Anda di halaman 1dari 8

No. ID dan Nama Peserta : dr. Faradhillah A.

Suryadi
No. ID dan Nama Wahana: RSUD Arifin Numang Sidrap
Topik: Episode Depresif Berat tanpa gejala psikotik (F32.2)
Tanggal (kasus) : 1 Februari 2016
Nama Pasien : Tn. S

No. RM :

Tanggal presentasi:

Pendamping: dr. Kasmawati Amin

Tempat presentasi: RSUD Arifin Numang Sidrap


Obyek presentasi : Dokter Intersip RSUD Lamaddukelleng Wajo
Keilmuan

Keterampilan

Penyegaran

Tinjauan pustaka

Diagnostik

Manajemen

Masalah

Istimewa

Neonatus

Bayi

Anak

Remaja

Dewasa

Lansia

Bumil

Deskripsi:
Seorang Laki-laki 65 tahun dengan keluhan susah tidur dan gelisah selama 1 bulan terakhir ini.
Awalnya pasien hanya mengeluh sakit kepala kemudian sering gelisah, kehilangan minat dalam
melakukan aktivitas, merasa tidak memiliki tenaga dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari,
jarang dan malas berinteraksi dengan keluarganya. Pasien tidak ada nafsu makan. Tidak ada
gejala psikotik seperti halusinasi atau waham. Pasien pun tidak pernah mengamuk, tapi biasanya
meludah sembarangan. Pasien sering terbangun tengah malam dan sulit tidur lagi. BAK: lancar,
BAB: konsistensi biasa.
Tujuan: Mengetahui klasifikasi dan pengobatan F32.1
Bahan
Tinjauan
Riset
Kasus
bahasan:
pustaka
Cara
membahas:

Diskusi

Presentasi dan
diskusi

Data Pasien:

Nama: Tn. S

Nama klinik

RSUD Lamaddukelleng Wajo

E-mail

Audit

Pos

No.Registrasi:

Data utama untuk bahan diskusi:


1. Diagnosis/gambaran klinis: Seorang Laki-laki 65 tahun dengan keluhan susah tidur dan
gelisah selama 1 bulan terakhir ini. Awalnya pasien hanya mengeluh sakit kepala
kemudian sering gelisah, kehilangan minat dalam melakukan aktivitas, merasa tidak
1

memiliki tenaga dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari, jarang dan malas berinteraksi
dengan keluarganya. Pasien tidak ada nafsu makan.
Tidak ada gejala psikotik seperti halusinasi atau waham. Pasien pun tidak pernah
mengamuk, tapi biasanya meludah sembarangan. Pasien belum pernah ada percobaan
untuk bunuh diri. Pasien sering terbangun tengah malam dan sulit tidur lagi. Menurut
kelurga, pasien selama ini tidak memiliki masalah apapun, tetapi istri pasien meninggal
beberapa bulan yang lalu, sejak saat itu pasien agak pendiam.
2. Pemeriksaan fisis: TD: 120/70 mmHg, N: 84 x/mnt, P:22 x/mnt, S: 36.5 C.
3. Riwayat pengobatan: Pasien tidak pernah berobat sebelumnya.
4. Riwayat kesehatan/penyakit: pasien tidak pernah mengalami hal serupa sebelumnya.
Riwayat penyakit otak dan saraf tidak ada. Riwayat gangguan jiwa sebelumnya tidak ada.
5. Riwayat keluarga: Tidak ada keluarga yang menderita gangguan jiwa sebelumnya dan
tidak ada keluhan yang serupa dengan pasien.
6. Riwayat pekerjaan: Pasien bekerja sebagai petani
7. Lain-lain: Daftar Pustaka :
1. Sadock BJ, Sadock VA. Mood Disorders. In: Grebb JA, Pataki CS, Sussman N, eds. Kaplan
& Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry. 10th Edition.
New York: Lippincott Williams & Wilkins; 2007. p.528-540.
2. Halverson JA et al. Depression. (Online). 2011. [23 Juni 2011]. Available from
http://emedicine.com
3. Maslim R. Diagnosis Gangguan Jiwa. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma
Jaya; 2003. p. 66-69.
4. Puri BK, Laking PJ, Treasaden IH. Textbook of Psychiatry. 2nd edition. Philadelphia:
Churchill Livingstone; 2002. p.173-196.
5. Maslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Edisi Ketiga. Jakarta:
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya; 2007. p. 23-30.
Hasil pembelajaran:
1. Memahami Gangguan Depresi
2. Klasifikasi/tahapan dari depresi dan penatalaksaannya

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:


2

1. Subyektif:
Seorang Laki-laki 65 tahun dengan keluhan susah tidur dan gelisah selama 1 bulan
terakhir ini. Awalnya pasien hanya mengeluh sakit kepala kemudian sering gelisah,
kehilangan minat dalam melakukan aktivitas, merasa tidak memiliki tenaga dalam
melaksanakan aktivitas sehari-hari, jarang dan malas berinteraksi dengan keluarganya.
Pasien tidak ada nafsu makan. Tidak ada gejala psikotik seperti halusinasi atau
waham. Pasien pun tidak pernah mengamuk, tapi biasanya meludah sembarangan.
Pasien belum pernah ada percobaan untuk bunuh diri. Pasien sering terbangun tengah
malam dan sulit tidur lagi. Menurut kelurga, pasien selama ini tidak memiliki masalah
apapun, tetapi istri pasien meninggal beberapa bulan yang lalu, sejak saat itu pasien
agak pendiam.
2. Obyektif:
Dari hasil pemeriksaan fisik diperoleh:
Status Vitalis: TD: 120/70 mmHg, N: 84 x/mnt, P:22 x/mnt, S: 36.5 C.
Status Mentalis:
Penampilan
: tampak seorang laki-laki memakai baju kaos berwarna abu abu dan
sarung, tampak sesuai umur, kurang rapi.
Kontak
: () mata, verbal.
Psikomotor
: cukup tenang.
Verbalisasi
: menjawab bila ditanya, intonasi biasa.
Afek
: depresif
Ggn. Persepsi : tidak ada
Ggn. Isi Pikir
: observasi.
Status Lokalis:
Kepala
: dalam batas normal
Leher
: dalam batas normal
Dada
: dalam batas normal
Jantung
: dalam Batas normal
Abdomen : dalam batas normal
Ekstremitas : dalam batas normal
Genitalia : dalam batas normal
3. Assesment:
A. DEFENISI
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan
dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola
tidur dan nafsu makan, psokomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan
tak berdaya serta gagasan bunuh diri.
B. EPIDEMIOLOGI
Gejala depresi memang sering tidak terasa dan tidak diketahui. Bahkan, lebih dari
30 persen kasus depresi di tempat praktik dokter tidak terdeteksi. Karena, gejala utama
depresi seperti perasaan depresif (murung, sedih), hilangnya minat/gairah, dan rasa lemas
3

pernah terjadi pada siapa pun.


Depresi merupakan gangguan mental yang paling banyak menimbulkan beban
distabilitas, meningkatkan morbiditas, mortalitas, dan risiko bunuh diri. Berdasarkan studi
Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), gangguan mental
menempati urutan keempat penyebab disabilitas pada tahun 2000.
Diperkirakan, 121 juta manusia di muka bumi ini menderita depresi. Ironisnya,
mereka yang menderita depresi berada dalam usia produktif, yakni cenderung terjadi pada
usia kurang dari 45 tahun. Tidak mengherankan, bila diperkirakan 60 persen dari seluruh
kejadian bunuh diri terkait dengan depresi (termasuk skizofrenia). Depresi juga
berdampak pada penurunan kualitas hidup pasien dan seluruh keluarganya.
C. ETIOLOGI
Penyebab gangguan neurosa depresi tidak diketahui dengan pasti. Etiologi secara
hipotetis diperbincangkan antara lain karena factor gangguan biologik (termasuk faktor
genetik) dan faktor psiko-sosial.
1. Faktor Biologik
Diduga kuat bahwa norepinephrine dan serotonin adalah dua jenis neurotransmitter
yang bertanggung jawab mengendalikan patofisiologi ganguan alam perasaan pada
manusia. Pada binatang percobaan. Pemberian antidepresan dalam waktu sekurang
kurangnya dua sampai tiga minggu, berkaitan dengan melambatnya penurunan
sensitifitas pada receptor post synaptic beta adrenergic dan 5HT2.
Temuan terakhir penelitian biogenic amine menunjukkan dukungan terhadap hipotesa
bahwa pada gangguan alam perasaan (mood) pada umumnya, khususnya episode
depresif terjadi kekacauan regulasi norepinephrine dan serotonin dijaringan otak yang
dapat dikoreksi oleh zat antidepressant dalam jangka waktu dua sampai tiga minggu.
2. Masalah genetik
Didapatkan fakta bahwa gangguan alam perasaan (mood) baik tipe bipolar (adanya
episode manik dan depresi) dan tipe unipolar (hanya depresi saja) memiliki
kecenderungan menurun kepada generasinya, berdasar etiologi biologik.
3. Psikososial
Peristiwa traumatik kehidupan dan lingkungan sosial dengan suasana yang
menegangkan dapat menjadi kausa gangguan neurosa depresi. Sejumlah data yang
kuat menunjukkan kehilangan orangtua sebelum usia 11 tahun dan kehilangan
pasangan hidup harmoni dapat memacu serangan awal gangguan neurosa depresi.
D. GAMBARAN KLINIK
1. Gejala utama (pada derajat ringan, sedang dan berat) :
4

a. afek depresif
b. kehilngan minat dan kegembiraan, dan
c. berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah
yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas.
2. Gejala Lainnya :
a. Konsentrasi dan perhatian berkurang
b. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
c. Gagasan tentaang rasa bersalah dan tidak berguna
d. Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
e. Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
f. Tidur terganggu
g. Nafsu makan berkurang
Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa
sekurang-kurangnya dua minggu untuk penegakkan diagnosis, akan tetapi periode
lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat.
E. DIAGNOSIS
Berdasarkan PPDGJ III, Pedoman Diagnostik Episode Depresif Ringan terdiri dari :
1. F32.0 Episode Depresif Ringan
a. sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi
b. ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya
c. tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya
d. lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu
e. hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa
dilakukannya
2. F32.1 Episode Depresif Sedang
a. sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti pada episode
depresif ringan
b. ditambah sekurang-kurangnya 3 (dan sebaiknya 4) dari gejala lainnya
c. lamanya seluruh episode berlangsung minimum sekitar 2 minggu
d. menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan
urusan rumah tangga.
3. F32.2 Episode Depresif Berat tanpa Gejala Psikotik
a. semua 3 gejala utama depresi harus ada
b. ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya dan beberapa diantaranya
harus berintensitas berat.
c. Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor) yang
mencolok, maka pasien mungkibn tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan
banyak gejalanya secara rinci. Dalam hal demikian penilaian secara menyeluruh
terhadap episode depresif berat masih dapat dibenarkan.
d. Episode depresif biasanya haarus berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu,
akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka masih
dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam kurun waktu kurang dari 2
minggu
5

e. Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan
atau urusan rumah tangga kecuali paada taraf yang sangat terbatas.

4. F32.3 Episode Depresif Berat dengan gejala Psikotik


a. episode depresif berat yang memenuhi kriteria menurut F.32 tersebut
b. disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Waham biasanya melibatkan ide
tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam, dan pasien merasa
bertanggung jawab atas hal itu.
5. F 32.8 Episode Depresif Lainnya
6. F 32.9 Episode Depresif YTT
F. DIAGNOSIS BANDING
Dalam diagnosis banding bisa dipertimbangkan sindrom mental organik dan
kesedihan (berkabung) bila cocok dengan situasi penderita. Gejala-gejala fisiologik dari
keadaan sedih dan depresi dapat saja sama, tetapi hilangnya rasa percaya diri, perasaan
bersalah, dan membenci diri sendiri mengisyaratkan depresi, terutama bila gejala-gejala
ini menetap lebih dari sebulan. Sikap pesimis merupakan ciri diagnostik yang dapat
membantu dalam membedakan kesedihan dengan depresi. Ide-ide bunuh diri juga
mengarah pada depresi. Pertanyaan mengenai keinginan bunuh diri perlu dikeluarkan
selama wawancara secara terbuka dan langsung.
Penderita yang berisiko tinggi bunuh diri adalah pecandu alkohol, jenis kelamin
pria, mereka yang hidup sendiri, mereka yang mempunyai suatu rencana bunuh diri yang
spesifik, dan orang-orang tua. Perlu diketahui bahwa kebanyakan korban bunuh diri yang
berhasil telah berkonsultasi dengan dokter (tidak mesti karena depresinya) sebelum
kematiannya. Dalam membedakan depresi dengan perasaan berkabung, maka waktu dan
gejala-gejala dapat membantu. Proses berkabung yang berlangsung lebih dari 6 bulan
mengisyaratkan adanya penyakit sekunder. Dua petunjuk dari rasa kehilangan yang
berlarut-larut adalah hilangnya ini.
kestabilan emosional bila orang yang dikasihi disebut-sebut, dan yang berduka
merasa bahwa orang yang dicintai tersebut masih ada.
Baik delirium maupun demensia sulit dibedakan dari depresi. Membedakan
delirium dengan dmenesia adalah penting untuk penatalaksanaan penderita. Pada
delirium, terjadi perkabutan kesadaran dengan berkurangnya kapasitas untuk memusatkan
dan mempertahankan perhatian terhadap rangsang, biasanya disertai disorientasi.
Gambaran klinis ini timbul dalam waktu singkat. Pada demensia, terjadi penurunan fungsi
yang tidak nyata.
6

Penyebab psudodemensia yang paling sering adalah depresi: pasien yang depresi
dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, sementara penderita yang benarbenar mengalami demensia tidak akan dapat menjawab. Pada depresi juga terjadi
perubahan mendadak, citra diri yang buruk, menarik diri, dan apatis.
Penggunaan kuesioner tentang kesehatan secara umum atau inventaris depresi
Beck (keduanya dapat memberi kesimpulan sendiri) dapat membantu spesialis dalam
diagnosis banding kasus-kasus yang sulit. Akhir-akhir ini telah digunakan tes penekanan
dengan deksametason untuk membantu diagnosis. Tes ini merupakan suatu teknik riset,
namun kesulitan interpretasi timbul pada kasus alkoholik dan obesitas. Selain itu, tes ini
juga tidak spesifik untuk depresi; hampir separuh dari penderita dengan depresi endogen
gagal dalam menjalani tes penekanan
G. PENATALAKSANAAN
Psikoterapi adalah pilihan utama dalam pengobatan depresi. Selain itu pengobatan
dengan psikofarmako dengan mengutamakan antidepresan, terutama yang mengandung
agen serotonergik seperti sertraline (zoloft 50 mg/hari). Beberapa pasien memberikan
respon yang cukup bagus dengan pemberian obat psikostimulan dalam dosis kecil seperti
amfetamin 5-15 mg/ hari. Dalam semua kasus harus ada kombinasi kedua hal tadi
(Kaplan). Pengobatan lainnya adalah dengan ECT digunakan pada depresi berat, terutama
pada penderita psikotik, mengancam melakukan bunuh diri dan penderita yang tidak mau
makan. Obat-obatan yang juga bisa digunakan:
1. Anti depresi Trisiklik
2. Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs)
3. Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs)
4. Psikostimulan
4. Planning
Diagnosis : Episode depresif berat tanpa gejala psikotik
Ditemukan 3 gejala mayor berupa:
- Afek depresif
- Kehilangan minat & kegembiraan
- Berkurangnya energy yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah dan
menurunnya aktivitas.
Ditemukan 4 dari 6 gejala minor, berupa:
- Konsentrasi dan perhatian yang kurang
- Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
- Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
- Tidur terganggu
- Nafsu makan berkurang
Dengan pedoman diagnostic mengarah pada diagnosis episode depresif tipe sedang, antara

lain sbb:
- Harus ada 3 gejala utama depresi seperti pada episode depresi ringan
- Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya
- Lamanya seluruh episode berlangsung minimum sekitar 2 minggu.
- Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau
urusan rumah tangga kecuali paada taraf yang sangat terbatas.
Pengobatan :
A. Farmakoterapi
Amitriptilin 1 x 25 mg 0-0-1
B. Psikoterapi
1. Ventilasi
Memberi kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan isi hati dan keinginannya
sehingga pasien merasa lega.
2. Konseling
Memberikan pengertian kepada pasien tentang penyakitnya agar pasien memahami
kondisi dirinya.
3. Sosioterapi
Memberi penjelasan kepada keluarga dan orang-orang terdekat pasien tentang
keadaan pasien dan menciptakan lingkungan yang kondusif agar dapat membantu
proses penyembuhan pasien.
Pendidikan:
Dokter menjelaskan prognosis dari pasien, serta komplikasi yang mungkin terjadi.
Konsultasi:
Dijelaskan adanya konsultasi dengan spesialis penyakit jiwa untuk penanganan lebih
lanjut.
Rujukan:
Diperlukan penanganan di rumah sakit dengan sarana dan prasarana yang lebih memadai
serta memiliki dokter spesialis jiwa.

Peserta

(dr. Faradhillah A. Suryadi)

Pendamping

(dr. Kasmawati Amin)