Anda di halaman 1dari 3

Hujan asam merupakan istilah umum untuk menggambarkan turunnya asam dari

atmosfir ke bumi. Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang merupakan
pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen yang terdapat di udara bereaksi
dengan oksigen membentuk sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Zat-zat ini
berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air untuk membentuk asam sulfat dan
asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan.

Penyebab hujan asam bisa terjadi secara alami maupun oleh perbuatan manusia.
Secara alami bisa disebabkan oleh semburan dari sebuah gunung berapi, serta
proses biologis yang bisa terjadi di tanah rawa atau lautan, sedangkan oleh
perbuatan manusia adalah aktivitas manusia dalam kegiatan industri. Beberapa
industri yang cukup sering memberikan dampak hujan asam diantaranya adalah
industri kendaraan bermotor, industri pembangkit listrik, industri pertanian
(amonia).

Fenomena hujan asam mulai dikenal sejak akhir abad 17, hal ini diketahui dari
buku karya Robert Boyle pada tahun 1960 dengan judul A General History of the
Air. Selanjutnya revolusi industri di Eropa yang dimulai sekitar awal abad ke 18
memaksa penggunaan bahan bakar batubara dan minyak sebagai sumber utama
energi untuk mesin-mesin yang mengakibatkan kadar emisi gas-gas SO2 dan
NOx meningkat.

Gambar yang mendeskripsikan proses terjadinya hujan asam


Proses terjadinya hujan asam adalah sebagai berikut, yaitu air di perairan (laut
maupun danau) menguap ke udara akibat terkena panas matahari. Di udara,
titik-titik air ini terkondensasi menjadi awan hujan. Gas buangan dari hasil
penggunaan bahan bakar fosil seperti karbon dioksida (CO2), karbon monoksida
(CO), nitrogen oksida (NO2), dan sulfur oksida (SO2) lepas ke udara bebas dan
menempel di awan kemudian gas-gas buangan tersebut bereaksi membentuk
asam sulfat (H2SO4) dan asam nitrat (HNO3).

Asam sulfat adalah asam yang sangat korosif dan dapat menyebabkan kerusakan
jaringan jika terkena tubuh manusia. Sedangkan asam nitrat tergolong sebagai
air keras yang biasa digunakan dalam bahan peledak. Senyawa-senyawa asam
yang terbentuk tersebut, bersama awan hujan bergerak menuju ke wilayah udara

bertekanan lebih rendah. Saat awan hujan sudah terlalu berat, titik-titik air
kemudian jatuh ke bumi menjadi hujan akibat gaya gravitasi.

Air yang jatuh ke bumi terserap ke tanah, sebagian terserap oleh tumbuhan, dan
sisanya mengalir menuju ke lautan. Tingkat keasaman air hujan normal berada
diantara pH 5,6 sampai 6,2, sedangkan hujan asam memiliki tingkat keasaman
dibawah pH 5,6. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar
keasaman tanah dan air permukaan yang berbahaya bagi kehidupan ikan dan
tanaman. Berikut beberapa dampak dari hujan asam terhadap lingkungan dan
makhluk hidup :

Kesehatan Manusia. Partikel sulfat yang terhirup masuk ke paru-paru dapat


menyebabkan ganguan pernafasan. Jika senyawa sulfat dan nitrat kontak
langsung dengan kulit manusia dapat mempertinggi resiko terkena kanker kulit.

Tumbuhan dan hewan. Hujan asam yang larut bersama nutrisi di dalam tanah
akan menyapu kandungan nutrisi dalam tanah sebelum tumbuhan sempat
mempergunakannya untuk tumbuh. Zat kimia beracun seperti aluminium juga
akan terlepas dan bercampur dengan nutrisi. Apabila nutrisi ini diserap oleh
tumbuhan akan menghambat pertumbuhan dan mempercepat daun berguguran,
kemudian tumbuhan akan terserang penyakit, kekeringan, dan mati.

Penurunan pH tanah akibat deposisi asam juga menyebabkan terlepasnya


aluminium dari tanah dan menimbulkan keracunan. Akar yang halus akan
mengalami nekrosis sehingga penyerapan hara dan air terhambat. Hal ini
menyebabkan pohon kekurangan air dan hara serta akhirnya mati. Hanya
tumbuhan tertentu yang dapat bertahan hidup pada daerah tersebut, hal ini akan
berakibat pada hilangnya beberapa spesies. Ini juga berarti bahwa keragaman
hayati tamanan juga semakin menurun.

Sebagaimana tumbuhan, hewan juga memiliki ambang toleransi terhadap hujan


asam. Spesies hewan tanah yang mikroskopis akan langsung mati saat pH tanah
meningkat karena sifat hewan mikroskopis adalah sangat spesifik dan rentan
terhadap perubahan lingkungan yang ekstrim. Spesies hewan yang lain juga akan
terancam karena jumlah produsen (tumbuhan) semakin sedikit. Berbagai
penyakit juga akan terjadi pada hewan karena kulitnya terkena air dengan
keasaman tinggi. Hal ini jelas akan menyebabkan kepunahan spesies.

Ekosistem perairan. Kelebihan zat asam pada air danau mengakibatkan hanya
sedikit spesies yang dapat bertahan. Jenis plankton dan invertebrata merupakan
makhluk yang paling pertama mati akibat pengaruh keasaman air danau. Jika air
dana memiliki pH dibawah 5, maka lebih dari 75% dari spesies ikan akan hilang.
Meningkatnya keasaman air danau secara signifikan berdampak pada
keberlangsungan suatu ekosistem