Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

PEMIKIRAN ABU HASAN AL-ASYARI


DAN ABU MANSUR AL MATURIDI
DALAM BIDANG KETAUHIDAN
Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Aswaja 2
Dosen Pengasuh Limmatus Sauda, M.Hum

Oleh :
1. Adi Rohmat
2. Fakhruddin Srini-O
3. Khus Amirulloh
Jurusan Manajemen Pendidikan Islam
Institut K.H Abdul Chalim
Tahun 2016

Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................
A. LATAR BELAKANG................................................................................

B. TUJUAN................................................................................................
C. RUMUSAN MASALAH...........................................................................
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................
A. Pemikiran Abu Hasan Al- Asyari Dalam Bidang Ketauhidan..................
B. Pemikiran Abu Mansur al-Maturidi Dalam Bidang Ketauhidan.............
C. Alasan Memilih Pemikiran Kedua Ulama Sebagai Dasar
Ahlussunnah Wal Jamaah..................................................................
BAB III KESIMPULAN..................................................................................
A. Kesimpulan...........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sesuai dengan apa yang diramalkan oleh Rasulullah SAW
bahwa umat islam akan terpecah menjadi 72 golonngan dan
tidak ada yang selamat kecuali satu golongan, maka timbulah
banyak firqah-firqah yang dianggap sesat. Menjelang akhir
abad 3H muncul 2 golongan umat yang dipimpin oleh dua
ulama besar yakni Syeikh Abu Hassan Ali Al Asyari dan Syeikh
Abu Mansur Al Maturidi. Kedua golongan ini selanjutnya
dinamakan sebagai Ahlulsunnah Wal Jamaah.
Ahlussunnah saja atau Sunni saja atau disebut Asyari atau
Asyairah dikaitkan dengan ulama besarnya yang pertama
yaitu Abu Hassan Ali Asyari. Aliran Al-Maturidiyah adalah
sebuh aliran yang tidak

jauh

berbeda dengan aliran al-

Asy'ariyah.Keduanya lahir sebagai bentuk pembelaan terhadap


sunnah. Bila aliran

al-Asy'ariyah

berkembang di Basrah

maka aliran al-Maturidiyah berkembang di Samargand.


Banyak pemikiran pemikiran dari kedua ulama besar ini
menjadi landasan atau dasar dari ajaran Ahlussunnah Wal
Jamaah. Tak terkecuali umat muslim di Indonesia yang dikenal
dengan Nahdatul Ulama. Oleh karena itu kami mencoba
mengkaji bagaimana pemikirian kedua ulama tersebut.
B. TUJUAN
1. Untuk mengetahui bagaimana pemikiran Abu Hasan Al
Asyari dalam bidang ketauhidan.
2. Untuk mengetahui bagaimana pemikiran Abu Mansur Al
Maturidi dalam bidang ketauhidan.

3. Untuk mengetahui alasan memilih pemikiran kedua ulama


besar tersebut sebagai dasar Ahlussunnah Wal Jamaah.

C. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pemikiran Abu Hasan Al Asyari dalam bidang
ketauhidan ?
2. Bagimana pemikiran Abu Hasan Al Asyari dalam bidang
ketauhidan ?
3. Mengapa pemikiran kedua ulama tersebut dijadikan dasar
pemikiran Ahlulsunnah Wal Jamaah ?

BAB II PEMBAHASAN

A. Pemikiran

Abu

Hasan

Al-

Asyari

Dalam

Bidang Ketauhidan
Formulasi

pemikiran

menampilkan

sebuah

Al

Asyari,

secara

esensial

upaya

sintesis

antar

formulasi

ortodoks ekstrem pada satu sisi dan Mutazilah pada sisi


lain. Dari segi etosnya, pergerakan tersebut memiliki
semangat

Ortodoks.

Aktualitas

formulasinya

jelas

menampakan sifat yang reaksionis terhadap Mutazilah,


sebuah reaksi yang tidak bisa 100% menghindarinya.1
Corak

pemikiran

yang

sintesis

ini,

menurut

Watt

dipengaruhi teologi kullabiah (teologi sunni yang dipelopori


Ibn

Kullab)(w.854

M).2

Pemikiran

Al

Asyari

yang

terpenting adalah sebagai berikut :


1.Tuhan dan Sifat Sifatnya
Perbedaan

Pendapat

di

kalangan

mutakalimin

mengenai sifat sifat Allah tidak dapat dihindarkan


meskipun mereka

setuju

bahwa

mengesakan Allah

adalah wajib hukumnya. Al-Asyari dihadapkan pada dua


1

Abdul Rozak dan Rosihan Anwar, Ilmu Kalam, (Bandung:


Puskata Setia, 2006), hal. 147

Ibid, Hlm. 147

pandangan

yang

ekstrem.

Pada

satu

pihak,

ia

berhadapan dengan kelompok sifatiah (pemberi sifat),


kelompok mujassimah (antropomosif), dan kelompok
musyabbihah yang berpendapat bahwa allah mempunyai
semua sifat yang disebutkan dalam al quran dan
sunnah bahwa sifat sifat itu harus dipahami menurut
arti harfiahnya. Pada pihak lain, ia berhadapan dengan
kelompok Mutazilah yang berpendapat bahwa sifat
sifat allah tidak lain selain esensi Nya, dan tangan,
kaki,telingan allah atau arsy atau kursi tidak boleh
diartikan secara harfiah, tetapi harus dijelaskan secara
alegoris.
Menghadapi dua kelompok yang berbeda tersebut, AlAsyari berpendapat bahwa allah memiliki sifat sifat
(bertentangan dengan Mutazilah) dan sifat sifat itu,
seperti

mempunyai

tangan

dan

kaki,

tidak

boleh

diartikan secara harfiah, tetapi secara simbolis (berbeda


dengan pendapat kelompok sifatiah). Selanjutnya, AlAsyari berpendapat bahwa sifat sifat allah unik dan
tidak dapat dibandingkan dengan sifat sifat manusia
yang tampaknya mirip. Sifat sifat Allah berbeda dengan
Allah,

tetapi

sejauh

menyangkut

realitasnya

tidak

terpisah dari esensi Nya. Dengan demikian, tidak


berbeda dengan Nya.
2. Kebebasan dalam berkehendak
Manusia memiliki kemampuan untuk memilih dan
menentukan serta mengaktualisasikan perbuatanya. AlAsyari mengambil pendapat menengah di antar dua
pendapat yang ekstrem, yaitu Jabariah yang fatalistic

dan menganut paham pra determinisme semata


mata, dan Mutazilah yang menganut paham kebebasan
mutlak dan berpendapat bahwa manusia menciptakan
perbuatanya sendiri.3
Untuk menengahi dua pendapat diatas, Al-Asyari
membedakan antara khaliq dan kasb. Menurutnya, Allah
adalah pencipta (khaliq) perbuatan manusia, sedangkan
manusia adalah yang mengupayakanya. Hanya Allah
yang mampu menciptakan segala sesuatu.4

3.Akal dan Wahyu dan Kriteria Baik dan Buruk


Meskipun Al-Asyari dan orang orang Mutazlah
mengakui pentingnya akal dan wahyu, tetapi berbeda
dalam

menghadapi

persoalanyang

memperoleh

penjelasan kontradiktif dari akal dan wahyu. Al-Asyari


mengutamakan

wahyu,

sementar

mutazilah

mengutamakan akal.5
4.Qadimnya Al-Quran
3

Prof. Dr. H. Abdul Rozak, M.Ag.Prof. Dr. H. Rosihon Anwar,


M.Ag.,Ilmu Kalam(Bandung : Pustaka Setia,2014)Hlm.148

Ibid, Hlm.148

Ibid, Hlm.149

Mutazilah mengatakan bahwa Al-Qur'an diciptakan


(makhluk) sehingga tak qadim serta pandangan mazhab
Hambali dan Zahiriah yang mengatakan bahwa Al-Qur'an
adalah kalam Allah (yang qadim dan tidak diciptakan).
Zahiriah bahkan berpendapat bahwa semua huruf, kata
dan

bunyi

Al-Qur'an adalah qadim.

mendamaikan

kedua

pandangan

Dalam rangka
yang

saling

bertentangan itu Al-Asyari mengatakan bahwa walaupun


Al-Qur'an terdiri atas kata-kata, huruf dan bunyi, semua
itu tidak melekat pada esensi Allah dan karenanya tidak
qadim.

Nasution mengatakan bahwa Al-Quran bagi Al-

Asyari tidaklah diciptakan sebab kalau ia diciptakan,


sesuai dengan ayat:7








Artinya: Sesungguhnya perkataan Kami terhadap
sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya
mengatakan kepadanya: "Kun (jadilah)", maka jadilah ia.
(Q.S. An-Nahl:40)

5.Melihat Allah

Prof. Dr. H. Abdul Rozak, M.Ag.Prof. Dr. H. Rosihon Anwar,


M.Ag.,Ilmu Kalam(Bandung : Pustaka Setia,2014)Hlm.149

Ibid, Hlm.149

Al Asyari tidak sependapat dengan kelompok


Otodoks ekstrem, terutama Zahiriah, yang menyatakan
bahwa Allah dapat dilihat di akhirat dan mempercayai
bahwa Allah bersemayam di Arsy. Selain itu, Al-Asyari
tidak sependapat dengan Mutazilah yang mengingkari
ruyatullahdi akhirat.8 Al-Asyari yakin bahwa Allah dapat
dilihat

di

akhirat9,

tetapi

Kemungkinan

ruyat

dapat

menyebabkan

dapat

dilihat

tidak
terjadi
atau

Ia

digambarkan.
ketika

Allah

menciptakan

kemampuan penglihatan manusia untuk melihat-Nya.10


6.Keadilan
Pada dasarnya Al-Asyari dan Mutazilah setuju bahwa
allah itu adil. Mereka hanya berbeda dalam cara
pandang makna keadilan. Al-Asyari tidak sependapat
dengan ajaran Mutazilah yang mengharuskan allah
berbuat adil sehingga ia harus menyiksa orang yang
salah dan member pahala kepada orang yang berbuat
baik. Al-Asyari berpendapat bahwa allah tidak memiliki
keharusan apapun karena ia adalah Penguasa Mutlak.
Jika Mutazilah mengartikan keadilan dari visi manusia
yang memiliki dirinya, sedangkan Al-Asyari dari visi
bahwa allah adalah pemilik mutlak.

Prof. Dr. H. Abdul Rozak, M.Ag.Prof. Dr. H. Rosihon Anwar,


M.Ag.,Ilmu Kalam(Bandung : Pustaka Setia,2014)Hlm.150

Ibid, Hlm.150

10 Ibid, Hlm.150

7. Kedudukan Orang Berdosa


Al-Asyari menolak ajaran posisi menengah yang
dianut

Mutazilah.

Al-Asyari

menolak

ajaran

posisi

menengah yang dianut Mutazilah. Mengingat kenyataan


bahwa iman merupakan lawan kufur, predikat bagi
seorang harus satu diantaranya. Jika tidak mukmin, ia
kafir. Oleh karena itu, Al-Asyari berpendapat bahwa
mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin yang
fasik sebagai iman tidak mungkin hilang karena dosa
selain kufur.11

B.Pemikiran Abu Mansur al-Maturidi Dalam Bidang


Ketauhidan
1. Akal dan Wahyu
Menurut Al-Maturidi, mengetahui Tuhan dan kewajiban
mengetahui

Tuhan

dapat

diketahui

dengan

akal.

Kemampuan akal dalam mengetahui dua hal tersebut


sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang memerintahkan
agar

manusia

menggunakan

akal

dalam

usaha

memperoleh pengetahuan dan keimanannya terhadap


Allah

melalui

pengamatan

dan

pemikiran

yang

mendalam tentang makhluk ciptaannya. Kalau akal tidak


mempunyai

kemampuan

memperoleh

pengetahuan

11 Ibid, Hlm.150

10

tersebut, tentunya Allah tidak akan menyuruh manusia


untuk

melakukannya.

menggunakan
pengetahuan

akal

Dan
untuk

mengenai

orang

yang

tidak

mau

memperoleh

iman

dan

Allah

berarti

meninggalkan

kewajiban yang diperintah ayat-ayat tersebut. Namun


akal menurut Al-Maturidi, tidak mampu mengetahui
kewajiban-kewajiban lainnya.

Dalam

masalah

baik

dan

buruk,

Al-Maturidi

berpendapat bahwa penentu baik dan buruk sesuatu itu


terletak pada suatu itu sendiri, sedangkan perintah atau
larangan syariah hanyalah mengikuti ketentuan akal
mengenai baik dan buruknya sesuatu. Dalam kondisi
demikian, wahyu diperoleh untuk dijadikan sebagai
pembimbing
Al-Maturidi membagi kaitan sesuatu dengan akal pada
tiga macam, yaitu:
1.

Akal dengan sendirinya hanya mengetahui


kebaikan sesuatu itu.

2.

Akal dengan sendirinya hanya mengetahui


kebutuhan sesuatu itu

3.

Akal tidak mengetahui kebaikan dan keburukan


sesuatu, kecuali dengan petunjuk

ajaran wahyu.

Jadi, yang baik itu baik karena diperintah Allah, dan


yang buruk itu buruk karena larangan Allah. Pada korteks

11

ini, Al-Maturidi berada pada posisi tengah dari Mutazilah


dan Al-Asyari.
2. Perbuatan Manusia
Menurut Al-Maturidi perbuatan manusia adalah ciptaan
Tuhan karena segala sesuatu dalam wujud ini adalah
ciptaannya. Dalam hal ini, Al-Maturidi mempertemukan
antara ikhtiar sebagai perbuatan manusia dan qudrat
Tuhan sebagai pencipta perbuatan manusia.
Dengan demikian tidak ada peretentangan antara
qudrat tuhan yang menciptakan perbuatan manusia dan
ikhtiar yang ada pada manusia. Kemudian karena daya di
ciptakan dalam diri manusia dan perbuatan yang di
lakukan adalah perbuatan manusia sendiri dalam arti
yang sebenarnya, maka tentu daya itu juga daya
manusia.12

3.Kekuasaan dan Kehendak Mutlak Tuhan


Menurut Al-Maturidi qudrat Tuhan tidak sewenangwenang (absolut), tetapi perbuatan dan kehendaknya itu
berlangsung sesuai dengan hikmah dan keadilan yang
sudah ditetapkannya sendiri.
4. Sifat Tuhan
Dalam hal ini faham Al-Maturidi cenderung mendekati
faham mutzilah. Perbedaan keduanya terletak pada
12 Prof. Dr. H. Abdul Rozak, M.Ag.Prof. Dr. H. Rosihon Anwar,
M.Ag.,Ilmu Kalam(Bandung : Pustaka Setia,2014)Hlm.152

12

pengakuan Al-Maturidi tentang adanya sifat-sifat Tuhan,


sedangkan mutazilah menolak adanya sifat-sifat Tuhan.
Berkaitan
ditemukan
dengan

dengan

masalah

persamaan

antara

Al-Asyari.

Seperti

sifat

tuhan,

pemikiran
halnya

dapat

Al-Maturidi
Al-Asyari,Ia

berpendapat bahwa tuhan mempunyai sifat-sifat, seperti


sama, basyar, dan sebagainya.13

Walaupun begitu,

pengertian Al-Maturidi berbeda dengan Al-Asyari. AlAsyari mengartikan sifat tuhan sebagai sesuatu yang
bukan dzat, melainkan melekat pada dzat. Menrut AlMaturidi, sifat tidak dikatakan sebagai esensi-Nya dan
bukan pula lain dari esensi-Nya. Sifat-sifat tuhan itu
mulazamah (ada bersama, baca : inheren) dzat tanpa
terpisah, (innaha lam takun ain adz-dzat wa la hiya
ghairuhu). Menetapkan sifat bagi allah tidak harus
membawa pada pengertian antropomorfisme karna sifat
tidak berwujud yang tersendiri dari dzat, sehingga
berbilang sifat tidak akan membawa pada berbilangnya
yang qadim.
Tampaknya, paham Al-Maturidi tentang makna sifat
tuhan

cenderung

Perbedaan

keduanya

mendekati
terletak

paham
pada

Mutazilah.

pengakuan

Al-

Maturidi tentang adanya sifat-sifat tuhan, sedangkan


mutazilah menolak adanya sifat sifat tuhan.
5.Melihat Tuhan

13 Prof. Dr. H. Abdul Rozak, M.Ag.Prof. Dr. H. Rosihon Anwar,


M.Ag.,Ilmu Kalam(Bandung : Pustaka Setia,2014)Hlm.156

13

Al-Maturidi mengatakan bahwa manusia dapat melihat


Tuhan. Hal ini diberitahukan oleh Al-Qur'an, antara lain
firman Allah dalam surat Al-Qiyamah ayat 22dan 23.
namun melihat Tuhan, kelak di akherat tidak dalam
bentuknya (bila kaifa), karena keadaan di akherat tidak
sama dengan keadaan di dunia.
6. Kalam Tuhan
Al-Maturidi membedakan antara kalam yang tersusun
dengan huruf dan bersuara dengan kalam nafsi (sabda
yang sebenarnya atau kalam abstrak). Kalam nafsi
adalah sifat qadim bagi Allah, sedangkan kalam yang
tersusun dari huruf dan suara adalah baharu (hadist).
Kalam nafsi

tidak dapat kita

ketahui hakikatnya

bagaimana allah bersifat dengannya (bila kaifa) tidak di


ketahui, kecuali dengan suatu perantara.14
7.Perbuatan Manusia
Menurut Al-Maturidi, tidak ada sesuatu yang terdapat
dalam wujud ini, kecuali semuanya atas kehendak Tuhan,
dan tidak ada yang memaksa atau membatasi kehendak
Tuhan kecuali karena ada hikmah dan keadilan yang
ditentukan oleh kehendak-Nya sendiri. Oleh karena itu,
tuhan tidak wjib beerbuat ash-shalah wa-al ashlah (yang
baik dan terbaik bagi manusia). setiap perbuatan tuhan
yang bersifat mencipta atau kewajiban-kewajiban yang
di bebankan kepada manusia tidak lepas dari hikmah

14 Prof. Dr. H. Abdul Rozak, M.Ag.Prof. Dr. H. Rosihon Anwar,


M.Ag.,Ilmu Kalam(Bandung : Pustaka Setia,2014)Hlm.155

14

dan

keadilan

yang

di

kehendaki-Nya.

Kewajiban-

kewajiban tersebut adalah :

a. Tuhan tidak akan membebankan kewajiban-kewajiban


kepada manusia di luar kemampuannya karena hal
tersebut tidak sesuai dengan keadilan, dan manusia
juga

di

beri

kemerdekaan

oleh

tuhan

dalam

kemampuan dan perbuatannya.


b. Hukuman atau ancaman dan janji terjadi karena
merupakan

tuntunan

keadilan

yang

sudah

di

tetapkan-Nya.
8. Pelaku Dosa Besar
Al-Maturidi berpendapat bahwa orang yang berdosa
besar tidak kafir dan tidak kekal di dalam neraka
walaupun ia mati sebelum bertobat. Hal ini karena tuhan
sudah menjanjikan akan memberikan balasan kepada
manusia sesuai dengan perbuatannya.kekal di dalam
neraka adalah balasan untuk orang yang berbuat dosa
syirik.dengan demikian, berbuat dosa besar selain syirik
tidak akan menyebabkan pelakunya kekal di dalam
neraka. Oleh karena itu, perbuatan dosa besar (selain
syirik) tidaklah menjadikan seseorang kafir atau murtad.
15

9.Pengutusan Rasul
15 Prof. Dr. H. Abdul Rozak, M.Ag.Prof. Dr. H. Rosihon Anwar,
M.Ag.,Ilmu Kalam(Bandung : Pustaka Setia,2014)Hlm.157

15

Pandangan
pandangan

Al-Maturidi
mutazilah

tidak
yang

jauh

beda

dengan

berpendapat

bahwa

pengutusan Rasul ke tengah-tengah umatnya adalah


kewajiban Tuhan agar manusia dapat berbuat baik dan
terbaik dalam kehidupannya.
Pengutusan rasul berfungsi sebagai sumber informasi.
Tanpa mengikuti ajarannya wahyu yang di sampaikan
rasul berarti mansia telah membebankan sesuatu yang
berada di luar kemampuannya kepada akalnya.

16

Akal tidak selamanya mampu mengetahui kewajiban


kewajiban yang dibebankan kepada manusia, seperti
kewajiban mengetahui baik dan buruk serta kewajiban
lainnya dari syariat yang dibebankan kepada manusia.
Al-Maturidi
bimbingan

berpendapat
ajaran

bahwa

akal

memerlukan

untuk

dapat

mengetahui

wahyu

kewajiban-kewajiban tersebut. Jadi, pengutusan rosul


adalah hal niscaya yang berfungsi sebagai sumber
informasi.
disampaikan

Tanpa
rosul,

mengikuti
berarti

ajaran
manusia

wahyu

yang

membebankan

akalnya pada sesuatu yang berada diluar kemampuanya.


17

16 Nasution.op.cit hal 131-132


17 Prof. Dr. H. Abdul Rozak, M.Ag.Prof. Dr. H. Rosihon Anwar,
M.Ag.,Ilmu Kalam(Bandung : Pustaka Setia,2014)Hlm.156

16

C.Alasan Memilih Pemikiran Kedua Ulama Sebagai


Dasar Ahlussunnah Wal Jamaah
Ada beberapa alasan yang kuat mengapa pemikirian Abu
Hasan Al Asyari dan Abu Mansur Al Maturidi dijadikan
sebagai dasar dari Ahlussunnah Wal Jamaah Beberapa
alasan tersebut antara lain adalah :
1. Mengikuti Mainstream Al-Jamaah.
Dalam Sebuah Hadits Rasulullah SAW bersabda :




:







:




















.



Ibn Masud berkata, Nabi SAW bersabda : Tiga
perkara yang dapat membersihkan hati seorang mukmin
dari sifat dendam dan kejelekan, yaitu tulus dalam
beramal, berbuat baik kepada penguasa, dan selalu
mengikuti kebanyakan kaum Muslimin, karena doa
mereka akan selalu mengikutinya.18
Hadits di atas memberikan pengertian bahwa orang
yang selalu mengikuti ajaran dan mainstream mayoritas
kaum Muslimin dalam hal akidah dan amal saleh, maka
barakah

doa

mereka

akan

selalu

mengikuti

dan

melindunginya dari sifat dengkidan kesesatan dalam


beragama.

Sedangkan

orang

yang

keluar

dari

mainstream mayoritas kaum Muslimin, maka dia tidak


akan memperoleh barakah doa mereka, sehingga tidak
18

HR. al-Tirmidzi (2582), Ahmad (12871) dan al-Hakim(1/88)


yang menilainya shahih sesuai persyaratan al-Bukhari dan
Muslim.

17

akan terjaga darinsifat dengki dan kesesatan dalam


beragama. Hadits tersebut secara tidak langsung juga
mendorong kita agar selalu menjaga kebersamaan
dengan mayoritas kaum Muslimin.19
Pengertian hadits tersebut menegaskan bahwa yang
selamat adalah golongan mayoritas. Pengertian ini
sesuai

dengan

madzhab Al-Asyari dan Al-Maturidi,

karena dalam realita yang ada, ajarannya diikuti oleh


Mayoritas kaum Mulimin di dunia , dari dulu hingga kini.
Di samping itu, hadits tersebut juga menunjukkan
tentang arti keharusan mengikuti madzhab Al-Asyari
dan Al-Maturidi, karena mengikutinya berarti mengikuti
mainstream mayoritas kaum Muslimin. Dan keluar dari
madzhab Al-Asyari dan Al-Maturidi, berarti keluar dari
mainstream mayoritas kaum Muslimin.
2.Mengikuti Ajaran Nabi Muhammad SAW dan Sahabat.
Sifat Ahlussunnah Wal-Jamaah yang kedua, adalah
mengikuti ajaran Mabi Muhammad SAW dan ajaran
sahabatnya, seiring dengan sebuah hadits yang artinya :

19 Al-Imam Ali al-Qari al-Harawi, Mirqat al-Mafatih Syarh


Misykat al-Mashabih, juz 1, Beirut: Dar al-Ku al-Ilmitah, 2001,
hal.442, (edisi Jamal Aitabi)

18

Dari Abdullah bin Amr RA, berkata: Rasulullah SAW


bersabda: Sesungguhnya umat Bani Israil terpecah
belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan umatku
akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semua
masuk neraka kecuali satu golongan yang akan selamat.
Para sahabat bertanya: Siapa satu golongan yang
selamat

itu

Golongan

wahai
yang

Rasulallah?

mengikuti

Beliau

ajaranku

menjawab:
dan

ajaran

penjelasan,

bahwa

sahabatku.20
Hadits

di

atas

memberikan

kelompok yang selamat, ketika umat islam terpecah


belah menjadi berbagai kelompok, adalah yang konsisten
dan selalu mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW dan
ajaran sahabatnya. Paradigma tersebut sesuai dengan
madzhab Al-Asyari dan Al-Maturidi yang dalam segala
hal selalu berupaya mengikuti ajaran Nabi Muhammad
SAW dan ajaran sahabatnya.
Dalam realita yang ada, pengikut madzhab Al-Asyari
dan

Al-Maturidi

merupakan

adatau

golongan

Ahlussunnah

yang

selalu

Wal

Jamaah,

konsisten

dan

mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW dan ajaran


sahabatnya. Hal tersebut berbeda dengan aliran-aliran
sempalan seperti Syiah (Rafidhah), Mutazilah, Khawarij,
Jahmiyah, Najjariyah, Musyabbihah, Ghulat dan Huluiyah.

20 Hadits ini diriwayatkan oleh al-Tirmidzi (2562) dan ia


mengatakan: Hadits ini hasan dan gharib.

19

3.Pengayom dan Rujukan Umat dalam Urusan Agama


Ciri khas Ahlussunnah Wal-Jamaah adalah para ulama
mereka selalu tampil sebagai pengemban ilmu agama
dan rujukan kaum Muslimin dalam setiap generasi. Hal
tersebut seperti ditegaskan oleh Hadlratusysyaikh KH.
Muhammad Hasyim Asyari berikut :
Al-Syihab al-Khafifi berkata dalam kitab Nasim alRiyadh, Golongan yang selamat adalah Ahlussunnah
Wal-Jamaah. Dalam catatan pinggir al-Syanawai atas
Mukhtashar

Ibn

Abi

Jamrah

terdapat

keterangan,

Mereka [Ahlussunnah Wal-Jamaah] adalah Abu Hasan


al-Asyari

dan

pengikutnya

yang

merupakan

Ahlussunnah dan pemimpin para ulama, karena Allah


SWT menjadikan mereka sebagai hujjah atas makhlukNya dan hanya mereka yang menjadi rujukan kaum
Muslimin dalam urusan agama. Mereka yang dimaksud
sabda

Nabi

SAW

Sesungguhnya

Allah

tidak

mengumpulkan umatku atas kesesatan.21

21 KH. Hasyim Asyari, Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah,


Jombang Maktabah Turats, 1418 H, hal 23.

20

BAB III KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Pemikiran Abu Hasan al-Asyari dan Abu Mansur al-Maturidi
lahir karena adanya ketidakpuasan terhadap pendapat dari
kaum Muktazilah. Keduanya jika kita luhat lebih dekat
melibatkan akan akal manusia. Tetapi al-Maturidi memberikan
otoritas yang lebih besar kepada akal manusia jika
dibandingkan dengan al-Asyari.
Adapun alasan Ahlussunnah Wal-Jamaah memilih pemikiran
kedua Ulama tersebut sebagai dasarnya antara lain :
1. Mengikuti Mainstream Al-Jamaah
2. Mengikuti Ajaran Nabi Muhammad SAW
3. Pengayom dan Rujukan Umat dalam Urusan Agama

21

DAFTAR PUSTAKA

(n.d.). Retrieved Maret 19, 2015, from


http://duniakampus45.blogspot.co.id/2015/01/pemikiran-teologial-asyari-dan-al.html.
Abdul Rozak, R. A. (2006). Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka Setia.
KH. Abdurrahman Navis, L. M. (2015). Risalah Ahlussunnah WalJamaah. Surabaya: Khalista.
Prof. Dr. H. Abdul Rozak, M. P. (2014). Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka
Setia.

22