P. 1
Laporan Kebijakan Moneter BI kwartal ke-1 tahun 2010

Laporan Kebijakan Moneter BI kwartal ke-1 tahun 2010

1.0

|Views: 728|Likes:
Dipublikasikan oleh Mita Oktaviyana Okta
(http://www.bi.go.id)
(http://www.bi.go.id)

More info:

Published by: Mita Oktaviyana Okta on Apr 17, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/25/2011

pdf

text

original

Sections

BANK INDONESIA

Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Tim Outlook Jangka Pendek dan Diseminasi Kebijakan Biro Kebijakan Moneter Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Telepon : +62 61 3818163 +62 21 3818206 (sirkulasi) Fax. : +62 21 3452489 E-mail : BKM_TOD@bi.go.id Website : http://www.bi.go.id

LAPORAN KEBIJAKAN MONETER
BANK INdONEsIA

LAPORAN KEBIJAKAN MONETER TRIwuLAN I-2010
Laporan Kebijakan Moneter dipublikasikan secara triwulanan oleh Bank Indonesia setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada bulan Januari, April, Juli, dan Oktober. Selain dalam rangka memenuhi ketentuan pasal 58 UU Bank Indonesia No. 23 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004, laporan ini berfungsi untuk dua maksud utama, yaitu: (i) sebagai perwujudan nyata dari kerangka kerja antisipatif yang mendasarkan pada prakiraan ekonomi dan inflasi ke depan dalam perumusan kebijakan moneter, dan (ii) sebagai media bagi Dewan Gubernur untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat luas mengenai berbagai pertimbangan permasalahan kebijakan yang melandasi keputusan kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia.

Dewan Gubernur
Darmin Nasution Hartadi A. Sarwono Siti Ch. Fadjrijah S. Budi Rochadi Muliaman D. Hadad Ardhayadi Mitroatmodjo Budi Mulya Deputi Gubernur Senior Deputi Gubernur Deputi Gubernur Deputi Gubernur Deputi Gubernur Deputi Gubernur Deputi Gubernur

i

LAPORAN KEBIJAKAN MONETER
BANK INdONEsIA

ii

LAPORAN KEBIJAKAN MONETER
BANK INdONEsIA

Langkah-langkah Penguatan Kebijakan Moneter dengan sasaran Akhir Kestabilan Harga (Inflation Targeting Frameworks)
Mulai Juli 2005 Bank Indonesia telah mengimplementasikan penguatan kerangka kerja kebijakan moneter konsisten dengan Inflation Targeting Framework (ITF), yang mencakup empat elemen dasar: (1) penggunaan suku bunga BI Rate sebagai policy reference rate, (2) proses perumusan kebijakan moneter yang antisipatif, (3) strategi komunikasi yang lebih transparan, dan (4) penguatan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah. Langkah-langkah dimaksud ditujukan untuk meningkatkan efektivitas dan tata kelola (governance) kebijakan moneter dalam mencapai sasaran akhir kestabilan harga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

strategi Kebijakan Moneter
Prinsip Dasar Kebijakan moneter dengan ITF menempatkan sasaran inflasi sebagai tujuan utama (overriding objective) dan jangkar nominal (nominal anchor) kebijakan moneter. Dalam hubungan ini, Bank Indonesia menerapkan strategi antisipatif (forward looking) dengan mengarahkan respon kebijakan moneter saat ini untuk pencapaian sasaran inflasi jangka menengah ke depan. Penerapan ITF tidak berarti bahwa kebijakan moneter tidak memperhatikan pertumbuhan ekonomi. Paradigma dasar kebijakan moneter untuk menjaga keseimbangan (striking the optimal balance) antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi tetap dipertahankan, baik dalam penetapan sasaran inflasi maupun respon kebijakan moneter, dengan mengarahkan pada pencapaian inflasi yang rendah dan stabil dalam jangka menengah-panjang. Sasaran Inflasi Pemerintah setelah berkoordinasi dengan Bank Indonesia telah menetapkan dan mengumumkan sasaran inflasi IHK setiap tahunnya. Berdasarkan KMK No.1/KMK.011/2008 sasaran inflasi untuk periode tahun 2008 – 2010, masingmasing sebesar 5,0%, 4,5%, dan 4,0% dengan deviasi ±1%. Namun demikian, berdasarkan perkembangan terkini, Bank Indonesia mengusulkan kepada Pemerintah tentang perubahan sasaran inflasi tahun 2010-2012 menjadi sebesar 5% ± 1%, 5% ± 1%, dan 4,5% ± 1%. Instrumen dan Operasi Moneter BI Rate adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan diumumkan kepada publik. BI Rate merupakan suku bunga sinyaling dalam rangka mencapai sasaran inflasi jangka menengah panjang, yang diumumkan oleh Bank Indonesia secara periodik untuk jangka waktu tertentu. Dalam rangka implementasi penyempurnaan kerangka operasional kebijakan moneter, terhitung sejak tanggal 9 Juni 2008 Bank Indonesia melakukan perubahan sasaran operasional dari suku bunga SBI 1 bulan menjadi suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N). BI Rate diimplementasikan dalam operasi moneter melalui pengelolaan likuiditas (liquidity management) di pasar uang untuk mencapai sasaran operasional kebijakan moneter yang tercermin pada perkembangan suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N). Untuk meningkatkan efektivitas pengendalian likuiditas di pasar, operasi moneter harian dilakukan dengan menggunakan seperangkat instrumen moneter dan koridor suku bunga (standing facilities). Proses Perumusan Kebijakan BI Rate ditetapkan oleh Dewan Gubernur melalui mekanisme Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan. Dalam hal terjadi perkembangan di luar prakiraan semula, penetapan stance kebijakan moneter dapat dilakukan sebelum RDG Bulanan melalui RDG mingguan. Perubahan dalam BI Rate pada dasarnya menunjukkan respons kebijakan moneter Bank Indonesia untuk mengarahkan prakiraan inflasi ke depan agar tetap berada dalam lintasan sasaran inflasi yang telah ditetapkan. Transparansi Kebijakan moneter dari waktu ke waktu dikomunikasikan melalui media komunikasi yang lazim seperti penjelasan kepada press dan pelaku pasar, website, maupun penerbitan Laporan Kebijakan Moneter (LKM). Transparansi dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman dan sekaligus pembentukan ekspektasi masyarakat atas prakiraan ekonomi dan inflasi ke depan serta respon kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia. Koordinasi dengan Pemerintah Untuk koordinasi dalam penetapan sasaran, pemantauan dan pengendalian inflasi, Pemerintah dan Bank Indonesia telah membentuk Tim yang melibatkan pejabat-pejabat dari berbagai instansi terkait. Dalam pelaksanaan tugasnya, Tim membahas dan merekomendasikan kebijakan-kebijakan yang diperlukan baik dari sisi Pemerintah maupun Bank Indonesia untuk mengendalikan tekanan inflasi dalam rangka pencapaian sasaran inflasi yang telah ditetapkkan.

iii

LAPORAN KEBIJAKAN MONETER
BANK INdONEsIA

iv

LAPORAN KEBIJAKAN MONETER
BANK INdONEsIA

daftar Isi

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan II-2009

Daftar Isi
1. Tinjauan Umum ............................................................................ 1

2. Perkembangan Makroekonomi Terkini ...................................... Perkembangan Ekonomi Dunia ...................................................... Pertumbuhan Ekonomi ....................................................................

5 5 7

Neraca Pembayaran Indonesia ......................................................... 15

3. Perkembangan dan Kebijakan Moneter Triwulan .................... 17 Nilai Tukar Rupiah ........................................................................... 17 Inflasi .............................................................................................. 19 Kebijakan Moneter ......................................................................... 21

4. Perekonomian Indonesia ke Depan ............................................ 28 Asumsi dan Skenario yang Digunakan ............................................ 28 Prospek Pertumbuhan Ekonomi ....................................................... 30 Prakiraan Inflasi ............................................................................... 37

5. Respon Kebijakan Moneter Triwulan I-2010 .............................. 39

Tabel Statistik ................................................................................... 40

ix

LAPORAN KEBIJAKAN MONETER
BANK INdONEsIA Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan II-2009

daftar Isi

x

Tinjauan Umum

1. Tinjauan Umum
Penguatan ekonomi domestik terus berlanjut didukung oleh kinerja ekonomi global yang kondusif. Aktivitas ekonomi Indonesia menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan pada triwulan IV 2009. Pada triwulan tersebut perekonomian Indonesia mampu tumbuh sebesar 5,4% (yoy), sehingga secara keseluruhan tahun 2009 perekonomian tumbuh sebesar 4,5% (yoy). Kondisi perekonomian yang semakin menunjukkan suasana optimis tersebut mendukung prospek ekonomi yang lebih baik dari perkiraan semula. Perekonomian Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan akan tumbuh mencapai kisaran 5,5%-6,0% dan pada tahun 2011 mencapai 6,0%-6,5%. Stabilitas harga masih terjaga sebagaimana tercermin pada perkembangan IHK yang rendah selama triwulan I 2010. Hal ini sejalan dengan perkiraan tekanan inflasi yang signifikan, yang belum akan muncul setidaknya sampai semester I 2010. Untuk keseluruhan tahun, inflasi IHK tahun 2010 akan berada pada kisaran sasaran sebesar 5%±1%. Bank Indonesia memandang bahwa proses pemulihan ekonomi global terus berlangsung dan semakin kuat. Ekonomi negara maju, terutama di AS dan Jepang terus membaik. Demikian juga pemulihan ekonomi Asia non-Jepang, terutama China dan India juga semakin kuat. Sementara itu, indikasi perbaikan ekonomi di Eropa mulai terlihat meski masih terbatas. Penyelesaian krisis Yunani sejauh ini direspons secara positif oleh pelaku ekonomi dan hanya berdampak terbatas di pasar finansial. Pemulihan ekonomi global yang disertai dengan perbaikan persepsi risiko memicu optimisme di pasar finansial dan pasar komoditas. Hal ini dicerminkan oleh indeks harga di bursa saham global yang mencatat kenaikan dan harga komoditas di pasar internasional yang cenderung meningkat. Aliran modal asing ke pasar keuangan emerging market terus berlangsung seiring dengan semakin membaiknya persepsi risiko. Kondisi ini mendorong penguatan nilai tukar mata uang di kawasan tersebut. Optimisme yang semakin kuat terhadap pemulihan ekonomi global dan permintaan global yang membaik, mendorong kenaikan harga berbagai komoditas. Kenaikan harga yang dibarengi oleh penguatan mata uang sejauh ini belum memicu kenaikan inflasi global secara signifikan terutama di negara maju. Dalam kondisi proses pemulihan ekonomi dunia yang belum sepenuhnya kembali normal, otoritas moneter terutama di negara maju cenderung masih menerapkan stance kebijakan moneter yang akomodatif. Sinyal kebijakan pengetatan moneter lebih banyak tampak di emerging market terkait dengan meningkatnya tekanan inflasi seiring dengan ekspansi ekonomi yang tinggi. Kinerja ekonomi domestik pada triwulan I 2010 berpotensi lebih baik dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya. Pada triwulan I 2010, ekonomi domestik diperkirakan tumbuh 5,7% (yoy). Perkembangan tersebut didukung oleh hal-hal sebagai berikut. Pertama, kinerja ekspor diperkirakan meningkat seiring dengan perbaikan ekonomi global dan membaiknya harga komoditas internasional. Kedua, konsumsi diperkirakan masih kuat didukung oleh daya beli masyarakat dan ekspektasi konsumen yang terjaga. Ketiga, sejalan dengan peningkatan ekspor dan konsumsi rumah tangga, pemulihan investasi diperkirakan lebih kuat didukung oleh berbagai upaya Pemerintah untuk mendorong proyek infrastruktur.

1

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

Selain itu, iklim investasi pada tahun 2010 yang lebih baik juga didukung oleh perbaikan sovereign credit rating Indonesia oleh S&P dari BB- ke BB. Dengan peningkatan tersebut, rating Indonesia tinggal 1 notch menuju investment grade. Keempat, sejalan dengan perbaikan kinerja di sisi eksternal, sejumlah sektor diperkirakan dapat tumbuh lebih tinggi yakni sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan. Pertumbuhan sektor industri pengolahan yang lebih tinggi didorong oleh membaiknya industri yang berorientasi ekspor dan industri otomotif. Sementara itu, pertumbuhan sektor perdagangan yang lebih tinggi sejalan dengan kenaikan kegiatan ekspor dan impor serta membaiknya kinerja industri pengolahan. Namun demikian, terdapat beberapa hal yang menjadi tantangan untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi terutama terkait dengan upaya mempercepat implementasi program-program infrastruktur dan memanfaatkan secara optimal peluang dari implementasi ASEAN-China Free Trade Agreement (AC-FTA). Berlanjutnya penguatan ekonomi juga terlihat dari perkembangan ekonomi daerah yang terus menunjukkan perbaikan. Kinerja perekonomian daerah terutama ditopang oleh perekonomian di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua (Kali-Sulampua), dan Jakarta. Sementara itu, kegiatan ekonomi di wilayah lainnya (Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara atau Jabalnustra) menunjukkan perlambatan. Kinerja ekonomi daerah yang meningkat bersumber dari peningkatan ekspor, investasi, dan konsumsi. Membaiknya kinerja ekspor di masing-masing wilayah bersumber dari kenaikan ekspor komoditas utama, seperti produk pertambangan dan CPO di Sumatera dan Kali-Sulampua, serta produk kimia di Jabalnustra. Dari sisi negara tujuan utama, ekspor masing-masing wilayah mengalami pergeseran yang semula ke Jepang, Amerika dan Eropa, beralih ke negara ASEAN dan China karena pemulihan ekonomi terutama terjadi di kawasan tersebut. Bahkan porsi ekspor Sumatera dan Kali-Sulampua ke India menunjukkan peningkatan, terutama untuk produk CPO dan batubara. Sejalan dengan peningkatan kegiatan ekonomi, investasi terindikasi menguat. Hal itu tercermin dari indikator pertumbuhan konsumsi semen dan impor barang modal yang pertumbuhannya masih positif. Dari sisi investasi Pemerintah Daerah, belanja modal juga menunjukkan peningkatan. Peningkatan investasi terutama terkait dengan proyek-proyek infrastruktur seperti perbaikan dan pembangunan jalan, bendungan, jembatan, dan bandara. Dari sisi lapangan usaha, sektor industri mengalami peningkatan terkait dengan membaiknya permintaan domestik dan eksternal. Kinerja sektor industri yang membaik tercermin dari kapasitas produksi dan impor bahan baku yang meningkat di seluruh daerah. Dari sektor pertambangan, membaiknya kinerja di sektor ini terutama bersumber dari peningkatan produksi pertambangan nonminyak dan gas (nonmigas), khususnya batubara dan tembaga, sedangkan produksi migas masih cenderung melambat. Dari sisi harga, inflasi tetap terkendali pada triwulan I 2010. Tekanan inflasi pada triwulan I 2010 cenderung rendah ditandai oleh deflasi pada Maret 2010 sebesar 0,14% (mtm), sehingga secara tahunan inflasi IHK mencapai 3,43% (yoy). Terkendalinya inflasi pada tingkat yang relatif rendah sejalan dengan kecenderungan penguatan nilai tukar rupiah dan kecukupan pasokan dalam merespons kenaikan permintaan. Selain itu, rendahnya inflasi di bulan Maret 2010 juga didukung oleh meredanya tekanan inflasi yang bersumber dari volatile food (terutama beras) karena mulainya musim panen di beberapa daerah dan minimalnya tekanan inflasi yang bersumber dari administered price.

2

Tinjauan Umum

Kinerja neraca pembayaran Indonesia (NPI) triwulan I 2010 diperkirakan masih tetap solid yang didukung oleh pemulihan ekonomi dunia. Transaksi berjalan diperkirakan akan mencatat surplus. Hal tersebut sejalan dengan kinerja ekspor yang terus membaik terutama berasal dari komoditas berbasis sumber daya alam (SDA) di antaranya batubara dan tembaga. Di sisi lain, impor juga meningkat sejalan dengan akselerasi permintaan domestik dan ekspor. Dari sisi neraca transaksi modal dan finansial (TMF) triwulan I 2010 diperkirakan juga mencatat surplus terkait dengan aliran modal masuk dan penerbitan obligasi valas pemerintah. Indikator risiko Indonesia membaik, tercermin pada indikator credit default swaps (CDS) Indonesia yang saat ini berada pada level terendah, penurunan yield spread Government Bond Indonesia dengan US Treasury Note, serta perbaikan rating Indonesia. Dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa pada akhir Maret 2010 diperkirakan mencapai 71,8 miliar dolar AS atau setara dengan 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Sejalan dengan kinerja NPI yang solid, nilai tukar rupiah cenderung menguat. Secara keseluruhan, selama triwulan I 2010 rupiah rata-rata menguat 2,2% ke level Rp9.254/USD. Pada akhir triwulan I 2010, rupiah mencapai level Rp9.090/USD atau menguat 3,7% (point to point). Penguatan nilai tukar rupiah didukung oleh kondisi fundamental makroekonomi yang kondusif, tercermin pada kinerja NPI yang cukup baik dan membaiknya persepsi risiko. Selain itu, penguatan rupiah juga didukung oleh imbal hasil rupiah tetap menarik tercermin pada uncovered interest parity (UIP), covered interest parity (CIP) dan yield spread Government Bond Indonesia yang relatif tinggi, bahkan tertinggi dibandingkan dengan negara kawasan lainnya. Penguatan rupiah yang terjadi juga diikuti oleh volatilitas nilai tukar yang relatif stabil mencapai 0,57% dibandingkan dengan triwulan IV 2009 yang mencapai 0,56%. Kinerja sektor keuangan membaik sejalan dengan pemulihan ekonomi global dan domestik. IHSG selama triwulan I 2010 mengalami penguatan yang cukup signifikan, yaitu mencapai 10,2%. Kinerja IHSG tersebut merupakan yang tertinggi di negara kawasan. Beberapa faktor yang mendorong perbaikan IHSG antara lain prospek perekonomian Indonesia yang membaik, diikuti oleh menurunnya persepi risiko, perbaikan credit rating, dan masih tingginya imbal hasil rupiah. Hal serupa juga tercermin pada indikator keuangan lainnya seperti yield SUN yang menurun. Di pasar uang antar bank, ekses likuiditas masih cukup besar sehingga mendorong suku bunga PUAB O/N mendekati koridor bawah BI Rate. Langkah Bank Indonesia memperpanjang jangka waktu SBI antara lain dalam rangka mendalamkan pasar (financial deepening) berjalan dengan baik tercermin dari menurunnya spread suku bunga tertinggi dan terendah di pasar PUAB O/N. Selain itu, porsi SBI dengan tenor 3 bulan saat ini porsinya meningkat menjadi 67,04% dari 24,64% di akhir triwulan sebelumnya. Sejalan dengan menurunnya persepsi risiko perbankan, suku bunga deposito dan kredit masih mengalami penurunan meskipun belum sebesar yang diharapkan. Ke depan, transmisi kebijakan moneter diperkirakan akan semakin membaik seiring dengan meningkatnya optimisme perbankan pada kondisi perekonomian. Di sisi mikro perbankan, kondisi perbankan nasional tetap stabil. Hal itu tercermin dari masih terjaganya rasio kecukupan modal (CAR) per Februari sebesar 19,3%. Sementara itu, rasio gross non-performing loan (NPL) tetap terkendali pada 4% dengan rasio neto NPL

3

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

sebesar 1%. Selain itu likuiditas perbankan, termasuk likuiditas di pasar uang antar bank semakin membaik. Demikian pula dana pihak ketiga (DPK) menunjukkan peningkatan. Perkembangan ekonomi global dan domestik yang membaik selama triwulan I-2010 diperkirakan akan terus berlanjut ke depan. Hal ini memperkuat keyakinan Bank Indonesia bahwa prospek perekonomian Indonesia akan lebih baik dari perkiraan semula. Pertumbuhan ekonomi pada 2010 diperkirakan mencapai kisaran 5,5%-6,0%, lebih tinggi dari perkiraan semula sebesar 5,0%-5,5%. Perbaikan ekonomi tidak hanya ditopang oleh konsumsi yang tetap kuat, tetapi juga didukung oleh peningkatan ekspor sejalan dengan pemulihan ekonomi global. Peningkatan permintaan yang dibarengi oleh perbaikan iklim investasi diperkirakan mendorong peningkatan investasi secara signifikan. Perbaikan ekonomi tersebut diperkirakan terus berlanjut pada 2011 dengan pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 6,0%-6,5%. Peningkatan permintaan yang dapat direspons sisi penawaran secara memadai diharapkan dapat menjaga tekanan inflasi ke depan pada tingkat yang rendah. Prospek ekonomi jangka menengah panjang (medium-terms) tahun 2010-2014 secara lengkap tersaji dalam Laporan Perekonomian Indonesia 2009 yang dapat diakses melalui website Bank Indonesia. Dengan mempertimbangkan bahwa tingkat BI Rate 6,5% masih konsisten dengan sasaran inflasi tahun 2010 sebesar 5%±1% dan arah kebijakan moneter saat ini juga dipandang masih kondusif bagi proses pemulihan perekonomian dan berlangsungnya intermediasi perbankan. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 6 April 2010 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 6,5% dengan koridor suku bunga sebesar +/- 50bps di sekitar BI Rate.

4

Perkembangan Makroekonomi Terkini

2. Perkembangan Makroekonomi Terkini
Berlanjutnya proses pemulihan ekonomi global turut mendukung kinerja perekonomian domestik. Selama triwulan I 2010, pemulihan ekonomi global semakin merata yang didukung oleh tetap solidnya perekonomian di kawasan Asia. Kondisi tersebut memberikan dampak positif pada perkembangan ekonomi di dalam negeri. Pada triwulan I 2010, perekonomian akan tumbuh lebih baik dari prakiraan semula yang didorong oleh adanya perbaikan ekspor serta didukung oleh adanya indikasi peningkatan investasi. Membaiknya permintaan negara mitra dagang yang disertai oleh masih tingginya harga komoditas berdampak positif pada kinerja ekspor. Sejalan dengan itu, optimisme pelaku usaha terhadap membaiknya kondisi perekonomian yang disertai dengan perbaikan iklim investasi domestik dan berbagai rencana proyek infrastruktur pemerintah berdampak pada perbaikan kinerja investasi. Sementara itu, konsumsi rumah tangga berada dalam arah yang membaik ditopang oleh masih kuatnya daya beli masyarakat serta terjaganya optimisme konsumen. Di sisi penawaran, membaiknya kinerja ekspor dan impor diprakirakan mendorong peningkatan kinerja sektor industri pengolahan serta sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Membaiknya permintaan ekspor akan memberikan kontribusi positif terhadap sektor industri pengolahan, sementara kenaikan impor akan berdampak positif terhadap kinerja sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Di sisi lain, sektor pertanian diperkirakan tumbuh melambat pada triwulan I 2010 terutama dipengaruhi oleh adanya pergeseran masa panen ke awal triwulan II 2010. Sektor lainnya yang diperkirakan akan mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi adalah sektor listrik, gas dan air bersih sejalan dengan berlanjutnya program konversi minyak tanah di beberapa daerah dan sudah mulai beroperasinya beberapa proyek listrik 10.000 MW tahap I, serta sektor pengangkutan dan komunikasi terkait dengan penetrasi bisnis usaha telekomunikasi.

PERKEMBANGAN EKONOMI DUNIA Proses pemulihan ekonomi global diperkirakan berjalan semakin pesat pada triwulan I 2010. Laju perbaikan ekonomi dunia masih disokong oleh kelompok negara berkembang khususnya Asia. Sementara perekonomian negara maju diperkirakan akan mencatatkan pertumbuhan positif meski masih dihadapkan pada tingginya angka pengangguran dan ketatnya penyaluran kredit. Di sisi lain, pemulihan negara-negara kawasan Uni Eropa sedikit tertinggal akibat krisis defisit fiskal yang melilit beberapa negara seperti Yunani serta lemahnya indikator-indikator konsumsi. Sementara itu, kinerja produksi di negara maju tumbuh solid seiring berhasilnya program stimulus fiskal yang memicu aktivitas industri serta didukung oleh rendahnya level inventory. Di negara berkembang, solidnya permintaan domestik di China menyebabkan tingginya permintaan impor di negara kawasan Asia dan memberikan efek spill-over pada pertumbuhan ekonomi kawasan Asia lainnya. Perekonomian AS pada triwulan IV-2009 tumbuh solid didorong oleh aktivitas industri yang menguat. Stimulus fiskal yang dikucurkan oleh Pemerintah AS mampu

5

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

menggerakkan produksi yang juga ditopang oleh semakin rendahnya level inventory. Ekonomi AS pada triwulan IV-2009 tumbuh sebesar 5,6% (qtq, annualize) atau sudah tumbuh positif secara year-on-year sebesar -0,1%. Melihat perkembangan tersebut, ekonomi AS pada triwulan I 2010 diprakirakan akan tumbuh positif. Berdasarkan informasi terkini, konsumsi di AS mulai menguat ditopang oleh tertahannya laju peningkatan PHK. Membaiknya konsumsi rumah tangga tercermin dari meningkatnya penjualan eceran selama 4 bulan berturut-turut. Peningkatan konsumsi tersebut juga dipicu oleh pemutusan hubungan kerja yang semakin melambat dan tertahannya peningkatan laju pengangguran yang kini mencapai 9,7%. Kondusifnya pasar tenaga kerja tercermin dari penurunan rata-rata initial jobless claim pada triwulan I 2010 sebesar 467 ribu orang dari 500 ribu orang pada triwulan sebelumnya. Selain itu, pertumbuhan negatif angka payroll juga semakin mengecil. Sisi produksi AS semakin membaik bahkan terindikasi sudah memasuki fase ekspansi. Stimulus fiskal pemerintah AS berupa pembangunan proyek infrastruktur mampu memicu aktivitas produksi AS. Di sisi lain, menguatnya penjualan eceran memicu turunnya level inventory dan direspons dengan peningkatan produksi seperti tercermin dari indeks pembelian kalangan pabrikan (PMI) dan industrial production yang meningkat. Kinerja pasar keuangan global kembali dalam tren menguat setelah sempat jatuh akibat ketidakpastian penyelesaian krisis fiskal di Eropa pada pertengahan triwulan. Optimisme investor pada pasar keuangan global terus meningkat sebagaimana tercermin pada bursa saham di negara maju yang menguat sepanjang triwulan I 2010. Namun demikian, bursa saham sempat anjlok dipicu oleh membengkaknya defisit fiskal negara GIPSY (Greece, Ireland, Portugal, Spain, dan Italy) serta ketidakjelasan solusi penyelesaiannya. Memasuki akhir triwulan I 2010, risk appetite investor kembali membaik seiring dengan solusi pendanaan defisit fiskal Yunani yang melibatkan Uni Eropa dan IMF. Pasar global juga meningkat dipicu oleh rilis data fundamental ekonomi global yang terus mengalami perbaikan dan laporan keuangan emiten yang sesuai dengan perkiraan. Proses pemulihan ekonomi Asia pada triwulan IV-2009 mengalami kemajuan pesat dan telah mencapai angka pertumbuhan positif. Sebagian besar pertumbuhan ekonomi Asia telah rebound setelah mengalami kejatuhan cukup dalam pada semester pertama tahun 2009. Beberapa negara di Asia yang perekonomiannya bertumpu pada sektor eksternal mengalami perbaikan yang signifikan seiring dengan tingginya permintaan ekspor ke China dan India. Selain itu, permintaan domestik juga cenderung meningkat yang didorong oleh positive wealth assets seiring dengan meningkatnya harga rumah dan bursa saham Asia serta tertahannya suku bunga di level yang rendah. Sementara itu, beberapa negara Asia lainnya yang perekonomiannya lebih bertumpu pada permintaan domestik terus melanjutkan tren positif. Ke depan, ekonomi China dan India masih menjadi motor utama perekonomian di Asia. Perekonomian China dan India diperkirakan masing-masing akan tumbuh sebesar 11,1% (yoy) dan 7,9% (yoy) pada triwulan I 2010. Tekanan inflasi dunia sepanjang triwulan I 2010 relatif terjaga. Berdasarkan data realisasi inflasi yang dikompositkan, tekanan inflasi dunia masih relatif stabil jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Tekanan inflasi dunia pada Maret 2010 berada pada level 3,1% (yoy), tidak berubah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Harga komoditas

6

Perkembangan Makroekonomi Terkini

internasional yang meningkat terindikasi belum memberikan tekanan inflasi seiring dengan aktivitas ekonomi dunia yang belum sepenuhnya pulih. Kebijakan moneter masih cenderung akomodatif meski sinyal pengetatan mulai terlihat di beberapa emerging market. Pada triwulan I 2010 sebagian besar Bank Sentral utama seperti Fed, BoJ, dan ECB masih menahan kenaikan suku bunga sebagai upaya mendorong pemulihan ekonomi domestik. The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga di kisaran 0%-0,25% terkait masih tingginya angka pengangguran dan masih terjaganya prakiraan inflasi. Sementara ECB tetap mempertahankan suku bunga pada level 1,0% untuk memberikan iklim kondusif pada penyelesaian krisis defisit fiskal Yunani. Di sisi lain, BoJ meningkatkan 3 month loan facility menjadi 20 triliun yen (222 milliar dolar AS), dua kali lipat dari sebelumnya untuk mendorong terjadinya inflasi pada jangka menengah meskipun suku bunga masih bertahan di level yang rendah yakni sebesar 0,1%. Beberapa bank sentral negara berkembang Asia dan bank sentral negara maju mulai beralih menempuh kebijakan ketat. Sinyal pengetatan moneter terlihat jelas di negara China dan India yang menaikkan giro wajib minimumnya masing-masing 100bps dan 75bps sepanjang triwulan I 2010. Beberapa bank sentral Asia yang sudah menaikkan suku bunga acuannya diantaranya Malaysia dan India. Bank sentral negara maju seperti Australia dan Israel juga sudah menaikkan suku bunga acuannya seiring tekanan inflasi yang meningkat serta ekonomi yang sudah berekspansi.

PERTUMBUHAN EKONOMI Permintaan Agregat Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2010 diprakirakan semakin membaik. Peningkatan kinerja ekspor yang cukup tinggi dan masih kuatnya konsumsi rumah tangga mampu mendorong berlanjutnya perbaikan pertumbuhan ekonomi. PDB triwulan I 2010 diprakirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yakni mencapai 5,7% (yoy). Hal tersebut didukung oleh perkembangan indikator penuntun PDB yang mengindikasikan peningkatan (Grafik 2.1).
����� ����� ����� ����� ���� ���� ����
��������������������� ��������������������������������������������������������� ���������������������������������������������������������������������� ����������������������������� ����������������������������������������������������������������������������� �������������������������������������������������������������������������

�������������������������������������������������������

Pertumbuhan PDB diperkirakan meningkat dengan bertopang pada
����� ����� �����

���������

���������������

perbaikan ekspor dan konsumsi rumah tangga (Tabel 2.1). Kinerja ekspor diprakirakan tumbuh semakin membaik seiring dengan perbaikan ekonomi global dan masih tingginya harga komoditas internasional. Impor juga diprakirakan tumbuh lebih tinggi sebagai respons dari membaiknya permintaan eksternal terhadap komoditas industri pengolahan. Sejalan dengan perbaikan kinerja ekspor, investasi diperkirakan akan meningkat, baik berupa investasi yang dilakukan pemerintah maupun swasta. Sementara itu, konsumsi berada dalam arah yang membaik meskipun angka pertumbuhannya pada triwulan I 2010 diprakirakan melambat. Hal tersebut lebih dipengaruhi oleh base effect factor periode tahun sebelumnya yang tumbuh tinggi terkait Pemilu Legislatif.

����
�������������������� ���� ����� ������������������� ���� �����

���� ����

� �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� �

����

����

����

����

����

����

����

���� ����

Grafik 2.1 Indikator Penuntun PDB

7

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

Tabel 2.1 Pertumbuhan Ekonomi - Sisi Permintaan
Indikator
Total Konsumsi Konsumsi Swasta Konsumsi Pemerintah Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto Ekspor Barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa PDB
* Angka Proyeksi Bank Indonesia Sumber : BPS

2007
4,9 5,0 3,9 9,4 8,5 9,0 6,3

2008
I
5,5 5,7 3,6 13,9 13,6 18,0 6,2

II
5,5 5,5 5,3 12,2 12,4 16,1 6,3

III
6,3 5,3 14,1 12,3 10,6 11,1 6,2

IV
6,4 4,8 16,4 9,4 2,0 -3,7 5,3

2008
5,9 5,3 10,4 11,9 9,5 10,0 6,0

2009
I
7,3 6,0 19,2 3,5 -18,7 -24,4 4,5

II
6,3 4,8 17,0 2,4 -15,5 -21,0 4,1

III
5,4 4,7 10,3 3,2 -7,8 -14,7 4,2

IV
5,9 4,0 17,0 4,2 3,7 1,6 5,4

2009
6,2 4,9 15,7 3,3 -9,7 -15,0 4,5

2010
I*
4,4 3,4 12,3 6,9 19,0 21,1 5,7

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan I 2010 diprakirakan masih akan tumbuh positif. Hal tersebut dikonfirmasikan oleh pergerakan indikator penuntun konsumsi rumah tangga yang terus mengindikasikan perbaikan (Grafik 2.2). Membaiknya konsumsi rumah tangga didukung oleh daya beli
������������������������������������������������������������ ��� ��� ��� ��� ��� ��� �� �� �� ����������������������������������
� �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� �

masyarakat yang masih cukup kuat. Kenaikan UMP dengan rata-rata
����� ����� ����� ����� ���� ���� ���� ���� ����

����������

���������������

sebesar 8,8% (yoy) pada awal tahun 2010 yang juga disertai kenaikan gaji PNS, TNI, dan Polri sebesar 5% menjadi salah satu faktor yang menopang perbaikan daya beli masyarakat. Pergerakan nilai tukar petani dan upah buruh hingga Februari 2010 yang relatif stabil menjadi salah satu indikator yang menunjukkan masih cukup kuatnya penghasilan masyarakat. Sementara itu, optimisme masyarakat terhadap pendapatan yang diterimanya berpotensi mendorong kenaikan konsumsi rumah tangga lebih lanjut. Indikasi membaiknya konsumsi rumah tangga juga terlihat dari penyaluran kredit konsumsi oleh perbankan yang meningkat. Namun, jika dibandingkan dengan realisasi konsumsi rumah tangga triwulan I 2009, pertumbuhan konsumsi rumah tangga periode laporan diprakirakan lebih rendah daripada konsumsi triwulan I 2009 tersebut terkait dengan tingginya pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit menjelang Pemilu Legislatif (base effect factor). Berdasarkan perkembangan tersebut, konsumsi rumah tangga pada triwulan I 2010 diprakirakan masih tumbuh positif sebesar 3,4% (yoy). Perkembangan beberapa indikator dini juga turut mendukung perbaikan konsumsi rumah tangga pada triwulan I 2010. Konsumsi barang tahan lama seperti penjualan mobil, sepeda motor, dan barang elektronik masih mencatat pertumbuhan yang tinggi (Grafik 2.3). Indeks penjualan eceran (IPE) Februari 2010 tercatat sebesar 209,2 atau tumbuh mencapai 41,3% (yoy), meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 40,3% (yoy). Pertumbuhan IPE tersebut

����

����

����

����

����

����

����

���� ����

Grafik 2.2 Indikator Penuntun Konsumsi Rumah Tangga

Grafik 2.3 Pert. Penjualan Barang Elektronik

ditopang oleh terus membaiknya beberapa kelompok komoditas seperti makanan dan tembakau, pakaian dan perlengkapan, serta peralatan tulis. Di sisi lain, indeks keyakinan konsumen juga bergerak membaik.

8

Perkembangan Makroekonomi Terkini

Perbaikan pertumbuhan konsumsi juga tercermin dari kenaikan
�������������������������������������������������������������� ��� ��� ��� ��� ��� ��� �� �� �� �������������������������������������������������������������������������� �� �� ���� �� �� ���� �� �� ���� �� �� ���� �� �� ���� �� �� ���� �� �� � ��� � ���� ���� ����

pertumbuhan impor barang konsumsi hingga Februari 2010. Searah dengan hal tersebut, indikator yang terkait dengan pembiayaan konsumsi seperti pertumbuhan M1 riil juga menunjukkan tren yang meningkat. Kinerja investasi diprakirakan tumbuh meningkat pada triwulan I 2010 sebagai dampak berlanjutnya perbaikan permintaan domestik dan eksternal. Perbaikan pertumbuhan investasi tersebut sejalan dengan perkembangan indikator penuntun investasi yang menunjukkan peningkatan investasi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (Grafik 2.4). Peningkatan investasi juga tercermin dari impor barang modal (Grafik 2.5) yang tumbuh membaik dan realisasi investasi bangunan sebagaimana ditunjukkan oleh masih tingginya konsumsi semen. Sementara itu, terjaganya optimisme pelaku usaha terkait dengan perkiraan kenaikan order luar negeri dan iklim investasi yang kondusif berdampak positif mendorong kenaikan investasi pada

������������������������������� �����������������������������

����

���

Grafik 2.4 Indikator Penuntun Investasi

�� �� �� �� � � � � �

��������

�����

��� ��� ��� ��

triwulan I 2010. Sejalan dengan perkembangan tersebut, investasi pada triwulan I 2010 diprakirakan akan tumbuh sebesar 6,9% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Dilihat dari strukturnya, pangsa utama pertumbuhan investasi pada triwulan I 2010 diperkirakan masih didominasi oleh investasi bangunan. Peningkatan pertumbuhan investasi didukung oleh perkembangan berbagai indikator dini investasi. Investasi nonbangunan mengindikasikan perbaikan yang tercermin dari impor barang modal yang cenderung meningkat hingga Februari 2010. Pola yang sama juga tercermin pada pertumbuhan konsumsi semen (Grafik 2.6) yang membaik hingga Februari 2010 sejalan dengan bergulirnya realisasi sektor bangunan dan proyek infrastruktur. Selain itu, perkembangan kegiatan investasi tersebut sejalan dengan perkembangan realisasi PMA dan PMDN yang cenderung membaik hingga akhir tahun 2009. Hal tersebut didukung informasi BKPM bahwa realisasi investasi PMA pada

�����

�� �� �� �

��������������������� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ���� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ���� ����

��� ���

Grafik 2.5 Pertumbuhan Impor Barang Modal

�� �� �� �� � � � � �

��������

�����

�� �� �� �� �� �� � � �� ��� ���

triwulan I 2010 diperkirakan meningkat pada kisaran 9,2 – 11,7 miliar dolar AS dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2009. Selain itu, peningkatan investasi didukung oleh perbaikan pada sisi pembiayaan sebagaimana ditunjukkan oleh pertumbuhan kredit investasi yang mulai membaik (Grafik 2.7). Semakin membaiknya kondisi perekonomian negara mitra dagang dan harga komoditas mendorong kinerja ekspor tumbuh meningkat. Hal tersebut tercermin dari kenaikan permintaan negara maju seperti Amerika dan negara emerging markets terutama China (Grafik 2.8). Tren peningkatan indeks produksi, tingkat kepercayaan konsumen serta sentimen bisnis negara G3 dan China hingga Februari

����� ����������������� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ���� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ���� ����

���

Grafik 2.6 Pertumbuhan Konsumsi Semen

9

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

2010 juga mendukung akselerasi pertumbuhan ekspor. Selain itu, harga
������� �� �� �� �� �� �� � � �� ��� ����������������� ������������ �� � � �� ������� ��

komoditas yang cenderung meningkat di pasar internasional turut berdampak positif pada tingginya volume perdagangan global yang tercermin dari indeks Baltic Dry. Perdagangan dengan negara lainnya seperti India juga diperkirakan semakin membaik sehubungan dengan disepakatinya Free Trade Agreement (AI-FTA) negara-negara ASEAN dengan India serta mulai diimplementasikannya ACFTA secara penuh pada awal tahun 2010. Data ekspor BPS terkini mencatat nilai ekspor pada Februari 2010 mencapai 11,20 miliar dolar AS atau meningkat tajam 57,05% (yoy) dibandingkan dengan Februari 2009. Berdasarkan perkembangan tersebut, ekspor pada triwulan I 2010 diperkirakan tumbuh meningkat yaitu sebesar 19,0% (yoy). Sejalan dengan hal tersebut, pertumbuhan ekspor non migas masih ditopang oleh ekspor komoditas primer berupa produk pertambangan seperti batubara dan produk hasil industri seperti minyak kelapa sawit. Tren positif pertumbuhan impor diprakirakan berlanjut pada

��
����

���

��

��
����

���

��

��

���
����

��


����

Grafik 2.7 Pertumbuhan Kredit Investasi dan PMTB

���

������� ������������������ ��������������� ���������������� �������������������

�������

�� �� �� � � �� ���

triwulan I 2010 sejalan dengan masih kuatnya permintaan domestik dan peningkatan permintaan eksternal. Hal tersebut ditunjukkan oleh pergerakan indikator penuntun impor yang membaik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (Grafik 2.9). Setelah menunjukkan tren positif pada akhir tahun, pada Februari impor kembali menunjukkan peningkatan baik secara tahunan maupun bulanan. Berdasarkan data BPS, nilai impor pada Februari 2010 mencapai 9,50 miliar dolar AS atau meningkat sebesar 63,23% (yoy) dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan perkembangan tersebut, impor pada triwulan I 2010 diperkirakan tumbuh mencapai 21,1% (yoy). Pangsa pertumbuhan impor terutama masih bersumber dari impor bahan baku/penolong yang tumbuh membaik. Dilihat dari golongan komoditas HS 2 dijit, pertumbuhan nilai impor pada Februari 2010 didorong oleh pertumbuhan impor beberapa komoditas yang terkait dengan penambahan kapasitas produksi seperti

���

��

� � ��� ���� ���� ���� ���� �� ��� �� � �� ��� �� � �� ��� �� ���

��� ��� ���

Grafik 2.8 Pertumbuhan Ekspor ke Negara Maju

��� ��� ��� ��� ��� ��� �� �� �� �� ��

����������������������������������������������������������� ���� ��������� ��������������
������������������������������� �������������������������������

����� ����� ����� ����� ����� �����

mesin/pesawat mekanik serta mesin dan peralatan listrik.

Operasi Keuangan Pemerintah Realisasi kinerja operasi keuangan Pemerintah selama JanuariFebruari 2010 diwarnai oleh pencapaian target APBN yang lebih baik untuk penerimaan dan belanja negara dibandingkan tahun 2009. Sebagaimana pola di tahun-tahun sebelumnya, realisasi APBN di dua bulan pertama 2010 mencatat surplus anggaran dan jumlah surplus di 2010 tersebut relatif sama dibandingkan tahun 2009. Namun demikian, realisasi pendapatan dan belanja negara tersebut terhadap targetnya,mengalami perbaikan dibandingkan dengan tahun lalu. Penerimaan dan hibah negara telah mencapai 11,4% dari target APBN, atau lebih tinggi dari tahun

������� ���������
������������������������������������������������������������������������������������� ������������������������������������������������������������������ ���������������������������������������������������������������������������

���� ���� ���� ���� �� ���� �� �� ���� �� �� ���� ����

�� ����

��

�� ����

��

�� ����

��

�� ����

��

�� ����

��

�� ����

��

Grafik 2.9 Indikator Penuntun Impor

10

Perkembangan Makroekonomi Terkini

2009 yang sebesar 10,7%. Peningkatan tersebut terutama bersumber dari hasil penerimaan perpajakan yang membaik. Kondisi yang sama juga ditunjukkan oleh kinerja belanja negara yang telah mencapai 9,3% dari target APBN, sedikit meningkat dari 9,2% dari target APBN di 2009. Kondisi tersebut didorong oleh penyaluran belanja ke daerah yang lebih tinggi. Sementara itu, realisasi Belanja Modal di awal tahun masih minimal. Di sisi pembiayaan, realisasi penerbitan SBN telah mencapai sepertiga dari target APBN sejalan dengan perkembangan pasar SUN yang kondusif, walaupun operasi keuangan masih mengalami surplus anggaran. Membaiknya aktivitas perekonomian pada tahun 2010 mampu mendorong kinerja sektor perpajakan. Selama dua bulan pertama tahun 2010, penerimaan perpajakan mencapai 12,2% dari target APBN, atau lebih baik dari tahun 2009 yang baru sebesar 11,5%. Meningkatnya penerimaan perpajakan tersebut berasal dari penerimaan PPN, pajak ekspor dan cukai. Kenaikan penerimaan PPN dan pajak ekspor diindikasi akibat aktivitas perekonomian yang membaik, termasuk meningkatnya kegiatan ekspor. Selain karena kondisi global tersebut, kenaikan Pajak Ekspor juga dikarenakan oleh kebijakan yang membebankan tarif Bea Keluar untuk komoditas crude palm oil (CPO) yang lebih tinggi sesuai dengan perkembangan harganya di pasar internasional.1 Sebaliknya, penerimaan PPh relatif menurun terutama dari sektor migas. Menurunnya penerimaan terkait migas juga terjadi pada penerimaan nonpajak. Namun secara pencapaian target APBN, penerimaan nonpajak relatif sama dengan tahun sebelumnya sebesar 8,6% seiring dengan target yang lebih rendah. Penyerapan belanja negara membaik yang ditopang oleh peningkatan penyaluran transfer ke daerah. Sampai dengan Februari 2010, realisasi transfer ke daerah mencapai 16,4% dari target APBN. Pencapaian tersebut lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu sebesar 14,7% seiring dengan pembayaran Dana Bagi Hasil (DBH) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang lebih besar. Namun secara umum, perbaikan belanja negara relatif terbatas akibat rendahnya belanja Pemerintah pusat yang hanya mencapai 6,2% dari target APBN, atau lebih rendah dari pencapaian tahun sebelumnya sebesar 6,7%. Kondisi ini dikarenakan masih rendahnya pengeluaran yang bersifat non-discretionary seperti pembayaran Subsidi dan Bunga Utang. Minimnya pengeluaran juga terjadi pada Belanja Modal yang baru mencapai 2,3% dari target APBN. Di sisi lain, realisasi Belanja Pegawai dan Bantuan Sosial mampu mencatat perbaikan dari periode sama tahun lalu. Di sisi pembiayaan, tingginya minat pelaku pasar berdampak pada penerbitan SBN yang lebih besar dari targetnya selama triwulan I 2010. Total penerbitan SBN dan SBSN (gross) selama triwulan I 2010 mencapai sekitar 66,5 triliun rupiah atau 38% dari target APBN. Namun demikian, pencapaian tersebut masih lebih rendah dari tahun 2009 akibat besarnya penerbitan global bond pada triwulan I 2009. Selain minat pelaku pasar yang besar, tingginya penerbitan SBN juga didukung oleh pasar SUN yang kondusif sebagaimana tercermin dari yield SUN pasar sekunder di hampir seluruh tenor yang mengalami penurunan dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2009. Kondisi tersebut berimbas pada yield di pasar primer yang juga menurun pada Maret 2010.
1 Terjadi kenaikan tarif Bea Keluar CPO dari 0% di tahun 2009 menjadi 3% sejak awal tahun 2010 akibat mulai meningkatnya harga CPO

11

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

Penawaran Agregat Kinerja sektor usaha pada triwulan I 2010 mengindikasikan perbaikan sejalan dengan perkembangan indikator sektoral yang menunjukkan peningkatan (Tabel 2.2). Sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor bangunan, serta sektor keuangan, persewaan dan jasa tumbuh diprakirakan tumbuh membaik pada triwulan I 2010 dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Membaiknya sektor perdagangan, hotel dan restoran terutama didorong oleh peningkatan subsektor perdagangan besar (impor) serta terkait juga dengan penerapan Asean China Free Trade Agreement (ACFTA). Sementara peningkatan pertumbuhan sektor pengangkutan dan komunikasi masih didorong oleh subsektor telekomunikasi. Penyumbang utama dalam pertumbuhan PDB triwulan I 2010 diprakirakan berasal dari sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor industri pengolahan, serta sektor perdagangan, hotel dan restoran. Sementara itu, pangsa terbesar terhadap perekonomian masih berasal dari sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor pertanian.
% Y-o-Y, Tahun Dasar 2000

Tabel 2.2 Pertumbuhan Ekonomi - Sisi Penawaran
Indikator
Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan & Jasa Jasa-jasa PDB
* Angka Proyeksi Bank Indonesia Sumber : BPS

2007
3,4 2,0 4,7 10,3 8,6 8,4 14,0 8,0 6,6 6,3

2008
I
6,4 -1,6 4,3 12,3 8,2 6,7 18,1 8,3 5,5 6,2

II
4,8 -0,4 4,2 11,8 8,3 7,7 16,6 8,7 6,5 6,3

III
3,2 2,3 4,3 10,4 7,8 7,6 15,6 8,6 7,0 6,2

IV
5,1 2,4 1,8 9,3 5,9 5,5 16,1 7,4 5,9 5,3

2008
4,8 0,7 3,7 10,9 7,5 6,9 16,6 8,2 6,2 6,0

2009
I
5,9 2,6 1,5 11,2 6,2 0,6 16,8 6,3 6,7 4,5

II
2,9 3,4 1,5 15,3 6,1 0,0 17,0 5,3 7,2 4,1

III
3,3 6,2 1,3 14,5 7,7 -0,2 16,4 4,9 6,0 4,2

IV
4,6 5,2 4,2 14,0 8,0 4,2 12,2 3,8 5,7 5,4

2009
4,1 4,4 2,1 13,8 7,1 1,1 15,5 5,0 6,4 4,5

2010
I*
4,5 5,0 4,2 14,0 8,1 5,1 14,2 4,2 5,2 5,7

Kinerja sektor industri pengolahan pada triwulan I 2010 berada dalam arah yang membaik dengan angka pertumbuhan yang diprakirakan relatif stabil. Membaiknya permintaan eksternal menjadi faktor positif bagi perkembangan sektor industri pengolahan terutama industri yang berorientasi ekspor seperti subsektor alat angkutan, mesin dan peralatannya, subsektor kimia dan barang dari karet, subsektor tekstil, barang kulit dan alas kaki, serta subsektor barang kayu dan hasil hutan. Indikator permintaan domestik sektor industri seperti penjualan mobil dan sepeda motor juga menunjukkan tren perbaikan seiring dengan masih cukup kuatnya daya beli masyarakat. Perkembangan kinerja sektor industri juga dikonfirmasi oleh indikator penuntun sektor industri pengolahan yang berada dalam fase ekspansi. Hal serupa juga ditunjukkan oleh perkembangan indeks dan utilisasi kapasitas produksi Survei Produksi BI serta impor bahan baku industri yang berada dalam tren yang meningkat pada pertengahan triwulan I 2010. Impor bahan baku tumbuh sebesar 68,9% (yoy) disertai peningkatan indeks produksi dan kapasitas utilisasi yaitu masing-masing sebesar

12

Perkembangan Makroekonomi Terkini

5,7% (yoy) dan 7,3% (yoy) pada Januari 2010. Di sisi pembiayaan, kredit perbankan yang disalurkan kepada sektor industri sampai dengan pertengahan triwulan I 2010 tumbuh stabil namun masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan tahun 2009. Sektor perdagangan, hotel, dan restoran diprakirakan tumbuh meningkat pada triwulan I 2010. Faktor utama yang memengaruhi peningkatan kinerja sektor perdagangan, hotel, dan restoran adalah meningkatnya impor serta membaiknya kinerja sektor industri pengolahan. Impor pada Februari 2010 tumbuh sebesar 63,23% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, kinerja sektor industri pengolahan yang membaik mengindikasikan adanya peningkatan jumlah barang yang diperdagangkan di sektor perdagangan. Meskipun di sisi lain, sektor pertanian dan sektor pertambangan yang juga turut memengaruhi kinerja sektor perdagangan diprakirakan mengalami sedikit perlambatan. Indikasi meningkatnya kinerja sektor perdagangan juga tercermin dari naiknya indeks penjualan riil Survei Penjualan Eceran (SPE) BI dan tingkat hunian hotel di Bali. Indeks penjualan riil pada Februari 2010 tumbuh meningkat yaitu dari 36,5% (yoy) pada Januari 2010 menjadi 40,0% (yoy). Di sisi pembiayaan, kredit perbankan yang disalurkan pada sektor perdagangan menunjukkan perkembangan yang relatif stabil. Sektor pertanian mengindikasikan adanya perlambatan pada triwulan I 2010. Melambatnya kinerja sektor pertanian pada triwulan I 2010 terutama dikarenakan oleh adanya pergeseran musim panen raya padi. Masa panen raya tahun 2010 diperkirakan berlangsung pada periode Maret-April. Adanya pergeseran masa tanam yang terjadi pada akhir tahun 2009 berpengaruh pada konsentrasi produksi panen padi yang bergeser ke bulan April sehingga produksi pada akhir triwulan I 2010 lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Produksi padi pada masa panen ini diperkirakan masih cukup baik seiring dengan tingkat kegagalan panen padi akibat banjir ataupun puso periode JanuariFebruari 2010 yang lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama dalam 5 tahun terakhir. Berdasarkan ARAM I BPS tahun 2010, produksi padi tahun 2010 diperkirakan hanya meningkat 0,88% dari tahun sebelumnya yaitu menjadi 64,9 juta ton. Meskipun berada di bawah target awal Pemerintah, perkiraan produksi padi ini masih mampu untuk memenuhi kebutuhan domestik. Sementara itu, kinerja subsektor perkebunan pada triwulan I 2010 diperkirakan masih dapat menopang kinerja sektor pertanian seiring dengan masih cukup tingginya ekspor beberapa komoditas perkebunan. Dari sisi pembiayaan, penyaluran kredit perbankan kepada sektor pertanian menunjukkan perkembangan yang relatif stabil. Sektor pertambangan masih menunjukkan kinerja yang membaik pada triwulan I 2010. Perbaikan sektor tersebut tercermin dari perkembangan beberapa indikator dini yaitu ekspor batubara, nikel, tembaga, bijih, kerak dan abu logam serta produksi minyak yang berada dalam arah yang meningkat sampai dengan awal triwulan I 2010. Hal itu terutama dipengaruhi oleh permintaan negara mitra dagang yang membaik. Di sisi lain, permintaan eksternal komoditas batubara juga didukung oleh sistem penjualan ekspor jangka panjang. Dari sisi pembiayaan, kredit yang disalurkan kepada sektor pertambangan menunjukkan peningkatan sampai dengan pertengahan triwulan I-2010. Kinerja sektor pengangkutan dan komunikasi pada triwulan I 2010 diprakirakan tumbuh membaik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Hal tersebut terindikasi

13

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

dari perkembangan beberapa indikator dini sektor pengangkutan dan komunikasi yang menunjukkan perbaikan. Masih tingginya pertumbuhan subsektor komunikasi tercermin dari masih meningkatnya jumlah pelanggan seluler sampai dengan triwulan IV 2009. Beberapa operator seluler utama mencatat terjadinya peningkatan jumlah pelanggan. Selain dari seluler, meningkatnya sektor telekomunikasi juga didorong oleh meningkatnya penggunaan internet. Sementara itu, membaiknya kinerja subsektor pengangkutan terindikasi dari meningkatnya jumlah penumpang angkutan udara dan kereta api sampai dengan Februari 2010 yaitu masing-masing tunbuh sebesar 23,3% (yoy) dan 1,4% (yoy). Indikator lain yaitu angkutan kargo pada lima pelabuhan utama (Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak, Balikpapan, dan Makassar) sampai dengan awal triwulan I 2010 tumbuh cukup tinggi sebesar 5,6% (yoy). Di sisi pembiayaan, kredit perbankan yang disalurkan kepada sektor pengangkutan dan komunikasi tumbuh sedikit menurun sampai dengan pertengahan triwulan I 2010. Sektor bangunan pada triwulan I 2010 diprakirakan tumbuh membaik yaitu sebesar 8,1% (yoy). Membaiknya pertumbuhan sektor bangunan terindikasi dari beberapa indikator dini diantaranya yaitu konsumsi dan produksi semen yang mengalami peningkatan sampai dengan pertengahan triwulan I 2010. Konsumsi semen pada Februari 2010 tumbuh sedikit meningkat yaitu dari 13,2% (yoy) pada Januari 2010 menjadi 13,4% (yoy). Sementara produksi semen tumbuh membaik dari 13,3% (yoy) pada Januari 2010 menjadi 14,5% (yoy) pada Februari 2010. Di sisi pembiayaan, kredit yang disalurkan perbankan kepada sektor bangunan hingga Februari 2010 diperkirakan sudah tidak akan mengalami perlambatan yang lebih dalam lagi.

Perekonomian Daerah Pertumbuhan ekonomi daerah pada triwulan I 2010 diprakirakan semakin membaik yang didukung oleh masih kuatnya ekonomi di Jakarta, Sumatera, dan KaliSulampua. Sementara itu, berlakunya AC-FTA telah menjadi peluang bagi daerah yang berbasis sumber daya alam (SDA). Kinerja perekonomian Indonesia mengalami peningkatan cukup signifikan pada triwulan IV tahun 2009 yang tumbuh sebesar 5,4%. Sehingga secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi tahun 2009 relatif kuat yakni mencapai 4,5% (yoy). Secara umum, kuatnya pertumbuhan ekonomi pada tahun
��� ��� �� �� �� �� � ��� ��� ��� � � � ����� � � � � � � �� �� �� � ���� �������� ������� � � � � � � �� �� �� � ���� ���������� ������������ � � �����

2009 bersumber dari kinerja konsumsi di Jakarta dan Jabalnustra serta kinerja ekspor di Sumatera dan Kali-Sulampua ke negara China dan India. Sumber kuatnya kinerja konsumsi di daerah antara lain tingginya realisasi belanja konsumsi APBD rata-rata sebesar 92,6%, lebih tinggi dari tahun 2008 yang sebesar 83,1%, khususnya untuk belanja barang/ jasa dan bantuan sosial. Menguatnya perekonomian daerah diprakirakan berlanjut pada triwulan I 2010 yang disumbang oleh meningkatnya pertumbuhan ekonomi Sumatera dan Kali-Sulampua serta masih tingginya pertumbuhan ekonomi Jakarta. Di sisi permintaan, terjadi penguatan ekspor khususnya perkebunan (CPO, kopi) dan pertambangan (batubara, nikel) di Sumatera dan Kali-Sulampua (Grafik

Grafik 2.10 Pertumbuhan Volume Ekspor

14

Perkembangan Makroekonomi Terkini

2.10), sedangkan kinerja konsumsi cenderung melambat. Sementara itu,
�� �����

kinerja investasi menunjukkan perbaikan khususnya di Jakarta seiring dengan meningkatnya belanja modal swasta. Di sisi sektoral, sektor industri meningkat di Jakarta dan Jabalnustra yang didukung oleh sektor pertambangan di Sumatera dan Kali-Sulampua dan sektor perdagangan di Jakarta dan Sumatera. Penerapan AC-FTA telah memberikan peluang bagi daerah yang memiliki basis ekspor CPO, kopi di Sumatera dan pertambangan di Kali-Sulampua. Namun, pada industri TPT dan makanan di Jabalnustra akan menghadapi tantangan meskipun industri lainnya (furniture, kerajinan) akan memiliki peluang. Meskipun inflasi daerah pada triwulan I 2010 relatif rendah, namun terdapat beberapa daerah yang diperkirakan di atas inflasi nasional terkait permasalahan distribusi. Beberapa daerah yang mengalami inflasi di atas inflasi nasional sebagian besar berada di wilayah Kali-Sulampua. Masih rendahnya inflasi daerah disebabkan oleh masuknya panen pada bulan Maret di beberapa daerah, sedangkan hambatan distribusi barang
��

��

��

��

� � ���� ���� ���� ����� ���������������� �������� ������� ���������� ������������ ���� ���� � � � � � � � ��

Grafik 2.11 Pertumbuhan Semen Wilayah

� � � � � � � ��

��������
���������������� ������������������

��������
��������������������� ������������������������� ��������������������

akibat faktor cuaca menjadi faktor yang menekan harga di daerah, kecuali di Jakarta. Di sisi permintaan, daya beli masyarakat di daerah yang masih cukup tinggi dapat direspons dengan peningkatan produksi. Namun, hambatan terjadi terkait dengan keterbatasan pasokan (gula, beras) dan bahkan terdapat potensi tekanan inflasi yang berasal dari turunnya aktivitas arus barang ke Jawa dan luar Jawa.

�������������� �������������

�������������������� ��������������� �����

��

��� ��������
�������
���� ���� ���� ���� ���� ���� ����� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ���� ����

�������
���� ���� ���� ���� ����

����

�����
���� ���� ����� ���� ����

���� ���� ���� �����

���� ����

� ��

�����

�����

����� �����

� � � � � � � � � �� �� �� � � � � � � � � � �� �� �� � � � � � � � � � �� �� �� � � ���� ���� ���� ����

NERACA PEMBAYARAN INDONESIA (NPI) Kondisi makroekonomi domestik yang kuat serta positifnya kondisi eksternal menopang solidnya kinerja eksternal Indonesia selama triwulan I 2010. Beredarnya sentimen positif seputar pemulihan ekonomi dunia tetap menjadi faktor utama penopang kinerja Neraca Pembayaran

Grafik 2.12 Perkembangan Inflasi Jakarta

Indonesia, terutama di sisi perdagangan barang. Secara keseluruhan, NPI triwulan I 2010 diprakirakan akan mencatat surplus. Pencapaian surplus tersebut mendukung pencapaian cadangan devisa sebesar 71,8 miliar dolar AS atau setara dengan 5,8 bulan impor dan pembayaran Utang Luar Negeri (ULN) pemerintah. Kinerja ekspor diprakirakan membaik ditopang oleh membaiknya perkembangan harga komoditas serta kuatnya permintaan atas komoditas berbasis sumber daya alam oleh beberapa negara terutama negara berkembang. Meski demikian, meningkatnya daya serap perekonomian domestik mendorong kenaikan impor sehingga mampu mengimbangi kenaikan nilai ekspor. Dengan perkembangan tersebut, neraca perdagangan diprakirakan akan mencatat surplus. Sementara itu, laju pemulihan kawasan Asia yang relatif lebih cepat memberi tambahan daya tarik investasi pada aset finansial. Meski sempat mengalami goncangan akibat sentimen negatif instabilitas fiskal di Yunani, kinerja surplus transaksi modal dan finansial mencatat surplus di sisi portofolio yang lebih tinggi akibat membaiknya minat investor asing. Namun, peningkatan surplus tersebut dibarengi dengan meningkatnya penempatan aset domestik di luar negeri serta defisit transaksi ULN swasta.

15

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

Transaksi Berjalan Kinerja transaksi berjalan diprakirakan akan tetap mencatat surplus meski lebih rendah dibandingkan dengan triwulan IV 2009. Porsi utama surplus transaksi berjalan tetap berasal dari neraca perdagangan. Prakiraan surplus transaksi berjalan disumbang oleh penurunan defisit neraca jasa (karena menurunnya pembayaran jasa travel) dan pendapatan (terutama penurunan pembayaran bunga ULN korporasi). Berlanjutnya proses pemulihan ekonomi global mendorong perbaikan kinerja ekspor sehingga mampu menopang kinerja transaksi berjalan. Penelusuran data selama periode Januari-Februari 2010 menunjukkan kinerja ekspor komoditas berbasis sumber daya alam cenderung lebih baik dari komoditas manufaktur. Kondisi tersebut diprakirakan akan berlanjut pada Maret 2010, sejalan dengan bergesernya basis pertumbuhan ekonomi dunia ke emerging market yang menjadi pasar utama ekspor bahan baku asal Indonesia. Sementara itu, perbaikan kinerja ekspor komoditas manufaktur diperkirakan masih terbatas sejalan dengan lambatnya pemulihan ekonomi negara maju. Perkembangan harga komoditas juga turut menopang perbaikan kinerja ekspor. Hingga akhir triwulan, mayoritas komoditas ekspor utama nonmigas Indonesia mengalami kenaikan harga. Faktor fundamental berupa masih kuatnya sentimen pemulihan ekonomi global menjadi penggerak utama harga komoditas di pasar internasional. Sementara itu, komponen transaksi berjalan lainnya yaitu neraca jasa akan mengalami penurunan disebabkan realisasi penerimaan devisa turis yang meningkat, sementara membaiknya neraca pendapatan di antaranya disebabkan oleh menurunnya pembayaran bunga ULN.

Neraca Modal dan Finansial Transaksi modal dan finansial pada triwulan I 2010 diprakirakan akan tetap mencatat surplus. Surplus transaksi modal dan finansial tersebut ditopang antara lain dari arus masuk modal investasi langsung (FDI) yang diprakirakan meningkat, terutama di sektor nonmigas. Peningkatan arus masuk FDI tersebut disebabkan oleh prakiraan membaiknya perekonomian domestik yang disertai dengan meningkatnya harga komoditas. Secara umum, membaiknya iklim investasi tersebut tercermin juga dari tren peningkatan investasi, baik dalam bentuk penarikan dana (cash call) maupun pinjaman. Di sisi portofolio, kondisi makroekonomi domestik yang kuat serta imbal hasil rupiah yang relatif tinggi mampu menopang peningkatan arus masuk modal jangka pendek. Dana asing yang ditempatkan pada instrumen SBI dan SUN mengalami peningkatan.

Cadangan Devisa Dengan perkembangan pada transaksi berjalan serta neraca modal dan finansial tersebut di atas, posisi cadangan devisa sampai dengan akhir triwulan I 2010 mencapai 71,8 miliar dolar AS atau setara dengan 5,8 bulan impor dan pembayaran Utang Luar Negeri Pemerintah.

16

Perkembangan dan Kebijakan Moneter Triwulan I-2010

3. Perkembangan dan Kebijakan Moneter Triwulan I-2010
Proses pemulihan ekonomi global yang masih terus berlangsung menunjukkan perkembangan yang semakin baik. Kondusifnya perkembangan eksternal tersebut ditambah dengan solidnya kondisi perekonomian domestik memberikan dukungan bagi pergerakan nilai tukar dan inflasi selama triwulan I 2010. Nilai tukar rupiah bergerak menguat selama triwulan I 2010. Rata-rata nilai tukar Rupiah terapresiasi sebesar 2,2% ke level Rp9.254 per dolar AS yang diiringi dengan tingkat volatilitas yang tetap stabil dari 0,56% pada triwulan IV 2009 menjadi 0,57% pada triwulan I 2010. Di sisi harga, tekanan inflasi pada triwulan I 2010 mulai menunjukkan sedikit peningkatan. Secara tahunan, inflasi IHK pada triwulan I 2010 mencapai 3,43% (yoy) atau lebih tinggi dari akhir tahun 2009 yang sebesar 2,78% (yoy). Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya tekanan inflasi dari faktor non-fundamental khususnya inflasi volatile food, sedangkan tekanan inflasi dari faktor fundamental yang tercermin pada inflasi inti justru mengalami penurunan. Di sisi lain, transmisi kebijakan moneter melalui berbagai jalur berlangsung semakin baik. Di jalur suku bunga, kebijakan moneter ditransmisikan dengan baik khususnya di suku bunga pasar uang antar bank (PUAB) dan simpanan. Selain itu, penurunan suku bunga kredit juga masih terus berlangsung. Di jalur kredit, transmisi kebijakan moneter mengalami perbaikan pada triwulan I 2010. Pertumbuhan kredit sampai dengan Februari 2010 meningkat menjadi 9,4% (yoy), lebih tinggi dari pencapaian akhir tahun 2009 yang hanya sebesar 8,7% (yoy). Sementara itu, transmisi kebijakan moneter di pasar modal, pasar SUN, dan pasar reksadana juga positif. Di pasar saham, IHSG meningkat cukup signifikan dan merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan bursa di beberapa negara di kawasan regional. Di pasar SUN, yield SUN menunjukkan penurunan di hampir seluruh tenor. Sementara itu, pasar reksadana juga menunjukkan perkembangan yang baik searah dengan dengan kinerja underlying assetnya.
������ ����� ����� ����� ����� ����� ����� ����� ���� ���� ���� ���� ����� ����� ����� ����������� �������������������� ����������������� ������ ������ ����� ����� ����� � �� � �� �� � �� �� �� �� � �� �� �� �� � �� �� � �� �� ��� ��� �� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� �� � �� �� � ���� ���� ���� ���� ������

NILAI TUKAR RUPIAH Rupiah menunjukkan kinerja yang positif pada triwulan I 2010. Terus berlangsungnya proses pemulihan ekonomi global serta semakin kuatnya kondisi fundamental ekonomi domestik memberikan dukungan yang positif bagi pergerakan nilai tukar. Secara rata-rata, rupiah menguat sebesar 2,2% menjadi Rp9.254 per dolar AS (Grafik 3.1). Selain menguat, volatilitas rupiah pun tetap terjaga (Grafik 3.2). Pada akhir triwulan I 2010, rupiah ditutup pada level Rp9.090 per dolar AS. Berkembangnya sentimen negatif di pasar keuangan global terkait masalah defisit fiskal yang dialami beberapa negara di Eropa sempat memberikan tekanan pada mata uang regional Asia, termasuk rupiah.

�����

Grafik 3.1 Rata-Rata Nilai Tukar Rupiah

17

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

Masalah defisit fiskal yang dialami negara GIPSY (Greece, Ireland,
����� ����� ����� ����� ����� ����� ���� ���� ���� ���� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ���� ���� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ���� ���� ���� ������ ����������� ����������������� ��������������������� � �� � � � � � � � ����� � � ����

Portugal, Spain dan Italy) menimbulkan kekhawatiran akan kelanjutan pemulihan ekonomi global. Namun, perkembangan ekonomi global yang terus membaik, terutama di kawasan Asia, pada gilirannya mampu membuat mata uang regional Asia kembali stabil bahkan cenderung menguat seiring dengan kepercayaan investor terhadap ekonomi regional Asia yang terus meningkat. Selain dipengaruhi oleh kondisi eksternal, penguatan rupiah juga turut didukung oleh kondisi perekonomian domestik yang kian solid. Perekonomian Indonesia berhasil mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi sebesar 5,4% (yoy) pada triwulan IV 2009. Sementara itu, laju inflasi hingga triwulan I 2010 tetap terkendali. Kedua hal tersebut, disertai dengan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang positif, mampu mendukung pergerakan nilai tukar rupiah yang apresiatif selama triwulan I 2010. Solidnya kinerja ekonomi domestik menyebabkan kepercayaan investor asing terus meningkat. Meningkatnya kepercayaan investor

��� ��� ��� ��� ���� ����

Grafik 3.2 Volatilitas Nilai Tukar Rupiah

� ����������� �����������

��� ���

���

terhadap kondisi ekonomi Indonesia ditandai oleh peningkatan rating obligasi Indonesia yang dilakukan oleh dua lembaga rating internasional, yaitu Fitch dan S&P. Kedua lembaga tersebut menaikkan rating Indonesia menjadi BB+ dengan outlook positif, sehingga dengan demikian, posisi Indonesia saat ini hanya tinggal 1 notch di bawah investment grade.

���

������������ �������������

���

���

������������������

���

���

���

Kondisi fundamental perekonomian yang solid diikuti oleh
��� ���

persepsi risiko domestik yang terus membaik. Indikator Credit Default Swap (CDS) Indonesia masih berada pada level rendah (163 bps). Hal itu sejalan dengan indikator risiko lainnya yaitu yield spread antara obligasi pemerintah Indonesia dan US T-Note yang mengalami penurunan. Pergerakan indeks EMBIG yang mengukur faktor risiko negara-negara emerging markets tetap stabil, bahkan cenderung turun dari level 294 pada akhir tahun 2009 menjadi 261 pada akhir triwulan

��� ������ ������� ������ ������ ������ ������ ������
������������������

���

Grafik 3.3 Indikator Persepsi Risiko

��

� �������� �������� �������� ���������

I 2010 (Grafik 3.3). Sementara itu, premi swap yang merupakan salah satu indikator ekspektasi arah pergerakan rupiah tetap bergerak stabil untuk semua tenor (Grafik 3.4). Membaiknya faktor risiko domestik membuat daya tarik investasi

��

��

dalam rupiah semakin besar. Indikator imbal hasil rupiah yang tercermin dari selisih suku bunga dalam negeri dan luar negeri (UIP – Uncovered Interest Parity) berada pada level 6,33%, masih merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan negara kawasan Asia lainnya (Grafik
��� ��� ��� ��� ���� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ���� ����

3.5). Dengan membaiknya premi risiko maka daya tarik investasi dalam rupiah semakin besar, tercermin dari indikator CIP (Covered Interest Parity) yang berada dalam tren meningkat selama tahun 2010. Pada akhir Maret 2010, indikator CIP berada pada level 4,69%, merupakan yang tertinggi dibandingkan negara kawasan Asia lainnya (Grafik 3.6).

������������������������

Grafik 3.4 Premi Swap Berbagai Tenor

18

Perkembangan dan Kebijakan Moneter Triwulan I-2010

INFLASI
���� ��� ��� ��� ��������� ��� ��� ���� ���� ��� ��� ��� ������ ��� ������ ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ������ ��� ���� ���� ���� �������� ����� ��������� ���� ���� ���� ���� �

Inflasi tetap terkendali pada triwulan I 2010. Secara tahunan, inflasi IHK pada triwulan I 2010 tercatat sebesar 3,43% (yoy), meningkat dibandingkan dengan akhir tahun 2009 sebesar 2,78% (yoy)(Grafik 3.7). Meskipun mengalami peningkatan, inflasi IHK masih tetap terkendali. Hal itu tercermin pada kecenderungan pergerakan inflasi IHK yang terus menurun setiap bulannya, bahkan tercatat mengalami deflasi pada Maret 2010 sebesar 0,14% (mtm). Lebih tingginya inflasi IHK pada triwulan I 2010 dibandingkan dengan akhir tahun 2009 terutama disebabkan oleh tekanan pada kelompok bahan makanan yang bergejolak (volatile food). Mundurnya masa panen beras mengakibatkan pasokan komoditas tersebut mengalami kendala yang pada gilirannya menyebabkan kenaikan harga. Sementara itu, rendahnya imported inflation, terjaganya ekspektasi inflasi serta belum adanya kebijakan Pemerintah yang bersifat
���� ���� ���� ����

Grafik 3.5 Perbandingan UIP Beberapa Negara

��� ��� ��� ��� ��� ��� ���� ���� ���� ���� ����

strategis mampu mengimbangi tekanan pada kelompok volatile food sehingga inflasi tetap dapat dikendalikan. Jika dilihat berdasarkan kelompok pengeluarannya, tekanan inflasi pada triwulan I 2010 terutama berasal dari kelompok bahan makanan dan kelompok makanan jadi (Grafik 3.8). Tingginya tekanan kenaikan harga beras dan beberapa komoditas lainnya pada awal triwulan meningkatkan indeks kelompok bahan makanan menjadi 129,59 pada triwulan I 2010, dari akhir tahun 2009 sebesar 127,46. Selain itu, pertumbuhan indeks kelompok barang lainnya seperti kelompok makanan jadi juga meningkat cukup signifikan dibandingkan dengan periode sebelumnya akibat kenaikan harga produk turunan beras dan gula pasir. Inflasi inti menurun pada triwulan I 2010. Secara tahunan, inflasi inti tercatat sebesar 3,56% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan

��������� ��������

��������� �����

��� ��� ��� ��������� ������ ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ������ ��� ���� ���� ����

Grafik 3.6 Perbandingan CIP Beberapa Negara

��

������ ��� ���������������� ������������� ������������������

akhir tahun 2009 yang mencapai 4,28% (yoy). Penurunan tersebut dipengaruhi baik oleh faktor eksternal maupun domestik. Dari sisi eksternal, masih rendahnya harga komoditas internasional serta nilai tukar rupiah yang cenderung terapresiasi mendorong turunnya imported inflation. Meskipun di sisi lain, inflasi mitra dagang mulai meningkat seiring dengan proses pemulihan ekonomi dunia, hal itu belum secara signifikan memengaruhi inflasi inti (Grafik 3.9). Kondisi tersebut tercermin pada beberapa indikator seperti inflasi komoditas impor dan inflasi IHPB impor yang masih bergerak menurun (Grafik 3.10). Sementara itu, dari sisi domestik, kondisi fundamental ekonomi yang solid mendorong terjaganya ekspektasi inflasi. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi mencapai 5,4% pada triwulan IV 2009, tingkat inflasi

��

��

�� � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � ���� ���� ���� ����

Grafik 3.7 Perkembangan Inflasi

19

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

yang relatif rendah serta nilai tukar rupiah yang menguat memberikan
������ ���� ���� ���� ���� ��� ��� ��� ���� ���� � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � ���� ���� ���� ���� ������������� ��������� ��������� �������������������������������������� ������������ ������� ����������������������� ���������� ���

pengaruh positif pada perkembangan ekspektasi inflasi. Hasil survei Consensus Forecast (CF) pada Maret 2010 menunjukkan terjadinya penurunan ekspektasi inflasi untuk tahun 2010, sedangkan untuk tahun 2011 ekspektasi inflasi relatif stabil (Grafik 3.11). Survei lainnya yakni Survei Konsumen dan Survey Penjualan Eceran Bank Indonesia juga mencerminkan ekspektasi konsumen dan ekspektasi pedagang yang terjaga (Grafik 3.12 dan Grafik 3.13). Di sisi kesenjangan output, mulai naiknya permintaan masih dapat direspon oleh sisi penawaran secara memadai. Hal tersebut menyebabkan tekanan dari sisi kesenjangan output pada inflasi relatif minimal. Indikasi mulai meningkatnya permintaan ditunjukkan oleh pertumbuhan penjualan riil yang mengalami kenaikan (Grafik 3.14). Kenaikan tersebut terutama terjadi pada kelompok pakaian dan perlengkapannya serta konstruksi. Sementara itu, indikator sisi penawaran yang tercermin dari indeks produksi sektor pengolahan
���

Grafik 3.8 Inflasi per Kelompok

�� �� �� �� � � ��

������

terlihat menunjukkan tren meningkat (Grafik 3.15). Kondisi itu sejalan dengan kapasitas produksi terpakai di sektor industri pengolahan yang juga berada pada tren yang meningkat (Grafik 3.16). Inflasi volatile food pada triwulan I 2010 menunjukkan peningkatan. Kelompok volatile food mencatat inflasi sebesar 4,41% (yoy), lebih tinggi dari akhir tahun 2009 sebesar 3,95% (yoy). Peningkatan tersebut terutama bersumber dari tingginya harga komoditas beras pada awal triwulan I 2010 yang disebabkan oleh mundurnya waktu musim panen serta kendala distribusi. Naiknya harga beras pada gilirannya mendorong terjadinya peningkatan harga pada kelompok makanan jadi terutama produk-produk turunan beras. Namun, kondisi tersebut dapat teratasi memasuki akhir periode laporan. Sejak Maret 2010, kondisi pasokan beras membaik dan mampu menahan kenaikan harga beras

��������������������������

��� ��� ��� ��� ����

����������������������������������

�������������������������������
� � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � �

����

����

����

����

����

����

����

Grafik 3.9 Inflasi Mitra Dagang dan Nilai Tukar

��

������

��

lebih lanjut, bahkan menyebabkan kelompok volatile food mengalami deflasi sebesar 1,14% (mtm).

�� ����������������������� �� ������������ � ����������������������� �
� � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � �

��

Pada kelompok administered prices, tekanan inflasi pada triwulan I 2010 relatif minimal sejalan dengan tidak adanya kebijakan yang bersifat strategis. Belum adanya rencana kebijakan administered prices yang direalisasikan oleh Pemerintah sepanjang triwulan I 2010 dapat menjaga terkendalinya inflasi administered prices. Komoditas rokok dan bahan bakar rumah tangga merupakan dua komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi pada kelompok administered price, yakni sebesar 0,06% dan 0,03%. Sementara itu, komoditas bensin hanya memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,02% sepanjang triwulan I 2010. Hal itu terkait dengan naiknya harga minyak mentah internasional sebesar 87,8% sejak awal tahun 2010. Dengan perkembangan tersebut,

��

��

��

���

����

����

����

����

����

����

Grafik 3.10 Inflasi Komoditas Impor, inflasi inti dan IHPB Impor

20

Perkembangan dan Kebijakan Moneter Triwulan I-2010

pada triwulan I 2010 inflasi administered prices tercatat sebesar 0,71%
������ � �������������������������� � ��������������������������

(qtq) atau 2,31% (yoy).

KEBIJAKAN MONETER Suku Bunga Transmisi kebijakan moneter melalui jalur suku bunga jangka pendek pada triwulan I 2010 berjalan dengan baik. Kondisi itu khususnya didorong oleh melimpahnya likuiditas perbankan yang
� � � � � � ����

� � � � �� �� �� � � ���� �

menyebabkan suku bunga PUAB O/N (Pasar Uang Antar Bank – Over Night) bergerak cenderung turun mendekati koridor bawah BI Rate. Rata-rata harian PUAB O/N pada triwulan I 2010 menurun sebesar 11bps menjadi 6,19% atau 31bps berada di bawah BI Rate (Grafik 3.17). Perkembangan tersebut kemudian ditransmisikan ke suku bunga PUAB dengan jangka waktu yang lebih panjang dengan struktur suku bunga PUAB yang terus membaik. Sebagaimana pergerakan suku bunga PUAB

���������������������������

Grafik 3.11 Ekspektasi Inflasi – Consensus Forecast

��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ���

������

������

��

O/N, suku bunga PUAB dengan jangka waktu di atas O/N juga menurun dengan besaran yang relatif sama (Grafik 3.18). Rata-rata tertimbang suku bunga PUAB jangka waktu 2-6, 7, 8-26 dan di atas 30 hari masingmasing menurun sebesar 7-11bps kecuali untuk suku bunga PUAB tenor 27-30 hari yang mengalami penurunan yang lebih besar yaitu 57bps. Kondisi tersebut mengindikasi persepsi counterparty risk yang terus membaik sejalan dengan terus membaiknya risiko di pasar uang.

��

��

������������������������������������������ ������������������������������������������ ��������������������������������
� � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � �

����

����

����

����

����

����

Transmisi kebijakan moneter melalui jalur suku bunga deposito semakin membaik. Perbaikan transmisi tersebut terjadi baik pada periode BI Rate tetap maupun menurun. Pada triwulan I 2010, suku bunga deposito 1 bulan diindikasi menurun sebesar 18bps (Tabel 3.1). Dengan perkembangan tersebut, BI Rate yang tetap pada level 6,5% sejak September 2009 telah direspon positif dengan penurunan suku bunga deposito 1 bulan total sebesar 117bps (s.d Februari 2010), lebih

Grafik 3.12. Ekspektasi Inflasi Konsumen (Survei Konsumen Bank Indonesia)

������ ��� ��� ��� ������������������������������������������ ������������������������������������������ ��������������������������������

������

��

baik bila dibandingkan dengan periode BI Rate tetap pada periode sebelumnya (Agustus 2007 s.d Januari 2008). Sementara itu, sejak Desember 2008 hingga Februari 2010, suku bunga deposito 1 bulan telah menurun sebanyak 335bps dari total penurunan BI Rate sebesar 300bps, atau lebih baik daripada periode penurunan BI Rate sebelumnya (Mei 2006 s/d Juli 2007) sebesar 283bps dari total penurunan BI Rate sebesar 425bps. Penurunan suku bunga deposito juga diikuti oleh perbaikan struktur suku bunga deposito berbagai tenor. Hal itu tercermin pada struktur suku bunga deposito yang cenderung datar (flat), meskipun suku bunga deposito jangka waktu 12 bulan masih lebih tinggi dibandingkan dengan suku bunga deposito tenor 24 bulan.

��

�� ��� ��� ��� � ��� ���
� � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � � � � � � � � ������ � � �

��

����

����

����

����

����

����

Grafik 3.13. Ekspektasi Inflasi Pedagang (Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia)

21

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

Berdasarkan kelompok banknya, penurunan suku bunga deposito
�� �� �� �� � �� ��� ���
� � � � � � � � ������� � � � � � � � � ������� � � � � � � � � ������� � � � � � � � � ������� � � � � � � � � ������� �

����������������������������������� �����������������������������������

terbesar terjadi di bank asing dan campuran. Pada triwulan I 2010, bank asing dan campuran tercatat menurunkan suku bunga deposito sebesar 20bps, atau terbesar di antara kelompok bank lainnya yaitu bank persero (-12bps), BPD (-10bps) dan bank swasta (-7bps). Meskipun demikian, selama periode BI Rate tidak berubah (sejak September 2009) bank persero tetap menjadi kelompok bank yang paling agresif dalam menurunkan suku bunga depositonya yaitu sebesar 149bps diikuti oleh bank swasta sebesar 102bps. Secara level, kelompok bank asing dan campuran merupakan kelompok bank yang menawarkan rata-rata suku bunga deposito yang terendah (7,3%) sementara kelompok BPD menawarkan rata-rata suku bunga tertinggi (8,7%). Transmisi kebijakan moneter melalui jalur suku bunga kredit masih terus berlangsung. Pada triwulan I 2010, penurunan suku bunga kredit diindikasi masih berlanjut seiring dengan menurunnya persepsi risiko ekonomi perbankan. Rata-rata penurunan suku bunga kredit hingga Februari 2010 (sejak September 2009) mencapai sebesar 56bps, atau hanya

����

����

����

����

����

����

Grafik 3.14 Pertumbuhan Penjualan Riil

��� ������������������������������������������

separuh dari penurunan suku bunga deposito 1 bulan yang mencapai 117bps. Hal itu di antaranya terkait dengan masih tingginya persepsi risiko penyaluran kredit dan upaya bank untuk mempertahankan margin yang tinggi di tengah rendahnya permintaan kredit.

���

���

Berdasarkan jenis penggunaannya, suku bunga KMK diperkirakan menurun dengan besaran yang lebih signifikan. Seiring dengan membaiknya persepsi risiko ekonomi oleh perbankan, suku bunga
� � � � � � � � ������� � � � � � � � � ������� � � � � � � � � ������� � � � � � � � � ������� � � � � � � � � �������

��
���� ���� ���� ���� ����

KMK diperkirakan menurun secara lebih agresif, sedangkan suku bunga Kredit Konsumsi (KK) diprediksi mengalami penurunan paling tipis terkait dengan karakteristiknya yang tidak terlalu elastis dengan perubahan suku bunga (Tabel 3.1). Sementara itu, berdasarkan kelompok

Grafik 3.15 Indeks Produksi Sektor Industri Pengolahan (SP)

Tabel 3.1 Perkembangan Berbagai Suku Bunga
Suku Bunga (%)
BI Rate Penjaminan Deposito Dep 1 bulan (Weighted Average) Base Lending Rate Kredit Modal Kerja (KMK) Kredit Investasi (KI) Kredit Konsumsi (KK)

Triwulan I-2009
Jan
8,75 9,50 10,52 14,18 15,23 14,37 16,46

Triwulan II-2009
Apr
7,50 7,75 9,04 13,78 14,82 14,05 16,48

Triwulan III-2009
Juli
6,75 7,25 8,31 13,20 14,45 13,58 16,66

Triwulan IV-2009
Okt
6,50 7,00 7,38 13,01 14,09 13,20 16,53

Triwulan I-2010
Jan
6,50 7,00 7,09 12,65 13,75 13,24 16,32

Feb
8,25 9,00 9,88 13,98 15,08 14,23 16,53

Mar
7,75 8,25 9,42 13,94 14,99 14,05 16,46

Mei
7,25 7,75 8,77 13,64 14,68 13,94 16,57

Juni
7,00 7,50 8,52 13,40 14,52 13,78 16,63

Agt
6,50 7,00 7,94 13,00 14,30 13,48 16,62

Sept
6,50 7,00 7,43 12,96 14,17 13,20 16,67

Nov
6,50 7,00 7,16 12,94 13,69 13,03 16,47

Des
6,50 7,00 6,87 12,83 13,69 12,96 16,42

Feb
6,50 7,00 na 12,66 na na na

Mar
6,50 7,00 na 12,65 na na na

22

Perkembangan dan Kebijakan Moneter Triwulan I-2010

���

� �����������������������������������������������

banknya, secara agregat bank persero merupakan kelompok bank yang memberikan suku bunga kredit terendah. Rata-rata suku bunga KMK tertinggi ditawarkan oleh Bank Umum Swasta Nasional dan BPD, sedangkan rata-rata suku bunga KK tertinggi masih ditawarkan oleh
�����

��

Bank Asing dan Campuran.

��

��

Dana, Kredit, dan Uang Beredar Pertumbuhan DPK pada triwulan I 2010 diperkirakan melambat
� � � � � � � � ������� � � � � � � � � ������� � � � � � � � � ������� � � � � � � � � ������� � � � � � � � � �������

��
���� ���� ���� ���� ����

sesuai pola historisnya pada awal tahun. Sampai dengan Februari 2010, pertumbuhan DPK hanya sebesar 9,3% (yoy), lebih rendah dari akhir tahun 2009 yang mencapai 12,5% (yoy) (Grafik 3.19). Dengan perkembangan tersebut, pada triwulan I 2010 (sampai dengan Februari 2010), posisi DPK menurun sebesar Rp41,4 triliun menjadi Rp1.931,6 triliun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (Februari 2009), posisi DPK justru mengalami peningkatan sebesar

Grafik 3.16 Kapasitas Produksi Terpakai Industri Pengolahan (SP)

�� ��� � ��� � ��� � ��� � ���


������� ������������������������� ��������������

Rp13,8 triliun. Hal itu terjadi karena pada saat krisis masyarakat enggan menggunakan dananya untuk melakukan kegiatan ekonomi dan lebih memilih untuk menempatkan dananya di perbankan. Dengan kembali normalnya perkembangan DPK pada triwulan I 2010 sesuai dengan pola historisnya, hal itu memberikan indikasi positif terhadap perkembangan aktivitas perekonomian masyarakat pada triwulan I 2010. Di sisi lain, pertumbuhan kredit pada triwulan I 2010 menunjukkan

�� �� � �� � �� � �� � �� � �� �� �� �� �� �� � �� � �� � �� �� �� �� �� �� � �� � �� ��� ��� ��� ��� ������ ��� ��� ��������� ��� ��� ��� ��� ������ ��� ��� ��� ��� ��� ��� ������ ��� ��� ��� ��� ��� ��� ���

����

������� ������������ ��������������

�������� ������������

���� ��������� �������������������

perkembangan yang positif. Pertumbuhan kredit (dengan channeling) pada triwulan I 2010 (sampai dengan Februari 2010) mencapai 9,4% (yoy), meningkat dari akhir tahun 2009 yang sebesar 8,7% (yoy) (Grafik 3.19). Jika dibandingkan dengan akhir tahun 2009, posisi kredit pada triwulan I 2010 (sampai dengan Februari 2010) masih mengalami penurunan sebesar Rp11,2 triliun. Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (Februari 2009), penurunan

Grafik 3.17 Suku Bunga PUAB O/N & Instr. Moneter

��� � ��� ��� ��� ��� �

posisi kredit pada saat itu jauh lebih besar dibandingkan dengan penurunan posisi kredit saat ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa perkembangan kredit telah mengalami perbaikan dari tahun sebelumnya yang juga dikonfirmasi oleh pola perubahan kredit bulanan di Februari 2010 yang telah lebih baik dibandingkan dengan pencapaian selama 3 tahun terakhir. Perkembangan kredit diperkirakan terus membaik seiring dengan mulai pulihnya permintaan domestik dan luar negeri.
��� ������ �������� ������ ������ ��������� ������ ���������� ��������� ������

Perbaikan transmisi kebijakan moneter melalui jalur kredit berasal baik dari sisi permintaan (demand side) maupun sisi penawaran (supply side). Dari sisi permintaan, perbaikan pertambahan kredit dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi domestik maupun eksternal yang mulai pulih, disertai dengan terus menurunnya suku bunga kredit yang

�����������������������

Grafik 3.18 Suku Bunga PUAB Berbagai Tenor

23

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

diindikasi dari spread antara suku bunga kredit dengan BI Rate yang
���������� �� �� �� �� �� �� �� �� �� �� � � � ��� ��� ��� ��� ���� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ���� ��� ��� ������� ��� ��� ���� � ��� � ��� � ��� � ����������� �� ���

semakin mengecil. Sementara itu, dari sisi penawaran, persepsi risiko ekonomi oleh perbankan yang mulai membaik memberikan kontribusi pada suku bunga kredit untuk turun. Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit konsumsi (KK) dan kredit investasi (KI) telah tumbuh positif, sedangkan kredit modal kerja (KMK) masih tumbuh negatif. Sampai dengan Februari 2010, pertumbuhan KMK masih tercatat mengalami pertumbuhan negatif sebesar 4,8% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan KI dan KK mengalami peningkatan mencapai 14,7% (yoy) dan 34% (yoy). Pertumbuhan KK merupakan yang paling agresif sebagai penopang pertumbuhan kredit secara agregat. Berdasarkan valutanya, perbaikan pertumbuhan kredit pada triwulan I 2010 terutama terlihat pada kredit dalam Rupiah, sedangkan kredit dalam valas (dalam USD) masih menunjukkan pertumbuhan yang negatif. Berdasarkan sektoral, meningkatnya pertumbuhan kredit terutama disumbang oleh sektor lainnya. Pada triwulan I 2010, sektor lainnya mengalami akselerasi pertumbuhan penyaluran kredit yang mencapai 43,5% (yoy), meningkat dari 18,8% (yoy) pada akhir tahun sebelumnya (Grafik 3.20). Beberapa sektor lainnya yang juga mengalami akselerasi pertumbuhan penyaluran kredit ialah sektor pertambangan, pengangkutan dan jasa sosial. Sektor listrik, air dan

���������

������������

Grafik 3.19 Pertumbuhan Dana, Kredit dan BI Rate

��� ��� ��� ��� �� �� �� �� �

������

��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ���� ���� ���� ������������������ ������������ ����������� �������

gas juga masih memiliki pertumbuhan penyaluran kredit yang relatif tinggi. Di sisi lain, seiring dengan mulai membaiknya kondisi eksternal, diharapkan pertumbuhan kredit khususnya di sektor industri pengolahan dan perdagangan diharapkan akan semakin membaik terkait dengan meningkatnya permintaan luar negeri. Likuiditas perekonomian khususnya M1 terus meningkat pada triwulan I 2010. Pertumbuhan likuiditas perekonomian khususnya M1

Grafik 3.20 Pertumbuhan Kredit Berdasarkan Sektoral

����� �� �� �� �� �� � � � �� �� �����

yang terus meningkat sejak Oktober 2009, mencapai 13,7% (yoy) pada Februari 2010 (Grafik 3.21). Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan pencapaian inflasi yang lebih rendah dari perkiraan merupakan faktor penyumbang dari pertumbuhan M1 yang terus meningkat. Pertumbuhan M1 terutama disumbang oleh pertambahan giro, sedangkan uang kartal juga menunjukkan tren peningkatan. Meningkatnya giro khususnya yang dimiliki oleh perseorangan serta badan usaha milik swasta – lainnya 1 sejalan dengan peningkatan kredit. Selain itu, pertumbuhan

� � � � � �� � � � � � �� � � � � � �� � � � � � �� � � � � � �� � ���� ���� ���� ���� ���� ����

giro perseorangan yang selaras dengan pergerakan IHSG merefleksikan meningkatnya aktifitas masyarakat untuk melakukan transaksi di sektor finansial.Hal itu diindikasi masih terus terjadi pada triwulan I 2010 terkait dengan masih positifnya return dari pasar saham. Berbagai kondisi

Grafik 3.21 Pertumbuhan Uang Beredar Nominal

1

Data Moneter dari LBU sampai dengan Desember 2009

24

Perkembangan dan Kebijakan Moneter Triwulan I-2010

tersebut mengkonfirmasi semakin membaiknya kondisi perekonomian
���������� �� �� �� � � � � � ��� � �� ���� ��� �� � �� ���� ��� �� � �� ���� ��� �� � ���� ��� � �������������� �������������������� ����� ����� ����� ����� �����

domestik. Di sisi lain, sampai dengan Februari 2010, pertumbuhan likuiditas perekonomian M2 dan M2 Rupiah tercatat sebesar 10,4% dan 12,3% (yoy) melambat dari akhir tahun 2009 yang mencapai 13,2% dan 14,0% (yoy) (Grafik 3.21). Posisi M2 dan M2 Rupiah masing-masing menurun sebesar Rp44,4 triliun dan Rp40,8 triliun seiring dengan berkurangnya komponen uang kuasi pada awal tahun.

Pasar Keuangan IHSG menunjukkan kinerja yang positif selama triwulan I 2010. IHSG mengalami penguatan sebesar 10,2% selama triwulan I 2010 dan ditutup pada level 2.777,3. Kebijakan Bank Indonesia untuk mempertahankan BI Rate pada level 6,5% pada akhir triwulan I 2010 menjadi salah satu pendorong menguatnya IHSG. Kebijakan

Grafik 3.22 IHSG dan Net Beli Asing

�� � � � � � � � � � �

���������� ���������������������������� �����������

�� �� �� �� �� �� � �

tersebut diterjemahkan oleh pasar sebagai upaya Bank Indonesia untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga pencapaian sasaran inflasi pada tahun 2010. Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi mencapai 5,4% pada triwulan IV 2009 disertai dengan perbaikan sovereign bond rating oleh S&P dan Fitch menyebabkan IHSG mampu mencetak pertumbuhan tertinggi dibandingkan dengan negara kawasan.2 Di sisi lain, relatif terjaganya faktor fundamental mikro emiten mampu cukup kuat menopang pertumbuhan IHSG selama triwulan I 2010. Fundamental emiten tersebut tercermin pada kemampuan sebagian besar perusahaan yang telah melakukan rilis laporan keuangan membukukan laba operasional, bahkan di antaranya mampu meningkatkan laba operasional. Rata-rata peningkatan laba operasional pada tahun 2009 ialah sebesar 23% (yoy). Sejalan dengan membaiknya indikator

�� ����

���

��

�� ����

���

��

�� ��� ����

��

� ����

Grafik 3.23 IHSG dan Volume Perdagangan

�� �� �� �� �� �� �� � �

� ���������� ���������������������� �����������

profitabilitas, terdapat juga kecenderungan Debt to Equity Ratio (DER) yang menurun. Posisi DER rata-rata emiten turun dari 3,7% pada tahun 2008 menjadi 3,1% pada tahun 2009. Kondisi tersebut pada akhirnya mendorong perbaikan rating secara sektoral oleh beberapa instansi. Dari sisi sektoral, penguatan IHSG tercermin oleh perkembangan sektoralnya, kecuali infrastruktur. Perkembangan sektoral IHSG tersebut sejalan dengan relatif kuatnya fundamental emiten. Sektor berbasis

��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ���� ���� ���� ���� ���� ����

komoditas seperti pertambangan dan perkebunan kembali tumbuh meski sempat terkoreksi cukup dalam pada Februari 2010. Rencana ekspansi beberapa emiten tambang turut membawa sentimen positif pada sektor tersebut. Perkembangan di sektor tambang tersebut merupakan resultansi dari kenaikan harga minyak dunia (WTI) sebesar

Grafik 3.24 Yield SUN, BI Rate dan SBI 1 Bulan

2

Data Moneter dari LBU sampai dengan Desember 2009

25

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

3,5% dan penurunan Baltic Dry Index sebesar 0,8%. Searah dengan
�� � ����������������������� ��������������������� �� ���� ����

perkembangan tersebut, terjadi kenaikan kapitalisasi sektor tradeable3 dari 47,7% menjadi 48,9% terhadap total kapitalisasi pasar. Penguatan IHSG terjadi di tengah terbatasnya arus modal asing selama

���

triwulan I 2010. Kondisi pasar keuangan global sempat kembali bergejolak pada Februari 2010 sehingga menyebabkan besarnya net jual yang dilakukan oleh investor asing. Gejolak pasar keuangan tersebut akibat ketidakpastian penyelesaian permasalahan fiskal pada negara-negara yang tergabung dalam PIGS (Portugal, Irlandia, Greece/ Yunani, dan Spanyol) serta kecemasan yang melanda pasar AS setelah indeks kepercayaan konsumen AS terkoreksi pada level terendah dalam 10 bulan terakhir. Namun dalam perkembangan selanjutnya, investor asing kembali masuk menyusul prakiraan bahwa negara berkembang cenderung akan menerapkan exit policy lebih awal dibandingkan dengan negara maju yang juga cenderung lunak terhadap inflasi.

��

���

��� � �

��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ���� ���� ����������������������

������������������

Grafik 3.25 Yield SUN dan CDS

��

� ����������������������� �����������

����

Dengan perkembangan tersebut, pada triwulan I 2010 investor asing mencatatkan net beli sebesar Rp3,68 triliun atau lebih tinggi dari triwulan IV 2009 sebesar Rp2,52 triliun. (Grafik 3.22). Perkembangan itu diikuti oleh volume perdagangan di bursa domestik selama triwulan I 2010 yang naik menjadi Rp4,12 triliun per hari dibandingkan dengan triwulan IV 2009 yang hanya mencapai Rp3,93 triliun per hari (Grafik 3.23). Di pasar Surat Utang Negara (SUN), kebijakan Bank Indonesia

���

�� ��� �� ���

��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� ���� ���� ����������������������

mempertahankan BI Rate direspons hampir secara merata untuk seluruh tenor Surat Berharga Negara (SBN), kecuali untuk tenor 1 tahun. Perkembangan kinerja SBN tersebut disebabkan oleh ekspektasi pelaku pasar terhadap tekanan inflasi jangka pendek yang masih minimal yang didukung oleh stabilitas nilai tukar sehingga belum akan mendorong penyesuaian BI Rate secara lebih lanjut. Faktor lain

������������������

Grafik 3.26 Yield SUN dan EMBIG

�� � � � � � � � � � �

����������
���������������������������� �����������

�� �� �� �� �� �� �

yang turut mendorong kinerja SBN adalah membaiknya sovereign bond rating yang mendekati investment grade. Sementara itu, naiknya yield pada tenor 1 tahun sebesar 55bps lebih disebabkan oleh permasalahan likuiditas yang tipis. Dengan perkembangan tersebut, yield SUN untuk tenor jangka pendek, jangka menengah dan panjang bergerak turun masing-masing sebesar 13bps, 74bps dan 64bps (Grafik 3.24). Penurunan yield SUN selama triwulan I 2010 tidak terlepas dari membaiknya kondisi pasar keuangan global. Meskipun sempat kembali bergejolak pada Februari 2010 akibat ketidakpastian penyelamatan di negara PIGS, pasar keuangan global mampu kembali menuju fase pemulihan. Dalam perkembangannya, kinerja pasar keuangan global kembali pulih setelah kebijakan moneter global kembali

�� ����

���

��

�� ����

���

��

�� ��� ����

��

� ����

Grafik 3.27 Nilai Perdagangan SUN
3

Meliputi sektor: pertambangan, perkebunan, industri dasar, aneka industri, dan barang konsumsi

26

Perkembangan dan Kebijakan Moneter Triwulan I-2010

menerapkan kebijakan suku bunga rendah. Berbagai indikator yang
��� ��� ��� ��� ��� ��� ��� �� �
� �� ���� ��� �� � �� ���� ��� �� � �� ��� ���� �� � ����

����������

�� �� �� �� �� �� � �

mendukung kondisi tersebut ialah penurunan faktor risiko EMBIG dan CDS. Posisi EMBIG dan CDS pada akhir triwulan I 2010 mencapai 259,2 dan 158,2 atau turun dari posisi triwulan IV 2009 yang mencapai 294,2 dan 192,0 (Grafik 3.25 dan Grafik 3.26). Membaiknya risiko di pasar keuangan global pada gilirannya mendorong aliran modal asing ke pasar SBN.4 Pada triwulan I 2010, net beli asing di pasar SBN mencapai sekitar Rp24 triliun atau naik dibandingkan dengan net beli asing pada triwulan IV 2009 yang hanya berkisar Rp14 triliun. Sejalan dengan peningkatan aliran modal asing, likuiditas pasar SBN turut membaik. Volume perdagangan SBN secara rata-rata naik menjadi Rp4,1 triliun per hari pada triwulan I 2010 dari rata-rata triwulan IV 2009 yang mencapai sebesar Rp3,3 triliun perhari (Grafik 3.27). Meningkatnya aktivitas perdagangan di pasar SBN belum diikuti oleh frekuensi rata-rata harian perdagangan SBN yang turun menjadi

Grafik 3.28 Frekuensi Perdagangan SUN

��� ��� ��� ��� ��� �� �
������������������ ��������������� ����

sebesar 247 kali perhari pada triwulan I 2010 dibandingkan dengan frekuensi perdagangan pada bulan triwulan IV 2009 yang mencapai 260 kali per hari (Grafik 3.28). Perbaikan kinerja underlying asset performance khususnya saham dan SBN menyebabkan kinerja reksadana meningkat cukup pesat. Beberapa kelompok reksadana yang mengalami peningkatan cukup pesat diantaranya reksadana saham, pendapatan tetap dan
��� ��� ����

��� ��� ��� ��� ���� ����

��� ��� ��� ��� ����

��� ��� ��� ��� ����

��� ��� ��� ��� ����

campuran, sedangkan reksadana ber basis surat utang tergolong stabil. Indeks reksadana saham, pendapatan tetap dan campuran bergerak naik sebesar 7,9%, 3,2% dan 8,9%. Dengan perkembangan tersebut, NAB per Februari 2010 mencapai sebesar Rp113 triliun dan berpotensi meningkat 30% pada tahun 2010.

Grafik 3.29 Indeks Reksadana Campuran, Pendapatan Tetap dan Saham

4

Posisi SBN termasuk SBSN dan SPN.

27

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

4. Perekonomian Indonesia ke Depan
Pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,5-6,0% pada tahun 2010 dan meningkat menjadi 6,0-6,5% pada tahun 2011. Dengan demikian, prospek ekonomi Indonesia akan lebih baik dari prakiraan semula. Pemulihan ekonomi global yang lebih cepat daripada prakiraan mendorong lebih optimisnya outlook pertumbuhan ekonomi dunia. Pemulihan ekonomi terutama didorong oleh negara-negara berkembang Asia. Sejalan dengan pemulihan perekonomian dunia tersebut, volume perdagangan dunia diprakirakan meningkat di atas prakiraan sebelumnya. Dengan kondisi eksternal tersebut, pemulihan yang terjadi di negara-negara mitra dagang Indonesia akan mendorong peningkatan barangbarang ekspor Indonesia baik komoditas berbasis sumber daya alam maupun komoditas manufaktur. Sementara itu, iklim investasi yang membaik disertai dengan konsumsi yang tetap kuat merupakan faktor penopang pertumbuhan ekonomi dari sisi domestik. Perbaikan iklim investasi tercermin pada peningkatan sovereign credit rating Indonesia. Peningkatan kegiatan investasi tersebut disertai dengan perbaikan kinerja ekspor akan mendorong terciptanya pendapatan masyarakat yang lebih tinggi. Berdasarkan imbangan risikonya, volume perdagangan dunia merupakan faktor utama yang memengaruhi kinerja ekspor dan sumbangannya terhadap pertumbuhan ekonomi. Dari sisi harga, secara keseluruhan inflasi ke depan diprakirakan tetap terjaga pada sasaran yang ditetapkan yakni 5%±1% pada tahun 2010 dan 2011. Tekanan inflasi diprakirakan belum signifikan sampai dengan paro pertama tahun 2010. Berdasarkan sumbernya, tekanan inflasi dari eksternal terutama disumbang oleh peningkatan inflasi mitra dagang sejalan dengan prakiraan membaiknya ekonomi global dan meningkatnya hargaharga komoditas internasional. Dari sisi domestik, tekanan inflasi
Tabel 4.1 Proyeksi PDB Dunia (% yoy)
2008
PDB Dunia Negara Maju Amerika Serikat Kawasan Euro Jepang Negara Maju Lainnya Negara Berkembang Afrika Eropa Timur dan Tengah Negara Persemakmuran Negara Berkembangan Asia China India Negara Timur Tengah Amerika Latin 3,0 0,5 0,4 0,6 -1,2 1,7 6,0 5,3 3,1 5,5 7,6 9,0 7,3 5,3 4,2

diprakirakan berasal dari peningkatan permintaan sejalan dengan prakiraan membaiknya perekonomian domestik. Namun, prakiraan
Proyeksi 2010
3,9 2,1 2,7 1,0 1,7 3,3 6,0 4,2 2,0 3,8 8,3 10,0 7,7 4,5 3,7

2009
-0,8 -3,2 -2,5 -3,9 -5,3 -1,3 2,0 1,8 -4,3 -7,5 6,4 8,5 5,6 2,2 -2,3

tersebut disertai dengan faktor risiko yang dapat timbul apabila sisi produksi dan ekspektasi bergerak di luar dari yang diskenariokan.

2011
4,3 2,4 2,4 1,6 2,2 3,6 6,3 5,3 3,7 4,0 8,3 9,7 7,8 4,8 3,8

ASUMSI DAN SKENARIO YANG DIGUNAKAN Kondisi Perekonomian Internasional Pemulihan ekonomi global yang lebih cepat daripada prakiraan sebelumnya mendorong lebih optimisnya outlook pertumbuhan ekonomi dunia. Pemulihan ekonomi terutama didorong oleh negara-negara berkembang Asia seiring dengan tingginya ekspor dan permintaan domestik yang kuat. Khusus di Asia, dampak stimulus fiskal China mengakibatkan proses pemulihan ekonomi China berjalan cukup cepat dan berhasil mendorong sektor manufaktur China. Sementara itu, pertumbuhan perekonomian negara Eropa diprakirakan relatif tertinggal terkait dengan masih

Sumber : MF, World Economic Outlook Update Januari 2010

28

Perekonomian Indonesia ke Depan

tingginya level pengangguran dan persoalan defisit fiskal di beberapa negara Eropa. Namun, fundamental perekonomian Asia yang cukup kuat mengakibatkan dampak lanjutan (spillover) krisis fiskal Uni Eropa menjadi relatif terbatas. Perkembangan perekonomian dunia yang membaik tersebut menyebabkan IMF dalam publikasinya di World Economic Outlook Update bulan Januari 2010 memprakirakan pertumbuhan ekonomi dunia dapat mencapai 3,9% pada tahun 2010 dan meningkat menjadi 4,3% pada tahun 2011. Pertumbuhan ekonomi dunia tersebut lebih tinggi dari prakiraan sebelumnya sebesar 3,1% pada tahun 2010 (IMF, dalam publikasinya di World Economic Outlook bulan Oktober 2009). Negara-negara berkembang, yang terutama didominasi oleh China dan India, diprakirakan dapat tumbuh sebesar 6,0% pada tahun 2010. Pertumbuhan tersebut menyamai kinerja pada tahun 2008. Sementara itu, negara maju diprakirakan dapat tumbuh sebesar 2,1% pada tahun 2010 dan 2,4% pada tahun 2011 (Tabel 4.1). Sejalan dengan pemulihan perekonomian dunia tersebut, volume perdagangan dunia diprakirakan meningkat di atas prakiraan sebelumnya. IMF dan World Bank pada bulan Januari 2010 merevisi ke atas prakiraan pertumbuhan volume perdagangan dunia pada tahun 2010 menjadi sebesar 5,8% dan 4,3% (yoy), melonjak tajam dibandingkan dengan prakiraan sebelumnya sebesar masing-masing 2,5% dan 3,8%. Sementara untuk tahun 2011, lembaga-lembaga tersebut memprakirakan volume perdagangan dunia kembali meningkat menjadi sebesar 6,3% dan 6,2% (yoy). Lembaga internasional lainnya yaitu World Trade Organisation (WTO) memprakirakan volume perdagangan dunia pada tahun 2010 meningkat sangat tajam menjadi sebesar 9,5% (yoy).

Skenario Kebijakan Fiskal Seiring dengan perkembangan ekonomi makro Pemerintah merencanakan perubahan APBN 2010 atau RAPBNP 2010. Perubahan APBN 2010 ditujukan antara lain untuk (i) mengantisipasi perubahan indikator ekonomi makro, (ii) menjaga stabilitas harga barang dan jasa di dalam negeri; serta (iii) mempercepat pelaksanaan program-program prioritas pembangunan nasional di tahun 2010 dan jangka menengah. Perubahan tersebut berdampak pada melebarnya defisit APBN dari sebelumnya 1,6% PDB menjadi 2,1% PDB akibat lebih besarnya kenaikan pengeluaran dibandingkan dengan kenaikan penerimaan. Di sisi penerimaan, terjadi tambahan pendapatan yang terutama bersumber dari penerimaan migas sejalan dengan asumsi harga minyak mentah yang lebih tinggi. Di sisi pengeluaran, terjadi tambahan belanja yang dilakukan dalam rangka mengakomodir perubahan asumsi ekonomi makro, menjaga stabilitas harga barang dan jasa, menampung anggaran belanja untuk program-program prioritas pembangunan yang belum diakomodir di dalam APBN 2010 dan menjaga rasio anggaran pendidikan agar tetap sebesar 20% dari total belanja negara. Di sisi pembiayaan defisit, meningkatnya defisit tersebut sebagian besar akan dibiayai melalui tambahan sisa lebih pembiayaan anggaran (SILPA).

29

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

PROSPEK PERTUMBUHAN EKONOMI Pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,5%-6,0% pada tahun 2010 (lebih baik dari prakiraan semula sebesar 5,0%-5,5%) dan meningkat menjadi 6,0%-6,5% pada tahun 2011. Akselerasi kegiatan perekonomian didukung oleh sisi eksternal yang membaik serta permintaan domestik yang tetap kuat. Dari sisi eksternal, kegiatan ekspor barang dan jasa terutama bersumber dari pemulihan ekonomi global baik di negara maju maupun negara berkembang. Pemulihan yang terjadi di negara-negara mitra dagang Indonesia akan mendorong peningkatan barang-barang ekspor Indonesia. Selanjutnya, hal tersebut akan mendorong sektor-sektor yang terkait ekspor untuk tumbuh tinggi seperti sektor industri pengolahan serta sektor perdagangan. Di samping kinerja ekspor yang membaik tersebut, kegiatan konsumsi rumah tangga diprakirakan tetap tumbuh tinggi sejalan dengan pendapatan yang lebih tinggi karena income effect dari perbaikan ekspor dan terjaganya tingkat keyakinan konsumen.

Prospek Permintaan Agregat Konsumsi rumah tangga diprakirakan tetap mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi, yakni sebesar 4,5%-5,0% pada tahun 2010 dan 2011. Cukup tingginya pertumbuhan konsumsi rumah tangga disebabkan oleh perbaikan yang terjadi di sisi eksternal. Ekspor yang telah menunjukkan kinerja positif pada triwulan IV 2009 memberikan dampak bagi meningkatnya pendapatan masyarakat. Hal tersebut tercermin pada ekspektasi penghasilan 6 bulan yang akan datang hasil Survei Konsumen Bank Indonesia. Di sisi lain, iklim investasi yang semakin kondusif dan prospek perekonomian yang cerah akan mendorong investor untuk melakukan investasi baik dalam bentuk peningkatan kapasitas produksi maupun perluasan usaha. Investasi yang lebih tinggi akan turut berkontribusi pada peningkatan pendapatan. Dalam situasi demikian, daya beli masyarakat akan semakin kuat. Prakiraan akselerasi konsumsi rumah tangga yang cukup tinggi juga didukung oleh terjaganya tingkat keyakinan konsumen dan inflasi. Berbagai indikator menunjukkan perkembangan yang sangat baik bahkan tren yang terus meningkat. Pertumbuhan penjualan motor dan
YOY, Tahun Dasar 2000

Tabel 4.2 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sisi Permintaan
Kom ponen
Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi Pemerintah Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto Ekspor Barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa PDB
* Angka Proyeksi Bank Indonesia

2008
5,3 10,4 11,9 9,5 10,0 6,0

2009
I
6,0 19,2 3,5 -18,7 -24,4 4,5

II
4,8 17,0 2,4 -15,5 -21,0 4,1

III
4,7 10,3 3,2 -7,8 -14,7 4,2

IV
4,0 17,0 4,2 -3,7 1,6 5,4

2009
4,9 15,7 3,3 -9,7 -15,0 4,5

2010*
4,5 - 5,0 5,9 - 6,9 8,8 - 9,3 10,2 - 11,0 12,5 - 13,5 5,5 - 6,0

2011*
4,8 - 5,3 8,8 - 9,8 10,8 - 11,3 11,0 - 12,0 14,8 - 15,8 6,0 - 6,5

30

Perekonomian Indonesia ke Depan

mobil menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Demikian juga, impor barang konsumsi tercatat mengalami akselerasi. Pertumbuhan konsumsi pemerintah pada tahun 2010 diprakirakan mengalami perlambatan sebesar 5,9%-6,9%, dan kembali meningkat menjadi sekitar 8,8%9,8% pada tahun 2011. Pada tahun 2010, perlambatan konsumsi pemerintah diprakirakan terjadi baik di pusat maupun daerah, yang disebabkan oleh menurunnya alokasi bantuan sosial dan belanja lainnya. Sementara pada tahun 2011, meningkatnya alokasi belanja pegawai dan belanja barang serta kembali meningkatnya dana bantuan sosial akan mendorong akselerasi konsumsi pemerintah. Selain itu, dana perimbangan untuk daerah juga mengalami peningkatan seiring dengan prakiraan meningkatnya penerimaan pajak dan migas pemerintah. Perbaikan iklim investasi serta prospek perekonomian yang lebih cerah akan mendorong akselerasi pertumbuhan investasi. Investasi diprakirakan mampu tumbuh mencapai 8,8%-9,3% dan 10,8%-11,3% pada tahun 2010 dan 2011. Iklim investasi pada tahun 2010 diprakirakan mengalami perbaikan seiring dengan peningkatan credit rating oleh beberapa lembaga pemeringkat Internasional. Pada tanggal 25 Januari 2010, Fitch Ratings menaikkan sovereign rating Indonesia menjadi BB+ dari semula BB dengan stable outlook. Dengan peningkatan tersebut, peringkat Indonesia tinggal 1 notch lagi di bawah investment grade. Selain itu, pada tanggal 12 Maret 2010, S&P juga menaikan sovereign rating Indonesia dari BB- ke BB. Optimisme akan cerahnya prospek investasi turut diperkuat oleh beberapa hasil survei Bank Indonesia. Hasil Survei Persepsi Pasar menunjukkan 80,3% dari responden menyatakan bahwa tahun 2010 merupakan saat yang tepat melakukan investasi, sedangkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha menunjukkan peningkatan nilai investasi ke depan. Di sisi lain, akselerasi pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan pemulihan ekspor akan mendorong peningkatan aktivitas di sisi produksi. Indikasi tersebut diperlihatkan oleh beberapa indikator seperti impor bahan baku dan impor barang modal yang tercatat meningkat sejak triwulan IV 2009. Berdasarkan jenis investasi, investasi nonbangunan diprakirakan mencatat pertumbuhan yang tinggi. Relatif murahnya biaya kredit serta kondusifnya fundamental perekonomian menjadi faktor pendorong bagi pertumbuhan investasi nonbangunan. Meskipun suku bunga BI Rate tidak lagi mengalami penurunan sejak Agustus 2009 hingga saat ini namun suku bunga kredit diprakirakan masih akan mengalami penurunan dikarenakan adanya jeda (lag) kebijakan moneter. Secara historis, bunga kredit yang lebih murah diikuti oleh pertumbuhan investasi nonbangunan yang meningkat karena kucuran kredit investasi yang diprakirakan akan semakin tinggi. Sementara itu, investasi bangunan pada tahun 2010 dan 2011 diprakirakan tumbuh stabil. Pertumbuhan investasi bangunan didorong oleh berjalannya program-program pemerintah terkait infrastruktur serta maraknya pembangunan properti. Optimisme terhadap pertumbuhan investasi bangunan didukung oleh berbagai indikator seperti konsumsi semen dan penjualan semen yang berada pada tren yang meningkat.

31

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

Perkembangan ekonomi global yang semakin membaik akan meningkatkan permintaan barang-barang dari Indonesia sehingga ekspor diprakirakan tumbuh sebesar 10,2%-11,0% pada tahun 2010 dan meningkat 11,0%-12,0% pada tahun 2011. Berdasarkan karakteristik negara tujuan ekspor, mitra dagang Indonesia terdiri dari negara-negara berkembang (seperti China, India, dan negara-negara ASEAN) maupun negara maju (terutama AS, Jepang dan Eropa). Namun, porsi ekspor dari Indonesia berdasarkan negara tujuan tersebut menunjukkan perkembangan yang berbeda. Ekspor ke negara-negara berkembang menunjukkan porsi yang semakin meningkat dari waktu ke waktu, sementara ekspor ke negara-negara maju menunjukkan hal yang sebaliknya. Kondisi di atas menyebabkan ekspor dari Indonesia mempunyai potensi untuk terakselerasi pada periode mendatang, karena negara-negara berkembang cenderung menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibanding dengan negara-negara maju. Potensi akselerasi ekspor dari Indonesia tercermin pada prakiraan pertumbuhan ekonomi negaranegara mitra dagang Indonesia. IMF memprakirakan bahwa negara-negara berkembang kemungkinan tumbuh sebesar 6,0% pada tahun 2010 dan 6,3% pada tahun 2011. Sementara itu, negara-negara maju diprakirakan tumbuh sebesar 2,1% pada tahun 2010 dan 2,4% pada tahun 2011. Selain didukung oleh permintaan yang meningkat dari negara mitra dagang, prospek ekspor juga didukung oleh karakteristik ekspor Indonesia yang sebagian besar adalah komoditaskomoditas berbasis sumber daya alam. Pada semester kedua 2009 di saat pemulihan ekonomi global mulai terjadi, komoditas ekspor berbasis sumber daya alam memberikan kontribusi pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding dengan komoditas manufaktur. Komoditas tersebut terdiri dari barang-barang hasil pertanian (seperti karet, kayu, hasil laut), hasil pertambangan (seperti batu bara, nikel, dan tembaga), serta CPO (Crude Palm Oil). Komoditas berbasis sumber daya alam merupakan input di bagian awal dari mata rantai produksi untuk menghasilkan barang-barang sekunder seperti barang manufaktur. Dalam kondisi pascakrisis, aktivitas proses produksi akan berlangsung dengan intensif sehingga permintaan hasil ekspor Indonesia akan meningkat lebih tinggi. Sementara itu, komoditas manufaktur juga akan mengalami peningkatan seiring dengan prospek pemulihan ekonomi yang membaik terutama di negara-negara maju. Komoditas manufaktur hasil ekspor Indonesia antara lain produk-produk kimia, kertas serta tekstil. Pertumbuhan ekspor dan aktivitas permintaan domestik yang meningkat akan mendorong kegiatan impor barang dan jasa untuk tumbuh mencapai 12,5%-13,5% pada tahun 2010, dan selanjutnya tumbuh 14,8%-15,8% pada tahun 2011. Kegiatan ekspor terutama ke negara-negara mitra dagang yang meningkat akan membutuhkan bahan baku baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Kebutuhan bahan baku dari luar negeri akan dipenuhi dalam bentuk impor sehingga mendorong impor barang dan jasa untuk tumbuh meningkat. Hubungan yang kuat antara ekspor dan pemenuhan kebutuhan bahan baku dalam bentuk impor ini terlihat pada pertumbuhan ekspor dan impor yang searah. Dari sisi domestik, meningkatnya kegiatan investasi juga akan mendorong impor barang modal dan penggunaan bahan baku impor yang meningkat. Impor barang modal antara lain

32

Perekonomian Indonesia ke Depan

berupa mesin/pesawat mekanik, peralatan listrik, dan lain-lain. Impor bahan baku berupa besi dan baja, bahan-bahan kimia, dan lain-lain, yang akan menjadi input bagi sektor industri di dalam negeri. Selain untuk memenuhi kegiatan investasi dalam negeri, kegiatan impor juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan barang konsumsi rumah tangga. Barang-barang konsumsi yang dominan diimpor antara lain bahan makanan dan minuman jadi, pakaian, dan juga kendaraan bermotor.

Prospek Penawaran Agregat Secara umum, prakiraan sektor-sektor PDB terkini mengalami koreksi ke atas dibandingkan dengan prakiraan sebelumnya. Pemulihan ekonomi negara mitra dagang telah mendorong sektor industri berorientasi ekspor tumbuh lebih tinggi. Sejalan dengan itu, sektor perdagangan mulai menggeliat, didorong oleh meningkatnya impor. Pertumbuhan sektor pertanian di tahun 2010 diprakirakan lebih tinggi dari tahun sebelumnya (mencapai 4,1-4,4%) meskipun terkena imbas fenomena El Nino. Selanjutnya pada tahun 2011, sektor pertanian diprakirakan dapat tumbuh 4,4%4,6%. Kinerja sektor pertanian diprakirakan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah. Pemerintah berupaya melakukan pengawalan dan pemantauan intensif daerah-daerah yang berpotensi terjadi kekeringan akibat El Nino. Pemerintah juga akan memberikan batuan berupa pompa air dan bantuan benih unggul. Selain itu, Pemerintah telah berencana untuk tetap menjaga swasembada beras dalam rangka ketahanan pangan. Program ketahanan dan swasembada pangan mendorong pemerintah untuk mengembangkan sektor pertanian melalui ekspansi lahan tanam, penyediaan bibit unggul dan perbaikan infrastruktur pertanian. Pengembangan pertanian yang kini tengah digarap pemerintah terfokus pada 3 kawasan yaitu Dumai (Riau), Sumatera Utara (bekas Inalum) dan Merauke (Papua). Untuk Dumai dan Sumatera Utara, pengembangan lahan pertanian ditujukan dalam rangka mendukung daerah
YOY, Tahun Dasar 2000

Tabel 4.3 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sisi Penawaran
Sektor
Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel & Restoran Pegangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan & Jasa Jasa - Jasa PDB
* Angka Proyeksi Bank Indonesia

2008
4,8 0,7 3,7 10,9 7,5 6,9 16,6 8,2 6,2 6,0

2009
I
5,9 2,6 1,5 11,2 6,2 0,6 16,8 6,3 6,7 4,5

II
2,9 3,4 1,5 15,3 6,1 (-0,0) 17,0 5,3 7,2 4,1

III
3,3 6,2 1,3 14,5 7,7 (-0,2) 16,4 4,9 6,0 4,2

IV
4,6 5,2 4,2 14,0 8,0 4,2 12,2 3,8 5,7 5,4

2009
4,1 4,4 2,1 13,8 7,1 1,1 15,5 5,0 6,4 4,5

2010*
4,1 - 4,4 4,2 - 4,4 4,1 - 4,4 13,6 - 14,2 8,1 - 8,5 5,1 - 5,5 12,6 - 14,3 4,9 - 5,3 4,9 - 5,2 5,5 - 6,0

2011*
4,4 - 4,6 4,4 - 4,6 4,4 - 4,7 14,2 - 14,5 8,3 - 9,2 5,7 - 6,2 12,8 - 14,2 5,5 - 5,9 5,7 - 6,0 6,0 - 6,5

33

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

tersebut menjadi basis industri minyak kelapa sawit mentah (CPO). Di Merauke, Papua, pemerintah mengembangkan lahan pangan yang cukup luas (food estate). Lahan pangan tersebut berupa kawasan penanaman kelapa sawit, kedelai, tebu, jagung dan padi. Saat ini, seluas 500 ribu hektar lahan telah digunakan untuk mengembangkan tanaman jagung sejak tahun 2008. Pengembangan tanaman jagung tersebut dilakukan dalam rangka mendukung swasembada pangan nasional. Dalam rangka mendorong produksi beras, pemerintah mendorong pengembangan produksi padi unggul. Data Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa lembaga tersebut telah mampu mengembangkan 7 varietas padi hibrida, yaitu Galur CMS A1, Galur CMS A2, Galur Restorer R.17, Galur Restorer R.32, Hipa 5 Ceva, Hipa 6 Jete dan IR 8025A/BR827-35. Namun produktivitas dari benih padi hibrida tersebut masih kalah dengan varietas yang dimiliki China. Persaingan dari sisi harga dan produktivitas beras China menjadi tantangan yang berat di tahun 2015. Untuk itu pemerintah akan mendorong para peneliti di Kementerian Pertanian untuk menyiapkan dan menghasilkan varietas padi unggul yang dapat bersaing dengan China. Konsumsi jagung ke depan diprakirakan akan terus meningkat. Upaya pemerintah mendorong peningkatan konsumsi jagung oleh masyarakat dimaksudkan untuk menurunkan ketergantungan pada beras sebagai makanan pokok. Selain itu, pengembangan tanaman jagung juga didorong oleh permintaan yang meningkat dari peternakan unggas. Produksi unggas diprakirakan tumbuh cukup tinggi rata-rata sekitar 30% dan jagung merupakan bahan pakan utama untuk peternakan unggas. Kinerja sektor pertambangan pada tahun 2010 diprakirakan mencapai 4,2%-4,4%, dan pada tahun 2011 tumbuh sebesar 4,4%-4,6%. Penurunan produksi tambang tercermin pada target penjualan emas yang menurun di tahun 2010 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penetapan target tersebut telah mempertimbangkan ekspektasi kadar emas serta jumlah produksi bijih. Selain itu produksi minyak dan gas Indonesia diprakirakan akan di bawah harapan. Beberapa hal menjadi penyebab rendahnya produksi migas nasional, yaitu (i) usia sumur yang sudah tua, rata-rata memiliki natural decline 12%, sehingga diperlukan temuan lapangan sumur yang baru, (ii) kondisi peralatan penunjang produksi sebagian besar telah memasuki usia tua dan membutuhkan investasi tambahan untuk pemeliharaan atau penggantian, (iii) anggaran eksplorasi migas yang relatif masih terbatas. Kinerja sektor pertambangan terutama didukung oleh pertambangan batubara. Produksi batubara tahun 2010 diprakirakan malampaui produksi tahun 2009. Produksi batubara tahun 2010 diprakirakan mencapai 280 juta ton, lebih tinggi dari produksi tahun 2009 yang mencapai 250 juta ton. Prakiraan meningkatnya produksi batubara nasional didukung oleh perkembangan terakhir produksi batubara yang meningkat signifikan menjelang akhir kuartal pertama tahun 2010. Permintaan pasokan batubara diprediksi datang dari negaranegara seperti India, China dan Jepang. Meskipun permintaan dari eksternal diprakirakan meningkat, hal itu tidak akan memengaruhi pasokan batubara domestik. Sektor industri pengolahan diprakirakan tumbuh sebesar 4,1%-4,4% pada tahun 2010 dan 4,4%-4,7% pada tahun 2011. Membaiknya perekonomian domestik dan global

34

Perekonomian Indonesia ke Depan

mendorong optimisme di sektor industri pengolahan. Ekspor yang mulai membaik, daya beli yang meningkat baik dari eksternal maupun domestik, mendorong peningkatan produksi di sektor ini. Dengan komitmen pemerintah untuk memperbaiki berbagai kendala dalam kegiatan usaha seperti infrastruktur (jalan dan energi) serta penyederhanaan berbagai aturan akan mendorong kian berkembangnya sektor ini. Industri makanan dan minuman merupakan industri yang tetap berkinerja baik di tahun lalu sementara industri lain terpuruk. Kinerja yang baik tersebut diprakirakan tetap berlanjut pada tahun-tahun mendatang. Produksi air minum dalam kemasan sepanjang tahun 2010 diprakirakan mencapai 13,7 miliar liter, atau tumbuh 7,03% dibandingkan dengan produksi tahun 2009 yang mencapai 12,8 miliar liter. Kementrian Perindustrian telah menerbitkan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk air minum dalam kemasan (AMDK). Penerbitan SNI tersebut berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) No. 69/2009 tanggal 3 Juli 2009 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) AMDK secara wajib. Dengan berlakunya SNI, maka produk AMDK Indonesia diharapkan siap bersaing secara global. Sementara itu, aktivitas yang meningkat dari pembangunan infrastruktur dan berbagai pembangunan pabrik mendorong meningkatnya kegiatan di industri-industri terkait dengan sektor bangunan. Untuk mengantisipasi meningkatnya permintaan ke depan beberapa pelaku di industri semen berinvestasi untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Tren konsumsi yang meningkat juga mendorong peningkatan produksi industri baja dan industri komponen otomotif. Industri alas kaki akan menerima relokasi pabrik sepatu dari 10 investor yang berasal dari Taiwan, China, Korea dan Thailand. Investasi dari investor-investor tersebut diprakirakan mencapai 20 juta dolar AS. Sejumlah lokasi di Indonesia yang dinilai kondusif dan strategis untuk pengembangan industri alas kaki dari investor-investor tersebut yakni Tangerang, Sidoarjo, Mojokerto, Pasuruan dan Bandung. Dari sisi infrastruktur daerah-daerah tersebut dinilai relatif siap dijadikan sebagai basis produksi. Investasi kesepuluh investor itu diprakirakan dapat menyerap sekitar 10.000 tenaga kerja baru. Rencana relokasi perusahaan sepatu asing ke Indonesia disebabkan oleh upah buruh yang relatif lebih murah di Indonesia. Selain itu, perizinan dan kondisi politik di Indonesia terus membaik. Kondisi ekonomi yang membaik serta daya beli yang meningkat diprakirakan mendorong sektor perdagangan, hotel dan restoran untuk tumbuh mencapai 5,1%-5,5% pada tahun 2010, lalu berlanjut sebesar 5,7%-6,2% pada tahun 2011. Peningkatan kegiatan subsektor perdagangan tercermin pada indeks penjualan eceran yang berada dalam tren yang meningkat. Seiring dengan berlakunya pasar bebas Asean-China Free Trade Agreement (ACFTA), para pedagang akan mempunyai sumber pasokan yang lebih besar untuk diperdagangkan. Barang-barang impor diprakirakan cukup mempunyai pasar yang besar di Indonesia, hal itu tercermin dari besarnya keterkaitan impor dengan perkembangan sektor perdagangan, hotel dan restoran. Sektor pengangkutan dan komunikasi diprakirakan tumbuh tinggi dalam kisaran 12,6%-14,3% pada tahun 2010, dan 12,8%-14,2% pada tahun 2011. Aktivitas ekonomi yang meningkat, seiring dengan perbaikan kondisi ekonomi, diprakirakan mendorong

35

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

peningkatan kegiatan transportasi. Untuk mengantisipasi meningkatnya aktivitas perjalanan, beberapa maskapai penerbangan berinvestasi untuk peremajaan dan penambahan armada baru serta membuka rute penerbangan baru. Investasi tersebut selanjutnya akan diikuti oleh perbaikan pelayanan kepada konsumen agar maskapai penerbangan domestik dapat bersaing dalam menghadapi ASEAN Open Sky Policy. Untuk meningkatkan kinerja industri penerbangan pemerintah memberikan insentif fiskal dalam bentuk pemberian bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP) untuk suku cadang pesawat di Indonesia. Sebanyak 30 maskapai penerbangan berjadwal dan sewa memanfaatkan insentif tersebut. Ke-30 maskapai itu akan memanfaatkan insentif fiskal suku cadang pesawat dengan pagu Rp312 miliar. Di subsektor komunikasi, saat ini produsen industri telekomunikasi memfokuskan diri pada pengembangan broadband dalam rangka perluasan penetrasi internet. Pengembangan mobile broadband dipercaya dapat bermanfaat meningkatkan taraf kehidupan masyarakat, baik dari segi sosial maupun ekonomi. Hal tersebut dapat terwujud bila layanan broadband dapat tersedia dalam jumlah yang cukup dan dengan kualitas yang baik. Untuk itu Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bertekad mendorong keberadaan broadband agar mampu mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi. Untuk mengembangkan mobile broadband pemerintah telah mengeluarkan sebanyak 8 WiMAX licenses yang diberikan di beberapa zona sejak Juli 2009, dan diprakirakan akan mulai melayani secara komersial awal 2010. Sektor bangunan diprakirakan dapat tumbuh mencapai 8,1%-8,5% pada tahun 2010 dan 8,3%-9,2% pada tahun 2011. Aktivitas sektor bangunan diprakirakan didorong oleh pembangunan infrastruktur. Pemerintah telah berkomitmen untuk memperbaiki kondisi infrastruktur di Indonesia untuk mempercepat pembangunan ekonomi. Dari proyek energi 10.000 MW tahap I telah beroperasi sekitar 1.900 MW tahun 2009. Tambahan sebesar 2.400 MW akan terealisir di tahun 2010 dan sebesar 5.000 MW di tahun 2011. Proyek 10.000 MW yang siap beroperasi tahun 2010 yaitu PLTU Labuan unit 1 dan 2, PLTU Rembang unit 1 dan 2, PLTU Suralaya, PLTU Indramayu unit 1,2, dan 3 serta Paiton. Dengan beroperasinya beberapa PLTU dari program energi 10.000 MW tahap I diharapkan dapat memperkuat sistem kelistrikan Jawa-Bali, mengingat kebutuhan listrik tiap tahun meningkat sekitar 7%. Sementara itu, proyek energi 10.000 MW tahap II baru mulai ditenderkan pada pertengahan April 2010 dan diprakirakan sudah beroperasi tahun 2014. Pembangunan proyek energi 10.000 MW tahap II akan dibagi dalam beberapa termin. Termin I akan dibangun sebesar 3.976 MW pada tahun 2010 dan termin II akan dibangun sebesar 3.500 MW. Sisanya akan dilanjutkan pada tahun berikutnya. Nilai investasi proyek energi 10.000 MW tahap II diprakirakan sebesar 16,34 miliar dolar AS, yang terdiri dari proyek pembangkit senilai 15,96 miliar dolar AS dan pembangunan transmisi sebesar 383 juta dolar AS. Pendanaan dari proyek ini berasal dari APBN, kas PT PLN, Japan International Cooperation Agency (JICA), pinjaman dari China, dan Bank Pembangunan Asia (ADB). Proyek-proyek pembangkit listrik yang akan dibangun akan menggunakan bahan bakar energi terbarukan, batubara dan gas. Sektor keuangan, persewaan dan jasa diprakirakan tumbuh 4,9%-5,3% pada tahun 2010, dan meningkat sebesar 5,5%-5,9% pada tahun 2011. Kegiatan ekonomi yang

36

Perekonomian Indonesia ke Depan

lebih aktif diprakirakan meningkatkan permintaan akan jasa intermediasi sektor keuangan. Sementara itu, dengan munculnya tanda-tanda pemulihan ekonomi global dan domestik yang kian menguat, respons perbankan terhadap perkembangan suku bunga ke depan diprakirakan semakin membaik. Beberapa bank telah menyatakan keinginannya untuk mendukung perkembangan sektor riil, terutama UMKM. Dengan demikian dukungan pendanaan bagi kegiatan ekonomi akan tersedia dengan lebih mudah dan murah.

PRAKIRAAN INFLASI Di sisi harga, tekanan inflasi diprakirakan belum akan signifikan sampai dengan semester I-2010. Secara keseluruhan, inflasi ke depan diprakirakan tetap terjaga pada sasaran yang ditetapkan yakni 5%±1% pada tahun 2010 dan 2011. Pada tahun 2010, tekanan inflasi dari sisi eksternal terutama disumbang oleh peningkatan inflasi mitra dagang sejalan dengan prakiraan membaiknya ekonomi global dan meningkatnya hargaharga komoditas internasional. Dari sisi domestik, tekanan inflasi diprakirakan berasal dari peningkatan permintaan sejalan dengan prakiraan membaiknya perekonomian domestik. Hal tersebut sebagaimana diindikasikan oleh total kapasitas utilisasi yang menunjukkan sedikit peningkatan. Di sisi lain, ekspektasi inflasi cenderung membaik, terlihat dari hasil berbagai survei yang menunjukkan menurunnya ekspektasi inflasi pada tahun 2010. Membaiknya ekspektasi inflasi ini sejalan dengan komitmen Bank Indonesia untuk tetap menjaga inflasi berada dalam kisaran sasaran. Dari sisi inflasi volatile food, gangguan cuaca berupa banjir di beberapa sentra produksi beras diprakirakan hanya memberikan tekanan inflasi yang moderat di tengah meningkatnya harga pangan internasional. Selanjutnya pada tahun 2011, tekanan inflasi inti diprakirakan sejalan dengan perbaikan perekonomian domestik dan global yang terus berlanjut. Sementara itu, inflasi volatile food diprakirakan relatif tetap. Relatif tetapnya inflasi volatile food terutama karena produksi dan distribusi bahan makanan diprakirakan berjalan lancar sebagaimana tahun 2010. Inflasi administered diprakirakan sedikit meningkat sejalan dengan kenaikan harga komoditas internasional dan harga minyak dunia. Selain itu, pada 2011 juga diprakirakan tidak terjadi kenaikan harga barang/jasa yang bersifat strategis (strategic administered) seperti BBM subsidi, tarif listrik, serta tarif angkutan.

Faktor Risiko Pertumbuhan PDB yang lebih optimis dibandingkan dengan prakiraan sebelumnya tetap mengandung beberapa risiko baik yang bersumber dari faktor eksternal maupun domestik. Tingginya ketidakpastian yang memengaruhi prakiraan tersebut menyebabkan diperlukannya metode untuk mengkuantifisir berbagai imbangan risiko, salah satunya dengan menggunakan fan chart. Pemulihan ekonomi global yang terus menunjukkan perbaikan dapat mendorong volume perdagangan dunia pada tahun 2010 tumbuh lebih tinggi dibanding dengan prakiraan. Sejalan dengan peningkatan volume perdagangan dunia tersebut, harga komoditas nonmigas

37

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

berpotensi tumbuh lebih tinggi dibanding dengan prakiraan. Apabila aktivitas perdagangan dunia tumbuh lebih tinggi, permintaan barang-barang ekspor Indonesia diprakirakan meningkat. Sementara itu, peningkatan harga komoditas akan mendorong eksportir untuk melakukan ekspor lebih banyak.
� � � � � � � � � � � � � �

Selanjutnya, pada tahun 2011 perkembangan perekonomian dunia secara umum diprakirakan membaik. Namun, terdapat faktor risiko global yang bersumber dari (i) kemungkinan timbulnya financial system distress, (ii) masih terbatasnya ketersediaan kredit, dan (iii) risiko inflasi karena ekses likuiditas global dan asset price bubbles. Hal-hal tersebut menyebabkan pertumbuhan ekonomi global berisiko tumbuh lebih rendah dari prakiraan. Dengan demikian, pada 2011 masih terdapat downside risk dari volume perdagangan dunia. Berdasarkan faktor-faktor di atas, prakiraan PDB ke depan beserta imbangan risikonya pada 2010 dan 2011 tergambar pada fan chart PDB (Grafik 4.1). Fan chart PDB juga menggambarkan tingkat ketidakpastian/ uncertainty prakiraan pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi pada tahun 2011 dibanding dengan prakiraan PDB 2010, tercermin pada kisaran

��

��� �� ����

�� ��� ����

��

�� ��� ����

��

�� ��� ����

��

�� ��� ����

��

Grafik 4.1 Fan Chart PDB 2010-2011

����� �� �� �� �� � � � � �

����� �� �� �� �� � � � � �

grafik fan chart yang semakin melebar dari tahun 2010 ke 2011. Seperti halnya dengan prakiraan PDB, prakiraan inflasi juga disertai oleh faktor ketidakpastian yang cukup besar, terutama risiko terjadinya kenaikan harga administered. Selain itu, faktor risiko juga timbul apabila produksi dan distribusi pangan lebih buruk dari yang diprakirakan. Selain faktor risiko yang dapat membawa proyeksi inflasi lebih tinggi dari yang diprakirakan, juga terdapat faktor yang dapat menurunkan tekanan inflasi yang berasal dari membaiknya ekspektasi inflasi. Potensi lebih membaiknya ekspektasi inflasi diprakirakan bersumber dari meningkatnya keyakinan masyarakat terhadap upaya Bank Indonesia dalam mencapai sasaran inflasi. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, prakiraan inflasi ke depan beserta imbangan risikonya pada 2010 dan 2011 tergambar pada fan chart inflasi (Grafik 4.2).

��� �� ����

�� ��� ����

��

�� ��� ����

��

�� ��� ����

��

�� ��� ����

��

Grafik 4.2 Fan Chart Inflasi 2010-2011

38

Respons Kebijakan Moneter Triwulan IV-2009

5. Respons Kebijakan Moneter Triwulan I-2010
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 6 April 2010 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar pada level 6,50%. Keputusan tersebut diambil setelah mencermati dan mengevaluasi perkembangan perekonomian pada triwulan I 2010 dan membahas prospek ekonomi ke depan. Bank Indonesia memandang bahwa tingkat BI Rate sebesar 6,50 % masih konsisten dengan sasaran inflasi tahun 2010 sebesar 5%+1% dan arah kebijakan moneter saat ini juga dipandang masih kondusif bagi proses pemulihan perekonomian dan berlangsungnya intermediasi perbankan. Inflasi pada Maret 2010 menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Secara bulanan, IHK tercatat deflasi sebesar 0,14% (mtm) atau secara tahunan tercatat sebesar 3,43% (yoy). Mencermati perkembangan tersebut, inflasi tahun 2010 secara keseluruhan diyakini akan berada pada kisaran sasaran sebesar 5%±1%. Kondisi perbankan hingga saat ini masih relatif terjaga. Likuiditas perekonomian menunjukkan peningkatan selama triwulan I 2010. Hingga Februari 2010, pertumbuhan kredit juga menunjukkan perkembangan yang positif hingga mencapai 9,4% (yoy). Di sisi mikro, industri perbankan dalam kondisi stabil seperti tercermin dari masih tingginya tingkat kecukupan modal CAR dan terjaganya NPL gross di level 4%. Ke depan, kebijakan moneter diarahkan untuk secara konsisten menjaga inflasi yang rendah dengan tetap memerhatikan upaya percepatan pemulihan ekonomi. Berbagai upaya akan dilakukan untuk semakin mendorong efektifitas transmisi kebijakan moneter, termasuk melalui peningkatan efisiensi perbankan. Di samping itu, Bank Indonesia juga akan melakukan upaya untuk mengelola risiko agar stabilitas moneter dan stabilitas sistem keuangan tetap dapat dipertahankan. Sejumlah langkah yang akan ditempuh antara lain mengelola ekses likuiditas di pasar uang dan perbankan agar kondusif bagi upaya memelihara stabilitas moneter dan stabilitas sistem keugangan, dan penguatan sinergi kebijakan antara Bank Indonesia dan Pemerintah. Di tingkat pusat, sinergi dilakukan melalui Tim Koordinasi Penetapan Sasaran, Pemantauan dan Pengendalian Inflasi (TPI), dan di tingkat daerah dilakukan melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Melalui forum tersebu, diupayakan tekanan-tekanan inflasi yang bersumber dari sisi penawaran (supply) dapat diatasi.

39

Tabel Statistik I-2010 Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan

Tabel 1 Suku Bunga Pasar Uang. Deposito Berjangka. dan Kredit (Persen per Tahun)
Suku Bunga Deposito Berjangka ** 1 bulan 3 bulan 6 bulan 12 bulan 24 bulan Suku Bunga Kredit** Modal Kerja Investasi

Periode

Suku Bunga Pasar Uang Antarbank*

Tingkat Diskonto SBI*

2005 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2006 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2007 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2008 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2009 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2010 Trw. I

5.95 6.95 6.92 9.44

7.44 8.25 10.00 12.75

6.50 6.98 9.16 11.98

6.93 7.19 8.51 11.75

7.35 7.11 8.01 10.17

8.04 7.11 8.65 10.95

9.42 8.05 8.82 12.39

13.31 13.36 14.51 16.23

13.78 13.65 14.47 15.66

10.28 10.23 8.90 5.97

12.73 12.50 11.25 9.75

11.61 11.34 10.47 8.96

12.19 11.70 11.05 9.71

12.10 12.09 11.52 10.70

12.02 12.28 12.36 11.63

12.64 12.61 12.47 11.84

16.35 16.15 15.82 15.07

15.90 15.94 15.66 15.10

7.52 5.58 6.83 4.33

9.00 8.75 8.25 8.00

8.13 7.46 7.13 7.19

8.52 7.87 7.44 7.42

9.29 8.40 7.80 7.65

10.17 9.54 8.91 8.24

11.73 11.73 11.24 10.83

14.49 13.88 13.31 13.00

14.53 13.99 13.45 13.01

8.01 8.43 9.37 9.40

7.96 8.73 9.71 10.83

6.88 7.19 9.26 10.75

7.26 7.49 9.45 11.16

7.57 7.79 9.14 10.34

7.79 7.78 9.34 10.43

10.06 9.91 9.83 8.62

12.88 12.99 13.93 15.22

12.59 12.51 13.32 14.40

8.04 6.96 6.30 6.28

8.21 6.95 6.48 6.46

9.42 8.52 7.43 6.87

10.65 9.25 8.35 7.48

10.45 9.75 8.71 7.87

11.31 11.37 10.80 9.55

8.33 9.03 9.14 9.10

14.99 14.52 14.17 13.69

14.05 13.78 13.20 12.96

6.18

6.41

7.09

7.31

7.59

9.12

7.68

13.75

13.24

* Posisi Pebruari 2010 ** Posisi Januari 2010

40

Tabel Statistik

Tabel 2 Perkembangan Transaksi di Pasar Uang (Miliar Rupiah)
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 2) Periode Transaksi antarbank1)
2005 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2006 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2007 Trw. I Trw. II Trw. III Trw.IV 2008 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2009 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 22.897 30.656 29.038 24.566 398.394 324.806 451.257 631.233 397.703 324.775 449.566 592.046 2 3 3 . 7 5 4 2 3 1 . 3 9 2 2 1 7 . 2 8 7 2 5 3 . 7 5 6 37.482 23.510 27.115 14.029 858.289 489.529 389.138 404.071 906.767 543.655 437.313 340.913 2 1 2 . 4 6 3 1 6 5 . 1 4 5 1 1 6 . 9 6 9 1 8 0 . 1 2 8 37.341 38.323 36.615 32.061 774.866 846.655 895.562 777.247 740.951 832.325 887.411 795.475 2 4 3 . 6 7 1 2 5 8 . 0 0 2 2 6 6 . 1 5 2 2 4 7 . 9 2 6 23.866 23.910 25.383 27.706 415.638 517.853 599.495 665.673 356.471 483.967 586.715 636.381 1 3 3 . 7 9 9 1 6 7 . 6 8 5 1 8 0 . 4 6 4 2 0 9 . 7 5 6 16.751 18.589 17.430 20.316 369.495 362.770 230.026 183.663 415.784 315.996 289.657 150.534 5 7 . 5 3 6 1 0 1 . 0 5 8 4 1 . 4 2 7 7 4 . 6 3 2

Penerbitan

Pelunasan

Posisi

1) Transaksi pagi hari 2) Hanya mencakup transaksi antar Bank Indonesia dengan perbankan. Sejak Maret 1994 termasuk SBPU Repo.

41

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

Tabel 3 Posisi Kredit Perbankan dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Kelompok Bank dan Sektor Ekonomi1) (Miliar Rupiah)
2007 I 1 Bank Pemerintah - Pertanian - Pertambangan - Perindustrian - Perdagangan - Jasa-jasa - Lain-lain 2 Bank Umum Swasta Nasional - Pertanian - Pertambangan - Perindustrian - Perdagangan - Jasa-jasa - Lain-lain 3 Bank Pemerintah Daerah - Pertanian - Pertambangan - Perindustrian - Perdagangan - Jasa-jasa - Lain-lain 4 Bank Asing & Campuran - Pertanian - Pertambangan - Perindustrian - Perdagangan - Jasa-jasa - Lain-lain 5 Bank Perkreditan Rakyat - Pertanian - Pertambangan - Perindustrian - Perdagangan - Jasa-jasa - Lain-lain 6 Sub jumlah (1 s.d. 4) - Pertanian - Pertambangan - Perindustrian - Perdagangan - Jasa-jasa - Lain-lain
* 1)

2008 III IV 348.973 30.281 10.647 72.810 85.601 55.587 94.047 432.595 15.533 10.678 73.840 108.726 110.144 113.674 71.921 2.274 43 631 9.617 8.879 50.477 141.622 7.817 3.972 56.527 11.726 37.831 23.749 20.469 1.339 0 333 7.664 2.093 9.040 I 350.232 30.711 13.371 72.706 79.209 55.271 98.964 451.967 15.571 9.621 77.952 111.756 115.400 121.667 75.065 2.379 53 710 10.191 8.615 53.117 151.908 7.449 4.591 60.265 11.383 43.878 24.342 21.592 1.498 0 367 7.973 2.185 9.569 II 394.065 32.381 14.922 81.038 92.719 64.182 108.823 500.718 18.298 10.137 84.610 123.057 131.115 133.501 85.339 2.710 182 770 11.504 10.831 59.342 161.998 6.425 3.910 65.896 13.022 46.763 25.982 23.856 1.672 0 391 8.866 2.433 10.494 III 432.850 35.153 14.778 88.181 98.865 77.295 118.578 534.599 18.169 10.850 90.896 125.908 143.486 145.290 93.991 3.067 187 787 12.042 13.456 64.452 178.061 6.505 4.478 68.739 14.256 56.523 27.560 25.706 1.769 0 436 9.516 2.684 11.301 IV 461.877 37.409 13.807 96.838 102.017 87.505 124.301 552.617 19.150 11.137 97.042 130.687 148.332 146.269 96.440 3.182 270 814 12.055 13.356 66.763 189.245 6.419 5.327 74.458 13.246 60.766 29.029 25.413 1.733 0 426 9.307 2.672 11.275 I 466.605 38.367 13.363 98.660 103.408 83.540 129.267 530.642 18.722 8.979 93.414 120.114 144.072 145.341 100.817 3.143 312 829 12.638 13.153 70.742 184.654 7.020 6.081 71.358 15.113 57.418 27.664 25.333 1.774 0 433 8.998 2.705 11.423 II

2009 III 504.649 41.313 14.205 92.634 118.580 91.532 146.385 549.349 19.112 10.861 86.575 124.949 151.281 156.571 119.552 3.749 615 1.082 14.898 18.790 80.418 168.509 5.535 6.235 58.833 13.364 55.326 29.216 27.434 1.934 0 486 9.746 2.935 12.333 IV 533.945 45.091 16.795 92.485 129.497 93.320 156.757 593.400 21.359 15.013 92.738 134.434 162.535 167.321 120.701 3.706 675 1.146 15.278 17.565 82.331 170.748 5.236 9.076 59.314 12.873 52.828 31.421 28.014 2.002 0 505 9.801 3.054 12.652

2010 I* 520.865 32.789 14.196 90.957 65.460 93.431 224.031 578.640 20.049 14.409 88.948 129.676 143.922 181.636 118.671 3.397 643 1.891 13.685 16.083 82.973 167.735 4.725 8.810 54.578 14.857 51.962 32.802 28.353 2.036 0 507 9.866 3.084 12.860

II 301.186 26.805 9.006 69.959 68.172 44.868 82.376 367.168 12.053 7.321 63.319 95.549 90.497 98.429 65.123 2.130 58 520 8.762 7.747 45.906 121.509 5.460 2.540 51.029 9.035 31.540 21.905 121.509 5.460 2.540 51.029 9.035 31.540 21.905 854.986 46.448 18.925 184.827 181.518 174.652 248.616

282.633 24.222 7.414 71.600 63.561 39.477 76.359 335.998 11.312 5.409 59.826 86.783 80.252 92.416 58.851 2.090 58 487 8.386 6.776 41.054 117.232 5.395 2.287 50.219 7.691 30.709 20.931 117.232 5.395 2.287 50.219 7.691 30.709 20.931 794.714 43.019 15.168 182.132 166.421 157.214 230.760

314.427 28.433 6.556 69.450 75.722 47.465 86.801 394.451 12.467 7.076 68.670 100.883 98.503 106.852 70.937 2.248 55 543 9.295 9.850 48.946 127.445 5.933 2.629 51.259 10.379 34.679 22.566 20.334 1.294 0 324 7.831 2.084 8.801

495.440 42.041 11.923 99.825 113.130 88.540 139.981 529.687 19.353 9.697 84.488 121.956 145.936 148.257 110.968 3.289 388 943 14.006 15.716 76.626 168.614 6.669 4.712 61.420 13.598 53.919 28.296 26.382 1.915 0 456 9.368 2.861 11.782

913.158 1.004.178 1.038.912 1.148.891 1.249.970 1.313.873 1.308.051 1.331.091 1.369.493 1.446.808 1.414.264 49.654 57.203 57.562 61.413 64.623 67.828 69.026 73.267 71.643 77.394 62.996 16.310 25.336 27.634 29.151 30.293 30.541 28.735 26.720 31.916 41.559 38.059 190.242 204.141 212.000 232.705 249.039 269.578 264.694 247.132 239.610 246.188 236.881 192.985 214.804 211.719 235.898 249.762 259.953 260.271 272.058 281.537 301.883 233.544 188.838 210.561 221.123 249.700 286.740 306.141 300.888 306.972 319.864 329.302 308.482 275.129 292.133 308.874 340.024 369.513 379.832 384.437 404.942 424.923 450.482 534.301

Data Januari 2010 Tidak termasuk pemerintah pusat. bukan penduduk. nilai lawan valas. RDI dan kredit kelolaan

42

Tabel Statistik

Tabel 4 Uang Beredar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi (Miliar Rupiah)
M2 M1 Jumlah 1)
2004 2005 2006 2007 2008 1.033.877 1.202.762 1.382.493 1.649.662 1.895.839

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Uang Beredar Aktiva Luar Negeri Bersih
253.260 301.573 401.710 509.843 593.137

Akhir Periode Jumlah2)
245.946 271.140 347.013 450.055 456.787

Uang Kartal
109.028 123.991 150.654 182.967 209.747

Uang Giral
136.918 147.149 196.359 267.089 247.040

Uang Kuasi
785.261 929.343 1.032.865 1.196.119 1.435.772

Tagihan Tagihan Pada Tagihan Pada Lembaga Perusahaan Bersih Pemerintah Pemerintah Swasta dan BUMN Pusat3) Perorangan
500.318 495.686 507.337 507.120 387.248 13.908 17.220 27.648 39.891 47.949 605.927 733.183 821.649 1.005.739 1.314.049

Lainnya Bersih4)
-90.113 -87.639 -107.498 -102.955 -98.144

2008 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 1.594.390 1.703.381 1.778.139 1.895.839 409.768 453.047 479.738 456.787 164.609 189.040 222.805 209.747 245.159 264.007 256.934 247.040 1.181.322 1.247.213 1.295.292 1.435.772 533.323 550.015 509.659 593.137 385.570 371.647 360.756 387.248 33.669 36.516 45.375 47.949 1.053.869 1.159.311 1.253.456 1.314.049 -94.992 -113.902 -93.287 -98.144

2009 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 1.916.752 1.977.533 2.018.031 2.141.384 448.034 482.621 490.022 515.824 186.119 203.406 210.343 226.006 261.914 279.215 279.679 289.818 1.466.364 1.491.950 1.525.204 1.622.055 691.465 655.440 688.891 663.635 363.536 399.395 390.295 449.977 46.541 48.996 55.139 66.589 1.303.885 1.320.131 1.348.814 1.408.724 -109.433 -103.076 -139.119 -125.445

2010 Trw. I* 2.108.857 494.698 211.852 282.846 1.607.204 688.591 414.780 65.304 1.361.997 -117.003

* Posisi Januari 2010 1) M1 + uang kuasi + surat berharga selain saham dgn sisa jk.waktu s.d 1 thn 2) Uang Kartal ditambah uang giral 3) Termasuk rekening khusus pemerintah 4) Termasuk derivatif keuangan

43

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

Tabel 5 Uang Primer dan Faktor-faktor yang mempengaruhi (Miliar Rupiah)

2007 I
I. Uang Primer a. Statutory Reserve Shortfall b. Uang yang diedarkan - Uang kartal di masyarakat - Kas bank umum c. Saldo Giro Positif Bank d. Giro Sektor Swasta 272,239 0 155,498 129,618 25,880 116,558 183

2008 III IV
379,582 0 220,785 183,419 37,366 158,452 345

2009 IV
344,688 0 264,391 209,378 55,013 79,648 650

2010 III IV
402,118 0 279,029 226,382 52,646 89,903 601

II
289,727 0 173,888 146,715 27,173 115,524 315

I
325,044 0 198,940 164,995 33,945 125,705 399

II

III

I
304,718 0 226,672 186,538 40,134 77,404 642

II

I*
380,145 0 255,418 207,226 48,192 87,743 649

310,265 0 189,221 160,327 28,894 120,740 304

349,649 392,136 0 0

322,994 354,297 0 0

224,342 270,243 189,453 223,166 34,889 47,077

244,634 273,744 203,838 210,822 40,796 77,744 616 62,923 79,920 633

124,811 121,302 496 591

II. Faktor-faktor yang mempengaruhi Uang Primer a. Net International Reserve 1) b. Net Domestic Assets - Tagihan Bersih pada Pemerintah - Bantuan Likuiditas - Kredit Likuiditas - Tagihan Lainnya - Operasi Pasar Terbuka - SBI (net) 2) - FASBI - Lain-Lain 3) - Net Other Items 305,744 -33,505 200,460 18,186 10,598 5,366 330,295 -40,569 187,081 18,136 10,366 5,389 337,523 -27,258 184,961 18,136 10,206 5,357 356,883 351,874 351,561 355,967 338,692 354,727 356,930 376,681 403,858 434,958

22,699 -212,380 -192,491 -137,121 -213,668 -323,022 249,069 8,847 9,994 3,074 128,907 8,838 9,751 3,089 117,614 123,797 8,800 9,353 3,295 8,800 9,227 3,155 172,012 8,711 9,009 3,815 105,571 8,715 8,783 2,546

-259,388 -211,887 -183,794 -235,956 136,202 144,747 8,715 8,622 2,472 8,715 8,458 2,415 200,956 8,665 8,231 2,415 146,762 8,660 8,169 11,236

-247,525 -264,280 -254,096 -281,164 -219,099 -191,525 -152,563 -233,866 -257,701 -239,977 -257,998 -265,034 -247,688 -212,463 -165,145 -116,967 -179,879 -232,700 -19,298 11,750 -21,615 15,333 -4,750 15,688 -48,933 15,457 -5,737 -899 -4,989 -21,391 -1,403 -34,193 -4,223 -49,764 -15,288 -9,714

-267,412 -242,991 -289,892 -303,893 -232,731 -220,676 -226,887 -270,784 -28,277 -6,404 -22,824 509 -36,416 -26,589 -25,442 -7,666

-139,050 -121,610 -131,204 -141,151 -143,866 -140,027 -129,538 -173,348 -190,936

-147,987 -133,230 -114,170 -106,892

* Posisi Februari 2010 1) sebelum Juni 1997 menggunakan NFA, setelah Juni 1997 menggunakan NIR dengan kurs tetap Rp. 7.000,- per US $ sejak juni 1998 s.d. Maret 1999 menggunakan kurs tetap Rp. 10.000,- per US $ sejak April 1999 menggunakan kurs tetap Rp. 7.500,- per US $ sejak 21 November 1999 menggunakan kurs Rp. 7.000,- per US $ sejak 25 Mei 2000 untuk perhitungan NIR menggunakan konsep IRFCL(Int’l Reserve and Foreign Currency Liquidity) 2) sejak Maret 2000 termasuk SBI Syariah 3) termasuk di dalamnya adalah SUN dan FTO (Fine Tune Operation)

44

Tabel Statistik

Tabel 6 Neraca Pembayaran Indonesia 1) (Juta $)

2006 Total
I. Transaksi Berjalan A. Barang bersih (Neraca Perdagangan) 1. Ekspor f.o.b 2. Impor f.o.b B. Jasa-jasa (bersih) C. Pendapatan (bersih) D. Transfer Berjalan II. Transaksi Modal dan Finansial A. Transaksi Modal B. Transaksi Finansial 1. Investasi Langsung a. Ke Luar Negeri (bersih) b. Di Indonesia/FDI (bersih) 2. Investasi Portfolio a. Aset (bersih) b. Kewajiban (bersih) 3. Investasi Lainnya a. Aset (bersih) b. Kewajiban (bersih) 2) III. Jumlah (I + II) IV. Selisih Perhitungan V. Neraca Keseluruhan (III + IV) VI. Lalu Lintas Moneter 3) a. Perubahan Cadangan Devisa b. IMF: Penarikan Pembayaran Memorandum: Posisi Cadangan Devisa 4) Transaksi Berjalan (% PDB) Rasio Pembayaran Utang (%) 5) a.l. Sektor Terkait Pemerintah dan Otoritas Moneter 6)
*) **) 1) 2) 3) 4) 5) 6)

2007 I
2.638

2008* IV
3.431

2009** IV
-637

II
2.271

III
2.152

Total
10.492

I
2.742

II
-1.013

III
-967

Total
126

I
2.509

II
2.481

III
2.150

IV
3.442

10.859

29.660 103.528 -73.868 -9.874 -13.790 4.863 3.025 350 2.675 2.211 -2.703 4.914 4.174 -1.933 6.107 -3.791 -1.588 -2.204 13.885 625 14.510 -14.510 -6.902 -7.608 0 -7.608

7.710 26.626 -18.916 -3.163 -3.163 1.254 1.836 43 1.793 -246 -1.282 1.037 2.491 -497 2.988 -452 -105 -348 4.475 -95 4.379 -4.379 -4.379 0 0 0

8.108 29.202 -21.095 -2.991 -4.023 1.178 2.029 127 1.902 1.426 392 1.034 3.810 -1.897 5.707 -3.334 -2.283 -1.051 4.300 -664 3.637 -3.637 -3.637 0 0 0

7.488 30.009 -22.521 -2.764 -3.811 1.240 -934 255 -1.189 764 -1.427 2.191 466 -1.257 1.723 -2.419 -2.360 -59 1.218 -38 1.179 -1.179 -1.179 0 0 0

9.448 32.177 -22.729 -2.922 -4.527 1.432 661 122 539 309 -2.358 2.667 -1.200 -764 -437 1.430 262 1.168 4.092 -572 3.520 -3.520 -3.520 0 0 0

32.754 118.014 -85.260 -11.841 -15.525 5.104 3.592 547 3.045 2.253 -4.675 6.928 5.567 -4.415 9.982 -4.775 -4.486 -289 14.085 -1.369 12.715 -12.715 -12.715 0 0 0

7.536 34.412 -26.876 -3.071 -3.093 1.371 -529 17 -546 630 -1.730 2.360 1.984 -823 2.807 -3.160 -2.672 -489 2.213 -1.181 1.032 -1.032 -1.032 0 0 0

5.443 37.345 -31.902 -3.387 -4.425 1.356 2.105 62 2.043 197 -1.436 1.633 4.188 60 4.128 -2.342 -1.974 -367 1.091 233 1.324 -1.324 -1.324 0 0 0

5.771 38.081 -32.309 -3.313 -4.756 1.331 2.370 187 2.184 1.871 -1.517 3.388 -74 -65 -9 387 -1.610 1.998 1.404 -1.493 -89 89 89 0 0 0

4.166 29.768 -25.603 -3.227 -2.881 1.305 -5.822 29 -5.850 720 -1.217 1.937 -4.377 -467 -3.910 -2.194 -4.498 2.304 -6.459 2.246 -4.212 4.212 4.212 0 0 0

22.916 139.606 -116.690 -12.998 -15.155 5.364 -1.876 294 -2.170 3.419 -5.900 9.318 1.721 -1.294 3.015 -7.309 -10.755 3.446 -1.750 -195 -1.945 1.945 1.945 0 0 0

6.886 24.179 -17.293 -2.743 -2.742 1.109 1.502 19 1.483 453 -1.451 1.904 1.859 133 1.726 -829 -307 -522 4.011 -56 3.955 -3.955 -3.955 0 0 0

8.367 28.130 -19.763 -3.310 -3.776 1.200 -1.757 29 -1.785 400 -1.047 1.447 1.959 362 1.597 -4.144 -2.271 -1.873 724 328 1.052 -1.052 -1.052 0 0 0

8.491 31.273 -22.781 -3.517 -4.072 1.247 2.523 34 2.489 472 -515 987 2.988 -331 3.319 -970 -6.325 5.355 4.673 -1.127 3.546 -3.546 -3.546 0 0 0

11.454 35.932 -24.478 -4.585 -4.742 1.315 1.405 14 1.390 988 26 962 3.298 -403 3.701 -2.896 -3.729 833 4.847 -893 3.954 -3.954 -3.954 0 0 0

42.586 2.9 24.8 14.2

47.221 2.6 19.8 5.6

50.924 2.1 21.4 9.4

52.875 1.9 15.2 5.1

56.920 3.0 21.2 9.0

56.920 2.4 19.4 7.3

58.987 2.3 16.2 4.4

59.453 -0.8 17.8 7.7

57.108 -0.7 15.2 4.7

51.639 -0.5 24.2 9.2

51.639 0.0 18.1 6.4

54.840 2.2 23.4 6.0

57.576 1.9 24.4 10.0

62.287 1.5 19.3 5.2

66.105 2.2 23.9 8.5

Angka sementara Angka sangat sementara Format baru sejak publikasi Januari 2004 Tidak termasuk pinjaman IMF Negatif berarti surplus dan positif berarti defisit. Sejak kuartal pertama 2004. perubahan cadangan devisa untuk data realisasi hanya mencakup data transaksi. Sejak 1988. posisi cadangan devisa berdasarkan aktiva luar negeri menggantikan cadangan devisa resmi. Sejak 2000. posisi cadangan devisa memakai konsep Internasional Reserve and Foreign Currency Liquidity (IRFCL). Perbandingan antara pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri terhadap ekspor barang dan jasa. Terdiri dari Pemerintah. BUMN di luar bank. dan Bank Indonesia.

45

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

Tabel 7 Perkembangan Perubahan Indeks Harga Konsumen Menurut Kelompok dan Sub Kelompok Barang dan Jasa (Persen)1)

Kelompok/Sub Kelompok I
I. Bahan Makanan A. Padi-padian. umbi-umbian dan hasil-hasilnya B. Daging dan hasil-hasilnya C. Ikan segar D. Ikan diawetkan E. Telur. susu dan hasil-hasilnya F. Sayur-sayuran G. Kacang-kacangan H. Buah-buahan I. Bumbu-bumbuan J. Lemak dan minyak K. Bahan makanan lainnya 3,71 12,16 -2,93 1,37 0,35 -1,02 -0,30 3,81 2,21 -3,70 8,63 1,32 1,89 1,67 1,75 2,24 1,81 2,12 1,69 1,20 1,70 0,72 0,37 0,10 0,50 2,09 1,39 1,92 1,32 1,16 1,46 0,36 0,46 1,04 0,36 0,13 0,79 0,22 0,24 0,05 0,50 0,01 1,91

2007 II
-1,21 -6,50 5,12 -2,71 0,39 4,05 -1,04 2,61 1,39 -8,06 12,79 1,50 1,19 1,00 0,20 2,60 0,75 0,83 0,15 0,52 1,79 0,39 0,29 0,71 0,32 0,35 0,71 0,45 0,82 1,85 0,80 0,01 0,03 0,26 0,36 -0,23 0,36 0,46 0,60 0,01 0,24 0,01 0,17

2008 III
4,00

2009 III
4,75

2010 III IV
-0,67

IV
4,43 3,48 -2,04 2,11 0,73 0,26 7,39 7,90 1,79 25,17 6,71 -1,47 1,85 2,36 -0,20 2,28 0,97 1,58 -0,45 1,05 1,30 4,78 1,70 1,45 0,86 13,60 1,12 0,44 1,46 0,73 1,52 0,43 0,36 0,48 0,66 0,64 2,23 0,42 0,49 0,00 1,27 0,00 2,09

I
5,91 2,59 4,14 5,84 7,87 6,88 2,42 28,51 1,38 2,85 15,72 2,02 4,02 5,50 1,47 1,89 2,79 2,22 4,69 1,45 2,71 4,30 0,81 0,68 0,56 12,66 3,00 5,12 1,96 1,15 2,32 0,14 0,09 0,72 0,30 0,20 0,47 0,37 0,27 0,01 1,40 4,90 3,41

II
1,28 2,11 0,29 2,01 1,84 -0,19 1,68 1,84 0,89 -0,07 1,47 1,00 1,33 1,63 1,06 0,73 1,14 1,67 -0,12 0,97 0,86 0,49 0,27 0,46 0,64 0,59 0,83 0,47 1,31 1,10 0,90 0,44 0,18 0,45 0,72 0,92 0,20 8,72 12,98 -0,12 0,84 0,01 2,46

IV
0,60 0,91 -4,64 2,94 4,32 -2,51 6,60 0,42 1,68 8,28 -6,81 1,20 2,43 2,35 1,50 3,70 1,00 0,73 1,66 1,10 1,08 2,58 0,35 0,30 0,23 7,26 1,10 0,69 1,60 1,61 1,26 0,82 0,70 0,32 1,11 1,02 0,49 -2,94 -4,46 0,20 1,64 0,00 0,54

I
1,44 2,76 2,39 2,25 2,24 -0,34 2,59 0,18 0,71 1,66 -0,81 1,62 2,40 1,59 5,39 2,42 0,42 1,00 -1,48 0,95 1,00 4,48 0,38 0,44 0,26 13,49 1,27 1,60 1,14 1,39 1,01 0,22 0,04 0,59 0,37 0,48 0,51 -4,66 -6,95 -0,07 1,38 0,00 0,36

II
-1,76 -0,75 -0,26 -2,52 -0,88 -0,54 -5,97 -2,59 3,11 -8,24 0,12 0,61 1,18 1,03 2,15 0,82 0,26 0,12 0,29 0,68 0,53 -1,88 0,55 0,29 0,39 -6,30 1,20 1,72 1,39 0,73 0,42 0,22 0,06 0,46 0,16 0,55 0,33 0,32 0,54 -0,31 0,34 0,00 -0,15

I
1,67

4,94 1,06 6,47 4,63 1,60 1,57 6,34 1,18 8,14 23,17 -1,30 2,37 2,12 1,46 5,61 1,06 0,47 0,53 0,55 0,75 -0,21 1,06 2,49 1,24 1,67 -0,37 0,77 0,85 0,42 1,38 0,83 2,94 4,86 1,27 0,74 0,74 0,52 1,16 1,70 -0,32 0,87 0,65 2,07

0,69 9,08 4,65 3,06 11,46 2,17 4,49 2,87 -0,43 7,09 0,75 1,33 1,35 0,46 1,85 1,27 1,11 1,92 0,57 1,61 2,34 1,29 0,94 1,34 5,53 1,03 0,32 1,08 0,61 1,56 7,97 12,73 0,87 1,58 0,01 0,35 0,15 0,00 -0,02 2,43 0,00 2,28

0,60 13,94 12,12 8,04 8,94 3,79 5,93 7,30 -10,49 -1,65 3,57 2,62 2,83 2,15 2,60 3,58 2,16 8,94 1,66 1,71 0,77 3,02 2,15 2,13 -2,46 1,64 1,07 2,19 2,36 1,76 3,77 6,76 4,95 1,14 0,51 0,91 0,92 1,03 0,02 1,34 3,89 2,88

3,17 6,90 -4,14 0,72 -3,25 0,09 0,14 0,44 -0,51 0,01 -0,97 4,13 0,47 -18,67 -1,81 0,34 0,07 -4,89 -1,57 0,85 -1,40 0,67 1,90 1,42 2,46 3,13 0,67 0,70 0,83 0,67 0,25 2,31 0,45 0,49 0,37 6,13 0,59 0,69 0,86 1,38 0,41 0,48 0,62 0,77 0,19 0,30 0,75 -0,44 -0,73 -0,23 1,07 0,00 0,49 2,62 2,69 2,86 1,81 0,67 0,83 0,51 0,31 0,62 -0,66 1,02 0,44 0,69 -2,88 0,58 0,52 0,65 0,84 0,57 0,18 0,03 0,77 0,30 0,37 0,87 0,34 0,50 -0,40 0,96 0,00 0,99

II. Makanan jadi. Minuman. Rokok dan Tembakau A. Makanan jadi B. Minuman yang tidak beralkohol C. Tembakau dan minuman beralkohol III. Perumahan A. Biaya tempat tinggal B. Bahan bakar. penerangan dan air C. Perlengkapan rumah tangga D. Penyelenggaraan rumah tangga IV. Sandang A. Sandang laki-laki B. Sandang wanita C. Sandang anak-anak D. Barang pribadi dan sandang lainnya V. Kesehatan A. Jasa kesehatan dan obat-obatan B. Obat-obatan C. Jasa perawatan jasmani D. Perawatan jasmani dan kosmetik VI. Pendidikan. Rekreasi dan Olah Raga A. Biaya pendidikan B. Kursus dan pelatihan C. Perlengkapan/peralatan pendidikan D. Rekreasi E. Olah raga VII. Transpor dan Komunikasi A. Transpor B. Komunikasi dan pengiriman C. Sarana dan penunjang transpor D. Jasa Keuangan UMUM

Keterangan : 1) Perubahan indeks pada akhir triwulan yang bersangkutan dibandingkan dengan indeks pada akhir triwulan sebelumnya Perhitungan IHK menggunakan tahun dasar 2002 (2002 = 100). * Mulai 1 Juli 2008, perhitungan IHK menggunakan tahun dasar 2007 (2007 = 100), data triwulan II-2008 adalah data inflasi mtm (month to month) bulan Juni 2008 Sumber : Badan Pusat Statistik (diolah)

46

Tabel Statistik

Tabel 8 Perkembangan Laju Inflasi Menurut Kota (Persen)1)
2007 Kota
1. Lhokseumawe 2. Banda Aceh 3. Padang Sidempuan 4. Sibolga 5. Pematang Siantar 6. M e d a n 7. Padang 8. Pekanbaru 9. Batam 10. Jambi 11. Palembang 12. Bengkulu 13. Bandar Lampung 14. Pangkal Pinang 15. Dumai 16. Tanjung Pinang 17. Jakarta 18. Tasikmalaya 19. Serang 20. Tangerang 21. Cilegon 22. Bogor 23. Sukabumi 24. Bekasi 25. Depok 26. Bandung 27. Cirebon 28. Purwokerto 29. Surakarta 30. Semarang 31. Tegal 32. Yogyakarta 33. Jember 34. Sumenep 35. Kediri 36. Malang 37. Probolinggo 38. Madiun 39. Surabaya 40. Denpasar 41. Mataram 42. Bima 43. Maumere 44. Kupang 45. Pontianak 46. Singkawang 47. Sampit 48. Palangka Raya 49. Banjarmasin 50. Balikpapan 51. Samarinda

2008 III
5,34 5,85 3,76 1,15 3,78 1,96 2,06 1,92 2,15 2,57 3,23 3,10 3,40 0,67 1,85 1,65 2,48 2,22 2,21 0,99 1,98 2,84 3,17 2,13 1,55 2,12 2,02 1,36 1,14 0,90 2,12 1,84 2,38 2,60 4,54 4,84

2009 III
2,92 1,36 1,27 3,06 1,37 1,21 2,04 3,17 1,72 1,76 3,20 3,61 4,95 4,26 3,04 3,33 2,54 3,64 4,50 3,21 0,88 2,38 3,42 3,82 3,49 2,28 4,04 3,53 1,74 2,83 2,36 3,16 2,77 2,83 3,10 2,93 3,85 2,27 2,56 3,14 3,23 3,16 6,66 0,46 3,21 2,73 1,72 3,62 2,23 1,84 2,96

2010 III
4,37 4,12 2,66 3,45 3,26 3,35 2,79 1,70 1,76 2,37 1,57 4,06 4,85 3,16 3,52 1,29 2,03 1,89 1,72 1,25 1,76 2,43 1,64 2,49 1,17 1,21 1,96 3,15 1,90 2,04 1,38 1,84 1,52 1,97 2,06 3,47 2,44 -

I
2,16 4,61 1,92 6,92 2,98 1,63 3,68 3,67 1,40 3,17 0,64 1,36 0,71 2,62 1,95 3,73 1,13 3,24 2,22 1,19 2,37 1,66 1,86 1,26 2,50 1,30 1,09 2,19 3,59 5,29 2,56 0,81 0,62 3,29 0,81 1,72

II
-2,16 -1,67 -2,34 -0,29 -0,55 -0,51 -1,96 -1,49 -0,34 -1,22 0,85 -0,88 0,12 -0,98 0,51 -0,04 -0,26 0,15 1,33 -0,34 0,52 1,24 0,18 0,78 -0,11 0,13 0,90 0,29 1,00 -0,39 1,14 0,39 -0,14 -0,66 0,39 0,52

IV
-1,05 1,94 2,51 2,69 1,97 3,23 3,05 3,31 1,56 2,75 3,28 1,37 2,22 0,33 1,61 2,20 1,82 2,06 0,26 1,42 1,72 2,88 2,59 2,91 2,76 2,28 2,12 1,95 2,78 2,47 2,49 4,38 4,95 2,39 1,40 1,85

I
4,84 3,49 4,65 4,63 3,07 2,19 4,35 4,15 2,91 2,16 3,11 4,09 3,29 6,53 3,51 2,57 2,81 3,52 3,60 2,74 4,18 2,72 2,85 2,73 2,94 4,06 3,59 3,35 3,23 3,33 4,21 1,60 4,48 4,12 3,75 3,97

II*
4,38 2,75 2,53 2,31 2,88 2,07 4,09 2,46 2,29 4,19 3,41 4,14 2,93 4,20 3,80 2,45 1,94 2,54 2,21 3,04 2,11 1,15 2,80 1,24 2,45 2,76 3,33 2,75 2,13 2,40 1,82 2,51 3,46 1,62 2,11 2,77 1,81 4,05 2,00 1,78 3,21 4,94 2,24 2,31 2,27 2,94 2,87 2,22 2,48 2,88 3,32

IV
2,97 1,39 1,56 2,22 1,33 2,26 2,07 0,55 0,58 -0,19 -0,29 0,34 0,74 0,13 1,22 1,19 0,00 1,57 0,46 1,32 0,03 0,18 -0,07 0,19 1,16 0,13 0,18 0,45 1,05 -0,35 0,38 0,00 -0,32 0,14 0,77 -2,44 0,02 -

I
-0,56 0,35 -0,03 -0,52 -0,20 -0,84 0,04 0,48 0,64 0,26 -0,06 0,09 0,92 -0,78 -0,74 0,32 0,32 0,63 0,79 1,67 0,01 -0,87 0,11 0,91 0,78 1,06 0,72 1,05 0,25 0,90 1,28 0,60 1,02 1,06 2,41 0,39 0,38 -

II
-0,37 0,14 -1,07 -0,01 0,10 -0,17 -1,34 -0,54 -0,43 -0,72 0,09 -0,74 -1,29 -0,74 -0,77 -0,73 -0,06 0,36 -0,27 0,35 -0,26 -0,20 -0,14 0,04 0,11 0,19 0,06 1,05 0,14 0,02 0,16 0,07 0,00 -0,41 -1,12 1,10 -0,90 -

IV
0,53 -1,08 0,33 -1,28 -0,41 0,38 0,59 0,30 -0,09 0,58 0,25 -0,48 -0,25 0,57 -1,14 0,55 0,19 0,20 -0,08 0,18 0,41 -0,03 0,50 0,62 0,73 0,14 0,41 0,47 0,42 0,61 0,54 1,00 0,82 0,74 0,71 0,19 -0,74 -

I
-0,09 0,44 0,38 1,21 1,04 1,05 1,02 0,79 1,72 1,53 0,58 1,35 0,15 1,37 0,26 0,80 0,74 0,87 1,11 0,61 1,26 0,75 0,84 0,36 1,11 0,68 1,02 0,62 0,52 0,63 1,00 0,72 0,83 0,63 1,53 2,11 3,55 -

47

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan I-2010

Tabel 8 Perkembangan Laju Inflasi Menurut Kota (lanjutan) (Persen)1)
2007 Kota
52. Tarakan 53. Manado 54. P a l u 55. Watampone 56. Makassar 57. Parepare 58. Palopo 59. Kendari 60. Gorontalo 61. Mamuju 62. Ambon 63. Ternate 64. Manokwari 65. Sorong 66. Jayapura NASIONAL

2008 III
3,45 1,60 3,38 0,15 3,22 2,38 0,44 0,52 2,28

2009 III
5,54 3,02 5,01 3,62 3,50 4,21 3,50 3,30 4,01 5,86 5,06 4,30 8,31 7,29 2,88 2,88

2010 III
3,52 0,74 3,35 2,85 1,85 2,00 2,20 0,85 1,45 1,82 1,32 2,39 0,42 1,55 2,07

I
3,34 0,60 2,28 1,94 -1,24 1,77 2,39 4,93 1,91

II
-0,43 1,87 0,51 2,20 0,46 0,51 2,06 0,15 0,17

IV
3,46 3,84 -0,54 2,94 4,51 1,07 5,21 4,45 2,09

I
1,04 1,49 4,45 2,91 -0,04 2,92 4,71 6,49 3,41

II*
2,48 3,63 2,44 6,26 3,39 2,76 3,15 6,49 2,59 3,04 1,76 1,17 5,78 5,72 5,86 2,46

IV
0,82 0,17 -0,63 0,27 0,43 1,16 0,74 0,16 -0,29 -4,80 -0,92 0,62 -1,86 0,31 0,54

I
0,53 1,18 1,78 2,14 0,40 1,14 2,99 2,33 -0,35 2,26 1,25 3,52 0,77 -0,06 0,36

II
1,34 -2,08 -0,36 0,84 -0,53 -0,12 -0,34 0,59 0,06 -2,43 -0,27 0,36 0,52 -0,36 -0,15

IV
1,66 2,50 0,87 0,87 -0,32 1,11 -0,28 0,53 0,62 4,81 1,54 1,07 0,87 0,78 0,49

I
2,89 0,72 -0,64 1,42 0,48 0,75 -0,20 1,59 0,84 2,84 1,79 -0,44 1,34 1,31 0,99

Keterangan : 1) Perubahan indeks pada akhir triwulan yang bersangkutan dibandingkan dengan indeks pada akhir triwulan sebelumnya Perhitungan IHK menggunakan tahun dasar 2002 (2002 = 100). * Mulai 1 Juli 2008. perhitungan IHK menggunakan tahun dasar 2007 (2007 = 100) dengan jumlah kota menjadi 66 kota. data triwulan II-2008 adalah data inflasi mtm (month to month) bulan Juni 2008 Sumber : Badan Pusat Statistik (diolah)

48

Tabel Statistik

Tabel 9 Perubahan Indeks Harga Perdagangan Besar (Persen) 1)
Akhir Periode 2004 Trw.I Trw.II Trw.III Trw.IV 2005 Trw.I Trw.II Trw.III Trw.IV 2006 Trw.I Trw.II Trw.III Trw.IV 2007 Trw.I Trw.II Trw.III Trw.IV 2008 Trw.I Trw.II Trw.III Trw.IV 2009 Trw.I Trw.II Trw.III Trw.IV Pertanian Pertambangan Industri Impor Total Ekspor Nonmigas Migas Umum

1,26 3,20 -1,29 1,84

9,77 1,55 0,35 1,02

1,18 2,34 0,60 0,52

3,10 6,67 3,41 0,34

3,91 7,32 4,68 -1,48

2,90 2,26 0,89 2,42

6,75 21,16 13,39 -9,47

2,35 4,37 1,80 0,18

3,80 0,00 2,76 4,03

3,00 0,70 0,70 13,19

8,04 1,34 1,32 22,22

9,11 0,69 6,85 0,64

10,73 1,43 9,15 -3,87

4,61 0,00 3,28 2,38

24,20 5,13 20,49 -13,77

8,02 1,38 4,08 9,15

3,87 4,97 5,33 6,74

0,61 1,83 2,40 3,51

1,60 2,11 2,58 1,51

-0,64 5,13 0,61 1,82

-1,34 8,84 0,00 -5,00

-4,65 6,50 2,29 1,49

3,29 13,64 -3,60 -16,18

-1,20 4,85 2,31 0,56

6,32 2,97 7,69 7,59

3,39 1,64 1,61 3,70

3,47 3,35 3,70 5,80

3,57 5,75 3,26 11,05

2,63 7,05 1,80 10,00

3,68 2,84 -0,69 2,08

1,49 14,63 6,38 24,40

3,93 4,32 3,63 8,50

7,05 7,75 4,68 0,00

4,08 10,78 3,54 4,27

7,17 12,60 1,40 -4,14

6,64 15,56 -9,23 -11,86

5,88 14,14 -5,31 -13,55

5,44 5,16 2,45 9,58

6,43 28,10 -15,09 -47,22

6,45 12,55 -1,92 -6,67

2,93 3,72 5,48 3,52

7,52 -0,51 0,37 1,65

-0,26 1,42 1,57 0,93

5,28 0,93 2,83 -2,28

2,44 -0,87 0,33 -0,64

13,96 -5,92 0,70 0,00

-31,67 23,91 14,00 0,00

1,80 1,23 2,17 0,53

Keterangan : 1) Perubahan indeks pada akhir triwulan yang bersangkutan dibandingkan dengan indeks pada akhir triwulan sebelumnya. Perhitungan IHPB menggunakan tahun dasar 2000 (2000 = 100). Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS diolah)

49

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->