Anda di halaman 1dari 4

Nama : Fiska Agung Santoso

Nim

: 13340093

Kelas : Ilmu Hukum C

Tugas Hukum Pidana Kusus


Analisis Artikel

Presiden Jokowi Minta Seskab Buat Surat


Edaran Agar Kebijakan Tak Dipidana
Rabu 26 Aug 2015, 12:49 WIB

Jakarta - Presiden Joko Widodo meminta Sekretaris Kabinet Pramono Anung untuk
membuat surat edaran kepada para kepala daerah. Isi surat edaran itu adalah mengenai
diskresi kebijakan dan administrasi.
"(Isinya) Bahwa hal yang bersifat kebijakan tak bisa dipidanakan dan kedua
permasalahan administratif diselesaikan secara administratif," kata Pramono di Istana
Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (26/8/2015).
Pramono menyebutkan bahwa latar belakang penerbitan surat edaran adalah karena para
kepala daerah masih takut mencairkan anggaran. Padahal nantinya ada tim dari
kejaksaan yang akan mendampingi.
"Surat edaran ini pemberitahuan ke daerah bahwa sekarang mari gunakan uang secara
benar. Itu diatur rinci. Kebijakan kan begini, selama tidak mencuri, tidak korupsi, tidak
menerima suap, gratifikasi, monggo," imbuh Pramono.
Dia juga menjelaskan bahwa selama ini BPK dan BPKP memberi waktu 60 hari kepada

kepala daerah untuk menindaklanjuti temuan mereka. Tetapi pada praktiknya, sebelum
habis 60 hari banyak kepala daerah yang sudah ditindak oleh aparat penegak hukum.
Maka dari itu jika kesalahannya masih bersifat administratif nantinya akan dikenakan
sanksi administratif juga sesuai UU No 30/2014. Tetapi jika sudah terbukti ada unsur
pidana, maka lampu hijau diberikan kepada para penegak hukum.
"Selama mereka tak mencuri maka mereka diberi jaminan secara hukum. Tapi kalau
mereka mencuri maka kewenangan kejaksaan, kepolisian, dan KPK malah didorong
oleh Presiden," kata Pramono.
Saat ini masih ada dana di daerah sebesar Rp 273 triliun yang belum dicairkan. Para
kepala daerah takut mencairkan anggaran karena takut terkena sanksi pidana.
(bpn/hri)
Analsis/Tanggapan:
Surat edaran presiden Jokowi diatas membuka peluang penyalah gunaan
wewenang, jabatan dan pengambilan kebijakan diluar BPK dan BPKP. Dengan adanya
surat edaran ini kepala daerah di seluruh Indonesia akan lebih leluasa mengambil
kebijakan akan tetapi hal ini berimplikasi pada sulitnya pengawasan kepala-kepala
daerah dan juga tidak adanya hukum yang menjerat kepala daerah jika terjadi
penyalahgunaan jabatan dalam mengambil kebijakan.
Penyalahgunaan jabatan/wewenang yang dapat terjadi akibat surat edaran
presiden Jokowi tersebut dapat terjadi dalam bermacam-macam bentul sebagaimana
teori-teori berikut:
a. Konsep penyalahgunaan wewenang dalam Hukum Adiministrasi Negara
(HAN) yaitu:
1. Detournement de pouvoir atau melampaui batas kekuasaaan;
2. Abuse de droit atau sewenang-wenang.

b. Puspenkum Kejagung juga menjelaskan arti penyalahgunaan wewenang


menurut UU Pemberantasan Tipikor yaitu:
1. Melanggar aturan tertulis yang menjadi dasar kewenangan;
2. Memiliki maksud yang menyimpang walaupun perbuatan sudah
sesuai dengan peraturan;
3. Berpotensi merugikan negara.
c. Menurut Prof. Jean Rivero dan Prof. Waline, pengertian penyalahgunaan
kewenangan dalam Hukum Administrasi dapat diartikan dalam 3 wujud, yaitu:
1. Penyalahgunaan kewenangan untuk melakukan tindakan-tindakan
yang

bertentangan

dengan

kepentingan

umum

atau

untuk

menguntungkan kepentingan pribadi, kelompok atau golongan;


2. Penyalahgunaan kewenangan dalam arti bahwa tindakan pejabat
tersebut adalah benar ditujukan untuk kepentingan umum, tetapi
menyimpang dari tujuan apa kewenangan tersebut diberikan oleh
Undang-Undang atau peraturan-peraturan lain;
3. Penyalahgunaan kewenangan dalam arti menyalahgunakan prosedur
yang seharusnya dipergunakan untuk mencapai tujuan tertentu, tetapi
telah menggunakan prosedur lain agar terlaksana;
Dengan begitu pada dasarnya surat edaran presiden Jokowi membuka kesempatan
penyalahgunaan seperti yang tertera pada teori-teori diatas. Sebaliknya dalam penjeratan
hukum ketika terjadi penyalahgunaan jabatan/wewenang tidak dapat diterapkan.
Undang-Undang Tipikor secara garis besar juga tidak dapat diterapkan kepada kepala
daerah yang telah mengeluarkan kebijakan, meskipun kebijakan tersebut mengandung
Unsur-Unsur KKN & Nepotisme. Dalam Undang-Undang Tipikor sendiri salah satu
aturan yang mengatur mengenai penyalah gunaan wewenang terdapat pada Pasal 3.
Dimana Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi (UU Pemberantasan Tipikor) sebagaimana yang telah diubah
oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 berbunyi sebagaimana berikut:
Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang
lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan
atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang
dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana

dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat
1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau denda
paling sedikit Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling
banyak Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).
Dalam artikel tersebut disebutkan sebagaimana berikut:
"Selama mereka tak mencuri maka mereka diberi jaminan secara hukum.
Tapi kalau mereka mencuri maka kewenangan kejaksaan, kepolisian, dan
KPK malah didorong oleh Presiden," kata Pramono.
&
Jika kesalahannya masih bersifat administratif nantinya akan dikenakan
sanksi administratif juga sesuai UU No 30/2014. Tetapi jika sudah terbukti
ada unsur pidana, maka lampu hijau diberikan kepada para penegak
hukum.
Pada dasarnya kedua konsep tersebut dimana tindak Pidana tetap ditindak oleh Penegak
Hukum dan Tindak Administratif mendapat sanksi administratif merupakan konsep
yang menarik. Akan tetapi kelemahan yang ditimbulkan sudah dapat diamati, yaitu
tindak pidana KKN dan Nepotisme akan sulit untuk dijerat dengan hukum pidana
berkaitan dengan penyelidikan dan pembuktian karena terdapat celah hukum yang dapat
dimanfaatkan yaitu berupa penyelesaian administratif. Penyelesaian administratif
kemudian membatasi peran hukum pidana dalam penindakan kepala daerah yang
menyalahgunakan jabatan. Dengan begitu pelaksanaan dan implikasi Undang-Undang
No. 31 Tahun 1999 Jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juga akan terbatasi
dalam penyelesaian sengketa kebijakan kepala daerah. Padahal secara substansi,
Undang- undang Nomor 31 Tahun 1999 telah mengatur berbagai aspek yang kiranya
dapat menjerat berbagai modus operandi tindak pidana korupsi yang semakin rumit.