Anda di halaman 1dari 6

Mekanisme injury

Fraktur basis cranii merupakan fraktur akibat benturan langsung pada


daerah-daerah dasar tulang tengkorak (oksiput, mastoid, supraorbita),
transmisi energy yang berasal dari benturan pada wajah atau mandibula, atau
efek remote dari benturan pada kepala (gelombang tekanan yang
dipropagasi dari titik benturan atau perubahan bentuk tengkorak).
Tipe dari fraktur basis cranii yang parah adalah jenis ring fracture,
karena area ini mengelilingi foramen magnum, apertura di dasar tengkorak
dimana spinal cord lewat. Ring fracture komplit biasanya segera berakibat
fatal akibat cedera batang otak. Ring fracture in komplit lebih sering dijumpai
(Hooper et al 1994). Kematian biasanya terjadi seketika karena cedera batang
otak disertai dengan avulsi dan laserasi dari pembuluh darah besar pada dasar
tengkorak.
Fraktur basis cranii telah dikaitkan dengan berbagai mekanisme
termasuk benturan dari arah mandibula atau wajah dan kubah tengkorak, atau
akibat beban inersia pada kepala (sering disebut cedera tipe whiplash).
Terjadinya beban inersia, misalnya ketika dada pengendara sepeda motor
berhenti secara mendadak akibat mengalami benturan dengan sebuah objek
misalnya pagar. Kepala kemudian secara tiba-tiba mengalami percepatan
gerakan namun pada area medulla oblongata mengalami tahanan oleh foramen
magnum, beban inersia tersebut kemudian menyebabkan ring fracture. Ring
fracture juga dapat terjadi akibat ruda paksa pada benturan tipe vertikal, arah
benturan dari inferior diteruskan ke superior (daya kompresi) atau ruda paksa
dari arah superior kemudian diteruskan ke arah occiput atau mandibula.
(Referat Kepaniteraan Klinik Bagian Neurologi FK Universitas Muslim

Indonesia Makasaar 2014: Abdul Rahim)


Terapi
A. Penanganan khusus

Penanganan khusus untuk mengatasi komplikasi yang timbul, meliputi:


fistula cerebrospinali, infeksi, dan pneumocephalus dengan fistula.
Fistula cairan serebrospinal:
Mengakibatkan kebocoran cairan dari ruang subarachnoid ke
ruang extraarahcnoid, duramater, atau jaringan epitel. Yang terlihat
sebagai rinore dan otore yang akan teerlihat satu minggu setelah
dilakukan terapi konservatif, dapat dilakukan secara bed rest
dengan posisi kepala lebih tinggi. Hindari batuk, bersin dan
melakukan aktivitas berat. Dapat diberikan obat-obatan seperti
laxantia, diuretic, dan steroid.
Rinore
CSS mungkin bocor melalui sinus frontal (melalui pelat
kribrosa atau pelat orbital dari tulang frontal), melalui sinis
sfenoid, dan agak jarang melalui klivus. Penatalaksanaan
konservatif dilakukan secara bed rest dengan posisi kepala lebih
tinggi. Hindari batuk, bersin dan melakukan aktivitas berat. Dapat
diberikan obat-obatan seperti laxantia, diuretic, dan steroid.
Otore
Terjadi bila tulang petrosa mengalami fraktur, duramater
dibawahnya serta arakhnoid robek, serta membran timpanik
perforasi. Fraktura tulang petrosa diklasifikasikan menjadi
longitudinal dan tranversal, berdasar hubungannya terhadap aksis
memanjang dari piramid petrosa, namun kebanyakan fraktura
adalah campuran. Pasien dengan fraktura longitudinal tampil
dengan kehilangan pendengaran konduktif, otore, dan perdarahan
dari telinga luar. Pasien dengan fraktura transversal umumnya
memiliki

membran

timpani

normal

dan

memperlihatkan

kehilangan pendengaran sensorineural akibat kerusakan labirin.

Otore CSS berhenti spontan padas kebanyakan pasien dalam


seminggu. Insidens meningitis pasien dengan otore mungkin
sekitar 4 persen, dibanding 17 persen pada rinore CSS. Pada
kejadian jarang, dimana ia tidak berhenti, diperlukan pengaliran
lumbal dan bahkan operasi.
Infeksi
Meningitis merupakan infeksi pada fraktur basis cranii.
Penyebab paling sering dari meningitis pada fraktur basis cranii
adalah S. Pneumoniae. Profilaksis meningitis harus segera
diberikan, mengingat tingginya angka morbiditas dan mortalitas
walaupun terapi antibiotik telah digunakan. Profilaksis yang
diberikan berupa kombinasi vancomysisn dan ceftriaxone.
Pneumocephalus
Adanya udara pada cranial cavity setelah trauma yang melalui
meningens. Meningkatnya tekanan di nasofaring menyebabkan
udara masuk melalui cranial cavity melalui defek pada duramater
dan

menjadi

terperangkap.

TIK

yang

meningkat

dapat

memperbesar defek yang ada dan menekan otak dan udara yang
terperangkap. Terapi dapat berupa kombinasi dari: operasi untuk
membebaskan udara intracranial, serta memperbaiki defek yang
ada, dan tredelenburg position.
Adapun penanganan umum dari trauma kepala sendiri, meliputi:
Penatalaksanaan:
1. Pengendalian Tekanan IntraCranial
Manitol efektif untuk mengurangi edem serebral dan TIK.
Selain karena efek osmotik, manitol juga dapat mengurangi TIK

dengan meningkatkan arus microcirculatory otak dan pengiriman


oksigen. Efek pemberian bolus manitol tampaknya sama selama
rentang 0,25 sampai 1,0 g/kg.
2. Mengontrol tekanan perfusi otak
Tekanan perfusi otak harus dipertahankan antara 60 dan 70
mmHg, baik dengan mengurangi TIK atau dengan meninggikan
MAP. Rehidrasi secara adekuat dan mendukung kardiovaskular
dengan vasopressor dan inotropik untuk meningkatkan MAP dan
mempertahankan tekanan perfusi otak > 70 mmHg.
3. Mengontrol hematokrit
Aliran darah otak dipengaruhi oleh hematokrit. Viskositas
darah

meningkat

sebanding

dengan

semakin

meningkatnya

hematokrit dan tingkat optimal sekitar 35%. Aliran darah otak


berkurang jika hematokrit meningkat lebih dari 50% dan meningkat
dengan tingkat hematokrit dibawah 30.
4. Obat-obatan
Pemberian rutin obat sedasi, analgesik dan agen yang
memblokir neuromuscular. Propofol telah menjadi obat sedative
pilihan. Fentanil dan morfin sering diberikan untuk membatasi
nyeri., memfasilitasi ventilasi mekanis dan mempotensi efek sedasi.
Obat yang memblokir neuromuscular mencegah peningkatan TIK
yang dihasilkan oleh batuk dan penanganan pada endotrachealtube.
5. pengaturan suhu

Demam dapat memperberat defisit neurologis yang ada dan


dapat memperburuk kondisi pasien. Metabolisme otak akan oksigen
meningkat sebesar 6-9% untuk setiap kenaikan derajat celcius. Tiap
fase akut cedera kepala, hipertermia harus diterapi karena akan
memperburuk iskemik otak.
6. Mengontrol bangkitan
Bangkitan terjadi terutama pada orang yang telah menderita
hematoma, menembus cedera, termasuk patah tulang tengkorak
dengan penetrasi dural, adanya tanda fokal neurologis dan sepsis.
Antikonvulsan harus diberikan apabila terjadi bangkitan.
7. Kontrol cairan
NACL 0,9% dengan osmolaritas 308 mosm/l, telah menjadi
kristaloid pilihan dalam manajemen dari cedera otak. Resusitasi
dengan 0,9% saline membutuhkan 4 kali volume darah yang hilang
untuk memulihkan parameter hemodinamik.
8. Posisi kepala
Menaikkan posisi kepala dengan sudut 15-300 dapat
menurunkan TIK dan meningkatkan venous return ke jantung
9. Merujuk ke dokter bedah saraf.
4.

Trias Cushing
Trias Chusing adalah tampilan klasik pada peningkatan TIK yang disebabkan
oleh perdarahan intrakranial. Tiga gejala Chusings antara lain adanya hipertensi,

bradikardi, dan depresi pernafasan. Hal ini terjadi pada pasien dengan peningkatan
TIK yang sudah berlangsung lama dan jatuh pada kondisi gawat darurat. Trias
Chusings dapat menyebabkan defisit neurologis setempat yang dapat berkembang
menjadi massa atau herniasi.
5.

Ptosis adalah kelopak mata yang sukar terangkat atau kelopak seperti terjatuh.

6.

Lagoftalmus adalah kelopak mata yang tidak dapat menutup sempurna.

7.

Eksoftalmus adalah mata yang menonjol keluar.

8.

Interval lucid adalah adanya fase sadar diantara 2 fase tidak sadar karena
bertambahnya volume darah