Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang
Masalah seksual merupakan masalah yang penting bagi kebanyakan
orang. Penelitian dalam Journal of the American Health Association
menyatakan 3 dari 10 laki-laki mengalami masalah seksual. Keluhan
umumnya antara lain berupa ejakulasi dini, disfungsi ereksi, dan hasrat
seksual yang rendah.
Penurunan gairah seksual dapat dipicu oleh beberapa faktor, antara lain
faktor fisik dan psikis. Bila hasrat seksual hilang, terjadi disfungsi ereksi, otototot mengecil, lemak tubuh meningkat, mudah marah, depresi, anemia,
osteoporosis, dan produksi sperma terganggu, artinya terjadi proses
hipogonadisme (Kapanlagi.com,2007).
Hipogonadisme dapat terjadi primer akibat disfungsi sel-sel Leydig,
atau sekunder dari disfungsi unit hipotalamus-hipofisis. Hipogonadisme pada
laki-laki ditandai dengan adanya penurunan abnormal dari aktivitas fungsional
testis. Kelainan ini adalah kelainan yang paling sering ditemukan dalam
klinik. Hormone-hormon androgen, testosterone, dan DHT sangat penting
untuk

perkembangan

laki-laki,

mulai

dari

embryogenesis

sampai

perkembangan selanjutnya pada masa puberitas, dan untuk berfungsinya


system reproduksi pada sepanjang kehidupan.
1.2 TujuanPenulisan
1.2.1

TujuanUmum
Mengetahuipengaruh hipogonadisme terhadap fungsi seksual.
1.2.2 TujuanKhusus
1. Mengetahui Definisi, Etiologi dan patogenesa dari hipogonadisme
2. Mengetahui pengaruh hipogonadisme terhadap fungsi seksual.
1.3 ManfaatPenulisan
1. Meningkatkan pengetahuan tentang hipogonadisme dan disfungsi seksual
2. Mengetahui pengaruh hipogonadisme terhadap fungsi seksual
3. Sebagai sumber informasi, khasanah wacana bacaan kepustakaan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hipogonadisme
2.1.1

Definisi
Hipogonadisme adalah suatu keadaan yang dihasilkan dari fungsi
gonad yang turun secara abnormal, dengan retardasi pertumbuhan,
perkembangan seksual dan ciri seks sekunder terhambat (Dorland,
2006:1058)
Hipogonadisme (bahasa Inggris: hypogonadism, hypogenitalism)
adalah istilah medis untuk merujuk simtoma penurunan aktivitas
kelenjar gonad.[1] Kelenjar gonad, ovarium atau testis, merupakan
kelenjar yang memproduksi hormon reproduksi beserta sel gamet, ovum
atau spermatozoid (Sumber : Wikipedia).
Hipoganadisme adalah suatu keadaan dimana terjadi difisiensi
hormon gonad. Hipogonadisme adalah berkurangnya atau menurunnya
hormone androgen sehingga mempengaruhi fungsi dan ciri seks dari
kelamin baik pria dan wanita.

2.1.2

Struktur dan Fungsi Kelenjar Gonad


1) Testis
a. Anatomi
Testis adalah organ utama dari sistem reproduksi pria. Testis
kiri dan kanan merupakan kelenjar yang terbungkus skrotum.
Testis tersusun atas tubulus seminiferus. Testis berkembang di
dalam rongga abdomen sewaktu janin dan turun melalui saluran
inguinalis kanan dan kiri masuk ke dalam skrotum menjelang
akhir kehamilan. Testis ini terletak oblik menggantung pada uraturat spermatik di dalam skrotum. Diantara tubulus-tubulus testis
terdapat sarang-sarang sel yang mengandung granula lemak, sel
interstisium leydig yang mensekresi testosteron.
b. Fisiologi testis
a) Organ endokrin

Testis mensekresikan sejumlah besar androgen, terutama


testosteron, tetapi testis juga mensekresikan sedikit estrogen.
Androgen

adalah

hormon

seks

sterol

yang

efeknya

maskulinisasi. Androgen disekresikan oleh korteks adrenal.


Testosteron disekresikan oleh sel interstisiil, yaitu sel-sel yang
terletak di dalam ruang antara tubula-tubula seminiferus testis
atas rangsangan hormon perangsang sel interstisiil (ICSH) dari
hipofisis yang sebenarnya adalah bahan yang sama dengan
Luteinizing Hormon (LH). Pengeluaran testosteron bertambah
dengan nyata pada masa pubertas dan bertanggung jawab atas
pengembangan sifat-sifat kelamin sekunder yaitu pertumbuhan
jenggot, suara lebih berat, pembesaran genetalia. Nilai normal
testosteron adalah 3-10 mg/dl.
Efek:
Efek testosteron pada fetus merangsang deferensiasi dan
perkembangan genital ke arah pria. Pada masa pubertas
hormon ini akan merangsang perkembangan tanda-tanda seks
sekunder .
Mekanisme kerja :
Testosteron berikatan dengan suatu reseptor intra sel dan
kompleks esterol-reseptor kemudian berikatan dengan DNA di
nukleus, menyebabkan transkripsi berbagai gen. Selain itu
testosteron dirubah menjadi dihidrotestosteron (DHT) oleh sareduktase di beberapa jaringan sasaran dan DHT berikatan
dengan reseptor intra sel yang sama seperti testosteron. DHT
bersirkulasi dengan kadar plasma 10% kadar testosteron,
kompleks testosteron reseptor kurang stabil bila dibandingkan
dengan kompleks DHT-reseptor di sel sasaran dan transformasi
kompleks tersebut ke DNA sel kurang sempurna. Sehingga
pembentukan DHT adalah salah satu cara untuk meningkatkan
efek testosteron dalam jaringan sasaran. Kompleks testoteronreseptor berperan dalam pematangan struktur dan duktus

wolffian sehingga bertanggung jawab terhadap pembentukan


genetalia interna pria selama pertumbuhan. Tetapi kompleks
DHT-reseptor diperlukan untuk membentuk genetalia eksterna
pria. Kompleks DHT-reseptor juga berperan dalam pembesaran
prostat dan mungkin penis pada saat pubertas serta rambut
wajah, jerawat dan pengenduran temporal garis rambut.
Dipihak lain peningkatan masa otot dan munculnya dorongan
seks dan libido pria lebih tergantung pada testosteron dari pada
ke DHT.
b) Organ reproduksi
Testis adalah organ tempat spermatozoa dibentuk dan
testosteron dihasilkan. Testosteron untuk mempertahankan
spermatogenesis sementara FSH diperlukan untuk memulai dan
mempertahankan spermatogenesis.
2) Ovarium
Ovarium adalah kelenjar berbentuk biji buah kemiri, terletak di
kanan dan kiri uterus, di bawah tuba uterina dan terikat di sebelah
belakang oleh ligamentum latum uteri. Ovarium berisi sejumlah
besar ovum belum matang, yang disebut oosit primer. Setiap oosit
dikelilingi sekelompok sel folikel pemberi makanan. Pada setiap
siklus haid sebuah ovum primitif ini mulai matang dan kemudian
cepat berkembang menjadi folikel ovari yang vesikuler (folikel
degraf). Ovarium memiliki 3 fungsi yaitu: Memproduksi ovum,
estrogen dan progesteron.
Fungsi Ovarium
1. Sebagai organ endokrin
Sebagai organ endokrin, ovarium menghasilkan hormon estrogen
dan progesteron.
a) Estrogen
Hormon estrogen dikeluarkan oleh ovarium dari mulai anakanak sampai sesudah menopouse. Hormon ini dinamakan
hormon folikuler karena terus dihasilkan oleh sejumlah besar

folikel ovarium dan seperti semua hormon beredar di dalam


aliran darah. Estrogen penting untuk mengembangkan organ
kelamin wanita dan sifat-sifat kelamin yang sekunder dan
menyebabkan perubahan anak gadis pada masa pubertasnya
serta untuk tetap adanya sifat fisik dan mental yang menandakan
wanita normal.
Efek pada genitalia :
Estrogen mempercepat pertumbuhan folikel ovarium dan
meningkatkan motilitas tuba uterina. Hormon ini meningkatkan
aliran darah uterus dan memiliki efek penting pada otot polos
uterus. Estrogen meningkatkan jumlah otot uterus

dan

kandungan protein kontraktilnya. Dibawah pengaruh estrogen,


otot menjadi lebih efektif dan mudah terangsang sehingga
potensial aksi pada masing-masing serat menjadi lebih sering.
Uterus yang didominasi oleh estrogen juga peka terhadap
desitosin.
Efek pada organ endokrin :
Estrogen menurunkan sekresi FSH pada keadaan tertentu
estrogen menghambat sekresi LH (umpan balik negatif) pada
keadaan lain estrogen meningkatkan sekresi LH (umpan balik
positif). Estrogen juga meningkatkan ukuran hipofisis.
Efek pada prilaku :
Hormon ini meningkatkan libido, hormon ini tampaknya
menimbulkan efeknya melalui langsung pada neuron-neuron
tertentu di hipothalamus.
Efek pada payudara :
Estrogen menyebabkan pertumbuhan duktus pada payudara dan
terutama berperan dalam pembesaran payudara selama pubertas
pada gadis. Estrogen juga disebut sebagai hormon pertumbuhan

payudara. Estrogen berperan dalam terjadinya pigmentasi areola,


walaupun pigmentasi biasanya lebih nyata selama kehamilan
pertama dibandingkan dengan masa pubertas.
b) Progesteron
Progesteron disekresikan oleh korpus luteum dan melanjutkan
pekerjaan yang dimulai oleh estrogen terhadap endometrium,
yaitu menyebabkan endometrium menjadi tebal lembut serta siap
untuk penerimaan ovum yang telah dibuahi. Progesteron
menghambat menstruasi. Nilai normal progesteron adalah 18
mg60 n mol.
Efek:
Organ sasaran utama progesteron adalah uterus, payudara dan
otak. Progesteron berperan dalam perubahan pregestasional di
endometrium dan perubahan siklik di serviks dan vagina.
Hormon ini memiliki efek antiestrogenik pada sel miometrium
menurunkan terhadap oxitocin dan aktivitas listrik spontan
sementara meningkatkan potensial membran. Hormon ini juga
menurunkan jumlah reseptor estrogen di endometrium dan
meningkatkan kecepatan perubahan 17 -estradiol menjadi
estrogen

yang

kurang

aktif.

Di

payudara

progesteron

merangsang pembentukan lobulus dan alveolus.

Sebagai organ reproduksi:


Ovarium sebagai organ reproduksi yaitu menghasilkan ovum setiap
bulannya ada masa ovulasi untuk selanjutnya siap untuk dibuahi
sperma. FSH dari hipofisis bertanggung jawab pada pematangan
awal folikel ovarium. FSH serta LH bersama-sama bertanggung
jawab terhadap pematangan akhir. Letupan sekresi LH berperan
dalam menyebabkan ovulasi dan pembentukan awal korpus luteum.
Terdapat letupan-letupan sekresi FSH yang lebih kecil pada

pertengahan, yang kemaknaannya masih belum diketahui. LH


merangsang sekresi estrogen dan progesteron dari korpus luteum.
2.1.3

Klasifikasi Hipogonadime
1) Hipogonadisme Primer
Hipogonadisme primer terjadi akibat adanya masalah pada testiss
2) Hipogonadisme Sekunder
adalah suatu kondisi dimana produksi testoteron menurun disebabkan
karena pada hipotalamus atau kelenjar pituitari (bagian otak yang
member sinyal kepada testis untuk menghasilkan testosteron)
mengalami

gangguan.

Hipotalamus

menghasilkan

hormon

gonadotropin, yang memberikan sinyal kepada kelenjar pituitari


untuk menghasilkan hormon penghasilan folikel (FSH) dan hormon
luteinizing. Hormon ini kemudian memberi perintah kepada buah
zakar untuk menghasilkan testosteron.
2.1.4

Etiologi Hipogonadisme
Penyebab hipogonadisme dapat merupakan kelainan congenital atau
gangguan

perkembangan,

gangguan

didapat

ataupun

sistemik.

Hipogonadisme primer akibat kekurangan testosterone menyebabkan


peningkatan produksi GnRH dan hormone-hormon gonadotropin untuk
merangsang produksi hormone-hormon androgen oleh testis. Jenis ini
disebut sebagai hipogonadisme hipergonadotropik. Hipogonadisme
sekunder akibat kekurangan testosterone menyebabkan penurunan kadar
GnRH dari hipotalamus, atau penurunan kadar hormone-hormon
gonadotropin dari hipofisis. Jenis ini disebut sebagai hipogonadisme
hipogonadotropik.
1) Hipogonadisme Primer
a. Infeksi kelenjar gonad
b. Atropi kelenjar gonad
2) Hipogonadisme Skunder
a. Kerusakan hipothalamus untuk mensekresi GnRH.
b. Hipersekresi prolaktin di hipofisis anterior
c. Hiposekresi FSH dan LH
2.1.5 Patofisilogi Hipogonadisme
Saat testis fetus pria tidak berfungsi, yaitu selama masa janin, tidak
akan ada karakteristik kelamin pria yang akan berkembang. Bahkan,

organ organ wanita lah yang akan terbentuk. Alasan untuk keadaan
ini adalah bahwa karakteristik genetic dasar dari janin, baik pria
maupun wanita, adalah pembentukan organ kelamin wanita bila tidak
terdapat hormone hormone kelamin. Tetapi dengan adanya
testosterone, pembentukan organ kelamin wanita akan ditekan, dan
organ organ pria di rangsang.
Bila seorang anak laki laki kehilangan testis nya sebelum pubertas
terjadi suatu keadaan eunuchism, yang menyebabkan si anak tetap
memiliki ciri organ seksual infantile lainnya sepanjang kehidupannya.
Tinggi badannya pada saat dewasa sedikit lebih besar dari pada pria
normal, walaupun tulang tulang nya lebih kecil, otot ototnya lebih
lemah daripada pria normal. Suaranya seperti suara anak anak, tidak
terjadi kerontokan rambut kepala, dan tidak terjadi penyebaran
pertumbuhan rambut normal pada wajah dan tempat lain.
Bila pria dikastrasi setelah pubertas, beberapa cirri seksual sekunder
kembali ke cirri seksual yang terdapat pada anak anak, dan sifat
maskulin lainnya masih tetap terdapat. Organ organ seksual sedikit
berkurang ukurannya tetapi tidak kembali pada ukuran pada masa
kanak kanak, dan kualitas suara bas nya sedikit berkurang. Sebalik
nya, terjadi kehilangan pertumbuhan rambut yang menandakan
maskulinisasi, kehilangan tulang maskulin yang tebal, dan kehilangan
otot pria sejati.
Pada pria dewasa yang di kastrai, gairah seksual juga turun tetapi tidak
hilang sama sekali, jika aktivitas seksual telah dilakukan sebelumnya.
Ereksi masih dapat terjadi sebelum nya, walaupun sedikit lebih sukar,
tetapi sangat jarang terjadi ejakulasi, secara primer karena organ yang
membentuk segmen berdegenerasi, dan hilangnya gairah psikis yang di
dorong oleh testosterone.
Beberapa kasus hipogonadisme disebabkan oleh ketidak mampuan
genetic hipotalamus untuk menyekresi GnRH dalam jumlah yang
normal. Hal ini sering terjadi bersamaan dengan suatu kelainan yang
terjadi di pusat makan hipotalamus, yang menyebabkan orang tersebut
makan berlebihan. Akibat nya, terjadi obesitas yang sejalan dengan
2.1.6

eunuchism.
Menifestasi Klinis

Tidak ada atau berkurangnya testosteron dalam perkembangan


embrio/janin dengan kromosom XY mengakibatkan terbentuknya
genitalia eksternal perempuan atau genitalia eksternal ganda. Pada
perkembangan janin tahap akhir, testis turun dari abdomen ke skrotum
atas pengaruh testosteron. Jika kadar testosteron tidak memadai, maka
testis tidak akan turun. Kedaan ini, kriptorkidisme, berkaitan dengan
adanya kemungkinan terjadi penyakit dikemudian hari. Abnormalitas
kadar testosteron pada masa prapuberitas dan pubertas mengakibatkan
terlambatnya penutupan epifisis dan proporsi kerangka eunukoid
dengan rentang lengan lebih panjang 2 inci atau lebih dari tinggi badan,
dan jarak dari tumit sampai tulang pubis 2 inci atau lebih panjang dari
jarak tulang pubis sampai ke puncak kepala. Selain itu, perubahanperubahan lain akibat pengaruh testosteron seperti suara yang dalam;
pertumbuhan rambut pubis dan aksila; pertumbuhan jenggot; testis,
penis, dan ukuran prostat; dan perkembangan bentuk tubuh laki-laki
tidak akan terjadi. Hipogonadisme sebelum pubertas mengakibatkan
eunukoidisme. Tidak adanya atau terganggunya fungsi testis setelah
pubertas mengakibatkan hilangnya libido, berkurangnya volume semen
yang diejakulasi, dapat timbul hot flushes, dan hilangnya rambut
seksual yang kasar. Pada laki-laki dewasa, testosteron berfungsi
mempertahankan karakteristik seksual laki-laki, akan tetapi hilangnya
testosteron biasanya secara klinis tidak jelas. Namun demikian,
testosteron dalam jumlah yang tidak memadai pada masa dewasa akan
mengakibatkan

fungsi

seksual

yang

buruk

(yaitu,infertilitas).

Hilangnya libido dan impotensi pada sekitar 15% sampai 20% lakilaki, disebabkan oleh hipogonadisme. Jumlah sperma normal pada lakilaki muda yang sehat berkisar antara 20 juta sampai 200 juta / ml.
Sekitar 6 % laki- laki kelompok usia reproduktif adalah interfil, yang
didefinisikan

berdasarkan jumlah sperma 20 juta/ml. Pada 90%

kasus berkurangnya jumlah sperma adalah akibat hipogonadisme, yaitu


sekitar 80% sampai 90% di antaranya merupakan oligospermia
idiopatik dengan kadar testoteron normal.
2.1.7

Diagnosis Hipogonadisme

Anamnesis

dan

pemeriksaan

fisik

yang

teliti

dengan

memperhatikan perubahan keadaan hormonal adalah langkah pertama


yang penting dalam penilaian klinis. Penilaian laboratorium dari
hipogonadisme meliputi pengambilan kadar testosteron serum, kadar
gonadotropin serum, dan kariotip serta tes stimulasi dengan klomifen,
tes stimulasi GnRH, tes stimulasi hCG, dan analisis semen untuk
kuantitas serta kualitas sperma.
Batasan kadar normal testosteron serum cukup luas (3-10 ng/ml).
Peningkatan gonadotropin serum menunjukan adanya penyakit testis;
peningkatan FSH menunjukan penyakit tubular yang berat dan
ireversibel.
Klomifen adalah agonis estrogen non steroid yang lemah, yang
merangsang pelepasan gonadotropin. Tes stimulasi klomifen atau
stimulasi GnRH harus dilakukan jika kadar gonadotropin yang rendah
akibat rendahnya testosteron serum. Pada laki-laki dengan kadar
testosteron

dan

gonadotropin

yang

rendah,

klomifen

harus

menyebabkan peningkatan ICSH sebesar 50%. Jika ICSH tidak


meningkat, tes stimulasi klomifen menunjukan adanya insufisiensi
hipotalamus-hipofisis. Tes ini membutuhkan 100 mg klomifen setiap
hari selama 7 hari.
Pemberian 100 mg GnRH harus mengakibatkan kadar puncak LH
yang 3 kali lipat dari kontrol dalam 20 menit. Pada disfungsi
hipotalamus, respon tidak akan timbul sampai diberikan beberapa kali
injeksi selama beberapa hari. Respon yang berlebihan menunjukan
penurunan respon umpan balik, sekunder terhadap kadar testosteron dan
estradiol yang rendah.
Jika tidak terdapat ketidak jelasan genitalia laki-laki, dilakukan
apusan selaput lendir bukal untuk mencari adanya badan Barr yang
bersifat diagnostik untuk sindrom Klinefelter. Terkadang perlu
dilakukan pemeriksaan kariotip.
Human chorionic gonadotropin (hCG) merangsang pembentukan
testosteron. Tes stimulasi hCG dapat dilakukan untuk menentukan
respons

sel

Leydig

terhadap

perubahan

produksi

testosteron.

Peningkatan testosteron serum sebesar 50% selama 1 sampai 3 hari


2.1.8

menunjukan fungsi yang normal.


Penatalaksanaan

a) Penatalaksanaan hipogonadisme pada pria


Pria yang menderita sindrome hipogonadisme dapat diobati dengan :
1. Depot ester (Depo-Testoteron, delatesryl)
2. Kulit kelamin patch (testoderm)
3. Kulit nongenital patch (Androderm)
4. Gel (AndroGel, Testim)
5. Bukal (STRIANT)
Dosis dapat disesuaikan denganbertujuan untuk midnormal (400600 ng/dl) kadar testoteron setelah 1 minggu atau pada akhir
rendah (250-350 ng/dl) sebelum injeksi berikutnya akan jatuh
tempo pada 2 minggu. Nilai yang stabil dalam beberapa hari atau
minggu dari kulit, gel atau persiapan bukal baru. Ini harus
dipastikan bahwa persiapan itu benar-benar digunakan pada hari
sampel tersebut siambil, lagi, nilai dalam kisaran midnormal
(400-600 ng/dL) adalah tujuan. Meskipun tingkat testoteron
dibandingkan yang dicapai oleh patch dan gel, reaksi kulit di
lokasi aplikasi jauh lebih umum denganpatch. Juga, perisapan
bukal sulit bagi pasien untuk membiasakan diri.
b) Penatalaksanaan hipogonadisme pada wanita
1. Estrogen
Digunakan untuk pengganti steroid seks pada wanita
Etradiol (Alora, Climara, Esclim, Estrace, FemPatch, vivelie)
Transdermal : pada anak yang mulai mengalami pubertas.
Dosis dewasa :
a. transdermal patch : terapkan patch topikal yang memberikan
estradiol sebesar 0,25-1 mg/d, 2 kali seminggu
b. pediatric
c. transdermal patch : administer seperti pada orang dewasa,
dimulai dengan dosis terendah PO (Estrace): 0,02 -0,1 mg/dl
2. Progesteron
Diberikan selama 12-14 hari terakhir siklus haid
-nonethindrone asetat (aygetin) : menstransformasi
prolifrasi ke endometrium sekretorik
Dosis :
Dewasa : 5mg / hari PO selama 12-14 terkhir siklus haid
Pediatrik : administer seperti pada orang dewasa.
- Medroksiprogesteron (provera, amin, cycrin)
mentrasnformasi proliferasi ke endometrium sekretorik.
Dosis sama dengan nonethindrone asetat (aygetin)
2.1.9

Komplikasi

Komplikasi hipogonadisme yang tidak diobati termasuk hilangnya


libido, kegagalan untuk mencapai kekuatan fisik, implikasi sosial, dan
osteoporosis. Osteoporosis memiliki onset yang lebih cepat pada
individu dengan hipogonadisme, karena itu kepadatan mineral tulang
harus dibandingkan dengan standar normatif terkait usia, dan diikuti
secara longitudinal.
2.1.10 Prognosis
Pria dan wanita dengan hipogonadisme dapat menjalani hidup
normal dengan terapi sulih hormon. Sekitar 20-25% dari wanita dengan
sindrom Turner dapat mengalami pubertas spontan. Estrogenisasi
spontan terjadi lebih sering pada wanita dengan kariotipe mosaik dan
mereka yang memiliki kariotipe dengan kromosom X kedua yang
abnormal. Pernah juga dilaporkan wanita dengan sindrom Turner
2.2

mosaik hamil tanpa fertilisasi in vitro.


Pengaruh Hipogonadisme Terhadap Fungsi Seksual
Hipogonadisme sebelum pubertas mengakibatkan eunukoidisme.
Tidak

adanya

atau

terganggunya

fungsi

testis

setelah

pubertas

mengakibatkan hilangnya libido, berkurangnya volume semen yang


diejakulasi, dapat timbul hot flushes, dan hilangnya rambut seksual yang
kasar. Pada laki-laki dewasa, testosteron berfungsi mempertahankan
karakteristik seksual laki-laki, akan tetapi hilangnya testosteron biasanya
secara klinis tidak jelas. Namun demikian, testosteron dalam jumlah yang
tidak memadai pada masa dewasa akan mengakibatkan fungsi seksual yang
buruk (yaitu,infertilitas). Hilangnya libido dan impotensi pada sekitar 15%
sampai 20% laki-laki, disebabkan oleh hipogonadisme. Jumlah sperma
normal pada laki-laki muda yang sehat berkisar antara 20 juta sampai 200
juta / ml. Sekitar 6 % laki- laki kelompok usia reproduktif adalah interfil,
yang didefinisikan berdasarkan jumlah sperma 20 juta/ml. Pada 90%
kasus berkurangnya jumlah sperma adalah akibat hipogonadisme, yaitu
sekitar 80% sampai 90% di antaranya merupakan oligospermia idiopatik
dengan kadar testoteron normal.
Hipogonadisme dapat terjadi jika sumbu hipotalamus-hipofisis-gonad
terganggu

ditingkat

manapun.

Hipogonadotropik-hipogonadisme

(hipogonadisme primer) hasil jika gonad tidak menghasilkan jumlah steroid


seks yang cukup untuk menekan sekresi LH dan FSH pada tingkat normal.

Hipogonadisme-hipogonadotropik (hipogonadisme sekunder) mungkin


akibat dari kegagalan generator pulsa GnRH hipotalamus atau dari
kedakmampuan kelenjar dibawah otak untuk menjawab sekresi LH dan
FSH.
Jika ovarium dan testis mengalami penurunan fungsi atau tidak
berfungsi maka fungsi seksual tidak akan bekerja sebagaimana mestinya
atau bahkan tidak mempunyai fungsi seksual.
BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
1. Hipogonadisme adalah suatu keadaan yang dihasilkan dari fungsi gonad
yang turun secara abnormal, dengan retardasi pertumbuhan, perkembangan
seksual dan ciri seks sekunder terhambat.
2. Hipogonadisme primer akibat kekurangan testosterone menyebabkan
peningkatan produksi GnRH dan hormone-hormon gonadotropin untuk
merangsang produksi hormone-hormon androgen oleh testis
3. Hipogonadisme sekunder akibat kekurangan testosterone menyebabkan
penurunan kadar GnRH dari hipotalamus, atau penurunan kadar hormonehormon gonadotropin dari hipofisis.
4. Tidak

adanya

atau

terganggunya

fungsi

testis

setelah

pubertas

mengakibatkan hilangnya libido. Testosteron dalam jumlah yang tidak


memadai pada masa dewasa akan mengakibatkan fungsi seksual yang
buruk (yaitu,infertilitas).
5.2 SARAN
Penulis mengharapkan saran yang membangun agar Karya Tulis Ilmiah
dikemudian hari dapat menjadi lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Behram dkk. Hipofungsi Testis.lmu Kesehatan Anak Nelson.Edisi 15.Vol
3.Jakarta:EGC.2000.Hal 1995.
Guyton,Arthur C.2007.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11.Jakarta:EGC
http://www.scribd.com/doc/188309813/makalah-hipogonadisme
Novak, Patricia D .1998.Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi 28.Jakarta:EGC
Price,Sylvia A.,2005.Patofiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Volume 2
Edisi 6.Jakarta:EGC