Anda di halaman 1dari 9

Pengolahan air Industri Farmasi Formulasi

Pengolahan air Industri Farmasi Formulasi


A. Pengolahan Air Produksi
Air merupakan salah satu aspek kritis (vital) dalam pelaksanaan c-GMP. Hal tersebut
disebabkan karena air merupakan bahan baku dalam jumlah besar, terutama untuk produk
sirup, obat suntik cair, cairan infus, dan lain-lain. Bila tercemar, beresiko sangat fatal bagi
pemakai (pasien).
Kualitas air yang digunakan untuk produksi, tergantung dari persyaratan air yang
digunakan produk yang dibuat, misalnya air murni atau air untuk injeksi. Berikut adalah
standar air yang digunakan untuk produksi sesuai dengan persyaratan CPOB.

Mekanisme kerja Purified Water System


Purified water system merupakan sistem pengolahan air yang dapat menghilangkan
berbagai cemaran (ion, bahan organik, partikel, mikroba dan gas) yang terdapat di dalam air
yang akan digunakan untuk produksi. Air (raw water) pengolahan air dapat diperoleh dari air
PDAM (city water), Shallow well (sumur dangkal) dengan kedalaman 10-20 m, atau berasal
dari Deep well (sumur dalam) dengan kedalaman 80-150 m. Variasi mutu dari pasokan air
mentah (raw water) yang memenuhi syarat ditentukan dari target mutu air yang akan
dihasilkan. Demikian pula mutu air menentukan peralatan yang diperlukan untuk pengolahan
air tersebut. Purified water system terdiri dari: Multimedia filter, Carbon filter, Water
softener, Heat Exchanger (HE), Micro filter, Ultra filtration (R.O = Reverse Osmosis), dan
Electro De-Ionization (EDI).

Multimedia filter
Multimedia filter berfungsi untuk menghilangkan lumpur, endapan dan partikel-partikel
yang terdapat pada raw water. Multimedia filter terdiri dari beberapa filter dengan porositas
6-12 mm; 2,4 4,8 mm; 1,2-2,4 mm; dan 0,6-1,2 mm. Filter-filter ini tersusun dalam satu
vessel (tabung) dengan bagian bawah tabung diberikan gravel atau pasir sebagai alas vessel
(sehingga sering juga disebut dengan sand filter).
Active Carbon filter
Carbon aktif adalah karbon yang telah diaktifkan dengan menggunakan uap bertekanan
tinggi atau karbon dioksida (CO2) yang berasal dari bahan yang memiliki daya adsorbsi yang
sangat tinggi. Biasanya digunakan dalam bentuk granular (butiran). Active carbon berfungsi
sebagai pre-treatment sebelum proses de-ionisasi untuk menghilangkan chlorine, chloramine,
benzene, pestisida, bahan-bahan organik, warna, bau dan rasa dalam air.
Water Softener Filter
Water softener filter berisi resin anionik yang berfungsi untuk menghilangkan dan/atau
menurunkan kesadahan air dengan cara mengikat ion Ca++ dan Mg++ yang menyebabkan
tingginya tingkat kesadahan air.
Reverse Osmosis
Reverse osmosis merupakan teknik pembuatan air murni (purified water) yang dapat
menurunkn hingga 95% Total Dissolve Solids (TDS) di dalam air. Reverse osmosis terdiri
dari lapisan filter yang sangat halus (hingga 0,0001 mikron).
EDI (Elektonic De-Ionization)
EDI merupakan perkembangan dari Ion Exchange system dimana sebagai pengikat ion
(+) dan (-) dipakai juga elektroda disamping resin. Elektroda ini dihubungkan dengan arus
listrik searah sehingga proses pemurnian air dapat berlangsung terus menerus tanpa perlu
regenerasi. Setelah melewati EDI, selanjutnya purified water yang dihasilkan ditampung
dalam tanki penampungan (storage tank) yang dilengkapi dengan CIP (cleaning in place) dan
looping system dan siap didistribusikan ke ruang produksi.
Mekanisme kerja Water for Injection (WFI)
Pengolahan air untuk injeksi (Water For Injection/WFI) berasal dari purified water
system, yang selanjutnya dilakukan destilasi (penyulingan) dengan terlebih dahulu melewati
lampu UV untuk membunuh bakteri. Sesuai dengan persyaratan CPOB yang terbaru, proses
destilasi menggunakan 6 (enam) kolom destilasi, artinya air yang digunakan untuk produkproduk steril tersebut mengalami 6 kali proses destilasi. Dengan unit ini diperoleh air untuk
injeksi yang memenuhi persyaratan Water For Injection (WFI). Selanjutnya, WFI yang

dihasilkan kemudian disimpan dalam storage tank pada suhu 70-80oC sebelum
didistribusikan untuk produksi produk steril.

skema pembuatan Water for Injection sesuai dengan cGMP

Beberapa hal lain yang diatur dalam CPOB Terkini sebagai persyaratan penting air

untuk produksi yang sebelumnya tidak diatur dalam CPOB yang lama (2001) , antara lain :
Daerah mati (dead legs/kran) harus sekecil mungkin (maksimum 3 x diameter pipa)
Aliran air untuk produksi harus disirkulasi secara terus menerus (24 jam)
Pipa distribusi (terutama untuk produk steril) menggunakan baja anti karat jenis SS 316L
Pipa distribusi menggunakan double tube
Pipa distribusi tidak boleh ditanam atau menempel pada dinding ruang produksi, tapi harus

terdapat jarak yang cukup antara pipa dengan dinding untuk memudahkan pembersihan
Tanki penampung dari bahan SS 316 L yang dilengkapi dengan fasilitas CIP (cleaning in

place) yang memungkinkan proses pembersihan tanki secara menyeluruh


Parameter pengoperasian : suhu, konduktifitas, flow rate, porositas filter, dan lain-lain harus

didokumentasikan
Terdapat gambar skematik titik-titik pemakaian air
Terdapat sistem alert (peringatan) dan action limit (batas tindakan) pada sistem pengolahan
air.
Bangunan pengolahan air harus terpisah dari bangunan untuk proses produksi,
walaupun demikian letaknya sebaiknya berdekatan, agar resiko pencemaran bisa ditekan
seminimal mungkin selama distribusi dalam pipa penyalur. Hal-hal yang perlu diperhatikan

dalam merancang bangunan untuk pengolahan air, antara lain adalah:


1. Luas bangunan harus cukup luas untuk menampung tangki-tangki pengolahan air

2. Lantai dan dinding bangunan harus dilapisi cat yang dapat mencegah tumbuhnya lumut dan
jamur (misalnya cat Epoxy atau cat minyak)
3. Posisi lantai bangunan harus lebih tinggi dari sekitarnya untuk mencegah air hujan masuk ke
dalam dan dapat menyebabkan pencemaran.
Kualifikasi Kinerja (PQ = Performance Qualification) Water System

B. Pengolahan Air Limbah


Sumber-sumber Limbah Industri Farmasi Formulasi
Limbah industri farmasi formulasi dapat dari berbagai sumber dari kegiatan tersebut
dan terbagi menjadi tiga jenis limbah, yaitu padat, cair dan gas. Adapun komponena)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
a)
b)
c)
d)
e)
f)

komponen limbahnya sebagai berikut :


Produk yang gagal dan terbuang.
Tumpahan bahan-bahan, baik bahan baku maupun bahan-bahan pembantu.
Debu ( dari pencampuran dan pencetakan tablet)
Air buangan dari pencucian peralatan dan sterilisasi
Buangan dari laboratorium
Air buangan dari toilet, WC dan kamar mandi.
Bahan kemasan yang tak terpakai.
Limbah dari laboratorium
Karakterisasi limbah industri farmasi formulasi
Mengandung sisa pencucian
peralatan seperti desinfektan,
bahan sterilisasi dan deter-gen.
Memiliki nilai BOD yang tinggi
Mengandung antibiotik, dan bahan kimia lainnya.
Memiliki kandungan padatan yang tinggi.

Pengolahan limbah
Demi menghindari pencemaran terhadap lingkungan, maka industri farmasi perlu
melakukan pengolahan terhadap limbah yang dihasilkannya mulai dari limbah padat, cair dan
gas. Cara pengendalian limbah-limbah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Limbah padat
Limbah padat yang antara lain berasal dari packing material bahan baku, dan debu hasil
produksi ditanggulangi dengan cara melakukan pembakaran di incenator, sementara gas yang
terbentuk dari pembakaran tersebut disalurkan melalui lime water filter. Pengendalian
selanjutnya dilakukan dengan dust collector, deduster, dan cyclone dengan water jet.
2. Limbah gas
Limbah gas yang berasal dari mesin-mesin penunjang seperti diesel dan boiler ditangani
dengan cara dibuang melalui cerobong asap yang mempunyai ketinggian yang cukup,
sehingga gas tersebut terencerkan oleh udara.
3. Limbah laboratorium
Limbah laboratorium yang berasal dari suatu pemeriksaan dengan menggunakan pereaksi
yang mengandung logam berat ditanggulangi dengan melalui suatu proses pengendapan
sebagai sulfida dan kemudian endapan tersebut ditanam dalam bak beton. Sedangkan cairan
yang sudah bebas logam berat disalurkan ke dalam waste water treatment sebelum dialirkan
ke sungai.
4. Limbah cair
Limbah cair yang berasal dari pencucian peralatan, mesin tangki, dan lain-lain
ditanggulangi dengan peralatan waste water treatment plane. Sebelum limbah tersebut
mengalir ke sungai maka limbahn diproses terlebih dahulu pada peralatan tersebut melalui
proses equalisasi, netralisasi, presipitasi, sedimentasi, kolam aerob-fakultatif, bak kontrol,
tempat lumpur, dissolved air flotation dan filtrasi.

a. Equalisasi
Air limbah sebelumnya dilakukan penyaringan untuk menghilangkan benda-benda
kasar dan minyak, kemudian diendapkan sebentar agar partikel-partikel awal yang kasar tidak
ikut pada proses selanjutnya tetapi untuk limbah yang berasal dari antibiotik dilakukan proses
penghilangan racun(detoksikasi). Penyaringan ini juga berguna untuk menyaring kandungan
lemak pada air limbah. Setelah itu barulah air limbah masuk pada tangki ekualisasi, pada
proses ini dilakukan pengadukan agar air limbah yang berasal dari berbagai sumber tersebut
menjadi sama (homogen).

b. Netralisasi
Setelah air limbah sudah homogen karakteristiknya maka dilakukan neutralisasi.
Neutralisasi bertujuan agar pH air limbah berada pada kondisi netral sehingga mudah untuk
diolah. pH yang diinginkan sekitar 6,5-8,5 agar pada saat proses aerobik pH tersebut optimal

bagi mikroorganisme. Netralisasi diberikan larutan kimia tergantung pH awal limbah, jika
asam maka ditambahkan NaOH dan jika basa ditambah H2SO4. Namun pada proses ini
terbentuk endapan yang akan langsung dialirkan pada bak sludge untuk kemudian dikelola
lebih lanjut.

c.

Presipitasi
Air limbah kemudian masuk kedalam bak presipitasi. Pada bak ini air limbah
diberikan penambahan bahan kimia lime(kombinasi dari kalsium klorida, magnesium klorida,
alumunium klorida, dan garam-garam besi). Hal ini bertujuan untuk mengurangi bahan-bahan
terlarut organik dan kandungan logam berat seperti sulfat, flourida dan fosfat dengan cara
mengendapkan limbah. Kemudian dilanjutkan pada bak sedimentasi.

d.

Sedimentasi
Proses pengendapan limbah setelah melalui proses presipitasi. Air limbah
didiamkan minimal delapan jam agar limbah bnar-benar terpisah dari lumpurnya.
Pengendapan limbah dengan penambahan koagulan dan flokulan. Kemudian lumpur tersebut
dialirkan ke bak sludge dan air limbah dialirkan lagi untuk proses selanjutnya, yaitu aerobfakultatif.

e.

Aerob-Fakultatif
Pada kolam ini dibuat dengan kedalaman dengan massa penahanan 20 hari atau
lebih. Kolam ini diberikan mikroorganisme untuk merombak limbah tersebut. Sumber
oksigen berasal dari ganggang yang berada diatas perairan . Proses ini digunakan juga
sebagai stabilisasi.

f. Bak Kontrol
Pada bak kontrol ini berfungsi sebagai pengecekan kualitas limbah sebelum
dibuang ke sungai. Pengecekan limbah dimaksudkan agar limbah cair tersebut memenuhi
baku mutu limbah cair kegiatan industri farmasi. Jika belum memenuhi maka limbah
dikembalikan kepada proses IPAL.
BAKU MUTU LIMBAH CAIR UNTUK INDUSTRI FARMASI
PARAMETER

PROSES PEMBUATAN

FORMULASI

BAHAN FORMULA
(Mg/L)

PENCAMPURAN

BOD5

100

75

COD

300

150

TSS

100

75

TOTAL-N

30

FENOL

1,0

6,0-9,0

6,0-9,0

pH

g.

Pengolahan lumpur

Lumpur yang berasal dari bak lumpur kemudian dilakukan dissolved air flotation
,tahapan ini bertujuan untuk mengurangi volume lumpur yang akan diolah dengan cara
meningkatkan kandungan padatan. Kemudian selanjutnya lumpu tersebut melewati tahapan
filtration yang bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi kandungan air dan sekaligus
mengurangi volume lumpur. Setelah itu lumpur tersebut dibakar pada insinerator.
5. Limbah Bahan berbahaya dan beracun (B3) Industri Farmasi
Selain limbah yang dapat diolah sebenarnya sebagian besar yang dihasilkan oleh kegiatan
industri farmasi merupakan limbah berbahaya dan beracun yang pelu dikelola lebih lanjut
agar tidak membahayakan lingkungan.
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B-3), adalah sisa suatu usaha dan/atau
kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau
Konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat
mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan
lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup Manusia serta Makhluk Hidup lainnya (PP
no. 18 tahun 1999 tentang Limbah B 3). Adapun sumber sumber dari limbah B3 tersebut
berasal dari sludge IPAl, oli bekas, bahan baku kadaluwarsa, Pengolahan limbah tersebut
awalnya dibakar pada rotarkiln merupakan salah satu jenis incinerator. Setelah itu baru abu
dari sisa pembakaran pada insinerator dibawa ke suatu perusahaan pengolahan limbah B3
untuk kemudian dikelola melalui penimbunan atau landfill.

6. Minimalisasi Limbah
Untuk meminimalisasi limbah dapat dilakukan dengan cara mengurangi sumber
penghasil

limbah

(source

reduction)

dan

daur

ulang

(recycling

and

reuse).

Pengurangan Sumber Limbah Daur Ulang


a) Penggantian/substitusi bahan baku untuk mengurangi jumlah, volume dan toksisitas limbah
b) Limbah yang dikeluarkan digunakan kembali (re-use), di daur ulang (recycling), atau
diambil kembali (recovery).
c) Modifikasi proses, bertujuan untuk efisiensi proses yang potensial mengeluarkan limbah dan
sekaligus

mengganti

dan

memutakhirkan

proses

yang

ramah

lingkungan

Dalam hal ini limbah dihilangkan cemarannya dan diperoleh bahan yang relatif berharga
d) Good Operating Practices, dapat membantu mengurangi limbah dan kehilangan bahan yang
tumpah, tercecer, dan bocor. Meliputi materials handling, waste management and plan
management.