
Definisi
Pneumonia adalah infeksi akut parenkim paru yang meliputi alveolus dan jaringan interstisiel.
Etiologi
Berbagai mikroorganisme dapat menyebabkan pneumonia antara lain virus, jamur, dan bakteri.
S.pneumonia merupakan penyebab tersering pneumonia bacterial pada semua umur. Virus lebih
sering ditemukan pada anak <5 tahun. Respiratory syncytial virus (RSV) merupakan penyebab
tersering pada anak <3 tahun sedangkan pada usia yang lebih muda juga ditemukan adenovirus,
influenza virus, dan parainfluenza virus. Pada anak usia < 10 tahun sering ditemukan Mycoplasma
pneumonia dan Chlamydia pneumonia.
Diagnosis
Anamnesis
Batuk yang awalnya kering kemudian menjadi produktif dengan dahak purulen bahkan bias
berdarah
Sesak nafas
Demam
Kesulitan makan/minum
Tampak lemah
Pemeriksaan Fisik
Penilaian keadaan umum meliputi kesadaran, tanda vital, dan kemampuan makan/minum
Gejala distress pernafasan seperti takipnea, retraksi subkostal, batuk, krepitasi, dan penurunan
suara paru.
Demam dan sianosis
Anak usia <5 tahun mungkin tidak menunjukkan gejala klasik pneumonia.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan foto dada tidak direkomendasikan pada anak dengan infeksi saluran nafas bawah
akut ringan tanpa komplikasi.
Foto dada direkomendasin pada penderita pneumonia yang dirawat inap atau bila tanda klinis
membingungkan.
Pemeriksaan laboratorium jumlah leukosit dan hitung jenis leukosit perlu dilakukan untuk
membantu menentukan pemberian antibiotik.
Pemeriksaan kultur dan pewarnaan gram sputum direkomendasikan pada anak dengan
pneumonia berat.
Klasifikasi Pneumonia
Menurut WHO, pneumonia dibedakan menjadi :
1. Klasifikasi untuk bayi kurang dari 2 bulan
Pneumonia berat
: nafas cepat atau retraksi yang berat
Pneumonia sangat berat
: tidak mau menetek/minum, kejang, letargis, demam atau
hipotermia, bradipneu, atau pernafasan ireguler.
2. Klasifikasi untuk umur 2 bulan-5 tahun
Pneumonia ringan
: nafas cepat
Pneumonia berat
: retraksi
Pneumonia sangat berat
: tidak dapat makan/minum, kejang, letargis, malnutrisi
Tatalaksana

Pemberian antibiotik menurut UKK Respirologi


Neonatus 2 bulan : ampisilin + gentamisin
Usia >2 bulan
1. Lini pertama : ampisilin bila dalam 3 hari tidak ada perbaikan dapat ditambahkan
kloramfenikol.
2. Lini kedua
: seftriakson
Bila klinis mengalami perbaikan, antibiotik intravena dapat diganti dengan antibiotik oral golongan
yang sama dengan antibiotik intravena sebelumnya.

TUBERKULOSIS PARU (TB PARU)


Definisi
Tuberkulosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis),
yang disebut juga basil tahan asam. Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga
mengenai organ tubuh lainnya.
Faktor Resiko
Terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya infeksi TB maupun timbulnya penyakit TB
pada anak. Faktor-faktor tersebut dibagi menjadi faktor resiko infeksi dan faktor resiko progresi
infeksi menjadi penyakit (resiko penyakit).
1. Resiko infeksi TB
Faktor resiko terjadinya infeksi TB antara lain adalah anak yang terpajan dengan orang
dewasa dengan TB aktif (kontak TB positif), daerah endemis, kemiskinan, lingkungan yang
tidak sehat (higiene dan sanitasi yang tidak membaik), tempat penampungan umum (panti
asuhan, penjara atau panti perawatan lain) yang banyak terdapat pasien TB dewasa aktif.
Pasien TB anak jarang menularkan kuman pada anak lain atau orang dewasa di sekitarnya.
Hal ini dikarenakan kuman TB sangat jarang ditemukan di dalam sekret endobronkial pasien
anak. Hal tersebut karena:
a.
Jumlah kuman pada TB anak biasanya sedikit (paucibacillary), tetapi karena
imunitas anak masih lemah jumlah yang sedikit tersebut sudah mampu menyebabkan sakit.
b.
Lokasi infeksi primer yang kemudian berkembang menjadi sakit TB primer biasanya
terjadi di daerah parenkim yang jauh dari bronkus, sehingga tidak terjadi produksi sputum.
c.
Sedikitnya atau tidak ada produksi sputum dan tidak terdapatnya reseptor batuk di
daerah parenkim menyebabkan jarangnya gejala batuk pada TB anak.
2. Resiko sakit TB
Anak yang telah terinfeksi TB tidak selalu akan mengalami sakit TB. Berikut ini adalah faktorfaktor yang dapat menyebabkan berkembangnya infeksi TB menjadi sakit TB.
a. Usia
Anak berusia 5 tahun mempunyai risiko lebih besar mengalami progresi infeksi
menjadi sakit TB karena imunitas selulernya belum berkembang sempurna (imatur). Akan
tetapi, risiko sakit TB ini akan berkurang secara bertahap seiring dengan pertambahan usia.
Anak berusia < 5 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami TB diseminata (seperti TB
milier dan meningitis TB). Pada bayi, rentang waktu antara terjadinya infeksi dan timbulnya
sakit TB singkat (kurang dari 1 tahun) dan biasanya timbul gejala yang akut.
b. Infeksi baru yang ditandai dengan adanya konversi uji tuberkulin (dari negatif menjadi
positif) dalam 1 tahun terakhir.
c. Sosial ekonomi yang rendah, kepadatan hunian, penghasilan yang kurang, pengangguran,
pendidikan yang rendah.
d. Faktor lain yaitu malnutrisi, imunokompromais (misalnya pada infeksi HIV, keganasan,
transplantasi organ dan pengobatan imunosupresi).
e. Virulensi dari M. Tuberculosis dan dosis infeksinya.
Manifestasi Klinis
Yang termasuk manifestasi klinis antara lain demam lebih dari 2 minggu dengan penyebab yang
tidak jelas yang dapat disertai keringat malam hari, nafsu makan tidak ada (anoreksia) yang dapat
disertai penurunan berat badan, batuk lama lebih dari 3 minggu, dan malaise.
Penegakan Diagnosis
Berikut tabel sistem skoring gejala dan pemeriksaan penunjang TB
Parameter
0
1
2
Kontak TB
Tidak
Laporan

3
BTA (+)

jelas

Uji tuberkulin

Berat badan/keadaan gizi

Negatif

keluarga,
BTA (-),
tidak
tahu/tidak
jelas
-

Positif (10 mm,


atau 5 mm pada
keadaan
imunosupresi)
BB/TB
Klinis
gizi
<90% atau buruk BB/TB
BB/U
<70% atau
<80%
BB/U < 60%
2 minggu
-

Demam tanpa sebab


yang jelas
Batuk
3 minggu
Pembesaran
kelenjar
1
cm,
limfe
koli,
aksila,
jumlah >1,
inguinal
tidak nyeri
Pembengkakan
Ada
tulang/sendi
panggul,
pembengka
lutut, falang
kan
Foto rontgen toraks
Normal/
Kesan TB
Tidak jelas
Keterangan : anak didiagnosis TB jika jumlah skor 6, ( skor maksimal 13).

Pemeriksaan Penunjang
1. Uji Tuberkulin
Uji tuberkulin cara Mantoux dilakukan dengan menyuntikkan 0,1 ml PPD RT-232TU atau
PPD S 5TU, secara intrakutan di bagian volar lengan bawah. Pembacaan dilakukan 48-72 jam
setelah penyuntikan. Pengukuran dilakukan terhadap indurasi yang timbul, bukan
hiperemi/eritemanya. Indurasi diperiksa dengan cara palpasi untuk menentukan tepi
indurasi, ditandai dengan pulpen, kemudian diameter transversal indurasi diukur dengan alat
pengukur transparan, dan hasilnya dinyatakan dalani milimeter. Jika tidak timbul indurasi sama
sekali, hasilnya dilaporkan sebagai 0 mm, jangan hanya dilaporkan sebagai negative. Secara
umum, hasil uji tuberkulin dengan diameter indurasi > 10 mm dinyatakan positif tanpa
menghiraukan penyebabnya.
Pada anak balita yang telah mendapat BCG, diameter indurasi 10-15 mm dinyatakan uji
tuberkulin positif, kemungkinan besar karena infeksi TB alamiah, tetapi masih mungkin
disebabkan oleh BCGnya. Akan tetapi, bila ukuran indurasi >15 mm, hasil positif ini sangat
mungkin karena infeksi TB alamiah. Pada keadaan tertentu, yaitu tertekannya sistem imun
(imunokompromais), maka cut off-point hasil positif yang digunakan adalah 5 mm.
2. Radiologis
Gambaran foto toraks pada TB tidak khas : kelainan-kelainan radiologis pada TB dapat juga
dijumpai pada penyakit lain. Sebaliknya, foto toraks yang normal (tidak terdeteksi secara
radiologis) tidak dapat menyingkirkan diagnosis TB jika klinis dan pemeriksaan penunjang lain
mendukung. Secara umum gambaran radiologis yang sugestif TB adalah : pembesaran kelenjar
hilus dengan/tanpa infiltrate, konsolidasi segmental, milier, kalsifikasi dengan infiltrate,
atelektasis, infiltrate, efusi pleura, tuberkuloma.
3. Mikrobiologis

Diagnosis pasti TB ditegakkan bila ditemukan kuman TB pada pemeriksaan mikrobiologis.


pemeriksaan mikrobiologis yang dilakukan terdiri dari dua macam: pemeriksaan mikrobiologis
apusan langsung untuk BTA dan pemeriksaan biakan kuman M. tubercuosis
Penatalaksanaan
Pengobatan TB paru pada anak menggunakan panduan OAT terdiri dari 2 fase yaitu fase intensif
dan fase lanjutan (2RHZ/4RH)
Pada fase intensif (2 bulan) anak mendapatkan rifampisin, isoniazid, dan pirazinamid kemudian
pada fase lanjutan (4 bulan) anak mendapatkan rifampisin dan isoniazid.
Berikut tabel dosis OAT yang biasa digunakan.
Nama obat
Dosis harian Dosis
Sediaan
(mg/kgBB/hari) maksimal
(mg/hari)
Isoniazid
5-15
300
Tablet 100,
300 mg
Sirup
10
mg/ml
Rifampisin
10-15
600
Kapsul/tablet
150,
300,
450, 600 mg,
dan sirup 20
mg/ml
Pirazinamid 25-35
2000
Tablet 500
mg
Etambutol
15-20
2500
Tablet 500
mg
Streptomisi
n

15-30

1000

Vial 1 gr

Efek samping
Hepatitis,
neuritis
hipersensitivitas

perifer,

Gastrointestinal, reaksi kulit,


hepatitis,
trombositopenia,
peningkatan enzim hati, cairan
tubuh
berwarna
oranye
kemerahan.
Toksisitas
hepar,
artralgia,
gastrointestinal
Neuritis optik, ketajaman mata
berkurang, buta warna merah
hijau,
hipersensitivitas,
gastriintestinal
Ototoksisk, nefrotoksik

IKTERUS NEONATORUM
Definisi
Hiperbilirubinemia terjadinya peningkatan kadar plasma bilirubin 2 standar deviasi atau
lebih dari kadar yang diharapkan berdasarkan umur bayi atau lebih dari persentil 90.
Ikterus atau jaundice warna kuning pada kulit, konjungtiva, dan mukosa akibat
penumpukan bilirubin tak terkonjugasi (bilirubin 1) pada jaringan. Ikterus secara klinis akan
mulai tampak pada bayi baru lahir bila kadar bilirubin darah 5-7 mg/dl.
Ikterus neonatorum keadaan klinis yang ditandai oleh pewarnaan ikterus pada kulit dan
sklera akibat akumulasi bilirubin tak terkonjugasi yang berlebih.
Etiologi
a. Ikterus Fisiologis
Pada umumnya pada bayi baru lahir, kadar bilirubin tak terkonjugasi pada minggu pertama
> 2 mg/dl. Pada bayi cukup bulan yang mendapat susu formula kadar bilirubin akan
mencapai puncaknya sekitar 6-8 mg/dl pada hari-3 kehidupan dan kemudian akan menurun
cepat selama 2-3 hari diikuti dengan penurunan yang lambat sebesar 1 mg/dl selama 1
sampai 2 minggu. Pada bayi cukup bulan yang mendapat ASI kadar bilirubin puncak akan
mencapai kadar yang lebih tinggi (7-14 mg/dl) dan penurunan terjadi lebih lambat. Bisa
terjadi dalam waktu 2-4 minggu, bahkan dapat mencapai waktu 6 minggu. Pada bayi kurang
bulan, awitan ikterus terjadi lebih dini, kadar bilirubin naik perlahan tetapi dengan kadar
puncak yang lebih tinggi, serta memerlukan waktu lebih lama untuk menghilang, mencapai
2 minggu. Kadar bilirubin pada neonatus kurang bulan dapat mencapai 10-12 mg/dl pada
hari ke-5 dan masih dapat naik menjadi > 15 mg/dl tanpa adanya kelainan tertentu. Kadar
bilirubin akan mencapai < 2 mg/dl setelah usia 1 bulan, baik pada bayi cukup bulan maupun
kurang bulan. Ikterus fisiologis dapat disebabkan beberapa mekanisme :
1). Peningkatan produksi bilirubin, yang disebabkan oleh:
Masa hidup eritrosit yang lebih singkat
Peningkatan eritropoiesis inefektif
2). Peningkatan sirkulasi enterhepatik
3). Defek uptake bilirubin oleh hati
4). Defek konjugasi karena aktivitas uridin difosfat glukuronil transferase (UDPG-T)
5). Penurunan ekskresi hepatik
b. Ikterus Nonfisiologis
Keadaan di bawah ini menandakan kemungkinan ikterus nonfisiologis dan membutuhkan
pemeriksaan lebih lanjut:
Awitan ikterus sebelum usia 24 jam
Peningkatan bilirubin serum yang membutuhkan fototerapi (lihat diagram 1)
Peningkatan bilirubin serum > 5 mg/dl/24 jam atau > 0,5 mg/dl/jam
Adanya tanda-tanda penyakit yang mendasari pada setiap bayi (muntah, letargis, malas
menetek, penurunan BB yang cepat, apnea, takipnea atau suhu yang tidak stabil)
Ikterus menetap > 8 hari pada bayi cukup bulan atau > 14 hari pada bayi kurang bulan.
Diagnosis
a. Anamnesis

Riwayat keluarga ikterus, anemia, splenektomi, sferositosis, defisiensi glukosa 6-fosfat


dehidrogenase (G6PD)
Riwayat keluarga denga penyakit hati, menandakan kemungkinan galaktosemia,
defisiensi alfa-1-antitripsin, tirosinosis, hipermetionemia, penyakit Gilbert, sindrom
Crigler-Najjar tipe I dan II, atau fibrosis kistik
Riwayat saudara dengan ikterus atau anemia, mengarahkan pada kemungkinan
inkompabilitas golongan darah atau breast-milk jaundice
Riwayat sakit selama kehamilan, menandakan kemungkinan infeksi virus atau
toksoplasma
Riwayat obat-obatan yang dikonsumsi ibu, yang berpotensi menggeser ikatan bilirubin
dengan albumin (sulfonamid) atau mengakibatkan hemolisis pada bayi dengan defisiensi
G6PD (sulfonamid, nitrofurantoin, antimalaria)
Riwayat persalinan traumatik yang berpotensi menyebabkan perdarahan atau hemolisis.
Bayi asfiksia dapat mengalami hiperbilirubinemia yang disebabkan ketidakmampuan
hati memetabolisme bilirubin atau akibat perdarahan intrakranial. Keterlambatan klem
tali pusat dapat menyebabkan polisitemia neonatal dan peningkatan bilirubin
Pemberian nutrisi parenteral total dapat menyebabkan hiperbilirubinemia direk
berkepanjangan.
Pemberian ASI. Harus dibedakan antara breast-milk jaundice dan breastfeeding
jaundice.
Breast-feeding jaundice ikterus yang disebabkan oleh kekurangan asupan ASI.
Biasanya timbul pada hari ke-2 atau ke-3 pada waktu produksi ASI belum banyak.
Breast-milk jaundice ikterus yang disebabkan oleh ASI. Pada sebagian besar bayi,
kadar bilirubin turun hari ke-4, tetapi pada breast-milk jaundice, bilirubin terus naik,
bahkan dapat mencapai 20-30 mg/dl pada usia 14 hari. Bila ASI dihentikan, bilirubin
akan turun drastic dalam 48jam. Bila ASI diberikan kembali, maka bilirubin akan
kembali naik tetapi umumnya tidak setinggi sebelumnya.

b. Pemeriksaan Fisik
Hal-hal yang dapat dicari pada pemeriksaan fisik:
- Prematuritas
- Kecil masa kehamilan (KMK), kemungkinan berhubungan dengan polisitemia
- Tanda infeksi intrauterine, misalnya mikrosefali, kecil masa kehamilan
- Perdarahan ekstravaskular, misalnya memar, sefalhematom
- Pucat, berhubungan dengan anemia hemolitik atau kehilangan darah ekstravaskular
- Petekie, berkaitan dengan infeksi kongenital, sepsis, atau eritroblastosis
- Hepatosplenomegali, berkaitan dengan anemia hemolitik, infeksi kongenital, atau
penyakit hati
- Omfalitis
- Korioretinitis, berhubungan dengan infeksi kongenital
- Tanda hipotiroid
- Pemeriksaan derajat ikterus (menggunakan cahaya matahari) pada bayi baru lahir
menurut Kramer :
Zona
Bagian tubuh yang kuning
Rata-rata serum bilirubin indirek
(umol/L)
1
Kepala dan leher
100
2
Leher pusat
150
3
Pusat-paha
200

4
5

Lengan dan tungkai


Tangan dan kaki

250
>250

c. Pemeriksaan Penunjang
Bilirubin serum total. Bilirubin serum direk (bilirubin terkonjugasi) dianjurkan bila
ikterus menetap sampai usia > 2 minggu atau dicurigasi kolestatis.
Darah perifer lengkap dan gambaran apusan darah tepi untuk melihat morfologi eritrosit
dan ada tidaknya hemolisis. Hitung reikulosit bila fasilitas memadai.
Golongan darah, Rhesus dan direct Coombs test dari ibu dan bayi untuk mencari
penyakit hemolitik. Bayi dari ibu dengan Rhesus negatif harus menjalani pmeriksaan
golongan darah, Rhesus dan direct Coombs test segera setelah lahir.
Kadar enzim G6PD pada eritrosit.
Pada ikterus yang berkepanjangan, lakukan uji fungsi hati, pemeriksaan urin untuk
mencari ISK, serta pemeriksaan untuk mencari infeksi kongenital, sepsis, defek
metabolik, atau hipotiroid.
Terapi
Prinsip umum tatalaksana ikterus neonatorum adalah berdasarkan etiologi, yaitu sebagai berikut:
Semua obat atau faktor yang mengganggu metabolism bilirubin, ikatan bilirubin dengan
albumin, atau integritas sawar darah-otak harus dieliminasi.
Breastfeeding jaundice, terapi meliputi:
- Pantau jumlah ASI yang diberikan, apakah sudah mencukupi atau belum.
- Pemberian ASI sejak lahir minimal 8 kali/hari.
- Pemberian air putih, air gula, dan formula pengganti tidak diperlukan.
- Pemantauan kenaikan BB serta frekuensi BAK dan BAB.
- Jika kadar bilirubin mencapai 15 mg/dl, perlu dilakukan penambahan volume cairan dan
stimulasi produksi ASI dengan melakukan pemerasan payudara.
- Pemeriksaan komponen ASI dilakukan bila hiperbilirubinemia menetap > 6 hari, kadar
bilirubin > 20 mg/dl, atau riwayat terjadi breastfeeding jaundice pada anak sebelumnya.
Breastmilk jaundice. Terdapat dua pendapat mengenai tatalaksana ini. Kedua pilihan ini beserta
untung-ruginya harus dijelaskan secara lengkap kepada kedua orang tua dan orangtua dilibatkan
dalam mengambil keputusan.
a. American Academy of Pediatrics tidak menganjurkan penghentian ASI dan
merekomendasikan agar ASI terus diberikan.
b. Gartner dan Aurbach menyarankan penghentian ASI sementara untuk member kesempatan
hati mengkonjugasi bilirubin indirek yang berlebihan. Apabila kadar bilirubin tidak turun
maka penghentian ASI dilanjutkan sampai 24 jam dan dilakukan pengukuran kadar bilirubin
tiap 6 jam. Bila kadar bilirubin tetap meningkat setelah penghentian ASI selama 24 jam,
maka jelas penyebabnya bukan karena ASI. ASI kembali diberikan sambil mencari
penyebab hiperbilirubinemia yang lain.
Panduan terapi sinar untuk breastfeeding jaundice dan breastmilk jaundice mengacu pada
diagram 1 di bawah ini :

Diagram 1. Panduan terapi sinar untuk bayi dengan usia gestasi 35 minggu (AAP,
2004)

Keterangan Diagram 1 :
- Bilirubin yang digunakan adalah kadar bilirubin serum total.
- Faktor risiko: penyakit hemolitik isoimun, defisiensi G6PD, asfiksia, letargi, instabilitas suhu,
sepsis, asidosis, atau albumin < 3 g/dl.
- Untuk bagi dengan usia gestasi 35-37 minggu, digunakan kurva risiko medium (medium risk).
Untuk bayi dengan usia gestasi mendekati 35 minggu, dapat dipertimbangkan untuk
mengintervensi pada kadar bilirubin serum total yang lebih rendah dari cut-off point, sedangkan
untuk bayi dengan usia gestasi mendekati 37 minggu dapat dipertimbangkan untuk
mengintervensi pada kadar bilirubin serum total yang lebih tinggi dari cut-off point.
- Pada kadar bilirubin serum total lebih rendah 2-3 mg/dl dari cut-off point dapat dipertimbangkan
terapi sinar konvensional di rumah. Namun, terapi sinar di rumah tidak boleh dilakukan pada
bayi yang memiliki faktor risiko.
Panduan untuk terapi sinar dan transfusi tukar untuk bayi dengan usia gestasi 35 minggu menurut
American Academy of Pediatrics (AAP) tahun 2004 lihat Diagram 1 dan Diagram 2, sedangkan tata
laksana untuk neonates kurang bulan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Panduan terapi sinar untuk bayi prematur
Berat
Indikasi terapi sinar
Bilirubin serum total (mg/dl)
< 1000 g
Dimulai dalam 24 jam pertama
1000 1500 g
7-9
1500 2000 g
10-12
2000 2500 g
13-15

Indikasi transfusi tukar


Bilirubin serum total (mg/dl)
10-12
12-15
15-18
18-20

Diagram 2. Panduan transfusi tukar untuk bayi dengan usia gestasi 35 minggu (AAP, 2004)
Keterangan Diagram 2:
Transfusi tukar segera direkomendasikan untuk bayi yang menunjukkan tanda ensefalopati
bilirubin akut (hipertoni, arching, retrocollis, opistotonus, demam, high pitched cry) atau bila
bilirubin serum total 5 mg/dl di atas garis yang ditentukan.
Faktor risiko : penyakit hemolitik isoimun, defisiensi G6PD, asfiksia, letargi, instabilitas suhu,
sepsis, asidosis.
Periksa albumin serum dan hitung rasio bilirubin/albumin.
Bilirubin yang digunakan adalah bilirubin serum total.

Pencegahan

Setiap bayi baru lahir harus dievaluasi terhadap kemungkinan mengalami hiperbilirubinemia
berat. Evaluasi ini dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan memeriksa kadar bilirubin
serum total aatau pengkajian terhadap factor risiko secara klinis (lihat Tabel 2). Dengan
memeriksa bilirubin serum total dan memplot hasilnya pada normogram, kta dapat
mengetahui apakah bayi berada pada zona risiko rendah, menengah, atau tinggi untuk
terjadinya hiperbilirubinemia berat (lihat Diagram 3).

Tabel 2. Faktor risiko terjadinya hiperbilirubinemia berat pada bayi usia gestasi 35 minggu
A. Faktor Risiko Major
- Kadar bilirubin serum total sebelum dipulangkan berada pada zona risiko tinggi
- Ikterus terjadi pada 24 jam pertama
- Inkompabilitas golongan darah dengan uji antiglobulin direk positif atau penyakit
hemolitik lain (misalnya defisiensi G6PD)
- Usia gestasi 35-36 minggu
- Riwayat saudara kandung mendapat terapi sinar

Sefalhematom atau memar luas


ASI eksklusif, terutama bila asupan tidak adekuat dan terdapat penurunan BB
berlebih
- Ras Asia Timur
B. Faktor Risiko Minor
- Kadar bilirubin serum total sebelum dipulangkan berada pada zona risiko tinggi
sedang
- Usia gestasi 37-38 minggu
- Ikterus terjadi sebelum dipulangkan
- Riwayat saudara kandung dengan ikterus
- Bayi makrosomia dari ibu DM

Diagram 3. Normogram untuk menentukan risiko terjadinya hipebilirubinemia berat pada bayi usia
gestasi 35 minggu berdasarkan kadar bilirubin serum total dan usia

Terdapat alat noninvasif untuk memperkirakan kadar bilirubin pada kulit dan jaringan
subkutan, yaitu transcutaneus bilirubinometer. Hasil yang didapat akan berbeda dari kadar
bilirubin serum total, karena bilirubin yang diukur bukan bilirubin dalam serum, melainkan
bilirubin yang terdeposisi pada jaringan. Hasil pemeriksaan transcutaneus bilirubinometer
dipengaruhi oleh usia gestasi, keadaan sakit, edema, dan pigmentasi kulit. Penggunaan kadar
bilirubin transkutan membutuhkan normogram tersendiri.
Setiap ibu hamil harus menjalani pemeriksaan golongan darah dan faktor Rhesus.

DIARE AKUT
Definisi
Diare akut adalah buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan konsistensi cair dan
berlangsung kurang dari 1 minggu dan muncul secara mendadak. Menurut B. Soebagyo definisi
diare pada neonatus adalah buang air besar lebih dari 4 kali dalam 24 jam.
Etiologi
1. Infeksi : virus (Rotavirus, Adenovirus, Norwalk), bakteri (Shigella, Salmonella, E. coli, Vibrio),
parasit (protozoa, E. hystolitica, G. lamblia, Balantodium coli, cacing perut, askaris, trikuris,
Strongiloideus, dan jamur Candida).
2. Malabsorpsi : karbohidrat (intoleransi laktosa), lemak atau protein.
3. Makanan : makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan
4. Imunodefisiensi
5. Psikologis : rasa takut dan cemas
Pada diare akan terjadi kekurangan cairan (dehidrasi), gangguan keseimbangan asam-basa (asidosis
metabolik, hiponatremia, hipokalemia), yang secara klinis berupa pernapasan Kussmaul,
hipoglikemia, gangguan gizi dan gangguan sirkulasi.
Diagnosis
1. Anamnesis
- Lama diare, frekuensi diare, warna dan konsistensi tinja, lendir dan/atau darah dalam tinja
- Muntah, rasa haus, rewel, anak lemah, kesadaran menurun, buang air kecil terakhir, demam,
sesak, kejang, kembung untuk menentukan derajat dehidrasi
- Jumlah cairan yang masuk selama diare
- Jenis makanan dan minuman yang diminum selama diare, mengonsumsi makanan yang
tidak biasa
- Penderita diare di sekitarnya dan sumber air minum
2. Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum, kesadaran, dan tanda vital.
- Tanda-tanda utama derajat dehidrasi : keadaan umum gelisah/cengeng atau
lemah/letargi/koma, rasa haus, dan turgor kulit abdomen menurun.
- Tanda tambahan : ubun-ubun besar, kelopak mata, air mata, mukosa bibir,, mulut, dan lidah.
- Berat badan
- Tanda gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit, seperti pernapasan Kussmaul
(asidosis metabolik), kembung (hipokalemia), kejang (hipo atau hipernatremia).
- Penilaian derajat dehidrasi (lihat Tabel 1)

Tabel 1. Derajat Dehidrasi


Tanpa dehidrasi
Kehilangan
cairan tubuh

< 5%

Dehidrasi
Ringan-Sedang
5-10%

Dehidrasi
Berat
>10%

Kesadaran
UUB
cekung
Mata
cekung
Air mata
Mukosa
mulut dan
bibir
Turgor kulit
abdomen
Ekstremitas

Compos mentis
(-)

Gelisah atau cengeng


(+)

Lemah, letargi, koma


(++)

(-)

(+)

(++)

(+)
Basah

Kurang
Sedikit kering

(-)
Sangat kering

Baik

Lambat

Sangat kurang/Lambat

Akral hangat

Akral hangat

Akral dingin

3. Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan tinja tidak rutin dilakukan pada diare akut, kecuali apabila ada tanda intoleransi
laktosa dan kecurigaan amubiasis.
- Hal yang dinilai pada pemeriksaan tinja :
Makroskopis konsistensi, warna, lendir, darah, bau
Mikroskopis leukosit, eritrosit, parasit, bakteri
Biakan dan uji sensitivitas tidak dilakukan pada diare akut
- Analisis gas darah dan elektrolit bila secara klinis dicurigai adanya gangguan keseimbangan
asam basa dan elektrolit.
Tata laksana
Lima lintas diare : (1) cairan, (2) seng/zinc, (3) nutrisi, (4) antibiotik yang tepat, (5) edukasi.
1. Cairan
Diare tanpa dehidrasi
- Cairan rehidrasi oralit dengan menggunakan New Oralit diberikan 5-10 ml/kgBB setiap
diare cair atau berdasarkan usia, yaitu umur < 1 tahun sebanyak 50-100 ml, umur 1-5 tahun
sebanyak 100-200 ml, dan umur > 5 tahun semaunya. Dapat diberikan cairan rumah tangga
sesuai kemauan anak. ASI harus terus diberikan.
Komposisi New Oralit : Na+ 75 mmol/L; Cl- 65 mmol/L; Glukosa anhidrat 75 mmol/L; K +
20 mmol/L; Sitrat 10 mmol/L; Osmolaritas 245 mmol/L.
- Pasien dapat dirawat di rumah, kecuali terdapat komplikasi lain (tidak mau minum, muntah
terus menerus, diare frekuen dan profus).
Dehidrasi ringan-sedang
- Cairan rehidrasi oral (CRO) hipoosmolar diberikan sebanyak 75 ml/kgBB dalam 3 jam
untuk mengganti kehilangan cairan yang telah terjadi dan sebanyak 5-10 ml/kgBB setiap
diare cair.
- Rehidrasi parenteral (intravena) diberikan bila anak muntah setiap diberi minum walaupun
telah diberikan dengan cara sedikit demi sedikit atau melalui pipa nasogastrik. Cairan
intravena yang diberikan adalah ringer laktat atau KaEN 3B atau NaCl dengan jumlah cairan
dihitung berdasarkan berat badan. Status hidrasi dievaluasi secara berkala :
- BB 3-10 kg 200 ml/kgBB/hari
- BB 10-15 kg 175 ml/kgBB/hari
- BB > 15 kg 135 ml/kgBB/hari
- Pasien dipantau di puskesmas/rumah sakit selama proses rehidrasi sambil member edukasi
tentang melakukan rehidrasi kepada orang tua.

Dehidrasi berat
- Diberikan cairan rehdrasi parenteral dengan RL atau RA 100 ml/kgBB dengan cara
pemberian:
Umur < 12 bulan
30 ml/kgBB dalam 1 jam 70 ml/kgBB dalam 5 jam
pertama
berikutnya
Umur > 12 bulan
30 ml/kgBB dalam 0,5 jam 70 ml/kgBB dalam 2,5 jam
pertama
berikutnya
- Masukan cairan per oral diberikan bila pasien sudah mau dan dapat minum, dimulai dengan
5 ml/kgBB selama proses rehidrasi.
2. Seng
Seng terbukti secara ilmiah terpercaya dapat menurunkan frekuensi buang air besar dan volume
tinja sehingga dapat menurunkan risiko terjadinya dehirasi pada anak. Seng/zink elemental
diberikan selama 10-14 hari meskipun anak telah tidak mengalami diare dengan dosis:
Umur 0-6 bulan : 10 mg/hari
Umur > 6 bulan : 20 mg/hari
3. Nutrisi
ASI dan makanan denga menu yang sama saat anak sehat sesuai umur tetap diberikan untuk
mencegah kehilangan BB dan sebagai pengganti nutrisi yang hilang. Adanya perbaikan nafsu
makan menandakan fase kesembuhan. Anak tidak boleh dipuasakan, makanan diberikan sedikitsedikit tapi sering (lebih kurang 6x sehari), rendah serat, buah-buahan diberikan terutama
pisang.
4. Medikamentosa
- Tidak boleh diberikan obat antidiare.
- Antibiotik
Antibiotik diberikan bila ada indikasi, misalnya disentri (diare berdarah) atau kolera.
Pemberian antibiotik yang irasional akan mengganggu keseimbangan flora usus sehingga
dapat memperpanjang lama diare dan Clostridium difficile akan tumbuh yang menyebabkan
diare sulit disembuhkan. Untuk disentri basiler pilihan antibiotik sesuai data sensitivitas
setempat bila tidak ada menggunakan kotrimoksazol sebagai lini pertama (lihat Tabel 2).
Tabel 2. Pemberian antibiotic pada kasus diare

Pemberian antiparasit metronidazol 50 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis merupakan obat pilihan untuk
amuba vegetatif.

5. Edukasi
Orang tua diminta membawa kembali anaknya ke Pusat Pelayanan Kesehatan bila ditemukan
hal sbb: demam, tinja berdarah, makan atau minum sedikit, sangat haus, diare akan sering, atau
belum membaik dalam 3 hari. Orangtua dan pengasuh diajarkan cara menyiapkan oralit secara
benar. Langkah promotif/preventif:
a. ASI tetap diberikan
b. Kebersihan perorangan, cuci tangan sebelum makan
c. Kebersihan lingkungan, buang air besar di jamban
d. Imunisasi campak
e. Memberikan makanan penyapihan yang benar
f. Penyediaan air minum yang bersih
g. Selalu memasak makanan

IMUNISASI

Definisi
Imunisasi cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang terhadap suatu penyakit, sehingga
bila kelak terpajan pada penyakit tersebut ia tidak akan menjadi sakit. Imunisasi dapat diberikan
dengan imunisasi pasif dan imunisasi aktif.
Imunisasi pasif suatu pemindahan atau transfer antibodi secara pasif.
Vaksinasi imunisasi aktif dengan pemberian vaksin (antigen) yang dapat merangsang
pembentukan imunitas (antibodi) dari sistem imun di dalam tubuh.
Imunitas secara pasif dapat diperoleh dari pemberian dua macam immunoglobulin yaitu
immunoglobulin yang nonspesifik atau gammaglobulin dan immunoglobulin yang spesifik yang
berasal dari plasma donor yang sudah sembuh atau baru saja mendapatkan vaksinasi penyakit
tertentu.
Jenis Vaksinasi
1. Kuman yang telah dilemahkan/ dimatikan
Contoh yang dimatikan : Vaksin polio salk, vaksin pertusis
Contoh yang dilemahkan : vaksin BCG, vaksin polio sabin, vaksin campak
2. Zat racun (toksin) yang telah dilemahkan (toksoid)
Contoh : toksoid tetanus, toksoid difteri
3. Bagian kuman tertentu/ komponen kuman yang biasanya berupa protein khusus
Contoh : vaksin hepatitis B
Jadwal Imunisasi
Menurut Kemenkes RI
Vaksin
Pemberian

Interval

Umur

Keterangan
minimal, tdk ada
batasan maksimal
-

BCG

1 kali

0-11 bulan

DPT

3 kali

2-11 bulan

Polio (OPV)

4 kali

Campak
Hepatitis B

1 kali
3 kali

4 mg
(minimal)
4 mg
(minimal)
1 dan 6 bulan
dari suntikan
pertama

0-11 bulan
9-11 bulan
0-11 bulan

Bila bayi lahir di rumah


Umur bayi
0 bulan/langsung setelah
dilahirkan
1 bulan
2 bulan
3 bulan
4 bulan
9 bulan

Vaksin yang diberikan


Hepatitis B-1
BCG, Polio-1
DPT -1, Hep B-2, Polio-2
DPT-2, Hep B-3, Polio-3
DPT-3, Polio-4
Campak

lengkapi sebelum
umur 1 th
-

Bila bayi lahir di rumah sakit, pondok bersalin, bidan praktik atau tempat pelayanan lain
Umur bayi
0 bulan/langsung setelah
dilahirkan
2 bulan
3 bulan
4 bulan
9 bulan

Vaksin yang diberikan


Hepatitis B-1, BCG, Polio-1
DPT -1, Hep B-2, Polio-2
DPT-2, Hep B-3, Polio-3
DPT-3, Polio-4
campak

Apabila tersedia vaksin kombinasi DPT dan hepatitis B (vaksin DPT/HB), maka ada perubahan
jadwal imunisasi yaitu vaksin hepatitis B diberikan segera pada bayi lahir dengan kemasan
monovalent.
Umur bayi
0 bulan/langsung setelah
dilahirkan
2 bulan
3 bulan
4 bulan
9 bulan

Tabel 2. Jenis Vaksin


Jenis Vaksin
BCG

Hepatitis B

DTP

Polio

Campak

Dosis

Vaksin yang diberikan


Hepatitis B-1(dosis terpisah),
BCG, Polio-1
DPT/Hep B-1, Polio-2
DPT/Hep B-2, Polio-3
DPT/Hep B-3, Polio-4
Campak

Cara
pemberian
Umur < 1 tahun: Ampul dengan intrakutan
0,05 ml
bahan
pelarut
Umur > 1 tahun: NaCl 4 ml
0,1 ml
0,5 ml (10 mcg Uniject 0,5 ml;
intramuskular
HbsAg)
1,0 ml; DTP/HB
sebanyak 3 kali vial (2,5 ml/5
pemberian
dosis; 5ml/10
dosis)
0,5 ml
DTwP,
DTaP, intramuskular
DT, TT vial 5 ml
(10 dosis)

Letak
pemberian
regio deltoideus

OPV 2 tetes
IPV 0,5 ml

Oral (OPV)
Intramuskular
(IPV)

Melalui mulut

subkutan

sepertiga lengan
bagian atas/
pertengahan
muskulus

0,5 ml

Sediaan

OPV (oral polio


vaccine) vial dg
pipet tetes;
IPV (inactivated
polio vaccine)
vial 10 ml
Vial 10 dosis +
pelarut 5 ml
(aquabidest)

bagian
pertengahan paha
anterolateral/
bagian luar
bagian
pertengahan paha
anterolateral/
bagian luar
Injeksi:
bagian
pertengahan paha
anterolateral/
bagian luar

deltoideus

Jadwal Imunisasi Tahun 2011 Menurut IDAI

Referensi :
Pusponegoro HD, Dwi PW, dan Sofyan I. 2006. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam.
Jakarta : Unit Kerja Koordinasi Neurologi IDAI.
IDAI. 2010. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia Jilid 1. Jakarta : IDAI.
Setyanto Budi,D., 2008. Buku Ajar Respirologi Anak Ed.1 . Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta
Sukadi, Abdulrahman. 2008. Hiperbilirubinemia. Dalam: Buku Ajar Neonatologi. Edisi Pertama.
Penyuntinh: M. Sholeh Kosim, Ari Y, Rizalya D, Gatot IS, dan Ali Usman. Jakarta: Balai Penerbit
Ikatan Dokter Anak Indonesia. h. 147-168.
Pudjiadi, AH, Badriul Hegar, Setyo H (ed), dkk. 2011. Hiperbilirubinemia. Dalam: Pedoman
Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jilid II. Jakarta: Balai Penerbit Ikatan Dokter Anak
Indonesia.
Depkes RI. 2006. Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Soebagyo, B. 2008. Diare Akut Pada Anak. Cetakan 1. Surakarta: UNS Press.
IGN Gde Ranuh, Hariyono S, Sri Rezeki SH, dkk. 2011. Pedoman Imunisasi Di Indonesia. Edisi
Keempat. Jakarta: Balai Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Tim Penyusun. 2011. Manual Field lab: Keterampilan Imunisasi. Surakarta: Field lab Fakultas
Kedokteran UNS. h11-12.