Anda di halaman 1dari 16

DASAR TEORI

Pengertian Tender Menurut Definisi Para Ahli adalah


1. Oxford Dictionary mendefinisikan tender sebagai:
A public sale of land or goods, at public outcry, to the highest bidder Artinya:
Penjualan barang ataupun tanah kepada masyarakat kepada penawar tertinggi.
2. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan tender sebagai: tawaran untuk
mengajukan harga, memborong pekerjaan, atau menyediakan barang. Kamus Besar
Bahasa Indonesia, Ed. Ketiga (Jakarta: Balai Pustaka, 2002).
3. Kamus Hukum. Sudarsono, Kamus Hukum (Jakarta: PT. Asdi Mahasatya, 2007).
Tender adalah memborong pekerjaan/ menyuruh pihak lain untuk mengerjakan atau
memborong pekerjaan seluruhnya atau sebagian pekerjaan sesuai dengan perjanjian
atau kontrak yang dibuat oleh kedua belah pihak sebelum pekerjaan pemborongan itu
dilakukan. Dengan memperhatikan definisi tersebut, pengertian tender mencakup
tawaran mengajukan harga untuk:
o Memborong atau melaksanakan suatu pekerjaan;
o Mengadakan barang atau jasa;
o Membeli barang atau jasa;
o Menjual barang atau jasa.
4. Menurut Keppres No. 80 Tahun 2003
Keppres Nomor 80 Tahun 2003 telah digantikan oleh Perpres Nomor 54 Tahun 2010
tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Tender adalah kegiatan pengadaan
barang/jasa yang dibiayai dengan APBN/APBD, baik yang dilaksanakan secara
swakelola maupun oleh penyedia barang/jasa.
5. Menurut Peraturan KPPU Nomor 2 Tahun 2010.
Tender adalah tawaran mengajukan harga untuk memborong suatu pekerjaan, untuk
mengadakan barang-barang atau untuk menyediakan jasa. Dalam hal ini tidak disebut
jumlah yang mengajukan penawaran (oleh beberapa atau oleh satu pelaku usaha
dalam hal penunjukan/pemilihan langsung).

Pengertian tender tersebut mencakup tawaran mengajukan harga untuk:


a. Memborong atau melaksanakan suatu pekerjaan.
b. Mengadakan barang dan atau jasa.
c. Membeli suatu barang dan atau jasa.
d. Menjual suatu barang dan atau jasa. Republik Indonesia, Peraturan Komisi
Pengawas Persaingan Usaha Nomor 2 Tahun 2010 Tentang Pedoman Pasal 22
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Persekongkolan
Dalam Tender, hlm. 5.
Jadi, tender atau lelang merupakan salah satu metode sourcing atau mencari sumbersumber (barang/jasa) yang prosedurnya diatur dengan ketentuan tender berdasarkan regulasi
pemerintah atau prosedur operasional baku/SOP (Standard Operating Procedure) perusahaan
yang cukup kompleks dibanding metode sourcing lainnya. Oleh karena itu para praktisi
procurement dan juga calon vendor/supplier perlu memahami tahapan-tahapan dalam proses
tender ini, sehingga bagian procurement dapat mengorganisir tender dengan baik dan tepat
waktu, sementara itu para peserta lelang dapat menyusun dokumen lelang

secara efektif dan

memenuhi semua persyaratkan yang ditetapkan panitia tender. http://www.informasitraining.com/procurement-tender-management (diakses tanggal 26 Februari 2014).
Dasar Pengaturan Tender di Indonesia
Dalam membuat kebijakan pengaturan tender di Indonesia, pemerintah berpedoman pada
beberapa bentuk kebijakan umum antara lain:
1. Meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri, rancang bangun dan perekayasaan
nasional yang sasarannya adalah memperluas lapangan kerja dan mengembangkan
industri dalam negeri dalam rangka meningkatkan daya saing barang dan jasa
produksi dalam negeri pada perdagangan internasional;
2. Meningkatkan peran serta usaha kecil termasuk koperasi kecil dan kelompok
masyarakat dalam pengadaan barang dan jasa;

3. Menyederhanakan ketentuan dan tata cara untuk mempercepat proses pengambilan


keputusan dalam pengadaan barang dan jasa;
4. Meningkatkan profesionalisme, kemandirian, dan tanggung jawab pengguna,
panitia/pejabat pengadaan, dan penyedia barang dan jasa;
5. Meningkatkan penerimaan negara melalui sektor perpajakan;
6. Menumbuhkan peran serta usaha nasional;
7. Mengharuskan pelaksanaan pemilihan penyedia barang dan jasa dilakukan di dalam
wilayah Negara Republik Indonesia;
8. Kewajiban mengumumkan secara terbuka rencana pengadaan barang dan jasa kecuali
pengadaan barang dan jasa yang bersifat rahasia pada setiap awal pelaksanaan
anggaran kepada masyarakat luas.
Berbagai kebijakan umum tersebut kemudian dimanifestasikan dalam beberapa
peraturan mengenai tender/ pengadaan barang dan jasa yang ada. Di Indonesia, prosedur
mengenai pelaksanaan tender untuk proyek-proyek pengadaan barang/jasa diatur dalam
beberapa produk hukum. Pertama, Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang
Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Keputusan Presiden Republik
Indonesia Nomor 61 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden Republik
Indonesia Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksaan Barang/Jasa Pemerintah,
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2005 tentang Perubahan kedua atas
Keppres Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2005 tentang Perubahan
Ketiga atas Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun
2006 tentang Perubahan Keempat atas Keppres Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2006
tentang Perubahan Kelima atas Keppres Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman
Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Peraturan Presiden No. 85 Tahun 2006
tentang perubahan keenam Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Peraturan Presiden No. 95 Tahun 1997 tentang

perubahan ketujuh Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah serta Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah.
Kedua,

Keputusan

Menteri

Permukiman

dan

Prasarana

Wilayah

Nomor

257/KPTS/2004 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi yang telah diubah
dan diganti dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 43/PRT/M/2007 tentang
Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi. Produk hukum pertama di atas berlaku
untuk; pengadaan barang/jasa yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan
pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja
Daerah (APBD), pengadaan barang/jasa yang sebagian atau seluruhnya dibiayai dari
Pinjaman/Hibah Luar Negeri (PHLN) yang sesuai atau tidak bertantangan dengan pedoman
dan ketentuan pengadaan barang/jasa dari pemberi pinjaman/hibah bersangkutan, pengadaan
barang/jasa untuk investasi di lingkungan Bank Indonesia, Badan Hukum Milik Negara
(BHMN), Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), yang
pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan pada Anggaran Pendapatan Belanja
Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).
Tujuan Dilaksankan Tender
Tender merupakan salah usaha yang dilakukan oleh Pemerintah atau suatu instansi
untuk memperlihatkan adanya transparansi dalam persaingan usaha ketika diadakannya
proyek pengadaan barang dan jasa. Tujuan dilaksanakannya tender tersebut adalah untuk
memberikan kesempatan yang sama kepada pelaku usaha agar dapat ikut menawarkan harga
dan kualitas yang bersaing. Sehingga pada akhirnya dalam pelaksanaan proses tender tersebut
akan didapatkan harga yang termurah dengan kualitas yang terbaik. Namun dalam
pelaksanaan penawaran tender, tujuan utama yang ingin dicapai adalah memberikan
kesempatan yang seimbang bagi semua penawar, sehingga menghasilkan harga yang paling
murah dengan output/keluaran yang optimal dan berhasil guna. Diakui, bahwa harga murah
bukanlah semata-mata ukuran untuk menentukan kemenangan dalam pengadaan
dan/jasa.

Melalui

mekanisme

penawaran

barang

tender sedapat mungkin dihindarkan

kesempatan untuk melakukan konspirasi di antara para pesaing, atau antara penawar dengan
panitia penyelenggara lelang. Andi Fahmi Lubis,Op. cit., hlm. 149.
Dengan diadakannya proses tender, diharapkan munculnya pelaku usaha yang
kompeten, layak dan berkualitas dalam mengerjakan suatu proyek yang ditenderkan tersebut.
Sehingga penyelenggaraan tender kegiatan atau proyek tersebut dapat dilakukan secara

efisien,

efektif,

terbuka

dan

bersaing,

transparan,

adil/tidak

diskriminatif,

dan

akuntabel.Republik Indonesia, Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan


Barang/Jasa Pemerintah Bab II, Pasal 5. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pengaturan
tender diasarkan pada berbagai prinsip yaitu:
1. efisien, berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana
dan daya yang terbatas untuk mencapai sasaran yang sesingkatnya dan dapat
dipertanggungjawabkan.
2. efektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah
ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai dengan
sasaran yang ditetapkan.
3. terbuka dan bersaing, berarti pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi penyedia
barang/jasa yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang sehat
di antara penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi syarat/kriteria tertentu
berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas dan transparan.
4. transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa,
termasuk syarat teknis administrasi pengadaan, tata cara evaluasi, hasil evaluasi,
penetapan calon penyedia barang/jasa, sifatnya terbuka bagi peserta penyedia
barang/jasa yang berminat serta bagi masyarakat luas pada umumnya.
5. adil/tidak diskriminatif, berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua
calon penyedia barang/jasa dan tidak mengarah untuk member keuntungan kepada
pihak tertentu, dengan cara dan atau alasan apapun.
6. akuntabel, berarti harus mencapai sasaran baik fisik, keuangan maupun manfaat bagi
kelancaran pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pelayanan masyarakat sesuai
dengan prinsip-prinsip serta ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang/jasa.
Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa
Untuk memenuhi prinsip prinsip persaingan usaha yang sehat dalam pelaksanaan tender
tersebut, Pemerintah membuat kriteria kriteria khusus dalam memenangkan pelaku usaha
yang menjadi peserta tender. Pemerintah mensyaratkan beberapa ketentuan, persyaratan
penyedia barang dan jasa dalam pelaksanaan tender pengadaan adalah sebagai berikut.

1. memenuhi

ketentuan

peraturan

perundang-undangan

untuk

menjalankan

usaha/kegiatan sebagai penyedia barang/jasa;


2. memiliki

keahlian,

pengalaman,

kemampuan

teknis

dan

manajerial

untuk

menyediakan barang/jasa;
3. tidak dalam pengawasan pengadilan, tidak pailit, kegiatan usahanya tidak sedang
dihentikan, dan/atau direksi yang bertindak untuk dan atas nama perusahaan tidak
sedang dalam menjalani sanksi pidana;
4. secara hukum mempunyai kapasitas menandatangani kontrak;
5. sebagai wajib pajak sudah memenuhi kewajiban perpajakan tahun terakhir, dibuktikan
dengan melampirkan fotokopi bukti tanda terima penyampaian Surat Pajak Tahunan
(SPT) Pajak Penghasilan (PPh) tahun terakhir, dan fotokopi Surat Setoran Pajak (SSP)
PPh Pasal 29;
6. dalam kurun waktu 4 (empat) tahun terakhir pernah memper-oleh pekerjaan
menyediakan barang/jasa baik di lingkungan pemerintah maupun swasta termasuk
pengalaman subkontrak, kecuali penyedia barang/jasa yang baru berdiri kurang dari 3
(tiga) tahun;
7. memiliki sumber daya manusia, modal, peralatan, dan fasilitas lain yang diperlukan
dalam pengadaan barang/jasa.
8. tidak masuk dalam daftar hitam;
9. memiliki alamat tetap dan jelas serta dapat dijangkau dengan pos;
10. khusus untuk penyedia barang/jasa orang perseorangan persyaratannya sama dengan
di atas kecuali huruf f.
Proses MelakukanTender
Terdapat dua proses yang dapat dilakukan untuk melakukan tender berdasarkan
Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, yaitu
sebagai berikut:

1. Prakualifikasi adalah proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta


pemenuhan persyaratan tertentu lainnya dari penyedia barang/jasa sebelum
memasukkan penawaran.Republik Indonesia, Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun
2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Bab VI, Pasal 56, Angka 3. Proses
prakualifikasi secara umum meliputi pengumuman prakualifikasi, pengambilan
dokumen prakualifikasi, pemasukan dokumen prakualifikasi, evaluasi dokumen
prakualifikasi, penetapan calon peserta pengadaan yang lulus prakualifikasi, dan
pengumuman hasil prakualifikasi. Republik Indonesia, Peraturan Presiden Nomor 54
Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Bab VI, Pasal 57, Angka 1
Huruf A.
2. Pascakualifikasi adalah proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta
pemenuhan persyaratan tertentu lainnya dari penyedia barang/jasa setelah
memasukkan penawaran.Republik Indonesia, Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun
2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Bab VI, Pasal 56, Angka 8. Proses
pascakualifikasi secara umum meliputi pemasukan dokumen kualifikasi bersamaan
dengan dokumen penawaran dan terhadap peserta yang diusulkan untuk menjadi
pemenang serta cadangan pemenang dievaluasi dokumen kualifikasinya. Republik
Indonesia, Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah, Bab VI, Pasal 57, Angka 1 Huruf B.
Di Indonesia, terdapat

beberapa

macam

metode dalam pemilihan penyediaan

barang/ jasa. Seperti yang dijelaskan dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, bahwa dalam pemilihan penyedia barang/ jasa
pemborongan/ jasa lainnya dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu :
1. Pelelangan umum, adalah pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa
Lainnya untuk semua pekerjaan yang dapat diikuti oleh semua Penyedia
Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya yang memenuhi syarat.

Republik

Indonesia, Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa


Pemerintah, Bab I, Pasal 1, Angka 23.
2. Pelelangan terbatas, adalah metode pemilihan penyedia

pekerjaan konstruksi

untuk pekerjaan konstruksi dengan jumlah penyedia yang mampu melaksanakan


diyakini terbatas dan untuk pekerjaan yang kompleks. Republik Indonesia, Peraturan

Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Bab I,


Pasal 1, Angka 24.
3. Pelelangan Sederhana adalah metode pemilihan penyedia barang/jasa lainnya untuk
pekerjaan yang bernilai paling tinggi Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta
rupiah).Republik Indonesia, Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Bab I, Pasal 1, Angka 25.
4. Pemilihan langsung, adalah metode pemilihan penyedia pekerjaan konstruksi untuk
pekerjaan yang bernilai paling tinggi Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta
rupiah).Republik Indonesia, Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Bab I, Pasal 1, Angka 26.
5. Seleksi Umum adalah metode penyedia jasa konsultansi untuk pekerjaan yang dapat
diikuti oleh semua penyedia jasa konsultansi yang memenuhi syarat. Republik
Indonesia, Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah, Bab I, Pasal 1, Angka 27.
6. Sayembara adalah metode pemilihan Penyedia Jasa yang memperlombakan gagasan
orisinalitas, kreativitas dan inovasi tertentu yang harga/biayanya tidak dapat
ditetapkan berdasarkan harga satuan. Republik Indonesia, Peraturan Presiden Nomor
54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Bab I, Pasal 1, Angka 29.
7. Penunjukan langsung, adalah metode pemilihan penyedia barang/ jasa yang dilakukan
dengan cara penunjukan langsung terhadap 1 (satu) penyedia barang/jasa dengan cara
melakukan negosiasi baik teknis maupun biaya sehingga diperoleh harga yang wajar
dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan. Penggunaan metode penunjukan
langsung ini hanya dilakukan dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus
saja. Republik Indonesia, Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Bab I, Pasal 1, Angka 31.
Dalam pelaksanaan tender pengadaan barang dan jasa yang dilakukan oleh
BUMN, ada beberapa metode atau cara yang dapat dipilih. Pemilihan metode atau cara
pengadaan barang dan jasa pada BUMN disesuaikan dengan kebutuhan pengguna barang
dan jasa serta dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip umum, yaitu efisien, efektif,

kompetitif, transparan, adil dan wajar serta akuntabel. Metode atau cara pengadaan
barang/ jasa yang dapat digunakan oleh BUMN yaitu dengan cara antara lain sebagai
berikut :
1. Pelelangan terbuka, atau seleksi terbuka metode pemilihan penyedia barang/jasa
yaang dilakukan secara terbuka dengan pengumuman secara luas melalui media
massa dan papan pengumuman resmi untuk penerangan umum sehingga masyarakat
luas dunia usaha yang berminat dan memenuhi kualifikasi dapat mengikutinya;
2. Dalam hal jumlah penyedia barang/jasa yang mampu melaksanakan diyakini terbatas
yaitu untuk pekerjqan yang kompleks, maka pemilihan penyedia barang/jasa dapat
dilakukan dengan metode pelelangan terbatas dan diumumkan secara luas melalui
media massa dan papan pengumuman resmi dengan mencantumkan penyedia
barang/jasa yang telah diyakini mampu, guna member kesempatan kepada penyedia
barang/jasa lainnya yang memenuhi kualifikasi;
3. Dalam hal metode pelelangan umum atau pelelangan terbatas dinilai tidak efisien
dari segi biaya pelelangan, maka pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan
dengan metode pemilihan langsung, yaitu pemilihan penyedia barang/jasa yang
dilakukan

dengan

membandingkan

sebanyak-banyaknya

penawaran,

sekurangkurangnya 3 (tiga) penawaran dari penyedia barang/jasa yang telah lulus


prakualifikasi serta dilakukan negoisasi baik teknis maupun biaya serta harus
diumumkan minimal melalui papan pengumuman resmi untuk penerangan umum dan
bila memungkinkan melalui internet;
4. Dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus, pemilihan penyedia barang/jasa dapat
dilakukan dengan penunjukan langsung terhadap 1 (satu) penyedia barang/jasa
dengan cara melakukan negoisasi baik teknis maupun biaya sehingga diperoleh harga
yang wajar dan secara teknis dapat dipertangggungjawabkan.

METODOLOGI
Proses Upload Berkas Pengajuan Tender ke LPSE BPN
1. Tampilan awal LPSE BPN

2. Kemudian login penyedia

3. Untuk membuat user name pada LPSE, bisa melakukan pendaftaran melalui LPSE
Provinsi Jawa Timur

4. Setelah melakukan pendaftaran, maka berkas berikutnya akan dikirim melakui email
anda. Anda akan diminta untuk mengisi beberapa data seperti berikut

5. Setelah mendaptkan User ID yang diperoleh dari email anda, maka dapat kembali ke
beranda LPSE dan mulai Login ke situs LPSE.

6. Tahapan selanjutnya merupakan proses pengajuan/penawaran sebagai peserta tender

ALUR PROSES KPS (KERJASAMA PEMERINTAH DAN SWASTA)


Analisis
kebutuhan
Identifikasi dan
penetapan dan
Seleksi
dan
prioritas
proyek

Prioritisasi
Analisis
Proyek
Value
for Money

Studi
kelayakan

Penyiapan
dokumen lelang

Checklist
negosiasi

Financial
closing

Identifikasi
kebutuhan
Studi
dukungan
kelayakan
Pemerintah
dan Uji

Penetapan cara
evaluasi

Pembentukan
tim negosiasi

Konstruksi

Tuntas

Proses
Pembentukan
Tender
panitia

Negosiasi
Negosiasi
draft
perjanjian
kerjasama

Analisis resiko
pemilihan

Proses lelang

Bentuk KPS

Evaluasi tender

Negosiasi
aokasi resiko

Uji tuntas

Penetapan
calon
pemenang

Penetapan
pemenang

Penetapan
untuk dapat
ditenderkan

Commissioning

Manajemen
Kontrak
Operasi
Monitoring
Pengalihan di
akir masa
konsesi (jika
ada)

PEnyiapan

Langkah penyiapan proyek KPS


Langkah 1 : Menetapkan prioritas dan pemilihan proyek-proyek KPS
Langkah 2 : Pra-Studi kelayakan/ studi kelayakan
LANGKAH 1 : PENETAPAN PRIORITAS DAN PEMILIHAN PROYEK KPS

Terdapat banyak proyek yang berpotensi untuk dikerjasamakan dengan badan usaha
Tujuan langkah 1 adalah mengidentifikasi proyek yang dapat bertahan dengan atau
tanpa dukungan Pemerintah, dan memiliki sedikit resiko, atau resikonya dapat

dikendalikan, untuk menarik sektor swasta.


Penyaringan dilakukan dengan menggunakan Analisis Multi Kriteria (AMK) :
- Metodologinya dapat diterima
- Menggunakan tujuan-tujuan yang ditetapkan yang ditetapkan Pemerintah sebagai

kriteria.
Keputusan untuk dilanjutkan didasarkan pada kesiapan dari proyek
Dimulai dengan analisis kebutuhan
Pendekatan nilai uang (Value for Money) untuk memilih apakah akan di KPS-kan
Prioritasasi pada tingkat seb-sektor
Konsultasi publik untuk meng-konfirmasi analisis kebutuhan dan mendapatkan

komitmen stakeholders.
Prioritisasi pada tingkat sektor
Keputusan untuk dilanjutkan didasarkan pada kesiaoan dari proyek untuk masuk ke

proses pra-KPS
LANGKAH 2
Sebagai landasan untuk pembuatan dokumen tender

Sebagai dasar negosiasi dengan Badan Usaha pemenang tender. Termasuk didalamnya

adalah negosiasi mengnai alokasi resiko dan dukungan fiskal.


LINGKUP PRA-FS / FS
Peramalan
Aspek teknis dan biaya
Analisis biaya dan manfaat sosial termasuk didalamnya dampak lingkungan dan

tampak sosial.
Rencana usaha yang mencakup rencana dan analisis keuangan serta dukungan

Pemerintah yang diperlukan


Kajian resiko dan alokasinya
Bantuk kerjasama yang sesuai
Analisis Aspek Bisnis / Komersial
Model keuangan harus dihasilkan dalam bentuk yang sederhana namun lengkap
Skenario skenario keuangan harus diuji, termasuk
1. Tarif-tarif yang ada, perolehan kembali biaya
2. Eskalasi/kenaikan tarif
3. Pilihan pertandingan hutan-modal
4. Piliham pengembalian hutang (pembayaran bunga/jangka pengembalian pokok

dsb)
Keluarkan model keuangan harus mencakup paling sedikit : FIRR, FNPV,

pembayaran kembali dan resiko kecukupan pengembalian hutang.


Model itu juga harus mengidentifikasikan kebutuhan dukungan fiskal/subsidi dari

pemerintah jika ada


Model itu harus mengkaji jenis dukungan kontinjen (bersifat tidak pasti) dan non-

kontinjen (bersifat tetap)


Biaya-biaya dan waktu penyediaan setiap setiap dukungan fiskal/subsidi juga harus

diidentifikasi.
Analisis Keuangan
Analisis keuangan harus mampu menunjukkan:
- Apakah proyek memiliki kesinambungan keuangan dan menetapkan kinerja
-

keuangan Proyek sepanjang usianya.


Apa yang akan diperlukan untuk menjaga kelangsungan proyek itu jika ternyata

hanya memiliki kesinambungan marjinal


Identifikasi secara jelas mengenai sumber dukungan fiskal proyek dan bagaimana
dukungan tersebut dapat disediakan dan diminimalkan

PENGADAAN BADAN USAHA

Dalam KPS, pengadaan dimaksudkan untuk mendaptkan bada usaha uang dianggap
mampu sebagai mitra pemerintah dalam pelaksanaan proyek KPS atau sebagai

konsesi.
Pengadaan kontraktor EPC menjadi tanggung jawab badan usaha pemegang konsesi.

Proses pengadaan dilakukan melali 2 tahap :


- Proses prakualifikasi
- Proses tender dan seleksi
Diperlukan studi yang mencukup bagi semua peserta untuk mengikuti tender.

Proses Pelelangan