Anda di halaman 1dari 26

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Definisi Garam Beryodium
Garam yang telah diperkaya dengan yodium yang dibutuhkan tubuh untuk membuat
hormon yang mengatur pertumbuhan dan perkembangan kecerdasaan. Garam beryodium yang
digunakan sebagai garam konsumsi harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) antara
lain mengandung yodium sebesar 30 80 ppm.
Yodium adalah salah satu mikro mineral yang amat penting dan dibutuhkan sejak dalam
kandungan, sehingga kekurangan yodium akan berakibat gangguan pertumbuhan dan kecerdasan
anak, bahkan dapat menyebabkan abortus, premature, lahir mati, kretinisme, dan lain-lain.
3.2 Pentingnya Garam Beryodium
Berbagai studi dan eksperimen yang dilakukan di banyak Negara telah membuktikan
bahwa kekurangan yodium memberikan dampak yang sangat nyata terhadap kualitas manusia
masa depan khususnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.
Anak yang kekurangan yodium akan tumbuh dan berkembang tidak optimal , seperti
pendek atau kecil, bodoh dan berbagai gangguan psikoemosional lainnya. Padahal, sudah
diketahui bahwa hanya orang-orang yang sehat dan bergizi baik yang akan mampu berperan
secara optimal dalam pembangunan. Jadi kesehatan dan gizi adalah investasi jangka panjang
dalam sebuah perjalanan panjang membangun bangsa. Anak-anak yang hari sehat dan bergizi
baik akan memimpin pembangunan bangsa dalam 20-30 tahun ke depan.
Anak-anak yang tidak sehat dan bergizi kurang pada hari ini justru akan menjadi beban
masyarakat kelak, karena rendahnya kualitas hidupnya. Dampak keberhasilan pembangunan
kesehatan dan gizi tidak bias dinilai hari ini, besok-lusa atau setahun-dua tahun ke depan, akan
tetapi 20-25 tahun ke depan. Dari kacamata managemen pembangunan yang dapat dinilai hari ini
atau esok-lusa adalah proses dan jangkauan pencapainya atau dalam istilah managemen disebut
output, sedangkan dampaknya terhadap kehidupan bangsa baru kelihatan 10-20 tahun kemudian.
Pertumbuhan dan perkembangan anak sudah dimulai sejak dalam kandungan. Untuk
keperluan tumbuh kembang itu dibutuhkan sejumlah zat gizi makro seperti hidrat arang, protein,
11

lemak dan sejumlah mineral. Disamping itu, tidak kalah pentingnya adalah zat gizi mikro, seperti
mineral yodium, selenium, tembaga, zink, vitamin A dan sejumlah vitamin lainnya.
Rendahnya asupan sebagai akibat dari rendahnya kandungan yodium pada air dan tanah
mengakibatkan terjadinya pembesaran kelenjar gondok, sehingga terjadinya pembesaran kelenjar
gondok di berbagai daerah di tanah air. Pada awal tahun 1970-an begitu rendahnya asupan
yodium penduduk sehingga hampir disemua provinsi terdapat kecamatan endemic sedang dan
berat.
3.3 Epidemiologi Kekurangan Yodium
Gangguan akibat kekurangan yodium, disingkat GAKY adalah sekelompok gejala
sebagai akibat dari kekurangan intake yodium yang berlangsung lama,gejala-gejala yang dapat
diamati antara lain:
1. Penurunan IQ poin
2. Keguguran pada ibu hamil
3. Bayi lahir mati
4. Bayi lahir kretin dimana terdapat kelainan berupa gangguan perkembangan mental,
gangguan pendengaran, gangguan alat gerak, gangguan bicara, tuli sampai bisu
5. Pembesaran kelenjar gondok
Di Indonesia sendiri

masalah GAKY merupakan salah satu masalah kesehatan yang amat

penting karena beberapa hal, antara lain karena :


1. Berkaitan erat dengan kualitas hidup manusia
2. Luas daerah yang terkena sangat luas dan meliputi hampir 100 juta penduduk di
Indonesia
3. Upaya penanggulangan yang dilakukan hampir 30 tahun belum mampu menuntaskan
masalahnya
4. Berbagai upaya penanggulangan telah dilakukan secara luas di seluruh wilayah Republik
Indonesia, mulai dari suntikan, kapsul, yodisasi garam, yodisasi air dan lain-lain.
Kekurangan yodium di Indonesia sudah dikenal sejak tahun 1927, ditemukan hampir di
seluruh wilayah Indonesia mulai dari ujung utara pulau sumatera sampai ke papua.
12

Penanggulangannya telah diupayakan sejak 1927 itu dengan memperkenalkan garam beryodium
dengan konsentrasi 1:200.000 atau 5 ppm, khususnya di daerah pegunungan Dieng dan tengger
di pulau Jawa. Kemudian, tahun 1928 diperluas ke daerah Gayo Alas di Aceh dan tahun 1933
juga meliputi keresidenan Kediri di pulau Jawa.
Simons tahun 1939 menulis bahwa pencegahan gondok dengan yodisasi garam kecil
sekali resikonya. Pada saat itu garam briket/balok mulai diproduksi di pulau Madura. Di pulau
Sumatera pada literature lama itu ditulis daerah gondok mulai dari Aceh, Siantar Binjai, Padang
panjang dan sekitar danau Singkarak. Pada tahun 1939 atau sekitar tahun 1940 kadar yodium
dalam garam ditingkatkan menjadi 1: 100.000 atau 10 ppm. Uji coba dilakukan oleh van veen di
Kintamani. Pada tahun 1953 diketahui pula adanya daerah gndok endemic yang luas di pulau
Kalimantan, bahkan sampai ke daerah pantai di Brunei. Di daerah itu ditemukan prevalensi
goiter yang bervariasi sekali, umumnya dari 1% sampai 25%, bahkan terdapat pula daerah
dengan prevalensi waktu itu yaitu 33,6%.
Perkembangan studi lebih lanjut diketahui bahwa pada penderita dengan pembesaran
kelenjar gondok ditemui pula beberapa keadaan seperti kretinisme dengan berbagai bentuk dan
variasi, seperti tuli bisu dan berbagai bentuk gangguan pertumbuhan kecerdasan mulai dari idiot
sampai ke tingkat kecerdasan yang sedikit lebih rendah dari anak normal. Banyak dan luasnya
variasi akibat kekurangan yodium, maka dikelompokkan menjadi GAKY.
Kenapa terjadi perubahan dan variasi prevalensi GAKY dari waktu ke waktu. Konsep
yang paling umum dikenal tantang kesehatan adalah konsep dari HL. Bloom, yang
mengidentifikasikan

tiga factor utama penyebab perubahan status kesehatan, yaitu factor

lingkungan, perilaku manusia, akses ke pelayanan kesehatan dan factor keturunan. Berkaitan
dengan GAKY factor utama penyebab terjadinya kekurangan yodium adalah :

Penanggulangan GAKY :
Yodisasi garam
Dis Kaps minyak beryodium
Penyuluhan, supervisi
Monitoring dan evaluasi
Koord Lintas Sektor

KETURUNAN

PREVALENSI GAKY

PERILAKU
MANUSIA
13

Lingkungan
yang Buruk

Gangguan Akibat kekurangan Yodium ( GAKY ) terjadi sebagai akibat dari rendahnya
kandungan yodium dalam bahan makanan sehari-hari karena rendahnya kandungan yodium
dalam tanah. Yodium dikenal sebagai salah satu mineral yang sangat mudah larut dalam air,
sehingga semakin tinggi curah hujan di suatu daerah maka semakin besar resiko untuk
penduduknya menderita GAKY. Keadaan ini diperburuk oleh berbagai factor sebagai berikut :
1. Lingkungan yang buruk, terutama berhubungan :
a. Pencemaran tanah sumber-sumber air dengan kotoran manusia, dan sampah,
seperti yang dilaporkan oleh Mc Carisson di India (1917)
b. Pencemaran yang mengakibatkan rendahnya kadar yodium dari sumber-sumber
makanan dari laut seperti yang dilaporkan oleh kung (1996) berkaitan dengan
rendahnya kadar yodium di laut China Selatan akibat pencemaran dari limbah
pabrik di sekitarnya
c. Timbulnya pemukiman-pemukiman baru yang padat dengan tingkat pengelolaan
lingkungan yang kurang baik
d. Rendahnya kadar selenium pada makanan. Selenium adalah salah satu bahan
pembentuk enzim yang mengatur pembentukan hormone thyroxin di kelenjar
Thyroid
2. Perilaku manusia
Perilaku mansia terutama yang berhubungan dengan :
a. Ketidak pedulian terhadap kebersihan lingkungan
b. Rendahnya pemahaman tentang pentingnya pemakaian garam beryodium
c. Rendahnya kepedulian industry, distributor dan pedagang garam terhadap resiko
dan akibat garam yang tidak beryodium yang dijualnya terhadap kualitas hidup
bangsa di masa depan
d. Ketidakseimbangan konsumsi goiterogenik agen seperti bayam, ubi kayu, kol dan
lain-lain dengan ketersediaan yodium dalam garam dan lain-lain
14

3. Pelayanan
Yang diberikan oleh Institusi terkait, seperti penyuntikan lipiodol, pendistribusian kapsul
beryodium, fortifikasi garam dan lain-lain.
4. Faktor keturunan
Menurut Prof. Dr. dr. Djokomulyanto, ketua tim penanggulangan GAKY nasional
pada pertemuan ilmiah nasional GAKY 2001, kadar yodium rendah dapat mengurangi IQ
hingga 10 poin dan kekurangan yodium berat menghilangkan 50 poin IQ. Padahal
intelegensi adalah modal utama seseorang. Masalah penurunan tingkat kecerdasan
intelegensi ini merupakan akibat GAKY yang tidak banyak disorot. Fenomenanya seperti
gunung es. GAKY biasanya hanya identik dengan penyakit gondok atau kretinisme,
padahal banyak masalah lain yang tidak kelihatan.
3.4 Sejarah Dan Perkembangan Kekurangan Yodium
Referensi tertua dikenal buku yang paling awal menulis tentang gondok diterbitkan pada
zaman Dinasty Shen Nung (2838-2698), yaitu buku Pen Tsao Tsing (pengobatan dengan daun
(rumput) dan akar). Di buku itu ditulis bahwa rumput laut sargassum sangat efektif untuk
pengobatan goiter.
Secara global masalah gondok atau kekurangan yodium sebenarnya sudah dikenal sejak
ribuan tahun yang lalu. Upaya penanggulangannya sudah dilakukan di berbagai belahan dunia
sejak ribuan tahun yang lalu.
Kekurangan yodium di Indonesia sudah diketahui sejak tahun 1927, ditemukan hampir
diseluruh wilayah Indonesia. Penanggulangannya telah diupayakan sejak 1927 itu dengan
memperkenalkan garam beryodium dengan konsentrasi 1:200.000 atau 5 ppm, khususnya
didaerah pegunungan Dieng dan Tengger di Pulau Jawa. Kemudian diperluas kedaerah Gayo
Alas di Aceh.

15

3.5 Yodium Dan Fungsinya Dalam Tubuh


Endemik goiter atau gondok endemic adalah istilah yang dikenal didunia kedokteran
adalah suatu keadaan dimana di suatu daerah terdapat sejumlah penduduk dengan berbagai
tingkat pembesaran kelenjar gondok (Thyroid enlargement) dan keadaan itu menetap sepanjang
tahun. Pembesaran itu merupakan hyperplasia dari sel-sel kelenjar gondok untuk menangkap
yodium agar kebutuhan tubuh terhadap hormone thyroxin terpenuhi.
Pada fase awal hyperplasia kelenjar Thyroid berlangsung cepat sampai terpenuhi
kebutuhan yodium untuk mencukupi produksi hormone Thyroxin. Setelah itu keadaannya
menetap. Di daerah non endemic keadaan seperti itu biasa terjadi pada awal usia pubertas, akan
tetapi keadaan itu tidak melebihi 4% remaja.
Pembesaran kelenjar gondok sangat berkaitan dengan kebutuhan tubuh akan hormone
Thyroxin, sehingga insiden pembesaran kelenjar gondok bervariasi berdasarkan umur dan jenis
kelamin. Yodium adalah salah satu mineral teramat penting untuk tubuh, disamping puluhan
mineral penting lainnya. Tubuh setiap harinya hanya membutuhkan sekitar 150-200 mikrogram,
jadi kebutuhannya sangat kecil sekali.
Di dalam tubuh, yodium diperlukan sebagai bahan baku untuk pembuatan hormone
Thyroxin oleh kelenjar gondok. Thyroxin adalah salah satu hormone penting yang mengatur
metabolisme tubuh, khususnya metabolisme ditingkat sel, sehingga kekurangan yodium akan
mengancam fungsi berbagai organ tubuh. Oleh karena itu, akibat kekurangan yodium akan
berbeda antara satu kelompok umur denagn kelompok umur lainnya, Karena berkaitan dengan
tingkat pertumbuhan yang sedang berkangsung pada setiap individu.
Apa yang akan terjadi apabila kekurangan yodium terjadi pada wanita hamil ? Gangguan
terjadi pada proses tumbuh kembang janin, terutama hambatan pertumbuhan otak dan organ
lainnya secara permanen. Bentuk yang paling sering ditemukan disamping kretinisme adalah
bisu tuli sejak lahir. Pada anak-anak yang menderita kretinisme kecerdasan seolah-olah terhenti
saat anak berusia 4-5 tahun atau bahkan kurang.
16

3.6 Penanggulangan GAKY Di Indonesia


Banyak Negara di dunia yang berhasil dalam penanggulangan GAKY, seperti Amerika
Serikat, Negara-negara di Eropa Timur, RRC dan lain-lain, akan tetapi banyak pula Negara yang
belum berhasil, pada umumnya di Negara berkembang terutama di Asia dan Afrika. Indonesia
termasuk yang belum berhasil dalam penanggulangan GAKY, keadaan ini tampak pada
pemetaan GAKY Nasional tahun 2003 dengan meningkatnya prevalensi GAKY pada anak
Sekolah Dasar dari 8,5% menjadi 10,8% dan di beberapa propinsi terlihat daerah-daerah endemic
sedang dan berat yang baru.
Untuk menanggulangi GAKY itu di Indonesia sejak tahun 1976 secara Nasional telah
dilaksanakan berbagai upaya seperti penyuntikan yodium dalam minyak (suntikan lipiodol),
fortifikasi garam konsumsi dengan yodium. Pendistribusian kapsul yodium dalam minyak. Dari
target penyuntikan sebanyak 3.952.796 jiwa selama Repelita IV telah dapat diberikan suntikan
untuk 3.547.796 penduduk atau sekitar 90% dari target.
Mulai periode tahun 1990 an diperkenalkan pemberian kapsul minyak beryodium dalam
sekali dalam setahun untuk kelompok rawan didaerah endemic berat dan sedang, disamping itu
dilakukan pula penyempurnaan monitoring dan evaluasi yodisasi garam.
Walaupun penanggulangan GAKY sudah dimulai sejak tahun 1976 yang lalu, atau lebih
dari 30 tahun yang lalu, akan tetapi prevalensi GAKY tetap saja tinggi, atau setidaknya turun
naik dari waktu ke waktu.
Rendahnya kemampuan pemerintah daerah dalam mengkoordinasikan program lintas
sektoral berkaitan :
1. Rendahnya kualitas supervise, monitoring dan evaluasi dalam program
penanggulangan GAKY
2. Tidak adanya perda yang menjadi payung hukum dalam memberikan sanksi
kepada pedagang yang nakal
17

3. Tidak adanya evaluasi tentang intensitas koordinasi lintas sektoral dalam


penanggulangan GAKY
Proyek Intensifikasi Penggulangan GAKY (IP-GAKY) telah dilaksanakan dengan dana
pinjaman Bank Dunia sejak tahun 1997 sampai tahun 2003 untuk mempercepat penurunan prevalensi
GAKY melalui pencapaian konsumsi garam beryodium untuk semua. Komponen program yang
dilaksanakan meliputi: 1) pemantauan status yodium masyarakat; 2) peningkatan konsumsi garam
beryodium; 3) peningkatan pasokan garam beryodium; 4) distribusi kapsul minyak beryodium pada
sasaran yang tepat; dan 5) pemantapan koordinasi lintas sektor dan penguatan kelembagaan
penanggulangan GAKY.

3.6.1. Garam Beryodium


A. Pegaraman di Indonesia
Berbeda dengan situasi di beberapa negara lain, pegaraman di Indonesia meliputi usaha
skala kecil (luas rata-rata kepemilikan lahan kurang dari 1 Ha per pegaram), kecuali ladang garam
milik PT Garam di Madura. Potensi lahan pegaraman tersebar di seluruh Indonesia, terkonsentrasi
di 6 propinsi: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat dan
Nusa Tenggara Timur. Teknologi pegaraman umumnya masih sederhana/tradisional dengan sistem
kristalisasi total yang menghasilkan kualitas garam rendah, dengan kadar NaCl < 88% dan
kandungan Ca dan Mg yang tinggi dan produktifitas lahan hanya sekitar 40-60 ton/Ha/musim. Di
beberapa tempat lain digunakan teknologi garam masak di mana proses kristalisasi dilakukan
dengan pembakaran dalam tungku. Uji coba pembangunan demplot pegaraman dengan sistem
kristalisasi bertingkat di 7 kabupaten pada kelompok pegaram telah berhasil meningkatkan
produktifitas sekitar 25-75% dan kualitas garam dengan kandungan NaCl mencapai 92%.
Demplot juga telah direplikasikan ke 17 kabupaten.
Setiap tahun diperkirakan kebutuhan garam konsumsi sebesar 1.025.000 ton untuk
seluruh Indonesia. Kebutuhan tersebut dipenuhi dari garam rakyat. Apabila masih dianggap
kurang, pemerintah memberikan ijin impor garam untuk konsumsi dan untuk kebutuhan lain

18

non-konsumsi, dengan syarat yang sama dengan garam rakyat, yakni kewajiban meyodisasi
garam konsumsi sebelum memasuki pasar.
B. Industri Garam Beryodium
Garam beryodium merupakan salah satu produk yang wajib menerapkan SNI, sesuai
dengan Peraturan Pemerintah No. 15 tahun 1991 tentang Standar Nasional Indonesia dan SK
Menteri Perindustrian No. 29/M/SK/2/1995 tentang Pengesahan SNI dan Penggunaan Tanda SNI
secara wajib terhadap 10 (sepuluh) macam produk industri. Syarat mutu garam konsumsi
beryodium SNI 01-3556.2-1994/Rev 2000 adalah kandungan KIO3 minimal 30 ppm. Saat ini
terdapat 366 perusahaan garam beryodium dengan 40 merek, namun hanya 236 perusahaan yang
menerapkan sistem manajemen mutu/SNI, dimana 196 perusahaan dibina pada tahun 1999-2002.
Produksi garam beyodium digunakan untuk konsumsi rumah tangga dan aneka pangan dengan
total kebutuhan lebih kurang 1.025.000 ton/tahun dan 85% perusahaan memproduksi garam
beryodium yang memenuhi syarat. Perusahaan yang belum menerapkan SNI pada umumnya
adalah industri kecil yang berada di sentra produksi yang perlu dibina sistem manajemen mutu,
pelatihan teknik produksi dan bantuan peralatan mesin yodisasi garam. Hingga saat ini telah
diberikan bantuan mesin yodisasi garam ke 44 kabupaten daerah sentra produksi garam rakyat.
C. Distribusi Garam Beryodium
Distribusi garam beryodium dari perusahaan ke masyarakat, tergantung dari kemampuan
produksi dan pemasaran dalam suasana pasar bebas. Perusahaan yang besar mampu melakukan
distribusi antar pulau dan antar propinsi, sedangkan perusahaan menengah dan kecil hanya
mampu memasarkan produknya dalam satu propinsi atau bahkan satu kabupaten/kota saja.
Pemasaran akhir umumnya melalui pengecer formal (pasar besar, supermarket, toko bahan
pangan), sampai dengan pengecer kecil di daerah perkotaan dan pinggiran kota. Sedang untuk
pasar desa di daerah-daerah terpencil umumnya sulit terjangkau oleh distributor garam
beryodium. Secara tradisional kebutuhan mereka dipenuhi distributor informal yang memasarkan
garam krosok non-yodium. Beberapa pemerintah kabupaten/kota telah mengembangkan sistem
distribusi garam beryodium melalui berbagai alternatif yang melibatkan PKK, LSM dan swasta.
Hal lain yang memerlukan perhatian ialah pemalsuan dan penipuan kandungan yodium dalam
garam. Berbagai survei kecil di beberapa kota menunjukkan masih banyak kemasan garam yang
19

mengklaim mengandung yodium, namun kandungan KIO3 kurang dari 30 ppm sebagaimana
dipersyaratkan.
D. Konsumsi Garam Beryodium
Sejak tahun 1995 sampai 2003 dilakukan survei konsumsi garam beryodium pada
masyarakat secara terus menerus oleh Badan Pusat Statistik. Penilaian konsumsi garam tingkat
rumah tangga dilakukan dengan membedakan kandungan yodium dalam garam dengan
pemeriksaan uji garam yodium cepat (iodine rapid test). Hasil penilaian memperlihatkan
prosentase rumah-tangga yang mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium cukup (>=30
ppm), kurang (<30 ppm), dan tidak mengandung yodium. Secara nasional, sejak tahun 1995
sampai dengan tahun 2003, terjadi peningkatan prosentase rumah tangga dengan konsumsi
garam beryodium secara cukup dari 49.8% menjadi 73.2%. Berdasarkan Universal Salt
Iodization/USI konsumsi garam beryodium tingkat rumah tangga cukup >=90%.
3.6.2. Kapsul Minyak Beryodium
Secara nasional telah disepekati bahwa untuk daerah-daerah endemik GAKY berat dan
sedang diberikan kapsul minyak beryodium sekali setiap tahun. kepada ibu hamil, ibu menyusui,
wanita usia subur (WUS) dan anak usia sekolah. Data cakupan distribusi kapsul minyak
beryodium pada WUS tahun 1997 sampai dengan tahun 2002 masih kurang lengkap karena tidak
semua propinsi melapor. Menurut Evaluasi Proyek IP-GAKY tahun 2003, dari sejumlah sampel
WUS di daerah endemik berat dan sedang, menunjukkan bahwa cakupan distribusi kapsul
minyak beryodium hanya sebesar 33%3). Hal ini disebabkan karena masalah pasokan kapsul
minyak beryodium yang sangat terbatas, aspek monitoring dan evaluasi yang masih lemah
sehingga data tersebut tidak dilaporkan. Dalam era desentralisasi, pengadaan kapsul minyak
beryodium diserahkan kepada daerah. Mengingat kemampuan daerah dalam hal pendanaan yang
terbatas, maka pembiayaan pengadaaan kapsul minyak beryodium menjadi berkurang.
Disamping itu juga pusat menyediakan pasokan untuk buffer stock, tetapi kemampuan pusat
yang masih rendah menyebabkan jumlah kapsul minyak beryodium juga belum dapat memenuhi
seluruh permintaan. Laporan cakupan kapsul minyak beryodium yang diterima oleh penduduk
sangat terbatas karena sistem pelaporan yang masih kurang baik.

20

3.6.3. Tujuan dan Sasaran


A. Tujuan
Tujuan Umum Rencana Aksi ini ialah pencapaian Universal Salt Iodization (USI) pada
tahun 2005 dan kelestarian USI pada tahun 2010. Tujuan umum tersebut dijabarkan ke dalam
Tujuan Khusus sebagai berikut:
1. Jangka Pendek (2004-2005)
a. Peningkatan proporsi rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium
yang cukup secara nasional di Indonesia
b. Peningkatan cakupan distribusi kapsul minyak beryodium di daerah endemis GAKY berat dan
sedang
2. Jangka Panjang (2006-2010)
a. Pelestarian proporsi rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium
yang cukup di SEMUA kabupaten/kota di Indonesia
b. Pelestarian cakupan kapsul minyak beryodium di SEMUA daerah endemic GAKY berat dan
sedang
B. Sasaran
1. Jangka Pendek (pada akhir tahun 2005):
a. Proporsi rumah tangga yang mengkonsumi garam dengan kandungan yodium yang cukup
(sebesar >=30 ppm KIO3) adalah >90% secara rata-rata nasional.
b. Median Urinary Iodine Excretion (UIE) secara rata-rata nasional ialah:
proporsi yang <100 g/L adalah sebesar <50%,
proporsi yang < 50 g/L adalah sebesar <20%
c. Rata-rata nasional cakupan kapsul minyak beryodium ialah >90% pada Wanita Usia Subur
(WUS) di daerah endemik sedang dan berat
Catatan: Masing-masing kabupaten/kota, hendaknya menyusun sasaran di wilayahnya masingmasing, disesuaikan dengan keadaan pada akhir tahun 2003 dan proyeksi perbaikannya dalam
waktu dua tahun ke depan.
2. Jangka Panjang (pada akhir tahun 2010, sesuai sasaran Indonesia Sehat 2010) :
a. Proporsi rumah tangga yang mengkonsumi garam dengan kandungan yodium yang cukup
(sebesar >=30 ppm KIO3) adalah >90%, untuk SEMUA kabupaten/kota di Indonesia
21

b. Median UIE di SEMUA kabupaten/kota di Indonesia ialah:


proporsi yang <100 g/L adalah sebesar <50%,
proporsi yang < 50 g/L adalah sebesar <20%.
c. Cakupan distribusi kapsul minyak beryodium pada WUS di SEMUA kecamatan endemis berat
dan sedang ialah >90%
d. Pencapaian minimum 8 dari 10 indikator proses yang ditetapkan WHO:
1. Pengembangan kelembagaan yang fungsional
2. Komitmen politik nasional dan lokal tentang USI
3. Organisasi pelaksana yang kuat di semua tingkatan
4. Legislasi dan regulasi tentang USI disemua tingkatan
5. Komitmen menyelenggarakan monitoring dan evaluasi dengan dukungan laboratorium yang
menyediakan data yang akurat
6. Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) dan mobilisasi sosial tentang GAKY dan perlunya
mengkonsumsi garam beryodium
7. Ketersediaan data garam beryodium secara reguler pada tingkat produsen, pasar dan
konsumen
8. Ketersediaan data UIE pada anak usia sekolah secara regular pada daerah endemik berat
9. Kerjasama dengan produsen garam untuk pengawasan mutu garam yodium
10. Database untuk mencatat hasil monitoring regular dan penyebarluasannya kepada
masyarakat, mencakup data garam beryodium dan median UIE, bila memungkinkan data Tyroid
Stimulating Hormone (TSH) neonatal.
3.6.4. Kebijakan dan Strategi
A. Kebijakan
1. Meningkatkan komitmen politik di tingkat pusat, propinsi dan kabupaten/kota melalui
advokasi, koordinasi, penyediaan dana yang berkesinambungan dan pengintegrasian upaya
penanggulangan

GAKY

dengan

program

keberlangsungan upaya penanggulangan GAKY.

22

pembangunan

dalam

rangka

menjamin

2. Meningkatkan produksi garam rakyat menuju swa sembada garam konsumsi, penerapan
teknologi baru, fasilitasi pasokan air laut dan pengamanan pasar garam rakyat dalam rangka
menjamin keberlangsungan produksi yang menguntungkan pegaram.
3. Mempercepat pemenuhan pasokan garam beryodium yang memenuhi syarat melalui
peningkatan luas lahan garam, produktifitas dan kualitas garam rakyat, pengembangan yodisasi
garam pada sentra produksi dan distribusi, pembinaan dan pengawasan produsen dan distribusi,
pemenuhan kebutuhan dan distribusi KIO3, dan kemitraan distribusi dan pemasaran garam
beryodium dalam rangka menjamin ketersediaan garam beryodium di tingkat rumah tangga.
4. Meningkatkan pemantauan kualitas garam beryodium untuk konsumsi melalui pengawasan
kualitas garam pada tingkat produksi dan distribusi, koordinasi tindak lanjut hasil pengawasan
dengan melibatkan aparat penegak hukum, koordinasi lintas batas propinsi dan kabupaten/kota,
standarisasi dan sosialisasi metode uji, penyebar luasan hasil pengawasan kepada masyarakat
luas serta peningkatan akses uji garam beryodium cepat di masyarakat dalam rangka menjamin
ketersediaan garam beryodium yang memenuhi syarat di tingkat rumah tangga.
5. Pemenuhan kebutuhan kapsul minyak beryodium untuk daerah-daerah endemik sedang dan
berat dimulai dari perencanaan, pengadaan, distribusi dan monitoring evaluasi yang disesuaikan
dengan era desentralisasi.
6. Menegakkan norma sosial dan hukum melalui promosi garam beryodium, promosi
penggunaan alat uji, penguatan sistem pemantauan penegakan hokum serta upaya tindak lanjut
hasil temuan dalam rangka meningkatkan partisipasi masyarakat dan pengusaha garam.
7. Meningkatkan kelembagaan penanggulangan GAKY yang melibatkan komponen pemerintah,
swasta, masyarakat dan asosiasi melalui peningkatan kelembagaan produksi garam rakyat,
kelembagaan produsen garam beryodium, koordinasi pengawasan distribusi garam beryodium,
koordinasi tim GAKY pusat, propinsi dan kabupaten/kota serta peningkatan kelembagaan
keilmuan dalam rangka memperkuat kapasitas dan profesionalitas lembaga.
8. Meningkatkan monitoring dan evaluasi program melalui penguatan system informasi
manajemen penanggulangan GAKY yang terintegrasi, pengembangan database, pengembangan
surveilans sentinel yang terintegrasi dengan surveilans gizi serta pembinaan kemampuan daerah
dalam pengumpulan data secara reguler dalam rangka meningkatkan efisiensi pelaksanaan
program dan memberi masukan bagi arah kebijakan penganggulangan GAKY

23

B. Strategi
1. Advokasi
Advokasi dilakukan kepada pengambil keputusan baik eksekutif, legislatif maupun
yudikatif dengan tujuan untuk memberikan pengertian dan pehamanan serta peningkatan
komitmen upaya penanggulangan GAKY. Advokasi harus dilakukan secara terus menerus dan
periodik di setiap tingkatan pemerintahan baik di tingkat pusat, propinsi maupun kabupaten/kota
2. Pemberdayaan Pegaram
Pegaram sebagai salah satu elemen kunci dalam rantai ketersediaan garam nasional harus
diberdayakan antara lain melalui peningkatan penguasaan teknologi pegaraman dan yodiasi
garam agar mampu menghasilkan garam beryodium yang memenuhi syarat. Pemberdayaan
meliputi tahap produksi, teknologi yodisasi serta pemasaran garam melalui pembentukan
kelompok dan kemitraan.
3. Pengamanan pasar garam rakyat
Pengamanan pasar garam rakyat perlu dilakukan untuk menjamin kelangsungan usaha
dan pasokan garam serta kehidupan sosial ekonomi pegaram. Pengamanan pasar garam rakyat
dilakukan melalui kemitraan kelompok pegaram, pengusaha besar termasuk PT Garam.
4. Pengawasan di tingkat produksi, distribusi dan konsumsi garam
Pengawasan kepada produsen dan distributor garam dilakukan untuk menjamin
ketersediaan garam beryodium yang berkualitas sehingga dapat dijangkau oleh rumah tangga.
Pengawasan ini harus dilakukan secara terkoordinasi antara daerah penghasil dan daerah
pengguna garam beryodium disertai dengan penindakan terhadap pelanggaran yang dilakukan
baik di tingkat produksi maupun distribusi.
5. Penegakan norma sosial dan penegakan hukum
Penegakan norma sosial dilakukan untuk memberikan pemahaman dan kesadaran kepada
seluruh stakeholder akan pentingnya garam beryodium dalam upaya penanggulangan GAKY.
Konsumen, lembaga swadaya masyarakat, penggerak masyarakat dan media masa harus
memberi tekanan kepada pihak eksekutif, legislatif, yudikatif, produsen dan distributor bagi
penyediaan garam beryodium. Penggerak masyarakat ikut mengambil peranan aktif sebagai
penekan berbagai kebijakan pemerintah serta penekan kepada produsen dan distributor garam.
Penegakan hukum lebih ditekankan pada upaya tindak lanjut oleh aparat berwenang terhadap
hasil temuan dalam pengawasan dan pemantauan ketersediaan dan mutu garam beryodium
24

6. Kemitraan
Dengan banyaknya pihak yang terlibat dalam upaya penanggulangan GAKY, maka
prinsip kemitraan harus diterapkan dalam setiap upaya yang dilakukan untuk menjamin respon
yang positif dan sinergi di antara semua stakeholder, mencakup pemerintah di semua tingkatan,
asosiasi produsen, kelompok konsumen, organisasi massa, media masa, lembaga donor, dan
lembaga terkait lainnya.
3.6.5. Upaya
A. Peningkatan Komitmen
1. Advokasi secara periodik di tingkat pusat, propinsi dan kabupaten/kota.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan dan mempertahankan komitmen
setiap stakeholder terhadap upaya penangulangan GAKY. Kegiatan yang dilakukan meliputi
penyediaan media dan sarana advokasi, pelaksanaan dan evaluasi advokasi. Advokasi dilakukan
terhadap pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten/kota baik terhadap pihak eksekutif, legislatif
maupun yudikatif; produsen, penggerak masyarakat dan konsumen; melalui pertemuan maupun
dengan memanfaatkan terbitan atau media masa lainnya.
2. Memperkuat koordinasi penanggulangan GAKY
Tujuan dari upaya ini adalah untuk mensinkronkan setiap upaya penanggulangan GAKY
agar selaras dengan kesepakatan bersama serta tukar menukar informasi termasuk koordinasi
dalam hal pembiayaan baik pembiayaan dalam negeri maupun luar negeri. Kegiatan yang
dilakukan adalah dengan mengadakan pertemuan dalam perencanaan kegiatan serta monitoring
dan evaluasi. Koordinasi dilakukan sejak penyusunan rencana, pelaksanaan, monitoring dan
evaluasi program.
3. Menyediakan dana penanggulangan GAKY secara berkesinambungan dalam APBN, APBD,
dari sektor swasta dan masyarakat.
Tujuan dari upaya ini adalah untuk menjaga kesinambungan pembiayaan program
penanggulangan GAKY di institusi/lembaga terkait. Penyediaan dana dilakukan oleh masingmasing institusi/lembaga terkait sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing
dengan mengacu pada strategi penanggulangan GAKY yang telah disepakati bersama. Peran

25

swasta dan masyarakat dalam pembiayaan sangat penting mulai dari tahap perencanaan,
produksi, distribusi, pemasaran, monitoring dan evaluasi.
4. Integrasi upaya penanggulangan GAKY dengan program pembangunan lain
Tujuan dari upaya ini adalah untuk menjamin agar penanggulangan GAKY merupakan
upaya yang terintegrasi serta merupakan bagian penting dari program pembangunan lainnya
seperti penanggulangan kemiskinan, pengembangan SDM dan pembangunan ekonomi. Kegiatan
yang dilakukan dimulai dari tahap perencanaan yaitu dengan perencanaan kegiatan
penangulangan GAKY ke dalam berbagai kegiatan di masing-masing instansi yang mendapat
pembiayaan baik dari APBN, APBD maupun sumber dana lainnya.
B. Pemberdayaan dan peningkatan sosial ekonomi pegaram
Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan produksi dan kualitas garam rakyat agar
dapat memenuhi kebutuhan garam dalam negeri sekaligus meningkatkan kesejahteraan pegaram.
Kegiatan untuk pemenuhan tujuan tersebut ialah:
1. Mengembangkan usaha bersama kelompok pegaram
2. Memasyarakatkan teknologi baru pegaraman melalui kelompok pegaraman di sentral-sentral
produksi garam rakyat termasuk pengembangan dan replikasi demplot pegaraman
3. Memfasilitasi pasokan air laut dengan membangun saluran primer pada kelompok pegaram
oleh pemerintah pusat termasuk instansi terkait seperti Departemen Perikanan dan Kelautan,
propinsi, kabupaten/kota
4. Mengamankan pasar garam rakyat melalui kemitraan antara kelompok pegaram dengan
pengusaha besar garam dan PT. Garam (dengan dukungan antara lain Dep. Perindustrian, Dep.
Perdagangan, Meneg BUMN, Menkeu, Pemerintah Propinsi dan Kabupaten/kota)
5. Meningkatkan produktivitas dan kualitas garam rakyat melalui bantuan mesin peralatan dan
pelatihan proses produksi garam bahan baku dan garam beryodium pada kelompok pegaram
6. Memperbaiki teknologi meja kristalisasi pegaraman pada kelompok pegaram tradisional
7. Melakukan pelatihan kelayakan usaha skala ekonomi produksi garam, terkait usaha
pegaraman dan usaha lain di luar pegaraman.

26

C. Percepatan pemenuhan pasokan garam beryodium


Tujuan upaya ini ialah mempercepat penyediaan garam beryodium yang memenuhi
syarat di pasaran. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi:
1. Membina dan mengawasi produsen dan distributor garam beryodium melalui pembinaan
penerapan sistem manajemen mutu dan penerapan hukum
2. Melakukan yodisasi garam di sentra-sentra produksi garam rakyat melalui kelompok pegaram.
3. Melakukan yodisasi garam di lingkungan distribusi dan pemasaran untuk konsumen di daerahdaerah konsumsi non-produksi, terutama di kabupaten/kota yang memiliki daerah endemik
GAKY.
4. Menjamin pemenuhan kebutuhan Kalium Yodat (KIO3) ke produsen garam beryodium dan
sentra produksi melalui kerja sama antara PT Kimia Farma, Asosiasi Produsen Garam
Beryodium dan Dinas Perindag propinsi dan kabupaten/kota.
5. Mengembangkan jaringan distribusi garam beryodium lintas daerah baik propinsi maupun
kabupaten/kota
D. Penegakan normal sosial (social enforcement) dan penegakan hukum (law enforcement)
Tujuan upaya ini ialah:
1. Meningkatkan komitmen pengambil keputusan di pusat, propinsi dan kabupaten/kota untuk
menjamin ketersediaan dan distibusi garam beryodium
2. Membangkitkan kepedulian pengusaha garam beryodium untuk memahami, mentaati dan
melaksanakan peraturan perundangan yang berlaku dalam memproduksi garam beryodium yang
memenuhi syarat
3. Memberdayakan masyarakat melalui elemen penggerak masyarakat untuk mengawasi dan
mengarahkan distribusi garam beryodium kepada masyarakat.
Kegiatan yang dilakukan adalah:
1. Mensosialisasikan peraturan perundangan, kebijakan pemerintah pusat, propinsi, dan
kabupaten/kota kepada pegaram, pengusaha, pemasar dan penggerak masyarakat pada umumnya.
2. Mengawasi pelaksanaan perundangan dan kebijakan lain oleh asosiasi pengusaha garam
beryodium
3. Menindak lanjuti hasil pengawasan dengan pemberian penghargaan kepada produsen dan
pedagang garam yang taat dan tindakan hukum bagi yang melanggar.
27

4. Mensosialisasikan garam beyodium uji Iodina test kepada elemen penggerak masyarakat
5. Memfasilitasi uji iodine cepat oleh elemen penggerak masyarakat dan pengumuman langsung
hasilnya kepada masyarakat setempat.
6. Memberdayakan masyarakat untuk menerima hanya garam beryodium yang memenuhi syarat
dan menolak garam yang tidak memenuhi syarat.
E. Pemantauan kualitas garam beryodium untuk konsumsi
Tujuan upaya ini ialah untuk melaksanakan sistem pemantauan kualitas garam beryodium
terintegrasi di tingkat produksi, distribusi dan konsumsi. Kegiatan yang akan dilaksanakan ialah:
1. Mensosialisasikan sistem pemantauan mutu garam beryodium dalam era otonomi daerah
secara terintegrasi antara pemantauan produksi dan distribusi garam rakyat, pengadaan dan
distribusi garam impor, produksi dan distribusi garam beryodium, pengadaan dan distribusi
KIO3 dan pemantauan mutu garam di tingkat distribusi
2. Melakukan pemantauan mutu garam di tingkat produksi, distribusi dan konsumsi.
3. Mengkoordinasikan hasil pemantauan secara periodik di tingkat produksi, distribusi dan
konsumsi serta melaksanakan tindak lanjut pembinaan, pengawasan, pengumuman kepada
masyarakat dan tindakan hukum bila diperlukan.
4. Melaksanakan pemantauan distribusi garam rakyat dan garam impor, serta pengadaan dan
distribusi KIO3
5. Menstandarisasi dan mensosialisasikan metode uji kadar yodium dengan cepat.
6. Mengadakan dan mendistribusikan peralatan dan bahan uji mutu garam ke kabupaten/kota,
masyarakat dan pengusaha.
F. Penguatan Kelembagaan Penanggulangan GAKY
Upaya ini bertujuan untuk mengembangkan dan memperkuat peranan berbagai lembaga
yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam proses penanggulangan GAKY. Kegiatan
yang dilakukan adalah:
1. Peningkatan Kelembagaan Pegaram
Tujuan upaya ini ialah mendirikan atau menguatkan lembaga agar dapat membina dan
mengembangkan teknologi produksi garam rakyat. Lembaga ini berfungsi untuk menjembatani
dan mengkoordinasikan kebijakan, program dan kegiatan antara pemerintah pusat, propinsi,
28

kabupaten/kota dengan kelompok pegaram. Kegiatan yang dilakukan oleh lembaga ini adalah
sebagai berikut:
a. Memasyarakatkan teknologi pegaraman, produksi garam bahan baku dan garam beryodium.
b. Memfasilitasi penyediaan sarana dan prasarana pegaraman.
c. Mengembangkan usaha kelompok pegaram.
d. Mengembangkan kemitraan kelompok pegaram dengan pengusaha besar, BUMN, BUMD,
sektor swasta, dan lain-lain.
e. Mengembangkan permodalan dan dana bergulir dalam kerjasama dengan instansi pemerintah,
swasta dan perbankan.
2. Peningkatan Kelembagaan Produsen Garam Beryodium
Tujuan upaya penguatan ini adalah untuk mengembangkan Asosiasi Produsen Garam Beryodium
di propinsi dan kabupaten/kota untuk mengamankan pasokan garam beryodium di masingmasing daerah.
Asosiasi ini berfungsi untuk:
a. Membina para anggota produsen garam beryodium agar memiliki komitmen untuk mematuhi
peraturan dan perundangan yang berlaku.
b. Meningkatkan pengawasan dan penindakan terhadap anggota dalam koordinasi dengan
pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten/kota.
c. Meningkatkan koordinasi pengadaan dan distribusi KIO3 dengan PT Kimia Farma.
d. Meningkatkan kemitraan dengan kelompok usaha pegaram.
3. Peningkatan Kelembagaan Distribusi Garam Beryodium
Tujuan kegiatan ini ialah untuk mengembangkan Asosiasi Pedagang Garam sebagai wahana
komunikasi, koordinasi dan pengawasan kegiatan perdagangan garam dalam propinsi dan
kabupaten/kota serta antar propinsi dan antar kabupaten/kota.
Kegiatan yang dilaksanakan adalah:
a. Distribusi garam beryodium lintas batas kabupaten/kota dan lintas batas propinsi
b. Meningkatkan pengawasan dan penindakan terhadap anggota dalam koordinasi dengan
pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten/kota.

29

c. Membantu pemerintah dan penegak hukum dalam pengawasan distribusi garam impor dan
distribusi garam beryodium lintas wilayah.
4. Penguatan TIM GAKY Pusat, Propinsi dan Kab/Kota
Tujuan dari upaya ini adalah untuk lebih mensinkronkan setiap upaya penanggulangan GAKY
yang dilakukan oleh masing-masing institusi pelaksana, mulai dari perencanaan, pelaksanaan,
pembinaan, pengawasan dan evaluasi. Beberapa kegiatan yang dilaksanakan meliputi:
a. Revitalisasi Tim GAKY dengan melibatkan instansi pemerintah, penegak hukum, asosiasi
produsen, pegaram dan pedagang, lembaga konsumen, lembaga swadaya masyarakat, perguruan
tinggi dan lain-lain.
b. Memperkuat peraturan perundangan tentang garam beryodium.
c. Menyusun rencana tahunan dan jangka panjang penanggulangan GAKY.
d. Mengkoordinasikan pelaksanaan upaya penanggulangan GAKY oleh instansi dan lembaga
terkait lainnya.
e. Meningkatkan pembinaan dan pengawasan garam beryodium termasuk penegakan hukum di
tingkat produksi dan distribusi
f. Melakukan monitoring dan evaluasi tahunan dan jangka panjang dalam upaya penanggulangan
GAKY.
5. Peningkatan Kelembagaan Keilmuan
Tujuan dari upaya ini ialah mengembangkan dan menguatkan jejaring keilmuan GAKY sebagai
forum komunikasi dan rujukan kegiatan-kegiatan keilmuan GAKY dan aplikasinya dalam
penanggulangan masalah GAKY. Kelembagaan keilmuan yang dicakup dalam upaya ini ialah:
a. Pengembangan Pusat GAKY di Universitas Diponegoro - Semarang sebagai simpul inti
jejaring keilmuan GAKY dan pengembangan pusat-pusat penelitian dan pengembangan
gizi/kesehatan yang terlibat dalam kajian GAKY di berbagai kota di Indonesia dalam kesatuan
jejaring keilmuan GAKY.
b. Pengembangan Pusat Teknologi Pegaraman di Balai Riset dan Strandarisasi Teknologi Industri
dan Perdagangan (Baristan Indag) di Semarang dan jejaring teknologi pegaraman di beberapa
tempat lain dalam kesatuan jejaring teknologi pegaraman di Indonesia.

30

c. Pengembangan Jejaring Laboratorium GAKY, dengan simpul utama di Laboratorium


GAKY/Teknologi

Kedokteran

UNDIP,

bersama-sama

simpul

Pusat

Penelitian

dan

Pengembangan Gizi Bogor, Balai Penelitian GAKY Magelang, dan berbagai potensi
laboratorium di beberapa tempat lain, dalam kesatuan jejaring kerjasama pemeriksaan
laboratorium GAKY di Indonesia.
d. Melanjutkan penerbitan jurnal oleh Pusat GAKY dan warta GAKY oleh Tim GAKY Pusat
serta publikasi tentang GAKY yang lain.
G. Pemenuhan Kebutuhan kapsul minyak beryodium di daerah endemik GAKY
Tujuan upaya ini ialah untuk mencapai pemenuhan ketersediaan kapsul minyak
beryodium secara tepat waktu di kecamatan-kecamatan endemik berat dan sedang di seluruh
Indonesia.
Kegiatan yang dilakukan adalah:
1. Merencanakan kebutuhan dan pengadaan kapsul minyak beryodium, dengan menempatkan
kapsul minyak beryodium setara dengan vaksin secara nasional.
2. Memperkuat sistem distribusi kapsul minyak beryodium, dengan pengiriman kapsul sesuai
dengan perencanaan kebutuhan di tingkat propinsi dan kabupaten/kota tepat waktu.
3. Memperkuat sistem pengiriman kapsul minyak beryodium dari tingkat propinsi dan
kabupaten/kota ke tingkat kecamatan dan desa, 2 bulan sebelum bulan pembagian kapsul minyak
beryodium.
4. Memperkuat pelaksanaan promosi kapsul 1 bulan menjelang bulan distribusi kapsul minyak
beryodium.
5. Melaksanakan pengawasan, monitoring dan evaluasi distribusi kapsul minyak beryodium.
H. Peningkatan Monitoring dan Evaluasi
Tujuan upaya ini ialah untuk meningkatkan efisiensi pelaksanaan manajemen yakni untuk
perencanaan dan monitoring dan evaluasi kegiatan penanggulangan GAKY di masa yang akan
datang. Kegiatan yang dilaksanakan adalah:
1. Memantapkan indikator monitoring dan evaluasi GAKY dalam Sistem Informasi Manajemen
GAKY (SIM GAKY) sesuai dengan Standar Pelayanan Minimum (SPM).
2. Mengembangkan surveilens GAKY sentinel yang terintegrasi dengan surveilens Gizi
31

3. Melanjutkan monitoring konsumsi garam beryodium tingkat rumah tangga secara nasional dan
reguler tiap 3 tahun sekali
4. Melakukan monitoring status GAKY setiap 3 tahun dengan indikator UIE di daerah endemik
di bawah tanggung jawab Pemerintah Daerah
5. Mengembangkan data base GAKY dalam web GIZI.NET
3.7 Prevalensi GAKY Dan Sebarannya
Saat ini di dunia diperkirakan 1,6 miliar penduduk dunia memiliki resiko kekurangan
yodium, dan 300 juta menderita gangguan mental akibat kekurangan yodium. Kira-kira 30.000
bayi lahir mati setiap tahun, dan lebih dari 12.000 bayi kretin, yakni retardasi mental, tubuh
pendek, bisu tuli atau lumpuh.
Di Indonesia berdasarkan data survey pada tahun 1980-1982, diperkirakan 75.000
menderita ktreinisme, 3,5 juta orang dengan gangguan mental, bahkan di beberapa desa 10-15%
menderita kretin. Telah dilakukan penelitian pada anak Sekolah Dasar antara tahun 1980-1982 di
26 propinsi, didapatkan prevalensi goiter lebih dari 10 % pada 68,3% dari 966 kecamatan yang
diperiksa, dan di beberapa desa lebih dari 80% penduduknya dengan gondok.
Pada tahun 1998 dilakukan pemeriksaan terhadap 46.000 anak sekolah dari 878
kecamatan yang telah diseleksi pada tahun 1980-1982, dibandingkan data terdahulu prevalensi
gondok yang terlihat menurun sekitar 37,2% sampai 50%. Survei yang sama diulangi 5 tahun
kemudian, pada tahun 2003, seperti yang dapat dilihat pada peta berikut :

32

Gambar 3.1. Peta GAKY di Asia Tenggara


Sumber : Pemetaan GAKY Kota Padang Tahun 2009
Dari peta diatas tampak bahwa propinsi Sumatera Barat berada pada posisi daerah
endemik sedang dengan prevalensi antara 20-29,9% bersama propinsi lainnya seperti Sulawesi
Barat, Jawa Timur dan lain-lain.
Dengan dilaksanakannya berbagai program penanggulangan GAKY maka prevalensi
GAKY di Indonesia menurun sejalan dengan usaha penanggulangan yang semakin intensif.
Namun demikian di beberapa daerah justru terjadi peningkatan yang signifikan.
Seseorang dikatakan normal apabila kelenjar gondok tidak teraba, sedangkan grade 1
apabila kelenjar gondok terlihat sewaktu ekstensi leher dan teraba lebih besar dari ibu jari orang
yang bersangkutan. Seseorang dikatakan menderita GAKY grade 2 apabila kelenjar gondoknya
teraba dan tampak membesar dari jarak beberapa meter.
Prevalensi GAKY diukur berdasarkan perhitungan tingkat pembesaran kelenjar gondok,
yaitu :
a. Total Goiter Rate (TGR) adalah semua kasus dengan pembesaran kelenjar gondok
(grade 1 dan 2) dibagi dengan seluruh anak yang diperiksa.
b. Visible Goiter Rate (VGR) adalah semua kasus dengan grade 2 dibagi dengan semua
anak yang diperiksa.
Tabel 3.Klasifikasi Endemisitas GAKY menurut % TGR berdasarkan warna Peta
33

TGR
Endemicity
<5%
Non Endemik
5 19.9 %
Endemik ringan
20 30 %
Endemik sedang
> 30 %
Endemik Berat
Sumber : Pemetaan GAKY Kota Padang Tahun 2009

Warna
Hijau
Kuning
Merah
Hitam

Pada survey pemetaan GAKY Nasional tahun 1998 diperoleh sebaran GAKY yang sangat
bervariasi antar propinsi dan kabupaten kota di Indonesia, dan pada survey itu ternyata propinsi
Sumatera Barat termasuk kelompok endemic sedang dengan TGR propinsi 20,5%.
Dari peta diatas tampak bahwa 4 propinsi dengan endemic berat berwarna hitam dan dua
propinsi yaitu Sulawesi Tenggara dan Sumatera Barat dengan endemic sedang dengan warna
merah. Dengan pemberian kapsul minyak beryodium sekali dalam setahun untuk kelompok
rawan di daerah endemic berat dan sedang, disamping itu dilakukan pula penyempurnaan
monitoring dan evaluasi yodisasi garam.
Hasilnya jelas sekali, telah terjadi penurunan prevalensi GAKY, dan penurunan jumlah
anak yang dilahirkan dengan gejala kretinisme, hampir disemua daerah. Akan tetapi dalam 5-10
tahun terakhir terjadi fenomena yang menarik, dimana penurunan prevalensi GAKY yang sangat
lambat, bahkan gejala meningkatnya TGR di beberapa daerah pesisir dan kepulauan, seperti
Maluku, Nusa tenggara Barat, Kota Padang dan lain-lain.
Tabel 4. Prevalensi GAKY di beberapa Kabupaten Kota Propinsi SUMBAR tahun 1998 dan
2003
Kab-Kota

1998
2003
Agam
26,1
8,7
Pesisir Selatan
27,1
3,7
Tanah Datar
23,6
3,5
Bukit Tinggi
21,3
7,3
Sawahlunto
13,2
4,7
Padang Pariaman
15,2
15,7
Padang
8,5
21,5
Pada table ini terlihat penurunan prevalensi GAKY di sebagian besar kabupaten Kota
secara bermakna, akan tetapi di daerah pantai tidak demikian dan justru meningkat secara
bermakna pula. Seperti Kota Padang dari 8,5 % menjadi 21,5%. Ikan dan makanan laut lainnya
merupakan makanan dengan kandungan yodium cukup tinggi. Akan tetapi keadaan itu tidak
selalu benar, seperti yang dilaporkan Thaha AR (2001, Kepulauan Maluku). Dimana dibeberapa
gugus pulau di Propinsi Maluku ternyata dengan prevalensi tinggi (>30%). Hal yang sama juga
34

terjadi di Hongkong seperti yang dilaporkan Kung dkk (1996) yaitu rendahnya kadar yodium
laut cina Selatan.
Tabel 5 TGR Siswa SD Menurut Kecamatan di Kota Padang Tahun 2006
Kecamatan
Padang Barat
Nanggalo
Bungus Teluk

Jumlah murid
306
313
308

Normal
74,5
78,6
55,5

Grade 1
24,5
20,8
43,2

Grade 2
1
0,6
1,3

TGR

Kabung
Padang utara
Koto Tangah
Padang

313
300
308

80,8
60
72,1

18,5
38,7
27,6

0,6
1,3
0,3

19,2
40
27,9

Selatan
Kuranji
Padang Timur
Pauh
Lubuk

305
311
329
317

67,9
80,4
79,9
85,2

32,1
19,3
20,1
14,8

0
0,3
0
0

32,1
16,6
20,1
14,8

Kilangan
Lubuk

309

74,8

19,4

5,8

25,2

Begalung
Kota Padang

3419

73,6

25,4

26,3

25,5
21,4
44,5

Tabel 6. TGR Menurut Kecamatan Kota Padang Survey Pemetaan GAKY Tahun 2009
Kecamatan
Padang Barat
Nanggalo
Bungus Teluk Kabung
Padang Utara
Koto Tangah
Padang Selatan
Kuranji
Padang Timur
Pauh
Lubuk Kilangan
Lubuk Begalung
Kota Padang

TGR 2006
25,5
21,4
44,5
19,2
40
27,9
32,1
19,6
20,1
14,8
25,2
26,4
35

TGR 2009
17,3
12,5
13,6
30,1
14,2
26,4
37,5
16,7
26,9
29,9
23,8
21,4

Dari Survey Pemetaan GAKY yang dilakukan ditemukan dua kecamatan yang masuk
kategori daerah endemic berat yaitu kecamatan Padang Utara dan kecamatan Kuranji, sedangkan
kecamatan Lubuk Kilangan berada diambang batas antara daerah endemic sedang dan berat.
Kecamataan Bungus dan kecamatan Koto Tengah merupakan kecamatan yang penurunan angka
TGR sangan tajam dari 44,5 % menjadi 13,6% dan 40% menjadi 15,19 %. Kedua kecamatan
tersebut sekarang masuk pada daerah endemic ringan.
3.8.Fungsi Kader
Adapun fungsi kader Pos Pelayanan Terpadu (Depkes RI, tahun 1990) antara lain :
1. Penyuluhan kesehatan
2. Imunisasi
3. Kesehatan Ibu dan anak
4. Peningkatan produksi pangan dan status gizi
5. Keluarga Berencana (KB)
6. Air Bersih dan kesehatan lingkungan
7. Pencegahan dan pemberantasan penyakit endemik setempat
8. Pengobatan terhadap penyakit umum dan kecelakaan

36