Anda di halaman 1dari 14

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kasus korupsi masih banyak terjadi di Indonesia, tidak hanya terjadi di kalangan politik
atau pemerintahan, melainkan terjadi pula di bagian perbankan. Seperti kasus Bank Century.
Kasus korupsi Bank Century ternyata membawa dampak terhadap berbagai sektor, khususnya
stabilitas politik dan perekonomian di Indonesia, terlebih setelah hasil audit BPK menyatakan
bahwa telah terjadi penyalahgunaan wewenang dan pelanggaran pidana dalam kasus ini,
diantaranya unsur kerugian Negara, pelanggaran undang-undang, dan ditemukannya bukti kuat
rekayasa kebijakan yang sengaja dirancang untuk penyelamatan Bank Century. Kasus ini
membuat masyarakat menjadi bingung mengenai kebenaran dari kasus tersebut.Disini saya akan
membahas tentang pelanggaran kasus bank century yang berkaitan dengan etika profesi
akuntansi.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan etika profesi akuntansi ?
2. Bagaimana terjadinya kasus korupsi bank century ?
3. Bagaimana peran pemerintah dalam menanggapi permasalahan ini ?
1.3. Tujuan Masalah
Tujuan dari makalah ini adalah agar kita semua selalu melihat aturan aturan atau
undang undang dalam memecahkan sebuah masalah. Setiap apa yang kita putuskan
seharusnya, di musyawarahkan dan juga di koordinasikan dengan pihak pihak terkait lainya,
agar nantinya tidak ada yang dirugikan, apalagi apbila keputusan kita menyangkut kepentingan
orang banyak, setiap apa yang kita lakukan harus ada transparasi sehingga kedepannya tidak
menimbulkan konflik. Dengan hadirnya kasus bank century, tentu akan menjadi suatu pelajaran
dan juga pengalaman untuk kita kedepannya, agar hal ini tidak sampai terjadi untuk yang kedua
kalinya.

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1. Kerangka Teori


2.1.1.
Etika Profesi Akuntansi
Etika berasal dari dari kata Yunani Ethos (jamak ta etha), berarti adat istiadat Etika
berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri seseorang maupun pada suatu
masyarakat.Etika berkaitan dengan nilai-nilai, tata cara hidup yg baik, aturan hidup yg baik dan
segala kebiasaan yg dianut dan diwariskan dari satu orang ke orang yang lain atau dari satu
generasi ke generasi yg lain.
Di dalam akuntansi juga memiliki etika yang harus di patuhi oleh setiap anggotanya.
Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia dimaksudkan sebagai panduan dan aturan bagi seluruh
anggota, baik yang berpraktik sebagai akuntan publik, bekerja di lingkungan dunia usaha, pada
instansi pemerintah, maupun di lingkungan dunia pendidikan dalam pemenuhan tanggung-jawab
profesionalnya.
Tujuan profesi akuntansi adalah memenuhi tanggung-jawabnya dengan standar
profesionalisme tertinggi, mencapai tingkat kinerja tertinggi, dengan orientasi kepada
kepentingan publik. Untuk mencapai tujuan tersebut terdapat empat kebutuhan dasar yang harus
dipenuhi:
a. Kredibilitas. Masyarakat membutuhkan kredibilitas informasi dan sistem informasi.
b. Profesionalisme. Diperlukan individu yang dengan jelas dapat diidentifikasikan oleh
pemakai jasa Akuntan sebagai profesional di bidang akuntansi.
c. Kualitas Jasa. Terdapatnya keyakinan bahwa semua jasa yang diperoleh dari akuntan
diberikan dengan standar kinerja tertinggi.
d. Kepercayaan. Pemakai jasa akuntan harus dapat merasa yakin bahwa terdapat kerangka
etika

profesional

yang

melandasi

pemberian

jasa

oleh

akuntan

Sedangkan Prinsip Etika Profesi Akuntan

1. Tanggung Jawab Profesi


Dalam melaksanakan tanggung-jawabnya sebagai profesional setiap anggota harus
senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan
yang dilakukannya.
2.

KepentinganPublik
Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan
kepada publik, menghormati kepercayaan public dan menunjukkan komitmen atas
profesionalisme.

3. Integritas
Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus
memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.
4. Obyektivitas
Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan
dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.
5. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya tkngan kehati-hatian, kompetensi
dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan
keterampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien
atau pemberi kerja memperoleh matifaat dari jasa profesional yang kompeten berdasarkan
perkembangan praktik, legislasi dan teknik yang paling mutakhir.
6. Kerahasiaan
Setiap anggota harus, menghormati leerahasiaan informasi yang diperoleh selama
melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi
tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban professional atau hukum
untuk mengungkapkannya
7. Perilaku Profesional
Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan
menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi
8. Standar Teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan
standar proesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati,
anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama
penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas.
2.1.1.2 Basis Teori Etika
1) Etika Teleologi
Teleologi berasal dari bahasa Yunani yaitu telos yang memiliki arti tujuan. Dalam hal
mengukur baik buruknya suatu tindakan yaitu berdasarkan tujuan yang akan dicapai
atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan dari tindakan yang telah dilakukan.
2) Deontolog
Deontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu deon yang memiliki arti kewajiban. Jika
terdapat pertanyaan Mengapa perbuatan ini baik dan perbuatan itu harus ditolak
karena buruk?. Maka Deontologi akan menjawab karena perbuatan pertama menjadi

kewajiban kita dank arena perbuatan kedua dilarang. Pendekatan deontologi sudah
diterima oleh agama dan merupakan salah satu teori etika yang penting.
3) Teori Hak
Dalam pemikiran moral saat ini, teori hak merupakan pendekatan yang paling banyak
dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku. Teori hak ini
merupaka suatu aspek dari teori deontologi karena berkaitan dengan kewajiban. Hak
didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia adalah sama. Oleh
karena itu, hak sangat cocok dengan suasana pemikiran demokratis
4) Teori Keutamaan ( Virtue )
Dalam teori keutamaan memandang sikap atau akhlak seseorang. Keutamaan bisa
didefinisikan sebagai disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan
memungkinkan seseorang untuk bertingkah laku baik secara moral. Contoh sifat yang
dilandaskan oleh teori keutamaan yaitu kebijaksanaan, keadilan, suka bekerja keras
dan hidup yang baik.
2.2.Kasus Bank Century
1) Historis
Awal terjadinya kasus Bank Century adalah mengalami kalah kliring pada tanggal 18
November 2008.Kalah kliring adalah suatu triminologi yang dipahami oleh semua
masyarakat yang menggambarkan adanya deficit suatu bank. Sementara kliring itu
sendiri adalah pertukaran data keuangan elektronik antar peserta kliring baik atas nama
peserta atau klien yang mereka peroleh pada waktu tertentu. Melakukan masalah
internal yang terjadi di Bank Century penipuan oleh manajemen bank, sehubungan
dengan klien mereka. Krisis yang dialami Bank Century bukan disebabkan karena
adanya krisis global, tetapi karena disebabkan permasalahan internal bank tersebut.
Adanya penipuan yang dilakukan oleh pihak manajemen bank terhadap nasabah
menyangkut:
a. Penyelewengan dana nasabah hingga Rp 2,8 Trilliun (nasabah Bank Century
sebesar Rp 1,4 Triliun dan nasabah Antaboga Deltas Sekuritas Indonesia sebesar Rp
1,4 Triliiun)
b. Penjualan reksa dana fiktif produk Antaboga Deltas Sekuritas Indonesia. Dimana
produk

tersebut

tidak

memiliki

izin

BI

dan

Bappepam

LK.

Kedua permasalahan tersebut menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi


nasabah Bank Century. Dimana mereka tidak dapat melakukan transaksi perbankan
4

dan

uang

mereka

pun

untuk

sementara

tidak

dapat

dicairkan.

Kasus Bank Century sangat merugikan nasabahnya. Dimana setelah Bank Century
melakukan kalah kliring, nasabah Bank Century tidak dapat melakukan transaksi
perbankan baik transaksi tunai maupun transaksi non tunai. Setelah kalah kliring,
pada hari yang sama, nasabah Bank Century tidak dapat menarik uang kas dari
ATM Bank Century maupun dari ATM bersama. Kemudian para nasabah
mendatangi kantor Bank Century untuk meminta klarifikasi kepada petugas Bank.
Namun, petugas bank tidak dapat memberikan jaminan bahwa besok uang dapat
ditarik melalui ATM atau tidak. Sehingga penarikan dana hanya bisa dilakukan
melalui teller dengan jumlah dibatasi hingga Rp 1 juta. Hal ini menimbulkan
kekhawatiran

nasabah

terhadap

nasib

dananya

di

Bank

Century.

Tanggal 13 November 2008, nasabah Bank Century mengakui transksi dalam


bentuk valas tidak dapat diambil, kliring pun tidak bisa, bahkan transfer pun juga
tidak bisa. Pihak bank hanya mengijinkan pemindahan dana deposito ke tabungan
dolar. Sehingga uang tidak dapat keluar dari bank. Hal ini terjadi pada semua
nasabah Bank Century. Nasabah bank merasa tertipu dan dirugikan dikarenakan
banyak uang nasabah yang tersimpan di bank namun sekarang tidak dapat
dicairkan. Para nasabah menganggap bahwa Bank Century telah memperjualbelikan
produk investasi ilegal. Pasalnya, produk investasi Antaboga yang dipasarkan Bank
Century tidak terdaftar di Bapepam-LK. Dan sudah sepatutnya pihak manajemen
Bank

Century

mengetahui

bahwa

produk

tersebut

adalah

illegal.

Hal ini menimbulkan banyak aksi protes yang dilakukan oleh nasabah. Para
nasabah melakukan aksi protes dengan melakukan unjuk rasa hingga menduduki
kantor cabang Bank Century. Bahkan para nasabah pun melaporkan aksi penipuan
tersebut ke Mabes Polri hingga DPR untuk segera menyelesaikan kasus tersebut,
dan meminta uang deposito mereka dikembalikan. Selain itu, para nasabah pun
mengusut kinerja Bapepam-LK dan BI yang dinilai tidak bekerja dengan baik.
Dikarenakan BI dan Bapepam tidak tegas dan menutup mata dalam mengusut
investasi fiktif Bank Century yang telah dilakukan sejak tahun 2000 silam. Kasus
tersebut pun dapat berimbas kepada bank-bank lain, dimana masyarakat tidak akan

percaya lagi terhadap sistem perbankan nasional. Sehingga kasus Bank Century ini
dapat merugikan dunia perbankan Indonesia.
2) Kasus Pelanggaran Etika ( Bank Century)
Membengkaknya suntikan modal dari Lembaga Penjamin Simpanan ke Bank Century
hingga Rp 6,7 triliun memaksa keingintahuan Dewan Perwakilan Rakyat. Padahal
awalnya pemerintah hanya meminta persetujuan Rp 1,3 triliun untuk Bank Century.
Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan kepada DPR bahwa jika Bank Century
ditutup akan berdampak sistemik pada perbankan Indonesia. Pada hari yang sama
pula, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Bibit Samad Riyanto menyatakan
bahwa kasus Bank Century itu sudah ditingkatkan statusnya menjadi penyelidikan.
Berbagai kejanggalan ditemukan dalam kasus tersebut. Bahkan KPK berencana
menyergap seorang petiggi kepolisian yang diduga menerima suap dari kasus itu.
Kejanggalan semakin menguat ketika Badan Pemeriksa Keuangan laporan awal
terhadap Bank Century sebanyak delapan halaman beredar luas di masyarakat.
Laporan tersebut mengungkapkan banyak kelemahan dan kejanggalan serius di balik
penyelamatan Bank Century dan ada dugaan pelanggaran kebijakan dalam
memberikan bantuan ke Bank Century. Akibat kejanggalan temuan tersebut, Sekjen
PDI Perjuangan Pramono Anung membentuk tim kecil untuk menggulirkan hak angket
guna mengkaji kasus Bank Century. Lima hari kemudian, wacana pembentukan
Panitia Khusus Hak Angket DPR untuk mengusut kasus Bank Century menjadi
perdebatan di DPR.

Kronologi kasus Bank Century:


Tahun 1989
Robert Tantular mendirikan Bank Century Intervest Corporation (Bank CIC). Namun,
sesaat setelah Bank CIC melakukan penawaran umum terbatas alias rights issue
pertama pada Maret 1999, Robert Tantular dinyatakan tidak lolos uji kelayakan dan

kepatutan oleh Bank Indonesia.


Tahun 2004
Dari merger Bank Danpac, Bank Pikko, dan Bank CIC berdirilah Bank Century.
Mantan Deputi Senior Bank Indonesia Anwar Nasution disebut-sebut ikut andil
berdirinya bank tersebut. Tanggal 6 Desember 2004 Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia mengesahkan Bank Century.

Tahun 2005
Budi Sampoerna menjadi salah satu nasabah terbesar Bank Century cabang Kertajaya,

Surabaya.
Tahun 2008
Beberapa nasabah besar Bank Century menarik dana yang disimpan di bank besutan
Robert Tantular itu, sehingga Bank Century mengalami kesulitan likuiditas. Diantara

nasabah besar itu adalah Budi Sampoerna, PT Timah Tbk, dan PT Jamsostek.
1 Oktober 2008
Budi Sampoerna tak dapat menarik uangnya yang mencapai Rp 2 triliun di Bank
Century. Sepekan kemudian, bos Bank Century Robert Tantular membujuk Budi dan
anaknya yang bernama Sunaryo, agar menjadi pemegang saham dengan alasan Bank

Century mengalami likuiditas.


13 November 2008
Gubernur Bank Indonesia Boediono membenarkan Bank Century kalah kliring atau
tidak bisa membayar dana permintaan dari nasabah sehingga terjadi rush. Kemudian,
Bank Indonesia menggelar rapat konsulitasi melalui telekonferensi dengan Menteri
Keungan Sri Mulyani, yang tengah mendampingi Presiden Susilo Bambang

Yudhoyono dalam sidang G-20 di Washington, Amerika Serikat.


14 November 2008
Bank Century mengajukan permohonan fasilitas pendanaan darurat dengan alasan sulit
mendapat pendanaan. Budi Sampoerna setuju memindahkan seluruh dana dari

rekening di Bank Century cabang Kertajaya, Surabaya ke Cabang Senayan, Jakarta.


20 November 2008
Bank Indonesia menyampaikan surat kepada Menkeu tentang Penetapan Status Bank
Gagal pada Bank Century dan menyatakan perlunya penanganan lebih lanjut. Selaku
Ketua Komite Stabilitas Sektor Keuangan, Sri Mulyani langsung menggelar rapat
untuk membahas nasib Bank Century. Dalam rapat tersebut, Bank Indonesia melalui
data per 31 Oktober 2008 mengumumkan bahwa rasio kecukupan modal atau CAR
Bank Century minus hingga 3,52 persen. Diputuskan, guna menambah kebutuhan
modal untuk menaikkan CAR menjadi 8 persen adalah sebesar Rp 632 miliar. Rapat
tersebut juga membahas apakah akan timbul dampak sistemik jika Bank Century

dilikuidasi. Dan menyerahkan Bank Century kepada lembaga penjamin.


21 November 2008
Mantan Group Head Jakarta Network PT Bank Mandiri, Maryono diangkat menjadi
Direktur Utama Bank Century menggantikan Hermanus Hasan Muslim.

22 November 2008
Delapan pejabat Bank Century dicekal. Mereka adalah Sualiaman AB (Komisaris
Utama), Poerwanto Kamajadi (Komisaris), Rusli Prakarta (komisaris), Hermanus
Hasan Muslim (Direktur Utama), Lila K Gondokusumo (Direktur Pemasaran), Edward

M Situmorang (Direktur Kepatuhan) dan Robert Tantular (Pemegang Saham).


23 November 2008
Lembaga penjamin langsung mengucurkan dana Rp 2,776 triliun kepada Bank
Century. Bank Indonesia menilai CAR sebesar 8 persen dibutuhkan dana sebesar Rp
2,655 triliun. Dalam peraturan lembaga penjamin, dikatakan bahwa lembaga dapat

menambah modal sehingga CAR bisa mencapai 10 persen, yaitu Rp 2,776 triliun.
26 November 2008
Robert Tantular ditangkap di kantornya di Gedung Sentral Senayan II lantai 21 dan
langsung ditahan di Rumah Tahanan Markas Besar Polri. Robert diduga
mempengaruhi kebijakan direksi sehingga mengakibatkan Bank Century gagal kliring.
Pada saat yang sama, Maryono mengadakan pertemuan dengan ratusan nasabah Bank

Century untuk meyakinkan bahwa simpanan mereka masih aman.


Periode November hingga Desember 2008
Dana pihak ketiga yang ditarik nasabah dari Bank Century sebesar Rp 5,67 triliun.
Desember 2008
Lembaga penjamin mengucurkan untuk kedua kalinya sebesar Rp 2,201 triliun. Dana

tersebut dikucurkan dengan alasan untuk memenuhi ketentuan tingkat kesehatan bank.
3 Februari 2009
Lembaga penjamin mengucurkan lagi Rp 1,55 triliun untuk menutupi kebutuhan CAR

berdasarkan hasil assesment Bank Indonesia, atas perhitungan direksi Bank Century.
1 April 2009
Penyidik KPK hendak menyergap seorang petinggi kepolisian yang diduga menerima
suap. Namun penyergarapan itu urung lantaran suap batal dilakukan. Dikabarkan
rencana penangkapan itu sudah sampai ke telinga Kepala Polri Jenderal Bambang

Hendarso Danuri. Sejak itulah hubungan KPK-Polri kurang mesra.


Pertengahan April 2009
Kabareskrim Polri Komjen Susno Duadji mengeluarkan surat klarifikasi kepada
direksi Bank Century. Isi surat tersebut adalah menegaskan uang US$ 18 juta milik

Budi Sampoerna dari PT Lancar Sampoerna Besatari tidak bermasalah.


29 Mei 2009
Kabar Susno Duadji memasilitasi pertemuan antara pimpinan Bank Century dan pihak
Budi Sampoerna di kantornya. Dalam pertemuan itu disepakati bahwa Bank Century

akan mencairkan dana Budi Sampoerna senilai US$ 58 juta -dari total Rp 2 triliun

dalam bentuk rupiah.


Juni 2009
Bank Century mengaku mulai mencairkan dana Budi Sampoerna yang diselewengkan
Robert Tantular sekitar US$ 18 juta, atau sepadan dengan Rp 180 miliar. Namun, hal
ini dibantah pengacara Budi Sampoerna, Lucas, yang menyatakan bahwa Bank

Century belum membayar sepeserpun pada kliennya.


Juli 2009
KPK melayangkan surat permohonan kapada Badan Pemeriksa Keuangan untuk

melakukan audit terhadap Bank Century.


Akhir Juni 2009
Komisaris Jendral Susno Duadji mengatakan ada lembaga yang telah sewenang

wenang menyadap telepon selulernya.


2 Juli 2009
KPK menggelar koferensi pers. Wakil Ketua Komisi Pemberantasan amad Riyanto

megatakan jika ada yang tidak jelas soal penyadapan, diminta datang ke KPK.
21 Juli 2009
Lembaga penjamin mengucurkan lagi Rp 630 miliar untuk menutupi kebutuhan CAR
Bank Century. Keputusan tersebut juga berdasarkan hasil assesment Bank Indonesia
atas hasil auditro kantor akuntan publik. Sehingga total dana yang dikucurkan

mencapai Rp 6,762 triliun.


12 Agustus 2009
Mantan Direktur Utama Bank Century Hermanus Hasan Muslim divonis 3 tahun
penjara karena terbukti menggelapkan dana nasabah Rp 1,6 triliun. Dan tanggal 18
Agustus 2009, Komisaris Utama yang juga pemegang saham Robert Tantular dituntut
hukuman delapan tahun penjara dengan denda Rp 50 miliar subsider lima tahun

penjara.
27 Agustus 2009
Dewan Perwakilan Rakyat memanggil Menkeu Sri Mulyani, Bank Indonesia dan
lembaga penjamin untuk menjelaskan membengkaknya suntikan modal hingga Rp 6,7
triliun. Padahal menurut DPR, awalnya pemerintah hanya meminta persetujuan Rp 1,3
triliun untuk Bank Century. Dalam rapat tersebut Sri Mulyani kembali menegaskan
bahwa jika Bank Century ditutup akan berdampak sistemik pada perbankan Indonesia.
Pada hari yang sama pula, Wakil Ketua KPK Bibit Samad Riyanto menyatakan bhwa

kasus Bank Century itu sudah ditingkatkan statusnya menjadi penyelidikan.

28 Agustus 2009
Wakil Presiden Jusuf Kalla membantah pernyataan Sri Mulyani yang menyatakan
bahwa dirinya telah diberitahu tentang langkah penyelamatan Bank Century pada
tanggal 22 Agustus 2008 --sehari setelah keputusan KKSK. Justru Kalla mengaku

dirinya baru tahu tentang itu pada tanggal 25 Agustus 2008.


10 September 2009
Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang dipimpin Sugeng Riyono
memutus Robert Tantular dengan vonis hukuman 4 tahun dengan denda Rp 50 miliar
karena dianggap telah memengaruhi pejabat bank untuk tidak melakukan langkah-

langkah yang diperlukan sesuai dengan UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan.
30 September 2009
Laporan awal audit Badan Pemeriksa Keuangan terhadap Bank Century sebanyak 8
halaman beredar luas di masyarakat. laporan tersebut mengungkapkan banyak
kelemahan dan kejanggalan serius di balik penyelamatan Bank Century dan ada

dugaan pelanggaran kebijakan dalam memberikan bantuan ke Bank Century.


2 Oktober 2009
Nama Bank Century diganti menjadi Bank Mutiara.
21 Oktober 2009
Akibat kejanggalan temuan BPK tersebut, Sekjen PDI Perjuangan Pramono Anung
membentuk tim kecil untuk menggulirkan hak angket guna mengkaji kasus Bank
Century. Lima hari kemudian, wacana pembentukan Panitia Khusus Hak Angket DPR

untuk mengusut kasus Bank Century menjadi perdebatan di DPR.


12 November 2009
139 anggota DPR dari 8 Fraksi mengusulkan hak angket atas pengusutan kasus Bank
Century.
Dari kronologis tersebut dapat dilihat bahwa kasus ini merupakan pelanggaran atas
penyalahgunaan aliran dana yang telah di berikan LPS. Dimana, yang menjadi
tersangka dalam kasus ini yaitu : ST, Hermanus Hasan Muslim , Robert Tantular. RM
Johanes Sarwono, Stevanus Farok dan Umar Muchsin, Wakil Direktur Bank Century
Hamidy, Pjs Settlement Kredit dan Pelaporan Kredit (SKPK) Bank Century Darso
Wijaya, Kepala Bank Century Cabang Senayan Linda Wangsadinata dan Divisi Legal

10

Bank Century Arga Tirta Kencana. Berdasarkan kasus diatas pasal-pasal yang
dilanggar oleh para terdakwa adalah sebagai berikut:
a. pasal 49 ayat 1 UU Perbankan dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun dan
maksimal 15 tahun penjara.
b. Pasal 49 ayat (2) asal 49 ayat 2 dengan hukuman minimal 3 tahun penjara,pencucian
uang Pasal 6 ayat (1) huruf a, b, dan c UU No.15 Tahun 2002 sebagaimana diubah UU
No.25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) jo Pasal 55 KUHP.
pasal 6 ayat (1) huruf a, b, dan c UU TPPU menyatakan, setiap orang yang menerima
atau menguasasi penempatan, pentransferan, atau pembayaran harta kekayaan yang
diketahui atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana, dipidana dengan pidana
penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun, serta denda paling sedikit
Rp100 juta dan paling banyak Rp15 miliar.
.3

Peran Pemerintah
Melakukan penyelidikan mendalam terhadap kasus ini misalnya dengan membentuk tim
khusus untuk audit dan hak angket guna mengkaji kasus tersebut dan juga menangkap
para pelaku yang terlibat bahkan sebagian dari mereka sudah diberi vonis.

BAB 3
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
11

Kasus ini sampai sekarang masih penuh dengan misteri dan ketidakjelasan karena diduga
masih banyak orang lain yang ikut terlibat dalam kasus Bank Centuty meskipun sebagian dari
orang yang bertanggungjawab sudah diberi vonis dan putusan hukuman.Hingga saat ini
penangganan kasus skandal bailout Bank Century belum juga tuntas. Institusi hukum belum juga
mampu menemukan aktor intelektual skandal yang merugikan keuangan negara sebesar Rp6,7
triliun.
Penyidikan kasus ini pun seperti jalan ditempat sejak DPR membentuk Pansus pada tahun
2009 lalu. Namun, setelah nyaris tidak terdengar, beberapa waktu terakhir ini kasus tersebut
mulai ramai dibicarakan lagi, atau tepatnya setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
menetapkan dan menahan mantan Deputi Bank Indonesia Budi Mulya.
Bahkan KPK telah memeriksa Wapres Boediono terkait pemberian Fasilitas Pendanaan
Jangka Pendek (FPJP) ke Bank Century. Publik pun kini kembali menunggu apakah KPK
dibawah pimpinan Abraham Samad Cs mampu menemukan aktor intelektual skandal ini, atau
kasus ini tetap tidak tuntas.
Pemerintah lebih tertarik terahadap selisih dana yang diperkirakan dengan dana yang
dikeluarkan. Apa lagi aliran dana itu masih misteri hingga sekarang. Dana talangan yang
awalnya diperkirakan hanya mencapai angka 600-an milyard membengkak menjadi 6,7 triliun.
Berkaitan dengan pembengkakan dana ini, menurut penulis ada dua kemungkinan penyebabnya,
yakni :
Kinerja aparatur Negara maupun aparatur swasta yang terkait pemberian dana talangan
ini memang sangat buruk dan lalai dalam menjalankan tugas sehingga perkiraan yang

awalnya bernilai milyaran rupiah membengkak menjadi triliunan rupiah.


Pembengkakan dana talangan ini memang sengaja dibuat dan disembunyikan untuk

kepentingan politik pihak-pihak tertentu.


3.2. Saran
Adapun beberapa saran dalam kasus ini :
a. Dalam menghadapi kasus bank Century perlunnya kerjasama dengan baik antara
pemerrintah, DPR-RI dan Bank Indonesia.
b. Pemerintah harus bertanggung jawab kepadanasabah Bank Century agar bisa uangnyya
dicairkan.
c. Harusnnya ada trasparansi public dalam menyelesaikan kasus Bank century sehingga
tidak terjadi korupsi.
d. Audit investasi BPK harus dilakukan dengan tuntas dan dibantu oleh Polri, kejaksaan,
Pemerintah Bank Indonesia.
3.3. Solusi
12

Dari sisi manager Bank Century menghadapi dilema dalam etika dan bisnis. Hal tersebut
dikarenakan manager memberikan keputusan pemegang saham Bank Century kepada Robert
Tantular, padahal keputusan tersebut merugikan nasabah Bank Century. Tetapi disisi lain,
manager memiliki dilema dimana pemegang saham mengancam atau menekan karyawan dan
manager untuk menjual reksadana fiktif tersebut kepada nasabah. Manajer Bank Century harus
memilih dua pilihan antara mengikuti perintah pemegang saham atau tidak mengikuti perintah
tersebut tetapi dengan kemungkinan dia berserta karyawan yang lain terkena PHK. Dan pada
akhirnya manager tersebut memilih untuk mengikuti perintah pemegang saham dikarenakan
manager beranggapan dengan memilih option tersebut maka perusahaan akan tetap sustain serta
melindungi karyawan lain agar tidak terkena PHK dan sanksi lainnya. Walaupun sebenarnya
tindakan manager bertentangan dengan hukum dan etika bisnis. Solusi dari masalah ini
sebaiknya manager lebih mengutamakan kepentingan konsumen yaitu nasabah Bank Century.
Karena salah satu kewajiban perusahaan adalah memberikan jaminan produk yang aman.
Dari sisi pemegang saham yaitu Robert Tantular, terdapat beberapa pelanggaran etika
bisnis, yaitu memaksa manajer dan karyawan Bank Century untuk menjual produk reksadana
dari Antaboga dengan cara mengancam akan mem-PHK atau tidak memberi promosi dan
kenaikan gaji kepada karyawan dan manajer yang tidak mau menjual reksadana tersebut kepada
nasabah. Pelanggaran yang terakhir adalah, pemegang saham mengalihkan dana nasabah ke
rekening pribadi. Sehingga dapat dikatakan pemegang saham hanya mementingkan kepentingan
pribadi dibanding kepentingan perusahaan, karyawan, dan nasabahnya (konsumen). Solusi untuk
pemegang saham sebaiknya pemegang saham mendaftarkan terlebih dahulu produk reksadana ke
BAPPEPAM untuk mendapat izin penjualan reksadana secara sah. Kemudian, seharusnya
pemegang saham memberlakukan dana sabah sesuai dengan fungsinya (reliability), yaitu tidak
menyalah gunakan dana yang sudah dipercayakan nasabah untuk kepentingan pribadi.
Dalam kasus Bank Century ini nasabah menjadi pihak yang sangat dirugikan. Dimana Bank
Century sudah merugikan para nasabahnya kurang lebih sebesar 2,3 trilyun. Hal ini
menyebabkan Bank Century kehilangan kepercayaan dari nasabah. Selain itu karena dana
nasabah telah disalahgunakan maka menyebabkan nasabah menjadi tidak sustain, dalam artian
ada nasabah tidak dapat melanjutkan usahanya, bahkan ada nasabah yang bunuh diri dikarenakan
hal ini. Solusi untuk nasabah sebaiknya dalam memilih investasi atau reksadana nasabah
diharapkan untuk lebih berhati-hati dan kritis terhadap produk yang akan dibelinya. Jika produk

13

tersebut adalah berupa investasi atau reksadana, nasabah dapat memeriksa kevalidan produk
tersebut dengan menghubungi pihak BAPPEPAM. Dikarenakan kasus ini kinerja BI dan
BAPPEPAM sebagai pengawas tertinggi dari bank-bank nasional menjadi diragukan, karena BI
dan BAPPEPAM tidak tegas dan lalai dalam memproses kasus yang menimpa Bank Century.
Dimana sebenarnya BI dan BAPPEPAM telah mengetahui keberadaan reksadana fiktif ini sejak
tahun 2005. Untuk Bank-bank nasional lainnya pengaruh kasus Bank Century mengakibatkan
hampir terjadinya efek domino dikarenakan masyarakat menjadi kurang percaya dan takut bila
bank-bank nasional lainnya memiliki penyakit yang sama dengan Bank Century dikarenakan
krisis global, dengan kata lain merusak nama baik bank secara umum. Solusi untuk BI dan
BAPPEPAM sebaiknya harus lebih tegas dalam menangani dan mengawasi pelanggaranpelanggaran yang dilakukan oleh bank-bank yang diawasinya. Selain itu sebaiknya mereka lebih
sigap dan tidak saling melempar tanggung jawab satu sama lain. Dan saran untuk Bank Nasional
lainnya, sebaiknya bank-bank tersebut harus lebih memperhatikan kepentingan konsumen atau
nasabah agar tidak terjadi kasus yang sama.

DAFTAR PUSTAKA
http://atikaa08.student.ipb.ac.id/2010/06/18/permasalahan-bank-century-dan-solusinya/
http://www.merdeka.com/tag/k/kasus-century/
http://news.metrotvnews.com/read/2014/05/01/237211/peran-sri-mulyani-dalam-kasusbank-century (11-10-14)
http://www.waspada.co.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=308084:kisah-awal-kasus-bankcentury&catid=59:kriminal-a-hukum&Itemid=91

14